Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH JIWA MASYARAKAT

“PASUNG PADA ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA”

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Jiwa Masyarakat Semester V

Pembimbing : D

Disusun Oleh :

1. Ahmad Kholisun Nawa (201601064)


2. Anik Puji Lestari (201601068)
3. Dwi Bagus Trihatmojo (201601073)
4. Nadia Puspa Prima I (201601096)
5. Putri Purwaningsih (201601104)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


AKPER PEMKAB PONOROGO
Jl. Ciptomangunkusumo No.82 A Ponorogo
Tahun Ajaran 2017/2018

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat
dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“PASUNG PADA ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA” tepat pada waktunya.

Dalam penyusunan makalah ini penulis telah banyak mendapatkan bantuan


moril maupun materiil, maka dari itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada dosen-dosen pengajar mata kuliah keperawatan jiwa masyarakat. Dalam
penulisan makalah ini penulis menyadari masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan yang sifatnya
membangun.

Akhirnya, penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi


pembaca.

Ponorogo, 04 Agustus 2018

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................


1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 1
1.3 Tujuan Pembahasan ............................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................
2.1 Pengertian Pasung ..............................................................................
2.2 Etiologi pasung ...................................................................................
2.3 Jenis/ klasifikasi Pasung .....................................................................
2.4 Dampak Pasung ..................................................................................
2.5 Terapi Pasung ....................................................................................
2.6 Pencegahana Pasung ...........................................................................
BAB III PEMBAHASAN KASUS .....................................................................
BAB IV PENUTUP ............................................................................................
3.1 Kesimpulan .........................................................................................
3.2 Saran ...................................................................................................

Daftar Pustaka .....................................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gangguan jiwa adalah kondisi dimana proses fisiologik atau mentalnya
kurang berfungsi dengan baik sehingga mengganggunya dalam fungsi seharihari.
Gangguan ini sering juga disebut sebagai gangguan psikiatri atau gangguan
mental dan dalam masyarakat umum kadang disebut sebagai gangguan saraf.
Gangguan jiwa masih menjadi masalah serius kesehatan mental di Indonesia yang
perlu mendapat perhatian lebih dari pemangku kebijakan kesehatan nasional.
Meskipun masih belum menjadi program prioritas utama kebijakan kesehatan
nasional, namun dari angka yang didapatkan dari beberapa riset nasional
menunjukkan bahwa penderita gangguan jiwa di Indonesia masih banyak dan
cenderung mengalami peningkatan dan hampir sebagian yang mengalami
ganggun jiwa di pasung(Susanto,2013).
Beberapa daerah di Indonesia, pasung masih digunakan sebagai alat untuk
menangani klien gangguan jiwa di rumah. Saat ini, masih banyak klien gangguan
jiwa yang didiskriminasikan haknya baik oleh keluarga maupun masyarakat
sekitar melalui pemasungan. Sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan
larangan "tradisi" memasung klien gangguan jiwa berat yang kerap dilakukan
penduduk yang berdomisili di pedesaan dan pedalaman terus berupaya dilakukan
antara lain dengan memberdayakan petugas kesehatan di tengahtengah
masyarakat. Indonesia, kata pasung mengacu kepada pengekangan fisik atau
pengurungan terhadap pelaku kejahatan, orang-orang dengan gangguan jiwa yang
melakukan tindak kekerasan yang dianggap berbahaya (Broch, 2001, dalam
Minas & Diatri, 2008). Pemasungan penderita gangguan jiwa adalah tindakan
masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa (biasanya yang berat) dengan cara
dikurung, dirantai kakinya dimasukan kedalam balok kayu dan lain-lain sehingga
kebebasannya menjadi hilang. Pasung merupakan salah satu perlakuan yang
merampas kebebasan dan kesempatan mereka untuk mendapat perawatan yang
memadai 2 dan sekaligus juga mengabaikan martabat mereka sebagai manusia.
Berdasarkan data yang di peroleh WHO (World Health Organisation) bahwa 41
juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa. Diantaranya penyalahgunaan
obat (44,0%), keterbe-lakangan mental (34,9%), disfungsi mental (16,2%) dan
disintegrasi mental (5,8%). The Indonesian Psychiatric Epidemiologic Network
menyatakan bahwa di 11 kota di Indonesia ditemu-kan 18,5% dari penduduk
dewasa menderita gangguan jiwa (The Indone-sian Psychiatric Epidemiologic
Network dalam VideBeck, 2008). Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jatim
menyebutkan, di Jatim saat ini terdapat sekitar 28.000-an dengan gangguan jiwa
berat. Dari jumlah tersebut, 471 orang dipasung keluarga. Berdasarkan data yang
di peroleh peneliti jumlah pasien pasung yang memeriksakan di poli jiwa Menur
Surabaya sekitar 10 orang. Faktor keluarga melakukan pemasungan diantaranya
untuk Mencegah klien melakukan tindak kekerasan yang dianggap
membahayakan terhadap dirinya atau orang lain.Selain itu upaya untuk Mencegah
klien agar tidak kambuh (meninggalkan rumah, Perilaku kekerasan, isolasi
sosial). (Wardhani, Y.F., dkk. 2011).
Selain itu terdapat faktor kemiskinan dan rendahnya pendidikan keluarga
merupakan salah satu penyebab pasien gangguan jiwa berat hidup terpasung.
Ketidaktahuan pihak keluarga, rasa malu pihak keluarga, penyakit yang tidak
kunjung sembuh, tidak adanya biaya pengobatan, dan tindakan keluaga untuk
mengamankan lingkungan merupakan penyebab keluarga melakukan
pemasungan. Salah satu kendala ekonomi kelurga berpengaruh pada biaya
berobat yang harus di-tanggung pasien tidak hanya meliputi biaya yang langsung
berkaitan dengan pelayanan medik seperti harga obat, jasa konsultasi tetapi juga
biaya spesifik lainnya seperti biaya transportasi ke rumah sakit dan biaya
akomodasi lainnya (Djatmiko, 2007).
Penyakit penyerta yang muncul akibat pemasungan umumnya terkait
kebersihan. Hampir seluruh aktivitas orang yang dipasung, termasuk buang air, di
tempat yang sama. Pola makan pun umumnya tidak sehat sehingga 3 mengurangi
daya tahan tubuh, selain itu ada sedikit luka memar pada bagian kaki. (Yud, 2014)

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan dari latar belakang diatas dapat disimpulkan rumusan masalah
yaitu: “Bagaimana Konsep Pasung Dan Upaya Pencegahan Pemasungan di
Masyarakat pada Orang Dengan Gangguan Jiwa?”
1.2 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui tentang pengertian pasung pada orang dengan
gangguan jiwa.
2. Untuk mengetahui apa etiologi dari pasung pada orang dengan gangguan
jiwa
3. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi pasung pada orang dengan ganguan
jiwa
4. Untuk mengetahui bagaimana dampak dari pemasungan bagi orang
dengan gangguan jiwa.
5. Untuk mengetahui bagaimana terapi pasung bagi pasien dan keluarga.
6. Untuk mengetahui bagaimana pencegahan pasung pada pasien gangguan
jiwa

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi pasung


Pasung adalah suatu tindakan memasang sebuah balok kayu pada
tangan dan/atau kaki seseorang, diikat atau dirantai, diasingkan pada suatu
tempat tersendiri di dalam rumah ataupun di hutan. Pemasungan bisa diartikan
sebagai segala tindakan yang dapat mengakibatkan kehilangan kebebasan
seseorang akibat tindakan pengikatan dan pengekangan fisik walaupun telah
ada larangan terhadap pemasungan. Banyak alasan mengapa keluarga harus
memasung, antara lain mengganggu orang lain atau tetangga, membahayakan
dirinya sendiri, jauhnya akses pelayanan kesehatan, tidak ada biaya,
ketidakpahaman keluarga dan masyarakat tentang gangguan jiwa.
2.2 Etiologi/Alasan Pasung
Faktor keluarga melakukan pemasungan diantaranya untuk mencegah
klien melakukan tindak kekerasan yang dianggap membahayakan terhadap
dirinya atau orang lain. Selain itu upaya untuk mencegah klien agar tidak
kambuh (meninggalkan rumah, perilaku kekerasan, isolasi sosial). Terdapat
faktor kemiskinan dan rendahnya pendidikan keluarga merupakan salah satu
penyebab pasien gangguan jiwa berat hidup terpasung. Ketidaktahuan pihak
keluarga, rasa malu pihak keluarga, penyakit yang tidak kunjung sembuh,
tidak adanya biaya pengobatan, dan tindakan keluaga untuk mengamankan
lingkungan merupakan penyebab keluarga melakukan pemasungan. Salah satu
kendala ekonomi kelurga berpengaruh pada biaya berobat yang harus
ditanggung pasien tidak hanya meliputi biaya yang langsung berkaitan dengan
pelayanan medik seperti harga obat, jasa konsultasi tetapi juga biaya 5
spesifik lainnya seperti biaya transportasi ke rumah sakit dan biaya akomodasi
lainnya (Djatmiko, 2007).
Alasan lain adalah masih belum memadainya kualitas pengobatan dan
pelayanan penderita gangguan jiwa akibat prioritas yang rendah di negara low
middle income seperti Indonesia (Maramis et al., 2011). Kesulitan
mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau serta aman juga
merupakan masalah-masalah yang dihadapi negara-negara dengan
penghasilan rendah sampai sedang. Kondisi-kondisi ini menimbulkan
pelanggaran hak asasi, kekerasan serta perlakuan buruk lainnya akibat kondisi
mental emosional pasien yang tidak stabil. Penyebab lainnya adalah sangat
rendahnya sumber daya manusia yang terlatih spesialis dan non spesialis
misalnya perawat, konselor termasuk pengasuh pasien. Para sumber daya
tenaga ini minim mendapatkan informasi dan pelatihan (Kakuma, et al.,
2011). 2.3

2.3 Jenis/Klasifikasi Pasung


Setidaknya, terdapat tiga jenis pemasungan yang sering kita temui,
antara lain :
1. Dirantai Penderita gangguan jiwa akan dipasangi rantai disalah satu
anggota tubuhnya seperti tangan, kaki atau bahkan tangan dan
kakinya. Pemasungan rantai ini mengakibatkan si korban tidak akan
bisa leluasa menggerakan anggota tubuhnya tersebut dengan tujuan
agar korban tidak meresahkan masyarakat sekitar.
2. Pengandangan Penderita gangguan jiwa akan ditempatkan di suatu
tempat dengan luas 2 atau 3 kali ukuran badan korban. Tujuannya
yakni untuk membatasi ruang gerak penderita gangguan jiwa tersebut.
3. Diblok 6 Memasang sebuah balok pada satu atau kedua kaki atau
tangan penderita. Cara ini merupakan suatu cara pasung yang lebih
kejam. Penderita tidak dapat menggerakan anggota badannya itu
dengan bebas, sehingga terjadi desure atrofi yaitu pengecilan terhadap
anggota tubuh yang disebabkan karena tidak digunakannya anggota
tubuh tersebut dalam jangka waktu yang lama dan mengakibatkan
korban pemasungan tidak dapat menggerakan sebagian tubuhnya
seperti orang normal.
2.4 Dampak Pasung
Dampak secara fisik, pemasungan pun memperburuk kondisi kejiwaan
bagi korban pemasungan. Dampak pemasungan bagi penderita gangguan jiwa
dapat membuat kondisi korban memburuk dalam jangka waktu yang panjang,
meskipun pada saat dipasung korban terlihat lebih tenang dan terkendali.
Namun hal itu dapat mengakumulasi segala alam bawah sadarnya ke arah
yang lebih negatif, tindakan pemasungan ini dapat memicu penyakit lain,
karena si korbannya secara tidak sadar tidak dapat melampiaskan aktifitasnya
dan semakin memperburuk kondisi kejiwaannya. Pasung pada penderita
gangguan jiwa dapat berdampak baik secara fisik maupun psikis. Dampak
fisiknya bisa terjadi atropi pada anggota tubuh yang dipasung, dampak
psikisnya yaitu penderita mengalami trauma, dendam kepada keluarga,
merasa dibuang, rendah diri, dan putus asa. Lama-lama muncul depresi dan
gejala niat bunuh diri. Secara tidak sadar keluarga telah memasung fisik dan
hak asasi penderita hingga menambah beban mental dan penderitaannya.
Tindakan tersebut mengakibatkan orang yang terpasung tidak dapat
menggerakkan anggota badannya dengan bebas. Tindakan ini sering
dilakukan pada seseorang dengan gangguan jiwa bilaorang tersebut dianggap
berbahaya bagi lingkungannya atau dirinya sendiri. Korban akan merasa
tertekan karena ruang gerak yang dibatasi dengan pasung dan akan mengalami
isolasi sosial. Hal itu bisa saja diakibatkan karena masih kurangnya informasi
atau pengetahuan keluarga dan masyarakat tentang tujuh bagaimana cara
menghadapi serta merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.

2.5 Terapi Bagi Klien dan Keluarga Pasung


Untuk menghilangkan praktek pasung yang masih banyak terjadi di
masyarakat perlu adanya kesadaran dari keluarga yang dapat di intervensi
dengan melakukan terapi keluarga.salah satu terapi keluarga yang dapat di
lakukan adalah psikoedukasi keluarga (family psichoeducation teherapy.terapi
keluarga ini memberikan support pada anggota keluarga. Keluarga dapat
mengekspresikan beban yang di rasakan seperti masalah keuangan, sosial dan
psikologis dalam memberikan perawatan yang lama untk anggota
keluarganya. Family psychoeducation terapy Family psychoeducation terapy
adalah salah satu bentuk terapi perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan
cara pemberian informasi dan edukasi melalui komunikasi yang
terpautik.program pesikoedukasi merupakan pendekatan yang bersifat edukasi
dan pragmatis (Stuart & Laraia,2005).
Carson (2000) menyatakan bahwa psikoedukasi merupakan suatu alat
terapi keluarga yang sangat populer sebagai suatu strategi untuk menurunkan
faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan perkembangan gejala-gejala
prilaku. Terapi ini juga dapat di berikan kepada keluarga yang membutuhkan
pembelajaran tentang mental, keluarga yang mempunyai anggota yang sakit
mental/mengalami maslah kesehatan dan keluarga yang ingin
mempertahankan kesehatan mentalnya dengan training/latihan keterampilan.

2.6 Pencegahan Pasung


Komunikasi, informasi, edukasi oleh keluarga Peran dan keterlibatan
keluarga dalam proses penyembuhan dan perawatan pasien gangguan jiwa
sangat penting, karena peran keluarga sangat mendukung dalam proses
pemulihan penderita gangguan jiwa. 8 Keluarga dapat mempengaruhi nilai,
kepercayaan, sikap, dan perilaku anggota keluarga. Disamping itu, keluarga
mempunyai fungsi dasar seperti memberi kasih sayang, rasa aman, rasa
memiliki, dan menyiapkan peran dewasa individu di masyarakat. Keluarga
merupakan suatu sistem, maka jika terdapat gangguan jiwa pada salah satu
anggota keluarga maka dapat menyebabkan gangguan jiwa pada anggota
keluarga (Nasir & Muhith, 2011).
Program Bebas Pasung Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan
pemasungan di Indonesia, pemerintah melalui Menteri Kesehatan RI, pada
tanggal 10 Oktober 2010 telah meluncurkan program bebas pasung yang akan
di capai pada tahun 2014, tujuannya adalah untuk mencapai masyarakat
Indonesia yang bebas dari tindakan pemasungan, terhadap orang dengan
gangguan jiwa. Pada saat pencanangan program bebas pasung, Menteri
Kesehatan RI mengingatkan tentang adanya Surat Menteri Dalam Negeri
Nomor PEM.29/6/15, tertanggal 11 Nopember 1977 yang ditujukan kepada
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I di seluruh Indonesia yang meminta kepada
masyarakat untuk tidak melakukan pemasungan secara fisik terhadap
penderita gangguan jiwa dan mengharapkan kepada semua instansi
pemerintah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar menyerahkan
perawatan penderita ke rumah sakit jiwa, sampai pada kondisi yang
memungkinkan penderita untuk kembali ke komunitas (Pusat Komunikasi
Publik Kemenkes RI, 2010). Akan tetapi, penanganan program bebas pasung
sampai tahun 2014, belum memperlihatkan hasil yang signifikan dan
komprehensif, sehingga Program Indonesia Bebas Pasung yang seharusnya
dicapai pada tahun 2014, direvisi kembali menjadi Program Indonesia Bebas
Pasung 2019 (Yud, 2014 cit. Lestari dan Wardhani, 2014).
Undang-undang/Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang Pasung
1) UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 34 9 “Setiap orang yang
tidak boleh ditangkap, ditahan, disiksa, dikucilkan, diasingkan atau dibuang
secara sewenang-wenang”. Pasal 42 “Setiap warga negara yang berusia lanjut,
cacat fisik/cacat mental berhak mendapatkan pendidikan pelatihan dan
bantuan khusus atas biaya negara untuk menjamin kehidupan yang layak
sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa kepercayaan diri
dan kemampuan beradaptasi dalam kehisupan bermasyarakat”.
4. Pembentukan kader kesehatan jiwa Dalam pelayanan kesehatan jiwa
tidak hanya terfokus pada upaya proses penyembuhan saja, melainkan
membutuhkan pendidikan kepada keluarga dan kepada penderita gangguan
jiwa itu sendiri, oleh karena itu sangat dibutuhkan kader kesehatan.
Pendidikan kesehatan menurut Gibson (2011) adalah sebagai proses
membantu orang untuk menegaskan pengkontrolan dari faktor yang
mempengaruhi kehidupan mereka. Proses tersebut meliputi rasa tanggung
jawab individu terhadap kesehatan maupun tanggung jawab secara meluas
seperti kelembagaan, organisasi atau masyarakat untuk mengajak bertanggung
jawab terhadap kesehatan diri mereka sendiri. Kader adalah seseorang yang
memiliki keterampilan dan kemahiran atau kecakapannya dipilih untuk
bertanggung jawab berperan dalam sebuah kegiatan masyarakat, contohnya
posyandu dan kegiatan lainnya. Seorang wanita berumur 20-40 tahun yang
sudah menikah serta memenuhi syarat yang sudah ditetapkan, bisa diangkat
menjadi kader. Kader kesehatan sangat berperan penting dalam proses
kesembuhan pasien gangguan jiwa, akan tetapi yang telihat bahwa kader
kesehatan lebih fokus terhadap penyakit jasmani dan tidak banyak yang
tanggap dengan gangguan jiwa. Oleh sebab itu perlunya dikembangkannya
model Community Mental Health Nurisng (CMHN). Peran CMHN salah
satunya adalah melakukan kunjungan ke rumah pasien yang mengalami
gangguan jiwa yang telah mandiri (Keliat, 2010). 10 Padahal peran kader
kesehatan sangat dibutuhkan guna proses kesembuhan pasien gangguan jiwa
karena nantinya kader akan memberikan penyuluhan kesehatan, melakukan
kunjungan ke rumah keluarga pasien yang telah mandiri dan pengawasan
minum obat. Maka perlu adanya pendidikan kesehatan yang diberikan kepada
kader sehingga dapat membentuk Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas
(KKJK).

BAB III
PEMBAHASAN KASUS

Kasus
Kasus 1 Tn. Sick usia 25 tahun sejak di PHK dari pabrik tempatnya bekerja
dia menjadi suka menyendiri dan tidak mau keluar rumah. Sejak 10 hari yang
lalu ia terus berteriak-teriak, membanting semua benda yang ada di dekatnya
dan berusaha memukul orang yang sedang berada di dekatnya. Sejak kejadian
itu keluarganya mengunci Tn. Sick didalam kamar dan tidak mengijinkan
orang menjenguknya.

Penjelasan :
Pasung adalah salah satu cara yang di gunakan oleh masyarakat khususnya di
daerah pedesaan yang pengetahuannya kurang, seperti yang di gunakan oleh
keluargannya Tn.sick sekarang ini untuk menghentikan tindakan Tn.sick yang
membahayakan orang lain. Menurut kelompok kami kurang setuju sebab
asung sebenarnya bukan satusatunya cara untuk menyembuhkan atau
menghentikan tindakan pasien yang sering brontak akibat mengalami
gangguan jiwa. Justru pasung akan memperparah keadaan dan kondisi pasien.
Pasien yang mengalami gangguan jiwa dan di pasung oleh keluargannya
karena menurutnya membahayakan orang lain seperti yang di alami T.Sick
sekarang ini seharusnya dirawat di rumah sakit jiwa, dikarenakan pasien
sudah melakukan kekerasan dan membahayakan orang di sekitarnya.
Kemudian di lanjutkan dengan rawat jalan (rumah) apabila keluarga sudah
benar-benar paham tentang keadaan yang di alami Tn.sick. untuk
menghilangkan praktek pasung pada keluarga Tn.sick perlu adanya kesadaran
dari pihak keluarga yang dapat di 11 intervensi dengan melakukan terapi
keluarga. Salah satu terapinya adalah psikoedukasi keluarga (family
psicoeducation) atau pemberian informasi dan edukasi melalui komunikasi
terapiutik yang bertujuan menurunkan intensitas emosi dalam keluarga,
meningkatkan pengetahuan tentang gejala penyimpangan perilaku sehingga
keluarga dapat mengerti, memahami dan mengsupport anggota keluargannya
yang mengalami gangguan sehingga pasien dapat lebih tenang, lebih membaik
tanpa di lakukannya pemasungan. Fenomena yang terjadi saat ini, jika ada
seorang anggota keluarga yang dinyatakan sakti jiwa, maka orang sakit jiwa
tersebut diasingkan atau dipasung supaya tidak menjadi aib bagi keluarga.
Tindakan memasung ini akan berdampak buruk pada pasien, selain itu
nantinya akan sulit untuk sembuh dan dapat mengalami kekambuhan yang
sangat sering. Hal ini perlu adanya dukungan dari keluarga dalam proses
penyembuhan. Peran dan keterlibatan keluarga dalam proses penyembuhan
dan perawatan pasien gangguan jiwa sangat penting, karena peran keluarga
sangat mendukung dalam proses pemulihan penderita gangguan jiwa.
Keluarga dapat mempengaruhi nilai, kepercayaan, sikap, dan perilaku anggota
keluarga. Disamping itu, keluarga mempunyai fungsi dasar seperti memberi
kasih sayang, rasa aman, rasa memiliki, dan menyiapkan peran dewasa
individu di masyarakat. Keluarga merupakan suatu sistem, maka jika terdapat
gangguan jiwa pada salah satu anggota keluarga maka dapat menyebabkan
gangguan jiwa pada anggota keluarga.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pasung adalah suatu tindakan memasang sebuah balok kayu pada
tangan dan/atau kaki seseorang, diikat atau dirantai, diasingkan pada suatu
tempat tersendiri di dalam rumah ataupun di hutan. Pemasungan bisa diartikan
sebagai segala tindakan yang dapat mengakibatkan kehilangan kebebasan
seseorang akibat tindakan pengikatan dan pengekangan fisik walaupun telah
ada larangan terhadap pemasungan. Penyebab pasung itu adalah sangat
rendahnya sumber daya manusia yang terlatih spesialis dan non spesialis
misalnya perawat, konselor termasuk pengasuh pasien. Para sumber daya
tenaga ini minim mendapatkan informasi dan pelatihan.

4.2 Saran
ODGJ dapat dicegah dan diatasi melibatkan peran aktif semua pihak,
yaitu melatih keterampilan keluarga dalam menangani ODGJ yang mengalami
masalah penyimpangan kesehatan dengan cara membawa ke pelayanan
kesehatan dan membentuk kader dari kelompok masyarakat yang sudah
dibentuk untuk penemuan kasus kejiwaan yang ada dimasyarakat dan
masyarakat dan keluarga diharapkan keluarga dapat meningkatkan rasa
kepedulian pada ODGJ dengan pasung dalam hal pemenuhan kebutuhan
perawatan diri ODGJ. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan terhadap penyembuhan pasien
ganggua jiwa, menghilangkan stigma yang negatif di masyarakat tentang
penderita gangguan jiwa.

DAFTAR PUSTAKA
Budaya Pasung dan Dampak Yuridis Sosiologis. Jurnal. Dikutip dari
http://ejournal.ijmsbm.org/index.php/ijms/article/download/21/21 pada tanggal 4
Agustus 2018 pukul 13.32

Faktor yang Paling Dominan terhadap Pemasungan Orangdengan Gangguan Jiwa di


Indonesia. Jurnal. Dikutip dari https://media.neliti.com/media/publication
s/20924-ID-faktor-yang-palingdominan-terhadap-pemasungan-orang-dengan-
gangguan-jiwa-di-ind.pdf pada tanggal 4 Agustus 23.32

Kecenderungan Atau Sikap Keluarga Penderita Gangguan Jiwa Terhadap Tindakan


Pasung. Jurnal. Dikutip dari http://ppnijateng.org/wp-content
/uploads/2014/09/3.-KECENDERUNGAN-ATAU-SIKAP-
KELUARGAPENDERITA-GANGGUAN-JIWA-TERHADAP-
TINDAKANPASUNG.pdf pada tanggal 4 Agustus pukul 23.38

Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Tentang Pencegahan Pasung Terhadap


Pengetahuan Dan Sikap Kader Kesehatan Di Desa Mancasan. Jurnal. Dikutip
darihttp://eprints.ums.ac.id/45003/28/02.%20NASKAH%20PUB
LIKASI%20Ayu.pdf pada tanggal 4 Agustus pukul 13.34