Anda di halaman 1dari 23

PENDAHULUAN

Penyakit diare adalah salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas

pada anak di seluruh dunia, yang menyebabkan 1 miliar kejadian sakit dan 3-5

juta kematian setiap tahunnya. Di AS, setiap tahunnya kejadian diare mencapai

20-35 juta. Di Indonesia berdasarkan hasil Rikesdas 2007 diperoleh bahwa diare

masih merupakan penyebab kematian bayi yang terbanyak yaitu 42% dibanding

pneumonia 24%, untuk golongan umur 1-4 tahun penyebab kematian karena diare

25,2% dibandingkan pneumonia 15,5%.(1) (2)


Infeksi saluran pencernaan disebabkan oleh berbagai enteropatogen, termasuk

bakteri, virus dan parasit. Dua tipe dasar diare infeksi akut adalah radang dan

nonradang. Pemeriksaan laboratorium untuk mengenali pathogen diare sering

tidak diperlukan karena kebanyakan episode sembuh sendiri. Semua penderita

dengan diare memerlukan terapi cairan dan elektrolit, sedikit memerlukan

dukungan nonspesifik lain dan beberapa mendapat manfaat dari terapi

antimikroba. (1)

Komplikasi tersering yang dapat timbul dari gastroenteritis adalah terjadinya

dehidrasi yang jika tidak ditangani dengan cepat dapat mengakibatkan keadaan

yang lebih buruk bahkan kematian. Komplikasi yang lain adalah adanya asidosis

metabolik yang dapat terjadi akibat peningkatan kehilangan basa. (3)

Berikut ini akan dibahas refleksi kasus tentang diare dehidrasi ringan sedang

pada anak usia 1 tahun 10 bulan.

KASUS

1
IDENTITAS
1. Identitas penderita
Nama penderita : An. AZ
Jenis kelamin : Perempuan
Tanggal Lahir / Umur : 18 Maret 2013 / 1 Tahun 10 Bulan
2. Identitas orang tua/wali
Nama : Ny. R
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Pantoloan

3. Tanggal/jam masuk : 01 Februari 2015 / 11.00

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Muntah-muntah
Riwayat penyakit sekarang:

Pasien perempuan masuk RSUD Undata Palu dengan keluhan muntah-

muntah sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Frekuensi muntah 4-5 kali

sehari. Muntah berisi minuman/makanan yang dikonsumsi. Muntah disertai BAB

cair yang dialami sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, frekuensi 3-4 kali

sehari, volume sedang, warna kuning, bau biasa (tidak khas), lendir tidak ada, dan

darah tidak ada. Sakit perut (+). Minum seperti orang kehausan (+). Pasien juga

mengeluh demam sejak 3 hari yang lalu, demam naik turun, turun dengan obat

penurun panas, tidak ada sakit kepala. Selain keluhan diatas juga disertai dengan

batuk (+), pilek (+). Sesak napas tidak ada. BAK lancar, tidak nyeri saat buang air

kecil.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Di keluarga tidak ada yang mengalami keluhan yang sama.

2
Riwayat Sosioekonomi:
Menengah.

Kemampuan dan Kepandaian Anak:


Pasien mulai membalikkan badannya sejak umur 9 bulan, duduk saat berusia

12 bulan, berdiri saat berusia 1 tahun 2 bulan, berjalan saat berusia 1 tahun 4

bulan, dan mulai berbicara sejak berusia 1 tahun.

Anamnesis Makanan:
ASI eksklusif diberikan selama 2 bulan, dilanjutkan dengan susu formula

sampai sekarang. Makan bubur lumat mulai diberikan usia 4 bulan. Makanan

keluarga mulai diberikan sejak usia 1 tahun.

Riwayat kehamilan dan persalinan:


Riwayat Antenatal : Kunjungan ANC rutin setiap bulan di

puskesmas.

Riwayat Natal : Ibu melahirkan di klinik bersalin Mamboro

secara spontan ditolong bidan, dengan berat badan lahir 2.700 gram.

Riwayat Imunisasi :
Imunisasi dasar anak lengkap, baik Hepatitis B, polio, BCG, DPT, dan terakhir

imunisasi campak.

PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : Sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
2. Pengukuran
Tanda vital : Nadi : 112 kali/menit, reguler, kuat angkat
Suhu : 36,9° C
Respirasi : 24 kali/menit
Berat badan : 9 kg
Tinggi badan : 80 cm
Status gizi : Z score (-1) s/d (-2) : Gizi Baik
3. Kulit : Warna kulit kuning langsat, turgor kulit kembali lambat

Kepala: Bentuk : Normocephal


Rambut : Warna hitam, tidak mudah dicabut

3
Ubun-ubun : sudah menyatu dan datar
Mata :Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, mata cekung

(+/+)
Telinga : Otorrhea (-)
Hidung : Rhinorrhea (+)
Mulut : Mukosa mulut kering
Tonsil : T1-T1 tidak hiperemis

4. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, tidak ada

pembesaran kelenjar tiroid.


5. Toraks :
a. Dinding dada/paru :

Inspeksi : ekspansi paru simetris bilateral, retraksi (-)


Palpasi : vokal fremitus: simetris
Perkusi : Sonor kiri : kanan
Auskultasi : Suara Napas Dasar : Bronchovesikuler +/+
Suara Napas Tambahan : Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
b. Jantung :
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V linea midclavicularis

sinistra
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi : Suara dasar : S1 dan S2 murni, regular
Bising : tidak ada

6. Abdomen :
Inspeksi : datar
Auskultasi : bising usus (+) kesan meningkat
Perkusi : timpani
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, hepar dan lien tidak teraba
7. Ekstremitas : akral hangat, edema tidak ada.
8. Genitalia : dalam batas normal
Skor dehidrasi WHO (1995):
 Keadaan Umum : baik, sadar
 Mata : cekung
 Air mata : ada
 Mulut/bibir : kering
 Rasa haus : haus, ingin minum banyak*
 Turgor : kembali lambat*
Kesimpulan : Dehidrasi ringan-sedang

4
Hasil laboratorium:
RBC : 4,58 x 106/mm3
Hb : 12,7 g/dL
HCT : 36,8 %
PLT : 332 x 103/mm3
WBC : 9,0 x 103/mm3

RESUME

Pasien perempuan usia 1 tahun 10 bulan masuk dengan keluhan muntah-

muntah sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Frekuensi muntah 4-5 kali

sehari. Muntah berisi minuman/makanan yang dikonsumsi. Muntah disertai BAB

cair yang dialami sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, frekuensi 3-4 kali

sehari, volume sedang, warna kuning, bau biasa (tidak khas). Sakit perut (+).

Minum seperti orang kehausan (+). Pasien juga mengeluh demam sejak 3 hari

yang lalu, demam naik turun, turun dengan obat penurun panas. Selain keluhan

diatas juga disertai dengan batuk (+), pilek (+).

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum compos mentis, tampak

sakit sedang, gizi baik. Pemeriksaan tanda vital didapatkan Nadi 112x/menit,

respirasi 24x/menit, suhu 36,9o C. Pada pemeriksaan kepala didapatkan mata

cekung, rhinorrhea (+), mukosa mulut kering. Pada pemeriksaan abdomen

didapatkan peristaltik (+) kesan meningkat. Turgor kulit kembali lambat.

Skor dehidrasi WHO (1995):


 Keadaan Umum : baik, sadar
 Mata : cekung
 Air mata : ada
 Mulut/bibir : kering
 Rasa haus : haus, ingin minum banyak*
 Turgor : kembali lambat*

Kesimpulan : Dehidrasi ringan-sedang

5
DIAGNOSA
Diare dehidrasi ringan-sedang

TERAPI

- IVFD RL 16 tpm

- Inj. Ceftriaxone 2 x 250 mg

- Oralit 675 ml

- Zinc 1 x 20 mg

ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

- Pemeriksaan mikroskopik tinja

- Elektrolit serum

FOLLOW UP
Tanggal 2/2/2015
S : Muntah tidak ada, BAB cair 3 kali, warna kuning, lendir tidak ada, darah tidak

ada, bau biasa, panas (-)


O: Tanda vital : Nadi : 110 kali/menit, reguler, kuat angkat

Suhu : 36,5° C
Respirasi : 24 kali/menit
Skor dehidrasi WHO (1995):
 Keadaan Umum : baik, sadar
 Mata : normal
 Air mata : ada

6
 Mulut/bibir : kering
 Rasa haus : haus, ingin minum banyak*
 Turgor : kembali cepat
Kesimpulan : Dehidrasi ringan-sedang
A: Diare Dehidrasi Ringan Sedang
P: Medikamentosa:

- IVFD RL 16 tpm

- Inj. Ceftriaxone 2 x 250 mg

- Oralit 675 ml

- Zinc 1 x 20 mg

Tanggal 3/2/2015 :
S : Muntah 1 kali, BAB cair (-)
O: Tanda vital : Nadi : 92 kali/menit, reguler, kuat angkat
Suhu : 36,8° C
Respirasi : 28 kali/menit
Skor dehidrasi WHO (1995):
 Keadaan Umum : baik, sadar
 Mata : normal
 Air mata : ada
 Mulut/bibir : basah
 Rasa haus : minum biasa tidak haus
 Turgor : kembali cepat
Kesimpulan : tanpa dehidrasi
A: Diare tanpa dehidrasi

P: Medikamentosa:

- IVFD RL 16 tpm

- Inj. Ceftriaxone 2 x 250 mg

- Oralit 675 ml

- Zinc 1 x 20 mg

- Domperidone sirup 3 x ¾ cth

7
Pasien pulang atas permintaan orang tua.

DISKUSI

Diare akut adalah buang air besar pada bayi dan anak lebih dari 3 kali perhari,

disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan

darah yang berlangsung kurang dari satu minggu. Pada bayi yang minum ASI

sering frekuensi buang air besarnya lebih dari 3-4 kali per hari, keadaan ini tidak

dapat disebut diare, tetapi masih bersifat normal. Selama berat badan meningkat

normal, hal tersebut tidak tergolong diare, tetapi merupakan intoleransi laktosa

sementara, akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna. Untuk bayi

yang minum ASI secara eksklusif definisi diare yang praktis adalah meningkatnya

frekuensi buang air besar atau konsistensinya menjadi cair yang menurut ibunya

abnormal atau tidak seperti biasanya. (3)


Pasien pada kasus ini adalah seorang anak perempuan berusia 1 tahun 10

bulan. Diagnosis pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan

fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan informasi bahwa

pasien sudah mengalami muntah sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit.

Frekuensi muntah 4-5 kali sehari. Muntah berisi minuman/makanan yang

dikonsumsi. Muntah disertai BAB cair yang dialami sejak 3 hari sebelum masuk

rumah sakit, frekuensi 3-4 kali sehari, volume sedang, warna kuning, bau biasa

(tidak khas). Sakit perut (+). Minum seperti orang kehausan (+). Pasien juga

mengeluh demam sejak 3 hari yang lalu, demam naik turun, turun dengan obat

penurun panas. Selain keluhan diatas juga disertai dengan batuk (+), pilek (+).

8
Faktor resiko terjadinya diare akut pada anak antara lain: tidak memberikan

ASI secara penuh untuk waktu 4-6 bulan pertama kehidupan bayi, tidak

memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja, kebersihan

lingkungan dan pribadi yang buruk, penyiapan dan penyimpanan makanan yang

tidak higienis. Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama

kehidupan. Untuk kelompok umur 6-11 bulan lebih banyak terjadi diare terutama

pada saat diberikan makanan pendamping ASI yang mungkin terkontaminasi oleh

mikroorganisme, kontak langsung pada mikroorganisme pada saat bayi belajar

merangkak. serta pada umur tersebut telah terjadi penurunan kadar antibodi ibu,

dan kurangnya kekebalan aktif bayi.(3) Pada pasien ini, pemberian ASI eksklusif

hanya selama 2 bulan dapat berpengaruh terhadap kejadian diare yang terjadi.

Mekanisme dasar yang dapat menyebabkan timbulnya diare pada anak adalah:
(2)(3)

1. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan

menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga

terjadi pergeseran air dan elektrolik ke dalam rongga usus.


2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin dari virus atau bakteri) pada

dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolik ke dalam

rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi

rongga usus.

3. Gangguan motilitas usus

9
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk

menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus

menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan.


4. Malabsorpsi umum
Kerusakan sel (yang secara normal akan menyerap Na dan air) dapat

disebabkan virus atau kuman, seperti Salmonella, Shigella atau

Campylobacter. Sel tersebut juga dapat rusak karena toksin atau obat-obat

tertentu. Gambaran karakteristik penyakit yang menyebabkan malabsorpsi

usus halus adalah atropi vili. Lebih lanjut, mikroorganisme tertentu

menyebabkan malabsorpsi nutrien dengan merubah faal membran brush

border tanpa merusak susunan anatomi mukosa.

Pada kasus ini, kemungkinan diare terjadi akibat gangguan sekresi dan

malabsorpsi umum, terutama berkaitan dengan infeksi. Hal ini didukung dengan

adanya demam yang muncul setelah pasien mengalami muntah.

Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya adalah golongan virus,

bakteri dan parasit. Dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi adalah non

inflammatory dan inflammatory. Enteropatogen menimbulkan non inflammatory

diare melalui produksi enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan vili oleh

virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan dan/atau translokasi dari bakteri.

Sebaliknya inflammatory diare biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi

usus secara langsung atau memproduksi sitotoksin.(2)


Penyebab terbanyak diare akut pada anak-anak dinegara berkembang adalah Rotavirus, Escherichia coli enterotoksigenik, Shigella,

Vibrio cholera, Sallmonella, dan E. coli enteropatogenik. Setiap infeksi bakteri atau virus memiliki gambaran khas masing-masing, meskipun

10
pemeriksaan kultur merupakan pemeriksaan pasti untuk mengetahui penyebab dari diare. Tabel dibawah ini merupakan ciri-ciri dari beberapa

agen infeksius penyebab diare.(2)(3)

Rotaviru Salmonell ETEC EIEC Shigella Vibrio


s a disentri cholera

Mual & Permulaa + - - + jarang


muntah n

Demam + + - + + -

Sakit Tenesmu Kolik (+) Kadang Tenesmu Tenesmu Kolik


s -kadang s kolik s kolik,
pusing

Volume Sedang Menurun Banyak Menurun Menurun Sangat


banyak

Frekuensi >10x Sering Sering Sering Sering Terus


sekali menerus

Konsisten Berair Berair Berair Kental Kental Lendir


si

Mukus Jarang + + + Sering Flacks

Darah - Kadang- - + Sering -


kadang

Bau Langu Telur Tinja Tidak Tidak Anyir/ami


busuk spesifik berbau s khas

Warna Hijau Hijau Tidak Hijau Hijau Putih


kuning berwarn darah darah keruh
a (seperti
air cucian
beras)

Leukosit - + - + + +

11
Pada kasus ini, kemungkinan infeksi yang terjadi adalah akibat rotavirus. Hal

ini dengan mengamati anamnesis pasien, dimana pasien mengalami muntah,

demam, tenesmus, konsistensi feses cair, warna feses kuning, tidak ada darah dan

tidak ada lendir. Sedangkan pada pemeriksaan laboratorium, tidak didapatkan

peningkatan leukosit.

Patogenesis terjadinya diare yang disebabkan virus yaitu virus yang

menyebabkan diare pada manusia secara selektif menginfeksi lapisan epithelium

di usus halus dan menyerang/ menghancurkan sel-sel ujung-ujung villus pada usus

halus. Hal ini menyebabkan absorbsi usus halus terganggu. Sel-sel epitel usus

halus yang rusak diganti oleh enterosit yang baru, berbentuk kuboid yang belum

matang sehingga fungsinya belum baik. Villus mengalami atrofi dan tidak dapat

mengabsorbsi cairan dan makanan dengan baik. Selanjutnya, cairan dan makanan

yang tidak terserap/tercerna akan meningkatkan tekanan koloid osmotik usus dan

terjadi hiperperistaltik usus sehingga cairan beserta makanan yang tidak terserap

terdorong keluar usus melalui anus, menimbulkan diare osmotik dari penyerapan

air dan nutrien yang tidak sempurna.(2)

Pada usus halus, enterosit villus sebelah atas adalah sel-sel yang

terdiferensiasi, yang mempunyai fungsi pencernaan seperti hidrolisis disakharida

dan fungsi penyerapan seperti transport air dan elektrolit melalui pengangkut

bersama (kotransporter) glukosa dan asam amino. Enterosit kripta merupakan sel

yang tidak terdiferensiasi, yang tidak mempunyai enzim hidrofilik tepi bersilia

dan merupakan pensekresi (sekretor) air dan elektrolit. Dengan demikian infeksi

virus selektif sel-sel ujung villus usus menyebabkan (1) ketidakseimbangan rasio

12
penyerapan cairan usus terhadap sekresi, dan (2) malabsorbsi karbohidrat

kompleks, terutama laktosa.(2)

Penderita dengan diare mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion

natrium, klorida, dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila

ada muntah dan kehilangan air juga meningkat bila ada panas. Hal ini dapat

menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik, dan hipokalemia. Menurut derajat

dehidrasinya bisa tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan, dehidrasi sedang atau

dehidrasi berat.(2)

Bila terdapat panas dimungkinkan karena proses peradangan atau akibat

dehidrasi. Panas badan umum terjadi pada penderita dengan inflammatory diare.

Nyeri perut yang lebih hebat dan tenesmus yang terjadi pada perut bagian bawah

serta rektum menunjukkan terkenanya usus besar. Mual dan muntah adalah

simptom yang non spesifik akan tetapi muntah mungkin disebabkan oleh karena

organisme yang menginfeksi saluran cerna bagian atas seperti: enterik virus,

bakteri yang memproduksi enterotoksin. Muntah juga sering terjadi pada non

inflammatory diare. Biasanya penderita tidak panas atau hanya subfebris, nyeri

perut periumbilikal tidak berat, watery diare, menunjukkan bahwa saluran cerna

bagian atas yang terkena.(2)

Penentuan derajat dehidrasi merupakan hal penting terkait penatalaksanaan

yang akan dilakukan. Kriteria WHO (1995) dapat digunakan untuk menilai derajat

dehidrasi pasien dengan diare.

Penilaian A B C

13
Lihat :

Keadaan umum Baik, sadar *gelisah, rewel *lesu, lunglai atau


tidak sadar

Sangat cekung
Mata Normal Cekung
Kering
Air mata Ada Tidak ada
Sangat kering
Mulut dan lidah Basah Kering
*malas minum atau
Rasa haus Minum biasa *haus, ingin tidak bisa minum
tidak haus minum banyak

Periksa : turgor Kembali cepat *kembali lambat *kembali sangat


kulit lambat

Hasil pemeriksaan Tanpa dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi berat


ringan/sedang bila
ada 1 tanda *
ditambah 1 atau Bila ada 1 tanda *
lebih tanda lain ditambah 1 atau
lebih tanda lain

Terapi : Rencana terapi A Rencana terapi B Rencana terapi C

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa pasien ini mengalami dehidrasi ringan-

sedang. Dan pada follow up berikutnya, pasien sudah tidak mengalami dehidrasi.

Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut pada umumnya tidak

diperlukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan misalnya penyebab

dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada

penderita dengan dehidrasi berat. Contoh:

Darah: darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa darah, kultur

dan tes kepekaan terhadap antibiotika.

Urine: urine lengkap, kultur, dan test kepekaan terhadap antibiotika.(2)

14
Anjuran pemeriksaan pada kasus ini salah satunya ialah sebaiknya melakukan

pemeriksaan serum elektrolit. Sebenarnya pemeriksaan serum elektrolit

diindikasikan untuk keadaan dehidrasi berat. Hal ini disebabkan karena pada

kondisi dehidrasi berat dipastikan terjadi komplikasi berupa ketidakseimbangan

elektrolit yang berdampak terutama pada sistem syaraf pusat berupa kejang,

edema otak, kelemahan otot, ileus paralitik, gangguan fungsi ginjal, dan aritmia

jantung.(3) Pasien pada kasus ini belum mengalami dehidrasi berat dan tidak

diindikasikan untuk pemeriksaan elektrolit. Namun pemeriksaan ini dapat

dilakukan untuk mencegah kemungkinan komplikasi akibat dehidrasi.

Pemeriksaan makroskopik tinja perlu diperlukan pada semua penderita

dengan diare meskipun pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan. Tinja yang

watery tanpa mukus atau darah biasanya disebabkan oleh enterotoksin virus,

protozoa atau disebabkan oleh infeksi diluar saluran gastronintestinal. Tinja yang

mengandung darah atau mukus bisa disebabkan infeksi bakteri yang

menghasilkan sitotoksin, bakteri enteroinvasif yang menyebabkan peradangan

mukosa atau parasit usus seperti: E. Histolytica, E. Coli, dan T. Trichiura.(2)

Pemeriksaan mikroskopik tinja untuk mencari adanya lekosit dapat

memberikan informasi tentang penyebab diare, letak anatomis serta adanya proses

peradangan mukosa. Lekosit dalam tinja diproduski sebagai respon terhadap

bakteri yang menyerang mukosa kolon. Lekosit yang positif pada pemeriksaan

tinja menunjukkan adanya kuman invasif atau kuman yang memproduksi

sitotoksin seperti Shigella, Salmonella, C. Jejuni, EIEC, C. Difficile, Y.

Enterocolitica, V. Parahaemolyticus, dan kemungkinan Aeromonas atau P.

15
Shigelloides. Lekosit yang ditemukan pada umumnya adalah lekosit PMN. Parasit

yang menyebabkan diare pada umumnya tidak memproduksi lekosit dalam jumlah

banyak. Kultur tinja harus segera dilakukan bila terdapat diare dengan tinja

berdarah, bila terdapat lekosit pada tinja, KLB diare dan pada penderita

immunocompromised.(2)

Pada kasus ini didapatkan tinja yang watery, tanpa mukus ataupun darah yang

disebabkan oleh virus sehingga tidak perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopik

tinja ataupun kultur tinja karena tidak ada indikasi untuk dilakukannya

pemeriksaan tersebut.

Departemen kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi

semua kasus diare yang diderita anak balita baik dirawat dirumah maupun sedang

dirawat dirumah sakit, yaitu :

1. Rehidrasi dengan menggunakan oralit baru


2. Zink diberikan selama 10 hari berturut-turut
3. ASI dan makanan tetap diteruskan
4. Antibiotik selektif
5. Nasihat kepada orang tua.

Pada kasus ini, rencana penanganan yang dianjurkan adalah rencana terapi

B. Hal ini dilakukan karena pada kasus diare jumlah cairan yang dibutuhkan oleh

tubuh banyak yang keluar. Oleh karena itu prioritas manajemen diare akut dengan

dehidrasi ringan sedang adalah menggantikan jumlah kebutuhan cairan yang

diperlukan tubuh.(2)(4)(6)

1. Rehidrasi

16
Berikan oralit sesuai yang dianjurkan selama periode 3 jam. Jumlah oralit

yang diperlukan = berat badan (dalam kg) x 75 ml. Berikan tablet zinc selama

10 hari.

Setelah 3 jam:

a. Ulangi penilaian dan klasifikasikan kembali derajat dehidrasi


b. Pilih rencana terapi yang sesuai untuk melanjutkan pengobatan.
c. Melanjutkan memberi makan anak

Jika ibu memaksa pulang sebelum pengobatan selesai:

a. Mengajarkan ibu cara menyiapkan cairan oralit di rumah.


b. Mengajarkan ibu berapa banyak oralit yang harus diberikan di rumah

untuk menyelesaikan 3 jam pengobatan.


c. Beri oralit yang cukup untuk rehidrasi dengan menambahkan 6 bungkus

lagi sesuai yang di anjurkan dalam rencana terapi A.

d. Menjelaskan aturan perawatan diare di rumah:

1) Beri cairan tambahan

2) Lanjutkan pemberian tablet zinc sampai 10 hari

3) Lanjutkan pemberian makan

Pada kasus ini diberikan 9 x 75 ml = 675 ml/ 3 jam. Jika anak masih

menginginkan, bisa diberikan lebih banyak. Cara memberikan larutan oralit yaitu

dengan meminumkan sedikit-sedikit tapi sering dari cangkir/ mangkuk/ gelas. Jika

anak muntah, tunggu 10 menit kemudian berikan lagi lebih lambat serta lanjutkan

pemberian makanan. Pasien pada kasus ini mengalami muntah sehingga

pemberiannya harus secara perlahan-lahan.

2. Tablet zinc selama 10 hari dengan dosis :

a. Anak < 6 bulan = 10 mg (1/2 tablet) per hari

17
b. Anak > 6 bulan = 20 mg (1 tablet) per hari
Zinc mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat mengembalikan

nafsu makan anak. Pemberian zinc yang dilakukan di awal masa diare selama

10 hari ke depan secara signifikan menurunkan morbiditas dan mortalitas

pasien. Zinc termasuk mikronutrien yang berperan dalam sistem kekebalan

tubuh dan merupakan mediator potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi.

Penggunaan zinc dalam pengobatan diare didasarkan pada efeknya terhadap

fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap

proses perbaikan epitel saluran cerna selama diare. Pemberian zinc juga dapat

meningkatkan absorpsi air dan elektrolit oleh usus halus, meningkatkan

kecepatan regenerasi epitel usus, meningkatkan jumlah brush border apical,

dan meningkatkan respon imun yang mempercepat pembersihan patogen dari

usus. Pemberian zinc dapat menurunkan frekuensi dan volume buang air besar

sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak.

3. ASI atau makanan diteruskan

ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang

sama pada waktu anak sehat untuk mencegah kehilangan berat badan serta

pengganti nutrisi yang hilang pada saat terjadi diare. Pada pasien ini,

pemberian makanan terus dilanjutkan terutama untuk mengganti cairan ataupun

elektrolit yang banyak keluar.


4. Antibiotik selektif

Antibiotik pada umumnya tidak diperlukan pada semua diare akut oleh

karena sebagian besar diare infeksi adalah rotavirus yang sifatnya self-limited

dan tidak dapat dibunuh dengan antibiotika. Hanya sebagian kecil (10-20 %)

18
yang disebabkan oleh bakteri patogen seperti Shigella, Salmonella, Enterotoxin

E. Coli, Enteroinvasif E. Coli dan sebagainya. Antibiotik diberikan jika ada

indikasi misalnya diare berdarah atau kolera. Pemberian antibiotik yang tidak

rasional justru akan memperpanjang lamanya diare karena akan mengganggu

keseimbangan flora usus dan Clostridium difficile yang akan tumbuh dan

menyebabkan diare sulit disembuhkan. Selain itu, pemberian antibiotik yang

tidak rasional akan mempercepat resistensi kuman terhadap antibiotik, serta

menambah biaya pengobatan yang tidak perlu. Resistensi terhadap antibiotik

terjadi melalui mekanisme berikut: inaktivasi obat melalui degradasi enzimatik

oleh bakteri, perubahan struktur bakteri yang menjadi target antibiotik dan

perubahan permeabilitas membrane terhadap antibiotik.

Pada pasien ini, antibiotik diberikan. Hal ini karena pasien mengalami batuk

dan pilek, sehingga diberikan antibiotik gologan β-laktam, sefalosporin

generasi III yang kerjanya menghambat sintesis dinding sel bakteri, yaitu

seftriaxone. Obat generasi III memiliki spektrum yang lebih luas kepada

bakteri gram negatif.

5. Nasehat kepada orangtua


Nasehat yang dapat diberikan apabila penderita sudah pulang ke rumah atau

untuk penderita rawat jalan adalah segera datang kembali kerumah sakit jika

timbul demam, tinja berdarah, berulang, makan atau minum sedikit, sangat

haus, diare semakin sering, atau belum membaik dalam 3 hari. Selain itu ibu

disarankan untuk selalu menjaga kebersihan bayi dan mencuci tangan dengan

baik dan benar sebelum dan sesudah memberi makan / minum bayi. Hal ini

bertujuan agar tercipta higienitas ibu dan bayi yang baik. Pada kasus ini

19
nasehat telah diberitahukan dan mendapat respon yang baik dari orangtua

pasien.
Komplikasi yang dapat terjadi pada diare akut adalah gangguan elektrolit

seperti: hipernatremia, hiponatremia, hiperkalemia, hipokalemia, dan kejang.

Adanya karbonat yang hilang menyebabkan pernapasan kussmaull. Kehilangan

cairan dalam jumlah yang besar dapat berujung pada kematian.(5) Prognosis diare

dapat ditentukan oleh derajat dehidrasi, sehingga penatalaksanaannya sesuai

dengan ketepatan cara pemberian rehidrasi. Apabila penanganan yang diberikan

tepat dan sesegera mungkin, maka dapat mencegah komplikasi dari diare tersebut.
Pada pasien ini, prognosisnya adalah bonam, karena derajat dehidrasinya

masih tergolong ringan sedang dan saat pulang, pasien sudah tidak mengalami

dehidrasi.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Boyle, JT., Diare Kronis, In: Nelson, WE (Ed.):

Nelson Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Volume 3, Jakarta: EGC, 2000: 1354-

64.

2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Buku Ajar

Gastroenterologi-Hepatologi Edisi pertama, Jakarta : Badan Penerbit IDAI,

2012.
3. FKUI. Gastroenterologi Anak Praktis. Jakarta:

Balai Penerbit FKUI, 1994.


4. Departemen Kesehatan RI. Manajemen Terpadu

Balita Sakit (MTBS). Jakarta, 2008.


5. Departemen Kesehatan RI, Buku Ajar Diare,

Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 1999.


6. Katzung, B.G. Farmakologi Dasar & Klinik

edisi 10. Jakarta : EGC, 2007.

21
TUTORIAL Oktober 2015

“DIARE DEHIDRASI RINGAN SEDANG”

Nama : Indah yuliarni

No. Stambuk : N 111 14 073

Pembimbing : dr. Amsyar Praja Sp.A

22
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA

PALU

2015

23