Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang

Kajian ekonomi Islam mulai memasuki dunia akademis dan kalangan


pemerintahan pada abad ke-20. Pada era pemikiran Islam ini, banyak usaha-usaha
yang telah dilakukan ekonom Muslim, seperti pembahasan tentang riba, monopoli
harga, bank, asuransi, kebebasan ekonomi, campur tangan pemerintah dalam
aktifitas ekonomi, solidaritas, jaminan sosial, dan lain-lain. Tetapi pemikiran
tentang ekonomi Islam telah muncul sejak Islam diturunkan melalui Nabi
Muhammad s.a.w yang kemudian dilanjutkan pada masa kepemimpinan
kulafaurrosyidin. Saat itulah Islam mulai memberi pengaruh kepada dunia, karena
para khalifah sudah melakukan perluasan wilayah keluar Arab. Setelah masa
kulafaurrosyidin muncullah daulah Bani Umayyah.

Berdasarkan catatan sejarah, Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat


saat kepemimpinan Bani Umayyah. Sehingga peradaban Islam memberilan
pengaruh yang sangat besar sekali pada dunia pada saat itu. Para sejarawan
menyebut saat itu dengan “The Golden Age”. Islam mengalami kemajuan yang
sangat pesat di berbagai bidang peradaban, ilmu pengetahuan, politik dan
pemerintahaan, sains dan teknologi termasuk di bidang ekonomi.

Berangkat dari uraian diatas, yang menyatakan bahwa Bani Umayyah


mengalami kemajuan di beberapa bidang peradaban, maka di makalah ini penulis
akan menyajikan sedikit tentang masa Daulah Umayyah yang menitik beratkan
pada pemikiran-pemikiran ekonominya.

1
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah pemikiran ekonomi Islam pada masa Bani Umayyah ?
2. Bagaimanakah perkembangan ekonomi Islam pada masa Bani Umayyah ?

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui pemikiran ekonomi Islam pada masa Bani Umayyah.
2. Mengetahui perkembangan ekonomi Islam pada masa Bani Umayyah.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
1. Pemikiran Ekonomi Islam
Terminologi pemikiran ekonomi Islam disini mengandung dua
pengertian, yaitu pemikiran ekonomi yang dikemukakan oleh para sarjana
Muslim dan pemikiran ekonomi yang didasarkan atas agama Islam. Dalam
realitas kedua pengertian ini seringkali menjadi kesatuan, sebab para sarjana
Muslim memang menggali pemikirannya berdasarkan ajaran Islam. Pemikiran
ekonomi Islam bertitik tolak dari Al-Qur’an dan Hadis yang merupakan
sumber dan dasar utama Syariat Islam. Oleh karena itu, sejarah pemikiran
ekonomi Islam sesungguhnya telah berawal sejak Al-Qur’an dan Hadis ada,
yaitu pada masa kehidupan Rasulullah Muhammad s.a.w. abad 7 Masehi.
Pemikiran-pemikiran para sarjana Muslim pada masa berikutnya pada dasarnya
berusaha mengembangkan konsep-konsep Islam sesuai situasi dan kondisi
yang dihadapai, dengan tetap bersandar kepada Al-Qur’an dan Hadis. Memang,
harus diakui secara jujur para sarjana Muslim pasca Rasulullah banyak
membaca karya-karya pemikir Yunani-Romawi, sebagaimana juga karya
Syrian-Alexandrian, Zoroastrian, dan India. Namun demikian, mereka tidak
menjiplak tulisan-tilisan pemikir-pemikir Yunani-Romawi ini melainkan
memperdalam, mengembangkan, memperkaya dan memodifikasinya sesuai
dengan ajaran Islam.1
2. Daulah Bani Umayyah
Naiknya Muawiyah ke tampuk pemerintahan Islam merupakan awal
kekuasaan Bani Umayyah. Sejak saat itu pula, pemerintahan Islam yang
bersifat demokratis seperti yang telah dipraktekan Rasulullah s.a.w dan
khulafaurasyidin berubah menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun
menurun). Muawiyah memperoleh kekuasaan melalui jalan kekerasan,
diplomasi, dan tipu daya, tidak melalui jalan musyawarah.

1
Pusat Pengkajian Ekonomi Islam (P3EI), Ekonomi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2013), hlm. 105

3
Sejak Bani Umayyah berkuasa, telah terjadi pergeseran nilai-nilai
kepemimpinan islami yang sangat mengedepankan asas-asas musyawarah dan
kebersamaan menjadi kepemimpinan otoriter. Keadaan tersebut memacu
timbulnya hasrat sebagian besar khalifah Bani Umayyah untuk memanfaatkan
kekuasaan sebagai sarana memperkaya diri dan keluarganya.
Baitul Mal yang merupakan kantor perbendaharaan umat seakan
menjadi milik pribadi para pangeran. Pada masa pemerintahan Bani Umayah,
terdapat dua macam Baitul Mal yakni Baitul Mal umum dan Khusus.
Pendapatan Baitul Mal Umum diperuntukan bagi seluruh masyarakat umum,
sedangkan pendapatan Baitul Mal Khusus diperuntukan bagi para sultan dan
keluarganya. Namun, dalam prakteknya, tidak jarang ditemukan berbagai
penyimpangan penyaluran harta Baitul Mal tersebut. Pengeluaran untuk
kebutuhan para sultan, keluarga, dan para sahabat dekatnya banyak diambilkan
dari Baitul Mal Umum. Begitupu pula halnya dengan pengeluaran hadiah-
hadiah untuk para pembesar negara dan berbagai pengeluaran lainnya yang
tidak berhubungan dengan kesejahteraan umat Islam keseluruhan. Dengan
demikian, telah terjadi disfungsi penggunaan dana Baitul Mal pada masa
pemerintahan Daulah Umayyah.2
Khilafah Bani Umayyah berumur 90 tahun yaitu dimulai pada masa
kekuasaan Muawiyah berkuasa, dimana pemerintahan yang bersifat demokratis
berubah menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun temurun), yang diperoleh
melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara
terbanyak.
Kekuasaan atau pemerintahan Muawiyah merupakan pengalaman atau
praktik satu-satunya seorang penguasa yang berhasil menjadi raja berkat
penekanan, pemaksaan, dan taktik atau manufer politik yang dilakukannya
terhadap semua perselisihan agama-politik atau perselisihan suku-daerah yang
ada. Sebelum Muawiyah, untuk memperoleh otoritas politik, operasi militer

2
Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam dari Masa Klasik Hingga Kontemporer,
(Depok: Gramata Publishing, 2010), hlm. 100

4
tidak pernah digunakan, juga kekerasan tak pernah dilakukan secara terang-
terangan.3
Namun demikian, hal tersebut tidak berarti menafikan kemajuan yang
dihasilkan dinasti ini. Selama pemerintahan Daulah Umawiyyah yang
berlangsung selama kurang lebih 90 tahun, wilayah kekuasaan Islam telah
bertambah luas meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Jazirah
Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang
disebut sebagai Pakistan, Puerkmenia, Uzbek, dan Krigis di Asia Tengah.4
Nama Bani Umayyah dalam bahasa Arab berarti anak turun Umayyah,
yaitu Umayyah bin Abdul Syams. Ia adalah salah satu pemimpin dalam kabilah
Suku Quraisy.5
Selain melakukan perluasan wilayah, sejarah mencatat terdapat
beberapa khalifah Bani Umayyah yang menaruh perhatian terhadap
pembangunan di berbagai bidang, termasuk ekonomi, yang mempengaruhi
tingkat kesejahteraan umat islam secara keseluruhan.
3. Khalifah-khalifah Bani Umayyah
a. Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan (661-681 M)
b. Yazid ibn Mu’awiyah (681-683 M)
c. Mua’wiyah ibnu Yazid (683-685 M)
d. Marwan ibnu Hakam (684-685M)
e. Abdul Malik ibn Marwan (685-705 M)
f. Al-Walid ibnu Abdul Malik (705-715 M)
g. Sulaiman ibnu Abdul Malik (715-717 M)
h. Umar ibnu Abdul Aziz (717-720 M)
i. Yazid ibnu Abdul Malik (720-824 M)
j. Hisyam ibnu Abdul Malik (724-743 M)
k. Walid ibn Yazid (734-744 M)
l. Yazid ibn Walid [ Yazid III] (744 M)
m. Ibrahim ibn Malik (744 M)

3
Rasul Ja’farian, Sejarah Islam Sejak Wafatnya Nabi s.a.w Hingga Runtuhnya Dinasti
Bani Umayah (11-132H), (Jakarta: Lentera, 2006), hlm. 476
4
Euis Amalia, Opcit, hlm. 101
5
Nur Chamid, Jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2010), hlm. 105

5
n. Marwan ibn Muhammad (745-750 M)

UMAIYAH

Harb Abul ‘Ash

Abu Sufyan

(1) - Muawiyah ‘Affan Al Hakam

(2) – Yazid Usman (4) – Marwan

(3) – Muawiyah II

Abdul Aziz (5) – Abdul Malik Muhammad

(8) – Umar (14) –Marwan II

(6) – Al Walid (7) – Sualiman (9) – Yazid II (10) – Hisyam

(12) – Yazid III (13) – Ibrahim (11) – Al Walid II.6

Dengan memperhatikan jadwal ini kelihatan bahwa Khalifah-khalifah


Daulah Bani Umayyah itu ada 14 orang jumlahnya, memerintah selama 91 tahun.
Dan empat orang Khalifah diantara mereka memegang kekuasaan selama 70
tahun. Mereka itu ialah: Muawiyah, Abdul Malik, Al Walid dan Hisyam, adapun
sepuluh orang lainnya hanya memerintah selama 21 tahun.

6
Ahmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam 2, (Jakarta: PT. Pustaka Al Husna Baru,
2003), hlm. 25

6
B. Pemikiran ekonomi Islam pada masa Bani Umayyah
1. Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan (661-681 M)
Pada masa pemerintahannya, Khalifah Mu’awiyah ibn Abi Sofyan
mendirikan dinas pos berserta dengan berbagai fasilitasnya, menertibkan
angkatan perang, mencetak mata uang, dan mengembangkan jabatan qadi
(hakim) sebagai jabatan profesional. Selain itu, Khalifah Muawiyyah ibn
Abi sofyan menerapkan kebijakan pemberian gaji tetap kepada para tentara,
pembentukan tentara profesional, serta pengembangan birokrasi, seperti
fungsi pengumpulan pajak dan administrasi.7
Dan pada masa pemerintahan Khalifah Bani Umayyah ibn Abi
Sofyan ada yang berusaha memalsukan tanda tangannya, Khalifah
Muawiyah ibnu Abi Sufyan membuat sebuah biro registrasi, yang bertugas
membuat dan menyimpan salinan setiap dokumen resmi sebelum di
stempel, dan mengirimkan lembaran aslinya.8
2. Abdul Malik ibn Marwan (685-705 M)

Pemikiran yang serius terhadap penerbitan dan pengaturan uang dalam


masyarakat Islam muncul di masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik ibn
Marwan. Hal ini di latarbelakangi oleh permintaan pihak Romawi agar
Khalifah Abdul Malik ibn Marwan menghapuskan kalimat
bismillahirrahmanirrahim dari mata uang yang berlaku pada khalifahnya.

Pada saat itu, bangsa Romawi mengimpor dinar dari Mesir. Akan
tetapi, permintaan tersebut ditolaknya. Bahkan, Khalifah Abdul Malik
mencetak mata uang Islam tersendiri dengan tetap mencantumkan kalimat
bismillahirrahmanirrahim pada tahun 74 H (659M) dan menyebarkannya ke
seluruh wilayah Islam seraya melarang pemakaian mata uang lain. Ia juga
menjatuhkan hukuman ta’zir kepada mereka yang melakukan pencetakkan
mata uang di luar percetakan negara. Selain itu, ia juga melakukan berbagai
pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa arab
sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.9 Dan pada masa

7
Euis Amalia, Opcit, hlm. 101
8
Philip K. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006) hlm. 282
9
Euis Amalia, Opcit, hlm. 102

7
Khalifah Abdul Malik ibn Marwan ini Dinasti Umayyah telah membangun
gedung arsip negara di Damaskus.10

Adapun arabisasi yang dilakukan Khalifah Abdul Malik ibn Marwan


yakni meliputi perubahan bahasa yang digunakan dalam catatan
administrasi publik dari bahasa Yunani ke bahasa Arab di Damaskus, dan
dari bahasa Persia ke dalam bahasa Arab di Irak dan provinsi bagian timur.
Dan ia juga mengembangkan sistem layanan pos, dengan menggunakan
kuda antara Damaskus dan ibu kota-ibu kota provinsi lainnya. Layanan itu
dirancang terutama untuk memenuhi kebutuhan transportasi para pejabat
pemerintah dan persoalan surat-menyurat mereka. Semua kepala pos
bertugas untuk mencatat dan mengirimkan kepada khalifah semua peristiwa
penting yang terjadi diwilayah mereka masing-masing.11

Pada zaman Abdul Malik, pemerintah mendirikan tempat percetakan


uang di Daar Idjrad, Suqahwaj, Sus, Jay, Manadar, Maysan,Ray
Abarqubadh, dan mata uang khalifah dicetak secara terorganisir dengan
kontrol pemerintah. Pada masa Abdul Malik bin Marwan itu, Dirham
dicetak dengan bercorak Islam. Terdapat lafaz-lafaz Islam yang ditulis
dengan huruf Arab gaya Kufi pada Dirham tersebut. Dua tahun kemudian
(77H/697M) Abdul Malik bin Marwan mencetak Dinar khusus yang
bercorak Islam setelah meninggalkan pola Dinar Romawi. Gambar-gambar
Dinar lama diubah dengan tulisan atau lahfaz-lafaz Islam, seperti: Allah
Ahad, Allah Baqa’. Sejak itulah orang Islam memiliki Dinar dan Dirham
Islam yang secara resmi digunakan sebagai mata uangnya.12

Di masa Abdul Malik Ibn Marwan, penerimaan negara dari sektor


pajak mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya penduduk
non-Muslim menjadi Muslim. Otomatis pendapatan dari sektor jizyah
mengalami penurunan. Kemudian, Abdul Malik membuat keputusan dengan
membebankan warga negara melalui pajak dari sektor kharaj dengan jumlah

10
Philip K. Hitti, Opcit, hlm. 282
11
Ibid, hlm. 270
12
Mustafa Edwin Nasution, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, (Jakarta: Kencana,
2007) hlm. 247

8
yang tinggi. Akibatnya banyak warga negara yang membenci khalifah dan
membelot. Dan untuk membangun ekonomi di masa Umayah ini khalifah
Abdul Malik ibn Marwan melakukan pembangunan sektor pertanian dan
perindustrian. Hasilnya di pasarkan ke India dan Konstantinopel. Pusat
perdagangan pada masa ini adalah Damaskus, Baghdad dan Makkah.
Kekayaan negara pada masa ini digunakan untuk membangun infrastruktur,
seperti pembangunan gedung pemerintahan, pabrik-pabrik, jalan yang
dilengkapi dengan sumur agar para kafilah dapat minum ketika melewati
jalan-jalan tersebut. Disamping itu kekayaan negara itu dipergunakan untuk
menyantuni orang miskin, anak yatim, orang cacat, dan orang sakit. 13

3. Umar ibnu Abdul Aziz (717-720 M)


Selama masa pemerintahannya, Umar ibn Abdul Aziz menerapkan
kembali ajaran Islam secara utuh menyeluruh. Berbagai pembenahan di
lakukannya di seluruh sektor kehidupan masyarakat tanpa pandang bulu.
Langkah ini dimulai dari dirinya sendiri. Ketika diangkat sebagai Khalifah,
Umar ibn Abdul Aziz mengumpulkan rakyatnya dan mengumumkan serta
menyerahkan seluruh harta kekayaannya diri dan keluarganya yang tidak
wajar kepada kaum muslimin melalui Baitul Mal, mulai dari tanah-tanah
perkebunan di Maroko, berbagai tunjangan yang berada di Yamamah,
Mukaedes, Jabal al-Wars, Yaman, dan Fadak, hingga cincin berlian
pemberian al-Walid. Selam berkuasa, ia juga tidak mengambil sesuatupun
dari Baitul Mal, termasuk pendapatan fai yang telah menjadi haknya.14

Kegiatan-kegiatan Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz pada masa


pemerintahannya adalah:

a. Ketika di angkat menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz


mengumpulkan rakyat dan mengumumkan serta menyerahkan seluruh
harta kekayaan pribadi dan keluarganya yang di peroleh secara tidak
wajar kepada Baitul Mal, seperti : tanah-tanah perkebunan di Maroko,

13
Rozalinda, Ekonomi Islam Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi, (Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 2014), hlm. 63
14
Euis Amalia, Opcit, hlm. 102

9
berbagai tunjangan yang di Yamamah, Mukaedes, Jabal Al Wars,
Yaman dan Fadak hingga cincin berlian Al-Walid.15
b. Selama berkuasa beliau juga tidak mengambil sesuatu dari Baitul Mal,
termasuk pendapatan Fai yang telah menjadi haknya.
c. Memprioritaskan pembangunan dalam negeri. Menurutnya
memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan negeri-negeri Islam
adalah lebih baik daripada menambah perluasan wilayah. Dalam
rangka pula, ia menjaga hubungan baik dengan pihak oposisi dan
memberikan hak kebebasan beribadah kepada penganut agama lain.
d. Dalam melakukan berbagai kebijakannya, Khalifah Umar bin Abdul
Aziz bersifat melindungi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat
secara keseluruhan.
e. Menghapus pajak terhadap kaum muslimin, mengurangi beban pajak
kaum nasrani, membuat aturan takaran dan timbangan, membasmi
cukai dan kerja paksa.
f. Memperbaiki tanah pertanian, menggali sumur-sumur, pembangunan
jalan-jalan, pembuatan tempat-tempat penginapan musafir dan
menyantuni fakir miskin. Berbagai kebijakan ini berhasil
meningkatkan taraf hidup masyarakat secara keseluruhan hingga tidak
ada lagi yang mau menerima zakat.16
C. Sumbangan Ulama dan Fuqoha dalam Pemikiran Ekonomi di Masa
Khalifah Bani Umayyah antara lain :
1. Zaid bin Ali (80-120/699-738)
Zaid bin Ali adalah cucu dari Imam Husein, merupakan ahli fiqh
terkenl di Madinah. Pemikiran dan pandangan Zaid seperti yang di
kemukakan Abu Zahra adalah membolehkan penjualan suatu komoditi
secara kredit dengan harga yang lebih tinggi dari harga tunai dengan alasan
sebagai berikut :
a. Penjualan secara kredit dengan harga lebih tinggi daripada harga tunai
merupakan salah satu bentuk transaksi yang sah dan dapat di benarkan

15
Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam jilid II, (Yogyakarta, PT. Dana Bhakti
Wakaf, 1995), hlm. 112
16
Ibid, hlm. 67

10
selama transaksi tersebut di landasi oleh prinsip saling ridha antara
kedua belah pihak.
b. Pada umumnya, keuntungan yang di peroleh para pedagang dari
penjualan secara kredit merupakan murni bagian dari sebuah
perniagaan dan tidak termasuk riba.
c. Penjualan secara kredit merupakan salah satu bentuk promosi
sekaligus respon terhadap permintaan pasar. Dengan demikian,bentuk
penjualan seperti ini bukan suatu tindakan di luar kebutuhan.
d. Keuntungan yang di peroleh dari penjualan kredit merupakan suatu
bentuk kompensasi atas kemudahan yang di peroleh seseorang dalam
membelisuatu barang tanpa harus membayar secara tunai.
e. Harga penjualan kredit, tidak semata mata mengindikasikan bahwa
harga yang lebih tinggi selalu berkaitan denga waktu. Harga jual kredit
dapat pula di tetapkan lebih rendah dari harga beli,dengan tujuan untuk
menghabiskan persediaan barang dan memperoleh uang tunai karena
khawatir harga pasar akan jatuh di masa datang.17
2. Abu Hanifa (80-150/699-767)
Abu Hanifa al-Nu’man ibn Sabit bin Zauti adalah Ahli Hukum
agama Islam yang dilahirkan di Kufah pada 699 M semasa pemerintahan
Abdul Malik bin Marwan. Abu Hanifah dikenal sebagai imam Madzhab
hukum yang sangat rasionalitis dan dikenal juga sebagai penjahit pakaian
atau tylor atau pedagang dari Kufah., Iraq. Ia menggagas keabsahan dan
kesahihan hukum kontrak jual-beli dengan apa yang dikenal dewasa ini
dengan bay’ al-salam dan bay’ al-murabahah yakni sebagai berikut:
a. Abu Hanifa Memberikan koreksi dan penyempurnaan terhadap aqad
transaksi salam yang terkenal pada saat itu. Salam adalah kontrak
penjualan suatu barang dalam hal mana harga atas barang yang di
bayar tunai pada saat kontrak (akad) sedangkan barangnya di serahkan
di kemudian hari. Abu Hanifa menemukan banyak sekali kekaburan di
sekitar kontrak salam tersebu,yang dapat mengarah pada perselisihan,
untuk menghindari perselisihan tersebut Abu Hanifa memasukkan ke
17
Ismail Nawawi, Ekonomi Islam Prespektif Teori, Sistem dan Aspek Hukum, (Surabaya,
CV.Putra Media Nusantara, 2009), hlm. 62

11
dalam aqad tersebut apa-apa yang harus di ketahui dan di nyatakan
secara jelas. Misalnya, tentang jenis komoditi, mutu, dan kuantitas
serta tanggal dan tempat pengiriman barang.di dalam aqad juga mesti
di masukkan persyaratan bahwa komoditas yang di perjual belikan
harus tersedia di pasar selama periode antara tanggal aqad dan tanggal
penyerahan barang, sehingga kedua belah pihak sam-sama mengetahui
bahwa penyerahan barang dapat di laksanakan sesuai aqad.
b. Abu Hanifa, sebagai seorang pedagang, Abu Hanifa memberikan
sumbangan tentang aturan-aturan yang menjamin pelaksanaan
permainan yang adil dalam transaksi murabaha dan transaksi lain yang
sejenis. Memberikan sumbangan tentang pelakasaan praktek dagang
lain yang berlandaskan norma-norma islam.
c. Mempunyai perhatian terhadap kaum yang lemah, pemberlakuan
zakat atas perhiasan dan membebaskan pemilik harta yang dililit
hutang yang tidak sanggup menembusnya dari kewajiban membayar
zakat.
d. Tidak membolehkan pembagian hasil panen (muzaraah) dalam kasus
tanah yang tidak menghasilkan guna melindungi penggarap yang
umumnya adalah orang lemah.18
3. Al-Azwa’i (88-157 H/707-774M)
Abdul Rahman Al-Awza’i berasal dari Beirut, yang hidup sejaman
dengan Abu Hanifa. Beliau juga pendiri sekolaah hukum walaupun tidak
bertahan lama. Adapun pemikiran ekonomi Islam Al-Azwa’i adalah:
a. Awza’i cenderung membenarkan kebebasan dalam kontrak dan
memfasilitasi orang-orang dalam transaksi mereka.
b. Memberlakukan system bagi hasil pertanian (muzaraah) karena
system ini dibutuhkan seperti halnya dia membolehkan bagi hasil
keuntungan (Mudharabah). Dalam hal ini,modal di pinjamkan boleh
dalam bentuk tunai atau sejenis.
c. Menggunakan pendekatan yang lebih fleksibel dalam kontrak salam.19

18
Nur Chamid, Opcit, hlm 151
19
Ibiid, Ihlm. 152

12
4. Keutamaan dan Sisi Negatif Pemerintahan Bani Umayyah
1. Berbagai catatan penting tentang keutamaan pemerintahaan Bani Umayyah
adalah dapat dijelaskan sebagai berikut seperti dibawah ini:
a. Penaklukan beberapa kota dan negeri hingga sampai ke wilayah Cina
disebelah timur, negeri-negeri di Andalusia (Spanyol) dan selatan
Perancis di sebelah barat sehingga pada masanya wilayah
pemerintahan Islam mencapai wilayah yang sangat luas sepanjang
sejarah Islam dan banyaknya manusia yang memeluk agama Islam.
b. Memproduksi tanah-tanah mati (lahan-lahan tidak produktif),
pembangunan berbagai kota, dan pembangunan yang megah.
c. Pada masa Bani Umayah yakni yang pertama kali menciptakan
layanan pos.
d. Menciptakan Dinar dan Dirham Islam yang secara resmi digunakan
sebagai mata uangnya dan meninggalkan Dinar dan Dirham Romawi.
e. Mengatur gaji tentara dan pegawai negara.
f. Megatur biaya pembangunan sarana pertanian, seperti penggalian
terusan dan perbaikan sarana irigasi
2. Adapun sisi negatif pemerintahaan Bani Umayyah adalah dapat dijelaskan
sebagai berikut seperti dibawah ini:
a. Terjadi penyimpangan dalam penerapan aturan-aturan Islam
sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh Khulafaur al Rasyidun, di
antaranya adalah:
1) Pemilihan khalifah tidak dilaksanakan secara dmokratis,
melainkan memulai tradisi pemerintahan Dinasti/monarchi
heridetis (kerajaan turun temurun), yang tidak pernah
dipraktikan dan tidak dibenarkan pada masa pemerintahan
Khulafaur al Rasyidin.
2) pemerintahan diperoleh dengan jalan kekerasan, diplomasi, tipu
daya dan diselengarakan dengan cara otoriter.
b. Penggunaan keuangan negara untuk tujuan di luar keperluan negara,
Pengelola pemerintah terperangkap dalam kebiasaan hidup mewah
sebagai akibat berlimpahnya harta rampasan perang. Baitul Maal yang

13
seharusnya berfungsi sebagai lembaga keuangan sentral untuk
mengatur lalulintas keuangan negara, tetapi telah disalah gunakan.
Baitul Maal diperlakukan seakan-akan milik pribadi para pangeran.

14
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, kebijakan ekonomi banyak
dibentuk berdasarkan ijtihad para fuqoha dan ulama sebagai konsekuensi semakin
jauhnya rentang waktu (lebih kurang satu abad) antara zaman kehidupan
Rasulullah saw dan masa pemerintahan tersebut.
Adapun perkembangan ekonomi Islam pada masa Bani Umayyah di
bidang ekonomi memang tidak begitu monumental. Namun demikian, terdapat
beberapa sumbangan terhadap konsep pelaksanaan transaksi salam, murabaha,
dan muzara’ah. Dan pada masa Bani Umayyah didirikannya kantor pos,
dicetaknya Dinar dan Dirham Islam, memperbaiki perairan, ditetapkannya gaji
tentara dan pegawai pemerintahan. Dan pada masa pemerintahan Daulah
Umayyah juga wilayah pemerintahan Islam mencapai wilayah yang sangat luas
sepanjang sejarah Islam dan banyaknya manusia yang memeluk agama Islam
dikarenakan penaklukan beberapa kota dan negeri hingga sampai ke wilayah Cina
disebelah timur, negeri-negeri di Andalusia (Spanyol) dan selatan Perancis di
sebelah barat.

15
DAFTAR PUSTAKA
Chamid, Nur, Jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2010

Euis, Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam dari Masa Klasik Hingga
Kontemporer, Depok: Gramata Publishing, 2010
Hitti Philip K., History of The Arabs, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006)
Ja’farian, Rasul, Sejarah Islam Sejak Wafatnya Nabi s.a.w Hingga Runtuhnya
Dinasti Bani Umayah (11-132H), Jakarta: Lentera, 2006
Nasution, Mustafa Edwin, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, Jakarta:
Kencana, 2007
Nawawi, Ismail, Ekonomi Islam Prespektif Teori, Sistem dan Aspek Hukum,
Surabaya, CV.Putra Media Nusantara, 2009
Pusat Pengkajian Ekonomi Islam (P3EI), Ekonomi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2013

Rahman, Afzalur, Doktrin Ekonomi Islam jilid II, Yogyakarta, PT. Dana Bhakti
Wakaf, 1995

Rozalinda, Ekonomi Islam Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi,


Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2014

Syalabi, Ahmad, Sejarah Kebudayaan Islam 2, Jakarta: PT. Pustaka Al Husna


Baru, 2003

16