Anda di halaman 1dari 163

UPAYA PEMBINAAN MINAT BACA DI TAMAN BACAAN MASYARAKAT

Studi Kasus TBM Sanggar Baca Jendela Dunia dan TBM Jendela Ilmu

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh


Gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan (S.IP)

oleh:
Ludfia
NIM. 1110025000062

JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN


FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1436 H / 2015 M
LEMBAR
PENGESAHAN PANITIA U.nAN SKRIPSI

Nama : Ludfia
NIM : 1110025000062
ludul Skripsi : Upaya Pembinaan Minat Baca di Taman Bacaan Masyarakat (TBM)
: Studi Kasus TBM Sanggar Baca lendela Dunia dan TBM Jendela
IImu
Ujian Skripsi : 14 Januari 2015

Skripsi tersebut telah diperbaiki sesuai saran dan komentar Tim Penguji sebagai
syarat memperoleh gelar Sarjarra Strata Satu (S 1) pada Program Studi I1mu
Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora DIN yarifHidayatullah Jakarta.

Jakarta, 14 lanuari 2015


Tangga}
t~/b}_$.J tS
1. Ketua Sidang : Pungki Purnomo, MLfS
NIP : j 9641215 199903 1 005

2. Sekretaris Sidang : Mukmin Suprayogi, M.Si


NIP: 19620301 199903 1 001

3. Pembimbing : Fadhilatul HamdanL M.Hum .~.r;;.-- 'lPf£

4. Penguji 1 : Ida Farida .. MLIS


NIP: 19700407 200003 2 003
.(itfd.~....~~~.~/I~
~ ~1 ").p~(t
... I lOs
5. Penguji 2 :.Pungki Pumomo.·MLIS .. ~ .. . . .. ~. .
~ .' ,

NIP: 19641215 199903 1 005

,.

.~
UPAYA PEMBINAAN MINAT BACA DI TAMAN BACAAN MASYARAKAT
(TBM): STUDT KASUS TBM SANGGAR BACA JENDELA DUNIA DAN TBM
JENDELA ILMU

.. Skripsi
Diajukan untnk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana IImu Perpustakaan (S.IP)

oleh:

Ludfia
NIM.l110025000062

di bawah himhingan

JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN


FA.KULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSIT AS ISLAM NE.GERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1436 H /2015
M
ABSTRAK

Ludfia (NIM. 1110025000062). Upaya dan Faktor Pembinaan Minat Baca di


Taman Bacaan Masyarakat (TBM): Studi Kasus TBM Sanggar Baca Jendela
Dunia dan TBM Jendela Ilmu. Di bawah bimbingan Fadhilatul Hamdani,
M.Hum. Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2015.

Penelitian ini dilakukan di TBM Sanggar Baca Jendela Dunia dan TBM Jendela
Ilmu. Tujuan penelitian ini adalah; pertama, untuk mengetahui upaya TBM SBJD
dan TBM JI dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca terhadap
masyarakat melalui program-program yang dilaksanakan dan dikembangkan;
kedua, untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program-
program minat baca terhadap masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang pengambilan datanya melalui
observasi dan wawancara dengan informan terkait. Teknik penelitian ini
menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya
pembinaan minat baca melalui program-program di TBM SBJD dan TBM JI
adalah menyelenggarakan pentas seni, membuat MADING, membaca buku
selama 15 menit kemudian membuat ringkasan, mensirkulasi buku selama 1
minggu sekali dengan tema yang berbeda, menyelenggarakan kelas pekerjaan
tangan, lomba memasak, pemutaran film/video, story telling, pameran buku dan
bedah buku fiqih. Faktor pendukung minat baca secara internal dan eksternal di
TBM SBJD dan TBM JI adalah sarana dan prasarana, dana operasional TBM,
kualitas SDM, menyesuaikan program minat baca berdasarkan kelompok usia dan
kerjasama dengan organisasi luar. Faktor penghambat minat baca di TBM SBJD
dan TBM JI adalah kurangnya sosialisasi, perkembangan Teknologi Informasi,
kurangnya dukungan dan kerjasama dari semua lapisan masyarakat, kurangnya
dukungan dan kerjasama dari pemerintah, rendahnya sikap dan minat anak-anak
terhadap bahan bacaan dan ketidakpedulian orang tua terhadap pendidikan anak.

Kata Kunci : Pembinaan Minat Baca, Minat Baca, Taman Bacaan Masyarakat

i
ABSTRACT

Ludfia (NIM. 1110025000062). Effort and Development Factor of Interest in


Reading in the Society of Library (TBM): The Case study are TBM Sanggar
Baca Jendela Dunia (SBJD) and TBM Jendela Ilmu (JI). Supervised of
Fadhilatul Hamdani, M.Hum. Department of Library Science Faculty of Adab
and Humanities Islamic State University Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015.

This research is done at TBM Sanggar Baca Jendela Dunia and TBM Jendela Dunia.
The purpose of this research are; first, to know TBM SBJD'S effort and TBM JI to
improve and increases the interest in reading to society through executed and
developed programs. Second, to understand the factors ofaffect in implementation of
interest in reading programs to the society.The research uses descriptive qualitative
method that take of data through observation and interviews with relevant informants.
Technique of this research is using purposive sampling.The result shows that
development effort of interest in reading through TBM SBJD and TBM JI programs
are organizing art performances, making wall magazine, reading book up to 15
minutes then make a summary, circulating books up to 1 week with different theme,
evening out handiwork class, cooking competitions, film/video showing, storytelling,
book fairs and fiqh book review.Then, the supporting factor of interest in reading
internally and externally at TBM SBJD and TBM JI are infrastructure, TBM’s
operational fund, the quality of human resources, adjusting interest in reading
program to base age and collaboration group with organisasitonal outer. Besides that,
the inhibiting factors of interest in reading at TBM SBJD and TBM JI are its reducing
socialization, informations technological developing, lack of support and
collaboration of all society coat, lack of support and collaboration of government, low
attitude and children interest to reading material and oldster doesn’t care of child
education.

Key Word : Insert in Reading Development, Insert In Reading, Society


Library

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Illahi Robbi, yang telah memberikan nikmat,

hidayah dan inayahnya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan

baik. Sholawat serta salam semoga dilimpahkan kepada baginda Nabi

Muahammad SAW. yang telah membawa umatnya dari kegelapan hingga terang

benderang yang penuh cahaya hidayah, juga kepada keluarga dan para

sahabatnya, semoga kami semua mendapatkan syafaatnya di hari kiamat nanti,

aamiin.

Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang

telah membantu dan memberikan dukungan baik moril maupun materiil terhadap

penulis. Ucapan terima kasih sedalam-dalamnya penulis sampaikan kepada :

1. Bpk. Prof. Dr. Sukron Kamil, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Adab dan

Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bpk. Prof. Dr. Oman Fathurahman, M. Hum, selaku Dekan Fakultas Adab

dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2014-2015.

3. Bpk. Pungki Purnomo, MLIS, selaku Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan.

4. Bpk. Mukmin Suprayogi, M.Si, selaku Sekretaris Jurusan Ilmu

Perpustakaan dan Pembimbing Akademik.

5. Ibu Fadhilatul Hamdani, M.Hum, selaku dosen pembimbing penulis yang

membantu, mengarahkan, dan menuntun penulis untuk dapat

menyelesaikan skripsi ini.

6. Ayah Dr. Sihabudin Noor, MA selaku Pendiri Yayasan SBJD dan Bunda

Karlina Helamanita, MA selaku Ketua Yayasan SBJD yang bersedia

iii
menerima penulis untuk melakukan penelitian. Terima kasih atas

kerjasamanya, dan segala motivasi dan informasi yang berikan kepada

penulis. Ibu Reni Muplihah, S. Ag selaku ketua TBM JI yang bersedia

menerima penulis untuk melakukan penelitian. Terima kasih atas

kerjasamanya, dan segala motivasi dan informasi yang berikan kepada

penulis.

7. Seluruh Bapak dan Ibu dosen jurusan Ilmu Perpustakaan yang telah

mencurahkan ilmunya untuk masa depan penulis.

8. Keluarga besar Yayasan SBJD yaitu Kakak-kakak Mentor Kak Ida, Kak

Najmah, Mba Sri, Kak Dion, Kak Zainul, Kak Aziz, Kak Faisal, Kak Ulin

dan Adik-adik Yayasan SBJD yang sepenuh hati memberikan motivasi

dalam proses penelitian ini.

9. Orang tua tercinta dan terbaik yang telah melahirkan, membesarkan,

mendidik, mencontohkan teladan yang baik, sabar dalam setiap

permasalahan dan memberikan nafkah sejak kecil sampai saat ini, Bapak

Muhammad Jamil Zein dan Mama Rosmani.

10. Kakak tercinta Miftahul Husna dan keponakan tercinta Nayra Safira

Ma’uf, terima kasih atas segala perjuangan kakak untuk membantu adikmu

berupa moril dan materil dalam menuntut ilmu sampai saat ini, kalian

selalu menjadi semangat menjalani hidup.

11. Terima kasih kepada sahabat-sahabat tersayang yang telah menjadi

penyemangat dalam pengerjaan skripsi ini Agista, Nia, Rinda, Winda,

Rochmah, Nurun, Vidi dan Syifa. Teman-teman yaitu Ima, Mey, Vida,

iv
Tiwi, Dian dan lain-lain. Seluruh teman-teman Jurusan Ilmu Perpustakaan

2010, yang sama-sama berjuang untuk menyelesaikan skripsinya.

12. Terima kasih kepada ibu dan bapak kostan pink, kakak-kakak kostan

tersayang kak eka, hafizah adha, kak erni, kak putri, kak tika, kak devi dan

ipeh yang telah memberikan semangat dalam pengerjaan skripsi ini.

13. Sepupuku tercinta Uswatun Hasanah yang telah membantu dan

memberikan motivasi selama pengerjaan skripsi, terima kasih juga kepada

sahabatku di rumah Khalida Zahra dan Nazira.

14. Kepada teman-teman KKN SUPER UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

terima kasih atas pengalaman dan dukungannya Agis, Karina, Kaka,

Fanny, Diana, Ufi dan lain-lain.

15. Terima kasih kepada kakak senior IPI, Kak Doni, Kak Nia, Kak Nissa

yang telah memberikan kesempatan untuk bekerja dan mencari

pengalaman di bidang Ilmu Perpustakaan.

16. Seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi

ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, namun tidak

mengurangi rasa hormat penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena

itu saran dan kritik sangat penulis perlukan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat

bagi kita semua, aamiin.

Ciputat, 11 Desember 2014

Ludfia

v
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
SURAT PERNYATAAN
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI
ABSTRAK………………………………………………………………............. i
ABSTRACT…………………………………………………………………....... ii
KATA PENGANTAR ………………………………………………………….. iii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………...... vi
DAFTAR TABEL.................................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………......... xi
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………….……. xii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………….….... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ……………………....... 9
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……………………………..... 9
D. Definisi Istilah ……………………………………………….. 10
E. Sistematika Penulisan ……………………………................... 11

BAB II TINJAUAN LITERATUR


A. Taman Bacaan Masyarakat
1. Definisi Taman Bacaan Masyarakat ................................... 13
a. Sumber Daya Fisik ........................................................ 15
b. Sumber Daya Manusia .................................................. 15
2. Tujuan Taman Bacaan Masyarakat ..................................... 17
3. Fungsi Taman Bacaan Masyaarakat ................................... 18
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan TBM ..... 18

vi
B. Membaca
1. Definisi Membaca ............................................................... 21
2. Fungsi Membaca ................................................................. 23
3. Manfaat Membaca .............................................................. 23
C. Minat Baca
1. Definisi Minat Baca ............................................................ 26
2. Menumbuhkan dan Meningkatkan Minat Baca ................. 27
3. Faktor Pendukung Minat Baca ........................................... 28
4. Faktor Penghambat Minat Baca .......................................... 30
D. Upaya Pembinaan Minat Baca
1. Tujuan Pembinaan Minat Baca ............................................ 31
2. Ciri-ciri Pembinaan Minat Baca .......................................... 32
E. Upaya Pembinaan Minat Baca di TBM ..................................... 34
F. Penelitian Relevan ..................................................................... 40

BAB III METODE PENELITIAN


A. Jenis dan Pendekatan Penelitian................................................. 43
B. Sumber Data............................................................................... 44
C. Pemilihan Informan................................................................... 44
D. Teknik Pengumpulan Data........................................................ 45
E. Teknik Analisis Data................................................................. 47
F. Jadwal Penelitian....................................................................... 49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Objek Penelitian
1. Profil TBM Sanggar Baca Jendela Dunia……………....... 51
a. Sejarah TBM SBJD……………………………………. 51
b. Motto……………………………………………........... 52
c. Visi dan Misi……………………………………........... 52
d. Tujuan……………………………………………….... 52

vii
e. Kegiatan-kegiatan yang Pernah Diselenggarakan……. 52
f. Prestasi yang diraih…………………………………... 53
g. Mentor dan Relawan…………….………………........ 54
h. Jejaring dan Kerjasama…………………………......... 54
i. Mitra……………………………………..……….…... 55
j. Pengurus atau Sumber Daya Manusia…………........... 56
k. Layanan TBM SBJD…………………………….…… 56
l. Koleksi TBM SBJD……………………………….…. 57
m. Pengolahan Koleksi……………………………...…... 58
2. Profil TBM Jendela Ilmu
a. Sejarah TBM JI……………………………………... 60
b. Visi dan Misi………………………………….…….. 62
c. Struktur Organisasi…………………………………. 62
d. Layanan TBM JI……………………………………. 62
e. Uraian Tugas Pengurus TBM JI……………………. 62
f. Program-Program yang Diselenggarakan…………... 63
B. Hasil Penelitian ……………….…………………………… 63
1. Upaya Pembinaan Minat Baca melalui Program-Program
yang diselenggarakan ………………………................ 63
2. Faktor yang Mendukung Minat Baca di TBM SBJD dan
TBM JI ………………..……………………...……..…. 69
3. Faktor yang Menghambat Minat Baca di TBM SBJD dan
TBM JI …………………………………………….……. 77
C. Pembahasan………………………………………………….. 87

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………… 92
B. Saran ………………………………………………….............. 93

viii
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….. 95
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BIODATA PENULIS

ix
DAFTAR TABEL

1. Tabel 1 Pola Pembinaan Minat Baca .................................. 37

2. Tabel 2 Daftar Informan Penelitian .................................... 46

3. Tabel 3 Jadwal Penelitian.................................................... 50

4. Tabel 4 Klasifikasi ............................................................. 58

x
DAFTAR GAMBAR

1. Gambar 1 Nomor Punggung Buku ............................................ 58

2. Gambar 2 Struktur Organisasi TBM JI ..................................... 61

xi
DAFTAR LAMPIRAN

1. Lampiran 1 Pengajuan Proposal Skripsi

2. Lampiran 2 Pengajuan Dosen Pembimbing Skripsi

3. Lampiran 2 Surat Tugas Menjadi Pembimbing

4. Lampiran 3 Surat Izin Penelitian

5. Lampiran 4 Surat Penggantian Judul Skripsi

6. Lampiran 5 Surat Penguji Skripsi

xii
2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perpustakaan adalah suatu kesatuan unit kerja yang terdiri dari beberapa

bagian, yaitu bagian pengembangan koleksi, bagian pengolahan koleksi, bagian

pelayanan pengguna, dan bagian pemeliharaan sarana-prasarana. Berbagai unsur

terlibat dalam pengelolaan perpustakaan, antara lain sumber daya manusia,

pengguna, sarana-prasarana, berbagai fasilitas pendukung, dan daya terpenting


1
adalah koleksi yang disusun berdasarkan sistem tertentu.

Perpustakaan merupakan salah satu sarana dan sumber belajar yang efektif

untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan, perpustakaan menyediakan

berbagai bahan pustaka yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan pemustaka.

Setiap perpustakaan didirikan dengan tujuan tertentu dan dilandasi oleh visi-misi

yang tertentu pula. Setiap perpustakaan mempunyai anggota yang berbeda,

dikelola dengan sistem organisasi yang berbeda, dan melakukan kegiatan-kegiatan

yang berbeda pula. Itulah yang menyebabkan timbulnya berbagai jenis


2
perpustakaan dengan fungsinya masing-masing.

Perpustakaan umum seringkali diibaratkan sebagai Universitas Rakyat

atau Universitas Masyarakat. Maksudnya adalah bahwa perpustakaan umum

merupakan lembaga pendidikan bagi masyarakat umum dengan menyediakan

berbagai informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya, sebagai sumber

belajar untuk memperoleh dan meningkatkan ilmu pengetahuan bagi seluruh

lapisan masyarakat. Oleh karena itu posisi perpustakaan umum dalam

mencerdaskan kehidupan bangsa sangat strategis. Sebab fungsinya melayani

semua lapisan masyarakat dalam rangka memperoleh dan meningkatkan berbagai

ilmu pengetahuan. Perpustakaan umum merupakan lembaga pendidikan yang


3
dinyatakan sangat demokratis karena menyediakan sumber belajar sesuai dengan

kebutuhan masyarakat, dan melayaninya tanpa membedakan suku bangsa, agama

yang dianut, jenis kelamin, latar belakang dan tingkat sosial, umur dan pendidikan

serta perbedaan lainnya. Pendek kata, perpustakaan umum memberikan layanan

kepada semua orang, anak-anak, remaja, dewasa, pelajar, mahasiswa, pegawai,

ibu rumah tangga, para usia lanjut, laki-laki maupun perempuan.

Perpustakaan umum merupakan satu-satunya jenis perpustakaan yang

masih dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Perpustakaan-perpustakaan yang

termasuk di dalam kategori perpustakaan umum adalah: perpustakaan umum

kabupaten / kota, perpustakaan umum tingkat kecamatan, perpustakaan umum

desa / kelurahan, perpustakaan cabang, taman bacaan rakyat / taman bacaan


3
masyarakat, dan perpustakaan keliling.

TBM (Taman Bacaan Masyarakat) adalah lembaga pembudayaan

kegemaran membaca masyarakat yang menyediakan dan memberikan layanan di

bidang bahan bacaan, berupa: buku, majalah, tabloid, koran, komik, dan bahan

muliti media lain, yang dilengkapi dengan ruangan untuk membaca, diskusi,

bedah buku, menulis, dan kegiatan literasi lainnya, dan didukung oleh pengelola

yang berperan sebagai motivator. Dalam rangka membangun masyarakat

membaca untuk mewujudkan masyarakat pembelajar sepanjang hayat, arah


4

kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional 2010-2014 yang tertuang pada

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.48 Tahun 2010 adalah penguatan dan

perluasan budaya melalui penyediaan taman bacaan masyarakat, bahan bacaan

dan sumber informasi lain yang mudah, murah, dan merata serta sarana

4
pendukungnya.

Untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca sehingga akan

merubah pola berpikir masyarakat dan menambah wawasan. Maka diperlukannya

dorongan kepada masyarakat yaitu pembinaan minat baca. Menurut Peraturan

Pemerintah No.20 Tahun 2001, pasal 1 (7) menyatakan bahwa yang dimaksud

dengan pembinaan atas penyelenggaraan pemerintah daerah adalah upaya yang

dilakukan oleh pemerintah dan atau wakil pemerintah di daerah.

Berdasarkan hasil survei lembaga internasional yang bergerak dalam

bidang pendidikan, United Nations Education Society and Cultural Organization

(UNESCO), minat baca penduduk Indonesia jauh di bawah negara-negara Asia.

Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Aditama yang menyatakan bahwa dua

tahun sebelumnya, atau tahun 2006, UNESCO menempatkan posisi minat baca

masyarakat Inonesia paling rendah di kawasan Asia. Sementara itu, International

Educational Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling

rendah di kawasan ASEAN. Kesimpulan di atas diambil dari penelitian yang

mendudukkan Indonesia di peringkat ke-38 dari 39 negara. Hal itu antara lain

menyebabkan United Nations Development Program (UNDP) menempatkan

Indonesia pada posisi rendah dalam hal pembangunan sumber daya manusia.

Laporan UNDP tentang Human Development Index (HDI) tahun 2006 meyatakan

4
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Petunjuk Teknis Pengajuan dan Pengelolaan Taman Bacaan
Masyarakat Bantuan Perluasan dan Penguatan Taman Bacaan Masyarakat (TBM).(Jakarta: Direktorat Pembinaan
Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal, 2012.), h. 4
5

bahwa HDI negara Indonesia berada pada peringkat ke 111 dari 177, dan berada

jauh di bawah negara-negara di Asia Tenggara seperti Singapura yang berada

pada peringkat 25, Brunei Darussalam peringkat 34, Malaysia peringkat 61, dan

Filiphina yang berada pada peringkat 84. Hal ini menunjukkan bahwa standar

5
hidup dan kualitas hidup bangsa Indonesia masih rendah.

Terlepas dari itu segala suasana suram dalam dunia minat baca, perlu

dipahami bahwa perubahan dari budaya dengar dan lisan ke budaya membaca dan

menulis, diperlukan langkah-langkah yang strategis dengan melibatkan partisipasi

aktif masyarakat, membaca dan kebiasaan membaca umumnya diperoleh melalui

pengalaman belajar membaca.

Karena kegiatan membaca merupakan kegiatan belajar dan merupakan

kegiatan integral dari kegiatan pendidikan, maka tanggung jawab

pengembangannya adalah pada keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pihak-pihak

yang ikut bertanggung jawab dalam segi pendidikan yaitu orang tua, guru,

pustakawan, pengarang, penerbit, toko buku dan pemerintah.

Minat baca merupakan kebiasaan yang diperoleh setelah seseorang

dilahirkan. Dengan demikian minat baca bukanlah kebiasaan bawaan. Oleh karena

itu minat baca dapat dipupuk, dibina, dan dikembangkan. Dalam era

pembangunan dewasa ini peranan minat baca sangat penting karena dengan minat

baca seseorang dapat memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang suatu

gejala, dapat menganalisis aspek-aspek yang dibaca, serta dapat mengaitkan

dengan berbagai gejala lain. Secara singkat dengan membaca akan diperoleh hasil,

5
Ifah Hanifah. Pembelajaran Membaca Permulaan Melalui Metode Analisis Glass Bagi Siswa Berkesulitan
Membaca (Reading Difficulties) (Studi Kasus Pada Siswa Kelas III SDN Cinembeuy-Kuningan). (Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia, 2013), h. 1.
6

baik informasi, pengertian, pengetahuan, keterampilan, motivasi, maupun fakta

seperti yang disajikan oleh bahan bacaan.

Tahap selanjutnya dari hasil membaca ini adalah memanfaatkan hal-hal

yang telah dibaca yang berguna baik bagi pembangunan diri pembaca, keluarga,

maupun masyarakat yang lebih luas. Selain itu, juga dapat membina sikap

menghargai waktu, sikap objektif dalam membahas suatu masalah, mementingkan

6
fakta atau informasi, dan lain-lain.

Kegiatan membaca tidak mungkin dapat dipisahkan dari perpustakaan,

karena perpustakaan pada dasarnya adalah sebuah lembaga yang mengoleksi

berbagai jenis bahan pustaka dari berbagai disiplin ilmu, untuk seterusnya

menyalurkan informasi yang terkandung di dalamnya bagi pengguna.

Perpustakaan juga merupakan sarana penghimpun hasil karya budaya bangsa yang

tertulis, tercetak maupun terekam, sehingga menjadi unsur perekat kesatuan

bangsa. Mengingat betapa penting peran perpustakaan terhadap tumbuh

kembangnya kemampuan dan kebiasaan membaca masyarakat, maka keberadaan

perpustakaan di masyarakat perlu diprioritaskan dan ditingkatkan fungsinya


7
sebagai penyedia informasi bagi pengguna. Untuk itu, penulis ingin memaparkan

lebih dalam lagi penelitian ini tentang upaya pembinaan minat baca di taman

bacaan masyarakat. Pemilihan objek penelitian yaitu di TBM Sanggar Baca

Jendela Dunia dan TBM Jendela Ilmu.

Pengamatan awal pada masyarakat sekitar TBM Sanggar Baca Jendela

Dunia, peneliti mengamati masyarakat di sekitar TBM Sanggar Baca Jendela

6
Mudjito. Pembinaan Minat Baca. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2001), h. 1.
7
Perpustakaan Nasional RI. Pencanangan Pemberdayaan Perpustakaan di Masyarakat. (Jakarta: Perpustakaan
Nasional RI, 2001), h. 5
7

Dunia telah memberikan wadah kepada masyarakat melalui upaya layanan yang

diberikan, terutama anak-anak dalam pendidikan islami yaitu Kelas Baca Qur’an

dan Kelas Tahfidz. Anak-anak tidak hanya diberikan pengetahuan islami saja

tetapi juga diberikan pengetahuan umum yaitu melalui buku-buku bacaan yang

disediakan di perpustakaan. Anak-anak cukup antusias dengan adanya bahan

bacaan untuk mereka, anak-anak memanfaatkan bahan bacaan yang disediakan.

Pada saat ini TBM SBJD baru memberikan sosialisasi untuk anak-anak

pustaka sanggar jadi hanya anak-anak sanggar yang bisa meminjam buku yang

ada di perpustakaan. TBM SBJD menyediakan empat buah buku di teras sanggar,

dan setiap minggu diganti untuk bahan bacaan ibu-ibu sambil menunggu anak-

anaknya selesai mengaji. Beberapa tahun yang lalu minat baca anak-anak di

lingkungan sekitar sanggar cukup tinggi, berbeda zaman pada saat ini yang sudah

serba instan dengan berbagai teknologi maka buku tidak lagi menjadi sumber

informasi yang penting bagi anak-anak, remaja maupun dewasa, maka cukup sulit

bagi kami untuk menyadarkan masyarakat, bahwa pentingnya bahan bacaan

sebagai sumber informasi. Namun tidak semuanya minat baca anak-anak

menghilang, dari kegiatan yang ada di TBM SBJD maka TBM SBJD lebih

berperan aktif terhadap anak-anak yang mengikuti Kelas Baca Qur’an dan Kelas

Tahfidz. Dari sinilah anak-anak belajar dan di latih untuk membiasakan diri

dengan membaca buku-buku.

Salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan anak-anak yaitu ketika anak-

anak datang untuk belajar mengaji, sebelum mengaji mereka selalu

menyempatkan diri untuk membaca buku sekitar 15 menit dengan didampingi

oleh kakak mentor dan pustakawan sanggar. Setelah mereka selesai membaca
8

anak-anak mencatatnya di buku besar yang dinamakan “Pustaka Sanggar” dengan

kriteria-kriteria yang tertulis di buku “Pustaka Sanggar” tersebut. Setelah selesai

mengaji beberapa anak menyempatkan untuk meminjam buku untuk bahan

bacaannya di rumah.

Dalam pengamatan awal ditemukan permasalahan yang dihadapi yaitu

pemustaka yang masih sedikit tidak adanya pemustaka dari masyarakat sekitar

sanggar, hanya anak-anak sanggar, mentor dan ibu-ibu wali santri. Selain itu

minimnya SDM, kegiatan-kegiatan TBM, serta fasilitas yang terbatas.

Pengamatan awal pada masyarakat sekitar TBM Jendela Ilmu, peneliti

mengamati masyarakat di sekitar TBM Jendela Ilmu telah memberikan wadah

kepada masyarakat melalui layanan yang diberikan, pengelola TBM Jendela Ilmu

mengungkapkan pada awal pendirian TBM Jendela Ilmu pada tahun 2010 dan

masih tergabung kedalam PAUD, karena kegiatan TBM yang masih berada di

bawah payung PAUD belum bisa merangkul semua kegiatan TBM karena

keterbatasan dana. Maka TBM memisahkan diri dari PAUD, setelah memisahkan

antara PAUD dan TBM, pengelola mulai memfokuskan diri untuk TBM.

TBM Jendela Ilmu mendapatkan bantuan dana yang diberikan oleh

pemerintah Tangerang Selatan dan bantuan buku dari Perpustakaan Nasional

maka dibuatlah kegiatan-kegiatan serta program-program untuk TBM.

Masyarakat disekitar TBM Jendela Ilmu sangat antusias dalam setiap kegiatan

yang diadakan oleh TBM Jendela Ilmu, namun minat baca masyarakatnya masih

rendah karena masyarakat disekitar lebih banyak dari kalangan menengah keatas,

jumlah pengunjung dari tingkatan anak-anak juga hanya sedikit.


9

Maka pengelola berinisiatif memperbanyak kegiatan-kegiatan dengan

merangkul masyarakat sekitar, dan berkolaborasi dengan ibu-ibu PKK, Majelis

Ta’lim ibu-ibu dan Remaja Masjid. Dari kegiatan-kegiatan inilah masyarakat

mulai bersentuhan dengan membaca. Adapun kegiatan-kegiatan tersebut ialah

Lomba mewarnai, Bazar buku, Demo memasak, menyelenggarakan hiburan yang

edukatif, menyelenggarakan kegiatan keterampilan dan kreatifitas, memperingati

hari besar Nasional/hari besar Islam, menyelenggarakan kegiatan cinta alam dan

olah raga. Namun kendala yang diungkapkan oleh pengelola yaitu karena

kurangnya minat baca masyarakat yang masih rendah dan lebih tertarik dengan

kegiatan-kegiatannya saja.

Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji apakah

upaya pembinaan minat baca pada TBM Sanggar Baca Jendela Dunia (SBJD) dan

TBM Jendela Ilmu (JI) telah melakukan upaya pembinaan minat baca terhadap

masyarakat melalui program-program yang dilaksanakan. Sehingga penulis

mengajukan judul penelitian ini sebagai berikut :

“Upaya Pembinaan Minat Baca di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) :

Studi Kasus TBM Sanggar Baca Jendela Dunia dan TBM Jendela Ilmu”.
10

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang akan dicapai dan sesuai

dengan masalah yang telah dijabarkan diatas, maka dalam penelitian ini

penulis melakukan penelitian dengan batasan yang tidak terlalu luas

pembahasannya maka penelitian ini hanya membahas mengenai Upaya

Pembinaan Minat Baca di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) : Studi Kasus

TBM Sanggar Baca Jendela Dunia dan TBM Jendela Ilmu.

2. Perumusan Masalah

Untuk memperjelas rumusan masalah yang sudah dipaparkan, maka

penulis menuangkan rumusan diatas ke dalam bentuk-bentuk pertanyaan

sebagai berikut :

1. Bagaimana upaya TBM Sanggar Baca Jendela Dunia dan TBM Jendela

Ilmu dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca terhadap

masyarakat melalui program-program yang dilaksanakan dan

dikembangkan?

2. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi pelaksanaan program-

program minat baca terhadap masyarakat di lingkungan sekitar TBM SBJD

dan TBM JI?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan Penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui upaya TBM Sanggar Baca Jendela Dunia dan TBM

Jendela Ilmu dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca terhadap


11

masyarakat melalui program-program yang dilaksanakan dan

dikembangkan.

b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan

program-program minat baca terhadap masyarakat di lingkungan sekitar

TBM SBJD dan TBM JI.

Manfaat Penelitian ini adalah :

a. Dengan harapan bisa menambah wawasan dan pengetahuan untuk penulis

secara nyata tentang Upaya Pembinaan Minat Baca di Taman Bacaan

Masyarakat (TBM) : Studi Kasus TBM Sanggar Baca Jendela Dunia

dan TBM Jendela Ilmu.

b. Sebagai khazanah ilmu pengetahuan dalam menerapkan dan melaksanakan

program-program perpustakaan khususnya Taman Bacaan Masyarakat.

c. Memberikan masukan-masukan yang bermanfaat kepada perpustakaan-

perpustakaan yang ada di masyarakat yaitu khususnya TBM

Sanggar Baca Jendela Dunia dan TBM Jendela Ilmu.

D. Definisi Istilah

Minat baca ialah keinginan seseorang terhadap suatu sumber pengetahuan

dengan cara membaca, yang berguna untuk menambah informasi yang

dibutuhkan, sehingga membuka cakrawala pengetahuan, dan dapat diartikan

sebagai kecendrungan hati yang tinggi orang tersebut kepada suatu sumber bacaan

tertentu.
12

TBM (Taman Bacaan Masyarakat) adalah lembaga yang menyediakan

berbagai jenis bahan belajar yang dibutuhkan masyarakat. Minat baca akan timbul

karena tersedianya berbagai jenis koleksi yang beragam, bahan bacaan yang baik,

menarik, memadai, baik jenis, jumlah, maupun mutunya. Maka TBM sebagai

salah satu sarana dan akses informasi yang menunjang bagi masyarakat.

E. Sistematika Penulisan

Dalam sistematika ini penulis membagi penulisan dalam lima bab, yang

mana tiap bab membahas secara sistematis bagian-bagian yang dipaparkan,

kelima bab itu adalah :

BAB I Pendahuluan

Dalam bab ini dikemukakan latar belakang, pembatasan dan perumusan

masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika

penulisan.

BAB II Tinjauan Literatur

Bab ini membahas teori – teori yaitu berasal dari kajian kepustakaan yang

berkaitan tentang penelitian ini. Pembahasan teori ini mencakup tentang

definisi upaya pembinaan minat baca di taman bacaan masyarakat, tujuan dan

fungsi upaya pembinaan minat baca di taman bacaan masyarakat.

BAB III Gambaran Umum TBM Sanggar Baca Jendela Dunia Dan

TBM Jendela Ilmu

Bab ini memuat gambaran umum mengenai TBM Sanggar Baca Jendela

Dunia dan TBM Jendela Ilmu yang meliputi sejarah singkat, visi dan misi,
13

struktur organisasi, koleksi perpustakaan, fasilitas dan kegiatan dalam upaya

pembinaan minat baca.

BAB IV Hasil dan Pembahasan Penelitian

Bab ini membahas hasil penelitian yang terdiri dari keberadaan, fungsi dan

manfaat, sistem dan manajemen, kegiatan-kegiatan serta pembinaan minat

baca yang diteliti yaitu TBM Sanggar Baca Jendela Dunia dan TBM Jendela

Ilmu sehingga mengetahui upaya pembinaan minat baca yang dilakukan untuk

masyarakat lingkungan sekitar.

BAB V Penutup

Berisi kesimpulan penelitian dan saran-saran dari penulis tentang upaya

pembinaan minat baca di taman bacaan masyarakat untuk TBM Sanggar Baca

Jendela Dunia dan TBM Jendela Ilmu.


BAB II TINJAUAN

LITERATUR

A. Taman Bacaan Masyarakat

1. Definisi Taman Bacaan Masyarakat

Menelusuri asal-muasal kata Taman Bacaan, pertama kali digunakan untuk

peminjaman buku perpustakaan yang dikelola oleh orang cina peranakan pada

akhir abad ke-19 di Batavia. Dengan membahas awal dimulainya suatu sastra

nasional Indonesia dalam bahasa yang nanti menjadi bahasa nasional, yang tidak

dapat dipisahkan dari pendirian Balai Pustaka dan perpustakaan umum pertama,

bahwa bahasa Indonesia memperoleh suatu posisi yang kuat sebagai bahasa

nasional. Sepanjang abad ke-20 perpustakaan yang dapat dikunjungi oleh

masyarakat umum dan Taman Bacaan terus berkembang, hingga perpustakaan

yang dikunjungi masyarakat umum muncul kembali setelah periode kemerdekaan

dengan usaha Sukarno untuk menjalankan ribuan perpustakaan-perpustakaan

desa.

Ada tiga reinkarnasi yang jelas berbeda di era modern sekarang ini, yang

dapat ditelusuri kembali ke era persewaan buku Taman Bacaan, yang dimulai di

Batavia pada akhir abad ke-19. Satu hal yang tidak banyak berubah, dan terus ada

hingga saat ini adalah kios-kios kecil yang menyewakan buku dan komik. Yang

kedua adalah persewaan buku yang dikombinasikan dengan suasana kafe, untuk

menarik minat kelas menengah yang tengah tumbuh berkembang di Indonesia.

Reinkarnasi yang ketiga, yang difokuskan di sini adalah pendirian perpustakaan-

perpustakaan umum skala besar berdasarkan kesukarelaan, merupakan suatu

upaya singkat di era Orde Baru Suharto dengan mendirikan Taman Bacaan
13
14

Masyarakat (TBM) di desa-desa pada tahun 1990-an, dan pada akhirnya berubah

1
menjadi Taman Bacaan seperti yang kita kenal saat ini.

Perpustakaan rakyat dan taman bacaan rakyat yang dibentuk dan

menjamur pada tahun 1950-an, tapi kemudian meredup. Pada tahun 1990-an, ada

perkembangan mengembirakan karena sejak tahun itu mulai ada dan sekarang

terus meningkat taman bacaan yang ada di masyarakat, baik yang didirikan secara

2
pribadi atau oleh sebuah institusi.

TBM dapat dinyatakan sebagai perpustakaan yang sangat dekat dengan

masyarakat karena sasaran utamanya adalah warga masyarakat bahkan sering

tumbuh langsung dari masyarakat, terutama di daerah yang sulit dijangkau oleh

perpustakaan umum (perpustakaan kota maupun daerah).

TBM hadir sebagai tempat baca dengan suasana sederhana dan terbuka

bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya. Hal tersebut juga tidak terlepas dari

peranan pemerintah setempat untuk mengembangkan TBM di wilayahnya, seperti

dinyatakan dalam Undang-Undang nomor 43 tahun 2007 bab XIII pasal 49

tentang pembudayaan kegemaran membaca; “Pemerintah, pemerintah daerah, dan

masyarakat mendorong tumbuhnya taman bacaan masyarakat dan rumah baca

untuk menunjang pembudayaan kegemaran membaca. TBM pada hakikatnya

memiliki fungsi yang hampir sama dengan perpustakaan, TBM yang ada

beranekaragam keberadaannya, tergantung daerah setempat dan kondisi dana yang

ada.

1
Stian Haklev.Mencerdaskan Bangsa-Suatu Pertanyaan Fenomena Taman Bacaan di Indonesia. (Toronto: IDS
University of Toronto at Scarborough, 2008), h. 45
2
Asrorun Ni’am Sholeh. Perpustakaan Jendela Dunia : Teks, Konteks, dan Dinamika Pembahasan Undang-
Undang tentang Perpustakaan. (Depok: eLSAS, 2008), h.117
15

Komponen-komponen yang ada di TBM untuk melaksanakan fungsinya

sebagai sumber belajar, sumber informasi, dan tempat rekreasi edukasi.

Komponen yang harus didukung oleh TBM ialah sumber daya fisik dan sumber

3
daya manusia sebagai berikut:

a. Sumber Daya Fisik

1) Sumber daya utama, merupakan bahan bacaan. yaitu: bahan bacaan

dalam berbagai bentuk media seperti: buku, majalah, tabloid, koran, CD

dan lainnya. Bahan bacaan yang disediakan perlu memperhatikan:

karakteristik, kebutuhan nyata, dan kemampuan baca masyarakat.

2) Sumber daya pendukung, merupakan segala sesuatu yang diperlukan

untuk mendukung pengelolaan TBM, antara lain: (1) rak/almari buku, (2)

display buku baru, (3) rak majalah, (4) gantungan koran, (5 ) meja kerja,

(6) fasilitas untuk membaca seperti: meja baca/bangku, alas duduk

(tikar/karpet) (7) panggung kecil, (8) permainan edukatif untuk anak,

dan (9) akses internet.

b. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia menjadi penentu optimalisasi fungsi layanan TBM

sekurang-kurangnya terdiri dari unsur ketua pengelola, petugas layanan serta

petugas administrasi dan teknis.

1) Ketua: (1) memimpin TBM, (2) menyusun dan menetapkan program,

(3) memajukan dan mengembangkan TBM, (4) melakukan hubungan

kerjasama, dan (5) mengelola keuangan,

3
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Petunjuk Teknis Pengajuan, Penyaluran, dan Pengolahan Bantuan
Bacaan Masyarakat Ruang Publik. (Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan
Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal, 2013), h. 9
16

2) Petugas administrasi dan teknis: (1) mengurus administrasi dan surat

menyurat, (2) mengadakan seleksi dan pengadaan bahan bacaan, (3)

melaksanakan pengolahan bahan bacaan, dan (4) melaksanakan

pengembangan bahan bacaan,

3) Petugas layanan: (1) melaksanakan tata tertib, (2) memberikan layanan

TBM, dan (3) melaksanakan administrasi keanggotanaan.

Untuk memahami kembali komponen-komponen yang sudah dijelaskan di

atas, secara ringkas komponen yang ada dalam penyelenggaraan TBM terutama

terdiri dari pola penyelenggaraan, sistem evaluasi, pengelola atau SDM,

dukungan, jaringan kerja sama, motivasi, pembiayaan, koleksi bahan bacaan.

Semua komponen tersebut kondisinya berbeda-beda tergantung dari lembaga

penyelenggara masing-masing. Karena dalam pelaksanaannya, TBM mempunyai


4
kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Sehingga untuk memperjelas pemahaman tentang TBM dan perbedaannya

dengan perpustakaan sebaiknya melihat kembali pengertian perpustakaan menurut

Undang-Undang nomor 43 tahun 2007 dalam Bab I Pasal 1 angka 1 yang

menyatakan bahwa; “Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis,

karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku

guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan


5
rekreasi pemustaka.”

TBM (Taman Bacaan Masyarakat) adalah lembaga pembudayaan

kegemaran membaca masyarakat yang menyediakan dan memberikan layanan di

4
Melati Indri Hapsari. “Analisis Sistemik Penyelenggaraan Taman Bacaan Masyarakat di Kabupaten
Semarang”. Jurnal diakses pada 26 April 2014 dari
http://andragogia.p2pnfisemarang.org/wp- content/uploads/2010/10/andragogia1_2.pdf
5
Ratih Rahmawati dan Blasius Sudarsono. Perpustakaan untuk Rakyat Dialog Anak dan Bapak. (Jakarta:
Sagung Seto, 2012), h. 29
17

bidang bahan bacaan, berupa: buku, majalah, tabloid, koran, komik, dan bahan

multi media lain, yang dilengkapi dengan ruangan untuk membaca, diskusi, bedah

buku, menulis, dan kegiatan literasi lainnya, dan didukung oleh pengelola yang

berperan sebagai motivator. Dalam rangka membangun masyarakat membaca

untuk mewujudkan masyarakat pembelajar sepanjang hayat, arah kebijakan

Pembangunan Pendidikan Nasional 2010-2014 yang tertuang pada Peraturan

Menteri Pendidikan Nasional No.48 Tahun 2010 adalah penguatan dan perluasan

budaya melalui penyediaan taman bacaan masyarakat, bahan bacaan dan sumber
6
informasi lain yang mudah, murah, dan merata serta sarana pendukungnya.

2. Tujuan Taman Bacaan Masyarakat

Tujuan TBM adalah untuk menyediakan akses sarana pembelajaran yang

menyediakan dan memberikan layanan bahan bacaan yang merata, meluas dan

terjangkau oleh masyarakat dengan mudah dan murah. Adapun tujuannya adalah:

a. Meningkatkan kemampuan keberaksaraan dan keterampilan membaca

b. Mengembangkan minat dan kegemaran membaca

c. Membangun masyarakat gemar membaca dan belajar

d. Mendorong terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat

e. Mewujudkan kualitas dan kemandirian masyarakat yang berpengetahuan,


7
berketerampilan, berbudaya maju, dan beradab.

6
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Petunjuk Teknis Pengajuan dan Pengelolaan Taman Bacaan
Masyarakat Bantuan Perluasan dan Penguatan Taman Bacaan Masyarakat (TBM).(Jakarta: Direktorat Pembinaan
Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal, 2012.), h. 4
7
Ibid., h.6
18

3. Fungsi Taman Bacaan Masyarakat

Fungsi yang melekat pada TBM adalah :

a. Sebagai sumber belajar

TBM dengan menyediakan bahan bacaan utamanya buku merupakan

sumber belajar yang dapat mendukung masyarakat pembelajar sepanjang

hayat, seperti buku pengetahuan untuk membuka wawasan, juga berbagai

keterampilan praktis yang bisa dipraktekkan setelah membaca, misal

praktek memasak, budidaya ikan, menanam cabe dan lainnya.

b. Sebagai sumber informasi

TBM dengan menyediakan bahan bacaan berupa Koran, tabloid, referensi,

booklet-leaflet, atau akses internet dapat dipergunakan masyarakat untuk

mencari berbagai informasi.

c. Sebagai tempat rekreasi-edukasi

Dengan buku-buku nonfiksi yang disediakan memberikan hiburan yang

mendidik dan menyenangkan. Lebih jauh dari itu, TBM dengan bahan

bacaan yang disediakan mampu membawa masyarakat lebih dewasa dalam

8
berperilaku dan bergaul di masyarakat lingkungan.

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemanfaatan TBM

Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi terhadap pemanfaatan TBM

adalah :

a. Minat Masyarakat

Faktor minat masyarakat sangat menentukan terhadap pemanfaatan TBM.

Dengan adanya minat masyarakat terutama dalam hal membaca buku-buku

8
Ibid., h. 7
19

yang tersedia di TBM maka dengan sendirinya TBM tersebut turut

membantu kebutuhan masyarakat akan informasi. Apabila sarana dan

fasilitas di TBM lengkap dan baik maka akan bermanfaat sebagaimana yang

diinginkan, terutama minat baca masyarakat terhadap buku-buku di TBM.

TBM dapat menumbuhkan minat baca masyarakat dengan menjadikan

TBM bersifat aktif dan kondusif. TBM dapat mengadakan kelompok baca,

bedah buku, story telling, berbagai macam perlombaan misal: membuat

cerpen, baca puisi dan bedah buku. Untuk merangsang masyarakat agar

rajin berkunjung ke TBM dan meminjam buku, TBM dapat memberikan

hadiah atau penghargaan kepada pengunjung atau anggota TBM yang paling

rajin datang dan meminjam buku yang diadakan secara berkala. Misalnya

tiap semester atau tiap tahun.

b. Tenaga Pengelola

Faktor ini sangat memegang peranan yang sangat menentukan berhasil

tidaknya sebuah TBM. Oleh karena itu untuk membuat TBM yang

bermanfaat sesuai dengan tugas, fungsi dan tujuannya, maka para pengelola,

penyelenggara bisa menyadari akan kepentingan dan kedudukan TBM bagi

masyarakat, memahami keperluan masyarakat dan kemudian menguasai

liku-liku kegiatan dan teknik pekerjaan TBM itu sendiri.

c. Koleksi TBM

Keadaan koleksi TBM sebenarnya erat kaitannya dengan maksud

didirikannya TBM itu sendiri.


20

d. Gedung dan fasilitas TBM

Mengenai keadaan gedung TBM, yang harus diperhatikan adalah letak,

jumlah ruangan dan tata ruangnya. Letak TBM diharapkan strategis

sehingga mudah diakses oleh masyarakat yang menjadi sasaran. Fasilitas

TBM merupakan hal yang penting, selain buku-buku dan bahan pustaka

yang menjadi penunjang bagi masyarakat, yaitu perlengkapan atau fasilitas

yang meliputi rak buku, rak surat kabar, rak majalah, meja sirkulasi,

lemari/kabinet katalog, papan display, papan pengumuman, meja baca dan

perlengkapan lainnya yang digunakan secara tidak langsung. Selain

kelengkapan fasilitas TBM tersebut, yang perlu diperhatikan adalah

penataan ruangan TBM sehingga memberikan kelancaran bagi pengelola

dalam menyelenggarakan TBM, juga pengunjung pada umumnya.

e. Pendanaan dan Pengadaan

Pendanaan adalah masalah yang sering menjadi „momok’ bagi sebagian

pengelola TBM dalam mengembangkan TBM. Dana diperlukan dalam

rangka pertumbuhan dan pengembangan TBM secara global. Agar TBM

yang ada tetap eksis dan senantiasa tidak ditinggalkan oleh masyarakat

penggunanya, maka pemerintah secara concent harus dapat menyuplai dana

secara berkesinambungan. Untuk itu masalah pendanaan ini harus

direncanakan sedini mungkin. Melalui sebuah „assesment’ terhadap koleksi

dan tujuan pengembangan program, sebuah rencana pendanaan dapat

dilakukan dan dikeluarkan dalam sebuah dokumen perencanaan bagi TBM.

Selanjutnya apabila dana tersebut sudah ada maka tugas dari pengelola

TBM untuk merancang dan mengawal penggunaan dana yang ada. Hal itu
21

harus dilakukan sistematis dan sesuai dengan prosedur yang sudah ada.

Kegiatan pendanaan ini sangat erat hubungannya dengan sebuah kegiatan

pengadaan. Pengadaan di TBM dapat meliputi pengadaan koleksi, fasilitas,

ruang, alat maupun lainnya. Kenyataan di lapangan, pendanaan menjadi

faktor penghambat utama dalam penyelenggaraan TBM. TBM yang ada

hanya mengantungkan bantuan sosial dari pemerintah yang jumlahnya

sangat terbatas, bantuan dari penyelenggara. Karena TBM dalam melayani

pengunjung biasanya gratis tanpa dipungut biaya karena yang dilayani

merupakan masyarakat yang kurang mampu sehingga tidak ada pemasukan

sama sekali bagi TBM. Tetapi ada juga TBM yang memunggut biaya
9
peminjaman buku walaupun sangat sedikit untuk biaya perawatan buku.

B. Membaca

1. Definisi Membaca

Membaca adalah kegiatan seseorang dengan menggunakan pengamatan

melalui mata untuk menterjemahkan dan menginterprestasikan tanda atau

lambang di atas kertas atau bahan lainnya. Jadi membaca merupakan proses

ingatan, penilaian, pemikiran, penghayalan, pengorganisasian pemikiran dan

10
pemecahan masalah.

“Membaca adalah hal yang sangat fundamental dalam proses belajar dan
pertumbuhan intelektual. Kualitas hidup seseorang dapat dilihat dari
bagaimana seseorang dapat memaksimalkan potensinya. Salah satu upaya
untuk memaksimalkan potensi diri adalah dengan membaca. Dengan
membaca maka akan memperoleh informasi, dimana informasi diproduksi
keseluruh dunia melalui media cetak dan elektronik. Sementara dengan
9
Melati Indri Hapsari. “Analisis Sistemik Penyelenggaraan Taman Bacaan Masyarakat di Kabupaten
Semarang”. Jurnal diakses pada 26 April 2014 dari
http://andragogia.p2pnfisemarang.org/wp- content/uploads/2010/10/andragogia1_2.pdf
10
Khotijah Samsul. “Strategi Pengembangan Minat dan Kegemaran Baca”. Artikel diakses pada 22 Januari 2014
dari http://e-dokumen.kemenag.go.id/files/G4pKDLun1338123296.pdf
22

dibuktikannya kemajuan teknologi maka tradisi lisan beralih ke tradisi


tulisan dan persebaran naskah tulisan semakin meluas, dengan membaca
seseorang dapat menambah informasi dan memperluas ilmu pengetahuan
serta kebudayaan. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi apabila melek
huruf menjadi salah satu indikator dalam indeks pembangunan yang akan
11
mengukur kualitas suatu negara.

“Menurut Ratnaningsih, membaca adalah memperoleh pengertian dari


kata-kata yang ditulis orang lain dan merupakan dasar dari pendidikan
awal. Dalam proses pembelajaran yang paling banyak dilakukan adalah
kegiatan membaca, karena dengan membaca itulah orang bisa
mendapatkan informasi, berita serta ilmu pengetahuan, yang tentunya akan
menambah ilmu dan wawasan seseorang yang sekaligus dapat
12
berpengaruh terhadap kemajuan dan perkembangan bangsa.”

“Reading is a basic skill which should be developed at an early age and

nurtured continuously to help individuals become lifelong learners. One

established way for improving the overall reading skills is through

encouraging leisure reading”.

“Membaca merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan pada

usia dini dan dipelihara terus menerus untuk membantu individu menjadi

pembelajar seumur hidup. Satu cara untuk meningkatkan kemampuan

13
membaca ialah dengan menciptakan kondisi baca yang menyenangkan.”

Membaca sangat penting untuk pengembangan kualitas hidup manusia.

Membaca juga dapat membawa seseorang ke suasana masa lalu, masa depan dan

menjadi gerbang bagi seseorang untuk melihat dunia. Sebagaimana islam

mengajarkan kepada ummatnya yaitu wahyu pertama yang diturunkan kepada

11
Melati Indri Hapsari. “Analisis Sistemik Penyelenggaraan Taman Bacaan Masyarakat di Kabupaten
Semarang”. Jurnal diakses pada 26 April 2014 dari
http://andragogia.p2pnfisemarang.org/wp- content/uploads/2010/10/andragogia1_2.pdf
12
Perpustakaan Nasional RI. Kajian Pembudayaan Kegemaran Membaca. (Jakarta: Perpustakaan Nasional RI,
23

2011), h.6
13
Shaheen Majid. “Understanding the Reading Habits of Children in Singapore.” Jurnal diakses pada 8 April
2014 dari http://www.vnseameo.org/zakir/Understanding-the-reading-habits-of-children-in-singapore.pdf
Rasulullah SAW yaitu perintah untuk membaca. Dengan membaca maka akan

melahirkan generasi-generasi yang cerdas dan meningkatkan angka minat baca

menjadi peringkat yang lebih baik di belahan dunia, dari hasil membaca seseorang

dapat menambah kosa kata dalam berinteraksi dan bersosialisasi, dari hasil

membaca seseorang dapat mahir dalam membuat tulisan, dengan membaca

seseorang bisa menjadi seorang ilmuwan atau cendikiawan dan banyak manfaat

dari hasil membaca.

Informasi dari hasil membaca seseorang akan terus bertambah jika

dibiasakan dan seseorang akan merasa haus akan informasi. Membaca merupakan

proses penyerapan informasi yang lebih efektif dari pada mendengar. Hal ini akan

berpengaruh positif terhadap kreativitas seseorang.

2. Fungsi Membaca

Membaca pada umumnya memiliki fungsi sosial yakni:

a) Achievement reading, yakni membaca untuk memperoleh keterampilan

tertentu.

b) Devotional reading, yakni membaca sebagai kegiatan ibadah.

c) Cultural reading, artinya membaca sesuatu yang terkait dengan ibadah.

14
d) Compensatory reading, yakni membaca untuk kepuasan pribadi.

3. Manfaat Membaca

Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang

harus dikuasai setiap individu. Dengan membaca, kita akan mendapatkan banyak

manfaat di antaranya mengetahui perkembangan yang terjadi, memenuhi

kebutuhan intelektual, spiritual dan emosional. Membaca dapat membuat kita


14
Perpustakaan
2Nasional RI.
hKajian
Pembudayaan
Kegemaran
Membaca.
(Jakarta:
Perpustakaan
Nasional RI,
memperoleh suatu informasi berdasarkan analisis pikiran kita sendiri. Dengan

banyak membaca berarti akan membantu seseorang untuk melatih kemampuannya

menuangkan suatu gagasan atau pesan terhadap apa yang dilihat, didengar dan

dirasakan ke dalam sebuah tulisan. Manfaat membaca ini ternyata belum

dirasakan betul oleh sebagian besar masyarakat, dimana terlihat bahwa minat dan

kemampuan membaca bangsa kita rendah. Di sisi lain, membaca merupakan

jendela untuk mendapatkan pengalaman, memperbaiki wawasan, dan


15
mempertajam daya nalar.

Membaca memiliki manfaat dan banyak makna. Dengan banyak membaca

kita akan memperoleh pengalaman dan pelajaran dari orang lain. Bahkan dengan

membaca buku, seseorang dapat terhindar dari kerusakan jaringan otak di masa

16
tua. Beberapa manfaat membaca antara lain:

a. Merangsang Sel-Sel Otak

Membaca merupakan proses berpikir positif karena menyerap ide dan

pengalaman orang lain. Kegiatan ini akan merangsang sel-sel otak. Otak

sebagai pengatur kegiatan manusia memiliki struktur dan sifat yang unik,

misteri, dan penuh keajaiban. Otak memegang peran penting dalam

kehidupan intelektual karena seluruh saraf diatur oleh otak ini. Maka otak

perlu dijaga vitalitasnya, dijaga kesegarannya, dan dicegah proses

penuaannya. Penuaan dan penyusutan otak sebenarnya dapat dikurangi

bahkan bisa dicegah. Secara medis, kesegaran dan vitalitas otak dapat

diatasi dengan cara mengatur pola makanan yang bergizi seimbang.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi beragam makanan

15
Muhammad Syarif Bando. Jadikan Membaca Sebagai Kebiasaan Sehari-hari. (Jakarta : Koran Tempo, 2014)
16
Lasa HS. “Peran Perpustakaan dan Penulis Dalam Peningkatan Minat Baca Masyarakat”. Visi Pustaka.
Volume 11 Nomor 2 Agustus 2009. h. 8
sayuran dan buah-buahan segar dapat mencegah penuaan dini dan

memperbaiki kemampuan kognitif otak. Secara psikologis, agar otak terjaga

vitalitasnya, hendaknya digunakan untuk berpikir positif, rasional, obyektif,

khusnudzhan, dan rileks. Oleh karena itu perlu dijauhi pola pikir yang

negatif, subyektif, dan emosional. Sebab pikiran-pikiran itu dapat

menimbulkan stress dan merusak kesehatan. Orang yang mampu

mengoptimalkan kerja intelektual otak dengan menghasilkan pemikiran

yang positif (buku, artikel, kebjakan dll), inovatif,dan membawa

kemaslahatan manusia adalah orang yang mampu memperpanjang usia otak

secara fisik dan psikologis.

b. Menumbuhkan Kreativitas

Dengan membaca kita memeroleh wawasan, pandangan, penemuan, dan

pengalaman orang lain. Hasil bacaan ini kemudian kita renungkan dan

pikirkan untuk dipraktekan dan dikembangkan. Cara baca inilah sebenarnya

merupakan cara baca yang berkualitas. Sebab dalam proses baca ini tidak

saja terjadi proses penyerapan informasi, tetapi ada proses seleksi,

pengolahan, dan usaha kreatif untuk dikembangkan. Maka dapat dipahami

bahwa mereka yang kreativitasnya menonjol, rata-rata memiliki

kemampuan baca yang tinggi. Hanya orang-orang yang kreatif dan

beranilah yang mampu membawa perubahan.

c. Meningkatkan Perbendaharaan Kata

Banyaknya kata-kata yang diserap seseorang memengaruhi kelancaran

komunikasi lisan maupun tertulis. Maka membaca sebagai upaya

penyerapan kosakata, pengetahuan tata bahasa, dan pengenalan ungkapan


merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perbendaharaan kata.

Dengan membaca kita mengenal; persuasi, implikasi, sifat nada, unsur

ekspresi lain. Unsur-unsur ini sangat penting bagi mereka yang bergerak di

dunia kesenian, keilmuan, pendidikan, dan kemasyarakatan.

d. Membantu Mengekpresikan Pemikiran

Banyak orang yang lancar berbicara, ceramah, orasi, dan ngobrol dalam

mengekspresikan pemikirannya. Tetapi begitu sedikitnya orang yang

mampu menulis dengan baik. Hal ini sangat mungkin disebabkan kurangnya

proses baca. Ekspresi melalui tulisan berbeda dengan ekspresi melalui lisan.

Kegiatan menulis memerlukan penguasaan materi, pemilihan kata,

perenungan masalah, dan penyusunan kalimat. Semua kegiatan ini

dilakukan dengan cermat, teliti, dan penuh pertimbangan. Maka kualitas dan

kuantitas bacaan akan memengaruhi kualitas tulisan.

C. Minat Baca

1. Definisi Minat Baca

“Mengingat “minat” per-definisi adalah dorongan hati yang tinggi untuk


melakukan sesuatu, maka “minat baca” adalah dorongan hati yang tinggi
untuk membaca. Keinginan membaca bukan karena ada faktor eksternal
sebagai pemaksa untuk membaca, melainkan karena ada faktor internal
sebagai pendorong untuk membaca. Faktor internal itu ialah keinginan
untuk mendapat pengalaman yang menyenangkan dari kegiatan
17
membaca.

Baca adalah ba.ca [v] , mem.ba.ca v (1) melihat serta memahami isi dari
18
apa yg tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati).

17
Melling Simanjuntak. “Memaknai Hakikat Minat Baca untuk Tujuan Praktis”. Visi Pustaka. Volume 13 No.3
Desember 2011. h. 47
18
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Diakses pada tanggal 23 April 2014 dari
www.KamusBahasaIndonesia.org
Dengan demikian minat baca berarti adanya perhatian atau kesukaan

(kecendrungan hati) untuk membaca. Perhatian atau kesukaan untuk membaca

perlu dipupuk, dibina, diarahkan dan dikembangkan dari sejak dini mulai dari

masa bayi dan pra sekolah (0-5 tahun), masa anak sekolah (6-12 tahun), masa

remaja (13-18 tahun) sampai masa dewasa yang melibatkan peranan orang tua,
19
sekolah dan masyarakat.

“Reading behavior and interest are obtained skill after someone born.
So, reading behavior and interest can be fertilized, build, and developed.
With reading interest will be obtained a result, information, meaning, skill
knowledge, motivation or fact as a served by reading matter. The
substance has been read very useful for reader self development, family
and wider community. Beside it, from reader result will also built a value
at time attitude, objective attitude in discuss a problem, make important
fact or information, and others. Reading interest building is needed to do
early starting from family, school surroundings and further in community
20
surrounding.”

“Perilaku dan minat membaca diperoleh setelah seseorang lahir. Jadi,


perilaku dan minat baca dapat dipupuk, dibangun, dan dikembangkan.
Dengan minat baca akan diperoleh informasi, makna, pengetahuan
keterampilan, motivasi atau fakta yang disajikan dengan materi bacaan.
Bahan bacaan berguna untuk pengembangan diri pembaca, keluarga dan
lebih luas lagi masyarakat. Selain itu, dari hasil membaca juga akan
membangun sikap menghargai waktu, sikap objektif dalam membahas
masalah, membuat fakta penting atau informasi, dan lain-lain. Minat baca
dibangun mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan dan lebih lanjut dalam
masyarakat sekitar.”

2. Menumbuhkan dan Meningkatkan Minat Baca


Menumbuhkan adalah Me-num-buh-kan [v] menjadikan (menyebabkan)

tumbuh, memelihara dan sebagainya supaya tumbuh (bertambah besar, sempurna,

dan sebagainya); memperkembangkan; menimbulkan (kebencian, perselisihan,

19
Syamsul Bahri. Pedoman Pembinaan Minat Baca. (Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2009), h.8
20
Heri Hidayat dan Siti Aisah. “Read Interest Co-Relational With Student Study Performance In
IPS Subject Grade IV (Four) In State Elementary School 1 Pagerwangi Lembang”. Artikel diakses pada 8
April 2014 dari http://www.ijstr.org/final-print/jan2013/Read-Interest-Co-relational-With-Student-
Study- Performance-In-Ips-Subject-Grade-Iv-Four-In-State-Elementary-School-1-Pagerwangi-Lembang.pdf
21
dan sebagainya). Menumbuhkan minat baca yaitu menjadikan, memelihara,

mengembangkan, menimbulkan keinginan untuk membaca sehingga menjadikan

seseorang bertambah wawasannya dan dengan membaca menjadi pengalaman

yang menyenangkan bagi seseorang. Minat baca ibarat bibit yang jika ditanam

pada lahan yang tepat akan tumbuh menjadi kebiasaan membaca dan pada

waktunya akan berbuahkan budaya baca. Sebagai bibit, minat baca harus ditanam

dan dipelihara agar tumbuh menjadi minat baca.

Meningkatkan adalah Me-ning-kat-kan [v] menaikkan (derajat, taraf, dan

sebagainya); mempertinggi; memperhebat (produksi dan sebagainya);

22
mengangkat diri; memegahkan diri. Dengan meningkatkan keinginan membaca

maka akan melahirkan sebuah kebutuhan dari kegiatan membaca dan bukan hanya

sebuah pengalaman membaca yang menyenangkan, tetapi bisa menjadi kebiasaan

dan budaya membaca.

3. Faktor Pendukung Minat Baca


a. Faktor Internal

Secara umum, terdapat dua faktor yang mempengaruhi tinggi

rendahnya minat baca yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor

internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seperti pembawaan,

kebiasaan dan ekspresi diri.

Faktor internal meliputi intelegensi, usia, jenis kelamin,

kemampuan membaca, sikap, serta kebutuhan psikologis. Intelegensi

merupakan kemampuan keseluruhan atau global individu untuk bertindak

21
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Diakses pada tanggal 23 April 2014 dari
www.KamusBahasaIndonesia.org
22
Ibid
sesuai dengan tujuan, berpikir logis atau rasional, dan berbuat secara

efektif terhadap keadaan.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal meliputi belum tersedianya bahan bacaan yang

sesuai, status sosial, ekonomi, kelompok etnis, pengaruh teman sebaya,

orang tua, guru, televisi, serta film. Belum tersedianya bahan bacaan

yang sesuai, maksudnya masih memilih-milih bahan bacaan, padahal,

sebetulnya untuk dapat meningkatkan minat membaca, tidak harus

membaca buku yang sangat kita senangi, karena dengan cara membaca

bahan bacaan apapun, secara tidak langsung kita sedang melatih diri agar

terbiasa untuk membaca, sehingga kita akan senang membaca, karena

membaca adalah untuk mendapat informasi, dan informasi itu dapat

diperoleh dari berbagai macam bahan bacaan.

Dalam rangka menumbuhkan minat membaca sebagai suatu

kebiasaan, maka proses terbentuknya kebiasaan membaca memakan

waktu yang cukup lama, karena proses terbentuknya minat baca

seseorang selain dipengaruhi oleh faktor-faktor yang telah disebutkan

diatas, juga secara khusus dipengaruhi oleh sosio-psikologis.

Informasi yang mendukung dalam belajar adalah berupa bahan-

bahan yang tertulis yang mengharuskan kegiatan membaca sehingga apa

yang dibutuhkan dapat tercapai. Sebagai sarana membaca, perpustakaan

merupakan sumber informasi dan pengetahuan yang mengantar

pemustaka ke dunia yang lebih luas, sebagai media yang dapat

menghubungkan segala peristiwa pada masa lalu, sekarang dan masa


yang akan datang. Keberadaan perpustakaan sangat diperlukan karena

perpustakaan dapat memberikan segala kebutuhan akan minat, khususnya

23
minat dalam membaca koleksi-koleksi perpustakaan.

4. Faktor Penghambat Minat Baca

Kelompok masyarakat yang memiliki minat dan budaya baca rendah

disebabkan karena:

a. Akses informasi dari dan ke perpustakaan (sumber-sumber bacaan)

terbatas.

b. Tingkat pendidikan masyarakat yang masih banyak di bawah standar.

c. Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang kurang menguntungkan

sehingga mempengaruhi daya beli mereka terhadap bahan bacaan

d. Layanan perpustakaan kepada masyarakat yang belum merata, dan

e. Apresiasi dan respon masyarakat terhadap perpustakaan yang masih

24
rendah.

Faktor tersebut dapat terpelihara melalui sikap-sikap, bahwa dalam diri

tertanam komitmen membaca memperoleh keuntungan ilmu pengetahuan,

wawasan atau pengalaman dan kearifan. Terwujudnya kondisi yang mendukung

minat baca, adanya tantangan dan motivasi untuk membaca, serta tersedianya

waktu untuk membaca, baik di rumah, perpustakaan ataupun di tempat lain.

Dalam masyarakat kita yang telah berkembang budaya tutur, oral atau lisan, maka

masih membutuhkan tekad dan semangat untuk mengubahnya menjadi budaya

23
Teguh Yudi Cahyono. “Peran Perpustakaan dalam Membina Kemampuan dan Minat Baca.” Artikel diakses
pada 14 November 2014 dari http://118.97.219.90/images/stories/pustakawan/pdfteguh/kemampuan dan minat baca.pdf.
24
Perpustakaan Nasional RI. Kajian Pembudayaan Kegemaran Membaca. (Jakarta: Perpustakaan
Nasional RI, 2011), h. 6
baca-tulis. Namun yang paling penting adalah bahwa hal itu seharusnya dimulai

25
dengan tindakan nyata, tidak terbatas wacana atau discourses.

D. Upaya Pembinaan Minat Baca

Upaya n usaha; ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan

persoalan, mencari jalan keluar, dsb); daya upaya: -- menegakkan keamanan patut

26
dibanggakan.

Menurut Intruksi Presiden no. 15 tahun 1974, tanggal 13 September 1974,

pasal 4 bahwa yang dimaksud dengan pembinaan minat baca mencakup

perencanaan, pengaturan, pengendalian, dan penilaian terhadap kegiatan

27
penumbuhan dan pengembangan minat baca.

Pembinaan minat baca adalah usaha yang dilakukan untuk meningkatkan

minat dan kebiasaan membaca masyarakat, antara lain dengan cara

memperbanyak dan menyebarluaskan secara merata jenis-jenis koleksi yang

dipandang dapat meningkatkan minat dan kebiasaan membaca serta mendorong

masyarakat untuk mendapatkan koleksi yang ada.

1. Tujuan Pembinaan Minat Baca

a. Tujuan Umum

Tujuan pembinaan minat baca adalah untuk menciptakan masyarakat

membaca (Reading Society), masyarakat belajar (Learning Society)

dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (Nation Educated) yang

ditandai dengan terciptanya sumber daya manusia (SDM) yang

25
Sutarno NS. Perpustakaan dan Masyarakat. (Jakarta: Sagung Seto, 2006). h. 29
26
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Diakses pada tanggal 2 April 2014 dari http://kbbi.web.id/upaya
27
Mudjito. Pembinaan Minat Baca. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2001), h. 61
berkualitas sebagai piranti pembangunan nasional menuju masyarakat

madani (Civil Society).

b. Tujuan Khusus

1) Mewujudkan suatu sistem untuk menumbuhkan minat baca yang

sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

2) Menyelenggarakan program untuk menumbuhkan minat baca yang

sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan.

3) Menggerakan dan menumbuhkan minat baca semua lapisan

masyarakat.

4) Mengusahakan penyediaan berbagai jenis koleksi yang terjangkau dan

sesuai dengan kebutuhan masyarakat melalui taman bacaan

masyarakat.

2. Ciri-Ciri Pembinaan Minat Baca

a. Pembinaan minat baca merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Hal

ini mengandung arti bahwa kegiatan minat baca bukan merupakan suatu

kegiatan yang dilakukan secara kebetulan, incidental, sewaktu-waktu,

tidak sengaja, asal saja dan sebagainya, melainkan suatu kegiatan yang

dilakukan secara sistematis, sengaja, berencana continue, dan terarah

kepada tujuan. Setiap kegiatan pembinaan minat baca merupakan

kegiatan yang berkelanjutan, artinya senantiasa diikuti terus-menerus

sampai sejauh mana pengguna perpustakaan berkembang minat bacanya.

b. Pembinaan minat baca merupakan suatu proses untuk membantu individu

agar minat bacanya tumbuh dan berkembang. Berarti bukan suatu

paksaan pembinaan minat baca tidak memaksakan seseorang untuk


menuju ke arah tujuan yang sesuai dengan yang ditetapkan oleh

pembinaan minat baca, melainkan membantu atau menolong,

mengarahkan seseorang atau sekelompok orang ke arah suatu tujuan

yang sesuai dengan minat mereka masing-masing. Jadi yang menentukan

pilihan dalam buku-buku atau bahan yang akan dibaca adalah individu

atau kelompok individu itu sendiri.

c. Pembinaan yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu

adalah untuk meningkatkan minat bacanya, baik individu itu berupa

anak-anak, remaja maupun dewasa. Dengan demikian kalau ada pendapat

bahwa pembinaan minat baca hanya untuk individu yang masih anak-

anak saja adalah pendapat yang kurang tepat, karena yang memerlukan

pembinaan minat baca ada hakikatnya bukan hanya anak-anak saja,

melainkan setiap individu, meskipun dalam situasi tertentu anak-anak

akan membutuhkan pembinaan lebih banyak dibandingkan dengan

individu-individu lainnya.

d. Pembinaan yang diberikan agar individu dapat mengembangkan minat

bacanya secara maksimal. Setiap individu mempunyai minat yang

berbeda-beda dengan individu lainnya. Individu seringkali banyak

menghadapi kesulitan dalam mengembangkan diri dan kemampuannya.

Pembinaan minat baca membantu agar setiap individu dapat

mengembangkan kemampuannya secara maksimal dan sebaik-baiknya.

Ini berarti bahwa individu harus dapat memahami apa yang disukainya

dalam memilih buku-buku yang dibacanya. Pustakawan dapat

mengerahkan individu untuk mengembangkan dirinya semaksimal


mungkin dengan membaca buku-buku yang disediakan oleh

perpustakaan.

e. Untuk pelaksanaan pembinaan minat baca diperlukan adanya personal

(petugas) baik pustakawan maupun petugas lainnya yang memiliki

keahlian dan pengalaman khusus dalam membina minat baca. Ini berarti

bahwa meskipun pembinaan minat baca dapat dilakukan oleh sembarang

orang, tetapi juga memerlukan pembimbing atau petugas yang memiliki

syarat-syarat dan kualifikasi tertentu, terutama pendidikan, latihan dan

pengalaman. Itu dapat dilakukan oleh petugas perpustakaan yang

professional. Karena itu setiap pustakawan harus mempunyai profesi


28
tersebut.

Agar tercapainya usaha pembinaan minat baca tersebut maka diperlukan

adanya kerjasama yang baik dengan berbagai instansi atau unsur terkait, yaitu;

masyarakat, guru, pengarang, penerbit, toko buku serta pustakawan dan

organisasi/praktisi baik dari pihak swasta terlebih pemerintah, baik di tingkat

pusat maupun daerah.

E. Upaya Pembinaan Minat Baca di Taman Bacaan Masyarakat

Bangsa yang maju dapat dilihat dari kebiasaan dan minat baca

masyarakatnya. Dalam hal ini, perpustakaan berfungsi sebagai media yang

memfasilitasi masyarakat untuk membaca. Perpustakaan sebagaimana yang ada

dan berkembang sekarang telah dipergunakan sebagai salah satu pusat informasi,

sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khazanah budaya

28
Ibid., h.74
bangsa, serta memberikan layanan jasa lainnya. Mengingat betapa pentingnya

fungsi perpustakaan bagi kemajuan suatu bangsa, pemerintah saat ini sudah

29
melakukan berbagai upaya. Maka upaya pembinaan minat baca di Taman

Bacaan Masyarakat menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan

memberikan dorongan kepada masyarakat untuk meningkatkan minat baca.

Idealnya, minat baca ditanamkan sejak anak dalam asuhan orang tua ketika

mereka belum memasuki bangku sekolah. Kemudian, minat ini ditumbuhkan

mengikuti perkembangan dan pendidikan anak selanjutnya, baik melalui kegiatan-

kegiatan yang diadakan di perpustakaan sekolah maupun kunjungan ke

perpustakaan umum. Dan seyognya kunjungan ke perpustakaan ini tidak

semestinya dihentikan walaupun seorang anak kemudian tumbuh menjadi


30
manusia dewasa yang telah menyandang sebuah profesi.

Hal yang masih berkaitan dalam upaya pembinaan minat baca dan sama

pentingnya dalam rangka meningkatkan minat baca adalah dengan mengadakan

program-program yang dilakukan untuk menarik minat membaca. Program yang

dilaksanakan untuk menarik anak datang ke perpustakaan dan sekaligus secara tak

langsung memberitahukan kepada masyarakat sekitar akan adanya perpustakaan

di kawasan tempat tinggal mereka. Program tersebut yaitu:

1. Mula-mula melalui acara yang tidak ada kaitan secara langsung dengan

buku, tetapi karena dilaksanakan di perpustakaan maka diharapkan anak

akan tertarik melihat-lihat dan akhirnya membaca buku.

a. Menyelenggarakan kelas melukis, pameran lukisan dan lomba melukis.

29
Daniel Hermawan.”KOMPAS (Komunitas Pembaca Setia) : Peran Masyarakat Sebagai Agent of Change
dalam Pengembangan Perpustakaan”. Visi Pustaka. Volume 12 Nomor 3 Desember 2010, h. 7
30
Murti Bunanta. Buku, Mendongeng dan Minat Membaca. (Jakarta: Kelompok Pecinta Bacaan Anak, 2008), h.
121.
b. Menyelenggarakan kelas seni: musik, tari, drama, dan nyanyi.

c. Menyelenggarakan kelas pekerjaan tangan: membuat berbagai prakarya.

d. Mengadakan kelas permainan, catur, kuis, congklak, dan lain-lain.

e. Pemutaran film/video untuk anak dan remaja.

2. Mengadakan acara langsung yang langsung berhubungan dengan buku.

a. Kegiatan mendongeng secara langsung tanpa alat peraga atau dengan

jalan membacakan cerita. Kegiatan ini bisa melibatkan anak dengan

memintanya ikut menjadi salah satu tokoh. Bisa juga mendongeng

dengan boneka atau alat peraga.

b. Kegiatan membicarakan buku/berdiskusi setelah acara mendongeng, baik

mengenai buku yang bersangkutan ataupun mengenai buku dengan tema

sejenis untuk memperluas wawasan anak.

c. Mengadakan kegiatan penelitian kecil-kecilan untuk meningkatkan rasa

ingin tahu dan menyalurkan kreativitas anak terutama setelah membaca

buku non-fiksi.

d. Pameran buku dengan tema-tema tertentu misal cerita petualangan, cerita

tentang hantu, humor, dan sebagainya.

e. Mengadakan pameran buku secara teratur misalnya datang buku baru.

Pameran buku juga bisa dilakukan untuk memperingati berbagai

31
peristiwa.

Dalam hal ini setiap kelompok usia dibedakan jenis bacaan yang

dibutuhkannya. Jika dilihat dari tabel di bawah ini terlihat bahwa pola pembinaan

31
Ibid., h. 99
untuk semua jenis usia tidak berbeda banyak. Tetapi strategi dan format

32
pembinaannya perlu dibedakan diantara kelompok usia tersebut.

Tabel 2.

Pola Pembinaan Minat Baca


USIA LINGKUNGAN JENIS BACAAN
1-3 Bimbingan  Untuk anak-anak : alat-alat
Tahun Keluarga yang mengandung unsur
pendidikan, buku bacaan yang
amat sederhana (satu, dua kata,
gambar, warna-warni)

4-6 Taman kanak-  Alat-alat bermain yang


Tahun kanak, mengandung unsur pendidikan.
Pendidikan Usia  Bacaan ringan (bahasa yang
Dini (PAUD) amat mudah difahami,
bergambar/berwarna)
 Bahan alat peraga belajar
menghitung dan membaca
sesuai dengan tingkat usia dan
pemahamannya
7-12 Sekolah Dasar  Bacaan ringan (bergambar/tidak
Tahun bergambar)
1  Majalah populer/hiburan
Kebiasaan
 Surat kabar (harian/mingguan)
Membaca
2 terbitan pusat dan daerah

13-18 SLTP/SLTA  Buku cerita fiksi/novel


Tahun  Majalah hiburan dan olahraga
 Surat kabar (harian/mingguan)
terbitan pusat dan daerah
≥ 19 Mahasiswa/masya  Buku cerita/novel
Tahun rakat  Majalah hiburan dan olahraga
 Surat kabar (harian/mingguan)
terbitan pusat dan daerah
 Buku-buku ilmu pengetahuan,
agama, sejarah dll.
*) Ket : 1 = Taman Bacaan
2 = Perpustakaan

32
Perpustakaan Nasional RI. Kajian Pembudayaan Kegemaran Membaca. (Jakarta: Perpustakaan Nasional RI,
2011), h.15
Kebijakan pembinaan minat baca masyarakat diarahkan melalui lima jalur

sebagai berikut:

1. Pembinaan melalui jalur rumah tangga berkeluarga; Pembinaan Minat Baca

melalui jalur rumah tangga merupakan tanggung jawab orang tua terhadap

anak-anak bahkan terhadap semua anggota keluarga termasuk dalam

lingkungan keluarga tersebut;

2. Pembinaan melalui jalur masyarakat dan lingkungan (luar sekolah);

Pembinaan Minat Baca melalui jalur masyarakat dan lingkungan (luar

sekolah) merupakan tanggung jawab tokoh-tokoh masyarakat, Ketua

RT/RW, Lurah/Kepala Desa, Camat dan Muspida setempat;

3. Pembinaan melalui jalur pendidikan (sekolah); Pembinaan Minat Baca

melalui jalur pendidikan (sekolah) merupakan tanggung jawab Kepala

Sekolah, Guru, termasuk Orang Tua Murid;

4. Pembinaan melalui jalur instansional (perkantoran); Pembinaan Minat Baca

melalui jalur Instansional (perkantoran Pemerintah ataupun swasta) menjadi

tanggung jawab instansi dan perangkat pimpinan pada instansi tersebut;

5. Pembinaan melalui jalur instansi secara fungsional (Perpustakaan Nasional,

Badan Perpustakaan Provinsi dan Kantor Perpustakaan Kabupaten/Kota);

Pembinaan Minat Baca melalui jalur instansi secara fungsional merupakan

tanggungan secara nasional dari instansi pembina dalam hal ini.

Perpustakaan Nasional RI, Badan Perpustakaan Provinsi serta Kantor

Perpustakaan Kabupaten/Kota. Perpustakaan Nasional merupakan


penggerak utama terhadap semua (ke-empat) jalur di atas sebagai pemberi

33
motivasi, bimbingan teknis, perencanaan, program dan sebagainya.

Dalam uraian tersebut telah dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan

upaya pembinaan minat baca adalah serangkaian kegiatan sebagai suatu sistem

meliputi perencanaan program, pengaturan pelaksanaan program, pengendalian

pelaksanaan program, serta penilaian pelaksanaan program di bidang penumbuhan

dan pengembangan minat baca. Oleh karena itu dalam pembinaan minat baca

telah direncanakan segala sesuatu yang menyangkut program kegiatan

penumbuhan dan pengembangan minat baca, pembiayaan, infrastruktur yang

diperlukan, ketenagaan yang terlibat di dalamnya, penyiapan bahan bacaan yang

diperlukan, penentuan waktu pelaksanaan program, survey dalam rangka penilaian

pelaksanaan program.

Mengingat pentingnya pembinaan minat baca untuk menumbuhkan

perhatian dan kesukaan membaca, maka fungsi pembinaan minat baca terutama

sebagai berikut:

a. Sumber terhadap pelaksanaan kegiatan menumbuhkan minat baca

b. Pedoman atau referensi terhadap kegitan-kegiatan yang dilakukan dalam

menumbuhkan minat baca

c. Tolak ukur atau parameter terhadap keberhasilan menumbuhkan minat

baca.

Dengan demikian pembinaan minat baca sekurang-kurangnya mempunyai

tiga fungsi, yaitu sebagai sumber kegiatan, pedoman pelaksanaan kegiatan, dan

sekaligus sebagai tolak ukur atau parameter terhadap keberhasilan upaya

33
Syamsul Bahri. Pedoman Pembinaan Minat Baca. (Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2009), h.28
menumbuhkan minat baca. Agar fungsi minat baca tersebut dapat diwujudkan,

maka:

a. Penyusunan program agar dibuat secara komprehensif, yang meliputi

berbagai aspek yang terkait

b. Program tersebut perlu didukung kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan

seperti dana, bahan bacaan, tenaga yang membina, dan lain-lain

c. Program tersebut perlu dipantau pelaksanaannya, agar tidak menyimpang

dari program yang telah dilaksanakan

d. Pelaksanaan program perlu diteliti dan dinilai apakah mencapai

34
sasarannya atau tidak.

F. Penelitian Relevan

Penelitian ini terinspirasi dari penelitian yang dilakukan beberapa tahun

sebelumnya, yaitu:

1. Peran Perpustakaan Komunitas dalam Pemberdayaan Masyarakat

Studi Kasus Sanggar Baca Jendela Dunia yang di tulis oleh Nia Eka Sari

Juliana, Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang mengambil gelar sarjana

tahun 2013. Perbedaan penelitian saya dengan penelitian ini adalah dari

judul penelitiannya yang berbeda. Hasil dari penelitian ini adalah untuk

mengetahui peran Sanggar Baca Jendela Dunia dalam pemberdayaan

masyarakat melalui program-program di bidang pendidikan dan keagamaan

bagi anak-anak dan keterlibatan masyarakat dalam program-program

34
Mudjito. Pembinaan Minat Baca. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2001), h. 69
pemberdayaan masyarakat tersebut serta solusi dari kendala-kendala yang

dihadapi oleh Sanggar Baca Jendela Dunia. Persamaan penelitian saya

dengan penelitian ini adalah lokasi penelitiannya yang serupa, jenis dan

pendekatan penelitiannya yang serupa yaitu penelitian deskriptif dengan

pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus, informan serta teknik

pengambilan sampling yaitu purposive sampling.

2. Minat dan Kebiasaan Membaca Anak di Lingkungan Rumah Pintar

Bhara Cendekia 1 yang di tulis oleh Erawati, Mahasiswa Jurusan Ilmu

Perpustakaan dan Informasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta yang mengambil gelar sarjana tahun 2012. Perbedaan penelitian ini

dengan penelitian saya ialah dari judul penelitian ini mengenai Minat dan

Kebiasaan Membaca sedangkan penelitian yang saya lakukan mengenai

Upaya Pembinaan Minat Baca, lokasi penelitiannya yang berbeda, jenis dan

pendekatan penelitiannya yang berbeda, teknik pengambilan sample yang

dilakukan penelitian ini adalah accidental sampling, peneliti akan mengkaji

hal-hal mengenai minat baca anak seperti jenis-jenis bahan bacaan yang

dibaca, koleksi buku yang diminati anak dan alasan anak membaca.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya ialah pembatasan dan

perumusan masalah yang sedikit menyerupai.

3. Upaya Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Melalui Taman Bacaan

Masyarakat Area Publik Di Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten

Semarang yang ditulis oleh Juniawan Hidayanto, Mahasiswa Jurusan

Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Semarang yang mengambil


gelar sarjana tahun 2013. Perbedaan penelitian saya dengan penelitian ini

ialah judul yang diangkat dari penelitian ini yaitu mengenai Upaya

Meningkatkan Minat Baca Masyarakat sedangkan penelitian yang saya

lakukan ialah Upaya Pembinaan Minat Baca, latar penelitiannya yang

berbeda. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang saya lakukan ialah

pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Permasalahan penelitian

yang serupa. Hasil dari penelitian ini adalah Upaya yang dilakukan oleh

Taman Bacaan Masyarakat dengan melakukan berbagai upaya yang antara

lain dengan melakukan berbagai kegiatan literasi dan usaha kreatif, kendala

yang dialami antara lain kurangnya pendampingan dan ruang atau tempat

tempat menyimpan buku yang kurang luas, Solusi dalam meminimalisir

kendala dengan melakukan berbagai kegiatan dan usaha produktif sehingga

masyarakat lebih sering dan tidak canggung dalam mengunakan layanan

TBM Area Publik.


BAB III METODE

PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis dari penelitian ini adalah deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan

untuk menggambarkan sifat sesuatu yang berlangsung, dengan tujuan agar objek

yang dikaji dapat dibahas secara mendalam. Penelitian ini difokuskan pada

wawancara mendalam, studi dokumentasi, serta observasi langsung terhadap

1
objek penelitian.

Pemilihan pendekatan penelitian disesuaikan dengan jenis penelitian yang

dipergunakan, pada kesempatan ini pendekatan penelitian yang akan

dipergunakan adalah pendekatan kualitatif, karena tujuan utama penelitian

kualitatif adalah untuk memahami “makna” yang berada di balik fakta-fakta itu.

Taman Bacaan Masyarakat yang terdapat di Tangerang Selatan sudah

banyak tersebar di beberapa Kecamatan, TBM pada saat ini yang berada di bawah

naungan Pemerintah Tangerang Selatan terdapat empat puluh Taman Bacaan

Masyarakat yang sudah memiliki surat izin operasional. TBM di Tangerang

Selatan ini didirikan, diantaranya atas gagasan dari Pemerintah Tangerang Selatan

sendiri yaitu Ibu Hj. Airin Rachmi Diany. SH.MH karena keperihatinannya

terhadap minat baca masyarakat di Tangerang Selatan yang masih minim. Alasan

peneliti memilih dua lokasi penelitian ini karena kedua TBM ini sudah

melaksanakan program-program pembinaan minat baca dan lokasi yang dipilih

strategis dan cukup dekat yaitu TBM SBJD yang terletak di Ciputat Timur, Jl.

1
Prasetya Irawan. Logika dan Prosedur Penelitian. (Jakarta : STIA-LAN, 1999), h. 32.

43
44

Legoso Raya dan TBM JI di Pamulang, Jl. Lembah Pinus Sasmita Jaya, sehingga

memberi kemudahan bagi peneliti untuk melakukan penelitian.

B. Sumber Data

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diambil langsung, tanpa perantara dari

sumbernya. Sumber ini dapat berupa benda-benda, situs atau manusia.

Seorang peneliti sosial bisa mendapatkan data-data primer dengan cara

menyebarkan kuisioner, melakukan wawancara, atau melakukan

pengamatan langsung terhadap suatu aktifitas masyarakat.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diambil secara tidak langsung dari

sumbernya. Data sekunder biasanya diambil dari dokumen-dokumen

2
(laporan, karya tulis orang lain, koran, majalah).

C. Pemilihan Informan

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi

3
tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Alasan penulis menentukan informan

karena untuk mencari tahu pihak yang paling memahami objek penelitian di TBM

Sanggar Baca Jendela Dunia dan TBM Jendela Ilmu.

Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan ialah

purposive sampling, purposive sampling ialah teknik pengambilan sampel sumber

data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang

tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin

2
Prasetya Irawan. Logika dan Prosedur Penelitian. (Jakarta : STIA-LAN, 1999), h.86
3
Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif . (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h. 3.
45

dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek atau

4
situasi sosial yang diteliti.

Informan yang akan menjadi sumber data dalam penelitian ini, dengan

beberapa kriteria pertimbangan yang dianggap relevan, yaitu :

a. TBM Sanggar Baca Jendela Dunia :

1. Pendiri Yayasan Sanggar Baca Jendela Dunia, yaitu Bapak Dr.

Sihabudin Noor, MA.

2. Ketua Yayasan Sanggar Baca Jendela Dunia, yaitu Ibu Karlina

Helmanita, MA.

b. TBM Jendela Ilmu:

1. Ketua TBM Jendela Ilmu, yaitu Ibu Reni Muplihah, S. Ag

D. Teknik Pengumpulan Data

a. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh

pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang

5
memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Peneliti mengajukan beberapa

pertanyaan yang telah peneliti siapkan kepada informan, lalu dijawab oleh

pemberi data dengan bebas.

Jenis wawancara ini adalah wawancara terpimpin, dimana

pertanyaan yang diajukan berdasarkan daftar pertanyaan yang telah


6
disusun. Dalam melakukan wawancara kepada informan, ada beberapa
46

4
Sugiyono
h. 2 . Metode
Penelitian
Kuantitati
f
Kualitatif
dan R&D.
(Bandung:
Alfabeta,
2012),
5
Lexy J.
Moleong.
Metodolo
gi
Penelitian
Kualitatif.
(Bandung:
Remaja
Rosdakary
a, 2001),
h. 135.
6
Riduwan.
Metode
dan
Teknik
Menyusun
Tesis.
(Bandung
: Alfabeta,
2010),
h.102.
47

informan yang tidak ingin identitasnya dipublikasikan, maka peneliti

menyamarkan dan menutupi identitas informan dengan menggunakan

7
inisial. Rincian dari informan ini sudah dipilih dan disesuaikan di bawah

ini, yaitu :

Tabel. 2

Daftar Informan Penelitian

No Nama Inisial Jabatan


Pendiri Yayasan Sanggar Baca
1 Dr. Sihabudin Noor, MA SN
Jendela Dunia
Ketua Yayasan Sanggar Baca
2 Karlina Helmanita, MA KH
Jendela Dunia
3 Reni Muplihah, S. Ag RM Ketua TBM Jendela Ilmu

b. Observasi

Observasi adalah metode penelitian yang pengambilan datanya

8
bertumpu pada pengamatan langsung terhadap objek penelitian. Observasi

bertujuan untuk mendeskripsikan keadaan yang dipelajari dan aktifitas –

aktifitas yang tengah berlangsung. Kemudian hasil dari observasi tersebut

dicatat menjadi suatu catatan observasi yang berisi deskripsi hal – hal yang

diamati secara lengkap dengan keterangan tanggal dan waktu.

c. Kajian Kepustakaan

Kajian kepustakaan adalah penelitian yang datanya diambil terutama atau

seluruhnya dari kepustakaan (buku, dokumen, artikel, laporan dan


9
sebagainya).

7
Samiaji Samosa. Penelitian Kualitatif : Dasar-Dasar. (Jakarta: Indeks, 2012), h. 21
8
Ibid., h. 63.
9
Ibid., h. 65.
48

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan yaitu diarahkan untuk menjawab

rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan dalam proposal.

Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber, dengan

mengggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam, dan dilakukan

secara terus menerus sampai datanya jenuh. Dengan pengamatan yang terus

menerus mengakibatkan variasi data yang tinggi sekali. Berdasarkan hal tersebut

yang telah dikemukakan, bahwa analisis data adalah proses mencari dan

menyusun secara sistematis, data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan

lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam

kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam

pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat
10
kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Menurut Miles dan Huberman ada tiga tahapan dalam analisis data

kualitatif, yaitu :

a. Reduksi Data

Reduksi data adalah data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup

banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah

dikemukakan, semakin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan

semakin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis

data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal

yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.

Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang

10
Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 87
49

lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data

selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

b. Data Display (Penyajian Data)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah, mendisplaykan data.

Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam

pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami. Fenomena sosial

bersifat kompleks, dan dinamis, sehingga apa yang ditemukan pada saat

memasuki lapangan dan setelah berlangsung agak lama di lapangan akan

mengalami perkembangan data. Untuk itu peneliti harus selalu menguji apa

yang telah ditemukan pada saat memasuki lapangan yang masih bersifat

hipotetik itu berkembang atau tidak. Bila setelah lama memasuki lapangan

ternyata hipotesis tersebut terbukti, dan akan berkembang menjadi teori

grounded.

Teori grounded adalah teori yang ditemukan di lapangan, dan selanjutnya diuji

melalui pengumpulan data yang terus menerus. Bila pola-pola yang ditemukan

telah didukung oleh data selama penelitian, maka pola tersebut menjadi pola

yang baku yang tidak lagi berubah. Pola tersebut selanjutnya ditampilkan pada

laporan akhir penelitian. Bila pola-pola yang ditemukan telah didukung oleh

data selama penelitian, maka pola tersebut sudah menjadi pola yang baku yang

tidak lagi berubah. Pola tersebut selanjutnya ditampilkan pada laporan akhir

penelitian.

c. Verification (verifikasi)

Langkah ketiga adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal

yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak
50

ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pemgumpulan

data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap

awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali

ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan

merupakan kesimpulan yang credibel.

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah temuan baru yang sebelumnya

belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek

yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti

menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau

11
teori.

F. Jadwal Penelitian

Penelitian ini dilakukan di TBM SBJD dan TBM JI. Berdasarkan tema

penelitian mengenai Upaya Pembinaan Minat Baca di Taman Bacaan Masyarakat

(TBM) : Studi Kasus TBM Sanggar Baca Jendela Dunia dan TBM Jendela Ilmu,

maka penulis menentukan untuk melakukan penelitian ini di dua Taman Bacaan

Masyarakat.

Setelah penentuan tempat dipilih, penulis melakukan observasi serta

permintaan izin untuk melakukan penelitian di tempat yang telah ditentukan.

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari 2014 sampai dengan Januari 2015

berikut rinciannya.

11
Ibid., h. 92
51

Tabel. 3

Jadwal Penelitian
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Objek Penelitian

1. Profil TBM Sanggar Baca Jendela Dunia

a. Sejarah TBM SBJD

Sanggar Baca Jendela Dunia (baca SBJD) merupakan yayasan yang

bergerak dalam bidang sosial-kemasyarakatan bervisi mewujudkan masyarakat

minat baca. Ia adalah wadah keagungan moral dan intelektual dengan “baca”

sebagai titik tekan. Sederetan kata “Sanggar”, “Jendela” dan “Dunia” tidak akan

memiliki arti dan signifikansi tertentu tanpa ada nuansa lain yang mengisi

ideologinya, visi-misinya dan mimpi-mimpinya, membaca. Tiga deretan kata

“Sanggar”, “Jendela” dan “Dunia” akan muspra dan sia-sia jika tidak ada kata

“baca” sebagai seperangkat cara pandang dalam melihat dunia.

Membaca itulah yang mengisi arti, menemu-pijakan untuk menjadi

“Jendela” dalam memahami “Dunia”. Namun, ibarat air yang akan berceceran

tanpa ada gelas, membaca juga perlu wadah, perlu tempat untuk jadi rujukannya,

dan dari situlah arti penting sebuah “Sanggar”. “Sanggar” itulah wahana

berekspresi menemu jati diri. Bercermin dengan membaca sebagai cara pandang

dalam melihat realitas objektif..

Namun Sanggar Baca Jendela Dunia bukan wadah baca sekedar “baca”

tapi baca untuk berkarya. Membaca untuk memulung ide, merajut gagasan,

menulis pengalaman dan melukiskannya melalui istana kata dan membentuk

paradigma dengan pena sebagai sarananya.

51
52

b. Motto

Kita Baca Kita Pintar, Kita Pintar Kita Kaya

c. Visi dan Misi

1) Visi

Menjadikan masyarakat gemar membaca, berwawasan luas dan terampil

2) Misi

a. Meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat

b. Menyediakan buku-buku bermutu yang dibutuhkan masyarakat di

semua jenjang usia

c. Memberikan pelatihan-pelatihan keterampilan bagi masyarakat

d. Tujuan

Taman Bacaan mengandung unsur edukasi, edukasi dalam bidang

pembelajaran, peningkatan kemampuan anak dan lingkungan. Bahwa

membaca itu tidak lepas dari perpustakaan edukasi, kegiatan mengaji

merupakan pembinaan akhlak. Sebagai laboratorium pemantapan, bagi

para tutor untuk berkreasi dan memantapkan diri untuk lebih siap

menghadapi masyarakat. Masyarakat juga mendapatkan imbas yang baik

dari kegiatan yang diselenggarakan.

e. Kegiatan – Kegiatan yang Pernah Diselenggarakan

1) Bedah buku bersama penerbit Hikmah Mizan dengan Andrea Hirata

2) Mengundang diskusi dan jumpa novelis di Sanggar Baca Jendela


Dunia pada …

a. Novelis Negeri 5 Menara : Ahmad Fuadi


b. Novelis Sang Pencerah : Akmal Basery Basral
53

3) Gerakan Baca anak Indonesia Sanggar Baca Jendela Dunia, 24-31

Juni 2010

4) Menggerakkan wakaf buku dari masyarakat dan Perpustakaan

Madrasah Pembangunan UIN Jakarta, Juli 2010.

5) Peringatan Hari Pahlawan dan Hari Bahasa untuk TBM dan TKA-

TPA se Tangerang Selatan kerjasama Ma’had UIN Jakara-Garuda

Food dan Sanggar Baca Jendela Dunia, 10 November 2013.

f. Prestasi yang diraih


1) Juara I, Story Telling pada peringatan Hari Pahlawan dan Hari Bahasa

10 November 2012 untuk TBM danTKA-TPA se Tangerang Selatan,

kerjasama Ma’had UIN Jakara-Garuda Food dan Sanggar Baca

Jendela Dunia

2) Juara II, Story Telling pada peringatan Hari Pahlawan dan Hari

Bahasa 10 November 2012 untuk TBM danTKA-TPA se Tangerang

Selatan, kerjasama Ma’had UIN Jakara-Garuda Food dan Sanggar

Baca Jendela Dunia.

3) Juara II, mewarnai pada peringatan Hari Pahlawan dan Hari Bahasa

10 November 2012 untuk TBM dan TKA-TPA se Tangerang Selatan,

kerjasama Ma’had UIN Jakara-Garuda Food dan Sanggar Baca

Jendela Dunia.

4) Juara I, Tahfidz al-Qur’an Tingkat SMA Ramadhan Ceria 2013

5) Juara II, Tartil al-Qur’an Tingkat SMA Ramadhan Ceria 2013

6) Juara I, Adzan Tingkat SD pada Peringatan Bulan Muharram

1435/2013
54

g. Mentor & Relawan


Mentor adalah pembimbing atau instruktur komunitas. Mentor

tidak dipersepsikan sebagai guru yang harus ditakuti, karena sanggar

baca ini mencoba menciptakan satu ruang komunikasi yang demokratis.

Sehingga anggota komunitas dapat berbicara terbuka kepada semua

mentor kapan saja dibutuhkan.

Relawan adalah orang atau kelompok yang dengan sukarela

menyediakan waktu dan tenaganya untuk membantu kegiatan ad hoc

Sanggar Baca Jendela Dunia.

h. Jejaring dan Kerjasama


1) Pemerintah Daerah Kota Tangerang Selatan

2) Ma’had ’Ali UIN Jakarta

3) Madrasah Pembangunan UIN Jakarta

4) Komunitas 1001 buku

5) Forum Indonesia Membaca

6) Center for Social Marketing Jakarta

7) Penerbit Hikmah MIZAN

8) Kompas Gramedia (Dana Kemanusiaan Kompas)

9) Dompet Dhu’afa

10) Teater Syahid UIN Syarif Hidayatullah

11) Garuda Food

12) BILQIS Centre

13) Radio Suara Edukasi

14) TVRI

15) Naml Foundation


55

i. Mitra

Sanggar baca Jendela Dunia mengajak individu, komunitas, Lembaga

Swadaya Masyarakat (LSM), pemerintah, pusat-pusat kebudayaan,

Corporate Social Responsibilty (CSR) perusahaan untuk berpartisipasi

dalam upaya-upaya pengembangan literasi di Indonesia melalui bentuk

kemitraan sebagai berikut:

1) Program

Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan bersama atau pertukaran

sumber daya dalam kegiatan yang memiliki tujuan untuk

pengembangan budaya literasi di Indonesia.

2) Donasi

Dukungan dana untuk pengembangan pusat belajar masyarakat yang

dikembangkan Sanggar Baca Jendela Dunia.

3) Ziswaf (zakat, infak, sedekah, wakaf)

Menyalurkan dan memberdayakan dana ziswaf untuk kegiatan

produktif yang dikembangkan Sanggar Baca Jendela Dunia.

4) Orang tua Asuh

Memberikan kesempatan pada masyarakat yang mampu untuk

menjadi orangtua asuh bagi satu anak yatim/piatu yang tidak mampu.

Dengan menyisihkan Rp. 100.000/bulan selama 1 tahun berarti Anda

telah mengadopsi satu anak untuk menjadi komunitas Sanggar Baca

Jendela Dunia. Sanggar Baca Jendela Dunia akan memberikan laporan

setiap 4 bulan sekali kepada orang tua asuh.


56

5) Sponsor

Dukungan dana disesuaikan dengan program yang dipilih, dalam

rangka mendukung pelaksanaan program Sanggar Baca Jendela Dunia

dengan kesepakatan dan jangka waktu tertentu. Sanggar Baca Jendela

Dunia akan mengirimkan laporan sesuai dengan standar operasional

mitra literasi, termasuk memberikan laporan di akhir kegiatan.

6) Gerakan Baca dan Wakaf Buku

Melakukan sosialisasi dan kampanye gerakan baca dan wakaf buku

untuk menambah koleksi buku Pustaka Sanggar Baca Jendela Dunia.

Anda dapat menyalurkan wakaf buku dengan in kind atau cash.

j. Pengurus atau Sumber Daya Manusia

Pendiri dan Pembina : Dr. Sihabudin Noor, MA

Ketua : Karlina Helmanita, MA

Sekretaris : Najmah Aulia

Bendahara : Fikriyah

Koordinator Kelas Qur’an : Ida Daroyani

Mentor Kelas Qur’an : Faisal Abdurrahman

Koordinator Kelas Tahfidz : Abdul Aziz

Pustakawan Sanggar : Ludfia

k. Layanan TBM Sanggar Baca Jendela Dunia


1) Sistem Layanan
TBM SBJD ini memiliki prosedur bagi para murid dan pengunjung
diantaranya:
a. Jumlah murid pada saat ini terdapat anak
57

b. Pengunjung di kategorikan dari semua usia diantaranya anak-anak,

remaja, dan ibu-ibu.

Pada saat ini TBM SBJD baru memberikan sosialisasi untuk anak-

anak pustaka sanggar jadi hanya anak-anak sanggar, mentor dan orang

tua murid yang bisa meminjam buku yang ada di perpustakaan.

2) Jam Layanan

TBM SBJD memberikan pelayanan peminjaman buku bagi anak-anak

TBM SBJD selama 7 hari, agar dapat meminjam buku, sanggar

memberikan kartu anggota kepada anak-anak dan mentor. Jadwal

pelayanan dilakukan selama 2 hari dalam seminggu, dengan rincian

sebagai berikut :

Selasa dan Jum’at : 13.00-17.00

Sabtu – Minggu : Libur

l. Koleksi TBM Sanggar Baca Jendela Dunia

Dari semenjak berdiri hingga saat ini, koleksi yang tersedia di

TBM SBJD merupakan hasil dari hadiah, donasi, sumbangan dan beli.

Tidak ada metode khusus dalam pengolahan koleksi. Metode pengadaan

buku diperoleh dari individu, sumbangan, jejaring dan kerjasama.

Keseluruhan koleksi yang ada berdasarkan data terakhir, yaitu

berjumlah 1.000 judul buku, 677 eksemplar. Koleksi yang ada di TBM

SBJD di kategorikan menurut usia pembacanya, yaitu anak-anak, remaja

dan dewasa. Buku-buku terdiri dari buku fiksi, Ensiklopedia, Agama

Islam, Referensi, Biografi, Ilmu Sosial, Ilmu Pengetahuan Alam,

Matematika dan Majalah.


58

m. Pengolahan Koleksi

Kegiatan pengolahan koleksi di TBM SBJD disusun berdasarkan

masing-masing disiplin ilmu dengan menggunakan klasifikasi Dewey

Desimal (Dewey Decimal Classification), kecuali buku-buku fiksi seperti

novel, cerita rakyat, cerita bergambar, dongeng, dll yaitu diberikan

nomor penyesuaian yaitu huruf ”F” dan Komik ”K”. Adapun kegiatan

pengolahannya yaitu :

1) Pada saat buku diterima oleh pustakawan, buku-buku di sortir

kemudian di catat dalam buku induk atau inventaris.

2) Setelah di catat dalam buku induk, buku-buku diberi cap atau stempel.

3) Setelah itu ditentukan nomor klasifikasinya. Untuk menentukan

nomor klasifikasi maka cek judul buku dan daftar isi untuk

disesuaikan nomor klasifikasinya. Setelah nomor klasifikasi selesai

dan sesuai maka dicatat secara manual di buku tersebut.

4) Penambahan warna di punggung buku berdasarkan nomor klasifikasi.

Pembuatan warna di punggung buku disertai dengan call number,

penambahan warna untuk memudahkan anak-anak dalam menentukan

jenis buku. Penambahan warna pada punggung buku memakai kertas

origami. Contoh :
59

Tabel. 4
Klasifikasi

No. Nomor Klasifikasi Keterangan


1 Kelas 300 Ilmu Sosial (Kuning)
2 Kelas 500 Ilmu Alam dan Matematika (Biru)
3 Kelas 600 Ilmu Terapan dan Teknologi (Biru)
4 Kelas 900 Biografi (Hitam)
5 Kelas 2 x 0 Agama (Hijau)
6 F (Nomor Penyesuaian) Fiksi (Ungu)
7 R (Nomor Penyesuaian) Referensi (Merah)

5) Setelah pembuatan nomor klasifikasi selesai lalu dicetak untuk

ditempel di punggung buku atau biasa disebut call number.

6) Setelah pembuatan warna selesai lalu ditempel dipunggung buku di

bawah call number.

7) Penempelan call number dengan jarak 3 cm dari bawah punggung

buku dan penempelan warna di bawah call number.

8) Pembuatan kantong buku yang ditempatkan di belakang buku setelah

halaman terakhir. Kantong buku disertai kartu buku dan slip tanggal

peminjaman dan pengembalian.

9) Agar buku-buku terlihat lebih rapih dan tidak mudah rusak maka

buku-buku disampul plastik.

10) Setelah tahap 1 sampai 7 sudah selesai dikerjakan, maka pada tahap

akhir buku-buku dapat disusun pada rak berdasarkan nomor klasifikasi

dan warna yang sudah ditentukan.

Contoh Nomor Punggung Buku:


60

N S
a A
m N
a G
G
P A
e R
r
p B
u A
s C
t A
a “
k J
a E
a N
n D
E
(no L
mer A
kelas
;3 D
digit U
) N
(inisi I
al A
peng ”
aran
g; 3 0
huru 2
f 5
awal B
) A
(hur S
uf P
depa
n
judul
;1
huru
f)
61

Ket:
SANGGAR BACA “JENDELA DUNIA” = Nama Perpustakaan
025 = nomor kelas Ilmu Perpustakaan berdasarkan DDC
BAS = inisial pengarang buku, Sulistiyo Basuki
P = huruf depan judul buku, Pengantar Ilmu Perpustakaan

2. Profil TBM Jendela Ilmu

a. Sejarah TBM Jendela Ilmu

Buku adalah jendela ilmu dan membaca adalah kuncinya. Masyarakat yang

gemar membaca dan mempunyai kebiasaan belajar, adalah masyarakat yang akan

mampu beradaptasi dan bersaing di era globalisasi. Hal ini dikarenakan pada era

ini ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi sangat pesat. Semua pihak

dapat mengakses informasi dengan mudah dan cepat sehingga masyarakat dituntut

untuk memiliki kemampuan menggali, memperoleh, memilih dan mengelola

informasi secara cerdas.

Menciptakan masyarakat cerdas adalah tugas semua pihak , baik pemerintah

atau masyarakat. Cita-cita nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa adalah

suatu wujud dari pembangunan masyarakat yang didalamnya terdapat dua unsur

penting, yaitu partisipasi masyarakat dan peranan pemerintah dalam memberikan

kesempatan dan dorongan kepada masyarakat untuk berpartisipasi.

Sistem pendidikan formal yang sudah berjalan masih belum optimal dalam

memenuhi kebutuhan pendidikan di masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Oleh karena itu dibentuklah sistem pendidikan alternatif untuk memenuhi

kebutuhan yang belum terlayani oleh sistem pendidikan formal yaitu sistem
62

pendidikan nonformal dan informal, yang berfungsi sebagai pengganti, pelengkap,

dan penambah pendidikan formal.

Salah satu jenis layanan nonformal dan informal ini adalah Taman Bacaan

Masyarakat (TBM). TBM ini bertujuan memberikan kemudahan akses kepada

masyarakat untuk memperoleh bahan bacaan. Disamping itu TBM juga berperan

dalam meningkatkan minat baca, menumbuhkan budaya baca dan cinta buku.

Kondisi masyarakat Indonesia menurut Badan Pusat statistik (BPS) tahun 2006

bahwa budaya baca masyarakat Indonesia sangat rendah karena masyarakat belum

menempatkan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Penduduk

Indonesia lebih memilih menonton TV dan mendengarkan radio dari pada

membaca.

Kondisi diatas tentunya disebabkan berbagai alasan, antara lain karena masih

minimnya perpustakaan dan pasokan buku. Disinilah, peranan TBM sangat

dibutuhkan. TBM adalah lembaga yang dibentuk oleh, dari dan untuk masyarakat

dengan menyediakan berbagai jenis bahan bacaan yang dapat menjadi rujukan

dalam informasi dan sumber pengetahuan bagi masyarakat. Dalam hal ini TBM

Jendela Ilmu yang berada di Perumahan Lembah Pinus Sasmita Jaya, Pamulang

Barat, Kota Tangerang Selatan, dapat menjadi salah satu solusi yang baik bagi

warga perumahan yang datang dari berbagai latar belakang yang berbeda baik

sosial, strata pendidikan, maupun ekonomi. Sarana pembelajarn masyarakat yang

cukup membantu meningkatkan pengetahuan warga dan memberdayakannya serta

memotivasi mereka untuk dapat tetap bersaing di era globalisasi sekarang ini.
63

b. Visi dan Misi


Visi

Mewujudkan masyarakat gemar membaca

Misi

1. Meningkatkan minat baca di masyarakat

2. Memberdayakan masyarakat melalui membaca

3. Membudayakan membaca bersama dalam keluarga

4. Memotivasi masyarakat agar terbiasa membaca

c. Struktur Organisasi

Reni Muplihah, S.Ag


Ketua
64

Deden Sofyan Titin Nurlaela, S. Pd


Sekretaris Bendahara

d. Layanan TBM Jendela Ilmu


1. Waktu Opersional : Setiap hari Senin sd Sabtu
2. Jam Operasional : 16:00 sd 19:00 WIB

e. Uraian Tugas Pengurus TBM Jendela Ilmu :

Ketua :

1) Bertangungjawab kepada penyelenggaraan dan pengelolaan TBM


2) Mengorganisir dan mengendalikan pelaksanaan TBM
Bidang Pelaksana Teknis :
1) Inventarisasi Buku
2) Katalogisasi Buku
3) Klasifikasi Buku
Bidang Pelayanan Membaca dan Usaha :
1) Melayani Keanggotaan
2) Melayani Peminjaman
3) Mengembangkan Usaha

f. Program-Program Yang Diselenggarakan


a. Program inti yang diselenggarakan :
1. Indentifikasi sasaran dan Kebutuhan Baca Masyarakat.
2. Mengumpulkan dan menyediakan buku bacaan.
3. Mempersiapkan sarana dan prasarana TBM
4. Pengorganisasian dan penyusunan tata tertib TBM
b. Program tambahan yang diselenggarakan :
1. Lomba mewarnai
2. Bazar buku
3. Demo memasak
4. Menyelenggarakan hiburan yang edukatif
5. Menyelenggarakan kegiatan keterampilan
6. Memperingati Hari Besar Nasional/Hari Besar Islam

B. Hasil Penelitian

1. Upaya Pembinaan Minat Baca Melalui Program-Program yang


Diselenggarakan

a. TBM SBJD

Mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan membaca atau literasi itu

bukanlah hal yang mudah, perlu adanya upaya atau suatu bentuk nyata untuk

mewujudkan harapan tersebut, dengan adanya TBM SBJD di lingkungan sekitar

masyarakat Legoso maka TBM SBJD melakukan upaya-upaya untuk


meningkatkan minat baca melalui program-program. Berikut hasil wawancara

dengan informan SN, selaku Pendiri Yayasan Sanggar Baca Jendela Dunia.

Menurut informan SN upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan

minat baca masyarakat, adalah :

“Kita melakukan kegiatan-kegitan yang langsung ke lingkungan misalnya,


pentas seni agar mereka wear gitu ya... agar mereka tau ini sanggar
baca.”

Menurut informan KH, selaku Ketua Yayasan Sanggar Baca Jendela

Dunia juga memaparkan upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat

baca masyarakat yaitu :

“Menyediakan MADING untuk dibaca baik mahasiswa maupun kolega


bahkan masyarakat sekitar, kemudian yang kedua kami menyediakan teras
baca, jadi kami dalam setiap minggu kan, mensirkulasi buku-buku...”

Menurut peneliti, TBM SBJD sudah melakukan beberapa upaya-upaya

untuk meningkatkan minat baca seperti yang telah dijelaskan oleh informan SN

dan KH diatas. Hal ini terlihat dari hasil wawancara yang telah disampaikan,

bahwa minat bacanya yang masih rendah yaitu MADING dan teras baca yang

sudah disediakan oleh TBM SBJD hanya sedikit pemustaka yang membacanya.

Berikut beberapa upaya pembinaan minat baca melalui program-program

yang diselenggarakan oleh TBM SBJD akan diuraikan di bawah ini. Program-

program tersebut diselenggarakan dengan tujuan agar menarik minat baca

masyarakat.

Karena TBM SBJD bagian dari Yayasan, maka Yayasan Sanggar Baca

Jendela Dunia ini juga terdapat TK/TP Al-Qur’an dan Kelas Tahfidz maka semua

program saling di integrasikan, program-program yang sesuai dengan TBM maka

akan di masukan ke dalam kurikulum. Upaya untuk meningkatkan minat baca di


TBM SBJD memang diutamakan sasaran pemustakanya yaitu untuk anak-anak,

dari hasil observasi yang telah dilakukan untuk pembinaan minat baca anak-anak

yang bersifat rutin dilaksanakan yaitu ketika anak-anak datang untuk mengaji

mereka dibiasakan untuk membaca buku selama 15 menit, kemudian disela-sela

anak-anak selesai mengaji, secara bergantian mereka mengambil buku yang

mereka sukai untuk dibaca.

Menurut informan KH upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan

minat baca masyarakat melalui program-program yang diselenggarakan, adalah :

“Kan tadi saya nyatakan ada dua program, program jangka panjang dan
program jangka pendek. Program jangka panjang itu adalah yang bersifat
nonformal ya seperti TK/TP Al-Qur’an dan Taman Tahfidz. Kemudian
kalau yang Ad Hoc tadi yaitu perlombaan jenis perlombaannya Story
Telling. Story Telling Se-Jabodetabek tapi ya Alhamdulillah anak-anak
sanggar bisa menjuarai Story Telling pada Hari Bahasa.”
Dari jawaban informan KH yaitu lebih menekankan untuk menumbuhkan

minat baca terhadap anak-anak sejak dini. Berikut hasil wawancara dengan

informan KH :

“Kemudian yang kedua anak-anak bukan hanya dibatasi waktu dan


jam mereka bahkan sejak datang sebelum belajarpun kami selalu
menginggatkan mereka untuk membaca di sanggar, jadi ya seperti itu
yang kami lakukan.”

Akan tetapi bukan menjadi halangan untuk TBM SBJD memberikan

kesempatan yang sama bagi pemustaka yang lain yaitu baik para guru atau mentor

dan ibu-ibu untuk mengakses informasi melalui sumber bacaan yang tersedia di

TBM SBJD. Hal ini dinyatakan kembali oleh informan KH sebagai berikut :

“Jadi baik anak-anak, para guru atau mentor, bahkan kepada ibu-ibu
yang ingin menuangkan ide dan pikirannya melalui tulisan gitu, itupun
sangat kami anjurkan walaupun kami mengalami hambatan untuk
merealisasikannya secara total.”
Menurut peneliti, program-program yang diselenggarakan masih

tergolong kurang bervariasi karena dengan semakin banyaknya variasi program

yang diselenggarakan oleh TBM SBJD maka akan bertambah juga minat baca

masyarakat terhadap bahan bacaan yang tersedia. Dengan program-program yang

diadakan oleh TBM inilah masyarakat mulai membuka diri sedikit demi sedikit

untuk bekerjasama dalam program-program yang ada.

Program yang tidak ada kaitannya secara langsung dengan buku adalah

menyelenggarakan pentas seni, menyelenggarakan kelas pekerjaan tangan dengan

cara membuat MADING, menyelenggarakan kelas permainan dengan cara

mewarnai gambar-gambar islami seperti Huruf Hijaiyah, Masjid, Lafadz Allah

dan Gambar Orang berbusana Muslim, dll.

Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti, TBM SBJD mengadakan

program yang langsung berhubungan dengan buku seperti mengadakan kegiatan

penelitian kecil-kecilan untuk meningkatkan kreativitas anak terutama setelah

membaca buku, dengan cara membaca selama 15 menit, anak-anak ketika datang

sebelum adzan ashar berkumandang mereka selalu di ingatkan oleh mentor untuk

membaca buku atau mentor yang membacakannya, setelah mereka membaca

buku, mentor menyediakan buku pustaka sanggar untuk diisi oleh anak-anak,

buku tersebut berisi beberapa kriteria yaitu : judul buku, tanggal membaca, jumlah

halaman, kesan dan pesan, dan lain-lain.

Kemudian pameran buku dengan tema-tema tertentu yaitu dengan cara

mensirkulasi buku-buku selama satu minggu sekali dengan tema yang berbeda-

beda setiap minggunya, ini dinamakan “Teras Baca”.


Pembaca buku terbanyak akan diberikan reward. Reward diberikan setiap

6 bulan sekali, reward tersebut berupa hadiah.

Menurut peneliti, dari beberapa contoh program yang sudah dijelaskan di

atas, TBM SBJD belum merencanakan penambahan program untuk saat ini.

Program-program yang ada di TBM SBJD sifatnya lebih keagamaan.

TBM JI

Upaya pembinaan minat baca tidak terlepas dari program-program yang

diselenggarakan oleh TBM. Program-program tersebut diselenggarakan dengan

tujuan agar menarik minat baca masyarakat. Dengan ini masyarakat menjadi

jaringan dan sumber untuk mengoptimalkan program-program yang ada di TBM.

Berikut hasil wawancara dengan informan RM :

“Untuk menumbuhkan minat baca itu Taman Bacaan itu harus punya
program yang menarik. Kalo ibu membuat jaringan, jaringan
pembelajaran partisipatif. Akhirnya ibu menjadikan jaringan masyarakat
itu sebagai jaringan yang bisa mengeliatkan kegiatan-kegiatan yang ada
disini.”

Menurut peneliti, TBM JI dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat

baca dari program-program yang ada sudah direalisasikan dengan baik, agar

dampak dari program-program yang ada di TBM dapat dirasakan dan memberikan

manfaat bagi masyarakat pembelajar dalam menumbuhkan dan meningkatkan

minat baca.

Program-program yang ada di TBM JI diintegrasikan dengan kegiatan-

kegiatan yang ada di masyarakat yaitu melalui PKK, PAUD dan Remaja Masjid,

masyarakat yang ada di lingkungan sekitar TBM JI juga berapresiasi dengan

program-program yang diselenggarakan. Berikut hasil wawancara dengan

informan RM yaitu :
“Pertama PKK, kegiatan membuat kerajinan dari kain perca, seperti
membuat gelang, bros-bros, dll. Kalau untuk ke PAUD kerjasamanya
di mewarnai, pengenalan hardware melalui anak-anak,kemudian untuk
Remaja Masjid kita kerjasamanya di outbond...”

Dari program-program yang diselenggarakan TBM JI masyarakat menjadi

tertarik dan mendukung program tersebut, program-program yang direalisasikan

juga sudah bervariasi.

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti dengan informan,

informan hanya menyebutkan sebagian program yang ada di TBM. Namun,

informan memberikan secara rinci program-program dalam bentuk laporan

tertulis, yang dapat dilihat di lampiran.

Program tersebut adalah TBM JI menyelenggarakan hiburan dan pentas

seni, membuat prakarya seperti membuat gelang dari manik-manik, bros dari kain

perca, kerajinan kertas kokoru, kerajinan dari limbah yang tidak terpakai,

kerajinan dari bahan sedotan, kerajinan dari kain flanel dan demo memasak,

mewarnai untuk PAUD, untuk remajanya yaitu outbound dan tadabbur alam dan

yang terakhir pemutaran film/video untuk bapak-bapak yaitu nonton bareng piala

dunia.

Program di TBM JI yang berkaitan langsung dengan buku adalah kegiatan

mendongeng dilakukan oleh informan sebagai ketua TBM JI untuk disampaikan

langsung kepada anak-anak, TBM JI mengadakan pameran buku pada setiap

peringatan Ulang Tahun Tangerang Selatan yang dinamakan Jambore

Perpustakaan. Dalam Jambore Perpustakaan inilah semua TBM yang ada di

Tangerang Selatan berkumpul dan membuka stand-stand, stand-stand tersebut

terdapat pameran buku dan hasil karyanya, stand tersebut akan dilombakan. TBM

JI termasuk stand yang terbaik dan sudah mendapatkan beberapa penghargaan


yaitu sebagai kategori stand terbaik dan terakhir bedah buku fiqih dan ini masuk

ke dalam kategori yang sifatnya keagamaan, program bedah buku ini telah

dintegrasikan dari kegiatan TBM ke dalam kegiatan Majelis Ta’lim yaitu bedah

buku fiqih dengan kehidupan sehari-hari, bedah buku ini disampaikan satu

minggu sekali.

2. Faktor yang Mendukung Minat Baca di TBM SBJD dan TBM JI

a. TBM SBJD

Taman Bacaan Masyarakat sebagai tempat pelestarian ilmu pengetahuan

berupa media cetak seperti buku. Buku sebagai media komunikasi yang sangat

penting antar manusia, buku merupakan suatu kebutuhan seseorang untuk

menambah pengetahuan maka dari koleksi buku yang disediakan oleh TBM ini

akan sangat bermanfaat apabila telah memenuhi kebutuhan masyarakat di

lingkungan sekitar, TBM bisa dikatakan berhasil apabila telah menarik minat baca

seseorang.

Maka harus ada faktor yang mendukung minat baca di TBM SBJD, faktor

yang mendukung minat baca di TBM SBJD yaitu sarana dan prasarana dan SDM.

1) Sarana dan Prasarana

Ruangan yang tersedia sudah memberikan suasana yang nyaman, dari

koleksi buku yang ada di TBM SBJD sudah cukup lengkap dan bervariasi

untuk masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Berikut

hasil wawancara dengan informan KH mengenai faktor pendukung

berdasarkan sarana dan prasarana di TBM SBJD. Berikut hasil wawancara

dengan informan KH :
“Suasana mungkin ya, karena untuk ruang baca sebenarnya anak-
anak sudah terfasilitasi...”

2) Kualitas SDM

SDM yang ada di Yayasan SBJD berasal dari kalangan mahasiswa UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta, mahasiswa tersebut merupakan relawan yang

biasa disebut mentor, mentor yang terdapat di Yayasan SBJD berbeda

fakultas dan program studi. Mahasiswa yang menjadi relawan diseleksi

menurut program studi di bangku kuliah, selain itu mahasiswa juga

diberikan kesempatan belajar cara menangani anak-anak dan manajemen

organisasi di Yayasan SBJD, sehingga Yayasan SBJD ini menjadi

laboratorium nyata bagi mahasiswa yang ingin mengasah kemampuannya

untuk mengembangkan Yayasan SBJD menjadi lebih baik. Maka

mahasiswa diarahkan untuk melakukan pekerjaannya secara profesional.

Berikut hasil wawancara dengan informan SN :

“Teater Syahid, itu mereka membantu dalam kegiatan teater anak


pengembangan teater anak. Nah lewat jaringan-jaringan inilah
kemudian SBJD ini menjadi media, laboratorium bagi para aktivis
mahasiswa untuk berekreasi di masyarakat jadi sebetulnya itu...”

Dari beberapa faktor yang mendukung minat baca yang telah dijabarkan,

faktor yang mendukung minat baca di TBM SBJD adalah karena di Yayasan

SBJD sasaran utama dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca yaitu

kepada anak-anak dan yang menjadi kewajiban anak-anak ketika datang secara

rutin yaitu mengaji atau membaca Iqra’ dan Al-Qur’an serta menghafal Al-Qur’an

melalui program Kelas TK/TP Al-Qur’an dan Kelas Tahfidz. Jadi tidak hanya

buku-buku umum saja yang menjadi media dalam menumbuhkan dan


meningkatkan minat baca, tetapi Iqra’ dan Al-Qur’an juga sangat penting maka,

faktor yang mendukung minat baca ini masuk ke dalam faktor internal.

Kemudian motivasi dan kecenderungan anak-anak terhadap bahan bacaan

tiap anak berbeda karena seperti yang telah dikemukakan sebelumnya ada anak

yang memang sudah dibiasakan membaca di dalam lingkungan keluarganya maka

ketika anak tersebut ada di TBM SBJD tanpa mereka diberikan dorongan atau

stimulus anak tersebut akan membaca secara mandiri. Karena kakak mentor selalu

mengingatkan dan memberikan dorongan untuk membaca kepada anak-anak

maka, kebiasaan anak-anak tersebut mulai berubah dari yang tidak suka membaca

menjadi suka sedikit demi sedikit, sebagai contoh ketika anak-anak selesai

mengaji dan telah menyelesaikan tugas yang diberikan, tanpa diingatkan oleh

kakak mentor salah satu anak meminta izin untuk membaca buku, dan kemudian

anak-anak yang lainnya, mengikuti temannya untuk membaca, faktor ini masuk ke

dalam faktor internal.

Menurut peneliti, untuk mendukung minat baca anak-anak secara internal

mungkin langkah kedepannya bisa terus mempertahankan dan memberikan

dorongan atau stimulus dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca anak-

anak. Tidak hanya anak-anak tetapi juga untuk remaja, dewasa dan orang tua juga

perlu disosialisasikan upaya pembinaan minat baca melalui program-program

menarik yang diadakan di TBM SBJD. Baik program yang tidak berkaitan

langsung dengan buku maupun yang berkaitan langsung dengan buku seperti yang

telah di sampaikan sebelumnya.

Sarana dan prasarana dan kualitas SDM merupakan faktor pendukung

minat baca secara internal yang ada di TBM SBJD. Sarana dan prasarananya
adalah koleksi buku yang cukup beragam, dengan koleksi yang cukup beragam

inilah anak-anak mendapatkan kesempatan untuk memilih-milih buku yang

mereka senangi. Anak-anak menyukai buku-buku fiksi seperti : cerita dongeng,

cerita fabel, komik, novel islami, kisah-kisah nabi, Ensiklopedia Islami, KKPK

(Kecil-Kecil Punya Karya), dan lain-lain. Ruangan yang ada di TBM SBJD cukup

memberikan suasana yang nyaman bagi pemustaka baik dari kebersihan dan

kerapihannya.

Kemudian SDM yang ada di Yayasan SBJD berasal dari kalangan

mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mahasiswa tersebut merupakan

relawan yang biasa disebut mentor, mentor yang terdapat di Yayasan SBJD

berbeda fakultas dan program studi. Mahasiswa yang menjadi relawan diseleksi

menurut program studinya di bangku kuliah, selain itu mahasiswa juga diberikan

kesempatan belajar cara menangani anak-anak dan manajemen organisasi di

Yayasan SBJD, sehingga Yayasan SBJD ini menjadi laboratorium nyata bagi

mahasiswa yang ingin mengasah kemampuannya untuk mengembangkan Yayasan

SBJD menjadi lebih baik. Maka mahasiswa diarahkan untuk melakukan

pekerjaannya secara professional, faktor ini termasuk faktor internal.

Menurut peneliti, dalam faktor pendukung minat baca secara internal

sudah baik, dan untuk masa yang akan datang dalam mengembangkan dan

memajukan TBM SBJD baik sarana dan prasarananya bisa terus memberikan

suasana yang nyaman bagi pemustaka. Kemudian SDM yang ada juga sudah baik

untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat, karena SDM

yang ada di TBM SBJD memegang peranan penting dan merupakan faktor yang

mendukung minat baca secara internal bagi masyarakat.


Hal yang penting dalam pembinaan minat baca melalui program-program

yang akan diadakan yaitu tidak terlepas dari persoalan dana, maka TBM SBJD

saat ini masih terus berusaha untuk melakukan kerjasama dengan organisasi-

organisasi, semua lapisan masyarakat baik akademik maupun non akademik dan

terutama pemerintah, karena kerjasama ini termasuk faktor yang mendukung

minat baca secara eksternal. Kerjasama yang dilakukan pada saat ini yaitu dari

KEMENAG, orang tua wali murid berupa financial serta bantuan buku-buku dari

PERPUSNAS dan perorangan.

b. TBM JI

Faktor yang mendukung minat baca di TBM JI, faktor yang mendukung

minat baca di TBM JI yaitu SDM, program yang menarik, kemampuan membaca

masyarakat, kerjasama dengan organisasi-organisasi dan pengelompokkan usia

masyarakat.

1) Kualitas SDM

Pengelola TBM JI merupakan seorang yang aktif di masyarakat dan

pengelola TBM merupakan seorang pendidik, sehingga memiliki semangat

untuk memajukan sebuah TBM yang berguna untuk mencerdaskan

kehidupan masyarakat di sekitarnya. Untuk memperkenalkan minat

membaca kepada masyarakat, informan RM masuk ke dalam lingkup

Majelis Ta’lim dengan menjadi pengisi materi, materi yang pertama kali

dikenalkan ke dalam Majelis Ta’lim ibu-ibu yaitu fiqih, fiqih sehari-hari.

Materi fiqih yang disampaikan kepada ibu-ibu rutin diberikan satu minggu

sekali. Berikut hasil wawancara dengan informan RM mengenai faktor

pendukung minat baca berdasarkan SDM yang ada di TBM JI :


“Kalau saya kan gini usahanya saya secara pribadi ya, kalau saya
masuk ke Majelis Ta’lim, Alhamdulillah saya dipercaya disitu untuk
bedah buku fiqih,bagaimana menanamkan orang tua suka dengan
fiqih...”

2) Program-Program yang Menarik

TBM JI untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca lebih

mengutamakan program yang menarik, karena program yang menarik

sebagai modal utama dalam menarik minat baca masyarakat. Program

menarik yang di adakan di TBM JI selalu merujuk ke buku sebagai bahan

referensi untuk program yang akan diadakan. Berikut hasil wawancara

dengan informan RM mengenai faktor pendukung berdasarkan program

yang menarik di TBM JI:

“Pertama kalau di TBM JI harus punya program yang menarik minat


baca, misalnya kita punya program yang kaitannya dengan anak-anak
PAUD ya, bagaimana anak-anak bisa datang ke TBM karena dia
tertarik dengan buku-buku, dengan warna-warni ini mereka tertarik
bisa membaca maka harus diperbanyak buku-buku cerita yang
kaitannya dengan anak-anak ya...”

3) Kerjasama dengan Organisasi-Organisasi

Untuk menjadikan sebuah TBM itu tetap efektif dan aktif, dalam upaya

menumbuhkan dan mengembangkan minat baca masyarakat maka TBM JI

membutuhkan kerjasama atau bermitra dengan organisasi-organisasi luar.

TBM JI telah melakukan kerjasama dengan mahasiswa Sukabumi, Dinas

Pendidikan, PERPUSDA, TBM MAGMA, TBM Al-Hidayah, dll. Berikut

hasil wawancara dengan informan RM mengenai faktor pendukung

berdasarkan kerjasama atau bermitra dengan organisasi-organisasi yang

ada di TBM JI :
“Seperti ini kan dari bungkus kopi bekas ya, ini produk Jendela Ilmu
kerjasama dengan mahasiswa Sukabumi. Eksternalnya bagaimana
kita bisa merangkul atau bermitra dengan organisasi-organisasi luar
supaya TBM itu tidak vakum...”

4) Pengelompokkan Usia Masyarakat

Melalui program-program yang diselenggarakan oleh TBM JI, TBM JI

menyesuaikan program berdasarkan kelompok usia dan berdasarkan

kebutuhan masyarakat, karena dengan mengelompokkan program-program

berdasarkan kelompok usia agar program-programnya lebih terarah dan

disesuaikan dengan bahan bacaan yang dibutuhkan. Program

tersebut dibagi menjadi 3 kelompok yaitu PAUD, PKK dan Majelis

Ta’lim, dan Remaja. Berikut hasil wawancara dengan informan RM

mengenai faktor pendukung berdasarkan pengelompokkan usia

masyarakat yang ada di TBM JI :

“Saya menjadikan sekeliling mitra saya menjadi tiga minat baca,


minat baca PAUD, minat baca PKK, minat baca Majelis Ta’lim...”

Dari faktor pendukung minat baca yang telah dipaparkan oleh informan,

yang menjadi faktor pendukung minat baca di TBM JI yaitu kualitas SDM,

program-program yang menarik, kerjasama dengan organisasi-organisasi dan

pengelompokkan usia masyarakat.

Faktor pendukung minat baca secara internal yang dialami oleh TBM JI

adalah kualiatas SDM, untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca di

TBM JI, pengelola TBM JI merupakan seorang yang aktif di masyarakat dan

pengelola TBM merupakan seorang pendidik, sehingga memiliki semangat untuk

memajukan sebuah TBM yang berguna untuk mencerdaskan kehidupan

masyarakat di sekitarnya. Tanpa SDM yang baik untuk mengelola TBM maka
tidak akan menciptakan generasi-generasi yang cerdas dalam upaya pembinaan

minat baca.

Pengelompokkan usia masyarakatnya, maksudnya TBM JI menyesuaikan

program minat baca berdasarkan kelompok usia dan berdasarkan kebutuhan

masyarakat, kelompok usia tersebut dibagi menjadi tiga kelompok yaitu PAUD,

PKK dan Majelis Ta’lim, dan Remaja. Untuk program minat baca PAUD yaitu

mewarnai, untuk PKK dan Majelis Ta’lim yaitu membuat kerajinan tangan dan

untuk remaja yaitu Tadabur Alam kerjasama dengan Remaja Masjid, dan TBM JI

juga bekerjasama dengan mahasiswa mengumpulkan limbah plastik yang tidak

terpakai untuk didaur ulang dan dijadikan kerajinan tangan.

Program yang menarik, TBM JI untuk menumbuhkan dan meningkatkan

minat baca lebih mengutamakan program yang menarik, program menarik yang di

adakan di TBM JI selalu merujuk ke buku sebagai bahan referensi untuk program

yang akan diadakan. Karena program yang menarik sebagai modal utama dalam

menarik minat baca masyarakat, faktor pendukung minat baca ini masuk ke dalam

faktor internal.

Menurut peneliti, faktor yang mendukung minat baca secara internal yang

dilakukan oleh TBM JI sudah baik dan sudah merata dalam memenuhi kebutuhan

masyarakat dengan mengelompokkan minat baca berdasarkan kelompok usia

yang bertujuan agar program-program yang dijalankan lebih terarah, dan SDM di

TBM JI untuk masa yang akan datang akan terus bertahan dan meningkatkan

upaya pembinaan minat baca masyarakat melalui program-program menarik

lainnya yang tidak berkaitan langsung dengan buku maupun yang berkaitan

langsung dengan buku. Untuk program yang berkaitan langsung dengan buku
sebaiknya ditambah lagi dan divariasikan agar pengetahuan dan wawasan

masyarakat bertambah dan semakin kaya dengan ilmu pengetahuan yang

didapatkan dari semua buku yang ada di TBM JI.

Faktor pendukung minat baca secara eksternal yang dialami oleh TBM JI

adalah kerjasama dengan organisasi, dalam upaya menumbuhkan dan

meningkatkan minat baca masyarakat maka TBM JI membutuhkan kerjasama

dengan organisasi-organisasi luar. TBM JI telah bekerjasama dengan mahasiswa

Sukabumi, Dinas Pendidikan, PERPUSDA, TBM MAGMA, dan CSR Smarfren.

Kerjasama ini dilakukan untuk menunjang finansial dalam operasional TBM JI

melalui program-program yang diadakan.

Menurut peneliti, faktor yang mendukung minat baca secara eksternal

yaitu kerjasama dengan organisasi sudah baik. Karena kerjasama dengan

organisasi-organisasi luar memudahkan TBM JI dalam menjalankan kegiatan

operasional TBM JI.

3. Faktor yang Menghambat Minat Baca di TBM SBJD dan TBM JI

a. TBM SBJD

Disadari bahwa kondisi minat baca masyarakat kita belum sejajar dengan

bangsa lain. Kondisi ini akan menghambat tercapainya masyarakat

pembelajar/learning society. Padahal terwujudnya masyarakat pembelajar

merupakan syarat utama untuk menuju masyarakat yang maju. Untuk itu TBM

perlu meningkatkan kuantitas dan kualitas layanannya, meningkatkan sarana

prasarana, dan lainnya. Tetapi minat baca tidak selalu terlihat jelas sebab selalu
ada faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang menghambat minat baca di TBM

SBJD yaitu :

1) Kurangnya Sponsor

Karena kekurangan sponsor, maka TBM SBJD mengalami masalah dana,

karena kekurangan dana TBM SBJD pada saat ini belum menjalankan

operasionalnya dengan baik dan ini juga berakibat kepada SDM yang ada

di TBM SBJD pada saat ini. Berikut hasil wawancara dengan informan

KH mengenai faktor penghambat berdasarkan sponsor dan SDM yang ada

di TBM SBJD :

“Pertama kekurangan ya kekurangan ini sponsor, itu


berimplikasi pada recruitment SDM.”

2) Terbatasnya Bangunan TBM

Karena keterbatasan pengembangan, memang bangunan Yayasan SBJD

menjadi satu di dalam rumah pribadi. Ruangan yang tersedia dibagi untuk

beberapa bagian yaitu TK/TP Al-Qur’an dan Kelas Tahfidz. Berikut hasil

wawancara dengan informan KH mengenai faktor penghambat karena

terbatasnya bangunan TBM SBJD :

“Masih menempati rumah ya?”

3) Kurangnya Sosialisasi

Akses TBM SBJD terbuka untuk masyarakat, namun kurangnya sosialisasi

kepada masyarakat maka pada saat ini hanya pemustaka dari anak didik,

orang tua, dan mentor yang aktif dalam layanan sirkulasi koleksi buku

yang ada di TBM SBJD. Berikut hasil wawancara dengan informan KH

mengenai faktor penghambat minat baca:


“Kami sudah menyiapkan kartu perpustakaan, tetapi lagi-lagi orang-
orang yang tidak menjadi komunitas mungkin mereka tidak tau atau
mereka tidak mengerti maka itu perlu sosialisasi.”

4) Perkembangan Teknologi Informasi

Karena sekarang saat ini sangat dipengaruhi dengan perkembangan

teknologi informasi, dengan perkembangan koleksi dan beberapa sumber

informasi dapat diakses dengan sangat cepat , kapan saja dan dimana saja,

sehingga buku-buku tercetak sudah mengalami pergeseran. Berikut hasil

wawancara dengan informan KH mengenai faktor penghambat

berdasarkan teknologi informasi :

“Buku-buku sekarang juga sudah cenderung bersifat digital, jadi


untuk mencari buku yang cetak terjadi pergeseran, jadi mereka bisa
akses langsung di internet kebutuhan dan informasi apapun itu juga
bisa langsung unduh dari internet.”

5) Kurangnya Dukungan dan Kerjasama dari Semua Lapisan

Masyarakat

Karena TBM SBJD adalah lembaga yang non profit dan masih dalam

proses pengembangan, maka TBM SBJD memerlukan dukungan dan

kerjasama dari semua lapisan masyarakat, baik dukungan akademik dan

non akademik. Dukungan tersebut tidak hanya berupa materil tetapi juga

imateril. Berikut hasil wawancara dengan informan KH mengenai faktor

penghambat berdasarkan dukungan dan kerjasama dari semua lapisan

masyarakat :

“TBM di tempat kami, memerlukan dukungan sebenarnya, dukungan


akademik maupun dukungan non akademik, dukungan dari semua
lapisan, baik itu lapisan masyarakat maupun lapisan jaringan lain
termasuk lapisan donasi pihak yang mendonasi...”
6) Kurangnya Dukungan dan Kerjasama dari Pemerintah.

Tidak hanya dukungan dan kerjasama dari lapisan masyarakat, baik

akademik dan non akademik, tetapi dukungan dan kerjasama dari

pemerintah juga sangat diperlukan dalam upaya menumbuhkan dan

meningkatkan minat baca melalui program-program yang akan

dilaksanakan oleh sebuah TBM, namun yang dirasakan oleh TBM SBJD

sebaliknya yaitu tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah Tangerang

Selatan. Berikut hasil wawancara dengan informan KH mengenai faktor

penghambat berdasarkan dukungan dan kerjasama dari pemerintah :

“Ya sikap pemerintah Tangerang Selatan kurang memberikan


pemerataan terhadap TBM. Ketika ada dana bantuan yang tadinya
dijanjikan, tidak keluar...”

7) Rendahnya Sikap dan Minat Anak-Anak terhadap Bahan Bacaan

Sikap dan minat anak-anak terhadap bahan bacaan memang belum

maksimal, karena sebagian anak-anak belum bisa membaca secara

mandiri, anak-anak membutuhkan dorongan untuk membaca buku-buku

yang ada di TBM SBJD. Namun karena keterbatasan yang dimiliki

pustakawan yang tidak menetap di Yayasan SBJD, maka belum bisa

memberikan dorongan yang maksimal untuk menumbuhkan dan

meningkatkan minat baca, maka minat baca cukup sulit dilaksanakan dan

ditanamkan kepada anak-anak maupun masyarakat di sekitar. Dan hal

yang tidak bisa dipungkiri lagi yaitu karena keterbatasan dana. Berikut

hasil wawancara dengan informan KH mengenai faktor penghambat

berdasarkan sikap dan minat anak-anak terhadap bahan bacaan yang ada di

TBM SBJD :
“Sikap anak-anak belum maksimal, masalahnya untuk orang yang
bertanggung jawab secara langsung juga tidak permanen ibaratnya
seperti itu..”.

8) Waktu Kerja Mentor

Fokus kerja mentor masih terbagi-bagi sehingga belum bisa maksimal.

Maka diperlukannya kerjasama yang baik. Berikut hasil wawancara

dengan informan KH mengenai faktor penghambat berdasarkan SDM

yang ada di TBM SBJD :

“Kami sulit untuk meng-higher petugasnya secara langsung untuk


benar-benar bisa mendorong minat baca secara simultan...”

Menurut peneliti, kelebihan TBM SBJD yang ada memang sangat

dibutuhkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan bahan bacaan.

Dalam pelaksanaannya, TBM SBJD mempunyai kekurangan dan kelebihan.

Dimana kekurangan yang ada bisa menjadi pelajaran, untuk kita lebih

mengoptimalkan kembali pengelolaan yang lebih baik kedepannya.

Dari beberapa faktor penghambat minat baca di TBM SBJD yang ada

yaitu kurangnya sponsor, terbatasnya bangunan TBM, kurangnya sosialisasi,

teknologi informasi, kurangnya dukungan dan kerjasama dari semua lapisan

masyarakat, kurangnya dukungan dan kerjasama dari pemerintah, rendahnya sikap

dan minat anak-anak terhadap bahan bacaan dan waktu kerja mentor.

Beberapa faktor yang menghambat minat baca di TBM SBJD adalah

apresiasi dan respon masyarakat terhadap perpustakaan yang masih rendah,

karena TBM SBJD adalah lembaga yang non profit dan masih dalam proses

pengembangan, tidak hanya berupa materil tetapi juga imateril, maka TBM SBJD

memerlukan dukungan dan kerjasama dari semua lapisan masyarakat, baik


dukungan akademik dan non akademik, dukungan dan kerjasama dari pemerintah.

Akses TBM SBJD terbuka untuk masyarakat, namun kurangnya sosialisasi

kepada masyarakat maka pada saat ini hanya pemustaka dari anak didik, orang

tua, dan mentor yang aktif dalam layanan sirkulasi koleksi buku yang ada di TBM

SBJD. Maka untuk kedepannya perlu mengadakan sosialisasi kepada semua

masyarakat sekitar.

Terbatasnya bangunan TBM, karena keterbatasan pengembangan,

memang bangunan Yayasan SBJD menjadi satu di dalam rumah pribadi. Ruangan

yang tersedia dibagi untuk beberapa bagian yaitu TK/TP Al-Qur’an dan Kelas

Tahfidz. Jadi, ruangan TBM masih menyatu dengan kelas TK/TP Al-Qur’an.

Kurangnya sponsor, maka TBM SBJD mengalami masalah dana, karena

kekurangan dana TBM SBJD pada saat ini belum menjalankan operasionalnya

dengan baik. Kemudian waktu kerja mentor yaitu pengelola yang ada di Yayasan

SBJD belum menetap, maka fokusnya masih terbagi-bagi sehingga belum bisa

maksimal. Karena TBM SBJD berada di Ciputat yang disebut sebagai kota pelajar

maka TBM SBJD mempunyai harapan agar kerjasama antara masyarakat, Civitas

Akademika UIN terutama pada Jurusan Ilmu Perpustakaan untuk bisa

memberikan partisipasinya melalui program-program yang kreatif kepada TBM

SBJD. TBM SBJD pada saat ini baru saja mendapatkan bantuan buku dari

PERPUSNAS dan sumbangan perorangan, buku-buku yang diterima oleh TBM

SBJD sudah banyak dan buku-buku tersebut membutuhkan dana untuk

pengolahannya maka diperlukannya kerjasama ini.

Kemudian teknologi informasi, saat ini anak-anak sangat dipengaruhi

dengan perkembangan teknologi informasi dan lebih tertarik dengan game online,
gadget-gadget yang memudahkan semua orang untuk mengakses informasi, dan

lain-lain. Dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat buku-

buku tercetak mengalami pergeseran.

Sikap dan minat anak-anak terhadap bahan bacaan memang belum

maksimal, karena sebagian anak-anak belum bisa membaca secara mandiri, anak-

anak membutuhkan dorongan untuk membaca buku-buku yang ada di TBM

SBJD. Namun karena keterbatasan yang dimiliki pustakawan yang tidak menetap

di Yayasan SBJD, maka belum bisa memberikan dorongan yang maksimal untuk

menumbuhkan dan meningkatkan minat baca, maka minat baca cukup sulit

dilaksanakan dan ditanamkan kepada anak-anak maupun masyarakat di sekitar.

Menurut peneliti, faktor yang menghambat minat baca disadari memang

dialami oleh semua TBM. Sebaiknya TBM SBJD melakukan sosialisasi kepada

masyarakat agar koleksi buku yang ada di TBM SBJD dapat dimanfaatkan untuk

menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat. Agar masyarakat berapresiasi

dan merespon dengan adanya TBM disekitar lingkungannya, maka TBM

membuat program yang menarik minat masyarakat untuk datang ke TBM dan

pengelola TBM dapat mensosialisasikan tujuan adanya TBM SBJD ini.

Kerjasama dengan sponsor memang sangat dibutuhkan karena dari

kerjasama inilah TBM SBJD mendapatkan bantuan dana, untuk mendapatkan

dana tersebut tidaklah mudah, TBM SBJD harus lebih aktif lagi untuk

mengusahakan mencari informasi tentang bantuan dana TBM dan membuat

proposal bantuan untuk TBM. Jika dana tersebut telah didapatkan maka dalam

pelaksanaanya TBM SBJD bisa berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan

sarana dan prasarananya, SDM, Pengelolaan TBM dan lain-lain. Kerjasama dan
dukungan dari pemerintah sangat dibutuhkan dalam hal ini, karena pemerintah

mempunyai peranan yang sangat penting dalam memajukan bangsa. Jadi semua

pihak terlibat tidak hanya satu pihak yang berperan, karena semua itu tidak

mungkin terlaksana tanpa adanya kerjasama yang baik.

Sikap dan minat anak-anak terhadap bahan bacaan memang seharusnya

diberikan dorongan atau stimulus secara rutin baik dari tenaga pustakawan,

mentor dan orang tua juga harus bekerjasama. Untuk perekrutan tenaga pengelola

pada masa yang akan datang agar diusahakan yang menetap dan terkondisikan

dengan baik, dalam menangani minat baca anak-anak di TBM SBJD.

Teknologi informasi sebaiknya bisa diarahkan penggunaanya yaitu mentor

mengarahkan dan memperkenalkan kepada anak-anak untuk mengakses informasi

yang baik dan sesuai dengan kebutuhannya melalui gadget yang dimilikinya.

b. TBM JI

Faktor yang menghambat di TBM JI yaitu ketidak pedulian orang tua

terhadap pendidikan anak, pendanaan, dan ketidak pedulian masyarakat.

1) Ketidak Pedulian Orang Tua terhadap Pendidikan Anak

Salah satu faktor yang mendukung minat baca ialah pendidikan dari

keluarga, terutama orang tua, karena orang tua sangat memegang peranan

penting dalam tumbuh kembangnya kemampuan belajar anak, namun

banyak orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anak terutama

minat baca anak. Hal ini diutarakan oleh informan RM mengenai ketidak

pedulian orang tua :

“Banyak, faktor penghambatnya diantaranya satu ketidak pedulian


orang tua terhadap pendidikan anak ya, terutama minat baca...”
2) Dana yang Masih Terbatas

Namun yang menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan operasional

TBM JI yaitu dana yang terbatas, dan ini berdampak pada sarana dan

prasarana yang dimiliki TBM JI juga terbatas. Dengan keterbatasan dana

yang ada maka TBM JI melakukan kerjasama seperti yang sudah

dijelaskan sebelumnya, dari kerjasama ini TBM JI sangat terbantu, TBM

JI juga menjalin kerjasama dan mendapat perhatian dari pemerintah

dengan keberadaan TBM JI yang ditempatkan di dalam rumahnya,

kerjasama yang dilakukan yaitu dengan CSR Smarfren, PERPUSDA,

MAGMA, PERPUSNAS dan Perusahaan dari Kerajinan Kertas Kokoru.

Berikut hasil wawancara dengan informan RM mengenai faktor

penghambat dari segi pendanaan :

“Kemudian yang kedua kendala dengan keuangan, dana ya, karena


TBM itu lembaga non-profit tidak menghasilkan, mungkin dari segi
sarana dan prasarana, karna terbentur dana lagi, sarana dan
prasarana kita ini ya apa adanya ya...”

3) Ketidak Pedulian Masyarakat

Karena masih banyak masyarakat yang belum tahu dan belum meratanya

sosialisasi tentang TBM, maka masyarakat yang tidak tahu maka

masyarakat menjadi tidak peduli tersebut menanggapi keberadaan TBM

menjadi negatif. Berikut hasil wawancara dengan informan RM

mengenai faktor penghambat dari ketidak pedulian masyarakat :

“Yang ketiga ada kendala lain adalah sikap cuek masyarakat sekitar
terhadap TBM...”
Dari beberapa faktor penghambat minat baca di TBM JI yang ada yaitu

ketidakpedulian orang tua terhadap pendidikan anak, dana yang masih terbatas,

dan ketidak pedulian masyarakat.

Beberapa faktor penghambat minat baca di TBM JI adalah tingkat

pendidikan masyarakat yang masih banyak di bawah standar yaitu pendidikan dari

keluarga, terutama orang tua, karena orang tua sangat memegang peranan penting

dalam tumbuh kembangnya kemampuan belajar anak, namun banyak orang tua

yang kurang memperhatikan pendidikan anak terutama minat baca anak. Karena

orang tua hanya memberikan pendidikan formal saja kepada anak namun tidak

diimbangi dengan pendidikan non formal. Apresiasi dan respon masyarakat

terhadap perpustakaan yang masih rendah yaitu karena masih banyak masyarakat

yang belum tahu dan belum meratanya sosialisasi tentang TBM, maka masyarakat

yang tidak tahu tersebut menanggapi keberadaan TBM menjadi negatif. Maka

diperlukannya sosialisasi dan arahan kepada masyarakat tentang keberadaan TBM

di lingkungan mereka.

Faktor penghambat minat baca di TBM JI yang lainnya adalah dana yang

masih terbatas, dengan keterbatasan dana maka sarana dan prasarana yang

dimiliki belum maksimal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Maka TBM JI

melakukan kerjasama seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dari kerjasama

ini TBM JI sangat terbantu, TBM JI juga menjalin kerjasama dan mendapat

perhatian dari pemerintah dengan keberadaan TBM JI yang ditempatkan di dalam

rumahnya, kerjasama yang dilakukan yaitu dengan CSR Smarfren, PERPUSDA,

MAGMA, PERPUSNAS dan Perusahaan dari Kerajinan Kertas Kokoru.


Menurut peneliti, Pengelola TBM dalam meningkatkan kemampuan

keterampilan dalam mengelola TBM dan memotivasi minat baca masyarakat

sudah baik, untuk meningkatkan dan menumbuhkan minat baca masyarakat lebih

baik dan lebih banyak lagi pemustaka yang berapresiasi kepada program-program

yang ada di TBM JI maka dalam melakukan kegiatan promosi lebih efektif lagi

kepada masyarakat.

C. Pembahasan

Pada bagian ini penulis akan menjelaskan pembahasan dari hasil penelitian

pada bab IV. Hasil penelitian upaya pembinaan minat baca yaitu suatu usaha yang

dilakukan untuk meningkatkan minat baca di Taman Bacaan Masyarakat dengan

menyelenggarakan program-program yang bertujuan memberikan dorongan

kepada masyarakat untuk meningkatkan minat baca.

Dalam upaya pembinaan minat baca adalah dengan mengadakan program-

program yang dilakukan untuk menarik minat membaca. Program yang

dilaksanakan untuk menarik anak datang ke perpustakaan dan sekaligus secara tak

langsung memberitahukan kepada masyarakat sekitar akan adanya perpustakaan

di kawasan tempat tinggal mereka. Program tersebut yaitu:

1. Mula-mula melalui acara yang tidak ada kaitan secara langsung dengan

buku, tetapi karena dilaksanakan di perpustakaan maka diharapkan anak

akan tertarik melihat-lihat dan akhirnya membaca buku.

a. Menyelenggarakan kelas melukis, pameran lukisan dan lomba melukis.

b. Menyelenggarakan kelas seni: musik, tari, drama, dan nyanyi.

c. Menyelenggarakan kelas pekerjaan tangan: membuat berbagai prakarya.


d. Mengadakan kelas permainan, catur, kuis, congklak, dan lain-lain.

e. Pemutaran film/video untuk anak dan remaja.

2. Mengadakan acara langsung yang langsung berhubungan dengan buku.

a. Kegiatan mendongeng secara langsung tanpa alat peraga atau dengan

jalan membacakan cerita. Kegiatan ini bisa melibatkan anak dengan

memintanya ikut menjadi salah satu tokoh. Bisa juga mendongeng

dengan boneka atau alat peraga.

b. Kegiatan membicarakan buku/berdiskusi setelah acara mendongeng, baik

mengenai buku yang bersangkutan ataupun mengenai buku dengan tema

sejenis untuk memperluas wawasan anak.

c. Mengadakan kegiatan penelitian kecil-kecilan untuk meningkatkan rasa

ingin tahu dan menyalurkan kreativitas anak terutama setelah membaca

buku non-fiksi.

d. Pameran buku dengan tema-tema tertentu misal cerita petualangan, cerita

tentang hantu, humor, dan sebagainya.

e. Mengadakan pameran buku secara teratur misalnya datang buku baru.

Pameran buku juga bisa dilakukan untuk memperingati berbagai

peristiwa.1

Berikut hasil temuan upaya pembinaan minat baca melalui program-

program yang ada di kedua TBM, TBM SBJD dan TBM JI yaitu

menyelenggarakan pentas seni, membuat MADING, membaca buku kemudian

membuat ringkasan, mensirkulasi buku-buku dengan tema yang berbeda setiap


1
Murti
1 Bunanta
2 . Buku,
Mendon
geng
dan
Minat
Memba
ca.
(Jakarta
:
Kelomp
ok
Pecinta
Bacaan
Anak,
2008),
h.
minggunya, membuat gelang dari manik-manik, bros dari kain perca, kerajinan

kertas kokoru, kerajinan dari limbah yang tidak terpakai, kerajinan dari sedotan

dan kerajinan dari flannel, lomba memasak, pemutaran film/video, story telling,

pameran buku dan bedah buku.

Program-program lainnya yang ada di TBM SBJD dan TBM JI namun

belum dibahas dalam teori ini adalah mewarnai, outbound dan tadabburr alam,

pembaca buku terbanyak akan diberikan reward, TK/TP Al-Qur’an dan kelas

Tahfidz.

Faktor yang mendukung minat baca adalah :

a. Faktor Internal

Secara umum, terdapat dua faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya

minat baca yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor

yang berasal dari dalam diri seperti pembawaan, kebiasaan dan ekspresi diri.

Faktor internal meliputi intelegensi, usia, jenis kelamin, kemampuan

membaca, sikap, serta kebutuhan psikologis. Intelegensi merupakan kemampuan

keseluruhan atau global individu untuk bertindak sesuai dengan tujuan, berpikir

logis atau rasional, dan berbuat secara efektif terhadap keadaan.

Berikut hasil temuan faktor pendukung minat baca melalui program-

program yang ada di kedua TBM, yang termasuk ke dalam faktor internal ialah

sarana dan prasarana yaitu koleksi buku yang beragam, ruangan yang memberikan

suasana nyaman, kualitas SDM maksudnya kemampuan mengelola TBM dan

membina minat baca masyarakat berdasarkan kelompok usia. Faktor eksternal

yang belum dibahas dalam teori ini adalah mengaji atau membaca Iqra’ dan Al-

Qur’an serta menghafalnya melalui program kelas TK/TP Al-Qur’an dan Kelas
Tahfidz dan mengadakan program yang menarik untuk masyarakat, seperti:

membuat gelang dari manik-manik, bros dari kain perca, kerajinan kertas dari

kokoru, kerajinan dari limbah yang tidak terpakai, kerajinan dari sedotan dan

kerajinan dari flannel.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal meliputi: belum tersedianya bahan bacaan yang sesuai,

status sosial, ekonomi, kelompok etnis, pengaruh teman sebaya, orang tua, guru,

televisi, serta film. Belum tersedianya bahan bacaan yang sesuai, maksudnya

masih memilih-milih bahan bacaan, padahal, sebetulnya untuk dapat

meningkatkan minat membaca, tidak harus membaca buku yang sangat kita

senangi, karena dengan cara membaca bahan bacaan apapun, secara tidak

langsung kita sedang melatih diri agar terbiasa untuk membaca, sehingga kita

akan senang membaca, karena membaca adalah untuk mendapat informasi, dan

informasi itu dapat diperoleh dari berbagai macam bahan bacaan.

Informasi yang mendukung dalam belajar adalah berupa bahan-bahan

yang tertulis yang mengharuskan kegiatan membaca sehingga apa yang

dibutuhkan dapat tercapai. Sebagai sarana membaca, perpustakaan merupakan

sumber informasi dan pengetahuan yang mengantar pemustaka ke dunia yang

lebih luas, sebagai media yang dapat menghubungkan segala peristiwa pada masa

lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Keberadaan perpustakaan sangat

diperlukan karena perpustakaan dapat memberikan segala kebutuhan akan minat,


2
khususnya minat dalam membaca koleksi-koleksi perpustakaan.

2
Teguh Yudi Cahyono. “Peran Perpustakaan dalam Membina Kemampuan dan Minat Baca.” Artikel diakses
pada 14 November 2014 dari http://118.97.219.90/images/stories/pustakawan/pdfteguh/kemampuan dan minat baca.pdf.
Sedangkan faktor eksternal yang ada di kedua TBM ialah dana operasional

TBM dan kerjasama dengan organisasi-organisasi luar.

Faktor yang menghambat minat baca adalah kelompok masyarakat yang

memiliki minat dan budaya baca rendah disebabkan karena :

a. Akses informasi dari dan ke perpustakaan (sumber-sumber bacaan)

terbatas.

b. Tingkat pendidikan masyarakat yang masih banyak di bawah standar.

c. Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang kurang menguntungkan

sehingga mempengaruhi daya beli mereka terhadap bahan bacaan

d. Layanan perpustakaan kepada masyarakat yang belum merata, dan

e. Apresiasi dan respon masyarakat terhadap perpustakaan yang masih

3
rendah.

Berikut hasil temuan faktor yang menghambat minat baca melalui

program-program yang ada di kedua TBM adalah kurangnya sosialisasi,

perkembangan Teknologi Informasi, kurangnya dukungan dan kerjasama dari

semua lapisan masyarakat, kurangnya dukungan dan kerjasama dari pemerintah,

rendahnya sikap dan minat anak-anak terhadap bahan bacaan dan ketidak pedulian

orang tua terhadap pendidikan anak. Faktor penghambat lainnya di kedua TBM

ini, namun belum dibahas dalam teori ini adalah kurangnya sponsor, terbatasnya

bangunan TBM dan dana yang masih terbatas.

3
Perpustakaan Nasional RI. Kajian Pembudayaan Kegemaran Membaca. (Jakarta: Perpustakaan
Nasional RI, 2011), h. 6
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka

peneliti mengambil beberapa kesimpulan tentang Upaya Pembinaan Minat Baca

di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) : Studi Kasus TBM Sanggar Baca Jendela

Dunia dan TBM Jendela Ilmu, yaitu :

1. Upaya pembinaan minat baca melalui program-program di TBM SBJD yang

sifatnya umum merupakan program jangka pendek, sedangkan yang sifatnya

keagamaan merupakan program jangka panjang. Adapun program yang tidak

ada kaitannya secara langsung dengan buku di TBM SBJD adalah

menyelenggarakan pentas seni, menyelenggarakan kelas pekerjaan tangan dan

menyelenggarakan kelas permainan. Sedangkan program yang langsung

berkaitan dengan buku adalah mengadakan kegiatan penelitian kecil-kecilan,

pameran buku dan pembaca buku terbanyak. Program yang diadakan di TBM

JI yang sifatnya umum merupakan program jangka pendek dan lebih banyak

program yang tidak berkaitan langsung dengan buku yaitu menyelenggarakan

hiburan atau pentas seni, membuat prakarya, outbound dan tadabur alam.

Untuk program yang langsung berkaitan dengan buku ialah mendongeng,

pameran buku dan bedah buku.

2. Faktor pendukung minat baca secara internal yang ada di TBM SBJD adalah

sarana dan prasarana yang terdiri dari tersedianya buku yang cukup beragam,

ruangan yang memberikan suasana nyaman bagi pemustakanya serta kualitas

92
93

SDM yaitu pengelola seperti mentor yang berasal dari kalangan mahasiswa

UIN. Faktor pendukung minat baca secara eksternal yaitu kerjasama dengan

KEMENAG, orang tua wali murid berupa financial serta bantuan buku-buku

dari PERPUSNAS dan perorangan. Faktor pendukung minat baca secara

internal di TBM JI adalah kualitas SDM yang merupakan seorang pendidik dan

aktif di masyarakat, mengadakan program-program yang menarik, dan

pengelompokkan usia masyarakat yang terdiri dari tiga kelompok yaitu anak-

anak, remaja dan orang tua. Sedangkan faktor pendukung minat baca secara

eksternal yaitu TBM JI telah bekerjasama dengan mahasiswa Sukabumi, Dinas

Pendidikan, PERPUSDA, TBM MAGMA, PERPUSNAS dan CSR Smarfren

berupa financial dan buku-buku.

3. Faktor penghambat minat baca di TBM SBJD yaitu kurangnya sponsor,

terbatasnya bangunan TBM, kurangnya sosialisasi, teknologi informasi,

kurangnya dukungan dan kerjasama dari semua lapisan masyarakat, kurangnya

dukungan dan kerjasama dari pemerintah, rendahnya sikap dan minat anak-

anak terhadap bahan bacaan dan waktu kerja mentor. Sedangkan faktor

penghambat minat baca di TBM JI adalah ketidakpedulian orang tua terhadap

pendidikan anak, dana yang masih terbatas, dan ketidak pedulian masyarakat.

B. Saran

Saran yang dapat diberikan oleh penulis untuk TBM SBJD dan TBM JI,

dalam upaya pembinaan minat baca adalah sebagai berikut :

1. Untuk mendukung minat baca anak-anak di TBM SBJD dan TBM JI, langkah

kedepannya bisa memberikan dorongan atau stimulus dan terus memotivasi


94

anak-anak secara rutin dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca

anak-anak. Tidak hanya anak-anak tetapi juga untuk remaja, dewasa dan orang

tua juga perlu disosialisasikan upaya pembinaan minat baca melalui program-

program yang diadakan di TBM SBJD dan TBM JI. Baik program yang tidak

berkaitan langsung dengan buku maupun yang berkaitan langsung dengan

buku.

2. Dari faktor penghambat yang ada di TBM SBJD dan TBM JI membutuhkan

sarana promosi yang lebih baik dan efektif yaitu memperbaharui program-

program secara berkala melalui jejaring sosial dan dengan media sosial inilah

bisa memperkenalkannya melalui masyarakat di sekitar dan sekolah-sekolah

agar koleksi buku yang ada di TBM SBJD dapat dimanfaatkan untuk

menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat. Agar masyarakat

berapresiasi dan merespon dengan adanya TBM disekitar lingkungannya, maka

TBM juga dapat membuat program yang menarik minat masyarakat agar

masyarakat datang ke TBM dan pengelola TBM dapat mensosialisasikan

tujuan adanya TBM ini.

3. TBM SBJD dan TBM JI untuk kerjasama dan dukungan dari pemerintah

sangat dibutuhkan dalam hal ini, karena pemerintah mempunyai peranan yang

penting dalam memajukan bangsa. Jadi semua pihak terlibat tidak hanya satu

pihak yang berperan, karena semua itu tidak mungkin terlaksana tanpa adanya

kerjasama yang baik. Untuk kedepannya TBM SBJD dan TBM JI tetap

mempertahankan dan meningkatkan upaya pembinaan minat baca kepada

masyarakat melalui program-programnya.


DAFTAR PUSTAKA

Asrorun Ni’am Sholeh. Perpustakaan Jendela Dunia : Teks, Konteks, dan


Dinamika Pembahasan Undang-Undang tentang Perpustakaan. Depok:
eLSAS, 2008.

Daniel Hermawan.”KOMPAS (Komunitas Pembaca Setia) : Peran Masyarakat


Sebagai Agent of Change dalam Pengembangan Perpustakaan”. Visi
Pustaka. Volume 12 Nomor 3 Desember 2010.

Heri Hidayat dan Siti Aisah. Read Interest Co-Relational With Student Study
Performance In IPS Subject Grade IV (Four) In State Elementary School 1
Pagerwangi Lembang. Artikel diakses pada 8 April 2014, 10.44 a.m dari
http://www.ijstr.org/final-print/jan2013/Read-Interest-Co-relational-With-
Student-Study-Performance-In-Ips-Subject-Grade-Iv-Four-In-State-
Elementary-School-1-Pagerwangi-Lembang.pdf.

Ifah Hanifah. Pembelajaran Membaca Permulaan Melalui Metode Analisis Glass


Bagi Siswa Berkesulitan Membaca (Reading Difficulties) (Studi Kasus
Pada Siswa Kelas III SDN Cinembeuy-Kuningan). Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia, 2013.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Diakses pada 2 April 2014, 5.24 p.m
dari http://kbbi.web.id/upaya.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Petunjuk Teknis Pengajuan dan


Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat Bantuan Perluasan dan
Penguatan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Jakarta: Direktorat
Pembinaan Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan
Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal, 2012.

. Petunjuk Teknis Pengajuan,


Penyaluran, dan Pengolahan Bantuan Bacaan Masyarakat Ruang Publi.
Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Direktorat
Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal, 2013.

Khotijah Samsul. “Strategi Pengembangan Minat dan Kegemaran Baca,” diakses


pada 22 Januari 2014, 10.34 p.m dari http://e-
dokumen.kemenag.go.id/files/G4pKDLun1338123296.pdf.

Lasa HS. “Peran Perpustakaan dan Penulis Dalam Peningkatan Minat Baca
Masyarakat”. Visi Pustaka. Volume 11 Nomor 2 Agustus 2009.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya, 2001.

95
96

Melati Indri Hapsari. “Analisis Sistemik Penyelenggaraan Taman Bacaan


Masyarakat di Kabupaten Semarang”. Jurnal diakses pada 26 April 2014,
2.27 a.m dari
http://andragogia.p2pnfisemarang.org/wp-
content/uploads/2010/10/andragogia1_2.pdf.

Simanjuntak, Melling. “Memaknai Hakikat Minat Baca untuk Tujuan Praktis”.


Visi Pustaka. Volume 13 No.3 Desember 2011.

Mudjito. Pembinaan Minat Baca. Jakarta : Universitas Terbuka, 2001.

Muhammad Syarif Bando. Jadikan Membaca Sebagai Kebiasaan Sehari-hari.


Jakarta: Koran Tempo, 2014.

Murti Bunanta. Buku, Mendongeng dan Minat Membaca. Jakarta: Kelompok


Pecinta Bacaan Anak, 2008.

Perpustakaan Nasional RI. Pencanangan Pemberdayaan Perpustakaan di


Masyarakat. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2001.

. Kajian Pembudayaan Kegemaran Membaca.


Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2011.

. “Buletin Media Pustakawan: Strategi Promosi


Gemar Membaca dan Gemar ke Perpustakaan melalui Kekuatan
Media”. Volume 20 No.3 Tahun 2013.

Prasetya Irawan. Logika dan Prosedur Penelitian. Jakarta: STIA-LAN, 1999.

Rahayuningsih, F. Pengelolaan Perpustakaan. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.

Ratih Rahmawati dan Blasius Sudarsono. Perpustakaan untuk Rakyat dialog


Anak dan Bapak. Jakarta : Sagung Seto, 2012.
Ratri Indah Septiana. “Perkembangan Perpustakaan Berbasis Komunitas : Studi
Kasus Pada Rumah Cahaya, Melati Taman Baca dan Kedai Baca
Sanggar Barudak.” Skripsi S1 Fakultas Ilmu Budaya, Universitas
Indonesia, 2007.
Riduwan. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung : Alfabeta, 2010.

Samiaji Samosa. Penelitian Kualitatif : Dasar-Dasar. Jakarta: Indeks, 2012.

Shaheen Majid. “Understanding the Reading Habits of Children in Singapore”.


Jurnal diakses pada 8 April 2014, 8.23 a.m dari
http://www.vnseameo.org/zakir/Understanding-the-reading-habits-of-
children-in-singapore.pdf.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta, 2012.
97

. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2012.

Sutarno NS. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Sagung Seto, 2006.

Haklev, Stian. Mencerdaskan Bangsa-Suatu Pertanyaan Fenomena Taman


Bacaan di Indonesia. Toronto: IDS University of Toronto at
Scarborough, 2008.
Syamsul Bahri. Pedoman Pembinaan Minat Baca. Jakarta: Perpustakaan
Nasional RI, 2009.
Teguh Yudi Cahyono. ” Peran Perpustakaan dalam Membina Kemampuan dan
Minat Baca.” Artikel diakses pada 14 November 2014, 14.05 a.m dari
http://118.97.219.90/images/stories/pustakawan/pdfteguh/kemampuan dan
minat baca.pdf
TRANSKRIP WAWANCARA

Informan : Dr. Sihabudin Noor, MA


Jabatan : Pendiri Yayasan Sanggar Baca Jendela Dunia
Tanggal Wawancara : Jum’at, 6 Juni 2014

1. Peneliti : Bagaimana awal berdirinya Yayasan Sanggar Baca Jendela


Dunia?
Informan : Awal berdirinya SBJD itu diawali dulu ada beberapa kegiatan
pertama kegiatan di lingkungan, awalnya itu menampung eh... anak-anak di
lingkungan sekitar untuk ngaji di rumah nah eh... awalnya di Mushola nah tutor
yang di Mushola itu nikah lalu kita tarik kemari mereka ngaji di rumah dan
kebetulan juga eh... anak saya Nadia dan Shemil itu mempunyai buku-buku
nah inisiatifnya terus kita coba satukan antara kegiatan mengaji dan membaca.
Lalu eh... itu nah dari situlah kemudian eh... muncul ide membuat Sanggar
Baca nah kegiatan Sanggar Baca ini tidak hanya membaca buku dalam arti
pengertian membaca buku tetapi juga membaca lingkungan, membaca situasi,
membaca perkembangan dan seterusnya. Nah dari ide Sanggar Baca bahwa
kegiatan Sanggar Baca ini tidak hanya kemudian mendirikan perpustakaan,
kegiatan mengaji tetapi juga ada kegiatan seni. Nah kegiatan seni ini eh... kita
melibatkan para mahasiswa yang ada di lingkungan sekitar rumah. Lingkungan
kampus jadi berkumpulah kemudian disini ada anak-anak UIN, anak UI yang
mereka kemudian menjadi tenaga sukarela, nah itu awal mulanya. Nah eh...
SBJD ini belum diformalkan jadi hampir setelah kemudian tiga tahun terfikir
untuk membentuk Yayasan agar diformalkan di badan hukum maka kemudian
tahun 2000 kalo ga salah 2012 ya? 2012 Sanggar Baca ini kita mulai dari tahun
2007,2005,2007,2006,2007 ya sekitar itulah, 2006,2007 lalu kita formalkan
baru tahun 2000 kalo tidak salah 2012, 2013 dalam bentuk Yayasan. Itu aja
kak.

2. Peneliti : Bagaimana upaya anda melakukan perkembangan terhadap


Yayasan Sanggar Baca Jendela Dunia?
Informan : Kebetulan jaringan Ayah, jaringan Bunda itu kan, eh... jadi yang
terlihat itu bukan hanya Ayah dan Bunda disini tetapi juga dengan
memanfaatkan jaringan nah misalnya pada tahun 2007 itu kemudian Wakil
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu pernah datang ke rumah meresmikan
kegiatan Sanggar Baca. Nah dimana kita punya jaringan kesana yaitu lewat
teman-teman juga. Nah teman-teman yang punya jaringan kesana lalu eh...
misalnya jaringan ke penerbit mizan nah disana ada Ka Deden Ridwan,
kemudian jaringan dengan Kelompok Gramedia lalu juga jaringan – jaringan
yang lain termasuk dengan Teater Syahid, itu mereka membantu dalam
kegiatan teater anak pengembangan teater anak. Nah lewat jaringan – jaringan
inilah kemudian eh... SBJD ini menjadi media, laboratorium bagi para aktivis
mahasiswa untuk berekreasi di masyarakat jadi sebetulnya itu. Misalnya ka ilut
dari fakultas adab jurusan ilmu perpustakaan untuk eh... mengembangkan
keahliannya gitu, sebelum terjun ke masyarakat yang lebih luas jadi dengan
teman-temannya yaitu mengelola perpustakaan lalu teman-teman di teater
syahid mengembangkan jaringan seni anak dan seterusnya begitu, jadi seperti
itu.

3. Peneliti : Bagaimana memberdayakan Yayasan Sanggar Baca Jendela


Dunia secara optimal?
Informan : ya dengan jaringan tadi disamping juga. Misalnya gini
pengelolaan Yayasan itu juga sangat terkait dengan persoalan dana. Eh...
persoalan dana itu ya untuk hari-hari di samping infaq, zakat, sodakoh, Ayah,
Bunda itu juga mungkin dibantu, bantuan misalnya KEMENAG, orang tua
wali murid, terus masyarakat yang bersimpati jadi seperti itu. Nah eh... kita
juga sebetulnya ingin memperluas jaringan. Eh... agar eh... yayasan ini lebih
terberdaya, artinya terberdaya itu dari segi financial itu ga ada masalah, dari
pengembangan organisasi untuk masyarakatnya, kegiatan sosialnya itu juga
lebih eh... lebih luas gitu jadi sampai saat ini masih terus diupayakan
pengembangannya lewat berbagai jaringan gitu kan. Kita membuka jaringan
termasuk juga PERPUSNAS untuk bantuan buku-buku, juga mungkin
perorangan atau individual.

4. Peneliti : Menurut pandangan anda apakah maksud dan tujuan


pembentukan taman bacaan masyarakat?
Informan : Jadi apa yang kita lakukan ini tidak konvensional misalnya TBM
hanya sekedar Taman Bacaan saja tetapi ini juga mengandung unsur edukasi,
edukasi dalam bidang pembelajaran, peningkatan kemampuan eh... anak,
lingkungan lalu juga edukasi, ya intinya lebih pada edukasi gitu. Bahwa
membaca itu tidak lepas dari perpustakaan edukasi, terus kegiatan mengaji itu
merupakan pembinaan akhlak itu juga berkaitan juga dengan edukasi. Eh...
para tutor yang datang kemari mereka juga sebetulnya dalam kerangka edukasi
juga mempersiapkan mereka untuk lebih siap menghadapi tantangan kedepan.
Jadi sebetulnya disini juga sebagai laboratorium pemantapan jadi para tutor
sambil berkreasi mereka memantapkan diri untuk lebih siap menghadapi
masyarakat. Masyarakat juga mendapatkan imbas yang baik dari eh... kegiatan
di sanggar.

5. Peneliti : Menurut pandangan anda bagaimana sebuah Taman Bacaan


Masyarakat dapat berjalan dengan baik?
Informan : Keberadaaan Taman Bacaan Masyarakat berjalan baik dengan itu
sebetulnya harus didukung paling tidak ada tiga unsur :
Pertama sih, pengolah sendiri kesiapan diri sendiri itu dalam arti kesiapan
sendiri, itu baik eh... kesiapan materi, kesiapan imateri. Materi itu misalnya
semangat untuk mengembangkan Taman Bacaan, gitu kan....
Yang kedua, kesiapan masyarakat untuk menerima dan memanfaatkan Taman
Bacaan itu gitu... Jadi, unsur masyarakat ini menjadi penting ya... karena kalo
pengolah ini sendiri dan seterusnya.. dan masyarakat tidak bisa memanfaatkan
itu menjadi lembaga yang mubazir.
Yang ketiga adalah eeh... dorongan dan stimulus dari pemerintah, terutama dari
pemerintah setempat, terutama dalam eeh... mengapresiasikan gerakan-gerakan
NGO (Non Government Organization). Ini kayak Taman Bacaan ini, bahwa
mereka itu kan sebetulnya membantu tugas pemerintah gitu loh.. dan bukan
tugas masyarakat tapi sebetulnya tugas pemerintah dalam mencerdaskan
bangsa. Nah, eh... ini semestinya pemerintah lebih apresiatif termasuk juga
memberikan bantuan eh... melakukan dialog, memfasilitasi kegiatan Taman
Bacaan ini adalah dari mitra pembangunan daerah. Semestinya begitu. Jadi,
eh... tiga unsur tadi, badan pengolah, badan penggunanya, masyarakat,
pemerintah melakukan sinergi. Dengan adanya sinergi itu kemudian tujuan dari
alat. Taman Bacaan itu sebenarnya alat untuk mencerdaskan bangsa untuk bisa
tercapai.

6. Peneliti : Menurut pandangan anda bagaimana problematika minat


baca di lingkungan masyarakat TBM Sanggar Baca Jendela Dunia?
Informan : Minat baca masyarakat disekitar TBM Jendela Dunia ini yaa...
relative ya. Jadi, tidak tinggi betul tidak rendah betul juga tidak ya... Nah, eh...
kegiatan membaca kan merupakan budaya. Jadi, budaya masyarakat kita,
masyarakat disini itu kan lebih banyak bertutur dari pada membaca kan ya.
Nah, bagaimana kita merubah kondisi dari bertutur dengan membaca tadi, itu
juga butuh tantangan, tidak hanya dengan adanya sanggar baca tetapi juga ada
media lain. Media lain misalnya, media cyber begitu ya. Cyber ini yaa...
mereka juga membaca lewat media cyber ya kan? dan internet. Masalahnya
sekarang, faktor lain misalkan TV yang penuh dengan hiburan itu
meninakbobokan masyarakat untuk menjadi malas membaca. Nah, ini.. ini..
yang perlu di semua sanggar baca itu terutama yang ada di daerah-daerah
perkotaan seperti ini menjadi tantangan merubah culture dari masyarakat yang
bertutur. Masyarakat yang menyaksikan menjadi masyarakat yang membaca,
kemudian berkreasi, apalagi dalam tahapan menulis. Jadi, itu merupakan
sebuah upaya perubahan budaya atau perubahan culture. Nah, jadi
membutuhkan waktu untuk melakukan hal seperti itu, tidak hanya dalam
bilangan waktu satu tahun, dua tahun, lima tahun, tetapi dalam bilangan waktu
generasi, kita sudah mulai dari generasi awal ini, dari anak-anak ini untuk biasa
membaca sehingga ketika mereka sudah dewasa, mereka punya anak,
kebiasaan ini akan menular pada anaknya. Nah, upaya inilah yang terus kita
usahakan bersama teman-teman TBM lainnya.

7. Peneliti : Bagaimana minat baca di TBM dapat terlaksana dengan


baik di lingkungan masyarakat TBM Sanggar Baca Jendela Dunia?
Informan : Jadi caranya adalah memotivasi gitu. Kalo tadi kan eh...
targetnya kan kita tidak membentuk generasi yang masih dapat dibentuk gitu
ya... Mendorong anak-anak untuk membaca. Salah satunya misalnya apa?
Misalnya eeh... mempersilahkan mencari buku-buku yang menarik buat
mereka trus kita lombakan siapa yang membaca buku paling banyak, trus kita
berikan hadiah lalu juga misalnya mereka mencoba menceritakan kembali apa
yang sudah mereka baca gitu loh pada kawan-kawannya. Jadi, itulah salah satu
upaya disamping upaya yang kan eh... pokok upaya-upaya yang lain, misalnya
juga kalo dulu kita pernah ajak anak-anak itu, mereka yang berprestasi
diberikan hadiah uang misalnya, tapi uang itu harus dibelikan buku. Itu salah
satu upaya untuk membentuk minat baca mereka.
8. Peneliti : Bagaimana upaya menumbuhkan dan meningkatkan minat
baca masyarakat di TBM Sanggar Baca Jendela Dunia?
Informan : ya... pendekatan itu tentunya masyarakat itu tentunya tidak bisa
dengan mengajak secara formal ya. Seringkali kita lakukan kegiatan yang non-
formal. Yang non-formal itu misalnya apa? Kita melakukan kegiatan-kegitan
yang langsung ke lingkungan misalnya, pentas seni agar mereka wear gitu ya...
agar mereka tau ini sanggar baca. Oh... mereka kemudian ingin agar anaknya
juga bisa nongkrong di sanggar baca. Ah, bentuk-bentuk semacam itu. Nah,
eh... tiap tahun tantangannya selalu berbeda ya kak ya. Tiap tahun
tantangannya selalu berbeda, generasinya pun juga berbeda. Jadi, eh... harus si
pengolahnya pun harus mempunyai kemampuan untuk memodifikasi pengajar
untuk masyarakat. Karena sasarannya kan anak-anak nih, agar membaca bukan
hanya bermain gitu kan ya, tetapi juga membaca adalah bagian dari bermain.
Jadi, bagaimana me...me... mengkreasikan agar anak-anak bisa eh... mereka
punya hobi membaca.

9. Peneliti : Apa saja kendala dan cara mengatasi minat baca masyarakat
dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca?
Informan : Kendalanya lagi-lagi juga bisa jadi faktor di masyarakat itu
kebiasaan mereka itu tadi. Kebiasaan bertutur, menonton, tapi malas membaca.
Nah, eh... salah satunya tadi itu eh... potong generasilah ya. Potong generasi
maksudnya kalo orang tuanya tidak suka membaca, anaknya yang kita ajak
mengaji dan membaca, sehingga eh... apa yang bisa kita peljari di al-qur’an ini
bernilai plus. Sebetulnya, Sanggar ini tidak hanya sekedar membaca al-qur’an
tapi juga membaca buku. Nah, ini membiasakan mereka dengan membaca
buku dengan membawa ke rumah dari sini. Lalu, eh... membaca dan terus
membaca. Memotong generasi itu artinya apa? Eh... mendidik generasi awal ini
agar gemar membaca. Kendalanya itu yaa... generasi tua itu ya tadi, yang
gemar bertutur, nonton tv gitu ya, ngomong sana-sini tetapi minim
pengetahuan mereka dari membaca.

10. Peneliti : Apa saja harapan anda untuk TBM Sanggar Baca Jendela
Dunia?
Informan : Nah, eh... paling gini TBM SBJD ini paling tidak mengilhami
teman-teman yang lain untuk mengembangkan TBM ini di rumah masing-
masing. Jadi itu. Dan yang kedua, butuh kesabaran untuk mengembangkan
TBM ini gitu. Apalagi untuk merubah culture yang ada di masyarakat. Nah,
eh... TBM ini juga eh... menjadi sarana atau media terutama bagi eh... kalo saya
kan akademisi nih, dengan lingkungan agar terjembatani gitu, agar antara
seorang akademisi, seorang kampus dengan masyarakat tidak berjarak gitu loh.
Di rumah ini kan selalu welcome, selalu dibuka. Kalo dulu kan awal bulan,
Sabtu-Minggu kita buka untuk masyarakat. Nah, kalo sekarang ini kan setiap
hari kita buka untuk masyarakat, dengan ya.... mau gak mau pengurangan
privasi di rumah ini. Yah, itulah yang kita korbankan untuk lingkungan.
Sehingga, Alhamdulillah sampai sekarang ini hubungan saya, istri dengan
lingkungan tidak begitu kentara jaraknya melalui TBM ini.
TRANSKRIP WAWANCARA

Informan : Karlina Helmanita, MA.


Jabatan : Ketua Yayasan Sanggar Baca Jendela Dunia
Tanggal Wawancara : Jum’at, 6 Juni 2014 dan Senin, 17 November
2014

1. Peneliti : Menurut pandangan anda bagaimana cara menarik minat


baca masyarakat sekitar dengan adanya Taman Bacaan Masyarakat?
Informan : Karena lingkungan kita lingkungan pendidikan ya ka ya, eh...
apalagi kita mengenal bahwa ciputat itu sendiri kan kota pendidikan dimana
sekolah-sekolah eh... ternama cukup ada beberapa tingkat, segi eh... SD, SMP,
bahkan Aliyah sampai Perguruan Tinggi tadinya saya berfikiran minat baca
masyarakat tentunya sudah baik tapi ternyata setelah kita mencoba mengamati
minat baca masyarakat itu lemah. Nah karena minat baca masyarakat itu lemah
maka kami mencoba untuk memberikan pancingan kepada masyarakat untuk
membaca eh... cinta membaca sejak dini gitu loh. Kemudian kami buka
Sanggar Baca Jendela Dunia agar masyarakat di sekitar dapat berapresiasi,
mengapa demikian ? kami tinggal di tengah-tengah masyarakat eh... ternyata
tetangga-tetangga di sebelah rumah kami, di belakang rumah kami, satu RT
dengan kami, eh... anak-anaknya belum terbiasa baca buku ka, eh... bahkan
mereka merasa eh... buku itu sebagai sesuatu eh... sesuatu apa ya? Sesuatu
konsumsi yang terlalu mewah eh... sehingga mereka eh... tidak mempunyai
tradisi membaca dari kecil mungkin, yah eh... ya jadi ketika ditawarkan untuk
membaca secara gratis gitu, anak-anak kecil ya gini senang eh... tapi yah minat
baca itu masih perlu terus dibina gitu loh ya, kalau gay a eh... minat bacanya
tidak akan eh... apa ya? Terkondisikan dengan baik itu aja kali ya.

2. Peneliti : Menurut pandangan anda bagaimana minat baca


masyarakat di lingkungan TBM Sanggar Baca Jendela Dunia?
Informan : Tadi sebagian seperti yang saya telah jelaskan tadi. Minat baca
masyarakat di sekitar TBM Jendela Dunia itu rendah gitu loh tetapi eh... tetap
saja kita berharap, eh... minat baca itu bertambah dari tahun ke tahun, yah jadi
begitu eh... kalau seandainya mereka disuruh baca kadang. Karena kebetulan
Sanggar ini eh... membuka kesempatan untuk anak untuk belajar membaca Al-
Qur’an maka melalui media dan kegiatan proses belajar mengajar itu anak-
anak di apa? Di dorong eh... minat bacanya gitu, yah hampir tiap hari kalau ga
ayo baca bukunya ayo baca, ya kalau ga begitu buku-buku mengangur kan?
Jadi minatnya masih rendah sebenarnya tapi untuk anak-anak Sanggar yah...
sedikit banyak mungkin sudah punya culture untuk membaca yang agak
berbeda dengan masyarakat sekitar.

3. Peneliti : Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfaatan


TBM Sanggar Baca Jendela Dunia dalam menumbuhkan dan
meningkatkan minat baca di lingkungan Sanggar Baca Jendela Dunia?
Informan : yah... eh... Sanggar Baca ini kemudian eh... apa? membuka
kesempatan tadi, kegiatan pertama itu Kelas Baca Qur’an dan sekarang sudah
menjadi TK/TP Al-Qur’an kalo tidak ada komunikasi TK/TP Al-Qur’an maka
memang Taman Bacaan ini kurang eh... mendapat perhatian terhadap
masyarakat sekitar, jadi melalui proses belajar mengajar itu mereka bisa di
apa? di kondisikan untuk mencintai buku sejak dini, di samping itu SBJD juga
membuka Taman Tahfidz, Taman Tahfidz ini juga eh... memberikan apa?
pengkondisian tersendiri kepada anak-anak kepada segmen yang agak berbeda
walaupun sama-sama kajian Al-Qur’an gitu eh... di samping itu juga kelas
Taman Tahfidz misalnya eh... bukan hanya anak-anak saja yang apa? memiliki
minat baca itu tetapi para orang tua pun kemudian menjadi konsumen buku-
buku di SBJD. Itu kegiatan yang sifatnya jangka panjang ya, eh... kegiatan-
kegiatan yang bersifat insidentil misalnya eh... kami sempat melakukan
gerakan membaca untuk masyarakat sekitar gitu loh, itu pernah kita lakukan
atau pernah coba kita mengundang para novelis untuk member stimulus agar
anak-anak cinta terhadap ilmu pengetahuan gitu. Eh... sehingga mereka
mempunyai minat yang sama seperti orang-orang yang mereka lihat sekarang
gitu loh seperti Ahmad Toha kemudian Akmal Basery Basral gitu loh atau juga
teman-teman dari mizan jadi sempat juga kami undang eh... teman-teman eh...
jurnalis baik tokoh-tokoh buku maupun media elektronik seperti halnya
televise eh... seperti SCTV misalnya kami mengundang seorang teman yang
memberikan satu perspektif positif, perspektif yang tercerahkan untuk anak-
anak SBJD ini, kemudian juga kegiatan untuk eh... menjaring eh... apa? TBM
TBM serupa gitu loh seperti misalnya 1001 buku itu sempat juga, eh...
semangat. Kadang-kadang kan kita juga merasa sendiri akhirnya kami
mencoba mencari orang-orang yang mempunyai satu visi dan misi yang sama
agar saling menjaga dan saling eh... saling mendorong satu dengan yang lain.
Termasuk kita mengadakan kegiatan-kegiatan Hari Bahasa, Hari Pahlawan
dengan mengundang eh... anak-anak eh... apa TBM? yang ada di TBM maupun
yang ada di TPA melalui perlombaan pernah Se-Jabodetabek tetapi ya sifatnya
sangatlah insidentil disitu kami mencoba mencari apa ya kami mencoba
mencari jaringan yang memang punya perhatian terhadap dunia ini. tetapi lagi-
lagi kegiatan-kegiatan seperti itu hanyalah kegiatan sesaat gitu loh. Kalau yang
bersifat eh... apa lebih bersifat bertujuan jangka panjang itu seperti tadi itu,
Kelas Baca Qur’an sekarang menjadi TK/TP Al-Qur’an dan Kelas Tahfidz dan
sekarang menjadi Taman Tahfidz Jendela Dunia gitu loh.

4. Peneliti : Bagaimana upaya menumbuhkan dan meningkatkan minat


baca masyarakat di TBM Sanggar Baca Jendela Dunia?
Informan : Ya kita coba pertama eh... Sanggar Baca ini terbuka untuk umum
jadi eh... siapapun anak-anak, remaja bahkan orang tua bisa menjadi anggota
perpustakaan SBJD sebenarnya standardnya ya, standard aja gitu loh. Nah
kami juga sudah menyiapkan eh... kartu perpustakaan, tetapi lagi-lagi orang-
orang yang tidak eh... menjadi komunitas mungkin mereka tidak tau atau
mereka tidak mengerti maka itu perlu sosialisasi, eh... kemudian yang kedua
apa eh... menyediakan MADING untuk dibaca baik mahasiswa maupun kolega
bahkan masyarakat sekitar, tapi lagi-lagi kadang-kadang MADING juga eh...
ya paling hanya dilihat dan tidak dibaca tetapi setidak-tidaknya ada yang
membaca tulisan-tulisan yang ada di MADING, kemudian yang kedua kami
menyediakan teras baca, jadi kami eh... dalam setiap minggu kan, mensirkulasi
buku-buku agar bisa dibaca masyarakat disini dan untuk peserta didik yang
belajar disini eh... mereka diberikan reward misalnya untuk eh... mereka yang
paling rajin dan mereka yang mempunyai eh... tradisi yang paling banyak dari
pada yang lain, dengan eh... ya eh... dengan ini kalau di ingetin untuk membaca
buku dengan semangat, kalau ga di ingetin membaca buku ya akhirnya redup
lagi, itulah usaha-usaha yang kami untuk mencipatakan minat baca baik di
dalam maupun di sekitar atau di luar sana.

5. Peneliti : Apa saja upaya pembinaan minat baca TBM Sanggar Baca
Jendela Dunia dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca
masyarakat melalui program-program yang diselenggarakan?
Informan : Kan tadi saya nyatakan ada dua program, program jangka
panjang dan program jangka pendek. Program jangka panjang itu adalah yang
bersifat nonformal ya seperti TK/TP Al-Qur’an dan Taman Tahfidz, ada
kelompok yang eh... jangka panjang itu seperti ini kami masukan ke dalam
kurikulum jadi untuk menumbuhkan minat baca anak-anak itu kita selipkan
kurikulum lokal pada eh... apa? eh... ya sekolah non formal ini gitu loh, eh...
misalnya anak-anak ya dalam satu minggu atau bahkan dua minggu satu kali
itu ada story telling begitu ya, atau kemudian baik harus dipandu oleh para
mentor disini atau anak-anak eh... story telling secara bergantian. Kemudian
yang kedua eh... anak-anak bukan hanya dibatasi waktu dan jam mereka
bahkan sejak datang sebelum belajarpun kami selalu eh... menginggatkan
mereka untuk membaca di sanggar, jadi ya eh... ya seperti itu yang kami
lakukan. Di samping anak-anak kami juga menganjurkan kepada para guru
untuk cinta baca juga gitu dan bahkan di samping cinta baca kami harapkan
bisa eh... mengejawantahkan budaya baca ke menulis jadi mereka diharapkan
bisa menulis, jadi baik anak-anak, para guru atau mentor, bahkan kepada ibu-
ibu yang ingin menuangkan ide dan pikirannya melalui tulisan gitu, itupun
sangat kami anjurkan walaupun kami mengalami hambatan untuk
merealisasikannya secara total, nah anak-anak juga begitu eh... kami di dalam
kurikulum kami juga sebenarnya ada apa untuk karangan yang terbaik dan apa
eh... ya untuk karangan yang terbaik kami harapkan bisa ditempel di MADING
Jendela Dunia, begitu juga eh... cuman karena anaknya masih kecil-kecil, anak-
anak Taman Tahfidz itu ya masih anak di bawah 5 Tahun ya, satu orang yang
sudah SD. Eh... untuk membaca langsung itu ya tadi itu para orang tuanya yang
sering , dari konsumsi bacaan yang ada di sanggar bisa dibaca oleh orang tua
kemudian bacaan yang diceritakan atau dibacakan kepada anak-anak. Itu kalau
secara meningkatkan minat baca anak-anak di sanggar, kemudian kalau yang
Ad Hoc tadi yaitu perlombaan jenis perlombaannya Story Telling. Story
Telling Se-Jabodetabek tapi ya Alhamdulillah anak-anak sanggar bisa
menjuarai Story Telling pada Hari Bahasa.

6. Peneliti : Apa saja faktor yang mendukung minat baca di TBM SBJD ?
Informan : Suasana mungkin ya, karena untuk ruang baca sebenarnya anak-
anak sudah terfasilitasi tetapi sarana yang demikian belum begitu hidup
sebenarnya karena akibat apa ya, terbatasnya pengembangan ya eh... Sanggar
Baca ini, jadi memang kelihatannya kurang, apa ya progresif ya kondisinya
jadi pada satu sisi untuk fasilitas bangunan karena masih menumpang dalam
rumah eh... kami ya cukup terjaga baik kebersihan, kerapihan begitu juga
dengan dokumentasi yang tertib lah, mungkin itu ada lagi?
Peneliti : Mungkin dari sikap dan minatnya itu bagaimana bun, sikap anak-
anak terhadap bahan bacaan?
Informan : Sikap anak-anak belum maksimal, masalahnya untuk eh... orang
yang bertanggung jawab secara langsung juga eh... tidak apa ya tidak permanen
ibaratnya seperti itu artinya adalah lagi-lagi karena kekurangan eh... apa ya
eh... dana ya, kami sulit untuk meng-higher, meng-higher petugasnya secara
langsung untuk benar-benar bisa me... mendorong minat baca secara simultan,
simultan kecuali hanya bisa hanya memanggil tenaga pustakawan untuk apa
gitu loh, untuk melakukan klasifikasi, membuat katalog, dsb. Tetapi orang
yang benar-benar mempunyai apa ya? Eh... gairah ya untuk me... mendorong
anak-anak baca baca, membaca di sanggar kami, ya timbul tenggelam misalnya
kayak ka ilut ya lagi sedang bertugas dia bisa mengkondisikan anak-anak tetapi
kalau seandainya dia mempunyai pekerjaan lain di kampus ya tentunya itu juga
menjadi kendala, dengan demikian menurut saya sekalipun ini TBM haruslah
dikelola dengan baik, dengan eh... fokus yang total tidak mungkin hanya
sambil berlalu gitu loh... tetapi ya itu lagi sebuah organisasi apapun namanya
itu perlu uang bensin untuk menjaga eh... keberlangsungan program sebuah
organisasi TBM seperti ini, begitu.
Peniliti : Itu masuknya ke dalam faktor internal ya bun?
Informan : Ya, internal dan eksternal, secara eksternal, secara eksternal ya
mungkin karena eh... secara internal fasilitas yang diberikan juga terbatas
seperti itu, ya... daya tarik eh... TBM kami pun ya seperti ini.
Peneliti : Eh... kalau dari faktor eksternal dari lingkungan masyarakatnya
itu seperti apa ya bun? Misalnya bahan bacaannya gitu bun eh... terhadap anak-
anaknya itu sudah sesuai belum dengan yang disediakan oleh sanggar?
Informan : Bagi eh... orang yang eh... membutuhkan saya pikir sangat ya,
sangat berhubungan dengan, berkaitan, berhubungan dengan ke kebutuhan
anak-anak di sekitar sini. Tetapi masalahnya itu tadi, daya tarik masyarakatnya
untuk membaca itu minim, gitu loh, nah itu masalahnya. Kalau secara internal
kami sudah memfasilitasi dengan keragaman buku yang yang yang cukuplah
gitu lah, apalagi terakhir ini kami menerima eh... sumbangan kan, ka ilut yang
yang mempersuasikan program ini. Tetapi lagi-lagi gitu loh, dengan
keterbatasan dana, pengelolaan kami belum bisa mengelolanya secara baik,
karena hampir separohnya kan. Kalau seribu eh... buku sudah ter...apa? ter apa
namanya ka ? sudah dikelola gitu loh ya mungkin hampir seribu buku lagi yang
lain ya seribu nya sih belum mungkin kurang ya tujuh ratusan mungkin ya.
Tujuh ratusan artinya sudah mau mencapai seribu lagi, kami belum bisa
mengelola seperti itu. Ya keliatannya memang perlu di, apa ya di eh... dikelola
ka antara semangat, tujuan dan keinginan hendaknya bisa berjalan simultan
gitu loh, apa lagi kami belum punya gedung ya.
Peneliti : Kalau dari eh... motivasi dan kecenderungan anak-anaknya itu
terhadap bahan bacaannya itu gimana bun, anak-anaknya semangat atau ga
bun?
Informan : ya... tergantung tadi saya bilang, kalau eh.. mereka di dorong
bisa, tapi kalau ga ga, memang ya kami kami tidak punya tenaga pustakawan
yang permanen. Ka ilut sibuk eh... apa bimbingan skripsi yak an? Harus
menyelesaikan studynya gitu ya. Kemudian saya juga eh... sudah lelah juga
gitu loh, untuk terjun langsung karena pekerjaan kampus, belum penelitian,
jadi memang tidak punya waktu khusus buat anak-anak ya. Kalau saya
berharap generasi-generasi muda ini mempunyai gairah untuk itu. Tapi pada
kenyataannya tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Peneliti : Berarti memang dari SDM nya ya bun?
Informan : Ya dari SDM nya ya, sebenarnya saya berharap untuk program
KKN misalnya ada kontribusi yang diberikan oleh universitas kepada
masyarakat, tidak saja masyarakat dari dunia kampus yang jauh tetapi
masyarakat di sekitar kampus UIN termasuk di tempat kami di daerah Legoso
itu. Kalau lah nanti saya pikir untuk jurusan ilmu perpustakaan, akan lebih eh...
apa ya kontributif gitu loh, bila mahasiswa diterjunkan di tempat-tempat TBM
seperti di tempat kami, disana mungkin mereka bisa memberikan program-
program yang kreatif gitu loh eh... sehingga suara-suara untuk menggerakan
gerakan baca itu berjalan ya dan UIN dalam hal ini secara nyata memberikan
kontribusinya itu kepada masyarakat mungkin itu harapan saya, harapan selaku
ketua Yayasan SBJD dan sekaligus harapan dari orang yang bergaul langsung
dengan masyarakat kampus karena saya kebetulan saya mengajar di fakultas
Adab dan Humaniora. Sekalipun saya bukan dosen jurusan IPI eh... tetapi
gairah perpustakaan, gairah membaca, menggerakan bacaan buku pada dunia
kampus maupun non kampus menjadi pekerjaan saya, mungkin eh... ada yang
pernah mengambil mata kuliah kampanye – kampanye untuk rajin baca, rajin
baca, baik itu dari literatur Arab, maupun literature-literaur Indonesia dan
bahkan Inggris itu menjadi sebuah kemestian gitu loh, semua orang apalagi
mahasiswa UIN Jakarta. Eh... bahkan buku-buku SBJD sebenarnya juga bisa
memfasilitasi eh... ya sebagian kecil kebutuhan mahasiswa eh... UIN Jakarta.

7. Peneliti : Apa saja faktor yang menghambat minat baca di TBM


SBJD?
Informan : Pertama eh... kekurangan ya kekurangan ini eh... sponsor, itu
berimplikasi pada recruitment eh... SDM dan yang ketiga yaitu tadi eh... masih
menempati rumah ya? Yang terkadang juga masyarakat eh... menerima dengan
nyaman kegiatan-kegiatan eh... TBM karena masih menyatunya antara
kegiatan TBM dengan aktivitas personal. Ya berimplikasi pada recruitment
SDM, ga mungkin kita mendapatakan SDM yang bagus, tetapi eh... itu tidak
akan berumur panjang karena walau bagaimanapun tidak dapat dipungkiri
setiap orang membutuhkan kebutuhan-kebutuhan primer seperti makan,
bagaimana mereka bisa bertahan kalau kita sendiri tidak bisa memberikan eh...
kebutuhan primernya.
Peneliti : Kalau dari akses TBM ini terhadap masyarakatnya itu bagaimana
bun?
Informan : Kita terbuka, aksesnya sebenarnya sangat strategis di depan jalan,
minat baca masyarakat yang rendah, kemudian yang kedua eh... buku-buku
sekarang juga sudah cenderung bersifat digital, jadi untuk mencari buku yang
yang cetak juga gitu kadang-kadang eh... terjadi pergeseran ya, jadi mereka
bisa akses langsung di internet kebutuhan dan informasi apapun itu juga bisa
langsung unduh dari internet jadi ya, yaitu tadi pengelolaan eh... TBM di
tempat kami, memerlukan dukungan sebenarnya, dukungan akademik maupun
dukungan non akademik, dukungan dari semua lapisan, baik itu lapisan
masyarakat maupun lapisan, lapisan eh... jaringan lain termasuk lapisan donasi
pihak yang mendonasi eh... termasuk lapisan akademik ya. Saya berharap
sebenarnya jurusan IPI sendiri mempunyai program yang lebih apa ya? Yang
lebih progresif lah untuk memberikan kontribusi ilmunya yang langsung dapat
dimanfaatkan dan dirasakan oleh masyarakat-masyarakat sekitar, apalagi kan
Ciputat itu kan dikenalnya sebagai eh... kota pelajar, kota pelajar yang salah
satu implikasinya menjadikan buku sebagai ikon dalam mengakses informasi
maupun ilmu pengetahuan lainnya.
Peneliti : Faktor penghambat yang lainnya ada lagi bun, selain yang sudah
dijelaskan sebelumnya?
Informan : Ya, kita kan masih menggerakan yah... menggerakan, kita tidak
apa ya, kita tidak melakukan kegiatan seperti halnya dicanangkan oleh belum
ya, belum melaksanakan program yang dicanangkan eh... oleh pemerintah
Tangerang Selatan yang kemarin itu gitu kan. Ya kami melihat eh... itu perlu
tetapi terkadang kami melihat program pemerintah sifatnya sangat ad hoc gitu
loh. Eh... rame sebentar tapi kemudian sepi lagi. Apalagi eh... sikap pemerintah
Tangerang Selatan kurang memberikan pemerataan terhadap TBM, yang bukan
TBM di bawah eh... TBM langsung Ibu Airin, jadi sepertinya Tangerang
Selatan sendiri gerakan TBM ya terlihat sebagai gerakan politisasi. Ya
mungkin keberadaan kami eh... karena tidak masuk dalam jaringan kesitu.
Maka ketika ada dana bantuan yang tadinya eh... dijanjikan, tidak keluar ya
kekuatan kami dipangkas di tengah jalan. Karena kami melihat, kami tidak
dikehendaki oleh pemerintah Tangerang Selatan. Saya melihat itu politisasi
yang mungkin tidak seharusnya dirasakan oleh masyarakat kota pelajar ini
Tangerang Selatan ini khususnya di Ciputat ini.

8. Peneliti : Bagaimana manajemen, fungsi dan tujuan yang dilaksanakan


oleh TBM Sanggar Baca Jendela Dunia?
Informan : Eh... kami mencoba untuk membuat sistem manajemen yang
transparan gitu loh dan juga professional tetapi karena eh... apa manajemennya
kita masih tertatih-tatih dengan eh... financial jadi kami melakukan manajemen
yang apa adanya tetap memberikan prinsip yaitu tadi, prinsip transparan
kemudian professional tetapi dengan batasan-batasan yang sangat sederhana
sebenarnya tetapi kami tidak mau sembarangan, tetapi kadang-kadang yang
membuat antara keinginan dan antara kenyataan membuat besar Sanggar Baca
Jendela Dunia, dan kenyataan minimnya eh... sumber daya infrastruktur maka
kemudian ya tidak berjalan mulus artinya antara kenyataan dan impian yang
masih berjalan seperti yang kakak lihat lah. Kakak sebagai pustakawan di
Sanggar Baca Jendela Dunia akan merasakan eh... terseak seoknya perjuangan
Sanggar Baca Jendela Dunia.

9. Peneliti : Apa saja kendala dan cara mengatasi minat baca masyarakat
dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca?
Informan : Tidak mudah dan tidak gampang mendorong minat baca itu,
caranya ya seperti tadi itu yang saya katakana memasukan eh... program
Sanggar Baca Jendela Dunia ke dalam kurikulum atau kemudian perlombaan
membaca, Story Telling seperti itu.
10.Penelti : Apa saja harapan anda untuk TBM Sanggar Baca Jendela
Dunia?
Informan : Sanggar Baca Jendela Dunia semakin berkembang, semakin
dicintai dan Sanggar Baca Jendela Dunia bisa menjadi sebuah gapura untuk
mengenal. Kemampuan dan dapat merangakai mimpi anak-anak muda eh...
mereka bisa merangkai mimpi-mimpi itu, mereka bisa mencintai ilmu melalui
budaya baca itu. Eh... hal yang apa ya? Harapan kami anak-anak dan semua
komunitas yang masuk ke sanggar ini adalah orang-orang yang cinta baca, ilmu
pengetahuan dan agama. Cinta untuk membaca nilai-nilai yang ada di Al-
Qur’an juga nilai-nilai yang bersifat duniawi ya melalui keduanya itu saya juga
berharap komunitas Sanggar Baca Jendela Dunia bisa sukses. Suksesnya tidak
pada satu kehidupan tetapi dua kehidupan yang lain yaitu sukses dunianya
maupun sukses akhiratnya.
TRANSKRIP WAWANCARA

Informan : Reni Muplihah, S. Ag


Jabatan : Ketua TBM Jendela Ilmu
Tanggal Wawancara : Sabtu, 24 Mei 2014, Minggu, 25 Mei 2014 dan
Kamis, 20 November 2014

1. Peneliti : Bagaimana awal berdirinya TBM Jendela Ilmu?


Informan : Awal berdirinya itu karena ada benang merah dari kakek, beliau
kalau ke, kan sering kunjungan kemana gitu itu yang dipaket itu kitab, yang
dikirim itu buku, paling apa sih yang dikirim atau oleh-oleh ke rumah itu kitab
dan buku, karena memang beliau minat bacanya tinggi, makanya awalnya
minat baca tinggi itu beliau itu benang merah ke anak, ke cucu. Terus kalau
misalnya eh... di meja itu jarang ada meja rapih kayak gini yang ada berantakan
buku, berantakan kitab, terus beliau itu ciri khasnya itu suka ada secarik kertas-
kertas, lembaran-lembaran itu, itu selalu ditulis itu untuk yang beliau akan
sampaikan di khutbah gitu, apa sih kayak semacam eh... ide-ide eh... atau
subyek-subyek yang mau disampaikan, sampai kalau kita itu ketemu kitabnya
beliau yang sekarang tersimpan disana itu ya, buku-bukunya, kitab-kitabnya
selalu ada lembaran misalnya eh... untuk Majelis Ta’lim A di sampaikan
tanggal segini intinya apa yang mau disampaikan, itu sampai suka saya kliping
ya, saya streples itu untuk saya sampaikan kembali gitu, itu kan ide-ide jarang
itu kayak gitu. Benang merahnya ya dari kakek, terus bapak saya termasuk
yang kemaren lima kali juga ke Mekah itu, lima kali ke Mekah sama itu, yang
dikirim yang dikargo itu kitab karena mungkin gini ya, beli kitab disini mahal
mungkin atau mungkin karena tidak asli, keasliannya gitu mungkin gitu ya,
eh... jadi bapak mah yang dibawa kitab gitu kan, kita tuh protes, yah biarin
bapak seneng baca gitu, jadi ketika bukunya berantakan saya kan senengnya
rapih, saya tumpuk rapih gitu marahnya bapak itu. Bapak tuh Hanca,
Hanca tau ga itu kalau dalam buku itu kan jadi sampai mana tuh, mana ada
tanda tuh, itu namanya Hanca dalam bahasa sunda itu. Hanca bapak hilang yah
mana yah tadi, Reni nih biasa. Saya kan kalau pulang dari pesantren saya
rapihin kitabnya tapi ga saya pindahin cuman bapak tuh paling marah kalau
kitab yang dia dibaca hilang tandanya sampai dimananya itu, itu benang
merahnya nah kemudian ketika bapak meninggal itu yang di tangisin oleh
bapak itu buku oleh kita itu. Ade saya kan ada disini, ya Allah jadi kita itu mau
cari kenangan tentang bapak itu yang dicari yang dibaca itu yaitu kitabnya,
oh... ternyata ada lembaran ini, oh... disini ada sejarah Reni melahirkan
anaknya, yah saya yang pertama, nama ini ini ini itu namanya dari beliau tapi
Azka Nissa El Kamilah, tapi dari Reni Azka nya. Nissa El Kamilahnya dari
bapak. Jadi kita baca-baca sambil nangis, Ya Allah, Subhanallah ternyata bapak
itu masih menyimpan lembaran-lembaran, sofhah-sofhah kalau orang Arab
bilang yah. Al-qur’an juga dikoding setelah melalui, pengkodian itu setelah
melalui pendataan, pengklasifikasian, dari sofhah-sofhah itu kan dari lembaran-
lembaran itu, jadi itu sejarahnya. Kemudian akhirnya teh mau dikemanain nih
buku-buku, kitab- kitab gitu yah kata ade saya, ya udah kita bikin perpustakaan
pribadi, perpustakaan KH. Zainudin di rumah, masih ada di Sukabumi. Tapi
ternyata gini yah minat baca itu di masyarakat itu memang agak sulit kalau dia
memang
tidak ada kebutuhan dengan buku, jadi hanya orang-orang tertentu kayak
Ludfia misalnya yah, kemudian temen-temen yang mencari literatur untuk
skripsi lah untuk apa baru datang, dan temen-temen juga melihatnya Ya Allah,
Subhanallah ini kitab masih ada loh, itu disini masih ada, yaitu yang melek
hanya beberapa orang saja. Akhirnya nyambungnya kenapa disini ada Taman
Bacaan tahun 2010 itu kan eh... apa namanya saya di telpon oleh Ibu Herlina
yang dari MAGMA, Bu Reni katanya punya perpustakaan yah gitu, oh iya tapi
kan ga disini bun, kalau disini saya hanya beberapa buku yang ada kaitannya
dengan keperluan saya aja, kan saya suka ngasih materi fiqih yah di Majelis
Ta’lim, itu kan saya ngambilnya dari fiqih sunah yang enam jilid itu selalu saya
baca, kemudian kaitannya dengan fiqih-fiqih wanita tentang haid, nifas dan
sebagainya. Itu penting banget yah untuk disampaikan ke masyarakat karena
itu kan ibadah harian yang kalau kita tidak paham itu nonsen ibadahnya ga
diterima gitu kan, kita mau Sholat ga tau cara-cara wudhu, sah ga Sholatnya?,
ya cape-cape Sholat, dia ternyata yang mana sih yang sunah wudhu yang mana
yang wajib gitu, yang itu tu ga tau. Nah saya sampaikan itu di Majelis Ta’lim,
itu udah setiap dua minggu kita sampaikan itu, itu kaitannya dengan itu.
Akhirnya Bu Herlina telpon itu, bun mau bikin TBM? TBM itu apa sih? Saya
ga tau, Taman Bacaan Masyarakat untuk mengeliatkan minat baca disitu.
Nyambung gitu akhirnya, oke siap kita dikirim buku-buku yang kaitannya
dengan buku-buku yang masih bukan buku baru yah, jadi kan MAGMA itu
dulu buka semacam eh... gerakan sumbang buku, jadi masyarakat yang punya
buku-buku lebih yang udah ga dibaca atau bekas-bekas kuliah bekas-bekas itu,
dikumpulkan semua jadi tanpa, tanpa ada di seleksi, ini langsung brek kesini
itu dua dus besar itu buku. Kemudian rak-raknya udah pada rusak, ini mah rak
baru yang beli. Nah akhirnya yaudah akhirnya kita terima gitu, nah yah terlepas
di saat itu mau jadi kendaraan politik atau apa ibu mah yang penting
manfaatnya untuk masyarakat disini. Alhamdulillah pada 14 April diresmikan
oleh Ibu Airin saat itu. Nah Alhamdulillah saya kan ga mau tanpa ada legalitas
ya, saya urus legalitasnya, kita punya akte Yayasan kemudian kita juga punya
izin operasional ada izin operasionalnya, kemudian juga kita kegiatan-
kegiatannya per enam bulan, selalu meng-update kegiatannya. Jadi gitu ya ada
benang merahnya dari kakek, bapak, kemudian anak jadi menggenerasi. Disini
juga masyarakatnya hidup mendukung kemudian juga disini banyak sekali yah
orang-orang pentolan lah ibaratnya, temen-temen disini kan pendatang semua
yah. Kemudian yang pendatang ini yang hidup itu yang bisa mengeliatkan
adalah orang-orang yang kelompoknya. Yang kita juga nyambung aja dengan
Majelis Ta’lim, dengan PKK, dengan PAUD. Dengan itu dijadikan jaringan
oleh ibu untuk TBM. Makanya judul kemaren ibu presentasi di provinsi itu
adalah JALAPATI, JALAPATI itu Jaringan Pembelajaran Partisipatif Berbasis
IT, karena IT temanya.

2. Peneliti : Menurut pandangan anda bagaimana minat baca di TBM


dapat terlaksana dengan baik di lingkungan masyarakat?
Informan : Minat baca di Indonesia itu kita ada di urutan ke-96 se-dunia itu
dari beberapa ratus Negara itu kita ada di posisi ke-96. Ke-96 itu kita sejajar
dengan Suriname dan Kamboja, di bawah kita itu ada Laos ya. Tapi kan itu
Negara-Negara yang di bawah kita banget ya. Kita lihat Malaysia yang lebih
tinggi, kita lihat Singapura gitu. Jadi di Asia Tenggara kita itu ada pada tataran
yang paling bawah juga termasuknya, terus kalau minat baca ini ya eh... di 13
negara itu, kita itu ada pada posisi nol, sangat mengkhawatirkan. Kenapa
karena eh... di 13 SMA di Negara-Negara lain itu mewajibkan baca, membaca
buku diwajibkan sementara di Indonesia itu tidak diwajibkan, padahal pada
tahun kurun waktu 1930-1940 itu di Jogjakarta sudah diwajibkan 25 buku, itu
pada masa penjajahan Belanda. Jadi Belandanya yang di lihat bukan Indonesia
ya kan. Pada masa penjajahan Belanda di Malang mewajibkan 15 buku itu
untuk SMA saat itu ya, apa ya SMA nya saat itu, semacam HIS gitu. Itu sudah
mewajibkan kenapa justru kenapa justru sudah ada modal kan itu, paling tidak
sudah ada geliatnya, sekarang malah. Makanya kemarin itu Ismail Marzuki kan
ingin mengusulkan ke Dinas Pendidikan itu untuk mewajibkan anak SMA
untuk membaca buku. Silahkam bukunya sesuai dengan minat apa, sukanya
sastra baca bukunya, sukanya nonfiksi baca, gitu. Paling tidak satu bulan
misalnya dua buku diwajibkan itu kan ada tahap gitu ya. Ya karena apa sudah
kalah dengan teknologi informasi. Makanya kemaren temanya IT, bagaimana
IT bisa meningkatkan minat baca. Kalau ibu sih pakainya TBM online itu,
kemudian rencana disini mau bikin warnet cerdas, warnet cerdas itu warnetnya
yang sudah di cut ya dari pornografi. Mudah-mudahan jendela ilmu punya kas
pribadi untuk warnet cerdas itu. Yang ketiga kita itu mengeliatkan helpfull
community, helpfull community itu semangat gotong royong dari komunitas,
jadi komunitas yang ada dijadikan sebagai partner untuk kemajuan TBM.
Komunitas yang sudah bekerjasama dengan ibu yaitu CSR Smartfriend itu
CSR yang kemaren juga termasuk mengajak ibu wawancara di radio, kemudian
kedua PERPUSDA, ketiga MAGMA, keempat perusahaan yang bisa
mendukung kita untuk memberikan semacam bantuan ya, kemaren itu ka nada
kerajinan kokoru, kokoru itu dari kertas ya, nah kertas ini mereka sumbang. Ibu
ingin mengadakan pelatihan lagi untuk bulan juni-juli ke depan dan hasilnya
akan ibu kliping di kertas kemudian di jilid, terus hasil-hasilnya akan ibu eh...
simpan. Kalau selama ini kan hasilnya mereka bawa. Kemarin rajutan
kemudian dari apa sih eh... dari bahan-bahan yang bekas, terakhir itu
pelatihannya. Tapi susahnya ibu ga mau nyimpen untuk dokumentasi, file atau
apa itu. Ibu kaitannya dengan keadministrasian justru fisiknya itu yang harus di
lihat.

3. Peneliti : Menurut pandangan anda bagaimana cara menarik minat


baca masyarakat di sekitar dengan adanya Taman Bacaan Masyarakat?
Informan : kenapa sih mesti ada TBM gitu lah, kalau ibu gini pertama ingin
mencerdaskan kehidupan bangsa, masyarakat tidak akan cerdas tanpa dia bisa
menggali, menggali itu dengan apa dengan membaca. Kenapa karena membaca
itu makanan untuk otak ya, sekarang kita kalau ga makan lemes, sakit
kemudian mati. Otak juga gitu tanpa ada rangsangan membaca, membaca itu
ga harus buku, internet juga bisa dibaca dan sebagainya. Itulah kemajuan
teknologi yang tidak bisa kita cut, cuman bagaimana sekarang mengeliatkan
membaca melalui buku itu yang berat. Nah berarti kita harus punya jurus, kita
harus punya karakteristik, kita harus punya program, kita harus punya kegiatan
yang menarik bagaimana bisa mendatangkan masyarakat ke TBM untuk
meminjam buku, membaca buku itu yang sulit. Nah akhirnya kita punya trik,
kita punya strategi. Strateginya dengan apa, dengan membikin kegiatan yang
menarik bagi masyarakat. Akhirnya ibu menjadikan jaringan masyarakat itu
sebagai jaringan yang bisa mengeliatkan kegiatan-kegiatan yang ada disini.
Pertama PKK, ibu masuk ke PKK karena ibu juga ketua PKK, apa sih bu
kegiatan bulan depan? Yuk kita bikin kegiatan membuat kerajinan dari kain
perca itu kan kegiatan PKK tapi kegiatan TBM juga akhirnya, kenapa karena
TBM lembaga nirlaba tidak punya uang kita untuk membuatnya, di PKK ada
uang kas, uang kasnya dari PKK tapi kegiatannya dari kita, ilmunya dari kita.
Bu loh, saya sudah pernah membuat kerajinan kokoru yuk kita buat seperti ini.
caranya gimana? Mereka membuat sendiri kalimat-kalimatnya pertama kita
membeli ini seharga segini caranya seperti apa mereka bikin sendiri, kegiatan
seperti ini mereka seneng membuatnya. Kayak membuat gelang, bros-bros, dll.
Karena gini ibu kan punya buku-buku cara membuat apa kita buka bukunya,
bedah buku langsung dengan mereka cuman kekurangannya di waktu ya,
karena di PKK punya poin-poin acara makanya ibu minta waktu satu jam
untuk kegiatan ini Alhamdulillah karena ibu ketua PKK juga kan, jadi ibu bisa
melegalkan acara itu. Terus kalau untuk ke PAUD kita kerjasamanya di
mewarnai misalnya, pengenalan hardware melalui anak-anak, kemudian untuk
Remaja Masjid itu kita lebih ke yang outdoor, kita kerjasamanya di outbond ke
Sukabumi terakhir itu kita, ke curug tangkap ikan, mandi di sungai. Itu kan
yang langsung ke alam itu kegiatan remajanya. Memang itu dananya besar
makanya itu perlu kerjasama. Ibu kerjasama dengan Masjid, Masjid punya kas
DKM, nah mereka juga punya program maka dipadukan. Jadi berjalan
semuanya sesuai dengan rencana, Ya Alhmadulillah, kalau ga gitu vakum, kita
juga ga punya kegiatan apa-apa, itu ibu bikin per- enam bulan ya, kenapa per-
enam bulan, karena per-satu tahun terlalu lama untuk dievaluasi. Misalnya kita
membuat program seperti kerajinan kokoru, belum terlaksana karena
mengalami kesulitan, kesulitan di bahan kemudian waktu satu jam tidak cukup
untuk ini, nah akhirnya program seperti ini perlu dievaluasi belum terlaksana.
Kesalahannya apa, kekurangannya apa dan kapan akan dilaksanakan kembali,
kita akan program lebih lanjut di enam bulan kemudian. Jadi yang mudah-
mudah saja yang jalan, ini lagi ini lagi. Itu juga jadi evaluasi untuk TBM kita
ya supaya apa? Eh... mungkin gini oh... ternyata masyarakat ini sudah sangat
mampu disini masa mau digodok itu-itu lagi, kan ga bisa itu yah untuk
program. TBM tanpa program nonsense sama aja dengan sekolah ya kayak
gitu.

4. Peneliti : Menurut pandangan anda bagaimana minat baca


masyarakat di lingkungan TBM Jendela Ilmu?
Informan : Disini baik banget minat bacanya tinggi, tapi ya namanya
manusia itu kalau menurut ibu kembali ke tradisi di keluarga masing-masing,
itu kembali sangat-sangat berkaitan ya, kalau ibu Alhamdulillah punya anak
tiga-tiganya seneng baca. Seneng baca tiga-tiganya ya, yang pertama Azka itu
juga seneng baca tapi dia bacaannya itu yang kaitannya dengan anak remaja,
dia seneng baca komik, dia seneng baca buku-buku lucu itu yang itu yang
kayak itu ya eh... bukan doraemon apa sih spogebob yang kayak gitu, jadi
kalau ke gunung agung itu dia di tempat yang seperti itu gitu. Teteh mah
bukunya gitu, biarin aku suka, oh... salah juga ya kalau ngelarang. Biarin aja ya
berarti dia suka dengan buku-buku seperti itu. Tapi sekarang itu lebih kalah
dengan dunia internet ya, kalau remaja itu ibu juga agak sulit gitu ya, cuman
ibu bombing aja. Teteh kalau mau buka internet, ga teteh ga suka buka-buka
yang dan sebagainya gitu ya bla bla itu, yaudah ibu arahkan juga. Terus yang
kedua yang Azhar itu juga suka sekali buku-buku yang kayak gitu yang lucu-
lucu. Mamah beli buku yang lucu-lucu dong aku suka gitu, ya nanti. Kemaren
itu makanya dapat sumbangan dari pemerintah dari walikota itu Rp
10.000.000,- . Rp 5.000.000,- sendiri itu untuk perbaikan TBM kemudian
untuk pembelian buku, ibu juga beli laptop disitu, jadi ya memang yang harus
yang mendukung gitu ya, yang kegiatan mendukung gitu. Terus apalagi yang
kecil, yang kecil itu yang Azkia ini, Azkia itu masih TK dia sudah baca buku
yang kelas dua yang bekas kakaknya, makanya ibu berusaha menyimpan buku-
buku bekas kakaknya itu disana di TBM, ga ibu buang ga ibu jual ke tukang ini
ga. Karena itu jadi dari pagi juga mamah mamah aku mau baca buku aa yang
kelas tiga ini ya mah IPA, eh... terus dia baca sendiri gitu, terus dia bikin eh...
semacam tulisan ya, pertanyaan yang ada dia jawab sendiri, mamah nilai aku
dong, saya tidak menilai benar atau tidaknya justru usahanya dia, kasih nilai
100, asik aku dapet 100, itu tanpa ibu suruh, makanya dia selalu berantakan
buku ya. Cuman ga ibu dokumentasikan karena memang itu eh... bagian dari
apa ya, bagian dari pendidikanlah ga papa itu anggap eh... pendidikan luar
sekolah bagi ibu gitu. Itu eh... yang ada di rumah ya, jadi dia juga sering bawa
temen-temennya yuk ke TBM aku yuk baca buku gitu, yaudah ajak temennya
nak, tapi ibu ga mau kalau bukunya berantakan ayo dirapihkan kembali, ya loh
mamah aku ga suka berantakan loh, kamu tadi nyimpen buku dimana? Jadi dia
dengan seperti polisi kamu ambil buku dari mana tadi, 600 ya 600 itu disini
tempatnya, jadi dia yang mengatur itu, kamu ngambil buku 700 ya seni tentang
cerita-cerita ya, disini tempatnya. Jadi dia sudah tau tempat-tempat seperti itu.
Ya Alhamdulillah klasifikasi dewey itu ibu ga kasih tau, tapi dia sudah tau 600
itu dia tentang kesehatan dan sebagainya, oh... adanya disini ya mah ya? Oh...
kalau aku mau cari buku cerita-cerita itu di 800 ya mah, kalau aku cari buku
tentang komputer-komputer umum di 000 ya mah. Jadi tanpa ibu kasih tau ya
ibu biarin dia dengan nalarnya sendiri, eh... otodidark dan sebagainya biarin aja
dulu gitu ga papa. Ibu pengen sih salah satu dari mereka menjadi generasi ibu
ke depan, soalnya siapa nanti yang meneruskan. Tapi ibu berharap ya disini
juga ada, ibu sebelah ini seneng banget baca, sebelah rumah ini, dia itu
semangat, itu bisa tiga novel, yang dia baca lebih baca-baca ke sastranya aja,
ya ga papa jadi dia, bun ada ini dong novel terbaru gitu ya kemarin itu ya, ayat-
ayat cinta, di bawah naungan ka’bah kemudian apa tu yang terbaru tu yang
karangan Habiburahman El Shirazy itu. Ya saya beli ya nanti saya beli, jadi
saya berusaha mencari uang untuk membeli buku-buku itu supaya mereka eh...
tersalurkan minat bacanya itu. Tapi kadang gitu bu bu jangan yang itu mulu
dong bu yang lainnya, ya dia juga suka baca-baca buku kesehatan tentang
kehamilan kemudian bagaimana eh... apa namanya memelihara kesehatan anak
kan ada disitu ya banyak. Seneng juga gitu, jadi habis aja buku sama dia itu.
Kemudian ibu yang sebelah juga seneng banget ah aku mah maunya cerita-
cerita nabi soalnya dulu jarang diceritakan sama mamah gitu ya. Ayo dong
apa? Tentang perang khandak , perang ini. ya Alhamdulillah seneng ya, yang
tidak suka juga banyak, datang kesini cuman ngobrol doang dan sebagainya
yaudah lah biarin kita juga merasa kesulitan. Tapi paling tidak eh... dampak
dari keberadaan TBM disini ya masyarakat disini makin cerdas. Mereka juga
adakan yang memang tipenya mendengarkan, kalau tipe mendengarkan ya
otomatis kita yang harus membedah. Makanya ada acara bedah buku, bedah
buku itu termasuk yang kegiatan di Majelis Ta’lim ya. Ibu punya buku tentang
fiqih wanita, fiqih itu. Itu setiap minggu eh... setiap dua minggu. Insya Allah,
malem jum’at kemaren itu banjir, pengajiaannya ditunda jadi malam nanti ibu
bagian materi eh... kemaren kajiannya itu tentang wudhu ya, Insya Allah
berlanjut tentang sunah-sunah wudhu, mereka itu kan taunya mencuci apa
mencuci eh... telinga itu wajib mencuci ini tu wajib taunya gitu. Oh... ternyata,
oh... yang wajib itu cuman itu ya bu gitu, jadi rame sekali jadi interaktif kalau
lagi ngaji begitu. Apalagi kaitan-kaitannya dengan eh... apa ibadah mandi
junub kayak gitu-gitu kan mereka belum tau ya. Bu kalau lagi haid terus mau
mandi ah, abis sebelum mandi kita hubungan suami istri dulu ga papa ya? Ga
boleh ibu harus mandi dulu, yah... ga tau, bros rame semuanya gitu, jadi ya
namanya ibu-ibu gitu ya, jadi ketika kita menyampaikan ya bu ga tau, ya ga tau
ga papa. Terus bu saya kan udah sholat ni pas di salam terakhir mau salam
yang kedua kentut bu, terus sholatnya di ulang ga? Ga usah kan sudah salam
terakhir, salam yang wajib itu salam pertama, ya saya ulang lagi bu gitu, kan
berr... lagi ketawa, jadi bedah buku itu ternyata lebih interaktif karena mereka
banyak pertanyaan, seneng banget gitu, kadang saya juga eh... Rabbisyrohlii
Shodrii Wa Yassirlii Amrii mudah-mudahan yang saya sampaikan ga salah,
kalau ya salah itu dari diri saya yang benar itu dari Allah, saya sering begitu
aja, mudah-mudahan sesuai dengan apa yang disampaikan, ya saya juga
mempelajari dulu dong, saya baca dulu, ga mungkin saya menyampaikan tanpa
saya harus tau ilmunya gitu. Gitu ya sekelumit tentang TBM Jendela Ilmu,
mungkin banyak masyarakat yang belum tau dimana sih TBM nya bu Reni dan
sebagainya. Karena begini ya saya sih lebih tidak terlalu muluk-muluk semua
orang harus tau itu ga, paling tidak personil-personil itu yang bisa saya
cerdaskan. Dari sepuluh, satu aja bisa saya cerdaskan, dari dua puluh, lima aja,
ga terlalu banyak gitu, itu justru yang akan membekas nanti ketimbang kita
bress... ngadain kegiatan yang ah... muluk-muluk doang kemudian mereka juga
ga tau dampak dan sebagainya, itu justru cape doang gitu aja. Kita kerjasama
dengan PUSTELING (Pusat Teknologi Keliling) dari PERPUSNAS itu anak-
anak rame banget, nah itu salah satu yang mengemparkan yang mereka tuh
terjun langsung, itu kalau kayak gitu. Tapi ya itu kan ga bisa setiap bulan,
setiap minggu mengadakan ya, karena kan itu kaitannya dengan pekerjaan
disana kemudian mereka kan punya penjadwalan khusus kan. Kalau dengan
PERPUSDA ibu sudah kerjasama juga tapi mereka kan PUSTELING nya
belum selengkap PERPUSNAS ya, jadi bun ga papa nanti kita datang harus
mempersiapkan apa, ga usah disiapin apa-apa pokoknya anak-anak, anak-anak
mah gampang, sudah ada kerjasama dengan PERPUSDA itu lah, tanpa
kerjasama itu kita nonsense, kita kan butuh orang lain gitu, tanpa kerjasama
tidak ada kegiatan, kegiatan sendiri itu apa sih, susah kan kita tuh butuh
interaksi ya orang-orang sekitar. Kalau dulu sih ibu juga bingung mau ngapain
bikin TBM itu apa sih gitu nya, karena taunya perpustakaan pribadi disana ga
ada kegiatan apa-apa kecuali baca, jadi ada orang yang datang bun pinjem
buku, boleh sok pinjem, baca kitab aja disitu diem aja bacanya, kegiatannya
hanya membaca aja, ternyata kegiatan Taman Bacaan itu lebih semarak
sebetulnya kalau kita bikin semarak.

5. Peneliti : Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfaatan


TBM Jendela Ilmu dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca
di lingkungan TBM Jendela Ilmu?
Informan : Mungkin eh... masyarakat sekitar ya, dukungan tokoh masyarakat
karena kan ketika kita, ibu tuh salah salah satu yang tidak di dukung oleh RW,
karena ya itu kan tarik menarik eh... yang namanya orang ketika membuat
sesuatu itu kan eh... saya mau dukung apa ga ya? Tapi dari dukungan itu saya
dapat apa nih? Yaitu ya kan ada pamrih ya. Ada pamrih, pamrih itu bukan
hanya materi imateril itu pun pamrih, jadi ketika kita menampilkan seseorang
di depan walikota itu mereka merasa tersanjung gitu ya, itu kaitannya dengan
itu. Nah ibu itu termasuk orang yang, ah... udah lah kalau mereka ga mau
dukung udah yang penting jalan, kalau ibu orangnya kayak gitu, gitu ya. Jadi
yang pertama itu eh... dukungan dari tokoh yang memang ada yang mendukung
ibu gitu kan, termasuk pak RT mendukung, kemudian ketua DKM mendukung,
kemudian ibu juga punya ade ya, ade itu juga termasuk calon legislatif
kemaren, yang satu-satunya supported banget untuk Taman Bacaan kemudian
dia yang mengusulkan ke Bu Herlina kan, di Pamulang Barat belum ada TBM
itu bu Herlina coba di bikin, kakak saya itu bisa dia gitu. Jadi dia salah satu
yang support banget untuk itu, tuh dukungan masyarakat, tokoh ya. Dukungan
masyarakat sekitar juga Alhamdulillah untuk TBM, respektif banget gitu,
walaupun eh... lupa ya aku pinjem belum dikembaliin ya gapapa yang penting
sudah ada kegiatan, sudah ada respon gitu ya.
Kemudian yang ketiga eh... dukungan dari keluarga, suami ibu juga pendukung
besar gitu ya, kemudian temen-temen juga banyak, itu faktor yang pertama,
faktor kedua mungkin eh... yang kaitannya dengan keuangan ya, dana dan
sebagainya itu tidak ibu jadikan kendala yg eh... apa ya yang menyulitkan
karena itu tadi ibu bisa mencari celah-celah untuk walaupun tidak ada dana kita
bisa melaksanakan kegiatan, gitu kalo ibu, makanya ibu cari celah-celah, oh...
ternyata kegiatan ini bisa dilaksanakan di PAUD, oh... kegiatan ini bisa
dilaksanakan di Majelis Ta’lim, oh... ternyata kegiatan ini bisa di laksanakan di
PKK misalnya. Jadi ibu kerjasama dan ibu berusaha untuk menjadi pengurus
juga disitu gitu kan. Kalo kita tidak jadi pengurus kita tidak bisa memasukan
program gitu, itu faktor yang kedua ya, dana tidak terlalu menjadi. Tetapi ibu
juga berusaha menjadi TBM yang mandiri ya. TBM yang mandiri dengan cara
ya bagaimana ibu bisa menjual pernak-pernik ini gitu, tapi eh... ini kan cuman
satu tahun satu kali paling ada jambore untuk penjualan itu. Nah kita kan
belum bisa tembus ke pasar dan sebagainya, karena memang ibu belum punya
ilmunya mungkin itu ya. Kalau temen-temen yang punya ilmunya gampang
sebetulnya ada sekarang kan ada penjualan online, ada disini ibu punya rajutan
pelangi itu di facebook itu, itu dia kan menjual pernak pernik itu, rajutan yang
yang kayak gitu kemudian dia ini dijual melalui online, itu kan dia pemesanan
persatu kodi berapa ya kayak gitu. Ya itu sebetulnya sudah ad aide di sini, tapi
kaitannya dengan kesempatan, kemudian dengan waktu ibu tu kadang aduh ya
Allah terlalu banyak eh... apa ide, banyak untuk aktualisasi untuk aplikasinya
agak kesulitan, itu dana ya. Kemudian faktor yang terakhir mungkin eh... yang
kaitannya dengan apa ya namanya eh... lokasi ya, lokasi Alhamdulillah TBM
kita ini ada di lokasi yang strategis, strategis dalam artian kita punya
masyarakat yang majemuk, majemuk itu kan ada yang memang sangat bodoh
sekali, kemudian dia datang dari yang ga punya sama sekali minat baca, ada
juga yang memang dari masyarakat yang dulunya memang dia hanya lulusan
SMA tapi punya minat tinggi untuk belajar ada yang kayak gitu. Jadi eh... enak
banget gitu, enak banget mengelompokannya, pengelompokannya kondisi
masyarakat yang nol ke bawah kemudian satu ke lima, lima ke tujuh gitu, tujuh
ke sepuluh itu sudah terkotak-kotak disini. Jadi ibu sih tinggal masuk kesini, oh
ya kita bisa menyesuaikan dari disini, masuk kesini oh... ternyata ibu juga
termasuk orang yang bisa dikatakan bunglon juga, bunglon dalam artian positif
ya. Kita memang harus begitu, kita harus lebur tapi kita tidak meleburkan diri
disitu. Ketika kita ada di mereka yang seneng oh... apa namanya ngobrol aja
ada yang kayak gitu, ya ibu juga masuk disitu, ngobrol juga disitu, ga mungkin
kan kita disitu diem aja, ya ibu juga masuk ke tema mereka ibu masuk juga.
Kadang ikut juga ngomongin orang, ikut juga, makanya sesudah itu kita Sholat
Istighfar Ya Allah, “Rabbanaa Dzhalamnaa Anfusanaa Waillamtaghfirlanaa”
gitu ya. Jadi ketika kita masuk kesitu oh... memang harus disitu gitu. Ketika
kita masuk di yang eh... dalam tanda kutip tiga sampai lima oh... ternyata dia
lebih, lebih wawasannya lebih baik lagi, masuk kesini memang wawasannya
lebih luas, masuk lagi ke level yang pamong-pamong yang ada disini ya seperti
guru-guru ngaji, guru-guru labschool ini banyak di Masjid ini, guru-guru
kemudian mereka dosen dan sebagainya, ibu juga bisa masuk disitu karena kita
punya basicly punya ilmu, punya ini. Masuk disitu karena kita juga jadi
pengurus disitu, jadi Alhamdulillah variasi masyarakat yang majemuk ini bisa
dijadikan modal juga untuk kita lebih mencerdaskan diri ya, nah itu faktor-
faktornya ya.

6. Bagaimana upaya menumbuhkan dan meningkatkan minat baca


masyarakat di TBM Jendela Ilmu?
Jawab : Menumbuhkan minat baca itu harus dirangsang dengan berbagai
program yang menarik itu yang intinya, tanpa program menarik mereka ga mau
datang ke TBM gitu ya. Salah satunya adalah ibu selalu menghadirkan mereka
di ibu mengundang mereka dengan kegiatan pengajian kalo untuk ibu-ibu, ibu
hadirkan eh... ibu datangkan mereka kesini kan, yah otomatis kita harus
menyiapkan program yang mau disampaikan, ibu bikin sampai ke detail gitu ya
kayak semacam, ibu sih ga buatin mereka makalah ga, percuma ga bakal
dibaca tapi cara menyampaikan yang ibu sampaikan itu yang bikin mereka
menarik gitu kalau ibu ya, jadi akhirnya mereka melek, oh... bu disini ada buku
ya, minjem dong bu, paling tidak itu minat mereka untuk membuka buku aja
itu udah penting, ya mudah-mudahan datang ke rumah dibaca masa ga dibaca
sih paling tidak dilihat gambarnya gitu ya. Nah itu kan salah satu cara
meningkatkan minat baca itu untuk ibu-ibu. Ya untuk PAUD ya itu tadi ibu
kerjasama dengan kepala PAUD disini, karena ga kepegang ibu limpahkan ke
Ibu Nurhakimah, bu nur gimana ni kerjasama dengan TBM, yuk bu ngadain
lomba, lomba apa sih, atau ibu ikut kegiatan mereka di akhir tahun ini. Ada
haplah akhir ya, haplah akhir itu biasanya dengan pentas seni , nah ibu juga
ikut mendanai, misalnya dipentas seninya apa sih yang dibutuhkan misalnya
ibu juga ikut disitu buka stand buku nah. Ibu misalnya buka stand buku, buku-
buku yang siapa sih ibu sesuaikan objek yang ada disini apa objeknya ibu-ibu
ternyata oh... buku-buku tentang masakan, ibu bawa cara membuat kerudung
yang menarik itu kan ada ya majalah-majalah hijabers itu, kemudian ibu juga
menghadirkan cara eh... pengolahan apa-apa itu yang kaitannya dengan mereka
itu. Terus untuk anak-anak ibu bawa buku anak-anak, buku yang anak-anak
mewarnai PAUD dan sebagainya, itu buka stand disitu, itu kerjasama. Itu
misalnya mereka, ibu bisa ngasih apa nih untuk membuat stand ini, yaudah
saya membantu untuk konsumsinya denga 50 box makanan atau mereka
menjadikan kita menjadi panitianya kemudian dari kepanitiaan itu ibu
menyumbang misalnya uang Rp 1.000.000,- untuk panitia sih A Rp 200.000,- ,
sih ini, itu bagian dari kegiatan , ya emang harus kegiatan gitu. Atau ibu itu
mengadakan yaitu tadi bedah buku, bedah buku yang menarik itu yang hijabers
itu. Ibu mendatangkan eh... kerjasama dengan eh... apa namanya yang punya
majalahnya misalnya. Nah sih majalah itu mendatangkan model. Nah ini
kerjasama salah satu bagian dari program, ibu rencana seperti itu, itu juga
justru menarik kan acaranya. Emang acara monoton cuman sambutan aja kayak
gitu, itu karena duh malah ga ada itu justru di poin-poin acara-acara seperti
yang penuhnya. Tidak bisa berjalan kalau tidak ada program, dan kembali lagi
ke kerjasama. Ga bisa kita mengadakan sendiri semua sendiri, aduh berat
dananya minimal harus punya uang Rp 3.000.000,- sampai Rp 4.000.000,-
untuk satu kali acara. Nah kalau kayak gitu kan ibu cukup dengan pesen kue 50
box misalnya. Saya mau nyumbang kue bu 50 box tapi saya punya program
mau bikin stand, kan mereka juga Alhamdulillah nih Bu Reni mau nyumbang
nih, gapapa stand toh mereka tidak rugi, orang kita juga bikin stand sendiri,
ngangkut sendiri gitu kan. Ya Alhamdulillah gitu gayung bersambut akhirnya
mereka juga mau. Oh... ya jangan lupa itu dokumentasi, bahwa kita
mengadakan kegiatan ada dokumentasinya, yang kadang terlupa itu
dokumentasi karena memang ibu kekurangannya ini, kekurangan staff ya.
Karena ibu kan eh... bener-bener ga muluk-muluk ya menggunakan otak
sendiri, tenaga ibu sendiri, suami yang kadang mendukung, anak ibu, kemudian
ibu punya adik, bener-bener keluarga aja yang mendukung. Jadi dulu sih bener
pernah kerajasama dengan guru-guru PAUD tapi kadang gini kaitannya dengan
dana ya, jadi kalo mereka maunya ketika ada bantuan itu dana bagikan, dana
bagikan ibu saya dapat berapa kan itu kan pada akhirnya ga mendukung
program pada akhirnya, programnya juga kita harus mencari lagi. Kalo ibu ga
gitu ketika mendapat bantuan Rp 2.000.000,- misalnya, Rp 2.000.000,- bu ini
ini untuk kegiatan kita benar-benar alokasikan untuk kegiatan, oh... kita beli
kayak gininya berapa coba kan kayak gini-gininya kan berapa, kita kan
perhitungan biji itu berapa gitu ya, itu kan beli ke ASEMKA kita, itu kan kita
harus meluangkan uangnya kan disitu, kemudian kita juga perlu ongkos
kesana, beli bensinlah, mobilnya harus dibensinin, semuanya pake perhitungan.
Ini mah ada Rp 2.000.000,- bun kemaren dapet sumbangan berapa? Rp
2.000.000,- , ada sepuluh orang, seratus seratus seratus seratus, Rp 1000.000,-
nya disimpan habis aja ga karu-karuan, akhirnya ketika ini udah ibu mau tarik
TBM tidak ada PAUD lagi asalnya di PAUD. Karena itu jadi ibu agak
keberatan juga. Keberatan dalam artian kesannya uang itu ga boleh sama ibu
gitu, padahal justru ibu itu nyimpen uangnya itu nge savenya untuk enam bulan
ke depan, ini mah jadi begitu acara selesai duit habis udah deh jadi untuk bulan
depannya lagi aduh ibu harus berpikir cerdas lagi ni kemana ni nyari keuangan.
Ya akhirnya kita keluar duit sendiri, ga papa berkahnya banyak. Tapi kan
paling tidak pertanggung jawaban bantuan itu kepada mereka itu dengan apa
gitu, kalaupun misalnya ada uang lelah gitu kan ya ga harus habis itu tadinya,
ya ini kan secretnya ya, secretnya namanya manusia selalu kaitan dan
kelemahannya seperti itu.

7. Peneliti : Apa saja upaya pembinaan minat baca TBM Jendela Ilmu
dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat melalui
program-program yang diselenggarakan?
Informan : Untuk menumbuhkan minat baca itu Taman Bacaan itu harus
punya program yang menarik. Kalo ibu membuat jaringan, jaringan
pembelajaran partisipatif, terserah temanya mau apa, partisipatif dalam artian
kita memakai jaringan yang ada itu sebagai sarana untuk sosialisasi program,
itu harus disesuaikan dengan objeknya, nah objeknya untuk anak usia dini
berarti ga mungkin dong programnya memasak, boleh memasak ga papa tapi
masakan anak-anak tuh apa sih ya gitu atau misalnya ibu kerjasama dengan
posyandu pemberian vitamin A kita kerjasama lagi dengan puskesmasnya bun
saya mau minta vitamin A nih untuk posyandu A, oh... iya kita juga mensuplai
apanya makanan PMT nya, ibu beli dua dus susu, dua dus eh... biscuit misalnya
itu, yaitu kaitannya dengan dana lagi itu selalu harus ada kerjasama, tanpa ada
kerjasama nonsense ga bisa, itu namanya helpfull Comunity, tanpa helpfull
Comunity tanpa gotong royong cape deh, masyarakat itu harus dirangsang
minatnya tanpa rangsangan itu mereka yang memang suka baca buku mah ga
usah dirangsang datang sendiri. Bun aku mau pinjem buku sore-sore, bun aku
pinjem tiga ya, jangan lupa yuk tulis ya. Ibu kan harus ada administrasi,
mereka menulis sendiri dengan kejujuran toh, mereka menulis namanya A
membawa buku ini ini ini, pengarangnya ini, nanti dikembalikan tanggal segini
ya bun, tanda tangan. Jadi harus ada program yang menarik supaya mereka
tertarik untuk paling tidak untuk membaca buku ya, untuk datang hadir sudah
datang mah ada buku ga mungkin dia ga megang sama sekali gitu.

8. Peneliti : Apa saja faktor yang mendukung minat baca di TBM SBJD ?
Informan : Banyak, kalau internalnya kemauan si pengelolan terutama untuk
berjuang bagaimana caranya membuat program yang menarik, eh... supaya
masyarakat paling tidak mau datang dulu, orang kan bagaimana mau datang
kalau dia tidak punya program yang menarik, masa cuman lihat buku doing itu
misalnya, nanti kita dengan punya program yang menarik, pertama kalau di
TBM JI harus punya program yang eh... menarik minat baca itu misalnya kita
punya program yang kaitannya dengan eh... anak-anak PAUD ya bagaimana
anak-anak bisa datang ke TBM karena dia tertarik dengan buku-buku yang
kayak gini misalnya, bagaimana dengan warna-warni ini mereka tertarik bisa
membaca maka harus diperbanyak buku-buku cerita yang kaitannya dengan
anak-anak ya, jadi buku itu harus disesuaikan dengan konsumen yang ada
keperluannya, kalau buku kaitannya dengan ibu-ibu kita punya program
menarik yang kaitannya dengan ibu-ibu misalnya kita eh... kita punya bedah
buku eh... buku tentang cara memasak, cara membuat kue kering, cara
memproduksi sesuatu yang dari hal yang eh... rendah dan tidak ada harganya
sampai kepada yang eh... kelihatannya gede gitu ya. Dompet-dompet yang ada
di TBM JI tu dari kertas daur ulang dari kopi dari cangkang kopi, tau cangkang
kopi? Eh... Maryati ambilin dompet satu deh, ambilin dompet satu, nah itu kan
dari daur ulang sampah, bagaimana bisa menjadi sebuah dompet yang cukup
mempunyai kecukupan hidup yang dia tiru, itu kan menarik itu program dari
internal ya, nah eksternalnya nah ini seperti ini kan dari bungkus kopi bekas ya,
ini produk Jendela Ilmu kerjasama dengan mahasiswa Sukabumi yang mereka
punya cita-cita ingin bagaimana ni limbah di masyarakat jadi sesuatu yang
bermakna, sesuatu yang tidak terbuang gitu saja. Eksternalnya bagaimana kita
bisa merangkul atau bermitra dengan organisasi-organisasi luar supaya TBM
itu tidak vakum di bawah atau gitu tidak menclep ke bawah. Nah kalau TBM-
TBM itu kerjasama dengan mitra seperti ini, mengadakan seperti ini, kita
menjadi terlihat di luar kan, ya kan ini dengan mitra-mitra yang ada, dengan
dinas pendidikan yang ada, dengan PERPUSDA, dengan TBM MAGMA,
dengan TBM Al-Hidayah, dengan yang lainnya. Ini kita faktor eksternal yang
pada akhirnya kita menjadi eh... ter... terkemuka apa ya terlihat di permukaan,
kalu kita diem aja di dalam ga bakalan terliha gitu loh ya, TBM kita
Alhamdulillah bahwa kita juga sudah upload beberapa kegiatan di internet
tentang TBM itu muncul ya, ada beberapa tabloid yang datang wawancarain
ibu kemaren terakhir di Koran Tang-Sel ibu bawa ga ya, tentang kunjugan ke
TBM-TBM, itu dari tabloid PERPUSDA. Jadi gini ketika kita punya program
internal otomatis secara eksternal juga orang akan melihat oh... ternyata disini
ada kegiatan, ada TBM.
Peneliti : Kalau faktor internalnya eh... kemampuan membaca anaknya itu
atau masyarakatnya itu gimana bu?
Informan : Eh... sebetulnya gini ya kita itu kan tradisi membaca di
masyarakat itu sangat rendah saya akui itu, tapi bagaimana sikap orang tua bisa
mengajak anaknya eh... untuk ke tradisi membaca itu, kalau orang tuanya itu ya
sulit cuman eh... bagaiamana usaha si pembuat TBM untuk bisa menanamkan
gitu ya menanamkan paling tidak, kalau saya kan gini usahanya saya secara
pribadi ya, kalau saya masuk ke Majelis Ta’lim, Alhamdulillah saya dipercaya
disitu untuk bedah buku fiqih, nah bagaimana menanamkan orang tua nih suka
dengan fiqih kita ngomong dulu, loh... fiqih ini eh... katannya dengan wukuf
tapi dengan ubudiah sehari-hari, bagaimana ibu-ibu ga bisa, ga mau baca kalau,
kalau apa akan mau tau, akan bisa berhasil untuk mengetahui ini itu, kalau
tidak membaca, silahkan ibu datang ke TBM saya, itu banyak buku-buku yang
mengenai fiqih pada akhirnya kan setelah ketertarikan itu mereka tau jadi gitu.
Jadi kalau eh... minat membacanya sendiri memang sulit sekali ya, ini saya
yakin hanya 50% aja yang mau membukabuku disini. Misalnya semuanya
dengan acara meriahnya aja itu rame, itu hanya beberapa.
Peneliti : Kalau usia masyarakatnya itu dibedakan ga bu minat bacanya?
Informan : Jelas dong, itu kan itu, itu yang menjadi eh... daya ketertarikan
eh... apa namanya ya, orang-orang dinas misalnya eh... ada sesuatu gitu yang di
TBM JI karena memang ada ke khususan ketika menangani eh... minat baca,
jadi saya menjadikan eh... sekeliling mitra saya menjadi tiga minat baca, minat
baca PAUD, minat baca PKK, minat baca Majelis Ta’lim, kenapa minat baca
PAUD? Itulah pemisahan usia, jadi disitu kan saya memakai bukunya juga
beda cara menyampaikan juga beda, koordinasi dengan guru-gurunya beda,
caranya saya dengan mendongeng, dengan main mewarnai, dengan main apa
balok, itu kan caranya berbeda kita menyampaikannya juga dengan cara yang
lebih meriah. Lalu kepada ibu-ibu PKK itu kan eh... kaum ibu ya caranya
dengan apa?, otomatis sesuai dengan keinginan dan kemampuan mereka,
mereka suka memasak ya kita ga mungkin mengajari mereka komputer, itu kan
eh... mereka sukanya dengan membuat bunga, membuat sesuatu seperti ini. Ini
kan menarik, saya aja suka ko ini, saya simpen untuk alat-alat sabun misalnya
kalau saya pergi atau untuk alat-alat sabun misalnya kalau saya pergi atau
untuk alat make up kan bisa disini, atau untuk uang sekalipun ini ga bakalan
jatoh. Kalau kendala di saya ya ngerangkul bapak-bapak yang agak sulit, tapi
saya punya cara jadi ada momen-momen tertentu untuk menarik bapak-bapak
misalnya ketika kemaren eh... memperebutkan juara bola itu kemaren ya,
caranya dengan nonton bareng, nonton bareng mereka kita suplai dengan kopi,
suplai dengan eh... apa tontonan yang menarik nah disitu kita persiapkan buku
yang kaitannya dengan bapak-bapak. Untuk remajanya jendela ilmu ya ini
kerjasama dengan mahasiswa dalam rangka membuat limbah, tahun ini
pokoknya eh... judulnya limbah, kalau tahun kemaren membuat gelang-gelang
ya, kemudian membuat bros, jadi saya setiap tahun saya ada prioritas supaya
kita fokus, jadi tidak semua dipegang.

9. Peneliti : Apa saja faktor yang menghambat minat baca di TBM


SBJD?
Informan : Banyak, faktor penghambatnya diantaranya eh... satu ketidak
pedulian orang tua terhadap pendidikan anak ya, terutama minat baca, orang
tua itu mau anaknya udah sekolah udah aja lah gimana gurunya, jadi
menanamkannya lagi “ayo nak baca lagi” itu jarang, kecuali kalau ada PR,
kalau sekarang dunia les, dunia bimbel sudah menjamur dimana-mana, anak
cukup di lesin pulang malem, selesai orang tua. Termasuk saya kalau saya ga
terjun di dunia pendidikan mungkin saya termasuk orang tua yang cuek.
Kemudian yang kedua kendala dengan keuangan, dana ya, karena TBM itu
lembaga non-profit tidak menghasilkan, mungkin dari segi eh... eh... sarana dan
prasarana, karna terbentur dana lagi, sarana dan prasarana kita ini ya apa
adanya ya. Saya sudah 5 tahun ini TBM berjalan. Ketika Kami tidak punya
danapun, Kami tetap berjalan dengan atau tanpa dana tetap berjalan. Ketika ada
dana, kita gunakan dana itu. Tapi ketika ga ada, kita yang harus mengeluarkan
sendiri. Suatu saat Insya Allah itu akan tetap berjalan, tetap baik itu aja. Tapi
lagi-lagi itu tidak menjadi hambatan. Tapi dengan ini Insya Allah bisa
membantu, cuman lagi-lagi bagaimana kita bisa bekerjasama dengan mitra-
mitra yang eh... dalam tanda kutip setelah kerjasama itu bisa menghasilkan
gitu, selama ini si itu aja eh.... kendalanya. Yang ketiga ada kendala lain adalah
eh... sikap cuek masyarakat sekitar terhadap TBM. kadang suka ada yang
arogan apaan sih ngumpulin buku doang gitu ya, padahal dia ga tau ya, kalau
kita punya misi terselubung untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, kemudian
sikap-sikap seperti eh... tidak mau mendorong, tidak ada dukungan aja secara
moril dan materil.
10. Peneliti : Bagaimana manajemen, fungsi dan tujuan yang dilaksanakan
oleh TBM Jendela Ilmu?
Informan : Sebenernya kalo manajemennya agak sulit sih, apa ya yg penting
kita mempunyai tali program kemudian kita juga harus tau secara administrasi
itu harus ada ketua, ada sekretaris ada bendahara itu kan memang yang di
secara administrasi yang diminta oleh bank itu juga itu kan. Ibu kan eh...
sekarang eh secara adminstrasi itu sebagai ketua pengelola TBM. Nah ibu juga
punya eh... akta notaris untuk TBM ini kebetulan ibu memang gabung dengan
MAGMA, akta notarisnya itu Yayasan Menata Tangsel ya. Kemudia juga ibu
punya izin operasional, karena memang tanpa izin operasional kita tidak akan
punya legalitas ke dinas, kita tidak akan juga di izinkan untuk mengikuti lomba
misalnya, itu lomba itu disertakan izin operasionalnya. Bahwa ibu resmi secara
administrasi punya izin dari dinas pendidikan untuk mengadakan PLS
(Pendidikan Luar Sekolah) itu secara administrasi seperti itu. Struktur
organisasi ada, ibu sebagai ketua, bendahara ibu titin, bendahara. Sekretaris
suami ibu sendiri, kemudian untuk panataan, perawatan dan sebagainya, ada si
mba. Jadi bener-bener ibu me manajemen sendiri, pengelolaan sendiri, dan
sebagainya. Tapi dasyat sekali kalo misalnya eh... apa namanya punya akses ke
masyarakat luas, kemudian dampaknya juga baik itu adalah suatu keberhasilan
yang eh... apa namanya membahagiakanlah apa ya ga speechless lah tidak bisa
dengan kata-kata gitu. Fungsinya kalo menurut saya eh... apa ya kita sesuaikan
aja dengan kondisi yang ada ya. Ketika fungsi TBM untuk instansi yang ada di
sekitarnya ya berfungsi dengan baik kalo menurut saya. Kita bisa mendukung
program RT, kita bisa mendukung program RW yang mencerdaskan
kehidupan. Terutama yang kaitannya meningkatkan minat baca disini.
Subhanallah loh disini ada bedah kitab setiap sabtu pagi kajiannya itu, kita di
Mesjid itu mendatangkan narasumber, narasumber dari luar yang memang
mampu. Ga semua orang bisa baca kitab kuning ya. Disini Alhamdulillah ada
beberapa orang yang eh... yang punya kekhasan punya kemampuan itu dan
mereka juga mau difungsikan gratis tanpa dibayar, banyak orang – orang yang
kayak Alhamdulillah kerjasamanya juga baik dengan kami eh... apa namanya
kalo saya sendiri juga menjadi narasumber untuk fiqih ya, untuk terjemah Al-
Qur’an di Mesjid itu juga gratis itu bagian dari fungsi TBM mencerdaskan
kehidupan bangsa, kemudian juga TBM itu bisa berfungsi sebagai salah satu
sarana untuk eh... meningkatkan minat baca di masyarakat. Ini kan sarana ya,
tanpa buku-buku itu apakah mereka bisa mencari ilmu yang dia cari. Ya fungsi
TBM itu tiga kan saya melihatnya :
1. Sarana edukasi untuk masyarakat
2. Sarana sebagai rekreasi, rekreasinya disini dijadikan tempatlah.
Rekreasi ilmu, rekreasi mata, rekreasi tangan.
3. Sebagai sarana informasi

11. Peneliti : Apa saja kendala dan cara mengatasi minat baca masyarakat
dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca?
Informan : Kalo kendalanya sih ya gitu, TBM itu suka dianggap enteng
oleh
warga, ada juga yang nganggap baca buku itu bisa di rumah. Terus kendala
lainnya minat baca itu dikalahkan oleh elektronik terutama anak-anak, game
online, gadget, itu lebih dipilih dan diberikan oleh orang tua ketimbang
mengarahkan anak-anaknya untuk membaca. Maka saya anggap satu orang
yang datang saya anggap seperti seribu orang yang datang.

12. Peneliti : Apa saja harapan anda untuk TBM Jendela Ilmu?
Informan : harapannya yaitu TBM dapat mendukung program masyarakat
agar masyarakat lebih melek terhadap informasi dan ingin meningkatkan minat
baca di Indonesia.
- '~

TAMAM ~SACArAN"
'.YAR.il(~srt~r'~'<,~{,}4BNBELAUta
;S~ektetarfa1:' 'iperl3m~f.t;B~,i~LembanPi'nus:,SaBmita ja¥a:~R~ ~OO..lRW,'.,
O~4
Pamu~an~~~.ataf" T.a·nsret(8~~~S~~m:!! S~lBn
'ie!tp., 'Cl21 7-47'~~e192H:~~,"
tlS7.8~1S44M,.99
; No.1 WaKtu

1 I ~~rian I "' 'Membaria buku


1
l
~ ",

Pemiiljaman huku
1
.~

J- Lo~ba' mewamai~-I T~rla.~an;


-1- l-ilOuran SdUk~fif
J. - .- -
":'11,

j - Demo'Memasa,K
I- Keterrunlt»tan ·1

,
"i

Ir I
,j I!

~ '1
4 f TerlaKsan'2- . I
~,Tanurlrtn
I I
J I
3
'1'r:I:,1l.2~( ~~/~~I~'" ."
:Pii
~aiJil 'u~ A_,,{,,; '~lT'~A'T('. . :: <~~", <)~' j£·)tI;A.~{ ::A f:l'
H¥,.l
. M.§VI,ft'£~ ;O'~. :I;ijfj ::['~ 'f\?if.'"~rJ' \", '~o, _ :' ~·'I:~U:C,'i-..M,-:li\ .. :,·lmu,

'S,aKtAt1if!¥.1at ~:Peiamao'2ifLemti'arl P1Rds:,'_sAlla


Ji2~}:taQr~,,03~R~~"fl,l2.,4
Pam,tilaBs'2:ifat'~, 19,> l~GrSMa;a:n.~ ,'" ··:'~n
Te.,~ ,0-21 " 'Tt81lf2 l
, HP·~~18;75~88'S9
'-"*tiI .

I No. 1 - KEG~TAN . WAKrU - ···1'


'·PELA-l'\::$.ANAAN '
t
I r

r""t.i!¥1i'·ltng~U.,
~'F'·
.Ii
'~ ""
·'lI
~V
") fl""':; I
: l Q ,
:d ei i l
iP J .~
4,re
~ ru al'l ; !l
r ":' ;.. .J '
{®'f0! t i ~t

r Jam H;WO s/a 11.30 Wtb 1 Ngan p~ At (13


~~~~~~~~~~~~~~~~ ~~~- t~~~ ~~ !
r Ber'wordinasi
I . -
t
- , 2,
1

I
Mingt.lu; li'6 Rebraari 20J4
1",:
I,:

t
1
Jan 6.3'6 sld 0$.00 \\\'lb 1 ~~fl santn ltB
'
- ._;:
TAUAir~~F8~~~AAN··.·:.:_;:'·~·iYA~~Ar '" JSJl~
.) JB.De~A:IUUU
-S~kr't~tl·~t ':-~P~tWffla~a~ .l.e~b: .. h: ,P"i:n(t5~·.\$awll. ·Jtt1a> '. ·:03
R~1t~·0:24
Pii~.~ * F!~et~fJQ;~~:
T:e]p. 021- 7~~i11S1it~~, 6878.;
~8a~lm
:*8a-e.9·
. " .... :

':2~ ·R"!~:US.~~ P;ELA~KSJtN:AAJN i("eG1A.TAN auU" ft,m.Et,.2;.Ozt4


; . KaE~ANG~N "I

1 ,BelkOtltciifiasi cl.e- I

...
...... j'" . .:7'-. -'-:-10'· .. ~ .

,: No,.~ I' lCEtJ~ATAN f WAKTU PElAKSAN-AAN K'ETE.RANG.AJ\]· 1


,)
'I j-. -
r,A~t .,'N jl~~C~l"" _'M - ~,ty'iI&MtAr'( 'rnWdI! J '~NflEt,A ~t~g
Sek,~,atafiat ~:'~a:rv.~ 'ban :I;~~:ij~ 'Pin~' '$i~M~ta' J,~ya~R1f":~0:3 8V\I'., 10£4
p~;~.12~4~~I~~:;~~04~

t No. I . ~~y\TAN' c' ; WAJ(TU PELAKSANAAN KETEA:ANGA,N


j
r:'

.1 I
s.e rt~m
I
-:s;etiat d'art '-Mii"fg:~y:~ '1 Jt;;ID1·e014 ·1 'B~rl«H')f£iijj;asl00-

I
J
, c_f,,_.,_ ~~~~~~~_~
,~,
,I,'

· ~eda R~a -Jaln &.BO·Sifd -12..(}f1 WiD -l1fgafl;'~ba-~- PKK I


i I
j
t"
I

! B~r~GQt~a~; . '~I !

Tan;g!;e~;;tri:g, ,5~letan,·,.8,Juri; -,OO,~,4'


'Ke~a('i:l'TSMJ'Md@la Umu
Patflu[atng Ba'rat
TBM SBJD

Gambar I. Wawancara Gambar II. Suasana Kelas TK/TP Al-


Qur’an

Gambar III. Koleksi Buku Gambar IV. Kegiatan Membaca


TBM JI

Gambar I. Wawancara Gambar II. Kegiatan Membaca

Gambar III. Koleksi Buku Gambar IV. Kegiatan Majelis Ta’lim &
PKK
K~fllt~'-'Yt~ ~
&etua ,J:uru:S31r'Ltn~u Pe~p;~~~fl'

~:::&{~:~=~=~
Denf§Hn :int. ;$~&f: .
~N~m~ : Wdlia
l;Jl!\1 ~-:11 rOB2$tr~JG~~62,~
S:em~ter : ~ttl
, hi?: ';'
(fuocy """1: -I 'Cl"
'·'.u '_, :£~ ,*~~).'
~ 0"
il)_"Qi:) ;p

E~~:Itla11 :' l~~HaDia:fi~~1,A~Qm,

Ben»~nd lIf.en~'~kaa' ,r.t~nnl)r~_3 plrC]?0.s{il skf4psi y_q'te1~',-d$.~et·~jui41ie'h, _


P~mmril~in! Aka~enrtk: Demi-ki:Gt"l flterMlo:bonan ftii :s;a_ya "satR~«!n '~~t ]til~m~~ t~p:at
dipertimbangkan,~ Ala, pe.r.b.aHat~ '~~'l!-4~:J~c.kt"~'Mrit~'iakasUt.

Men~ge~lJj;
Dosea Pe~Qinl~rh~g Ak[ld~m,k,
......-.

K,•• ~~
1\$il:JUmsa.n.lbtt~ ]t~erpu~'~a'an
Eralnltas A dab· d~ h~man_~
~!lyarifFUdayanttiatI J$~

;
:S~e.m~ster
.MJ?
E",:1rtail

Delln$~u4 lte~ak .'~pj-~ .p~QhQJ1an tmt~\ .~. ~nd~pjltJ;.an d~~lq_

p~mo;jmbitJg skdpii b;eg.~dul ::.~IJ.p:~y.a ?Pea1ti'l0m:aan ~!Jf.U'Dat.~a :dt TalU3:u

N1engetahui"
.
·<

,vv,1t'!lf1f~t'T"1'i"j1Vt}?t
£~,.Ff.iEd f'!C.·
~(N'~:' .A.~j~~:~i~;'.J::L-'.;!f
I:J.,1'\;:I.:f'1_· U'l"l. .
.1'\..
fi,.

llNl.vEi.~(T.AI; 1~~l'd ·~EJG~Rl ;(UI N):


'S-YA.:;·,. ;;~"~_'"·'~DA.'V.lrfULr H' a.AJ(~~Jtr.A
v :4~'~U~
rF ",~~;J" :~
t;Jf} if! ~
~~!;:a. ~
.;lD·,AU'~.¥~~"'~if
,·/}.\.-Bf ~R dlt JILl ·~'l<.lr·mJM
~i '~3T(J;A.l?;l, .;~
.. :t

No.tn:et :,:UN. 0 lIF2lP FJj{f.·g;,2/ '14~t2e l.4


La-FIT-P,·· ~.
Ha.1 r ':;tt'igi1$.l\)~eilJr~.:d~ 'P'~Hd,"i'fl:lbhlg

K\~p;;:~i.f~ Ytb.
Hpl</UlulSdr,. : :F:·u,.db:.i bUtd" :a~u;lid~u'n.l"·.M.][u ru.

Den gari .h- Ofmm. ~karn i' be ri tah u kan ·.b:,~·wha .s·pJ;./~t'fuj.~dr. '(~irtltrho n
m'etJJ ZlJ.i
Yl:3.111bl rn hi fi g .s.'kd' pgi~ 'ala;$ iia·l7.thl:
Ludf.'i,~-"
.' II,1. O:D1~5~O()O.6.2
Jd,r..lP'ak., '", r: 1m.l~ P erpu,-61ilkaal~1 t. rai!{uhiiS A,dab ~fan H'tl m'Bfl :i'o-r8
Se.'1rf~stfT VIlF
Email
MoQ- HP_.,
JLd:j:J
j'~tFtl.~Y~,.P;;e~mfJ¢fn~~lnMi,rul~ts.,~:.t'a di' Tt'wlj~».n .Bn<~1l~n Nbl~ara:k:Q1"
(1"B~t\1fl: Snrdl Blllulfnl> T13:M ~S;a"nggoa"t' B~2t!~J, ~fM],{l~a .t~~·tl,.liil 'tt'a.n
'~tllf\"'f~JerHtl·;eb I I U1,U '~, ~

.,A,l~5"' ke s'~ed· :i:~~fnne{?~p'[f:~JlhvJS.d~t_ InlJl)~, me lal(~llf~·aka.t1 t~:~Ila~': lert~b ut 'k:t ftft


l'j ,! e~n.y",~,m,11~),~c;"l~ ~~J.~, l:c !lg~l~~ru.~:~.; n, '{~~;~n' 1e r!'t~l ,tt .krn~~·ih.

·c.~,ll~ ] 1 ;:t:f:i. ,:
~,).-'.~-i~" ; i ~.'";J~:; r;~ r~~~tl"~"':'" '::; ' .. :: \"V;~'~~:lf:;gn-e n.l:re'f(;,8 :;=-~..j rei.'.t:·ks:-iju:: 8'~ d~·tt ()'~!;i/);i;U!
= '?~~: L ~~.- --": ~ .. I"::::I - ;-?-: ,~:_~~;3p j~t~:·,:~i·h~.ht~,a11(ihen 1~"y.ah.s.~i~swa 'ke ~~;_;PJ~~l.
~}~0!A)i1~9;~ :..:{]n~:Q.]lF2:i¥Pj3.~'1I~Wl~Q.14

La:iftp ..
H~J : Iibl P:'e;neli~

'Ke,ada:-Yth~ ,
'K~t1l~ T;~, :B~Gi~~l.l ~ia._,~~arakat ,~¢Qd~j •. ~[{JmR
Tat!8:s:@1'
'Pi
Terop.~t

D#4~ll ho:nnat kat!1) ·~~p,aik~ '·t:~\1;rit;


'D1"atna .: Lndfia
NTM : U 1O~a2500Q.t\Q2
Jn~~,2.nlFal1JJtas : fbnu ;P:~u$t~ma~
S~n'e$ter. .vm
T~.Q;n .Akaden,j~k '.~z'tn3/2~G[14
Ajarnat .~ 11 Uesa Pattif G:g~. DeUma. Ii RT aQ,8l!Qt)..5~ N~.13 ~ Eel..
,$'reDgs~g $iaw~h~ Kee, Jr;gak.~s~ .J~ak~·f5h~'1
,: OS57,l6:746?S'tJ

~ .A,dat,1t ~ahas.i~lrr~. ~F~~tl!tas A1J.ab. am Htm:uin·r~ nm ·'S:Y2~.ifHi&T~ltMl!.


ja..~ma; Jllr~ll~ Bahas·a .dan 8~Y:a- :.A.f2h~. ·y·oo~ :~d;arng~ men.).lu~lJl ···~SMri.p:$.i
betj:udnl '~Up~:ya lit;enJ,tj·:i·1Ula,j)"-· Min'at na~;a- oi ·T:iFm'~lnn'tl'C2M'Ul ti.m:8f~tn;i:.ik"1it
[{;13M) : Shtdi Kas'u:s TK1 S~r n_ea J'en.d·tla DlfDJ~ a,®:tl. TUM'
Je&t·~',t;:l-a llnlu~J...K£a:h~is~f1~3 t~l)~t··~.m:e:Iltlk~n data -llJjt~l{ pepuli~~1 s~psL
Olen sehab .'ifu~:"·k.mi;l :~.i(Jbfi~:t:Bi3pak_d~}Jamt:emteTi~.an i~ t!ntnk m_lii1~~~~a
t~~htit ~mc-i~iHi~~; pen~li}i~i ¢[t -W.Hl$.ah~ful~')I,~~g B~e:FY~~' P~f'l"
Demj;ld;~l.ata·g bantuan 4·an lterJa~?rnl< 1;3~pak, btu:"i ucapkan terirna .k~ib.,

.. - ~-.:-?=:':;-

~.';::-~... -~.¥f'.S. G_~~_{k Om ant: ~~·.J1J·-~a ;~n];u:n.~. 1.\,iL". fi tlfil .~

- >--:--'-"l~~1P':19ti9M'(}~1~~tf3 1 UQ3
BIODATA PENULIS

Ludfia lahir di Jakarta, pada tanggal 05 Februari

1992, putri ketujuh dari Bapak M. Jamil Zein

dengan Rosmani. Penulis bertempat tinggal di

Jln. Desa Putra Gg. Delima II RT 008/005 No.13

Kel. Srengseng Sawah, Kec. Jagakarsa, Jak-Sel.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar dan

menengah di Jakarta Selatan, SDN 08 Pagi

(tahun 2004). Kemudian, melanjutkan sekolah

menengahnya di MTSN4 (tahun 2007) dan MAN 13 (tahun 2010). Pada tahun

2010 penulis melanjutkan pendidikan pada program studi (S1) Jurusan Ilmu

Perpustakaan pada Fakultas Adab dan Humaniora di Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta dan menulis skripsi berjudul “Upaya Pembinaan

Minat Baca Di Taman Bacaan Masyarakat (TBM): Studi Kasus TBM Sanggar

Baca Jendela Dunia dan TBM Jendela Ilmu”. Penulis pernah melakukan

Praktek Kerja Lapangan di Perpustakaan Nasional selama satu bulan pada

tahun 2013. Selama kuliah penulis aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa

Islam (HMI) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan IPI pada tahun 2011. Penulis

pernah melakukan magang di Perpustakaan STEI SEBI selama satu bulan.

Volunteer di Yayasan Sanggar Baca Jendela Dunia. Penulis pernah melakukan

magang di Perpustakaan Sekolah Kharisma Bangsa selama satu bulan.