Anda di halaman 1dari 26

WRAP SKENARIO 1

BLOK MEDIKOLEGAL
MATA DIOBATI MENJADI BUTA

KELOMPOK A-12
Ketua : Gery Aldilatama 1102014115
Sekretasis : Diah Ayu Kusuma Wardani 1102014072
Anindya Anjas Putriavi 1102014027
Annisa Ayu Rahmawati 1102014031
Ayu Retno Bashirah 1102014053
Farida Citra Permatasari 1102014094
Hanna Kumari Dharaindas 1102014120
Ikhsanul Akbar Misfa 1102014125
Ayu Mulyalestari 1102012037

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2017 – 2018

1
Skenario 1:

Mata Diobati Menjadi Buta

Tidak terima matanya menjadi buta, Haslinda bersama tim kuasa hukumdari
Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan mendatangi ke Polda Metro Jaya untuk
melaporkan dugaan malpraktek dokter, Waldensius Girsang di Rumah Sakit
Jakarta Eyes Center.
Haslinda menuturkan, pada 6 Maret lalu, Kemerahan pada mata, kabur
penglihatan, kepekaan terhadap cahaya (ketakutan dipotret), gelap, mata sakit
sudah disampaikan ke dokter Fikri Umar Purba yang kemudian didiagnosis
sebagai penyakit uveitis tuberkulosa. Namun beberapa hari kemudian setelah
ditangani oleh dokter Purba, mata Haslinda tidak kembali berfungsi normal atau
menjadi buta.
Sementara itu, Dokter Purba yang ditemui di Rumah Sakit Jakarta Eyes Center
membantah telah melakukan malpraktek terhadap Haslinda.
Dalam pengaduannya ke ruang pengaduan Polda Metro Jaya, Haslinda warga
Kayu Mas, Pulogadung, Jakarta Timur ini tidak menyebutkan tuntutan materil dan
immateril kepada dokter purba dan Rumah Sakit Jakarta Eyes Center sebagai
pihak yang diduga melakukan malpraktek.
Pengacara pasien juga menuliskan dasar gugatannya berdasarkan:
1. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945
2. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
3. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
4. UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
5. UU No 29 tahun 2004 tentang praktik Kedokteran
6. UU No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
7. Kode Etik Kedokteran
8. UU No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

2
KATA SULIT
Malpraktek: Adanya kegagalan dokter untuk menerapkan standard pelayanan
terapi terhadap pasien atau kurangnya keahlian atau mengabaikan perawatan
pasien yang menjadi penyebab langsung terhadap terjadinya cidera pada pasien

Hukum Pidana: Keseluruhan dari peraturan-peraturan yang menentukan


perbuatan apa yang dilarang dan termasuk dalam tindakan pidana serta
menentukan hukuman apa yang dapat dijatuhkan terhadap yang melakukannya

Hukum Perdata: Ketentuan yang mengatur hak-hak dan kepentingan antara


individu-individu dalam masyarakat

PERTANYAAN:

1. Bagaimana upaya dokter untuk menyangkal tuduhan malpraktek pada skenario


ini?
2. Bagaimana hukum malpraktek dalam pandangan islam?
3. Apa dalam hal ini dokter mendapatkan perlindungan dari rumah sakit?
4. Kenapa pasien tidak menyebutkan tuntutan material dan non material?
5. Apa hukuman bagi dokter yang melakukan malpraktek?
6. Apa saja yang termasuk dalam malpraktek dan apakah setiap malpraktek
hukumannya sama?
7. Apa peran lembaga bagian hukum kesehatan dalam kasus malpraktek?

JAWABAN:

1. Menujukan informed consent, rekam medis, mendatangkan saksi


2. Dosa, haram karna merugikan orang lain
3. Menurut UU No. 44 tahun 2009 : Rumah sakit ikut bertanggung jawab
memberikan bukti-bukti
4. Hak pasien
5. Mencabut surat izin praktek sementara selama proses hukum berlangsung,
diperiksa MKDKI, MKEK
6. Tidak melakukan informed consent, tidak membuat rekam medis, melakukan
tindakan tidak sesuai SOP dan hukumannya tidak sama setiap kasus
7. Menyediakan bantuan seperti pengacara hingga proses hukum selesai

3
HIPOTESIS

Malpraktek adalah tindakan tidak melakukan informed consent, tidak membuat


rekam medis, melakukan tindakan tidak sesuai SOP, hukumannya tidak sama
setiap kasus dan harus diproses dengan alur mencabut surat izin praktek
sementara selama proses hukum berlangsung, diperiksa MKDKI, MKEK. Upaya
dokter untuk menyangkal dugaan dengan menujukan informed consent, rekam
medis, mendatangkan saksi, Malpraktek menurut pandangan islam dosa, haram
karna merugikan orang lain

4
SASARAN BELAJAR:
1. Memahami dan Menjelaskan Pelayanan Kesehatan
2. Memahami dan Menjelaskan Malpraktek
3. Memahami dan Menjelaskan Informed Consent
4. Alur Hukum Pasien
5. Malpraktek dalam padangan Islam

5
1. Memahami dan Menjelaskan Pelayanan Kesehatan
Standar Pelayanan Kedokteran adalah pedoman yang harus diikuti oleh
dokter dalam menyelenggarakan praktik kedokteran dan salah satu tindak lanjut
dari perundangan yangtelahditerbitkan enam tahun yang lalu. Standar Pelayanan
Kedokteran terdiri dari Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) dan
Standar Prosedural Operasional (SPO). Untuk rumah sakit Komite Medik adalah
mengkordinasikan penyusunan Panduan Praktik Klinis (PPK) yang dibuat oleh
(kelompok) staf medis dan mengacu kepada Pedoman Nasional Pelayanan
Kedokteran (PNPK) yang dibuat oleh organisasi profesi dan disahkan oleh
Menteri Kesehatan. Sedangkan untuk tingkat pelayanan primer dalam hal ini
Puskesmas, dokter atau kelompok dokter menyusun Panduan Praktik Klinis (PPK)
tetap mengacu kepada Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) yang
dibuat oleh organisasi profesi (IDI) dan agar upaya kesehatan rujukan
berkesinambungan dokter Puskesmas tersebut dapat mengacu kepada PPK dari
RSUD setempat. Penggunaan PPK Puskesmas tersebut disahkan penggunaannya
oleh Pimpinan Puskesmas (atau Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kotabiladoktertersebut merangkapselakuPimpinanPuskesmas)
Standar Pelayanan Kedokteran (PNPK dan PPK) tidak identik dengan
Buku Ajar, Textbooks ataupun catatan kuliah yang digunakan di perguruan tinggi.
Karena Standar Pelayanan Kedokteran merupakan alat/bahan yang
diimplementasikan pada pasien, sedangkan buku ajar, text-books, jurnal, bahan
seminar maupun pengalaman pribadi adalah sebagai bahan rujukan/referensi
dalam menyusun Standar Pelayanan Kedokteran. Standar Prosedur Operasional
untuk profesi medis Puskesmas dalam bentuk Panduan Praktik Klinis pada
umumnya dapat diadopsi dari Panduan Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK)
yang telah dibuat oleh organisasi profesi masing masing, tinggal dicocokkan dan
disesuaikan dengan kondisi sarana dan kompetensi yang ada di Puskesmas. Bila
PNPK yang telah dibuat oleh organisasi profesi tersebut dan telah disahkan oleh
Menteri Kesehatan RI serta sesuai dengan kondisi Puskesmas – maka tinggal
disepakati oleh kelompok dokter terkait sebagai Panduan Praktik Klinis (PPK)
Penyusunan Panduan Praktik Klinis Panduan Praktik Klinis (PPK)
berdasarkan pendekatan Evidence-based Medicine (EBM) dan atau Health
Technology Assessment (HTA) yang isinya terdiri sekurang kurangnya dari:
1. Definisi/pengertian
2. Anamnesis
3. Pemeriksaan Fisik
4. Kriteria Diagnosis
5. DiagnosisBanding
6. Pemeriksaan Penunjang
7. Terapi
8. Edukasi
9. Prognosis
10.Kepustakaan

6
2. Memahami dan Menjelaskan Malpraktek
2.1. Definisi
Malpraktik atau malpractice berasal dari kata ”mal” yang berarti buruk dan
”practice” yang berarti suatu tindakan atau praktik, dengan demikian malpraktek
adalah suatu tindakan medis buruk yang dilakukan dokter/tenaga kesehatan dalam
hubungannya dengan pasien. Malparaktik adalah setiap kesalahan profesional
yang diperbuat oleh dokter/tenaga kesehatan pada waktu melakukan pekerjaan
profesionalnya, tidak memeriksa, tidak menilai, tidak berbuat atau meninggalkan
hal-hal yang diperiksa, dinilai, diperbuat atau dilakukan oleh dokter pada
umumnya didalam situasi dan kondisi yang sama (Berkhouwer & Vorsman,
1950).
Menurut Hoekema, 1981 malpraktik adalah setiap kesalahan yang
diperbuat oleh dokter karena melakukan pekerjaan kedokteran dibawah standar
yang sebenarnya secara rata-rata dan masuk akal, dapat dilakukan oleh setiap
dokter dalam situasi atau tempat yang sama, dan masih banyak lagi definisi
tentang malparaktik yang telah dipublikasikan. Kelalaian medik.

2.2. Jenis
Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu malfeasance, misfeasance dan
nonfeasance:
1. Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak
tepat/layak (unlawful atau improper), misalnya melakukan tindakan medis
tanpa indikasi yang memadai.
2. Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi
dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance), yaitu misalnya
melakukan tindakan medis dengan menyalahi prosedur
3. Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan
kewajiban baginya. Bentuk-bentuk kelalaian di atas sejalan dengan bentuk-
bentuk error (mistakes, slips and lapses), namun pada kelalaian harus
memenuhi keempat unsur kelalaian dalam hukum khususnya adanya
kerugian, sedangkan error tidak selalu mengakibatkan kerugian.
Demikian pula adanya latent error yang tidak secara langsung menimbulkan
dampak buruk. Suatu perbuatan atau sikap dokter atau dokter gigi dianggap lalai
apabila memenuhi empat unsur di bawah ini, yaitu:
1. Duty atau kewajiban dokter dan dokter gigi untuk melakukan sesuatu
tindakan atau untuk tidak melakukan sesuatu tindakan tertentu terhadap
pasien tertentu pada situasi dan kondisi yang tertentu.
2. Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban tersebut.
3. Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien
sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan/kedokteran yang diberikan
oleh pemberi layanan.
4. Direct causal relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata. Dalam hal
ini harus terdapat hubungan sebab akibat antara penyimpangan kewajiban
dengan kerugian yang setidaknya merupakan “proximate cause”.

7
Investigasi
Seorang dokter atau dokter gigi yang menyimpang dari standar profesi dan
melakukan kesalahan profesi belum tentu melakukan malpraktik medis yang
dapat dipidana, malpraktik medis yang dipidana membutuhkan pembuktian
adanya unsur culpa lata atau kalalaian berat dan pula berakibat fatal atau serius
(Ameln, Fred, 1991). Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 359 KUHP, pasal
360, pasal 361 KUHP yang dibutuhkan pembuktian culpa lata dari dokter atau
dokter gigi. Dengan demikian untuk pembuktian malpraktik secara hukum pidana
meliputi unsur :
1. Telah menyimpang dari standar profesi kedokteran;
2. Memenuhi unsur culpa lata atau kelalaian berat; dan
3. Tindakan menimbulkan akibat serius, fatal dan melanggar pasal 359, pasal
360

KUHP.Adapun unsur-unsur dari pasal 359 dan pasal 360 sebagai berikut :
1. Adanya unsur kelalaian (culpa).
2. Adanya wujud perbuatan tertentu.
3. Adanya akibat luka berat atau matinya orang lain.
4. Adanya hubungan kausal antara wujud perbuatan dengan akibat kematian
orang lain itu.

Tiga tingkatan culpa:


a. Culpa lata: sangat tidak berhati-hati (culpa lata), kesalahan serius,
sembrono (grossfault or neglect)
b. Culpa levis: kesalahan biasa (ordinary fault or neglect)
c. Culpa levissima: kesalahan ringan (slight fault or neglect)(Black 1979 hal.
241).
Dalam pembuktian perkara perdata, pihak yang mendalilkan sesuatu harus
mengajukan bukti-buktinya.
Dalam hal ini dapat dipanggil saksi untuk diminta pendapatnya. Jika
kesalahan yang dilakukan sudah demikian jelasnya (res ipsa loquitur, thething
speaks for itself) sehingga tidak diperlukan saksi ahli lagi, maka beban
pembuktian dapat dibebankan pada dokternya.

8
JENIS-JENIS MALPRAKTEK

Berpijak pada hakekat malpraktek adalah praktik yang buruk atau tidak
sesuai dengan standar profesi yang telah ditetapkan, maka ada bermacam-macam
malpraktek dengan mendasarkan pada ketentuan hukum yang dilanggar,
walaupun kadang kala sebutan malpraktek secara langsung bisa mencakup dua
atau lebih jenis malpraktek. Secara garis besar malprakltek dibagi dalam dua
golongan besar yaitu mal praktik medik (medical malpractice) yang biasanya juga
meliputi malpraktik etik (etichal malpractice) dan malpraktek yuridik (yuridical
malpractice). Sedangkan malpraktik yurudik dibagi menjadi tiga yaitu malpraktik
perdata (civil malpractice), malpraktik pidana (criminal malpractice) dan
malpraktek administrasi Negara (administrative malpractice).

1. Malpraktik Medik (medical malpractice)

John.D.Blum merumuskan: Medical malpractice is a form of professional


negligence in whice miserable injury occurs to a plaintiff patient as the direct

9
result of an act or omission by defendant practitioner. (malpraktik medik
merupakan bentuk kelalaian professional yang menyebabkan terjadinya luka berat
pada pasien/penggugat sebagai akibat langsung dari perbuatan ataupun pembiaran
oleh dokter/terguguat).
Sedangkan rumusan yang berlaku di dunia kedokteran adalah Professional
misconduct or lack of ordinary skill in the performance of professional act, a
practitioner is liable for demage or injuries caused by malpractice. (Malpraktek
adalah perbuatan yang tidak benar dari suatu profesi atau kurangnya kemampuan
dasar dalam melaksanakan pekerjaan. Seorang dokter bertanggung jawab atas
terjadinya kerugian atau luka yang disebabkan karena malpraktik), sedangkan
junus hanafiah merumuskan malpraktik medik adalah kelalaian seorang dokter
untuk mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim
dipergunakan dalam mengobati pasien atau orang yang terluka menurut
lingkungan yang sama.

2. Malpraktik Etik (ethical malpractice)

Malpraktik etik adalah tindakan dokter yang bertentangan dengan etika


kedokteran, sebagaimana yang diatur dalam kode etik kedokteran Indonesia yang
merupakan seperangkat standar etika, prinsip, aturan, norma yang berlaku untuk
dokter.

3. Malpraktik Yuridis (juridical malpractice)

Malpraktik yuridik adalah pelanggaran ataupun kelalaian dalam


pelaksanaan profesi kedokteran yang melanggar ketentuan hukum positif yang
berlaku.

Malpraktik Yuridik meliputi:

a. malpraktik perdata (civil malpractice0

Malpraktik perdata terjadi jika dokter tidak melakukan kewajiban (ingkar


janji) yaitu tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah disepakati.
Tindakan dokter yang dapat dikatagorikan sebagai melpraktik perdata antara lain :
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan
b. Melakukan apa yang disepakati dilakukan tapi tidak sempurna
c. Melakukan apa yang disepakati tetapi terlambat
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatan tidak seharusnya dilakukan

b. Malpraktik Pidana (criminal malpractice)

Malpraktik pidana terjadi, jika perbuatan yang dilakukan maupun tidak


dilakukan memenuhi rumusan undang-undang hukum pidana. Perbuatan tersebut
dapat berupa perbuatan positif (melakukan sesuatu) maupun negative (tidak
melakukan sesuatu) yang merupakan perbuatan tercela (actus reus), dilakukan
dengan sikap batin yang salah (mens rea) berupa kesengajaan atau kelalaian.
Contoh malpraktik pidana dengan sengaja adalah :

10
a. Melakukan aborsi tanpa tindakan medik
b. Mengungkapkan rahasia kedokteran dengan sengaja
c. Tidak memberikan pertolongan kepada seseorang yang dalam keadaan
darurat
d. Membuat surat keterangan dokter yang isinya tidak benar
e. Membuat visum et repertum tidak benar
f. Memberikan keterangan yang tidak benar di pengadilan dalam
kapasitasnya sebagai ahli
Contoh malpraktik pidana karena kelalaian:
a. Kurang hati-hati sehingga menyebabkan gunting tertinggal diperut
b. Kurang hati-hati sehingga menyebabkan pasien luka berat atau meninggal
c. Malpraktik Administrasi Negara (administrative malpractice)

Malpraktik administrasi terjadi jika dokter menjalankan profesinya tidak


mengindahkan ketentuan-ketentuan hukum administrasi Negara. Misalnya:
a. Menjalankan praktik kedokteran tanpa ijin
b. Menjalankan praktik kedokteran tidak sesuai dengan kewenangannya
c. Melakukan praktik kedokteran dengan ijin yang sudah kadalwarsa.
d. Tidak membuat rekam medik.

2.3. Pencegahan
1. Upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan
Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga medis
karena adanya malpraktek diharapkan tenaga dalam menjalankan tugasnya selalu
bertindak hati-hati, yakni:
 Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya,
karena perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan
perjanjian akan berhasil (resultaat verbintenis).
 Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.
 Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
 Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.
 Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala
kebutuhannya.
 Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat
sekitarnya.

2.Upaya menghadapi tuntutan hukum


Apabila upaya kesehatan yang dilakukan kepada pasien tidak memuaskan
sehingga perawat menghadapi hukum, maka tenaga kesehatan seharusnya bersifat
pasif dan pasien atau keluarganya yang aktif membuktikan kelalaian tenaga
kesehatan. Apabila tuduhan kepada kesehatan merupakan criminal malpractice,
maka tenaga kesehatan dapat melakukan :
a. Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk menangkis/
menyangkal bahwa tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak
menunjuk pada doktrin-doktrin yang ada, misalnya perawat mengajukan
bukti bahwa yang terjadi bukan disengaja, akan tetapi merupakan risiko
medik (risk of treatment), atau mengajukan alasan bahwa dirinya tidak

11
mempunyai sikap batin (men rea) sebagaimana disyaratkan dalam
perumusan delik yang dituduhkan.
b. Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan
atau menunjuk pada doktrin-doktrin hukum, yakni dengan menyangkal
tuntutan dengan cara menolak unsur-unsur pertanggung jawaban atau
melakukan pembelaan untuk membebaskan diri dari pertanggung
jawaban, dengan mengajukan bukti bahwa yang dilakukan adalah
pengaruh daya paksa.

Berbicara mengenai pembelaan, ada baiknya perawat menggunakan jasa


penasehat hukum, sehingga yang sifatnya teknis pembelaan diserahkan
kepadanya.
Pada perkara perdata dalam tuduhan civil malpractice dimana perawat digugat
membayar ganti rugi sejumlah uang, yang dilakukan adalah mementahkan dalil-
dalil penggugat, karena dalam peradilan perdata, pihak yang mendalilkan harus
membuktikan di pengadilan, dengan perkataan lain pasien atau pengacaranya
harus membuktikan dalil sebagai dasar gugatan bahwa tergugat (perawat)
bertanggung jawab atas derita (damage) yang dialami penggugat.
Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidak mudah, utamanya tidak
diketemukan fakta yang dapat berbicara sendiri (res ipsa loquitur), apalagi untuk
membuktikan adanya tindakan menterlantarkan kewajiban (dereliction of duty)
dan adanya hubungan langsung antara menterlantarkan kewajiban dengan adanya
rusaknya kesehatan (damage), sedangkan yang harus membuktikan adalah orang-
orang awam dibidang kesehatan dan hal inilah yang menguntungkan tenaga
perawatan.

2.4. Aspek Hukum dan Sanksi


1. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
2. Pasal 359 – 360 KUHP Pidana
Pasal 359 KUHP
Barang siapa karena kesalahan (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana
kurungan paling lama satu tahun

Pasal 360 KUHP


1) Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-
luka bert, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau
kurungan paling lama satu tahun
2) Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka
sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjadikan
pekerjaan jabatan atau pencarian selama waktu tertentu, diancam dengan
pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau denda paling tinggi tiga
ratus rupiah.
3. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran

12
3. Memahami dan Menjelaskan Informed Consent
3.1. Definisi
Informed Consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan
oleh pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara
lengkap mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien
tersebut. Persetujuan yang ditanda tangani oleh pasien atau keluarga terdekatnya
tersebut, tidak membebaskan dokter dari tuntutan jika dokter melakukan
kelalaian. Tindakan medis yang dilakukan tanpa persetujuan pasien atau keluarga
terdekatnya, dapat digolongkan sebagai tindakan melakukan penganiayaan
berdasarkan KUHP Pasal 351.
Informasi/keterangan yang wajib diberikan sebelum suatu tindakan
kedokteran dilaksanakan adalah:
4. Diagnosa yang telah ditegakkan.
5. Sifat dan luasnya tindakan yang akan dilakukan.
6. Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut.
7. Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi daripada tindakan kedokteran
tersebut.
8. Konsekwensi bila tidak dilakukan tindakan tersebut dan adakah alternatif
cara pengobatan yang lain.
9. Kadangkala biaya yang menyangkut tindakan kedokteran tersebut.

BENTUK INFORMED CONSENT


1) Implied Constructive Consent (Keadaan Biasa)
Tindakan yang biasa dilakukan, telah diketahui, telah dimengerti oleh
masyarakat umum, sehingga tidak perlu lagi dibuat tertulis. Misalnya
pengambilan darah untuk laboratorium, suntikan, atau hecting luka terbuka.
2) Implied Emergency Consent (Keadaan Gawat Darurat)
Bila pasien dalam kondisi gawat darurat sedangkan dokter perlu melakukan
tindakan segera untuk menyelematkan nyawa pasien sementara pasien dan
keluarganya tidak bisa membuat persetujuan segera. Seperti kasus sesak
nafas, henti nafas, henti jantung.
3) Expressed Consent (Bisa Lisan/Tertulis Bersifat Khusus)
Persetujuan yang dinyatakan baik lisan ataupun tertulis, bila yang akan
dilakukan melebihi prosedur pemeriksaan atau tindakan biasa. Misalnya
pemeriksaan vaginal, pencabutan kuku, tindakan pembedahan/operasi,
ataupun pengobatan/tindakan invasive.

3.2. Tujuan
Tujuan dari informed consent adalah agar pasien mendapat informasi yang
cukup untuk dapat mengambil keputusan atas terapi yang akan dilaksanakan.
Informed consent juga berarti mengambil keputusan bersama. Hak pasien untuk
menentukan nasibnya dapat terpenuhi dengan sempurna apabila pasien telah
menerima semua informasi yang ia perlukan sehingga ia dapat mengambil
keputusan yang tepat. Kekecualian dapat dibuat apabila informasi yang diberikan
dapat menyebabkan guncangan psikis pada pasien.
Dokter harus menyadari bahwa informed consent memiliki dasar moral
dan etik yang kuat. Menurut American College of Physicians’ Ethics Manual,

13
pasien harus mendapat informasi dan mengerti tentang kondisinya sebelum
mengambil keputusan. Berbeda dengan teori terdahulu yang memandang tidak
adanya informed consent menurut hukum penganiayaan, kini hal ini dianggap
sebagai kelalaian. Informasi yang diberikan harus lengkap, tidak hanya berupa
jawaban atas pertanyaan pasien.

3.3 . Manfaat
Informed Consent bermanfaat untuk :
1) Melindungi pasien terhadap segala tindakan medik yang dilakukan tanpa
sepengetahuan pasien. Misalnya tindakan medik yang tidak perlu atau tanpa
indikasi, penggunaan alat canggih dengan biaya tinggi dsbnya.
2) Memberikan perlindungan hukum bagi dokter terhadap akibat yang tidak
terduga dan bersifat negatif. Misalnya terhadap resiko pengobatan yang
tidak dapat dihindari walaupun dokter telah bertindak seteliti mungkin.
Dengan adanya informed consent maka hak autonomy perorangan di
kembangkan, pasien dan subjek dilindungi, mencegah terjadinya penipuan atau
paksaan, merangsang profesi medis untuk mengadakan introspeksi, mengajukan
keputusan-keputusan yang rasional dan melibatkan masyarakat dalam memajukan
prinsip autonomy sebagai suatu nilai sosial serta mengadakan pengawasan dalam
penelitian biomedik.

3.4. Persetujuan
Bentuk persetujuan atau penolakan
Rumah sakit memiliki tugas untuk menjamin bahwa informed consent
sudah didapat. Istilah untuk kelalaian rumah sakit tersebut yaitu ”fraudulent
concealment”. Pasien yang akan menjalani operasi mendapat penjelasan dari
seorang dokter bedah namun dioperasi oleh dokter lain dapat saja menuntut
malpraktik dokter yang tidak mengoperasi karena kurangnya informed consent
dan dapat menuntut dokter yang mengoperasi untuk kelanjutannya.
Bentuk persetujuan tidaklah penting namun dapat membantu dalam
persidangan bahwa persetujuan diperoleh. Persetujuan tersebut harus berdasarkan
semua elemen dari informed consent yang benar yaitu pengetahuan, sukarela dan
kompetensi.
Beberapa rumah sakit dan dokter telah mengembangkan bentuk
persetujuan yang merangkum semua informasi dan juga rekaman permanen,
biasanya dalam rekam medis pasien. Format tersebut bervariasi sesuai dengan
terapi dan tindakan yang akan diberikan. Saksi tidak dibutuhkan, namun saksi
merupakan bukti bahwa telah dilakukan informed consent. Informed consent
sebaiknya dibuat dengan dokumentasi naratif yang akurat oleh dokter yang
bersangkutan.

Otoritas untuk memberikan persetujuan


Seorang dewasa dianggap kompeten dan oleh karena itu harus mengetahui
terapi yang direncanakan. Orang dewasa yang tidak kompeten karena penyakit
fisik atau kejiwaan dan tidak mampu mengerti tentu saja tidak dapat memberikan
informed consent yang sah. Sebagai akibatnya, persetujuan diperoleh dari orang
lain yang memiliki otoritas atas nama pasien. Ketika pengadilan telah

14
memutuskan bahwa pasien inkompeten, wali pasien yang ditunjuk pengadilan
harus mengambil otoritas terhadap pasien.
Persetujuan pengganti ini menimbulkan beberapa masalah. Otoritas
seseorang terhadap persetujuan pengobatan bagi pasien inkompeten termasuk hak
untuk menolak perawatan tersebut. Pengadilan telah membatasi hak penolakan ini
untuk kasus dengan alasan yang tidak rasional. Pada kasus tersebut, pihak dokter
atau rumah sakit dapat memperlakukan kasus sebagai keadaan gawat darurat dan
memohon pada pengadilan untuk melakukan perawatan yang diperlukan. Jika
tidak cukup waktu untuk memohon pada pengadilan, dokter dapat berkonsultasi
dengan satu atau beberapa sejawatnya.
Jika keluarga dekat pasien tidak setuju dengan perawatan yang
direncanakan atau jika pasien, meskipun inkompeten, mengambil posisi
berlawanan dengan keinginan keluarga, maka dokter perlu berhati-hati. Terdapat
beberapa indikasi dimana pengadilan akan mempertimbangkan keinginan pasien,
meskipun pasien tidak mampu untuk memberikan persetujuan yang sah. Pada
kebanyakan kasus, terapi sebaiknya segera dilakukan
(1) jika keluarga dekat setuju,
(2) jika memang secara medis perlu penatalaksanaan segera,
(3) jika tidak ada dilarang undang-undang.
Cara terbaik untuk menghindari risiko hukum dari persetujuan pengganti
bagi pasien dewasa inkompeten adalah dengan membawa masalah ini ke
pengadilan.

Kemampuan memberi perijinan


Perijinan harus diberikan oleh pasien yang secara fisik dan psikis mampu
memahami informasi yang diberikan oleh dokter selama komunikasi dan mampu
membuat keputusan terkait dengan terapi yang akan diberikan. Pasien yang
menolak diagnosis atau tatalaksana tidak menggambarkan kemampuan psikis
yang kurang. Paksaan tidak boleh digunakan dalam usaha persuasif. Pasien seperti
itu membutuhkan wali biasanya dari keluarga terdekat atau yang ditunjuk
pengadilan untuk memberikan persetujuan pengganti.
Jika tidak ada wali yang ditunjuk pengadilan, pihak ketiga dapat diberi
kuasa untuk bertindak atas nama pokok-pokok kekuasaan tertulis dari pengacara.
Jika tidak ada wali bagi pasien inkompeten yang sebelumnya telah ditunjuk oleh
pengadilan, keputusan dokter untuk memperoleh informed consent diagnosis dan
tatalaksana kasus bukan kegawatdaruratan dari keluarga atau dari pihak yang
ditunjuk pengadilan tergantung kebijakan rumah sakit. Pada keadaan dimana
terdapat perbedaan pendapat diantara anggota keluarga terhadap perawatan pasien
atau keluarga yang tidak dekat secara emosional atau bertempat tinggal jauh,
maka dianjurkan menggunakan laporan legal dan formal untuk menentukan siapa
yang dapat memberikan perijinan bagi pasien inkompeten.
Pihak Yang Berhak Menyatakan Persetujuan:
1. Pasien sendiri (bila telah berumur 21 tahun atau telah menikah)
2. Bagi pasien di bawah umur 21 tahun diberikan oleh mereka menurut hak
sebagai berikut: (1) Ayah/ibu kandung, (2) Saudara-saudara kandung.
3. Bagi yang di bawah umur 21 tahun dan tidak mempunyai orang tua atau
orang tuanya berhalangan hadir diberikan oleh mereka menurut urutan hak

15
sebagai berikut: (l) Ayah/ibu adopsi, (2) Saudara-saudara kandung, (3)
Induk semang.
4. Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental, diberikan oleh mereka
menurut urutan hak sebagai berikut: (1) Ayah/ibu kandung, (2) Wali yang
sah, (3) Saudara-saudara kandung.
5. Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampuan (curatelle),
diberikan menurut urutan hak sebagai berikut: (1) Wali, (2) Curator.
6. Bagi pasien dewasa yang telah menikah/orang tua, diberikan oleh mereka
menurut urutan hak sebagai berikut: a. Suami/istri, b. Ayah/ibu kandung,
c. Anak-anak kandung, d. Saudara-saudara kandung.
Wali: yang menurut hukum menggantikan orang lain yang belum dewasa untuk
mewakilinya dalam melakukan perbuatan hukum atau yang menurut hukum
menggantikan kedudukan orang tua. Induk semang : orang yang berkewajiban
untuk mengawasi serta ikut bertanggung jawab terhadap pribadi orang lain seperti
pimpinan asrama dari anak perantauan atau kepala rumah tangga dari seorang
pembantu rumah tangga yang belum dewasa.

3.5. Isi
Dalam Permenkes No. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan
Medik dinyatakan bahwa dokter harus menyampaikan informasi atau penjelasan
kepada pasien/keluarga diminta atau tidak diminta, jadi informasi harus
disampaikan.
Mengenai apa yang disampaikan, tentulah segala sesuatu yang berkaitan
dengan penyakit pasien. Tindakan apa yang dilakukan, tentunya prosedur
tindakan yang akan dijalani pasien baik diagnostic maupun terapi dan lain-lain
sehingga pasien atau keluarga dapat memahaminya. Ini mencangkup bentuk,
tujuan, resiko, manfaat dari terapi yang akan dilaksanakan dan alternative terapi
(Hanafiah, 1999).
Secara umum dapat dikatakan bahwa semua tindakan medis yang akan
dilakukan terhadap pasien yang harus diinformasikan sebelumnya, namun izin
yang harus diberikan oleh pasien dapat berbagai macam bentuknya, baik yang
dinyatakan ataupun tidak. Yang paling untuk diketahui adalah bagaimana izin
tersebut harus dituangkan dalam bentuk tertulis, sehingga akan memudahkan
pembuktiannya kelak bila timbul perselisihan.
Secara garis besar dalam melakukan tindakan medis pada pasien, dokter
harus menjelaskan beberapa hal, yaitu:
1) Garis besar seluk beluk penyakit yang diderita dan prosedur perawatan /
pengobatan yang akan diberikan / diterapkan.
2) Resiko yang dihadapi, misalnya komplikasi yang diduga akan timbul.
3) Prospek / prognosis keberhasilan ataupun kegagalan.
4) Alternative metode perawatan / pengobatan.
5) Hal-hal yang dapat terjadi bila pasien menolak untuk memberikan
persetujuan.
6) Prosedur perawatan / pengobatan yang akan dilakukan merupakan suatu
percobaan atau menyimpang dari kebiasaan, bila hal itu yang akan dilakukan
Dokter juga perlu menyampaikan (meskipun hanya sekilas), mengenai cara
kerja dan pengalamannya dalam melakukan tindakan medis tersebut
(Achadiat, 2007).

16
Informasi/keterangan yang wajib diberikan sebelum suatu tindakan
kedokteran dilaksanakan adalah:
1. Diagnosa yang telah ditegakkan.
2. Sifat dan luasnya tindakan yang akan dilakukan.
3. Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut.
4. Resiko resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi daripada tindakan
kedokteran tersebut.
5. Konsekwensinya bila tidak dilakukan tindakan tersebut dan adakah alternatif
cara pengobatan yang lain.
6. Kadangkala biaya yang menyangkut tindakan kedokteran tersebut.

Resiko resiko yang harus diinformasikan kepada pasien yang dimintakan


persetujuan tindakan kedokteran :
 Resiko yang melekat pada tindakan kedokteran tersebut.
 Resiko yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya.

Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran,


dokter yang akan melakukan tindakan juga harus memberikan penjelasan ( Pasal
11 Ayat 1 Permenkes No 290/Menkes/PER/III/2008 ). Penjelasan kemungkinan
perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud dalam Ayat 1 merupakan
dasar daripada persetujuan (Ayat 2).

Pengecualian terhadap keharusan pemberian informasi sebelum dimintakan


persetujuan tindakan kedokteran adalah:
 Dalam keadaan gawat darurat (emergency), dimana dokter harus segera
bertindak untuk menyelamatkan jiwa.
 Keadaan emosi pasien yang sangat labil sehingga ia tidak bisa menghadapi
situasi dirinya. Ini tercantum dalam PerMenKes no 290 / Menkes / Per / III
/ 2008.

KETENTUAN INFORMED CONSENT


Ketentuan persetujuan tidakan medik berdasarkan SK Dirjen Pelayanan
Medik No.HR.00.06.3.5.1866 Tanggal 21 April 1999, diantaranya :
1 Persetujuan atau penolakan tindakan medik harus dalam kebijakan dan
prosedur (SOP) dan ditetapkan tertulis oleh pimpinan RS.
2 Memperoleh informasi dan pengelolaan, kewajiban dokter
3. Informed Consent dianggap benar :
a. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan untuk tindakan medis
yang dinyatakan secara spesifik.
b. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan tanpa paksaan
(valuentery)
c. Persetujuan dan penolakan tindakan medis diberikan oleh seseorang
(pasien) yang sehat mental dan memang berhak memberikan dari segi
hukum
d. Setelah diberikan cukup (adekuat) informasi dan penjelasan yang diperlukan

17
4 Isi informasi dan penjelasan yang harus diberikan :
a. Tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan medis yang ada
dilakukan (purhate of medical procedure)
b. Tentang tata cara tindakan medis yang akan dilakukan (consenpleated
medical procedure)
c. Tentang risiko
d. Tentang risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
e. Tentang alternatif tindakan medis lain yang tersedia dan risiko –risikonya
(alternative medical procedure and risk)
f. Tentang prognosis penyakit, bila tindakan dilakukan
g. Diagnosis
5. Kewajiban memberi informasi dan penjelasan
 Dokter yang melakukan tindakan medis tanggung jawab
 Berhalangan diwakilkan kepada dokter lain, dengan diketahui dokter yang
bersangkutan
6. Cara menyampaikan informasi
 Lisan
 Tulisan
7. Pihak yang menyatakan persetujuan
a. Pasien sendiri, umur 21 tahun lebih atau telah menikah
b. Bagi pasien kurang 21 tahun dengan urutan hak :
 Ayah/ibu kandung
 Saudara saudara kandung
c. Bagi pasien kurang 21 tahun tidak punya orang tua/berhalangan, urutan hak:
 Ayah/ibu adopsi
 Saudara-saudara kandung
 Induk semang
d. Bagi pasien dengan gangguan mental, urutan hak :
 Ayah/ibu kandung
 Wali yang sah
 Saudara-saudara kandung
e. Bagi pasien dewasa dibawah pengampuan (curatelle) :
 Wali
 Kurator
f. Bagi pasien dewasa telah menikah/orangtua
 Suami/istri
 Ayah/ibu kandung
 Anak-anak kandung
 Saudara-saudara kandung
8. Cara menyatakan persetujuan
 Tertulis; mutlak pada tindakan medis resiko tinggi
 Lisan; tindakan tidak beresiko
9. Jenis tindakan medis yang perlu informed consent disusun oleh komite medik
ditetapkan pimpinan RS.
10. Tidak diperlukan bagi pasien gawat darurat yang tidak didampingi oleh
keluarga pasien.
11. Format isian informed consent persetujuan atau penolakan

18
 Diketahui dan ditandatangani oleh kedua orang saksi, perawat bertindak
sebagai salah satu saksi
 Materai tidak diperlukan
 Formulir asli harus dismpan dalam berkas rekam medis pasien
 Formulir harus ditandatangan 24 jam sebelum tindakan medis dilakukan
 Dokter harus ikut membubuhkan tanda tangan sebagai bukti telah diberikan
informasi
 Bagi pasien/keluarga buta huruf membubuhkan cap jempol ibu jari tangan
kanannya
12. Jika pasien menolak tandatangan surat penolakan maka harus ada catatan pada
rekam medisnya.

3.6. Aspek Hukum dan Sanksi


1. Pasal 1320 KUHPerdata syarat syahnya persetujuan
 Sepakat mereka yang mengikatkan diri
 Kecakapan untuk berbuat suatu perikatan
 Suatu hal tertentu
 Suatu sebab yang halal
2. Pasal 1321 tiada sepakat yang syah apabila sepakat itu diberikan karena
kehilafan atau diperlukan dengan paksaan atau penipuan
3. KUHPidana pasal 351
 Penganiayaan dihukum dengan hukum penjara selama-lamanya dua
tahun delapan bulan.
 Menjadikan luka berat hukum selama-lamanya 5 tahun (KUHP 20)
 Membuat orang mati hukum selam-lamanya 7 tahun (KUHP 338)
4. UU No. 23/1992 tentang kesehatan pasal 53
 Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya
 Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk
mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien
 Hak pasien antara lain ; hak informasi, hak untuk memberikan
persetujuan, hak atas rahasia kedokteran dan hak atas pendapat
kedua (second opinion).
5. UU No. 29/2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 45 ayat (1), (2), (3), (4),
(5,) (6)
Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh
dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan
6. Permenkes No. 585/1989 tentang persetujuan tindakan medis
Dokter melakukan tindakan medis tanpa informed consent dari pasien atau
keluarganya saksi administratif berupa pencabutan surat ijin prakteknya.

19
4. Alur Hukum Pasien
MAJELIS KEHORMATAN ETIK KEDOKTERAN (MKEK)
Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran
(tanpa melanggar norma hukum), maka ia akan dipanggil dan disidang oleh
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggung-
jawaban (etik dan disiplin profesi). Persidangan MKEK bertujuan untuk
mempertahankan akuntabilitas, profesionalisme dan keluhuran profesi. Saat ini
MKEK menjadi satu-satunya majelis profesi yang menyidangkan kasus dugaan
pelanggaran etik atau disiplin profesi di kalangan kedokteran. Di kemudian hari
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), lembaga yang
dimandatkan untuk didirikan oleh UU No 29 / 2004, akan menjadi majelis yang
menyidangkan dugaan pelanggaran disiplin profesi kedokteran. Dalam hal
MKDKI dalam sidangnya menemukan adanya pelanggaran etika, maka MKDKI
akan meneruskan kasus tersebut kepada MKEK

Fungsi MKEK
Persidangan MKEK bersifat inkuisitorial khas profesi, yaitu Majelis (ketua dan
anggota) bersikap aktif melakukan pemeriksaan, tanpa adanya badan atau
perorangan sebagai penuntut. Persidangan MKEK secara formil tidak
menggunakan sistem pembuktian sebagaimana lazimnya di dalam hukum acara
pidana ataupun perdata, namun demikian tetap berupaya melakukan pembuktian
mendekati ketentuan-ketentuan pembuktian yang lazim. Dalam melakukan
pemeriksaannya, Majelis berwenang memperoleh :
1. Keterangan, baik lisan maupun tertulis (affidavit), langsung dari pihak-pihak
terkait (pengadu, teradu, pihak lain yang terkait) dan peer-group atau para ahli
di bidangnya yang dibutuhkan
2. Dokumen yang terkait, seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai
ijasah/brevet dan pengalaman, bukti keanggotaan profesi, bukti kewenangan
berupa Surat Ijin Praktek Tenaga Medis, Perijinan rumah sakit tempat
kejadian, bukti hubungan dokter dengan rumah sakit, hospital bylaws, SOP
dan SPM setempat, rekam medis, dan surat-surat lain yang berkaitan dengan
kasusnya.

Tugas MKEK
1. Melakukan tugas bimbingan, pengawasan dan penilaian dalam pelaksanaan
etik kedokteran, termasuk perbuatan anggota yang melanggar kehormatan dan
tradisi luhur kedokteran.
2. Memperjuangkan agar etik kedokteran dapat ditegakkan di Indonesia.
3. Memberikan usul dan saran diminta atau tidak diminta kepada pengurus
cabang.
4. Membina hubungan baik dengan majelis atau instansi yang berhubungan
dengan etik profesi, baik pemerintah maupun organisasi profesi lain
5. Bertanggung jawab kepada musyawarah cabang.

20
MAJELIS KEHORMATAN DISIPLIN KEDOKTERAN INDONESIA
(MKDKI)
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia adalah lembaga yang
berwenang untuk menentukan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter dan
dokter gigi dalam penerapan disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran gigi, dan
menetapkan sanksi. Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia
merupakan lembaga otonom dari Konsil Kedokteran Indonesia, dan dalam
menjalankan tugasnya bersifat independen, serta bertanggung jawab kepada
Konsil Kedokteran Indonesia. Berkedudukan di ibu kota negara Republik
Indonesia. Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran di tingkat provinsi dapat
dibentuk oleh Konsil Kedokteran Indonesia atas usul Majelis Kehormatan
Disiplin Kedokteran Indonesia.
Pimpinan MKDKI terdiri atas seorang ketua, seorang wakil ketua, dan
seorang sekretaris. Keanggotaan MKDKI terdiri atas 3 orang dokter gigi dan
organisasi profesi masing-masing, seorang dokter dan seorang dokter gigi
mewakili asosiasi rumah sakit, dan 3 orang sarjana hukum. Anggota MKDKI
ditetapkan oleh Menteri atas usul organisasi profesi. Masa bakti keanggotaan
MKDKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 adalah 5 tahun dan dapat
diangkat kembali untuk 1 kali masa jabatan. Pimpinan MKDKI dipilih dan
ditetapkan oleh rapat pleno anggota. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
pemilihan pimpinan MKDKI diatur dengan Peraturan Konsil Kedokteran
Indonesia.

Fungsi MKDKI
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) adalah lembaga
Negara yang berwenang untuk :
1. Menentukan ada atau tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter/dokter gigi
dalam penerapan disiplin ilmu kedokteran/kedokteran gigi
2. Menetapkan sanksi bagi dokter/dokter gigi yang dinyatakan bersalah.
3. Dasar pembentukan dan kewenangan MKDKI adalah Undang-Undang
Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

Tugas MKDKI
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia bertugas :
1. Menerima pengaduan, memeriksa, dan memutuskan kasus pelanggaran
disiplin dokter dan dokter gigi yang diajukan
2. Menyusun pedoman dan tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin
dokter atau dokter gigi.
Pelanggaran disiplin adalah pelanggaran terhadap aturan aturan dan/atau
ketentuan penerapan keilmuan dalam pelaksanaan pelayanan yang seharusnya
diikuti oleh dokter dan dokter gigi. Sebagian dari aturan dan ketentuan tersebut
terdapat dalam UU Praktik Kedokteran, dan sebagian lagi tersebar didalam
Peraturan Pemerintah, Permenkes, Peraturan KKI, Pedoman Organisasi Profesi,
KODEKI, Pedoman atau ketentuan lain.

Pelanggaran disiplin pada hakikatnya dibagi menjadi :


1. Melaksanakan praktik kedokteran dengan tidak kompeten.

21
2. Tugas dan tanggung jawab profesional pada pasien tidak dilaksanakan dengan
baik.
3. Berperilaku tercela yang merusak martabat dan kehormatan profesi
kedokteran.
Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas
tindakan dokter atau gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat
mengadukan secara tertulis kepada Ketua MKDKI. Pengaduan sekurang-
kurangnya harus memuat :
1. Identitas pengadu
2. Nama dan alamat tempat praktik dokter atau dokter gigi dan waktu tindakan
dilakukan dan
3. Alasan pengaduan.
Pengaduan sebagaimana dimaksud diatas, tidak menghilangkan hak setiap
orang untuk melaporkan adanya dugaan tindak pidana kepada pihak yang
berwenang dan/atau menggugat kerugian perdata ke pengadilan. MKDKI
memeriksa dan memberikan keputusan terhadap pengaduan yang berkaitan
dengan disiplin dokter dan dokter gigi. Apabila dalam pemeriksaan ditemukan
pelanggaran etika, MKDKI meneruskan pengaduan pada organisasi profesi.
Keputusan MKDKI mengikat dokter, dokter gigi, dan Konsil Kedokteran
Indonesia. Keputusan dapat berupa dinyatakan tidak bersalah atau pemberian
sanksi disiplin. Sanksi disiplin dapat berupa:
1. Pemberian peringatan tertulis;
2. Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik;
dan/atau
3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan
kedokteran atau kedokteran gigi.
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan fungsi dan tugas Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, tata cara penanganan kasus, tata cara
pengaduan, dan tata cara pemeriksaan serta pemberian keputusan diatur dengan
Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia.

5. Malpraktek dalam padangan Islam


PENGERTIAN MALPRAKTEK
Malpraktek berasal dari kata 'malpractice' dalam bahasa Inggris. Secara
harfiah, 'mal' berarti 'salah', dan 'practice' berarti 'pelaksanaan' atau 'tindakan',
sehingga malpraktek berarti 'pelaksanaan atau tindakan yang salah'. Jadi,
malpraktek adalah tindakan yang salah dalam pelaksanaan suatu profesi. Istilah
ini bisa dipakai dalam berbagai bidang, namun lebih sering dipakai dalam dunia
kedokteran dan kesehatan. Artikel ini juga hanya akan menyoroti malpraktek di
seputar dunia kedokteran saja.
Perlu diketahui bahwa kesalahan dokter atau profesional lain di dunia
kedokteran dan kesehatan, kadang berhubungan dengan etika/akhlak. Misalnya,
mengatakan bahwa pasien harus dioperasi, padahal tidak demikian. Atau
memanipulasi data foto rontgen agar bisa mengambil keuntungan dari operasi
yang dilakukan. Jika kesalahan ini terbukti dan membahayakan pasien, dokter
harus mempertanggung jawabkannya secara etika. Hukumannya bisa berupa ta'zîr,
ganti rugi, diyat, hingga qishash.

22
Malpraktek juga kadang berhubungan dengan disiplin ilmu kedokteran.
Jenis kesalahan ini yang akan mendapat porsi lebih dalam tulisan ini.

BENTUK-BENTUK MALPRAKTEK
Malpraktek yang menjadi penyebab dokter bertanggung-jawab secara profesi bisa
digolongkan sebagai berikut:
1. Tidak Punya Keahlian (Jahil)
Yang dimaksudkan di sini adalah melakukan praktek pelayanan kesehatan
tanpa memiliki keahlian, baik tidak memiliki keahlian sama sekali dalam bidang
kedokteran, atau memiliki sebagian keahlian tapi bertindak di luar keahliannya.
Orang yang tidak memiliki keahlian di bidang kedokteran kemudian nekat
membuka praktek, telah disinggung oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
sabda beliau:

‫َّب َمن‬
َ ‫طب‬َ َ‫ذَلِكَ قَب َل ِطب ِمنهُ يُعلَم َولَم ت‬، ‫امن فَ ُه َو‬
ِ ‫ض‬َ
"Barang siapa yang praktek menjadi dokter dan sebelumnya tidak diketahui
memiliki keahlian, maka ia bertanggung-jawab"

Kesalahan ini sangat berat, karena menganggap remeh kesehatan dan nyawa
banyak orang, sehingga para Ulama sepakat bahwa mutathabbib (pelakunya)
harus bertanggung-jawab, jika timbul masalah dan harus dihukum agar jera dan
menjadi pelajaran bagi orang lain.

2. Menyalahi Prinsip-Prinsip Ilmiah (Mukhâlafatul Ushûl Al-'Ilmiyyah)


Yang dimaksud dengan pinsip ilmiah adalah dasar-dasar dan kaidah-
kaidah yang telah baku dan biasa dipakai oleh para dokter, baik secara teori
maupun praktek, dan harus dikuasai oleh dokter saat menjalani profesi
kedokteran.
Para ulama telah menjelaskan kewajiban para dokter untuk mengikuti
prinsip-prinsip ini dan tidak boleh menyalahinya. Imam Syâfi'i rahimahullah
misalnya mengatakan: "Jika menyuruh seseorang untuk membekam, mengkhitan
anak, atau mengobati hewan piaraan, kemudian semua meninggal karena praktek
itu, jika orang tersebut telah melakukan apa yang seharusnya dan biasa dilakukan
untuk maslahat pasien menurut para pakar dalam profesi tersebut, maka ia tidak
bertanggung-jawab. Sebaliknya, jika ia tahu dan menyalahinya, maka ia
bertanggung-jawab. "Bahkan hal ini adalah kesepakatan seluruh Ulama,
sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah.
Hanya saja, hakim harus lebih jeli dalam menentukan apakah benar-benar
terjadi pelanggaran prinsip-prinsip ilmiah dalam kasus yang diangkat, karena ini
termasuk permasalahan yang pelik.

23
3. Ketidaksengajaan (Khatha')
Ketidaksengajaan adalah suatu kejadian (tindakan) yang orang tidak
memiliki maksud di dalamnya. Misalnya, tangan dokter bedah terpeleset sehingga
ada anggota tubuh pasien yang terluka. Bentuk malpraktek ini tidak membuat
pelakunya berdosa, tapi ia harus bertanggungjawab terhadap akibat yang
ditimbulkan sesuai dengan yang telah digariskan Islam dalam bab jinayat, karena
ini termasuk jinayat khatha' (tidak sengaja).

4. Sengaja Menimbulkan Bahaya (I'tidâ')


Maksudnya adalah membahayakan pasien dengan sengaja. Ini adalah
bentuk malpraktek yang paling buruk. Tentu saja sulit diterima bila ada dokter
atau paramedis yang melakukan hal ini, sementara mereka telah menghabiskan
umur mereka untuk mengabdi dengan profesi ini. Kasus seperti ini terhitung
jarang dan sulit dibuktikan karena berhubungan dengan isi hati orang. Biasanya
pembuktiannya dilakukan dengan pengakuan pelaku, meskipun mungkin juga
factor kesengajaan ini dapat diketahui melalui indikasi-indikasi kuat yang
menyertai terjadinya malpraktek yang sangat jelas. Misalnya, adanya perselisihan
antara pelaku malpraktek dengan pasien atau keluarganya.

PEMBUKTIAN MALPRAKTEK
Agama Islam mengajarkan bahwa tuduhan harus dibuktikan. Demikian
pula, tuduhan malparaktek harus diiringi dengan bukti, dan jika terbukti harus ada
pertanggung jawaban dari pelakunya. Ini adalah salah satu wujud keadilan dan
kemuliaan ajaran Islam. Jika tuduhan langsung diterima tanpa bukti, dokter dan
paramedis terzhalimi, dan itu bisa membuat mereka meninggalkan profesi
mereka, sehingga akhirnya membahayakan kehidupan umat manusia. Sebaliknya,
jika tidak ada pertanggung jawaban atas tindakan malpraktek yang terbukti,
pasien terzhalimi, dan para dokter bisa jadi berbuat seenak mereka.
Dalam dugaan malpraktek, seorang hakim bisa memakai bukti-bukti yang
diakui oleh syariat sebagai berikut:
1. Pengakuan Pelaku Malpraktek (Iqrâr).
Iqrar adalah bukti yang paling kuat, karena merupakan persaksian atas diri
sendiri, dan ia lebih mengetahuinya. Apalagi dalam hal yang membahayakan
diri sendiri, biasanya pengakuan ini menunjukkan kejujuran.
2. Kesaksian (Syahâdah).
Untuk pertanggungjawaban berupa qishash dan ta'zîr, dibutuhkan kesaksian
dua pria yang adil. Jika kesaksian akan mengakibatkan tanggung jawab
materiil, seperti ganti rugi, dibolehkan kesaksian satu pria ditambah dua
wanita. Adapun kesaksian dalam hal-hal yang tidak bisa disaksikan selain
oleh wanita, seperti persalinan, dibolehkan persaksian empat wanita tanpa
pria. Di samping memperhatikan jumlah dan kelayakan saksi, hendaknya
hakim juga memperhatikan tidak memiliki tuhmah (kemungkinan
mengalihkan tuduhan malpraktek dari dirinya).
3. Catatan Medis.
Yaitu catatan yang dibuat oleh dokter dan paramedis, karena catatan tersebut
dibuat agar bisa menjadi referensi saat dibutuhkan. Jika catatan ini valid, ia
bisa menjadi bukti yang sah.

24
BENTUK TANGGUNG JAWAB MALPRAKTEK
Jika tuduhan malpraktek telah dibuktikan, ada beberapa bentuk tanggung
jawab yang dipikul pelakunya. Bentuk-bentuk tanggung-jawab tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Qishash
Qishash ditegakkan jika terbukti bahwa dokter melakukan tindak
malpraktek sengaja untuk menimbulkan bahaya(i'tida'), dengan membunuh pasien
atau merusak anggota tubuhnya, dan memanfaatkan profesinya sebagai
pembungkus tindak kriminal yang dilakukannya. Ketika memberi contoh tindak
kriminal yang mengakibatkan qishash, Khalil bin Ishaq al-Maliki mengatakan:
"Misalnya dokter yang menambah(luas area bedah) dengan sengaja."

2. Dhamân (Tanggung Jawab Materiil Berupa Ganti Rugi Atau Diyat)


Bentuk tanggung-jawab ini berlaku untuk bentuk malpraktek berikut:
a. Pelaku malpraktek tidak memiliki keahlian, tapi pasien tidak mengetahuinya,
dan tidak ada kesengajaan dalam menimbulkan bahaya.
b. Pelaku memiliki keahlian, tapi menyalahi prinsip-prinsip ilmiah.
c. Pelaku memiliki keahlian, mengikuti prinsip-prinsip ilmiah, tapi terjadi
kesalahan tidak disengaja.
d. Pelaku memiliki keahlian, mengikuti prinsip-prinsip ilmiah, tapi tidak
mendapat ijin dari pasien, wali pasien atau pemerintah, kecuali dalam keadaan
darurat.

3. Ta'zîr berupa hukuman penjara, cambuk, atau yang lain.


Ta'zîr berlaku untuk dua bentuk malpraktek:
a. Pelaku malpraktek tidak memiliki keahlian, tapi pasien tidak mengetahuinya,
dan tidak ada kesengajaan dalam menimbulkan bahaya.
b. Pelaku memiliki keahlian, tapi menyalahi prinsip-prinsip ilmiah.

PIHAK YANG BERTANGGUNG-JAWAB


Tanggung-jawab dalam malpraktek bisa timbul karena seorang dokter
melakukan kesalahan langsung, dan bisa juga karena menjadi penyebab
terjadinya malpraktek secara tidak langsung. Misalnya, seorang dokter yang
bertugas melakukan pemeriksaan awal sengaja merekomendasikan pasien untuk
merujuk kepada dokter bedah yang tidak ahli, kemudian terjadi malpraktek.
Dalam kasus ini, dokter bedah adalah pelaku langsung malpraktek, sedangkan
dokter pemeriksa ikut menyebabkan malpraktek secara tidak langsung.
Jadi, dalam satu kasus malpraktek kadang hanya ada satu pihak yang
bertanggung-jawab. Kadang juga ada pihak lain yang ikut bertanggung-jawab
bersamanya. Karenanya, rumah sakit atau klinik juga bisa ikut bertanggung-
jawab jika terbukti tidak tanggung-jawab yang diemban, sehingga secara tidak
langsung menyebabkan terjadinya malpraktek, misalnya mengetahui dokter yang
dipekerjakan tidak ahli.

25
Daftar isi:
Agus M. Algozi. Rekam Medis Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal. FK UNAIR-RS. DR. Soetomo. Surabaya.

AbouZahr1, Carla & Boerma1,Ties . Health information systems: the foundations


of public health in Bulletin of the World Health Organization August 2005, 83 (8)

Chadha,P.Vijay.1995.Ilmu Forensik dan Toksikologi.Jakarta:Widya Medika


Indonesia.

Departemen Kesehatan RI., Pedoman Sistem Pencatatan Rumah Sakit (Rekam


medis/Medical Record , 1994

Hanafiah MJ, Amir Amri. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan Edisi 3.
Jakarta: EGC . 1998

National Cancer Institute. A Guide to Understanding Informed Consent. Available


at:wwww.cancer.gov/ClinicalTrials

World Health Organization, Medical Records Manual , A Guide for Developing


Countries, 2006

26