Anda di halaman 1dari 5

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI FARMAKOEKONOMI

Secara umum farmakoekonomi adalah gambaran dana analisis biaya obat bagi

pelayanan kesehatan dan juga tentunya bagi masyarakat, Menurut Thabrany, 2008

Farmakoekonomi adalah ilmu atau aplikasi baru untuk effectiveness dan fairness

penggunaan produk farmasi. Melalui kegiatan riset farmakoekonomi yang menyangkut

identifikasi, mengukur dan membandingkan biayaserta dampak klinik, yang tidak lepas

pula maslah ekonomi dan kemanuasiaan dari produk dan pelayanan farmasi, yang di

harapakan akan dapat dengan mudah dipilih oleh pasien baik dari segi ekonomi dan segi

efektivitas dan juga social-ekonominya. Prinsip farmakoekonomi adalah suatu sumber

daya terbatas dan tersedia, harus digunakan untuk program yang memberi keuntunag

terbesar bagi masyarakat banyak. Menurut buku pedoman farmakoekonomi, 2013 Biaya

untuk perawatan kesehatan seringkali bukan hanya biaya obat ditambah biaya langsung

lain. Selain berbagai biaya langsung tersebut, ada pula biaya tidak langsung yang harus

ditanggung, termasuk biaya transportasi, hilangnya produktivitas karena pasien tidak

bekerja, dan lain- lain. Secara umum, biaya yang terkait dengan perawatan kesehatan

dapat dibedakan sebagai berikut:

2.1.1 BIAYA LANGSUNG 


Biaya langsung adalah biaya yang terkait langsung dengan perawatan kesehatan,

termasuk biaya obat (dan perbekalan kesehatan), biaya konsultasi dokter, biaya jasa
perawat, penggunaan fasilitas rumah sakit (kamar rawat inap, peralatan), uji

laboratorium, biaya pelayanan informal dan biaya kesehatan lainnya. Dalam biaya

langsung, selain biaya medis, seringkali diperhitungkan pula biaya non-medis seperti

biaya ambulan dan biaya transportasi pasien lainnya. 


2.1.2 BIAYA TIDAK LANGSUNG 


Biaya tidak langsung adalah sejumlah biaya yang terkait dengan hilangnya

produktivitas akibat menderita suatu penyakit, termasuk biaya transportasi, biaya

hilangnya produktivitas, biaya pendamping (anggota keluarga yang menemani pasien).

(Bootman et al., 2005).

2.2 PENGERTIAN COST EFFECTVENESS ANALYSIS (CEA)

Menurut pedoman farmakoekonomi, 2013 Analisis efektivitas-biaya (cost-

effectiveness analysis, CEA) adalah teknik analisis ekonomi untuk membandingkan biaya

dan hasil (outcomes) relatif dari dua atau lebih intervensi kesehatan. Pada AEB, hasil

diukur dalam unit non-moneter.

2.3 PENGERTIAN COST OF IILNES (COI)

Menurut budiaharto, 2008 pengertian dari cost of illness adalah suatu pendekatan

untuk mengidentifikasidan mengevaluasi biaya langsunng dan tidak langsung dari suatu

penyakit yang di derita oleh pasien


2.4 DEFINISI TIFOID

Pengertian demam tifoid (typhoid fever) atau yang lebih awam disebut deman

tipus, menurut WHO adalah penyakit bakteri, disebabkan oleh Salmonella typhi. Hal ini

ditularkan melalui menelan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh faeces atau

urin orang yang terinfeksi. Gejala demam tifoid biasanya berkembang 1–3 minggu

setelah eksposur, dan mungkin ringan atau berat. Gejala demam tifoid seperti demam

tinggi, malaise, sakit kepala, sembelit atau diare, bintik-bintik berwarna merah pada dada,

dan perbesaran hati dan limpa. Demam tipus ringan dapat disebabkan oleh salah satu tiga

serotipe S. Paratyphi A, B, dan C. Ini mirip dengan gejala penyakit demam tipus, tetapi

cenderung lebih ringan, dengan tingkat kematian yang lebih rendah.Infeksi salmonella

pada manusia dibagi disebabkan oleh s typhi dan s paratyphi dan berbagai penyakit diare

disebabkan oleh sejumlah besar non-typhoidal Salmonella serovars (NTS), selain itu

demam tifoid menurut Soedarmo, 2010 adalah suatu penyakit sistemik yang bersifat akut

yang disebabkan oleh Salmonella Typhi dan menurut kemenkes RI no. 364 tahun 2006

tentang pengendalian demam tifoid, demam tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh

kumam berbentuk basil yaitu Salmonella typhi yang ditularkan melalui makanan atau

minuman yang tercemar feses manusia.

2.5 EPIDIEMOLOGI TIFOID

Data World Health Organization (WHO) pada tahun 2009, memperkirakan

terdapat 17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia dengan insidensi 600.000 kasus

kematian tiap tahun Case Fatality Rate (CFR) = 3,5%. Berdasarkan Laporan Ditjen

Pelayanan Medis Departemen Kesehatan RI tahun 2008, demam tifoid menempati urutan

ke 2 dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di Rumah Sakit di Indonesia dengan
jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3,15% (Depkes RI, 2009). Prevalensi tertinggi

demam tifoid di Indonesia terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun (Riskesdas, 2007).

Pada usia 5–14 tahun merupakan usia anak yang kurang memperhatikan kebersihan diri

dan kebiasaan jajan yang sembarangan sehingga dapat menyebabkan tertular penyakit

demam tifoid. pada anak usia 0–1 tahun prevalensinya lebih rendah dibandingkan dengan

kelompok usia lainnya dikarenakan kelompok usia ini cenderung mengkonsumsi

makanan yang berasal dari rumah yang memiliki tingkat kebersihannya yang cukup baik

dibandingkan dengan yang dijual di warung pinggir jalan yang memiliki kualitas yang

kurang baik (Nurvina, 2013). Demam tifoid merupakan salah satu penyakit terbanyak di

Rumah Sakit dan Puskesmas di Jawa Timur pada tahun 2008, 2009 dan 2010. Pada data

Riskesdas 2007 menyatakan bahwa Kabupaten Situbondo menempati posisi ke 2 yang

mempunyai prevalensi demam tifoid terbesar di Provinsi Jawa Timur dengan prevalensi

sebesar 1,59% diagnosis dan 2,53% diagnosis dan gejala.

2.6 PENGOBATAN TIFOID

Terapi dengan antibiotika
Kloramfenikol masih merupakan jenis antibiotika

yang digunakan dalam pengobatan demam tifoid (53,55%) dan merupakan antibiotika

pilihan utama yang diberikan untuk demam tifoid. Berdasarkan efektivitasnya terhadap

Salmonella typhi disamping obat tersebut relatif murah. Namun pada penelitian yang lain

menunjukkan bahwa angka relaps pada pengobatan demam tifoid dengan menggunakan

kloramfenikol lebih tinggi bila dibandingkan dengan penggunaan kotrimoksazol. Selain

itu pada lima tahun terakhir ini para klinisi di beberapa negara mengamati adanya kasus

demam tifoid anak yang berat bahkan fatal yang disebabkan oleh strain Salmonella typhi

yang resisten terhadap kloramfenikol. Angka kematian di Indonesia mencapai 12 %


akibat strain Salmonella typhi ini20. Penelitian yang dilakukan oleh Musnelina et al.

(2004) di RS Fatmawati menunjukkan adanya pemberian obat golongan sefalosporin

generasi ketiga yang digunakan untuk pengobatan demam tifoid pada anak yakni

seftriakson (26,92%) dan sefiksim (2,19%). Namun dari 2 jenis obat ini, seftriakson

menjadi pilihan alternatif pengobatan demam tifoid anak yang banyak digunakan di

Bagian Kesehatan Anak Rumah Sakit