Anda di halaman 1dari 3

2.2.

1 Definisi kerapuhan

Kerapuhan umumnya dianggap sebagai hal yang normal dalam proses menua, namun

banyak prespektif dalam menjelaskannya. Kerapuhan merupakan kondisi klinis pada lanjut usia

yang ditandai dengan penurunan fungsi fisiologis dari berbagai organ (Chen et al. 2014).

Kerapuhan adalah kondisi fisik yang secara eksklusif memiliki 3 komponen atau lebih yaitu

penurunan berat badan, penurunan aktivitas fisik, kelelahan, serta kelemahan akibat defisit

multidimensional seperti cacat (Coelho & Fernandes 2015). Literatur lain menyebutkan bahwa

sindroma kerapuhan FRAIL adalah Fatigue, Resisteance, Ambulation, Ilnesses and Loss of

weight (International Academy of Nutrition and Aging) dalam (Chen et al. 2014).

Manifestasi yang telah disepakati dalam kepustakaan bahwa, kerapuhan merupakan

gejala yang terdiri dari penurunan berat badan, kelemahan, lelah dan capai, inaktivitas dan

asupan makanan yang menurun, dan gejala lainnya berupa sarkopenia (penurunan massa otot),

abnormalitas keseimbangan dan berjalan (gait) serta penurunan massa tulang (osteopenia)

(Darmojo 2014).

2.2.2 Patofisiologi kerapuhan

Mekanisme penuaan secara kompleks dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan

serta adanya mekanisme genetik yang mengatur diferensial gen dalam sel (Lancet 2014).

Berbagai proses kerapuhan terjadi akibat suatu penyakit atau kondisi yang memperparah

penyakit. Terdapat 3 jalur kerapuhan (Darmojo 2014) diantaranya adalah :

1. Penyakit sebagai penyebab terjadinya imobilisasi dan disabilitas. Terdapat beberapa

penyakit yang seringkali ditemukan mempengaruhi imobilisasi yaitu penyakit yang

erat kaitannya dengan tulang dan sendi, gagal nafas serta gagal jantung.
2. Penyakit sebagai penyebab terjadinya malnutrisi kronik. Penyakit penyerta atau

perubahan fisiologik dapat menyebabkan penurunan nafsu makan dan gangguan

asupan nutrisi oleh tubuh. selain itu gangguan pada sistem gastrointestinal atau saluran

cerna baik fisiologik dan patologik akan menyebabkan metabolisme makanan kurang

baik.

3. Penyakit yang mengakibatkan peningkatan katabolik tubuh, antara lain penyakit

infeksi akut ataupun kronik. Namun, keadaan penyakit dengan kerapuhan belum dapat

dikatakan sebagai hubungan sebab akibat, karena banyak penelitian menjelaskan

penyebab utama kerapuhan adalah proses menua itu sendiri.

Selain penyakit diatas, kelainan sistemik juga merupakan komponen terjadinya lingkar

kerapuhan, diantaranya adalah:

1. Sarkopenia

Hilangnya atau menurunnya massa otot secara fisiologis terjadi setelah seseorang

berusia 35 tahun. Tanpa adanya penyakit penyerta atau undernutrisi kronik, penurunan

massa otot dapat mencapai lebih dari 50% dan digantikan oleh jaringan ikat atau

lemak. Dampak metabolik sarkopenia dapat menyebabkan penurunan penggunaan

energy (energy expenditure). Kehilangan massa otot ini akan mempengaruhi

penurunan kekuatan dan toleransi olahraga, kelemahan, kelelahan dan penurunan

kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari (Darmojo 2014).

2. Disfungsi imun
Pada lanjut usia disfungsi imun terjadi secara menyeluruh ditingkat gen, sel dan organ,

akibatnya tubuh menjadi rentan terjadinya infeksi. Selain itu peningkatan sitokin

inflamatorik mengakibatkan seorang lanjut usia yang rapu dalam kondisi inflamatorik

menyeluruh (Darmojo 2014).

3. Disregulasi neuro-endokrin

Dalam keadaan normal, sistem neuro-endokrin merupakan sistem pengaturan yang

kompleks dan terintegrasi pada berbagai sistem tubuh, berfungsi sebagai monitoring

pengaruh lingkungan dan mengupayakan keseimbangan homeostatis melalui berbagai

persyarafan dan sekresi endokrin. Pada lanjut usia terjadi kekacauan pada pengaturan

metabolik, sekresi hormonal dan tonus syaraf. Akibatnya terjadi perlambatan pada

mekanisme umpan balik pada stimulasi stressor (Darmojo 2014).