Anda di halaman 1dari 9

Subunit 1

Hakikat Wacana

S audara, pembahasan tentang wacana ini penting bagi Anda sebagai guru. Pertama penting
karna merupakan bagian dari bahan atau penunjang pelajaran yang Anda harus sampaikan
kepada murid, kedua dalam kaitannya dengan bidang pengajaran lainnya, pemahaman tentang
wacana akan bermanfaat bagi Anda..
Bagaimanakah para ahli bahasa yang tidak menyetujui ajaran morfologi menetapkan
pangkal pandangannya? Penetapan pandangan yang dipakainya adalah tujuan untuk mengetahui
struktur bahasa. Sangatlah rugi jika Anda tidak meluangkan waktu untuk mengkaji persoalan
wacana tersebut. Selamat belajar

A. Hakikat Wacana
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kita dapat memperoleh gambaran tentang
wacana sebagai berikut:
Wacana : 1. ucapan, perkataan, tuturan
2. keseluruhan tuturan, yang merupakan kesatuan
3. satuan bahasan terlengkap, realisasinya tampak pada bentuk karangan yang utuh,
seperti novel, buku, atau artikel.
Mengacu kepada pengertain tersebut, pakar bahasa Indonesia seperti Tarigan, dalam
bukunya, “Pengajaran Wacana” mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang
terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat, atau klausa dengan koherensi dengan kohesi
tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara
lisan atau tertulis. Pendapat lain dikemukakan oleh Harimurti Kridalaksana: Wacana (discourse)
adalah satuan bahasa terlengkap dalam hirarki gramatikal merupakan gramatikal tertinggi dan
terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri
ensiklopedia, dan sebagainya) paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap.
Dari batasan di atas dapat kita ambil sari patinya, bahwa wacana itu adalah satuan bahasa
terlengkap, dalam wujud lisan dapat berupa karangan sastra dan ilmiah. Inti dari batasan di atas,
bahwa wacana adalah komunikasi pikiran atau gagasan melalui bahasa, dalam wujud lisan dapat
berupa percakapan dan tuturan (ceramah, kuliah, khotbah), dan dalam wujud tulisan dapat berupa
karangan ilmiah.
Demikianlah telah kita bahas pengertian wacana yang kita ambil dari berbagai batasan
yang dikemukakan oleh beberapa ahli bahasa. Dari batasan-batasan wacana di atas tentu Anda
dapat melihat adanya perbedaan dan persamaan. Unsur-unsur yang berbeda dapat dijadikan
sebagai pelengkap kesempurnaan batasan wacana.
Dari sumber-sumber di atas dapatlah kita lihat bahwa, wacana mempunyai unsur-unsur
yang penting, yang merupakan hakikat dari wacana itu sendiri, unsur-unsur tersebut sebagai
berikut:
1. satuan bahasa
2. terlengkap/terbesar/tertinggi
3. diatas kalimat/klausa
4. teratur/tersusun rapi/rasa koherensi
5. berkesinambungan/ kontinuitas
6. rasa kohesi/rasa kepaduan
7. lisan/tulis
8. awal dan akhir yang nyata.

Berdasarkan unsur-unsur wacana di atas, maka kita dapat menentukan dan memilih dan
batasan wacana dari sumber-sumber yang telah kita bahas. Batasan wacana mana yang tepat?
Secara sederhana batasan wacana sebagai berikut: Wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap
dan terbesar tersusun dengan rapi (koherensi), mengandung hubungan yang padu (padu),
disampaikan secara lisan atau tertulis.Wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap. Yang
termasuk satuan bahasa adalah morfem, kata, frase, klausa, kalimat dan wacana.
Apabila ditinjau dari kelengkapan unsurnya, wacana merupakan unit bahasa yang paling
lengkap unsurnya. Wacana tidak hanya terdiri dari kalimat, frase, morfem, fonem, tetapi juga
didukung oleh unsur-unsur lain seperti situasi, ruang, dan waktu pemakain.Wacana adalah satuan
bahasa yang terbesar dan tertinggi. Satuan-satuan bahasa mempunyai urutan dari yang terkecil
sampai ke yang terbesar. Perhatikanlah urutan satuan bahasa dibawah ini!

wacana
kalimat
kalausa
frase
kata
Gambar: hirarki satuan-satuan bahasa

Sebagai satuan bahasa, wacana dituntut mempunyai koherensi dan kohesi tinggi. Kata
koherensi menagandun makna keteraturan atau kerapian dan kohesi mengandung makna
kepaduan. Mengenai koherensi dan kohesi mengandung makna kepaduan. Mengenai koherensi
dan kohesi ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian lain.
Saudara, pada dasarnya wacana dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi bentuk fisiknya
dan dari segi sifat isinya. Ditinjau dari segi bentuk fisiknya wacana dapat dibedakan dalam dua
bentuk, yaitu:
a. wacana monolog
b. wacana dialog.
Akan tetapi, untuk pembahasan kita saat ini hanya difokuskan pada pembagian wacana
berdasarkan bentuk fisiknya. Adapun pembagian wacana berdasarkan sifat isinya, akan dibahasa
pada materi selanjutnya.
Wacana, baik wacana tulis maupun wacana lisan pada dasarnya dapat dibagi dua macam,
yaitu wacana dialog dan wacana monolog. Wacana dialog lisan dibagi dua macam yaitu dialog
sesungguhnya atau dialog teks. Dialog teks dapat dilaksanakan dengan tatap muka bila
dipercakapan (bila dinyatakan dalam bentuk pentas), dan bisa tampa tatap muka bila tidak
dipercakapkan, hanya dibacakan saja.
Dialog sesunggunya adalah dialog yang betul – betul memerlukan percakapan spontan.
Dialog ini tidak selalu diartikan percakapan dua orang, tetapi juga lebih dari dua orang. Oleh
karena itu, dialog ini diartikan dengan dua belah pihak, yaitu pihak pembicara dan pendengar.
Kedua belah pihak menurut kesempatannya dapat berganti fungsi secara bergiliran. Pihak pertama
menjadi pembicara dan juga menjadi pendengar sesuai dengan kesempatannya demikian juga bagi
pihak kedua.
Pengertian wacana monolog mencakup bahasa, tuturan lisan atau tertulis yang tidak
termasuk dalam lingkungan percakapan, tanya jawab, teks drama atau film, dan bentuk-bentuk
lain seperti wawancara. Wacana monolog ini antara lain pidato, khotbah, mengajar, bercerita,
memberi penyuluhan ceramah dan sebagainya. Dalam bentuk teks bisa berupa surat, bacaan,
sebuah cerita.
Selain dari aspek-aspek di atas, untuk wacana dialog ada lagi aspek lainya seperti kerja
sama partisipasi percakapan, penggalangan pasangan percakapan (adjacency pairs), giliran bicara
(turn talking) dan percakapan lanjutan (repairs).

1. Wacana monolog.
Wacana monolog mencakup bentuk bahasa/tuturan lisan atau tertulis yang tidak termasuk
dalam wacana percakapan seperti tanya jawab, wawancara, teks drama. Yang termasuk dalam jenis
wacana monolog ini antara lain pembicaraan dalam bentuk pidato, khotbah, ceramah, atau dalam
bentuk teks seperti pada bacaan, sepucuk surat, sebuah berita dan lain-lan.
2. Wacana dialog
Wacana dialog atau wacana percakapan ada dua macam, yaitu dialog sebenarnya dan
dialog teks. Dialog sebenarnya adalah dialog yang tidak dihafalkan lebih dahulu tetapi betul-betul
merupakan percakapan spontan dan memerlukan tatap muka yang sesungguhnya. Dialog teks
adalah percakapan yang dibuat lebih dahulu dalam bentuk teks dan dilatihkan sebagai bahan
percakapan. Wacana dialog jenis kedua inipun memerlukan tatap muka, tetapi kalau teks itu hanya
dibacakan saja, tatap muka tidak diperlukan.

B. Kriteria Wacana yang Baik


Bagaimanakah wacana yang baik? Sebuah wacana dapat digolongkan pada wacana yang
baik apabila wacana tersebut memenuhi kriteria wacana yang baik. Dalam wacana tersebut harus
mengandung beberapa hal diantaranya:
a. topik dan tujuan
b. kohesi dan koherensi
c. pembuka dan penutup
1. Topik dan tujuan

Topik atau pokok pembicaraan merupakan landasan untuk mencapai tujuan dalam
pembicaraan. Di atas pokok pembicaraan itulah kita menempatkan tujuan yang kita harapkan.
Dengan demikian, topik dan tujuan bertalian sangat erat dengan tanggapan yang diharapkan dari
pendengar atau pembaca. Misalnya dengan topik “keindahan alam Bantimurung” anda dapat
membuat ketetapan-ketetapan sebagai berikut:

Topik : Keindahan panorama alam Bantimurung


Tujuan : Memberitahukan agar pembaca mengetahui keindahan panorama alam di Bantimurung
Contoh wacana monolog
Pagi itu aku duduk di sebuah batu tepat di ujung Barat jembatan gantung. Aku menghadap
kea rah air terjun yang tercurah dengan indahnya. Sepasang kupu-kupu hinggap di atas
bebatuan, tepat di sisi kanan seorang gadis kecil yang memakai baju merah jambu.
Matahari yang baru sepenggala hanya sesekali menerobos celah dedaunan sehingga
udara dingin masih sangat terasa. Aku beranjak mendekati air terjun sembari menghirup
udara segar. Dari jarak 10 meter, percikan air terjun menimpaku sehingga kurapatkan
jaket hitam yang sedari tadi terbuka lebar.

Dari pengalaman, kita pernah berdialog mengenai salah satu topik. Pada waktu dialog
kadang-kadang kita hanya melayani teman bicara, kita mengikat arah pembicaraanya karena kita
merasa tertarik, atau munkin kita melayaninya atau hanya untuk menghargai atau
menghormatinya. Perhatikanlah contoh dialog di bawah ini:

Contoh wacana dialog:


Fika : Kenapa kamu berjalan seperti itu?
Farhan : Kakiku keseleo.
Fika : Oh, kenapa bisa?
Farhan : Kemarin aku latihan naik kuda, tiba-tiba aku terjatuh sehingga kakiku keseleo.
Fika : Pantas kamu agak pincang berjalan.
Farhan: Tapi aku senang kok naik kuda.

Dialog di atas membicarakan tentang perjalanan berlibur ke Malino. Bandingkan dengan


dialog berikut ini.

(5) Arif : Aku suka sekali kalau Bu Ratna yang mengajar.


Mia : Kalau aku sih, sukanya kalau Pak Novan.
Arif : Kalau Bu Ratna mengajar suka bercanda.
Mia : Kalau Pak Novan tegas jadi anak-anak tidak
berani bermain-main.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa baik wacana monolog maupun wacana dialog
yang baik harus mengandung topik dan tujuan. Wacana bukan hanya merupakan kumpulan kalimat
yang lepas-lepas, kalimat yang satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan yang sangat kuat.

2. Wacana harus kohesif dan koherensif


Wacana yang baik adalah wacana yang mengandung kohesif dan koherensif. Arti kata
kohesi adalah hubungan yang erat atau padu. Pengertian wacana kohesif adalah wacana yang
berhubungan diantara unsur-unsurnya atau pandangan sehingga unsur-unsurnya berkaitan satu
sama lain.
Menurut Keraf (1987), bahwa yang dimaksud dengan koherensi adalah hubungan timbal
balik antara kalimat, mudah dipahami tanpa kesulitan. Pembaca mudah mengikuti jalan pikiran
penulis, tanpa terasa loncat-loncatan pikiran yang membingungkan. perhatiakan contoh sebagai
berikut:
“Ayah dan Ibu bangun pagi-pagi karena ia akan bekerja”.
Kalimat di atas tidak kohesif karena kata ia tidak jelas, mengacu kepada siapa. Apakah
kepada Ayah atau kepada Ibu? Agar kalimat tersebut kohesif, maka kata ia harus diganti dengan
kata yang tepat yaitu kata mereka, atau dengan salah satu kata, Ayah dan Ibu sesuai dengan maksud
yang akan diacuh oleh pembicara. Perhatikan kalimat berikut ini!
a. Ayah dan Ibu bangun pagi-pagi karena mereka akan pergi bekerja.
b. Ayah dan Ibu bangun pagi-pagi karena ayah akan pergi bekerja.
c. Ayah dan Ibu bangun pagi-pagi karena ibu akan pergi bekerja.
Bandingkan dengan kalimat di bawah ini:
a. Ia sakit, ia tidak pergi ke kantor.
b. Ia sakit, tidak pergi ke kantor.
Kalimat-kalimat di atas mengandung makna yang masih bisa dipahami, namun terasa
kurang padu atau tidak kohesif. Kalimat tersebut akan kohesif apabila kalimat itu diberi tambahan
kata penghubung seperti berikut ini.
“ Ia sakit, karena ia tidak pergi ke kantor”.
Kalimat di atas menjadi padu karena menggunakan kata pembentuk kohesif gramatikal.
Pembentuk kohesif lain dengan menggunakan kohesi leksikal. Perhatikan kalimat berikut ini.
Putri Pak Ari catik dan lincah, putri Pak Ari itu disenangi teman-teman.
Putri Pak Ari cantik dan lincah, gadis kecil itu disenangi teman-temannya.
Kalimat pertama di atas terasa sekali ketidakpaduannya walaupun gramatikalnya tepat.
Bandingkan dengan kalimat di bawahnya, gramatikalnya sama dengan kalimat sebelumnya namun
terasa kepaduannya lebih baik daripada kalimat sebelumnya.

3. Wacana harus mempunyai pembuka dan penutup.


Wacana yang baik adalah wacana yang mempunyai pembuka dan penutup. Wacana ideal
memang demikian seharusnya. Bagian awal adalah bagian yang pembuka dan yang
menghantarkan pokok pikiran dalam wacana itu. Sering pengarang atau penutur mulai dengan
beberapa kalimat yang merangkum seluruh cerita. Sifat-sifat dari kalimat ini harus menarik
perhatian pembaca,serta dapat membawa arah atau jalan pikiran pembaca kepada gagasan-gagasan
yang akan diuraikan dalam wacana.
Bagian penutup yaitu kalimat-kalimat atau alinea yang dimaksud untuk mengakhiri
wacana. Alinea ini mengandung kesimpulan pendapat dari apa yang telah diuaraikan dalam bagian
isi wacana.

Latihan
Untuk menambah pemahaman anda tentang makna dan wacana yang baik kerjakanlah tugas
dibawah ini baik-baik.
1. a . Jelaskan hakikat makna wacana dalam bahasa Indonesia!
b . Simpulkan makna wacana menurut pendapat anda!
2. Jelaskan ciri-ciri wacana yang baik!
3. Jelaskan apa yang dimaksud:
a. topik
b. tujuan
c. kohesi
d. koherensi
e. pembuka
f. penutup