Anda di halaman 1dari 38

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Pengawasan

2.1.1.1 Pengertian Pengawasan

Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan

pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang

diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut.

Controlling is the process of measuring performance and taking action

to ensure desired results. Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa

segala aktivitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

The process of ensuring that actual activities conform the planned activities.

Menurut Situmorang dalam Makmur (2015:176) menyatakan bahwa :

pengawasan adalah setiap usaha dan tindakan dalam rangka untuk

mengetahui sejauh mana pelaksanaan tugas yang dilaksanakan menurut

ketentuan dan sasaran yang hendak dicapai.

Berbeda dengan Makmur (2015: 176) yang menyatakan bahwa :

“pengawasan adalah suatu bentuk pola pikir dan pola tindakan untuk
memberikan pemahaman dan kesadaran kepada seseorang atau beberapa
orang yang diberikan tugas untuk dilaksanakan dengan menggunakan
berbagai sumber daya yang tersedia secara baik dan benar, sehingga
tidak terjadi kesalahan dan penyimpangan yang sesunggunya dapat
menciptakan kerugian oleh lembaga atau organisasi yang bersangkutan”.

15
16

Menurut Siagian (2006:112) menyatakan bahwa :

“pengawasan merupakan proses pengamatan dari seluruh kegiatan


organisasi guna lebih menjamin bahwa semua pekerjaan yang sedang
dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.
Sebagai fungsi organik, pengawasan merupakan salah satu tugas yang
mutlak diselenggarakan oleh semua oleh yang menduduki jabatan
manajerial, mulai dari manajerial, mulai dari manajer puncak hingga para
manajer rendah yang secara langsung mengendalikan kegiatan-kegiatan
teknis yang diselenggarakan oleh semua petugas operasional”.

Menurut Ukas (2006:343 )mengemukakan bahwa:

“pengawaan adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan untuk


memantau, mengukur dan bila perlu melakukan perbaikan atas pelaksaan
pekerjaan sehingga apa yang telah direncanakan dapat dilaksanakan
sesuai dengan tujuan yang diinginkan”.

Menurut Dale dalam Winardi (2002:224), menyatakan bahwa:

“pengawasan tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan


melaporkan hasil kegiatan mengawasi kegiatan-kegiatan yang dapat
memberikan hasil seperti y, tetapi juga mengandung arti memperbaiki
yang meluruskannya sehingga mencapai tujuan yang sesuai dengan apa
yang direncanakan”.

George R. Tery (2006:395) mengartikan pengawasan sebagai

mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi

prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan tidankan-tindakan korektif

sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Simbolon (2004:62) memberikan pengertian pengawasan yang bertujuan

agar hasil pelaksanaan pekerjaan diperoleh secara berdaya guna (Efisien)

dan berhasil guna (Efektif) sesuai dengan rencana yang telah ditentukan

sebelumnya.
17

Sementara menurut Silalahi (2003:181) tujuan dari pengawasan adalah

sebagai berikut :

1. Mencegah terjadinya penyimpangan pencapaian tujuan yang telah


direncanakan.
2. Agar proses kerja sesuai dengan prosedur yang telah digariskan atau
ditetapkan.
3. Mencegah dan menghilangkan hambatan dan kesulitan yang akan,
sedang atau mungkin terjadi dalam pelaksanaan kegiatan.
4. Mencegah penyimpangan penggunaan sumber daya.
5. Mencegah penyalahgunaan otoritas dan kedudukan.

Dari definisi-definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengawasan

adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja standar pada

perencaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk

membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan, untuk

menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan tersebut, serta untuk

mengambil tindakan perbaikan yang telah diperlukan untuk menjamin bahwa

sumber daya pemerintah telah digunakan seefektif dan seefesien mungkin

guna mencapai tujuan suatu pemerintah.

Pengawasan pada dasarnya diarahkan sepenuhnya untuk menghindari

adanya kemungkinan penyelewengan atau penyimpangan atas tujuan yang

akan dicapai. Melalui pengawasan diharapkan dapat membantu melaksanakan

kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang telah

direncanakan secara efektif dan efisien. Bahkan, melalui pengawasan tercipta

suatu aktifitas yang berkaitan erat dengan penentuan atau evaluasi mengenai

sejauh mana pelaksanaan kerja sudah dilaksanakan. Pengawasan juga dapat

mendeteksi sejauh mana kebijakan pimpinan dijalankan dan sampai sejauh

mana penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan kerja tersebut.


18

2.1.1.2 Hakikat Pengawasan

Agar kegiatan pengawasan membuahkan hasil yang diharapkan

perhatian serius perlu diberikan kepada berbagai dasar pemikiran yang

sifatnya fundamental. Sehingga menurut Siagian (2012:126) hakikat

pengawasan dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Orientasi kerja dalam setiap organisasi


2. Efektivitas
3. Produktivitas
4. Sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan
5. Dibarengi dengan rasa tanggung jawab
6. Dipatuhi dan ditaati

Orientasi kerja dalam setiap organisasi adalah efisiensi. Bekerja secara

efisien berarti menggunakan sumber-sumber yang tersedia seminimal

mungkin untuk membuahkan hasil tertentu yang telah ditetapkan dalam

rencana. Sudah umum diterima sebagi kebenaran ilmiah dan kenyataan dalam

praktik menunjukan pula bahwa sumber-sumber yang tersedia atau mungkin

disediakan oleh organisasi apapun untuk mencapai tujuannya selalu terbatas,

yaitu berupa dana, tenaga, sarana, prasarana, dan waktu.

Jika seorang berbicara tentang efektivitas sebagai orientasi kerja, artinya

yang menjadi sorotan perhatiannya adalah tercapainya berbagai sasaran yang

telah ditentukan tepat pada waktunya dengan menggunakan sumber-sumber

tertentu yang sudah dialokasikan untuk melakukan berbagai kegiatan.

Produktivitas merupakan orientasi kerja, ide yang menonjol dalam

membicarakan dan mengusahakan produktivitas ialah maksimalisasi hasil

yang harus dicapai berdasarkan dan dengan memanfaatkan sumber dana dan

daya tertentu yang sudah dialokasikan sebelumnya.


19

Pengawasan yang dilakukan pada waktu berbagai kegiatan yang sedang

berlangsung dan dimaksudkan untuk mencegah jangan sampai terjadi

penyimpangan, penyelewengan, dan pemborosan.

Tidak ada manajer yang mengelak dari tanggung jawab melakukan

pengawasan karena pelaksanaan adalah manusia yang tidak sempurna. Dan

dengan sifat ketidak sempurnaanya, para pelaksana kegiatan operasional tidak

akan luput dari kemungkinan berbuat khilaf, bahkan berbuat kesalahan.

Pengawasan akan berjalan dengan lancar apabila proses dasar

pengawasan diketahui dan ditaati. Yang dimaksud dengan proses itu, adalah :

1. Penentuan standar hasil kerja.

2. Pengukuran hasil pekerjaan.

3. Koreksi terhadap penyimpangan yang mungkin terjadi.

2.1.1.3 Mekanisme dan Prosedur Pengawasan

Mekanisme dengan prosedur merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat

dipisahkan, walaupun sebenarnya dalam pola pemikiran manusia mereka

dapat membedakan secara jelas antara kandungan atau posisi masing-masing

yang dimaksudkan disini adalah kandungan atau posisi mekanisme dengan

kandungan atau posisi prosedur, walaupun terdapat kandungan perbedaan

antara mekanisme dengan prosedur kerja dalam sebuah pengawasan, tetapi

berada dalam kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara aktivitas

mekanisme dengan prosedur.

Sebagai suatu fenomena bahwa mekanisme dan prosedur pengawasan

senantiasa bertentangan antara orang yang melakukan suatu pengawasan


20

dengan orang yang diawasi terhadap suatu kegiatan dalam sebuah

kelembagaan baik dibidang pemerintah maupun dibidang swasta atau

perusahaan. Walaupun kita sadari bahwa pengawasan senantiasa bergerak dan

digerakan dalam relasi kekuasaan baik sejalan dengan norma pengawasan atas

kekuasaan tersebut.

Dari argumentasi ini menciptakan pertanyaan gambaran bagaimana itu

mekanisme dan gambaran dengan produser karena kedua-duanya berkaitan

dengan pekerjaan. Apabila kita memperhatikan kamus manajemen

memberikan arahan kepada kita bahwa mekanisme sebenarnya secara

ontology atau dengan kata lain asal mulanya dari kerja mesin biasa juga

disebut mekanisme dari perputaran asal mula misalnya rangkaian pekerjaan

menerima surat, menulis jawaban surat, mengirim surat, dan kembali lagi

menerima surat.

Berdasarkan argumentasi yang kita sebutkan ini, maka kita dapat

memberikan pengertian mekanisme yang dimaksudkan disini adalah sesuatu

yang menunjukan tentang gambaran mengenai rangkaian waktu dan tempat

untuk menyelesaikan pekerjaan yang memiliki keterkaitan dengan pekerjaan

yang lainnya, kemudian berproses secara alamiah dan akhirnnya kembali

kepada pekerjaan awal yang serupa. Selanjutnya kita memberikan gambaran

tentang prosedur adalah suatu rangkaian untuk menyelesaikan suatu jenis

kegiatan, misalnya kegiatan menulis surat maka pekerjaan yang harus

dilakukan mempersiapkan kertas, pulpen, meja, dan kebutuhan lainnya, dan


21

akhirnya menulis surat dan hasil kerjanya berupa surat dengan maksud yang

didalamnya.

Apabila kita menyimak dengan menggunakan nalar yang cukup, maka

kita pasti mendapat gambaran bahwa mekanisme merupakan rangkaian

pekerjaan berbagai kegiatan sedangkan prosedur adalah rangkaian pekerjaan

yang harus dilakukan dalam sebuah kegiatan, itulah sebabnya antara

mekanisme dan prosedur tidak dapat dipisahkan dan merupakan satu kesatuan

yang utuh.

2.1.1.4 Jenis-Jenis Pengawasan

Menurut makmur (2015:186) jenis-jenis pengawasan adalah sebagai

berikut :

1. Pengawasan fungsional
2. Pengawasan masyarakat
3. Pengawasan adminitratif
4. Pengawasan teknis
5. Pengawasan pimpinan
6. Pengawasan barang
7. Pengawasan jasa
8. Pengawasan internal
9. Pengawasan eksternal

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setiap kelembagaan atau

organisasi apapun bentuknya besar maupun kecil senantiasa membutuhkan

pengawasan yakni dalam bentuk pengawasan fungsional. Tetapi kelembagaan

yang bentuknya kecil pengawasan ini dilakukan tidak perlu secara fungsional,

tetapi kelembagaan yang bentuknya besar, seperti kelembagaan Negara

dengan aktivitas yang begitu rumit dan kompleks, maka sangatlah dibutuhkan

jenis pengawasan yang sifatnya fungsional tersebut dengan menggunakan


22

tenaga kerja manusia yang memiliki pengetahuan khusus dan pekerjaan

khusus dibidang pengawasan. Yang menjadi pemahaman terhadap

pengawasan fungsional sebenarnya telah melekat kepada lembaga dimana

secara fungsional memiliki tugas pokok dan fungsi dibidang pengawasan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Negara mempunyai masyarakat sebagai

warga Negara, dan pemerintah sebagai penyelenggara Negara, agar

penyelenggara berdasarkan konstitusional dan mencegah terjadinya

penyalahgunaan sumber daya maka sangat dibutuhkan pengawasan yang

dilakukan oleh masyarakat sebagai warga Negara, penyelenggaraan

pengawasan masyarakat ditunjukan kepada pemerintah sebagai penyelenggara

agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan terutama penggunaan sumber

daya yang dimiliki oleh pemerintah atas nama Negara. Secara realitas bahwa

yang paling banyak melakukan penyalahgunaan sumber daya Negara adalah

penguasaan, terutama penyelenggara pemerintahan, misalnya manipulasi

pajak, keuangan, dan sebagainya.

Penataan pelaksanaan seluruh aktivitas dalam berbagai seluruh

kelembagaan agar dapat tercipta keteraturan, maka diperlukan suatu bentuk

pengawasan yang kita istilahkan pengawasan administrasi. Tujuan

pengawasan administrative dalam kelembagaan khususnya bagi kelembagaan

publik agar pendapatan dan pembagian atau pendistribusian suatu kegiatan

atau pekerjaan dilakukan dengan berdasarkan kepada keadilan dan

kemampuan masing-masing anggota kelembagaan. Oleh sebab itu, untuk

menciptakan kondisi seperti ini, sangat dibutuhkan penerapan atau


23

pelaksanaan pengawasan secara administratif agar supaya kegiatan

kelembagaan dapat berjalan sesuai harapan.

2.1.1.5 Ciri-ciri Pengawasan yang Efektif

Pengawasan akan berlangsung dengan efektif apabila memiliki berbagai

ciri yang dibahas menurut siagian (2012:130) berikut ini :

1. Pengawasan yang harus merefleksikan sifat dari berbagai kegiatan


yang diselenggarakan
2. Pengawasan harus segera memberikan petunjuk tentang
kemungkinan adanya defiasi dari rencana.
3. Pengawasan harus menunjukan kepada titik-titik strategis tertentu
4. Objektivitas dalam melakukan pengawasan
5. Keluwesan pengawasan
6. Pengawasan harus memperhitungkan pola dasar organisasi
7. Efisiensi pelaksanaan pengawasan
8. Pemahaman sistem pengawasan oleh semua pihak yag terlibat
9. Pengawasan mencari apa yang tidak beres
10. Pengawasan harus bersifat membimbing

Yang dimaksud ialah tekhnik pengawasan harus sesuai, antara lain

dengan penemuan informasi tentang siapa yang melakukan pengawasan dan

kegiatan apa yang menjadi sasaran pengawasan tersebut. Misalnya, dalam

suatu organisasi niaga, suatu sistem pengawasan yang diperlukan oleh seorang

direktur produsi berbeda dari sistem pengawasan yang diperlukan oleh

seorang direktur produksi berbeda dari sistem pengawasan yang berbeda

dengan pengawasan yang perlu dilakukan dalam sebuah restoran. Demikian

seterusnya.

Pengawasan harus mampu mendeteksi defiasi atau penyimpangan yang

mungkin terjadi sebelum penyimpangan itu menjadi kenyataan. Usaha deteksi

seperti itu harus dilakukan sedini mungkin dan informasi tentang hasil deteksi
24

itu harus segera tiba ditangan manajer yang secara fungsional bertanggung

jawab agar ia segera dapat mengambil tindakan pencegahannya.

Pengawasan dilakukan supaya keseluruhan organisasi bekerja dengan

tingkat efisiensi yang semakin tinggi. Oleh karena itu, pengawasan sendiri

harus diselenggarakan dengan efisiensi yang setinggi mungkin pula. Pihak

manajemen pada tingkat yang lebih tinggi, para pemilik modal, dan pihak-

pihak yang lain yang berkepentingan akan sukar menerima pendapat yang

mengatakan bahwa pengawasan harus dilakukan berapapun tingginya biaya

yang harus dipikul.

Dengan mengatasnamakan kecangihan sistem pengawasan dewasa ini

banyak digunakan, dan digunakan berbagai teknik untuk membantu para

manajer melakukan pengawasan secara efektif seperti berbagai rumus

matematika, bagan-bagan yang rumit, analisis yang terinci, dan data-data

statistik. Para ahli yang mengembangkannya mungkin saja mengatakan bahwa

teknik-teknik tersebut akan sangat mempermudah pengawasan dan

meningkatkan mutu hasilnya. Pendapat demikian benar karena pendekatan

ilmiah terdapat proses pengawasan memang sangat penting.

2.1.1.6 Teknik-teknik Pengawasan

Menurut makmur (2015:192) mengemukakan bahwa ada beberapa

teknik dalam pengawasan yakni sebagai berikut :

1. Pengawasan pemantauan dalam pengawasan


2. Teknik pemeriksaan dalam pengawasan
3. Teknik penilaian dalam pengawasan
4. Teknik wawancara dalam pengawasan
5. Teknik pengamatan dalam pengawsan
25

6. Teknik perhitungan dalam pengawasan


7. Teknik analisis dalam
8. Teknik pelaporan dalam pengawasan

Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu teknik melakukan

pengawasan baik kepada para oknum yang melaksanakan kegiatan dalam

berbagai kelembagaan maupun yang dilihat dari aspek pelaksanaan kegiatan

adalah melakukan suatu pemantauan baik dilaksanakan secara langsung

(direct) maupun dilakukan tidak dilakukan secra tidak langsung (indirect).

Melalui laporan dari pimpinan unit yang diberikan tanggung jawab

terhadap pelaksanaan kegiatan yang bersangkutan, teknik pemantauan dalam

pengawasan ini semua lembaga membutuhkannya agar program yang telah

kita rencanakan dapat diimplementasikan dengan baik. Kekeliruan atau

kesalahan dalam melakukan pemantauan termasuk pengguna tekniknya

berarti pengawasan yang dilakukan tersebut bukan memberikan suatu

kebenaran, tetapi kekeliruan yang mungkin berakibat negatif pada orang

yang diawasi.

2.1.2 Efektivitas

2.1.2.1 Pengertian Efektivitas

Kata efektif berasal dari bahasa inggris yaitu effective yang berarti

berasal atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus ilmiah

popular mendefinisikan efektivitas sebagai ketetapan pengguna, hasil guna

atau menunjang tujuan.


26

Efektivitas memiliki arti berhasil atau tepat guna. Efektif merupakan

kata dasar, sementara kata sifat dari efektif adalah efektivitas. Dengan

demikian, efektivitas mengandung pengertian dicapainya keberhasilan dalam

mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas selalu terkait dengan

hubungan antar hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya

dicapai.

Efektivitas adalah pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-

tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan

pilihan dari beberapa pilihan antara lain.

Menurut Handoko (2003:44) mengemukakan :

“efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat

untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.

Menurut Abdurahman (2003:92) efektivitas adalah :

“pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu

yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah

pekerjaan tepat pada waktunya”.

Menurut Siagian (2001-24) menyatakan bahwa :

“efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana

dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk

menhasilkan sejumlah barang atas jasa kegiatan yang dijalankannya”.

Menurut Martoyo (2002:4) mendefinisikan pengertian efektivitas

berikut:
27

“Efektivitas sebagai suatu kondisi atau keadaan dimana dalam memilih


tujuan yang hendak dicapai dan sarana atau peralatan yang digunakan,
disertai dengan kemampuan yang dimiliki adalah tepat, sehingga tujuan
yang diinginkan dapat dicapai dengan hasil yang memuaskan”.

Menurut pendapat David Krech, Richard S. Cruthfied dan Egerton L.

Ballachey dalam Danim (2012:119 – 120) menyebutkan indikator efektivitas

sebagai berikut :

1. Jumlah hasil yang dapat dikeluarkan


Hasil tersebut berupa kuantitas atau bentuk fisik dari organisasi,
program atau kegiatan. Hasil dimaksud dapat dilihat dari
perbandingan (ratio) antara masukan (input) dengan keluaran
(output), usaha dengan hasil, persentase pencapaian program kerja
dan sebagainya.
2. Tingkat kepuasan yang diperoleh
Ukuran dalam efektivitas ini dapat kuantitatif (berdasarkan pada
jumlah atau banyaknya) dan dapat kualitatif (berdasarkan pada
mutu).
3. Produk kreatif
Penciptaan hubungan kondisi yang kondusif dengan dunia kerja,
yang nantinya dapat menumbuhkan kreatifitas dan kemampuan.
4. Intensitas yang akan dicapai
Memiliki ketaatan yang tinggi dalam suatu tingkatan intens sesuatu,
dimana adanya rasa saling memiliki dengan kadar yang tinggi.

2.1.2.2 Ukuran Efektivitas

Menurut Steers (1985:46) ukuran efektivitas terdiri beberapa dimensi

antara lain :

1. Efektivitas keseluruhan
2. Kualitas
3. Produktivitas
4. Kesiagaan
5. Efisiensi
6. Laba atau penghasilan
7. Pertumbuhan
8. Pemanfaatan lingkungan
9. Perputaran atau keluar masuknya pekerjaan
10. Kemangkiran
11. Kecelakaan
28

12. Semangat kerja


13. Motivasi
14. Kepuasan
15. Penerimaan tujuan organisasi
16. Kepaduan konflik-konflik kompak
17. Keluasan adaptasi
18. Penilaian oleh pihak luar

Efektivitas keseluruhan yaitu sejauh mana organisasi melaksanakan

seluruh tugas pokoknya atau semua mencapai sasarannya. Penilaian umum

dengan sebanyak mungkin kriteria tunggal dan menghasilkan penilaian umum

mengenai efektivitas umum. Sementara kualitas adalah dari keseluruhan jasa

atau produk primer yang dihasilkan oleh organisasi yang mungkin mempunyai

banyak bentuk operasional, terutama ditentukan oleh jenis produk atau jasa

yang dihasilkan oleh organisasi.

Produktivitas adalah kuantitas atau volume dari produk atau jasa pokok

yang dihasilkan oleh organisasi yang dapat diukur menurut tiga tingkatan

yaitu tingkat individual, kelompok, dan keseluruhan organisasi. Sementara itu

kesiagaan adalah penilaian yang menyeluruh sehubungan dengan

kemungkinan yang menyatakan bahwa organisasi mampu menyelesaikan

sesuatu tugas khusus dengan baik.

Efisiensi mempunyai arti ukuran yang mencerminkan perbandingan

beberapa aspek prestasi unit terhadap biaya yang menghasilkan prestasi

tersebut. Sementara itu yang disebut laba atau penghasilan adalah penanaman

modal yang dipakai untuk menjalankan organisasi dilihat dari sudut pandang

seorang manajer. Dengan jumlah dari sumber daya yang masih tersisa setelah
29

semua biaya dan kewajiban terpenuhi, dan kadang-kadang dinyatakan dalam

presentase.

Pertumbuhan adalah penambahan dalam hal-hal seperti tenaga kerja,

fasilitas yang disediakan, dan penemuan hal-hal baru. Bisa diartikan pula

bahwa pertumbuhan yaitu suatu perbandingan antara keadaan organisasi

sekarang dengan keadaan masa lalunya. Sementara itu pemanfaatan

lingkungan yaitu batas keberhasilan organisasi yang berinteraksi dengan

lingkungannya, memperoleh sumber daya yang langka dan berharga yang

diperlukannya untuk operasi yang efektif. Hal ini dipandang dari rencana

jangka pendek yang maksimal.

Definisi dari stabilitas yaitu pemeliharaan struktur, fungsi, dan sumber

daya sepanjang waktu, khususnya dalam priode-priode sulit. Sementara

perputaran atau keluar masuknya pekerjaan yaitu frekuensi atau jumlah

pekerja dan keluar dari lembaga itu atas permintaan sendiri.

Kemangkiran yaitu frekuensi kejadian-kejadian dari pekerja yang bolos

dari pekerjaan sementara itu kecelakaan adalah frekuensi dari pekerjaan yang

berakibat kerugian waktu. Adapun semangat kerja adalah kecenderungan

anggota organisasi berusaha lebih keras mencapai tujuan dan sasaran

organisasi termasuk perasaan terikat. Semangat kerja adalah gejala kelompok

yang melibatkan usaha tambahan, kebersamaan tujuan, dan perasaan

memiliki.

Motivasi adalah kekuatan kecenderungan seorang individu yang

melibatkan diri dalam kegiatan yang berarahkan sasaran dalam pekerjaan.


30

Motivasi ini bukanlah perasaan senang yang relatif terhadap hasil berbagai

pekerjaan sebagaimana halnya kepuasan, bukanlah kepuasan senang yang

relatif terhadap hasil berbagai pekerjaan sebagaimana halnya kepuasan, tetapi

lebih merupakan perasaan sedia atau rela bekerja untuk mencapai tujuan

pekerjaan.

Kepuasan adalah tingkat kesenangan yang dirasakan seseorang atas

peranan atau pekerjaannya dalam organisasi. Tingkat rasa puas individu

bahwa mereka mendapat imbalan yang setimpal, dari bermacam-macam aspek

situasi pekerjaan dan organisasi tempat mereka bekerja. Sementara itu

penerimaan jasa tujuan oragnisasi adalah diterimanya tujuan-tujuan organisasi

oleh setiap pribadi dan oleh unit-unit dalam organisasi. Kepercayaan mereka

bahwa tujuan organisasi tersebut adalah benar dan layak.

Kepaduan konflik-konflik kompak adalah dimensi berkutub dua. Yang

dimaksud kutub kepaduan adalah fakta bahwa para anggota organisasi saling

menyukai satu sama lain, bekerja sama dengan baik, berkomunikasi

sepenuhnya dan secara terbuka, dan mengkoordinasikan usaha kerja mereka.

Pada kutub yang lain terdapat organisasi penuh pertengkaran baik dalam kata-

kata maupun secara fisik, koordinasi yang buruk, dan komunikasi yang tidak

efektif. Sementara itu keluwesan adaptasi adalah kemampuan sebuah

organisasi untuk mengubahprosedur standar operasinya jika lingkungannya

berubah, untuk mencegah kebekuan terhadap rangsangan lingkungan.

Penilaian oleh pihak luar adalah penilaian mengenai organisasi atau unit

organisasi oleh mereka (individu atau organisasi) dalam lingkungannya, yaitu


31

pihak-pihak dengan siapa organisasi ini berhubungan. Kesetiaan, kepercayaan,

dan dukungan yang diberikan kepada organisasi oleh kelompok-kelompok

seperti pensuplai pelanggan, pegang saham, dan para petugas dalam

masyarakat umum.

Menurut Siagian dalam Iskandar (2006:211) sumber-sumber yang dikaji

ukuran efektivitas tersebut dapat dilihat dalam dimensi dan indikator sebagai

berikut :

1. Ukuran waktu : yaitu berapa lama seorang dapat menyelesaikan


pekerjaan, kepastian waktu, ketetapan waktu.
2. Ukuran biaya : kepastian biaya kegiatan, biaya perjalanan dinas,
perbandingan antara biaya dan hasil output.
3. Ukuran nilai-nilai sosial budaya : dalam arti bagaimana tanggung
jawab terhadap pekerjaan dan budaya kerja.
4. Ukuran ketelitian : ketelitian melaksanakan tugas, pemeriksaan
menyeluruh terhadap hasil kerja, kepercayaan atas ketelitian hasil
pekerjaan.

Menurut Campbell (1973) dalam Steers (1985:45) mengenai berbagai

ukuran yang digunakan untuk menentukan keberhasilan organisasi

menghasilkan pengenalan variabel yang digunakan secara luas, diantaranya :

1. Keseluruhan prestasi
2. Produktivitas
3. Kepuasan kerja pegawai
4. Laba atau tingkat penghasilan dari penanaman modal
5. Keluarnya karyawan

2.1.2.3 Unsur-Unsur Efektivitas

Menurut Makmur (2015:7) unsur-unsur efektivitas adalah :

1. Ketepatan waktu

Waktu adalah sesuatu yang dapat menentukan keberhasilan sesuatu

kegiatan yang dilakukan dalam sebuah organisasi tapi juga dapat


32

berakibat terhadap kegagalan suatu aktivitas organisasi. Penggunaan

waktu yang tepat akan menciptakan efektivitas pencapaian tujuan

yang telah ditetapkan sebelumnya.

2. Ketepatan perhitungan biaya

Berkaitan dengan ketepatan dalam pemanfaatan biaya, dalam arti

tidak mengalami kekurangan juga sebaliknya tidak mengalami

kelebihan pembiayaan sampai suatu kegiatan dapat dilaksanakan dan

diselesaikan dengan baik. Ketepatan dalam menetapkan satuan–

satuan biaya merupakan bagian daripada efektivitas.

3. Ketepatan dalam pengukuran

Dengan ketepatan ukuran sebagaimana yang telah ditetapkan

sebelumnya sebenarnya merupakan gambaran daripada efektivitas

kegiatan yang menjadi tanggung jawab dalam sebuah organisasi.

4. Ketepatan dalam menentukan pilihan.

Menentukan pilihan bukanlah suatu persoalan yang gampang dan

juga bukan hanya tebakan tetapi melalui suatu proses, sehingga dapat

menemukan yang terbaik diantara yang baik atau yang terjujur

diantara yang jujur atau kedua-duanya yang terbaik dan terjujur

diantara yang baik dan jujur.

5. Ketepatan berpikir

Ketepatan berfikir akan melahirkan keefektifan sehingga kesuksesan

yang senantiasa diharapkan itu dalam melakukan suatu bentuk

kerjasama dapat memberikan hasil yang maksimal.


33

6. Ketepatan dalam melakukan perintah.

Keberhasilan aktivitas suatu organisasi sangat banyak dipengaruhi

oleh kemampuan seorang pemimpin, salah satunya kemampuan

memberikan perintah yang jelasa dan mudah dipahami oleh

bawahan. Jika perintah yang diberikan tidak dapat dimengeri dan

dipahami maka akan mengalami kegagalan yang akan merugikan

organisasi.

7. Ketepatan dalam menentukan tujuan

Ketepatan dalam menentukan tujuan merupakan aktivitas organisasi

untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Tujuan yang ditetapkan secara tepat akan sangat menunjang

efektivitas pelaksanaan kegiatan terutama yang berorientasi kepada

jangka panjang.

8. Ketepatan ketepatan sasaran

Penentuan sasaran yang tepat baik yang ditetapkan secara individu

maupun secara organisasi sangat menentukan keberhasilan aktivitas

organisasi. Demikian pula sebaliknya, jika sasaran yang ditetapkan

itu kurang tepat, maka akan menghambat pelaksanaan berbagai

kegiatan itu sendiri.

Sebagaimana kita ketahui bahwa waktu adalah sesuatu yang dapat

menentukan keberhasilan suatu kegiatan yang dilakukan dalam sebuah

organisasi. Demikian pula halnya akan sangat berakibat terhadap kegagalan

suatu aktivitas organisasi, penggunaan waktu yang tepat akan menciptakan


34

efektivitas pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Karena

apabila kita tidak menggunakannya dengan tepat berarti kita akan mengalami

kerugian karena waktu yang berlalu itu tidak akan kembali dan pergi

selamanya.

Setiap pelaksanaan suatu kegiatan baik yang melekat pada individu,

kegiatan yang melekat kepada organisasi maupun kegiatan yang melekat

kepada Negara yang bersangkutan kepada Negara. Ketepatan dalam

pemanfaatan biaya terhadap suatu kegiatan, dalam arti bahwa tidak mengalami

kekurangan sampai kegiatan itu dapat diselesaikan. Demikian pula sebaliknya

tidak mengalami kelebihan pembiayaan sampai kegiatan tersebut dapat

diselesaikan dengan baik dan hasilnya memuaskan semua pihak yang terlibat

pada kegiatan tersebut. Ketetapan dalam menetapkan suatu satuan biaya

merupakan bagian dari efektivitas.

2.1.2.4 Pendekatan Efektivitas

Menurut Gibson (1984:38) mengungkapkan tiga pendekatan mengenai

efektivitas yaitu :

1. Pendekatan tujuan

2. Pendekatan teori sistem

3. Pendekatan multiple constituency

Pendekatan tujuan, pendekatan tujuan untuk mendefinisikan dan

mengevaluasi efektivitas merupakan pendekatan tertua dan paling luas

digunakan. Menurut pendekatan ini, keberadaan organisasi dimaksudkan


35

untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pendekatan tujuan menekankan peranan

sentral dari pencapaian tujuan sebagai kriteria untuk menilai efektivitas serta

mempunyai pengaruh yang kuat atas pengembangan teori dan praktek

manajemen dan perilaku prganisasi, tetapi sulit memahami bagaimana

melakukannya. Alternatif terhadap pendekatan tujuan ini adalah pendekatan

teori sistem.

Pendekatan teori sistem, teori sistem menekankan pada pertahanan

elemen dasar masukan, proses, pengeluaran dan mengadaptasi terhadap

lingkungan yang lebih luas yang menopang organisasi. Teori ini

menggambarkan hubungan organisasi terhadap sistem yang lebih besar,

dimana organisasi menjadi bagiannya. Konsep organisasi sebagian suatu

sistem yang berkaitan dengan sistem yang lebih besar memperkenalkan

pentingnya umpan balik yang ditunjukan sebagai informasi mencerminkan

hasil dari suatu tindakan atau serangkaian tindakan oleh seseorang, kelompok

atau organisasi.

Pendekatan multiple constituency, pendekatan ini adalah perspektif yang

menekankan pentingnya hubungan relative diantara kepentingan kelompok

dan individual dalam hubungan relatif diantara kepentingan kelompok dan

individual dalam suatu organisasi. Dengan pendekatan ini kemungkinan

pentingnya hubungan relatif diantara kepentingan kelompok dan individual

dalam suatu organisasi. Dengan pendekatan ini kemungkinan

mengkombinasikan tujuan dan pendekatan sistem guna memperoleh

pendekatan yang lebih tepat bagi efektivitas organisasi.


36

Menurut R.obbins (1994:54) mengungkapkan juga mengenai pendekatan

dalam efektivitas organisasi :

1. Pendekatan pencapaian tujuan.

2. Pendekatan sistem.

3. Pendekatan konstituensi strategis.

4. Pendekatan nilai-nilai bersaing.

Pendekatan pencapaian tujuan. Pendekatan ini memandang bahwa

keefektifan organisasi dapat dilihat dari pencapaian tujuannya (ends) dari pada

caranya (means). Kriteria pendekatan yang popular digunakan adalah

memaksimalkan laba, memenangkan persaingan dan lain sebagainya. Metode

manajemen yang terkait dengan pendekatan ini dikenal dengan manajemen By

Objectives (MBO) yaitu falsafah manajemen yang menilai keefektifan

organisasi dan anggotanya dengan cara menilai seberapa jauh mereka

mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

Pendekatan sistem. Pendekatan ini menekankan bahwa untuk

meningkatkan kelangsungan hidup organisasi, maka perlu diperhatikan adalah

sumber daya manusianya, mempertahankan diri secara internal dan

memperbaiki struktur organisasi dan pemanfaatan teknologi agar dapat

berintegrasi dengan lingkungan yang dari organisasi tersebut memerlukan

dukungan terus menerus bagi kelangsungan hidupnya.

Pendekatan konstituensi strategis. Pendekatan ini menekankan pada

pemenuhan tuntutan konstituensi itu didalam lingkungan yang darinya orang


37

tersebut memerlukan dukungan yang terus menerus bagi kelangsungan

hidupnya.

Pendekatan nilai-nilai bersaing. Pendekatan ini mencoba mempersatukan

ketiga pendekatan diatas, masing-masing didasarkan atas suatu kelompok

nilai. Masing-masing nilai selanjutnya lebih disukai berdasarkan dari hidup

dimana organisasi itu berada.

Berdasarkan pendapat diatas, dapat diketahui bahwa pendekatan tujuan

didasarkan pada pandangan organisasi diciptakan sebagai alat untuk mencapai

tujuan. Dalam teori sistem, organisasi dipandang sebagai suatu unsur dari

sejumlah unsur yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya.

2.1.2.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas

Berdasarkan pendekatan-pendekatan dalam efektivitas organisasi yang

telah dikemukakan sebelumnya maka dapat dikatakan bahwa faktor-faktor

yang mempengaruhi efektivitas organisasi adalah sebagai berikut :

1. Adanya tujuan

2. Struktur organisasi

3. Adanya dukungan atau partisipasi masyarakat

4. Adanya sistem nilai yang dianut

Organisasi akan berjalan terarah jika memiliki tujuan yang jelas. Adanya

tujuan akan memberikan motivasi untuk melaksanakan tugas dan tanggung

jawab. Selanjutnya tujuan organisasi mencakup beberapa fungsi diantaranya

yaitu memberikan pengarahan dengan cara menggambarkan keadaan yang


38

akan datang, yang senantiasa dikejar dan diwujudkan oleh organisasi. Faktor-

faktor yang mempengaruhi organisasi harus mendapat perhatian yang serius

apabila ingin mewujudkan suatu efektivitas.

Empat faktor yang mempengaruhi efektivitas, yang dikemukakan oleh

Steers (1985:8) :

1. Karakteristik Organisasi

2. Karakteristik lingkungan

3. Karakteristik pekerja

4. Karakteristik manajemen

Karakteristik organisasi adalah hubungan yang sifatnya relative tetap

seperti susunan sumber daya manusia yang terdapat dalam organisasi. Struktur

merupakan cara yang unik menempatkan manusia dalam rangka menciptakan

sebuah organisasi. Dalam struktur, manusia ditempatkan sebagai bagian dari

suatu hubungan yang relatif tetap yang akan menentukan pola interaksi dan

tingkah laku yang berorientasi pada tugas.

Karakteristik lingkungan, mencakup dua aspek. Aspek pertama adalah

lingkungan ekstern yaitu lingkungan yang berada luar batas organisasi dan

sangat berpengaruh terhadap organisasi, terutama dalam pembuatan keputusan

dan pengambilan tindakan. Aspek yaitu, lingkungan intern yang dikenal

sebagai iklim organisasi yaitu lingkungan yang secara keseluruhan dalam

lingkungan organisasi.

Karakteristik pekerja merupakan faktor yang paling berpengaruh

terhadap efektivitas. Didalam diri setiap individu akan ditemukan banyak


39

perbedaan, akan tetapi kesadaran individu akan perbedaan itu sangat penting

dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Jadi apabila suatu organisasi

menginginkan keberhasilan, organisasi tersebut harus dapat mengintegrasikan

tujuan individu dengan tujuan organisasi.

Karakteristik manajemen adalah strategi dan mekanisme kerja yang

dirancang untuk mengkondisikan semua hal yang didalam organisasi sehingga

efektivitas tercapai. Kabijakan dan praktek manajemen merupakan alat bagi

pimpinan untuk mengarahkan setiap kegiatan guna mencapai tujuan

organisasi. Dalam melaksanakan kebijakan dan praktek manajemen harus

memperhatikan manusia, tidak hanya mementingkan strategi dan mekanisme

kerja saja. Mekanisme ini meliputi penyusunan tujuan strategis, pencarian dan

pemanfaatan atas sumber daya, penciptaan lingkungan prestasi, proses

komunikasi, kepemimpinan dan pengambilan keputusan, serta adaptasi

terhadap perubahan lingkungan inovasi organisasi.

Menurut pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Organisasi terdiri dari atas berbagai unsur yang saling berkaitan, jika salah

satu unsur memiliki kinerja yang buruk, maka akan mempengaruhi kinerja

organisasi secara keseluruhan.

2. Keefektifan membutuhkan kesadaran dan interaksi yang baik dengan

lingkungan.

3. Kelangsungan hidup organisasi membutuhkan pergantian sumber daya

secara terus menerus. Suatu perusahaan tidak memperhatikan faktor-faktor

yang mempengaruhi efektivitas organisasi, akan mengalami kesulitan


40

dalam mencapai tujuannya tetapi apabila suatu perusaan memperhatikan

faktor-faktor tersebut maka tujuan yang ingin dicapai dapat lebih mudah

tercapai hal itu dikarenakan efektivitas akan selalu dipengaruhi oleh

faktor-faktor tersebut.

2.1.3 Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku yaitu

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008, tentang pemerintahan daerah, daerah

diberikan kewenangan untuk mencari dan mengembangkan penerimaan-

penerimaan yang berasal dari daerah itu sendiri, yang sering kita sebut dengan

Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pendapatan Asli Daerah yang selanjutnya

disingkat PAD adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut

berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan perundang-undangan.

Kemudian menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004, tentang

perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah pada pasal 6

dijelaskan pula, bahwa :

“Pendapatan Asli Daerah merupakan pendapatan yang dikelola daerah

melalui hasil pajak daerah, rertibusi daerah, hasil perusahaan daerah,

dan hasil pengelolaan kekayaan dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah

yang sah”.

Pendapatan Asli Daerah merupakan pendapatan daerah yang bersumber

dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan

daerah yang dipisahkan dan pendapatan lain asli daerah yang sah, yang
41

bertujuan untuk memberikan keluluasaan kepada daerah dalam menggali

pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas

desentralisasi.

2.1.4 Retribusi Daerah

2.1.4.1 Pengertian Retribusi Daerah

Sumber pendapatan daerah yang penting lainnya adalah retribusi daerah.

Pengertian retribusi secara umum adalah “pembayaran-pembayaran kepada

negara yang dilakukan oleh mereka yang menggunakan jasa-jasa negara. Atau

merupakan iuran kepada pemerintah yang dapat dipaksakan dan jasa balik

secara langsung dan dapat ditunjuk. Paksaan disini bersifat ekonomis karena

siapa saja tidak merasakan jasa balik dari pemerintah, dia tidak dikenakan

iuran itu.

Berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 870-893 tahun

1992, tentang Manual Administrasi Pendapatan Daerah disebutkan:

“Retribusi daerah addalah pungutan daaerah sebagai pembayaran,

pemakaian atau karena memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik

daerah bagi yang berkepentingan atau karena jasa yang diberikan oleh

daerah”.

Retribusi daerah sesuai dengan peraturan pemerintah R.I nomor 66 tahun

2001, pasal 1 point 1 bahwa yang dimaksud dengan :

“Retribusi daerah, yang selanjutnya disebut rertibusi, adalah

pemungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemeberian


42

jasa atau pemeberian ijin tertentu yang khusus disediakan dan/atau

diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau

badan”.

Dari pengertian diatas dapat kita menarik kesimpulan retribusi daerah

merupakan pungutan atas pemakaian atau manfaat yang diperoleh secara

langsung oleh seseorang atau badan karena jasa yang nyata pemerintah

daerah. Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas

pemakaian jasa atau karena mendapatkan jasa pekerjaan, usaha atau milik

daerah bagi yang berkepentingan atau karena jasa yang diberikan oleh daerah.

Seperti halnya pajak daerah, retribusi daerah dilaksanakan berdasarkan

undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi

daerah. Dan peraturan pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang peraturan

umum retribusi daerah dan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008 tentang

Pokok-pokok pemerintahan di daerah, selanjutnya untuk pelaksanaannya di

masing-masing daerah, pungutan retribusi daerah dijabarkan dalam bentuk

peraturan daerah yang mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang

berlaku.

Beberapa pengertian istilah yang terkait dengan Retribusi Daerah

menurut UU No. 28 Tahun 2009 antara lain :

1. Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas


jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan.
2. Jasa adalah kegiatan pemerintah daerah berupa usaha dan pelayanan
yang menyebakan barang, fasilitas, atau kemanfaatan lainya yang
dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.
3. Jasa Usaha, adalah jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah
dengan menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya
dapat pula disediakan oleh sektor swasta.
43

4. Jasa umum, adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh


pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum
serta dapat dinikmati orang pribadi atau badan.
5. Retribusi perizinan tertentu adalah retribusi atas kegiatan tertentu
pemerintah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau
badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan,
pengendalian, dan pengawasan atas kegiatan dan pemanfaatkan
ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana,
atau fasilitas, tertentu guna melindung kepentingan umum dan
menjaga kelestarian lingkungan.

Demikian pula, dari pendapat-pendapat diatas dapat diikhtisarkan ciri-

ciri pokok retribusi daerah sebagai berikut :

a. Retribusi dipungut oleh daerah, akan berhenti

b. Dalam pemungutan retribusi terdapat prestasi yang diberikan daerah

yang langsung dapat dtunjuk

c. Retribusi dikenakan kepada siapa saja yang memanfaatkan atau

mengenyam jasa yang disediakan oleh daerah.

2.1.4.2 Objek dan Golongan Retribusi Daerah

Menurut Siahaan (2013: 619) objek dan golongan retribusi daerah terdiri

dari:

1. Objek Retribusi Daerah

Undang-undang nomor 34 tahun 2000 pasal 18 ayat menentukan

bahwa objek retribusi adalah berbagai jenis jasa tertentu yang disediakan

oleh pemerintah daerah. Tidak semua jasa yang diberikan oleh

pemerintah daerah dapat dipungut retribusinya, tetapi hanya jenis-jenis

jasa tertentu yang menurut pertimbangan sosial-ekonomi layak dijadikan

sebagai objek retribusi. Jasa tertentu tertentu dikelompokan kedalam tiga


44

golongan, yaitu jasa umum,jasa usaha, dan perizinan tertentu. Hal ini

juga diatur dalam undang-undang nomor 28 tahun 2009. Dengan

demikian, objek retribusi terdiri dari tiga kelompok jasa sebagaimana

disebut dibawah ini.

a. jasa umum, yaitu jasa yang disediakan atau oleh pemerintah daerah

untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat

dinikmati oleh pribadi atau badan.

b. Jasa usaha, yaitu jasa yang disediakan oleh pemerintah

daerah,dengan menganut prinsip-prinsip komersial karena pada

dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta.

c. Perizinan tertentu, yaitu kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam

rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang

dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian, dan

pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruangan, penggunanaan

sumber daya alam, barang, prasana, sarana, atau fasilitas tertentu

guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian.

Mengingat bahwa fungsi perizinan dimaksudkan untuk mengadakan

pembinaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan, pada

dasarnya pemeberian izin oleh pemerintah daerah tidak harus

dipungut retribusi.
45

2. Golongan Retrubusi Daerah

Sesuai dengan undang-undang nomor 34 tahun 2000 pasal 18 ayat 2

dan undang-undang no 28 tahun 2009 pasal 108 ayat 2 sampai 4,

Retribusi daerah dibagi atas tiga golongan yakni sebagai berikut:

a. Retribusi jasa umum yang terdiri dari: retribusi pelayanan kesehatan,

retribusi pelayanan persampahan, retribusi pergantian biaya cetak

kartu tanda penduduk, dan akta catatan sipil, retribusi pelayanan

pemakaman, dan pengabuan mayat, retribusi pelayanan parkir,

retribusi pelayanan pasar, retribusi pengujian kendaraan bermotor,

retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran, dan sebagainya.

b. Retribusi perizinan tertentu yang terdiri dari: retribusi izin

mendirikan bangunan, retribusi izin tempat penjualan minuman

beralkohol, retribusi izin gangguan, dan sebagainya.

c. Retribusi jasa usaha yang terdiri dari: retribusi pemakaian kekayaan

daerah, retribusi pasar grosir atau pertokoan, retribusi tempat

pelelangan, retribusi terminal, retribusi rekreasi dan tempat olahraga,

dan sebagainya.

2.1.4.3 Retribusi Tempat Rekreasi

Retribusi tempat rekreasi dan olahraga, pelayanan tempat rekreasi dan

olahraga adalah tempat rekreasi, pariwisata dan olahraga yang dimiliki

dan/atau dikelola pemerintah daerah.


46

Retribusi tempat rekreasi diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten

Sukabumi Nomor 14 Tahun 2013 tentang perubahan atas Peraturan Daerah

Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Retribusi Tempat Rekreasi, Pariwisata Dan

Tempat Olahraga Di Kabupaten Sukabumi.

“Kabupaten Sukabumi memiliki potensi tempat rekreasi, Pariwisata dan

Tempat Olahraga yang cukup besar, sehingga perlu untuk dikelola dan

dikembangkan secara optimal guna mendukung peningkatan kesejahteraan

masyarakat dan perekonomian Daerah.”

“Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat

Rekreasi, Pariwisata dan Tempat Olahraga di Kabupaten Sukabumi belum

mengakomodir seluruh potensi wisata yang berada di Daerah sehingga perlu

dilakukan perubahan.”

2.2 Kerangka Berpikir

Sebagai landasan teori untuk memecahkan masalah penelitian ini, peneliti

mengemukakan konsep-konsep yang mendukung variabel-variabel yang ada pada

judul proposal. Oleh karena pentingnya pembahasan, maka secara khusus para

ahli memfokuskan perhatian studinya guna mengungkap arti pengawasan sesuai

dengan titik tolak dan sudut pandang yang berbeda-beda. Adapun teori-teori dari

para ahli yang mengemukakan tentang pengawasan.

Menurut Siagian (2012: 125) menyebutkan bahwa pengawasan merupakan

proses pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk


47

menjamin agar semua pekerjaan yangs sedang dilakukan sesuai dengan rencana

yang telah ditentukan sebelumnya.

Menurut Situmorang dalam Makmur (2015:176) menyatakan bahwa

pengawasan adalah setiap usaha dan tindakan dalam rangka untuk mengetahui

sejauh mana pelaksanaan tugas yang dilaksanakan menurut ketentuan dan sasaran

yang hendak dicapai.

Melalui pengawasan akan membangkitkan rasa tanggungjawab yang besar

dari setiap individu dalam menjalani tugasnya.

Adapun dimensi-dimensi pengawasan yang akan penulis gunakan adalah

menurut Hasibuan (2011:245) yaitu (1) Pengawasan langsung, (2) Pengawasan

tidak langsung, (3) Pengawasan Berdasarkan kekecualian.

Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang

telah ditentukan didalam setiap organisasi, kegiatan ataupun program.

Efektitivitas lebih ditekankan pada seberapa jauh target telah dicapai. Dimana

makin besar presentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya

Menurut Manullang (2009:214) berpendapat bahwa efektivitas adalah

Prestasi atau efektivitas organisasi pada dasarnya adalah efektivitas perorangan,

atau dengan kata lain bila tiap anggota organisasi secara terkoordinasi

melaksanakan tugas dan pekerjaannya masing-masing dengan baik, efektivitas

organisasi secara keseluruhan akan timbul.

Menurut Hidayat (1989:14) secara umum efektivitas diartikan sebagai suatu

hubungan antara hasil nyata maupun (barang dan jasa) dengan masukan yang

sebenarnya.
48

Dalam penelitian ini penulis menggunakan indikator efektivitas Menurut

Makmur (2011:7-9) yaitu (1) Ketepatan waktu, (2) Ketepatan perhitungan biaya,

(3) Ketepatan dalam pengukuran (4) Ketepatan dalam menentukan pilihan, (5)

Ketepatan berpikir, (6) Ketepatan dalam melakukan perintah, (7) Ketepatan dalam

menentukan tujuan, (8) Ketepatan sasaran.

Selanjutnya penulis meneliti tentang retribusi yang dilakukan ditempat

rekreasi Cipanas Palabuhanratu, karena objek Retribusin Tempat Rekreasi adalah

pelayanan tempat pelayanan tempat rekreasi, pariwisata, dan olahraga yang

disediakan, dimiliki, dan atau dikelola oleh pemerintah daerah. kecuali dari objek

retribusi tempat rekreasi dan olahraga adalah tempat pelayanan tempat rekreasi,

pariwisata, dan olahraga yang disediakan, dimiliki, dan atau dikelola oleh

pemerintah, BUMN, BUMD, dan pihak swasta.

Uraian diatas melahirkan sebuah konsep yang dapat digambarkan seperti

berikut:

Gambar 2.1
Skema Alur Berpikir

Pengawasan Efektivitas
Variabel (X) Variabel (Y)

1. Pengawasan Langsung 1. Ketepatan waktu


2. Pengawasan tidak 2. Ketepatan perhitungan biaya
langsung 3. Ketepatan dalam pengukuran
3. Pengawasan berdasarkan 4. Ketepatan dalam menentukan
pengecualian
r xy
pilihan
5. Ketepatan berpikir
6. Ketepatan dalam melakukan
Sumber : Hasibuan perintah
(2004:245) 7. Ketepatan dalam menentukan
tujuan
8. Ketepatan sasaran

Sumber:Makmur (2015:7-9)
49

2.3 Hipotesis

Menurut Sugiyono (2015:67) memberikan pengertian bahwa hipotesis

merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian telah

dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.

Hipotesis merupakan anggapan sementara sebagai pedoman untuk

mempermudah jalannya penelitian, penelitian ini terdapat dua variabel yaitu

variabel bebas (Vx) pengawasan dan variabel terikat (Vy) efektifitas.

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, penulis merumuskan

hipotesis deklaratif bahwa “Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan

Pengawasan Terhadap Efektifitas Pendapatan Retribusi Objek Wisata Cipanas

pada Dinas Pariwisata di Kabupaten Sukabumi”.


48