Anda di halaman 1dari 23

TUTORIAL 4

“ TRIASE “

Disusun untuk Memenuhi Tugas Tutorial 4


Blok Kedaruratan Medik

oleh :
Kelompok 9

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
AGUSTUS 2018
Kelompok 9
Nama Anggota:
1. 4111151013 Fifi Betria Puspamega
2. 4111151027 Gantira Rizaldy
3. 4111151028 Ibnu Ananta Nugraha
4. 4111151029 Neva Triwidia
5. 4111151042 Inidia Shabbanadari Agel
6. 4111151057 Intan Khaerunnissa
7. 4111151060 Andi Dian Rezky Nitami
8. 4111151086 Sankise Valensia
9. 4111151093 Saviera Salsabila Putri Edison
10. 4111151128 Annisa Pratiwi
11. 4111151135 Feby Widya Pramitha
12. 4111151153 Jovy Yudha Tamba
13. 4111151159 Anggita Rahmawati Putri
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat
dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian ini tepat pada
waktunya. Makalah ini disusun dengan judul “ Triase ”.
Selama penyusunan usulan penelitian ini, penulis tidak terlepas dari bantuan
dan berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak
terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani beserta
seluruh jajarannya.
2. Rini Roslaeni, dr., Sp.PK selaku sekretaris Blok Kedaruratan Medik.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih banyak kekurangan
dan jauh dari sempurna, mengingat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan
yang penulis miliki. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun akan
penulis terima dengan senang hati untuk perbaikan selanjutnya. Penulis berharap
makalah ini dapat memberikan manfaat.

Cimahi, Agustus 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

SKENARIO
Sebagai seorang dokter puskesmas saudara diperintahkan menjadi triage
officer. Saat bencana letusan gunung mendapat laporan bahwa 15 orang
terjebak sehingga di kirim tim SAR, sebanyak 8 orang menggunakan
helikopter.
Ternyata ditengah perjalanan helikopter hilang kontak. Tim SAR darat
mencari-cari helikopter dan menemukan helikopter ternyata terjatuh dan
terbakar. Empat orang tim SAR helikopter ditemukan meninggal. Dari 15
orang korban letusan, 4 orang berhasil ditemukan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

OVERVIEW CASE
Skenario Keterangan
Sebagai seorang doter IGD, anda Triage Officer : adala petugas yang
diperintahkan menjadi triage officer bertanggung jawab untuk menyeleksi/
saat bencana letusan gunung merapi memilih pasien berdasarkan beratnya
15 orang terjebak, dikirim Tim SAR 8 penyakit, menentukan prioritas
orang menggunakan helikopter perawatan gawat medik serta
4 orang Tim SAR helikopter transportasi
ditemukan meninggal
Dari 15 orang korban letusan, 4 orang
berhasil ditemukan
Korban Letusan :

Korban 1 : Merah
Laki-laki 8 tahun, posisi duduk, Gangguan Airway (Wheezing) dan
tampak sesak, wheezing, napas Breathing (R= 14 x/ menit)
tersengal-sengal, bicara hanya dapat Lika lecet daerah kaki = luka minor
satu kata, luka lecet di kaki kanan.  Pernapasan anak adalah diatas
45x/menit atau di bawah 15
x/menit untuk kategori merah.
 Walaupun terdapat nadi &
sadar, didapatkan pernapasan
<15x/menit, tidak adekuat.
Dicurigai adanya gangguan
jalan napas
DK : Status Asmatikus

Korban 2 : Hijau
Laki-laki 20 tahun, tampak ketakutan, Gangguan psikiatri berupa gangguan
menangis, berteriak-teriak, dada cemas
berdebar-debar, sesak napas, merasa  Tanda vital pasien dalam batas
tercekik, dan takut mati. Tanda vital normal dan sadar
dbn. DK : gangguan cemas
Korban 3 : Merah
Perempuan 30 tahun, sesak semakin  Pernapasan >30x/m disertai
memberat/luka bakar dikepala, gerak sesak semakin memberat,=
pernapasan simetris. TD:100/60mmHg, suspek ARDS
N:100x/m, R:32x/m.  nadi normal
 terdapat luka bakar dikepala
DK : suspek ARDS + luka baka

Korban 4 : Hijau
Laki-laki 51 tahun, sadar, menangis,  Tanda vital dalam batas normal,
luka lecet pada sisi kanan dari dada pasien sadar
sampai kaki. DK : luka lecet thoraks
Tanda vital dbn.
Korban Helikopter :

Korban 1 : Merah
Laki-laki 30 tahun, tidak sadar, sesak,  Pernapasan >30 x/m, nadi ada,
jejas di kepala, gerak pernapasan dada tidak sadar.
tidak simetris, jejas di dada kanan,  Gerakan nafas di dada tidak
deformitas tungkai kanan. simetris menunjukan adanya
TD:80/60mmHg, N:140x/m, R:35x/m. gangguan pernapasan
 Jejas di kepala, jejas di dada
kanan dan deformitas di tungkai
kanan curiga adanya multiple
trauma
DK : tension pneumothorax + suspek
cedera kepala berat +syok hemoragik
e.c fraktur tertutup tungkai bawah

Korban 2 : Merah
Laki-laki 60 tahun, nyeri dada kiri,  Pasien sadar, dengan keluhan
keringat dingin menjalar ke lengan kiri nyeri dada kiri, keringat dingin,
luka terbuka di kedua tungkai bawah. menjalar ke lengan kiri : curiga
miokard infark.
DK : Suspect miokard infark

Korban 3 : Hitam
Laki-laki 30 tahun, tembus dahan  Tidak ada napas, tidak ada nadi.
pohon di daerah perut, tidak ada napas, DK : dicurigai meninggal
tidak ada nadi.

Korban 4 : Kuning
Laki-laki 25 tahun, sadar, luka bakar di  Pernapasan <29 x/m, nadi ada,
wajah, rambut terbakar jejas di lengan sadar dengan luka bakar di
kanan dan tungkai. TD:110/80mmHg, wajah & rambut .
N:80x/m, R:20x/m.
 Mungkin perlukaan tidak
mengakibatkan obstruksi jalan
napas, hal ini ditandai dengan
adanya pernapasan 20x/m.
DK : Luka Bakar

Anda akan mengirim pasien-pasien Prioritas yang didahulukan untuk


tersebut sesuai prioritasnya ke definitif transport : 1,3,5 dan 6
care.
2.1 Manajemen Risiko Bencana
Risiko pada bencana dapat menimbulkan kerugian yang diakibatkan dari
peristiwa. Menjabarkan bencana harus berdasarkan risiko bagi masyarakat dan
tindakan yang diperlukan bagi risiko yang telah diidentifikasi pada saat bencana.
Terdapat prosedur yang harus dilaksanakan, yaitu:
1. Mengetahui ciri-ciri demografi masyarakat seperti kepadatan penduduk,
status kesehatan, sumber daya, infrastruktur)
2. Mengidentifikasi risiko bagi masyarakat
3. Menilai risiko bagi masyarakat
4. Menilai dampak dari bencana
5. Melakukan pencegahan terhadap risiko
6. Melakukan peninjauan kembali

Masalah yang dapat terjadi dalam penanggulangan bencana :


 Struktur organisasi yang tidak jelas karena tidak terdapat garis komando
dari masing masing bagian tim
 Pemilihan tempat untuk melakukan triage kurang tepat
 Ketersediaan alat dan bahan medis yang kurang memadai
 Alat komunikasi yang tidak berjalan dengan baik

Tahap Persiapan
1. Sebelum ke TKP melalukan koordinasi terlebih dahulu dengan instansi
terkait (Pemerintah setempat)
2. Menentukan terlebih dahulu siapa yang akan menjadi komandannya. Pada
setiap bencana atau musibah massal harus ada komandan. Pada umumnya
komandan ini berasal dari kepolisian, di daerah militer (komandan adalah
militer setempat) atau pelabuhan (komandan adalah syahbandar yang
dilakukan di pos komando). Bila bencana pada tingkat kabupaten, dan
masih dapat menanggulangi sendiri, maka pimpinan akan diambil ahli oleh
bupati melalui satlak PBP (Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana
Dan Pengungsi).
3. Membentuk unsur yang mungkin terllibat:
 Keamanan : kepolisian dan TNI dan tentukan koordinatornya
 Rescue : pemadam kebakaran, Basarnas dan tentukan koordinatornya
 Kesehatan atau tim medis dan tentukan koordinatornya
 Sukarelawan (hampir selalu PMI terlibat) dan tentukan koordinatornya

4. Persiapan alat dan bahan berupa :


a. Alat medis yang dibutuhkan dalam pertolongan pertama secara
lengkap:
 Alat pelindung diri tim yang menolong seperti masker, handscoon
dan kacamata pelindung
 Alat untuk korban seperti neck collar, long spine board, P3K,
elastic verband, kartu triage, tanda pengenal, alat ukur TV, dll
b. Persiapan transportasi (jumlah ambulans) untuk
c. Koordinasi dengan RS yang memiliki sarana prasarananya memadai
untuk korban.
d. Menyediakan tempat pengungsian

5. Tentukan lokasi atau tempat penanganan di lapangan


Di tempat kejadian atau musibah massal, selalu terbagi atas:
a. Area 1 : Daerah kejadian (red zone)
Daerah terlarang kecuali untuk tugas penyelamat(rescue) yang sudah
memakai alat proteksi yang sudah benar dan sudah mendapat ijin masuk
dari komandan di area ini.
b. Area 2 :Daerah terbatas (yellow zone)
Di luar area 1, hanya boleh di masuki petugas khusus, seperti tim
kesehatan, dekotanminasi, petugas atau pun pasien. Pos komando utama
dan sektor kesehatan harus ada pada area ini.
c. Area 3 : Daerah bebas (green zone)
Di luar area 2, tamu, wartawan, masyarakat umum dapat berada di zone ini
karena jaraknya sudah aman. Pengambilan keputusan untuk pembagian
area itu adakah komando utama.

6. Melakukan triage dan transport:


a. Memastikan jumlah korban bencana
b. Melakukan pemilahan pasien berdasarkan beratnya cedera atau
penyakit ( berdasarkan yang paling mungkin akan mengalami
perburukan klinis segera). Tindakan ini berdasarkan prioritas ABCD.
c. Transportasi evakuasi dengan koordinasi kepada rumah sakit yang
menjadi rumah sakit rujukan
d. Pada pasien meninggal dunia dilakukan identifikasi korban dan
menentuan kepastian secara hukum masih hidup atau sudah mati.
Kondisi korban mati dan barang-barang harus dipertahankan seperti
apa adanya. Setelah dilakukan identifikasi, dilakukan perawatan
jenazah sesuai agama.

Pembagian Triase
1. Single Patient Triage
Dilakukan terhadap satu pasien pada fase pre RS maupun fase RS di IGD
dalam day to day emergency dan false emergency
2. Routine Multiple Casualty Triage
a. Simple Triage and Rapid Treatment (START)
 Merah
 Kuning
 Hijau
 Hitam
b. Secondary Assessment of Victim End Point
 Korban yang akan mati
 Korban yang akan selamat
 Korban yang sangat beruntun
Pedoman pemilahan korban :
 Harus ada keputusan dari seorang pemilah
 Korban harus segera ditindak lanjuti oleh petugas kelompok
 Sesuai ABCD
 Waktu jarak tempuh ke tempuh ke tempat terapi
 Sumberdaya yang tersedia

2.2 Penanganan Korban


2.2.1 Korban letusan gunung api
 Korban 1
♂, 8 tahun, posisi duduk, tampak sesak napas terdengar wheezing, napas
tersengal- sengal, bicara hanya 1 kata, terdapat luka lecet di daerah kaki kanan.
Pernapasan : 14 x/m, tidak adekuat. Nadi : 120 x/m. TD : 90/60 mmHg
Penatalaksanaan pre RS:
A  inhaler

B  O2 sungkup non-rebreathing 8-12 Liter

C  infus RL/NaCl 0,9 % 2-4 L/ menit

D  clear
Penatalaksanaan di RS:
A  nebulizer

B  O2 sungkup NRM (Non-Reabreathing Mask)

C  infus RL atau NaCl 0.9 mg 2-4 L/menit

Management luka  povidone Iodine

Komplikasi : Apnea

 Korban 2
♀, 20 tahun, tampak menangis dan berteriak-teriak memanggil nama
suaminya, mengeluh dada berdebar-debar, sesak napas dan meras terkecik dan
takut mati. Tanda Vital dalam batas normal
Penatalaksanaan pre RS:
A  clear

B  clear

C  clear

D  clear

Penatalaksanaan di RS:

Secondary Survey  Diazepam (rujuk ke Sp.KJ)

Komplikasi : -

 Korban 3
♀, 30 tahun, sesak semakin memberat terlihat luka bakar di kepala, tampak
gerakan pernapasan di dada simetris. Pernapasan : 32 x/m. Nadi : 100 x/m. TD :
100/60 mmHg.
Penatalaksanaan pre RS:
A  chin lift, jaw thrust

B  O2 sungkup non-rebreathing 8-12 Liter

C  infus RL/NaCl 0,9 % 2 line

D  tentukan luas luka bakar (9%)

Penatalaksanaan di RS:

A  intubasi, identifikasi suara tambahan

B  O2 10-12 Liter

C  infus RL/NaCl 0,9 % 2 line

D  luka bakar  debridement + cegah syok  Rehidrasi

Komplikasi : Dehidrasi, syok Hipovolemik


 Korban 4
♂, 5 tahun sadar, menangis, tampak luka lecet pada sisi kanan dari dada
sampai kaki. Tanda Vital dalam batas normal.
Penatalaksanaan pre RS:
A  clear

B  clear

C  clear

D  clear

Penatalaksanaan di RS:

Secondary survey  Pemeriksaan head to tue

Perawatan luka lecet demgan povidone iodine

Komplikasi : -

2.2.2 Korban helikopter


 Korban 1
Laki-laki 30 tahun, tidak sadar, sesak, jejas di kepala, gerak pernapasan dada
tidak simetris, jejas di dada kanan, deformitas tungkai kanan. TD:80/60mmHg,
N:140x/m, R:35x/m.
Penatalaksanaa pre RS:
A = bebaskan jalan napas dengan jaw thrust, pemasangan neck collar
B = pemberian O2 dengan sungkup non re-breathing dan thorakosintesis
C = pemasangan infus kristaloid hangat (IV line) 2 jalur
D = tidak ada
E = pemsangan bidai atas indikasi deformitas tungkai kanan
Penatalaksanaan di RS:

Pemasangan chest tube sebagai terapi definitif. Dan melakukan foto thoraks
AP dan lateral.
Komplikasi : Gagal napas
 Korban 2
Laki-laki 60 tahun, nyeri dada kiri, keringat dingin menjalar ke lengan kiri
luka terbuka di kedua tungkai bawah.
Penatalaksanaan pre RS:
A = clear

B = pemberian O2 dengan sungkup non re-breathing

C = nitrat sublingual, balut tekan pada perdarahan di kedua tungkai bawah

Penatalaksanaan di RS:

MONACO (morfin, oksigen, nitrat, aspirin, clopidogrel) dan monitor EKG

 Korban 3
Laki-laki 30 tahun, terlihat luka tembus dahan pohon di daerah perut. Tidak
ada napas. Tidak ada nadi
Penatalaksanaan pre RS:
Pasien status hitam. Tidak ada nadi tidak ada napas, dinyatakan mneinggal
dunia
Penatalaksanaan di RS:
-
Komplikasi :
-

Korban 4
Laki-laki 25 tahun, sadar, terlihat luka bakar di wajah, dan rambut terlihat
terbakar. Tampak jejas di lengan kanan dan tungkai. TD= 110/80, N= 80x/menit,
R=20x/menit.
Penatalaksanaan pre RS:
A = pembebasan jalan napas dengan head tilt, chin lift
B = pemberian 02 dengan sungkup non re-breathing sebanyak 8-10 L/m
C = pemasangan infus kristaloid hangat (IV line) 2 jalur
D = menentukan luas luka bakar (9%)
Penatalaksanaan di RS:
A = pemasangan ETT (Endotracheal Tube) untuk memastikan airway tetap
lancar
B = pemberian oksigen 8-10 L/m
C = pemasangan infus kristaloid hangat (IV line) 2 jalur dilanjutkan untuk
menghindari dehidrasi
D = pembersihan dan penanganan luka di lengan dan tungkai, tindakan
debridement luka bakar, penanganan luka bakar sesuai derajat
Komplikasi :
1. Dehidrasi
2. Syok hipovolemik
3. Obstruksi airway akibat spasma laring

2.2.3 Transportasi Pasien


Faktor yang mempengaruhi transportasi pasien :
 Jarak rumah sakit tujuan transfer
 Keberadaan tenaga trampil yang akan mendampingi saat transfer berjalan
dengan aman
 Jika tersedia tenaga terampil dan perlengkapan rumah sakit
 Keadaan yang life threatening harus diatasi lebih dahulu.

Perencanaan dan persiapan meliputi :


1. Menentukan jenis transportasi (mobil, perahu, pesawat terbang)
2. Menentukan tenaga keshatan yang mendampingi pasien
3. Menentukan peralatan dan persediaan obat yang diperlukan selama perjalanan
baik
4. kebutuhan rutin maupun darurat
5. Menentukan kemungkinan penyulit
6. Menentukan pemantauan pasien selama transportasi
Komunikasi yang efektif sangat penting untuk menghubungkan :
1. Rumah sakit tujuan
2. Penyelenggara transportasi
3. Petugas pendamping pasien
4. Pasien dan keluarganya

Untuk stabilisasi yang efektif diperlukan :


1. Resusitasi yang cepat
2. Menghentikan perdarahan dan menjaga sirkulasi
3. Imobilisasi fraktur
4. Analgesia

Dr. Adams R. Cowley menggunakan istilah The Golden Hour, karena


telah terbukti bahwa 85% pasien trauma dapat diselamatkan bila kurang dari satu
jam sudah mendapat pertolongan definitif. Kenyataannya, ada pasien yang
kurang dari satu jam tidak dapat lagi diperbaiki syoknya (menjadi irreversible
shock), sebaliknya ada pula pasien yang lebih dari satu jam masih dapat diatasi
syoknya (reversible shock). Karena itu istilah yang sekarang digunakan
ialah The Golden Period, yaitu sekitar satu jam.
Petugas ambulans dilapangan mengenal istilah The Platinum Ten Minutes,
yaitu waktu yang diperlukan untuk menilai pasien dan menyiapkan transportasi ke
rumah sakit terdekat yang sesuai dengan cedera pasiennya.
Dengan asumsi:
1. transportasi ke tempat kejadian di kota sekitar 15 – 20 menit,
2. kemudian ke tempat terapi definitif 15 – 20 menit
3. sisa 10 – 20 menit adalah untuk persiapan operasi definitif di rumah sakit
rujukan sehingga keseluruhan waktu dari kejadian trauma sampai tindakan
definitif masih 1 jam atau kurang.

Cara Mentransfer Pasien


a. Mempersiapkan pasien untuk transportasi
 Lakukan pemeriksaan menyeluruh pastikan pasien stabil
 Amankan posisi tandu didalam ambulans
 Posisikan dan amankan pasien. Perubahan posisi dalam ambulans dapat
dilakukan tetapi harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Pada pasien
tidak sadar ubah ke posisi recovery untuk menjaga terbukanya airway dan
drainase cairan. Pasien syok ditransport dengan tungkai dinaikkan 12 inci
 Pastikan pasien terikat baik dengan tandu
 Persiapkan jika timbul komplikasi pernapasan dan jantung
 Melonggarkan pakaian yang ketat
 Periksa perban dan bidainya

b. Perawatan pasien selama perjalanan


 Lanjutkan perawatan medis emergensi
 Gabungkan informasi tambahan pasien
 Lakukan pemeriksaan menyeluruh dan monitor terus tanda vital
 Beritahu fasilitas medis yang menjadi tujuan. Berikan informasi hasil
pemeriksaan dan penanganan pasien yang sudah dilakukan
 Periksa ulang perban dan bidai
 Jika ada tanda-tanda henti jantung, lakukan resusitasi dan defibrilasi

c. Memindahkan pasien ke UGD


 Dampingi staf UGD bila dibutuhkan dan berikan laporan lisan atas kondisi
pasien
 Siapkan laporan perawatan praRS

2.2.4 Sistem Rujukan


Sistem Rujukan adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan
yang melaksanakan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas kasus
penyakit atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik
vertikal dalam arti dari satu strata sarana yankes ke strata yankes lainnya, maupun
horizontal dalam arti antara strata sarana yayasan kesehatan yang sama.
Pasien yang akan dirujuk harus sudah diperiksa dan layak untuk dirujuk,
dengan memenuhi syarat :
 Hasil pemeriksaan fisik sudah dapat dipastikan tidak mampu diatasi
 Hasil pemeriksaan pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan penunjang
medis ternyata tidak mampu diatasi
 Memerlukan pemeriksaan penunjang medis yang lebih lengkap, tetapi
pemeriksaan harus disertai pasien bersangkutan
 Apabila telah diobati dan dirawat ternyata memerlukan pemeriksaan,
pengobatan dan perawatan di sarana kesehatan yang lebih mampu

Persiapan Rujukan
 Persiapan tenaga kesehatan, pastikan pasien dan keluarga didampingi oleh
minimal 2 tenaga kesehatan sepeti dokter dan/atau perawat yang kompeten
 Persiapan keluarga, memberitahukan keluarga pasien tentang kondisi
pasien terakhir serta alasan dirujuk, anggota keluarga yang lain harus ikut
mengantar pasien
 Persiapan surat, memberi surat pengantar ke tempat rujukan berisi
identitas pasien, alasan rujukan, tindakan dan obat-obatan yang telah
diberikan pada pasien
 Persiapan alat, dengan membawa perlengkapan alat dan bahan yang
diperlukan
 Persiapan obat, dengan membawa obat-obatan esensial yang diperlukan
selama perjalanan
 Persiapan kendaraan, dengan mempersiapkan kendaraan yang cukup baik,
yang memungkinkan pasien berada dalam kondisi yang nyaman dan dapat
mencapai tempat rujukan secepatnya, kelengkapan ambulan
 Persiapan uang untuk mengingatkan keluarga untuk membawa uang dalam
jumlah cukup untuk membeli obat-obatan dan bahan kesehatan diperlukan
 Persiapan donor darah dan disiapkan kantung darah
Jalur Rujukan :
2.2.5 Aspek Etik
1. Beneficence : dokter mampu melakukkan tugas nya sebagai triage officer
dengan baik , yaitu dapat memilah mana pasien yang menjadi prioritas
utama untuk dilakukan atindakan lebih lanjut. (TRIAGE)
2. Non maleficence : menghindari akibat buruk dengan cara menolong
pasien emergensi
3. Autonomi : pemberian informed conset tergantung kondisi pasien
• Pasien emergensi : informed consent dapat dikesampingkan
• Panic attack : informed consent
4. Justice : menerapkan triase (prioritaskan yang benar-benar harus
ditolong), tanpa membeda-bedakan pasien berdasarkan Suku, ras, maupun
agama.