Anda di halaman 1dari 181

PROGRAM INOVASI DESA

Modul Pelatihan
Tenaga Ahli Pemberdayaan
Masyarakat
Program Inovasi Desa

Lembar Informasi

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 139


PROGRAM INOVASI DESA

140| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 1.1.1

Arah Kebijakan Pembangunan dan Pemberdayaan


Masyarakat Desa Arah Kebijakan Pembangunan dan
Pemberdayaan Masyarakat Desa

A. Pendahuluan
Pembangunan nasional pada dasarnya adalah upaya pemenuhan keadilan bagi rakyat
Indonesia. Pembangnan dilaksanakan berdasar rencana besar bangsa Indonesia melalui
perencanaan Nasional, Provinsi, Kabupaten dan Desa. Dalam melakukan perencanaan
pembangunan dalam UU No 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional (SPPN) secara legal menjamin aspirasi masyarakat dalam pembangunan dalam
kesatuannya dengan kepentingan politis (keputusan pembangunan yang ditetapkan
oleh legislatif) maupun kepentingan teknokratis (perencanaan pembangunan yang
dirumuskan oleh birokrasi). Aspirasi dan kepentingan masyarakat ini dirumuskan melalui
proses perencanaan partisipatif yang secara legal menjamin kedaulatan rakyat dalam
berbagai program/proyek pembangunan desa.Perencanaan partisipatif yang
terpadukan dengan perencanaan teknokratis dan politis menjadi wujud nyata kerjasama
pembangunan antara masyarakat dan pemerintah.
Untuk pencapain tujuan pembangunan nasional diperlukan arah dan strategi yang
terumuskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025
dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dalam setiap periode
5 tahunan (Periode 2005-2019, 2010-2014 dan sekarang memasuki periode ketiga 2015-
2019). Dari setiap periode RPJM kemudian dalam setiap tahunnya dirumuskan dalam
rencana kerja Pemerintan (RKP)
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 12 tahun 2015, tugas Kementerian Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi adalah menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pembangunan desa dan kawasan perdesaan, pemberdayaan
masyarakat desa, percepatan pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi untuk
membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam
melaksanakan tugas itu, salah satu fungsi yang dijalankan oleh Kementerian Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi adalah perumusan, penetapan, dan
pelaksanaan kebijakan di bidang pembangunan desa dan kawasan perdesaan, serta
pemberdayaan masyarakat desa.
Tugas dan fungsi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan
Transmigrasi salah satunya dimaksudkan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan
dan pemberdayaan masyarakat Desa yang diselaraskan dengan Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) ketiga periode 2015-2019 yang merupakan penjabaran

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 141


PROGRAM INOVASI DESA

dari Visi dan Misi Presiden serta agenda Nawacita. Keselarasan agenda pembangunan
nasional dengan pembangunan desa memberi kepastian bagi tercapainya tujuan
pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945.

B. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional


Secara umum arah kebijakan dan strategi pembangunan Desa dan kawasan perdesaan,
termasuk di kawasan perbatasan, daerah tertinggal, kawasan transmigrasi serta
kepulauan dan pulau kecil, sebagai berikut:
1. Pemenuhan Standar Pelayanan Minimum Desa termasuk permukiman
transmigrasi sesuai dengan kondisi geografis Desa, melalui strategi:
a. meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana perumahan dan fasilitas
permukiman;
b. meningkatkan ketersediaan tenaga pengajar serta sarana dan prasarana
pendidikan;
c. meningkatkan ketersediaan tenaga medis serta sarana dan prasarana
kesehatan; meningkatkan ketersediaan sarana prasarana perhubungan antar
permukiman ke pusat pelayanan pendidikan, pusat pelayanan kesehatan,
dan pusat kegiatan ekonomi; dan
d. meningkatkan ketersediaan prasarana pengairan, listrik dan telekomunikasi.
2. Penanggulangan kemiskinan dan pengembangan usaha ekonomi masyarakat
Desa termasuk di permukiman transmigrasi, melalui strategi:
a. fasilitasi pengelolaan BUM Desa serta meningkatkan ketersediaan sarana
prasarana produksi khususnya benih, pupuk, pasca panen, pengolahan
produk pertanian dan perikanan skala rumah tangga desa;
b. fasilitasi, pembinaan, maupun pendampingan dalam pengembangan usaha,
bantuan permodalan/kredit, kesempatan berusaha, pemasaran dan
kewirausahaan; dan
c. meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam pemanfaatan dan
pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tepat Guna.
3. Pembangunan sumber daya manusia, peningkatan keberdayaan, dan
pembentukan modal sosial budaya masyarakat Desa termasuk di permukiman
transmigrasi melalui strategi:
a. mengembangkan pendidikan berbasis ketrampilan dan kewirausahaan;
b. memberi pengakuan, penghormatan, perlindungan, dan pemajuan hak-hak
masyarakat adat;
c. mengembangkan kapasitas dan pendampingan kelembagaan kemasyarakat
an desa dan kelembagaan adat secara berkelanjutan;

142| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

d. meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat termasuk perempuan,


anak, pemuda dan penyandang disabilitas melalui fasilitasi, pelatihan, dan
pendampingan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring
pembangunan desa;
e. menguatkan kapasitas masyarakat desa dan masyarakat adat dalam
mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam lahan dan perairan, serta
lingkungan hidup desa termasuk desa pesisir secara berkelanjutan; dan
f. meningkatkan partisipasi dan kapasitas tenaga kerja (TKI/TKW) di desa.
4. Pengawalan implementasi UU Desa secara sistematis, konsisten, dan berkelanjutan
melalui koordinasi, fasilitasi, supervisi, dan pendampingan dengan strategi:
a. konsolidasi satuan kerja lintas Kementerian/Lembaga;
b. memastikan berbagai perangkat peraturan pelaksanaan UU Desa sejalan
dengan substansi, jiwa, dan semangat UU Desa, termasuk penyusunan PP
Sistem Keuangan Desa;
c. memastikan distribusi Dana Desa dan Alokasi Dana Desa berjalan secara
efektif, berjenjang, dan bertahap;
d. mempersiapkan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam
mengoperasionalisasi pengakuan hak-hak masyarakat adat untuk dapat
ditetapkan menjadi desa adat.
5. Pemenuhan Standar Pelayanan Minimum Pembangunan Sumber Daya Manusia,
Keberdayaan, dan Modal Sosial Budaya Masyarakat Desa Penguatan
Pemerintahan Desa dan masyarakat Desa melalui strategi:
a. melengkapi dan mensosialisasikan peraturan pelaksanaan Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa;
b. Meningkatkan kapasitas pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa,
dan kader pemberdayaan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan
dan monitoring pembangunan desa, pengelolaan keuangan desa serta
pelayanan publik melalui fasilitasi, pelatihan, dan pendampingan;
c. menyiapkan data dan informasi desa yang digunakan sebagai acuan
bersama perencanaan dan pembangunan desa.
6. Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup berkelanjutan, serta
penataan ruang kawasan perdesaan termasuk di kawasan transmigrasi melalui
strategi:
a. menjamin pelaksanaan distribusi lahan kepada desa-desa dan distribusi
hak atas tanah bagi petani, buruh lahan, dan nelayan;
b. menata ruang kawasan perdesaan untuk melindungi lahan pertanian dan
menekan alih fungsi lahan produktif dan lahan konservasi;
c. menyiapkan dan melaksanakan kebijakan untuk membebaskan desa dari
kantong-kantong hutan dan perkebunan;

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 143


PROGRAM INOVASI DESA

d. menyiapkan kebijakan tentang akses dan hak desa untuk mengelola


sumber daya alam berskala lokal termasuk pengelolaan hutan negara oleh
desa berorientasi keseimbangan lingkungan hidup dan berwawasan
mitigasi bencana untuk meningkatkan produksi pangan dan mewujudkan
ketahanan pangan;
e. menyiapkan dan menjalankan kebijakan-regulasi baru tentang
shareholding antara pemerintah, investor, dan desa dalam pengelolaan
sumber daya alam;
f. menjalankan program-program investasi pembangunan perdesaan
dengan pola shareholding melibatkan desa dan warga desa sebagai
pemegang saham;
g. merehabilitasi kawasan perdesaan yang tercemar dan terkena dampak
bencana khususnya di daerah pesisir dan daerah aliran sungai.
7. Pengembangan ekonomi kawasan perdesaan termasuk kawasan transmigrasi
untuk mendorong keterkaitan desa-kota dengan strategi:
a. mewujudkan dan mengembangkan sentra produksi, sentra industri
pengolahan hasil pertanian dan perikanan, serta destinasi pariwisata;
b. meningkatkan akses transportasi desa dengan pusat-pusat pertumbuhan
ekonomi lokal/wilayah;
c. mengembangkan kerjasama antar desa, antar daerah, dan antar
pemerintah-swasta termasuk kerjasama pengelolaan BUM Desa, (melalui
pembentukan lembaga BUM Desa Bersama atau kerjasama antar 2 BUM
Desa) dan membangun agribisnis kerakyatan melalui pembangunan bank
khusus untuk pertanian, UMKM, dan Koperasi;
d. membangun sarana bisnis/pusat bisnis di perdesaan;
e. mengembangkan komunitas teknologi informasi dan komunikasi bagi
petani untuk berinteraksi denga pelaku ekonomi lainnya dalam kegiatan
produksi panen, penjualan, distribusi, dan lain-lain.

C. Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan dan Pemberdayaan Desa


1. Pemenuhan Standar Pelayanan Minimum Desa sesuai dengan kondisi geografis
Desa, melalui strategi: menyusun dan memastikan terlaksananya NSPK SPM
Desa (antara lain perumahan, permukiman, pendidikan, kesehatan,
perhubungan antar permukiman ke pusat pelayanan pendidikan, pusat
pelayanan kesehatan, dan pusat kegiatan ekonomi, pengairan, listrik dan
telekomunikasi);
2. Penanggulangan kemiskinan dan pengembangan usaha ekonomi masyarakat
Desa, melalui strategi: (i) penataan dan penguatan BUM Desa untuk mendukung
ketersediaan sarana prasarana produksi khususnya benih, pupuk, pengolahan
produk pertanian dan perikanan skala rumah tangga desa; (ii) fasilitasi,

144| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

pembinaan, maupun pendampingan dalam pengembangan usaha, bantuan


permodalan/kredit, kesempatan berusaha, pemasaran dan kewirausahaan; dan
(iii) meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam pemanfaatan dan
pengembangan Teknologi Tepat Guna Perdesaan;
3. Pembangunan sumber daya manusia, peningkatan keberdayaan, dan
pembentukan modal sosial budaya masyarakat Desa untuk mendukung
peningkatan karakter jati diri bangsa melalui revolusi mental, dengan strategi:
1) mengembangkan pendidikan berbasis keterampilan dan kewirausahaan;
2) mendorong peran aktif masyarakat dalam pendidikan dan kesehatan;
3) mengembangkan kapasitas dan pendampingan lembaga kemasyarakatan
desa dan lembaga adat secara berkelanjutan;
4) menguatkan partisipasi masyarakat dengan pengarusutamaan gender
termasuk anak, pemuda,lansia dan penyandang disabilitas dalam
pembangunan desa;
5) menguatkan kapasitas masyarakat desa dan masyarakat adat dalam
mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam lahan dan perairan, serta
lingkungan hidup desa termasuk desa pesisir secara berkelanjutan;
6) meningkatkan kapasitas masyarakat dan kelembagaan masyarakat desa
dalam meningkatkan ketahanan ekonomi, sosial, lingkungan keamanan
dan politik; (vii) meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan monitoring pembangunan desa; dan
7) meningkatkan partisipasi dan kapasitas tenaga kerja (TKI/TKW) di desa.
Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Indonesia Tahun 2018 (RKP 2018) terdapat
lima Prioritas pembangunan Wilayah; Pembangunan wilayah Perbatasan dan Daerah
Tertinggal, Percepatan Pembangunan Papua, Pencegahan dan Penanggulangan
Bencana antara lain Kebakaran Hutan, Reformasi Agraria dan Pembangunan Perdesaan.
Untuk Prioritas Pembangunan Desa di fokuskan pada 7(tujuh) Kegiatan Prioritas, yaitu :
Pemenuhan SPM di Desa Termasuk Permukiman Transmigrasi, Penanggulangan
Kemiskinan dan Pengembangan Usaha Ekonomi Masyarakat Desa, Pengembangan SDM
Pemberdayaan dan Modal Sosial Masyarakat Desa, Penguatan Pemerintahan Desa,
Pengawalan Implementasi Undang - Undang Desa, Pengembangan Ekonomi Kawasan
Perdesaan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Hutan di Desa dan
Kawasan Perdesaan.
Adapun sasaran yang hendak dicapai berupa: Desa tertinggal menjadi desa
berkembang mencapai 4.500 desa, Desa berkembang menjadi desa mandiri mencapai
1.800 desa, Pembangunan ekonomi hulu-hilir dan pengelolaan kawasan perdesaan 39
Kawasan dan Kawasan transmigrasi untuk percepatan menjadi desa berkembang
sebanyak130 Kawasan/65 SP/18 KPB.
Untuk merealisasikan target capaiaan Recana Kerja Pemerintah Tahun 2018
tersebut; Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi telah
Menetapkan Desa Prioritas Sasaran Pembangunan Desa, Pembangunan Daerah

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 145


PROGRAM INOVASI DESA

Tertinggal, dan Transmigrasi sejumlah 17.000 (tujuh belas ribu) melalui surat keputusan
menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan transmigrasi Nomor 126 Tahun 2017
tentang Penetapan Desa Prioritas Sasaran Pembangunan Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Transmigrasi. Penetapan tersebut berdasarkan kategori Desa yang
termasuk dalam wilayah pinggiran, yaitu Desa dalam kawasan perdesaan, perbatasan,
dan daerah tertinggal dengan usaha pokok sektor pertanian dan pelaku usahanya mikro
dan kecil yang berkarakter tradisional sebagaimana dimaksud dalam cita ke-3 Nawa Cita
Kabinet Kerja sebagaimana ditetapkan dalam Buku I angka 6.3 Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019.
Dalam Kegiatan Prioritas Pengawalan Implementasi Undang - Undang Desa,
Pemerintah telah menerbitkan surat keputusan Bersama 4 menteri, antara Menteri
Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan
Transmigrasi dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional Tentang Penyelarasan dan Penguatan Kebijakan
Percepatan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa tertanggal
Desember 2017 (SKB-4 Menteri). Dalam SKB 4 menteri tersebut telah ditetapkan
beberapa kebijakan, salah satunya berupa Pelaksanaan Padat Karya Tunai di Desa dalam
penggunaan Dana Desa untuk pembangunan.
Padat Karya Tunai di Desa merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat
marginal/miskin yang bersifat produktif berdasarkan pemanfaatan sumber daya alam,
tenaga kerja, dan teknologi lokal dalam rangka mengurangi kemiskinan, meningkatkan
pendapatan dan menurunkan angka stunting.

D. Kebijakan Padat karya Tunai


Adanya berbagai permasalahan dan fakta yang menunjukan ;
1. Masih tingginya Angka Gizi Buruk dan Stunting; berdaarkan ata yang ada Status
gizi masyarakat (37,2% stunting)
2. Masih tingginya Angka Pengangguran; Jumlah penganggur 2,39 juta orang di
perdesaan
3. Masih tingginya Angka Kemiskinan; Jumlah setengah penganggur 6 juta orang di
perdesaan
4. Masih tingginya Tingkat Kesenjangan Pendapatan; Jumlah pekerja tak dibayar
10,58 juta pekerja di perdesaan
5. Tingginya jumlah Desa Tertinggal Penduduk miskin di desa 27,7 juta orang. 10,2
juta orang tinggal di sekitar dan dalam kawasan hutan
6. Dan Terjadinya migrasi dan urbanisasi yang tinggi
Dibutuhkan kebijakan yang tepat untuk menjawab dan mengurangi permasalahan
tersebut diatas. Oleh karenanya Pemerintah telah mengambil kebijakan Kegiatan Padat
karya Tunai yang diharapkan mampu memberikan manfaat dan dampak untuk :
1. Peningkatan Produksi dan Nilai Tambah

146| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

2. Perluasan kesempatan kerja sementara


3. Penciptaan Upah/ Tambahan Pendapatan
4. Perluasan Akses Pelayanan Dasar
5. Perluasan Mutu Pelayanan Dasar
6. Peningkatan aksesibilitas desa (terbukanya desa terisolir)
Padat Karya Tunai di Desa merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat
marginal/miskin yang bersifat produktif berdasarkan pemanfaatan sumber daya alam,
tenaga kerja, dan teknologi lokal dalam rangka mengurangi kemiskinan, meningkatkan
pendapatan dan menurunkan angka stunting. Untuk melakuan akselerasi pencapaian
dampak yang diharapkan dari program padat karya tunai, seluruh Pemanfaatan Dana
Desa dan berbagai program Kementerian/Lembaga yang ditujukan ke Desa harus
dilakukan dengan model padat karya yang akan mampu menciptakan kesempatan kerja
di Desa dan peningkatan tambahan upah/pendapatan bagi masyarkat desa yang
dilakukan dengan Padat Karya Tunai (cash for work). Swakelola dan Pelaksanaan
program K/L di daerah khususnya desa perlu diarahkan untuk mendukung Padat Karya
Tunai di Desa. Selain itu perlu adanya Peningkatan pelatihan dan pendampingan bagi
desa dalam mengembangkan potensi Desa serta Penyederhanaan sistem pelaporan dan
pertanggungjawaban di Desa.

Jenis Kegiatan
1. Pembangunan dan/atau rehabilitasi sarana prasarana perdesaan sesuai
dengan daftar kewenangan Desa, antara lain: perbaikan alur sungai dan irigasi,
pembangunan dan/atau perbaikan jalan dan jembatan skala Desa, tambatan
perahu.
2. Pemanfaatan lahan untuk meningkatkan produksi, termasuk di kawasan
hutan, antara lain:
a. Pertanian;
b. Perhutanan;
c. Perkebunan;
d. Peternakan; dan
e. Perikanan.
3. Kegiatan produktif lainnya, antara lain:
a. Pariwisata;
b. Ekonomi kreatif, pengembangan potensi ekonomi lokal dengan mendorong
kewirausahaan;
c. Pengelolaan hasil produksi pertanian;
d. Pengelolaan usaha jasa dan industri kecil.

4. Pemberdayaan Masyarakat, antara lain:

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 147


PROGRAM INOVASI DESA

a. Pengelolaan sampah;
b. Pengelolaan limbah;
c. Pengelolaan lingkungan pemukiman;
d. Pengembangan energi terbarukan;
e. Penyediaan dan pendistribusian makanan tambahan bagi anak (bayi dan
balita).
5. Kegiatan lainnya Kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan penyelesai-
an pekerjaan fisik bangunan, tetapi mendukung keberhasilan pelaksanaan
pekerjaan fisik tersebut, misalnya antara lain: mengemudikan kendaraan
pengangkut bahan dan alat kerja

Kelompok Sasaran Tenaga Kerja Padat Karya Tunai


1. Kelompok penganggur, setengah penganggur dan warga miskin.
2. Pencari nafkah utama keluarga.
3. Laki-laki, wanita dan pemuda usia produktif dan bukan anak-anak.
4. Petani/kelompok petani yang mengalami paceklik dan menunggu masa
tanam/panen.
5. Tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan ( diputus hubungan kerja ).

Prinsip-Prinsip Padat Karya Tunai di Desa Tahun 2018


1. Inklusif ; Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan Padat Karya Tunai di Desa
berdasarkan kebutuhan masyarakat dengan mempertimbangkan ketenagakerjaan
(penganggur, setengah penganggur), masyarakat marginal/miskin, kondisi
geografis, sosial, budaya dan ekonomi, serta mempertahankan daya dukung dan
keseimbangan lingkungan.
2. Partisipatif Dan Gotong Royong ; berdasarkan asas “DARI, OLEH dan UNTUK
masyarakat”. Pemerintah berperan sebagai fasilitator yang mendampingi
pemerintah Desa, BPD dan masyarakat Desa untuk melaksanakan pembangunan
Desa secara partisipatif dan gotong royong.
3. Transparan Dan Akuntabel; Pelaksanaan kegiatan Padat Karya Tunai di Desa
dilakukan dengan mengutamakan prinsip transparan dan akuntabel baik secara
moral, teknis, legal maupun administratif kepada semua pihak
4. Efektif; Kegiatan Padat Karya Tunai di Desa harus memiliki dampak positif dan
nyata bagi peningkatan produksi dan produktivitas, upah/pendapatan dan daya
beli masyarakat desa.
5. Swadaya; Kegiatan Padat Karya Tunai di Desa dilaksanakan dengan mendorong
keswadayaan dengan berbagai bentuk sumbangan dana, tenaga, material, dan
asset bergerak dan/atau tidak bergerak dari warga desa yang berkecuk

148| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

6. Penentuan Upah; Batas Bawah dan Batas Atas Upah/HOK ditentukan berdasarkan
hasil kesepakatan Musyawarah Desa mengacu pada Peraturan Bupati/Walikota.
Adapun Batas Atas Upah/HOK dibawah Upah Minimum Provinsi. Besaran
upah/HOK lebih lanjut akan diatur oleh Peraturan Bupati/Walikota
7. Prioritas; Kegiatan Padat Karya Tunai di Desa dilaksanakan dengan mendahulukan
kepentingan sebagian besar masyarakat Desa yang berdampak pada terciptanya
lapangan kerja, teratasinya kesenjangan, dan terentaskannya warga miskin
8. Swakelola; Kegiatan Padat Karya Tunai di Desa dilaksanakan secara mandiri oleh
Desa dengan mendayagunakan tenaga kerja, bahan material, serta peralatan dan
teknologi sederhana yang ada di Desa.
9. Keberlanjutan; Kegiatan Padat Karya Tunai di Desa dilaksanakan dengan
memastikan adanya rencana pengelolaan, pemeliharaan, perawatan dan
pelestariannya.
10. Disepakati Dalam Musyawarah Desa; Kegiatan Padat Karya Tunai di Desa
dibahas dan disepakati dalam musyawarah desa yang diselenggarakan
berdasarkan asas kesamaan dan kesetaraan bagi setiap peserta musyawarah Desa
melalui hak bicara, hak berpendapat dan hak bersuara dalam mencapai
kemufakatan bersama
11. Berbasis kewenangan lokal Desa dan Hak asal usul; Kegiatan Padat Karya Tunai
di Desa yang pembiayaannya bersumber dari APB Desaa harus menjadi bagian
dari Daftar Kewenangan Desa berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal
Berskala Desa.
12. Kewenangan yang ditugaskan kepada Desa; . Kegiatan Padat Karya Tunai di
Desa yang pembiayaannya bersumber dari Non APB Desaa diatur sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Prioritas lokasi Padat Karya Tunai di Desa pada tahun 2018 Lokasi Kegiatan
padat Karya Tunai Tahun 2018 adalah 1.000 desa di 100 kabupaten yang diusulkan oleh
Bappenas bersama TNP2K, dan Kemenko PMK.

E. Penggunaan Dana Desa untuk Kegiatan Padat karya Tunai


Dalam kebijakan Kegiatan Padat karya Tunai setiap kementerian mendapat pembagian
peran sesuai Tupoksi dari masing-masing kementerian. Kementerian Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mendapatkan peran untuk
Menetapkan Juknis penggunaan Dana Desa, Koordinasi Penguatan dan Peran
Pendamping Desa, Monitoring dan Evaluasi Dana Desa untuk Program Padat Karya
Tunai di Desa dan Bimbingan teknis pelaksanaan padat karya tunai di Desa kepada para
pendamping dan pengelola di Desa.
Dalam rangka implementasi Pengggunaan dana desa untuk kegiatan padat karya
tunai tahun 2018 dibutuhkan upaya agar dalam pelaksanaannya sesuai dengan maksud
dan tujuan yang diharapkan, untuk itu dibtuhkan petunjuk teknis penggunaan dana desa
untuk pelaksanaan kegiatan padat karya tunai tahun 2018. Petunjuk Teknis Penggunaan

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 149


PROGRAM INOVASI DESA

Dana Desa Tahun 2018 untuk Padat Karya Tunai ini diharapkan menjadi arah kebijakan
pelaksanaan kegiatan Padat Karya Tunai yang dibiayai dengan Dana Desa.
Prioritas Penggunaan Dana Desa untuk membiayai pelaksanaan program dan
kegiatan di bidang pembangunan Desa dan pemberdayaan masyarakat Desa. haruslah
diprioritaskan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan yang bersifat lintas
bidang. antara lain bidang kegiatan produk unggulan Desa atau kawasan perdesaan,
BUM Desa atau BUM Desa Bersama, embung, dan sarana olahraga Desa sesuai dengan
kewenangan Desa; Sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Menteri desa nomor 19
tahun 2017 Tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2018.

150| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 1.2.1

Pokok-Pokok Kebijakan Program Inovasi Desa (PID)

A. Latar Belakang
Undang-Undang No 6/2014 tentang Desa (selanjutnya disebut UU Desa), memberikan
berbagai kewenangan kepada Desa antara lain : Kewenangan berdasarkan hak asal usul
dan kewenangan lokal skala Desa. Untuk mendukung kewenangan tersebut agar Desa-
Desa meningkat kemampuannya untuk mengatur dan mengurus kepentingannya
secara efektif guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa, negara mengalokasi-
kan Dana Desa melalui APBN setiap tahunnya.
Konsekswensi logis atas kewenanganan tersebut, memunculkan adanya
pendekatan baru dalam pembanguan Desa yang disebut dengan “Desa Membangun”,
disamping pendekatan “Pembangunan Desa”. Namun disadari bahwa kapasitas Desa
dan rendahnya dukungan Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan pembangunan
dalam perspektif “Desa Membangun”, masih terbatas. Keterbatasan itu dapat dideteksi
pada aras pelaku Pembangunan Desa (kapasitas aparat Pemerintah Desa dan
Masyarakat), kualitas tata kelola Desa dan support system yang mewujud melalui
regulasi dan kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang terkait dengan Desa.
Hal itu, pada akhirnya mengakibatkan kualitas perencanaan, pelaksanaan, pengedalian
dan pemanfaatan kegiatan pembangunan kurang optimal menjadikan lambannya upaya
mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa.
Merespon kondisi tersebut dan untuk melaksanakan UU Desa secara konsisten,
Pemerintah melalui Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan
Transmigrasi ( Kemendesa PDTT ), menyediakan tenaga pendamping profesional, yaitu:
Pendamping Lokal Desa (PLD), Pendamping Desa (PD), sampai Tenaga Ahli (TA) di
tingkat Pusat, untuk memfasilitasi Pemerintah Desa dalam bidang pembangunan dan
Pemberdayaan masyarakat Desa. Pendampingan dan pengelolaan tenaga pendamping
profesional menjadi isu krusial dalam pelaksanaan UU Desa; oleh karenanya penguatan
kapasitas Pendamping Profesional dan efektivitas pengelolaan tenaga pendamping
menjadi agenda strategis Pendampingan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat
Desa (P3MD).
Berbagai upaya perbaikan dan peningkatan kualitas terkait isu-isu diatas terus
dilakukan oleh Kemendesa PDTT secara pro aktif ; Salah satunya dengan meluncurkan
Program Inovasi Desa (PID) yang dirancang untuk mendorong penguatan kapasitas
Desa yang diorientasikan untuk memenuhi pencapaian target RPJM Kemendesa PDTT
yang terumuskan dalam kebijakan Program prioritas Menteri Desa PDTT, melalui
peningkatkan produktivitas perdesaan dengan bertumpu pada tiga bidang kegiatan
utama:

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 151


PROGRAM INOVASI DESA

1. Pengembangan kewirausahaan, baik pada ranah pengembangan usaha


masyarakat, maupun usaha yang diprakarsai Desa melalui Badan Usaha Milik Desa
(BUM Desa), Badan Usaha Milik antar Desa, Produk unggulan desa guna
mendinamisasi perekonomian Desa.
2. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Kaitan antara produktivitas
perdesaan dengan kualitas SDM ini, diharapkan terjadi dalam jangka pendek
maupun dampak signifikan dalam jangka panjang melalui investasi di bidang
pendidikan dan kesehatan dasar. Produktivitas perdesaan, dengan demikian, tidak
hanya ditilik dari aspek/strategi peningkatan pendapatan saja, tetapi juga
pengurangan beban biaya, dan hilangnya potensi di masa yang akan datang.
Disamping itu, penekanan isu pelayanan sosial dasar (PSD) dalam konteks kualitas
SDM ini, juga untuk merangsang sensitivitas Desa terhadap permasalahan krusial
terkait pendidikan dan kesehatan dasar dalam penyelenggaraan pembangunan
Desa, dan
3. Pemenuhan dan peningkatan infrastruktur perdesaan, khususnya yang secara
langsung berpengaruh terhadap perkembangan perekonomian Desa, dan yang
memiliki dampak menguat-rekatkan kohesi sosial masyarakat perdesaan.
Aspek lain yang harus diperhatikan secara serius dalam pengelolaan
pembangunan Desa adalah ketersediaan data yang memadai dan up to date, mengenai
kondisi objektif maupun perkembangan Desa-Desa yang menunjukkan pencapaian
pembangunan Desa. Ketersediaan data sangat penting bagi semua pihak yang
berkepentingan, khususnya bagi Pemerintah dalam merumuskan kebijakan
pembangunan. Pegelolaan data dimaksud dalam skala nasional, dengan kondisi wilayah,
khususnya Desa-Desa di Indonesia yang sangat beragam tentunya memiliki tantangan
dan tingkat kesulitan yang besar; Oleh karenanya Program Inovasi Desa (PID) akan
mendukung dalam upaya penguatan Pendampingan Pembangunan dan Pemberdayaan
Masyarakat Desa (P3MD) dan pengembangan sistem informasi pembangunan Desa.
Hal mendasar dalam rancang bangun PID adalah inovasi/ kebaruan dalam praktik
pembangunan dan pertukaran pengetahuan. Inovasi ini dipetik dari realitas / hasil kerja
Desa-Desa dalam melaksanakan kegiatan pembangunan yang didayagunakan sebagai
pengetahuan untuk ditularkan secara meluas. PID juga memberikan perhatian terhadap
dukungan teknis dari Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa secara professional.
Dua unsur itu dirasa akan memberikan kontribusi signifikan terhadap investasi Desa,
yaitu pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui pembangunan yang didanai dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa), khususnya Dana Desa (DD). Dengan
demikian, PID diharapkan dapat menjawab kebutuhan Desa-Desa terhadap layanan
teknis yang berkualitas dan merangsang munculnya inovasi dalam praktik
pembangunan serta solusi inovatif untuk menggunakan Dana Desa secara tepat dan
seefektif mungkin.

B. Tujuan

152| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Kegiatan PID bertujuan untuk mendorong peningkatan kualitas pemanfaatan dana desa
dengan memberikan banyak referensi dan inovasi pembangunan desa dalam rangka
mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi perdesaan, serta membangun
kapasitas desa yang berkelanjutan.

C. Sasaran
1. Menguatkan Program Pendampingan yang fokus pada kualitas hasil
2. Memperkuat kualitas pengelolaan program P3MD, Program Inovasi Desa (PID) dan
Pengelolaan Data.
3. Meningkatkan kapasitas pemangku kepentingan dalam mengelola pembangunan
dan kegiatan produktif yang didanai melalui Dana Desa untuk hal-hal yang bersifat
inovatif.
4. Mendukung peningkatan produktivitas ekonomi desa dan kawasan perdesaan
melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat inovatif

D. Prinsip-Prinsip Pengelolaan
Pengelolaan Program Inovasi Desa (PID) didasarkan pada prinsip-prinsip:
1. Taat hukum;
2. Transparansi;
3. Akuntabilitas;
4. Partisipatif;
5. Kesetaraan Jender.

E. Ruang Lingkup
Secara skematis ruang lingkup Program Inovasi Desa (PID) digambarkan sebagai
berikut:

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 153


PROGRAM INOVASI DESA

1. Kegiatan Inovasi dan Pengelolaan Pengetahuan Desa.


Merupakan kegiatan pengelolaan pengetahuan untuk mendorong munculnya inovasi
dalam pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan Desa khususnya terkait dengan
peningkatan kapasitas kewirausahaan dan pengembangan ekonomi lokal, peningkatan
kualitas infrastruktur dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Pengelolaan
pengetahuan dilakukan secara sistematis, terencana dan partisipatif meliputi proses,
identifikasi, validasi, dokumentasi, pertukaran pengetahuan atau eksposisi dan replikasi.
Kegiatan ini didukung dengan Dana Operasional Kegiatan (DOK) bantuan Pemerintah
pengelolaan pengetahuan inovasi desa.

2. Kegiatan Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD)


Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (d/h Penyedia Peningkatan Kapasitas
Teknis Desa -P2KTD) adalah organisasi atau lembaga yang berbadan hukum yang
memiliki keahlian tertentu dan diakui secara profesional serta berkomitmen membantu
desa dalam meningkatkan kualitas pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa
di bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Ekonomi Lokal, Pengembangan Sumber
Daya Manusia, dan Infrastruktur. Jenis layanan teknis yang disediakan P2KTD meliputi
tiga bidang kegiatan utama yang tidak dapat diberikan oleh pendamping profesional
dalam mendukung kemandirian desa, antara lain: (1) Kewirausahaan dan
Pengembangan Ekonomi Lokal, (2) Pengembangan Sumber Daya Manusia (pelayanan
sosial dasar, dan kewirausahaan sosial) dan (3) infrastruktur desa. P2KTD memberikan
pelayanan dalam bentuk dukungan teknis berupa pelatihan, konsultasi, bimbingan
teknis, mentoring, dan studi sesuai dengan kebutuhan Desa, P2KTD dapat memfasilitasi
Desa dalam mengidentifikasi, mengorganisir dan memanfaatkan jaringan kerja yang
mendukung meningkatkan produktivitas dan hasil guna kegiatan di Desa.

3. Pengembangan Sistem Informasi Pembangunan Desa

154| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Sistem Informasi Pembangunan desa merupakan solusi bagi percepatan pengelolaan,


evaluasi dan Analisa data desa, untuk tujuan percepatan pembangunan desa dan
produktivitas desa berbasis pada pengelolaan data pembangunan desa. Pengelolaan
dan pengembangan sistem informasi pembangunan desa tidak terlepas dengan data
dasar yang selama ini dihasilkan di kementerian desa dan aplikasi pengolah data yang
sudah berjalan di desa. Pengelolaan dan pengendalian data bertujuan untuk
menyediakan model dan platform untuk mendukung pengolahan data program Inovasi
Desa.
Sistem informasi pengelolaan data ditujukan untuk penyediaan data dan informasi
tentang desa dan pengolahan data untuk tujuan penyajian data peningkatan kapasitas
desa, dengan mengolah data-data berdasarkan variable Key Performance Indicator (KPI)
data (target output data) desa yang akan diolah untuk melihat status dan peningkatan
level desa serta melihat secara utuh dampak intervensi program terhadap desa (program
inovasi desa, program pendampingan dan dana desa) terhadap perubahan dan
dinamika partumbuhan desa dalam skala indeks ukur status desa serta perubahan
kondisi desa atas pertumbuhan peluang kerja di desa, pengurangan angka kemiskinan
dan peningkatan pendapatan di tingkat desa.

F. Bidang Kegiatan
Bidang kegiatan Program Inovasi Desa (PID), meliputi:
(1) Pengembangan kewirausahaan, baik pada ranah pengembangan usaha
masyarakat, maupun usaha yang diprakarsai Desa melalui Badan Usaha Milik Desa
(BUM Desa), Badan Usaha Milik antar Desa, Produk unggulan desa guna
mendinamisasi perekonomian Desa;
(2) Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Kaitan antara produktivitas
perdesaan dengan kualitas SDM ini, diharapkan terjadi dalam jangka pendek
maupun dampak signifikan dalam jangka panjang melalui investasi di bidang
pendidikan dan kesehatan dasar. Produktivitas perdesaan, dengan demikian, tidak
hanya ditilik dari aspek/strategi peningkatan pendapatan saja, tetapi juga
pengurangan beban biaya, dan hilangnya potensi di masa yang akan datang.
Disamping itu, penekanan isu pelayanan sosial dasar (PSD) dalam konteks kualitas
SDM ini, juga untuk merangsang sensitivitas Desa terhadap permasalahan krusial
terkait pendidikan dan kesehatan dasar dalam penyelenggaraan pembangunan
Desa; dan
(3) Pemenuhan dan peningkatan infrastruktur perdesaan, khususnya yang secara
langsung berpengaruh terhadap perkembangan perekonomian Desa, dan yang
memiliki dampak menguat-rekatkan kohesi sosial masyarakat perdesaan.

G. Daftar Larangan
Hal-hal yang dilarang untuk dilakukan dalam pelaksanaan Program Inovasi Desa (PID)
antara lain:

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 155


PROGRAM INOVASI DESA

(1) Membiayai dan/atau mendukung kegiatan yang berkaitan dengan politik praktis.
(2) Membiayai dan/atau mendukung kegiatan yang mempekerjakan anak.
(3) Membiayai dan/atau mendukung kegiatan yang berdampak merusak lingkungan
hidup.

156| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 157


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 1.3.1

Pokok-Pokok Kebijakan Penanganan Stunting

A. Stunting Adalah Kondisi Gagal Tumbuh Pada Anak Balita (Bayi Di Bawah Lima
Tahun)
Akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.
Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi
lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Balita
pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang
badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar
baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) 2006. Sedangkan definisi
stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah anak balita dengan nilai z-
scorenya kurang dari -2SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari – 3SD (severely
stunted).
Di Indonesia, sekitar 37% (hampir 9 Juta) anak balita mengalami stunting (Riset
Kesehatan Dasar/Riskesdas 2013) dan di seluruh dunia, Indonesia adalah negara dengan
prevalensi stunting kelima terbesar. Balita/Baduta (Bayi dibawah usia Dua Tahun) yang
mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak
menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada
menurunnya tingkat produktivitas. Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat
menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar
ketimpangan.
Pengalaman dan bukti Internasional menunjukkan bahwa stunting dapat
menghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan produktivitas pasar kerja,
sehingga mengakibatkan hilangnya 11% GDP (Gross Domestic Products) serta
mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20%. Selain itu stunting juga dapat
berkontribusi pada melebarnya kesenjangan/ inequality, sehingga mengurangi 10% dari
total pendapatan seumur hidup dan juga menyebabkan kemiskinan antar-generasi.
Anak kerdil yang terjadi di Indonesia sebenarnya tidak hanya dialami oleh rumah
tangga/keluarga yang miskin dan kurang mampu, karena stunting juga dialami oleh
rumah tangga/keluarga yang tidak miskin/yang berada di atas 40 % tingkat
kesejahteraan sosial dan ekonomi. Seperti yang digambarkan dalam grafik dibawah,
kondisi anak stunting juga dialami oleh keluarga/rumah tangga yang tidak miskin.

B. Penyebab Stunting
Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor
gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Intervensi yang paling
menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting oleh karenanya perlu

158| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. Secara lebih detil,
beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Praktek pengasuhan yang kurang baik,


Termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada
masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan. Beberapa fakta dan informasi yang ada
menunjukkan bahwa 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI)
secara ekslusif, dan 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makanan Pendamping
Air Susu Ibu (MP-ASI). MP-ASI diberikan/mulai diperkenalkan ketika balita berusia diatas
6 bulan. Selain berfungsi untuk mengenalkan jenis makanan baru pada bayi, MPASI juga
dapat mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh bayi yang tidak lagi dapat disokong oleh ASI,
serta membentuk daya tahan tubuh dan perkembangan sistem imunologis anak
terhadap makanan maupun minuman.

2. Masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal


Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan) Post Natal
Care dan pembelajaran dini yang berkualitas.
Informasi yang dikumpulkan dari publikasi Kemenkes dan Bank Dunia menyatakan
bahwa tingkat kehadiran anak di Posyandu semakin menurun dari 79% di 2007 menjadi
64% di 2013 dan anak belum mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi. Fakta
lain adalah 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi sumplemen zat besi yang memadai
serta masih terbatasnya akses ke layanan pembelajaran dini yang berkualitas (baru 1 dari
3 anak usia 3-6 tahun belum terdaftar di layanan PAUD/Pendidikan Anak Usia Dini).

3. Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi.


Hal ini dikarenakan harga makanan bergizi di Indonesia masih tergolong mahal.Menurut
beberapa sumber (RISKESDAS 2013, SDKI 2012, SUSENAS), komoditas makanan di
Jakarta 94% lebih mahal dibanding dengan di New Delhi, India. Harga buah dan sayuran
di Indonesia lebih mahal daripada di Singapura. Terbatasnya akses ke makanan bergizi
di Indonesia juga dicatat telah berkontribusi pada 1 dari 3 ibu hamil yang mengalami
anemia.

4. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.


Data yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa 1 dari 5 rumah tangga di
Indonesia masih buang air besar (BAB) diruang terbuka, serta 1 dari 3 rumah tangga
belum memiliki akses ke air minum bersih. Beberapa penyebab seperti yang dijelaskan
di atas, telah berkontibusi pada masih tingginya pervalensi stunting di Indonesia dan
oleh karenanya diperlukan rencana intervensi yang komprehensif untuk dapat
mengurangi pervalensi stunting di Indonesia.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 159


PROGRAM INOVASI DESA

C. Kerangka Intervensi Stunting di Indonesia


Pada 2010, gerakan global yang dikenal dengan Scaling-Up Nutrition (SUN) diluncurkan
dengan prinsip dasar bahwa semua penduduk berhak untuk memperoleh akses ke
makanan yang cukup dan bergizi. Pada 2012, Pemerintah Indonesia bergabung dalam
gerakan tersebut melalui perancangan dua kerangka besar Intervensi Stunting. Kerangka
Intervensi Stunting tersebut kemudian diterjemahkan menjadi berbagai macam program
yang dilakukan oleh Kementerian dan Lembaga (K/L) terkait. Kerangka Intervensi
Stunting yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu

1. Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif.


Kerangka pertama adalah Intervensi Gizi Spesifik. Ini merupakan intervensi yang
ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan berkontribusi
pada 30% penurunan stunting. Kerangka kegiatan intervensi gizi spesifik umumnya
dilakukan pada sektor kesehatan. Intervensi ini juga bersifat jangka pendek dimana
hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek. Kegiatan yang idealnya dilakukan
untuk melaksanakan Intervensi Gizi Spesifik dapat dibagi menjadi beberapa intervensi
utama yang dimulai dari masa kehamilan ibu hingga melahirkan balita:

Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran Ibu Hamil.


Intervensi ini meliputi kegiatan memberikan makanan tambahan (PMT) pada ibu hamil
untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis, mengatasi kekurangan zat besi
dan asam folat, mengatasi kekurangan iodium, menanggulangi kecacingan pada ibu
hamil serta melindungi ibu hamil dari Malaria.

Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-6 Bulan.
Intervensi ini dilakukan melalui beberapa kegiatan yang mendorong inisiasi menyusui
dini/IMD terutama melalui pemberian ASI jolong/colostrum serta mendorong
pemberian ASI Eksklusif.

Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 7-23 bulan.
Intervensi ini meliputi kegiatan untuk mendorong penerusan pemberian ASI hingga
anak/bayi berusia 23 bulan. Kemudian, setelah bayi berusia diatas 6 bulan didampingi
oleh pemberian MP-ASI, menyediakan obat cacing, menyediakan suplementasi zink,
melakukan fortifikasi zat besi ke dalam makanan, memberikan perlindungan terhadap
malaria, memberikan imunisasi lengkap, serta melakukan pencegahan dan pengobatan
diare. Kerangka Intervensi Stunting yang direncanakan oleh Pemerintah yang kedua
adalah Intervensi Gizi Sensitif. Kerangka ini idealnya dilakukan melalui berbagai
kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70% Intervensi
Stunting. Sasaran dari intervensi gizi spesifik adalah masyarakat secara umum dan tidak
khusus ibu hamil dan balita pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan/HPK. Kegiatan terkait

160| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Intervensi Gizi Sensitif dapat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan yang umumnya
makro dan dilakukan secara lintas Kementerian dan Lembaga. Ada 12 kegiatan yang
dapat berkontribusi pada penurunan stunting melalui Intervensi Gizi Spesifik sebagai
berikut:
(1) Menyediakan dan memastikan akses terhadap air bersih.
(2) Menyediakan dan memastikan akses terhadap sanitasi.
(3) Melakukan fortifikasi bahan pangan.
(4) Menyediakan akses kepada layanan kesehatan dan Keluarga Berencana (KB).
(5) Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
(6) Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal).
(7) Memberikan pendidikan pengasuhan pada orang tua.
(8) Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universal.
(9) Memberikan pendidikan gizi masyarakat.
(10) Memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, serta gizi pada remaja.
(11) Menyediakan bantuan dan jaminan sosial bagi keluarga miskin.
(12) Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi.
Kedua kerangka Intervensi Stunting diatas sudah direncanakan dan dilaksanakan
oleh Pemerintah Indonesia sebagai bagian dari upaya nasional untuk mencegah dan
mengurangi pervalensi stunting.

2. Kebijakan Dan Program Terkait Intervensi Stunting Yang Telah Dilakukan


Terkait upaya untuk mengurangi serta menangani pervalensi stunting, pemerintah di
tingkat nasional kemudian mengeluarkan berbagai kebijakan serta regulasi yang
diharapkan dapat berkontribusi pada pengurangan pervalensi stunting, termasuk
diantaranya:
(1) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005–2025 (Pemerintah
melalui program pembangunan nasional ‘Akses Universal Air Minum dan Sanitasi
Tahun 2019’, menetapkan bahwa pada tahun 2019, Indonesia dapat menyediakan
layanan air minum dan sanitasi yang layak bagi 100% rakyat Indonesia).
(2) Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 (target penurunan
prevalensi stunting menjadi 28% pada 2019).
(3) Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015, Bappenas, 2011.
(4) Undang-Undang (UU) No. 36/2009 tentang Kesehatan.
(5) Peraturan Pemerintah (PP) No.33/2012 tentang Air Susu Ibu Eksklusif.
(6) Peraturan Presiden (Perpres) No. 42/2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan
Perbaikan Gizi.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 161


PROGRAM INOVASI DESA

(7) Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang


Pemberian Ais Susu Ibu (ASI) Secara Eksklusif Pada Bayi di Indonesia.
(8) Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No.15/2013 tentang Tata Cara
Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu.
(9) Permenkes No.3/2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
(10) Permenkes No.23/2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi.
(11) Kerangka Kebijakan Gerakan Nasional Percepatan Gizi Dalam Rangka Seribu Hari
Pertama Kehidupan (Gerakan 1.000 HPK), 2013.
(12) Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK), 2013.
Selain mengeluarkan paket kebijakan dan regulasi, kementerian/lembaga (K/L)
juga sebenarnya telah memiliki program baik terkait intervensi gizi spesifik maupun
intervensi gizi sensitif, yang potensial untuk menurunkan stunting. Intervensi Program
Gizi Spesifik dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Pusat
Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) melalui
Gerakan 1.000 Hari Pertama Kegiatan (HPK). Berikut ini adalah identifikasi beberapa
program gizi spesifik yang telah dilakukan oleh pemerintah:
(1) Program terkait Intervensi dengan sasaran Ibu Hamil, yang dilakukan melalui
beberapa program/kegiatan berikut:
• Pemberian makanan tambahan pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan
energi dan protein kronis
• Program untuk mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat
• Program untuk mengatasi kekurangan iodium
• Pemberian obat cacing untuk menanggulangi kecacingan pada ibu hamil
• Program untuk melindungi ibu hamil dari Malaria.
Jenis kegiatan yang telah dan dapat dilakukan oleh pemerintah baik di tingkat
nasional maupun di tingkat lokal meliputi pemberian suplementasi besi folat
minimal 90 tablet, memberikan dukungan kepada ibu hamil untuk melakukan
pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali, memberikan imunisasi Tetanus Toksoid
(TT), pemberian makanan tambahan pada ibu hamil, melakukan upaya untuk
penanggulangan cacingan pada ibu hamil, dan memberikan kelambu serta
pengobatan bagi ibu hamil yang positif malaria.
(2) Program yang menyasar Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-6 bulan termasuk
diantaranya mendorong IMD/Inisiasi Menyusui Dini melalui pemberian ASI
jolong/colostrum dan memastikan edukasi kepada ibu untuk terus memberikan
ASI Eksklusif kepada anak balitanya. Kegiatan terkait termasuk memberikan
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, Inisiasi Menyusui Dini (IMD),
promosi menyusui ASI eksklusif (konseling individu dan kelompok), imunisasi
dasar, pantau tumbuh kembang secara rutin setiap bulan, dan penanganan bayi
sakit secara tepat.

162| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(3) Program Intervensi yang ditujukan dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak
Usia 7-23 bulan:
• mendorong penerusan pemberian ASI hingga usia 23 bulan didampingi oleh
pemberian
• MP-ASI
• menyediakan obat cacing
• menyediakan suplementasi zink
• melakukan fortifikasi zat besi ke dalam makanan
• memberikan perlindungan terhadap malaria
• memberikan imunisasi lengkap
• melakukan pencegahan dan pengobatan diare.
Selain itu, beberapa program lainnya adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
Balita Gizi Kurang oleh Kementerian Kesehatan/Kemenkes melalui Puskesmas dan
Posyandu. Program terkait meliputi pembinaan Posyandu dan penyuluhan serta
penyediaan makanan pendukung gizi untuk balita kurang gizi usia 6-59 bulan berbasis
pangan lokal (misalnya melalui Hari Makan Anak/HMA). Anggaran program berasal dari
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) – Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik sebesar
Rp. 200.000.000 per tahun per Puskesmas di daerahnya masing masing.
Terkait dengan intervensi gizi sensitif yang telah dilakukan oleh pemerintah
melalui K/L terkait beberapa diantaranya adalah kegiatan sebagai berikut:
(1) Menyediakan dan Memastikan Akses pada Air Bersih melalui program
PAMSIMAS (Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi berbasis Masyarakat).
Program PAMSIMAS dilakukan lintas K/L termasuk Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional/ Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional
(Bappenas/Kementerian PPN), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat (KemenPUPERA), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian
Dalam Negeri (Kemendagri). Selain pemerintah pusat, PAMSIMAS juga dilakukan
dengan kontribusi dari pemerintah daerah serta masyakart melalui pelaksanaan
beberapa jenis kegiatan seperti dibawah:
• Meningkatkan praktik hidup bersih dan sehat di masyarakat
• Meningkatkan jumlah masyarakat yang memiliki akses air minum dan sanitasi
yang berkelanjutan
• Meningkatkan kapasitas masyarakat dan kelembagaan lokal (pemerintah
daerah maupun masyarakat) dalam penyelenggaraan layanan air minum dan
sanitasi berbasis masyarakat
• Meningkatkan efektifitas dan kesinambungan jangka panjang pembangunan
sarana dan prasarana air minum dan sanitasi berbasis masyarakat.
(2) Menyediakan dan Memastikan Akses pada Sanitasi melalui Kebijakan Sanitasi
Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang pelaksanaanya dilakukan oleh Kementerian

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 163


PROGRAM INOVASI DESA

Kesehatan (Kemenkes) bersama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan


Perumahan Rakyat (KemenPUPERA). Kegiatan ini meliputi gerakan peningkatan
gizi/Scaling Up Nutrition (SUN) Movement yang hingga 2015 telah menjangkau
26.417 desa/kelurahan;
(3) Melakukan Fortifikasi Bahan Pangan (Garam, Terigu, dan Minyak Goreng),
umumnya dilakukan oleh Kementerian Pertanian;
(4) Menyediakan Akses kepada Layanan Kesehatan dan Keluarga Berencana (KB)
melalui dua program:
Program KKBPK (Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan
Keluarga) oleh BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional)
bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota). Kegiatan yang
dilakukan meliputi:
• Penguatan advokasi dan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) terkait
Program KKBPK
• Peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB yang merata
• Peningkatan pemahaman dan kesadaran remaja mengenai kesehatan
reproduksi dan penyiapan kehidupan berkeluarga
• Penguatan landasan hukum dalam rangka optimalisasi pelaksanaan
pembangunan bidang Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB)
• Penguatan data dan informasi kependudukan, KB dan KS
Program Layanan KB dan Kesehatan Seksual serta Reproduksi (Kespro) oleh LSM
(Lembaga Swadaya Masyarakat) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia
(PKBI). Kegiatan yang dilakukan adalah:
• Menyediakan pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi yang terjangkau
oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk difabel (seseorang dengan
kemampuan berbeda) dan kelompok marjinal termasuk remaja
• Menyediakan pelayanan penanganan kehamilan tak diinginkan yang
komprehensif yang terjangkau.
• Mengembangkan standar pelayanan yang berkualitas di semua strata
pelayanan, termasuk mekanisme rujukan pelayanan kesehatan seksual dan
reproduksi
• Melakukan studi untuk mengembangkan pelayanan yang berorientasi pada
kepuasan klien, pengembangan kapasitas dan kualitas provider.
• Mengembangkan program penanganan kesehatan seksual dan reproduksi
pada situasi bencana, konflik dan situasi darurat lainnya.
• Mengembangkan model pelayanan KB dan Kesehatan Produksi (Kespro)
melalui pendekatan pengembangan masyarakat.
(5) Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN): Kementerian Kesehatan
(Kemenkes) telah melakukan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)-

164| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Penerima Bantuan Iuran (PBI) berupa pemberian layanan kesehatan kepada


keluarga miskin dan saat ini telah menjangkau sekitar 96 juta individu dari keluarga
miskin dan rentan.
(6) Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal) yang dilaksanakan
oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan memberikan layanan kesehatan
kepada ibu hamil dari keluarga/rumah tangga miskin yang belum mendapatkan
JKN-Penerima Bantuan Iuran/PBI.
(7) Memberikan Pendidikan Pengasuhan pada Orang tua.
(8) Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universal yang dilakukan oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Program
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Beberapa kegiatan yang dilakukan berupa:
(9) Perluasan dan peningkatan mutu satuan PAUD.
• Peningkatan jumlah dan mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) PAUD.
• Penguatan orang tua dan masyarakat.
• Penguatan dan pemberdayaan mitra (pemangku kepentingan, stakeholders).
(10) Memberikan Pendidikan Gizi Masyarakat Program Perbaikan Gizi Masyarakat yang
dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan (melalui Puskesmas dan Posyandu)
Kegiatan yang dilakukan berupa:
• Peningkatan pendidikan gizi.
• Penanggulangan Kurang Energi Protein.
• Menurunkan prevalansi anemia, mengatasi kekurangan zinc dan zat besi,
mengatasi Ganguan
• Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) serta kekurangan Vitamin A
• Perbaikan keadaan zat gizi lebih.
• Peningkatan Survailans Gizi.
• Pemberdayaan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga/Masyarakat.
(11) Memberikan Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi serta Gizi pada
Remaja, berupa Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja yang dilaksanakan oleh
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
(PKPR) termasuk pemberian layanan konseling dan peningkatan kemampuan
remaja dalam menerapkan Pendidikan dan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS).
(12) Menyediakan Bantuan dan Jaminan Sosial bagi Keluarga Miskin, misalnya
melalui Program Subsidi Beras Masyarakat Berpenghasilan Rendah (Raskin/Rastra)
dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang dilaksanakan oleh Kementerian Sosial
(Kemensos). Kegiatannya berupa pemberian subsidi untuk mengakses pangan
(beras dan telur) dan pemberian bantuan tunai bersyarat kepada ibu Hamil,
Menyusui dan Balita.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 165


PROGRAM INOVASI DESA

(13) Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Gizi melalui Program Ketahanan Pangan
dan Gizi yang dilaksanakan Lintas K/L yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian
Koperasi, Kemendagri. Kegiatan yang dilakukan berupa:
• Menjamin akses pangan yang memenuhi kebutuhan gizi terutama ibu hamil,
ibu menyusui, dan anak-anak.
• Menjamin pemanfaatan optimal pangan yang tersedia bagi semua golongan
penduduk.
• Memberi perhatian pada petani kecil, nelayan, dan kesetaraan gender.
• Pemberdayaan Ekonomi Mikro bagi Keluarga dengan Bumil KEK (Kurang
Energi Protein).
• Peningkatan Layanan KB.
Berdasarkan identifikasi kebijakan dan program yang seharusnya potensial untuk
membantu mengurangi pervalensi stunting seperti penjelasan diatas, pertanyaan
selanjutnya adalah mengapa hingga saat ini Intervensi Stunting belum efektif dan
prosentase prevalensi stunting masih cukup tinggi di Indonesia? (Berkisar di 37%)
Beberapa hal yang kemungkinan menjadi penyebab belum efektifnya kebijakan
serta program Intervensi Stunting yang ada dan telah dilakukan sebagai berikut:
a. Kebijakan dan regulasi terkait Intervensi Stunting belum secara maksimal dijadikan
landasan bersama untuk menangani stunting, contohnya bisa dilihat pada grafik 2
yang menunjukkan belum maksimalnya fungsi alokasi anggaran kesehatan.
b. Kementerian/Lembaga (K/L) melaksanakan program masing-masing tanpa
koordinasi yang cukup.
c. Program-program Intervensi Stunting yang telah direncanakan belum seluruhnya
dilaksanakan.
d. Program/intervensi yang ada (baik yang bersifat spesifik gizi maupun sensitif gizi)
masih perlu ditingkatkan rancangannya, cakupannya, kualitasnya dan sasarannya.
e. Program yang secara efektif mendorong peningkatan pengetahuan gizi yang baik
dan perubahan perilaku hidup sehat masyarakat belum banyak dilakukan.
f. Program-program berbasis komunitas yang efektif di masa lalu tidak lagi
dijalankan secara maksimal seperti sebelumnya misalnya akses ke Posyandu, PLKB,
kader PKK, Dasawisma, dan lainnya, serta;
g. Pengetahuan dan kapasitas pemerintah baik pusat maupun daerah dalam
menangani stunting perlu ditingkatkan.

D. Rekomendasi Rencana Aksi Bersama dan Terobosan untuk Menangani


Stunting
Pada Rapat Terbatas tentang Intervensi Stunting yang dipimpin oleh Wakil Presiden
Republik Indonesia, Jusuf Kalla, selaku Ketua Tim Nasional Percepatan Penanggulangan

166| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Kemiskinan (TNP2K) mengundang jajaran menteri dan kepala lembaga yang memiliki
dan melaksanakan kebijakan dan program sebagai upaya untuk menangani stunting
pada hari Rabu, 12 Juli 2017 (baik secara langsung maupun tidak), diusulkan beberapa
rekomendasi rencana aksi untuk menangani masalah stunting.
Rapat yang dilakukan tersebut bertujuan untuk memetakan masalah stunting serta
merumuskan dan mempertajam langkah-langkah penanganannya untuk kemudian akan
dilaporkan kepada Presiden Republik Indonesia (RI). Presiden RI menaruh perhatian
yang cukup besar terkait isu stunting terutama untuk mencari langkah terobosan dalam
menangani dan mengurangi stunting.
Rekomendasi rencana aksi Intervensi Stunting diusulkan menjadi 5 pilar utama
dengan penjelasan sebagai berikut:

• Pilar 1: Komitmen dan Visi Pimpinan Tertinggi Negara. Pada pilar ini,
dibutuhkan Komitmen dari Presiden/Wakil Presiden untuk mengarahkan K/L
terkait Intervensi Stunting baik di pusat maupun daerah. Selain itu, diperlukan juga
adanya penetapan strategi dan kebijakan, serta target nasional maupun daerah
(baik provinsi maupun kab/kota) dan memanfaatkan Sekretariat Sustainable
Development Goals/SDGs dan Sekretariat TNP2K sebagai lembaga koordinasi dan
pengendalian program program terkait Intervensi Stunting.
• Pilar 2: Kampanye Nasional berfokus pada Peningkatan Pemahaman,
Perubahan Perilaku, Komitmen Politik dan Akuntabilitas. Berdasarkan
pengalaman dan bukti internasional terkait program program yang dapat secara
efektif mengurangi pervalensi stunting, salah satu strategi utama yang perlu segera
dilaksanakan adalah melalui kampanye secara nasional baik melalui media masa,
maupun melalui komunikasi kepada keluarga serta advokasi secara berkelanjutan.
• Pilar 2: Kampanye Nasional berfokus pada Peningkatan Pemahaman,
Perubahan Perilaku, Komitmen Politik dan Akuntabilitas. Berdasarkan
pengalaman dan bukti internasional terkait program program yang dapat secara
efektif mengurangi pervalensi stunting, salah satu strategi utama yang perlu segera
dilaksanakan adalah melalui kampanye secara nasional baik melalui media masa,
maupun melalui komunikasi kepada keluarga serta advokasi secara berkelanjutan.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 167


PROGRAM INOVASI DESA

• Pilar 3: Konvergensi, Koordinasi, dan Konsolidasi Program Nasional, Daerah,


dan Masyarakat.
• Pilar ini bertujuan untuk memperkuat konvergensi, koordinasi, dan konsolidasi,
serta memperluas cakupan program yang dilakukan oleh Kementerian/Lembaga
(K/L) terkait. Di samping itu, dibutuhkan perbaikan kualitas dari layanan program
yang ada (Puskesmas, Posyandu, PAUD, BPSPAM, PKH dll) terutama dalam
memberikan dukungan kepada ibu hamil, ibu menyusui dan balita pada 1.000 HPK
serta pemberian insentif dari kinerja program Intervensi Stunting di wilayah sasaran
yang berhasil menurunkan angka stunting di wilayahnya. Terakhir, pilar ini juga
dapat dilakukan dengan memaksimalkan pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK)
dan Dana Desa untuk mengarahkan pengeluaran tingkat daerah ke intervensi
prioritas Intervensi Stunting.
• Pilar 4: Mendorong Kebijakan “Food Nutritional Security”. Pilar ini berfokus
untuk (1) mendorong kebijakan yang memastikan akses pangan bergizi, khususnya
di daerah dengan kasus stunting tinggi, (2) melaksanakan rencana fortifikasi bio-
energi, makanan dan pupuk yang komprehensif, (3) pengurangan kontaminasi
pangan, (4) melaksanakan program pemberian makanan tambahan, (5)
mengupayakan investasi melalui Kemitraan dengan dunia usaha, Dana Desa, dan
lain-lain dalam infrastruktur pasar pangan baik ditingkat urban maupun rural.
• Pilar 5: Pemantauan dan Evaluasi. Pilar yang terakhir ini mencakup pemantauan
exposure terhadap kampanye nasional, pemahaman serta perubahan perilaku
sebagai hasil kampanye nasional stunting, pemantauan dan evaluasi secara berkala
untuk memastikan pemberian dan kualitas dari layanan program Intervensi
Stunting, pengukuran dan publikasi secara berkala hasil Intervensi Stunting dan
perkembangan anak setiap tahun untuk akuntabilitas, Result-based planning and
budgeting (penganggaran dan perencanaan berbasis hasil) program pusat dan
daerah, dan pengendalian program-program Intervensi Stunting.

Daftar Pustaka
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (2017) 100 Kabupaten/Kota
Prioritas Untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). Jakarta: Sekretariat Wakil Presiden
Republik Indonesia

168| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 169


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 2.4.1

Keterbukaan Informasi Publik dalam Pembangunan Desa

A. Pendahuluan
Hak atas informasi dan dokumen yang ada pada Badan Publik merupakan Hak Azazi
Manusia (HAM) berdasarkan Pasal 19 Deklarasi Umum Hak Azazi Manusia (DUHAM)
tanggal 10 Desember 1948. Hak atas informasi dan dokumen yang ada pada Badan
Publik juga merupakan Hak Konsitusional Warga Negara Indonesia yang diberikan,
dijamin, dan sesuai dengan Pasal 28F Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 hasil Amandemen Kedua.
Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia telah
mengeluarkan Undang Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik (KIP) sebagai tindak lanjut dari perintah Pasal 28F UUD NRI 1945 tanggal 30 April
2008 diiringi dengan peraturan pelaksanaanya berupa Peraturan Pemerintah Nomor 61
Tahun 2010 tentang Keterbukaan Informasi Publik. UU 14.2008 mengatur bahwa
berlakunya seluruh ketentuan dalam UU 14/2008 tersebut adalah 2 (dua) tahun
semenjak diundangkan atau tahun 2010.
UU 14/2008 dan PP 61/2010 pada prinsipnya mengatur bagaimana dan apa
kewajiban Badan Publik dalam rangka melayani masyarakat agar dengan cara mudah,
sederhana, cepat, dan berbiaya murah (azas KIP) dapat memperoleh informasi dan
dokumen yang ada pada Badan Publik guna mengembangka diri dan lingkungannya.
Dan juga mengatur bagaimana penyelesaian jika terjadi sengketa informasi antara
masyarakat dengan Badan Publik.
Badan Publik yang dimaksud dalam UU 14/2008 adalah seluruh lembaga yang
berada dibawah cabang kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Juga termasuk
Badan Publik adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD), Partai Politik, seluruh lembaga yang mengumpulkan uang dari masyarakat,
seluruh lembaga yang menerima uang dari luar negeri, dan seluruh lembaga yang
sebagian atau seluruh dananya berasal dari Anggaran Pendapat Belanja Negara (APBN)
dan atau dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Kesemua lembaga diatas
diwajibkan oleh UUD NRI 1945 dan UU 14/2008 untuk mengelola seluruh informasi dan
dokumennya agar bisa diakses oleh masyarakat, kecuali informasi dan dokumen yang
dikecualikan setelah melalui uji konsekuensi dan memenuhi syarat sebagai informasi dan
dokumen yang boleh dikecualikan (tertutup) sesuai ketentuan Pasal 17 UU 14/2008.
Tahun 2009 sudah terbentuk Komisi Informasi Pusat (KIP) Republik Indonesia
untuk melaksanakan UU 14/2008, dan saat ini Komisi Informasi Pusat dijalankan oleh 7
(Tujuh) Komisioner periode ketiga (2017-2021). Dan juga sudah terbentuk 30 (Tiga
Puluh) Komisi Informasi Provinsi dan beberapa Komisi Informasi Kabupaten/Kota. Komisi

170| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Informasi wajib dibentuk di tingkat Pusat dan Provinsi dan dapat dibentuk ditingkat
Kabupaten Kota.
Komisi Informasi disemua tigkatan bertanggungjawab untuk memastikan
terselenggaranya Keterbukaan Informasi di semua Badan Publik dan bertanggungjawab
juga untuk memastikan Badan Publik melayani permohonan informasi dan dokumen
dari masyarakat. Komisi Informasi diberi tugas dan wewenang juga untuk menerima,
memeriksa, dan memutus sengketa informasi antara masyarakat dengan Badan Publik
melalui Ajudikasi Nonlitigasi yang didalamnya didahului dengan proses Mediasi. Komisi
Informasi Pusat berwenang untuk menyidangkan sengketa informasi jika sengketa itu
melibatkan Badan Publik tingkat nasional, sementara Komisi Informasi Provinsi dan
Kabupaten/Kota berwenang untuk menyidangkan sengketa informasi antara masyarakat
dengan Badan Publik sesuai tingkatannya. Untuk menjalankan UU 14/2008 Komisi
Informasi pusat mengeluarkan Standar Layanan Informasi dalam bentuk Peraturan
Komisi Informasi (PERKI).

B. Mandat Undang-Undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa berkaitan Keter-


bukaan Informasi Publik
Dalam Undang-Undang Desa, keterbukaan informasi terdapat dalam beberapa pasal
seperti
Pertama sebagaimana diatur dalam pasal 24, yang menyatakan bahwa asas
penyelenggaraan Pemerintahan Desa salah satunya adalah keterbukaan. Selanjutnya
dinyatakan pada bagian penjelasan bahwa yang dimaksud dengan keterbukaan adalah
asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang
benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan Pemerintahan Desa
dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kedua pada pasal 26 ayat (4) huruf (f) diatur bahwa dalam menjalankan tugasnya
Kepala Desa berkewajiban untuk melaksanakan prinsip tata Pemerintahan Desa yang
akuntabel, transparan, profesional, efektif dan efisien, bersih, serta bebas dari kolusi,
korupsi, dan nepotisme. Masih pada pasal dan ayat yang sama, pada huruf (p) diatur
bahwa Kepala Desa juga memiliki kewajiban untuk memberikan informasi kepada
masyarakat Desa.
Ketiga pada pasal 27 huruf (d) diatur bahwa dalam menjalankan hak, tugas,
kewenangan, dan kewajiban Kepala Desa wajib memberikan dan/atau menyebarkan
informasi penyelenggaraan pemerintahan secara tertulis kepada masyarakat Desa setiap
akhir tahun anggaran.
Keempat Pasal 68 ayat (1) huruf (a) dinyatakan bahwa masyarakat desa berhak
meminta dan mendapatkan informasi dari Pemerintah Desa serta mengawasi kegiatan
penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan
kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa.
Kelima pada pasal yang mengatur tentang keterbukaan informasi yaitu pasal 86
ayat (1) dan ayat (5) yang menyatakan bahwa desa berhak mendapatkan akses informasi
melalui sistem informasi desa yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 171


PROGRAM INOVASI DESA

Kabupaten/Kota dan sistem informasi tersebut dikelola oleh Pemerintah Desa dan dapat
diakses oleh masyarakat desa dan semua pemangku kepentingan.
Dalam peraturan pelaksanaaannya, pada Pasal 127 ayat (2) huruf e Peraturan
Pemerintah tentang Peraturan Pelaksanaan UU Desa juga menyatakan bahwa upaya
pemberdayaan masyarakat Desa dilakukan dengan mengembangkan sistem
transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan
pembangunan desa.

C. Badan Publik Desa


Pemerintahan Desa dengan segala perangkatnya adalah merupakan bagian dari cabang
kekuasaan eksekutif dan karenanya merupakan Badan Publik yang wajib menjalankan
Pemerintahan Desa sesuai dengan prinsip-prinsip transparansi yang diatur dalam UU
14/2008, dan wajib mengelola informasi dan dokumen sesuai dengan standar yang
ditetapkan oleh Komisi Informasi, serta wajib melayani permintaan informasi daan
dokumen dari masyarakat sesuai dengan UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik dan seuruh peraturan pelaksanaanya.
Tidak hanya berhenti pada itu, Pemerintahan Desa harus melibatkan partisipasi
masyarakat mulai dari perencanaan (Musrenbang misalnya), pelaksanaan, sampai
evaluasi dan laporan semua kegiatan dan program yang dijalankan oleh Pemerintah
Desa. Pemerintah Desa juga diminta untuk mengeluarkan Peraturan Desa terkait dengan
Keterbukaan Informasi Desa.
Hal ini diperlukan agar masyarakat Desa bisa memahami dengan baik bagaimana
untuk mendapatkan informasi dan dokumen terkait pelaksanaan Pemerintahan Desa
maupun pelaksanaan program dan kegiatan yang diselenggarakan Pemerintahan Desa,
sebagai bagian integral untuk pengembangan diri dan lingkungan masyarakat Desa.

D. Pendamping Desa
Pendamping Desa dan atau pihak terkait dengan pemberdayaan masyarakat Desa
(Pemerintah Kabupaten danseluruh instansi terkait), pelaksana dari program-program
pemerintah terkait Desa (misal : Program Inovasi Desa) diharapkan menjadi ujung
tombak dalam membangun transparansi di Desa, dalam membangun pengelolaan
informasi yang terbuka di Desa, dalam membangun masyarakat yang melek infomasi di
Desa.
Pendamping Desa diharapkan mampu untuk meyakinkan Pemerintah Desa agar
menyiapkan seluruh perangkat yang dibutuhkan untuk melayani Hak Konstitusional
untuk mendapatkan informasi yang ada di seluruh Badan Publik Desa. Termasuk dan
tidak terbatas pada penyiapan kursi dan meja untuk masyarkat yang ingin menghadiri
Musrenbang misalnya. Termasuk dan tidak terbatas pada mengeluarkan Peraturan Desa
terkait pelayanan informasi bagi masyarkat Desa misalnya. Dan lain sebagainya.

172| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

E. Mekanisme Mendapatkan Informasi


Mekanisme mendapatkan informasi secara sederhana digambarkan dalam Diagram 1
dibawah ini:

Diagram 1 : Mekanisme memperoleh Informasi

F. Mekanisme Penyelesaian Sengketa Informasi


Mekanisme penyelsaian sengketa Informasi secara sederhana sebagaimana digambar-
kan dalam Diagram 2 dibawah ini

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 173


PROGRAM INOVASI DESA

Diagram 2 : Mekanisme penyelesian sengketa informasi

Sebagai penekanan, sebagaimana disampaikan diatas, kedua diagram ini haruslah


bisa dijalankan sesuai dengan azas dan prinsip-prinsip SEDERHANA, CEPAT, dan
BERBIAYA MURAH. Permohonan Informasi Publik dan Penyelesaian Sengketa Informasi
Publik di Komisi Informasi tidaklah boleh membenani masyarakat diluar kepatutan dan
kewajaran.

G. Penutup
Demikian Lembar Informasi ini disusun dengan sangat sederhana dan ringkas. Besar
harapan Penyusun agar pembaca yang budiman berkenan memandang lembaran ini
sebagai pintu gerbang untuk masuk kedalam perpustakaan, kedalam diskusi-diskusi,
kedalam seminar dan workshop yang tentunya akan lebih memberikan pemahaman
kepada kita semua betapa penting dan strategisnya agenda keterbukaan informasi ini
bagi perkembangan bangsa dan negara kita tercinta kedpan, untuk agenda
pemberdayaan masyarkat Indonesia sehingga makin berdaya.
Bukan hal musthil, hasil kerja kita ini akan membawa negara dan masyarkat
Indonesia selangkah demi selangkah menjadi NEGARA DAN MASYARKAT NOMER SATU
DIDUNIA melalui sebuah karya dan kerja yang mampu mengispirasi banyak orang dan
banyak negara, Allahumma Amien

174| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 175


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 2.1.1

Hubungan Antar Pihak dalam


Pelaksanaan Program Inovasi Desa (PID)

A. Latar Belakang
Pengelolaan Program Inovasi Desa (PID) berhubungan dengan para pihak yaitu;
Pemerintah (Pusat, Provinsi, Kabupaten, dan Desa), Lembaga Donor (Bank Dunia),
Tenaga Ahli, Tenaga Pendamping Profesional, Tim Inovasi Kabupaten, Penyedia
Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD), Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID).
Hubungan ini bersifat kompleks. Keterlibatan para pihak dari berbagai sektor dan
tingkatan, mulai pusat, provinsi, kabupaten hingga kecamatan dan Desa. Pelaku yang
terlibat bervariasi mulai unsur pemerintah, tenaga ahli, tenaga pendamping profesional
dan pelaku masyarakat. Semua saling berinteraksi dan bekerja sama satu sama lain
sesuai dengan kewenangan, ruang lingkup tugas dan tanggung jawab setiap organisasi,
unit kerja dan pelaku dalam melaksanakan program ini.
Diperlukan kejelasan jenis hubungan antar pihak pengelola program yang saling
berinteraksi ataupun komunikasi. Hal ini diperlukan untuk menciptakan harmonisasi
kerja para pihak yang mempunyai tugas dan tanggungjawab masing-masing. Agar
interaksi ataupun kerjasama diantara para pihak tersebut berjalan secara proporsional
dengan alur relasi yang jelas, mudah dipahami, dan menghasilkan output maksimal,
diperlukan Standard Operating Procedures (SOP) Hubungan Antar Pihak (HAP) yang
mengatur lalu lintas kewenangan, tugas, dan tanggung jawab para pihak yang
dimaksudkan.

B. Maksud dan Tujuan


1. Maksud
SOP HAP disusun dengan maksud untuk menata alur interaksi dan komunikasi yang jelas
antar pihak sesuai dengan posisi, tugas, wewenang, serta tanggung jawab yang ada di
berbagai tingkatan termasuk hubungan dengan pihak lain dalam rangka membangun
sinergi hubungan dan meminimalkan terjadinya konflik para pihak agar pelaksanaan PID
berjalan secara maksimal.

2. Tujuan
Penyusunan SOP HAP bertujuan untuk:
a. mengenali para pihak yang terlibat dalam program ini;
b. mengatur sistem mekanisme hubungan antar pihak;

176| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

c. mengatur jenis hubungan antar pihak;


d. menghindari terjadinya konflik antar pihak;
e. mencegah duplikasi manajemen, dan;
f. mencegah terjadinya penghindaran tugas dan tanggung jawab yang seharusnya
menjadi tugas dan tanggung jawab pihak tertentu.

C. Landasan dan Rujukan


SOP HAP disusun berlandaskan dan merujuk pada regulasi dan dokumen PID:
1. UU 6 Tahun 2014 Tentang Desa
2. UU 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
3. UU 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara
4. UU 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah
5. PP 43 Tahun 2014 Tentang Pelaksanaan UU 6 Tahun 2014
6. PP 47 Tahun 2015 Tentang Perubahan atas PP 43 Tahun 2014
7. PP 60 Tahun 2014 Tentang Dana Desa yang Berasal dari APBN
8. PP 22 Tahun 2015 Tentang Perubahan atas PP 60 Tahun 2014
9. PP 8 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua atas PP 60 Tahun 2014
10. PP 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan dan Pemerintahan
11. PP 7 Tahun 2008 Tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan
12. PP 16 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah
13. Perpres 11 Tahun 2015 Tentang Kemendagri
14. Perpres 12 Tahun 2015 Tentang Kemendesa PDTT
15. Permendes 2 Tahun 2015 Tentang Pedoman Tata Tertib dan Mekanisme
Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa
16. Permendes 3 Tahun 2015 Tentang Pendamping Desa
17. Permendes 4 Tahun 2015 Tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan, dan
Pembubaran Badan Usaha Milik Desa
18. Permendes Nomor 22 Tahun 2016 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana
Desa Tahun 2017
19. Permendes 4 Tahun 2017 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 22 Tahun 2016 tentang
Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2017
20. Permendes 2 Tahun 2016 Tentang Indeks Data Membangun
21. Permendes 5 Tahun 2016 Tentang Pembangunan Kawasan PerDesaan

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 177


PROGRAM INOVASI DESA

22. Permendagri 111 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Peraturan Desa
23. Permendagri 112 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Kepala Desa
24. Permendagri 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa
25. Permendagri 114 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pembangunan Desa
26. Permendagri 81 Tahun 2015 Tentang Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan
27. Permendagri 82 Tahun 2015 Tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Kepala
Desa
28. Permendagri 83 Tahun 2015 Tentang Pengangkatan dan Pemberhentian
Perangkat Desa
29. Permendagri 84 Tahun 2015 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat
Desa
30. Permendagri 1 Tahun 2016 Tentang Pengelolaan Aset Desa
31. Permendagri 44 Tahun 2016 Tentang Kewenangan Desa
32. Permendagri 2 Tahun 2017 Tentang Standar Pelayanan Minimal Desa
33. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Desa
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Tentang Nomor 900/5356/SJ
Nomor 959/KMK.07/2015 49 Tahun 2015 Tentang Percepatan Penyaluran,
Pengelolaan, dan Penggunaan Dana Desa
34. Peraturan Menteri Keuangan 48/PMK.07/2016, Pengelolaan Transfer ke Daerah
dan Dana Desa
35. Peraturan Menteri Keuangan 49/PMK.07/2016 Tentang Tata Cara Pengalokasian,
Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan dan Evaluasi Dana Desa
36. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No.PER/05/M.PAN/
03/2008 Tentang Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah
37. Keputusan Menteri Desa Tentang Pedoman Umum PID dengan Lampiran:
a. Pedum PID
b. Daftar Lokasi Alokasi Pengelolaan Pengetahuan dan Inovasi Desa (PPID)
c. Daftar Lokasi Alokasi Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD)
d. Panduan Key Performance Indicator (KPI)
38. Surat Edaran Dirjen PPMD Berkenaan dengan Keputusan Menteri Desa PDTT
Tentang Pedoman Umum PID termasuk lampiran-lampirannya.

D. Para Pihak
Para pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan PID adalah
a. Pemerintah

178| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

a. Kemendesa PDTT
b. Kementerian PPN/Bappenas
c. Kemendagri
d. Kemenkeu
e. BPKP
b. Bank Dunia
c. Satuan Kerja (Satker)
a. Satker Pusat
b. Satker Provinsi
c. Satker Kabupaten/Kota
d. Tenaga Ahli (TA)
a. TA Pusat
b. TA Provinsi
e. Tenaga Pendamping Profesional
f. Tim Inovasi Kabupaten (TIK)
g. Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD)
h. Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID)

E. Jenis Hubungan
Pentingnya memahami jenis hubungan antar pihak dimaksudkan untuk memandu
interaksi ataupun komunikasi di antara pihak-pihak pengelola program. Secara umum,
penjelasan ini digunakan untuk menciptakan harmonisasi kerja para pihak yang
mempunyai tugas dan tanggungjawab masing-masing. Harmonisasi hubungan ini
dilakukan melalui pemahaman terhadap hubungan tugas dan tanggungjawab para
pihak. Hubungan ini dapat dilakukan secara formal tertulis dan memiliki kekuatan
hukum, dan atau dengan cara lain yang dianggap efektif. Penggunaan berbagai jenis
hubungan yang ada di bawah ini sangat tergantung pada aspek dan masalah yang
dihadapi. Jenis-jenis hubungan para pihak mencakup:
1. Hubungan instruktif adalah hubungan yang dimaknai sebagai hubungan antar
pihak dimana kedudukan pihak yang satu lebih tinggi dari pihak lainnya dalam
kerangka kesatuan kerja. Dalam hal ini pihak yang lebih tinggi memiliki hak untuk
memberikan perintah tugas dan atau membuat keputusan untuk dilaksanakan dan
dipatuhi oleh pihak di bawahnya.
2. Hubungan koordinatif adalah hubungan yang berkaitan dengan penyampaian
seluruh informasi yang diperlukan dari satu pihak kepada pihak lain lain agar
terjadi singkronisasi kegiatan. Secara umum, setiap pihak baik pada tingkat yang
lebih tinggi ataupun yang setara dapat menggunakan jenis hubungan ini.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 179


PROGRAM INOVASI DESA

3. Hubungan konsultatif adalah suatu hubungan untuk mendapatkan masukan,


nasihat dan pendapat terhadap pihak di atasnya atau yang setara yang dianggap
mempunyai pengalaman dan pemahaman yang lebih baik tentang aspek dan atau
masalah pelaksanaan program sehingga perlu dipertimbangkan.
4. Hubungan pembinaan/pembimbingan adalah hubungan antara satu pihak
terhadap pihak lain dalam rangka peningkatan kualitas kinerja yang bersangkutan
dalam rangka pengelolaan dan pelaksanaan program.
5. Hubungan pengawasan/pemeriksaan adalah hubungan antara satu pihak
terhadap yang berada di bawahnya dalam rangka pengendalian, pengawasan dan
pemeriksaan/audit pelaksanaan program.
6. Hubungan pelaporan adalah hubungan pemberian informasi dari bawah ke atas.
Jenis pelaporan dapat bersifat standar rutin bulanan dan atau kontekstual sesuai
dengan tahapan pelaksanan program.

F. Ruang Lingkup dan Sistematika


Ruang Lingkup SOP HAP meliputi penjelasan mengenai hubungan para pihak pihak
dalam pelaksanaan PID dengan sistematika sebagai berikut:
1. Pendahuluan
2. Maksud dan Tujuan
3. Landasan dan Rujukan
4. Para Pihak
5. Jenis Hubungan
6. Ruang Lingkup dan Sistematika
7. Hubungan Pemerintah dengan Bank Dunia
8. Hubungan Antar Pemerintah (Kementerian/Lembaga)
a. Kemendesa PDTT
b. Kemenkeu
c. Kementerian PPN/Bappenas
d. Kemendagri
e. BPKP
9. Hubungan Antar Satuan Kerja (Satker)
a. Satker Pusat
b. Satker Provinsi
c. Satker Kabupaten
10. Hubungan Satker dengan Tenaga Ahli dan Tenaga Pendamping Profesional

180| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

11. Hubungan Antar Tenaga Ahli dan Tenaga Pendamping Profesional


a. Tenaga Ahli Pusat
b. Tenaga Ahli Provinsi
c. Tenaga Pendamping Profesional

G. Hubungan Pemerintah dengan Bank Dunia


a. Kemenkeu untuk dan atas nama Pemerintah melakukan perikatan perjanjian
pinjaman dengan Bank Dunia;
b. Bappenas bekerjasama dengan Bank Dunia dalam kaitan fungsi perumusan
kebijakan, pemikiran strategis, koordinasi dan administrasi dalam rangka
penyiapan dan pelaksanaan PID;
c. Kemendesa PDTT sebagai executing agency bekerjasama dengan Bank Dunia
dalam rangka penyiapan dan pelaksanaan PID;
d. Kemendagri melakukan pembinaan terhadap Pemerintah Desa bekerja sama
dengan Bank Dunia dalam rangka penyiapan dan pelaksanaan PID;
e. BPKP sebagai Auditor Negara melakukan audit keuangan PID sesuai kesepakatan
dengan Bank Dunia;
f. Kemendesa PDTT dan Bank Dunia secara bersama-sama atau sendiri-sendiri
melakukan pengawasan, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PID;
g. Kemendesa PDTT dan Bank Dunia melakukan penyempurnaan kebijakan PID
sesuai kebutuhan dan kesepakatan bersama.

H. Hubungan antar Pemerintah (Kementerian/Lembaga)


a. Melaksanakan koordinasi secara rutin melalui pertemuan, rapat, monitoring
bersama termasuk membangun sistem pertukaran informasi program dari satu
pihak kepada pihak lain lain agar terjadi singkronisasi kegiatan;
b. Membangun konsultasi bersama termasuk dalam hal memberikan dan
memperoleh masukan, nasihat dan pendapat terhadap pihak lain yang dianggap
mempunyai pengalaman dan pemahaman yang lebih baik tentang program
sebagai bahan kebijakan;
c. Menyelenggarakan kegiatan bersama berupa kerjasama kegiatan, pelatihan,
ekspose atau pagelaran, workshop termasuk mengikutsertakan para pihak terkait
dalam rangka meningkatkan bobot dan kualitas kegiatan program.
I. Hubungan antar Satuan Kerja (Satker) Pusat
a. Melaksanakan koordinasi tingkat pusat secara rutin melalui pertemuan, rapat,
monitoring bersama termasuk membangun sistem pertukaran informasi program
dari satu pihak kepada pihak lain lain agar terjadi singkronisasi kegiatan;

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 181


PROGRAM INOVASI DESA

d. Membangun konsultasi bersama tingkat pusat termasuk dalam hal memberikan


dan memperoleh masukan, nasihat dan pendapat terhadap pihak lain yang
dianggap mempunyai pengalaman dan pemahaman yang lebih baik tentang
program sebagai bahan kebijakan.
b. Menyelenggarakan kegiatan bersama di pusat maupun di daerah berupa
kerjasama kegiatan, pelatihan, ekspose atau pagelaran, workshop termasuk
mengikutsertakan para pihak terkait dalam rangka meningkatkan bobot dan
kualitas kegiatan program.

J. Hubungan antar Satker Provinsi


a. Melaksanakan koordinasi tingkat provinsi secara rutin melalui pertemuan, rapat,
monitoring bersama termasuk membangun sistem pertukaran informasi program
dari satu pihak kepada pihak lain lain agar terjadi singkronisasi kegiatan;
b. Membangun konsultasi bersama tingkat provinsi termasuk dalam hal memberikan
dan memperoleh masukan, nasihat dan pendapat terhadap pihak lain yang
dianggap mempunyai pengalaman dan pemahaman yang lebih baik tentang
program sebagai bahan kebijakan;
c. Menyelenggarakan kegiatan bersama di provinsi maupun di kabupaten/kota
berupa kerjasama kegiatan, pelatihan, ekspose atau pagelaran, workshop termasuk
mengikutsertakan para pihak terkait dalam rangka meningkatkan bobot dan
kualitas kegiatan program.

K. Hubungan Satker dengan Tenaga Ahli dan Tenaga Pendamping Profesional


a. Melakukan kontrak kerja Tenaga Ahli dan Tenaga Pendamping Profesional;
b. Melakukan pembayaran gaji atau honorarium dan tunjangan operasional lain;
c. Melakukan evaluasi kinerja;
d. Meminta dan menerima laporan;
e. Melakukan pembinaan;
f. Memberikan pengarahan, petunjuk, perintah terkait pelaksanaan tugas;
g. Meminta penjelasan, klarifikasi atas pelaksanaan dan permasalahan tugas;
h. Menerima pertanyaaan, klarifikasi atas pelaksanaan dan permasalahan tugas;
i. Menerima pengaduan dan melakukan tindak lanjut penyelesaian masalah;
j. Memberikan asistensi atau bantuan terkait koordinasi lintas dinas dan sektor;
k. Melakukan pemeriksaan tugas-tugas;
l. Memberikan sanksi terhadap pelanggaran dan penyimpangan.

182| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

L. Hubungan antar Tenaga Ahli (TA) Pusat


a. TA PID Pusat dan TA P3MD Pusat membangun sistem koordinasi kerja termasuk
mewujudkan sistem pertukaran informasi program yang diperlukan dari satu
pihak kepada pihak lain lain agar terjadi singkronisasi antar kegiatan dan dalam
rangka pertukaran inovasi dan pengetahuan program;
b. TA PID Pusat dan TA P3MD Pusat menginisiasi forum pertemuan termasuk dalam
hal memberikan dan memperoleh masukan, nasihat dan pendapat terhadap pihak
lain yang dianggap mempunyai pengalaman dan pemahaman yang lebih baik
tentang aspek dan atau masalah sebagai bahan pertimbangan pelaksanaan
program;
c. TA PID Pusat dan TA P3MD Pusat mendukung terselenggaranya kegiatan bersama
antar program di pusat maupun di daerah berupa kerjasama kegiatan, pelatihan,
ekspose atau pagelaran, workshop termasuk mengikutsertakan para pihak terkait
dalam rangka meningkatkan bobot dan kualitas kegiatan program.

M. Hubungan antar Tenaga Ahli (TA) Provinsi


a. TA PID Provinsi dan TA P3MD Provinsi membangun sistem koordinasi kerja
termasuk mewujudkan sistem pertukaran informasi program yang diperlukan dari
satu pihak kepada pihak lain lain agar terjadi singkronisasi antar kegiatan dan
dalam rangka pertukaran inovasi dan pengetahuan program;
b. TA PID Provinsi dan TA P3MD Provinsi menginisiasi forum pertemuan termasuk
dalam hal memberikan dan memperoleh masukan, nasihat dan pendapat terhadap
pihak lain yang dianggap mempunyai pengalaman dan pemahaman yang lebih
baik tentang aspek dan atau masalah sebagai bahan pertimbangan pelaksanaan
program;
c. TA PID Provinsi dan TA P3MD Provinsi mendukung terselenggaranya kegiatan
bersama antar program di pusat maupun di daerah berupa kerjasama kegiatan,
pelatihan, ekspose atau pagelaran, workshop termasuk mengikutsertakan para
pihak terkait dalam rangka meningkatkan bobot dan kualitas kegiatan program.

N. Hubungan antar Tenaga Pendamping Profesional Kabupaten


a. Tenaga Pendamping Profesional Kabupaten P3MD membangun sistem koordinasi
kerja termasuk mewujudkan sistem pertukaran informasi program yang diperlukan
dari satu pihak kepada pihak lain lain agar terjadi singkronisasi antar kegiatan dan
dalam rangka pertukaran inovasi dan pengetahuan program;
b. Tenaga Pendamping Profesional Kabupaten P3MD menginisiasi forum pertemuan
termasuk dalam hal memberikan dan memperoleh masukan, nasihat dan
pendapat terhadap pihak lain yang dianggap mempunyai pengalaman dan
pemahaman yang lebih baik tentang aspek dan atau masalah sebagai bahan
pertimbangan pelaksanaan program;

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 183


PROGRAM INOVASI DESA

c. Tenaga Pendamping Profesional Kabupaten P3MD mendukung terselenggaranya


kegiatan bersama antar program di pusat maupun di daerah berupa kerjasama
kegiatan, pelatihan, ekspose atau pagelaran, workshop termasuk mengikutserta-
kan para pihak terkait dalam rangka meningkatkan bobot dan kualitas kegiatan
program.

O. Penutup
Tugas dan tanggung jawab serta ruang lingkup kewenangan yang lebih rinci untuk para
pihak terkait telah dirumuskan dalam Petunjuk Teknis Operasional (PTO) dan Terms of
Reference (TOR). SOP HAP ini diharapkan menjadi pegangan (aturan main) hubungan
kerja sama para pihak. SOP HAP diharapkan menyelaraskan alur interaksi dan
komunikasi di antara pelaksana program yang terkait dengan tugas dan kewenangan
para pihak dimaksud agar tidak terjadi konflik. Dengan demikian, pengendalian kinerja
program dapat berjalan lebih sinergis, efisien dan efektif.

184| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 185


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 2.2.1

Kerangka Acuan
Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM)
Program Inovasi Desa

A. Latar Belakang
Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa memandatkan bahwa Pemerintah,
Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota memberdayakan masyarakat
Desa dengan: a) menerapkan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
teknologi tepat guna, dan temuan baru untuk kemajuan ekonomi dan pengembangan
potensi Desa; b) meningkatkan kualitas pemerintahan dan masyarakat Desa melalui
pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan; dan c) mengakui dan memfungsikan institusi asli
dan/atau yang sudah ada di masyarakat Desa.
Pendamping terdiri dari pendamping dari unsur pemerintah, pendamping
profesional, dan pendamping organik (skala lokal Desa). Seluruh pendamping bertugas
untuk melaksanakan pendampingan Desa sebagai operasionalisasi atas kebijakan
Pemberdayaan Masyarakat Desa sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 112 ayat
(4) Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Pasal 129 PP No. 43 Tahun
2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa
sebagaimana diubah dengan PP No. 47 Tahun 2015 memandatkan bahwa
Pemberdayaan masyarakat Desa dilaksanakan dengan pendampingan dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan Pembangunan Desa dan Kawasan
Perdesaan. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten/Kota memiliki tanggung-
jawab pendampingan Desa dalam rangka menuju Desa mandiri. Oleh karena
keterbatasan OPD maka perlu dibantu oleh pendamping profesional di Kabupaten,
Kecamatan dan Desa.
Pendamping profesional atau Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten/
Kota, secara umum bertugas meningkatkan kapasitas tenaga pendamping serta
membantu pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan
Desa, pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa dan
pemberdayaan masyarakat Desa.
Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi berwenang menyelenggarakan
pembangunan Desa dan pemberdayaan masyarakat Desa sebagaimana diamanatkan
Perpres No. 12 Tahun 2015 tentang Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal
dan Transmigrasi. Pelaksanaan kewenangan tersebut dimandatkan kepada Direktorat
Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa berdasarkan ketentuan
Pasal 105 Peraturan Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi No. 6/2015 tentang Organisasi

186| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

dan Tata Kerja Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi
yang bertugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang
pembinaan pengelolaan pelayanan sosial dasar, pengembangan usaha ekonomi Desa,
pendayagunaan sumber daya alam dan teknologi tepat guna, pembangunan
infrastruktur Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan. Berdasarkan kewenangan dimaksud, Kementerian Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi melalui Direktorat Jenderal
Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Ditjen PPMD) melaksanakan
kebijakan pendampingan di berbagai jenjang.

B. Tujuan Pengadaan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten/Kota


Pengadaan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten/Kota bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas tenaga pendamping dalam rangka penyelenggaraan
Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan
Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.

C. Komposisi Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten/Kota


Tenaga Ahli pemberdayaan Masyarakat bertugas meningkatkan kapasitas tenaga
pendamping dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan
pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat
Desa sesuai ketentuan Pasal 129 PP No. 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan
UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa sebagaimana telah diubah dengan PP No. 47 Tahun
2015. Berdasarkan tugas dalam peraturan perundang-undangan tersebut komposisi
Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat meliputi:
1. Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa (TA-PMD);
2. Tenaga Ahli Infrastruktur Desa (TA-ID);
3. Tenaga Ahli Pembangunan Partisipatif (TA-PP);
4. Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa (TA-PED);
5. Tenaga Ahli Pengembangan Teknologi Tepat Guna (TA-TTG); dan
6. Tenaga Ahli Pelayanan Sosial Dasar (TA-PSD).

D. Kuota dan Ketentuan Penempatan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


Kuota dan ketentuan penempatan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten/
Kota, ditentukan berdasarkan pemetaan kebutuhan dan jumlah Kecamatan atas
pelaksanaan pendampingan Desa, dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Setiap Kabupaten/Kota akan ditempatkan 4 (empat) sampai dengan 6 (enam)
Tenaga Ahli dengan 3 (tiga) posisi Tenaga Ahli yang diwajibkan yaitu:
(1) 1 (satu) orang Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa (TA-PMD);

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 187


PROGRAM INOVASI DESA

(2) 1 (satu) orang Tenaga Ahli Infrastruktur Desa (TA-ID); dan


(3) 1 (satu) orang Tenaga Ahli Pembangunan Partisipatif (TA-PP).
2. Untuk Kabupaten/Kota yang memiliki jumlah Kecamatan 1 (satu) sampai dengan
5 (lima) Kecamatan, akan ditempatkan 4 (empat) orang Tenaga Ahli yang terdiri
dari:
(1) Mengutamakan 3 (tiga) orang Tenaga Ahli yang terdiri dari 1 (satu) orang
Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa (TA-PMD), 1 (satu) orang
Tenaga Ahli Infrastruktur Desa (TA-ID), dan 1 (satu) orang Tenaga Ahli
Pembangunan Partisipatif (TA-PP);
(2) Menambahkan 1 (satu) orang Tenaga Ahli pilihan sesuai kebutuhan, yaitu:
• 1 (satu) orang Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa (TA-PED); atau
• 1 (satu) orang Tenaga Ahli Pengembangan Teknologi Tepat Guna (TA-
TTG); atau
• 1 (satu) orang Tenaga Ahli Pelayanan Sosial Dasar (TA-PSD).
(3) Tupoksi TAPM yang tidak tersedia akan dilaksanakan oleh TAPM lain yang
ada di Kabupaten tersebut secara kolektif kolegial berdasarkan penugasan
yang dituangkan dalam kontrak.
3. Kabupaten/Kota yang memiliki jumlah Kecamatan lebih dari 5 (lima), akan
ditempatkan 6 (enam) orang Tenaga Ahli, yaitu:
a. 1 (satu) orang Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa (TA-PMD);
b. 1 (satu) orang Tenaga Ahli Infrastruktur Desa (TA-ID);
c. 1 (satu) orang Tenaga Ahli Pembangunan Partisipatif (TA-PP);
d. 1 (satu) orang Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa (TA-PED);
e. 1 (satu) orang Tenaga Ahli Pengembangan Teknologi Tepat Guna (TA-TTG);
dan
f. 1 (satu) orang Tenaga Ahli Pelayanan Sosial Dasar (TA-PSD).

E. Ruang Lingkup, Tugas Pokok, Output Kerja, dan Indikator Kinerja


1. Ruang Lingkup Kerja Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten/Kota
meliputi peningkatan kapasitas pendamping, fasilitasi, koordinasi dan dukungan
kepada pemerintah Kabupaten/Kota dalam penyusunan regulasi dalam
pelaksanaan Undang-undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, dan membantu
untuk menfasilitasi berbagai pengembangan inovasi Desa.
2. Tugas Pokok, Output Kerja dan Indikator Kinerja
Adapun tugas pokok, output kerja dan Indikator Kinerja masing-masing Tenaga
Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten/Kota, adalah sebagai berikut:

188| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(1) Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa (TA-PMD)

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


1) Membantu Terselenggaranya a) Terdistribusikannya
pemerintah daerah Sosialisasi Undang- bahan-bahan Sosialisasi
Kabupaten/Kota terkait Undang No. 6 Tahun Undang-Undang No. 6
sosialisasi Undang- 2014 tentang Desa. Tahun 2014 tentang Desa;
Undang No. 6 Tahun 2014 b) Meningkatnya
tentang Desa. pemahaman pemangku
kepentingan terhadap
Undang-Undang No. 6
Tahun 2014 tentang Desa.
2) Membantu Tersedianya regulasi Terfasilitasinya regulasi
penyusunan regulasi daerah dengan prioritas daerah dengan prioritas
daerah. peraturan Bupati/Wali peraturan Bupati/Wali kota
kota tentang daftar tentang daftar kewenangan
kewenangan berdasarkan hak asal usul dan
berdasarkan hak asal kewenangan lokal berskala
usul dan kewenangan Desa dan regulasi tentang
lokal berskala Desa dan pemberdayaan masyarakat
regulasi tentang Desa.
pemberdayaan
masyarakat Desa.
3) Mensupervisi Pendamping Desa Terfasilitasinya penyusunan
Pendamping Desa dalam mampu memfasilitasi produk hukum Desa.
memfasilitasi penyusunan penyusunan produk
produk hukum Desa. hukum Desa.
4) Meningkatkan kapasitas Meningkatnya kapasitas a) Tersusunnya kurikulum
Pendamping Desa dan Pendamping Desa dan dan modul pelatihan PD,
Pendamping Lokal Desa Pendamping Lokal Desa PLD dan kader Desa;
dalam memfasilitasi dalam memfasilitasi b) Meningkatnya
proses pembangunan proses pembangunan keterampilan PD dan PLD
Desa. Desa. dalam memfasilitasi
Pembangunan Desa dan
pemberdayaan masyarakat
serta penyusunan produk
hukum Desa;
c) Tersedianya buku
bimbingan dan
pengendalian kinerja
pendamping.
5) Membantu Pendamping Adanya sejumlah kader a) Rencana kegiatan
Desa dalam memfasilitasi Desa yang terlatih. kaderisasi masyarakat
Kaderisasi masyarakat Desa di Desa dan/atau
Desa. antar Desa;
b) Terselenggaranya
kaderisasi masyarakat
Desa di Desa dan/atau
antar Desa;

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 189


PROGRAM INOVASI DESA

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


c) Setiap Desa memiliki kader
Desa sesuai kebutuhan.
6) Membantu Pendamping Proses fasilitasi kerja a) Tersusunnya rencana kerja
Desa dalam Fasilitasi kerja sama antar Desa dalam sama antar Desa dalam
sama antar Desa dan rangka pembangunan rangka pembangunan dan
pihak lainnya dalam dan pemberdayaan pemberdayaan masyarakat
rangka pembangunan masyarakat Desa Desa;
dan pemberdayaan berjalan dengan baik. b) Terfasilitasinya kerja sama
masyarakat Desa. antar Desa dan pihak
lainnya dalam rangka
pembangunan dan
pemberdayaan masyarakat
Desa.
7) Fasilitasi Organisasi Organisasi Perangkat a) Panduan pendampingan
Perangkat Daerah (OPD) Daerah (OPD) dapat OPD dalam rangka
untuk mendampingi Desa memfasilitasi dan pembangunan dan
melaksanakan mendampingi Desa pemberdayaan masyarakat
pemberdayaan melaksanakan Desa;
masyarakat Desa. pemberdayaan b) Pendampingan OPD
masyarakat dan dalam rangka
pembangunan Desa pembangunan dan
dengan baik. pemberdayaan masyarakat
Desa terlaksana;
c) Terselenggaranya kegiatan
kerjasama Desa dengan
pihak ketiga.
8) Fasilitasi pengembangan Adanya sistem informasi Masyarakat memperoleh
media informasi Desa Desa yang mudah informasi yang memadai
untuk masyarakat Desa. diakses oleh masyarakat tentang kegiatan
Desa. pembangunan di Desa.
9 Memfasiltasi, Terseleasikan, 1. Adanya dokumen verifikasi
mengadministrasikan, teradministrasikan, dan penanganan pengaduan
dan membuat laporan terlaporkannya dan masalah
penanganan pengaduan penanganan pengaduan 2. Adanya Berita Acara
dan masalah dan masalah penanganan masalah
3. Adanya laporan progres
penanganan pengaduan
dan masalah
10 Mendorong Terlaksananya tata kelola 1. Adanya sarana informasi
terlaksananya prinsip desa yang partisipatif, pembangunan Desa
prinsip tata kelola desa transparan dan 2. Adanya dokumen
yang partisipatif, akuntabel keterlibatan aktif
transparan, dan akuntabel masyarakat Desa
3. Adanya dokumen laporan
pertanggungjawaban
pembangunan Desa

190| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(2) Tenaga Ahli Infrastruktur Desa (TA-ID)

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


1) Membantu Pendamping Proses fasilitasi a) Tersedianya dokumen
Desa dalam fasilitasi pembangunan dan rekapitulasi rencana
pembangunan dan pengelolaan sarana dan pembangunan
pengelolaan infrastruktur prasarana Desa berjalan infrastruktur Desa
Desa sesuai dengan dengan baik. berdasarkan RKP Desa;
kondisi kekhususan b) Desain dan anggaran
daerah setempat dan pembangunan
memperhatikan infrastruktur Desa sesuai
lingkungan hidup. dengan kebutuhan dan
spesifikasi teknis;
c) Terbangunnya infrastruktur
Desa yang berkualitas,
berfungsi dan bermanfaat.
2) Membantu Pendamping Adanya kader teknik a) Tersedianya data kader-
Desa dalam pembentukan Desa yang mampu kader teknis Desa yang
dan peningkatan kapasitas menjalankan tugas dan telah terlatih;
kader teknik Desa. fungsi dengan baik. b) Adanya pengembangan
yang berkelanjutan bagi
kader-kader teknik Desa
dalam pelaksanaan
pembangunan
infrastruktur Desa.
3) Membantu OPD Terlaksananya a) Adanya data kegiatan
mendampingi Desa dalam pendampingan Desa perencanaan, pelaksanaan,
perencanaan, oleh OPD dalam pengelolaan dan
pelaksanaan, pengelolaan pembangunan pemeliharaan infrastruktur
dan pemeliharaan infrastruktur Desa. Desa;
infrastruktur Desa b) Adanya dokumen
termasuk sertifikasi sertifikasi infrastruktur
infrastruktur Desa. Desa;
c) Terselenggaranya
bimbingan teknis dari OPD
terhadap kegiatan
infrastruktur Desa, yang
membutuhkan
penanganan khusus.
4) Melakukan koordinasi Terjadinya koordinasi a) Tersedianya informasi
dengan OPD terkait dan dengan OPD terkait dan rencana pembangunan
pihak lainnya dalam hal pihak lainnya dalam hal daerah dan pihak lainnya
perencanaan, perencanaan, kepada Desa;
pelaksanaan, pengelolaan pelaksanaan, b) Terinformasikannya
dan pemeliharaan pengelolaan dan standar harga satuan
infrastruktur Desa. pemeliharaan barang Kabupaten/Kota
infrastruktur Desa. kepada Desa;
c) Terinformasikannya desain
atau konstruksi

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 191


PROGRAM INOVASI DESA

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


infrastruktur yang sesuai
dengan kekhususan
daerah setempat.
5) Membantu Tersedianya regulasi Tersedianya regulasi tentang
penyusunan regulasi daerah dengan prioritas pengadaan barang dan jasa
daerah. peraturan Bupati/Wali dan standar harga satuan
kota tentang barang Kabupaten/Kota.
pengadaan barang dan
jasa.
6) Meningkatkan kapasitas Terselenggaranya a) Tersusunnya kurikulum
Pendamping Desa Teknik peningkatan kapasitas dan modul pelatihan PDTI
Infrastruktur. Pendamping Desa dan kader Teknik;
Teknik Infrastruktur. b) Meningkatnya
keterampilan PDTI dan
kader teknik;
c) Tersedianya buku
bimbingan dan
pengendalian kinerja
pendamping.
7) Mendorong Terlaksananya tata kelola 1. Adanya sarana informasi
terlaksananya prinsip desa yang partisipatif, pembangunan Desa
prinsip tata kelola desa transparan dan 2. Adanya dokumen
yang partisipatif, akuntabel keterlibatan aktif
transparan, dan akuntabel masyarakat Desa
3. Adanya dokumen laporan
pertanggungjawaban
pembangunan Desa

192| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(3) Tenaga Ahli Pembangunan Partisipatif (TA-PP)

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


1) Memfasilitasi pemerintah Adanya regulasi a) Terselenggaranya
daerah Kabupaten/Kota pembangunan kegiatan penyusunan
dalam penyusunan Desa/antar Desa yang regulasi pembangunan
regulasi pembangunan partisipatif dan regulasi Desa/antar Desa yang
Desa/antar Desa yang lain yang disyaratkan partisipatif;
partisipatif dan regulasi terkait implementasi UU b) Terselenggaranya
lain yang disyaratkan Desa. kegiatan penyusunan
terkait implementasi UU regulasi tentang
Desa. penghitungan alokasi
dana Desa tiap-tiap Desa
dan pengelolaan
keuangan Desa.
2) Membantu Pemerintah Terjadinya koordinasi a) Tersedianya data rencana
Daerah dan Pemerintah dan sinkronisasi rencana program-program Desa
Desa dalam hal pembangunan Desa berskala lokal Desa,
koordinasi dan dengan rencana maupun program-
sinkronisasi perencanaan pembangunan daerah. program kawasan
Pembangunan Desa perdesaan dengan rencana
dengan perencanaan pembangunan daerah;
Pembangunan Daerah b) Terjadinya koordinasi dan
sinkronisasi program-
program Desa berskala
lokal Desa, maupun
program-program
kawasan perdesaan
dengan rencana
pembangunan daerah.
3) Membantu Pendamping 1. Terfasilitasinya a) Ditetapkannya RPJMDesa,
Desa dalam fasilitasi perencanaan, RKPDesa, dan APBDesa;
perencanaan, pelaksanaan dan b) Terselenggaranya
pelaksanaan dan pengawasan pelaksanaan dan
pengawasan pembangunan pengawasan
pembangunan Desa. Desa. pembangunan Desa;
2. Terdokumentasikan c) Tersedianya data hasil
dan terlaporkannya pembangunan desa, baik
seluruh kegiatan maupun
perencanaan, keuangan.
pelaksanaan dan d) Tersedianya dokumen
pengawasan perencanaan, pelaksanaan
pembangunan desa dan pengawasan
pembangunan desa
4) Membantu OPD dalam 1. Terlaksananya 1. Adanya penyaluran Dana
proses penyaluran Dana penyaluran Dana Desa sesuai jadwal dan
Desa dari RKUN ke RKUD Desa sesuai jadwal tahapan
dan dari RKUD ke RKDesa dan tahapan 2. Adanya dokumen dan
2. Terdokumentasi dan laporan pencairan Dana

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 193


PROGRAM INOVASI DESA

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


terlaporkannya Desa sesuai jadwal dan
progress pencairan tahapan.
Dana Desa sesuai
jadwal dan tahapan
5) Membantu Pendamping Terfasilitasinya a) Adanya rencana kerjasama
Desa dalam menfasiltasi kerjasama antar Desa antar Desa dan pihak lain
kerjasama antar Desa dan dan pihak lain dalam dalam rangka
pihak lain dalam rangka rangka pembangunan pembangunan dan
pembangunan dan dan pemberdayaan pemberdayaan masyarakat
pemberdayaan masyarakat Desa Desa;
masyarakat Desa. berjalan dengan baik. b) Adanya kerjasama antar
Desa dan pihak lain dalam
rangka pembangunan dan
pemberdayaan masyarakat
Desa.
6) Membantu Organisasi Organisasi Perangkat a) Terfasilitasinya
Perangkat Daerah (OPD) Daerah (OPD) dan pihak penyusunan Panduan
dan pihak lain dalam lain dapat memfasilitasi pendampingan OPD dan
mendampingi Desa/antar dan mendampingi pihak lain dalam rangka
Desa melaksanakan Desa/antar Desa pembangunan partisipatif;
pembangunan melaksanakan b) Terlaksananya
partisipatif. pembangunan Pendampingan OPD dan
partisipatif. pihak lain dalam rangka
pembangunan partisipatif
di Desa/antar Desa.
7) Membantu PD dan PLD Adanya sistem informasi Masyarakat memperoleh
dalam memfasilitasi Desa Desa yang mudah informasi yang memadai
mengembangkan media diakses oleh masyarakat tentang kegiatan
informasi Desa untuk Desa. pembangunan di Desa.
masyarakat Desa.
8) Meningkatkan kapasitas Terwujudnya a) Tersedianya kurikulum dan
PD dan PLD dalam peningkatan kapasitas modul pelatihan
mendampingi Desa/antar PD dan PLD pembangunan partisipatif;
Desa menerapkan b) Terselenggaranya
pembangunan peningkatan kapasitas PD
partisipatif. dan PLD dengan
menggunakan modul
pelatihan yang ada
(termasuk modul
pengelolaan keuangan
Desa dan perpajakan);
c) Terwujudnya
pembangunan partisipatif
yang menjamin
keterlibatan warga miskin,
kaum perempuan, difabel,
dan kelompok marginal
lainnya.

194| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


9) Mendorong Terlaksananya tata kelola 1. Adanya sarana informasi
terlaksananya prinsip desa yang partisipatif, pembangunan Desa
prinsip tata kelola desa transparan dan 2. Adanya dokumen
yang partisipatif, akuntabel keterlibatan aktifa
transparan, dan akuntabel masyarakat Desa
3. Adanya dokumen laporan
pertanggungjawaban
pembangunan Desa

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 195


PROGRAM INOVASI DESA

(4) Tenaga Ahli Pemberdayaan Ekonomi Desa (TA-PED)

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


1) Membantu Pendamping Proses fasilitasi oleh PD a) Tersosialisasikannya
Desa dalam fasilitasi dalam pembentukan, konsep dan prosedur
pembentukan, pengelolaan , pembentukan,
pengelolaan, pengembangan dan pengelolaan,
pengembangan dan pemasaran hasil usaha pengembangan dan
pemasaran hasil usaha BUMDesa/BUMDesa pemasaran hasil usaha
BUMDesa/BUMDesa bersama dapat BUMDesa/BUMDesa
bersama. terlaksana. bersama;
b) Tersusunnya rencana kerja
pembentukan,
pengelolaan dan
pengembangan
BUMDesa/BUMDesa
bersama;
c) Terjadinya penataan
kelembagaan keuangan
mikro Desa/antar Desa
(termasuk kepemilikan
aset);
d) Terselenggaranya
pendampingan dan
pembinaan dari
Pemerintah Daerah dalam
pembentukan,
pengelolaan dan
pengembangan
BUMDesa/BUMDesa
bersama;
e) Terjadinya proses saling
belajar dalam
pembentukan dan
pengembangan
BUMDesa/BUMDesa
bersama.
2) Memfasilitasi pemerintah Ditetapkannya regulasi Terfasilitasinya penyusunan
Kabupaten/Kota dalam yang memberikan regulasi yang memberikan
penyusunan regulasi insentif terbentuknya insentif terbentuknya BUM
yang memberikan insentif BUM Desa/BUM Desa Desa/BUM Desa bersama
terbentuknya BUM bersama.
Desa/BUM Desa bersama.
3) Membantu Pendamping Adanya pasar Desa yang a) Terlaksananya pelatihan-
Desa dalam fasilitasi aktif dan berkembang pelatihan pengelolaan
pembentukan, pasar Desa;
pengelolaan dan b) Terfasilitasinya
pengembangan pasar pembentukan,
Desa. pengelolaan dan
pengembangan pasar

196| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


Desa berjalan sesuai
regulasi yang ada.
4) Membantu Pendamping a) Terbentuknya a) Terlaksananya promosi
Desa dalam fasilitasi berbagai unit usaha pemasaran rutin hasil-hasil
akses permodalan, kecil dan menengah usaha ekonomi produktif
promosi, pemasaran hasil di Desa yang termasuk usaha ekonomi
usaha ekonomi termasuk didukung dengan kreatif Desa;
usaha ekonomi kreatif jaringan pemasaran b) Tersedianya data dan
Desa dan pengembangan hasil usaha; aktifitas jaringan
jaringan pemasaran hasil b) Berkembangnya pemasaran hasil-hasil
usaha ekonomi Desa. kredit modal usaha usaha ekonomi produktif
ekonomi dan Desa;
pengembangan c) Terfasilitasinya promosi
usaha kredit mikro pemasaran hasil usaha
Desa. ekonomi Desa dan
pengembangan jaringan
pemasaran hasil usaha
ekonomi Desa melalui
berbagai media;
d) Tersedianya lembaga
pengelola pengembangan
kredit modal usaha
ekonomi Desa;
e) Terwujudnya media
diseminasi model-model
dan pengetahuan baru
tentang pengembangan
ekonomi perdesaan.
5) Membantu Pendamping Proses fasilitasi Tumbuhnya kewirausahawan
Desa dalam fasilitasi pengembangan di Desa dan antar Desa yang
pengembangan kewirausahaan Desa diwujudkan melalui kegiatan-
kewirausahaan Desa. terlaksana dengan baik. kegiatan kewirausahaan yang
kongkrit di Desa.
6) Fasilitasi OPD dan pihak OPD dan pihak lain Terfasilitasinya OPD
lain yang bermaksud dapat mendampingi Kabupaten/Kota dan pihak
untuk mendampingi Desa Desa dalam lain untuk mendampingi Desa
dalam mengembangkan mengembangkan dalam rangka pengembangan
ekonomi Desa. ekonomi Desa. ekonomi Desa.
7) Meningkatkan kapasitas Terwujudnya a) Tersedianya kurikulum dan
PD dan PLD dalam peningkatan kapasitas modul pelatihan
mendampingi Desa/antar PD dan PLD untuk pengembangan ekonomi
Desa untuk pengembangan Desa;
pengembangan ekonomi ekonomi Desa. b) Terselenggaranya
Desa. peningkatan kapasitas PD
dan PLD dengan
menggunakan modul
pelatihan.
8) Membantu Pemerintah Terjadinya koordinasi Tersedianya data dan
Daerah dan Pemerintah dalam hal informasi pengembangan

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 197


PROGRAM INOVASI DESA

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


Desa dalam koordinasi pengembangan ekonomi Desa.
pengembangan ekonomi ekonomi Desa.
Desa.
9) Mendorong Terlaksananya tata kelola 1. Adanya sarana informasi
terlaksananya prinsip desa yang partisipatif, pembangunan Desa
prinsip tata kelola desa transparan dan 2. Adanya dokumen
yang partisipatif, akuntabel keterlibatan aktif
transparan, dan akuntabel masyarakat Desa
3. Adanya dokumen laporan
pertanggungjawaban
pembangunan Desa

198| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(5) Tenaga Ahli Pengembangan Teknologi Tepat Guna (TA-TTG)

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


1) Meningkatkan kapasitas Terwujudnya a) Tersedianya kurikulum dan
PD dan PLD dalam peningkatan kapasitas modul pelatihan
mendampingi Desa/antar PD dan PLD untuk pengembangan teknologi
Desa untuk pengembangan tepat guna.
pengembangan teknologi teknologi tepat guna. b) Terselenggaranya
tepat guna. peningkatan kapasitas PD
dan PLD dengan
menggunakan modul
pelatihan.
2) Memfasilitasi pemerintah Ditetapkannya regulasi Terfasilitasinya penyusunan
Kabupaten/Kota dalam tentang pengembangan regulasi tentang
penyusunan regulasi teknologi tepat guna. pengembangan teknologi
tentang pengembangan tepat guna.
teknologi tepat guna.
3) Fasilitasi OPD dan pihak Teknologi tepat guna a) Tersedianya rencana
lain dalam yang ada di Desa dapat pengembangan teknologi
pengembangan dan dimanfaatkan tepat guna untuk Desa
promosi teknologi tepat masyarakat banyak yang berbasis potensi
guna. untuk mendukung lokal dan ramah
perekonomian Desa dan lingkungan;
masyarakat Desa. b) Terpromosikannya
pendayagunaan teknologi
tepat guna di Desa;
c) Terselenggarakannya
berbagai kegiatan yang
mendukung
pengembangan dan
penggunaan teknologi
tepat guna;
d) Tersedianya database
lembaga dan
perseorangan yang
memiliki program
kepedulian dan
kompetensi terkait
pengembangan dan
penggunaan teknologi
tepat guna.
4) Membantu PD dan PLD Diterapkannya a) Adanya rencana
dalam memfasilitasi teknologi tepat guna di penerapan teknologi tepat
Desa/antar Desa Desa/antar Desa untuk guna di Desa/antar Desa
menggunakan teknologi kemandirian pangan, untuk kemandirian
tepat guna untuk energi dan sumberdaya pangan, energi dan
kemandirian pangan, alam dan terbarukan sumberdaya alam dan
energi dan sumberdaya yang ramah lingkungan. terbarukan yang ramah
alam dan terbarukan lingkungan;

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 199


PROGRAM INOVASI DESA

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


yang ramah lingkungan. b) Masyarakat Desa mampu
memanfaatkan teknologi
tepat guna yang ada untuk
mendukung kemandirian
pangan, energi dan
sumberdaya alam dan
terbarukan yang ramah
lingkungan.
5) Membantu Pemerintah Terjadinya koordinasi Tersedianya data dan
Daerah dan Pemerintah dalam hal informasi pengembangan
Desa dalam koordinasi pengembangan teknologi tepat guna.
pengembangan teknologi teknologi tepat guna.
tepat guna.
6) Mendorong Terlaksananya tata kelola 1. Adanya sarana informasi
terlaksananya prinsip desa yang partisipatif, pembangunan Desa
prinsip tata kelola desa transparan dan 2. Adanya dokumen
yang partisipatif, akuntabel keterlibatan aktif
transparan, dan akuntabel masyarakat Desa
3. Adanya dokumen laporan
pertanggungjawaban
pembangunan Desa

200| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(6) Tenaga Ahli Pelayanan Sosial Dasar (TA-PSD)

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


1) Meningkatkan kapasitas Terwujudnya a) Tersedianya kurikulum dan
PD dan PLD dalam peningkatan kapasitas modul pelatihan terkait
mendampingi Desa/antar PD dan PLD terkait pelayanan sosial dasar;
Desa terkait pelayanan pelayanan sosial dasar. b) Terselenggaranya
sosial dasar. peningkatan kapasitas PD
dan PLD dengan
menggunakan modul
pelatihan.
2) Memfasilitasi pemerintah Ditetapkannya regulasi a) Terfasilitasinya penyusunan
Kabupaten/Kota dalam tentang pelayanan sosial regulasi tentang standar
penyusunan regulasi dasar. pelayanan minimum;
tentang pelayanan sosial b) Terfasilitasinya pelayanan
dasar. sosial dasar dalam RPJM
Desa, RKP Desa, dan APB
Desa.
3) Fasilitasi OPD dan pihak OPD dan pihak lain Terfasilitasinya OPD
lain yang bermaksud dapat mendampingi Kabupaten/Kota dan pihak lain
untuk mendampingi Desa dalam untuk mendampingi Desa
Desa dalam meningkatkan pelayanan dalam rangka meningkatkan
meningkatkan pelayanan sosial dasar. pelayanan sosial dasar.
sosial dasar.
4) Membantu PD dan PLD Meningkatnya pelayanan a) Adanya pembiayaan
dalam fasilitasi pendidikan dan kegiatan-kegiatan
pelayanan pendidikan kesehatan bagi pelayanan pendidikan dan
dan kesehatan bagi masyarakat Desa. kesehatan dalam APBDesa;
masyarakat Desa secara b) Terfasilitasinya kegiatan
terpadu. pelayanan pendidikan dan
kesehatan di Desa.
5) Membantu PD dan PLD Meningkatnya akses dan a) Adanya pembiayaan
dalam fasilitasi pelayanan sosial dasar kegiatan-kegiatan
pemberdayaan bagi perempuan, anak, pemberdayaan perempuan,
perempuan, anak, kaum kaum anak, kaum
difabel/berkebutuhan difabel/berkebutuhan difabel/berkebutuhan
khusus, kelompok miskin khusus, kelompok miskin khusus, kelompok miskin
dan masyarakat dan masyarakat dan masyarakat marginal
marginal. marginal. dalam APB Desa;
b) Terfasilitasinya kegiatan
pemberdayaan perempuan,
anak, kaum
difabel/berkebutuhan
khusus, kelompok miskin
dan masyarakat marginal di
Desa.
c) Tersedianya data kaum
difabel/berkebutuhan
khusus, kelompok miskin

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 201


PROGRAM INOVASI DESA

No Tugas Pokok Output Kerja Indikator Kinerja


dan masyarakat marginal.
6) Membantu PD dan PLD Adat, kearifan lokal, seni a) Kegiatan pembangunan
dalam fasilitasi dan budaya Desa terjaga dan pemberdayaan
pelestarian dan dengan baik. masyarakat Desa, tidak
pengembangan adat, merusak tatanan adat,
kearifan lokal, seni dan kearifan lokal, seni dan
budaya Desa. budaya di Desa;
b) Adanya kegiatan-kegiatan
pelestarian dan
pengembangan adat,
kearifan lokal, seni dan
budaya di Desa.
7) Membantu Pemerintah Terjadinya koordinasi Tersedianya data dan informasi
Daerah dan Pemerintah dalam hal peningkatan terkait peningkatan pelayanan
Desa dalam koordinasi pelayanan sosial dasar sosial dasar.
peningkatan pelayanan
sosial dasar.
8) Mendorong Terlaksananya tata kelola 1. Adanya sarana informasi
terlaksananya prinsip desa yang partisipatif, pembangunan Desa
prinsip tata kelola desa transparan dan akuntabel 2. Adanya dokumen
yang partisipatif, keterlibatan aktif
transparan, dan masyarakat Desa
akuntabel 3. Adanya dokumen laporan
pertanggungjawaban
pembangunan Desa

202| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(7) Tugas Pengembangan Inovasi Desa

No Kegiatan Output Kerja Indikator Kinerja PIC


1 Merencanakan Terlaksananya kegiatan 1. Tersusunnya Seluruh
pelaksanaan peluncuran Bursa rencana kegiatan TAPM
Peluncuran Bursa Inovasi Desa di peluncuran
Inovasi di Kabupaten Kabupaten inovasi
Kabupaten
2. Tersusunnya ToR
Kegiatan dan
RAB kegiatan
peluncuran
Bursa PID
2 Membantu TIK dalam Teridentifkasi, 1. Adanya dokumen TA PMD
melakukan : terverifikasi dan Berita Acara TA PP
identifkasi, terdokumentasikannya Identifikasi dan TA TTG
memverifikasi, praktik-inovasi desa Verifikasi
mendokumentasikan 2. Adanya dokumen
praktik-inovasi desa praktik inovasi
desa
3 Memfasilitasi Terlaksananya kegiatan Adanya laporan TA PMD
pengelolaan pertukaran pengatahuan pelaksanaan TA PP
pertukaran inovasi terbarukan dapat kegiatan TA TTG
pengatahuan berupa : dialog pertukaran
(knowledge sharing) pengetahuan, kelompok pengetahuan
dari inovasi-inovasi belajar, konferensi,
terbarukan yang terjadi kunjungan pakar,
di wilayah kerjanya workshop, studi banding,
atau antar daerah tandem/kemitraan
4 Memfasilitasi Terbentuknya Tim Adanya SK Bupati Seluruh
pembentukan TIK Inovasi Kabupaten tentang Tim Inovasi TAPM
Kabupaten
5 Berkoordinasi dan Terlaporkannya 1. Adanya Seluruh
melaporkan perkembangan PID dokumen Berita TAPM
perkembangan PID kepada pemda Acara laporan
kepada pemerintah perkembangan
daerah secara berkala PID
2. Adanya
dokumen
Laporan
perkembangan
PID
6 Bersama TIK Teridentifkasi, 1. Adanya Semua
menganalisa praktek terverifikasi dan dokumen Berita TAPM
inovasi desa khususnya terdokumentasikannya Acara Identifikasi
pada PID dan potensial praktik-inovasi desa dan Verifikasi
lokasi prioritas 2. Adanya
program Kementerian dokumen praktik
Desa, PDTT inovasi desa

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 203


PROGRAM INOVASI DESA

No Kegiatan Output Kerja Indikator Kinerja PIC


7 Memberikan informasi Terinformasikannya 1. Terlaksananya Seluruh
inovasi desa, prioritas inovasi desa dan MAD di tingkat TAPM
program Kementerian program prioritas kecamatan
Desa, PDTT kepada kementrian desa 2. Adanya media-
masyarakat melalui media
musyawarah antar desa pendukung
atau media lainnya informasi inovasi
desa
8 Bersama dengan TIK Terverifikasinya Adanya daftar TA ID
memfasilitasi kebutuhan P2KTD verifikasi kegiatan TA PSD
pengelolaan dan yang layak TA PED
memverifikasi Penyedia mendapat dukungan
Peningkatan Kapasitas P2KTD sesuai
Teknis Desa (P2KTD) kebutuhan Desa
untuk melakukan
proses tahapan
kegiatan inovasi desa
9 Mengembangkan Terbangunnya jaringan Adanya tim Semua
jaringan dengan kerjasama stakeholder pelaksana inovasi TAPM
stakeholder terkait (opd, pihak desa di tingkat
(government dan swasta, perguruan kabupten
corporate) tinggi, dan lembaga
lainnya dalam
pelaksanaan kegiatan
inovasi des
10 Memberikan TPID memahami dan Adanya pelatihan Semua
peningkatan kapasitas mengetahui proses TPID TAPM
TPID tahapan serta tugas PID
11 Melakukan koordinasi Terjalinnya kerjasama Adanya kerjasama Seluruh
dan kerjasama dengan dengan pendamping dengan pendamping TAPM
pendamping program program lainnya program lain
lainnya yang terkait di
wilayahnya masing-
masing

F. Kualifikasi Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten/Kota


1. Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa (TA-PMD)
a. Latar belakang pendidikan dari semua bidang ilmu minimal S-1 (Strata-1)
b. Memiliki pengalaman kerja dalam bidang pembangunan Desa dan atau
pemberdayaan masyarakat minimal 5 (lima);
c. Memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mengorganisasi pelaksanaan
program dan kegiatan sektoral;
d. Memiliki pengalaman dalam pengembangan kapasitas, kaderisasi dan
pengorganisasian masyarakat;

204| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

e. Pengalaman dalam melakukan fasilitasi kerja sama antarlembaga


kemasyarakatan;
f. Mampu melakukan analisis kebijakan terhadap implementasi program di
wilayahnya;
g. Memahami sistem pembangunan partisipatif dan pemerintahan kabupaten;
h. Memiliki kemampuan memberikan pelatihan dan pembimbingan mencakup
aspek penyusunan modul sederhana, fasilitasi penyelenggaraan pelatihan,
fasilitasi kaderisasi dan menguasai metodologi pendidikan orang dewasa;
i. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik secara lisan dan tulisan;
j. Memiliki kemampuan dan sanggup bekerjasama dengan aparat pemerintah
daerah kabupaten/kota;
k. Mampu mengoperasikan komputer minimal program Office (Word, Excel,
Power Point) dan internet;
l. Sanggup bekerja penuh waktu sesuai standar operasional prosedur dan siap
bertempat tinggal di lokasi tugas;
m. Pada saat mendaftar usia minimal 30 (tiga puluh) tahun dan maksimal 50
(lima puluh) tahun; dan
n. Dilarang menjadi pengurus partai politik manapun dan/atau terlibat dalam
kegiatan partai politik yang dapat mengganggu kinerja.
2. Tenaga Ahli Infrastruktur Desa (TA-ID)
a. Latar belakang pendidikan dari bidang ilmu Teknik Sipil minimal S-1 (Strata-
1)
b. Memiliki pengalaman kerja dalam bidang pembangunan Desa dan atau
pemberdayaan masyarakat minimal 5 (lima);
c. Memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mengorganisasi pelaksanaan
program dan kegiatan sektoral khususnya yang terkait dalam pembangunan
infrastruktur;
d. Memiliki pengalaman dalam pemberdayaan masyarakat dan pengorganisasi-
an masyarakat;
e. Pengalaman dalam melakukan fasilitasi kerja sama antarlembaga
kemasyarakatan;
f. Mampu melakukan analisis kebijakan terhadap implementasi program di
wilayahnya;
g. Memahami sistem pembangunan partisipatif dan pemerintahan kabupaten;
h. Memiliki kemampuan memberikan pelatihan dan pembimbingan terkait
dengan pembangunan infrastruktur Desa;
i. Berpengalaman dalam perencanaan, pelaksanaan dan kontrol dalam
pekerjaan teknik;

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 205


PROGRAM INOVASI DESA

j. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik secara lisan dan tulisan;


k. Memiliki kemampuan dan sanggup bekerjasama dengan aparat pemerintah
daerah Kabupaten/Kota;
l. Mampu mengoperasikan komputer minimal program Office (Word, Excel,
Power Point) dan internet;
m. Sanggup bekerja penuh waktu sesuai standar operasional prosedur dan siap
bertempat tinggal di lokasi tugas;
n. Pada saat mendaftar usia minimal 30 (tiga puluh) tahun dan maksimal 50
(lima puluh) tahun; dan
o. Dilarang menjadi pengurus partai politik manapun dan/atau terlibat dalam
kegiatan partai politik yang dapat mengganggu kinerja.
3. Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa (TA-PED)
a. Latar belakang pendidikan diutamakan bidang ilmu ekonomi minimal S-1
(Strata-1)
b. Memiliki pengalaman kerja dalam bidang pembangunan Desa dan atau
pemberdayaan masyarakat minimal 5 (lima);
c. Memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mengorganisasi pelaksanaan
program dan kegiatan sektoral dalam pengembangan ekonomi perdesaan;
d. Memiliki pengalaman dalam pengembangan ekonomi pedesaan;
e. Pengalaman dalam melakukan fasilitasi kerja sama antarlembaga
kemasyarakatan;
f. Mampu melakukan analisis kebijakan terhadap implementasi program di
wilayahnya;
g. Memahami sistem pembangunan partisipatif dan pemerintahan kabupaten;
h. Memiliki kemampuan memberikan pelatihan dan pembimbingan
pengembangan ekonomi pedesaan;
i. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik secara lisan dan tulisan;
j. Memiliki kemampuan dan sanggup bekerjasama dengan aparat pemerintah
daerah Kabupaten/Kota;
k. Mampu mengoperasikan komputer minimal program Office (Word, Excel,
Power Point) dan internet;
l. Sanggup bekerja penuh waktu sesuai standar operasional prosedur dan siap
bertempat tinggal di lokasi tugas;
m. Pada saat mendaftar usia minimal 30 (tiga puluh) tahun dan maksimal 50
(lima puluh) tahun; dan
n. Dilarang menjadi pengurus partai politik manapun dan/atau terlibat dalam
kegiatan partai politik yang dapat mengganggu kinerja.

206| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

4. Tenaga Ahli Pengembangan Teknologi Tepat Guna (TA-TTG)


a. Latar belakang pendidikan diutamakan bidang ilmu teknologi dalam
pertanian/perikanan/peternakan/kehutanan/pariwisata minimal S-1 (Strata-
1);
b. Memiliki pengalaman kerja dalam bidang pembangunan Desa dan atau
pemberdayaan masyarakat minimal 5 (lima);
c. Memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mengorganisasi pelaksanaan
program dan kegiatan sektoral dalam pengembangan teknologi tepat guna;
d. Memiliki pengalaman dalam pengembangan teknologi tepat guna untuk
pengembangan sosial ekonomi Desa;
e. Pengalaman dalam melakukan fasilitasi kerja sama antarlembaga
kemasyarakatan;
f. Mampu melakukan analisis kebijakan terhadap implementasi program di
wilayahnya;
g. Memahami sistem pembangunan partisipatif dan pemerintahan kabupaten;
h. Memiliki kemampuan memberikan pelatihan dan pembimbingan dalam
bidang teknologi tepat guna peDesaaan;
i. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik secara lisan dan tulisan;
j. Memiliki kemampuan dan sanggup bekerjasama dengan aparat pemerintah
daerah kabupaten/kota;
k. Mampu mengoperasikan komputer minimal program Office (Word, Excel,
Power Point) dan internet;
l. Sanggup bekerja penuh waktu sesuai standar operasional prosedur dan siap
bertempat tinggal di lokasi tugas;
m. Pada saat mendaftar usia minimal 30 (tiga puluh) tahun dan maksimal 50
(lima puluh) tahun; dan
n. Dilarang menjadi pengurus partai politik manapun dan/atau terlibat dalam
kegiatan partai politik yang dapat mengganggu kinerja.
5. Tenaga Ahli Pembangunan Partisipatif (TA-PP)
a. Latar belakang pendidikan dari semua bidang ilmu minimal S-1 (Strata-1)
b. Memiliki pengalaman kerja dalam bidang pembangunan Desa dan atau
pemberdayaan masyarakat minimal 5 (lima);
c. Memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mengorganisasi pelaksanaan
program dan kegiatan sektoral dalam pengembangan ekonomi perdesaan;
d. Memiliki pengalaman dalam pembangunan Desa secara partisipatif dan
siklus perencanaan pembangunan Kabupaten/Kota;

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 207


PROGRAM INOVASI DESA

e. Pengalaman dalam melakukan fasilitasi kerja sama antarlembaga


kemasyarakatan;
f. Mampu melakukan analisis kebijakan terhadap implementasi program di
wilayahnya;
g. Memahami sistem pembangunan partisipatif dan pemerintahan kabupaten;
h. Memiliki kemampuan memberikan pelatihan dan pembimbingan dalam
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi pembangunan secara
partisipatif;
i. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik secara lisan dan tulisan;
j. Memiliki kemampuan dan sanggup bekerjasama dengan aparat pemerintah
daerah Kabupaten/Kota;
k. Mampu mengoperasikan komputer minimal program Office (Word, Excel,
Power Point) dan internet;
l. Sanggup bekerja penuh waktu sesuai standar operasional prosedur dan siap
bertempat tinggal di lokasi tugas;
m. Pada saat mendaftar usia minimal 30 (tiga puluh) tahun dan maksimal 50
(lima puluh) tahun; dan
n. Dilarang menjadi pengurus partai politik manapun dan/atau terlibat dalam
kegiatan partai politik yang dapat mengganggu kinerja.
6. Tenaga Ahli Pelayanan Sosial Dasar (TA-PSD)
a. Latar belakang pendidikan diutamakan bidang ilmu kependidikan atau
kesehatan minimal S-1 (Strata-1)
b. Memiliki pengalaman kerja dalam bidang pembangunan Desa dan atau
pemberdayaan masyarakat minimal 5 (lima);
c. Memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mengorganisasi pelaksanaan
program dan kegiatan sektoral dalam pengembangan pendidikan dan
kesehatan;
d. Memiliki pengetahuan tentang standar pelayanan minimum di bidang
pendidikan dan kesehatan serta pengalaman dalam pengembangan
pendidikan dan kesehatan;
e. Pengalaman dalam melakukan fasilitasi kerja sama antarlembaga
kemasyarakatan;
f. Mampu melakukan analisis kebijakan terhadap implementasi program di
wilayahnya;
g. Memahami sistem pembangunan partisipatif dan pemerintahan kabupaten;
h. Memiliki kemampuan memberikan pelatihan dan pembimbingan
pengembangan pendidikan dan kesehatan;
i. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik secara lisan dan tulisan;

208| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

j. Memiliki kemampuan dan sanggup bekerjasama dengan aparat pemerintah


daerah kabupaten/kota;
k. Mampu mengoperasikan komputer minimal program Office (Word, Excel,
Power Point) dan internet;
l. Sanggup bekerja penuh waktu sesuai standar operasional prosedur dan siap
bertempat tinggal di lokasi tugas;
m. Pada saat mendaftar usia minimal 30 (tiga puluh) tahun dan maksimal 50
(lima puluh) tahun; dan
n. Dilarang menjadi pengurus partai politik manapun dan/atau terlibat dalam
kegiatan partai politik yang dapat mengganggu kinerja.

G. Pengaturan Kerja dan Pelaporan


1. Seluruh Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten/Kota bekerja
sebagai tim sesuai bidang tugas masing-masing dibawah koordinasi Bapermas
atau nama lain atau OPD yang ditugaskan mengelola pendamping Desa di
Kabupaten;
2. Masing-masing Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten/
Kota membuat laporan tugas bulanan kepada Satker Provinsi dan Bapermas atau
nama lain atau OPD yang ditugaskan mengelola pendamping Desa di Kabupaten;
dan
3. Aturan kerja dan pelaporan secara teknis akan diatur melalui Standar Operasional
dan Prosedur (SOP) Pembinaan dan Pengendalian Tenaga Pendamping Profesional
( SOP-P2TPP )

H. Hak–Hak Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten/Kota


1. Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) berhak mendapatkan honorarium/
gaji, biaya operasional dan asuransi serta fasilitas-fasilitas kerja sesuai ketentuan
yang berlaku;
2. Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) berhak mendapatkan cuti kerja
dan fasilitas lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

I. Kontrak Kerja dan Jangka Waktu


1. Kontrak kerja Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) adalah kontrak
individu secara langsung dengan Satker Provinsi pada BPMD Provinsi;
2. Jangka waktu kontrak individu secara normal dihitung sesuai tahun anggaran
pemerintah, yakni sejak tanggal 1 Januari s.d. 31 Desember pada tahun anggaran
berjalan; dan
3. Kontrak dapat diperpanjang apabila memenuhi performa kinerja yang baik

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 209


PROGRAM INOVASI DESA

berdasarkan standar evaluasi kinerja yang dilakukan oleh Satker Provinsi.

J. Penutup
Demikian kerangka acuan ini dibuat untuk dipergunakan sebagai panduan pengadaan
dan pembiayaan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM). Apabila dalam
pelaksanaannya terdapat perubahan kebijakan atau terdapat hal-hal lain yang belum
diatur terkait dengan kerangka acuan kerja Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat
(TAPM), maka kerangka acuan ini akan dilakukan revisi sesuai peraturan yang berlaku.

210| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 211


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 3.1.1

Pengelolaan Pengetahuan dan Inovasi Desa (PPID)

A. Latar Belakang
Banyak kegiatan inovatif di desa yang dapat menjadi inspirasi pembangunan bagi desa
lain yang selama ini belum terdokumentasi dan dikelola secara sistematis dengan baik
sebagai bahan pembelajaran untuk peningkatan kualitas pembangunan di desa. PPID
dimaksudkan untuk mendorong peningkatan kualitas pemanfaatan dana desa dengan
memberikan contoh kegiatan inovasi desa melalui pendokumentasian dan penyebar-
luasan kegiatan inovasi pembangunan desa.
Tahapan PPID tahun 2018 didasarkan atas hasil pelaksanaan tahapan yang telah
dilaksanakan pada tahun 2017. Alur tahapan pelaksanaan PPID terdiri atas 2 tingkatan
yaitu: (1). kegiatan di tingkat kabupaten yang dilakukan oleh TIK, dan (2) kegiatan di
tingkat kecamatan dan Desa yang dilakukan oleh TPID.

B. Orientasi dan Persiapan


TAPM, PD dan PLD bersama TIK dan TPID (jika sudah terbentuk) melakukan orientasi
dan evaluasi atas pelaksanaan PID tahun 2017 sebagai langkah persiapan pelaksanaan
tahun 2018. Langkah-langkah fasilitasi yang dilakukan adalah:
1. Melakukan pertemuan dengan TIK atau TPID untuk mempersiapkan rencana
pelaksanaan kegiatan tahun 2018 (jika sudah terbentuk). Jika belum terbentuk
segera difasilitasi pembentukan TIK dan mengadakan MAD-1 untuk pembentukan
TPID.
2. Pada lokasi yang sudah menyelenggarakan Bursa Inovasi Desa (BID) perlu
memastikan sejauhmana tindak lanjut kartu komitmen untuk replikasi telah
dimasukkan dalam APB Desa tahun 2018. Bersama TIK-Pokja PPID menyiapkan dan
mengelompokkan kartu-kartu Ide hasil BID sebagai dokumen yang akan
diverifikasi kelayakan inovatifnya oleh TIK dan akan dikembalikan kepada TPID
untuk dilakukan proses “capturing” / pendokumentasian.
3. Mengidentifikasi dan menyusun direktori keberadaan P2KTD.

C. Musyawarah Antar Desa (MAD)-1


TAPM Kabupaten/Kota bersama PD dan PLD serta TPID (bagi yang sudah terbentuk)
memfasilitasi pelaksanaan MAD-1 melalui koordinasi dengan Camat. MAD-1 merupakan
forum di tingkat kecamatan yang yang dihadiri oleh maksimal 6 orang perwakilan desa,
yaitu Kepala Desa, Unsur BPD, tokoh masyarakat, dan keterwakilan perempuan minimal

212| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

2 orang). MAD 1 juga melibatkan perwakilan UPTD tingkat kecamatan yang relevan
seperti Puskesmas, UPTD Pendidikan, PU kecamatan, dan lain-lain.

Tujuan MAD-1:
1. Sosialisasi konsep PID dan penggunaan Bantuan Pemerintah PPID, termasuk
kebutuhan Desa akan jasa layanan teknis;
2. Diseminasi informasi kegiatan-kegiatan inovasi yang sudah teridentifikasi
sebelumnya, baik yang ada di lokasi dampingan maupun tempat lain;
3. Pembentukan TPID (bagi yang belum atau ada pergantian pengurus). Pengurus
TPID disyahkan oleh Camat;
4. Kesepakatan pokok-pokok kegiatan yang akan dibiayai melalui dana operasional
kegiatan (Kebijakan umum penggunaan dana diatur dalam Petunjuk Teknis
Penggunaan DOK PPID).
2. Rapat TPID
Rapat TPID dilakukan untuk menyusun proposal dan Rencana Anggaran Biaya
(RAB) penggunaan Bantuan Pemerintah PPID. Sebelum merumuskan kegiatan dan
RAB, TPID mendapatkan pelatihan terlebih dahulu dari TAPM Kabupaten/Kota dan
atau PD. TPID mengadakan pertemuan untuk menyusun detail proposal kegiatan
dan RAB berdasarkan hasil keputusan MAD. Selanjutnya Camat menerbitkan Surat
Penetapan Camat (SPC) yang berdasarkan Berita Acara MAD dan hasil rapat
perumusan kegiatan.

D. Pencairan dan Penyaluran Dana


1. Pencairan dan Penyaluran Dana Bantuan Pemerintah PPID Mekanisme pencairan
dan penyaluran Dana Bantuan Pemerintah PPID, secara umum diatur sebagai
berikut:
a. TPID menyusun dan mengajukan proposal yang disertai RAB penggunaan
dana Bantuan Pemerintah PPID kepada TIK untuk diverifikasi sebelum dikirim
kepada Satker Provinsi;
b. TIK melakukan verifikasi atas kelengkapan dokumen-dokumen pencairan
yang diajukan oleh TPID, dan setelah dinyatakan lengkap dilanjutkan kepada
Satker Provinsi untuk proses pencairan dana tahap I;
c. Satker Provinsi melakukan verifikasi, dan setelah kelengkapan administrasi
dinyatakan lengkap, maka dilakukan penerbitan SPM kepada KPPN;
d. KPPN setelah menerima SPM dari satker Provinsi akan melakukan
pengecekan administrasi dan selanjutnya KPPN menerbitkan SP2D untuk
meminta bank operasional membayar kepada rekening TPID;
e. Setelah bank operasional mentransfer dana ke Rekening TPID, maka tidak
lebih dari 7 hari kerja, dana tersebut harus dibelanjakan sesuai proposal dan

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 213


PROGRAM INOVASI DESA

RAB yang telah diajukan;


f. Pengajuan pencairan dana tahap II oleh TPID hanya dapat dilakukan apabila
penggunaan dana dari tahap I (50%) telah mencapai minimal 90%. Pengajuan
pencairan dana tahap II wajib dilampiri dengan Laporan Penggunaan Dana
(LPD) tahap I dan Rencana Penggunaan Dana (RPD) tahap II.

Ketentuan lebih lanjut tentang mekanisme pencairan dan penyaluran dana Bantuan
Pemerintah PPID diatur melalui Petunjuk Teknis Bantuan Pemerinth PPID Tahun
Anggaran 2018.

3. Dana Operasional TIK


Pada TA 2018 TIK mendapatkan dana operasional dan administrasi kegiatan untuk
menunjang proses kegiatan dari PPID. Tata cara pengajuan pencairan dan
penyaluran serta penggunaan Dana Operasional TIK dimaksud, akan diatur lebih
lanjut melalui Petunjuk Teknis Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2018.

E. Identifikasi Inovasi
Identifikasi inovasi dilakukan untuk memetakan kegiatan-kegiatan yang sudah berjalan
di masyarakat dan desa pada bidang infrastruktur, pengembangan sumber daya
manusia, serta kewirausahaan dan pengembangan ekonomi lokal berdasarkan kriteria
yang termasuk dalam kategori inovatif. Identifikasi dibedakan pada dua kategori lokasi
berdasarkan pelaksanaan PID tahun 2017, yaitu:
1. Lokasi yang sudah tersedia Kartu Ide melalui Bursa Inovasi Desa pada tahun
sebelumnya
Pada lokasi ini identifikasi inovasi didasarkan atas kartu ide yang sudah tersedia,
yaitu dengan mengumpulkan seluruh kartu ide hasil bursa dan mengelompokkan
ide-ide tersebut ke dalam 3 bidang, yaitu bidang infrastruktur, kewirausahaan dan
pengembangan ekonomi lokal, serta pengembangan sumber daya manusia.
Tahapan ini dilakukan oleh Pokja PPID pada TIK dengan difasilitasi oleh TAPM.
Pengelompokan dilakukan melalui pemilahan ide inovasi mana saja yang
memenuhi kriteria kategori inovatif.
2. Lokasi yang belum tersedia Kartu Ide atau yang belum melakukan Bursa Inovasi
Desa
Pada lokasi ini, TPID terutama yang menangani bidang PPID dengan dibantu
difasilitasi oleh PD, melakukan identifikasi ke desa-desa atas beberapa kegiatan di
bidang infrastruktur, kewirausahaan dan pengembangan ekonomi lokal, serta
pengembangan sumber daya manusia, yang sudah dilakukan dan dinilai
berpotensi sebagai kegiatan yang inovatif sesuai kriteria. Kegiatan ini dilakukan
dengan melakukan kunjungan ke desa-desa dan melakukan pengamatan dan
wawancara dengan pelaku-pelaku pembangunan desa dan pemberdayaan

214| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

masyarakat. Kegiatan ini dilakukan setelah TPID mendapatkan pelatihan terlebih


dahulu tentang PID dan memahami apa saja kriteria kegiatan yang dinilai sebagai
kegiatan inovatif.

F. Identifikasi Kebutuhan P2KTD


TPID bidang P2KTD melakukan proses identifikasi ke desa-desa tentang apa saja
kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan melalui APB Desa yang memerlukan jasa layanan
teknis di 3 bidang yaitu infrastruktur, kewirausahaan/pengembangan ekonomi lokal, dan
pengembangan sumber daya manusia.
Kegiatan-kegiatan yang membutuhkan P2KTD adalah kegiatan yang tidak bisa
dilaksanakan oleh Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) maupun oleh tenaga
Tenaga Pendamping Profesional karena membutuhkan keahlian khusus. Hasil
identifikasi kebutuhan P2KTD dikelompokkan sebagai berikut:
Pelaksanaan identifkasi Kebutuhan P2KTD secara lebih detail dapat dilihat pada BAB IV
tentang Kegiatan P2KTD

G. Verifikasi Inovasi oleh Pokja PPID - TIK


Pokja PPID-TIK, setelah mendapatkan hasil identifikasi kegiatan dari Kartu Ide atau TPID
selanjutnya melakukan proses verifikasi apakah kegiatan-kegiatan tersebut masuk
dalam kriteria inovatif atau tidak. Hasil verifikasi berupa rekomendasi kelayakan sebagai
kegiatan inovatif yang bisa dilanjutkan proses berikutnya, yaitu capturing atau
pendokumentasian kegiatan inovasi. Verifikasi merujuk pada kriteria kegiatan inovatif
sebagaimana yang sudah disebutkan dalam Bab I Ketentuan Dasar. Rekomendasi
kelayakan ini ditujukan kepada TPID.

H. Verifikasi Kebutuhan P2KTD oleh Pokja P2KTD- TIK


Verifikasi kebutuhan P2KTD dimaksudkan untuk menilai kelayakan terhadap usulan
kegiatan yang diajukan oleh TPID terhadap desa-desa yang membutuhkan layanan
P2KTD. Verifikasi dilakukan oleh Pokja P2KTD-TIK berdasarkan hasil identifikasi
kebutuhan layanan P2KTD. Hasil verifikasi yang dilakukan disampaikan kepada TPID
berupa daftar usulan kegiatan yang layak untuk mendapat dukungan layanan teknis
serta P2KTD yang sesuai dengan kebutuhan Desa.

I. Perumusan dan Prioritas Kegiatan P2KTD


Hasil verifikasi kebutuhan P2KTD yang telah diterima TPID selanjutnya dirumuskan
berdasarkan jenis kegiatan dan keahlian yang dapat diberikan oleh P2KTD. Prioritas
kegiatan yang akan mendapat layanan P2KTD ditetapkan dalam rapat TPID sesuai
dengan kriteria yang telah dirumuskan.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 215


PROGRAM INOVASI DESA

J. Pendokumentasian Inovasi
TPID terutama bidang PPID, dengan didukung oleh PD dan PLD melakukan proses
pendokumentasian kegiatan-kegiatan yang telah diverifikasi oleh TIK dan
direkomendasikan sebagai kegiatan inovatif yang bisa dilakukan capturing.
1. Proses “capturing”
Hasil identifikasi dari masing-masing desa terutama yang masuk kriteria kegiatan
inovatif dan direkomendasikan oleh TIK, selanjutnya didokumentasikan dalam
bentuk media visual/ video, album photo, artikel/tulisan dan media cetak lainnya.
TIK dan TPID akan diberi pelatihan terkait metode capturing terlebih dahulu
sebelum proses capturing dilakukan.
2. Penyusunan Dokumen Pembelajaran
Hasil capturing yang sudah dilakukan, selanjutnya dilakukan proses analisa sesuai
dengan kearifan lokal untuk disusun sebagai dokumen pembelajaran atas praktik
cerdas di wilayah lokasi sasaran. Dokumen pembelajaran tersebut menjelaskan
petunjuk dan proses langkah demi langkah terhadap praktik cerdas atau inovasi
yang telah terjadi.

K. Verifikasi Dokumen Pembelajaran dan Sistem Pengelolaan Pengetahuan


Pokja PPID-TIK selanjutnya melakukan proses verifikasi atas dokumen-dokumen
pembelajaran yang sudah dibuat oleh TPID-TPID. Setelah verifikasi, dokumen-dokumen
pembelajaran tersebut dimasukkan dalam wadah atau platform, kegiatan inovasi (sistem
pengelolaan pengetahuan) berbasis web yang dapat diakses oleh seluruh desa secara
luas. Platform kegiatan inovasi inilah yang selanjutnya disampaikan kepada kecamatan-
kecamatan untuk dipilih sebagai bahan penyelenggaraan Bursa Inovasi Desa (BID).

L. Peluncuran Bursa Inovasi Desa di Kabupaten/Kota


Kegiatan ini merupakan pertemuan untuk meluncurkan akan adanya Bursa Inovasi Desa
(BID) yang akan diselenggarakan di setiap kecamatan.

M. Bursa Inovasi Desa di Kecamatan


Sebelum penyelenggaraan BID di kecamatan, desa sudah menyiapkan data-data sebagai
berikut:
1. Bidang Sumber Daya Manusia:
a. Ibu Hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronik (KEK), yaitu ibu hamil yang
memiliki ukuran lingkar lengan atas (LILA) di bawah standar kesehatan ibu
hamil;
b. Bayi atau Balita yang jarang dibawa ke posyandu, yaitu bayi atau balita yang
tidak pernah dibawa ke Posyandu berturut-turut dalam 3 bulan terakhir;

216| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

c. Bayi atau Balita yang berat badanya masih di bawah garis merah (indikasi gizi
buruk atau gizi kurang) pada Kartu Menuju Sehat (KMS);
d. Anak usia SD dan SMP yang tidak bersekolah, yaitu anak yang pada saat
pendataan berusia minimum 8 tahun dan maksimal 14 tahun tidak bersekolah
SD atau SMP, termasuk mereka yang masuk kategori berkebutuhan khusus;
e. Anak usia SD atau SMP (8 s/d 14 tahun) yang putus sekolah, termasuk yang
berkebutuhan khusus.
f. Tingkat pendidikan pelaku pengembangan usaha ekonomi desa
g. Anak usia 3 s/d 6 tahun yang tidak terdaftar di PAUD
h. Jumlah pengangguran di Desa
i. Tingkat urbanisasi masyarakat
2. Bidang Infrastruktur:
a. Akses masyarakat dalam mendapatkan listrik (prosentase masyarakat
menggunakan listrik)
b. Akses masyarakat dalam mendapatkan air bersih (prosentase masyarakat
menggunakan air bersih)
c. Akses masyarakat dalam sanitasi (prosentase penggunaan jamban atau MCK)
d. Akses masyarakat dalam irigasi pertanian dan perikanan
e. Akses masyarakat terhadap ruang public dan sarana olah raga
f. Akses prasarana terhadap perekonomian desa
g. Akses komunikasi dan informasi Desa
h. Keberadaan perumahan yang tidak layak huni (Jumlah rumah tidak layak huni)
3. Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Ekonomi Lokal
a. Data potensi unggulan Desa
b. Data kegiatan BUMDesa
c. Data kelompok usaha ekonomi masyarakat dan kewirausahaan
d. Akses masyarakat ke lembaga keuangan
Alur pelaksanaan Bursa Inovasi Desa adalah sebagai berikut:
a. TPID menggelar rapat untuk persiapan penyelenggaraan bursa inovasi desa;
b. Dalam rapat persiapan ini, akan disiapkan dokumen pembelajaran kegiatan inovasi
yang telah direkomendasikan oleh TIK. Dokumen pembelajaran ini dalam bentuk
video dan atau tulisan atas kegiatan-kegiatan pembangunan dan pemberdayaan
masyarakat yang telah dilakukan, di bidang pengembangan ekonomi lokal,
sumberdaya manusia dan prasarana infrastruktur;

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 217


PROGRAM INOVASI DESA

c. Lokasi yang belum menyelenggarakan BID, dokumen pembelajaran yang


digunakan sebagai rujukan adalah sebanyak 50 inovasi yang telah disiapkan dan
diverifikasi sesuai kriteria inovatif.
Penyelenggaraan BID dilakukan dengan tujuan utama adalah untuk:
a. Memberikan masukan/ide terhadap perencanaan pembangunan desa;
b. Membagi kegiatan inovasi yang telah didokumentasikan dalam bentuk video
maupun tulisan;
c. Membangun komitmen desa untuk melakukan adaptasi inovasi;
d. Membagi informasi direktori P2KTD
Hasil dari BID berupa Kartu Komitmen sebagai wujud keseriusan Desa untuk
melakukan replikasi. Kartu Ide juga menjelasakan bahwa terdapat terdapat kegiatan
yang inovasi yang telah dilaksanakan, namun belum terdokumentasikan. TPID akan
melakukan pendataan dalam bentuk daftar usulan dari Kartu Komitmen dan Kartu Ide
untuk ditindaklanjuti. Lebih lanjut tentang BID dapat dilihat dalam Panduan
Penyelenggaraan Bursa Inovasi Desa.

Contoh Kartu Komitmen dan Kartu Ide

218| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 219


Contoh Format Rekapitulasi Kartu Komitmen dan Kartu Ide

Rekapitulasi Kartu Komitmen Rekapitulasi Kartu Ide Kebutuhan


Realisasi Jasa
Tgl.
No Provinsi Kabupaten Bursa A Bursa B di APBDes Bursa A Bursa B Layanan Ket
Pelaksanaan
2018 Teknis
Kewirausahaa (PJLT)

220| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


Infrastruktur Kewirausahaan SDM Infrastruktur SDM
n
PROGRAM INOVASI DESA

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (9) (10) (11) (12)
PROGRAM INOVASI DESA

N. Proses Capturing Kartu Ide Hasil Bursa Inovasi Desa


Dari Kartu Ide hasil BID selanjutnya dilakukan proses capturing atau pendokumentasian
kegiatan inovasi mengikuti alur sebagaimana disampaikan di atas. Proses capturing
menggunakan metode dan format yang akan dilatihkan kepada TIK dan TPID
sebagaimana disebutkan di atas. Capturing dilakukan terhadap inovasi yang merupakan
hasil rekapitulasi ide inovasi yang diusulkan Desa dalam Kartu Ide dari BID dan telah
diverifikasi sebagai inovatif oleh TIK.

O. Proses Replikasi Inovasi melalui Forum Desa


Dari Kartu komitmen yang sudah ditandatangani Kepala Desa selanjutnya difasilitasi
kegiatan yang akan direplikasi untuk dimasukkan dalam APB Desa melalui forum Desa.
Forum ini dilakukan melalui proses perencanaan desa secara reguler sebagai media
untuk pengarusutamaan replikasi program-program inovasi dalam APB Desa.
Pengarusutamaan dilakukan melalui proses pengelolaan inovasi dan peningkatan
kapasitas pelaku masyarakat dan Desa dan diharapkan kegiatan replikasi dapat
dilakukan pada tahun berikutnya.
Contoh: Beberapa instrumen dasar untuk memfasilitasi pertukaran inovasi desa yang
dapat dimodifikasi dan digunakan sesuai kebutuhan replikasi:

Kelompok Pertemuan kelompok secara regular dan memiliki kesamaan


Belajar minat untuk saling belajar satu dengan lain, misalkan sebulan
sekali atau sesuai kesepakatan

Konferensi Mengirim perwakilan desa/daerah untuk menghadiri pertemuan


dimana sejumlah besar peserta datang bersama-sama untuk
berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka tentang topik/ tema
khusus, terutama pengetahuan yang dimiliki desa/daerah atau yang
mungkin dibutuhkan desa/ daerah.

Kunjungan Mengirim atau mengundang praktisi atau pakar khusus dari sebuah
pakar desa/ kabupaten/ organisasi penyedia pengetahuan ke sebuah
desa/ kabupaten/ organisasi yang membutuhkannya untuk menilai
kondisi riil saat ini dan memberikan bimbingan dalam penyelesaian
masalah atau tantangan yang dihadapi

Dialog Memfasilitasi perbincangan antara pihak yang memiliki


Pengetahuan pengetahuan dengan pihak yang membutuhkan (agen perubahan)
guna menggali akar masalah dan membuka wawasan hingga
menghasilkan sebuah tindakan atau hasil nyata

Studi tur Kunjungan atau serangkaian kunjungan, baik oleh individu atau
group, ke satu atau lebih desa/ kecamatan/ kabupaten atau tempat-
tempat di kecamatan/ kabupaten yang sama, dengan tujuan untuk

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 221


PROGRAM INOVASI DESA

mempelajari dan mendalami hal/ bidang khusus secara langsung


dari sumbernya, misalkan bagaimana satu hal dapat dilaksanakan
dengan baik dan berhasil

Tandem Menggandeng desa/ lembaga dengan potensi sama, namun lebih


matang dan berpengalaman, untuk bermitra guna menghasilkan
sesuatu yang menguntungkan kedua belah pihak

Workshop Kegiatan terstruktur untuk mendorong peserta memecahkan


sebuah isu atau permasalahan dengan cara bekerjasama. Dapat
dilakukan di tingkat kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi

P. Pelaksanaan Kegiatan P2KTD


Setelah ada prioritas kegiatan pemberian Jasa layanan teknis, selanjutnya dilakukan
proses pelaksanaan kegiatan P2KTD

Q. Musyawarah Antar Desa (MAD)-2


TIPD menyampaikan laporan pertanggung jawaban dan penggunaan Dana Bantuan
Pemerintah PPID melalui MAD II-2. Laporan pertanggungjawaban selanjutnya
disampaikan kepada TIK yang ditembuskan kepada Satker Provinsi.

222| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 223


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 3.2.1

Fasilitasi Pengelolaan Pengetahuan dan Inovasi Desa

A. Pendahuluan
Pada umumnya pengelolaan pengetahuan diarahkan untuk tujuan organisasional
seperti peningkatan kinerja, memacu inovasi, mempertahankan atau mengembangkan
keuntungan komparatif, serta berbagi informasi dan pengetahuan dalam organisasi.
Intinya adalah bahwa jika pengetahuan orang-orang dalam organisasi, baik secara
perseorangan maupun bersama-sama merupakan modal suatu organisasi, maka
sebaiknya pengetahuan itu dikelola dengan sebaik-baiknya.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di sejumlah lokasi, banyak pengetahuan
dan kegiatan inovatif yang telah dilakukan atas inisiatif masyarakat, Pemerintah Desa
maupun Kabupaten dalam menjawab sebuah tantangan atau dalam menjalankan
kegiatan pembangunan. Pertukaran pengetahuan dan pembelajaran antar-desa
maupun dengan kabupaten pun telah terjadi. Inisiatif tersebut dilakukan berdasarkan
kebutuhan masyarakat dan mendapat dukungan dari berbagai program.
Meski demikian, seiring berhentinya sebuah program, tidak sedikit inisiatif yang
hilang. Untuk itu, perlu ada sistem pengelolaan inisiatif yang memiliki nilai-nilai inovasi.
Selain untuk menjamin keberlanjutan inisiatif tersebut, pengelolaan yang baik dapat
memungkinkan pihak lain mengakses informasi terkait inisiatif atau inovasi tersebut,
menjadikan inspirasi atau bahkan rujukan bagi penyelesaian masalah mereka atau
pengayaan kegiatan pembangunan yang lebih efektif dan inovatif.

224| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

B. Pengertian
Pengelolaan pengetahuan adalah upaya yang sadar dan sengaja untuk mengelola
informasi dan pengetahuan sebagai aset, menjaga keberlanjutan keberadaan
pengetahuan itu dalam kehidupan masyarakat di Desa, termasuk didalamnya upaya
mengembangkan dan menangkap (knowledge generation dan knowledge capture)
pengetahuan, pembelajaran dan pengalihan pengetahuan (knowledge transfer), serta
pemanfaatan pengetahuan itu. Upaya itu mencakup pula identifikasi tacit
knowledge (pengetahuan tersirat), yang kerakali tidak diketahui pembawa pengetahuan
sendiri, untuk menjadikannya pengetahuan yang tersurat (explicit knowledge) agar dapat
didokumentasikan dan diteruskan kepada pihak lainnya.
Inovasi tidak sama dengan praktik cerdas (best practice). Inovasi disini merujuk
pada cara atau pendekatan yang berbeda dari biasanya (apakah itu cara baru atau cara
yang dikembangkan dari yang sudah ada sebelumnya) yang ditempuh oleh (kelompok)
masyarakat atau instansi, dalam menjawab suatu masalah/tantangan yang dihadapi atau
dalam mengerjakan sesuatu, aplikatif dan terbukti berhasil.

C. Kriteria
Kriteria Inovasi adalah segala bentuk inisiatif atau “gebrakan” dari masyarakat,
kelompok, satuan kerja, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan
keberlanjutan pembangunan sebagai akibat dari intervensi Program Inovasi Desa
maupun aktivitas lainnya. Kriteria yang ditetapkan sebagai berikut:
a. Sangat Dibutuhkan (ada permintaan) di masyarakat
b. Terdefinisi dengan baik
c. Dapat direkam
d. Dapat/layak untuk dibagikan
e. Dapat diulang dan dikembangkan
f. Relevan

D. Katagori
Kategori inovasi Desa sebagai berikut:
a. Kegiatan pembangunan di bidang pengembangan ekonomi lokal dan
kewirausahaan, pengembangan sumber daya Manusia, dan infrastruktur Desa
yang memberi manfaat secara luas bagi masyarakat dan diketahui oleh
masyarakat;
b. Upaya yang berhasil mendorong terwujudnya kegiatan pembangunan berkualitas,
serta mendorong partisipasi dan kegotongroyongan masyarakat dalam
pembangunan;

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 225


PROGRAM INOVASI DESA

c. Kegiatan pengembangan sistem yang berdampak terhadap peningkatan ekonomi


dan sosial budaya;
d. Kegiatan pembangunan yang memiliki nilai keunikan karena mengadopsi unsur
budaya/potensi lokal dan pemanfaatan yang lebih luas serta memiliki nilai
keberlanjutan;
e. Kegiatan yang mempunyai sifat kebaruan atau penggabungan unsur baru dengan
yang sudah ada dan memberikan perubahan yang signifikan dari cara-cara
sebelumnya dan memiliki nilai keberlanjutan;
f. Kegiatan pembangunan yang dikembangkan dengan menyesuaikan terhadap
kondisi geografis, keberadaan sumberdaya dan fasilitas yang tersedia.

E. Model Pengelolaan
1. Pengelolaan Inovasi di Tingkat Kabupaten/Kota
Model pengelolaan inovasi di tingkat Kabupaten/Kota merupakan serangkaian kegiatan
pengelolaan inovasi mencakup diseminasi, sosialisasi, monitoring dan evaluasi yang
melibatkan pemangku kepentingan serta dilaksanakan di tingkat Kabupaten/Kota.
Tujuan pengelolaan inovasi di tingkat Kabupaten/Kota, yaitu:
a. Mendorong Kabupaten mengelola inovasi, serta menjadikannya sebagai Aset
Daerah yang bermanfaat bagi percepatan pembangunan desa melalui
penggunaan dana desa yang lebih efektif dan inovatif;
b. Mendorong Kabupaten memiliki media dan forum komunikasi dan belajar
melalui pertukaran inovasi secara regular dan berkelanjutan.
Dalam mendukung pelaksanaan Program Inovasi Desa, akan dilakukan
pembentukan Tim Inovasi Kabupaten/Kota yang difasilitasi oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota dengan melibatkan OPD terkait yang dibantu oleh TA-PID dan TA-
P3MD. Secara umum, langkah-langkah yang ditempuh dalam mengelola inovasi di
tingkat Kabupaten/Kota, sebagai berikut:
(10) Pengidentifikasian, verifikasi dan pemilihan minimal satu praktik cerdas yang
memiliki muatan inovasi per kecamatan;
(11) Pendokumentasian inovasi-inovasi terpilih dalam berbagai format, baik dokumen
pembelajaran tertulis, gambar, audio atau video;
(12) Pengemasan inovasi menjadi materi sosialisasi, publikasi atau promosi dan
pelatihan;
(13) Pengunggahan dan penyimpanan dokumen pembelajaran (inovasi-inovasi yang
telah didokumentasikan) pada aplikasi;
(14) Pengidentifikasian media promosi/publikasi/penyebaran dokumen inovasi dan
materi lainnya, serta penjalinan kerjasama promosi/publikasi/penyebaran
dokumen inovasi dan materi lainnya;

226| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(15) Penyebaran dokumen pembelajaran antar-desa dan kabupaten melalui berbagai


saluran komunikasi (Lihat Pedoman Pelaksanaan Sosialisasi)
(16) Pengelolaan, penyelenggaraan, dan pendokumentasian pelaksanaan Bursa
Inovasi;
(17) Monitoring dan evaluasi pelaksanaan serta dampak pelaksanaan Bursa Inovasi;
(18) Tindak lanjut pasca-Bursa Inovasi–follow up komitmen desa, fasilitasi kebutuhan
replikasi desa (Lihat Lampiran: Instrumen dasar kegiatan belajar), fasilitasi
kebutuhan pengelolaan inovasi di tingkat kecamatan

2. Pengelolaan Inovasi di Tingkat Kecamatan


Model pengelolaan inovasi di tingkat Kecamatan merupakan serangkaian kegiatan
pengelolaan inovasi mencakup diseminasi dan sosialisasi yang melibatkan pemangku
kepentingan serta dilaksanakan di tingkat Kecamatan. Tujuan pengelolaan inovasi di
Kecamatan, yaitu:
a. Melanjutkan dan mengembangkan upaya inovatif yang lahir dari masyarakat
dalam mendorong kemandirian Desa melalui penggunaan Dana Desa secara
efektif dan inovatif;
b. Mendokumentasikan praktik cerdas yang memiliki muatan inovasi dari setiap desa
yang akan menjadi aset Kecamatan;
c. Menyediakan media pembelajaran atau forum pertukaran inovasi di tingkat
kecamatan untuk kemajuan bersama.
Dalam mendukung pelaksanaan Program Inovasi Desa, akan dilakukan
pembentukan Tim Inovasi Kecamatan yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten/Kota
melalui Camat dengan melibatkan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dan dibantu
Pendamping Desa. Secara umum, langkah-langkah yang ditempuh dalam mengelola
inovasi di tingkat Kecamatan, sebagai berikut:
(1) Pengidentifikasian dan pemilihan inisiatif yang bermuatan inovasi dari desa-desa;
(2) Pendokumentasian secara sederhana dari inisiatif atau kegiatan-kegiatan inovatif
di desa-desa, dalam berbagai bentuk yang memungkinkan. Bisa dalam bentuk
tulisan, gambar, video, maupun audio;
(3) Pengemasan inovasi sesuai tema menjadi materi sosialisasi dan komunikasi
sederhana;
(4) Penyimpanan dokumen-dokumen pembelajaran dalam tempat/ruangan tertentu;
(5) Penyebaran dokumen-dokumen pembelajaran ke desa-desa melalui berbagai
saluran komunikasi (Lihat Pedoman Pelaksanaan Sosialisasi) dan/atau melalui
forum-forum pertemuan masyarakat antar-desa
(6) Penentuan minimal satu inovasi per kecamatan untuk diajukan, diverivikasi dan
dikelola oleh Tim Inovasi Kabupaten/Kota.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 227


PROGRAM INOVASI DESA

F. Instrumen Kegiatan Belajar


Berikut ini ditampilkan beberapa instrumen dasar kegiatan peningkatan
kapasitas Desa yang dapat dimodifikasi dan digunakan sesuai kebutuhan dalam
memfasilitasi mereplikasi inovasi.

Kelompok Pertemuan kelompok secara regular dan memiliki kesamaan minat


Belajar untuk saling belajar satu dengan lain, misalkan sebulan sekali atau
sesuai kesepakatan
Konferensi Mengirim perwakilan desa/ daerah untuk menghadiri pertemuan
dimana sejumlah besar peserta datang bersama-sama untuk
berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka tentang topik/
tema khusus, terutama pengetahuan yang dimiliki desa/ daerah
atau yang mungkin dibutuhkan desa/ daerah.
Kunjungan Mengirim atau mengundang praktisi atau pakar khusus dari
pakar sebuah desa/ kabupaten/ organisasi penyedia pengetahuan ke
sebuah desa/ kabupaten/ organisasi yang membutuhkannya untuk
menilai kondisi riil saat ini dan memberikan bimbingan dalam
penyelesaian masalah atau tantangan yang dihadapi
Bincang Memfasilitasi perbincangan antara pihak yang memiliki
Pengetahuan pengetahuan dengan pihak yang membutuhkan (agen perubahan)
guna menggali akar masalah dan membuka wawasan hingga
menghasilkan sebuah tindakan atau hasil nyata
Study tour Kunjungan atau serangkaian kunjungan, baik oleh individu atau
group, ke satu atau lebih desa/ kecamatan/ kabupaten atau
tempat-tempat di kecamatan/ kabupaten yang sama, dengan
tujuan untuk mempelajari dan mendalami hal/ bidang khusus
secara langsung dari sumbernya, misalkan bagaimana satu hal
dapat dilaksanakan dengan baik dan berhasil
Tandem Menggandeng desa/ lembaga dengan potensi sama, namun lebih
matang dan berpengalaman, untuk bermitra guna menghasilkan
sesuatu yang menguntungkan kedua belah pihak
Workshop Kegiatan terstruktur untuk mendorong peserta memecahkan
sebuah isu atau permasalahan dengan cara bekerjasama. Dapat
dilakukan di tingkat kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi

G. Media
Berikut ini diberikan beberapa contoh media yang data digunakan sebagai
sarana sosialisasi, promosi, publikasi dan pelatihan di Desa yang dapat digunakan
sesuai kebutuhan dalam memfasilitasi kegiatan inovasi Desa.
1) Baliho/backwall 9) Buletin
2) Backdrop 10) Website
3) Spanduk 11) Cerita bergambar
4) Banner 12) Infografik

228| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

5) Brosur/flier 13) Videografik/animasi/dokumenter


6) Poster 14) Buku Pembelajaran
7) Press release 15) Dll
8) Infokit

Kegiatan sosialisasi, promosi atau publikasi yang dapat dilakukan diantaranya:


(1) Penyebaran informasi dan materi/dokumen inovasi melalui berbagai saluran
komunikasi, sosialisasi/promosi/publikasi antar-desa dan kabupaten, baik yang
dimiliki sendiri maupun dimiliki pihak lain melalui jalinan kerjasama (Lihat
Pedoman Pelaksanaan Sosialisasi;
(2) Pembuatan dan mengiriman press release kegiatan ke media massa;
(3) Penyelenggaraan jumpa pers terkait kegiatan tertentu;
(4) Pemasangan baliho, spanduk, banner, poster, umbul-umbul kegiatan;
(5) Pendistribusian soft copy dan hardcopy dokumentasi inovasi ke berbagai pihak;
(6) Kontribusi konten atau pengisian acara di media massa lokasl: talkshow, running
text, dll;
(7) Kerjasama peliputan kegiatan dengan media local;
(8) Penayangan dokumen inovasi pada website dan media tayang lain;
(9) Kerjasama sosialisasi, promosi, publikasi dengan berbagai instansi;
(10) Media field visit –mengundang media atau pihak tertentu ke salah satu desa
innovator, dan lain-lain.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 229


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 3.3.1

Panduan Penyelenggaraan Bursa Inovasi Desa (BID)

A. Pendahuluan
Bursa Inovasi Desa (BID) merupakan sebuah forum penyebaran dan pertukaran inisiatif
atau inovasi masyarakat yang berkembang di desa-desa. Kegiatan BID dapat
diselenggaran di tingkat Kabupaten/Kota sebagai kegiatan peluncuran untuk
mendukung pelaksanaan inovasi Desa dan di tingkat Kecamatan sebagai wahana
pertukaran pengetahuan dan inovasi Desa. BID merupakan bagian tak terpisahkan dari
Model Pengelolaan Pengetahuan dan Inovasi Desa (PPID) mulai dari tinggjat
Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa.
Perlu ditekankan bahwa BID merupakan media belajar bagi Desa untuk
memperoleh informasi dan kegiatan inovasi yang dapat mendukung pembangunan
Desa. BID bukan ajang pertukaran “jual-beli” cara-cara atau solusi yang telah dinilai
inovatif, terutama terkait kegiatan pembangunan Desa. BID bukan juga kegiatan
pameran barang tapi ide-ide kreatif dalam pembangunan Desa. BID dilaksanakan untuk
membantu Desa dalam meningkatkan kualiatas pembangunan melalui pertukaran
pengetahuan kegiatan yang inovatif untuk memberi inspirasi dan alternatif pilihan
kegiatan bagi pembangunan Desa.

B. Maksud dan Tujuan


Maksud diselenggarakannya BID untuk menjembatani kebutuhan Pemerintah Desa akan
solusi bagi penyelesaian masalah, serta inisiatif atau alternatif kegiatan pembangunan
desa dalam rangka penggunaan Dana Desa yang lebih efektif dan inovatif. Sedangkan
tujuan diselnggarakan BID sebagai berikut:
1. Mendiseminasikan informasi pokok terkait Program Inovasi Desa (PID) dan Hibah
Dana Desa;
2. Menginformasikan rencana kegiatan penyelenggaraan Pengelolaan Pengetahuan
dan Inovasi Desa kepada pemangku kepentingan di tingkat Kabupaten/Kota,
Kecamatan dan Desa;
3. Menginformasikan pelaku yang terlibat dalam Pengelolaan Pengetahuan dan
Inovasi Desa di tingkat Kabupaten, Kecamatan dan Desa
4. Memperkenalkan inisiatif atau inovasi masyarakat yang berkembang di Desa
dalam menyelesaikan masalah dan mendukung peningkatan kualitas
pembangunan.
5. Menjaring komitmen Pemerintah Desa untuk mengadopsi atau mereplikasi inisiatif
atau inovasi yang diperoleh dalam BID.

230| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

C. Hasil yang Diharapkan


1. Terdiseminasikan informasi penitng terkait Program Inovasi Desa (PID);
2. Terdesiminasikan rencana kegiatan penyelenggaraan Pengelolaan Pengetahuan
dan Inovasi Desa (PPID) dan Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD)
kepada pemangku kepentingan di tingkat Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa;
3. Terbangunnya dukungan dan kerjasama dari pemangku kepentingan baik
pemerintah, pemerintah daerah dan Desa dalam penyelenggaraan Bursa Inovasi
Desa (BID) di tingkat Kabupaten/Kota dan Kecamatan;
4. Tersedianya dokumen pembelajaran tentang inisiatif atau inovasi masyarakat yang
berkembang di Desa dalam menyelesaikan masalah dan mendukung peningkatan
kualitas pembangunan.
5. Terbangunnya komitemen Pemerintah Daerah dan Pemerintah Desa dalam
mengadopsi dan mereplikasi kegiatan Inovasi Desa.

D. Waktu Pelaksanaan
BID sebaiknya dilaksanakan sebelum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa
(Musrenbang Desa) atau pengesahan Rencana Kegiatan Pembangunan Desa (RKP Desa
dan APB Desa). Agar Pemerintah Daerah dan Pemerintah Desa dapat mewujudkan
komitmennya dalam bentuk kebijakan dan dukungan pembiayaan melalui APBD dan
APB Desa.

E. Ruang Lingkup Pelaksanaan


1. Peluncuran Bursa Inovasi Desa (BID) di Tingkat Kabupaten/Kota

BID di tingkat Kabupaten/Kota diselenggarakan dalam rangka mendorong dukungan


Pemerintah Daaerah dalam penyelenggraan kegiatan BID di tingkat Kecamatan.
Peluncuran BID di tingkat Kabupaten/Kota merupakan kegiatan yang membuka secara
formal dan mengantarkan rangkaian pelaksanaan BID di seluruh kecamatan, serta
memberikan ruang bagi pemangku kepentigan yang lebih luas dengan mengundang
pelaku di tingkat Kecamatan dan Desa sebagai diseminasi, pertukaran pengalaman dan
pembelajaran inovasi desa antar Kecamatan.

2. Pelaksanaan Bursa Inovasi Desa (BID) di Tingkat Kecamatan


Penyelenggaraan BID di tingkat Kecamatan diharapkan dapat memberikan keleluasaan
bagi Desa dalam lingkup kecamatan untuk melakukan pertukaran inovasi desa dan
membangun komitmen desa dalam replikasi. Secara teknis BID di tingkat Kecamatan
diselenggarakan di lokasi kecamatan yang memadai untuk menampung jumlah peserta
yang akan diundang. Pelaksanaan BID dibagi dalam beberapa ruang, antara lain:
• Ruang Pleno untuk menampung seluruh peserta;

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 231


PROGRAM INOVASI DESA

• Ruang Bursa A (Infrastruktur dan Kewirausahaan/Ekonomi) untuk menampung


minimal 50% peserta, dengan beberapa sudut untuk display inovasi;
• Ruang Bursa B (Sumberdaya manusia) untuk menampung minimal 50% peserta,
dengan beberapa sudut untuk display inovasi;
• Setiap ruang bursa dilengkapi 3-5 meja konsultasi.

F. Peserta
Peserta yang hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan BID yaitu:
• Perwakilan Desa: Tiga orang per desa (pihak yang dapat memberikan keputusan
atau komitmen), minimal Kepala Desa dan BPD sebagai penanggung jawab
penyelenggaraan pembangunan desa.
• Camat untuk sebagai pembina penyelenggaraan BID di tingkat kecamatan
• Kepala Daerah/ Bupati (untuk pembukaan)
• Kepala Dinas PMD Kabupaten
• Perwakilan Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD/P2KTD)
• Pihak lain sebagai pemantau

G. Penyelenggara dan Pemandu


Penyelenggara dan pemandu Peluncuran Bursa Inovasi Desa (BID) di tingkat
Kabupaten/Kota adalah Tim Inovasi Kabupaten (TIK-PID). Penyelenggara BID di tingkat
Kecamatan adalah Tim Pengelola Inovasi Desa (TPID). Proses fasilitasi BID di tingkat
Kecamatan dilaksanakan oleh TPID dibantu TIK-PID dan pendamping profesional
(TAPM, PD dan PLD).

H. Metode
Penyelenggaraan BID menggunakan pendekatan bursa atau expose/pertukaran
gagasan dan inovasi desa, pemaparan, pengamatan, unit belajar (learning unit) atau
jendela bursa, multi media, bimbingan serta konsultasi.

I. Materi
• Panduan Teknis Operasional Program Inovasi Desa (PID)
• Panduan Teknis Operasional Pengelolaan Pengetahuan dan Inovasi Desa
• Panduan Teknis Penyelenggaraan Bursa Inovasi Desa (BID)
• Daftar inovasi Desa, dll.

232| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

J. Media dan Alat Pendukung


• Daftar hadir
• Agenda
• Peta Alur Kegiatan Bursa Inovasi
• Poster dan Brosur Inovasi
• Daftar Inovasi per bidang (Infrastruktur, Kewirausahaan/Ekonomi, Sumberdaya
Manusia)
• Daftar Inovasi per Ruang Bursa (Ruang Bursa A, Bursa B)
• Video tentang PID dan pembelajaran inovasi Desa
• Kartu untuk penjaringan Komitmen (Kartu Komitmen) yang dibuat sedemikian
rupa sehingga menjadi dua bagian yang dapat disobek: 1 untuk Panitia dan 1
untuk desa
• Kartu untuk penjaringan ide-ide (Kartu IDE)
• Sertifikat
• Stempel PID Kabupaten di meja konsultasi
• Stiker (pemilihan inovasi terbaik) di meja konsultasi
• Alat bantu lain: sound system, projector/in focus, screen, laptop
• Kamera untuk dokumentasi foto bersama seluruh kepala desa

K. Tahapan Kegiatan

Persiapan : (1) Tim Inovasi kabupaten melakukan sosialisasi dan koordinasi


dengan OPD tekait mengenai rencana Bursa;
(2) Penyusunan Kepanitiaan;
(3) Penentuan Tanggal, waktu dan tempat penyelenggaraan
Bursa Inovas Desa (BID);
(4) Menyiapkan undangan, daftar undangan dan daftar hadir
undangan;
(5) Menyiapkan undangan untuk peserta pameran (jika
diperlukan);
(6) Penyusunan Agenda Bursa Inovasi Desa (BID;
(7) Penghitungan RAB Logistik yang dibutuhkan untuk
penyelenggaraan Bursa Inovasi Desa (BID);
(8) Penyiapan materi dan alat yang dibutuhkan;
(9) Pengaturan pembagian ruangan Bursa Inovasi Desa (BID);
(10) Pengaturan pembangian stand untuk pameran (jika perlu);
(11) Skenario mobilisasi peserta.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 233


PROGRAM INOVASI DESA

Proses : Peserta mengisi daftar hadir dan diberikan Agenda Kegiatan,


salinan dokumen pembelajaran dan video, Kartu Komitmen, Kartu
IDE.
Jendela Pertama (Pleno – Penjelasan Umum)
(1) Seluruh peserta memasuki ruang pleno
(2) Panitia menyampaikan secara singkat Agenda Kegiatan
(3) Pembukaan
(4) Foto Bersama seluruh peserta
(5) Pemandu yang ditunjuk oleh Tim Pengelola Inovasi Desa
(TPID) sebagai panitia menyampaikan informasi-informasi
pokok terkait: PID, PPID, Mekanisme Bursa/ alur belanja di
dua ruang Bursa yang berbeda (Bursa A dan Bursa B) serta
menu inovasi yang disajikan, Penggunaan Kartu Komitmen
dan Kartu IDE, Pemberian rating untuk inovasi terbaik dan
diminati, serta Pengambilan Sertifikat dan Foto.
(6) Peserta dipersilakan menuju “Jendela Kedua” untuk
“berbelanja” inovasi dan melakukan konsultasi di setiap
ruang Bursa yang dibuka secara parallel
(7) Jendela Kedua (Belanja di Bursa A dan/atau Bursa B)
• Panitia mengarahkan peserta untuk berbelanja di Ruang
Bursa A dan juga ruang Bursa B
• Di setiap ruang bursa, pemandu yang ditunjuk oleh TPID
menyampaikan: (a) Mekanisme belanja inovasi dan (b)
Sekilas menu inovasi yang tersedia di ruang Bursa A atau
Bursa B
• Penayangan video-video inovasi
• Tanya jawab
• Peserta menuliskan inovasi-inovasi (minimal 1 inovasi)
yang diminati dan kebutuhan-kebutuhan dalam
mereplikasinya pada Kartu Komitmen
• Peserta menyampaikan informasi inovasi lain yang
diketahui telah dilakukan di desanya namun belum
tersedia di Bursa, dan menuliskannya di Kartu IDE
• Peserta melakukan konsultasi di meja konsultasi yang
disiapkan guna menggali informasi lebih dalam mengenai
inovasi yang diminati dari menu yang disediakan dan
kebutuhan untuk replikasi

234| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

• Peserta melengkapi Kartu Komitmen dengan inovasi yang


diminatinya untuk direplikasi di desanya
• Panitia di meja konsultasi akan memberikan stempel
sesuai Ruang Bursa pada kartu Komitmen
• Peserta diberikan satu stiker dan dipersilakan memberi
rating inovasi yang diminatinya pada display yang
disediakan, dan peserta dipersilakan menuju ke “Jendela
Ketiga”
(8) Jendela Ketiga (Komitmen)
• Peserta menyerahkan Kartu Komitmen dan Kartu IDE
kepada panitia untuk ditukarkan dengan Sertifikat
Komitmen Replikasi dan Foto
• Panitia mengumpulkan dan mendata Kartu Komitmen,
Kartu IDE, dan Inovasi yang diminati peserta

Hal-hal yang : (1) Pastikan kehadiran perwakilan seluruh Desa untuk mengikuti
harus Bursa Inovasi
diperhatikan (2) Persiapkan secara baik dan lengkap media atau alat serta
materi (dibuat dalam ppt yang menarik atau ditulis pada
kertas besar dengan desain menarik)
(3) Atur setiap ruang/ bursa dengan baik sehingga memungkin-
kan peserta berinteraksi dengan baik dan merasa nyaman.
Pastikan setiap ruangan Pleno, Bursa A dan Bursa B,
Penukaran Kartu Komitmen diberi tanda petunjuk yang jelas

(4) Hindari hal–hal yang bersifat dominasi terhadap proses


pertemuan dari dan oleh siapapun juga
(5) Fasilitator jangan memaksakan diri untuk menjawab
pertanyaan yang belum diketahui persis kepastiannya,
apalagi yang berkaitan dengan kebijakan PID/VIG
(6) Dokumentasikan secara baik proses dan hasil Bursa Inovasi
(7) Pastikan setiap wakil Desa sudah memahami betul tentang
konsep PID/PPID dan Tujuan Bursa Inovasi, serta memberi-
kan Komitmen untuk replikasi
(8) Hindari penggunaan bahasa asing atau singkatan-singkatan,
pergunakan bahasa dan kebiasaan lokal
(9) Mempersiakan jalur komunikasi pasca bursa untuk
pertanyaan lanjutan dari pihak desa.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 235


PROGRAM INOVASI DESA

Kepanitiaan • Pembina
:
• Penanggung jawab
• Koordinator Bursa Inovasi
• Bagian Umum (Perlengkapan, Perizinan, Tempat dan Alat)
• Bagian Korespondensi (Undangan, Koordinasi, Konfirmasi)
• Bagian Substansi (penyiapan materi)
• PIC Registrasi peserta/undangan
• PIC Protokol & Pembukaan
• PIC Pleno
• PIC Ruang Bursa A
• PIC Ruang Bursa B
• PIC Konsultan untuk meja-meja konsultasi
• PIC Pameran (jika perlu)
• PIC Ruang Penukaran Kartu Komitmen
• Bagian Konsumsi
• Bagian dokumentasi
Display : (1) Luar Ruang:
• Daftar Inovasi desa per Bidang – @3 rangkap (Plano)
• Spanduk Kegiatan
• Denah Alur dan Petunjuk ruangan (plano)
• Poster inovasi desa - @3 rangkap
(2) Dalam Ruang Bursa:
• Daftar inovasi desa per Ruang Bursa – 3 rangkap (plano)
• Daftar inovasi desa untuk diberikan rating oleh peserta
• Brosur inovasi desa
• Daftar P2KTD (direktori)
• Displai Inovasi desa (bila perlu)
• Penayangan video inovasi desa
• Nama setiap ruangan

236| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 237


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 4.1.1

Konsep Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa


(P2KTD)

A. Dasar Pemikiran
Program Inovasi Desa merupakan salah satu upaya Kemendesa PPDT dalam
mempercepat penanggulangan kemiskinan di Desa melalui pemanfaatan dana desa
secara lebih berkualitas dengan strategi pengembangan kapasitas desa secara berke-
lanjutan khususnya dalam bidang pengembangan sumber daya manusia,
pengembangan sumber daya manusia: Pelayanan Sosial Dasar , serta Infrastruktur Desa.
Dana Desa menumbuhkan kebutuhan jasa layanan teknis yang beragam yang
tidak dapat dipenuhi oleh OPD terkait dan pemangku kepentingan professional.
Sementara itu, Desa memiliki keterbatasan dalam mengakses Penyedia Peningkatan
Kapasitas Teknis Desa professional yang berasal dari lembaga swadaya masyarakat,
Universitas, Asosiasi profesi dan perusahaan. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan
pasar akan penyedia peningkatan kapasitas teknis desa dalam mendukung
pembangunan desa. Di sisi lain, lembaga Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa
yang professional belum memanfaatkan peluang jasa layanan ini karena keterbatasan
informasi serta kurangnya dukungan dari pemangku kepentingan terkait.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mendekatkan kebutuhan desa dengan
pihak penyedia peningkatan kapasitas teknis desa dan menjamin tersedianya jasa
layanan yang berkualitas diperlukan sistem layanan yang dapat diakses dengan mudah
oleh desa. Oleh karena itu, jasa layanan teknis yang sudah ada perlu diorganisir dan
diperkuat kapasitasnya agar dapat memberikan pelayanan secara lebih berkualitas dan
berkelanjutan sesuai kebutuhan Desa. Desa diharapkan memiliki pilihan untuk
mendapatkan jasa layanan teknis yang berkualitas dalam mendukung pelaksanaan
pembangunan Desa.

B. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5495). (4) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 213, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5539) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 43

238| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014
tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 157,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5717);
3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2014 Tentang Perubahan
Atas Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi
Nasional(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 97);
4. Peraturan Bersama Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Dan
Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor: 03 Tahun 2012, Nomor: 36
Tahun 2012 Tentang Penguatan Sistem Inovasi Daerah(Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2012 Nomor 484);
5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 5
Tahun 2012 Tentang Sistem Standardisasi Kompetensi Kerja Nasional (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 338).
6. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan
Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 161);
7. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2015 tentang Pemangku kepentinganan Desa
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 160);
8. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017 Tentang Penetapan Prioritas
Penggunaan Dana Desa Tahun 2018 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2017 Nomor 1359).

C. Maksud dan Tujuan


Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (p2KTD) dimaksudkan untuk membantu
desa mewujudkan kegiatan inovasi desa yang membutuhkan keahlian teknis tertentu
dalam meningkatkan kualitas pembangunan Desa, di bidang pengembangan ekonomi
lokal dan kewirausahaan, pengembangan sumber daya manusia, serta infrastruktur
Desa.
Secara khusus tujuan P2KTD yaitu:
1. Mewujudkan kegiatan pembangunan desa yang inovatif dan lebih berkualitas.
2. Membantu pemerintah daerah dalam menyediakan layanan teknis yang
dibutuhkan desa.
3. Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan kader pemberdayaan masyarakat desa.

D. Pengertian

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 239


PROGRAM INOVASI DESA

Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD) dalam Program Inovasi Desa
adalah lembaga profesional yang menyediakan jasa keahlian teknis tertentu di bidang
Pengembangan Ekonomi Lokal dan Kewirausahaan, Pengembangan Sumber Daya
Manusia, dan Infrastruktur Desa. P2KTD bersifat mendukung pendampingan teknis yang
dilakukan oleh OPD kabupaten/kota dan tenaga Pendamping Profesional.
E. Kedudukan dan Lokasi
P2KTD berkedudukan di Kabupaten/kota, diorganisir oleh Tim Inovasi Kabupaten/kota
untuk memberikan pelayanan teknis pembangunan desa dalam bidang pengembangan
ekonomi lokal dan kewirausahaan, pengembangan sumber daya manusia, dan
infrastruktur desa serta terdaftar dalam direktori P2KTD kabupaten/kota. Keberadaaan
P2KTD diharapkan dapat mempercepat pencapaian target RPJMN 2015-2019 dan
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus. Lokasi P2KTD di 33 provinsi dan 434
kabupaten/kota, dan ditetapkan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Transmigrasi.

F. Target Capaian
Dalam rangka mendukung Program Inovasi Desa (PID) perlu disediakan 2.604 P2KTD
meliputi bidang Pengembangan Ekonomi Lokal dan Kewirausahaan, pengembangan
sumber daya manusia, dan infrastruktur desa yang diharapkan dapat mendampingi
14,000 desa.

G. Prinsip-Prinsip
Dalam menjalankan perannya, P2KTD bekerja atas dasar prinsip-prinsip, sebagai berikut:
1. Profesional, memberikan pelayanan teknis berkualitas teknis sesuai standar
safeguard dan peraturan yang berlaku.
2. Tanggungjawab Sosial, pelayanan didasarkan atas komitmen menumbuhkan
kewirausahaan sosial (sosial entrepreneurship);
3. Inklusi Sosial (Social Inclusion), menghormati kesetaraan, berpihakan pada
perempuan, berkebutuhan khusus, dan mendorong kohesi sosial;
4. Ramah Lingkungan, mendorong penerapan teknologi yang tepat guna dan ramah
lingkungan;
5. Tata kelola, Jasa layanan yang diberikan harus bersifat transparan, partisipatif, dan
akuntabel.

H. Pemangku Kepentingan
1. Satker Dekonsentrasi P3MD/PID Provinsi
Satker Dekonsentrasi P3MD/PID dalam Program Inovasi Desa memiliki tugas dan
tanggungjawab sebagai berikut:

240| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(a) Mensosialisasikan P2KTD.


(b) Menyelenggarakan orientasi P2KTD.
(c) Menyelenggarakan orientasi Pokja P2KTD.
(d) Mengkoordinasikan kegiatan pembinaan dan pengendalian P2KTD.
(e) Melaporkan kegiatan orientasi dan layanan teknis P2KTD.
(f) Melaporkan seluruh kegiatan yang terkait dengan penggunaan dana
dekonsentrasi P2KTD.

2. Pemerintah Kabupaten/Kota
Pemerintah kabupaten/kota melalui OPD terkait memiliki tugas dan tanggungjawab
sebagai berikut:
(a) Memfasilitasi pembentukan Pokja P2KTD;
(b) Melakukan sosialisasi P2KTD;
(c) Memberikan dukungan regulasi untuk keberlanjutan P2KTD;
(d) Menyelenggarakan rapat koordinasi P2KTD;
(e) Melakukan pembinaan dan pengendalian kepada P2KTD dalam memberikan
layanan teknis kepada desa;
(f) Melaporkan kegiatan P2KTD ke provinsi.

3. Pokja P2KTD
Pokja P2KTD merupakan struktur dibawah Tim Inovasi Kabupaten yang dibentuk oleh
pemerintah kabupaten/kota untuk mendukung pelaksanaan Program Inovasi Desa.
Pokja P2KTD terdiri dari OPD terkait dan mempunyai tugas sebagai berikut:
(a) Melaksanakan identifikasi dan verifikasi P2KTD untuk kebutuhan direktori yang
meliputi: kriteria, pengumuman dan pendaftaran calon P2KTD. Kriteria P2KTD
meliputi aspek legalitas, kapasitas teknis dan ketersediaan tenaga, serta
pengalaman.
(b) Mempersiapkan penyusunan direktori P2KTD per bidang kegiatan secara off-line
dan on-line.
• Melakukan verifikasi dan rekomendasi atas usulan TPID terhadap
kebutuhan desa akan jasa layanan teknis.
• Memberikan rekomendasi kepada Satker Provinsi untuk peserta pelatihan.
• Melakukan updating direktori P2KTD.
• Melakukan koordinasi dan pembinaan terhadap pelaksanaan kegiatan
P2KTD.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 241


PROGRAM INOVASI DESA

4. Tenaga Ahli PID Provinsi

Tenaga ahli PID Provinsi untuk peningkatan kapasitas program Inovasi Desa memiliki
tugas dan tanggungjawab sebagai berikut:
(a) Mengkoordinasikan identifikasi,verifikasi, dan publikasi direktori P2KTD.
(b) Membantu tugas-tugas Satker Dekonsentrasi Provinsi terutama dalam kegiatan
sosialisasi, publikasi P2KTD dan pelatihan.
(c) Melakukan pembinaan dan pengendalian terhadap TAPM dalam seluruh proses
perencanaan dan pelaksanaan kegiatan P2KTD.
(d) Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap progress dan hasil pelaksanaan
kegiatan P2KTD .
(e) Membuat laporan pelaksanaan kegiatan P2KTD

5. Tenaga Ahli Pemberdayaa Masyarakat (TAPM)


TAPM yang memfasilitasi P2KTD terdiri dari TA Infrastruktur, TA Pelayanan Sosial Dasar
dan TA Pengembangan Ekonomi Desa. TAPM tersebut memiliki tugas dan
tanggungjawab sebagai berikut:
(a) Melakukan koordinasi dengan Pemda Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan PID
temasuk pembentukan Pokja P2KTD Tim Inovasi Kabupaten, dan orientasi kepada
Pokja P2KTD;
(b) Membantu Tim Inovasi Kabupaten (TIK) khususnya Pokja P2KTD dalam kegiatan
sosialisasi, seleksi P2KTD, orientasi dan rapat koordinasi P2KTD;
(c) Mengidentifikasi kebutuhan dan ketersediaan P2KTD sesuai bidang layanan teknis.
(d) Memfasilitasi penyusunan Direktori P2KTD;
(e) Memastikan layanan jasa P2KTD sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Desa;
(f) Melakukan pembinaan dan pengendalian terhadap PD dan PLD terkait dengan
P2KTD;
(g) Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap progress dan hasil pengembangan
kapasitas P2KTD termasuk penyediaan data dan informasi terkait P2KTD;
(h) Membuat laporan pelaksanaan kegiatan P2KTD.

6. Pendamping Desa (PD) dan Pendamping Lokal Desa (PLD)

Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa memiliki tugas dan tanggungjawab
sebagai berikut:
(a) Memfasilitasi kegiatan sosialisasi P2KTD di Kecamatan dan Desa;
(b) Memfasilitasi TPID dalam proses identifikasi, perumusan dan prioritas, serta
penetapan P2KTD sesuai kebutuhan Desa;

242| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(c) Memfasilitasi forum Musyawarah Desa untuk pertanggungjawaban hasil kerja


P2KTD;
(d) Membuat laporan pelaksanaan kegiatan P2KTD.

I. Ruang Lingkup
Jenis layanan teknis yang disediakan P2KTD meliputi tiga bidang kegiatan utama dalam
mendukung kegiatan inovasi desa yang tidak dapat diberikan oleh pendamping
profesional dalam mendukung kemandirian desa. Bidang kegiatan dimaksud terdiri dari:
(1) Pengembangan Ekonomi Lokal dan Kewirausahaan, (2) Pengembangan Sumber Daya
Manusia, serta (3) Infrastruktur Desa. P2KTD memberikan pelayanan dalam bentuk
dukungan teknis berupa pelatihan, konsultasi, bimbingan teknis, mentoring, dan studi
sesuai dengan kebutuhan inovasi Desa. Layanan P2KTD dapat diberikan dalam tahapan
perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan, dan evaluasi.

1. Layanan Jasa Teknis Pengembangan Ekonomi Lokal dan Kewirausahaan


Jasa layanan teknis kewirausahaan dan pengembangan ekonomi lokal disesuaikan
dengan kebutuhan dan karekteristik desa dalam pendukung pengembangan Produk
Unggulan Desa (Prudes) dan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (prukades) serta
BUM Desa atau BUM Desa Bersama. Bentuk layanan teknis pengembangan ekonomi
lokal dan kewirausahaan dapat berupa analisis dan identifikasi sumberdaya lokal, analisis
keberlanjutan usaha, pengembangan SDM dan kelembagaan, pengembangan produksi,
dan mata rantai usaha (market chain) yang dikelola secara mandiri, serta pengelolaan
keuangan mikro.

2. Layanan Jasa Teknis Pelayanan Pengembangan Sumber Daya Manusia


Jasa layanan teknis Pengembangan Sumber Daya Manusia yang diberikan P2KTD
disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan SDM khususnya layanan sosial dasar
(antara lain: PAUD, Posyandu, dan kegiatan lain yang menjadi kewenangan lokal berskala
desa) dan kewirausahaan sosial.
Wirausahawan Sosial adalah individu yang memberikan solusi inovatif untuk
menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat Desa dengan menawarkan ide-ide
kreatif berorientasi bisnis. Misalnya: pengelolaan sampah, pengelolaan air bersih,
pemanfaatan biogas, dan produk daur ulang, dan Desa Wisata.
Bentuk kegiatan layanan teknis Pengembangan Sumber Daya Manusia dapat
berupa pelatihan dan bimbingan untuk mendorong kemandirianDesa dalam
memberikan pelayanan sosial dasar yang berkualitas (seperti: Posyandu Mandiri,
Pengelolaan PAUD), serta menumbuhkan kewirausahaan sosial di Desa.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 243


PROGRAM INOVASI DESA

3. Layanan Jasa Teknis Infrastruktur Desa


Jasa layanan teknis yang diberikan P2KTD mencakup semua jenis sarana prasarana skala
desa dan antardesa yang memiliki dampak ekonomi. Prioritas layanan jasa teknis
infrastruktur Desa diarahkan untuk mendukung pelaksanaan Program Inovasi Desa yang
meliputi:
a. Jasa layanan teknis pengembangan dan pemeliharaaan sarana prasarana Embung
Desa untuk kebutuhan air rumah tangga, irigasi, dan kebutuhan air lainnya yang
mendukung ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi;
b. Jasa layanan teknis pengembangan dan pemeliharaan Sarana Olah Raga di Desa
yang mendukung peningkatan ekonomi dan ikatan sosial;
c. Jasa layanan teknis pengembangan, dan pemeliharaan sarana prasarana lainnya
yang memiliki dampak ekonomi besar, seperti: jalan, jembatan, pasar desa,
pengelolaan air bersih.

J. Mekanisme Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan P2KTD di dalam Program Inovasi Desa meliputi: (1) sosialisasi di
Provinsi dan Kabupaten, (2) Pembentukan Pokja P2KTD, (3) Pelatihan Pokja P2KTD-TIK
(4) Penyusunan direktori P2KTD, (5) Pemanfaatan P2KTD.

Alur Mekanisme Kegiatan P2KTD

Sosialisasi
1

Pemanfaatan Pembentukan
P2KTD Pokja P2KTD
5 2

Penyusunan
Direktori Pelatihan
POKJA P2KTD
P2KTD
3
4

244| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

1. Sosialisasi
Kegiatan sosialisasi dilakukan untuk memperkenalkan arti penting keberadaan P2KTD
kepada OPD Provinsi dan Kabupaten, calon-calon potensial P2KTD maupun kepada
Desa sebagai calon pengguna jasa layanan teknis. Secara khusus, kegiatan sosialisasi ini
bertujuan untuk: (a) mensosialisasikan program PID, (b) menginfomasikan adanya
kebutuhan desa akan P2KTD kepada lembaga penyedia jasa professional (LSM,
Perusahaan, lembaga penelitian, Universitas dan perusahaan, (c) menginfomasikan
kepada desa mengenai keberadaaan jasa layanan teknis untuk meningkatkan kualitas
perencananaan dan pelaksanaan pembangunan desa.

a. Sosialisasi di provinsi
Pelaksanaan sosialisasi dilaksanakan di provinsi dan akan difasilitasi oleh Satker Propinsi
dengan dibantu oleh tenaga ahli provinsi. Peserta sosialisasi terdiri dari OPD terkait dan
calon P2KTD dari provinsi dan kabupaten.
b. Sosialisasi di Kabupaten/kota
Pelaksanaan sosialisasi dilaksanakan di kabupaten/kota dan akan difasilitasi oleh Tim
Inovasi Kabupaten (TIK) dengan dibantu oleh tenaga ahli kabupaten. Peserta sosialisasi
terdiri dari OPD terkait, Camat, TPID, kepala desa dan BPD, perguruan tinggi, LSM,
organisasi profesi, organisasi sosial dan pihak swasta.

2. Pembentukan Pokja P2KTD - TIK


Pokja P2KTD dapat terdiri dari perwakilan OPD (Dinas PMD/Bappeda), OPD Teknis,
Asosiasi Profesi terkait. Susunan Pokja P2KTD Tim Inovasi Kabupaten terdiri dari :
a. Ketua Pokja: OPD yang membidangi bidang pembangunan dan pemberdayaan
masyarakat desa
b. Koordinator bidang peningkatan ekonomi lokal dan kewirausahaan: OPD yang
membidangi bidang pengembangan ekonomi dan kewirausahaan, dan dibantu
oleh maksimal 2 orang anggota dari unsur perwakilan asosiasi dunia
usaha/perbankan.
c. Koordinator bidang PSDM: OPD yang membidangi bidang pendidikan atau
kesehatan, dan dibantu maksimal 3 orang anggota dari unsur OPD
Pendidikan/Kesehatan, asosiasi PAUD, Tim penggerak Pembinaan Kesejahteraan
Keluarga (PKK) Kabupaten/Kota
d. Koordinator bidang Infrastruktur Desa: OPD yeng membidangi bidang dinas
pekerjaan umum, dan dibantu maksimal 3 orang anggota dari unsur asosiasi jasa
konstruksi, asosiasi profesi pemberdayaan masyarakat dan perwakilan dewan
inovasi sejauh tersedia di tingkat kabupaten.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 245


PROGRAM INOVASI DESA

3. Pelatihan Pokja P2KTD – TIK


Pelatihan bertujuan untuk memberikan pembekalan kepada Pokja P2KTD-TIK dalam
melaksanakan tugasnya. Pelatihan dilaksanakan di provinsi selama 3 hari efektif. Peserta
pelatihan terdiri dari 3 orang anggota P2KTD yang mewakili bidang Kewirausahaan dan
Pengembangan ekonomi Lokal, Pengembangan SDM dan Infrastruktur serta 2 – 3 orang
TA yang bertugas memfasilitasi pelaksanaan kegiatan P2KTD.

4. Penyusunan Direktori P2KTD


Inventarisasi dan verifikasi penyusunan direktori P2KTD
Pokja P2KTD dengan dibantu Tenaga Ahli Kabupaten P3MD/PID akan melakukan
inventarisasi ketersediaan P2KTD untuk mendukung pembangunan dan pemberdayaan
Desa dalam bidang: pengembangan ekonomi lokal dan kewirausahaan/pengembangan
sumber daya manusia/infrastruktur. Hasil inventarisasi digunakan untuk menentukan
P2KTD potensial yang akan diundang untuk mengikuti verifikasi P2KTD.
Pelaksanaan verifikasi bertujuan untuk memilih P2KTD yang akan ditetapkan
dalam direktori P2KTD. Pelaksanaan verifikasi dilakukan terhadap aspek lembaga dan
aspek keahlian teknis dengan cara pemeriksaan profil lembaga P2KTD maupun
kunjungan lapangan. Pelaksanaan Verifikasi untuk 3 jenis bidang P2KTD dilaksanakan
oleh masing-masing bidang Pokja P2KTD sesuai tugas dan tanggungjawabnya.
Hasil verifikasi P2KTD yang memenuhi kriteria disusun dalam bentuk direktori sesuai
dengan 3 bidang kegiatan oleh masing-masing bidang Pokja P2KTD. Selanjutnya daftar
tersebut disahkan oleh BPMD Kabupaten.

Penyusunan dan Publikasi Direktori P2KTD


Direktori P2KTD adalah koleksi rujukan yang memuat nama-nama atau organisasi
penyedia layanan teknis yang disusun secara sistematis yang dilengkapi dengan alamat,
kompetensi atau keahlian, pengalaman organisasi, kegiatan dan data lainnya yang
bermanfaat sebagai infomasi bagi desa. Direktori P2KTD meliputi bidang layanan P2KTD
yaitu : Pengembangan Ekonomi Lokal dan Kewirausahaan, Peningkatan Sumber Daya
Manusia dan Infrastruktur Desa. Penyusunan direktori dilakukan oleh Pokja P2KTD
bersama TA Kabupaten untuk dicetak dan dipublikasikan oleh Satker Dekonsentrasi
Provinsi. .

5. Pemanfaatan P2KTD
Identifikasi Kebutuhan P2KTD ke Desa-Desa (TPID)
Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kegiatan Desa yang membutuhkan
Jasa layanan teknis. Identifikasi dilakukan oleh TPID yang menangani kegiatan P2KTD
dengan mengecek APB Desa 2017 khususnya untuk bidang kegiatan ekonomi lokal dan
kewirausahaan, Pengembangan Sumber Daya Manusia, dan Infrastruktur. Kegiatan

246| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

yang membutuhkan P2KTD adalah kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan oleh Kader
Pembangunan Desa maupun oleh tenaga Pendamping profesional karena
membutuhkan keahlian khusus. Kegiatan jasa layanan teknis yang dapat diberikan oleh
P2KTD meliputi pelatihan, konsultasi, bimbingan teknis, mentoring, studi kelayakan dan
pengembangan jejaring sesuai dengan kebutuhan inovasi Desa.

Verifikasi Kebutuhan P2KTD dalam APB Desa


Verifikasi kebutuhan P2KTD dimaksudkan untuk menilai kelayakan terhadap usulan
kegiatan yang diajukan oleh TPID terhadap desa-desa membutuhkan layanan P2KTD.
Verifikasi dilakukan oleh TIK-Pokja P2KTD berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan
layanan P2KTD. Hasil verifikasi yang dilakukan oleh TIK-Pokja P2KTD disampaikan
kepada TPID berupa daftar usulan kegiatan yang layak untuk mendapat dukungan
layanan teknis serta P2KTD yang direkomendasikan sesuai dengan kebutuhan Desa. Jika
P2KTD yang dibutuhkan tidak tersedia dalam direktori, maka TIK dapat
merekomendasikan P2KTD dari luar wilayah kerjanya.
Perumusan dan Prioritas Kegiatan P2KTD
Hasil verifikasi kebutuhan P2KTD yang telah diterima TPID selanjutnya dirumuskan
berdasarkan jenis kegiatan dan keahlian yang dapat diberikan oleh P2KTD. Prioritas
kegiatan yang akan mendapat layanan P2KTD ditetapkan dalam rapat TPID dengan
kriteria sebagai berikut: (a) Desa berkomitmen untuk melaksanakan kegiatan replikasi;
(b) kegiatan inovasi yang selaras dengan kebijakan pemerintah; (c) kegiatan yang
memiliki dampak langsung terhadap masyarakat; (d) kegiatan yang pelaksanaannya
melibatkan masyarakat; (e) mendukung prioritas layanan sosial dasar khususnya PAUD
dan Posyandu.
Pelaksanaan Kegiatan P2KTD
Berdasarkan kontrak kerjasama dengan TPID, P2KTD akan mulai melakukan kegiatan
persiapan, pelaksanaan bimbingan, capaian hasil kegiatan dalam memberikan layanan
teknis kepada desa. Dalam menjalankan tugasnya P2KTD wajib mendorong pelibatan
masyarakat dan mempersiapkan kader desa untuk keberlanjutan kegiatan
pembangunan.
Orientasi P2KTD
Orientasi P2KTD bertujuan untuk mempersiapkan P2KTD dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan ketentuan program inovasi desa. Penyelenggaraan orientasi dilaksanakan
di provinsi. Peserta orientasi P2KTD terdiri dari maksimal 6 orang per kabupaten yang
mewakili 6 P2KTD. Pemilihan peserta orientasi dilakukan oleh TIK- Pokja P2KTD
berdasarkan usulan TPID dengan mempertimbangkan jasa layanan teknis yang paling
banyak dibutuhkan oleh desa dalam skala kabupaten.
Pertanggungjawaban kegiatan P2KTD

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 247


PROGRAM INOVASI DESA

P2KTD wajib menyusun laporan hasil kegiatan dan disampaikan kepada TPID dengan
tembusan pada desa-desa penerima jasa layanan. Laporan pertanggungjawaban terdiri
dari laporan kemajuan kegiatan dan hasil jasa layanan teknis P2KTD. Selain itu TPID
selaku pengelola dana operasional P2KTD pada DOK PPID wajib menyusun laporan hasil
pelaksanaan kegiatan dan penggunaan dana dalam forum musyawarah antar desa
(MAD) dengan tembusan kepada TIK.

248| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 249
Daftar Usulan Kegiatan Yang Membutuhkan PJLT
TA …………
Contoh Pengisian Formulir Usulan Kegiatan yang Membutuhkan

Desa :SEKARSARI
Sekarsari
Kecamatan : DEPOK
Kabupaten : SLEMAN
Jenis layanan Ketersediaan
Biaya dalam Ketersediaan
No Usulan Kegiatan Lokasi Tujuan Kegiatan Penerima manfaat teknis yang SDM lokal yang
APBdes Calon Kader
dibutuhkan memiliki keahlian
Layanan Teknis di Desa
PROGRAM INOVASI DESA

Meningkatkan
1 Peningkatan kapasitas guru PAUD Dsn. Sukajaya profesionalitas guru 5 orang guru PAUD Pelatihan Rp.7,500,000,- 2 orang tidak ada
PAUD
Bimbingan teknis dan
Tersedianya listrik belum ada, tapi PP tidak mempunyai
2 Pembangunan tenaga mikro hidro Dsn. Sukamakmur 50 kepala keluarga pendampingan Rp.75,000,000,-
dusun akan disediakan keahlian
pemeliharaan
……………., …………………………………………
Kepala Desa
(____________________________)
PROGRAM INOVASI DESA

Contoh Pengisian Formulir Rekapitulasi Usulan dan Penilaian Kegiatan Desa yang
membutuhkan P2KTD

Rekapitulasi Usulan dan Penilaian Kegiatan Desa Yang Membutuhkan PJLT


TA …………
Kecamatan DEPOK
Kabupaten SLEMAN

Jenis layanan Ketersediaan Hasil


Biaya dalam Ketersediaan
No Nama Desa Usulan Kegiatan Tujuan Kegiatan Penerima manfaat teknis yang SDM lokal yang Penilaian
APBdes (Rp.) Kader
dibutuhkan memiliki keahlian (layak/tidak)

meningkatkan
1 Sekarsari Peningkatan kapasitas guru PAUD profesionalitas guru 5 orang guru PAUD Pelatihan 2.500.000,- 2 orang tidak ada layak
PAUD

Bimbingan teknis
Tersedianya listrik belum ada, tapi PP tidak mempunyai
2 Sekarsari Pembangunan tenaga mikro hidro 50 kepala keluarga dan pendampingan 75.000.000,- layak
dusun akan disediakan keahlian
pemeliharaan

Agar lingkungan yang


lebih nyaman dan
Pengelolaan sampah desa berbasis PP tidak mempunyai
3 Makmurjaya meningkatkan 10 orang Pelatihan 25.000.000 1 orang layak
masyarakat keahlian
pendapatan
masyarakat

Meningkatkan
kemampuan
perangkat desa dalam Bimbingan teknis PP mempunyai
4 Sukaringin Peningkatan kapasitas bagi perangkat desa 3 orang perangkat desa 10.000.000 belum ada tidak
membuat laporan dan pendampingan keahlian
pertanggungjawaban
keuangan

Pembuatan sumur ada 1 tenaga ahli di


5 Meranti Pembuatan sumur bor Penyediaan air bersih 4 kepala keluarga 30.000.000 1 orang tidak
bor desa

Peningkatan kapasitas perajin tas blok Meningkatkan nilai ada 1 tenaga ahli di
6 Karangrejo 20 orang Pelatihan 20.000.000 3 orang layak
ransel jual desa

Menciptakan
lingkungan yang lebih
Peningkatan kapasitas pengelolaan sampah nyaman dan Konsultasi,
7 Karangrejo 5 orang 35.000.000 1 orang SDM lokal tidak ada layak
desa menigkatkan pendampingan
pendapatan
masyarakat

Menyediakan rumah Bimbingan teknis


8 Beringin Rehab rumah sehat 3 orang 75.000.000 belum ada SDM lokal ada tidak
layak huni dan pendampingan

Meningkatkan
Peningkatan distribusi penjualan produk Pengembangan PP dan SMD lokal tdk
9 Triwarno produksi dan 15 orang 30.000.000 belum ada layak
kuningan jejaring ada
pendapatan

Mengurangi SDM dan PP tidak


10 Warnawarni Pengadaaan sarana biopori 10 kepala keluarga Bimbingan teknis 10.000.000 2 orang layak
genangan air ada

……………., …………………………………………

Tim Pengelola Inovasi Desa

(________________________________)

250| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Contoh Pengisian Tabel Rekomendasi P2KTD

Tabel Rekomendasi Kebutuhan PJLT


TPID Kecamatan : DEPOK

PJLT yang
No Kegiatan Lokasi Jenis layanan Jumlah Dana Hasil Verifikasi
direkomendasikan
1 Peningkatan guru PAUD Sekarsari Pelatihan 2,500,000 layak Himpaudi

Bimbingan teknis dan


2 Pembangunan mikro hidro Sekarsari pendampingan 75,000,000 layak PT.Griya lestari
pemeliharaan

Pengelolaan sampah
3 Makmurjaya Pelatihan 25,000,000 layak LSM Pesona Alam
berbasisi masyarakat

Peningkatan kapasitas
4 Karangrejo Pelatihan 20,000,000 layak LSM Bintang gading
perajin tas blok ransel

Peningkatan kapasitas Konsultasi,


5 Karangrejo 35,000,000 layak LSM Adikarya Abadi
pengelolaan sampah desa pendampingan

Peningkatan distribusi
6 penjualan produk Triwarno Pengembangan jejaring 30,000,000 layak Bina Kreatif
kuningan

7 Pengadaan sarana biopori Warnawarni Bimbingan teknis 10,000,000 layak Banguncipta

Tim Inovasi Kabupaten ………


Kelompok Kerja PJLT

Ketua Sekretaris

(____________________) ( ________________________ )

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 251


PROGRAM INOVASI DESA

Contoh Pengisian Hasil Perumusan dan Prioritas Pemanfataan P2KTD


Hasil Perumusan dan Prioritas Pemanfaatan PJLT

Kecamatan : DEPOK
Kabupaten : SLEMAN
Kriteria Prioritas Usulan

Selaras Layanan
No Kegiatan Lokasi Komitmen Manfaat Partisipasi Nilai Ranking
kebijakan Sosial
Replikasi Masyarakat Masyarakat
Pemerintah Dasar

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Peningkatan guru
1 Sekarsari ٤ 4 4 4 4 20 1
PAUD
Pembangunan mikro
2 Sekarsari 4 1 4 3 1 13 5
hidro
Pengelolaan sampah
3 Makmurjaya 3 3 4 3 1 14 4
berbasis masyarakat
Peningkatan kapasitas
4 Karangrejo 4 4 4 3 1 16 3
perajin tas blok ransel
Peningkatan kapasitas
5 pengelolaan sampah Karangrejo 2 3 3 2 1 11 7
desa
Peningkatan distribusi
6 penjualan produk Triwarno 3 3 3 3 1 12 6
kuningan
Pengadaan sarana
7 Warnawarni 4 4 4 4 3 19 2
biopori

Hasil Perangkingan Prioritas Kegiatan PJLT:

1. Peningkatan kapasitas guru PAUD


2. Pengadaaan sarana biopori
3. Peningkatan kapasitas perajin tas blok ransel
4. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat
5. Pembangunan mikro hidro
6. Peningkatan distribusi penjualan produk kuningan
7. Peningkatan pengelolaan sampah desa

Tim Pengelola Inovasi Desa


Ketua

(_______________________)

252| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 4.2.1

Fasilitasi Pemanfaatan
Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD)

A. Latar Belakang
Pemanfaatan P2KTD merupakan serangkaian kegiatan pendayagunaan keahlian yang
dimiliki oleh P2KTD dalam mendorong inovasi dan peningkatan kualitas pembangunan
Desa. Bentuk pemanfaatan P2KTD hampir sama dengan pola kerjasama Desa dengan
pihak ketiga dalam mendampingi masyarakat desa. Dimana pihak ketiga dalam hal ini
P2KTD memberikan layanan dan bimbingan teknis kepada Desa secara bervariasi,
diantaranya, advokasi, peningkatan kapasitas, pendidikan, pembangunan infrastuktur,
dan masih banyak aktifitas lain.
Dalam kerangka dukungan P2KTD melalui pola kerjasama Desa dengan pihak
ketiga baik dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan inovasi yang tidak dapat
dilakukan sevara mandiri oleh Desa dan pendamping. Pemanfaatan P2KTD dilakukan
dalam rangka membantu desa. Selama ini desa dipandang sebagai pihak yang ‘lemah’.
Terlalu lamanya dibiarkan dan urusannya dipercayakan kepada pihak lain, maka desa
sulit untuk berdaya. Desa menjadi obyek yang harus selalu dibantu.
Para pegiat desa, akademisi, atau LSM, baik yang berasal dari atau luar desa,
melakukan upaya guna memandirikan desa. Desa didorong untuk menjadi entitas yang
kuat dalam berbagai hal. Kerjasama dan kerja bersama yang dilakukan mendapat
apresiasi masyarakat. Mereka antusias menyambut baik uluran tangan para pihak itu.
Dalam bidang yang lain, pihak swasta pun ikut andil. Mereka dapat memberikan
bantuan berupa uang dan atau barang yang dibutuhkan oleh masyarakat secara
langsung. Bentuk-bentuk kepedulian ini sedikit banyak membuka mata kita, bahwa desa
perlu dikuatkan.
Terbitnya UU Desa diharapkan mampu memperkuat desa. Modal sosial di desa
yang selama ini menjadi andalan, bisa lebih optimal. Tidak menutup kemungkinan pada
saatnya nanti, desa lah yang akan memberikan bantuan kepada pihak lain. Saat desa
sejahtera, negara akan makmur. Persoalan-persoalan sosial yang terjadi bukan tidak
mungkin akan teratasi oleh desa.

B. Ruang Lingkup Pemanfaatan Jasa Layanan P2KTD


Ruang lingkup pemanfaatan layanan teknis yang disediakan P2KTD meliputi tiga bidang
kegiatan utama dalam mendukung kegiatan inovasi desa yang tidak dapat diberikan
oleh pendamping profesional. Bidang kegiatan dimaksud terdiri dari: (1)
Pengembangan Ekonomi Lokal dan Kewirausahaan, (2) Pengembangan Sumber Daya
Manusia, serta (3) Infrastruktur Desa. P2KTD memberikan pelayanan dalam bentuk

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 253


PROGRAM INOVASI DESA

dukungan teknis berupa pelatihan, konsultasi, bimbingan teknis, mentoring, studi


kelayakan dan pengembangan jejaring sesuai dengan kebutuhan inovasi Desa. Layanan
P2KTD dapat diberikan dalam tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan, dan
evaluasi.

1. Layanan Jasa Teknis Pengembangan Ekonomi Lokal dan Kewirausahaan


Jasa layanan teknis kewirausahaan dan pengembangan ekonomi lokal disesuaikan
dengan kebutuhan dan karakteristik desa dalam pendukung pengembangan Produk
Unggulan Desa (Prudes) dan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (prukades) serta
BUM Desa atau BUM Desa Bersama. Bentuk layanan teknis pengembangan ekonomi
lokal dan kewirausahaan dapat berupa analisis dan identifikasi sumberdaya lokal, analisis
keberlanjutan usaha, pengembangan SDM dan kelembagaan, pengembangan produksi,
dan mata rantai usaha (market chain) yang dikelola secara mandiri, serta pengelolaan
keuangan mikro.

2. Layanan Jasa Teknis Pengembangan Sumber Daya Manusia


Jasa layanan teknis Pengembangan Sumber Daya Manusia yang diberikan P2KTD
disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan layanan sosial dasar (antara lain: PAUD,
Posyandu, dan kegiatan lain yang menjadi kewenangan lokal berskala desa) dan
kewirausahaan sosial. Wirausahawan Sosial adalah individu yang memberikan solusi
inovatif untuk menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat Desa dengan
menawarkan ide-ide kreatif berorientasi bisnis. Misalnya: pengelolaan sampah,
pengelolaan air bersih, pemanfaatan biogas, dan produk daur ulang, dan desa wisata.
Bentuk kegiatan layanan teknis Pengembangan Sumber Daya Manusia dapat berupa
pelatihan dan bimbingan untuk mendorong kemandirian Desa dalam memberikan
pelayanan sosial dasar yang berkualitas (seperti: Posyandu Mandiri, Pengelolaan PAUD),
serta menumbuhkan kewirausahaan sosial di desa.

3. Layanan Jasa Teknis Infrastruktur Desa


Jasa layanan teknis yang diberikan P2KTD mencakup semua jenis sarana prasarana skala
desa dan antardesa yang memiliki dampak ekonomi. Prioritas layanan jasa teknis
infrastruktur Desa diarahkan untuk mendukung pelaksanaan Program Inovasi Desa yang
meliputi:
(1) Jasa layanan teknis pengembangan dan pemeliharaaan sarana prasarana Embung
Desa untuk kebutuhan air rumah tangga, irigasi, dan kebutuhan air lainnya yang
mendukung ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi;
(2) Jasa layanan teknis pengembangan dan pemeliharaan Sarana Olah Raga di Desa
yang mendukung peningkatan ekonomi dan ikatan sosial;

254| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(3) Jasa layanan teknis pengembangan, dan pemeliharaan sarana prasarana lainnya
yang memiliki dampak ekonomi besar, seperti : jalan, jembatan, pasar desa,
pengelolaan air bersih.

C. Tahapan Pemanfaatan P2KTD


Pemanfaatan P2KTD dilakukan oleh Desa melalui pentahapan sebagai berikut: (1)
identifikasi kebutuhan P2KTD yang dilakukan oleh TPID; (2) verifikasi kebutuhan P2KTD
dalam APB Desa; (3) perumusan dan prioritas kegiatan P2KTD; (4) pelaksanaan kegiatan
P2KTD; (5) orientasi P2KTD; (6) pertanggungjawaban P2KTD.

1. Identifikasi Kebutuhan P2KTD di Desa (TPID)


Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kegiatan Desa yang membutuhkan
Jasa layanan teknis. Identifikasi dilakukan oleh TPID yang menangani kegiatan P2KTD
dengan mengecek APB Desa 2017 khususnya untuk bidang kegiatan ekonomi lokal dan
kewirausahaan, Pengembangan Sumber Daya Manusia, dan Infrastruktur. Kegiatan
yang membutuhkan P2KTD adalah kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan oleh Kader
Pembangunan Desa maupun oleh tenaga Pendamping profesional karena
membutuhkan keahlian khusus. Kegiatan jasa layanan teknis yang dapat diberikan oleh
P2KTD meliputi pelatihan, konsultasi, bimbingan teknis, mentoring, studi kelayakan dan
pengembangan jejaring sesuai dengan kebutuhan inovasi Desa.

2. Verifikasi Kebutuhan P2KTD dalam APB Desa


Verifikasi kebutuhan P2KTD dimaksudkan untuk menilai kelayakan terhadap usulan
kegiatan yang diajukan oleh TPID terhadap desa-desa membutuhkan layanan P2KTD.
Verifikasi dilakukan oleh TIK-Pokja P2KTD berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan
layanan P2KTD. Hasil verifikasi yang dilakukan oleh TIK-Pokja P2KTD disampaikan
kepada TPID berupa daftar usulan kegiatan yang layak untuk mendapat dukungan
layanan teknis serta P2KTD yang direkomendasikan sesuai dengan kebutuhan Desa. Jika
P2KTD yang dibutuhkan tidak tersedia dalam direktori, maka TIK dapat
merekomendasikan P2KTD dari luar wilayah kerjanya.

3. Perumusan dan Prioritas Kegiatan P2KTD


Hasil verifikasi kebutuhan P2KTD yang telah diterima TPID selanjutnya dirumuskan
berdasarkan jenis kegiatan dan keahlian yang dapat diberikan oleh P2KTD. Prioritas
kegiatan yang akan mendapat layanan P2KTD ditetapkan dalam rapat TPID dengan
kriteria sebagai berikut: (a) Desa berkomitmen untuk melaksanakan kegiatan replikasi;
(b) kegiatan inovasi yang selaras dengan kebijakan pemerintah; (c) kegiatan yang
memiliki dampak langsung terhadap masyarakat; (d) kegiatan yang pelaksanaannya
melibatkan masyarakat; (e) mendukung prioritas layanan sosial dasar khususnya PAUD
dan Posyandu.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 255


PROGRAM INOVASI DESA

4. Pelaksanaan Kegiatan P2KTD


Berdasarkan kontrak kerjasama dengan TPID, P2KTD akan mulai melakukan kegiatan
persiapan, pelaksanaan bimbingan, capaian hasil kegiatan dalam memberikan layanan
teknis kepada desa. Dalam menjalankan tugasnya P2KTD wajib mendorong pelibatan
masyarakat dan mempersiapkan kader desa untuk keberlanjutan kegiatan
pembangunan.

5. Orientasi P2KTD
Orientasi P2KTD bertujuan untuk mempersiapkan P2KTD dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan ketentuan program inovasi desa. Penyelenggaraan orientasi dilaksanakan
di provinsi. Peserta orientasi P2KTD terdiri dari maksimal 6 orang per kabupaten yang
mewakili 6 P2KTD. Pemilihan peserta orientasi dilakukan oleh TIK- Pokja P2KTD
berdasarkan usulan TPID dengan mempertimbangkan jasa layanan teknis yang paling
banyak dibutuhkan oleh desa dalam skala kabupaten.

6. Pertanggungjawaban kegiatan P2KTD


P2KTD wajib menyusun laporan hasil kegiatan dan disampaikan kepada TPID dengan
tembusan pada desa-desa penerima jasa layanan. Laporan pertanggungjawaban terdiri
dari laporan kemajuan kegiatan dan hasil jasa layanan teknis P2KTD. Selain itu TPID
selaku pengelola dana operasional P2KTD pada DOK PPID wajib menyusun laporan hasil
pelaksanaan kegiatan dan penggunaan dana dalam forum musyawarah antar desa
(MAD) dengan tembusan kepada TIK.

256| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 5.1.1

Komunikasi dan Paradigma Pembangunan

Pembangunan dilaksanakan mengacu pada paradigma yang menjadi landasannya.


Berbagai Paradigma yang dianut oleh berbagai Negara untuk menjalankan proses
pembangunan berimplikasi pada pola komunikasi yang dikembangkannya. Di Indonesia,
implementasi pembangunan pernah dicoba dengan berbagai paradigma seiring dengan
pergantian era kepemimpinan nasional, seperti Paradigma Modernisme, Paradigma
Ketergantungan dan Paradigma Partisipatoris.

A. Pola Komunikasi dalam Paradigma Modernisme


Dalam paradigma ini, pembangunan dimaknai sebagai modernisasi yang mengedepan-
kan pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi, urbanisasi, pemanfaatan teknologi
padat modal dan perencanaan terpusat (sentralistik). Dalam paradigma ini, kemiskinan
dipersepsikan secara kultural. Penyebab berbagai keterbelakangan masyarakat adalah
sistem sosial budaya yang tidak mendukung. Beberapa argumentasinya menyatakan
bahwa tradisionalitas masyarakat dinilai sebagai faktor pembentuk kepribadian
masyarakat menjadi lemah, malas, santai dan demotivasi. Sebuah fenomena yang
kontraproduktif dengan cita-cita yang diinginkan pemerintah. Oleh sebab itu budaya
semacam ini harus diubah dan “dibongkar habis” melalui pendekatan pembangunan
top-down (atas-bawah, atau pusat-daerah/ pinggiran). Pola komunikasi yang
dikembangkanpun bersifat Satu Arah untuk menunjang tercapainya orientasi
pembangunan yang diputuskan sepihak oleh pemerintah. Masyarakat diposisikan
sebagai obyek yang harus diubah cara pandang, mentalitas dan perilakunya agar dapat
dengan mudah digerakkan sesuai tujuan yang diinginkan.
Kelemahan Pola Komunikasi Satu Arah :
• Tujuan komunikasi hanya menjadi milik si pemberi pesan (penyelenggara program)
• Penerima pesan hanyalah obyek yang tidak merasa memiliki dan berkepentingan
untuk berkomunikasi
• Terjadi mobilisasi sosial dalam sebagai konsekuensi penyelenggaraan
pembangunan yang didesain secara terpusat
• Komunikasi yang dialogis tidak terjadi karena tidak ada kesetaraan hubungan antara
pemberi pesan dengan penerima pesan
• Relasi pemberi pesan dengan penerima pesan memperlihatkan hubungan antara
pihak penguasa dengan yang dikuasai (hegemonik) sehingga pesan yang
disampaikan lebih berfungsi sebagai alat legitimasi kekuasaan.
• Pola Komunikasi searah cenderung menyeragamkan padahal komunikasi selalu
berbeda di setiap tempat, sebagaimana perbedaan komunikasi antara masyarakat
agraris dengan masyarakat pesisir.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 257


PROGRAM INOVASI DESA

B. Paradigma Ketergantungan
Paradigma Modernisme dalam pembangunan menciptakan ketergantungan yang besar
dari negaranegara miskin terhadap negara-negara kaya (adidaya) sebagai produsen
teknologi. Penerapan kebijakan modernisasi secara sistematis telah mengubah sistem
sosial budaya masyarakat lokal yang berakibat pada tergerogotinya modal sosial.
Kerjasama (kohesivitas) dan saling percaya (mutual trust) telah tergantikan dengan
individualistis, lunturnya solidaritas, maupun kompetisi yang tidak sehat.
Dalam paradigma ketergantungan kadang-kadang terjadi pola komunikasi yang
partisipatif, namun dominasi para stakeholders untuk terlibat dalam proses
pembangunan masih mengemuka. Peran aktif stakeholders ditujukan lebih pada
justifikasi agar hasil pembangunan terkelola dengan baik dan berkelanjutan bukan untuk
memberdayakan masyarakat. Namun tidak semuanya berjalan demikian, karena
pemerintah kemudian menyadari dan menjalankan pola komunikasi dua arah dan searah
secara bersamaan. Media komunikasi dipakai dalam mendidik dan melatih masyarakat
namun sepenuhnya dibawah kontrol pemerintah.

C. Paradigma Partisipatoris
Bermasalahnya implementasi pembangunan yang berorientasi modernisme dan
ketergantungan menyadarkan semua pihak untuk membenahi kembali sistem sosial
yang carut marut. Proses pembangunan berbasis komunitas mulai dikembangkan
dikawal oleh organisasi-organisasi non pemerintah. Modal sosial ditumbuhkan kembali
melalui penguatan solidaritas, kerjasama dan kepercayaan. Pemberdayaan masyarakat
dilakukan melalui penguatan institusi komunitas (Community-based Organization) dan
partisipasi masyarakat ditumbuhkan.
Komunikasi dalam paradigma partisipatoris memposisikan seluruh stakeholders
untuk terlibat dalam seluruh tahap pembangunan. Komunikasi berlangsung dua arah
(dialogis) bahkan dalam perkembangannya berlanjut multi arah. Tujuan komunikasi
bukan untuk mempromosikan gagasan agar publik tertarik tetapi untuk menggalang
partisipasi masyarakat seluas-luasnya. Orientasinya adalah berbagi pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman dalam mengidentifikasi masalah, menganalisisi potensi
dan merumuskan problem solving melalui perancangan program.
Modal sosial diletakkan sebagai motor penggerak pelaksanaan pembangunan
termasuk program penanggulangan kemiskinan. Ikatan sosial yang kokoh hanya dapat
dibangun oleh jaringan sosial yang mengakar. Modal sosial dibentuk melalui
kebersamaan (kolektivitas) dan solidaritas antar individu. Selain menumbuhkan saling
percaya antar anggota komunitas (Putnam dalam Shoemake, 2006) keadaan ini juga
membangkitkan kepercayaan berbagai pihak luar kepada komunitas tersebut.
Komunikasi sangat berperan dalam mengorganisasikan empati atau sekedar
mengintensifkan keakraban komunitas. Pada waktunya nanti, komunitas berpeluang
membangun jaringan eksternal dengan berbagai pihak terkait dalam mengakses
sumberdaya luar agar semakin mendorong pengembangan potensi internalnya.

258| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Produktivitas sosial adalah salah satu tujuan komunitas bermodal sosial (Partha
Dasgupta and Ismail Serageldin, 2000: 3).
Masyarakat yang tidak memiliki jaringan kerjasama akan kesulitan memperoleh
kesetaraan dan kehilangan kesempatan untuk menjadi masyarakat kompetitif. Modal
sosial adalah keharusan imperatif yang mesti dimiliki oleh masyarakat yang
menginginkan kehidupan demokratis sejalan dengan perkembangan kesejahteraan
kehidupannya (Budi Rajab, 2005). Pembangunan yang mengedepankan aspek
kemanfaatan strategis membangkitkan modal sosial sebagai sarananya. Masyarakat Sipil
(Civil Society) yang dicita-citakan Dahrendorf itu sekarang mulai mendapatkan
pengakuan dari negara dan menjadi penopang pembangunan.
Pembangunan yang diabdikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tidak
dapat dilepaskan dari motivasi, paradigma, etika kerja dan nilai-nilai hidup yang
mendasarinya. Sehingga target meningkatnya pengetahuan, keahlian dan faktor-faktor
ekonomis, tidak bermakna apa-apa jika tidak berpulang pada kemaslahatan manusia
(Soedjatmoko, Pembangunan Berdimensi Manusia, 1983).
Kesejahteraan yang dimaksud digali dan dielaborasi dari oleh dan untuk
masyarakat. Memposisikan masyarakat sebagai subyek pembangunan adalah proses
mengembalikan manusia sebagai subyek (humanisasi). Setiap warga negara memiliki
hak untuk berinteraksi dan menentukan kehidupannya sendiri bersama komunitasnya.
Negara melalui stakeholdersnya menghormati otoritas tersebut karena kondisi ini
menghidupkan suasana demokrasi. Komunikasi di dalamnya berlangsung partisipatif
dan dialogis. Teknik dan media yang digunakan multi arah. Mendengar dan berbicara
menjadi sama pentingnya. Semua pihak berperan sebagai subyek yang memiliki
persepsi, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman untuk selalu dibagi dan
dipertukarkan (knowledge sharing) dalam proses pengambilan keputusan. Jika
keberlanjutan pola interaksi ini mampu dipertahankan maka akan muncul beragam
orisinalitas prakarsa komunitas yang digagas dan dikelola secara mandiri untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat. Paradigma partisipatoris mengedepankan proses
komunikasi yang dialogis. Komunikasi benar-benar ditujukan untuk mencapai saling
percaya dan konsensus antar para stakeholders. Berikut ini perbedaan masing-masing
pola komunikasi dalam Paradigma Pembangunan.

Tabel 1 Pola Komunikasi Yang digunakan dalam berbagai Paradigma


Komunikasi

PARADIGMA KOMUNIKASI
ASPEK
Modernisme Ketergantungan Partisipatoris
Nilai Media untuk Media untuk Dialog adalah esensi dari proses
penyebarluasan mencapai komunikasi. Media digunakan
kemajuan, sikap dan keswadayaan sebagai alat bantu untuk
perilaku modern proses-proses dialog bersama
stakeholders.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 259


PROGRAM INOVASI DESA

PARADIGMA KOMUNIKASI
ASPEK
Modernisme Ketergantungan Partisipatoris
Tujuan Menyebarluaskan Mendidik dan Berbagi persepsi, pengetahuan
informasi pada melatih masyarakat dan pengalaman untuk
khalayak luas menyusun rencana tindakan
(diseminasi) bersama dalam mencapai
perubahan
Model Satu Arah Satu Arah dan Dua Dua arah dan multi arah (dialog
Komunikasi arah dan saling belajar)
Pelaku • Subjek • Subjek : • Semua pemangku
Komunikasi :Kelompok yang Kelompok kepentingan adalah subjek .
mempunyai yang • Objek : relaitas kehidupan
pengetahuan mempunyai • Pola hubungan : setara,
dan kekuasaan pengetahuan Fasilitator – warga belajar
• Objek : (pelatih,
masyarakat penyuluh dll)
sasaran • Objek :
masyarakat
sasaran
• Pola hubungan
: guru dan
murid
Hasil • Pelaku memperoleh pengetahuan dari • Memberdayakan
masyarakat • Peningkatan pengetahuan
• Tidak memberdayakan dan perubahan sikap dan
• Penyelesaian masalah semata untuk perilaku yang didasarkan
kegiatan komunikasi-informasi tanpa pada kesadaran kritis dan
melibatkan komunitas berkelanjutan
• Bertumpu pada keahlian pihak luar • Pertukaran informasi semua
• Tindakan komunitas bukan didasarkan pemangku kepentingan
pada kesadaran kritis tetapi karena • Rencana bersama para
keterpaksaan dan tidak berkelanjutan pemangku kepentingan
yang memuat kegiatan
untuk menangani masalah
bersama sekaligus juga
program/kegiatan untuk
informasi, komunikasi, dan
pengelolaan pengetahuan
• Mengupayakan
transformasi pengetahuan,
keterampilan dan
kemampuan dari pihak lain
terhadap komunitas melalui
proses saling memahami
yang dikembangkan dalam
kegiatan komunikasi,
informasi, dan pengelolaan
pengetahuan untuk
menyelesaikan masalah

260| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Komunikasi partisipatoris lambat laun melahirkan solidaritas di level masyarakat


dan kepercayaan para pemangku kepentingan. Kepedulian dan kohesivitas yang diasah
terus menerus dan ditradisikan melalui rutinitas pertemuan dikenal sebagai modal sosial.
Orientasi pembangunan yang mengarusutamakan komunikasi partisipatoris dalam
penanggulangan kemiskinan diharapkan mampu merangsang tumbuh berkembangnya
komunitas-komunitas semacam ini. Komunitas-komunitas yang memiliki modal sosial
yang kuat akan mendorong tercapainya pembangunan yang partisipatif, efektif dan
demokratis.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 261


PROGRAM INOVASI DESA

262| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 5.2.1

Strategi Komunikasi Program Pembangunan

A. Pendahuluan

Tujuan utama komunikasi program pembangunan adalah meningkatkan pengetahuan


dan mengubah sikap dan perilaku para pemangku kepentingan yang berkaitan dengan
isu tertentu yang ingin dipecahkan. Artinya proses, teknik dan media komunikasi yang
digunakan harus mampu memfasilitasi para pemangku kepentingan dalam : (1)
memahami situasi dan kondisi; (2) menyelesaikan konflik; (3) membangun konsensus;
(4) merencanakan aksi untuk perubahan dan keberlanjutan; (5) memiliki pengetahuan
dan keterampilan untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat dan; (6)
memperbaiki efektivitas kelembagaan.
Strategi komunikasi merupakan panduan dari perencanaan komunikasi
(communication planning) dan manajemen (communication management) untuk
mencapai suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi harus dapat
menunjukkan bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan, dalam arti kata
bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda sewaktu-waktu tergantung dari situasi dan
kondisi (Effendi, 1981:84). Suatu proyek harus mendefinisikan sebelumnya mengenai
apa dan untuk siapa informasi dimaksud dan bagaimana penerima seharusnya
menerjemahkannya dalam komunikasi dan tindakan.
Cara terbaik mencapai ini adalah melalui suatu strategi komunikasi yang sistematis
dan menyeluruh. Penggunaan komunikasi secara sistematis sangat penting, bukan
hanya implementasi proyek, tapi juga penetapan kebijakan/program yang dibentuk
untuk meningkatkan partisipasi dalam dukungannya terhadap pembangunan
berkelanjutan. Komunikasi adalah proses dua arah dimana kombinasi alur informasi dan
pengalaman “dari atas” dan “dari bawah” untuk menganalisis suatu keadaan,
menentukan karakteristik kelompok strategis, serta persoalan kunci yang harus
ditangani untuk mendapatkan gabungan terbaik dari instrumen kebijakan. Undang-
undang yang dibuat dengan seksama, insentif ekonomis, atau solusi teknologi tidak
akan berfungsi sebelum masyarakat terkait diinformasikan, ditanyakan pendapatnya,
dan akhirnya mendapatkan kepemilikan atas perubahan dan intervensi yang dimulai
untuk menangani persoalan yang ditangani.
Secara umum strategi komunikasi dilakukan melalui tahapan/langkah analisis
masalah, merumuskan tujuan komunikasi, merancang pesan kunci, menentukan saluran,
metode, dan media komunikasi, Merencanakan Kegiatan Pengembangan Media,
Produksi dan Ujicoba Media, penggunaan media, Monitoring dan Sistem Pengelolaan
Informasi, dan Evaluasi dan Analisa Masalah

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 263


PROGRAM INOVASI DESA

B. Analisis Masalah

Strategi komunikasi yang baik diawali dari pemahaman terhadap masalah yang ingin
dipecahkan oleh program yang disebabkan oleh masalah komunikasi, konteks wilayah
sasaran dan khalayak yang akan diubah pengetahuan, sikap dan perilakunya. Oleh
karena itu dasar untuk menyusun strategi komunikasi adalah: (1) analisis situasi; (2)
analisis masalah komunikasi/informasi dan; (3) analisis khalayak.
Analisis situasi diperlukan untuk melihat gambaran karakteristik wilayah layanan
program seperti kondisi sosial ekonomi, sosial budaya, pola komunikasi dan media yang
biasa digunakan.cAnalisis masalah dibutuhkan untuk mengetahui permasalahan
komunikasi berkaitan dengan isu-isu pembangunan yang ingin dipecahkan oleh
program. Dalam analisis masalah harus dilakukan kajian apakah permasalahan
pembangunan yang ada diakibatkan oleh kesenjangan komunikasi/informasi atau
kesenjangan lainnya.
Analisis khalayak dilakukan untuk mengetahui karakteristik khalayak sasaran
berkaitan dengan pengetahuan, sikap, perilaku dan juga kepentingan terhadap
informasi yang akan dikomunikasikan. Penentuan khalayak sasaran didasarkan kepada
identifikasi pemangku kepentingan dalam isu-isu yang diusung oleh program.
Pemangku kepentingan adalah grup atau individu yang dapat terkena dampak dari
capaian suatu program, proyek, atau lembaga (Freeman, 1984, p.vi). Mengacu pada
definisi ini, pemangku kepentingan termasuk mereka yang terkena efek langsung
maupun tidak dari pelaksanaan kegiatan atau program; mereka yang berpartisipasi
dalam implementasi suatu program; dan mereka yang memiliki kepentingan terhadap
suatu program serta kemampuan untuk memengaruhi dan membuat keputusan terkait
pelaksanaan suatu program.
Setelah pemetaan stakeholder dilakukan, elaborasi lebih lanjut diperlukan untuk
mengetahui tingkat kepentingan dan power, terkait dengan isu atau program. Diagram
berikut menggambarkan tingkat kepentingan dan power, serta metode pelibatan yang
dibutuhkan.

264| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

“Kepentingan” atau ”interest” adalah sejauh mana stakeholders terkena dampak


dari implementasi program, dan bagaiman tingkat kepentingan dan perhatiannya
terhadap program. Sedangkan “kuasa” atau “power” adalah pengaruh yang dimiliki
stakeholders terhadap program maupun kebijakan, serta seberapa jauh mereka dapat
membantu pencapaian program atau perubahan yang diharapkan. Hasil dari analisis ini
akan bermanfaat untuk menetapkan metode yang paling tepat untuk pelibatan mereka
dalam program.
Stakeholders dengan tingkat kepentingan dan kuasa yang tinggi perlu untuk
dilibatkan dalam kegiatan program secara intensif. Stakeholders dengan tingkat
kepentingan tinggi tapi kuasa rendah, perlu untuk terus diinformasikan mengenai
implementasi program. Stakeholders dengan tingkat kuasa tinggi namun kepentingan
rendah, perlu dijaga kepuasannya terhadap informasi yang diberikan oleh program. Dan
terakhir, stakeholders dengan tingkat kepentingan dan kuasa rendah, perlu untuk terus
dimonitor kebutuhan informasi dan komunikasinya

C. Perumusan Tujuan Komunikasi

Tujuan komunikasi bisa merupakan tujuan jangka panjang (3-5 th) maupun tujuan
jangka pendek (1-2 th) yang disebut juga sebagai tujuan strategis. Tujuan strategis
memiliki karakteristik antara lain: hasil yang akan dicapai dirasakan banyak orang, dapat
mengatasi persoalan mendesak, dan berdampak luas. Tujuan komunikasi diarahkan
untuk mencapai suatu perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku yang diharapkan
oleh program dari kondisi awal yang sudah diidentifikasi dalam analisis masalah. Demi
efesiensi dan efektivitas, tujuan komunikasi harus dirumuskan dengan jelas. Program
harus memiliki tujuan komunikasi yang dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu,
dimana hasilnya dapat diamati dan diukur. Tujuan komunikasi inilah yang akan menjadi
acuan dalam pengembangan pesan dan penentuan saluran serta media pendukung.

D. Merancang Pesan Kunci

Tujuan komunikasi diturunkan ke dalam pesan-pesan khusus untuk setiap khalayak


sasaran. Pesan yang akan disampaikan bisa jadi umum untuk semua khalayak, akan
tetapi ada pesan-pesan untuk khalayak sasaran tertentu disesuaikan dengan tugas,
peran dan fungsi mereka dalam pembangunan desa. Berdasarkan peran-peran yang
sudah diidentifikasi pada pemetaan khalayak sasaran, maka bisa dirumuskan jenis pesan
yang bersifat informasional yaitu yang berisi informasi lengkap yang terdiri dari fakta
dan teori; pesan yang bersifat motivasional yaitu yang membujuk dan berisi informasi
analitis, sebab – akibat dan; pesan yang bersifat instruksional yang terdiri dari langkah-
langkah dan apa akibatnya jika tidak mengikuti langkah-langkah tersebut.
Pesan yang disampaikan idealnya harus memenuhi prinsip AIDA, yaitu bisa
memberikan perhatian (attention) , menarik (interest), membangkitkan keinginan
(desire), dan menghasilkan tindakan (action). Pesan yang efektif harus dapat
menyelesaikan 4 masalah, yaitu bagaimana, apa, dimana, dan siapa.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 265


PROGRAM INOVASI DESA

E. Menentukan Saluran, Metode, dan Media Komunikasi

Saluran, metode, dan media komunikasi didasarkan kepada karakteristik pesan, khalayak
sasaran, ketersediaan biaya, dan ketersediaan fasilitas tid pendukung. Media film tentu
tidak tepat guna bagi khlayak di wilayah yang tidak ada energi listrik dan/atau kelompok
tunarungu. Dalam menentukan saluran dan media komunikasi yang akan digunakan
juga harus dipertimbangkan kelemahan dan kelebihan masing-masing media.

F. Merencanakan Kegiatan Pengembangan Media

Program memiliki kepentingan atas terpenuhinya jadwal penyelesaian pekerjaan, karena


tujuan yang ingin dicapai oleh program juga memiliki target waktu. Dengan adanya
strategi komunikasi, pelaksana program akan dengan mudah melakukan perencanaan
kegiatan pengembangan media. Apabila media-media komunikasi dibutuhkan pada
saat yang bersamaan atau pun berdekatan, program harus yakin bahwa kegiatan
pengembangan media dapat selesai pada saat yang telah dijadwalkan.

G. Produksi dan Ujicoba Media

Pengembangan Media sebagai kegiatan teknis, harus dilakukan berdasarkan kepada


acuan-acuan yang telah dikembangkan sebelumnya. Dalam tahap ini, semua hasil
kegiatan pada tahap sebelumnya, dibutuhkan untuk pengembangan media. Produksi
dan Ujicoba Media adalah tahapan dimana suatu media dikembangkan mulai dari
pengembangan pesan-pesan utama, pengembangan naskah, pengembangan
visualisasi, penataan letak, ujicoba pencetakan dan penggandaan media dilakukan di
dalamnya.
H. Penggunaan Media

Media yang telah selesai dikembangkan, akan sia-sia jika tidak digunakan sesuai dengan
tujuan pengembangannya dan strategi komunikasi yang telah dikembangkan. Program
harus dapat menjamin bahwa media yang telah dikembangkan digunakan sebagai
peruntukannya, apabila menginginkan tercapainya tujuan komunikasi. Pengguna media
biasanya bukanlah orang-orang yang mengembangkan media. Karenanya, program
perlu mengembangkan suatu panduan penggunaan media dan latihan penggunaannya
untuk menjamin berjalannya strategi komunikasi dan terjadinya komunikasi dengan
menggunakan media itu sendiri.

I. Monitoring dan Sistem Pengelolaan Informasi

Kegiatan-kegiatan komunikasi yang dilakukan sesuai strategi komunikasi yang


dikembangkan, belum tentu dapat mencapai tujuan komunikasi yang telah ditetapkan.
Sedetil apapun dan secermat apapun perencanaan yang dikembangkan, selalu saja
diperlukan adanya penyesuaian-penyesuaian. Untuk dapat menjamin tercapainya tujuan
komunikasi, Program harus melakukan pemantauan atas kegiatan-kegiatan komunikasi
yang dilakukan sambil terus mengamati perubahan-perubahan yang terjadi. Adanya

266| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

perubahan situasi, dapat saja mempengaruhi efektivitas dan efisiensi kegiatan


komunikasi. Tanpa adanya mekanisme pemantauan dan pengelolaan informasi,
Program akan mengalami kesulitan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam
waktu singkat. Program dituntut untuk dapat mengembangkan mekanisme pengelolaan
informasi dan mekanisme pemantauan, agar penyimpangan-penyimpangan yang
terjadi di lapangan dapat diketahui sesegera mungkin untuk dapat dilakukan
pengambilan keputusan penyesuaian.

J. Evaluasi dan Analisa Masalah

Evaluasi merupakan kegiatan pengukuran secara sistematis yang dilakukan oleh


Program, untuk menilai sejauh mana keberhasilan program dalam mencapai tujuannya.
Evaluasi secara keseluruhan juga akan mencakup evaluasi terhadap kajian di bidang
kegiatan komunikasi. Dalam hal ini, biasanya pertanyaan-pertanyaan evaluasi diarahkan
untuk mengetahui apakah kelompok sasaran/khalayak telah terjangkau oleh program;
apakah terdapat perubahan pada kelompok sasaran/khalayak (pengetahuan, sikap atau
pun perilaku); sejauh mana perubahan terjadi; mengapa terjadi atau tidak terjadi
perubahan dan sebagainya.
Secara alami, program tidak akan mungkin memecahkan semua masalah yang ada
pada suatu kelompok sasaran di suatu wilayah dalam satu waktu. Permasalahan yang
belum terpecahkan akan dikaji ulang dan dicoba dicarikan jalan keluarnya. Jika
permasalahan berhasil dipecahkan, akan muncul permasalahan lainnya yang menjadi
penting untuk dipecahkan. Program akan bergerak maju, untuk memecahkan masalah-
masalah berikutnya. Pada tahap ini, kegiatan evaluasi sebenarnya merupakan bagian
dari kegiatan Analisa Program / Masalah (tahap pertama) untuk program berikutnya.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 267


PROGRAM INOVASI DESA

268| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 6.1.1

Panduan Rapat Koordinasi


Program Inovasi Desa (PID)

A. Pendahuluan
Program Inovasi Desa (PID) hadir sebagai upaya mendorong peningkatan kualitas
pemanfaatan Dana Desa (DD) dengan memberikan rujukan inovasi pembangunan Desa
serta merevitalisasi peran pendamping dalam pengembangan potensi ekonomi lokal
dan kewirausahaan, pengembangan sumber daya manusai serta infrastruktur Desa.
Melalui Program Inovasi Desa (PID) diharapkan mampu memicu munculnya inovasi dan
pertukaran pengetahuan secara partisipatif. Program Inovasi Desa (PID) merupakan
salah satu bentuk dukungan kepada Desa agar lebih efektif dalam menyusun
penggunaan DD sebagai investasi dalam peningkatan produktifitas dan kesejahteraan
masyarakat.
Tujuan PID adalah 1) Pengarusutamaan kegiatan-kegiatan inovasi yang dapat
mendorong efektivitas penggunaan atau investasi dana di Desa menuju peningkatan
produktivitas Desa melalui proses pengelolaan pengetahuan secara sistematis,
terencana dan partisipatif; 2) Peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan dan
pengelolaan program. Proses pengelolaan pengetahuan secara sistematis meliputi
proses identifikasi inovasi, validasi, dokumentasi, proses pertukaran pengetahuan atau
eksposisi dan replikasi. Melalui proses ini diharapkan adanya bursa pengetahuan dan
inovasi desa pembangunan perdesaan
Program Inovasi desa dalam pelaksanaannya pasti membutuhkan perangkat
koordinasi yang efektif untuk menunjang efektivitas gerak serta peran antar bagian di
dalamnya. Koordinasi dalam Program Inovasi Desa (PID) telah menjadin agenda rutin
yang dituangkan dalam rencana kerja pada setiap tingkatan mulai dari desa sampai
dengan nasional, dan menjadi sangat penting karena dalam rapat koordinasi diharapkan
terjadi kesinambungan yang sinergis antar pihak untuk keberlangsungan kegiatan baik
aspek keproyekan maupun keprogramannya. Pada momen rapat koordinasi tersebut
terutama juga dimanfaatkan untuk mengungkap permasalahan-permasalahan yang
dihadapi sekaligus mencari upaya penyelesaiannya, pemenuhan kebutuhan peningkatan
kapasitas bagi pelaku – pelaku program dan penyampaian informasi program terkini.
Khusus pelaksanaan koordinasi di tingkat Kabupaten, Tim Inovasi Kabupaten (TIK)
disediakan alokasi khusus Dana rakor TIK di tingkat Kabupaten. Dalam pelaksanaanya
TIK dan Tenaga Ahli Kabupaten bertanggungjawab terhadap kualitas penyelenggaraan
rapat koordinasi dimaksud. Tenaga Ahli Kabupaten bertanggungjawab terhadap
substansi forum rapat koordinasi Kabupaten dengan mendasarkan pada situasi kondisi
pelaksanaan program di lapangan. Rapat koordinasi dirancang untuk dapat
dimanfaatkan menjadi wahana refleksi dan evaluasi terhadap kinerja program, mengi-

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 269


PROGRAM INOVASI DESA

dentifikasi berbagai masalah yang dihadapi, memetakan berbagai kekuatan dan


kelemahan, merumuskan isu-isu utama, serta menetapkan langkah-langkah strategis
untuk dapat diimplementasikan di kabupaten maupun kecamatan secara operasional.

B. Tema Rakor
Rapat koordinasi TIK tingkat Kabupaten merupakan rapat kordinasi tematik yang
merefleksikan semangat dan tujuan yang hendak dicapai sehingga tercermin dalam
agenda pokok yang akan dibahas/dilakukan dalam rapat tersebut. Tema dibahas dan
disusun pada pertemuan persiapan rapat koordinasi TIK yang melibatkan tenaga ahli
Kabupaten dan TIK Kabupaten

C. Materi
Materi dan pokok bahasan rapat koordinasi mendasarkan pada tema rapat koordinasi
serta pemenuhan kebutuhan peningkatan kinerja Program Inovasi Desa (PID) berkaitan
dengan progres dan situasi kondisi pelaksanaan Program Inovasi desa.

D. Tujuan
Secara umum rapat koordinasi adalah
1. Pembinaan dan Pengendalian pelaksanaan seluruh tahapan kegiatan Program
Inovasi desa;
2. Penyampaian Laporan Program secara Rutin dan Berkala;
3. Mengkonsolidasikan/mengkoordinasikan jajaran fungsional dengan struktural
dalam sebuah forum sehingga muncul sinergisitas dalam pelaksanaan Program
inovasi Desa di Kabupaten, Kecamatan dan Desa;
4. Menyampaikan informasi kebijakan program sekaligus merumuskan langkah
secara konkrit pelaksanaan kebijakan Program Inovasi Desa;
5. Membahas kemajuan dan pencapaian target kegiatan;
6. Menyampaikan hasil supervisi dan monitoring pelaksanaan kegiatan program;
7. Meningkatkan kapasitas Tim Inovasi desa, Tenaga Ahli Kabupaten, pendamping
Desa, dan Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID).

E. Hasil yang Diharapkan


1. Dirumuskannya risalah hasil rapat yang disepakati bersama yang dapat dijadikan
sebagai acuan untuk pelaksanaan kegiatan program sampai dengan periode rapat
koordinasi berikutnya;

270| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

2. Dihasilkan panduan-panduan teknis yang secara operasional dapat membantu


Pendmaping Desa maupun pelaku program lainnya dalam melaksanakan Program
Inovasi Desa;
3. Tersampaikannya umpan balik pelaksanaan kegiatan di Kecamatan dan hasil
supervisi-monitoring oleh Kabupatensecara tertulis;
4. Modul, panduan dan kebijakan dapat dideseminasikan kepada Pendamping desa/
TIK kabupaten serta dipastikan mekanisme deliveri lanjutannya pada tingkatan di
bawahnya;
5. In service training sebagai bagian dari proses capacity building dapat dilakukan
oleh Tenaga Ahli Kabupaten/TIK Kabupaten kepada Pendamping Desa dan TPID;
6. Terjalinnya komunikasi yang harmonis antara jajaran struktural dengan fungsional
dalam pelaksanaan Program Inovasi Desa.

F. Agenda Rakor TIK-PID


Agenda Wajib
Agenda wajib yang harus dilaksanakan pada setiap pelaksanaan rakor provinsi meliputi:
1. Materi Capacity Building;
2. Materi menyangkut spesialisasi Tenaga ahli Kabupaten;
3. Agenda khusus untuk Tim inovasi desa;
4. Laporan Program, Evaluasi capaian RKTL dan target capaian hasil rekomendasi
rakor sebelumnya;
5. Evaluasi capaian KPI Program Inovasi desa;
6. Penanganan masalah dan kendala-kendala pelaksanaan Program Inovasi Desa
(PID);
7. Evaluasi pendampingan desa terkait pembangunan desa;
8. Evaluasi dana desa dan data Pembangunan Desa.

Agenda Tambahan
1. Rakor TIK terbuka untuk membahas agenda tambahan sesuai dengan kebutuhan
lokal yang dinilai perlu pembahasan khusus.
2. Agenda tambahan juga bisa digunakan untuk menghadirkan nara sumber
eksternal yang relevan dengan kebutuhan dari berbagai unsur praktisi, perguruan
tinggi, GOI, NGO, dan lain-lain.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 271


PROGRAM INOVASI DESA

G. Teknis Pelaksanaan
Agar pelaksanaan rakor berjalan baik, efektif dan efesien, maka perlu dilakukan berbagai
persiapan oleh TIK bersama Tim TA Kabupaten, adapun beberapa hal yang perlu
dipersiapkan minimal meliputi:
(1) TA Kabupaten melakukan koordinasi dengan TIK guna menyusun rencana
pelaksanaan rakor TIK untuk jangka 1 tahun kedepan dan selanjutnya TA
Kabupaten melaporkan rencana pelaksanaan rakor TIK tersebut kepada TIK paling
lambat pada akhir bulan Januari, selanjutnya TA Kabupaten menyampaikan jadwal
rakor TIK, kepada Koordinator provinsi;
(2) Pembahasan dan penyusunan draft agenda rakor dilakukan oleh Koordinator TA
Kab bersama seluruh Tenaga kahli Kabupaten provinsi, minimal 15 hari sebelum
jadwal rakor TIK dilaksanakan;
(3) Apabila jadwal rakor TIK mengalami perubahan dari rencana tahunan, maka TA
Kab bersama TIK membahas dan menyepakati perubahan jadwal tersebut minimal
12 hari sebelum pelaksanaan rakor TIK;
(4) TA Kab wajib menyampaikan informasi perubahan jadwal pelaksanaan Rakor TIK;
(5) TA Kab menyampaikan jadwal pelaksanaan rakor TIK dan materi rakor TIK kepada
PPK Dekonsentrasi dan Korprov, minimal 7 hari sebelum pelaksanaan rakor TIK;
(6) TIK kabupaten dibantu oleh TA kabupaten menyiapkan tempat penyelenggaraan
rakor TIK yang dapat menampung jumlah peserta rakor TIK;
(7) TIK kabupaten dibantu oleh TA Kab menyampaikan undangan yang dilengkapi
dengan Agenda Rakor serta dokumen/data/laporan yang harus diabawa oleh
peserta, atau yang harus disampaikan/dikirim oleh peserta ke Kabupaten, sebelum
pelaksanaan rakor (bila diperlukan) selambat-lambatnya 3 hari sebelum
pelaksanaan rakor TIK;
(8) TA Kabupaten menyiapkan modul dan rencana penyajian materi pembahasan
serta media fasilitasi rakor oleh TA Kabupaten;
(9) Penyampaian Undangan kepada para nara sumber (jika diperlukan).

H. Pendekatan dan Metode


Dalam setiap pembahasan materi rapat akan dilakukan pendekatan yang terpadu antara
Pembelajaran Orang Dewasa (POD) dengan berbagai pendekatan yang relevan melalui
proses diskusi, pemaparan, penugasan, maupun kombinasi dari ketiganya. Setiap materi
yang outputnya berupa rumusan implementatif dipertimbangkan dengan
mengembangkan pendekatan pengembangan potensi pelaku dan pendamping
Program Inovasi Desa (PID). Teknis dan metode lainnya dapat digunakan untuk
pelaksanaan rapat koordinasikan dengan memperhatikan tujuan dan capaian rapat
koordinasi TIK.

272| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

I. Fasilitas Yang Diperlukan Dalam Penyelenggaraan Rakor


1. Ruang pembukaan dan penutupan yang bisa memuat seluruh peserta rapat dan
perlengkapannya, setting kursi berbentuk theater sekaligus digunakan untuk
materi umum;
2. Ruang berkapasitas 20 – 30 orang yang memungkinkan terjadinnya dinamisasi
peserta rapat dengan setting tempat duduk berbentuk U atau chevron, sesuai
kebutuhan;
3. LCD untuk tiap kelas pisah;
4. Flipchart untuk kelas pisah;
5. Kertas Plano dan Metaplan secukupnya;
6. Spidol warna sesuai kebutuhan;
7. Spidol besar sesuai kebutuhan;
8. Konsumsi dan snack untuk peserta Rakor;
9. Spanduk luar maupun background untuk pembukaan dan penutupan yang di
dalamnya memuat tema rapat koordinasi Kabupaten pada setiap periode rapat
koordinasi.

J. Peserta
Peserta rapat koordinasi TIK untuk pelaksanaan Program Inovasi desa adalah ;
1. Tim Inovasi kabupaten;
2. Camat/Kasi PMD atau nama lain;
3. Tim Pelaksana Inovasi desa;
4. TA Kabupaten;
5. Pendamping Desa;
6. Pendamping Lokal Desa;
7. Dan pihak lain yang dibutuhkan;
Jumlah tiap peserta di atas menyesuaikan dengan ketentuan anggaran yang tersedia.

K. Nara Sumber dan Fasilitator


Dalam pelaksanaan rapat koordinasi TIK dapat mengundang narasumber eksternal yang
relevan dengan tema dan pokok bahasan rapat koordinasi.

L. Pengendali Rapat Koordinasi/Person In Charge


Dalam rangka menjamin pelaksanaan rapat koordinasi dapat berlangsung secara tertib
dan teratur sehingga optimal dalam pencapaian tujuannya maka perlu dikendalikan

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 273


PROGRAM INOVASI DESA

pelaksanaanya oleh seorang penanggungjawab kegiatan. Yang bersangkutan


berkewajiban mengendalikan waktu, kesiapan moderator, narasumber serta panitia
pada saat rapat berlangsung.

M. Jadwal dan Kisi-Kisi


Jadwal:
(1) Jadwal rapat koordinasi tingkat kabupaten sebagai rangkaian kegiatan yang
menampilkan pokok bahasan, narasumber, fasilitator, waktu pelaksanaan serta
penanggung jawab kegiatan;
(2) Jadwal rapat koordinasi disusun melalui pembahasan yang melibatkan TA
Kabupaten dan TIK;
(3) Jadwal rapat koordinasi beserta kisi-kisi bahasan rapat merupakan bagian dari
undangan dari satuan kerja provinsi yang dikirimkan selambat-lambatnya 3 hari
sebelum pelaksanaan kegiatan.

Kisi-kisi:
(1) Kisi-kisi adalah panduan bagi peserta dan narasumber,berupa matriks yang
mendeskripsikan pokok bahasan, tujuan, sasaran, metode serta penanggungjawab
materinya guna mempermudah peserta/narasumber menyiapkan diri mengikuti
rapat koordinasi;
(2) Kisi-kisi bersama agenda rapat merupakan bagian dari undangan dari TIK yang
dikirimkan selambat-lambatnya 3 hari sebelum pelaksanaan kegiatan.

N. Risalah
Setiap penyelenggaraan rapat koordinasi TIK wajib disusun hasil rumusan akhir,
rekomendasi serta kesepakatan forum yang dibacakan di depan peserta dan disepakati
bersama. Dokumen ini selanjutnya dikirim ke seluruh Kecamatan, dan pada awal
pelaksanaan rapat berikutnya direview dan dievaluasi sejauh mana rekomendasi serta
kesepakatan tersebut ditindaklanjuti di lapangan.

O. Penyelenggara
Penyelenggara rapat koordinasi TIK adalah TIK yang melekat pada instansi Dinas
pemberdayaan masyarakat Kabupaten/nama lain bersama tenaga Ahli Kabupaten.

P. Pembiayaan
Rapat Koordinasi TIK ini didanai sepenuhnya melalui DIPA Dekonsentrasi

274| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Q. Pelaporan
1. Laporan pertanggungjawaban keuangan disusun oleh TIK Kabupaten
2. Laporan pelaksanaan kegiatan dan hasil-hasil pembahasannya disusun oleh TA
Kabupaten

R. Penutup dan Lampiran


Hal-hal yang belum diatur dalam Panduan Pelaksanaan Rakor TIK ini, ditentukan
bersama oleh TIK dan TA Kabupaten/Kota, sesuai ketentuan yang ada dan dokumen-
dokumen program resmi lainnya. Lampiran sebagai bagian dalam panduan ini sebagai
berikut:
1. Format Kisi – kisi Rapat Koordinasi TIK
2. Format Agenda rapat koordinasi Provinsi
3. Risalah dan Rekomendasi Rakor TIK
4. Laporan Rapat Koordinasi TIK

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 275


PROGRAM INOVASI DESA

276| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 6.2.1

Penilaian Kinerja Pendamping Desa

A. Pendahuluan
Pendampingan Desa yang dilaksanakan dalam rangka implementasi Undang-undang
Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa akan dinilai kinerjanya secara rutin. Evaluasi kinerja
pendamping Desa Profesional merupakan bagian dari rangkaian manajemen
pengelolaan pendampingan Desa. Mengingat kondisi rentang manajemen (span of
management), Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi selaku pemberi kerja melalui
Satker Provinsi tidak dapat secara terus-menerus mengawasi kinerja pendamping
profesional dikarenakan lokasi tugas antara kedua pihak saling berjauhan.
Penilaian kinerja secara reguler yang dilakukan setiap smester merupakan sarana
untuk menilai unjuk kerja pendamping profesional dalam memenuhi tugas dan
tanggung jawabnya. Hasil evaluasi kinerja adalah simpul pendapat pemberi pekerjaan
tentang kelayakan terhadap kontrak kerja pendamping professional untuk
dipertahankan, atau sebagai masukan untuk mengambil langkah koreksi dan perbaikan
implementasi kebijakan. Penilaian akan dilakukan terhadap pendamping profesional
agar dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan TOR.

B. Tujuan
Penilaian kinerja pendamping profesional dilakukan dengan menggunakan data faktual
yang diperoleh dari beberapa sumber agar memberikan hasil penilaian yang objektif
sesuai dengan TOR. Penilaian kinerja ditujukan untuk menilai tingkat pencapaian kinerja,
menentukan kemampuan dan kelayakan yang dicapai sebagai pendamping profesional.
Hasil penilaian kinerja ini diharapkan juga akan memberikan umpan balik (feed back)
sebagai masukan untuk pembimbingan dan peningkatan kapasitas pendamping
profesional.
Tujuan penilaian kinerja pendamping profesional, adalah:
1. Menilai kinerja pendamping profesional berdasarkan tugas pokok dan fungsinya
(Tupoksi);
2. Menjadi alat ukur peningkatan kinerja dan menjadi bagian dari analisis kebutuhan
pelatihan pendamping;
3. Menjadi alat menegakkan aturan pekerjaan;
4. Menjadi dasar yang objektif untuk mempromosikan pendamping tingkat Desa,
Kecamatan, dan Kabupaten ke jenjang yang lebih tinggi;
5. Menjadi dasar objektif untuk pemberian peringatan, prasyarat melanjutkan
kontrak, dan atau pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 277


PROGRAM INOVASI DESA

C. Mekanisme Penilaian Kinerja


1. Mekanisme
Mekanisme penilaian kinerja pendamping professional disusun sebagai berikut:
1. Penilaian kinerja dilakukan secara hirarkis dari jenjang pemerintahan tingkat
Kabupaten/Kota, Provinsi, hingga tingkat Pusat (Kementerian Desa, PDT dan
Transmigrasi);
2. Camat/Kasi yang membidangi pendampingan bertanggungjawab:
a) Melakukan evaluasi kinerja terhadap PD;
b) Melakukan evaluasi kinerja terhadap PLD;
c) Bersama PD memfasilitasi “Forum Konsultasi Masyarakat” (FKM) yang
dituangkan dalam Berita Acara. FKM bertujuan untuk memberi penilaian
terhadap PLD. Peserta FKM terdiri dari Kades, BPD, tokoh masyarakat dan
tokoh perempuan yang dilakukan pada setiap akhir periode evkin;
3. Pemerintah Kabupaten/Kota melalui OPD yang membidangi pendampingan Desa
dibantu Tenaga Ahli di Kabupaten secara kolektif bertanggungjawab:
a) Melakukan evaluasi kinerja PD;
b) Mengirim hasil rekap evkin menilai dan mengirimkan rekap evkin PD dan
PLD kepada Satker P3MD Provinsi dan;
c) Mendokumentasikan rekap evkin PD dan PLD yang bertugas di wilayah
kabupatennya.
4. Pemerintah Provinsi melalui Sarker P3MD Provinsi bertanggungjawab:
a) Melakukan evaluasi kinerja TA kabupaten;
b) Menyusun daftar final dan menandatangani hasil Evkin;
c) Mengirim hasil rekap Evkin TA kabupaten, PD dan PLD kepada Satker P3MD
Ditjend PPMD Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi dan;
d) Mendokumentasikan rekap evkin TA, PD dan PLD yang bertugas di wilayah
propinsinya.
5. Satker P3MD Ditjend PPMD Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi:
a) Melakukan review dan mengesahkan terhadap rekapitulasi laporan evaluasi
kinerja dan rekomendasi yang disusun oleh pemerintah Provinsi. Review ini
dimaksudkan untuk menghimpun masukan dan pembelajaran (lesson
learned);
b) Menentukan tindak lanjut rekomendasi evaluasi kinerja yang disampaikan
Satker Provinsi;
c) Melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan Evkin.

278| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

2. Aspek Penilaian
Aspek penilaian dalam evaluasi kinerja pendamping profesional mencakup 4 (empat)
aspek utama yaitu: kinerja pendampingan, kinerja supervisi, kinerja koordinasi, dan
kinerja administrasi.
a. Kinerja Pendampingan
1) Kewajiban Pendampingan.
Kinerja pendampingan adalah unjuk kerja pendamping profesional dalam
bekerja sesuai Tupoksi. Untuk itu, pendamping profesional berkewajiban
memenuhi pelaksanaan Tupoksi dengan mengacu pada:
▪ Etika profesi sebagai pendamping profesional;
▪ Norma kebijakan yang secara substansial terkandung dalam asas-asas
Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yakni, rekognisi,
subsidiaritas, keberagaman, kebersamaan, gotong royong, kekeluarga-
an, musyawarah, demokrasi, kemandirian, partisipasi, kesetaraan,
pemberdayaan dan keberlanjutan;
▪ Uraian tugas, yakni paparan tugas teknis penjabaran Tupoksi
pendamping profesional.
2) Indikator Penilaian.
Kinerja pendampingan oleh pendamping profesional dinilai berdasarkan
pencapaian output sesuai dengan Tupoksi setiap individu dengan rincian
indikator penilaian sebagai berikut:
▪ Konsistensi dan ketegasan pendamping profesional menerapkan etika
profesi;
▪ Kemampuan pendamping profesional dalam memfasilitasi pelaksanaan
Undang-undang Nomor 6/2014 tentang Desa dan peraturan
pelaksanaannya;
▪ Kemampuan pendamping profesional untuk memfasilitasi penggunaan
data dalam pengambilan keputusan;
▪ Kemampuan pendamping profesional untuk menganalisis situasi untuk
mengambil tindakan yang tepat dan memberikan solusi terhadap
masalah yang terjadi.
b. Kinerja Supervisi
1) Kewajiban Supervisi
Kinerja supervisi adalah unjuk kerja pendamping profesional dalam bekerja sesuai
Tupoksi sebagai Supervisor. Untuk itu, Pendamping profesional berkewajiban
memenuhi pelaksanaan Tupoksi dengan mengacu pada:
▪ Norma kebijakan yang secara sistematik terkandung dalam asas-asas
Undang-undang Nomor 6/2014 tentang Desa yakni: rekognisi, subsidiaritas,

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 279


PROGRAM INOVASI DESA

keberagaman, kebersamaan, gotong royong, kekeluargaan, musyawarah,


demokrasi, kemandirian, partisipasi, kesetaraan, pemberdayaan dan keber-
lanjutan;
▪ Uraian tugas, yakni paparan tugas teknis penjabaran Tupoksi pendamping
profesional sebagai supervisor.

2) Indikator Penilaian
Kinerja supervisi oleh pendamping profesional dinilai berdasarkan pencapaian
output sesuai dengan Tupoksi sebagai supervisor untuk setiap individu dengan
rincian indikator penilaian sebagai berikut:
▪ Kemampuan pendamping profesional dalam melakukan pelatihan dan
peningkatan kapasitas masyarakat;
▪ Kemampuan pendamping profesional dalam memberikan bimbingan kerja
dan umpan balik;
▪ Kemampuan pendamping profesional dalam memantau pelaksanaan
kegiatan;
▪ Jumlah kunjungan lapangan dalam rangka supervisi pendampingan sesuai
wilayah tugasnya.

c. Kinerja Koordinasi
1) Kewajiban Koordinasi
Pendamping profesional berkewajiban untuk berkoordinasi dan bekerja sama
dengan pihak lain seperti; birokrasi, supervisor, sesama pendamping, lembaga lain
dan tokoh masyarakat dalam setiap kegiatan seperti: pendampingan masyarakat,
supervisi, pelatihan, penanganan masalah dan lain-lain.

2) Indikator Penilaian
Pendamping profesional dinilai kinerjanya terkait kualitas koordinasi dan
kerjasama dengan pihak lain berdasarkan indikator penilaian sebagai berikut:
▪ Kemampuan pendamping profesional dalam kerjasama dengan OPD
Kabupaten/Kota, Camat, Kepala Desa, pendamping profesional lainnya serta
pemangku kepentingan terkait;
▪ Kemampuan pendamping profesional memanfaatkan peluang kerjasama dan
koordinasi secara optimal;
▪ Kemampuan pendamping profesional untuk bekerja secara sistematis dan
terkontrol sesuai standar pelayanan maupun prosedur kerja sehingga pihak-
pihak yang berkoordinasi dapat bekerja sama secara baik;

280| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

▪ Kemampuan pendamping profesional dalam memfasilitasi kerjasama Desa


dengan OPD Kabupaten/Kota dan kerjasama Desa dengan pihak lain;
▪ Kepemimpinan pendamping profesional dalam pengelolaan pekerjaan secara
kolektif.

d. Kinerja Administrasi
1) Kewajiban Administrasi
Pendamping profesional berkewajiban memenuhi tanggung jawab administrasi
yang meliputi:
▪ Lembar Waktu Kerja (LWK) sebagai bukti kehadiran di lokasi tugas
▪ Laporan Individu (Rencana dan Realisasi Kegiatan Bulanan)
▪ Form Kunjungan Lapangan
▪ Laporan Kegiatan.
▪ Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL)
▪ SPPD dan laporan hasil kunjungan (jika ada kegiatan kunjungan lapangan)

2) Indikator Penilaian
Indikator kinerja administrasi, meliputi:
▪ Kepatuhan pendamping profesional pada standar pelayanan maupun
prosedur kerja;
▪ Ketaatan dan kedisiplinan dari pendamping profesional dalam menyusun dan
menyampaikan laporan, dokumen dan bukti-bukti administrasi kepada Satker
Provinsi melalui supervisor secara reguler;
▪ Kemampuan pendamping profesional untuk menyusun laporan, dokumen
dan bukti-bukti administrasi secara benar sesuai dengan format yang berlaku;
▪ Akurasi pendamping profesional dalam pembuatan laporan, dokumen
administrasi secara lengkap sesuai ketentuan yang ditetapkan;
▪ Kemampuan pendamping profesional untuk menyampaikan dokumen
administrasi secara cepat dan tepat waktu sesuai jadwal yang ditetapkan.

D. Siklus Penilaian Kinerja


Semua tenaga pendamping profesional, baik tingkat desa maupun tingkat pusat akan
dievaluasi kinerjanya dalam periode setiap 6 (enam) bulan sekali oleh supervisor yang
membawahinya. Supervisor berkewajiban mengirimkan hasil evaluasi kinerja (dalam
bentuk soft copy dengan format PDF yang sudah ditandatangani) kepada supervisor di
atasnya, dengan ketentuan sebagai berikut:

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 281


PROGRAM INOVASI DESA

1. Camat dengan dibantu koordinator PD mengirimkan rekapitulasi hasil evaluasi


kinerja PLD kepada OPD Kabupaten/Kota yang menangani pendampingan Desa
melalui Koordinator TA Kabupaten/Kota maksimal tanggal 5 bulan berikutnya dari
setiap periode evaluasi kinerja;
2. OPD Kabupaten/Kota yang menangani pendampingan Desa dengan dibantu
Koordinator TA Kabupaten/Kota mengirimkan rekapitulasi hasil evaluasi kinerja
PLD dan PD kepada Satker Provinsi melalui TL Provinsi maksimal tanggal 10 bulan
berikutnya dari setiap periode evaluasi kinerja;
3. Satker P3MD Provinsi dengan dibantu Team Leader (TL) Provinsi mengirimkan
rekapitulasi hasil evaluasi kinerja PLD, PD, TA Kabupaten/Kota yang sudah
disahkan oleh Satker propinsi kepada Satker P3MD Pusat melalui KPW Pusat,
maksimal tanggal 15 bulan berikutnya dari setiap periode evaluasi kinerja.

E. Sistem Penilaian Kinerja


Cara penilaian kinerja pendamping professional dilakukan dengan menggunakan
angket/format yang harus diisi oleh supervisor dan pejabat yang membidangi
pendampingan Desa sesuai jenjang penugasan para pendamping professional. Format
penilaian kinerja tersebut mengacu pada indikator penilaian kinerja yang dirumuskan
dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang hasilnya untuk mengukur capaian
kinerja sesuai dengan indikator kinerja yang ditetapkan. Penilai diminta memberikan
angka (kuantitatif) untuk selanjutnya dikonversi dalam nilai kualitatif, sejauhmana
seorang pendamping professional telah melaksanakan tugasnya.
Untuk memastikan apakah kompetensi tersebut tercapai atau tidak, maka setiap
kompetensi dasar yang terdiri dari berbagai macam indikator kinerja disusun untuk
mengetahui apakah seorang pendamping profesional memiliki pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang dibutuhkan. Setiap pendamping profesional akan dinilai
oleh supervisor (atasannya) dan oleh OPD Kabupaten/Kota yang membidangi
pendampingan, serta Satker P3MD Provinsi.
Untuk menentukan sejauhmana tugas dilaksanakan, maka pihak penilai
memberikan skor dari angka 1 (satu) sampai angka 5 (lima) untuk setiap indikator yang
dinilai.
Definisi skor dijelaskan sebagai berikut:
• Skor 5 = kinerja sangat baik;
• Skor 4 = kinerja baik;
• Skor 3 = kinerja cukup baik;
• Skor 2 = kinerja kurang baik (dapat diterima walaupun ada kelemahan);
• Skor 1 = kinerja buruk (harus diperbaiki secepatnya);
• X = tidak relevan atau belum saatnya untuk dinilai, atau tidak tahu.
Dalam memberikan penilaian, supervisor (PD, TA Kabupaten/Kota, TA Provinsi dan
TL Provinsi) kemudian menggabungkan nilai-nilai dari semua penilai baik dari unsur
pendamping maupun pihak OPD Kabupaten/Kota yang membidangi pendampingan

282| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

dan Satker P3MD Provinsi dalam satu tabel (Rekapitulasi Evaluasi Kinerja Kecamatan,
Kabupaten/Kota maupun Provinsi). Hasil penilaian akhir rata-rata akan digunakan untuk
menentukan kelayakan pendamping; misalnya layak untuk dilanjutkan, layak untuk
dipromosikan, atau kurang layak untuk dilanjutkan. Hasil ‘penilaian akhir rata-rata akan
berupa nilai “A” sampai “D”. Tingkat kehadiran kurang dari 25% (akumulatif selama 1
periode kinerja) akan mendapatkan nilai D.
Nilai A, B, C, atau D ditentukan dengan skala skor sebagai berikut:
• Nilai A = 3,50 s.d. 5,00
• Nilai B = 2,50 s.d. 3,49
• Nilai C = 1,50 s.d. 2,49
• Nilai D = 0,00 s.d. 1,49
Penilaian tingkat pencapaian kinerja dilakukan dengan sistem scoring yang
diuraikan dalam format peniaian (terlampir). Untuk menghitung nilai rata-rata, nilai yang
diisi dalam angket dijumlahkan dan kemudian dibagi oleh jumlah indikator yang dinilai
(kecuali yang diberitanda X).
Mengingat kondisi lapangan yang bervariasi antar Provinsi, Kabupaten/Kota dan
lokasi-lokasi kegiatan, maka pelaksanaan sistem penilaian kinerja ini harus disesuaikan
dengan keadaan daerah masing-masing. Oleh karena itu, panduan ini hanya
menguraikan dan menjelaskan kewajiban dan prosedur dasar yang dibutuhkan untuk
menjalankan sistem ini. Namun, dalam pelaksanaannya TL Provinsi, TA Provinsi dan para
TA Kabupaten/Kota serta PD dapat mengatur metode dan jadwal sesuai situasi dan
kondisi di lokasi masing-masing.
Masukan/penilaian dari masyarakat dituangkan dalam “Berita Acara Forum
Konsultasi Masyarakat”. Jika ada masukan dari masyarakat yang perlu perhatian khusus
maka supervisor segera menindaklanjuti atas masukan tersebut dengan mengacu pada
SOP pendampingan.

F. Manajemen dan Administrasi Penilaian Kinerja


Satker Provinsi, menjadi tanggung jawab penuh TA Pengelolaan SDM (HRD) tingkat
Provinsi di bawah pengendalian TL Provinsi. Pengarsipan angket dan rekapitulasi di
kantor TL Provinsi juga menjadi tanggungjawab TA Pengelolaan SDM (HRD) tingkat
Provinsi. Sedangkan dokumen Berita Acara hasil penilaian Forum Konsultasi Masyarakat
(FKM) cukup didokumentasikan oleh supervisor di tingkat kecamatan.
Sistem penilaian kinerja ini sangat tergantung pada format/angket penilaian. Oleh
karena itu dokumentasi penilaian harus dijaga dan diarsipkan secara rapi agar dapat
dipakai sebagai umpan balik, pembimbingan, analisis kebutuhan pelatihan, promosi
pendamping dan pemberian sanksi. Dokumen-dokumen tersebut juga akan secara
berkala diperiksa oleh Satker P3MD Provinsi dan Tim Audit Konsultan Nasional, Seknas
dan Satker P3MD Ditjend PPMD Kementerian Desa, Pembangunnan Daerah Tertinggal
dan Transmigrasi.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 283


PROGRAM INOVASI DESA

G. Pihak yang Dinilai


Sistem penilaian kinerja ini digunakan untuk menilai para pendamping di tingkat Desa,
Kecamatan, Tenaga Ahli di Kabupaten/Kota dan Provinsi oleh supervisor dan Satker di
masing-masing jenjang. Supervisor yang menjadi atasan langsung bertanggungjawab
atas penilaian pendamping di bawahnya setiap 6 (enam) bulan.
Secara singkat, pihak yang akan dilibatkan untuk menilai setiap pendamping
profesional adalah:
a) Pendamping Lokal Desa akan dinilai oleh:
1. Pendamping Desa;
2. Camat/Kasi yang membidangi pendampingan desa, dengan masukan dari
perwakilan masyarakat di tingkat Desa melalui forum konsultasi masyarakat.
b) Pendamping Desa akan dinilai oleh:
1. Tenaga Ahli di Kabupaten/Kota (secara kolektif);
2. Camat/Kasi yang membidangi pendampingan desa;
3. OPD Kabupaten/Kota yang membidangi pendampingan desa, dengan
masukan dari perwakilan kelompok masyarakat di tingkat Kecamatan.
c) Tenaga Ahli di Kabupaten/Kota akan dinilai oleh:
1. Team Leader Provinsi;
2. OPD Kabupaten/Kota yang membidangi pendampingan desa;
3. Satker P3MD Provinsi.
d) Tenaga Ahli di Provinsi akan dinilai oleh:

1. Konsultan Pendamping Wilayah (KPW) Pusat;

2. Satker P3MD Provinsi;

3. Satker P3MD Ditjend PPMD Kemendesa, PDT dan Transmigrasi.


e) Tenaga Ahli yang berkedudukan di pusat dan semua jajaran di Seknas/ Konsultan
Nasional akan dinilai oleh Satker P3MD Ditjend PPMD Kemendesa, PDT dan
Transmigrasi sesuai dengan tupoksinya masing-masing.

H. Penutup
Standar Operasional Prosedur (SOP) evaluasi kinerja pendamping profesional ini
merupakan dokumen yang ditetapkan oleh Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi
sebagai dokumen Pemerintah Republik Indonesia. Dan SOP ini merupakan salah satu
tolak ukur keberhasilan dari pengelolaan program secara umum, oleh karenanya semua
pihak yang berkepentingan harus menggunakan SOP ini dalam melakukan evaluasi
kinerja terhadap pendamping profesional.
Lembar Informasi 6.3.1

284| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Administrasi dan Pelaporan


Program Inovasi Desa (PID)

A. Pendahuluan
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa telah mengatur bahwa
pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa ditempuh melalui upaya
pendampingan. Pendampingan menjadi salah satu langkah penting yang harus
dilakukan untuk percepatan pencapaian kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.
Kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dapat dicapai diantaranya melalui
peningkatan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran serta
memanfaatkan sumber daya sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan
masyarakat Desa.
Program Inovasi Desa (PID) adalah program yang dirancang untuk mendorong dan
memfasilitasi penguatan kapasitas Desa yang diorientasikan untuk memenuhi
pencapaian target RPJM Kemendesa PDTT-Program prioritas Menteri Desa PDTT,
melalui peningkatkan produktivitas perdesaan dengan bertumpu pada pengembangan
kewirausahaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pemenuhan dan
peningkatan infrastruktur desa. Pada pelaksanaannya, PID akan memunculkan inovasi-
inovasi dan pertukaran pengetahuan secara partisipastif. Agar pelaksanaan kegiatan
tersebut berjalan efektif dan sesuai dengan target yang hendak dicapai, Program Inovasi
Desa (PID) memberikan dukungan dengan menyediakan tenaga pendamping yang akan
bekerja sama dengan tenaga pendamping P3MD, sistem pegelolaan data pembangunan
desa serta Dana Operasional Kegiatan (DOK) Inovasi dan Pengelolaan Pengetahuan
yang akan dialokasikan untuk setiap kecamatan lokasi program.
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi menetapkan
dan menerbitkan Standar Operasional dan Prosedur (SOP) Administrasi dan Pelaporan
Pendampingan Program Inovasi Desa (PID). Standar Operasional dan Prosedur (SOP) ini
memuat hal-hal pokok terkait dengan terselenggaranya pelaksanaan Pendampingan
Program Inovasi Desa melalui upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah
Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pihak Ketiga ataupun Swadaya masyarakat
desa secara partisipatif. SOP ini digunakan juga sebagai sarana untuk membantu
menjamin terciptanya transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan Program
Inovasi Desa sehingga dapat mencerminkan tata kelola pembangunan dan
pemberdayaan masyarakat desa yang mencerminkan Self Governing Community.
Pemerintah dalam pembinaan dan mengendalikan Program Inovasi Desa (PID)
dibantu oleh pendamping profesional. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 47
Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2014 tentang
Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan
Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi No. 3

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 285


PROGRAM INOVASI DESA

Tahun 2014 tentang Pendamping Desa yang juga menjelaskan tentang kedudukan
Tenaga Ahli di tingkat Kabupaten/Kota sebagai Pendamping Profesional dalam
membantu memfasilitasi pembangunan dan pemberdayaan Desa.
Program PID ini mengedepankan prinsip-prinsip dasar dalam melaksanakan
kegiatannya, yaitu partisipatif, transparansi dan akuntabilitas, kolaboratif, keberlanjutan
serta keadilan dan kesetaraan gender. Dalam rangka mendukung salah satu prinsip
program PID terkait dengan transparansi dan akuntabilitas, maka kegiatan
pengadministrasian dan pelaporan menjadi bagian yang penting untuk dilakukan
sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan yang dilaksanakan di setiap lokasi.

B. Maksud dan Tujuan


Secara umum kegiatan administrasi dan pelaporan ini dimaksudkan untuk mengetahui
perkembangan dan hasil pelaksanaan kegiatan Program Inovasi Desa (PID). Secara
khusus panduan ini bertujuan untuk:
1. memberikan informasi kepada para pelaku program (masyarakat, aparat
pemerintah, pendamping, tenaga ahli, dll.) tentang perkembangan pelaksanaan
Program Inovasi Desa;
2. pembinaan dan pengendalian kegiatan pendampingan pelaksanaan Program
Inovasi Desa sesuai dengan rencana yang telah ditentukan;
3. memberikan masukan dalam rangka pemecahan masalah dan pengambilan
keputusan bagi pengambil kebijakan berdasarkan temuan di lapangan;
4. mendokumentasikan kegiatan inovasi dan pengelolaan pengetahuan dalam
pelaksanaan Program Inovasi Desa.

C. Prinsip-Prinsip
1. Sederhana: laporan dibuat secara sederhana dan diupayakan seringkas mungkin.
2. Jelas: Laporan harus mudah dibaca dan dipahami. Sedapat mungkin gunakan
kata-kata yang sederhana, mudah dimengerti, dan menggunakan bahasa yang
baik dan benar.
3. Akurat: data dan informasi yang disampaikan harus sesuai fakta di lapangan;
4. Tepat waktu: laporan disampaikan tepat pada waktunya sesuai jadwal yang telah
ditetapkan.
5. Up to date: data dan infomasi yang disampikan yang merupakan data terbaru
dihitung dari periode laporan.
6. Akuntabel; Laporan memberikan informasi dan data yang benar-benar valid dan
dapat dipertanggungjawabkan.

D. Pendampingan PID

286| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Dalam mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi serta memastikan pengendalian


program Inovasi Desa dikelola dengan baik, berikut Pendamping Program Inovasi Desa
(PID) yang bertanggungjawab dalam mekanisme administrasi dan pelaporan :

1. Tenaga Ahli Program Pusat


a. Bidang Pengembangan Inovasi Kewirausahaan dan Ekonomi Lokal
(1) TA Utama Pengembangan Inovasi Kewirausahaan (Koordinator Bidang)
(2) TA Utama Fasilitasi Pengembangan Inovasi Produk Unggulan Kawasan dan
Desa
(3) TA Utama Fasilitasi Pengembangan Inovasi BUM Desa dan Holding BUM
Desa
b. Bidang Pengembangan Inovasi Infrastruktur dan Pelayanan Sosial Dasar
(1) TA Utama Inovasi Infrastruktur Embung Desa/Bangunan Air, (Koordinator
Bidang)
(2) TA Utama Inovasi Sarana Prasaraana Olah Raga
(3) TA Utama Inovasi Pendidikan
(4) TA Utama Fasilitasi Pengembangan Inovasi Pelayanan Kesehatan
c. Bidang Pengembangan Kapasitas Masyarakat
(1) TA Utama Pengembangan Kapasitas Bidang Kewirausanaan dan Ekonomi
Lokal (Koordinator Bidang)
(2) TA Utama Pengembangan Kapasitas bidang Infrastruktur
(3) TA Utama Pengembangan Kapasitas bidang PSD dan Sumberdaya Manusia
(4) TA Utama Peningkatan Kapasitas Bidang Pengembangan Produk Unggulan
Desa dan Kawasan Perdesaan (Prudes dan Prukades)
d. Bidang Manajemen Data, Informasi dan Pengelolaan Pengetahuan
(1) TA Utama Inovasi Pengelolaan Pengetahuan (Koordinator Bidang)
(2) TA Utama Manajemen Data
(3) TA Utama Management Information System (MIS)
(4) TA Utama Pengelolaan Informasi dan Media

2. Tenaga Ahli Program Provinsi (TAPP)

3. Tenaga Ahli (TA) dan Tenaga Pendukung (TP) Kabupaten/Kota


(1) Tenaga Ahli PID Kabupaten/Kota
• Koordinator
• TA Madya Bidang Pengelolaan Informasi dan Media
(2) TenagaPendukung PID Kabupaten/Kota:
• Data Operator
• Data Kolektor

E. Ruang Lingkup Administrasi dan Pelaporan

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 287


PROGRAM INOVASI DESA

Administrasi adalah kegiatan penyusunan dan pencatatan data serta informasi yang
dilakukan secara sistematis dengan tujuan agar dapat menyediakan keterangan serta
sebagai salah satu bukti pertanggungjawaban suatu kegiatan. Administrasi yang
dimaksud disini adalah administrasi kegiatan yang dimulai dari proses perencanaan,
pelaksanaan, pemeliharaan dan pengendalian kegiatan serta administrasi keuangan dan
pelaporan Program Inovasi Desa (PID).
Pembinaan dan pengendalian Tenaga ahli dan Tenaga pendukung di
Kabupaten/Kota akan dilaksanakan oleh Satker Pusat dengan dibatu oleh Satker
Dekonsentrasi. Sedangkan untuk pengelolaan administrasi dan pengembangan
kapasitas tenaga pendamping tersebut akan dilakukan oleh satker dekonsentrasi.
TA-PID bertanggungjawab melaporkan perkembangan pelaksanaan inovasi di
desa sebagai penjabaran langsung dari UU Desa, dengan memastikan kualitas
pengembangan inovasi yang berdampak pada peningkatan kapasitas masyarakat desa.
TA-PID akan bekerjasama dengan TA-P3MD tingkat Kabupaten/kota di bawah kendali
Manajemen Nasional.
Ada tiga aspek utama yang menjadi tugas pokok dan fungsi TA PID dalam kegiatan
administrasi dan pelaporan yaitu:
1. melaporkan dokumentasi kegiatan praktek baik atau praktek cerdas dalam
pembangunan dan pemberdayaan masyarakat;
2. melaporkan pelaksanaan kegiatan forum berbagi pengetahuan dan praktek cerdas
secara reguler;
3. melaporkan hasil replikasi inovasi atau praktik cerdas di desa dan antar desa yang
mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas di bidang pengembangan
ekonomi lokal dan kewirausahaan, pengembangan sumber daya manusia serta
pembangunan infrastruktur desa.
4. melaporkan penggunaan dana operasional khusus (DOK) Inovasi Desa kepada
pihak-pihak terkait. Tata cara pelaporan pengunaan dana DOK diatur dalam
Panduan Teknis Penggunaan Dana DOK Program Inovasi Desa.
TA PID bertanggungjawab dalam mensukseskan pelaksanaan inovasi dalam
pelaksanaan UU Desa, memberikan pertimbangan analitis dan juga menyusun materi
pengembangan kapasitas masyarakat desa sebagai fungsi pengendalian yang akan
menjadi masukan dalam pengambilan kebijakan Satker Ditjen PPMD. Oleh karena itu,
pelaporan TA PID berkewajiban memberikan rekomendasi sebagai masukan kebijakan
dan program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa. Satker Ditjen PPMD
melalui Direktorat PMD akan mengkoordinasikan atau memberikan instruksi pada unit-
unit kerja lainnya seperti Sekretariat Program PMD, TA P3MD, Satker Provinsi, TA PID
dan TAPP, maupun pemerintah daerah kabupaten/kota, serta Tenaga Ahli di
kabupaten/kota, Pendamping Desa di kecamatan dan Pendamping Lokal Desa.
Pelaksanaan pengembangan kapasitas masyarakat desa sebagai upaya
memperkuat pelaksanaan UU Desa harus dimonitor secara terus-menerus. Karenanya,
laporan menjadi bagian penting dari supervisi terhadap kinerja pendampingan. TA PID

288| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

bertugas mengumpulkan data dan informasi tentang perkembangan pengembangan


kapasitas desa utamanya pendampingan yang dilakukan secara periodic.

F. Jenis Pelaporan
Salah satu kewajiban Pendamping Profesional yang sudah dikontrak oleh Satker P3MD
Provinsi adalah membuat Laporan. Pengabaian terhadap laporan dapat dikenakan
sanksi penundaan pembayaran honorarium dan biaya operasional, sampai pada
pemutusan hubungan kerja (PHK). Dalam pelaksanaan pendampingan Program Inovasi
Desa (PID) yang dilakukan oleh Pendamping Profesional dalam hal ini Tenaga Ahli
Kabupaten/Kota, maupun yang dilakukan oleh Konsultan Provinsi dan Konsultan
Nasional, terdapat beberapa jenis laporan yang perlu dibuat, yaitu:

1. Laporan Bulanan Individual,


Pendamping profesional dalam hal ini TA-PID dalam melaksanakan tugas
pendampingannya terikat kontrak individual dengan Satker Provinsi maupun PPA, maka
sebagai pertanggungjawaban administrasi harus membuat laporan bulanan individual
yang memuat beberapa hal sebagai berikut :
(1) Surat Pengantar Laporan
(2) Laporan dan bukti kunjungan lapangan
(3) Lembar Waktu Kerja
(4) Realisasi dan rencana kerja bulan yang akan datang
(5) Bukti-bukti/dokumen lainnya yang diperlukan

2. Laporan Bulanan Kegiatan Pendampingan


Laporan ini merupakan laporan gabungan atau rekapitulasi kegiatan yang dilaksanakan
setiap bulan. Laporan ini memuat kegiatan-kegiatan inovasi dan pengelolaan
pengetahuan, kegiatan pelatihan, kegiatan pendampingan, supervisi, legislasi, dan
sebagainya yang dapat menggambarkan progress kegiatan PID secara utuh beserta
capaiannya dalam waktu sampai dengan bulan berjalan. Laporan bulanan kegiatan
pendampingan maksimal dibuat dalam 7 halaman dan memuat beberapa hal sebagai
berikut:

(1) Surat Pengantar Laporan


(2) Narasi laporan yang singkat padat dan akurat dengan sistematika sbb:
i. Pendahuluan
ii. Kegiatan pendampingan PID bulan berjalan
iii. Rencana kegiatan pendampingan PID bulan yang akan datang

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 289


PROGRAM INOVASI DESA

iv. Analisa laporan tentang data kegiatan (khusus untuk laporan provinsi).
v. Kendala dan Masalah
vi. Rekomendasi
vii. Penutup
(3) Lampiran
i. Data laporan kemajuan pelaksanaan PID yang terdiri dari progress kegiatan
PPID dan P2KTD (menggunakan form 7 terlampir).
ii. Data laporan data pelaksanaan kegiatan yang berisi data terkait dengan
indikator Program Inovasi Desa (menggunakan form 8 terlampir).
Laporan kegiatan bulanan pendampingan bagi TA Kabupaten, TA Provinsi, dan TA
Pusat, disamping melaporkan kegiatan yang dilakukan secara mandiri, juga harus
merekap kegiatan yang dilakukan oleh pendamping level di bawahnya. Khusus untuk
laporan provinsi, penulisan laporan diserta dengan analisis data dan kemajuan kegiatan.

3. Laporan Insidental
Laporan yang dibuat atas dasar peristiwa tertentu seperti adanya penyelewengan, force
majoure atau peristiwa yang diluar rencana dan tidak diprediksi sebelumnya, format
laporan ini disesusikan dengan peristiwa yang terjadi.

G. Jenjang Pelaporan
Pelaporan yang dibuat oleh pelaku pendampingan dalam Program Inovasi Desa (PID),
dilakukan secara berjenjang dengan tujuan utama adalah Pihak Pertama sebagai pihak
yang memberi kerja. Selain itu juga ditujukan kepada jajaran birokrasi pada tingkatan
kewenangan masing-masing dengan tembusan kepada supervisornya. Jenjang
Pelaporan untuk tenaga pendamping Program Inovasi Desa (PID) dapat digambarkan
dalam bagan sebagai berikut:

290| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Mekanisme Pelaporan Program Inovasi Desa (PID)

H. Waktu Pelaporan
Pelaporan pendamping profesional yang dilakukan oleh Tenaga Ahli baik ditingkat
Kabupaten/Kota maupun Pusat diatur waktunya sebagai berikut:
1. Tenaga Ahli PID Kabupaten/Kota melaporkan kegiatan Program Inovasi Desa (PID)
dan laporan individualnya paling lambat tanggal 5 setiap bulannya
2. Tenaga Ahli PID Provinsi melaporkan kegiatan pendampingan dan laporan
individualnya paling lambat tanggal 10 tiap bulannnya
3. Tenaga Ahli PID Pusat menyampaikan laporan kegitan pendampingan dan laporan
individualnya paling lambat tanggal 15 setiap bulannya
4. Team Leader Nasional menyampaikan laporan individualnya paling lambat tanggal
15 setiap bulannya dan laporan kegiatan pendampingan paling lambat tanggal 20
setiap bulannya.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 291


PROGRAM INOVASI DESA

Lampiran 1: Surat Pengantar

Kop
BPMD Provinsi
____________________________________________________________________________________

Nomor : ………………..
Lamp : …………………
H a l : Laporan Bulan ……….. 2018

Kepada Yth :
Satker P3MD Dirjen PPMD Provinsi ………………….
di-
…………………………

Dengan Hormat

Bersama ini saya sampaikan Laporan Individual Kegiatan …………..(TA-


PID/PD/PLD) untuk priode Bulan ………… 2018, agar bisa dijadikan rujukan
bagi yang berkepentingan.

Demikian laporan ini kami sampaikan, atas kerjasamanya kami sampaikan


terima kasih.

…………, …………….. 2018

Hormat Saya

…………………….
TA-PID/PD/PLD

Tembusan disampaikan :
1. TA-PIP Provinsi ………….. (utk TA-PID)
2. Satker Kabupaten/Kota ……………….. (utk TA-PID)
3. TA-PID Kabupaten/Kota ……. (utk PD)
4. Camat ……….. ( utk PD/PLD)
5. PD/Camat ( utk PLD )
6. Kepala Desa ( utk PLD)

292| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lampiran 2: Laporan Bulanan

DAFTAR ISI
LAPORAN INDIVIDU

COVER …………………………………………………………………………….……………… 0
DAFTAR ISI ......................................................................................................................... i

BAB 1 PENDAHULUAN ………......................................................................................................... 1-1


BAB 2 PELAKSANAAN KEGIATAN INDIVIDUAL ………….…………......................................... 2-1
2.1 Kegiatan Tugas Pokok dan Fungsi ………………………....................................... 2-1
2.2 Kegiatan Inovasi Desa ………………………………….…………………………………… 2-2
2.2 Kegiatan Tugas Tugas Lainnya .............................................................................. 2-3
BAB 3 RENCANA KEGIATAN BULAN BERIKUTNYA …………................................................. 3-1
BAB 4 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ......................................................................... 4-1
4.1. Kesimpulan ……....................................................................................................... 4-1
4.2. RekomendasiTindak Lanjut ……........................................................................ 4-1

LAMPIRAN-LAMPIRAN:
Lampiran-1 : Realisasi Kegiatan Individu
Lampiran-2 : Rencana kegiatan bulan berikutnya
Lampiran-3 : Laporan Kunjungan lapangan (bagi TA /PD)
Lampiran-4 : Foto kegiatan individu
Lampiran-5 : Bimbingan yang dilakukan oleh TA /PD/PLD

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 293


PROGRAM INOVASI DESA

Lampiran 3: Rencana Kegiatan/Kunjungan Lapangan

BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA


PROVINSI ……………………..
PROGRAM PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA
(P3MD)

RENCANA KEGIATAN/KUNJUNGAN LAPANGAN

Nama : ………………….
Jabatan : ………………….
Lokasi Tugas : ………………….
Bulan : ………………….

Hasil yang akan


No Tangal Lokasi Kegiatan Keterangan
dicapai

…………….., ………… 2018


Disetujui oleh : Diverifikasi oleh : Disusun Oleh :

…………………. *) ……………….….. ……………………….


Nip : …………… supervisor TA/PD/PLD

294| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lampiran 4: Realisasi Kegiatan/Kunjungan Lapangan

REALISASI KEGIATAN/KUNJUNGAN LAPANGAN

Nama : ………………….
Jabatan : ………………….
Lokasi Tugas : ………………….
Bulan : ………………….

Hasil yang
No Tangal Lokasi Kegiatan Keterangan
dicapai

…………….., ………… 2018


Disetujui oleh : Diverifikasi oleh : Disusun Oleh :

…………………. *) ……………….….. ……………………….


Nip : …………… supervisor TA/PD/PLD

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 295


PROGRAM INOVASI DESA

Lampiran 5: Form Kunjungan Lapangan

BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA


PROVINSI ……………………..
PROGRAM PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA
(P3MD)

KUNJUNGAN LAPANGAN
Nama : ………………….
Jabatan : ………………….
Lokasi Tugas : ………………….
Bulan : ………………….
Lokasi Tanda Tangan Yang
No Tangal Kegiatan
Desa/Kec dikunjungi

…………….., ………… 2017

Disetujui oleh : Diverifikasi oleh : Disusun Oleh :

…………………. *) ………………………….. ……..............


Nip: …………… supervisor TA /PD/PLD

296| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lampiran 6: Lembar Waktu kerja

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 297


PROGRAM INOVASI DESA

Lampiran 7: Laporan Kemajuan Pelaksanaan Kegiatan

LAPORAN KEMAJUAN PELAKSANAAN KEGIATAN


PROGRAM INOVASI DESA

Bulan : ………………………

Desa/Kecamatan/ Kabupaten/Provinsi *)

Tahapan Proses kegiatan PID Tanggal Pelaksanaan


Pengelolaan Pengetahuan & Inovasi Desa Mulai Pelaksanaan
1. Sosialisasi
2. Pembentukan TIK – PID (Pokja PPID)
3. Orientasi Tim Inovasi Kabupaten -PID
4. Bursa Inovasi Kabupaten
5. Pembentukan Tim Pelaksana Kecamatan
6. Fasilitasi Inovasi Desa (Forum Musdes
7. Identifikasi
Inovasi) Inovasi Desa
8. Verifikasi & Dokumentasi Inovasi
9. Sharing Inovasi
10. Replikasi Inovasi
Penguatan Kapasitas P2KTD
1. Sosialisasi
2. Pembentukan TIK-PID (Pokja P2KTD)
3. Identifikasi Awal P2KTD
4. Verifikasi P2KTD
5. Penyusunan Direktori
6. Publikasi
7. Seleksi Peserta pelatihan P2KTD
8. Pelatihan P2KTD
9. Fasilitasi Forum P2KTD

*) Dipilih sesuai dengan kebutuhan

298| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lampiran 8: Laporan Data Pelaksanaan Kegiatan

LAPORAN DATA PELAKSANAAN KEGIATAN


PROGRAM INOVASI DESA (PID)

BULAN:………………..

Desa/Kecamatan/ Kabupaten/Provinsi *)

Data Kegiatan
Kegiatan Bulan Bulan s/d
lalu ini bulan
ini
1. Jumlah kegiatan Inovasi direplikasi dengan Dana Desa
a. Kegiatan Inovasi bidang Ekonomi
b. Kegiatan Inovasi bidang PSDM
c. Kegiatan Inovasi bidang Infrastruktur Desa
2. Jumlah kegiatan inovasi desa yang selesai dilaksanakan
a. Kegiatan Inovasi bidang Ekonomi
b. Kegiatan Inovasi bidang PSDM
c. Kegiatan Inovasi bidang Infrastruktur Desa
3. Jumlah pemanfaat kegiatan sesuai kebutuhan
a. Laki-laki
b. Perempuan
4. Jumlah perempuan berpartisipasi dalam forum pembahasan inovasi
5. desa
Jumlah desa berpartisipasi dalam forum inovasi kecamatan
6. Jumlah Kabupaten yang kegiatan PPID berfungsi
7. Jumlah desa yang pendataan mengenai kewirausahaan, pelayan
8. dasar
Jumlahdan infrastruktur
Penyedia berfungsi
Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD) yang
9. sudah dilatih
Jumlah desa yang dapat mengakses Jasa Layanan Teknis (P2KTD)
10. Data Masalah dan penanganan
a. Jumlah masalah
b. Jumlah penanganan masalah

*) Dipilih sesuai dengan kebutuhan

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 299


PROGRAM INOVASI DESA

300| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 7.2.1

Memilih Metode dan Teknik Fasilitasi Pelatihan

A. Pendahuluan

Andrew F.Sikula dalam Mangkunegara, (2000:43) mendefinisikan pelatihan sebagai


berikut: “Training is a short term educational process utilizing systematic and organized
procedure by which non managerial personel learn tecnical knoeledge ang skill for a
definite pyrpose”. Pelatihan adalah sesuatu proses perubahan perilaku jangka pendek
dengan menggunakan prosedur yang sistematis dan terorganisir, sehingga karyawan
operasional belajar pengetahuan teknik pengerjaan dan keahlian untuk tujuan tertentu.
Mathis (2002:5), yang memberikan definisi mengenai “Pelatihan adalah suatu
proses dimana orang-orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu mencapai
tujuan organisasi oleh karena itu, proses ini terikat dengan berbagai tujuan organisasi,
pelatihan dapat dipandang secara sempit ataupun luas”.
Ambar Teguh Sulistiani dan Rosidah (2003:175), yang memberikan definisi
mengenai pelatihan adalah proses pendidikan jangka pendek dengan menggunakan
prosedur sistematik pengubahan perilaku para pegawai dalam satu arah guna
meningkatkan tujuan organisasional.
Gomes (2003:197) mengemukakan pelatihan adalah setiap usaha untuk
memperbaiki performansi pekerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi
tanggungjawabnya. Menurutnya istilah pelatihan sering disamakan dengan istilah
pengembangan, perbedaannya kalau pelatihan langsung terkait dengan performansi
kerja pada pekerjaan yang sekarang, sedangkan pengembangan tidaklah harus,
pengembangan mempunyai skcope yang lebih luas dandingkan dengan pelatihan.

B. Pengertian Metode

Metode atau metoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu Metha dan hodos. Metha berarti
melalui atau melewati dan hodos berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara
yang harus di lalui untuk mencapai tujuan tertentu. Metode adalah cara yang digunakan
untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar
tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Ini berarti, metode digunakan untuk
merealisasikan strategi yang telah ditetap-kan. Dengan demikian, metode pelatihan
merupakan cara atau teknik bagaimana sebuah program pelatihan yang telah dirancang
dilaksanakan dengan baik.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, metodologi berarti ilmu tentang metode
atau uraian tentang metode. Menurut M. Arifin, Metodologi berasal dari dua kata yaitu
metode dan logi. Adapun metode berasal dari dua kata yaitumeta (melalui)
dan hodos (jalan atau cara), dan logi yang berasal dari bahasa Greek (Yunani)

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 301


PROGRAM INOVASI DESA

yaitu logos (akal atau ilmu), maka metodologi adalah ilmu pengetahuan tentang jalan
atau cara yang harus di lalui untuk mencapai suatu tujuan.
Metode pelatihan berarti ketepatan cara penyampaian yang digunakan selama
pelatihan itu berlangsung. Training yang tidak terlepas dari pengembangan
kemampuan, pengukuran tujuan yang jelas, dan perubahan sikap dapat diterapkan
dengan beberapa pilihan metode sesuai dengan lingkungan pelatihan (Wagonhurst,
2002).
Metode pelatihan yang telah disusun dinilai sudah tepat bagi pengajar untuk
menyampaikan materi training kepada peserta, namun metode tersebut belum tentu
cocok bagi peserta yang mengikuti training. Karena alasan itulah kita harus
mengkonfirmasi kecocokan metode training yang digunakan kepada peserta.
Strategi atau metode adalah komponen yang juga mempunyai fungsi yang sangat
menentukan. Keberhasilan pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh komponen ini.
Bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa dapat diimplementasikan
melalui strategi yang tepat, maka komponen tersebut tidak akan memiliki makna dalam
proses pencapaian tujuan. Oleh karena itu setiap instruktur perlu memahami secara baik
peran dan fungsi metode dan strategi dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

C. Aturan Sederhana

Pengalaman dari para pelatih dan fasilitator telah menunjukkan: peserta tidak akan tidur,
jika mengaplikasikan sebuah aturan emas yang sederhana dari pendekatan partisipatif,
yaitu: Aturan 10:60:30. Dalam aturan ini, 60% dari waktu harus dialokasikan untuk
orientasi praktek dalam kelompok kerja, 30% untuk diskusi dan kesimpulan dalam pleno
dan hanya 10% untuk masukan teoritis.
Melaksanakan pelatihan yang baik dengan cara mengkombinasikan pesan pelatih
(“masukan”, ”topik”) dengan pengetahuan dan pengalaman peserta. Misalnya, jika
pelatih akan menyampaikan “siklus anggaran”, maka pada sesi pagi dapat dilakukan
dengan menyiapkan sejumlah pertanyaan penuh makna untuk peserta dan
mengundang peserta untuk membentuk kelompok kecil untuk menarik solusi dan
jawaban terkait masalah penganggaran dalam konteks pekerjaannya. Meminta
kelompok untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya dan pelatih akan melihat
kelompok kecil itu maju ke depan dengan jawaban dan solusi cerdas.

1. PENGATURAN DIRI SENDIRI (sebagai ganti permintaan disiplin)


2. PARTISIPASI DAN KERJA SAMA (sebagai ganti sekedar menikmati hasil)
3. ORIENTASI MASALAH (sebagai ganti solusi standar)
4. VISUALISASI BERGERAK (sebagai ganti PowerPoint dan visualisasi statis)
5. FASILITASI (sebagai ganti peng ajaran atasbawah)
6. EVALUASI BERKELANJUTAN (sebagai ganti dari kebiasaaan yang dilakukan secara
otomatis, tanpa refleksi terlebih dulu)

302| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Dalam memastikan peserta menggunakan kartu meta plan berwarna atau kertas
plano, pelatih harus memperkenalkan aturan menulis sejak awal kegiatan. Aturan itu
sederhana – tetapi bila tidak diikuti, akan menggagalkan tercapainya tujuan
pembelajaran dan penggunaan metode visualisasi itu sendiri.
1. Tulislah dengan cukup besar (kira-kira tiga baris kalimat perkartu) Sebuah
keuntungan visualisasi bergerak agar semua peserta dapat terhubung pada topik
yang divisualisasikan. Jangan menggunakan bolpen kecil dan mengisi 10 baris
dalam kartu, tidak ada yang dapat membacanya dari jauh;
2. Gunakan sisi lebar dari spidol agar dapat menggambar garis–garis berbeda
ukuran. Tulis sejelas mungkin hingga yang lain dapat membaca ide dan kontribusi
penting peserta;
3. Gunakan HURUF KAPITAL dan huruf kecil Menggunakan HURUF KAPITAL
seluruhnya kurang efisien untuk penglihatan;
4. Hanya satu gagasan perkartu saat pelatih mengetahui bahwa ada peserta yang
telah menulis dua gagasan dalam satu kartu, berikan saja mereka dua kartu kosong
baru dan mintalah untuk menulis pada dua kartu berbeda; kemudian apabila
hasilnya dikelompokkan, penting agar kedua kartu itu ada.
5. Jangan menulis sebuah istilah, abstrak saja Jika hanya ada satu kata dalam sebuah
kartu (contohnya “gender”, “uang”) maka kata itu se ringkali tidak jelas apa
maksudnya. Doronglah penulis kartu itu untuk menulis sebuah pernyataan
bermakna dalam tiga baris (“diperlukan uang lebih banyak untuk Lembaga
Swadaya Masyarakat” atau “wanita harus mendapatkan akses pada informasi”

D. Menjadi Pelatih atau Fasilitator

Berikut diuraikan beberapa aturan penting menjadi pelatih atau fasilitator dalam
mengelola pembelajaran agar lebih efektif dan partisipati:
1. Mobilisasikan energi kreatif dan pengetahuan peserta; bukalah ruang untuk
berinterkasi dengan seluruh peserta dalam suasana santai, informal dan tak resmi;
2. Hubungkan masalah yang muncul selama kegiatan pada situasi kerja peserta
pernyataan masalah;
3. Terapkan aturan 60:30:10 pada model belajar: 60% latihan berorientasi praktek
dalam kelompok kerja, 3 0 % diskusi kesimpulan dalam pleno, 1 0 % masukan
teoritis dari pelatih;
4. Ingat aturan 20/20: minimal 20 menit untuk mempresentasikan hasil kerja
kelompok yang paling pokok dalam pleno.
5. Motivasi peserta melalui pertanyaan penggugah yang mendorong keingintahuan
peserta dan eksplorasi pengelaman peserta;

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 303


PROGRAM INOVASI DESA

6. Dengarkan sebelum pelatih berbicara, untuk menangkap sepenuhnya latar


belakang sosiokultural dan profesional, situasi kerja serta masalah peserta yang
dihadapi;
7. Fasilitasi pertukaran informasi dan solusi konflik melalui dialog, tetap jangan
mencampuri secara langsung;
8. Ajukan usulan dan petunjuk kepada peserta jangan memaksakan pandangan
pelatih kepada peserta;
9. Lemparkan pertanyaan terkait dengan topik dan metodologi kepada pleno atau
nara sumber, jangan menjawab sendiri;
10. Jangan pertahankan prosedur sebagai pelatih, tetapi kritislah pada diri sendiri
untuk mempertahankan penggunaan moderasi dalam mengevaluasi fungsi
pelatih;
11. Rumuskan pertanyaan kerja kelompok secara hati-hati dan tepat, jika
dimungkinkan praujikan pertanyaan itu kepada anggota tim pelatih lain;
12. Selalu visualisasikan pertanyaan untuk kerja kelompok pada pa pan atau kertas
peraga, jelaskan kepada peserta dengan hati-hati dan tanyakan apakah penjelasan
lebih lanjut diperlukan;
13. Jangan mengganti pertanyaan atau mengganti tindakan yang telah ditentukan
atau disepakati sebelumnya tanpa berkonsultasi dengan pe serta dan meminta
persetujuan mereka;
14. Selalu alokasikan panduan waktu yang tepat dan mencukupi untuk kerja ke
lompok atau tugas lainnya; cobalah untuk tidak menyalahgunakan waktu istira hat
untuk bekerja: peserta perlu beristirahat untuk regenerasi dan penyegaran pikiran.
15. Pastinya di setiap pagi, berikanlah “benang merah” dari proses belajar:
visualisasikan program dan langkah terakhir dalam proses belajar hari sebelumnya
dan berikan juga tinjauan ke depan tentang program berikutnya di hari itu;
16. Selalu bacakan kartu dengan lantang sebelum menancapkannya pada pin board
dan mintalah peserta untuk melakukannya juga;
17. Jangan pernah membuang kartu yang ditulis oleh peserta. Hargailah gagasan
peserta. Apabila gagasannya sama disebutkan berkali-kali, pelatih dapat
mengelompokkan atau meletakkan satu kartu diatas yang lain apabila ruang
terbatas;
18. Dokumentasikan hasil kerja kelompok atau pleno yang dihasilkan selama kegiatan;
gunakan kode angka pada bagian sudut kanan bawah gambar, lembar kerja atau
poster.

E. Beberapa Metode Pelatihan

Berdasarkan pandangan beberapa ahli, beberapa metode yang dapat digunakan dalam
pelaksanaan pelatihan, sebagai berikut:

304| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

1. Metode On the Job Training

Metode ini merupakan pelatihan yang diberikan oleh atasan langsung pegawai atau
oleh pelatih khusus sambil melaksanakan pekerjaannya. Pegawai mempelajari
pekerjaanya dengan mengamati pegawai lain yang sedang bekerja dan kemudian
mengobservasi perilakunya. Aspek-aspek lain dari on the job training adalah lebih formal
dalam format pegawai senior memberikan contoh cara mengerjakan pekerjaan dan
pegawai baru memperhatikannya.
Fungsi metode on the job training antara lain supervisor mampu menarik simpati
pegawai peserta pelatihan. Oleh karena itu, supervisor harus terlatih dan
memadai. Metode ini sangat tepat untuk mengerjakan skill yang dapat
dipelajari dalam beberapa hari atau beberapa minggu. Hanya saja peserta pelatihan
dalam metode on the job training harus dilakukan pada waktu yang sama dan untuk
pekerjaan yang sama pula. On the job training sangat tepat pula digunakan untuk
pelatihan semi skill, seperti pekerjakan klerek, sales atau pramuniaga. Manfaat dari
metode on the job training adalah peserta belajar dengan perlengkapan yang nyata dan
dalam lingkungan pekerjaan yang jelas.

2. Metode Vestibule atau Balai

Suatu vestibule adalah suatu ruangan isolasi atau terpisah yang digunakan untuk tempat
pelatihan bagi pegawai baru yang akan menduduki suatu pekerjaan. Metode vestibule
merupakan metode pelatihan yang sangat cocok untuk banyak peserta (pegawai baru)
yang dilatih dengan jenis pekerjaan yang sama dalam waktu yang sama. Pelaksanaan
metode vestibule biasanya dilakukan dalam waktu beberapa hari sampai beberapa bulan
dengan pengawasan instruktur, misalnya pelatihan pekerjaan pengetikan klerek,
operator mesin.

3. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi merupakan metode pelatihan yang sangat efektif karena lebih
mudah menunjukkan kepada peserta cara mengerjakan suatu tugas. Suatu demonstrasi
menunjukkan dan merencanakan bagaimana suatu pekerjaan atau bagaimana sesuatu
itu dikerjakan. Metode demonstrasi melibatkan penguraian dan memeragakan sesuatu
melalui contoh-contoh. Metode ini sangat mudah bagi manajer dalam mengajarkan
pegawai baru mengenai aktivitas nyata melalui suatu tahap perencanaan dari
”bagaimana dan apa sebabnya” pegawai mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan.

4. Metode Simulasi

Simulasi merupakan suatu situasi atau peristiwa menciptakan bentuk realitas atau imitasi
dari realitas. Simulasi itu merupakan pelengkap sebagai teknik duplikat yang
mendekati kondisi nyata pada pekerjaan. Metode simulasi yang populer adalah

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 305


PROGRAM INOVASI DESA

permainan bisnis (bussiness games). Metode simulasi ini merupakan metode pelatihan
yang sangat mahal, tetapi sangat bermanfaat dan diperlukan dalam pelatihan.

5. Metode Apprenticeship

Metode appenticeship adalah suatu cara menegmbangkan keterampilan (skill) pengrajin


atau pertukangan. Metode ini didasarkan pula pada on the job training dengan
memberikan petunjuk-petunjuk cara pengerjaannya. Metode apprenticeship tidak
mempunyai standar format. Pegawai peserta mendapatkan bimbingan umum dan dapat
langsung mengerjakan pekerjaannya.

6. Metode Ruang Kelas

Metode ruang kelas merupakan metode pelatihan yang dilakukan di dalam kelas
walaupun dapat dilakukan di area pekerjaan. Aspek-aspek tertentu dari semua pekerjaan
lebih mudah dipelajari dalam ruang kelas daripada on the job. Teristimewa hal tersebut
benar jika falsafah, konsep-konsep, sikap, teori-teori, dan kemampuan memecahkan
masalah harus dipelajari. Metode ruang kelas adalah kuliah, konferensi, studi kasus,
bermain peran, dan pengajaran berprogram (programmed instruction).

Metode kuliah
Kuliah merupakan suatu ceramah yang disampaikan secara lisan untuk tujuan pelatihan.
Perkuliahan telah menjadi tradisi yang digunakan sebagai metode pengajaran ruang
kelas di akademi dan universitas. Keuntungan metode kuliah dapat digunakan untuk
kelompok besar, sehingga biaya peserta menjadi rendah dan dapat menyajikan banyak
bahan pengetahuan dalam waktu yang relatif singkat, sedangkan kelemahannya,
peserta lebih bersikap pasif, komunikasi hanya satu arah, sehingga tidak terjadi umpan
balik dari peserta. Kuliah cenderung untuk menekankan ingatan fakta-fakta dan gambar-
gambar saja. Dengan demikian, kuliah kurang menekankan pengaplikasian
pengetahuan. Oleh karena itu metode kuliah harus dikombinasikan dengan metode
lainnya seperti diskusi dan tanya jawab.

Metode konferensi
Konferensi merupakan suatu pertemuan formal tempat terjadinya diskusi atau konsultasi
tentang sesuatu yang penting. Konferensi menekankan adanya diskusi kelompok kecil,
materi pelajaran yang terorganisasi dan melibatkan peserta aktif. Pada metode
konferensi, belajar didasarkan melalui partisipasi lisan dan interaksi antar peserta atau
anggota peserta. Peserta dianjurkan untuk memberikan gagasan untuk didiskusikan,
dievaluasi dan mungkin pula dapat diubah oleh pendapat atau pandangan-pandangan
dari peserta lainnya. Pada konferensi, jumlah peserta sekitar 15 sampai 20 orang. Metode
ini sangat berguna untuk pengembangan pengertian-pengertian dan pembentukan

306| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

sikap-sikap baru. Adapun kelemahannya metode ini adalah terbatasnya peserta pada
kelompok kecil, sehingga biaya relatif menjadi lebih besar.

Brainstorming (curah gagasan)


Menghasilkan banyak gagasan dengan mengutarakan pendapat. Kreatif. Setiap jawaban
boleh saja. Tidak ada seleksi pada babak pertama. Sangat baik untuk melibatkan setiap
orang dan juga merangsang beberapa jawaban yang tidak biasa. Pelatih dapat menulis
daftar gagasan yang diutarakan flipchart.

Studi Kasus
Studi kasus adalah uraian tertulis atau lisan tentang masalah yang ada atau keadaan
selama waktu tertentu yang nyata maupun secara hipotesis. Pada metode studi kasus,
peserta diminta untuk mengidentifikasi masalah-masalah dan merekomendasi
pemecahan masalah. Metode ini menghendaki belajar melalui perbuatan, dengan
maksud meningkatkan pemikiran analisis dan kemampuan memecahkan masalah.
Metode studi kasus ini berfungsi pula sebagai pengintegrasian pengetahuan yang
diperoleh dari sejumlah landasan disiplin.

Bermain Peran
Peran merupakan suatu bentuk perilaku yang diharapkan. Peserta diberitahukan
mengenai suatu kesan dan peran yang harus mereka mainkan. Selama bermain peran,
dua orang atau lebih peserta diberikan bagian-bagian untuk bermain sebelum
kelompok beristirahat. Bagian-bagian itu dikarakteristikan, tetapi tidak melibatkan
memori atau ingatan. Peran peserta adalah menjelaskan situasi dan masing-masing
peran mereka yang harus mereka perankan dalam konteks hipotesis tersebut. Sesudah
beberapa waktu untuk perencanaan pendahuluan, situsi itu kemudian diperankan oleh
peserta-peserta. Bermain peran terutama digunakan untuk memberi kesempatan
kepada peserta untuk mempelajari keterampilan berhubungan antara manusia melalui
praktik, mengembangkan pemahaman mengenai pengaruh perilaku mereka pada
peserta lainnya. Manfaat metode bermain peran adalah pertama, belajar melalui
perbuatan. kedua, Menekankan sensivitas manusia dan interaksinya. Ketiga, hasil
pengetahuan segera diperoleh dan keempat, menimbulkan minta dan terlibatan tinggi.

Bimbingan Berencana (Programmed Instruction)


Metode bimbingan berencana terdiri dari serangkaian langkah yang berfungsi sebagai
pedoman dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau sekelompok pelaksana pekerjaan.
Metode bimbingan berencana meliputi langkah-langkah yang telah diatur terlebih
dahulu mengenai prosedur yang berhubungan dengan penguasaan keterampilan
khusus atau pengetahuan umum. Bimbingan berencana dapat dilakukan dengan

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 307


PROGRAM INOVASI DESA

menggunakan buku, pedoman (manual), dan mesin petunjuk pengajaran (teaching


machine).
Manfaat metode bimbingan berencana yaitu: Pertama, peserta belajar dengan
cara mereka sendiri. Kedua, materi yang dipelajari dibagi-bagi ke dalam satuan-satuan
kecil, sehingga mudah dapat diserap dan diingat oleh peserta. Ketiga, adanya umpan
balik langsung. Keempat, adanya partisipasi peserta secara aktif. Kelima, perbedaan
antara peserta dapat diperhatikan, dan keenam, pelatihan dapat diselenggarakan kapan
saja dan dimana saja.
Adapun kelemahan metode bimbingan berencana antara lain: pertama,
kedudukan pengajaran bersifat impersonal. Kedua, fakta kemajuan, belajar tidak terjadi
sampai informasi pendahuluan dipelajari. Ketiga, hanya materi pelajaran yang nyata
yang dapat diprogramkan. Keempat, falsafah dan konsep sikap yang berhubungan
dengan keterampilan motorik tidak dapat diajarkan melalui metode bimbingan
berencana. Kelima, biaya yang diperlukan sangat besar.

Daftar Pustaka
Loch Alexander (2010) Metode untuk Pelatih, Pengajar, dan Fasilitator. Manokwari:
InWEnt-Internationale Weiterbildung und Entwicklung Gmbh Capacity Building
International.
Tim LGSP (2009) Seri Teknologi Pelatihan: Fasilitasi yang Efektif-Buku Pegangan
Fasilitator. Jakarta: Local Government Support Program Training and Participation.
Tim LGSP (2009) Seri Teknologi Pelatihan: Pelatihan Fasilitasi yang Efektif-Buku Pegangan
Pelatih. Jakarta: Local Government Support Program Training and Participation.
Tim LGSP (2006) Seri Teknologi Pelatihan: Permainan Kreatif untuk Kegiatan Pelatihan
Partisipatif-Buku Referensi Fasilitator. Jakarta: Local Government Support Program
Training and Participation.
http://reviseptiana.blogspot.co.id/2010/03/metode-pelatihan.html

308| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Lembar Informasi 7.3.1

Pengembangan Media Tayang Power Point

A. Pengertian Media
Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari “medium” yang
secara harfiah berarti perantara atau penyalur. Artinya “media merupakan wahana
penyalur pesan atau informasi”. Secara harfiah kata media memiliki arti “perantara” atau
“pengantar”. Gagne menndefinisikan media adalah “berbagai jenis komponen dalam
lingkungan peserta didik untuk belajar”. Association for Education and Communication
Technology (AECT) mendefinisikan media yaitu “segala bentuk yang dipergunakan untuk
suatu proses penyaluran informasi”. Media hendaknya dapat dilihat, dimanipulasi,
didengar ataupun dibaca.
Media dalam arti luas yaitu setiap orang, materi, atau peristiwa yang memberikan
kesempatan kepada pembelajar untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan
sikap. Sedangkan secara khusus, media merupakan sarana nonoperasional (bukan
manusia) yang digunakan oleh pendidik, pelatih, fasilitator atau nara sumber yang
memegang peran dalam proses pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan. Dengan
demikian, media merupakan sarana atau alat untuk mentransformasikan pengetahuan
dan pengalaman kepada pemanfaat sehingga tujuan dapat tercapai.
Pada dasarnya media untuk kepentingan pembelajaran digunakan oleh pendidik,
pelatih, fasilitator atau nara sumber dengan tujuan:
1. Memperjelas informasi atau pesan pengajaran
2. Memberi tekanan pada bagian-bagian yang penting
3. Memberi variasi pengajaran
4. Memperjelas struktur pengajaran
5. Memotivasi proses belajar peserta.

B. Manfaat Media
Manfaat media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pelatihan sebagai berikut:
1. Pelatih lebih menarik perhatian peserta, sehingga dapat menumbuhkan motivasi
belajar;
2. Materi pelatihan akan lebih jelas, sehingga mudah dipahami, serta
memungkinkan menguasai tujuan yang diharapkan;
3. Metode pelatihan akan bervariasi, tidak hanya dalam bentuk komunikasi verbal
melalui kata-kata lisan, tidak membosankan, dan pelatih tidak kehabisan tenaga.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 309


PROGRAM INOVASI DESA

4. Peserta lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya


mendengarkan penjelasan materi saja, tetapi juga aktivitas lain yang dilakukan
seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lainya.
Manfaat media bagi pelatih, yaitu:
1. Memberikan arah dan pedoman untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan;
2. Menjelaskan struktur dan urutan pembelajaran dengan baik;
3. Memberikan kerangka sistematis secara baik;
4. Memudahkan pelatih dalam menyampaikan materi pembelajaran;
5. Membantu kecermatan, ketelitian dalam penyajian materi pembelajaran.
6. Membangkitkan rasa percaya diri pelatih.
7. Meningkatkan kualitas pembelajaran.
Manfaat media pembelajaran bagi peserta atau pembelajar, yaitu:
1. Meningkatkan motivasi belajar peserta;
2. Memberikan dan meningkatkan variasi pembelajaran;
3. Memberikan struktur materi yang disampaikan;
4. Memberikan inti dari materi yang disampaikan;
5. Merangsang peserta untuk belajar, berpikir logis dan kritis;
6. Menciptakan kondisi dan situasi belajar tanpa tekanan.
7. Peserta dapat memahami materi secara sistematis.

C. Prinsip-Prinisp Penggunaan Media


Dalam proses pelatihan seorang pelatih atau fasilitator tidak cukup hanya mengetahui
kegunaan media pembelajaran, melainkan harus mengetahui dan terampil bagaimana
cara menggunakannya. Ada beberapa prinsip atau kriteria yang dapat dijadikan acuan
dalam penggunaan media dalam pelatihan, yaitu:
1. Ketepatan dengan tujuan pembelajaran, artinya media yang dipilih didasarkan atas
tujuan instruksional yang telah ditetapkan;
2. Dukungan terhadap isi bahan pembelajaran, artinya media yang digunakan harus
sesuai dengan sifat materi berupa fakta, prinsip dan konsep agar mudah dipahami
peserta latih;
3. Kemudahan memperoleh media, artinya media yang digunakan mudah diperoleh
dan tersedia di tempat pelatihan;
4. Keterampilan pelatih dalam menggunakan media, artinya apapun jenis media yang
digunakan pelatih harus mampu mengopersikannya dalam proses pembelajaran.

310| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

5. Tersedianya waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut dapat


bermanfaat bagi peserta pada saat pembelajaran berlangsung;
6. Media disesuaikan dengan latar belakang, pengalaman, dan cara berfikir peserta,
sehingga materi yang disajikan mudah dipahami peserta.

D. Model Pengembangan Media


Berdasarkan ketersediaannya media dapat dikelompokkan menjadi Media Jadi (Media
By Utilization) dan Media Rancangan (Media By Design) alasan utama seseorang
menggunakan media adalah media dapat berbuat lebih dari biasa yang dilakukan.
Pemilihan media dilakukan agar penggunaan media dapat mencapai tujuan
pembelajaran, maka haruslah dipilih media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
Diperlukan berbagai cara untuk menghasilkan media pembelajaran yang sesuai
dengan tujuan yang diharapkan. Salah satu upaya yang dilakukan dengan
mengembangkan media melalui pentahapan tertentu. Arief S. Sadiman (2003)
menguraikan delapan tahapan pengembangan media, yaitu:
1. Identifikasi kebutuhan
2. Perumusan tujuan
3. Perumusan butir-butir materi
4. Perumusan alat pengukur keberhasilan
5. Penulisan naskah media
6. Tes/uji coba
7. Revisi
8. Program final.
Model ADDIE merupakan pola yang paling umum digunakan karena prosedur
cukup lengkap dan sederhana, yaitu:
1. Analiysis (Analisis).Tahap analisis terdiri dari beberapa kegiatan. Analisis kurikulum,
yakni pengkajian dan pembahasan tentang kompetensi yang akan terkandung
dalam kurikulum (bedah kurikulum).Selain itu analisis tentang learner
characteristic (karakter peserta), dan analisis tentang setting (dimana media
tersebut dimanfaatkan);
2. Design (perancangan). Tahap perancangan terdiri dari kegiatan penyusunan
kerangka struktur isi program dan penyusunan garis-garis besar isi program media
(GBIPM);
3. Developmen (produksi). Tahap produksi terdiri dari kegiatan pembuatan animasi,
penyusunan teks, dan sebagainya. Dilanjutkan dengan proses pemograman
dengan authoring tools, pengemasan/formatting, pengkajian;

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 311


PROGRAM INOVASI DESA

4. Implementation. Tahap implementasi terdiri dari kegiatan uji coba pemanfaatan


dan penyempurnaan atau revisi serta pengadaan.
5. Evaluation (evaluasi). Tahap evaluasi yaitu kegiatan penilaian.

E. Mengembangkan Media Tayang


Media tayang atau lebih lazim disebut media presentasi merupakan pesan atau materi
yang akan disampaikan kepada audien yang dikemas dalam sebuab program computer
dan disajikan melalui perangkat alat berupa proyektor. Pada umumnya, materi media
tayang disajikan berupa gamnar, teks, animasi dan video yang dapat digabungkan
dalam suatu kesatuan yang utuh. Salah satu program presentasi berbasis komputer yang
banyak digunakan berupa Microshoft Office.
Microsoft Office Power Point adalah salah satu software yang dirancang khusus
untuk mampu menampilkan pesan dalambentuk program multimedia secara menarik,
murah dan mudah dalam pembuatannya cukup dengan menyediakan media
penyimpanan data. Power Point berjalan di atas komputer berbasis Sistem Operasi
Microsoft Windows dan Apple Manchitos yang menggunakan sistem operasi Apple Mac
OS, meskipun pada awalnya aplikasi ini berjalan di atas sistem operasi Xenix. Aplikasi ini
banyak digunakan terutama untuk membantu kegiatan bisnis, pendidikan, dan
pelatihan.
Media Power Point dapat menyimpan materi presentasi dalam beberapa aplikasi
format, sebagai berikut:
(1) PPT (Power Point Presentation), yang merupakan data biner dan tersedia dalam
semua versi Power Point (termasuk PowerPoint 17).
(2) PPS (Power Point Show), yang merupakan data biner dan tersedia dalam semua
versi PowerPoint (termasuk PowerPoint 17).
(3) POT (Power Point Template), yang merupakan data biner dan tersedia dalam semua
versi Power Point (termasuk PowerPoint 17).
(4) PPTX (Power Point Presentation), yang merupakan data dalam bentuk XML dan
hanya tersedia dalam PowerPoint 17.
Microsoft Office Power Point digunakan untuk presentasi dalam classical learning
dan bersifat personal presentation, karena Microsoft Office Power Point merupakan
program aplikasi yang digunakan untuk kepentingan presentasi. Microsoft Office Power
Point pada pola penyajian digunakan sebagai alat bantu bagi pelatih atau presenter
untuk menyampaikan materi dan kontrol pembelajaran terletak pada pelatih atau
presenter. Dengan demikian, media power point ini merupakan media tayang yang
sangat tepat digunakan dalam proses pembelajaran untuk membangkitkan dan
meningkatkan motivasi belajar peserta.

312| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

1. Membuat Media Tayang dengan Power Point


Presentasi adalah sebuah keterampilan yang perlu dikuasai setiap pekerja profesional
saat ini. Presentasi dengan menggunakan Power point dapat dijadikan sebagai media
pembelajaran yang menarik bagi peserta atau audien. Dengan media presentasi yang
menarik, pelatih atau presenter dapat mengkomunikasikan dengan baik materinya.
Adapun hal yang perlu dilakukan dan diperhatikan untuk membuat media presentasi
dengan Power Point yang efektif, sebagai berikut:
(1) Persiapan
• Tentukan topik materi yang akan dipresentasikan.
• Persempit topik materi menjadi beberapa pemikiran utama. buatlah kerangka
utama materi yang akan dipresentasikan
• Buat story board agar lebih tersusun.
(2) Tahapan dan tips singkat bekerja dengan Power Point
• Bukalah program Power Point di komputer anda
• Mulailah dengan New file.
• Pilih silde design yang diinginkan
• Membuat background tertentu untuk membuat slide agarmenarik, misalnya,
presentasi mufrodat dengan menggunakan Power Point berbentuk game.
• Inputlah judul utama materi presentasi yang akan disampaikan pada slide
pertama.
• Inputlah sub judul materi di slide kedua (bila dipandang perlu cantumkan
kembali judul utamanya.
• Selanjutnya, inputlah point-point pokok materi setiap sub secara berurut pada
slide-slide berikutnya.
• Membuat atau memanfaatkan gambar sederhana dengan menggunakan
fasilitas shapes dan clip art yang telah tersedia pada menu insert.
• Melalui menu insert, anda dapat pula mengimput berbagai macam ilustrasi
(chart, picture, sound, movie). Agar dapat mengimput picture, sound, movie
anda harus lebih dahulu menyiapkan file-nya di dalam komputer yang anda
gunakan.
• Tampilan template/background hendaknya sederhana, kontras dengan objek
(teks, gambar, dll), dan konsisten.
• Jenis huruf (font) yang digunakan hendaknya tidak berkaki (san serif) seperti
Arial, Tahoma, Colibri, Segoe UI dan semacamnya. Hindari menggunakan huruf
berkaki (serif) seperti Times New Roman, Century, Courier, atau jenis huruf
rumit, seperti Forte, Algerian, Freestyle Script, dan semacamnya. Jenis huruf
yang digunakan hendaknya konsisten.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 313


PROGRAM INOVASI DESA

• Hindari menggunakan huruf terlalu kecil. Besar huruf yang disarankan minimal
18 pt (misalnya: 32 pt untuk judul, 28 pt untuk sub judul, 22 pt sub sub judul,
dst).
• Bila menggunakan Bullet hendaknya tidak lebih dari 6 buah dalam satu slide.
• Warna yang digunakan hendaknya serasi dengan tetap memperhatikan asas
kontras. Berikan penonjolan warna pada bagian yang dipentingkan. Hindari
penggunaan lebih dari tiga macam warna.
• Gunakan visualisasi (gambar, animasi, audio, grafik, video, dll) untuk
memperjelaskan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Visualisasi lebih dari
sekedar kata-kata (Jika bisa divisualisasikan mengapa harus dengan kata-kata).
Namun, penggunaan visualisasi yang berlebihan akan menjadi distraktor.
• Hindari menggunakan lebih dari 25 kata dalam satu slide.
• Buatlah power point dengan menggunakan pop up agar lebih menarik.

2. Desain Tampilan Media Tayang Power Poin


Media tayang yang baik harus memenuhi berbagai kriteria diantaranya menarik dan
mampu membantu peserta mencapai tujuan pembelajaranya. Dalam penggunaan
media pembelajaran berbasis multimedia, visualisasi pesan, informasi, atau konsep yang
ingin disampaikan kepada peserta manjadi aspek yang sangat penting diperhatikan
pelatih. Penataan elemen visual harus dapat menampilkan informasi yang dapat
dimengerti, jelas dapat dibaca, dan menarik perhatian, sehingga mampu menyampaikan
pesan yang diinginkan penggunanya. Dalam proses penataan ini harus diperhatikan
prinsip-prinsip desain media tayang, yaitu:
(a) Kesederhanaan. Secara umum kesederhanaan mengacu pada banyaknya elemen
yang terkadung dalam suatu visual. Elemen yang lebih sedikit memudahkan bisa
menagkap dan memahami pesan yang disajikan secara visual. Pesan atau informasi
yang panjang atau rumit harus dibagi-bagi kedalam beberapa bahan visual yang
mudah dibaca dan mudah dipahami. Demikian juga banyaknya teks untuk
mendukung bahan visual harus dibatasi (misalnya antar 15 sampai 20 kata).
(b) Keterpaduan. Keterpaduan mengacu pada hubungan yang terdapat diantara
elemen-elamen visual yang ketika diamati akan menyatu dan berfungsi secara
bersama-sama. Elemen itu harus saling terkait dan menyatu sebagai suatu
keseluruhan, sehingga visualisasi pesan yang ditampilkan tersaji secara utuh, dan
membantu pemahaman pesan serta informasi yang dikandungnya;
(c) Penekanan. Meskipun penyajian visual dirancang secara sederhana, namun tetap
memerlukan penekanan terhadap konsep atau salah satu unsur yang disampaikan
dan menjadi pusat perhatian peserta. Penggunaan ukuran, hubungan, perspektif,
warna atau ruang penekanan dapat diberikan kepada isu-isu pokok atau hal-hal
yang dianggap penting.

314| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(d) Keseimbangan. Bentuk atau pola yang dipilih sebaiknya menempati ruang
penayangan yang memberikan persepsi keseimbangan menskipun tidak
seluruhnya simetris.
Unsur-unsur visual yang selanjutnya perlu dipertimbangkan antaralain:
(a) Bentuk. Bentuk yang aneh dan asing bagi audien dapat membangkitkan minat
dan perhatian. Oleh karna itu, pemilihan bentuk sebagai unsure visual dalam
penyajian pesan, informasi atau isi pelajaran perlu diperhatikan.
(b) Garis. Garis digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur sehingga dapat
menuntun perhatian sisiwa untuk mempelajari suatu urutan-urutan khusus.
(c) Warna. Warna digunakan untuk memberikan kesan pemisahan dan penekanan,
atau untuk membangun keterpaduan. Disamping itu, warna dapat mempertinggi
tingkat realistik (nyata) obyek atau situasi yang digambarkan, menunjukkan
persamaan dan perbedaan dan menciptakan respon emotional tertentu. Beberapa
pertimbangan yang harus diperhatikan ketika menggunakan warna yaitu:
• Banyaknya warna yang dipergunakan untuk penyajian visual masimum 5
corak warna.
• Warna yang terang dan kuat digunakan untuk menarik perhatian.
• Warna panas, seperti merah, oranye dan kuning digunakan untuk mengenali
aksi, seperti kebutuhan untuk memberikan respon.
• Warma kalem (cool colors), seperti hijau, biru, dam violet digunakan untuk
menunjukkan keadaan tetap (status quo) atau latar belakang informasi.
• Perubahan warna (sebagaimana penambahan intesitas warna) digunakan
untuk menunjukkan perubahan progresif dalam nilai atau tahapan sekuen.
Dibawah ini diuraikan pilihan warna kombinasi yang dapat digunakan sebagai
panduan dalam menentukan pola visual terkait komposisi desain background Power
Point.

Tabel 1 Pilihan warna Kombinasi

Best Color Wort colour


No Background
Lines, texs, design areas Lines, texs, design areas
1 Yellow, white black Red Magenta, cyan, blue, green
2 Red, blue, black Orange Yellow, white
3 Red, blue, red Yellow White, chan
4 Black, blue, red Green Cyan, magenta, yellow
5 White, yellow, chan blue green,black
6 Blue, black, red Cyan Green, yellow, white
7 White, yellow Black Blue, red, magenta
8 Blue, black, red White Yellow, cyan
(Sumber: Tommy Suprapto, 2004)

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 315


PROGRAM INOVASI DESA

Keuntungan lain dari program ini tampilan yang sederhana dengan ikon-ikon.
Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft
Word yang sudah dikenal oleh kebanyakan pemakai komputer. Pemakai tidak harus
mempelajari bahasa pemrograman. Presentasi memiliki beberapa tujuan. Tujuan
presentasi akan sangat menentukan bagaimana kita akan melakukan dan mendesain
presentasi. Tujuan presentasi tersebut adalah sebagai berikut:
(a) Menginformasikan: Presentasi berisi informasi yang akan disampaikan
kepadaorang lain. Presentasi semacam ini sebaiknya menyampaikan informasi
secaradetail dan jelas (clear) sehingga orang dapat menerima informasi dengan
baik dan tidak salah presepsi terhadap informasi yang diberikan tersebut.
(b) Meyakinkan: Presentasi berisi informasi, data, dan bukti-bukti yang disusunsecara
logis sehingga menyakinkan orang atas suatu topik tertentu. Kondradiksidan
ketidakjelasan informasi dan penyusunan yang tidak logis akan mengurangi
keyakinan orang atas presentasi yang diberikan.
(c) Menginspirasi: Presentasi yang berusaha untuk membangkitkan inspirasi orang.
(d) Menghibur: Presentasi yang berusahan untuk memberi kesenangan pada orang
melalui informasi yang diberikan.

3. Mengoptimalkan Media Tayang Power Point


Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan bahan pemaparan atau
presentasi menggunakan Microsoft Power Point, diantaranya:
(a) Jangan terlalu banyak tulisan yang ditampilkan
(b) Tulisan jangan terlalu kecil karena harus dilihat oleh banyak peserta atau audien.
(c) Seimbangkan antara gambar dan animasi dengan bahan ajar yang ingin
disampaikan.
(d) Usahakan bentuk presentasi yang interaktif.
Dalam memanfaat Microsoft Power Point sebagai media pelatihan ada beberapa
saran yang dapat dijadikan acuan dalam proses pembelajaran agar lebih menarik dan
memberi kesan professional dan elegan, yaitu:
(a) Pergunakan desain yang konsisten. Hal ini dilakukan dengan menggunakan slide
master, sehingga layout, font, bulleting, dan animasi pergantian slide menjadi
konsisten hingga akhir presentasi.
(b) Batasi jumlah baris dalam setiap slide. Jumlah baris dalam slide yang terlalu banyak
menyebabkan silde tersebut menjadi terlalu penuh, sehingga teks menjadi kecil-
kecil. Akibat yang lebih parah, peserta pelatihan tidak akan dapat mencerna
informasi dalam slide tersebut. Sampaikan poin-poin pokok dalam setiap slide,
kemudian pelatih atau presenter yang harus mengembangkan ketika melakukan
presentasi.

316| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

(c) Pergunakan warna teks dan latar belakang yang kontras sehingga dapat dibaca
dengan baik oleh peserta.
(d) Hindari penggunaan animasi dan sound effect yang berlebihan. Animasi dengan
diiringi sound effect yang berlebihan justru menyebabkan peserta menjadi tidak
dapat berkonsentrasi dengan pelajaran, tapi justru menjadi lebih tertarik dan
terpaku dengan animasi yang dihadirkan atau sounds yang diperdengarkan.
(e) Pertimbangkan untuk membuat tombol-tombol yang langsung menghantarkan
pada slide tertentu, sehingga bisa melompat maju ataupun mundur tanpa harus
melewati silde demi slide (manfaatkan hyperlink).
(f) Satu gambar memberikan puluhan kali lipat informasi, oleh karena itu sedapat
mungkin disajikan secara grafis, misalnya tabel, skema, dan lain-lain.
(g) Jika terlalu sering teks saja yang ditampilkan, berikan gambar-gambar ilustrasi
yang sesuai untuk membumbui presentasi.

F. Kelebihan dan Kelemahan


Penggunaan media tayang Microsoft Power point di dalam proses belajar mengajar
memiliki beberapa kelebihan diantaranya:
(1) Penyajiannya menarik karena ada permainan warna, huruf dan animasi (berupa
teks maupun animasi gambar atau foto).
(2) Lebih merangsang anak untuk mengetahui lebih jauh informasi tentangbahan
ajaryang tersaji.
(3) Pesan informasi secara visual mudah dipahami peserta didik.
(4) Pelatih tidak perlu banyak menerangkan bahan ajar yang sedang disajikan.
(5) Dapat diperbanyak sesuai kebutuhan, dan dapat dipakai secara berulang-ulang
(6) Dapat disimpan dalam bentuk data optik atau magnetik (CD/Disket/Flashdisk),
sehingga paraktis di bawa ke manapun.
Di samping kelebihan media tayang Microsoft Power point memiliki beberapa
kelemahan, diantaranya:
(1) Memerlukan persiapan yang cukup lama dan tenaga.
(2) Jika yang digunakan untuk presentasi dalam situasi kelas dalam bentuk Personal
Computer (PC), maka perangkat tersebut harus direpotkan dengan pengangkutan
dan penyimpanan karena ukurannya cukup besar.
(3) Jika layar monitor yang digunakan terlalu kecil (14”-15”), maka kemungkinan besar
audien yang duduk jauh dari monitor kesulitan melihat sajian bahan ajar yang
ditayangkan di PC tersebut.
(4) Para pendidik harus memiliki cukup keterampilan mengoperasikan program ini,
agar jalannya presentasi tidak banyak hambatan.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 317


PROGRAM INOVASI DESA

Daftar Pustaka

Arief Sadirman (2003), Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatan.


Jakarata: PT. Raja Grafindo Persada.
Asnawir dan Basyiruddin Umar (2002) Media Pembelajaran, cet. I. Jakarta: Ciputat Perss.
Azhar Arsyad (2007), Media pembelajaran, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Oemar Hamalik (1994) Media Pendidikan, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Reski Hamid Hara dan Rayanti Selfiani Ningsih (2014). Media Pembelajaran Berbasis
Power Point. Jurusan Tarbiyah/PAI. Kendari: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
Sultan Qaimuddin.
Slameto (2003) Belajar dan factor-faktor yang mempengruhinya, Jakarta: Rieneka Cipta.
Yusuf Hadi Miarso, dkk., (1984) Teknologi Komunikasi Pendidikan: Pengertian dan
Penerapannya di Indonesia. Jakarta: CV. Rajawali.

318| Modul Pelatihan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat


PROGRAM INOVASI DESA

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi | 319