Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN

1. KONSEP DASAR PENYAKIT

A. PENGERTIAN

Syok adalah kondisi kehilangan volume darah sirkulasi efektif. Kemudian diikuti
dengan perubahan perfusi jaringan dan organ yang tidak adekuat, yang akibat akhirnya
gangguan metabolic selular.

Syok hipovolemik merupakan penurunan volume darah intravaskuler yang


menyebabkan disfungsi sirkulasi dan perfusi jaringan yang tidak adekuat sehingga
mengakibatkan kehilangan darah, plasma atau cairan.

Syok umumnya disebabkan oleh perdarahan. Perdarahan mengurangi volume cairan


sirkulasi sampai kebutuhan metabolic tubuh tidak terpenuhi. Fenomena ini dikenal
sebagai syok hipovolemik. Pasien yang mengalami syok hipovolemik adalah mereka
yang menderita hemotoraks, kehamilan ektopik, sehabis persalinan (kurang dari 36 jam),
sifat hemophilia, aneurisma aorta, prosedur bedah invasive seperti pintas vaskuler,
reseksi perineal abdominal, atau pneumonektomi.

Syok hipovolemik ditandai dengan penurunan volume intravascular. Cairan tubuh


terkandung dalam kompartemen intraselular dan ekstraselular. CIS menempati hampir
dua pertiga dari air tubuh total. CES ditemukan dalam salah satu komprtemen:
intravascular (didalam pembuluh darah) dan interstisial (di sekitar jaringan). Volume
cairan interstisialadalah kira-kira tiga sampai empat kali dari cairan intravascular. Syok
hipovolemik terjadi ketika terjadi penurunan volume intravascular 15% sampai 25%. Hal
ini akan menggambarkan kehilangan 750 ml sampai 1300 ml darah pada pria dengan
berat badan 70 kg.

Syok hipovolemik dapat disebabkan oleh kehilangan cairan eksternal seperti dalam
hemoragi, atau perpindahan cairan internal seperti pada dehidrasi hebat, edema berat atau
asites. Volume intravascular dapat menurun baik melalui kehilangan cairan dan
perpindahan cairan antara kompartemen intravascular dan interstisial.

Urutan peristiwa dalam syok hipovolemik dimulai dengan penurunan dalam volume
intravaskuler. Hal ini diakibatkan oleh penurunan arus balik darah vena ke jantung dan
akibat lanjut penurunan pengisian ventricular. Penurunan pengisian ventricular
mengakibatkan penurunan sekuncup (jumlah dipompakan dari jantung) dan penurunan
curah jantung. Ketika curah jantung menurun, tekanan darah juga menurun, dan jaringan
tidak dapat diperfusi secara adekuat.

B. ETIOLOGI
1. Perdarahan
Perdarahan merupakan penyebab tersering dari syok pada pasien-pasien
trauma, baik oleh karena perdarahan yang terlihat maupun perdarahan yang tidak
terlihat. Perdarahan yang terlihat, perdarahan dari luka, atau hematemesis dari
tukak lambung. Perdarahan yang tidak terlihat, misalnya perdarahan dari saluran
cerna, seperti tukak duodenum, cedera limpa, kehamilan di luar uterus, patah
tulang pelvis, dan patah tulang besar atau majemuk.
2. Trauma
3. Kehamilan ektopik terganggu
4. Luka bakar yang berat
5. Keadaan dehidrasi karena mual,muntah, diare, diaforesis yang berlebihan atau
pengisapan nasogastik

C. MANIFESTASI KLINIS
1. Pucat, kulit dingin, dan vena kulit kolaps akibat penurunan pengisian kapiler selalu
berkaitan dengan berkurangnya perfusi jaringan.
2. Takikardia karena peningkatan laju jantung dan kontraktilitas adalah respon
homeostasis penting untuk hipovolemia. Peningkatan kecepatan aliran darah ke
homeostasis penting untuk hipovolemia. Peningkatan kecepatan aliran darah ke
mikrosirkulasi berfungsi mengurangi asidosis jaringan.
3. Hipotensi karena tekanan darah adalah produk resistensi pembuluh darah sistemik
dan curah jantung, vasokontriksi perifer adalah faktor yang esensial dalam
mempertahankan tekanan darah. Autoregulasi aliran darah otak dapat dipertahankan
selama tekanan arteri turun tidak dibawah 70 mmHg.
4. Perubahan tingkat kesadaran
5. Meningkatnya pulsasi, dingin, kulit basah, pucat, diaphoresis, perubahan sensoris,
oliguria, asidosis metabolik dan hiperpnea.
6. Oliguria: produksi urin umumnya akan berkurang pada syok hipovolemik. Oliguria
pada orang dewasa terjadi jika jumlah urin kurang dari 30ml/jam.

D. PATOFISIOLOGI
Ketika cairan keluar dari ruang intravascular, aliran balik vena ke jantung akan
menurun. Penurunan pengisian ulang ventrikel ini akan menyebabkan penurunan drastis
volume sekuncup. Curah jantung akan menurun drastis menyebabkan penurunan perfusi
ke jaringan dan organ. Jaringan yang anoksia tersebut mulai mengganti metabolisme
selular dari jalur aerob menjadi anaerob. Proses ini menghasilkan akumulasi asam laktat
yang mengakibatkan asidosis metabolik.

E. KOMPLIKASI
1. Sindrom gawat napas akut
2. Nekrosis tubular akut dan gagal ginjal
3. Koagulasi intravaskuler diseminata
4. Disfungsi organ multipel

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
a) Hematokrit rendah dan kadar hemoglobin serta hitung sel darah merah dan
trombosit mengalami penurunan
b) Kadar natrium, kalium, laktat dehirogenase, kreatinin dalam serum dan kadar
BUN mengalami peningkatan
c) Berat jenis urin dan osmolalitas urin meningkat
d) pH dan rerata tekanan arteri oksigen menurun, dan tekanan rerata arteri karbon
dioksida mengalami peningkatan
e) Aspirasi isi lambung melalui slang nasogatrik mengidentifikasi adanya
perdarahan internal
f) Pemeriksaan darah samar positif
g) Pemeriksaan koagulasi memperlihatkan adanya koagulapati akibat koagulasi
intravaskuler diseminata.

2. Pencitraan
Pemeriksaan foto toraks atau ronsen pada abdomen membantu mengidentifikasi
area perdarahan internal.

3. Prosedur diagnostic
 Gastroskopi membantu mengidentfikasi area perdarahan internal
 Monitoring hemodinamik invasif memperlihatkan penurunan tekanan vena
sentral, tekanan atrium ksnsn, tekanan arteri pulmonal, tekanan baji arteri
pulmonal dan curah jantung.

G. PENATALAKSANAAN
1. Pastikan jalan napas pasien, napas, dan sirkulasi dipertahankan. Beri bantuan
ventilator tambahan sesuai kebutuhan
2. Perbaiki volume darah sirkulasi dengan penggantian cairan dan darah sesuai
kebutuhan untuk mengoptimalkan preload jantung, memperbaiki hipotensi, dan
mempertahankan perfusi jaringan melalui pemasangan kateter tekanan vena sentral
sebagai petunjuk penggantian cairan serta dua atau lebih kateter IV untuk pergantian
cairan cepat dan pengembalian ketidakstabilan hemodinamik,
3. Mulai infus IV dengan cepat sampai CVP meningkat pada tingkat yang memuaskan
diatas pengukuran dasar atau samapai terdapat perbaikan pada kondisi klinis pasien
4. Pasang kateter urin tidak menetap: catat haluaran urine 15-30 menit, volume urin
menunjukan keadekuatan perfusi ginjal
5. Tinggikan kaki sedikit untuk memperbaiki sirkulasi serebral lebih baik dan
mendorong aliran darah vena kembali ke jantung ( posisi ini kontraindikasi pada
pasien dengan cedera kepala)
6. Berikan obat inotropik (ex: Dopamin), untuk meningkatkan kerja kardiovaskuler
7. Lakukan pemeriksaan fisik cepat untuk mengetahui penyebab syok

2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Anamneses (data biografi)
a. Identitas
 Umur
Dapat mengenai semua usia namun lebih sering dan tidak dapat ditoleransi
pada lansia
 Jenis kelamin
Menyerang individu pria dan wanita dengan perbandingan yang seimbang

b. Riwayat sakit dan kesehatan


 Keluhan utama : Klien mengeluh lemah
 Riwayat penyakit dahulu : Perdarahan, obstruksi intestinal, luka bakar,
peritonitis, pancreatitis akut, asites, dehidrasi, penyalahgunaan diuretik
 Riwayat penyakit sekarang : Pucat, kulit dingin, vena kulit kolaps,
takikardi, hipotensi, perubahan tingkat kesadaran, oliguria.
 Riwayat psikososial : Klien cemas, gelisah.

2. Pemeriksaan fisik
a. Breathing: hiperpnea, cyanosis
b. Blood: peningkatan pulsasi, hipotermi, penurunan tekanan darah, dan kegagalan
sirkulasi.
c. Brain: gelisah, penurunan kesadaran, lemah
d. Bladder: oliguria
e. Bowel: -
f. Bone : -

3. Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium
a. Hematokrit rendah dan kadar hemoglobin serta hitung sel darah merah dan
trombosit mengalami penurunan
b. Kadar natrium, kalium, laktat dehirogenase, kreatinin dalam serum dan
kadar BUN mengalami peningkatan
c. Berat jenis urin dan osmolalitas urin meningkat
d. pH dan rerata tekanan arteri oksigen menurun, dan tekanan rerata arteri
karbon dioksida mengalami peningkatan
e. Aspirasi isi lambung melalui slang nasogatrik mengidentifikasi adanya
perdarahan internal
f. Pemeriksaan darah samar positif
g. Pemeriksaan koagulasi memperlihatkan adanya koagulapati akibat
koagulasi intravaskuler diseminata.

2. Pencitraan
Pemeriksaan foto toraks atau ronsen pada abdomen membantu mengidentifikasi
area perdarahan internal.
3. Prosedur diagnostic
 Gastroskopi membantu mengidentfikasi area perdarahan internal
 Monitoring hemodinamik invasif memperlihatkan penurunan tekanan vena
sentral, tekanan atrium kanan, tekanan arteri pulmonal, tekanan baji arteri
pulmonal dan curah jantung.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan penurunan permeabilitas kapiler dan
kehilangan sekunder.
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan aliran darah
sekunder.
3. Perubahan perfusi ginjal berhubungan dengan penurunan suplai darah ke jaringan
ginjal.
4. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan peningkatan sirkulasi sistemik.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan penurunan permeabilitas kapiler dan
kehilangan sekunder ditandai dengan penurunan berat badan, kulit/membran mukosa
kering, urin memekat, peningkatan natrium serum, penurunan turgor kulit.
Goal : Pasien menunjukan volume cairan adekuat.
Objektif : Tidak terjadi penurunan permeabilitas kapiler dan kehilangan sekunder
Outcomes : Setelah dilakukan intervensi keperawatan 1x7 jam pasien menunjukkan:
 Mukosa lembab
 Berat badan normal
 Turgor kulit normal
 Haluaran urin 1cc/kgbb
 Natrium serum 135-145

Intervensi :

1. Lakukan pemasangan jalur IV line pada daerah ektrimitas atas dan bawah.
R/ Sebagai jalur resusitasi cairan yang cepat untuk memperbaiki volume darah
sirkulasi dengan penggantian cairan dan darah sesuai kebutuhan untuk
mengoptimalkan preload jantung.
2. Pasang kateter urin tidak menetap
R/ Untuk memantau haluaran urin dan memontitor keadekuatan perfusi ginjal.
3. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian:
 Pemasangan kateter IV
R/ Petunjuk penggantian cairan serta dua atau lebih kateter Iv untuk
pergantian cairan cepat dan pengembalian ketidakstabilan hemodinamik.
 Ringer laktat: digunakan
R/ RL digunakan Pada awal penanganan karena cairan ini mendekati
komposisi elektrolit plasma.
 Tranfusi komponen darah sesuai program
R/ Meningkatkan volume intravaskuler
4. Observasi tanda-tanda dehidrasi (mukosa kering, turgor kulit menurun, oliguri),
dan keseimbangan cairan.
R/ Kehilangan cairan akan berdampak pada mukosa yang kering, turgor kulit
yang turun, dan oliguri karena sedikitnya cairan tubuh yang dapat dikeluarkan
oleh ginjal, cairan yang masuk dalam tubuh harus disesuaikan dengan kebutuhan
normal. Haluaran urine yang buruk dapat mengindikasikan ketidakadekuatan
terapi cairan.
2. Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan aliran darah
sekunder ditandai dengan penurunan tekanan darah, pucat, sianosis, akral dingin,
CRT > 3 detik.
Goal : Pasien menunjukan perfusi perifer optimal
Objektif : Gangguan aliran darah teratasi.
Outcomes : Setelah dilakukan intervensi keperawatan 1x7 jam pasien menunjukkan:
 Tekanan darah dalam rentang normal: 110/70-140/90 mmHg.
 Tidak pucat dan sianosis
 Akral hangat
 CRT<3 detik

Intervensi :

1. Pertahankan pergantian cairan sesuai instruksi.


R/ Memaksimalkan volume sirkulasi dan perfusi jaringan
2. Awasi elektrolit khususnya natrium, kalium, dan kalsium.
R/ Kehilangan/perpindahan elektrolit ini mempengaruhi potensial/eksitabilitas
membran mukosa, sehingga mengubah konduksi miokard, potensial risiko ,
disritmia, dan menurunkan curah jantung/perfusi jaringan.
3. Observasi tekanan darah, keadaan umum, CRT.
R/ Untuk mengetahui keberhasilan tindakan keperawatan.
D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi disesuaikan dengan intervensi yang sudah ditetapkan pada
perencanaan keperawatan.
E. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi keperawatan dilakukan untuk menilai apakah masalah keperawatan telah
teratasi, tidak teraftasi atau teratasi sebagian dengan mengacu pada kriteria evaluasi.