Anda di halaman 1dari 9

NASKAH JURNAL

PEMANTAUAN TERAPI OBAT PENYAKIT DEMAM TYFOID DAN GASTRITIS


RUANG RAWAT INAP 5B
DI RUMAH SAKIT OMNI ALAM SUTERA PERIODE 01 MARET – 30 APRIL 2017

Disusun oleh
Okvina Sari Sayang Bati, S.Farm
1643700035

PROGRAM STUDI APOTEKER FAKULTAS FARMASI


UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA
2017

Mengetahui
Pembimbing

Okpri Meila, M. Farm., Apt


PERNYATAAN
PUBLIKASI NASKAH JURNAL

Dengan ini saya selaku pembimbing skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Farmasi.

Nama : Okvina Sari Sayang Bati

NPM : 1643700035

Program Studi : Apoteker

Fakultas : Farmasi

Setuju / Tidak setuju naskah jurnal (calon naskah jurnal berkala program sarjana) yang
disusun oleh mahasiswa yang bersangkutan dipublikasi dengan tanpa mencantumkan nama
pembimbing dengan nama pembimbing sebagai co aoutor.

Demikian, harap maklum


Jakarta, 4 September 2017

Pembimbing

Okpri Meila, M. Farm., Apt


Utama
PEMANTAUAN TERAPI OBAT PADA PASIEN DEMAM TYFOID DAN
GASTRITIS PADA PASIEN RAWAT INAP DI OMNI HOSPITAL ALAM SUTERA

MONITORING OF DRUG THERAPY IN PATIENTS TYPHOID FEVER AND


GASTRITIS IN OMNI HOSPITAL ALAM SUTERA

OKVINA SARI SAYANG BATI

1643700035

Emai: vinasayangbati@gmail.com

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945


JAKARTA

PHARMACY PROFESSIONAL STUDY PROGRAM UNIVERSITY OF 17 AGUSTUS


1945

Abstrak

Penyakit demam tifoid (typhoid fever) yang biasa disebut tifus merupakan penyakit yang
disebabkan oleh bakteri Salmonella, yaitu Salmonella typhi yang menyerang bagian saluran
pencernaan. Selama terjadi infeksi, kuman tersebut bermultiplikasi dalam sel fagositik
mononuklear dan secara berkelanjutan dilepaskan ke aliran darah. Gastritis atau lebih dikenal
sebagai maag berasal dari bahasa yunani yaitu gastro, yang berarti perut/lambung
dan itis yang berarti inflamasi/peradangan. Gastritis bukan merupakan penyakit tunggal,
tetapi terbentuk dari beberapa kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan pada
lambung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menilai ketepatan pengobatan
yang diterima pasien dan untuk mengetehui apakah terjadi DRP (Drug Related Problem).
Metode penelitian ini adalah metode pengambilan sampel terhadap satu pasien secara
prespektif (maju).
Kata Kunci: demam tyfoid dan gastritis

Abstract

Typhoid fever disease (typhoid fever) commonly called typhoid is a disease caused by
Salmonella bacteria, namely Salmonella typhi that attacks the digestive tract. During
infection, the bacteria multiply in mononuclear phagocytic cells and are continuously
released into the bloodstream. Gastritis or better known as maag derived from the Greek
gastro, which means the stomach / stomach and itis which means inflammation /
inflammation. Gastritis is not a single disease, but is formed from several conditions that all
result in inflammation of the stomach. . The purpose of this study was to determine and
assess the accuracy of treatment received by patients and to determine whether there is DRP
(Drug Related Problem). The method of this research is the method of sampling on one
patient in a perspective (advanced).
Key word: Tyfoid Fever and Gastritis
Pendahuluan
Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella enterica
serovar typhi (S typhi). Salmonella enterica serovar paratyphi A, B, dan C juga dapat
menyebabkan infeksi yang disebut demam paratifoid. Demam tifoid dan paratifoid termasuk
ke dalam demam enterik. Pada daerah endemik, sekitar 90% dari demam enterik adalah
demam tifoid.
Manusia adalah satu-satunya penjamu yang alamiah dan merupakan reservoir untuk
Salmonella typhi. Bakteri tersebut dapat bertahan hidup selama berhari-hari di air tanah, air
ko lam, atau air laut dan selama berbulan-bulan dalam telur yang sudah terkontaminasi atau
tiram yang dibekukan. Pada daerah endemik, infeksi paling banyak terjadi pada musim
kemarau atau permulaan musim hujan. Infeksi dapat ditularkan melalui makanan atau air
yang terkontaminasi oleh feses.1 Di Indonesia, insidens demam tifoid banyak dijumpai pada
populasi yang berusia 3-19 tahun.1 Selain itu, demam tifoid di Indonesia juga berkaitan
dengan ru mah tangga, yaitu adanya anggota keluarga dengan riwayat terkena demam tifoid,
tidak adanya sabun untuk mencuci tangan, menggunakan piring yang sama untuk makan, dan
tidak tersedianya tempat buang air besar dalam rumah.
Diagnosis demam tifoid ditegakkan atas dasar riwayat penyakit, gambaran klinik dan
laboratorium (jumlah lekosit menurun dan titer widal yang meningkat). Diagnosis pasti
ditegakkan dengan ditemukannya kuman pada salah satu biakan. Diperlukan antibiotik untuk
menghentikan atau membunuh perkembangbiakan bakteri serta memutuskan mata rantai
penularan penyakit.
Istilah "gastritis" pertama kali digunakan pada 1728 oleh Dokter Jerman, Georg Ernst
Stahl untuk menggambarkan peradangan pada lapisan dalam perut,sekarang dikenal menjadi
sekunder untuk mukosa cedera (yaitu, sel kerusakan dan regenerasi). Dalam banyak gastritis
dianggap melewati temuan histologis berguna, tetapi tidak penyakit. Ini semua berubah
dengan penemuan Helicobacter pylori oleh Robin Warren dan Barry Marshall pada tahun
1982 yang mengarah ke identifikasi, deskripsi dan klasifikasi dari banyak berbeda gastritides.
The gastritides kronis diklasifikasikan atas dasar penyebab yang mendasari mereka
(misalnya, H pylori, empedu refluks, obat nonsteroid antiinflamasi [NSAID], autoimunitas
atau respon alergi) dan pola histopatologi, yang mungkin menyarankan penyebab dan
perjalanan klinis mungkin (misalnya, H pylori - terkait multifocal gastritis atrofi). Klasifikasi
lain didasarkan pada endoskopi yang penampilan lambung mukosa (misalnya, varioliform
gastritis).
Hal ini penting untuk membedakan antara gastritis dan gastropati (di mana ada
kerusakan sel dan regenerasi, tetapi peradangan minimal). gastritis reaktif disebabkan oleh
cedera pada mukosa lambung akibat refluks empedu dan sekresi pankreas ke dalam perut,
tetapi juga bisa disebabkan oleh zat eksogen, termasuk NSAID, asam asetilsalisilat, agen
kemoterapi, dan alkohol. Bahan kimia ini menyebabkan kerusakan epitel, erosi, dan bisul
yang diikuti oleh hiperplasia regeneratif terdeteksi sebagai hiperplasia foveolar, dan
kerusakan kapiler, dengan edema mukosa, perdarahan, dan peningkatan otot polos di lamina
propria dengan minimal atau tidak ada peradangan.
Deskripsi Kasus
Pasien dengan nama Ny. IM umur 23 tahun masuk rumah sakit pada 31 maret 2017
dengan keluhan demam sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, disertai mual,
kembung,dan pasien sempat pingsan saat bekerja ± 8 jam sebelum masuk rumah sakit. Ny.
IM mempunyai riwayat penyakit gastritis dan didiagnosa oleh dokter demam tyfoid.
Pemeriksaan vital pada tanggal 31 maret TD: 110/70 mmHg, suhu tubuh: 38,9ºC, pernapasan:
20x/menit, nadi: 78x/menit. Tanggal 1 april TD: 120/80 mmHg, suhu tubuh: 37,5ºC,
pernapasan: 20x/menit, nadi: 80x/menit. Tanggal 2 april TD: 100/70 mmHg, suhu tubuh:
37,2ºC, pernapasan: 20x/menit, nadi: 80x/menit. Tanggal 3 april TD: 110/70 mmHg, suhu
tubuh: 36,8ºC, pernapasan: 20x/menit, nadi: 82x/menit. Tanggal 4 april TD: 110/70 mmHg,
suhu tubuh: 36,5ºC, pernapasan: 20x/menit, nadi: 80x/menit.

Hasil Laboratorium
Tanggal 31 maret Leukosit: 6,9 mi, Eritrosit: 4,52 juta/ µL, Hb: 13,1 g/dL, Hematokrit: 40%,
Trombosit: 255.000/ µL, Laju Endap Darah: 25 mm/jam, Basofil: 0%, Eosinofil: 0%, Batang:
0%, Segmen: 79%, Limfosit: 10%, Monosit: 11%, MCV: 89fL, MCH: 29pg, MCHC: 33g/dl,
Salmonella thypi O: 1/320, Salmonella parathypi BO: 1/320

Diskusi dan Pembahasan


Pemantauan terapi obat adalah proses yang memastikan bahwa seorang pasien diobati
dengan zat terapi yang paling efektif, paling murah, dalam suatu cara yang akan
meningkatkan efek samping dan meminimalkan efek samping.
Pemantauan terapi obat (PTO) dilakukan di OMNI Hospital Alam Sutera ruangan 5B
terhadap pasien Ny. IM yang masuk ke rumah sakit pada 31 maret 2017 dengan keluhan
demam sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, disertai mual, kembung,dan pasien
sempat pingsan saat bekerja ± 8 jam sebelum masuk rumah sakit. Ny. IM mempunyai riwayat
penyakit gastritis.
Obat-obat yang diberikan kepada pasien selama dirawat dari tanggal 31maret-04 april
2017 adalah piralen, ceftriaxone, antasida, pirox, cortidex, codipron, sanmol, inhipump.
Penatalaksanaan yang diberikan kepada Ny.IM setelah dilakukan pemeriksaan
diberikan ceftriaxone yang merupakan antibiotik untuk mengobati demam tifoidnya, antasida
untuk mengobati gastritis dengan cara menetralkan asam lambung dan meminimalkan efek
samping dari ceftriaxone, pirox merupakan kapsul racikan diberikan untuk mengurangi rasa
pusing, pegal dan pusing.
Piralen diberikan untuk mengurangi rasa mual atau muntah yang dialami pasien,
cortidex diberikan untuk mengatasi gangguan kesadaran atau syok yang dialami pasien.
Codipront diberikan dengan tujuan mengatasi batuk pasien.
Setelah melihat dan mengkaji data Ny.IM dengan diagnosa Demam Tyfoid maka
terapi yang diberikan sebagian sudah sesuai dengan indikasi dan keluhan serta berdasarkan
data klinik laboratorium, namun pemberian terapi beberapa obat harus dimonitoring dan
diatur range pemberiannya karena terjadi interaksi yang merupakan DRP (drug related
problem) yaitu:
1. Dexamethasone + Diazepam
Deksametason akan menurunkan kadar atau efek dari diazepam dengan mempengaruhi
metabolisme enzim CYP3A4 di hati/intestinal.
2. Diazepam + Codein
Diazepam dan kodein kedua meningkatkan sedasi
3. Piroxicam + Dexamethasone
Keduanya saling meningkatkan toksisitas satu sama lain melalui efek sinergis
farmakodinamik
4. Codein + Cafein
Codeine meningkatkan efek sedasi sedangkan caffeine menurunkan efek sedasi
Asuhan Kefarmasian
1. Menjaga kebersihan makanan dan sanitasi, juga memastikan air yang akan digunakan
dalam keadaan bersih.
2. Melakukan konseling obat kepada pasien mengenai terapinya agar pasien patuh dalam
pengobatan
3. Melakukan monitoring obat yang akan diberikan kepada pasien.
Kesimpulan
Setelah dilakukan pemantauan terapi obat pada pasien Ny. IM dengan nomor rekam
medik (00xxxx) diruang perawatan 5B, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian obat yang
diberikan sesuai dengan indikasi,keluhan dan data penunjang medik serta diagnosa masih
rasional, namun pemberian beberapa obat harus diperhatikan kegunaannya sebelum diberikan
kepada pasien, dimonitoring dan diatur jam pemberianya karena adanya interaksi obat
seperti dexamethasone + diazepam, diazepam + codein, piroxicam + dexamethasone, codein
+ cafein.
Daftar Pustaka

Algerina, A. (2008). Demam Tifoid dan lnfeksi Lain dari Bakteri Salmonella. http:
medicastore.com/penyakit/10/Demam_Tifoid.html

Badan POM. 2008. Information Obat Nasional Indonesia (IONI), Jakarta

Darmowandowo W. 2006. Demam Tifoid : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak : Infeksi &
Penyakit Tropis, Edisi 1. BP FKUI. Jakarta. 2002

Medscape

National Institute For Communicable Disease. 2016. Typhoid: NICD reccomendations for
diagnosis, management and public health response, 2016.

National Digestive Diseases Informstion Glearinghouse. 2014. Gastritis, New York.

Rampengan T.H, Laurentz. I. R. Penyakit Tropik Anak. EGC. Jakarta. 1993.

Rahayu E. 2013. Sensitivitas Uji Widal dan Tubex Untuk Diagnosis Demam Tifoid
berdasarkan Kultur Darah. Universitas Muhammadiyah. Semarang

Salyers A., Whitt D. 2002. Bacterial Pathogenesis: A Molecular Approach 2nd Edition.
ASM Press.

Sudoyo AW. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta