Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Apendisitis akut merupakan peradangan akut pada apendiks

vermiformis (umbai cacing) yang berlokasi dekat katub ileosekal dan

merupakan penyebab tersering nyeri abdomen akut dan memerlukan tindakan

bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya.

Sedangkan batasan apendisitis akut adalah apendisitis yang terjadi secara akut

yang memerlukan intervensi bedah (Sjamsuhidajat, 2011).

World Health Organization (WHO) memperkirakan insidensi

apendisitis di dunia tahun 2007 mencapai 7% dari keseluruhan jumlah

penduduk dunia. Di Amerika Serikat, setiap tahunnya dilaporkan sebanyak

250.000 kasus apendisitis per 1 juta pasien. Insidensi apendisitis akut telah

menurun terus sejak akhir tahun 1940, dimana kejadian apendisitis akut saat

ini yaitu 1,1 kasus per 1000 penduduk pertahun. Sedangkan di Negara Asia

dan Afrika, kejadian apendisitis akut lebih rendah karena penduduknya yang

memiliki kebiasaan untuk memakan makanan berserat (Craig, 2012).

Sementara untuk Indonesia sendiri apendisitis merupakan penyakit

dengan urutan keempat terbanyak pada tahun 2006. Data yang dirilis oleh

Departemen Kesehatan RI pada tahun 2008 jumlah penderita apendisitis di

1
2

Indonesia mencapai 591.819 orang dan meningkat pada tahun 2009 sebesar

596.132 orang. Kelompok usia yang umumnya mengalami apendisitis yaitu

pada usia antara 10-30 tahun. Dimana insidensi laki-laki lebih tinggi daripada

perempuan (Eylin, 2009).

Insidensi apendisitis di Bandar Lampung terbilang cukup tinggi.

Berdasarkan data yang diperoleh didapatkan bahwa pasien apendisitis tercatat

sebanyak 495 orang. Pasien tersebut terdiri dari pasien rawat jalan sebanyak

306 orang dan yang dirawat inap sebanyak 189 orang pada tahun 2010

(Humaera, 2016).

Angka mortalitas apendisitis secara keseluruhan adalah 0,2-0,8% yang

disebabkan oleh komplikasi pada intervensi bedah dan keterlambatan

diagnostic. Pada pasien anak, angka mortalitasnya 0,1%-1% sedangkan pada

pasien dengan usia diatas 70 tahun, angka mortalitasnya menjadi diatas 20%,

Insidensi perforasi lebih tinggi pada pasien usia <18 tahun dan >50 tahun, hal

ini kemungkinan terjadi terkait keterlambatan diagnosis dan terapi yang

kemudian meningkatkan resiko morbiditas dan mortalitas (Craig, 2012).

Untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada apendisitis

akut maka perlu dibuat diagnosis yang tepat. Diagnosis apendisitis ditegakkan

sebagian besar berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan

laboratorium sebagai pemeriksaan penunjang. Salah satu upaya untuk

mendiagnosis apendisitis akut secara mudah, cepat dan tidak invasive ialah

dengan menggunakan skor Alvarado (Rosai J, 2012).


3

Pada tahun 1986, Alfredo Alvarado membuat system skoring

sederhana untuk mendiagnosis apendisitis akut berdasarkan pada 8 faktor

yang umumnya didapatkan pada pasien apendisitis akut yaitu 3 gejala

diantaranya migrasi nyeri dari periumbilikalis atau epigastrium ke kuadran

kanan bawah abdomen, mual atau muntah, dan anoreksia, 3 tanda diantaranya

nyeri tekan pada kuadran kanan bawah, nyeri tekan lepas, dan meningkatnya

suhu tubuh >37,2ºC, dan 2 temuan laboratorium berupa leukositosis dan

pergeseran ke kiri netrofil >75%. Interpretasi skor Alvarado ditetapkan

dengan nilai skor <5 = Kemungkinan bukan apendisitis, skor 5-6 = Mungkin

Apendisitis, skor 7-8 = Kemungkinan besar apendisitis, skor 9-10 = Pasti

apendisitis (Winn R, 2004).

Penelitian ini menunjukan bahwa skor Alvarado berguna untuk

menentukan apakah seseorang perlu dirawat atau dapat dipulangkan. Dan

Sistem skor Alvarado dapat menjadi pedoman yang mudah dan murah untuk

dokter umum dalam menegakkan diagnosis apendisitis akut dan waktu yang

tepat merujuk pasien ke rumah sakit. Akan tetapi, pasien harus dipesan untuk

segera kembali ke rumah sakit untuk reevaluasi setelah 24 jam atau bila gejala

bertambah buruk (Chan MYP, 2003).

Sensitivitas dari skor Alvarado pada beberapa penelitian dilaporkan

73%-80% dengan spesifisitas sekitar 67%-82% dan negative appendectomy

rate 11,3% (Malla, 2014). Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa skor

Alvarado memiliki sensitivitas dan spesifitas yang rendah untuk mendiagnosa

pasien dengan kecurigaan apendisitis akut terutama pada pasien wanita


4

dengan usia produktif dan pasien anak-anak (Wilasrusmee, 2014). Penelitian

Tranggono (2000) tentang “Akurasi sistem skor Alvarado dalam menegakkan

diagnosa apendisitis akut” secara cross sectional retrospektif memperoleh

nilai spesifisitas 69,09%, nilai sensitifitas 71,43% dan ketepatan diagnostik

69,74%.

Berkenaan dengan adanya sistem skoring tersebut, peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian mengenai karakteristik pasien apendisitis akut

berdasarkan penilaian skor Alvarado di RS Pertamina Bintang Amin Bandar

Lampung tahun 2015-2016.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan diatas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah : “Bagaimana karakteristik pasien apendisitis akut

berdasarkan penilaian skor Alvarado di RS Pertamina Bintang Amin Bandar

Lampung tahun 2015-2016?”.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui karakteristik pasien apendisitis akut berdasarkan

penilaian skor Alvarado di RS Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung

tahun 2015-2016.
5

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

1.3.2.1 Untuk mengetahui distribusi frekuensi pasien apendisitis akut

berdasarkan umur, jenis kelamin di RS Pertamina Bintang

Amin Bandar Lampung tahun 2015-2016.

1.3.2.2 Untuk mengetahui penilaian skor Alvarado (gejala klinis,

pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium) pada

pasien apendisitis akut di RS Pertamina Bintang Amin Bandar

Lampung tahun 2015-2016.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Rumah Sakit

Memberi masukan dan informasi mengenai karakteristik pasien

apendisitis akut berdasarkan penilaian skor Alvarado di RS Pertamina

Bintang Amin Bandar Lampung tahun 2015-2016.

1.4.2 Bagi Peneliti Lain

Sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan

penelitian ilmiah terhadap karakteristik pasien apendisitis akut

berdasarkan penilaian skor Alvarado.

1.4.3 Bagi Peneliti

Memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana dan menambah

pengetahuan serta wawasan mengenai karakteristik pasien apendisitis

akut berdasarkan penilaian skor Alvarado.


6

1.4.4 Bagi Bidang Keilmuan

Dari hasil penelitian akan diketahui karakteristik pasien apendisitis

akut berdasarkan penilaian skor Alvarado sehingga dapat memperkaya

ilmu pengetahuan mengenai karakteristik pasien Apendisitis akut

berdasarkan penilaian skor Alvarado.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

1.5.1 Lingkup Judul

Judul pada penelitian ini adalah karakteristik pasien apendisitis akut

berdasarkan penilaian skor Alvarado di RS Pertamina Bintang Amin

Bandar Lampung tahun 2015-2016.

1.5.2 Lingkup Waktu

penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2017.

1.5.3 Lingkup Tempat

Tempat penelitian ini diambil di RS Pertamina Bintang Amin Bandar

Lampung.

1.5.4 Lingkup Masalah

Permasalahan ini tentang karakteristik pasien apendisitis akut

berdasarkan penilaian skor Alvarado di RS Pertamina Bintang Amin

Bandar Lampung tahun 2015-2016.

1.5.5 Lingkup Sasaran

Seluruh pasien apendisitis akut di RS Pertamina Bintang Amin Bandar

Lampung tahun 2015-2016.