Anda di halaman 1dari 8

IMUNISASI DI INDONESIA

Imunisasi di Indonesia secara teratur dimulai sejak tahun 1956, dan Indonesia telah dinyatakan bebas dari
penyakit cacar pada tahun 1978 merupakan bukti keberhasilan imunisasi di Indonesia.
Tujuan jangka pendek dari pelayanan imunisasi adalah pencegahan penyakit secara perorangan dan kelompok,
sedangkan tujuan jangka panajang adalah eradikasi atau eliminasi suatu penyakit.
Pada tahun 1977 WHO memulai pelaksanaan program imunisasi sebagai upaya global secara resmi dan
disebut suatu Expanded Program on Immunization ( EPI ) yang dikenal di Indonesia sebagai Program
Pengembangan Imunisasi ( PPI ).
Dari penyakit menular yang telah ditemukan, sampai saat ini di Indonesia beru 7 macam yang diupayakan
pencegahannya melalui program imunisasi yang selanjutnya kita sebut “ Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan
Imunisasi ( PD3I ).
Sejak dimulainya program imunisasi di Indonesia pada tahun 1956, saat ini telah dikembangkan 7 jenis
vaksinasi yaitu BCG,Campak, Polio,DPT,DT,TT,Hep.B, dan DPT-HB.
Menghitung Jumlah Sasaran Bayi :
Menghitung jumlah sasaran bayi berdasarkan besarnya angka presentasi kelahiran bayi dari jumlah penduduk
masing-masing wilayah atau dapat berdasarkan besarnya jumlah sasaran bayi tahun lalu yang diproyeksikan
untuk tahun ini.
a. Kecamatan : CBR Propinsi x Jumlah penduduk kecamatan
b. Desa : Pendataan sasaran per Desa

atau

Jml Bayi Kecamatan tahun lalu


Kecamatan = X Jml Bayi Kab/ Kota Tahun ini
Jumlah bayi kabupaten tahun lalu

Jml Bayi Desa tahun lalu


Desa = X Jml Bayi Kec. Tahun ini
Jumlah bayi kecamatan tahun lalu

Menghitung Jumlah Sasaran Ibu Hamil :

Sasaran imunisasi Ibu Hamil = 1,1 x Jumlah Bayi

Menghitung Jumlah Sasaran Wanita Usia Subur ( WUS )

Jumlah sasaran WUS = 21,9 % x Jumlah Penduduk


Kegiatan imunisasi di Indonesia dimulai di Pulau Jawa dengan vaksin cacar dimulai pada tahun 1956.Pada
tahun 1972, Indonesia telah berhasil membasmi penyakit cacar. Selanjutnya dimulai dikembangkan vaksinasi
antara cacar dan BCG. Pelaksanaan vaksinasi ini ditetapkan secara nasional pada tahun 1973. Bulan April
1974, Indonesia secara resmi dinyatakan bebas cacar oleh WHO. Pada tahun 1972 juga dilakukan studi
pencegahan terhadap Tetanus Neonatorum dengan memberikan suntikan tetanus Toxoid ( TT ) pada wanita
dewasa di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tahun 1976 mulai dikembangkan imunisasi DPT di beberapa
kecamatan yang didahului oleh Pulau Bangka di Sumatera Selatan.Tahun 1977 ditentukan sebagai fase
persiapan Pengembangan Program Imunisasi ( PPI ). Tahun 1980 program imunisasi rutin terus dikembangkan
dengan memberikan tujuh jenis antigen yaitu BCG,DPT,Polio,Campak,Hepatitis B, TT dan DT.

Sepuluh tahun kemudian, tahun 1990 Indonesia telah berhasil mencapai UCI ( Universal Child Immunization )
dan cakupan merata secara nasional pada tahun 1993. Langkah selanjutnya untuk membasmi penyakit Polio
dan komitmen global tentang Eradikasi Polio maka Indonesia Indonesia melaksanakan Pekan Imunisasi
nasional selama empat tahun 1995,1996,1997, dan 2002. Selain PIN antara 1992-2002 juga telah dilakukan
beberapa kali Pekan Imunisasi Sub Nasioanal ( Sub PIN ).Jumlah sasaran yang diimunisasi makin bertambah
banyak dengan adanya tambahan kegiatan imunisasi yang meliputi imunisasi pada anak sekolah untuk DT dan
TT yang dikenal dengan Bulan Imunisasi Anak Sekolah ( BIAS ). TT pada WUS,crash program pada balita
maupun Catch up campaign campak pada anak sekolah yang dilanjutkan dengan BIAS Campak.

KERUSAKAN VAKSIN
Vaksin sensitive Beku

Vaksin Pada Suhu Dapat bertahan selama


Hep.B,DPT-HB - 0,5 ° C Maks ½ Jam

DPT,DT,TT - 5 ° C s/d – 10 ° C Max 1,5 – 2 Jam

Vaksin Pada Suhu Dapat bertahan selama

Beberapa ° C diatas suhu udara


luar
DPT,DPT-HB,DT 14 Hari
( ambient temperature < 34 ° C
)
Beberapa ° C diatas suhu udara
luar
Hepatitis B,TT 30 hari
( ambient temperature < 34 ° C
)

Vaksin sensitive Panas

Vaksin Pada Suhu Dapat bertahan selama

Beberapa ° C diatas suhu udara


luar
Polio 2 Hari
( ambient temperature < 34 ° C
)
Beberapa ° C diatas suhu udara
luar
Campak,BCG 7 hari
( ambient temperature < 34 ° C
)

Memberikan Vaksin kepada Bayi

Vaksin BCG DPT,DPT-HB,HB Campak Polio

Lengan kanan atas


Tempat Suntikan Paha tengah luar untuk Bayi Lengan Kiri Atas Mulut
Luar
Cara Penyuntikan Intrakutan IM/SC dalam SC Duteteskan

Dosis 0,05 cc 0,5 ml 0,5 ml 2 tetes

Berikut bukan merupakan kontra indikasi.Bayi yang mengalami kondisi ini sebaiknya diimunisasi :
1. Alergi atau asma ( kecuali jika diketahui ada alergi terhadap komponen khusus dari vaksin yang
disebutkan di atas.
2. Sakit ringan seperti infeksi saluran pernafasan atau diare dengan suhu di bawah 38,5 C
3. Riwayat keluarga tentang peristiwa-peristiwa yang membahayakan setelah imunisasi
4. Pengobatan antibiotic
5. Dugaan infeksi HIV atau positif terinfeksi HIV dengan tidak menunjukkan tanda-tanda dan gejala AIDS
6. Tanda-tanda dan gejala AIDS,kecuali seperti yang disebutkan di atas
7. Anak di beri ASI
8. Sakit kronis seperti penyakit jantung kronis,paru-paru,ginjal atau liver
9. Kondisi syaraf stabil seperti kelumpuhan otak karena luka atau Down’s Syndrome
10. Prematur atau Berat Lahir Rendah ( vaksinasi sebaiknya tidak ditunda )
11. Pembedahan baru atau direncanakan dengan segera.
12. Kurang Gizi dan
13. Riwayat sakit kuning pada kelahiran

KAMPANYE IMUNISASI CAMPAK


Campak merupakan penyakit yang sangat menular dan merupakan salah satu penyebab kematian
anak di Negara berkembang termasuk di Indonesia.Diperkirakan 1,7 juta kematian anak akibat penyakit yang
dapat dicegah dengan Imunisasi ( PD3I) dan 5 % penyebab kematian anak dibawah 5 tahun.
Program Imunisasi campak di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1984 dengan kebijakan memberikan
1 dosis pada bayi usia 9 bulan.
Sasaran imunisasi campak pada kegiatan kampanye campak :
a) Crash program campak : balita usia 6 s/d 59 bulan tanpa memandang status imunisasinya
b) Catch-ip Campaign : Anak sekolah tingkat dasar,pemerintah maupun swasta kelas 1 s/d 6 tanpa
memandang status imunisasinya.
POLIO
Pada tahun 2004 sampai awal tahun 2005 beberapa Negara di dunia yang telah dinyatakan bebas polio
mempunyai pengalaman mendapat virus polio impor dari Negara endemic polio. Pada April 2005 ditemukan
kasus lumpuh layuh akut atau Accute Flacid Paralysis ( AFP ) di Sukabumi dan setelah dilakukan uji
laboratorium ternyata ditemukan VPL dalam isolate tinja sebagian penderita AFP.Untuk mengetahui apakah
virus tersebut merupakan virus indigenous (asli Indonesia) atau impor,maka dilakukan pemeriksaan genetic
sequencing di Laboratorium Global Specialized (GSL) WHO di Mumbay,India. Hasil pemeriksaan menyatakan
bahwa VPL Sukabumi merupakan virus polio impor karena strain virus tidak mempunyai kemiripan dengan virus
yang pernah diidentifikasi di Indonesia.VPL adalah virus polio yang terdapat di alam,bukan berasal dari vaksin
dan dapat menyebabkan penyakit polio ( AFP) pada sebagian orang yang terserang.
Cara Penularan
Virus polio masuk ke dalam tubuh manusia melalui mulut yaitu dari tangan atau benda lain yang terkontaminasi
tinja manusia yang terinfeksi virus polio. Penularan dapat pula terjadi melalui sumber air yang tercemar virus
polio liar.Virus ini berkembang biak di tenggotokan dan usus manusia.Virus polio yang sudah berkembang di
dalam usus akan keluar melalui tinja dan tinja inilah yang akan menjadi sumber penularan penyakit polio.Hal ini
dapat dicegah dengan sanitasi dan hygiene pribadi dan lingkungan yang baik serta peningkatan imunitas
masyarakat dengan gizi yang baik.
Virus polio hanya dapat hidup di dalam tubuh manusia,tanpa melalui hewan perantara dan di luar tubuh
manusia virus polio dapat bertahan hidup pada suhu -8 C.Pada cuaca panas dan terkena sinar matahari hanya
dapat bertahan hidup selama 2-14 hari. Virus ini dapat bertahan hidup lebih lama di daerah lembab dan dingin.
Tanda dan gejala :
Masa Inkubasi 4 – 35 hari.VPL (Virus Polio Liar ) dapat menimbulkan gejala sbb :
1. Asimptomatik/tidak menunjukkan gejala, pada 72 % kasus
2. Sakit ringan seperti flu biasa ( minor illness), pada 24 % kasus dengan gejala seperti demam, perasaan
tidak enak,mengantuk, sakit kepala,mual,mumtah,konstipasi dan sakit tenggorokan.
3. Meningitis aseptis (nonparalytic poliomyelitis ) atau radang selaput otak aseptic, pada 4 %
kasus,biasanya di awali dengan gejala minor illness ( 1-2 hari ) seperti demam,sakit
tenggorokan,muntah perasaan tidak enak kemudian diikuti kekuan pada leher dan
punggung,muntah,sakit kepala,nyeri pada tungkai,punggung dan leher.Penyembuhan dapat terjadi
dengan sendirinya dan pada sedikit kasus dapat disertai lemah otot atau kelumpuhan.
4. Kelumpuhan (paralytic poliomyelitis ) pada 1 % kasus, biasanya di awali dengan minor illness dalam
beberapa hari kemudian dengan cepat terjadi kelumpuhan yang permanent/lumpuh layuh akut,disertai
demamdan nyeri pada daerah yang lumpuh.Kelumpuhan yang terjadi biasanya tidak
simetris.Kesembuhan total atau sebagian dapat terjadi dari hasil kompensasi otot yang masih berfungsi.
Sebagian besar ( 95 % ) orang yang terinfeksi VPL tidak menunjukkan gejala atau hanya menunjukkan gejala
ringan. Kasus ini tidak dapat terdeteksi secara klinis. Hal ini berarti jika ditemukan 1 kasus lumpuh karena virus
polio liar, disekitarnya ada 100-200 orang yang terinfeksi virus polio tetapi tidak menunjukkan gejala.Orang-
orang ini akan menyebarkan VPL melalui tinjanya dengan cepat dan dalam wilayah yang luas.
VPL dapat dengan mudah menyerang pada keadaan :
1. Defisiensi imun yaitu pada anak-anak dengan status imunisasi tidak lengkap/tidak pernah diimunisasi
2. Defisiensi gizi
3. daerah dengan sanitasi dan hygiene yang buruk
4. Kehamilan pada usia muda atau tua
5. Tonsilektomi
6. Injeksi Intramuskular
7. Kecelakaan
8. latihan yang berlebihan

JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI PADA WUS,IBU HAMIL DAN CALON PENGANTIN

PEMBERIAN SELANG WAKTU MASA


VAKSINASI DOSIS
IMUNISASI PEMBERIAN MINIMAL PERLINDUNGAN

T1 0,5 cc

T2 4 Minggu Setelah T 1 3 Tahun 0,5 cc


TT WUS,
BUMIL 6 Bulan Setelah T 2 5 Tahun 0,5 cc
CATIN
1 Tahun Setelah T 3 10 Tahun 0,5 cc

1 Tahun Setelah T 4 25 Tahun 0,5 cc

JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI ANAK SD & SEDERAJAT

SELANG WAKTU
VAKSINASI PEMBERIAN IMUNISASI DOSIS
PEMBERIAN
KELAS 1 DT 1 KALI 0,5 cc

KELAS 2 TT 1 KALI 0,5 cc

KELAS 3 TT 1 KALI 0,5 cc

BCG
Bakteri BCG di tubuh bekerja dengan sangat lambat.
Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil merah di tempat penyuntikan dengan garis tengah 10
mm.Setelah 2-3 minggu kemudian,pembengkakan menjadi abses kecil yang kemudian menjadi luka dengan
garis tengah 10 mm.
Luka tersebut akan sembuh sendiri dan meninggalkan jaringan parut ( scar ) bergaris tengan 3mm – 7 mm.
Tiga macam ukuran jarum :
1. Jarum pencampur ( oplosing ), besar dan panjang = No. 18 G
2. Jarum intramuskuler dan subcutan sedang = No. 22 G dan 23 G
3. Jarum intradermal ( Iintracutan ),kecil dan pendek = No.26 G
PENYAKIT-PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH
MELALUI PEMBERIAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI

NO JENIS PENYAKIT IMUNISASI ETIOLOGI MASA INKUBASI SUMBER PENULARAN TANDA DAN GEJALA
Mycobacterium Batuk berdahak lebih dari 3 minggu, BB Turun,keringat
1 Tuberkulosis BCG Titik Ludah
Tuberkulosa malam
Corynebacterium
2 Difteri DPT 1-4 Hari Titik Ludah Pseudomembran di daerah faring
Diphteriae
Batuk eksplosif diikuti bunyi yang khas dan lamanya
3 Pertusis DPT Bordetella Pertusis 10 hari Titik Ludah
bisa mencapai 3 bulan
Trismus,opistotonus,Hiperekstensi kepala dan batang
4 Tetanus DPT Clostridium tetani 1 Miggu s/d bbrp lama -
tubuh
5 Polio Polio Virus Poliomyelitis 1-2 mgg/4-5mgg Tinja dan titik ludah Gejala spt Influenza,Bisa Paralisis

6 Hepatitis Hep.B Virus Hepatitis Hep B : 50 – 160 hari Tinja,Darah Ikterus dan warna urine seperti teh Tua
Titik cairan mata,hidung Bintik koplik pada mukosa rongga mulut.Ruam kulit
7 Campak Campak Virus Rubeola 11 Hari
dan tenggorokan seluruh badan.