Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Virus merupakan mikro-organisme hidup yang terkecil (besarnya 20-300

mikron), kecuali prion. Penularan virus di mulai dengan pelekatan virus pada

dinding sel tuan-rumah yang dihidrolisa oleh enzim-enzimnya.

Karena virus mampu memperbanyak diri dengan pesat dan mudah

bermutasi, maka cepat sekali terbentuk varian-varian baru. Akibat suatu mutasi

yang tak disangka, virus-virus hewan mendadak ditularkan ke manusia. Para ahli

meramalkan bahwa dimasa depan akan selalu muncul virus-virus baru yang dapat

mencetuskan epidemi-epidemi serius yang mengancam manusia.

Pada dasawarsa terakhir, dunia telah dilanda sejumlah penyakit virus baru

yang hebat dan seringkali bersifat epidemi. Yang paling ganas adalah AIDS yang

diakibatkan infeksi dengan HIV. Meskipun adanya ikhtiar bersama secara besar-

besaran dari para ilmuan di seluruh dunia, hingga kini belum ditemukan obat yang

dapat dikatakan ampuh untuk 100%. Fakta yang mencolok mata pada epidemi-

epidemi baru tersebut adalah bahwa virus-virus baru itu kebanyakan berasalkan

dari jenis-jenis hewan lain.


BAB II
PEMBAHASAN

HIV (Human Immunodeficiency Virus) didefinisikan sebagai individu

dengan infeksi HIV sesuai dengan fase klinik (termaksuk fase klinik 4 yang

dikenal sebagai AIDS) yang dikuatkan oleh Kriteria laboratorium oleh masing-

masing Negara. HIV yang menurut perkiraan sudah lama sekali terdapat pada

binAtang liar. Akibat kontak erat dengan, khususnya, binatang-binatang mengerat,

virus telah “meloncat” ke manusia. Terutama pada dasawarsa terakhir, HIV dan

beberapa virus lainnya (antara lain virus Ebola) telah muncul dari hutan rimba.

HIV dengan cepat menyebar keseluruh dunia, karena bertahun-tahun penyakit ini

tidak menunjukkan gejala apapun. Selama masa inkubasi panjang itu, pembawa

virus (orang-orang seropositif) yang masih sehat dan tanpa keluhan dapat

menularkan virus kepada orang lain sebelum dirinya menjadi sakit dan kemudian

meninggal.

HIV membutuhkan sel-sel kekebalan kita untuk berkembang biak. Secara

alamiah sel kekebalan kita akan dimanfaatkan, bisa diibaratkan seperti mesin

fotocopy. Namun virus ini akan merusak mesin fotocopynya setelah mendapatkan

hasil copy virus baru dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga lama-kelamaan

sel kekebalan kita habis dan jumlah virus menjadi sangat banyak.

HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam

ribonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas

protein. Untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam

deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya


mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang

dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.

HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang

berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina

dan air susu ibu, dan caira-cairan yang mengandung darah. Sedangkan cairan yang

tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air

mata dan lain-lain

Sistem kekebalan mempertahankan tubuh terhadap infeksi. Sistem

kekebalan ini terdiri dari banyak jenis sel, dari sel-sel tersebut sel T-Helper sangat

penting karena dia mengkordinasi semua sistem kekebalan sel lainnya. Sel T

helper memiliki protein dipermukaannya yang disebut CD4 (cluster of

differentiation nomor 4).

Fungsi dari CD4 yaitu :membantu sel B memroduksi antibodi,

membantu perkembangan sel T sitotoksik, memaksimalkan peran makrofag dan

memfasilitasi Persiapan sel-sel pertahanan lain dalam melawan antigen asing

HIV masuk ke dalam darah dan mendekati sel T-helper dengan

meletakkan dirinya pada CD4. setelah berada di dalam viral dari manusia yaitu

(RNA) akan berubah menjadi DNA, dengan bantuan enzim reverse transcriptase,

sehingga virus DNA, menjadi bagian dari DNA manusia, sehingga

memperbanyak diri dan menghasulkan sel-sel virus-virus HIV yang semakin

banyak.

Enzim lainnya yaitu protease mengatur viral-viral kimia untuk mengatur

virus-virus yang baru, sehingga virus-virus tersebut bergerak bebas melalui darah

dan menginfeksi lebih banyka sel


Jumlah normal dari sel CD4 adalah 800-1200 sel/ml kubik darah.

Sedangkan pada pengidap HIV, CD4 kurang dari 200 bahkan sampa 0.

Penularan terjadi terutama melalui darah, mani, cairan vaginal, akibat

penggunaan jarum suntik terinfeksi (pecandu narkotika) dan transfuse darah, serta

kontak seksual tanpa perlindungan (kondom) dengan seorang pembawa HIV.

Atau, virus dapat ditularkan pada bayi oleh ibu seropositif, selama hamil atau

persalinan, juga melalui air susu. Telah dipastikan bahwa penularan tidak dapat

terjadi melalui liur (ciuman, batuk, bersin, dan minum dari gelas yang sama)

karena jumlah virus di dalam liur terlampaui kecil, tidak pula melalui sengatan

nyamuk. Oleh karena itu pergaulan sosial dengan pasien tidak perlu dihindari.

Virus HIV dia menyerang pembuluh darah atau peredaran darah. Sperma,

ASI dan vagina berhubungan langsung dengan pembuluh darah sedangkan air

mata, keringat, dan liur tidak berhubungan dengan peredaran darah dan keluar

melalui permukaan kulit atau pori-pori kulit.

HIV-1 dan HIV-2 adalah dua tipe HIV, yang hanya dapat ditulari melalui

selaput lender yang mengandung kerusakan (kecil). HIV-1 terdapat diseluruh

dunia, sedang HIV-2 praktis hanya di daerah Afrika Barat. Penularannya terbatas

pada kontak homoseksual (genitoanal), pengguna drugs melalui alat suntik, dan

penerima darah terinfeksi via transfusi. HIV tipe 2 lebih lambat jalannya penyakit

dan penularannya juga kurang lancar dibanding HIV-1, baik seksual maupun dari

ibu ke anak.

Pada infeksi HIV dapat dibedakan 4 fase yaitu :

1. Periode Jendela
- HIV masuk ke dalam tubuh sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam

darah

- Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat

- Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini

- Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6 bulan

2. HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:

- HIV berkembang biak dalam tubuh

- Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat

- Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk

antibody terhadap HIV

- Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan

tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)

3. Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)

- Sistem kekebalan tubuh semakin turun

- Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya : pembengkakan kelenjar

limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll

- Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya

4. Tahap 4: AIDS

- Kondisi system kekebalan tubuh sangat lemah

- Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah

Gejala-Gejala HIV

1. Gejala Mayor

• Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan


• Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan

• Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan

• Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis

• Demensia/ HIV ensefalopat

Demensia adalah sindrom mental organickyang ditandai dengan hilangnya

kemampuan intelektual secara menyeluruh yang mencukup gangguan mengingat ,

penilaian, dan pemikiran abstrak demikian juga dengan perubahan prilaku, tetapi

tidak mencakup gangguan yang disebabkan oleh kesadaran yang berkabut, defresi

tetapi tidak mencakup gangguan yang disebabkanoleh kesadaran yang berkabut,

depresi, atau gangguan fungsional mental lainnya.

2. Gejala Minor

• Batuk menetap lebih dari 1 bulan

• Dermatitis generalisata

• Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang

• Kandidias orofaringeal

• Herpes simpleks kronis progresif

• Limfadenopati generalisata

• Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita

• Retinitis virus sitomegalo

• Infeksi opurtunistik

Infeksi Opurtunistik Adalah infeksi yang muncul akibat lemahnya sistem

pertahanan tubuh yang telah terinfeksi HIV atau oleh sebab lain.Pada orang yang

sistem kekebalan tubuhnya masih baik infeksi ini mungkin tidak berbahaya,

namun pada orang yang kekebalan tubuhnya lemah (HIV/AIDS) bisa


menyebabkan kematian. Dimana penyakit dari Infeksi opurtunistik yaitu yang

biasa terjadi pada orang penderita HIV/ AIDS adalah :

- Kandidiasis: infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, vagina

- Virus sitomegalia (CMV): menimbulkan penyakit mata yang dapat

menyebabkan kematian

- Herpes pada mulut atau alat kelamin

- Mycobacterium avium complex (MAC): infeksi bakteri yang menyebabkan

demam kambuhan

- Pneumonia pneumocystis (PCP): infeksi jamur yang dapat menyebabkan radang

paru

- Toksoplasmosis: infeksi protozoa pada otak

- Tuberkolosis (TB)

- Sarkoma

- kanker mulut rahim

- Limfoma

Adapun gejala dan tanda HIV/AIDS menurut WHO, terbagi atas empat

yaitu :

1. Stadium Klinis I :

- Asimtomatik (tanpa gejala)

- Limfadenopati Generalisata (pembesaran kelenjar getah benin /limfe)

- Skala Penampilan 1 : asimtomatik, aktivitas normal.

2. Stadium Klinis II :

- Berat badan berkurang < 10%


- Manifestasi mukokutaneus ringan (kelainan selaput lendir dan kulit) gatal-gatal,

jamur, sariawan pada sudut mulut, Herpes zoster

- Infeksi saluran napas bagian atas yang berulang

3. Stadium Klinis III :

- Berat badan turun > 10%

- Diare berkepanjangan > 1 bulan

- Jamur pada mulut

- TB Paru

- Infeksi bakterial berat

4. Stadium Klinis IV :

- Kelemahan

- Jamur pada mulut dan kerongkongan

- Radang paru-paru (PCP), TB Ekstra Paru

- Radang saluran pencernaan (Diare kriptosporidiosis > 1 bulan)

- Kanker kulit (Sarcoma Kaposi)

- Radang Otak (Toksoplasmosis,Ensefalopati HIV)

TRANSMISI HIV

Penularan terjadi terutama melalui :

Ø Darah

Ø Mani

Ø Cairan vaginal

Ø Akibat penggunaan jarum suntik terinfeksi (pecandu narkotika)

Ø Transfuse darah
Ø Kontak seksual tanpa perlindungan (kondom) dengan seorang pembawa HIV

Ø Virus dapat ditularkan pada bayi oleh ibu seropositif, selama hamil atau

persalinan, juga melalui air susu.

Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim selama masa

perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak

ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan

adalah sebesar 25%. Namun demikian, jika sang ibu memiliki akses terhadap

terapi antiretrovirus dan melahirkan dengan cara beda caesars, tingkat

penularannya hanya sebesar 1%. ibu yang terinfeksi HIV disarankan tidak

menyusui anak mereka. Namun demikian, jika hal-hal tersebut tidak dapat

terpenuhi, pemberian ASI eksklusif disarankan dilakukan selama bulan-bulan

pertama dan selanjutnya dihentikan sesegera mungkin

Pada virus HIV sangat susah untuk dibuat vaksin karena perkembangan

virus HIV itu sangat lambat dan sangat lama pertumbuhannya karena untuk

mendeteksi suatu manusia terkena/mengidap penyakit HIV itu membutuhkan

waktu 6 tahun dan itupun baru tanda-tanda penurunan system imun dan ii

diketahui dengan tes DNA, dan selama ini belum ada obat yang bisa

menyembuhkan penyakit virus HIV dan kebanyakan obat cuma mencegah

petumbuhan penyakit virus. Karena kita ketahui bahwa virus itu berkembang

ketika ada inangnya apabila tidak ada maka dia akan mengkristal untuk

sementara. Selama ini belum ada vaksin virs HIV karena pertumbuhan dari virus

HIV itu sendiri sangat lambat dan membutuhkan waktu yang sangat lama.

Adapun obat-obat HIV (Human Immunodeficiency Virus) yaitu :

A. Zidovudin (3’- Azido-3’-Deoksitimidin, AZT)


Salah satu obat yang paling efektif dan terakhir disetujui untuk pengobatan

infeksi HIV dan AIDS adalah AZT yang merupakan kepanjangan dari analog

primidin, 3’- Azido-3’-Deoksitimidin. Nama generik AZT adalah Zidovudin AZT

waktu ini digunakan pada pasien yang memperhatikan infeksi HIV. Telah

dilaporkan adanya perbaikan dalam status eminologik (peningkatan jumlah

absolut sel helper- induced T). Yang menggembirakan adalah proteksi janin dari

kemungkinan infeksi virus dengan pemakaian tetap obat pada ibu hamil.

1. Cara Kerja

AZT harus diubah menjadi nukleosid trifosfad yang sesuai oleh timidin

kinase pejamu untuk mendapatkan aktifitas antivirusnya. AZT-trifosfat kemudian

dimasukkan dalam rantai DNA virus yang bertumbuuh (tetapi bukan inti pejamu)

oleh cadangan transcriptase. Karena AZT tidak mempunyai hidrosil pada posisi

3’, kaitan 5’-3’ fosfodiester lain tidak terbentuk. Akibatnya sintesis rantai DNA

terhenti dan replikasi virus tidak terjadi. Kekurangan relatif transkiptase reverse

virus ini disebabkan karena masuknya AZT ke dalam proses yang dikatalisasi

virus; DNA-polimerase selular lebih selektif. Selain itu,fosforilasi asam

deoksitimidilat (dTMP) menjadi difosfat (dTDP) dihambat oleh azido-timidin-

monofosfat (AZT-MP).

2. Resistensi

Efektifitas berkurang sesuai waktu. Beberapa isolate resisten telah

mengubah transkiptase reverse, yang mempunyai avinitas lebih rendah terhadap

AZt-trifosfat.

3. Spektrum Antivirus
Pada waktu ini penggunaan klinik untuk AZT hanya untuk pengobatan

pasien infeksi akibat HIV.

4. Indikasi

Indikasi dari zidofudin yaitu : pengobatan infeksi HIV lanjut (AIDS), HIV

awal, dalam kombinasi dengan anti HIV lainnya (seperti lamivudin dan abakafir)

5. Konta Indikasi

Neutropenia dan atau anemia berat, neonatus yang memerlukan terapi

selain fototerapi atau dengan peningkatan transaminase

6. Reabsobsi

Pesat dengan BA 60-70%, PP-nya ca 36%, plasma t1/2 1 jam. Ekskresinya

75% sebagai glukuronidamelalui kemih. Juga dapat melintasi CCS

7. Interaksi Obat

Interaksi yang potensial antara ARV dengan obat lain berdasarkan pustaka

yaitu zidovudin dengan flukonazol, zidovudin dengan kotrimoksasol, dan

zidovudin dengan rifampisin dan bisa juga zidovudin + lamivudin + nevirapin..

8. Kombinasi Obat

Kombinasi dengan penghambat-RT lainnya (didanosin, zalcitabin atau

lamivudin) memperkuat dan memperpanjang daya kerjanya. Triple-therapy, yakni

kombinasi dari dua penghambat-protease atau nevirapin ternyata sangat

memperkuat efektivitasnya mengenai reduksi jumlah virus dan memperbanyak

sel-sel CD4+. Lagipula menghindarkan terjadinya resistensi.

9. Farmakokinetik

Obat mudah diabsorbsi setelah pemasukan oral. Jika diminum bersama

makanan, kadar puncak lebih lambattetapi jumlah total obat yang diabsorbsi tidak
terpengaruh. Penetrasi melewati sawar otak darah sangat baik dan obat

mempunyai waktu paruh 1 jam. Sebagian besar AZT mempunyai glukuronidasi

dalam hati dan kemudian dikeluarkan dalam urin.

10. Peringatan

Jangan dengan stafudin (D4T). Akan terdapat peningkatan myelotoksistas

jika digunakan bersama dengan obat-obatan myelosupresive lain, misalnya

gansiklovir, dapson, pirimetamin, interferon, sulfadiazin, amfoterisin B dan

beberapa agen kemoterapi lain.

11. Efek Samping

Meskipun kelihatannya bersifat spesifik, AZT toksik terhadap sum-sum

tulang. Misalnya, anemia dan leukopenia berat dapat terjadi pada pasien yang

mendapat dosis tinggi, sakit kepala juga sering terjadi.

10. Aturan Pakai

· Oral : Dosis bervariasi, 500-600 mg/hari dalam 2-5 kali pemberian ataau 1

gram/hari dalam 2 kali pemberian. Anak diatas 3 bulan : 120-180 mg/m2 tiap 6

jaam (maksimum 200 mg tiap 6 jam).

· Intravena : Diberikan injeksi intravena selama 1 jam denan dosis 1-2 mg/kg tiap

4 jam, biasaanya tidak lebih dari 2 minggu.

11. Nama Paten Zidovudin

Sediaan yang beredar dari zidovurin seperti :

a. Avodi (Tempo) Kapsul 100 mg

b. Avirzid (Sanbe) Kapsul 100 mg (K).

c. Duviral bersama dengan lamivudin (300 mg AZT + 150 mg 3TC)

d. Combivir bersama dengan lamivudin (300 mg AZT + 150 mg 3TC)


e. Retrovir (Glaxo Wellcome UK) Kapsul 100 mg, 250 mg, sirup 50 mg/5 ml

(K).

B. Didanosin (dll)

Obat kedua yang disetujui untuk pengobatan infeksi HIV-1 adalah

didanosin [dye DAH no seen] (dideoksinosin, dll), yang juga tidak mempunyai 3’

hidroksil. Tidak dianjurkan untuk pengobatan awal penyakit HIV, tetapi

digunakan untuk injeksi HIV yang resisten terhadap AZT.

1. Mekanisme Kerja

Setelah masuk sel pejamu, didanosin diubah menjadi ddATP melalui

beberapa reaksi yang melibatkan fosforilasi dll, aminasi menjadi ddAMP dan

fosforilasi lanjutan. ddATP yang dihasilkan dimasukkan dalam rantai DNA

seperti AZT, yang menyebabkan akhir perjalanan rantai.

2. Resistensi

Isolat virus dari pasien yang telah mendapatkan terapi dengan dll

mengandung transkriptase reverse dengan substitusi asam amino. Resistensi

silang dengan obat nukleosid lain belum dilaporkan.

3. Spektrum Antivirus

Aktivitasnya terbatas pada retrovirus, terutama HIV-1.

4. Indikasi

Terapi pasien dewasa dengan infeksi HIV lanjut yang mendapat terapi zidofudin

lama. Terapi pasien dewasa dan anak > 6 bulan dengan infeksi HIV lanjut dengan

intoleransi atau deteriorasi imunologik selama terapi zidovudin

5. Interaksi Obat
Penggunaan bersama obat yang diketahiu yang menyebabkan neuropati perifer

atau pancreatitis meningkatkan resiko toksisitas Videx (didanosin) tidak boleh

diberikan bersama antibiotik yang mengandung tetrasikin.

6. Pemakaian Obat

Didanosin diberikan pada saat perut kosong ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah

makan. Tablet harus dikunyah sampai halus atau dihancurkan secara manual atau

dilarutkan dalam 30 ml air sebelum dikonsumsi agar terdispersi sempurna, aduk

sampai rata dan minum segera seluruhnya.

7. Perawatan

Didanosin diberikan pada saat perut kosong ½ jam sebelum atau 2 jam sesudah

makan. Tablet harus dikunyah sampai halus atau dihancurkan secara manual atau

dilarutkan dalam 30 ml air sebelum dikonsumsi agar terdispersi sempurna, aduk

sampai rata dan minum segera seluruhnya.

8. Farmakokinetik

Karena sifat yang asam, didanosin diberikan sebagai tablet kunyah, bufer

atau dalam larutan bufer. Absorbsi cukup baik jika diminum pada keadaan puasa;

makanan menyebabkan absorbsi kurang. Obat masuk SSP tetapi kurang dari AZT.

Sekitar 55% obat asli diekskresi dalam urin.

9. Efek Samping

Pankreatitis, neuropati periver, terutama pada infeksi lanjut (tangguhkan

pemberian obat); hiperurisemia asimtomatik (tangguhkan pemberian obat); diare

(adakalanya berat), mual, muntah, mulut kering, reaksi hipersensitivitas,

gangguan retina dan nervus optikus (terutama pada anak); diabetes militus.

10. Aturan pakai


Dewasa berat badan kurang dari 60 kg : 125 mg tiap 12 jam. Berat badan

lebih dari 60 kg : 200 mg tiap 12 jam. Berat badan lebih dari 60 kg : 200 mg tiap

12 jam. Anak diatas 3 bulan : 120 mg/m2 tiap 12 jam (90 mg/m2 bila dikombinasi

dengan zidovudin.

Sediaan yang beredar atau nama paten dari didanosin yaitu : Videx

(Squibb USA) Tablet 50 mg, 100 mg (K).

C. Stavudin (d4T)

Stavudin adalah derivat pirimidin yang juga kurang mendepresi sumsum

tulng daripada zidovudin.obat ini digunakan bila terdapat resistensi terhadap

zidovudinyang lebih jarang terjadi.

1. Mekanisme Kerja

Stavudin adalah analog thymidin, yang mempengaruhi viral DNA HIV-

yang bergantung pada DNA polimerase, menghambat replikasi virus, nukleosida

reverse transcriptase. bekerja pada HIV RT dengan cara menghentikan

pembentukan rantai DNA virus

2. Resistensi Resistensi

Disebabkan oleh mutasi pada RT kodon 75 dan kodon 50.

3. Spektrum Aktivitas

HIV tipe 1 dan 2

4. Indikasi

Untuk mengobati HIV dengan dikombinasikan dengan antiviral lain

5. Kontra Indikasi
Hipersensitif terhadap stavudin atau komponen lain dalam sediaan

6. Interaksi Obat

7. Terjadi peningkatan efek bila dikombinasi dengan :

- Hidroksi urea, pankreatitis dan hepatotoksik

- Zalcitabine, peningkatan neuropati perifer.

- Pengurangan efek terjadi bila :

- Zidovudin, mengurangi foforilase intraseluler

- Doxorubisin, mengurangi fosforilasi intraseluler, bisa digunakan dengan

perhatian

- Ribavirin, mengurangi fosforilasi intraseluler, bisa digunakan dengan

perhatian.

8. Peringatan

Hati-hati bila digunakan pada pasien yang hipersensitif pada stavudin,

didanosin, zalcitabin, penekanan terhadap tulang belakang atau neuropati perifer.

Neuropati perifer dapat berkurang dengan pengurangan dosis. Zidovudin

dikombinasikan dengan stavudin, walau dalam kasus yang fatal. Risiko akan

bertambah bila gemuk, memperpanjang dampak nukleosid, atau pada pasien

perempuan. Pada pasien suspek laktat asidosis. Penggunaan stavudin dihentikan

bila muncul laktat asidosis.Ibu hamil meningkat resikonya dengan muncul laktat

asidosis dan kerusakan hati.Pihak industri menyarankan bila muncul kelemahan

dari motorik maka penggunaan dihentikan. Risiko semakin meningkat bila

digunakan bersama didanosin dan hidroksi urea. Suspek pankreatitis muncul

untuk penggunaan dari stavudin, didanosin dan hidroksiurea.

9. Stabilitas penyimpanan
Kapsul dan serbuk untuk rekonstitusi dapat disimpan dalam temperatur

ruang. Larutan rekonstitusi harus dibekukan dan stabil dalam 30 hari.

10. Farmakokinetik

Stavudin adalah analog timidin dengan ikatan rangkap antara karbon 2’ dan

3’ dari gula. Stavudin harus diubah oleh kinase intraselular menjadi trifosfat yang

menghambat transkriptase reserve dan menghentikan rantai DNA.

11. Efek Samping

Efek samping dari stavudin yaitu neuropati periver, sakit kepala, mual,

ruam.

12. Aturan Pakai

Bayi baru lahir : – 13 hari 0,5 mg/kg setiap 12 jam

Anak-anak > 14 hari dan < 30 kg: 1 mg/kg setiap 12 jam, > 30 kg merujuk dosis

dewasa

Dewasa : > = 60 kg: 40 mg setiap 12 ja

< 60 kg: 30 mg setiap 12 jam

Bila terjadi toksisitas yaitu munculnya neuropaty hentikan pengobatan sampai

gejala menghilang

13. Bentuk Sediaan

Kapsul 15 mg, 20 mg, 30 mg, 40 mg. Puyer Untuk Larutan Oral, 1 mg/ml

(200 ml)

Sediaan yang beredar atau nama paten dari stavudin yaitu Zerit (Bristol

Myers Squibb) Kapsul 30 mg, 40 mg (K).


D. Nevirapin

Derivate deasetin divipirido ini (1998), sama dengan afevirenz, bukan

derivate nukleosida, tetapi khasiatnya sama, yaitu menghambat reserse translifase

bila digunakan sebagai monoterapi dengan cepat terjadi resistensi maka selalu

digunakan bersama dua RTI-nukleosida: Lamivudin + AZT atau stavudin.

Kombinasi dengan penghambat protease (TI) tidak mungkin karena menurunkan

kadar plasma TI , nevirapin mencapai otak dapat digunakan pada demensia akibat

AIDS.

1. Mekanisme Kerja

Nevirapin menghambat trankriptase-balik pertama yang tidak yang tidak

nukleosidik terhadap HIV-1. Zat ini berikatan langsung pada transcriptase-balik

dan memblokir sentrum katalitis enzim dan aktivitas`DNA-polimerase. HIV-2 dan

DNA-polimerase eukariotal tidak dihambat. Obat Nevirapin dimakan sesudah

makan 1 tablet 200mg, 2x/hari1

2. Resistensi

Disebabkan oleh mutasi pada RT.

3. Spektrum Aktivitas

HIV (tipe-1)

4. Resorbsi

Dari usus baik dengan BA 93%, PP l.k 60% dapat melintasi ccs dan kadarnya

dicairan otak k.l 45% dari kadar plasma. Massa paruhya 25-30 jam. Eksresinya

mulalui urin untuk 80% sebagai glukuronida atau metabolit hidroksilnya hanya

5% secara utuh.

5. Interaksi Obat
Terjadi dengan obat TBC rifampisin, rifabutin, yang kadar plasmanya diturunkan.

Begitupula efektipitas pil antihamil dapat dikurangi. Neviravin adalah indicator

lemah yang termasuk keluarga CYP 3A, artinya ada kemungkinan interaksi

dengan Indinavir dan Sakuinavir serta obat-obat lain yang dimetabolisme melalui

CYP 3A.

6. Efek Samping

Relatif sedikit tetapi agak serius, khususnya rash dan gangguan fungsi hati

yang hebat selain itu dilaporkan demam, mual dan sakit kepala. Efek positif yang

tak terduga adalah peningkatan HDL-kolesterol dengan 35% lebih (dibandingkan

maksimal 15% dengan obat-obat statin).

7. Aturan Pakai

Satu tablet 200 mg dua kali sehari dengan atau tanpa makanan. Selalu

dimulai dengan dosis lead-in dalam 2 minggu pertama ( 1 tablet sekali sehari).

Lead in mungkin tidak begitu diperlukan jika obat dapat ditoleransi dengan baik.

Peningkatan dosis disini untuk menghindari efek samping yang berat.

Dosis untuk pemula 1 dd 200 mg selama 14 hari lalu 2 dd 200 mg ac atau

pc.

Yang di maksud dosis lead-in dalam 2 minggu pertama pada obat

Nevirapin dimana Lead-in = yang dibolehkan. Jadi maksud dari kalimat diatas

adalah dosis yang dibolehkan makan obat, dimakan selama 2 minggu pertama

setelah diponis mengidap penyakit HIV dan minggu ketiga diganti dengan obat

lain.

8. Sediaan yang Beredar : Neviral kaplet 200 mg, Viramune tablet 200 mg, dan

Viramune suspensi 10 mg/ml.


E. Lamivudin (3TC)

1. Mekanisme Kerja

Lamivudin dimetabolisme dihepatosit menjadi bentuk trifosfat yang aktif.

Lamivudin bekerja dengan cara menghentikan sintesis DNA, secara kompetitif

menghambat polymerase virus.

2. Resistensi

Disebabkan oleh mutasi pada DNA polymerase virus.

3. Spektrum Aktivitas

HIV tipe 1 dan 2

4. Indikasi

Epivir digunakan untuk mengobati HIV dengan dikombinasikan dengan antiviral

lain. Epivir-HBV digunakan untuk hepatitis B kronis dengan bukti kenyataan

bahwa hepatitis B replikasi virus dan inflamasi aktif hati.

5. Kontra Indikasi

Hipersensitif terhadap lamivudin atau komponen lain dalam sediaan.

6. Interaksi Obat

Oleh karena lamivudin serupa dengan FTC (emtricitabine), tidak ada manfaat bila

kedua obat ini dipakai bersama. Tingkat lamivudin dalam darah mungkin

meningkat jika dipakai dengan kotrimoksazol.

7. Spektrum Aktivitas

HIV tipe 1 dan 2

8. Kombinasi Obat
Kombinasi 3TC + abacavir + tenofovir, atau 3TC + ddI + tenofovir dikaitkan

dengan tingkat kegagalan terapi yang tinggi, dan sebaiknya tidak dipakai tanpa

ARV lain.

9. Peringatan

Terapi lamivudin harus dihentikan jika sakit perut semakin parah, mual, muntah,

atau hasil biokimia yang tidak normal, sampai terjadinya pankreatitis.Terapi

dengan lamivudin mungkin dapat menyebabkan laktat asidosis dan harus

dihentikan jika terjadi peningkatan konsentrasi aminotransferase, hepatomegali

atau laktat asidosis yang tidak diketahui etiologinya.Penggunaan lamivudin harus

hati-hati pada pasien hepatomegali atau pasien dengan faktor risiko gangguan

hati.

10. Farmakokinetik

Bioavailabilitas oral lamivudin adalah 80% (max tercapai dalam 0,5-1,5

jam setelah pemberian dosis.Lamivudin didistribusikan secara luas dengan Vd

setara dengan volume cairan tubuh. Waktu paruh plasmanya sekitar 9 jam dan

sekitar 70% dosis diekskresikan dalam bentuk utuh di urin. Sekitar 5% lamivudin

dimetabolisme menjadi bentuk tidak aktif

11. Efek Samping

Efek samping dari lamivudin yaitu mual, muntah, diare, nyeri perut, batuk,

sakit kepala, insomnia, gejala nasal, nyeri muskuloskelatel.

12. Aturan Pakai

150 mg dua kali sehari (sebaiknya tidak bersama makanan); anak dibawah 12

tahun keamanan dan khasiatnya belum diketahui.


Sediaan yang beredar atau nama peten dari lamivudin yaitu 3TC

(Glaxo Wellcome UK) Sirup 10 mg/ml; Tablet 10 mg, 150 mg (K).

KOMBINASI OBAT

Pada tahun 1995 menunjukkan penelitian menunjukkan bahwa kombinasi

obat dari dua atau 3 jenis obat berkhasiat lebih kuat daripada obat-obat tersendiri.

Triple therapy dengan kombinasi (misalnya zidofudin + lamivudin + indinavir)

ternyata sangat efektif setelah 6 bulan, dimana dapat meningkatkan jumlah sel

lmfo-T (CD4).

Kombinasi obat juga digunakan untuk mencegah resistensi dimana obat

yang di kombinasikan terdiri dari nukleosid reverse transcriptase inhibitor, non

nukleosid reverse transcriptase inhibitor, dan protease inhibitor.

Kombinasi yang umum digunakan adalah nucleoside analogue

trancriptase inhibitor, (atau NRTI) dengan protease inhibitor, atau dengan

non-nucleoside reverse trancriptase inhibitor (NNRTI).

Lini Pertamanya yaitu :

Zidovudin + Lamivudin + Nevirapin

Tenofofir + Lamivudin + Nelfinavir

Lamivudin + Nevirapin

Lini keduanya :

Didanosin + Abakavir

Didanosin + Lamivudin

Tenofovir + Lamivudin

Nama Generik Nama Merek Juga Dikenal Produsen Asli


Sebagai:
Zidovudine Retrovir AZT, ZDV GlaxoSmithKline
Didanosine Videx DdI Bristol-Myers
Squibb
Zalcitabine Hivid ddC, dideoxycytidine Tidak dibuat lagi

Stavudine Zerit d4T Bristol-Myers


Squibb
Lamivudine Epivir 3TC GlaxoSmithKline
Zidovudine/Lamivudine Combivir Gabungan AZT & GlaxoSmithKline
3TC
Abacavir Ziagen ABC GlaxoSmithKline
Zidovudine/Lamivudine/ Trizivir Gabungan AZT, 3TC, GlaxoSmithKline
Abacavir Abacavir

Tenofovir Viread TDF Gilead Sciences


Emtricitabine Emtriva FTC Gilead Sciences
Abacavir/Lamivudine Epzicom Gabungan ABC & GlaxoSmithKline
3TC
BAB III
PENUTUP

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah nama untuk virus yang


menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia virus ini
terus bertambah banyak hingga menyebabkan sistem kekebalan tubuh tidak
sanggup lagi melawan virus yang masuk.
DAFTAR PUSTAKA

Ganiswara, 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi V, Universitas Indonesia, Jakarta.

Mycek, 2002, Farmakologi Ulasan Bergambar, Edisi II, PT. Widia Medika, Jakarta.
Prajitno, 1979, ISO Indonesia, PT. Anem Kosong Anem, Jakarta.

Sukandar, 2008, ISO Farmakoterapi, PT. ISFI, Jakarta.


Tjay, Tan Hoan, 2003, Obat-Obat Peting, Edisi V, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.