Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

“Manajemen Laktasi”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas


Dosen pengampu : Ns. Hefi Kurniasih, S.Kep

Disusun oleh:
Tingkat II Keperawatan
1. ANNISA DEA VALENTINA
2. DWI RIZKY FAUZI
3. EMIL DWI RAHAYU
4. HANIFAH TRI LESTARI
5. MANDA PINGKI HALENIA (P07220116100)
6. NUR AINUN (P07220116109)
7. YULPIANTI ANNISA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALIMANTAN TIMUR


JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
“Manajemen Laktasi”. Meskipun masih banyak kekurangan didalamnya.

Dan juga berterima kasih atas beberapa pihak yang telah membantu dan memberi
tugas ini kepada kami. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai beberapa hal yang bersangkutan
dengan materi tersebut. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu kami berharap adanya
kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat dimasa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Balikpapan, 16 Februari 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I. PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang ................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 1

C. Tujuan ................................................................................................................. 2

BAB II. PEMBAHASAN 3

A. Pengertian Manajemen Laktasi .......................................................................... 3

B. Anatomi Fisiologi Payudara ............................................................................... 3

C. Fisiologi Laktasi ................................................................................................. 5

D. Refleks pada Laktasi .......................................................................................... 6

E. Komponen ASI ................................................................................................... 8

F. Manfaat Pemberian ASI ................................................................................... 10

BAB III. PENUTUP 24

A. Kesimpulan ....................................................................................................... 24

B. Saran ................................................................................................................. 24

DAFTAR PUSTAKA 25

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan dan pertumbuhan bayi dan anak sangat dipengaruhi oleh
ibu. Sejak masa kehamilan janin menerima nutrisi dari ibu melalui plasenta.pada
masa bayi didalam tubuh ibu secara alami telah disediakan makanan yang
dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan selanjutnya berupa ASI.
Banyak ahli sepakat ASI lebih unggul daripada susu formula atau susu sapi.
Pada abad ke-19 beberapa studi kedokteran yang dilakukan di Eropa
menunjukkan angka kematian dan kesakitan bayi-bayi yang diberikan ASI
ternyata lebih rendah daripada yg diberi susu formula.
Manajemen Laktasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk
menunjang keberhasilan menyusui (Siregar, 2004). Laktasi adalah keseluruhan
proses menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi menghisap dan
menelan ASI. Laktasi merupakan bagian integral dari siklus reproduksi mamalia
termasuk manusia (Direktorat Gizi Masyarakat, 2005).Laktasi adalah produksi
dan pengeluaran ASI, dimana calon ibu ibu harus sudah siap baik secara
psikologis dan fisik. Jika laktasi baik maka bayi cukup sehat menyusu. Produksi
ASI disesuaikan dengan kebutuhan bayi, volume ASI 500–800 ml/hari (3000
ml/hari) (Rukiyah, dkk, 2011).

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari manajemen laktasi ?
2. Bagaimana anatomi fisiologi pada payudara ?
3. Bagaimana fisiologi laktasi ?
4. Bagaimana refleks pada laktasi ?
5. Apa komponen dari ASI ?
6. Apa manfaat pemberian ASI bagi bayi dan ibu ?

1
C. Tujuan
Tujuan penulisan dalam penyusunan makalah ini :
1. Untuk mengetahui pengertian dari manajemen laktasi.
2. Untuk mengetahui dan memahami anatomi fisiologi pada payudara.
3. Untuk mengetahui dan memahami fisiologi dari Laktasi.
4. Untuk mengetahui dan memahami refleks pada laktasi.
5. Untuk mengetahui dan memahami komponen dari ASI
6. Untuk mengetahui manfaat pemberian ASI pada bayi dan ibu.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Manajemen Laktasi

Manajemen Laktasi adalah segala daya upaya yang dilakukan untuk


membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya. Usaha ini
dilakukan terhadap ibu dalam 3 tahap, yaitu pada masa kehamilan(antenatal),
sewaktu ibu dalam persalinan sampai keluar rumah sakit (perinatal), dan pada
masa menyusui selanjutnya sampai anak berumur 2 tahun (postnatal) (Perinasia,
2007).
Usaha ini dilakukan terhadap ibu dalam 3 tahap,yaitu pada masa
kehamilan(antenatal), sewaktu ibu dalam persalinan sampai keluar rumah sakit
(perinatal), dan pada masa menyusui selanjutnya sampai anak berumur 2 tahun
(postnatal) (Perinasia, 2007).

B. Anatomi Fisiologi Payudara

1. Areola
Aerola adalah daerah berwarna gelap yang mengelilingi puting susu.
Pada areola terdapat kelenjar-kelenjar kecil yang disebut kelenjar
Montgomery, menghasilkan cairan berminyak untuk menjaga kesehatan kulit
di sekitar areola.
2. Alveoli
Alveoli adalah kantong penghasil ASI yang berjumlah jutaan. Hormon
prolaktin mempengaruhi sel alveoli untuk menghasilkan ASI.
3. Duktus laktiferus
Duktus laktiferus merupakan saluran kecil yang yang berfungsi
menyalurkan ASI dari alveoli ke sinus laktiferus (dari pabrik ASI ke gudang
ASI).

3
4. Sinus laktiferus / ampula
Sinus laktiferus merupakan saluran ASI yang melebar dan membentuk
kantung di sekitar areola yang berfungsi untuk menyimpan ASI.
5. Jaringan lemak dan penyangga
Jaringan lemak di sekeliling alveoli dan duktus laktiferus yang
menentukan besar kecilnya ukuran payudara. Payudara kecil atau besar
mempunyai alveoli dan sinus laktiferus yang sama, sehingga dapat
menghasilkan ASI sama banyak. Di sekeliling alveoli juga terdapat otot
polos, yang akan berkontraksi dan memeras keluar ASI. Keberadaan hormon
oksitosin menyebabkan otot tersebut berkontraksi.
6. Air susu ibu dan hormon prolaktin
Setiap kali bayi menghisap payudara akan merangsang ujung saraf
sensoris disekitar payudara sehingga merangsang kelenjar hipofisis bagian
depan untuk menghasilkan prolaktin. Prolaktin akan masuk ke peredaran
darah kemudian ke payudara menyebabkan sel sekretori di alveolus (pabrik
ASI) menghasilkan ASI.
Prolaktin akan berada di peredaran darah selama 30 menit setelah
dihisap, sehingga prolaktin dapat merangsang payudara menghasilkan ASI
untuk minum berikutnya. Sedangkan untuk minum yg sekarang, bayi
mengambil ASI yang sudah ada.
7. Air susu ibu dan refleks oksitosin (Love reflex, Let Down Reflex).
Hormon oksitosin diproduksi oleh bagian belakang kelenjar hipofisis.
Hormon tersebut dihasilkan bila ujung saraf disekitar payudara dirangsang
oleh isapan. Oksitosin akan dialirkan melalui darah menuju ke payudara
yang akan merangsang kontraksi otot di sekeliling alveoli (pabrik ASI) dan
memeras ASI keluar dari pabrik ke gudang ASI. Hanya ASI di dalam
gudang ASI yang dapat dikeluarkan oleh bayi dan atau ibunya.

4
C. Fisiologi Laktasi

Selama masa kehamilan, hormon estrogen dan progesteron menginduksi


perkembangan alveoli dan duktus lactiferous di dalam payudara, serta
merangsang produksi ksolostrum. Produksi ASI tidak berlangsung sampai masa
sesudah kelahiran bayi ketika kadar hormon estrogen menurun. Penurunan
kadar estrogen ini memungkinkan naiknya kadar prolaktin dan produksi ASI.
Produksi prolaktin yang berkesinambungan disebabkan oleh menyusunya bayi
pada payudara ibu. Pelepasan ASI berada dibawah kendali neuro-endokrin.
Rangsangan sentuhan pada payudara (bayi menghisap) akan merangsang
produksi oksitoksin yang menyebabakan kontraksi sel-sel myoepithel. Proses
ini disebut juga sebagai “ refleks prolaktin” atau milk production reflectyang
membuat ASI tersedia bagi bayi. Dalam hari-hari dini, laktasi refleks ini tidak
dipengaruhi oleh keadaan emosi ibu.
Nantinya, refleks ini dapat dihambat oleh keadaan emosi ibu bila ia
merasa takut, lelah, malu, merasa tidak pasti, atau bila mersakan nyeri. Hisapan
bayi memicu pelepasan ASI dari alveolus mamae melalui duktus kesinus
lactiferous. Hisapan merangsang produksi okstoksin oleh kelenjar hypofisis
posterior. Oksitoksin memasuki darah dan menyebabkan kontraksi sel-sel
khusus (sel-sel myoepithel) yang mengelilingi alveolus mamae dan duktus
lactiferus. Kontraksi sel-sel khusus ini mendorong ASI keluar dari alveoli
melalui duktus lactiferous, tempat ASI akan disimpan. Pada saat bayi
menghisap, ASI di dalam sinus tertekan keluar, kemulut bayi. Gerakan ASI dari
sinus ini dinamakan let down reflect atau “pelepasan”. Pada akhirnya, let down
dapat dipacu tanpa rangsangan hisapan. Pelepasaan dapat terjadi bila ibu
mendengar bayi menangis atau sekedar memikirkan tentang bayinya. Pelepasan
penting sekali bagi pemberian ASI yang baik.
Tanpa pelepasan, bayi dapat menghisap terus-menerus, tetapi hanya
memperoleh sebagian dari ASI yang tersedia dan tersimpan di dalam payudara.
Bila pelepasaan gagal terjadi berulang kali dan payudara berulang kali tidak
dikosongkan pada waktu pemberian ASI, refleks ini akan berhenti berfungsi
dan laktasi akan berhenti. Cairan pertama yang diperoleh bayi dari ibunya

5
sesudah dilahirkan adalah kolostrum yang mengandung campuran yang kaya
akan protein, mineral, dan antibodi, daripada ASI yang telah “matur”. ASI
mulai ada kira-kira pada hari yang ke-3 atau ke-4 setelah kelahiran bayi dan
kolostrum berubah menjadi ASI yang matur kira-kira 15 hari sesudah bayi
lahir. Bila ibu menyusui sesudah byi lahir dan bayi diperolehkan sering
menyusu maka proses produksi ASI akan meningkat (Sulistyawati, 2009).

D. Refleks pada Laktasi

Ada beberapa reflek yang berpengaruh terhadap kelancaran laktasi.


Refleks tersebut adalah dasar dari laktasi, yaitu :
1. Reflex Prolaktin
Sewaktu bayi menyusu, ujung saraf peraba yang terdapat pada putting
susu terangsang. Rangsangan tersebut oleh saraf afferent dibawa ke
hipotalamus di dasar otak, lalu dilanjutkan ke bagian depan kelenjar
hipofisis yang memacu pengeluaran hormone prolaktin ke dalam darah.
Melalui sirkulasi, prolaktin memacu sel kelenjar memproduksi air
susu. Jadi, semakin sering bayi menyusu, semakin banyak prolaktin yang
dilepas oleh hipofisis, sehingga semakin banyak air susu yang diproduksi
oleh sel kelenjar.
2. Reflex aliran
Rangsangan yang ditimbulkan bayi saat menyusu diantar sampai
bagian belakang kelenjar hipofisis yang akan melepaskan hormone
oksitosin masuk ke dalam darah. Oksitosin akan memacu otot-otot polos
yang mengelilingi alveoli dan duktuli berkontraksi sehingga memeras air
susu dari alveoli, duktuli, dan sinus menuju putting susu.
Dengan demikian, sering menyusui sampai payudara terasa kosong
sangat penting agar tidak terjadi pembendungan pada payudara.
Pembendungan pada payudara akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan
sakit. Tidak jarang, mengakibatkan payudara mudah terkena infeksi.
Kadang-kadang, tekanan akibat kontraksi oto-otot polos tersebut begitu
kuat sehingga air susu menyembur keluar. Hal ini dapat menyebabkan bayi

6
tersedak. Keluarnya air susu karena kontaksi otot polos tersebut disebut
reflex aliran.
Reflex aliran dipengaruhi oleh keadaan kejiwaan ibu, rasa khawatir,
dan rasa sakit (misalnya luka jahitan) yang dirasakan ibu dapat
menghambat reflex tersebut.
3. Reflex menangkap (Rooting Refleks)
Jika disentuh pipinya, bayi akan menoleh kearah sentuhan. Jika
bibirnya diragsang atau disentuh, bayi akan membuka mulut dan berusaha
mencari putting untuk menyusu. Keadaan tersebut dikenal dengan istilah
reflex menangkap.
4. Reflex menghisap
Reflex menghisap pada bayi akan timbul jika putting merangsang
langit-langit (palatum) dalam mulutnya. Untuk dapat merangsang langit-
langit. Bagian belakang secara sempurna, sebagian besar aerola harus
tertangkap oleh mulut (masuk kedalam mulut) bayi. Dengan demikian,
sinus laktiferus yang berada dibawah aerola akan tertekan oleh gusi, lidah,
serta langit-langit sehingga air susu secara sempurna kedalam mulut bayi.
5. Refleks menelan
Air susu yang penuh dalam mulut bayi akan ditelan sebagai
pernyataan reflex menelan dari bayi. Pada saat bayi menyusu, akan terjadi
perenggangan putting susu dan aerola untuk mengisi rongga mulut. Oleh
karena itu, sebagian besar aerola harus ikut kedalam mulut. Lidah bayi
akan menekan ASI keluar dari sinus Laktiferus yang berada di bawah
aerola.
Mekanisme menyusu pada payudara berbeda dengan mekanisme
minum dengan botol atau dot. Dot memiliki karet panjang yang tidak perlu
direnggangkan sehingga bayi tidak perlu mengisap kuat. Jika bayi telah
diajarkan minum dari botol/dot, akan timbul kesulitan menyusu pada
ibunya. Ia akan mencoba menghisap, seperti halnya mengisap dot. Pada
keadaan ini, ibu dan bayi perlu bantuan untuk belajar proses ini dengan
baik dan benar.

7
Berikut mekanisme menyusu pada ibu :
a. Bibir bayi menangkap putting selebar aerola
b. Lidah menjulur ke depan untuk menangkap putting
c. Lidah ditarik mundur untuk membawa putting menyentuh langit-langit
dan aerola di dalam mulut bayi
d. Timbul reflex mengisap pada bayi dan reflex aliran pada bayi
Berikut mekanisme menyusui menggunakan dot :
a. Bibir terbuka untuk menerima putting dari dot dan otot-otot pipi
mengendor
b. Putting karet terletak diatas lidah, menyentuh langit-langit lunak
c. Lidah bergerak ke depan untuk menekan putting karet pada gusi dan
langit-langit sedemikian rupa untuk mengatur aliran susu.

E. Komponen ASI

ASI yang pertama keluar disebut dengan fore milk dan selanjutnya disebut
dengan hind milk. Fore milk merupakan ASI awal yang banyak mengandung air,
sedangkan hind milk lebih banyak mengandung karbohidrat dan lemak (Roesli,
2002). Pernyataan ini juga didukung oleh Suraatmaja (1997) bahwa komposisi
ASI tidak konstan dan tidak sama dari waktu ke waktu karena komposisi
dipengaruhi stadium laktasi, ras, diit ibu dan keadaan gizi.
Kandungan yang terdapat dalam ASI diantaranya :
a. Kolostrum
Adalah ASI yang keluar pada hari pertama dan kedua setelah
melahirkan, berwarna kekuning-kuningan dan lebih kental, lebih banyak
mengandung protein dan vitamin berfungsi untuk melindungi bayi dari
penyakit infeksi.
b. Karbohidrat
Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai
salah satu sumber untuk otak. Jumlahnya meningkat terutama pada ASI
transisi (7-14 hari setelah melahirkan) (Badriul, 2008).

8
c. Protein
Protein berguna untuk pembentukan sel pada bayi yang baru lahir.
Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan
protein yang terdapat dalam susu formula. Protein dalam ASI lebih bisa
diserap oleh usus bayi dibandingkan dengan susu formula (Badriul, 2008).
d. Taurin
Adalah suatu bentuk zat putih telur yang hanya terdapat pada ASI.
Taurin berfungsi sebagai neuro transmitter dan berperan penting untuk
proses maturasi sel otak.
e. Lemak
Lemak berfungsi untuk pertumbuhan otak bayi. Kandungan lemak
dalam ASI sekitar 70-78%.
f. Mineral
Zat besi dan kalsium di dalam ASI merupakan mineral dan jumlahnya
tidak terlalu banyak dalam ASI. Mineral ini berfungsi sebagai pembentukan
atau pembuatan darah dan pembentukan tulang.
g. Vitamin
1. Vitamin K dibutuhkan sebagai salah satu zat gizi yang berfungsi
sebagai faktor pembekuan (Badriul, 2008).
2. Vitamin D berfungsi untuk pembentukan tulang bayi baru lahir,
vitamin D juga berasal dari sinar matahari. (Badriul, 2008).
3. Vitamin E berfungsi penting untuk ketahanan dinding sel darah merah
(Badriul, 2008).
4. Vitamin A berfungsi untuk kesehatan mata, selain itu untuk
mendukung pembelahan sel, kekebalan tubuh, dan pertumbuhan.
(Badriul, 2008).
5. Vitamin B, asam folat, vitamin C adalah vitamin yang larut dalam air
dan terdapat dalam ASI (Badriul, 2008).

9
h. Zat Kekebalan
Zat kekebalan terhadap beragam mikro-organisme diperoleh bayi baru lahir
dari ibunya melalui plasenta, yang membantu melindungi bayi dari
serangan penyakit.

F. Manfaat Pemberian ASI

a. Manfaat bagi bayi


1. ASI mengandung komponen perlindungan terhadap infeksi,
mengandung protein yang spesifik untuk perlindungan terhadap laergi
dan merangsang system kekebalan tubuh
2. Komposisi ASI sangat baik karena mempunyai kandungan protein,
karbohidrat, lemak dan mineral yang seimbang
3. ASI memudahkan kerja pencernaan, mudah diserap oleh usus bayi serta
mengurangi timbulnya gangguan pencernaan seperti diare atau sembelit
4. Bayi yang minum ASI mempunyai kecenderungan memiliki berat
badan ideal
5. ASI mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan bagi pertumbuhan dan
perkembangan bayi termasuk untuk kecerdasan bayi
6. Secara alamiah ASI memberikan kebutuhan yang sesuai dengan usia
kelahiran bayi
7. ASI bebas kuman karena diberikan langsung dari payudara sehingga
kebersihannya terjamin
8. ASI mengandung banyak kadar selenium yang melindungi gigi dari
kerusakan
9. Menyusui akan melatih daya hisap bayi dan membantu mengurangi
insiden maloklusi dan membentuk otot pipi yang baik
10. ASI memberikan keuntungan psikologis
11. Suhu ASI sesuai dengan kebutuhan bayi.

10
b. Manfaat bagi ibu
1. Aspek kesehatan ibu :
a) Membantu mempercepat pengembalian uterus ke bentuk semula dan
mengurangi perdarahan post partum karena isapan bayi pada
payudara akan merangsang kelenjar hipofisis untuk mengeluarkan
hormone oksitosin. Oksitosin bekerja untuk kontraksi saluran ASI
pada kelenjar air susu dan merangsang kontraksi usus.
b) Menyusui secara teratur akan menurunkan berat badan secara
bertahap karena pengeluaran energy untuk ASI dan proses
pembentukannya akan mempercepat kehilangan lemak
c) Pemberian ASI yang cukup lama dapat memperkecil kejadian
karsinoma payudara dan karsinoma ovarium
d) Pemberian ASI mudah karena tersedia dalam keadaan segar dengan
suhu yang sesuai sehingga dapat diberikan kapan dan dimana saja
2. Aspek keluarga
Pemberian ASI secara eksklusif dapat berfungsi sebagai kontrasepsi
karean isapan bayi merangsang hormone prolaktin yang menghambat
terjadinya ovulasi sehingga menunda kesuburan.
3. Aspek psikologis
Menyusui memberikan rasa puas, bangga dan bahagia pada ibu yang
berhasil menyusui bayinya dan memperkuat ikatan batin antara ibu
dan anak.

G. Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam praktek laktasi


Untuk mencapai keberhasilan menyusui, para ibu perlu mengetahui sedikit
banyak pengetahuan tentang menyusui yang benar.
Hal-hal berikut ini merupakan beberapa hal yang perlu di perhatikan
setiap ibu demi kelancaran menyusui antara lain :

11
1. Nutrisi ibu menyusui
Meskipun umumnya keadaan gizi pada ibu hanya akan mempengaruhi
kuantitas dan bukan kualitas asinya, ibu menyusui sebaiknya tidak
membatasi konsumsi makananya. Penurunan berat badan sesudah
melahirkan sebaiknya tidak melebihi 0,5 kg/minggu.Pada bulan pertama
menyusui, yaitu saat bayi hanya mendapatkan ASI saja (”exlusive
breastfeeding period”), ibu membutuhkan tambahan kalori sebanyak 700
kkl/hari, pada 6 bulan berikutnya 500 kkal/hari dan pada tahun kedua 400
kkal/hari. Jumlah cairan yang dibutuhkan ibu menyusui dianjurkan
minum 8 – 12 gelas perhari.
2. Istirahat
Bila laktasi tidak berlangsung baik biasanya penyabab utamanya adalah
kelelahan pada ibu.Oleh karena itu, istirahat dan tidur yang cukup
merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi.
3. Obat – obatan
Pemakaian obat – obatan dalam masa menyusui perlu mendapat
perhatian, apakah mempunyai efek samping yang positif atau negatif
terhadap laktasi. Contoh obat yang dapat mengurangi produksi ASI yaitu
pil KB yang mengandung hormon estrogen.
4. Posisi ibu-bayi yang benar saat menyusui
Dapat dicapai bila bayi tampak menyusui dengan benar, bayi menempel
betul pada ibu mulut dan dagu bayi menempel betul pada payudara,
mulut bati membuka lebar, sebagian besar areola tertutup mulut bayi,
bayi menghisap ASI pelan-pelan dengan kuat, puting susu ibu tidak
terasa sakit dan puting terhadap lengan bayi berada pada satu garis lurus.
5. Penilaian kecukupan ASI pada bayi
Bayi usia 0 – 4 bulan atau 6 bulan dapt dinilai cukup pemberian ASInya
bila tercapai keadaan sebagai berikut:
a. Berat badan lahir telah pulih kembali setelah bayi berusia 2 minggu

12
b. Kenaikan berat badan dan tinggi badan sesuai dengan kurve
pertumbuhan normal
c. Bayi banyak ngompol sampai 6 kali atau lebih dalam sehari
d. Tiap menyusui, bayi menyusu kuat (rakus).
e. Payudara ibu terasa lunak setelah disusukan dibanding sebelumnya
6. Diluar waktu menyusui
Jangan membiasakan bayi menggunakan dot atau kempeng. Berikan ASI
dengan sendok bila ibu tidak dapat menyusui bayinya.
7. Ibu bekerja
Selama cuti hendaknya ibu menyusui bayinya terus. Jangan juga
membiasakan bayi menyusu dengan botol bila masa cuti telah habis dan
ibu harus bekerja kembali.
8. Pemberian makanan pendamping ASI
Makanan pendamping ASI hendaknya diberikan mulai usia bayi 4 – 6
bulan. BIla ibu bekerja sebaiknya makanan pendamping ASI diberikan
pada jam kerja, sehingga ASI tetap diberikan setelah ibu berada di
rumah.
9. Penyapihan
Menghentikan pemberian ASI harus dilakukan secara bertahap dengan
jalan meningkatkan frekuensi pemberian makanan anak dan menurunkan
frekuensi pemberian ASI secara bertahap dalam kurun waktu 2 – 3 bulan.
10. Klinik laktasi
Pusat pelayanan kesehatan ibu dan anak harus memiliki pelayanan yang
dapat meyakinkan setiap ibu dalam masa menyusui bahwa ia selalu dapat
berkonsultasi untuk setiap masalah laktasi yang dialaminy. Untuk itu
perlu diadakan klinik laktasi atau tenaga terlatih untuk membantunya
pada sarana pelayanan kesehatan yang terdekat.
11. Kelompok pendukung ASI
Perlu dibina adanya kelompok pendukung ASI DI lingkungan
masyarakat, yang dapat merupakan sarana untuk mendukung ibu-ibu di
lingkungan tersebut agar berhasil menyusui bayinya, dibantu oleh tenaga

13
kesehatan yang ada di lingkungan tersebut. Melalui kelompok ini, ibu-ibu
menyusui dapat mengadakan diskusi dan mendapat bantuan bila
mengalami masalah dalam menyusui bayinya.

H. Langkah-langkah menyusui dengan baik dan benar

Cara menyusui yang benar

Tujuan menyusui yang benar adalah untuk merangsang produksi susu


memperkuat refleks menghisap bayi

Posisi

 Posisi madona atau menggendong : bayi berbaring menghadap ibu, leher dan
punggung atas bayi diletakan pada lengan bawah lateral payudara. Ibu
menggunakan tangan lainnya untuk memegang payudara jika diperlukan
 Posisi football atau mengepit : bayi berbaring atau punggung melingkar
antara lengan dan samping dada ibu. Lengan bawah dan tangan ibu
menyangga bayi, dan ia menggunakan tangan sebelahnya untuk memegang
payudara jika diperlukan
 Posisi berbaring miring : ibu dan bayi berbaring miring saling berhadapan.
Posisi ini merupakan posisi yang paling aman bagi ibu yang mengalami
penyembuhan dari proses persalinan melalui pembedahan

Tahap tata laksana menyusui

Posisi badan ibu dan badan bayi

 Ibu harus duduk atau berbaring dengan santai


 Pegang bayi pada belakang bahunya, tidak pada dasar kepala
 Putar seluruh badan bayi sehingga menghadap ke ibu
 Rapatkan dada bayi dengan dada ibu atau bagian bawah payudara ibu
 Tempelkan dagu bayi pada payudara ibu

14
 Dengan posisi ini maka telinga bayi akan berada dalam satu garis dengan
leher dan lengan bayi
 Jauhkan hidung bayi dari payudara ibu dengan cara menekan pantat bayi
dengan lengan ibu bagian dalam

Posisi mulut bayi dan puting susu ibu

 Keluarkan ASI sedikit oleskan pada puting susu dan areola


 Pegang payudara dengan pegangan seperti membentuk huruf C yaitu
payudara dipegang dengan ibu jari dibagian atas dan jari yang lain menopang
dibawah atau dengan pegangan seperti gunting (puting susu dan
areola dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah seperti gunting) dibelakang
areola
 Sentuh pipi/bibir bayi untuk merangsang rooting refleks (refleks menghisap)
 Tunggu sampai mulut bayi terbuka lebar, dan lidah menjulur kebawah
 Dengan cepat dekatkan bayi ke payudara ibu dengan menekan bahu belakang
bayi bukan belakang kepala
 Posisikan puting susu diatas bibir atas bayi dan berhadap-hadapan dengan
hidung bay
 Kemudian arahkan puting susu keatas menyusuri langit-langit mulut bayi
 Usahakan sebagian besar areola masuk ke mulut bayi, sehingga puting susu
berada diantara pertemuan langit-langit yang keras (palatum durum) dan
langit-langit yang lunak (palatum molle)
 Lidah bayi akan menekan dinding bawah payudara dengan gerakan memerah
sehingga ASI akan keluar
 Setelah bayi menyusu atau menghisap payudara dengan baik, payudara tidak
perlu dipegang atau disangga lagi
 Beberapa ibu sering meletakan jarinya pada payudara dengan hidung bayi
dengan maksud untuk memudahkan bayi bernafas. Hal ini tidak perlu karena
hidung bayi telah dijauhkan dari payudara dengan cara menekan pantat bayi
dengan lengan ibu

15
 Dianjurkan tangan ibu yang bebas untuk mengelus-elus bayi

Tanda-tanda posisi bayi menyusu dengan baik

 Tubuh bagian depan bayi menempel pada tubuh ibu


 Dagu bayi menempel pada payudara ibu
 Dada bayi menempel pada dada ibu yang berada didasar payudara (payudara
bagian bawah)
 Telinga bayi berada dalam satu garis dengan leher dan lengan bayi
 Mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah yang terbuka
 Hidung bayi mendekati kadang-kadang menyentuh payudara ibu
 Mulut bayi mencakup sebanyak mungkin areola (tidak hanya puting saja),
sehingga sebagian besar areola tidak tampak
 Lidah bayi menopang puting susu dan areola bagian bawah
 Bibir bawah bayi melengkung keluar
 Bayi menghisap kuat dan dalam secara perlahan dan kadang-kadang disertai
berhenti sesaat
 Terkadang terdengar suara bayi menelan
 Bayi puas dan tenang pada akhir menyusu
 Puting susu tidak terasa sakit atau lecet

Tanda-tanda posisi menyusu yang salah

 Mulut tidak terbuka lebar, dagu tidak menempel pada payudara


 Dada bayi tidak menempel pada dada ibu, sehingga leher bayi berputar
 Sebagian besar daerah areola masih terlihat
 Bayi menghisap sebentar-sebentar
 Bayi tetap gelisah pada akhir menyusu
 Kadang-kadang bayi minum berjam-jam
 Puting susu ibu lecet dan sakit

16
Tanda-tanda ASI cukup/penatalaksanaan menyusui yang optimal

 Bayi BAK setidaknya 6x dalam 24 jam dan warnanya jernih sampai kuning
muda
 BAB bayi berwarna kekuningan “berbiji” 2x atau lebih dalam sehari
 Bayi relaks dan puas setelah minum, terbaik bila bayi melepaskan puting susu
sendiri. Bayi yang selalu tidur bukanlah pertanda baik
 Bayi setidaknya menyusu 10-12 kali dalam 24 jam
 Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui
 Berat badan bayi bertambah

Mengeluarkan ASI dengan tangan

Mengosongkan ASI dengan tangan merupakan cara mengeluarkan ASI yang


paling baik, paling dianjurkan, terlembut walaupun beberapa ibu mengalami kesukaran
waktu pertama-tama melakukannya. Dengan mempelajari cara yang benar dan latihan
yang sering, mengeluarkan ASI dengan tangan merupakan cara yang efektif, ekonomis
dan cepat. Caranya :

 Cuci tangan sampai bersih


 Pegang cangkir yang bersih untuk menampung ASI
 Condongkan badan ke depan dan sangga payudara dengan tangan
 Letakkan ibu jari pada batas atas areola mammae dan letakkan jari telunjuk
pada batas areola bagian bawah sehingga berhadapan
 Tekan kedua jari ini kedalam kearah dinding dada tanpa menggeser letak
kedua jari tadi
 Pijat daerah diantara kedua jari tadi kearah depan sehingga akan memeras
dan mengeluarkan ASI yang berada didalam sinus lactiferus
 Ulangi gerakan tekan, pijat dan lepas beberapa kali
 Setelah pancaran ASI berkurang pindahkan posisi ibu jari dan telunjuk tadi
dengan cara diputar pada sisi lain dari batas areola dengan kedua jari selalu
berhadapan

17
 Lakukan hal yang sama pada setiap posisi sehingga ASI akan terperah dari
semua bagian payudara
 Jangan menekan, memijat atau menarik puting susu karena ini tidak akan
mengeluarkan ASI dan akan menyebabkan rasa sakit

I. Manajemen Laktasi Bagi Wanita Karir


Pemberian ASI perah saat ibu bekerja memberikan kesempatan untuk
tetap menyusui saat ibu berada di dekat bayi, beberapa kasus kegagalan
pemberian ASI hingga anak 2 tahun karena saat bekerja ibu tidak memberikan
ASI sehingga suplai ASI berkurang dan meningkatkan angka penyapihan dini
(early weaning). Memompa ASI saat bekerja menimbulkan rasa kedekatan ibu
pada anak. Penghematan keuangan keluarga, mengurangi risiko kesehatan yang
diasosiasikan dengan pemberian susu formula, Ibu lebih jarang meninggalkan
kantor karena anak yang diberi ASI relatif lebih jarang sakit dibandingkan anak
yang tidak diberi ASI.
a) Teknik Memerah ASI
Persiapan Memerah.
 Cuci bersih kedua tangan Anda dengan benar dan menggunakan sabun.
 Usahakan rileks dan pilihlah tempat atau ruangan untuk memerah
 ASI yang tenang dan nyaman.
 Kompres payudara dengan air hangat. Gunakan handuk kecil, waslap, atau
kain lembut lainnya.
1. Teknik memerah ASI dengan tangan metode massage, stroking, dan shaking
yang disebut metode Marmet dikembangkan oleh Chele Marmet.
a. Massage
Massage Pergunakan 2 jari, yaitu telunjuk dan jari tengah. Tangan kanan
mengurut payudara kiri dan tangan kiri mengurut payudara kanan. Bila
payudara besar, gunakan keempat jari Dengan tekanan ringan, lakukan
gerakan melingkar dari dasar payudara dengan gerakan spiral ke arah putting
susu.

18
b. Stroke
Dengan menggunakan jari-jari tangan, tekan-tekanlah payudara secara
lembut. Dari dasar payudara ke arah puting susu dengan garis lurus,
kemudian dilanjutkan secara bertahap ke seluruh bagian payudara. Dengan
menggunakan sisir yang bergigi lebar, “sisirlah” payudara secara lembut,
dari dasar payudara ke arah puting susu. Dengan ujung jari, lakukan stroke
dari dasar payudara ke arah puting susu.
c. Shake
Dengan posisi tubuh condong ke depan, kocok/goyangkan payudara
dengan lembut menggunakan tangan, biarkan daya tarik bumi meningkatkan
stimulasi pengeluaran ASI. Untuk menjamin pengeluaran ASI lancar,
lakukan perawatan pemijatan payudara secara rutin, dan kompres air hangat
& air dingin bergantian.

d. Let-down reflex (LDR)


Sering disebut milk ejection reflex adalah sebuah proses hormonal yang
menyebabkan ASI mengalir deras. Ibu biasanya merasakan sensasi geli
atauseperti kesemutan beberapa saat ketika sedang menyusui bayi. Menurut
buku The Breastfeeding Answer Book, saat sedang menyusu, gerakan ritmik
rahang, bibir, dan lidah bayi mengirimkan sinyal pada bagian hipotalamus
(otak) ibu sehingga hormon prolaktin dan oksitosin dilepaskan, dan masuk
ke dalam aliran darah. Hormon ini menyebabkan sehingga otot-otot kecil
yang mengelilingi gudang ASI (alveoli) menekan ASI ke dalam saluran
sehingga menuju reservoir ASI (lactiferous sinuses) yang terletak 1 inci di
belakang puting dan keluar dari payudara.

2. Memerah Dengan Pompa


Memerah menggunakan pompa sangat mudah, cukup dengan mengikuti
instruksi yang tertera pada pompa Ibu. Berikut adalah cara memerah dengan
menggunakan pompa : Atur posisi sehingga bisa bersandar dengan santai,
jangan sampai bahu tegang, intinya buat posisi senyaman mungkin.

19
a. Pilihan pompa untuk mengosongkan payudara
Ada dua macam bentuk pompa
1. Pompa manual/tangan
Pompa manual/tangan sering dipergunakan karena murah, potable,
mudah dibersihkan dan umumnya mudah digunakan. Ada beberapa tipe
pompa manual, antara lain :

 Tipe silindris

Pompa tipe ini efektif dan mudah dipakai, kekuatan tekanan isapan
mudah dikontrol. Baik kedua silinder maupun gerakan memompa
berada dalam garis lurus. Terbuat dari palstik dengan tempat
penampungan ASI dibagian bawah silinder

 Tipe silindris bersudut

Tipe ini sama dengan tipe silindris, tetapi silindris bersudut kebawah.
Dengan gerakan piston yang ditarik kebawah akan mudah mengontrol
kekuatan tekanan isapan. ASI akan ditampung dibotol yang
ditempelkan di pompa.

 Tipe kerucut gelas/plastik dan bola karet/tipe terompet (squeeze and


bulb atau horn)

Tipe ini tidak dianjurkan untuk dipakai karena menyakitkan dan


dapat menyebabkan kerusakan puting susu serta jaringan payudara.
Kekuatan takanan isap sukar diatur. Tipe ini juga sukar dibersihkan
dan disterilkan secara efektif.

2. Pompa elektrik

Beberapa macam pompa listrik sudah ada dibeberapa kota besar. Karena
umumnya harganya sangat mahal sehingga penggunaannya terbatas di
rumah sakit-rumah sakit besar.

20
b) Cara Menyimpan ASI
1. ASI dapat di simpan dengan cara membekukan di freezer atau
mendinginkannya ke dalam lemari es.
2. Setelah di pompa, simpanlah ASI pada botol steril dengan tutup yang rapat,
cangkir plastik atau kantong ASI
3. Pastikan anda menuliskan label atau tanggal ASI tersebut pada botol, gelas,
atau kantong ASI.
4. Jangan menambahkan ASI yang baru anda pompa kedalam ASI yang sudah
beku.
5. Jangan membekukan kembali ASI yang sudah dicairkan
6. Simpan dalam jumlah 60 – 120 ml untuk mencegah mubazir

c) Wadah Penyimpanan ASI


1. Aneka Wadah
a. wadah yang terbuat dari stainlees steel
b. wadah yang terbuat dari kaca (beling) dengan tutup yang rapat
c. wadah yang terbuat dari semi kaca atau plastik dengan permukaan yang
keras (jenis yang tembus pandang dan tidak buram) dan tutup yang rapat
d. Kantong plastik khusus untuk menyimpan ASI
e. Kantong plastik makanan bening (food Grade)
2. Kondisi Wadah
a. bening tanpa gambar
b. tidak mudah bocor
c. bisa dibersihkan atau disterilkan
d. untuk botol kaca, simpan dalam jumlah 1/2 atau 3/4 saja
untukmenghindari pemuaian yang beresiko menyebabkan botol retak
atau pecah

d) Mencairkan ASI yang telah di simpan (Beku)


1. Pindahkan Ke bagian lemari es non freezer hingga mencair
2. Pindahkan ke air dingin

21
3. Pindahkan ke dalam baskom air hangat
4. Panaskan di atas panci berisi air dengan api kecil Atau gunakan bottle
warmer
5. Jangan memanaskan langsung atau dengan microwave
6. Tes suhu ASI dan bila perlu cicipi sebelum diberikan
7. FIFO = first in First Out

J. Ragam makanan untuk memperbanyak ASI

1. Sayuran berwarna hijau tua

Ibu menyusui dianjurkan untuk makan satu atau dua porsi sayuran
berdaun hijau setiap hari. Bayam, brokoli, dan sayuran berwarna hijau tua
lainnya merupakan tanaman yang berfungsi sebagai makanan untuk
memperbanyak ASI. Sayuran hijau kaya akan nutrisi dan mengandung jumlah
kalsium, folat, betakaroten, dan riboflavin yang tinggi. Selain itu, bayam juga
kaya akan zat besi. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa rendahnya kadar
zat besi dalam tubuh bisa membuat suplai ASI pada ibu menyusui juga ikut
rendah.

2. Bawang putih

Bawang putih diyakini mampu membantu meningkatkan suplai ASI pada


ibu menyusui. Satu studi kecil bahkan menunjukkan jika Si Kecil akan menyusu
lebih lama jika ibunya mengonsumsi bawang putih. Namun, ada juga yang
menyatakan jika makan bawang putih bisa membuat Si Kecil jadi kolik. Intinya,
bukti dan penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mendukung pernyataan
bawang putih sebagai makanan untuk memperbanyak ASI.

3. Kurma

Kurma kaya akan kalsium yang dipercaya mampu meningkatkan jumlah


ASI dengan menaikkan prolaktin (hormon yang berfungsi membantu wanita

22
menghasilkan ASI setelah melahirkan). Selain itu, makanan untuk
memperbanyak ASI ini juga mengandung serat yang tinggi. Mencoba
mengonsumsi kurma sebagai cemilan saat menyusui juga dapat menambah
asupan energi bagi ibu.

4. Gandum (Oat)

Makanan untuk memperbanyak ASI yang satu ini berasal dari gandum
utuh yang berserat tinggi. Semangkuk oat bisa membuat Ibu merasa kenyang
lebih lama dan dipercaya membantu meningkatkan suplai ASI. Oat juga kaya
akan zat besi yang berguna melawan anemia, penyebab kacaunya suplai ASI
yang umum terjadi pada ibu baru. Terlebih pada Ibu yang mengalami banyak
perdarahan saat persalinan. Namun jika memiliki intoleransi gluten atau penyakit
Celiac, maka makanan ini tidak boleh dikonsumsi oleh ibu menyusui.

5. Ikan salmon

Salmon merupakan sumber protein yang baik. Ikan ini juga mengandung
lemak DHA yang penting untuk perkembangan sistem saraf Si Kecil. Dan jika
Ibu tidak suka dengan produk susu, Ibu bisa menggantinya dengan ikan salmon
guna mendapatkan asupan kalsium tambahan. So, tidak heran jika ikan salmon
dijadikan salah satu makanan untuk memperbanyak ASI. Selain salmon, jenis
ikan lain juga boleh dikonsumsi sebagai sumber protein agar asupan gizi Ibu
tercukupi.

6. Kacang-kacangan

Selain mengandung serat yang baik untuk sistem pencernaan, kacang


merah, kacang hitam, dan beberapa kacang lainnya juga kaya akan zat besi,
vitamin, mineral, dan protein. Memang Ibu bisa merasa sedikit kembung setelah
makan kacang, tapi untungnya, hal tersebut tidak berlaku untuk Si Kecil.

23
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Manajemen Laktasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menunjang


keberhasilan menyusui (Siregar, 2004). Laktasi adalah keseluruhan proses
menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi menghisap dan menelan
ASI. Laktasi merupakan bagian integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk
manusia (Direktorat Gizi Masyarakat, 2005).Laktasi adalah produksi dan
pengeluaran ASI, dimana calon ibu ibu harus sudah siap baik secara psikologis
dan fisik. Jika laktasi baik maka bayi cukup sehat menyusu. Produksi ASI
disesuaikan dengan kebutuhan bayi, volume ASI 500–800 ml/hari (3000 ml/hari)
(Rukiyah, dkk, 2011).

B. Saran

Proses menyusui merupakan stimulasi yang penting untuk perkembangan


mental, kecerdasan dan social emosi anak. Hal ini penting untuk pertumbuhan
psikologis yang sehat. Selain itu juga ASI mengandung zat-zat gizi yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak yang norma. Dengan
demikian, ibu perlu belajar berinteraksi dengan bayinya agar dapat sukses dalam
memberikan yang terbaik. Oleh karena itu dari makalah ini pembaca dapat
mengerti dan memahami tentang pentingnya ASI untuk perkembangan dan
pertumbuhan bayi.

24
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, dkk. 2008. Keperawatan Maternitas. Hal 460. Jakarta : EGC

Manajemen Laktasi, Depkes RI 1992

Manuaba, IBG. 1998. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana
untuk pendidikan bidan. Jakarta: EGC.

Saifuddin, Abdul Bari dkk. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal

dan Neonatal. Jakarta: JNPKKR-POGI

Psychology, 2013. Pengertian Manajemen Laktasi. Link :

http://www.psychologymania.com/2013/05/pengertian-manajemen-laktasi.html (di
akses pada Jumat, 16 Februari 2018 : 20.22 WITA)

Bobak, dkk. 2004. Keperawatan Maternitas. Hal 460. Jakarta : EGC

Depkes RI. 2001. Manajemen Laktasi Buku Panduan Bagi Bidan Dan
Petugas Kesehatan Di Puskesmas. Direktorat Jenderal Bina
Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat. Jakarta

Mellyna, H. 2003. Perawatan Ibu Pasca Melahirkan. Hal 29. Jakarta :


Puspa Swara

Hubertin, SP. 2004. Konsep Penerapan ASI Eksklusif. Hal 65. Jakarta :
EGC

Siregar. 2004. Penelitian Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor-Faktor


Yang Mempengaruhinya

Varney, Helen et all. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC

25
Verrals, S. 2003. Anatomi dan Fisiologi Terapan Dalam Kebidanan. Hal
8. Jakarta : EGC

…………. 2001 Buku Panduan Manajemen Laktasi. Dit. Gizi


masyarakat depkes RI.

http://www.iklanfun.com/tags/asi_eksklusif.html

http://www.linkagesproject.org (pemberian ASI eksklusif atau ASI saja :


satu-satunya sumber cairan yang dibutuhkan bayi usia dini. 2002)

http://www.sentrallaktasiindonesia.co.id (2007)

http://www.tabloidnakita.com (2007)

26