Anda di halaman 1dari 31

Cara mudah menjaga kesehatan gigi dan mulut

1. Jangan sikat gigi terlalu keras

Salah satu tujuan sikat gigi adalah menghilangkan plak gigi. Namun, jika Anda menyikat gigi
terlalu keras, gesekannya dapat merobek gusi dan mengikis enamel gigi yang relatif tipis.
Akibatnya, gigi Anda jadi lebih sensitif. Selain itu, cara sikat gigi yang tidak benar dapat
menyebabkan plak gigi malah menumpuk dan mengeras yang dapat berakibat pada gingivitis
(peradangan gusi).

Menyikat gigi haruslah dilakukan secara lembut dengan gerakan memutar dan memijat gigi.
Biasanya, lama durasi yang efektif untuk sikat gigi adalah sekitar dua menit.

2. Sikat gigi sebelum tidur

Anda pasti tahu jika Anda dianjurkan untuk sikat gigi setidaknya dua kali sehari: bangun pagi
dan sebelum beranjak tidur.

Sikat gigi sebelum tidur ternyata dapat menghilangan kuman dan plak pada gigi Anda yang
menumpuk lama sepanjang hari. Selain menyikat gigi, Anda juga dianjurkan untuk menyikat
lidah demi menghilangkan kuman atau plak yang menempel pada lidah.

3. Gunakan pasta gigi berfluorida

Fluorida adalah unsur alami yang dapat ditemukan di banyak hal, seperti air minum dan
makanan yang Anda konsumsi. Fluorida diserap tubuh untuk digunakan oleh sel-sel yang
membangun gigi Anda untuk menguatkan enamel gigi. Fluorida juga merupakan pertahanan
utama terhadap kerusakan gigi yang bekerja dengan memerangi kuman yang dapat
menyebabkan kerusakan, serta menyediakan perlindungan alami untuk gigi Anda. Oleh
karena itu, gunakanlah pasta gigi yang mengandung fluorida.

4. Jangan merokok

Tembakau dapat menyebabkan gigi menguning dan bibir menghitam. Merokok juga
melipatgandakan risiko Anda terhadap penyakit gusi dan kanker mulut. Oleh karena itu,
berhenti merokok sekarang juga.

5. Minum lebih banyak air

Air merupakan minuman terbaik untuk kesehatan Anda secara keseluruhan, termasuk bagi
kesehatan mulut Anda karena aktivitas minum dapat membantu membersihkan beberapa efek
negatif dari makanan dan minuman yang menempel pada gigi Anda. Bosan dengan rasa air
putih yang hambar? Kami punya banyak cara kreatif untuk melatih Anda lebih banyak
minum air putih.

6. Batasi konsumsi makanan yang manis dan asam


Anda mungkin seringkali mendengar nasihat, “Jangan banyak makan makanan manis, nanti
giginya bolong”. Ternyata, kita memang tidak boleh sembarangan membantah nasehat
orangtua. Makanan manis dan asam akan diubah menjadi asam oleh bakteri di mulut yang
kemudian dapat menggerogoti enamel gigi Anda. Asam inilah yang menyebabkan gigi Anda
cepat berlubang.

Tidak perlu menghentikan konsumsi gula sama sekali untuk menjaga kesehatan gigi dan
mulut, Anda hanya perlu membatasi konsumsinya.

7. Makan makanan yang bergizi

Sama halnya dengan air, makan makanan yang bergizi juga baik untuk kesehatan gigi dan
mulut Anda. Makan makanan yang bergizi — termasuk biji-bijian, kacang-kacangan, buah-
buahan dan sayuran, dan produk susu — dapat memberikan semua nutrisi yang Anda
butuhkan. Bahkan, sebuah studi menemukan bahwa omega-3 lemak — jenis lemak sehat
dalam makanan laut— dapat dapat mengurangi risiko peradangan, sehingga dapat
menurunkan risiko penyakit gusi.

Kesehatan gigi dan mulut pada anak – Kali ini ijinkanlah saya untuk menyampaikan
beberapa hal yang berkaitan dengan perawatan untuk kesehatan mulut baik untuk diri sendiri
maupun untuk anak-anak kita. Sehingga di bulan Ramadhan yang penuh berkah nanti, dapat
terasa lebih bermakna dengan menjaga kesehatan gigi dan mulut saat puasa dengan baik,
sebagaimana Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam apabila tidak khawatir memberatkan
ummatnya, maka beliau akan mewajibkan bersiwak (menggosok gigi) setiap hendak
melaksanakan solat. Bahkan ketika mau masuk ke dalam rumah dan akan menemui istrinya
beliau selalu bersiwak terlebih dahulu, supaya istrinya tidak mencium bau yang tidak sedap
dari mulut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini menunjukkan besarnya perhatian Nabi terhadap masalah kebersihan dan kesegaran
bau mulut, hendaknya kita sebagai ummat Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam juga
meneladani Sunnah dalam memelihara dan menjaga kebersihan dan kesehatan mulut kita.
Mari kita simak tips menjaga kesehatan gigi dan mulut berikut ini.

Kepentingan Menjaga Kebersihan Gigi dan Mulut


Perawatan mulut yang baik harus meliputi mulut, gigi, dan gusi, mulut yang sehat meliputi
kebersihan, kenyamanan dan kelembabannya. Perawatan mulut bertujuan mencegah mulut
dari penyakit dan kerusakan gigi, ada hubungan yang kuat antara praktek kebersihan diri
yang baik dengan kesehatan seseorang, perawatan mulut dan gigi yang tepat dapat
memberikan gambaran kesehatan secara keseluruhan. Sebagai contoh terdapat hubungan
antara gigi yang sehat dengan kecukupan diet terhadap mineral yang dibutuhkan tubuh seperti
kalsium, pospor, dan vitamin D.

Terdapat manfaat estetika dengan memiliki mulut yang bersih dan sehat, diantaranya adalah
berkontribusi terhadap penampilan diri, meningkatan interaksi sosial dan manfaat lainnya
adalah pada awal proses pencernaan makanan dan kenikmatan menyantap makanan akan
meningkat ketika mulut dan gigi dalam kondisi yang baik.
Masalah yang sering terjadi akibat perawatan mulut yang tidak baik diantaranya adalah
timbulnya plak kekuningan pada gigi, bau mulut atau nafas yang tidak sedap, sariawan,
peradangan pada gusi bahkan dapat menyebabkan keluarnya nanah dari gusi. Pada
kesempatan kali ini akan kita bahas beberapa hal yang berkaitan dengan perawatan mulut,
agar puasa kita di bulan ramadhan menjadi lebih baik dari sebelumnya yaitu meliputi cara
menyikat gigi yang tepat, pasta gigi, menggunakan benang untuk membersihkan sela-sela
gigi, dan kebiasaan makanan atau minuman yang dapat mempengaruhi kesehatan mulut.

Frekuensi Menyikat Gigi, Berapa lama dan sering?

Cara perawatan mulut yang pertama yaitu dengan menggosok gigi. Mengapa menggosok gigi
itu sangat penting? Karena jutaan bakteri hidup pada gigi, gusi, lidah dan sisa makanan yang
ada dalam mulut kita, menggosok gigi dengan cara yang benar dapat membersihkan sisa-sisa
makanan dan mencegah timbulnya plag pada gigi. Sebaiknya sebelum menggosok gigi anda
membersihkan sela-sela gigi dengan menggunakan seutas benang 1 kali sehari, hal ini
berfungsi untuk menghilangkan sisa-sisa makanan yang terdapat diantara celah gigi.

Manfaat lainnya adalah agar kandungan flouride yang ada pada pasta gigi dapat berkontak
secara langsung dengan permukaan gigi yang sudah dibersihkan dengan benang tadi.
Menyikat gigi minimal 2 kali dalam sehari (setelah makan pagi dan sebelum tidur) dan
ditambah setiap selesai makan atau mengkonsumsi cemilan yang manis, hal ini karena
kandungan gula dalam minuman dan makanan yang kita konsumsi akan diuraikan oleh
bakteri menjadi asam yang dapat merusak gigi kita, setengan jam pertama setelah makan
kondisi gigi dalam keadaan lemah dan sangat rentan.
Sehingga menyikat gigi sebaiknya dilakukan setengah jam pertama setelah selesai makan dan
yang terpenting adalah dilakukan selama 2-3 menit, mayoritas orang menggosok gigi kurang
dari 30 atau 45 detik. Jangan menggosok gigi dan gusi terlalu keras karena dapat
membahayakan gusi, gosoklah gigi dengan cara yang lembut atau dengan tekanan yang
sangat sedikit dan searah dengan gigi. Jangan lupa untuk menyikat gigi bagian belakang dan
lidah karena lidah banyak mengandung bakteri yang dapat tumbuh disana. Apabila kita tidak
makan cemilan setelah menyikat gigi, maka air ludah kita akan menetralkan asam yang
diproduksi oleh bakteri sampai hari tersebut atau sampai kita mengkonsumsi makanan lagi.

Pentingnya Cara Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Cara menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak. Pada anak-anak menggosok gigi
merupakan hal yang tidak disukai. Walaupun orang tua sudah dianjurkan untuk menyikat gigi
anaknya sejak giginya pertama kali tumbuh dan usia 18 bulan atau ketika anak sudah mampu
untuk meludah menyikat gigi dengan menggunakan pasta gigi yang sesuai dengan usia anak,
akan tetapi anak baru dapat diajarkan cara menyikat gigi yang benar kalau usianya sudah 6
tahun.

Peran orang tua mengajarkan dan mengawasi anak ketika belajar menyikat gigi,
menggunakan trik yang menyenangkan ketika anak sedang menyikat gigi atau belajar
melakukannya, misalnya bisa dengan cara mendongeng atau yang lainnya dan mencegah
terjadinya keracunan pasta gigi pada anak karena terlalu banyak pasta gigi yang ditelan.
Dalam memilih pasta gigi sebaiknya yang mengandung flouride dan digunakan secukupnya
(seukuran biji kacang), karena berdasarkan hasil penelitian flouride dapat mencegah plak
pada gigi (gigi terlihat kuning/hitam), sedangkan untuk bayi dapat diberikan suplemen
flouride drop (tetes) sejak awal (usia 2 minggu) untuk mencegah terjadinya plak ketika nanti
giginya sudah tumbuh.

Pemberian suplemen flouride ini tidak membatalkan asi eksklusif, sebagaimana pemberian
suplemen zinc pada bayi yang mengalami diare. Tetapi pemberian flouride yang berlebihan
dapat menyebabkan perubahan warna pada lapisan gigi, sehingga pemberian suplemen
flouride harus sesuai dengan dosis dan cara pemberiannya dengan diteteskan di tenggorokan
bagian belakang. Bagaimana dengan penggunaan mouthwash (penyegar mulut, dengan cara
berkumur)? Harus hati-hati bagi orang yang mempunyai membran mukosa kering atau
mudah mengalami iritasi, karena kandungan alkohol dalam penyegar mulut tersebut dapat
menyebabkan membran mukosa menjadi sangat kering yang akan memperparah kondisi
orang tersebut.

Maka apabila mau menggunakan penyegar mulut hendaknya memilih yang tidak
mengandung alkohol. Kemudian yang terakhir adalah kontrol ke dokter gigi, apabila gigi
pertama bayi sudah tumbuh atau usia anak sudah mencapai 12 bulan. Sebaiknya segera
memeriksakan ke dokter gigi, supaya dapat dideteksi adanya masalah yang mungkin muncul
terkait dengan kesehatan gigi dan gusi anak. Kemudian orang tua harus rutin memeriksakan
gigi anaknya secara rutin tiap 6 bulan atau sesuai anjuran dokter gigi, hal ini juga berlaku
untuk orang dewasa.

Perawatan mulut secara rutin tiap hari dengan baik dan benar dapat memelihara integritas
membran mukosa, gigi, gusi dan bibir. Serta dapat menghindarkan dari berbagai masalah
yang sering timbul akibat perawatan mulut yang tidak baik. Demikian sedikit hal yang dapat
kami sampaikan berkaitan dengan perawatan mulut untuk diri sendiri dan anak kita, semoga
dapat bermanfaat bagi penyusun dan pembaca semua.

Cara Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Pada Anak


By putri Categories : Kesehatan

Anak-anak memang sebuah anugerah terindah yang dimiliki oleh setiap orang tua. Setiap
orang tua pasti sangat senang melihat para putra dan putrinya saat tersenyum lebar. Namun
jika kita mendapati anak-anak dengan gigi berlubang dan warna yang kecokelatan, pastinya
ini sangat mengganggu penampilan. Bagi anak-anak merawat gigi adalah bukanlah hal yang
paling penting jika dibandingkan dengan bermain. Oleh karena itu, Anda sebagai orang tua
harus mengajari mereka bagaimana cara menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak yang
benar dan tepat.

Selain untuk kesehatan, memiliki gigi yang putih bersih dan terawat juga dapat membuat
senyuman ceria anak-anak Anda lebih indah dan terpancar. Untuk menjaga kesehatan gigi
dan mulut pada anak, berikut adalah beberapa cara yang dapat Anda terapkan.

Cara menjaga gigi dan mulut anak agar tetap sehat

Mengurangi makanan manis

Cara menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak yang pertama adalah menghindari atau
mengurangi makanan manis. Seperti yang Anda ketahui anak-anak pasti sangat
suka mengonsumsi makanan yang merusak kesehatan gigi seperti permen, es krim, susu, teh
dan lainnya. Akan tetapi mengonsumsi makanan manis yang tidak diimbangi dengan
perawatan yang tepat justru dapat mempercepat pembusukan pada gigi. Oleh karena itu,
sebaiknya jangan membiasakan memberikan makanan manis pada anak-anak jika Anda
menginginkan mereka memiliki gigi dan mulut yang sehat.

Menggunakan obat kumur

Cara yang kedua adalah selalu berkumur. Selain menggosok gigi secara teratur, Anda juga
harus membiasakan menggunakan obat kumur pada anak-anak Anda. Setidaknya gunakanlah
obat ini sekali dalam seminggu. Menggunakan obat kumur dapat membantu untuk mencegah
adanya plak dan karang pada gigi.

Jangan biarkan menghisap botol saat tidur


Cara menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak selanjutnya adalah jangan membiarkan
anak menghisap botol saat tidur. Hal ini pun telah dijelaskan oleh dokter gigi dan dokter anak
yaitu membiarkan anak tidur dengan menghisap sebotol susu formula atau jus dapat membuat
gigi mereka rusak dan tidak sehat. Hal ini dikarenakan cairan manis di dalam botol tersebut
dapat menempel pada gigi anak, dan pastinya hal tersebut akan mempermudah bakteri untuk
hidup di dalam mulut. Bakteri merupakan penyebab bau mulut yang perlu Anda ketahui,
bakteri tersebut dapat membuat gigi berlubang.

Minum air putih

Yang terakhir adalah dengan cara selalu membiasakan minum air putih setelah mengonsumsi
makanan yang mengandung gula. Dengan begitu, sisa makanan lebih mudah hilang dan tidak
dapat menyebabkan kerusakan gigi. Tak hanya itu saja, minum air putih secara teratur juga
dapat membantu untuk menjaga kesehatan tubuh si kecil.

Nah itulah beberapa cara menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak.

71
Sari Pediatri
, Vol. 17, No. 1, Juni 2015
Nutrisi dan Kesehatan Gigi-Mulut pada
Anak
Aryono Hendarto
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia/RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Nutrisi dan kesehatan gigi dan mulut memiliki kaitan yang erat terutama pada
anak yang memiliki fase tumbuh kembang. Nutrisi
yang baik dan tepat penting untuk menunjang kesehatan gigi dan mulut.
Sebaliknya, kesehatan gigi dan mulut juga penting untuk
asupan nutrisi yang adekuat. Karies gigi merupakan salah satu penyakit infeksi
kronis yang paling sering terjadi pada anak dan
memiliki kaitan erat dengan nutrisi. Berdasarkan sifatnya dalam memicu karies,
bahan makanan dibagi menjadi tiga kelompok,
yaitu anti-kariogenik, kariogenik, dan kariostatik. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa pemberian ASI tidak terbukti memicu
karies. Sebaliknya, kebiasaan konsumsi makanan/minuman berkadar gula
tinggi, makanan cepat saji, dan makanan ringan diantara
waktu makan meningkatkan risiko karies pada anak. Anak dengan gizi lebih dan
obesitas juga memiliki risiko karies yang lebih ti
nggi.
Peran suplemen fluoride dan silitol dalam pencegahan karies masih
kontroversial. Sementara itu, konsumsi probiotik terbukti mamp
u
mencegah karies dentis. Pencegahan karies dengan mengurangi kebiasaan
konsumsi makanan manis, makanan cepat saji, makanan
ringan, minuman soda, mencegah obesitas pada anak, serta didukung oleh
kebiasaan menyikat gigi dengan teratur sangat penting
dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut anak.
Sari Pediatri
2015;17(1):71-5.
Kata kunci:
nutrisi, karies, gigi-mulut
Nutrition and Dental-Oral Health in
Children
Aryono Hendarto
Nutrition and dental-oral health have strong association especially for children
who are in the growth and development phase. H
ealthy
and adequate nutrition play vital role to support dental and oral health in
children. On the other way, oral and dental healths
are
also important to support nutrition intake. Dental caries is one of the most
frequent chronic infections in children and also h
as
significant connection with nutrition aspect. Base on their characteristic in
promoting dental caries, foods are classified in to
three
groups; anticariogenic, cariogenic and cariostatic. Several researches showed
that breastfeeding were not associated with the r
isk for
early childhood dental caries. However, the behaviour of high sugar food and
beverage intake, fast food consumption, and freque
nt
snacks consumption between meals increase the risk of dental caries and tooth
decay. Overweight and obesity are also can increa
se
the risk of dental caries in children. Usage of Fluoride and xylitol as the
prevention of dental caries are still controversial
. In other
hand, researches showed that probiotic consumption has prevention effect to
dental caries. Another important prevention steps i
n
reducing the risk of dental caries in children include limiting intake of sugar,
fast food, snacks, and soda drink. Preventing
childhood
overweight and obesity are also essential to reduce the risk of dental caries in
children. Moreover, regular tooth brushing hab
it is
beneficial to maintain oral and dental health in children.
Sari Pediatri
2015;17(1):71-5.
Keyword:
nutrition, caries dentis, dental-oral
Alamat korespondensi:
DR. Dr. Aryono Hendarto, Sp.A(K). Departemen ilmu kesehatan anak FKUI/ RSCM. Jalan
Salemba No. 6, Jakarta.
Telepon +6221-3915715. E-mail:
aryono_hendarto@idai.or.id, aryono@cbn.net.id
72
Aryono Hendarto:
Nutrisi dan kesehatan gigi-mulut pada anak
Sari Pediatri
, Vol. 17, No. 1, Juni 2015

N
utrisi merupakan salah satu komponen
penting terhadap kesehatan gigi-mulut,
dan beberapa jenis nutrientelah diketahui
berperan lebih terhadap kesehatan gigi-
mulut.
1
Kalsium, fluor, fosfor dan vitamin D
merupakan komponen penting dalam pembentukan
struktur dan menjaga kesehatan gigi. Selain itu,
vitamin C dan beberapa jenis vitamin lainnya juga
dapat menjaga kesehatan mukosa mulut melalui
perannya dalam pembentukan kolagen. Kekurangan
makronutrien, mikronutrien, maupun berbagai jenis
vitamin tertentu dapat berdampak pada terganggunya
kesehatan gigi-mulut.
1
Nutrisi selain memberi manfaat terhadap kesehatan
gigi-mulut ternyata dapat juga menimbulkan masalah
pada kesehatan mulut. Karies gigi merupakan salah satu
masalah kesehatan mulut dengan prevalensi tertinggi
pada anak. Penyakit ini ditandai adanya satu atau lebih
kerusakan pada gigi, hilangya gigi akibat karies, atau
terdapat lapisan plak pada permukaaan gigi.
2
Sekitar
60%-90% anak usia sekolah di dunia mengalami karies
dan prevalensi karies lebih tinggi pada keluarga dengan
status sosioekonomi rendah yang sering mengabaikan
layanan pencegahan dan penanganan karies.
4,5
Menurut
Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan tahun RI
2013 (RISKESDAS), jumlah kerusakan gigi penduduk
Indonesia 460 gigi per 100 orang. Namun demikan,
data prevelensi karies pada anak tidak disajikan dalam
laporan tersebut.
3
Nutrisi dan kesehatan mulut memiliki hubungan
dua arah yaitu nutrisi yang tepat penting dalam
menjaga kesehatan mulut, sebaliknya kesehatan
mulut juga penting untuk menjaga asupan nutrisi
yang adekuat.
4
Karies gigi yang tidak ditangani dapat
menimbulkan rasa nyeri sehingga menimbulkan
bukan saja masalah makan tetapi juga menimbulkan
masalah bicara dan tidur pada anak.
5
Selanjutnya
gangguan makan tersebut dapat memberikan dampak
jangka panjang pada anak seperti anemia defisiensi
besi bahkan malnutrisi
9
Dalam praktek kedokteran sehari-hari, banyak
pertanyaan dari orang tua kepada para dokter terutama
dokter spesialis anak mengenai kesehatan gigi-mulut
anak. Pertanyaan tersebut antara lain mengenai jenis
makanan yang perlu dihindari untuk mencegah masalah
kesehatan gigi-mulut, pola makan seperti apa yg baik
untuk kesehatan gigi-mulut, serta nutrien yang dapat
menjaga kesehatan gigi-mulut. Oleh karena itu, makalah
ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai
hubungan nutrisi dengan kesehatan gigi-mulut pada
anak.
Jenis makanan pemicu karies
Berdasarkan sifatnya dalam memicu karies, makanan
dapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu anti
kariogenik, kariogenik, dan kariostatik. Klasifikasi
makanan ini penting untuk pengembangan intervensi
dalam modifikasi kebiasaan makan yang berhubungan
dengan risiko karies gigi.
4
Makanan yang dikelompokkan sebagai anti-
kariogenik adalah makanan yang dapat meningkatkan
pH saliva pada tingkat basa untuk menunjang dan
menjaga remineralisasi enamel. Jenis makanan yang
termasuk dalam kelompok ini adalah susu dan
produknya seperti keju. Sementara itu, kelompok
makanan kariostatik adalah makanan yang tidak
dimetabolisme oleh mikroorganisme di dalam mulut
dan tidak menyebabkan penurunan pH saliva kurang
dari 5.5 dalam 30 menit. Makanan yang termasuk
dalam kelompok iniantara lain telur, daging, ikan, dan
sebagian besar sayur-sayuran.
4,6
Makanan kariogenik mengandung karbohidrat
yang dapat difermentasi oleh mikroorganisme seperti
makanan manis, permen, soda, dan makanan cepat
saji. Makanan jenis ini memiliki karakteristik kaya
monosakarida dan disakarida serta mudah larut dalam
saliva. Makanan kariogenik ini kemudian akanmenetap
lebih lama di rongga mulut. Makanan jenis ini dapat
menurunkan pH saliva dibawah 5.5 dan memicu
demineralisasi ketika kontak dengan mikroorganisme
di mulut. Komposisi kimia, bentuk fisik, ukuran
partikel, kelarutan, adhesi, dan tekstur makanan
juga merupakan faktor penting dalam menentukan
kekuatan sifat kariogenik suatu jenis makanan.
4,6

ASI dan kesehatan gigi-mulut


Air susu ibu merupakan nutrien ideal untuk bayi
dengan berbagai bukti ilmiah yang menyatakan
bahwa pemberian ASI memberikan berbagai manfaat
kesehatan baik kepada bayi, ibu, dan masyarakat. ASI
direkomendasikan untuk diberikan secara ekslusif
selama 6 bulan pertama dan dilanjutkan paling kurang
1 tahun kehidupan hingga waktu yang diinginkan oleh
ibu dan anak. Pemberian ASI jangka panjang pernah
73
Aryono Hendarto:
Nutrisi dan kesehatan gigi-mulut pada anak
Sari Pediatri
, Vol. 17, No. 1, Juni 2015
dilaporkan sebagai faktor potensial terhadap karies
usia dini. Namun demikian, penelitian di Amerika
Serikat memberikan menunjukkan bahwa ASI dan
durasi pemberian ASI tidak terbukti sebagai faktor
risiko karies pada anak.
7
Sebuah penelitian
sistematic
review
juga memberikan hasil bahwa pemberian ASI
ekslusif selama 6 bulan pertama tidak memberikan
dampak peningkatan insiden karies pada anak.
8
Sebaliknya, penelitian di Qatar memberikan hasil
bahwa pemberian susu formula pada bayi dapat
meningkatkan risiko karies pada anak.
9

Kebiasaan makan dan kesehatan gigi-


mulut
Sebuah penelitian yang menghubungkan kebiasaan
makan dengan terjadinya karies gigi dilakukan di
Polandia dengan subjek anak kelas 3 sekolah dasar
berjumlah 367 orang. Hasil penelitian tersebut
menujukkan bahwa anak yang mengonsumsi makanan
cepat saji beberapa kali sebulan lebih banyak mengala-
mi karies gigi dibandingkan anak yang jarang atau tidak
pernah mengonsumsi makanan cepat saji. Anak yang
sering mengonsumsi makanan manis juga lebih banyak
mengalami karies. Selanjutnya, anak yang sering
mengonsumsi makanan ringan di antara waktu makan
juga lebih banyak yang mengalami karies gigi.
10
Sementara itu, sebuah penelitian di Italia dengan
jumlah subjeksebanyak 546 anak usia 3-5 tahun
menunjukkan bahwa karies gigi pada anak secara
bermakna berhubungan dengan status social ekonomi
termasuk pekerjaan dan pendidikan orangtua.
Sebanyak 40% anak dengan karies gigi memiliki
kebiasaan menghisap botol dengan madu, sebagian
lainnya memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman
manis.
11
Penelitian
sistematic review
menunjukkan bukti
konsisten yang mendukung hubungan antara jumlah
konsumsi gula dan perkembangan karies. Bukti
menunjukkan kejadian karies gigi ditemukan lebih
rendah bila asupan gula kurang dari 10%. Analisis data
menunjukkan bahwa membatasi asupan gula kurang
dari 5% dalam diet bermanfaat untuk menurunkan
risiko karies gigi.
12,13
Di antara jenis gula, sukrosa
merupakan jenis gula yang paling kariogenik karena
menyebabkan pembentuka glukan yang dapat
mempermudah adhesi bakteri pada gigi dan membatasi
difusi asam dan penyangga (
buffer)
di dalam plak.
14
Beberapa jenis makanandan minuman telah
diketahui mengandung kadar gula tinggi. Makanan
dan minuman tersebut antara lain gula dan sirup (
kadar gula mencapai 100%), minuman bersoda dan
bubuk minuman (96%), permen dan coklat (93%),
buah-buahan kering (81%), kue dan pie (71%). Oleh
kerena tingginya kadar gula yang dikandung oleh
berbagai makanan dan minuman di atas, konsumsi
makanan dan minuman tersebut harus dicegah atau
dibatasi untuk mencegah terjadinya karies gigi pada
anak.
Status nutrisi dengan kesehatan gigi-
mulut
Penelitian di Polandia yang melibatkan 225 anak
dengan usia 7 dan 12 tahun yang dipilih secara acak
menunjukkan frekuensi karies gigi pada anak dengan
gizi baik usia 7 tahun 82,2%, sedangkan pada anak
usia 12 tahun 53,2%. Pada anak 7 tahun dengan
gizi lebih dan kurang, prevalensi karies 95,0 % dan
90.9%, sementara pada anak usia 12 tahun 84,2%
dan 50,0%. Survei ini memberikan kesimpulan
bahwa prevalensi karies gigi lebih banyak ditemukan
pada anak dengan gizi lebih.
15
Hal ini sesuai dengan
penelitian di Qatar yang menunjukkan bahwa anak
dengan indeks massa tubuh (IMT) lebih dari persentil
95 (gizi lebih) memiliki risiko mengalami karies gigi
yang lebih tinggi dibanding anak dengan IMT kurang
dari persentil 85.
9
Selain karies gigi, sebuah penelitian
sistematic review
dan meta-analisis dengan jumlah subjek penelitian
sebanyak 42,198 orangjuga membuktikan bahwa
anak dengan gizi lebih dan obesitas memiliki risiko
relatif yang lebih besar untuk mengalami periodontitis
dibandingkan dengan anak yang mempunyai status
gizi normal.
16

Peran nutrien lainnya dalam menunjang


kesehatan gigi-mulut
Mengonsumsi makanan yang mengandung kalsium,
fluor, dan vitamin D terbukti baik untuk menunjang
kesehatan gigi-mulut anak. Penelitian di Qatar
menunjukkan prevalensi karies gigi terjadi lebih rendah
pada anak yang mengonsumsi makanan laut, minyak
hati ikan kod (
cod liver oil
), dan susu dengan fortifikasi
vitamin D.
9
Oleh karena itu penelitian tersebut
menganjurkan untukmengonsumsi makanan di atas
74
Aryono Hendarto:
Nutrisi dan kesehatan gigi-mulut pada anak
Sari Pediatri
, Vol. 17, No. 1, Juni 2015
untuk mencegah karies pada anak.
Selain itu, ada beberapa nutrien lainyang juga
berperan dalam menunjang kesehatan gigi-mulut pada
anak, yaitu
x
Probiotik
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa keseimbangan
antara bakteri yang bermanfaat dan bakteri patogen
penting dalam menjaga kesehatan mulut. Karies gigi
dapat terjadi apabila terdapat ketidakseimbangan
mikroba di dalam mulut yang didominasi oleh bakteri
yang menghasilkan asam. Akumulasi bakteri dalam
biofilm menyebabkan higienitas oral yang buruk dan
menyebabkan pergeseran komunitas mikroba sehingga
menyebabkan inflamasi periodontal. Bakteri probiotik
yang berasal dari genus Lactobacillus, Bifidobacterium,
dan Streptokokus terbukti efektif untuk mencegah
karies dengan menurunkan jumlah bakteri kariogenik
di dalam saliva setelah konsumsi probiotik tersebut.
17
x
Suplemen fluor dan silitol
Dalam dekade terakhir banyak dilakukan, penelitian
mengenai penggunaan suplemen fluor dan silitol dalam
mencegah karies gigi. Sebuah penelitian
sistematic
review
mengkaji manfaat pemberian suplemen
fluor dalam bentuk tablet, permen karet, atau drop
dalam pencegahan karies pada anak. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa manfaat pemberian suplemen
fluor terhadap pencegahan karies masih kontroversi.
Tiga penelitian lain menunjukkan penggunaan
suplemen fluor mengurangi kariesgigi pada anak
sebanyak 24%. Sementara itu, satu penelitian lain
memberikan hasil suplemen fluor tidak memberikan
efek pencegahan terhadap karies gigi.
18
Penggunaan
silitol dalam pencegahan karies juga masih kontroversi.
Banyak organisasi kesehatan di dunia mendukung
rekomendasi penggunaan silitol pada populasi yang
mempunyai risiko karies gigi. Namun demikian sebagi-
an besar ahli menyatakan masih diperlukan penelitian
dengan desain yang baik untuk membuktikan manfaat
silitol dalam pencegahan karies.
19
x
Jus buah-buahan
Sebuah penelitian di India mengobservasi berbagai pH
jus buah-buahan dan menyimpulkan bahwa setelah 24
jam pH jus buah berubah menjadi lebih asam dari pH
awal. Seiring dengan pertambahan waktu, peningkatan
efek erosif lebih tinggi pada jus nanas, anggur, dan
tebu. Ketiga jenis jus ini juga lebih kariogenik karena
mengandung elemen pemicu kariogenik yang lebih
tinggi seperti selenium, besi, dan mangan. Sementara
itu, jus jeruk, mangga, delima, apel, dan semangka
tidak memiliki efek erosif pada enamel gigi manusia
dan mengandung fluor dan fosfor yang tinggi sehingga
dikelompokkan dalam kariostatik.
20

Langkah pencegahan masalah gigi-


mulut terkait nutrisi
Peningkatan pengetahuan masyarakat terutama orang
tua mengenai nutrisi penting dalam pencegahan karies
pada anak. Sebuah penelitian di Brazil menunjukkan
bahwa peningkatkan pengetahuan tentang pemberian
nasihat secara rutin mengenai nutrisi di rumah pada
komunitas dengan sosioekonomi yang rendah terutama
ibu yang mempunyai bayi dapat menurunkan insiden
dan keparahan karies gigi pada anak.
21
Pencegahan
kariesgigi terkait nutrisi yang dapat dilakukan antara
lain,
x
Menghindari kebiasaan mengonsumsi makanan
yang bersifat kariogenik seperti: gula, sirup,
minuman bersoda, permen, coklat, manisan, kue,
dll.
x
Mencegah obesitas pada anak dengan pengaturan
pola diet, kebiasaan, dan olahraga.
x
Menerapkan kebiasaan pola makan teratur sesuai
jadual dan mengurangi mengkonsumsi makanan
ringan diantara waktu makan.
x
Mengkonsumsi makanan yang mengandung
kalsium, fluor dan vitamin D yang tinggi.
Namun demikian, selain faktor nutrisi, kebiasaan
menggosok gigi secara teratur dan benar juga penting
dilakukan dalam upaya pencegahan masalah gigi-mulut
pada anak.
22

Kesimpulan
Nutrisi berperan penting dalam kesehatan gigi-mulut,
dan kesehatan gigi-mulut juga berperan penting terha-
dap asupan nutrisi yang baik. Berbagai masalah gigi-
mulut pada anak seperi karies gigi dapat dicegah dengan
pola asupan nutrisi yang benar. Edukasi masyarakat
mengenai nutrisi yang baik penting dalam pencegahan
75
Aryono Hendarto:
Nutrisi dan kesehatan gigi-mulut pada anak
Sari Pediatri
, Vol. 17, No. 1, Juni 2015
masalah kesehatan gigi-mulut pada anak. Air Susu Ibu
tidak terbukti menyebabkan masalah gigi-mulut pada
anak. Dianjurkan untuk mengonsumsi gula paling
banyak 5% dari kalori harian. Gizi lebih dan obesitas
pada anak terbukti meningkatkan risiko karies gigi.
Konsumsi makanan tinggi kalsium, fluor, dan vitamin
D bermanfaat untuk mencegah karies gigi. Konsumsi
probiotik juga baik untuk mencegah terjadinya
karies. Penggunaan suplemen floride dan silitol dalam
pencegahan karies masih membutuhkan penelitian lebih
lanjut.Sifat kariogenik minuman jus tertentu harus
diperhatikan dalam mengkonsumsi jus buah-buahan.
Selain faktor nutrisi, kebiasaan menggosok gigi pada
anak juga perlu diperhatikan untuk mencegah kesehatan
gigi-mulut anak.
Daftar pustaka
1.
Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF.
Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi ke-18. Philadelphia:
Saunders; 2007.
2.
Evans EW, Hayes C, Palmer CA, Bermudez OI, Cohen
SA, Must A. Dietary intake and severe early childhood car-
ies in low-income, young children. Journal of the Academy
of Nutrition and Dietetics 2013;113:1057-61.
3.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI. Riset kesehatan dasar.
Jakarta: Bakti Husada; 2013.
4.
Touger-Decker R, Mobley CC, American Dietetic A.
Position of the American dietetic association: oral health
and nutrition. J Am Diet Assoc 2007;107:1418-28.
5.
Casamassimo PS, Thikkurissy S, Edelstein BL, Maiorini E.
Beyond the dmft: the human and economic cost of early
childhood caries. J Am Dent Assoc 2009;140:650-7.
6.
Bica I, Cunha M, Reis M, Costa J, Costa P, Bica A. Food
consumption, body mass index and risk for oral health
in adolescents. Atencion primaria / Sociedad Espanola
de Medicina de Familia y Comunitaria 2014;46 Suppl
5:154-9.
7.
Iida H, Auinger P, Billings RJ, Weitzman M. Association
between infant breastfeeding and early childhood caries
in the United States. Pediatrics 2007;120:e944-52.
8.
Kramer MS, Kakuma R. Optimal duration of exclusive
breastfeeding. The Cochrane database of systematic
reviews 2012;8:CD003517.
9.
Bener A, Al Darwish MS, Tewfik I, Hoffmann GF. The
impact of dietary and lifestyle factors on the risk of dental
caries among young children in Qatar. J Egyp Pub Health
Assoc 2013;88:67-73.
10. Krzywiec E, Zalewska M, Wojcicka A. [Selected eating
habits and caries occurrence in adolescents]. Przeglad
Epidemiol 2012;66:713-21.
11. Panetta F, Dall’Oca S, Nofroni I, Quaranta A, Polimeni
A, Ottolenghi L. Early childhood caries. Oral health
survey in kindergartens of the 19th district in Rome.
Minerva Stomatol 2004;53:669-78.
12. Freeman R. Moderate evidence support a relationship
between sugar intake and dental caries. Evidence-based
dentistry 2014;15:98-9.
13. Moynihan PJ, Kelly SA. Effect on caries of restricting
sugars intake: systematic review to inform WHO
guidelines. J Dent Res2014;93:8-18.
14. Tinanoff N, Palmer CA. Dietary determinants of dental
caries and dietary recommendations for preschool
children. J Pub Health Dent 2000;60:197-206;
discussion 7-9.
15. Chlapowska J, Rataj-Kulmacz A, Krzyzaniak A,
Borysewicz-Lewicka M. [Association between dental
caries and nutritional status of 7-and 12-years-old
children]. Develop Period Med 2014;18:349-55.
16. Nascimento GG, Leite FR, Do LG. Is weight gain
associated with the incidence of periodontitis? A
systematic review and meta-analysis. J Clin Periodontol
2015.
17. Bizzini B, Pizzo G, Scapagnini G, Nuzzo D, Vasto S.
Probiotics and oral health. Cur Pharm Des 2012;18:5522-
31.
18. Tubert-Jeannin S, Auclair C, Amsallem E. Fluoride
supplements (tablets, drops, lozenges or chewing gums)
for preventing dental caries in children. The Cochrane
database of systematic reviews 2011:CD007592.
19. Fontana M, Gonzalez-Cabezas C. Are we ready for
definitive clinical guidelines on xylitol/polyol use? Adv
Dent Res 2012;24:123-8.
20. Nirmala SV, Subba Reddy VV. A comparative study
of pH modulation and trace elements of various fruit
juices on enamel erosion: an in vitro study. J Indian Soc
Pedodontics and Preventive Dent 2011;29:205-15.
21. Feldens CA, Giugliani ER, Duncan BB, Drachler Mde
L, Vitolo MR. Long-term effectiveness of a nutritional
program in reducing early childhood caries: a randomized
trial. Community Dent Oral Epidemiol 2010;38:324-
32.
22. Adair PM, Burnside G, Pine CM. Analysis of health
behaviour change interventions for preventing dental
caries delivered in primary schools. Caries research
2013;47 Suppl 1:2-
Jadikan Perawatan Mulut sebagai Bagian Dari Kebiasaan Sehat Anda Sehari-hari

Perlu waktu sekitar dua atau tiga menit untuk menggosok gigi Anda dengan benar.
Menguasai teknik menggosok gigi yang benar merupakan langkah pertama untuk menjaga
kesehatan gigi dan gusi. Teknik menggosok gigi yang benar juga secara efektif
meminimalisasi resiko gigi berlubang dan penyakit gusi.

Plak – Musuh Terbesar Anda

Bakteri hidup di dalam mulut Anda dalam bentuk plak. Plak adalah lapisan material lengket
yang mengandung bakteri yang terakumulasi di gigi Anda. Akumulasi tersebut akan menjadi
salah satu penyebab gigi berlubang dan radang gusi, yang akhirnya dapat mengakibatkan
penyakit gusi (periodentitis). Untuk menjaga mulut Anda tetap bersih, Anda harus menjaga
kebersihan mulut setiap hari.

Tips Perawatan Mulut

Gosok gigi cukup dua kali sehari!

Terlalu sering menggosok gigi dapat mengikis email gigi dan iritasi pada gusi,
menjadikannya lebih mudah terkena infeksi dan radang.

Lembut

Sikat gigi bukan untuk dipergunakan seperti amplas. Gunakan dengan lembut. Terlalu kasar
menggunakan sikat gigi dapat mengikis email gigi dan mengiritasi gusi Anda. Ujung sikat gigi yang
lembut dapat membersihkan jumlah kotoran yang sama tanpa terlalu merusak gigi dan gusi Anda.

Posisikan sikat gigi Anda dengan benar

Sebagian besar masalah gigi tidak muncul dipermukaan, tetapi pada garis gusi. Miringkan
sikat gigi Anda pada sudut 45-derajat dan gosok dekat dengan gusi dengan gerakan berputar.

Jangan sepelekan benang gigi

Membersihkan gigi menggunakan benang gigi adalah sangat disarankan. Menggunakan


benang gigi sebelum menggosok gigi membuka area yang dapat menerima manfaat fluoride
dalam pasta gigi Anda, yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan kesehatan mulut
Anda.

Panduan Makan Sehat Untuk Batita

Pada saat memulai fase makanan pendamping ASI (MPASI), umumnya bayi masih mau
menyantap apa pun yang diberikan oleh Mam. Mendekati usia 1 tahun, saat porsi makannya
harus lebih banyak dibandingkan asupan ASI atau susu, biasanya mulai muncul perubahan
sikap dari si kecil. Saat ini, menu harian makanan anak 1 tahun biasanya terdiri dari makanan
padat, ASI, dan susu pertumbuhan.
Seperti dijelaskan oleh dr. Nuraini Irma Susanti SpA, pada fase ini anak akan mengalami
berbagai hal yang membuatnya enggan menyantap makanan, mulai dari bosan dengan tekstur
makanan halus atau yang dicampur aduk, sedang antusias mengeksplorasi lingkungannya,
mulai bisa membedakan rasa, dan lain sebagainya. Sebenarnya ini normal saja, Mam, dan
sesuai dengan fase tumbuh kembangnya. Yang lebih penting Mam perhatikan adalah
bagaimana caranya agar keengganan tersebut tidak berlanjut dan menjadi kebiasaan, hingga
akhirnya menimbulkan problem anak susah makan.

Untuk menghindari problem anak sulit makan, Mam dapat membentuk pola makan yang baik
sejak dini. Biasakan si kecil untuk mengonsumsi bermacam jenis makanan sehat, serta
lakukan kegiatan makan secara teratur. Jika anak terbiasa makan secara teratur, maka
tubuhnya akan otomatis mengatur kapan waktunya makan dan kapan tidak. Ia pun menjadi
sadar akan rasa lapar dan kenyang.

Untuk membantu proses pembentukan makan sehat si kecil, Mam dapat mengintip panduan
makan sehat untuk batita berikut ini:

Asupan bergizi untuk batita:

 Roti tawar gandum (boleh diolesi selai untuk anak usia di atas 2 tahun)
 Produk gandum lain seperti cracker, oatmeal, sereal, dan lainnya
 Ubi
 Susu pertumbuhan
 Produk olahan susu seperti keju, yoghurt, puding
 Aneka macam protein seperti telur, daging ayam atau sapi yang dipotong kecil, daging ikan
tanpa tulang, dan tahu
 Buah-buahan lembut seperti pisang, pepaya, alpukat
 Buah-buahan yang teksturnya agak keras, dipotong kecil, seperti apel dan pir
 Sayuran yang dikukus sampai lembut, seperti brokoli dan kembang kol
 Jus buah murni tanpa tambahan pemanis atau apa pun
 Madu

Tips memberi makan batita:

 Jika Mam atau Pap memiliki riwayat alergi terhadap makanan tertentu, bicarakan dengan
dokter anak mengenai kemungkinan si kecil juga menderita alergi. Contoh makanan yang
kadang memicu alergi pada balita adalah telur, ikan, dan kacang.
 Anak berusia di atas 2 tahun sedang berada pada tahap senang memilih sendiri makanan
yang ingin dimakan. Bila ia memaksa ingin memegang makanannya sendiri, biarkan saja ya,
Mam. Meski kelihatannya ia sedang “bermain” dengan makanannya, tetapi sesungguhnya ia
sedang belajar mengenal rasa, tekstur, dan jenis makanan. Tak usah terlalu risau meski
makanannya tumpah dan sekitarnya jadi berantakan.
 Ciptakan pola makan teratur yang juga sehat, yaitu 5 kali sehari (3 kali makan utama, 2 kali
selingan). Lebih baik lagi bila ditambah dengan minum susu pada pagi dan malam hari untuk
menunjang pertumbuhan dan kepintarannya. S-26 Procal GOLD adalah susu pertumbuhan
yang dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak usia 1-3 tahun. Dilengkapi dengan
new improved formula MULTIEXCEL™. Tersedia dalam dua varian rasa yang nikmat, yaitu
vanila dan madu.
Pola makan sehat dan teratur yang diterapkan sejak kecil tidak hanya bermanfaat dalam
menghindarkan Mam dari problem anak susah makan. Bila dijalani secara konsisten,
kebiasaan baik ini juga dapat membuat si kecil terbiasa dengan pola hidup sehat hingga kelak
ia dewasa.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah gizi disebabkan oleh banyak
faktor yang saling terkait baik
secara langsung maupun tidak langsung. Status gizi secara
langsung
dipengaruhi oleh penyakit infeksi dan
tidak cukupnya asupan gizi secara
kuantitas maupun kualitas, sedangkan
secara tidak langsung dipengaruhi
oleh jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan, pola asuh
anak yang
kurang memadai, kurang baiknya k
ondisi sanitasi lingkungan serta
rendahnya ketahanan pangan di tingkat
rumah tangga (Soekirman, 2004).
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan
tubuh
yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya,
sebab kesehatan
gigi dan mulut akan mempengaruhi kesehatan tubuh.
Peranan rongga mulut
sangat besar bagi kesehatan dan kese
jahteraan manusia. Secara umum,
seseorang dikatakan sehat bukan hanya karena tubuhnya
yang sehat
melainkan juga sehat rongga mulut dan giginya. Oleh karena
itu, kesehatan
gigi dan mulut sangat berperan dalam menunjang kesehatan
tubuh
seseorang (Riyanti, 2005).
Anak pra sekolah (balita) adalah masa dimana anak mulai
belajar
memahami suatu hal dan kegiatan atau
tindakan yang dilakukan. Tindakan
yang dilakukan salah satunya dimulai dari diri sendiri yaitu
dengan menjaga
seluruh organ tubuh, tanpa terkecuali bagian gigi dan mulut.
Gigi dan mulut
merupakan bagian yang penting dalam pr
oses pencernaan manusia. Tidak
dijaganya kebersihan dari gigi dan
mulut akan berdampak timbulnya
penyakit di bagian tersebut.
2
Salah satu masalah kesehatan gigi
yang terbesar yang dialami anak
balita adalah karies gigi. Karies gi
gi tidak hanya menjadi masalah di
Indonesia, akan tetapi juga menjadi masalah yang masih
belum terpecahkan
secara tuntas di dunia. Hal ini terkait dengan masih tingginya
prevalensi
karies gigi di berbagai negara. N
egara-negara seperti Eropa dan Amerika,
80-90% anak-anak di bawah umur 18 t
ahun menderita karies gigi (Sonya,
2010) sedangkan di Indonesia prevalensi ka
ries gigi adalah 90,05% (SKRT,
2004).
Anak usia balita rentan terhadap karies gigi dikarenakan
mereka
kurang bisa memelihara dan merawat dengan baik kesehatan
dan
kebersihan mulut dan gigi mereka. Selain itu, pola makan
yang tidak
seimbang juga dapat memicu terjadinya penyakit ini. Gigi
yang sudah
terkena menjadi cacat tidak dapat kem
bali seperti sediakala. Menurut data
Riskesdas 2013, Prevalensi nasional
masalah gigi dan mulut sebesar
25.9%, sebanyak 14 provinsi mempunyai
prevalensi masalah gigi dan mulut
diatas angka nasional (Depkes RI, 2014).
Prevalensi karies gigi teru
s-menerus meningkat dengan perubahan
kebiasaan diet masyarakat dan meningkat
nya konsumsi gula (Erlita, 2013).
Devi (2012) mengungkapkan bahwa mengkonsumsi gula
yang berlebihan
dapat mengakibatkan terjadinya karies
gigi, diabetes, obesitas, dan jantung
koroner. Insiden karies gigi meningk
at meskipun telah dilakukan upaya
terbaik oleh para profesional kese
hatan gigi untuk mengurangi kejadian
karies gigi (Gokhale,dkk, 2010). Penelitian yang dilakukan
oleh
(Thenisch,dkk
, 2006) menunjukkan bahwa bakteri
Streptococcus mutans
3
berperan penting dalam terjadinya kariogenesis pada anak
pra sekolah
sehingga mudah terkena karies.
Dampak dari ketidakseimbangan
antara asupan dan keluaran dari
zat gizi (
nutritional imbalance
) merupakan masalah yang dapat
mempengaruhi status gizi anak yait
u asupan melebihi keluaran atau
keluaran melebihi dari asupan, selain
itu juga diakibatkan karena kesalahan
dalam pemilihan bahan makanan untuk di
santap (Arisman, 2008).
Ketidakseimbangan dalam mengkonsumsi
makanan ini bisa disebabkan
karena penyakit yang diderita dari pr
oses pencernaannya salah satunya
dibagian gigi, yang biasa terjadi terutama pada anak adalah
karies gigi.
Penderita karies gigi ini biasanya akan merasa ngilu pada
lubangnya, jika agak keras ataupun terkena rangsangan
seperti es.
Rangsangan dapat dirasakan oleh dentin, karena didalamnya
terdapat
saluran-saluran kecil sekali yang tidak
dapat terlihat mata yang berisi urat
saraf dan pembuluh limfe (Machfoedz dan Zein, 2005),
dengan keadaan
seperti ini biasanya akan berdampak
kepada status gizi anak yang akan
menurun karena ketidakseimbangan kons
umsi dan keluaran zat gizinya.
Hasil penelitian (Ghofar, dkk, 2012) menyatakan bahwa ada
hubungan
antara karies gigi dan status gizi
pada siswa TK di daerah Jombang dan
hubungannya sangat kuat, dengan presentase anak berumur
5 tahun
dengan 18 responden sebesar 66,67% dan anak berumur 4
tahun dengan 9
responden sebesar 33,3%.
Karies gigi dapat mengenai siapa saja tanpa memandang
usia.
Karies akan menjadi sumber fokal in
feksi didalam mulut apabila dibiarkan
sehingga menyebabkan keluhan rasa sa
kit. Kondisi seperti ini akan
4
berpengaruh terhadap asupan gizi anak.
Anak yang menderita karies
umumnya mengalami kesulitan dan gangguan makan yang
diakibatkan
karena rasa sakit yang menyerang bagian gi
gi yang terkena karies selain itu
dapat menghambat pertumbuhan yang
tentunya akan berdampak terhadap
status gizinya dan berimplikasi kepada k
ualitas sumber daya (Siagian,2008).
Menurut hasil penelitian Junaidi (2
007) menyebutkan bahwa anak-anak
dengan karies berat mempunyai asupan energi yang lebih
rendah di
Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.
Prevalensi atau kasus terjadinya karies gigi diantara bayi dan
anak-
anak kecil prasekolah telah diteliti oleh banyak ahli dan
ternyata paling
sedikit 25 % terdapat pada anak-anak yang berusia 2 tahun
dan hampir
sebanyak duapertiga dari seluruh jumlah anak-anak berusia 3
tahun
menderita karies gigi. Kondisi seperti
ini di Indonesia berbeda antara yang
berada di desa dan di kota. Konsumsi gula dan makanan
bergula di kota
diperkirakan cukup tinggi. Hal ini secara tidak langsung
terlihat dari banyak
kasus karies gigi pada anak-anak seko
lah di kota. Konsumsi gula dalam
bentuk permen dan makanan bergula lainnya di desa masih
tergolong
rendah, sehingga masih banyak anak-
anak desa mempunyai gigi yang
indah-indah karena konsumsi gula y
ang rendah. Hidayanti (2005) dalam
penelitiannya menunjukkan bahwa
terdapat hubungan antara konsumsi
makanan kariogenik dengan keparahan karies gigi pada
anak, sedangkan
dalam penelitian Sumiarti (2007) menunjukkan bahwa ada
hubungan antara
konsumsi makanan kariogenik dengan karies gigi.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Sukoharjo yang
membawahi 12 puskesmas pada tahun 2013 angka
prevalensi karies gigi
5
pada balita 1-4 tahun adalah sebanyak 306 kasus. Prevalensi
kejadian
karies gigi terbesar berada di
Puskesmas Polokarto yang mencapai 87
kasus yaitu sebesar 28,4%. Jumlah ini tentunya akan terus
meningkat
seiring dengan bertambahnya usia anak apabila petugas
kesehatan jarang
memberikan penyuluhan kesehatan gigi
khususnya tentang karies gigi
(Dinkes Kabupaten Sukoharjo, 2013).
Berdasarkan hasil survey
pendahuluan yang dilakukan pada 4
posyandu di Desa Mranggen Kecamatan Polokato Sukoharjo
didapatkan
hasil dari 133 balita yang mengalami
karies gigi sebesar 103 balita,
sehingga didapatkan prevalensi angka ke
jadian karies gigi di Desa
Mranggen sebesar 76,69%, sedangkan untuk data status gizi
menurut
BB/TB sebesar 6,8 % mengalami status
gizi dengan kategori kurus. Angka
karies tersebut masih dikatakan cukup tinggi, Oleh sebab itu
peneliti tertarik
untuk meneliti anak balita di wilayah Desa Mranggen tersebut
untuk
dijadikan sampel penelitian.
B. Rumusan Masalah
Rumusan Masalah ini adalah ingin mengetahui :
1. Apakah ada hubungan konsumsi makanan bergula dengan
kejadian
karies gigi anak balita di Desa Mranggen Sukoharjo ?
2. Apakah ada hubungan pemeliharaan kesehatan gigi
dengan kejadian
karies gigi anak balita di Desa Mranggen Sukoharjo ?
3. Apakah ada hubungan karies gigi dengan st
atus gizi anak balita di Desa
Mranggen Sukoharjo ?
6
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan konsumsi makanan bergula dan
pemeliharaan kesehatan gigi dengan kejadi
an karies gigi dan status gizi
anak balita di Desa Mranggen Sukoharjo.
2. Tujuan Khusus
a) Mendeskripsikan konsumsi
makanan bergula,pemeliharaan
kesehatan gigi, karies gigi dan st
atus gizi anak balita di Desa
Mranggen Sukoharjo.
b) Menganalisis hubungan konsumsi makanan bergula
dengan
kejadian karies gigi di Desa Mranggen Sukoharjo.
c) Menganalisis hubungan pemeliharaan kesehatan gigi
dengan
kejadian karies gigi anak balita di Desa Mranggen Sukoharjo.
d) Menganalisis hubungan karies gigi
dengan status gizi anak balita di
Desa Mranggen Sukoharjo.
e) Menginternalisasi nilai-ni
lai keislaman hubungannya dengan
konsumsi makanan bergula, kari
es gigi, pemeliharaan kesehatan
gigi serta status gizi.
7
D. Manfaat Penelitian
Manfaat Penelitian ini adalah :
1. Bagi Dinas Kesehatan Sukoharjo
Memberikan gambaran secara umum tentang hubungan
kebiasaan konsumsi makanan bergula
dan pemeliharaan kesehatan gigi
dengan kejadian karies gigi dan status
gizi anak balita usia 24-59 bulan
di Desa Mranggen Sukoharjo, sehi
ngga Dinas Kesehatan khususnya
pada daerah yang memiliki prevalensi ke
jadian karies gigi yang tinggi
dapat memberikan kebijakan dan pelaksanaan kebijakan
dapat melalui
penyuluhan kesehatan, pencegahan, penanganan dan
perawatan
kejadian karies gigi di daerahnya.
2. Bagi Orang Tua Anak
Memberikan informasi kepada masyarakat terutama
keluarga,
sehingga masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan
tentang
pencegahan maupun penanganan karies gigi
dengan mengikuti program
yang diselenggarakan oleh instansi pelayanan kesehatan.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk acuan
peneliti selanjutnya untuk lebih mem
perdalam kembali masalah karies
gigi dan faktor penghambat terjadinya karies gigi dan
pengaruhnya
dengan status gizi, serta menjadi bahan koreksi dalam
penyusunan
karya ilmiah yang lebih lengkap dan lebih baik.
8
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang Lingkup materi pada penelitian ini dibatasi pada
pembahasan
mengenai hubungan kebiasaan konsumsi makanan bergula
dan
pemeliharaan kesehatan gigi dengan kejadi
an karies gigi dan status gizi di
Desa Mranggen Sukoharjo.