Anda di halaman 1dari 23

LANDASAN TEORI

BAYI BARU LAHIR (BBLR) DENGAN TINDAKAN EXT. FORSEP

A. Pengertian

Ekstraksi forcep atau ektrasi cunam adalah tindakan obstetrik yang bertujuan untuk
mempercepat kala pengeluaran dengan jalan menarik, bagian janin (kepala) dengan
alat cunam. Tindakan ini dilakukan karena ibu tidak dapat mengedan efektif untuk
melahirkan janin walaupun sebagian besar proses pengeluaran dihasilkan dari
ektraksi cunam tetapi bukan berarti kekuatan menjadi tumpuan dari prosedur ini.
Tarikan pada kepala bayi, dilakukan dengan mencengkram kedua sisi lateral kepala
(dengan memperhatikan denominator) sehingga tidak banyak menimbulkan trauma
pada janin. Pemasangan cunam disesuaikan dengan tingkat penurunan dan diameter
jalan lahir, agar pemasangan dan ekstraksi tidak menimbulkan trauma hebat pada ibu.

Ada 2 gaya yang bekerja pada prosedur ini, yaitu :


1. Tekanan intrauterin (oleh kontraksi)
2. Gaya tarik (ekstraksi)

 Pembagian ekstraksi cunam berdasarkan penurunan kepala :


a. Cunam tinggi (tidak dipakai lagi, banyak dilakukan tindakan SC).
b. Cunam tengah (jarang dipakai, banyak dilakukan tindakan SC atau eks
vorcep).
c. Cunam rendah : Kepala sudah di PBP (Pintu Bawah Panggul) dan SS
anteroposterior (Supra simpisis anteroposterior).
 Indikasi ekstraksi cunam
Indikasi ibu : PEB (preaklamsi berat), ekslamsia, rupture uteri membakat,
penyakit jantung dan penyakit paru.
Indikasi Janin : Gawat janin
Indikasi waktu : Kala II memanjang
 Kontra indikasi tidak ada jika semua syarat terpenuhi
 Syarat ekstraksi cunam
1. Tidak ada disproporsi sefalopelvik
2. Pembukaan serviks lengkap
3. Kepala janin sudah dapat dipegang oleh cunam
4. Janin hidup
5. Ketuban sudah pecah / dipecahkan
6. Kepala di hodge III atau lebih
7. Kontraksi baik
8. Ibu tidak gelisah atau koperatif
 Komplikasi ekstraksi cunam
1. Ibu : Perdarahan post partum, trauma jalan lahir dan infeksi jalan lahir.
2. Janin : Luka pada kulit kepala, cedera pada muskulus sterno klerdo mastad,
paralis nervus VII, fraktur tengkorak, perdarahan intrakranial.
 Ekstraksi cunam gagal karena :
Sendok cunam tidak dapat di kunci meskipun pemasangan cunam sudah betul tiga
kali fraksi dengan tenaga cukup janin tidak dapat lahir sebab kegagalan :
- Kesalahan menentukan denominator kepala
- Adanya lingkaran kontriksi
- Adanya disproporsi sedalo-pelvik yang tidak ditemukan sebelumnya

Forsep merupakan alat logam menyerupai sendok, bedanya dengan vakum, eksforsep
bisa dilakukan tanpa tergantung tenaga ibu jadi bisa dilakukan meskipun ibu tidak
mengedan (misalnya saat terjadi keracunan kehamilan, asma atau penyakit jantung).
Persalinan dengan forcep realtif lebih berisiko dan lebih sulit dilakukan, namun
kadang terpaksa dilakukan juga apalagi jika kondisi ibu dan anak sangat tidak baik.

B. Caput Succedenium dan Chepalo Hematoma

1. Pengertian
 Caput seccedenium
Pembengkakan pada suatu tempat di kepala karena adanya timbunan getah
bening dibawah lapisan aponerose diluar periostinum dapat menghilang
dengan sendirinya 2 – 3 hari.

Penyebabnya adalah partus lama dan persalinan dengan vacum ekstraksi dan
forcep biasanya terlihat adanya :
a. Benjolan lunak pada kepala bayi
b. Bayi rewel
c. Adanya oedema di kepala
d. Pada perabaan teraba lembut dan lunak
e. Oedem melampauai sela-sela tulang tengkorak
f. Batas tidak jelas

 Chepalo hematoma
Pembengkakan pada kepala karena adanya penumpukkan darah yang
disebabkan perdarahan sub periostinum yang akan terabsorbsi dengan
sendirinya dalam 1 minggu.

Hal ini dapat disebabkan karena :


a. Tekanan jalan lahir terlalu lama pada kepala waktu persalinan
b. Multage terlalu keras sehingga selaput tengkorak robek
c. Partus dengan tindakan forsep atau eks vakum

Biasanya terlihat adanya :


a. Kepala bengkak dan merah
b. Bayi rewel
c. Batasnya jelas
d. pada perabaan mula-mula keras lambat laun lunak
C. Perubahan-Perubahan Pada Bayi Baru Lahir

1. Perubahan sistem pernapasan


Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi 30 detik. Sesudah kelahiran dalam
rahim janin mendapat O2 dan melepaskan CO2 melalu plasenta. Paru-paru janin
mengandung cairan surfaktan, yang berfungsi mengurangi tekanan permukaan
alveolus dan membantu menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps
pada setiap akhir pernafasan.

Tekanan rongga dada bayi pada saat melalui jalan lahir pervaginam
mengakibatkan cairan paru-paru (pada bayi normal jumlahnya 80 sampai 100 ml)
kehilangan 1/3 dari jumlah cairan tersebut, sehingga cairan yang hilang ini diganti
dengan udara paru-paru berkembang sehingga rongga dada kembali pada bentuk
semula pernapasan pada neonatus terutama pernafasan diafragmatik dan
abdominal dan biasanya masih tidak teratur frekuensi dan dalam pernafasan.

2. Perubahan sirkulasi
Dengan berkembangnya paru-paru mengakibatkan tekanan CO2 meningkat dan
tekanan CO2 menurun, hal ini mengakibatkan turunnya resistensi pembuluh darah
paru sehingga aliran darah kealat tersebut meningkat. Hal ini menyebabkan darah
dari arteri palmonalis mengalir ke paru-paru dan ductus arteriosus menutup.
Dengan menciutnya arteri dan vena umbilical kemudian tali pusat dipotong di
alirkan dari placenta melalui vena cara interior dan foramen ovale ke atrium kiri
terhenti. Sirkulasi janin sekarang berubah menjadi sirkulasi bayi yang hidup
diluar badan ibu.

3. Perubahan sistem pengaturan suhu tubuh


BBL memiliki mekanisme pertahanan suhu tubuh yang lemah dan beluk efisien
sehingga penting untuk menjaga suhu tubuh bayi, kehilangan panas dapat terjadi
melalui proses :
- Konveksi
- Konduksi
- Evaporasi
- Radiasi

Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil


merupakan jalan, utama bayi mempertahankan dan mendapatkan kembali panas
tubuh, bayi menggunakan lemak coklat untuk panas.

4. Metabolisme glukosa
Untuk memfungsikan orak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu, bayi
harus dapat mempertahankan glukosa darahnya dimulai saat menjepit tali pusat.
Pada BBL glukosa darah menurun dalam waktu cepat (1-2 jam) seorang bayi
yang sehat sebelum lahir dalam bulan-bulan terakhir akan menyimpan gukosa
sebagai glikogen dalam hati.

Bayi hipotermi dan terjadi hipoksia akan menggunakan persedaan glikogen, jika
semua persediaan digunakan akan menyebabkan otak bayi dalam keadaan
berisiko akibat dari jangka panjang hipoglikemia adalah kerusahakan otak sangat
penting menjaga kehangatan tubuh bayi untuk mencegah terjadinya hipoglikemia.
Gejala hipoglikemia (bisa tidak jelas dan tidak khas).
- Kejang halus
- Stanosis, apnoe
- Tangis lemah
- Latergi, lunglai
- Menolak makanan

5. Perubahan sistem gastrointestinal


Dalam waktu 2 jam setelah lahir akan terjadi penurunan kadar gula darah, untuk
menambah energi pada jam-jam pertama setelah lahir diambil dari hasil
metabolisme asam lemak bila kerena suatu hal misalnya bayi mengalami
hipotermi, metabolisme asam lemak dapat memenuhi kebutuhan pada neonatus
maka memungkinkan besar bayi akan menderita hipoglikemia.

6. Perubahan sistem kekebalan tubuh


Sistem imunitas BBL belum matang sehingga masih rentan terhadap infeksi dan
alergi, terutama infeksi masuk melalui mukosa sistem pernafasan dan
gastrointestinal. Janin dalam rahim mendapatkan perlindungan dari infeksi oleh :
- Kantong ketuban yang masih utuh
- Mekanisme barier plasenta
ASI terutama kolostrum memberikan kekebalan pasif sebagai perlindungan
terhadap infeksi.

D. Nilai Apgar Score

Tabel nilai apgar


Skor 0 1 2
A : Appearance color Pusat Badan merah, Seluruh tubuh
(warna kulit) ektremitas biru kemerah-merahan
P : Pulse (heart rate) (fr. Tidak ada < 100 x/menit > 100 x/menit
Jantung)
G : Grimace (reaksi Tidak ada Sedikit gerakan Menangis,
terhadap rangsangan) mimik batuk/bersin
A : Activity (tonus otot) Lumpuh Ekstremitas dalam Gerakan aktif
fleksi sedikit
R : Respiration (usaha Tidak ada Lemah tidak teratur Menangis aktif
nafas)

Keterangan : - Nilai 7-10 : Bayi normal


- Nilai 4-6 : Bayi asfiksia ringan – sedang
- Nilai 0-3 : bayi asfiksia berat
E. Tanda-Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai Pada Bayi Baru Lahir

1. Pemberian ASI sulit, sulit menghisap dan hisapan lemah


2. Kesulitan bernafas, yaitu pernafasan cepat > 60 x/menit atau menggunakan otot
nafas tambahan.
3. Latergi, bayi terus menerus tidur tanpa bangun untuk makan.
4. Warna abnormal : kulit / bibir biru, kulit kuning
5. Suhu badan terlalu panas atau terlalu dingin ( < 36oC dan > 38oC)
6. Aktifitas menggigil atau tangan tak biasa, sangat mudah tersinggun, lemas,
menangis terus-menerus.
7. Gangguan gastro intestinal yaitu tinja/kemih tidak berkemih dalam 24 jam, tinja
lembek, sering, hijau tua, ada lendir atau darah pada tinja.
8. tali pusat merah, bengkak, keluar cairan (nanah) dan bau busuk.

F. Pertolongan Pada Waktu Bayi Lahir

1. Melakukan pembersihan lendir pada saat kepala keluar dengan pembersihan


mulut, hidung dan mata dengan kapas atau kassa steril.
2. Mencatat waktu dilahirkan dengan stop watch.
3. Menghisap lendir sebersih mungkin sambil bayi ditidurkan dengan kepala lebih
rendah dari kaki dalam posisi sedikit ekstensi, supaya lendir mudah keluar.
4. Mengikat tali pusat dengan baik dan bekas luka diberi antiseptik kemudian dijepit
dengan klem jepit plastik atau diikat dengan pita atau benang tali pusat.
5. Segera setelah lahir, bayi yang sehat akan menangis kuat, bernafas, serta
menggerakan tangan dan kakinya, kulit akan berwarna kemerahan.
6. Membersihkan bayi dengan air hangat kuku dari lumurah darah, air ketuban,
mekoneum dan vernik kascosa. Bisa juga dibersihkan dengan menggunakan
minyak kelapa atau minyak zaitun.
7. Menimbang berat badan bayi dan mengukur panjang badan lahirnya, kemudian
dreatat dalam status bayi.
8. Perawatan mata bayi :
- Mata bayi dibersihkan, kemudian diberikan obat untuk mencegah glenorchea :
o Metode crede : dengan meneteskan nitras argentil 1-2% sebanyak 2 tetes
pada masing-masing mata.
o Penisilin salep atau garam dan salep mata
9. Memeriksa anus, genitalia eksterna dan jenis kelamin pada bayi.
10. Memperlihatkan bayi kepada ibu, ayah dan keluarga yang mendapingi
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR
DENGAN TINDAKAN EXTRAKSI FORSEP
TERHADAP BAYI Ny. F DI RUANG NIFAS
RSU ABDUL MOELOEK

I. PENGKAJIAN
Pada Tanggal : 04 Februari 2009 Pukul : 11.30 WIB
Oleh : Dewi Ayu Ningsih No. RM : 87.70.57

A. Data Subjektif
1. Identitas
Nama Ibu : Ny. F
Umur : 30 tahun
Suku / Bangsa : Lampung / Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Bukit Kemiling Permai

B. Data Objektif
1. P1 Ao post partum dengan tindakan ektermitas forsep
2. Catatan waktu persalinan
Kala I : Pukul 22.30 WIB s/d 11.40 WIB : 13 jam 10 menit
Kala II : Pukul 11.40 WIB s/d 11.45 WIB : - jam 5 menit
3. Keadaan ketuban dan air ketuban
a. Ketuban pecah pukul 11.40 WIB
b. Keadaan air ketuban jernih
4. Jenis persalinan : Dengan tindakan extermitas forcep pada pukul 11.45 WIB
5. Keadaan tali pusat : tidak ada lilitan tali pusat
C. Keadaan Fisik Bayi Baru Lahir
1. Apgar Score : 8/10
Score
No Aspek yang Dinilai Keterangan
Menit I
1 Frekuensi jantung 2 > 100 x/menit
2 Usaha nafas 2 Menangis kuat
3 Tonus otot 1 Pergerakan positif
4 Warna kulit 2 Seluruh tubuh kemerahan
5 Respon terhadap rangsangan 1 Gerakan lemah
8

Score
No Aspek yang Dinilai Keterangan
Menit I
1 Frekuensi jantung 2 > 100 x/menit
2 Usaha nafas 2 Menangis kuat
3 Tonus otot 2 Pergerakan positif
4 Warna kulit 2 Seluruh tubuh kemerahan
5 Respon terhadap rangsangan 2 Gerakan lemah
10

2. Keadaan umum dan antrometri


a. Nadi : 130 x/menit e. PB : 50 cm
b. Respirasi : 46 x/menit f. LK : 35 cm
c. Suhu : 37 oC g. LD : 31 cm
d. BB : 2600 gr h. LLA : 8 cm

3. Keadaan umum dan antrometri


a. Kepala
Ubun-ubun besar dan kecil rata, terdapat caput succesdeneum, tidak
terdapat cepat inematoma, tidak ada moulage, ada sutura.
b. Rambut
Warna hitam, tebal dan bersih
c. Mata
Simetris, sklera anikterik, konjungtiva an anemis, ada bulu mata, tidak
strabismus, tidak terdapat kelainan pada pupil.
d. Hidung
Bersih, belum terdapat bulu hidung dan terdapat 2 lubang hidung yang
terpisah oleh septum nassal, tidak ada pernapasan enping hidung.
e. Telinga
Bentuk simetris, terdapat lubang telinga, tidak ada serumen, tidak ada
kelainan pada telinga.
f. Mulut dan gigi
Bibir simetris, tidak ada palato schizis, tidak ada labio schizis, tidak ada
stomatitis, refleks menghisap dan menelan baik.
g. Leher
Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening.
h. Dada
1. Jantung : Bunyi jantung teratur (lup-dup)
2. Paru-paru : Tidak terdapat bunyi ronchi dan wheezing
3. Payudara : Simetris
i. Abdomen
Simetris, tidak ada perdarahan tali pusat, tidak ada infeksi tali pusat dan
tidak ada kelainan.
j. Punggun dan Pinggang
Fleksibilitas tulang punggung baik dan tidak ada kelainan
k. Ekstremitas atas dan bawah
Tangan : Pergerakan baik, jari tangan kiri dan kanan lengkap, reflek
moro baik
Kaki : Pergerakan baik, jari kaki kiri dan kanan lengkap
l. Anogenital
Jenis kelamin laki-laki, terdapat lubang anus.
4. Pola sehari-hari
a. Nutrisi
Tanggal 6 Februari 2009 bayi sudah diberi ASI oleh ibunya secara on
demand.
b. Eliminasi
BAB : Mekoneum, BAB pertama kali tanggal 5 Februari 2009
dengan frekuensi ± 3-4 x/hari.
BAK : Warnanya jernih kekuning, berbau khas, dengan frekuensi ±
3-4 x/hari.
c. Istirahat dan tidur
Bayi tidur dengan tenang tetapi terkadang rewel
d. Kebersihan diri
Bayi dimandikan 2 x/hari dengan menggunakan air hangat dan mengganti
popok bayi yang basah dengan popok yang kering dan bersih,
membersihkan daerah genitalia setiap kali bayi BAB dan BAK.

II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA, MASALAH DAN KEBUTUHAN

Diagnosa : Neonatus cukup bulan sesuai dengan masa kehamilan


Dasar : 1. Bayi lahir letak belakang kepala dengan tindakan ekstermitas
forcep pada tanggal 4 Februari 2009 pada pukul 11.45 WIB.
2. Usia gestasi 39 minggu
3. Jenis kelamin laki-laki, PB : 50 cm, BB : 2600 gr dan A/S :
8/10.
Masalah : Terdapat caput succedeum
Kebutuhan : Menjelaskan kepada keluarga tentang caput succedeneum

III. ANTISIPASI DIAGNOSA / MASALAH


Tidak ada
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN KONSULTASI, KOLABORASI DAN
TINDAKAN SEGERA
Tidak ada

V. PERENCANAAN
1. Anjurkan kepada ibu untuk merawat bayi seperi merawat bayi normal
Rasional : Dengan melakukan perawatan pada bayi maka kesehatan bayi
dan kebersihan dapat terjaga dengan baik.
2. Jaga suhu tubuh bayi tetap hangat
Rasional : Untuk mencegah terjadinya kehilangan panas dan suhu tubuh
bayi tetap hangat.
3. Berikan penyuluhan mengenai benjolan pada kepala bayi
Rasional : Dengan memberikan penyuluhan maka ibu tidak akan merasa
cemas dengan keadaan bayinya dan akan merasa lebih tenang.
4. Anjurkan kepada ibu untuk tidak melakukan / memberikan ramuan-ramuan
tradisional pada benjolan di kepala bayi
Rasional : Dengan diberikannya ramuan-ramuan tradisional akan
memperburuk keadaan dan memperberat benjolan pada kepala
bayi.
5. Anjurkan kepada ibu untuk tidak sering mengangkat bayinya
Rasional : Dengan bayi tidak sering diangkat maka benjolan tidak meluas
atau dapat mengurangi perluasaan benjolan dikepala bayi.
6. Lakukan perawatan tali pusat
Rasional : Untuk mencegah terjadinya infeksi karena tali pusat yang basah
dapat menjadi tempat pertumbuhan mikroorganisme jadi tali
pusat harus tetap dalam keadaan bersih.
7. Berikan bayi kepada ibu untuk dilakukan rawat gabung
Rasional : Agar tercipta ikatan batin antara ibu dan bayinya dan
mempermudah proses pemberian ASI.
V. PERENCANAAN
Tanggal : 04 Februari 2009 Pukul : 11.45 WIB

1. Menganjurkan kepada ibu untuk merawat bayi seperti merawat bayi normal,
yaitu menjaga bayi dalam keadaan hangat, mengganti popok beserta pakaian
bayi dengan popok dan pakaian yang bersih dan kering serta memandikan
bayi.
2. Menjaga suhu tubuh bayi tetap hangat, yaitu dengan cara membedong dan
menyelimuti tubuh bayi dan menutupi kepala bayi dengan topi.
3. Memberikan penyuluhan mengenai benjolan pada kepala bayi yaitu
pembengkakan karena adanya timbunan getah bening dibawah lapisan kulit
kepala dan dapat menghilang dengan sendirinya 2-3 hari.
4. Menganjurkan kepada ibu untuk tidak memberikan ramuan-ramuan
tradisional pada benjolan dikepala bayi karena akan memperburuk keadaan.
5. Menganjurkan kepada ibu untuk tidak sering mengangkat bayinya karena hal
ini akan memperluas benjolan dikepala bayi.
6. Melakukan perawatan tali pusat dengan cara membersihkan daerah tali pusat
dengan menggunakan kassa steril.
7. Memberikan bayi kepada ibu untuk dilakukan rawat gabung

V. PERENCANAAN
Tanggal : 04 Februari 2009

1. Ibu mau melakukan perawatan bayi


2. Bayi sudah di bedong, diselimuti dan diberi topi pada daerah kepala dan bayi
terlihat tenang.
3. Ibu sudah mengerti dengan benjolan yang ada di kepala bayinya.
4. Ibu mau untuk tidak memberikan ramuan-ramuan tradisional dikepala
bayinya.
5. Ibu mau untuk tidak mengangkat bayinya
6. Sudah dilakukan perawatan tali pusat sesudah mandi dengan menggunakan
kassa steril.
7. Bayi dan ibu sudah berada dalam satu ruangan.
CATATAN PERKEMBANGAN
PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN TINDAKAN
EXTERMITAS FORCEP HARI KE – 2

Tanggal : 05 Februari 2009 Pukul : 09.00 WIB

S : Data Subjektif
Ibu mengatakan bayi sering menangis dengan kuat
Ibu mengatakan bayi tidur dengan tenang dan tidak gelisah
Ibu mengatakan bayi menghisap kuat
Ibu mengatakan Asi belum keluar
Ibu mengatakan bayi BAB dengan frekuensi 2 x/hari, berwarna hitam,
konsistensi lunak dan bayi BAK dengan frekuensi ± 6 x/hari, konsistensi
cair dan bau khas.

O : Data Objektif
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Gerakan ekstremitas (kaki dan tangan) aktif
Tanda-tanda vital :
Suhu : 36,5 oC
Nadi : 129 x/menit
RR : 45 x/menit
Pemeriksaan fisik :
Tidak ada sianosis, tidak ikterik, warna kulit merah muda, bennjolan di
kepala sudah berkurang, turgor kulit baik, tidak ada kembung pada
abdomen, tidak terdapat perdarahan tali pusat dan tidak terdapat tanda-
tanda infeksi.
A : Analisis Data
Diagnosa : Neonatus cukup bulan, sesuai masa kehamilan
Dasar : - Bayi lahir letak belakang kepala dengan tindakan
extermitas forcep pada tanggal 04 Februari 2009, Pukul
11.45 WIB.
- Usia gestasi 39 minggu
- Jenis kelamin laki-laki, PB : 5 cm, BB : 2600 gr dan A/S :
8/10.
Masalah : Tidak ada
Kebersihan : Tidak ada

P : Perencanaan
1. Pantau keadaan umum bayi dan tanda-tanda vital bayi
Rasional : Untuk mengetahui perkembangan kondisi bayi dan mengetahui
adanya kelalainan atau tidak ada bayi.
2. Tetap lakukan perawatan bayi sehari-hari
Rasional : Dengan melakukan perawatan pada bayi maka kesehatan bayi
dan kebersihan dapat terjaga dengan baik.
3. Tetap lakukan perawatan tali pusat
Rasional : Agar bayi terhindar dari infeksi karena tali pusat yang basah
dapat menjadi tempat pertumbuhan mikroorganisme jadi tali
pusat harus tetap dalam keadaan bersih.
4. Anjurkan ibu untuk menyusui secara on demand meskipun ASI belum
keluar.
Rasional : Untuk merangsang hipotalamus anterior untuk menghasilkan
hormon prolaktin sehingga meningkatkan produksi ASI
sekaligus juga dipotalamus posterior untuk menghasilkan
hormon oksitosin yang berguna untuk mempercepat pemulihan
uterus.
5. Ajarkan ibu tentang perawatan payudara
Rasional : Agar produksi ASI lancar

P : Pelaksanaan
Tanggal : 05 Februari 2009

1. Memantau keadaan umum bayi, nadi, pernafasan dan suhu tubuh bayi
2. Melakukan perawatan bayi sehari-hari seperti menjaga tubuh bayi dalam
keadaan hangat seperti mengganti popok, membedong bayi dan
memandikan bayi.
3. Melakukan perawatan tali pusat dengan cara membersihkan daerah tali
pusat dengan menggunakan sabun (pada saat memandikan bayi) kemudian
menutup tali pusat dengan menggunakan kassa steril.
4. Menganjurkan ibu untuk menyusui secara on demand meskipun ASI belum
keluar.
5. Mengajarkan ibu tentang perawatan payudara dengan langkah.
- Cuci tangan
- Meneteskan minyak ke telapak tangan
- Mengurut payudara dengan arah memutar dari bawah keatas sebanyak
20-30 x.
- Mengurut Payudara dengan menggunakan sisi pinggir telapak tangan
sebanyak 20-30x.
- Mengurut payudara dengan menggunakan buku-buku jari sebanyak 20-
30 kali.
- Cuci tangan

Evaluasi
1. Keadaan umum bayi baik, daya hisap (+), N : 129 x/menit, S : 36,5 oC, RR : 45
x/menit.
2. Sudah dilakukan perawatan bayi sehari-hari seperti mengganti popok dan
memandikan bayi dan juga membedong bayi.
3. Sudah dilakukan perawatan tali pusat dan sudah dibungkus dengan kassa steril
4. Bayi sudah disusukan
5. Ibu sudah mengerti cara perawatan payudara
CATATAN PERKEMBANGAN
PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN TINDAKAN
EXTERMITAS FORCEP HARI KE – 3

Tanggal : 06 Februari 2009 Pukul : 09.00 WIB

S : Data Subjektif
Ibu mengatakan bayi sering menangis dengan kuat
Ibu mengatakan bayi tidur dengan tenang dan tidak gelisah
Ibu mengatakan bayi menghisap kuat
Ibu mengatakan Asi sudah diberikan sesuai kebutuhan (on demand)
Ibu mengatakan bayi BAB dengan frekuensi 2 x/hari, berwarna hitam,
konsistensi lunak dan bayi BAK dengan frekuensi ± 6 x/hari, konsistensi
cair dan bau khas.

O : Data Objektif
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Gerakan ekstremitas (kaki dan tangan) aktif
Tanda-tanda vital :
Suhu : 36,5 oC
Nadi : 130 x/menit
RR : 47 x/menit
Pemeriksaan fisik :
Tidak ada sianosis, tidak ikterik, warna kulit merah muda, bennjolan di
kepala sudah berkurang, turgor kulit baik, tidak ada kembung pada
abdomen, tidak terdapat perdarahan tali pusat dan tidak terdapat tanda-
tanda infeksi.
A : Analisis Data
Diagnosa : Neonatus cukup bulan, sesuai masa kehamilan
Dasar : - Bayi lahir letak belakang kepala dengan tindakan
extermitas forcep pada tanggal 04 Februari 2009, Pukul
11.45 WIB.
- Usia gestasi 39 minggu
- Jenis kelamin laki-laki, PB : 5 cm, BB : 2600 gr dan A/S :
8/10.
Masalah : Tidak ada
Kebersihan : Tidak ada

P : Planning
1. Pantau keadaan umum bayi dan tanda-tanda vital bayi
Rasional : Untuk mengetahui perkembangan kondisi bayi dan mengetahui
adanya kelalainan atau tidak ada bayi.
2. Tetap lakukan perawatan bayi sehari-hari
Rasional : Agar bayi merasa nyaman dan kebersihan bayi tetap terjaga.
3. Tetap lakukan perawatan tali pusat
Rasional : Agar bayi terhindar dari infeksi.
4. Anjurkan ibu untuk menyusui secara on demand.
Rasional : Untuk merangsang hipotalamus anterior yang menghasilkan
hormon prolakdin sehingga meningkatkan produksi ASI juga
dipotalamus posterior yang menghasilkan hormon oksitosin
yang berguna untuk proses involusi uterus.
5. Anjurkan pada ibu untuk menjemur bayinya pada pagi hari
Rasional : Agar Cahaya pagi hari mengandung Vit. D yang dapat
mencegah terjadinya ikterik neonatorum.
6. Anjurkan ibu untuk melakukan kunjungan neonatal dan imunisasi bayinya.
Rasional : Agar kondisi bayi tetap terpantau oleh tenaga kesehatan dan
bayi dapat memperoleh imunisasi sesuai kebutuhannya.
P : Pelaksanaan
Tanggal : 06 Februari 2009
1. Memantau keadaan umum bayi, nadi, pernafasan dan suhu tubuh bayi
2. Melakukan perawatan bayi sehari-hari seperti mengganti pakaian dan
membedong bayi juga memandikan bayi.
3. Melakukan perawatan tali pusat dengan cara membersihkan daerah tali
pusat kemudian menutup dengan kassa steril serta menjaga daerah
sekitarnya tali pusat selalu dalam keadaan bersih dan kering.
4. Menganjurkan ibu untuk menyusui secara on demand yaitu memberikan
ASI sesuai dengan kebutuhan bayi, dengan menyusui ± 20-30 menit dalam
2-3 jam dan memberitahu ibu untuk memberikan ASI ekslusif selama ± 6
bulan pertama.
5. Menganjutkan kepada ibu untuk menjemur bayinya pada pagi hari dari
pukul 07.00 – 07.30 WIB untuk menghindari terjadinya ikterik neonatorum.
6. Menganjurkan kepada ibu untuk melakukan kunjungan neonatal dan
imunisasi pada bayinya yang :
- Kunjungan neonatal I : 0-7 hari
- Kunjungan neonatal II : 7-28 hari
- Imunisasi

Evaluasi
Tanggal 06 Februari 2008
1. Keadaan umum bayi baik, daya hisap (+), N : 130 x/menit, S : 36,5 oC, RR : 47
x/menit.
2. Sudah dilakukan perawatan bayi sehari-hari seperti mengganti popok dan
memandikan bayi dan juga membedong bayi.
3. Sudah dilakukan perawatan tali pusat dan sudah dibungkus dengan kassa steril
4. Ibu sudah menyusui bayinya secara on demand dan mengerti tentang pentingnya
ASI eksklusif.
5. Bayi sudah dijemur dari pukul 07.00 – 07.30 WIB
6. Ibu mau melakukan kunjungan neonatal dan membawa bayinya ketenaga
kesehatan untuk diberikan imunisasi.
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR
DENGAN TINDAKAN EXTRAKSI FORCEP

Disusun Oleh :
DEWI AYU NINGSIH
070517

AKADEMI KEBIDANAN PANCA BHAKTI


BANDAR LAMPUNG
2009