Anda di halaman 1dari 13

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Penelitian mengenai karakteristik pasien apendisitis akut berdasarkan

penilaian skor Alvarado di RS Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung

tahun 2015-2016 telah dilaksanakan pada bulan Februari 2017. Penelitian ini

menggunakan data sekunder di bagian rekam medik RS Pertamina Bintang

Amin Bandar Lampung. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif

dengan pendekatan retrospektif melalui studi rekam medik dengan jumlah

sampel yang diambil sebanyak 66 data rekam medik yang memenuhi kriteria

inklusi.

Dari 66 data rekam medik yang menjadi sampel didapatkan status

pasien apendisitis akut mengenai variabel-variabel penelitian yang dibutuhkan

seperti usia, jenis kelamin, kriteria berdasarkan skor Alvarado berupa nyeri

berpindah ke kuadran kanan bawah, anoreksia, mual atau muntah, nyeri tekan

kuadran kanan bawah, nyeri tekan lepas, suhu tubuh >37,2ºC, leukositosis

(leukosit >10.000/ml), pergeseran ke kiri netrofil >75%.

Berdasarkan data-data tersebut dapat dibuat subjek penelitian sebagai

berikut :

38
39

4.1.1 Karakteristik Responden

1) Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Usia

Tabel 4.1 Usia Pasien

Usia Jumlah Sampel Persentase (%)


≤ 10 tahun 1 1,52
11-20 tahun 16 24,2
21-30 tahun 20 30,3
31-40 tahun 11 16,7
41-50 tahun 10 15,2
>50 tahun 8 12,1
Total 66 100

Pada tabel 4.1 terlihat bahwa dari 66 pasien apendisitis akut yang berusia ≤ 10

tahun sebanyak 1 pasien (1,52%), usia 11-20 tahun sebanyak 16 pasien (24,2%), usia

21-30 tahun sebanyak 20 pasien (30,3%), usia 31-40 tahun sebanyak 11 pasien

(16,7%), usia 41-50 tahun sebanyak 10 pasien (15,2%), usia >50 tahun sebanyak 8

pasien (12,1%).

2) Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.2 Jenis Kelamin Pasien

Jenis Kelamin Jumlah Sampel Persentase (%)


Laki-laki 28 42,4
Perempuan 38 57,6
Total 66 100
40

Pada tabel 4.2 terlihat bahwa dari 66 pasien apendisitis akut yang berjenis

kelamin laki-laki sebanyak 28 pasien (42,4%), sedangkan yang berjenis kelamin

perempuan sebanyak 38 pasien (57,6%).

4.1.2 Karakteristik Pasien Apendisitis Akut Berdasarkan Skor Alvarado

1. Nyeri Berpindah

Tabel 4.3 Nyeri Berpindah

Nyeri Berpindah Jumlah Sampel Persentase (%)


Ada 8 12,1
Tidak ada 58 87,9
Total 66 100

Pada tabel 4.3 terlihat bahwa dari 66 pasien apendisitis akut yang

mengeluhkan adanya nyeri berpindah sebanyak 8 pasien (12,1%), sedangkan yang

tidak mengeluhkan adanya nyeri berpindah sebanyak 58 pasien (87,9%).

2. Anoreksia

Tabel 4.4 Anoreksia

Anoreksia Jumlah Sampel Persentase (%)


Ada 48 72,7
Tidak ada 18 27,3
Total 66 100

Pada tabel 4.4 terlihat bahwa dari 66 pasien apendisitis akut yang mengalami

anoreksia sebanyak 48 pasien (72,7%), sedangkan yang tidak mengalami anoreksia

sebanyak 18 pasien (27,3%).


41

3. Mual atau muntah

Tabel 4.5 Mual atau muntah

Mual atau muntah Jumlah Sampel Persentase (%)


Ada 22 33,3
Tidak ada 44 66,7
Total 66 100

Pada tabel 4.5 terlihat bahwa dari 66 pasien apendisitis akut yang mengalami

mual atau muntah sebanyak 22 pasien (33,3%), sedangkan yang tidak mengalami

adanya mual atau muntah sebanyak 44 pasien (66,7%).

4. Nyeri tekan kuadran kanan bawah

Tabel 4.6 Nyeri tekan kuadran kanan bawah

Nyeri tekan kuadran Jumlah Sampel Persentase (%)


kanan bawah
Ada 66 100
Tidak ada 0 0
Total 66 100

Pada tabel 4.6 terlihat bahwa dari 66 pasien apendisitis akut yang

mengeluhkan adanya nyeri tekan pada kuadran kanan bawah abdomen sebanyak 66

pasien (100%), sedangkan yang tidak mengeluhkan adanya nyeri tekan pada kuadran

kanan bawah abdomen sebanyak 0 pasien (0%).


42

5. Nyeri tekan lepas kuadran kanan bawah

Tabel 4.7 Nyeri tekan lepas kuadran kanan bawah

Nyeri tekan lepas Jumlah Sampel Persentase (100%)


kuadran kanan bawah
Ada 62 93,9
Tidak ada 4 6,1
Total 66 100

Pada tabel 4.7 terlihat bahwa dari 66 pasien apendisitis akut yang

mengeluhkan adanya nyeri tekan lepas pada abdomen kuadran kanan bawah

sebanyak 62 pasien (93,9%), sedangkan yang tidak mengeluhkan adanya nyeri tekan

lepas pada abdomen kuadran kanan bawah sebanyak 4 pasien (6,1%).

6. Peninggian suhu (>37,2ºC)

Tabel 4.8 Peninggian suhu (>37,2ºC)

Peninggian suhu Jumlah Sampel Persentase (100%)


(>37,2ºC)

Ada 27 40,9
Tidak ada 39 59,1
Total 66 100

Pada tabel 4.8 terlihat bahwa dari 66 pasien apendisitis akut yang mengalami

peninggian suhu >37,2ºC sebanyak 27 pasien (40,9%), sedangkan yang tidak

mengalami peninggian suhu >37,2ºC sebanyak 39 pasien (59,1%)


43

7. Leukositosis (leukosit >10.000/ml)

Tabel 4.9 Leukositosis (leukosit >10.000/ml)

Leukosit >10.000/ml Jumlah Sampel Persentase (%)


Ada 42 63,6
Tidak ada 24 36,4
Total 66 100

Pada tabel 4.9 terlihat bahwa dari 66 pasien apendisitis akut yang ditemukan

hitung leukosit >10.000/ml sebanyak 42 pasien (63,6%), sedangkan yang tidak

mengalami peningkatan jumlah leukosit >10.000/ml sebanyak 24 pasien (36,4%).

8. Pergeseran ke kiri netrofil >75%

Tabel 4.10 Pergeseran ke kiri netrofil >75%

Pergeseran ke kiri netrofil Jumlah Sampel Persentase (%)


>75%
Ada 39 59,1
Tidak ada 27 40,9
Total 66 100

Pada tabel 4.10 terlihat bahwa dari 66 pasien apendisitis akut pada

pemeriksaan laboratorium ditemukan pergeseran ke kiri netrofil >75% sebanyak 39

pasien (59,1%), sedangkan yang tidak mengalami pergeseran ke kiri netrofil >75%

sebanyak 27 pasien (40,9%).


44

4.2 Pembahasan

4.2.1 Karakteristik Responden

1) Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Usia

Berdasarkan karakteristik umur pada tabel 4.1 dapat dilihat bahwa

penderita apendisitis akut paling banyak ditemukan pada kelompok usia 21-30

tahun sebanyak 20 pasien (30,3%) dan yang paling sedikit ditemukan pada

kelompok usia ≤ 10 tahun sebanyak 1 pasien (1,52%).

Faktor yang mempengaruhi tingginya insiden apendisitis akut pada

orang dewasa disebabkan karena gejalanya yang samar, keterlambatan

berobat, adanya perubahan anatomi apendiks berupa penyempitan lumen, dan

arteriosklerosis.

Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Eylin bagian

Patologi Anatomi FKUI RSUPNCM pada tahun 2014 terdapat 584 pasien

apendisitis akut dengan kelompok tertinggi pada usia 21-30 tahun sebanyak

172 pasien (29,5%), terbanyak kedua pada usia 11-20 tahun sebanyak 144

pasien (24,7%), dan jumlah pasien terkecil dengan usia lebih dari 50 tahun

sebanyak 5 pasien (6,58%).

2) Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan karakteristik jenis kelamin pada tabel 4.2 dapat dilihat

bahwa penderita apendisitis akut yang paling banyak ditemukan dengan jenis

kelamin perempuan sebanyak 38 pasien (57,6%) sedangkan laki-laki sebanyak

28 pasien (42,4%).
45

Hal ini disebabkan karena pada wanita sering timbul nyeri yang

menyerupai apendisitis akut, mulai dari alat genital (karena proses ovulasi,

menstruasi), radang dipanggul atau penyakit kandungan lainnya. Hal ini

sering menjadi penyebab terlambatnya diagnosis.

Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Eylin bagian

Patologi Anatomi FKUI RSUPNCM pada tahun 2014 terdapat 584 pasien

apendisitis akut didapatkan lebih banyak perempuan sebanyak 305 pasien

sedangkan laki-laki sebanyak 279 pasien.

4.2.2 Karakteristik Pasien Apendisitis Akut Berdasarkan skor Alvarado

1. Nyeri Berpindah

Berdasarkan gejala klinis nyeri berpindah ke kuadran kanan bawah

abdomen pada tabel 4.3 dapat dilihat bahwa pasien apendisitis akut dengan

gejala nyeri berpindah sebanyak 8 pasien (12,1%) dan dengan gejala tidak

adanya nyeri berpindah sebanyak 58 pasien (87,9%).

Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang

merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan

ini sering disertai mual dan kadang ada muntah. Umumnya, nafsu makan

menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik

Mc.Burney. Disini, nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya

sehingga merupakan nyeri somatik setempat.


46

2. Anoreksia

Berdasarkan gejala klinis anoreksia pada tabel 4.4 dapat dilihat bahwa

pasien apendisitis akut dengan gejala anoreksia sebanyak 48 pasien (72,7%)

dan dengan gejala tidak anoreksia sebanyak 18 pasien (27,3%).

Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang

merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan

ini sering disertai mual dan kadang ada muntah. Umumnya, nafsu makan

menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik

Mc. Burney. Disini, nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya

sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Kemungkinan karena nyeri

somatik ini yang menyebabkan pasien mengalami anoreksia akibat menahan

nyeri somatik tersebut.

Menurut Briman (2010) bahwa anoreksia terjadi lebih dari 95%

penderita apendisitis akut. Anoreksia hampir selalu terdapat dalam kasus

apendisitis.

3. Mual atau muntah

Berdasarkan gejala klinis mual atau muntah pada tabel 4.5 dapat

dilihat bahwa pasien apendisitis akut dengan gejala mual atau muntah

sebanyak 22 pasien (33,3%), dan dengan gejala tidak mual atau muntah

sebanyak 44 pasien (66,7%).

Distensi menyebabkan stimulasi serabut syaraf visceral yang

menyebabkan rasa kembung, nyeri difus pada bagian tengah abdomen atau
47

epigastrium bawah. Distensi terus berlangsung karena eksresi mukosa yang

terus menerus dan juga karena multiplikasi dari flora normal apendiks.

Dengan meningkatnya tekanan pada apendiks, tekanan vena juga meningkat,

sehingga kapiler dan venule menutup, tapi aliran arteriole tetap mengalir

sehingga terjadi kongesti dan pelebaran vaskuler. Distensi ini biasanya

menyebabkan reflex muntah, nausea, dan nyeri visceral semakin bertambah .

(Sternberg, 2012).

4. Nyeri tekan kuadran kanan bawah

Berdasarkan tanda klinis nyeri tekan kuadran kanan bawah pada tabel

4.6 dapat dilihat bahwa penderita apendisitis akut dengan tanda klinis nyeri

tekan kuadran kanan bawah sebanyak 66 pasien (100%) dan dengan tanda

klinis tidak nyeri tekan kuadran kanan bawah sebanyak 0 pasien (0%).

Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema

menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding apendiks dan

menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada

apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding

apendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena

dilapisi eksudat dan fibrin. Pada apendiks dan mesoappendiks terjadi edema,

hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai

dengan ransangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan di titik Mc. Burney.

Khas nyeri somatik ini disebabkan oleh kontaks apendiks yang

meradang dengan ujung saraf di dalam peritoneum menjadi terlokalisasi dan


48

diperkuat oleh gerakan atau tindakan seperti batuk atau bersin (Sabiston,

2012).

Penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Sahara

(2010) mengenai karakteristik pasien apendisitis di RSUD Sleman periode

Januari 2008-Desember 2009 dari 186 pasien apendisitis didapatkan hampir

seluruh pasien mengalami nyeri di kuadran kanan bawah.

5. Nyeri tekan lepas kuadran kanan bawah

Berdasarkan tanda klinis nyeri tekan lepas pada tabel 4.7 dapat dilihat

bahwa penderita apendisitis akut dengan tanda klinis nyeri tekan lepas

sebanyak sebanyak 62 pasien (93,9%) dan dengan tanda klinis tidak nyeri

tekan lepas sebanyak 4 pasien (6,1%).

Sesuai dengan teori bahwa pada pemeriksaan palpasi abdomen kanan

bawah akan didapatkan peningkatan respons nyeri. Nyeri palpasi terbatas pada

region iliaka kanan, dapat disertai nyeri lepas. Gerakan posisional

menyebabkan nyeri, apendiks anterior memberikan nyeri tekanan maksimum

kekuatan otot dan nyeri lepas pada titik McBurney. Tanda nyeri lepas pada

titik Mc. Burney, merupakan rangsangan peritoneum lokal (Sjamsuhidajat,

2005).

6. Peninggian suhu (>37,2ºC)

Berdasarkan gejala klinis peninggian suhu (>37,2ºC) pada tabel 4.8

dapat dilihat bahwa penderita apendisitis akut dengan gejala suhu >37,2ºC
49

sebanyak 27 pasien (40,9%) dan dengan gejala suhu <37,2ºC sebanyak 39

pasien (59,1%).

Pada penelitian ini suhu menggunakan skor Alvarado yaitu dikatakan

demam jika suhu >37,2ºC. Bila suhu lebih tinggi, mungkin sudah terjadi

perforasi. Bisa terdapat perbedaan suhu aksilar dan rektal sampai 1ºC. Demam

merupakan peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus yang dipengaruhi

oleh interleukin-1 (IL-1). Demam sangat berguna sebagai pertanda adanya

inflamasi, biasanya tingginya demam mencerminkan tingkatan dari proses

inflamasinya (Sternberg, 2012).

7. Leukositosis (leukosit >10.000/ml)

Berdasarkan leukositosis pada tabel 4.9 dapat dilihat bahwa penderita

apendisitis akut dengan jumlah hitung leukosit >10.000/ml sebanyak 42

pasien (63,6%) dan leukosit <10.000/ml sebanyak 24 pasien (36,4%).

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa

sebagian besar pasien apendisitis akut menderita leukositosis dan sebagian

kecil pasien apendisitis akut mempunyai jumlah leukosit normal. Dimana

peningkatan jumlah leukosit menunjukan adanya proses infeksi atau radang di

dalam tubuh (Sternberg, 2012).

Tidak adanya leukositosis tidak menyingkirkan apendisitis akut,

karena sekitar 5 persen pasien apendisitis akut mempunyai hitung leukosit

total normal (Sabiston, 2012).


50

8. Pergeseran ke kiri netrofil >75%

Berdasarkan tabel 4.10 dapat dilihat bahwa penderita apendisitis akut

dengan netrofil >75% sebanyak 39 pasien (59,1%) dan dengan netrofil <75%

sebanyak 27 pasien (40,9%).

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa

kebanyakan dari pasien apendisitis akut pada hitung jenis leukosit, netrofil

paling cepat bereaksi terhadap radang dan luka dibanding leukosit yang lain

dan merupakan pertahanan selama fase infeksi akut (Guyton, 2007).

Namun, tidak adanya netrofil >75% tidak menyingkirkan apendisitis

akut, karena sekitar 5 persen pasien apendisitis akut mempunyai jumlah

netrofil normal (Sabiston, 2012).

Pemeriksaan apendisitis menggunakan penilaian skor Alvarado

meliputi nyeri berpindah ke kuadran kanan bawah abdomen, anoreksia, mual

atau muntah, nyeri tekan di kuadran kanan bawah abdomen, nyeri tekan lepas,

suhu tubuh >37,2ºC, leukosit >10.000/ml dan pergeseran ke kiri netrofil

>75%. Nyeri tekan pada kuadran kanan bawah abdomen dan leukositosis

memiliki nilai 2 dan enam lainnya masing-masing memiliki nilai 1, sehingga

kedelapan faktor ini memberikan jumlah skor 10. Setelah dilakukan

penelitian, peneliti mendapatkan skor 7 yang artinya Kemungkinan besar

apendisitis, sehingga dapat disimpulkan bahwa penilaian skor Alvarado bisa

digunakan untuk diagnosis awal apendisitis.