Anda di halaman 1dari 20

PROPOSAL

PUSAT KULINER TRADISIONAL


DI SURAKARTA

TUGAS AKHIR

Diajukan sebagai Syarat untuk Mencapai


Gelar Sarjana Arsitektur
Universitas Sebelas Maret

Disusun Oleh :
Muhammad Habibbullah
NIM I0214063

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
TAHUN 2017

1
PUSAT KULINER TRADISIONAL
DI SURAKARTA

Disusun Oleh :
Muhammad Habibbullah
NIM I0214063

Menyetujui,
Surakarta,

Pembimbing II Pembimbing I

Ofita Purwani, S.T., M.T., Ph.D. Dr. Ir. Mohamad Muqoffa, M.T.
NIP: 19741105 200003 2 001 NIP: 19620610 199103 1 001

Mengesahkan,

Kepala Program Studi Arsitektur


FakultasTeknik

Amin Sumadyo, S.T., M.T.


NIP: 19720811 200012 1 001

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
TAHUN 2017

2
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..................................................................................................................................... 3

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................................ 5

DAFTAR TABEL............................................................................................................................. 5

DEKLARASI KEASLIAN .............................................................................................................. 6

A. Pengertian Judul ...................................................................................................................... 7

1. Pasar ........................................................................................ Error! Bookmark not defined.

2. Kuliner Tradisional ................................................................................................................ 7

3. Pasar Kuliner Tradisional di Surakarta .................................................................................. 7

B. Latar Belakang ......................................................................................................................... 7

C. Permasalahan dan Persoalan ................................................................................................ 12

1. Permasalahan........................................................................................................................ 12

2. Persoalan .............................................................................................................................. 12

D. Tujuan dan Sasaran ............................................................................................................... 12

1. Tujuan .................................................................................................................................. 12

2. Sasaran ................................................................................................................................. 12

E. Batasan dan Lingkup Pembahasan ...................................................................................... 13

F. Metode ..................................................................................................................................... 13

1. Konstruksi Gagasan.......................................................................................................... 13
2. Perumusan Masalah.......................................................................................................... 13
3. Pengumpulan Data ........................................................................................................... 14
4. Analisis ............................................................................................................................. 14
5. Sintesis/ Tahap Penyusunan Konsep ................................................................................ 15
6. Studio Perancangan .......................................................................................................... 15
G. Sistematika .......................................................................................................................... 17

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 17


BAB II KAJIAN PUSTAKA ................................................................................................... 17
BAB III TINJAUAN KOTA SURAKARTA SEBAGAI LOKASI PASAR KULINER
TRADISIONAL ....................................................................................................................... 17
BAB IV ANALISIS KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PASAR
KULINER TRADISIONAL DI SURAKARTA ...................................................................... 17

3
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PASAR KULINER
TRADISIONAL DI SURAKARTA ........................................................................................ 18
BAB VI STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR ............................................................ 18
Daftar Pustaka ................................................................................................................................ 19

4
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Negara Indonesia yang kaya akan pulau-pulau ................................................................ 8

Gambar 2. Potensi kuliner tradisional Indonesia................................................................................ 9

Gambar 3. Peta Wisata Kuliner Tradisional Surakarta .................................................................... 10

Gambar 4. Bagan Metode perencanaan dan perancangan Pasar Kuliner ......................................... 16

DAFTAR TABEL
-

5
DEKLARASI KEASLIAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini,


Nama : Muhammad Habibbullah
NIM : I0214063
Menyatakan bahwa hasil karya ini adalah buatan saya sendiri dan bahwa semua
kutipan yang digunakan dalam karya ilmiah ini telah saya perlakukan sebagaimana
mestinya sesuai dengan standard ilmiah yang berlaku. Jika suatu hari ditemukan adanya
plagiasi dalam karya ilmiah ini, saya bersedia untuk menerima sanksi sesuai dengan aturan
yang berlaku.

Tempat, tanggal

MeteraiRp. 3000

(Nama lengkap)

6
PUSAT KULINER TRADISIONAL DI SURAKARTA

A. Pengertian Judul
1. Kuliner Tradisional
Kuliner tradisional sering didefinisikan sebagai makanan atau minuman
yang menunjukkan karakteristik dan nilai yang ada di dalam suatu daerah
tertentu. Dapat berupa nilai sejarah, nilai budaya, atau kepercayan (Adiasih &
Brahmana, 2015).
2. Pusat Kuliner Tradisional di Surakarta
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat diambil pengertian bahwa Pusat
Kuliner Tradisional adalah suatu wadah atau tempat yang digunakan untuk
berbagai aktivitas yang berkaitan dengan makanan atau minuman yang
menunjukkan karakteristik dan nilai yang ada di dalam suatu daerah tertentu.
Dapat berupa nilai sejarah, nilai budaya, atau kepercayan.
Kegiatan yang diwadahi di Pusat Kuliner Tradisional dapat berupa jual beli,
pengolahan, workshop, hingga seminar dan festival kuliner tradisional. Pusat
Kuliner Tradisional tersebut berlokasi di Surakarta, salah satu kota di Jawa
Tengah dengan nilai budaya dan artefak sejarah yang masih terpelihara dengan
baik.

B. Latar Belakang
Pariwisata adalah salah satu sumber utama devisa Indonesia. Pariwisata
menempati urutan kedua penyumbang devisa terbesar setelah perkebunan kelapa
sawit, menyusul di bawahnya migas dan batu bara (Sya, 2017). Itu artinya,
pariwisata menempati kedudukan penting dalam pendapatan devisa negara.
Majunya pariwisata Indonesia akan mendorong pendapatan devisa yang lebih besar
pula, sehingga mampu mempercepat laju pembangunan nasional Indonesia sebagai
salah satu negara berkembang.
Dalam hal penyerapan tenaga kerja, sektor pariwisata pada tahun 2014
mampu menyerap 8,3 juta tenaga kerja dari 114,6 juta tenaga kerja nasional
(Maulana, 2016). Artinya, penyerapan tenaga kerja di sektor pariwisata mencapai
9 % dari total tenaga kerja nasional. Jumlah ini masih tergolong kecil dibandingkan
sektor pertanian (40,8 juta orang) dan perdagangan (25,8 juta orang). Sebagai
sektor penyumbang devisa terbesar, pariwisata seharusnya mampu berkembang

7
sejalan dengan sumbang asihnya dalam memenuhi kebutuhan lapangan kerja di
tanah air. Terserapnya tenaga kerja akan menekan jumlah pengangguran. Semakin
sedikitnya pengangguran di tanah air akan mempercepat pembangunan nasional.
Oleh karenanya, pengembangan pariwisata perlu dilakukan dengan tepat guna
mempercepat pembangunan nasional Indonesia.
Pengembangan pariwisata Indonesia telah didukung dengan kekayaan
potensi pariwisata berupa alam dan budaya. Dalam hal potensi alam sendiri
Indonesia memiliki 13.466 pulau yang telah berkoordinat (Badan Informasi
Geospasial, 2014), sedangkan potensi budaya Indonesia memiliki 1331 suku
dengan berbagai karakteristik budayanya masing-masing (Badan Pusat Statistik,
2016). Dari sekian banyak potensi pariwisata di Indonesia tersebut, terdapat satu
potensi yang sangat prospektif untuk dikembangkan. Potensi tersebut adalah
kuliner tradisional.
Prospek kuliner di Indonesia juga disampaikan oleh presiden kelima
Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat acara peresmian
Pasar Wisata Tawangmangu pada 2009 silam. Menurut SBY, sejalan dengan
peertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi Indonesia yang semakin
meningkat maka menjadikan kebutuhan primer masyarakat juga meningkat,
diantaranya adalah makanan dan minuman. Apabila tempat berjualannya ditata
dengan baik, dibuat lebih indah, bersih, makanannya enak, hampir dipastikan
mampu berkembang dengan baik (“Presiden,” 2009). Terlebih lagi makanan
tradisional yang tidak hanya unggul dalam rasa dan macamnya, namun juga nilai
budaya dan sejarahnya.

Gambar 1. Negara Indonesia yang kaya akan pulau-pulau


Sumber: M.T. Zen, 2016

Prospek kuliner tradisional sebagai atraksi wisata juga dapat dilihat dari
berbagai makanan mancanegara yang telah mendunia. Sebagai contoh adalah sushi

8
dan kue mochi dari Jepang. Kedua makanan tersebut menjadi menarik karena
proses pembuatan, rasa, warna dan bentuknya yang khas. Contoh lain adalah
Kebab dari Turki yang juga memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya
dengan makanan dari daerah lain. Contoh lain lagi adalah pizza dari Italia yang
telah menjadi makanan yang mendunia, meski demikian tetap tidak
menghilangkannya sebagai salah satu daya tarik wisata di negaranya.
Kuliner tradisional Indonesia tak kalah dengan kuliner dari negara-negara
lain, bahkan Indonesia memiliki kekayaan kuliner tradisional lebih banyak yang
tersebar di berbagai daerah. Salah satu daerah yang kaya akan potensi wisata
kuliner tradisional adalah di Surakarta.
Pengembangan Surakarta dalam pariwisata sendiri telah diatur dalam Perda
No. 13 Tahun 2016 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah
Tahun 2016 -2026. Berkenaan dengan topik yang diangkat, wisata kuliner sendiri
termasuk ke dalam Kawasan Strategis Pariwisata Daerah (KSPD) yang menjadi
salah satu daya tarik wisata hasil buatan manusia sebagaimana tercantum dalam
Pasal 13 No.3 huruf h, ditambah pada bagian penjelasan.
Potensi kuliner di Surakarta tidak hanya sekadar beragam dan unik,
beberapa bahkan masih memiliki karakter budaya dan nilai sejarah yang kuat.
Artinya, atraksi wisata berupa kuliner tradisional tidak hanya sekadar tentang
kuliner, namun sekaligus wisata budaya. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan
kepariwisataan Surakarta, yaitu “Mengedepankan nilai-nilai budaya, kearifan lokal
dan kreativitas masyarakat menuju masyarakat mandiri, maju dan sejahtera”(Perda
Kota Surakarta Nomor 13 Tahun 2016 tentang Rencana Induk Pembangunan
Kepariwisataan Daerah Tahun 2016 -2026, 2016).

Gambar 2. Potensi kuliner tradisional Indonesia


Sumber: Poerwanto, 2016

9
Terdapat cukup banyak kuliner tradisional di Surakarta yang dapat diangkat
menjadi atraksi wisata. Kuliner tradisional tersebut meliputi jajanan, makanan
berat, serta minuman. Diantara kuliner tradisional tersebut adalah : Gudeg Ceker,
Tengkleng Kambing, Nasi Liwet, Timlo Solo, Sate Kere, Sate Buntel, Pecel Ndeso,
Soto Gading, Serabi Solo, Wedang Dongo, dan masih banyak lagi. Seluruhnya
tersebar di berbagai tempat. Tersebarnya lokasi kuliner tersebut memiliki sisi
positif, yakni wisatawan dapat pengalaman baru dengan datang langsung ke tempat
produksinya. Hal ini dapat memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan, akan
tetapi hal ini justru menjadi kendala bagi para wisatawan yang memiliki waktu
terbatas dalam kunjungannya. Keadaan tersebut dapat menjadi kendala dalam
promosi pariwisata di Surakarta.

Gambar 3. Peta Wisata Kuliner Tradisional Surakarta


Sumber: Saeroji & Wijaya, 2017

Surakarta sendiri telah memiliki sebuah tempat wisata yang bertemakan


kuliner yang diberi nama Gladak Langen Bogan (Galabo). Wisata Kuliner Galabo
menawarkan wisata kuliner tradisional khas Surakarta. Sekarang, kuliner di Galabo
ini mulai ditinggalkan oleh pengunjung lantaran dianggap mulai tidak adaptif
dengan perkembangan zaman. Wisata kuliner di Galabo terkesan hanya untuk
datang dan makan, padahal pariwisata perlu menampilkan atraksi yang variatif agar
tetap eksis. Di samping itu, kondisi kebersihan yang kurang terjaga serta
fasilitasnya yang minim juga menjadi penyebab wisata kuliner Galabo kurang
diminati. Oleh karenanya, perlu disediakan sebuah pusat kuliner tradisional yang

10
mampu menawarkan atraksi yang variatif agar tidak ditinggalkan oleh
pengunjungnya, serta memiliki sarana prasarana yang lebih memadai.
Pusat kuliner tradisional tersebut selayaknya diwujudkan sesuai dengan visi
dan misi pembangunan kepariwisataan Surakarta, yakni mengedepankan nilai-nilai
budaya, kearifan lokal dan kreativitas masyarakat menuju masyarakat mandiri,
maju dan sejahtera.
Pusat kuliner tradisional ini didesain sekaligus sebagai balai konservasi
kuliner tradisional Surakarta. Konservasi kuliner tradisional di Surakarta perlu
dilakukan, mengingat eksistensi kuliner tradisional mulai tergeser dengan
munculnya makanan modern yang beraneka ragam dan lebih praktis dalam
penyajian. Di dalam Pusat kuliner tradisional ini, wisatawan tidak hanya dapat
melihat, mencicipi, dan bertransaksi berbagai kuliner tradisional, namun juga dapat
mengetahui berbagai nilai budaya dan sejarah terkait kuliner tersebut. Selain itu,
wisatawan juga dapat mengikuti proses pembuatan berbagai kuliner. Hal ini
menjadikan wisata kuliner tidak terkesan hanya datang dan makan, namun juga
mampu menghadirkan nilai edukasi.
Untuk memperkuat karakter unsur kebudayaan Jawa pada bangunannya,
Pusat Kuliner Tradisional di Surakarta ini didesain dengan mengadopsi gaya
arsitektur bangunan Rumah Jawa Tradisional. Beberapa komponen yang diolah
pada Pasar Kuliner Tradisional adalah tata ruang, material konstruksi, struktur,
serta ornamen bangunan. Komponen-komponen tersebut didesain dengan
mengadopsi gaya arsitektur Rumah Jawa Tradisional. Pengadopsian ini disesuaikan
dengan kegiatan dan kebutuhan wadah. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan di Pusat
Kuliner Tradisional mampu diwadahi dengan maksimal, namun tetap mampu
memberikan nilai authenticity pada bangunan.
Pusat Kuliner Tradisional juga dibangun dengan tetap mengadopsi
komponen bangunan modern. Hal ini sebagai bentuk respon terhadap
perkembangan teknologi yang dimaksudkan untuk memberi keamanan dan
kenyamanan kepada pengguna. Pemberian komponen bangunan modern ini
didesain tidak terlalu mencolok agar tidak merusak nilai authenticity pada
bangunan.

11
C. Permasalahan dan Persoalan
1. Permasalahan
Bagaimana konsep perencanaan dan perancangan sebuah Pusat Kuliner
Tradisional yang mengekspresikan karakter Kuliner Tradisional di Surakarta.

2. Persoalan
a. Bagaimana rencana dan rancangan bangunan Pusat Kuliner Tradisional yang
mengakomodasi kegiatan jual beli, pengolahan, workshop, seminar dan
festival kuliner tradisional, serta aktivitas konservasi makanan tradisional di
Surakarta?
b. Bagaimana rencana dan rancangan Pusat Kuliner Tradisional yang
mengadopsi tata ruang, material konstruksi, struktur, serta ornamen Rumah
Jawa Tradisional?
c. Bagaimana pengadopsian komponen Rumah Jawa Tradisional yang
dipadukan dengan komponen bangunan modern pada Pusat Kuliner
Tradisional di Surakarta?

D. Tujuan dan Sasaran


1. Tujuan
Proyek tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sebuah
Pusat Kuliner Tradisional yang mewadahi berbagai kegiatan terkait kuliner
tradisional termasuk sebagai balai konservasi kuliner tradisional di Surakarta
yang mengadopsi gaya arsitektur Rumah Jawa.
2. Sasaran
a. Rencana dan rancangan bangunan Pusat Kuliner Tradisional yang
mengakomodasi kegiatan jual beli, pengolahan, workshop, seminar dan
festival kuliner tradisional, serta aktivitas konservasi makanan tradisional di
Surakarta.
b. Rencana dan rancangan Pusat Kuliner Tradisional yang mengadopsi tata
ruang, material konstruksi, struktur, serta ornamen Rumah Jawa Tradisional.
c. Pengadopsian komponen Rumah Jawa Tradisional yang dipadukan dengan
komponen bangunan modern pada Pusat Kuliner Tradisional di Surakarta.

12
E. Batasan dan Lingkup Pembahasan
Penyelesaian permasalahan dan persoalan dalam tugas akhir ini hanya
meliputi pembahasan di wilayah disiplin ilmu arsitektur. Hal-hal di luar disiplin
ilmu arsitektur hanya sebagai pelengkap dalam pertimbangan desain, sehingga
tidak dibahas terlalu detail. Hal tersebut dilakukan agar pembahasan dapat
dilakukan lebih fokus, sehingga mampu memecahkan permasalahan dan persoalan
yang ada.
Pusat Kuliner Tradisional di Surakarta didesain dengan mempertimbangkan
proyeksi dua puluh tahun ke depan, meliputi langgam arsitektur Rumah Jawa
Bangsawan Kraton Kasunanan Surakarta, struktur dan teknologi bangunan, serta
kebutuhan pengguna.

F. Metode
Metode perencanaan dan perancangan Pusat Kuliner Tradisional di
Surakarta ini meliputi beberapa tahap sebagai berikut:
1. Konstruksi Gagasan
Tahap ini berisi penjabaran dan pembahasan tentang kelayakan obyek yang
dibuat. Substansi pada tahap ini adalah mengenai isu pariwisata Indonesia
yang memiliki urgensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Di antara potensi
yang dapat menjadi andalan adalah kuliner tradisional di Surakarta. Diperlukan
wadah berupa pusat kuliner sekaligus balai konservasi kuliner tradisional
sebagai salah satu unsur kekayaan budaya. Hal mengenai kriteria pendekatan
rancang bangun pasar juga disampaikan pada tahap ini, guna menemukan
konsep yang lebih terpadu.
2. Perumusan Masalah
Tahap ini merupakan proses identifikasi masalah dan persoalan yang
mengarahkan pada solusi yang perlu diambil dalam desain. Rumusan masalah
dimulai dari isu-isu makro dalam hal pariwisata Indonesia dan dunia. Setelah
itu, masuk ke isu messo terkait wilayah Kota Surakarta yang merupakan kota
budaya yang kaya akan potensi pariwisata, kemudian masuk ke lingkup mikro,
berupa obyek bangunan dan eksisting tapak (ruang, massa, akses, bentang
alam, sosial masyarakat, dll).

13
3. Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan tahap dikumpulkannya berbagai data fisik dan
nonfisik di lapangan serta berbagai referensi dan teori. kesemuanya itu adalah
alat untuk melakukan analisa permasalahan dan persoalan. Data yang
terkumpul dapat bersifat kuantitatif maupun kualitatif tergantung pada tingkat
urgensinya.
Cara memperolah data dan referensi dapat melalui studi literatur, atau survey
langsung ke lapangan. Dapat juga diperoleh melalui wawancara dengan
masyarakat atau pihak yang bersangkutan dengan masalah yang diangkat.
Dilihat dari cara mendapatkannya, data dapat dibagi menjadi dua jenis:
a. Data Primer
Data yang diperoleh langsung dari sumber data (peneliti sebagai tangan
pertama). Cara mendapatkannya adalah dengan observasi pada obyek, atau
wawancara dengan masyarakat atau pihak yang bersangkutan.
b. Data Sekunder
Data yang diperoleh peneliti dari studi literatur. Data sekunder didapat dari
buku, jurnal penelitian, artikel, atau data dari badan resmi semisal
pemerintah kota, kementrian, DPRD, Dinas PU, dll. Data sekunder dapat
berbentuk Undang-Undang, Perda, Perpu, Permen dll. Data sekunder bisa
pula berasal dari preseden bangunan yang telah terbangun. Preseden
berfungsi sebagai perbandingan desain, sehingga desain yang akan dibuat
tidak mengulang kesalahan yang sama, atau dapat mengadopsi hal positif
dari obyek preseden.
4. Analisis
Analisis adalah tahap pembahasan data yang telah dikumpulkan pada tahap
sebelumnya. Referensi dan teori yang telah didapat dalam studi literatur
berfungsi alat untuk menganalisi. Literatur dan teori yang digunakan bisa yang
secara langsung mengarah pada bidang arsitektur atau yang sekadar
mendukung kea rah hal yang arsitektural, tergantung urgensinya. Teori yang
digunakan semaksimalnya mampu mengarahkan analisis pada penyediaan
lingkungan fisik yang akan didesain. Tujuan analisis ini adalah mengetahui
lebih rinci mengenasi permasalahan yang dihadapi, serta mendapatkan
pemecahan yang tepat terhadapnya.

14
5. Sintesis/ Tahap Penyusunan Konsep
Sintesis merupakan tahap akumulasi dari hasil analisis. Tahap ini mengarah
pada didapatkannya rumusan konsep desain.
6. Studio Perancangan
Studio perancangan adalah tahap akhir dari proses perencanaan dan
perancangan. Pada tahap ini, konsep yang telah terumuskan dibuat
transformasi desain. Transformasi desain tersebut memiliki fungsi sebagai
gambaran awal membuat gambar kerja dan desain final. Proses selanjutnya
adalah pembuatan gambar kerja dan 3D desain. Gambar kerja dan 3D desain
adalah acuan untuk pelaksanaan pembangunan.

15
Gambar 4. Bagan Metode perencanaan dan perancangan Pasar Kuliner
Tradisional di Surakarta
Sumber: Data Pribadi, 2017

16
G. Sistematika
Sistematika penulisan konsep perencanaan dan perancangan Pusat Kuliner
Tradisional di Surakarta adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
BAB I merupakan gambaran umum mengenai perencanaan dan perancangan Pusat
Kuliner Tradisional di Surakarta sebagai salah satu destinasi wisata berkonsep
edukasi yang mengangkat potensi kuliner tradisional Indonesia sebagai atraksi
andalannya. Penjabaran pada bab ini meliputi pemahaman judul, latar belakang,
permasalahan dan persoalan, tujuan dan sasaran, lingkup pembahasan dan batasan,
metode desain, serta sistematika konsep perencanaan dan perancangan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA


BAB II merupakan proses eksplorasi berbagai sumber yang dilakukan untuk
mendapatkan bekal sebagai alat dalam analisa dan sintesa permasalahan dalam
proses perencanaan dan perancangan Pusat Kuliner Tradisional di Surakarta.
Dalam tinjauan ini, informasi non-arsitektural yang mendukung turut dicantumkan.
Diantaranya seperti keadaan sosial budaya, perekonomian masyarakat, Perda,
Permen, Undang-Undang, dll. semua itu adalah akan diambil sebagai bahan
pertimbangan desain dan akan diarahkan untuk mengkaji hal-hal yang bersifat
arsitektural.

BAB III TINJAUAN KOTA SURAKARTA SEBAGAI LOKASI PUSAT


KULINER TRADISIONAL
BAB III berisi tentang penjabaran keadaan Kota Surakarta sebagai lokasi Pusat
Kuliner Tradisional. Penjabaran tersebut meliputi: administratif kota,
kependudukan, sosial-budaya, keadaan topografi, rencana tata ruang wilayah, serta
potensi Kota Surakarta yang berkaitan dengan proses perencanaan dan perancangan
Pusat Kuliner Tradisional di Surakarta.

BAB IV ANALISIS KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN


PUSAT KULINER TRADISIONAL DI SURAKARTA
Bab IV merupakan tahap pembahasan dan analisis perencanaan dan perancangan
berdasarkan tinjauan pustaka dan tinjauan lokasi dari BAB II dan BAB III, yang
meliputi: analisis peruangan (mencakup: analisis user, pola kegiatan, kebutuhan

17
dan persyaratan ruang, besaran ruang, hubungan dan organisasi ruang), analisis
tapak (mecakup: analisis pemilihan tapak, kondisi eksisting tapak, pencapaian,
view dan orientasi, kebisingan, dan klimatologi terhadap tapak), analisis bentuk
dan tampilan massa (mecakup: analisis bentuk, tata massa pada tapak, dan tampilan
massa bangunan), analisis struktur objek rancang bangun (Struktur atap, dinding,
dan pondasi), serta analisis sistem utilitas yang mendukung fungsi bangunan.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PUSAT


KULINER TRADISIONAL DI SURAKARTA
Bab V merupakan tahapan dimana konsep perencanaan dan perancangan mulai
terumuskan. Rumusan konsep ini adalah dasar pertimbangan dalam merancang
Pusat Kuliner Tradisional di Surakarta.

BAB VI STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR


Bab VI merupakan tahap akhir dari proses perencanaan dan perancangan Pusat
Kuliner Tradisional di Surakarta. Konsep yang telah terumuskan dalam bab
sebelumnya ditransformasikan menjadi gambar yang mengarah pada penyelesaian
desain. Setelah ditransformasikan, barulah dibuat gambar kerja, dan gambar 3D.
Lebih lengkap lagi dapat dibuat maket yang skalatis guna memantapkan gambaran
desain yang akan dibangun.

18
Daftar Pustaka

Adiasih, P., & Brahmana, R. K. M. R. (2015). Persepsi Terhadap Makanan Tradisional


Jawa Timur: Studi Awal terhadap Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta di
Surakarta. Kinerja, 19(Persepsi Makanan Tradisional), 112–125.

Badan Informasi Geospasial. (2014, May 7). Indonesia Memiliki 13.466 Pulau yang
Terdaftar dan Berkoordinat. Retrieved October 11, 2017, from
http://www.bakosurtanal.go.id/berita-surta/show/indonesia-memiliki-13-466-
pulau-yang-terdaftar-dan-berkoordinat

Badan Pusat Statistik. (2016). Mengulik Data Suku di Indonesia. Retrieved October 11,
2017, from https://www.bps.go.id/KegiatanLain/view/id/127

Devi, N. M. W. R. (2013, July 29). Pasar Umum Gubug di Kabupaten Grobogan dengan
Pengolahan Tata Ruang Luar dan Tata Ruang Dalam Melalui Pendekatan
Ideologi Fungsionalisme Utilitarian. UAJY. Retrieved from http://e-
journal.uajy.ac.id/3402/

Maulana, A. (2016). Pengaruh Kunjungan Wisatawan Mancanegara dan Perjalanan


Wisatawan Nusantara terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Pariwisata di
Indonesia. JKI, 11(Pariwisata). Retrieved from
http://www.kemenpar.go.id/userfiles/06_%20JKI_%20Vol_%2011%20No%201%
20Juni%202016_%20Addin%20Maulana_%20Pengaruh%20Kunjungan%20Wism
an%20dan%20Perjalanan%20Wisnus%20terhadap%20penyerapan%20tenaga%20
kerja%20sektor%20pariwisata%20indonesia(1).pdf

M.T. Zen. (2016, June 2). Benua Maritim Indonesia dan Wawasan Kebangsaan | Geomagz
| Majalah Geologi Populer. Retrieved October 12, 2017, from
http://geomagz.geologi.esdm.go.id/benua-maritim-indonesia-dan-wawasan-
kebangsaan/

Perda Kota Surakarta Nomor 13 Tahun 2016 tentang Rencana Induk Pembangunan
Kepariwisataan Daerah Tahun 2016 -2026, § Walikota Surakarta (2016). Surakarta.

19
Poerwanto, E. (2016, January 27). Potensi Wisata Kuliner Daerah Diremehkan | Portal
Berita Bisnis Wisata. Retrieved October 12, 2017, from
http://bisniswisata.co.id/potensi-wisata-kuliner-daerah-diremehkan/

Presiden: Pasar Tawangmangu Contoh Kreativitas. (2009, March 9). Retrieved October
27, 2017, from https://sbyinfo.wordpress.com/2009/03/09/presiden-pasar-
tawangmangu-contoh-kreativitas/

Saeroji, A., & Wijaya, D. A. (2017). Pemetaan Wisata Kuliner Khas Kota Surakarta.
Jurnal Pariwisata Terapan, 1, 13–27.

Sya, A. (2017, September 7). Kalahkan Minyak dan Gas, Pariwisata Penyumbang Devisa
Nomor 2 RI. Retrieved October 11, 2017, from
http://forum.liputan6.com/t/kalahkan-minyak-dan-gas-pariwisata-penyumbang-
devisa-nomor-2-ri/161318

20