Anda di halaman 1dari 391

KUMPULAN

CERITA PENDEK
PILIHAN
ALFRED HITCHCOCK

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com
KUMPULAN
CERITA PENDEK
PILIHAN
ALFRED HITCHCOCK
UNTUK
ORANG-ORANG
PEMBERANI
Untuk Orang-Orang Pemberani
Diterjemahkan dari Alfred Hitchcock Presents: More Stories Not For The
Nervous, Deil Publishing Co., Inc. New York 1973

Penerjemah: Ritoresmi Pujiningsih


Penyunting: Yustina Dian Rachmawati
Desain: Camelia Tri Lestari
Komputer Gratis: nDhien

Cetakan Pertama: Desember 2004

Diterbitkan oleh
Batang Press
e-mail: batangpress@plasa.com

Untuk Orang-Orang Pemberani / oleh Alfred Hitchcock—


Yogyakarta: Balang Press, 2004.
384 hlm ; 11x18 cm.
ISBN 979-3239-20-4
DAFTAR ISI

Dari Jendela Kamar


Hal Dresner—7
Lemming
Richard Mathieson—29
Ratu Putih
Idris Seabright—33
Teriakan Minta Tolong
Robert Arthur—45
Permainan
Mike Marmer—81
Kecelakaan
Henry Slesar—103
Gadis Emas
Ellis Peters—131
Bocah Peramal Gempa
Margaret St. Clair—143
Berjalan Sendirian
Miriam Allen Deford—163
Hukuman untuk Orang-Orang Kasar
Jack Ritchie—195
Maaf, Salah Sambung
Lucille Fletcher dan Allan Ullman—225
DARI JENDELA KAMAR
Hal Dresner

Tubuh yang kurusnya tertutup selimut tebal,


disangga dengan enam buah bantal terbaik dan
termahal, di situlah Jacob Bauman berada dan
memandang jijik ke arah pelayannya yang
sedang mempersiapkan nampan makanan di
hadapannya. Pelayan tersebut lalu meyibakkan
tirai, dan segera saja kamar tersebut diterangi
cahaya pagi.
"Apakah Anda lebih suka bila jendelanya
terbuka, Tuan?" tanya Charles.
"Kau ingin aku masuk angin, ya?"
"Tidak, Tuan. Apa ada lagi yang lain?"
Jacob menggelengkan kepala dan
menyelipkan serbet makan di celah antara
atasan piama dan dada tipisnya. Dibukanya
tutup piring sarapan, dan tangannya terhenti
di udara sambil menatap Charles yang masih
berdiri bagai pengawal di sebelah jendela.
"Kamu menunggu tip?" tanya Jacob sinis.
"Tidak, Tuan. Saya menunggu Nona
Nivens. Dokter Holmes menyatakan agar Anda
tidak dibiarkan berada sendirian kapanpun,
Tuan."
8 | Hal Dresner

"Sana keluar," kata Jacob. "Jika aku me-


mutuskan untuk mati lima menit lagi, aku akan
memanggilmu dengan bel. Kau tidak akan
kehilangan momen apapun."
Jacob memandang pelayan itu pergi,
menunggu sampai pintu kamar benar-benar
tertutup lalu membuka tutup piring logam perak
yang di bawahnya terdapat sebuah telur mata
sapi yang seperti berselaput, terbaring di atas
selembar roti bakar. Seoles tipis selai dan
secangkir teh encer melengkapi menu pagi itu.
Ah! Jacob menatap makanannya tanpa
selera dan memandang ke jendela. Cerah
sekali di luar sana. Halaman mansion Bauman
yang hijau membentang luas bagai meja bilyar,
dilengkapi dengan jalan kecil berbentuk tapal
kuda dari kerikil halus yang putih berkilau. Di
sana-sini ada hiasan patung perunggu mungil;
dewi cantik dan menggoda berhias kerubin,
kurir dengan tumit bersayap, singa betina
garang dan sekelompok anak-anaknya; semua
diletakkan seolah tersembunyi dan berkesan
mahal. Di ujung sebelah kiri tapal kuda tersebut,
di luar pondok bata kecil yang ditempati
pengurus taman, Jacob melihat karyawannya,
Pak Coveny, berlutut memeriksa rumpun bunga
azalea. Di ujung sebelah kanan, di bawah
pagar besi tinggi berujung runcing, pintu garasi
dua lantai terbuka dan supirnya sedang
mengelap bagian depan mobil convertible biru
Dari Jendela Kamar | 9

milik Mrs. Bauman sambil mengobrol dengan


Nona Nivens, perawat harian Jacob yang masih
muda. Di luar pagar tersebut, halaman luar
menghampar tak terputus sampai ke jalan raya.
Jauh, sangat jauh, sehingga mata awas Jacob
tidak dapat mengenali mobil-mobil yang
melintas di sana.
Jacob Bauman yang malang, pikirnya.
Semua hal yang indah-indah dalam hidupnya
datang sangat terlambat. Akhirnya, dia memiliki
rumah mewah dan megah tetapi dia terlalu sakit
untuk dapat menikmatinya. Akhirnya dia me-
nikahi seorang perempuan muda dan cantik
yang mampu membuat setiap lelaki berpaling
memandangnya, tetapi dia terlalu tua untuk
dapat bersenang-senang dengan perempuan
itu. Dan akhirnya, Jacob memiliki wawasan
yang luas tentang misteri sifat manusia, tetapi
dia hanya bisa terbaring di tempat tidur dan
orang-orang yang ditemuinya hanya sebatas
para pembantu yang m e n e m a n i . Jacob
Bauman kaya yang malang, pikir Jacob.
Dengan semua kekayaan, keberuntungan dan
kebijaksanaan yang dimiliki, dunianya hanya
selebar kasur, sepanjang jalanan pada taman
yang dapat dia lihat dari jendela, dan sedalam
alam pikiran Nona Nevins.
Dimana gadis itu, ya? Kepalanya berpaling
ke jam di atas meja di sebelah tempat tidurnya
yang dikerumuni botol-botol, obat-obatan dan
10 | Hal Dresner

tabung-tabung kecil. Jam sembilan lewat enam


menit. Jacob kembali memandang ke jendela
dan dilihatnya si gadis berseragam putih melirik
ke jam tangannya dengan cemas, meniupkan
ciuman untuk si supir, lalu berjalan cepat-cepat
masuk rumah. Dia adalah seorang gadis pirang
dan tegap, berjalan dengan lenggak-lenggok
nan anggun dan tangan mengayun; luapan
energi yang melelahkan Jacob. Dia terus
memandang gadis itu sampai dia menghilang
di bawah atap beranda lalu kembali meng-
hadapi sarapannya. Nona Nevins akan berhenti
untuk menyapa koki dan pelayan perempuan,
dan itu artinya Jacob sedang menghabiskan
telur dan rotinya nanti ketika dia mengetuk
pintu, begitulah perkiraannya.

Jacob sedang mengunyah remah roti


terakhir saat terdengar ketukan di pintu; dia
berteriak "Pergi" dan si perawat itu masuk,
tersenyum.
"Selamat pagi, Mr. Bee," sapanya riang. Dia
meletakkan novel bersampul tipis di atas lemari,
sekilas memandang acuh ke arah grafik
kesehatan yang ditinggalkan oleh perawat yang
bertugas tadi malam. "Bagaimana kabar Anda
hari ini?"
"Hidup," sahut Jacob.
"Ini hari yang indah sekali!" kata si gadis
sambil berjalan ke jendela. "Tadi saya berdiri
Dari Jendela Kamar | 11

di luar dan bicara dengan Vic sebelum kesini


dan cuacanya seperti musim semi saja. Apa
Anda menginginkan saya membuka jendela-
nya?"
"Tidak usah. Teman doktermu itu mem-
peringatkan aku agar tidak kedinginan."
"Oh, iya... Saya lupa. Saya rasa saya bukan
seorang perawat yang baik ya?" katanya sambil
tersenyum.
"Kamu memang perawat, kok" sahut Jacob.
"Kamu lebih baik dari perawat-perawat yang
tidak pernah meninggalkanku seorang diri."
"Anda hanya menyenangkan hati saya saja.
Saya tahu, saya tidak cukup berdedikasi."
"Berdedikasi? Kamu masih muda dan
cantik, kamu punya minatmu sendiri. Saya
mengerti itu. Kamu berkata pada dirimu sendiri.
'Saya akan jadi perawat sebentar, pekerjaannya
mudah, makanannya enak, jadi saya akan bisa
menghemat uang sampai saya menikah.'"
Gadis itu terkejut. "Tahukan Anda? Itu sama
seperti yang saya katakan pada diri saya sendiri
ketika Dokter Holmes menawarkan pekerjaan
ini pada saya. Tahukah Anda bahwa Anda ini
sangat cerdas, Mr. Bee?"
"Terimakasih," kata Jacob kering. "Makin
tua, makin cerdas." Dia menghirup teh dan
berlagak seolah merasakan pahit. "Ah. Tidak
enak! Bawa pergi." Dia menendang pelan dari
balik selimutnya.
12 I Hal Dresner

"Anda harus menghabiskannya," kata si


gadis.
"Bawa pergi dari hadapanku," kata Jacob
tidak sabar.
"Terkadang Anda seperti anak kecil."
"Jadi anggaplah saya ini bocah lelaki kecil
dan kamu gadis kecil. Tapi lebih baik kita bicara
tentang dirimu." Jacob mengatur tumpukan
bantalnya, tetapi segera berhenti ketika si gadis
datang membantunya. "Katakan padaku,
Frances," tanyanya ketika wajah si perawat itu
dekat dengan wajahnya. "Apa kau sudah
memilih calon suami?"
"Mr. Bee, itu masalah yang sangat pribadi
untuk ditujukan pada seorang gadis."
"Aku memang bertanya tentang masalah
pribadi, kok. Bila kau tidak mau mengatakannya
padaku bagaimana aku tahu? Apa aku akan
bercerita pada orang-orang? Apa ada orang
yang bisa kuceritakan? Dokter spesialismu itu
bahkan melarang adanya telepon di samping
tempat tidur untuk menghubungi pialang
sahamku sewaktu-waktu. Terlalu tegang bagiku
untuk mengetahui berapa ratus ribu dolar yang
telah hilang. Apa dia tidak tahu bahwa aku bisa
mengetahui berapa untung-rugi yang kudapat
dari koran-koran yang kubaca, sampai hitungan
sen? ...Jadi, ayo ceritakan padaku," Jacob
tersenyum penuh kemenangan, "bagaimana
pacarmu itu."
Dari Jendela Kamar | 13

"Mr. Bee! Seorang suami yang bermasa


depan cerah adalah yang dicari, tapi pacar..."
Dia meletakkan bantal terakhir dan duduk di
kursi dekat jendela. "Saya tidak bisa bayangkan
bagaimana saya dalam pikiran Anda."
Jacob mengangkat bahunya. "Aku rasa
kamu itu gadis muda baik-baik. Tetapi gadis
baik-baik zaman sekarang sangat berbeda
dengan gadis baik-baik limapuluh tahun yang
lalu. Aku tidak mengatakan lebih baik atau lebih
buruk. Hanya berbeda. Aku mengerti hal-hal
semacam ini. Lagipula, kau hanya beberapa
tahun lebih muda dari istriku. Aku tahu, para
lelaki senang melihatnya, jadi mereka juga
senang melihatmu."
"Oh, tetapi istri Anda jauh lebih cantik.
Sungguh. Saya rasa beliau adalah salah satu
perempuan yang paling mempesona yang
pernah saya lihat."
"Bagus baginya," jawab Jacob. "So, cerita-
kan padaku tentang pacarmu itu."
"Well," sahut si gadis memulai, wajahnya
terlihat bahagia. "Semuanya belum pasti betul.
Maksud saya, kami belum menentukan tanggal
dan semacamnya."
"Kamu sudah yakin, tentu," ujar Jacob.
"Kamu hanya tidak ingin bercerita padaku
karena takut kupecat sebelum kau siap."
"Tidak, sungguh, Mr. Bauman..."
14 | Hal Dresner

"Kamu memang belum menetapkan kapan


harinya. Tapi kamu sudah menetapkan
bulannya, bukan?" Dia menunggu adanya
penyangkalan untuk beberapa saat. "Jadi
benar," sambungnya. "Percaya padaku jika aku
bilang aku mengerti hal-hal seperti ini. Bulan
apa? Juni?"
"Juli," sahut si gadis sambil tersenyum.
"Tembaklah aku... cuma meleset sebulan...
Aku tidak akan bertanya apakah dia tampan
atau tidak karena aku tahu dia tampan... dan
juga kuat."
"Ya."
"Tetapi lembut."
Si gadis mengangguk, wajahnya bersinar.
"Bagus," ujar Jacob. "Menikah dengan lelaki
yang lembut itu sangat penting... Asal jangan
terlalu lembut. Orang-orang yang terlalu lembut
mempersilahkan diri mereka untuk diinjak.
Percayalah, aku tahu. Aku dulu juga pernah
menjadi orang yang sangat lembut, dan
tahukah kau kemana hal itu membawaku?
Tidak kemanapun. Jadi aku belajar untuk
berbeda. Bukan berarti aku tidak melakukan
kesalahan sama sekali... tapi tiap aku melaku-
kan kesalahan aku membayarnya... pernikahan
yang buruk bisa jadi kesalahan yang besar,
bahkan yang paling besar. Kamu harus tahu
apa isi di dalam paket yang kamu dapatkan.
Tapi kamu tahu, bukan?"
Dari Jendela Kamar | 15

"Ya. Dia sangat baik. Sungguh. Anda tidak


bisa mengetahuinya karena Anda tidak me-
ngenalnya dengan baik, Mr. Bauman, tapi bila
Anda pernah duduk bersama dengannya—" dia
berhenti di tengah kalimat sambil menggigit
bibirnya. "Oh, saya tidak bermaksud—"
"Jadi, dia memang seorang yang kukenal,"
ujar Jacob. "Ini menarik. Aku bahkan tidak
menyangka. Temanku, mungkin?"
"Bukan. Bukan, sungguh, saya tidak
bermaksud mengatakan itu. Semuanya hanya
salah ucap. Dia bukan siapa-siapa—"
"Dokter Holmes?" Jacob menebak.
"Oh, bukan!"
"Atau mungkin seseorang yang bekerja
untukku?" tanya Jacob sambil tersenyum licik,
memandang wajah si gadis. "Charles? Tidak...
bukan... tidak mungkin Charles. Kau tidak
begitu menyukai Charles, 'kan Frances? Kau
menganggap dia merendahkanmu, bukan?"
"Ya," sahut si gadis, dengan semburat
marah di wajah. "Dia membuatku merasa
seperti... oh, saya tidak tahu apa namanya.
Hanya karena dia merasa begitu anggun. Well,
bila Anda bertanya, menurut pendapat saya dia
itu seperti ikan."
Jacob terkekeh. "Kamu benar sekali.
Charles itu ikan. Ikan kaku... lalu siapa? Pak
Coveny terlalu tua untukmu, jadi tinggal..." Dia
16 | Hal Dresner

berhenti sesaat, matanya bersinar-sinar meng-


goda si gadis, dan mulutnya terbuka. Lalu
pandangannya terarah melewati si gadis, keluar
jendela, dan berkata, "Tidak, aku tidak tahu. Beri
aku petunjuk. Dia berbisnis di bidang apa?
Saham, mungkin? Minyak? Tekstil?" Nada
suaranya meninggi. "Transportasi?"
"Oh, Anda menggoda saya," sahut si gadis.
"Anda tahu calon suami saya adalah Vic. Pasti
selama ini Anda sudah tahu. Saya harap Anda
tidak marah. Sungguh, saya akan memberitahu
Anda sebelumnya, tetapi—" Ketukan di pintu
mengejutkannya.
"Pergi," teriak Jacob.
Pintu terbuka dan Mrs. Bauman masuk. Dia
seorang perempuan mempesona dengan
rambut merah, seperti masih berusia
duapuluhan dengan swearer kuning daffodil
dan celana panjang ketat yang provokatif.
"Selamat pagi semuanya. Jangan, duduk-
lah, sayang," ujarnya ke arah Frances. "Bagai-
mana kabar pasien kita pagi ini?"
"Buruk," sahut Jacob.
Istrinya tertawa dibuat-buat dan menepuk
pipi Jacob. "Apa tidurmu nyenyak?"
"Tidak."
"Dia kasar, ya?" kata Mrs. Bauman kepada
Frances. "Aku heran bagaimana kau bisa tahan
menghadapinya."
Dari Jendela Kamar | 17

"Karena uang," sahut Jacob. "Sama


sepertimu."
Mrs. Bauman tertawa dipaksakan. "Dia
seperti bayi, bukan? Apa dia sudah minum
pilnya yang berwama jingga?"
"Sudah," kata Jacob.
"Belum," sahut Frances. "Apa sekarang
sudah pukul 09.15? Oh, saya—"
"Sayangnya sekarang hampir pukul 09.20,"
jawab Mrs. Bauman dingin. "Biar aku yang
melakukannya." Dia lalu membuka botol kecil
yang diambil dari meja di sebelah tempat tidur
dan menuang segelas air dari teko perak. "Ayo,
buka mulutmu."
Jacob memalingkan wajah darinya. "Aku
masih bisa memegang segelas air dan sebutir
pil," katanya. "Kau bahkan tidak terlihat seperti
perawat." Dia memasukkan pil itu ke dalam
mulut lalu mendorongnya masuk dengan
seteguk air. "Kau mau pergi kemana, ber-
pakaian seperti mahasiswi begitu?"
"Ke kota, belanja sedikit."
"Vic sudah mempersiapkan mobil Anda,"
kata Frances. "Dia mengelapnya pagi ini
sampai mengilat seperti baru."
"Aku yakin itu, sayang."
"Kalau kurang mengilat, beli yang baru,"
kata Jacob.
"Aku juga sudah memikirkan hal itu," jawab
istrinya. "Tapi kupikir aku akan menunggu
18 I Hal Dresner

sampai kau sembuh dulu. Lalu kita akan mem-


beli sebuah mobil sport mungil dengan dua
kursi penumpang di dalamnya dan kita akan
berkendara berdua, hanya berdua."
"Aku sudah tidak sabar lagi," ujar Jacob.
"Lihat! Bukankah hari ini cerah sekali?
Mengapa kau tidak meminta Charles membuka
jendela?"
"Karena aku tidak mau kedinginan dan
mati," jawab Jacob. "Tapi terimakasih atas
sarannya."
Sambil tersenyum semanis mungkin, Mrs.
Bauman menyentuh bibirnya dengan jari dan
menempelkannya di dahi suaminya.
"Kau bahkan tidak berhak menerima
ciuman di dahi hari ini," katanya dengan nada
main-main. "Bila dia masih jadi penggerutu
seperti ini," lanjutnya kepada Frances, "jangan
bicara dengannya. Dia pasti kapok."
Senyumannya mengundang Frances untuk
turut serta dalam persekutuan perempuan. "Aku
akan cepat kembali," katanya sambil me-
mandang Jacob.
"Aku akan setia menunggumu disini."
"Bye." Mrs. Bauman mengucapkan salam
dengan manis, lalu pergi.
"Tutup pintunya," kata Jacob pada Frances.
"Beliau sangat cantik, ya?" ujar Frances
sambil berjalan ke arah pintu dan kembali ke
Dari Jendela Kamar | 19

tempatnya. "Saya ingin sekali bisa mengenakan


celana panjang seperti itu."
"Lakukan sesuatu untuk suamimu dan
kenakan celana seperti itu sebelum kau
menikah," jawab Jacob.
"Oh, Vic pasti tidak akan keberatan. Dia
bahkan tidak punya rasa cemburu sedikitpun
di tubuhnya. Dia pernah berkata kepada saya
ratusan kali bahwa dia sangat suka ketika saya
dilirik lelaki lain."
"Dan bagaimana perasaanmu saat dia yang
dilirik perempuan lain?"
"Oh, saya tidak keberatan. Lagipula, hal itu
alami, kan? Dan Vic memiliki—" wajahnya
sedikit merona. "Saya tidak mengerti bagai-
mana kita akan membicarakan hal ini lagi nanti.
Anda benar-benar payah, Mr. Bauman."
"Biarkan seorang lelaki tua bersenang-
senang sambil ngobrol," sahut Jacob. "Jadi Vic
sudah banyak pengalaman dengan perem-
puan... begitu?"
"Kadang hal ini membuat saya malu.
Maksud saya, ada beberapa wanita yang
dengan gampangnya melemparkan diri ke
seorang lelaki. Dua minggu yang lalu, Rabu
malam, kami sedang berada di sebuah klub.
Saat itu Vic sedang libur."
Jacob mengangguk dan sekali lagi me-
mandang melewati kepala si gadis yang mulai
20 | Hal Dresner

berbicara dengan nada cepat. Dia bisa melihat


istrinya berjalan melintasi halaman menuju
garasi. Dia bergerak dengan cara yang berbeda
dari Frances, lebih pelan, seakan-akan malas.
Di balik celana coklat tanah, pinggul itu ber-
goyang, bergerak samar, seperti timbangan
yang sedang mencari keseimbangan. Bahkan
ayunan tangannya yang lesu terlihat seperti
sedang menghemat energi, tidak mengayun
kesana-kemari seperti Frances, tetapi
menyimpannya untuk gerakan-gerakan yang
lebih penting.
"...dia benar-benar gadis yang mengerikan,"
lanjut Frances. "Maksud saya, saya benar-
benar terkejut waktu dia menghampiri meja
kami. Rambutnya selegam malam dan seperti-
nya dia tidak bersisir selama berminggu-
minggu, dan dia mengoleskan lipstik sebotol
penuh..."
Jacob mendengarkan sambil melamun,
matanya masih menatap ke arah istrinya di luar
sana. Dia telah mencapai mobilnya dan berdiri
sambil bersandar ke pintu, bicara pada Vic.
Jacob bisa melihat senyum yang melebar saat
istrinya sedang mendengarkan dan kemudian,
sambil menyentak kepala ke belakang, dia
tertawa. Jacob tidak dapat mendengarnya, tapi
dia ingat bagaimana suara tertawa itu terdengar
di telinganya bertahun-tahun sebelumnya,
tajam dan ringan, tawa yang menggairahkan
Dari Jendela Kamar | 21

dan memuji. Vic, satu kaki tersangga ke bemper


mobil, Iengan besar yang menyilang di dada,
ikut tersenyum bersamanya.
"...kupikir dia mabuk," kata Frances,
terserap dalam ceritanya sendiri. "Maksud saya,
saya tidak bisa bayangkan ada seorang perem-
puan yang berani melompat ke pangkuan
seorang lelaki dan menciumnya. Maksud saya,
tepat di hadapan teman kencannya dan di
hadapan orang banyak. Saya kan bisa saja
disangka istrinya."
"Lalu apa yang dilakukan Vic?" tanya Jacob,
berpaling dari jendela.
"Well, dia tidak melakukan apapun. Maksud
saya, apa yang bisa dia lakukan? Kami sedang
berada di muka umum dan Vic hanya tertawa
dan menganggap semua itu hanya gurauan.
Tapi saya tidak bisa. Maksud saya, saya sudah
berusaha, tapi gadis itu sama sekali tidak
beranjak dan Vic tidak bisa mengibaskannya.
Semua orang melihat hal itu dan saya semakin
marah dan marah dan—well, sejujurnya, Mr.
Bauman, sesungguhnya saya adalah orang
yang emosional. Maksud saya, jika sudah
menyangkut hal-hal pribadi seperti Vic, saya
tidak dapat mengendalikan diri saya sendiri."
"Sebagaimana yang terjadi dengan Betty?"
tanya Jacob.
Frances menggigit bibir bagian bawahnya.
"Saya kira Anda tidak tahu tentang hal ini. Saya
22 | Hal Dresner

betul-betul minta maaf mengenai hal itu, Mr.


Bauman. Saat itu saya akan ke dapur untuk
mengambil makan siang. Saya melihat lengan-
nya melingkar di leher Vic dan, well, saya gelap
mata."
"Begitulah yang kudengar," sahut Jacob
sambil tersenyum. "Aku tidak sempat melihat
Betty setelah dia pergi, tetapi Charles bilang
wajah gadis itu sama sekali tidak menyenang-
kan lagi untuk dilihat."
"Saya rasa saya mencakarnya cukup
parah," ujar Frances sambil menyipitkan mata.
"Saya sungguh-sungguh menyesal mengenai
hal itu. Saya sudah mencoba minta maaf
kepadanya, tetapi dia bahkan tidak mau
mendengar. Seakan-akan semua itu kesalahan
saya."
"Lalu apa yang kau lakukan terhadap gadis
di klub itu?"
"Saya jambak rambutnya dan menariknya
pergi dari Vic," kata Frances mengaku dengan
suara malu-malu. "Dan jika Vic tidak meng-
hentikan saya, mungkin sudah saya congkel
mata gadis itu. Maksud saya, saat itu saya
sudah benar-benar gila. Itu bahkan lebih buruk
daripada kejadian dengan Betty, karena dia
sungguh-sungguh mencium Vic. Saya rasa,
jika saat itu ada pisau atau semacamnya, pasti
saya sudah berusaha untuk membunuhnya."
Dari Jendela Kamar | 23

"Benarkah?" kata Jacob. Pandangannya


meninggalkan wajah si gadis dan kembali ke
arah jendela. Tidak ada seorangpun, Vic
maupun istrinya, yang terlihat. Matanya
menyisir seluruh halaman, melewati patung-
patung yang berkilau di bawah sinar matahari,
ke arah Pak Coveny yang masih memeriksa
tanaman, lalu kembali ke mobil istrinya yang
berkilat-kilat. Dia melihat bentuk aneh di atas
atap mobil itu dan, sambil menyipitkan mata,
meyakinkan diri bahwa itu adalah lap yang
digunakan Vic untuk membersihkan mobil
istrinya.
"Dan bagaimana perkelahian-perkelahian
kecil itu mempengaruhi perasaanmu terhadap
Vic?" tanyanya sambil lalu.
"Oh, semua tidak ada pengaruhnya sama
sekali. Maksud saya, bagaimana bisa? Bukan
salah Vic jika banyak perempuan yang tergila-
gila padanya. Maksud saya, dia jelas-jelas tidak
mengundang mereka."
"Tentu saja tidak," kata Jacob. Dia kembali
memicingkan matanya, berusaha untuk ter-
fokus pada jendela gelap di atas garasi. Dia
merasa melihat semburat kuning terang disana.
Ataukah itu hanya kilatan cahaya matahari yang
dipantulkan kaca jendela? Tidak, jendelanya
terbuka. Berarti itu bukan cahaya matahari. Itu
dia, ada lagi, berada diantara bayangan-
24 | Ha! Dresner

bayangan yang bergerak. Bayangan itu ber-


warna terang, kotak, semakin lama semakin
menyempit, dan kini terangkat ke atas perlahan-
lahan, seperti selembar kain. Mungkin se-
potong pakaian yang terang, yang perlahan-
lahan dilepaskan dari sesuatu, dari seseorang.
Kemudian warna cerah itu menghilang, dan
bahkan bayangan-bayangan itu sama sekali
tidak terlihat lagi di jendela. Jacob tersenyum.
"Aku yakin Vic sangat setia," ujarnya. "Bila ada
yang harus disalahkan, pastilah para perem-
puan itu. Kecemburuanmu sangat bisa di-
mengerti. Itu adalah hakmu yang kau gunakan
untuk menjaga apa yang kau miliki. Bahkan bila
hal itu harus menghancurkan beberapa bagian
dari hidupmu."
Frances terkejut. "Apa Anda pikir Vic tidak
mencintai saya sebagaimana saya mencintai-
nya dengan apa yang telah terjadi? Dia bilang
dia mengerti."
"Aku yakin dia mengerti," kata Jacob.
"Bahkan, dia mungkin lebih mencintaimu
karena kau telah menunjukkan kesetiaanmu
padanya. Lelaki suka hal-hal seperti itu... Tidak,
tidak, itu hanya perkataanku saja. Cuma bicara-
bicaranya orang tua saja. Lagipula, apa yang
bisa kulakukan selain bicara?"
"Oh, Anda dapat melakukan banyak hal,"
sahut Frances. "Anda sangat pintar. Maksud
saya, setidaknya saya pikir begitu. Seharusnya
Dari Jendela Kamar | 25

Anda punya hobi. Mengisi teka-teki silang atau


semacamnya. Saya yakin Anda menguasai hal-
hal semacam itu."
"Mungkin aku akan mencobanya kapan-
kapan," ujar Jacob. "Tapi sekarang, kurasa aku
akan tidur sebentar."
"Itu ide bagus," kata Frances. "Saya mem-
beli sebuah buku untuk dibaca hari ini. Saya
mulai membacanya dalam perjalanan naik bis
kesini. Bagus sekali. Ceritanya tentang seorang
perempuan Perancis yang membodohi para
raja."
"Kedengarannya bagus," ujar Jacob. "Tapi
sebelum kau mulai membaca, aku ingin kau
melakukan sesuatu untukku." Dia membalikkan
badannya dan membuka satu-satunya laci di
meja samping tempat tidurnya. "Jangan takut."
Jacob berhati-hati ketika dia mengambil
sepucuk pistol kecil berwarna abu-abu dari
dalamnya. "Aku menyimpannya kalau-kalau
ada perampok yang masuk kesini. Lama sekali
benda ini tidak dibersihkan, sampai-sampai aku
tidak yakin masih berfungsi atau tidak. Maukah
kau membawanya ke Vic dan minta dia untuk
memeriksanya?"
"Tentu saja," jawab Frances sambil berdiri
dan mengambil pistol tersebut dengan acuh.
"Hey, ringan sekali. Saya pikir pistol itu beratnya
sepuluh kilo."
26 | Hal Dresner

"Kurasa itu pistol untuk perempuan," kata


Jacob. "Untuk perempuan dan lelaki tua. Hati-
hati, pistol itu terisi. Aku akan mengeluarkan
pelurunya karena kau akan membawanya.
Sayangnya aku tidak begitu mengerti bagai-
mana caranya."
"Aku akan berhati-hati," jawab Frances
sambil bermain-main dengan gagang pistol.
"Dan Anda harus berusaha untuk tidur
sementara saya pergi. Apakah saya harus
memanggil Charles untuk datang menemani
Anda?"
"Jangan, tidak usah repot-repot. Aku akan
baik-baik saja. Tidak usah terburu-buru untuk
kembali lagi kesini, temani dulu tunanganmu.
Kurasa tadi aku melihatnya naik ke kamar."
"Dia tidur," kata Frances.
"Kalau begitu, coba kau mengendap-endap
ke kamarnya dan kejutkan dia," ujar Jacob.
"Mungkin dia menyukainya."
"Well, bila ternyata dia tidak suka, saya akan
bilang bahwa semua itu ide Anda."
"Ya," kata Jacob. "Kau bilang saja padanya
kalau itu ideku."
Dia tersenyum, menatap gadis itu pergi,
kemudian kembali merebahkan diri di atas
bantal dan memejamkan mata. Suasana sangat
sepi dan dia merasakan keletihan yang amat
sangat sampai-sampai dia merasa mulai
terlelap ketika terdengar tembakan pertama,
Dari Jendela Kamar | 27

lalu yang kedua, dan ketiga. Suaranya ter-


dengar melintasi halaman. Dia ingin sekali
duduk dan melihat semuanya dari jendela, tapi
sepertinya itu melelahkan. Lagipula, tidak ada
satupun yang bisa dilakukannya, karena dia
hanya bisa terbaring di tempat tidur. []

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com
LEMMING
Richard Mathieson

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

"Mereka datang darimana, ya?"tanya Reordon.


"Dari manapun," jawab Carmack.
Mereka berdiri di jalan raya dekat pesisir
pantai. Sejauh mata memandang yang terlihat
mobil dan mobil lagi. Ribuan mobil berhimpitan
bemper ke bemper, pintu ke pintu. Jalan raya
itu benar-benar banjir mobil.
"Itu ada lagi," seru Carmack.
Kedua polisi itu memandang kerumunan
orang yang berjalan ke pantai. Diantara mereka
ada yang mengobrol dan tertawa. Beberapa lagi
hanya diam dan serius. Tetapi semua menuju
ke satu arah: pantai.
Reordon menggelengkan kepala. "Aku tidak
mengerti," katanya, untuk yang kesekian ratus
kali dalam minggu ini. "Aku sungguh-sungguh
tidak mengerti."
Carmack hanya mengangkat bahu.
"Jangan terlalu dipikir. Semuanya sudah
terjadi. Ada apa lagi disana?"
"Tapi ini gila."
"Lihat, orang-orang yang tadi sudah tidak
ada," kata Carmack.
30 | Richard Mathieson

Sambil diawasi oleh dua polisi, kerumunan


orang itu bergerak menapaki pasir pantai abu-
abu dan berjalari ke air. Beberapa diantara
mereka mulai berenang. Ada juga yang tidak
dapat bergerak di air karena pakaian yang
mereka kenakan. Carmack memandang se-
orang gadis muda yang menggapai-gapai di
atas air dan kemudian tenggelam akibat mantel
bulu yang dikenakannya.
Dalam beberapa menit mereka semua
menghilang. Kedua polisi tersebut memandang
tempat orang-orang yang tadi berjalan ke laut.
"Sampai kapan kejadian ini akan ber-
langsung?" tanya Reordon.
"Kurasa sampai tidak ada satupun yang
tersisa," jawab Carmack.
"Mengapa?"
"Kau pernah membaca tentang lemming?"
tanya Carmack.
"Tidak."
"Lemming adalah sejenis binatang
pengerat yang tinggal di negara-negara
Skandinavia. Mereka terus berkembang biak
sampai sumber makanan mereka habis. Lalu
merekai bergerak dari satu negara ke negara
lain dan menghancurkan apa saja yang ada di
hadapan. Ketika mereka sampai di laut mereka
terus saja maju. Mereka berenang sampai
kekuatan mereka habis. Jumlah lemming itu
mencapai jutaan."
Lemming | 31

"Kau pikir mereka juga seperti itu?" tanya


Reordon.
"Mungkin," jawab Carmack.
"Manusia 'kan bukan binatang pengerat!"
sahut Reordon marah.
Carmack tidak menjawab.
Mereka berdiri sambil menunggu di tepi
j a l a n , tetapi tidak ada seorangpun yang
nampak.
"Dimana mereka?" tanya Reodon.
"Mungkin semua sudah masuk ke air,"
jawab Carmack.
"Semuanya?"
"Kejadian ini sudah berlangsung seminggu
lebih," jawab Carmack. "Orang-orang dari
berbagai pelosok datang kesini. Lagipula, 'kan
ada danau."
Reordon menggigil. "Semua," katanya.
"Mana kutahu," jawab Carmack, "tetapi
mereka masih terus saja datang sampai
sekarang."
"Ya Tuhan."
Carmack mengambil sebatang rokok dan
menyalakannya. "Well, sekarang bagaimana?"
Reordon menghembuskan nafas dengan
keras. "Kita?"tanyanya.
"Kau pergilah," kata Carmack. "Aku akan
menunggu sejenak kalau-kalau masih ada
orang lagi yang datang."
32 | Richard Mathieson

"Baiklah." Reordon mengulurkan tangan-


nya. "Selamat tinggal, Carmack," ujarnya.
Mereka berjabatan tangan. "Selamat
tinggal, Reordon," jawab Carmack.
Dia berdiri sambil merokok dan mengawasi
sahabatnya berjalan menapaki pasir pantai
abu-abu dan masuk ke dalam air sampai air
tersebut melampaui kepalanya. Dilihatnya
Reordon berenang beberapa meter sebelum
akhirnya menghilang.
Beberapa menit kemudian dia mematikan
rokok dan memandang sekeliling. Sampai
akhirnya dia ikut menceburkan diri ke dalam
air.
Sejuta mobil membisu dalam kekosongan
mereka di sepanjang jalan pantai.[]

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com
RATU PUTIH
Idris Seabright

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

"Aku rasa kau sama sekali tidak menginginkan


sendok-sendok tehku yang sudah rusak itu,
kan?" kata Miss Smith tajam.
Tajam memang, tetapi suaranya terdengar
serak-serak basah dan merdu, layaknya aktris
BBC yang sedang berperan sebagai seorang
perempuan tua, seorang aktris BBC belia; dan
Carson melihat, teriepas dari kekesalannya
karena tertangkap basah dengan harta temuan-
nya itu—dia pasti memiliki sepasang mata di
belakang kepalanya—harapan bahwa nenek ini
sebenarnya seorang perempuan muda yang
karena alasan-alasan tertentu yang bersifat
pribadi, memilih untuk berpakaian dan berlagak
seperti perempuan tua bangka. Menganggap-
nya sebagai perempuan muda yang sedang
menyamar membuat si nenek tidak sebegitu
menakutkan daripada sebaliknya: mengandai-
kannya sebagai nenek yang bertingkah laku
dan bicara layaknya gadis duapuluhan.
Siapapun nenek itu, dia bukan seorang
korban yang lembut, bodoh dan dicintai
sebagaimana yang diinginkan. Sebaliknya, dia
34 | Idris Seabright

seseorang dengan bahu warna ungu muda dan


lengan berurat-nadi kebiruan. Dia bertemu
nenek itu di jalanan, salah satu tempat per-
buruan nenek tua nan baik kesukaannya. Tidak
terlalu sulit baginya untuk memancing mereka
m e n g u n d a n g n y a ke acara minum t e h .
Sekarang yang dilihatnya dari nenek itu bukan
sebagai nenek tua maupun nenek baik. Dan
nama yang diambilnya adalah sebuah ejekan.
Miss Mary Smith—anonimitas titik akhir.
"Kenapa kau menyeringai begitu?" tanya-
nya. Lalu berubah jadi paksaan. "Kemarikan
sendok tehku."
Dijangkaunya saku mantel tanpa suara dan
mengeluarkan lima sendok teh dari sana. Si
nenek benar, dia tidak memerlukan uang si
nenek. Barang-barang yang dicurinya dari
orang-orang tua seusia si nenek hampir tidak
laku dijual, kalaupun bisa uangnya akan dia
gunakan untuk membayar tagihan-tagihan
yang berlainan dan tidak tersentuh. Itu adalah
sesuatu yang membuatnya ketakutan, tidak
lebih baik daripada masokisme moral, tetapi
lebih baik dari apapun yang pernah terpikirkan
olehnya. Dia menikmatinya dan belum mau
menyingkirkan kebiasaan itu.
Diletakkannya sendok-sendok tersebut di
meja teh di hadapan si nenek dan kembaii
menenggelamkan diri di kursi. Si nenek meng-
hitung. Kakinya—datar dan bersandal rata—
Ratu Putih | 35

diketuk-ketukkan ke lantai. "Cuma lima.


Harusnya ada enam. Aku menginginkan yang
satu lagi."
Dengan malas-malasan diberikannya
sendok terakhir si nenek. Sendok itulah yang
terbaik diantara yang lain, asli dan kuno,
dengan bentuk yang imut, dan sekarang
nilainya pasti tidak lebih mahal dari ketika
pertama kali sendok itu dibuat. Cekungannya
penuh lubang-lubang kecil dan halus seakan
seorang bayi yang baru tumbuh gigi, yang
sezaman dengan Washington dan Jefferson,
telah menggigit-gigit bagian tersebut. Bayi yang
menyedihkan—pinggirannya yang tajam dan
bergerigi itu pasti sudah mencabik gusinya.
Si nenek merampas sendok itu dan meng-
gosoknya keras-keras dengan taplak meja teh.
Lalu si nenek mengembalikan sendok itu ke
tamunya. "Lihat ke dalam cekungan sendok."
Carson melakukan apa yang diperintahkan
si nenek. Miss... Smith kelihatannya tidak akan
menghubungi polisi, sementara itu dia hanya
merasa tidak nyaman, bukan takut. "Well?"
katanya, meletakkan kembali sendok itu di
meja.
"Tidakkah kau lihat sesuatu?"
"Hanya bayangan diriku sendiri, terbalik.
Seperti biasa."
"Hanya itu?" ujarnya kaget. "Kembalikan
lukisan cat airku, sementara aku berpikir.
36 | Idris Seabright

Barang itu nilainya bahkan lebih murah


ketimbang sendok-sendok tadi."
Si nenek tidak mungkin melihatnya meng-
ambil lukisan cat air itu. Dia sedang membuat
teh, membelakangi Carson, dan tidak ada
cermin atau apapun dengan permukaan
mengkilat di dekatnya. Dia bahkan tidak
mungkin memperhatikan jarakdimana lukisan
cat air tersebut tergeletak, karena benda itu
berada diantara pernak-pernik lain yang jelek
dan tidak berharga.
"Lebih baik kita minum teh," ujarnya,
menarik lukisan cat air yang didapatnya
kembali dan meletakkan ke tempatnya semula.
Dibingkaipun, lukisan itu tidak lebih besar
daripada sebuah kartupos Eropa. Ada gambar
pohon palem, sebuah pulau, air, semuanya
seakan-akan cair dengan gaya yang meniru
Winslow Homery. Tidak heran jika Carson
sampai memutuskan bahwa benda tersebut
patut dicuri. "Kau mau sedikit campuran gin
dalam teh? Rasanya agak sedikit membantu."
"Ya, terima kasih."
Si Nenek menuang sesuatu dari botol kotak
ke dalam poci teh dan kemudian meletakkan-
nya di meja. Mereka minum. Teh itu panas
membakar, dan Carson hanya bisa mengatasi
penderitaan itu dengan cnra memasukkan gula
banyak-banyak ke dalam cangkir.
Ratu Putih | 37

Miss Smith meletakkan cangkirnya sendiri


pada tatakan. Dia batuk dan kemudian mem-
bersihkan hidungnya dengan saputangan
katun untuk pria. "Lebih baik kau masuk,"
katanya, sambil mengetuk-ngetukkan jari
tengahnya ke permukaan lukisan cat air itu,
"dan melihat seberapa pantas kau berada di
dalamnya."
Wuuuush, wuuush, pluk. Carson sudah
berada dalam lukisan cat air, duduk di sebuah
pulau dengan pohon-pohon palem bergaya
Winslow-Homer.
Rerumputannya lengket sekali dan tempat
itu sangat berisik seolah sedang terjadi
kerusuhan. Ombaknya, butiran petak-petak
menyerpih berwarna biru, mencapai pantai
dengan suara keras bagai piring keramik
membentur batu, camar laut memekik seperti
alat musik tiup dari Inggris, dan daun-daun
palem yang bergerigi mengeluarkan suara
seperti lempengan seng.
Tetapi Carson tidak terlalu terganggu untuk
menerima kenyataan yang dikatakan Miss
Smith bahwa pulau itu lumayan cocok untuk-
nya. Suara yang dia dengar mengaburkan
semuanya; dia tidak perduli apa ada lemari
pajangan seorang nenek, dimanapun dia
berada, menyimpan pernak-pernik yang cukup
untuk dimasukkan ke dalam saku. Dia terlalu
38 | Idris Seabright

leiah dan nyaman seolah sedang berada dalam


rengkuhan hangat Miss Smith dan bersandar
di bahunya yang lembut.
Yu-hu. Pasti karena pengaruh gin. Dia
tertidur.
Ketika dia bangun semuanya masih sama.
Camar, ombak dan pohon palem mengeluar-
kan suara bersahut-sahutan. Disana, dimana
ombak kaku bikinan lemari pendingin itu ter-
bentuk, air bergolak dengan sebentuk berwarna
biru tua berputar dibawahnya. Apakah itu sudah
ada disana sebelumnya? Pasti. Tapi dia tidak
yakin.
Itu bisa saja disebabkan karena banyak
hal—hiu yang sedang naik ke permukaan,
kura-kura raksasa, gurita seperti dalam cerita
Jules Verne. Bisa saja. Tidak. Tidak. Carson
memekik lirih ketakutan.
Plup. Dia kembali duduk di depan Miss
Smith, terpisah oleh meja teh. Si nenek itu telah
menudungi poci tehnya dengan penutup kain,
tapi tampaknya itu masih poci teko yang sama.
Dia mengoleskan mentega ke biskuit dan
memasukkannya utuh ke dalam mulut. "Apa
kau suka berada di pulau itu?" tanyanya sambil
mengunyah.
"Pertama sih lumayan," jawabnya dengan
agak terpaksa. "Tapi kemudian ada sesuatu
yang berenang di bawah air dan aku tidak suka
itu."
Ratu Putih | 39

"Menarik." Si nenek menyeringai. "Kau tidak


peduli pada kebisingan, kau tidak peduli pada
keterasingan. Tapi ada sesuatu yang bergerak
di bawah air dan tidak dapat kau lihat yang
kau... tidak sukai."
Apa yang sedang direncanakannya?
Apakah dia sedang mencoba semacam analisa
mulia terhadapnya? Mencoba, dengan cara
yang disetujui para psikiater, mencari tahu apa
yang membuatnya takut sehingga dia dapat
menghilangkannya? Tidak. Lebih tepatnya, dia
sedang memetakan kontur ketakutannya
sehingga dia dapat memasukkan, menguasai,
kedalamnya.
"Mengapa Anda kelihatannya sangat
tertarik?" tanya Carson. Dia mencoba meng-
oleskan mentega pada biskuit, tapi tangannya
bergetar sangat keras sehingga dia harus
meletakkan pisaunya.
"Jarang sekali ada orang yang mau men-
curi apapun dariku."
Tidak. Tidak akan ada yang mau mencuri
darinya. Hanya Carson, yang diantara semua
nenek di seluruh dunia yang dapat dipilihnya,
hanya Carson yang harus terlibat dengan
seseorang bernama Isis, Rhea, Cybele—ada
banyak nama-nama dewi yang bisa dipilih—
Anatha, Dindymene, Astarte. Atau Neith.
Carson menjilat bibirnya. "Bagaimana jika
kita minum teh lagi?" usulnya. "Dan sedikit gin?
40 | Idris Seabright

Pasti teh itu akan j a d i minuman yang


menyegarkan."
"Kurasa gin yang kutuang tadi sudah cukup
banyak."
Tetapi nenek itu tidak protes ketika Carson
membuka tudung poci dan mengambil botol
kotaknya. Kelihatannya dia bahkan tidak
melihat Carson melakukannya. Carson tadi
telah dibodohi dengan cara seperti itu, dan si
nenek mungkin saja melihatnya. Tetapi dia bisa
membalas perlakuannya bila si nenek dengan
kekuatan serupa dewi ini mabuk.
Dia meletakkan kembali botol itu di meja
dengan label menghadap ke si nenek agar dia
tidak tahu seberapa banyak Carson me-
nuangnya. "Anda yang menuang."
Bergetarkah tangan yang sedang me-
megang poci teh itu? Dia tidak yakin betul. "Ya
Tuhan, kau membuat teh ini jadi keras sekali,"
katanya.
"Menyegarkan!" Dia berusaha tersenyum.
"Ayo, disambi biskuitnya. Saat-saat seperti ini
biasanya orang kurang bersemangat, sore-sore
begini."
"Ya." Badan si nenek agak bergetar karena
batuk. Sebutir remah biskuit mungkin
menyangkut di tenggorokannya. Dia berharap
si nenek tersedak dan mati.
Ratu Putih | 41

Si nenek mendorong remahan itu dengan


tegukan terakhir dari cangkirtehnya. "Sekarang
aku menginginkan pemberat kertasku."
Itu adalah harta karun terakhir yang di-
milikinya. Itu adalah benda yang paling dia
sukai diantara benda-benda yang lain. Dengan
sedih dia mengambil bulatan itu dari saku dan
memberikannya ke si nenek.
Dia mengetukkan jari. Salju tiruan turun dari
atas kubah dan jatuh perlahan ke bagian dasar
yang berhiaskan pemandangan musim dingin.
"Cantik," kata si dewi memuji. "Salju yang
cantik."
"Ya. Saya mengaguminya."
"... sudah larut untuk mencobamu ke yang
lain lagi. Lagipula, aku tahu pasti apa yang kau
inginkan. Kau adalah jenis orang yang tidak
tahan untuk menunggu sesuatu yang tidak
menyenangkan." Poci tehnya tidak sengaja
menyentuh cangkir.
Suara si nenek makin samar terdengar. Dia
meninggalkan tetes teh di taplak sebelum
meletakkan poci teh kembali ke tempatnya.
Sekaranglah saatnya, jika memang saat yang
tepat itu ada.
"Terimakasih untuk sore yang menyenang-
kan," katanya sambil menggeser kursi ke
belakang, kemudian berdiri. "Mungkin kita bisa
mengadakan acara seperti ini lagi kapan-
kapan."
42 | Idris Seabright

Mulut si nenek terbuka. Seuntai ludah


berkilau diantara bibirnya dan kemudian jatuh.
"Dasar busuk. Masuk ke dalam kau, mahluk
bodoh."
Pemberat kertas itu menerima tubuhnya.
Rasanya seperti menembus angin ribut, seperti
berenang, tapi dia bisa bernafas dengan baik.
Carson berusaha berjalan melintasi cairan itu—
gliserin kah?—menuju dinding kaca dan
mengintip keluar.
Miss Smith menjentikkan jari. Bibirnya
bergerak. Dia mulai berdiri. Lalu jatuh ke lantai.
Cangkirnya jatuh dari jemarinya yang lemah
dan turun perlahan di sampingnya.
Miss Smith benar-benar mabuk berat.
Setelah beberapa saat, Carson mulai berpikir.
Rasanya dia melihat tubuh si nenek berkedut.
Setidaknya dia yakin bahwa si nenek tidak pergi
keluar. Dia mati.
Sekitar pukul delapan pagi seseorang
datang dan menemukannya. Banyak orang
lalu-lalang sebelum akhirnya para petugas
yang membawa brankar datang. Cangkir teh
itu tetap tinggal di lantai.
Mereka bahkan tidak mau bersusah-susah
menutup tirai jendela. Cahaya bulan berkilauan
dalam penjara kaca dan menyinari salju di
dasarnya dengan sangat cemerlang. Andaikan
itu salju sungguhan! Dia sangat menginginkan
Ratu Putih | 43

sebuah ceruk nyaman yang bisa dia buat


sendiri dalam rinai salju, pondokan hangat
bergaya Steffanson yang dapat dinikmatinya
dalam kandangnya yang empuk. Sebagaimana
pertama kali dia datang, Carson mengapung
vertikal di malam hari, menderita karena
insomnia, dan merasa sangat tidak nyaman
bagai batang asparagus di atas wajan.
Akhirnya malam berganti. Dia tidak tahu
apa dia menyesal atas kematian Miss Smith
atau tidak. Apakah kepercayaan yang tidak
masuk akal tentang adanya kemurahan hati
yang potensial pada diri si nenek itu masih
menghantuinya? Setelah kejadian dengan
pulau itu dan sekarang ini?
Pagi berlangsung cepat ketika dengan
masuknya seorang perempuan yang bertugas
membersihkan rumah. Dia seorang perempuan
yang masih muda, dengan bibir merah dan
rambut kuning flamboyan.
Perempuan itu menancapkan kabel peng-
hisap debu dan mulai membersihkan lantai.
Dilepasnya taplak meja teh dan mencuci semua
perabot yang ada di atasnya. Kemudian dia
mengambil pemberat kertas dengan pe-
mandangan musim salju itu.
Pemberat itu diguncang dengan kasar.
Salju buatan mulai turun di sekeliling Carson.
Si perempuan menekan hidungnya ke kaca
44 | Idris Seabright

agar bisa melihat lebih jelas ke dalam. Mata-


nya sangat, sangat besar. Tidak mungkin dia
tidak melihat Carson.
Dia menyeringai. Carson mengenalinya.
Miss Smith.
Mestinya dia tahu, Neith tidak akan mati
begitu saja.
Si perempuan mengguncang pemberat itu
sekali lagi. Kemudian dia meletakkannya
dengan kasar ke atas meja.
Untuk sesaat Carson berpikir gadis itu akan
melemparnya ke dinding perapian. Tapi itu akan
terjadi nanti.
Dia mungkin akan membiarkan Carson
hidup selama beberapa hari. Dia bisa meletak-
kannya di bawah terik matahari, membekukan-
nya di lemari pendingin, mengguncangnya
berulang-ulang sampai dia merasa mabuk laut
bagai janin yang tidak diinginkan... banyak
kemungkinan yang akan terjadi. Dan pada
akhirnya akan terjadi benturan.
Si gadis itu memain-mainkan jarinya dengan
membuat garis melintang di tenggorokannya.
Dicabutnya kabel penghisap debu, kemudian
pergi keluar.[]

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com
TERIAKAN MINTA TOLONG
Robert Arthur

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

Untuk keberapa puluh kalinya hari itu, dengan


suara sedikit gemetar, Martha Halsey membaca
artikel di harian Dellville Weekly Call dengan
suara keras:
Firma real estat Boggs and Boggs hari ini
menyatakan penjualan rumah tua keluarga
Halsey yang berlokasi di seberang pengadilan.
Rumah tersebut, yang merupakan milik Miss
Martha dan Louise Halsey, putri almarhum
Hakim Hiram A. Halsey, telah diperintahkan
untuk dijual oleh kemenakan mereka, Mrs. Ellen
Halsey Baldwin.
Kali ini, Louise, dengan tangan dipenuhi
urat nadi kebiru-biruan dan sedang mengibas-
kan potongan-potongan perca untuk dibuat
selimuttebal yang sedang dikerjakannya di atas
kursi roda, diam membisu. Hanya suara angin
New England yang menjawab, seakan me-
lengking dan memekik gembira saat meniup
lanaman merambat di atap rumah kuno itu,
lerasing dari kebisingan dan kesibukan kota.
Sepanjang hari itu, sejak Ellen membawa
masuk koran yang didapat dari kotak surat,
46 I Robert Arthur

tepat sebelum sarapan pagi, mereka telah


membaca dan membaca lagi beberapa kali
sambil membahas semuanya dari berbagai
sudut. Mulanya Louise yakin ini adalah ke-
salahan. Tetapi dengusan Martha bagai meng-
ejek gagasan itu. Lalu Louise ingin meng-
hubungi Ellen dan bertanya tentang hal ini.
Tetapi ada perasaan waspada yang selama ini
terbengkalai dalam kehidupannya yang mem-
buat Martha berkata tidak.
Dan sekarang, setelah sehari penuh
mereka saling bicara, berspekulasi dan
meletihkan diri dengan berbagai perkiraan,
jawaban itu terbit dalam pikirannya. Hanya itu
satu-satunya jawaban yang memungkinkan,
dan dengan kejadian-kejadian yang diterima-
nya tanpa prasangka selama enam bulan
terakhir ini—termasuk kematian si malang
Queenie seminggu sebelumnya—tiba-tiba saja
semuanya jelas terpampang.
Martha menarik nafas sebelum bicara. Lalu,
dengan tenang dan perlahan, dia mulai men-
jabarkan kebenaran pada Louise.
"Louise, aku yakin betui Ellen dan Roger
menginginkan kita mati."
"Mati?" Louise menatapnya dari kursi roda
dengan pandangan kaget dan raut wajah tidak
percaya terpancar dari sana. "Oh, tidak,
Martha!"
Teriakan Minta Tolong | 47

"Tidak ada jawaban lain," kata Martha.


Garis wajahnya bagaikan granit New England
yang ditempa cuaca, keras. Di usia yang
sudah delapan puluh tahun itu mata birunya
menyala.
"Sekarang aku mengerti mengapa Roger
dan Ellen memaksa kita menjual rumah di kota
dan tinggal di pinggiran sini bersama mereka,"
katanya. "Juga mengapa mereka merayu untuk
memberi kuasa hukum pada mereka sehingga
Ellen bisa mengurusi apa yang diistilahkan
Roger sebagai detil-detil minor yang melelah-
kan dan ada hubungannya dengan tanah kita."
"Kebenarannya cukup sederhana jika kau
mencermati kenyataan-kenyataan yang terjadi
dalam sudut pandang yang tepat. Pertama
Roger dan Ellen mengasingkan kita dari semua
sahabat dan tetangga. Dan sekarang mereka
cukup berani menjual tanah kita. Nanti,
sebentar lagi, mereka pasti berharap dapat
mewarisi saham dan surat obligasi yang kita
miliki."
"Tetapi mereka tidak akan bisa melakukan-
nya kecuali jika kita meninggal!" sahut Louise
dengan suara agak tergagap.
"Itulah maksudku."
Martha berdiri dan berjalan tertatih-tatih
menuju jendela kamartiduryang juga berfungsi
sebagai ruang duduk tempat mereka tinggal,
berjalan dengan sangat hati-hati agar sakit
48 | Robert Arthur

panggulnya tidak bertambah parah. Angin


musim gugur New England menggerakkan
dahan-dahan pohon meranggas yang menge-
lilingi rumah kuno bergaya Kolonial itu. Martha
mengangkat daun jendela, memeluk tubuhnya
sendiri melawan angin yang meniup dingin.
"Toby, Toby!" panggilnya. "Kesini, Toby!"
Tidak ada sahutan meooong, tidak ada
gumpalan berbulu coklat-kuning melompat ke
dalam. Dibantingnya daun jendela sampai
menutup dan berjalan tertatih kembali ke
lingkaran terang yang dipancarkan oleh lampu
minyak tanah yang besar di meja tengah, dekat
kursi roda kakaknya.
"Pertama Queenie," lanjutnya sedih,
"Sekarang Toby! Aku beritahu kamu, Louise,
besok atau lusa Roger akan membawa Toby
dalam keadaan dingin dan kaku, dan berpura-
pura sedih—sebagaimana yang dia lakukan
sewaktu membawa masuk Queenie minggu
lalu. Diracun, tentu."
Martha memandang dengan tajam ke arah
kakaknya dan sepasang mata Louise men-
dadak berkabut.
"Queenie yang malang," bisiknya. "Kata
Roger dia pasti telah menemukan umpan yang
dipasang para petani di luarsana. Itu memang
benar, Martha. Para petani itu memang—"
"Apakah Queenie akan makan makanan
seperti itu setelah mendapatkan makanan layak
Teriakan MintaTolong | 49

darimu selama delapan tahun?" sahut Martha


menegaskan. "Queenie itu kucing pemilih. Aku
beritahu kau siapa yang meracuninya. Roger,
tidak lain dan tidak bukan."
Louise memandang adiknya dan angin
bersiul di sekeliling sayap rumah kuno itu.
"Tapi mengapa?"
"Pikirkan kembali apa yang terjadi sebulan
terakhir. Mantra yang sedang mengenai dirimu
ini. Sehari kau merasa iemah dan sakit.
Besoknya kau merasa lebih baik. Dan beberapa
hari kemudian kau kembali Iemah kembali.
Penjelasan apa yang bisa kau katakan
mengenai kondisimu itu?"
"Setelah seseorang melampaui usia tujuh
puluh lima tahun—"
"Tidak mungkin. Kau tidak pernah meng-
alami hal-hal semacam ini ketika kita berada di
rumah kita sendiri."
"Tidak... Itu benar. Aku tidak pernah seperti
itu."
"Weill Dan aku tidak perlu mengingatkan-
mu bahwa sebagai apoteker Roger memiliki
akses kemanapun mengenai obat-obatan—
termasuk racun."
"Oh, Martha, tidak!"
"Roger itu sangat pintar. Dia melakukannya
sodikit demi sedikit, jadi kita hanya akan merasa
sakit pelan-pelan dan suatu saat nanti kita akan
mati—-karena sebab yang wajar." Martha
50 | Robert Arthur

seperti mendesiskan kata-kata terakhirnya.


"Semua gejala penyakitmu itu, Louise, adalah
akibat keracunan kronis, sepertinya racun
arsenikum. Queenie diberi makan dari piring-
mu. Tetapi dia hanya menjadi semakin kurus
dan kurus lalu mati, sementara kau hanya
menjadi semakin sakit. Dan Roger membawa-
nya kesini sambil mengarang-ngarang cerita
tentang Queenie yang memakan umpan yang
dipasang para petani."
Martha menarik nafas dalam-dalam, paru-
parunya dipenuhi dengan kebencian. "Lalu
Roger menyadari bahwa hal yang sama bisa
saja terjadi pada Toby. Hanya saja Toby dia
biarkan sakit bersama-sama dengan kita disini,
tetapi kita telah curiga bagaimana cerita
sebenarnya. Jadi dia memutuskan untuk
melenyapkan Toby selamanya. Dan kini Toby
kita tersayang namun malang telah tiada."
"Oh, jahat sekali," kata Louise meng-
geragap. "Tapi bagaimana kau bisa yakin?"
"Berdasarkan bukti, termasuk mobil baru
yang dibeli Roger kemarin."
"Tapi itu kan bukan mobil yang benar-benar
baru," sanggah Louise. "Itu mobil bekas. Dan
Roger memang membutuhkannya, karena
musim dingin yang akan datang."
"Itulah tujuan sebenarnya. Kebutuhan.
Roger dan Ellen sangat memerlukan uang. Kau
tahu betapa sedikit gaji yang diterima Roger di
Teriakan Minta Tolong | 51

apotik Mr. Jebway. Kau hanya perlu mencermati


semua fakta-fakta yang ada. Dua tahun yang
lalu Roger datang kemari tanpa tahu dari mana
dia berasal—orang asing. Dia bertemu Ellen
dan tanpa pikir panjang akhirnya Ellen mau
menikah dengannya.
"Tapi coba lihat, Ellen itu biasa-biasa saja.
Mengapa Roger tertarik padanya? Aku
sebenarnya heran saat itu. Kini aku tahu. Itu
semua karena Ellen adalah pewaris tunggal
kita, kemenakan kita. Dan kita punya rumah
megah, juga saham dan surat obligasi yang
ditinggalkan ayah untuk kita. Kemudian Roger
melihat kesempatan ini. Dia menikahi Ellen dan
mengira bahwa suatu saat nanti dia akan
menguasai harta kita dengan cepat—dengan
cara meracun kita berdua."
"Semua hal yang kau bicarakan tentang
Ellen memang benar," kata Louise, dan raut
wajahnya yang mungil dan keriput menunjuk-
kan keraguannya. "Dia itu amat sangat biasa-
biasa saja. Tapi sifatnya yang manis, dan se-
orang lelaki tidak selalu menikahi perempuan
karena melihat penampilannya saja."
Martha mengacungkan jari telunjuknya
yang kurus kering kearah kakaknya. "Kau tahu,
menurutku Ellen sudah berubah. Kau me-
rasakannya bukan, bagaimana dia menjadi
penuh rahasia sekarang ini. Bagaimana dia
selalu menghindar saat kita sedang bicara
52 | Robert Arthur

masalah rumah? Bagaimana Roger dan Ellen


diam-diam saling berpandangan saat mereka
pikir kita tidak melihat mereka? Dan bagaimana
mereka, saat kita membicarakan masalah uang,
selalu mengalihkan pembicaraan?"
Martha mencondongkan tubuh ke depan,
memelankan suaranya.
"Aku lupa. Mereka mungkin mendengarkan
pembicaraan kita dari luarpintu. Sebagaimana
yang aku katakan tadi, pertimbangkan semua
kenyataannya. Kita bahagia di rumah kita di
kota. Lalu musim panas yang lalu Ellen dan
Roger membuat kita yakin dengan ke-
khawatiran mereka atas kondisi kesehatan kita.
Karena sakit panggulku dan arthritismu,
mereka bilang kita tidak bisa mengurus diri
dengan benar. Tidak masuk akal! Kita bisa saja
menjual beberapa saham kita dan membayar
seorang tukang masak dan pembantu.
"Tapi tidak. Layaknya nenek-nenek bodoh
kita setuju saja memberi kuasa hukum pada
Ellen dan pindah kesini bersama mereka.
Sekarang kita benar-benarterasing. Kita tidak
pernah bertemu orang lain sama sekali, dan
bisa dibilang kita tidak pernah meninggalkan
rumah. Kita tidak pernah mendapat surat
sepucukpun. Bahkan Hakim Beck juga tidak
datang menjenguk kita, dan aku menulis
kepadanya tiga hari yang lalu, memintanya—
tidak, memohon padanya—untuk datang
Teriakan MintaTolong | 53

mengunjungi kita. Kukatakan bahwa kita ingin


membicarakan sesuatu yang penting."
"Kau menyurati Hakim Beck?" seru Louise.
"Kau tidak mengatakannya kepadaku."
"Karena aku tidak ingin membuatmu
khawatirdengan kecurigaanku. Tapi sekarang
aku yakin, dan aku akan menyampaikan
semuanya ke pak hakim. Kalau kita bisa
bertemu dengannya, Aku yakin Roger tidak
pernah menyampaikan suratku kepadanya."
Bibir Martha menegang. "Kita harus meng-
hadapinya dengan tabah. Roger jadi tidak
sabaran. Kelihatan sekali dia berencana untuk
menghabisimu dulu. Kemudian aku. Dan tidak
ada seorangpun yang akan curiga sedikitpun."
"Oh, Martha!" sepasang mata Louise yang
pucat kebiruan mengerjap cemas.
"Aku akan memanggil mereka dan mencari
tahu bagaimana sikap mereka. Oh, aku bukan-
nya mau menuduh mereka. Tapi dari cara
mereka menjawab pertanyaanku, kita bisa tahu
seberapa banyak yang harus mereka tutupi."
Martha berjalan pincang ke pintu yang
mnnuju ke selasar penghubung ke bagian
rumah utama. Sambil membuka pintu, dia
berteriak, "Roger! Ellen!"
"Ya, Bibi?" sahut suara seorang perempuan
muda.
Martha kembali ke tempat duduknya dan
Ellen segera datang menghampiri. Ellen
54 | Robert Arthur

adalah seorang perempuan muda dengan


mata menonjol, dagu tipis dan raut muka
khawatir. Dia masuk, mengelap tangannya ke
celemek, dan tersenyum.
"Sebentarlagi makan malam siap," katanya.
"Daging bakar. Bagaimana?"
"Bagus sekali, Ellen," sahut Martha, "tetapi
kami ingin bicara dengan Roger."
"Apa ada yang memanggilku?" Suara
langkah kaki yang beratterdengardi lorong dan
Roger muncul di belakang Ellen. Roger
bertubuh pendek, dengan rambut kaku dan raut
wajah cerah, hanya saja garis-garis di sekitar
mulut dan kacamata tebal yang dia kenakan
tidak membuatnya tampak menyenangkan.
"Ini aku, Bibi, lengkap." Dia tertawa seperti
baru saja menceritakam gurauan. "Bibi perlu
bantuanku?"
Dia melingkarkan tangan di sekeliling
pinggang istrinya dan wajahnya berseri-seri. Di
atas bibiryang sedang tersenyum itu sepasang
mata dibalik kacamatanya terlihat bertambah
besar dan menyiratkan pikiran rahasia dari
benaknya.
"Tiga gadis kesayanganku, semua berada
dalam satu atap. Harem kecil rahasia milikku."
Sambil bicara begitu, dia meremas lengan Ellen
dengan lembut.
"Roger, aku penasaran mengapa aku belum
mendapat surat balasan dari Hakim Beck," kata
Teriakan MintaTolong | 55

Martha. "Apa kau sudah memberikan suratku


padanya?"
"Well, belum,"jawab Roger ragu-ragu. "Aku
meninggalkan surat itu pada sekretaris Hakim
Beck. Sebenarnya aku baru akan mem-
beritahukan Bibi malam ini. Hakim Beck sedang
keluar kota."
"Keluar kota?" tanya Louise. Matanya
menatap Roger.
Roger berdehem, dan Louise bisa melihat
bagaimana Roger dan Ellen saling melirik.
"Beliau pergi ke Boston karena ada kasus
di sana. Menurut sekretarisnya, kasus itu
lumayan penting."
"Tetapi Pak Hakim tidak punya klien di
Boston," sahut Martha tegas.
"Beliau pergi atas permintaan klien lokal,"
sambung Roger. Raut wajahnya yang tidak
tenang semakin terlihat.
"Kapan beliau kembali? Pak Hakim itu
benci Boston."
"Mungkin satu atau dua hari lagi," sahut
Roger cepat. "Segera setelah beliau kembali,
surat Bibi akan segera dibaca."
"Mmm." Martha memandang penuh arti ke
arah Louise dan Louise membalas dengan
anggukan yang mengisyaratkan bahwa dia
juga bisa melihat pengingkaran Roger. "Ada
berita di koran Call hari ini, Roger, yang
mengatakan bahwa Ellen telah menyerahkan
56 | Robert Arthur

rumah kami ke Boggs untuk dijual. Tentu saja,


menggunakan kuasa hukum yang kami serah-
kan padanya. Itu pasti tidak benar."
Lagi-lagi mereka melihat Roger dan Ellen
saling berpandangan secara diam-diam.
Kepercayaan diri Roger hilang pelan-pelan.
"Well, tidak, Bibi Martha," katanya. "Rumah
itu perlu perbaikan dimana-mana. Kami pikir
Bibi berdua bahagia tinggal bersama kami
dan—well, kami pikir rumah itu memang hams
dijual."
"Roger!" Martha bangkit, bersandar pada
penyangganya kemudian berdiri berhadapan
dengan Roger yang tidak berani menatap
matanya. "Kau ingat, kami setuju untuk tinggal
di sini asal kami bisa kembaii ke rumah kami
kapanpun kami mau. Bukan begitu, Ellen?"
"Ya, tentu saja, Bibi Martha," sahut Ellen
sambil memilin-milin celemeknya.
"Dan maksud dari pernyataan tersebut
adalah kami sama sekali tidak berniat menjual
rumah itu selama kami masih hidup."
"Kami ingin pindah kembaii," kata Louise
dengan suara bergetar.
"Oh, Bibi Louise!" protes Ellen. "Bibi tidak
boleh begitu!"
"Mengapa tidak? Apa alasannya?" tanya
Martha.
"Sebentar lagi musim dingin," sambung
Roger yang mendapatkan keyakinannya
Teriakan MintaTolong | 57

kembali. "Rumah itu perlu membutuhkan


pemanas yang baru, dan pemasangannya
memerlukan waktu lama dan mahal. Mungkin
baru musim panas nanti kita bisa memasang-
nya. Tidak ada yang lebih buruk daripada
rumah yang dingin ketika cuaca sedang
bersalju, apalagi bila Bibi sedang sakit." Saat
itu wajahnya hampir bisa dikatakan menarik,
meskipun garis-garis itu terlihat semakin dalam.
"Lagipula, seperti yang dikatakan Ellen, kami
ingin Bibi tingal bersama kami. Kami pikirakan
menyenangkan bagi kita jika Bibi tidak hidup
sendiri."
Dengan tatapannya Martha memperingat-
kan Louise untuk tidak protes. "Kami akan
memikirkannya dan membicarakan masalah ini
dengan Hakim Beck," jawabnya.
"Itu baru gadisku! Well, Ellen, ayo kita
makan malam. Aku harus kembali ke apotik
malam ini. Mr. Jebway kelihatannya agak flu
saat ini."
Roger dan Ellen kembali ke bagian rumah
yang mereka tempati.
Martha berpaling pada Louise. "Well? Kau
setuju denganku sekarang?"
"Oh, ya, aku setuju," jawab Louise meng-
geragap. "Ya ampun, kelihatan sekali kalau dia
berbohong. Sistem pemanasan di rumah kita
bekerja dengan sempuma. Kita tidak pernah
mengalami gangguan pemanas sejak Ayah
58 | Robert Arthur

memasangnya tiga puluh tujuh tahun yang


lalu."
"Dan siapa klien lokal yang sampai meng-
utus Hakim Beck pergi ke Boston?" tanya
Martha dengan suara mencibir. Dia menatap
lurus-lurus ke wajah kakaknya. "Apakah kau
lihat tadi Roger berkata dia harus kembali lagi
ke apotik malam ini? Seakan-akan dia hanya
berpikir bagaimana cara melarikan diri dari sini
sebelum kita sempat bertanya-tanya lagi.
Tampaknya dia perlu lebih banyak racun dari
persediaan obat Mr. Jebway."
"Martha!" seru Louise, dengan jemari
refleks menutup bibirnya yang bergetar.
Malamnya dua bersaudara tersebut tidak
dapat tidur nyenyak. Martha terbangun bebe-
rapa kali dan berjalan tertatih-tatih ke jendela
sambil memanggil Toby. Tapi tetap saja suara
sahutan meooong itu tidak kunjung datang.
"Toby mati," kata Martha pada Louise
keesokan paginya. "Kita tidak akan pernah
melihat Toby lagi."
"Toby yang malang." Mata Louise yang biru
pucat berkaca-kaca. "Mereka itu monster. Dulu
kupikir Ellen gadis yang manis."
"Dulu memang begitu," sahut Martha.
"Roger telah mengubah seluruh sifatnya.
Secara alami, perempuan biasa menuruti
perintah dan bimbingan suaminya."
Teriakan MintaTolong | 59

"Tapi menuruti perintah Roger untuk


membunuh kita—"
"Sejauh ini mereka hanya membunuhi
kucing. Kita akan cari cara untuk mencegah
mereka membunuh kita. Aku punya rencana."
Nada suara Martha terdengar putus asa.
"Sebenarnya aku tidak suka jika aku harus
melakukannya, tapi cara ini akan kupergunakan
bila terpaksa."
Terdengar langkah kaki di lorong, dan Ellen
datang membawa nampan.
"Selamat pagi," katanya sambil meletakkan
piring di atas meja.
Dilihat dari wajahnya pagi itu, kelihatannya
Ellen tidak bisa tidur nyenyak semalam. "Telur
rebus, keik panas dan t e h . Enak dan
mengenyangkan. Tahukah Bibi, ada butiran es
di kandang ayam pagi ini."
"Kami sama sekali tidak bisa tidur nyenyak
tadi malam," kata Martha pada Ellen. "Kami
mengkhawatirkan Toby."
"Ya ampun, dia belum kembali?" ke-
khawatiran Ellen tidak dibuat-buat. "Kuharap
dia belum—maksudku, kuharap dia tidak
keluyuran kemana-mana. Tapi meskipun dia
melakukannya, Toby pasti akan kembali."
"Aku tidak bisa makan, sungguh, makanan
ini tidak tertelan," sahut Louise sedih setelah
Ellen pergi. Dia hanya mengacak-acak keik
panasnya yang berwarna coklat keemasan.
60 | Robert Arthur

"Kita harus menjaga agar tubuh kita tetap


kuat," kata Martha. "Makan saja telumya. Telur
itu di dalam cangkang, jadi sangat aman
dimakan. Dan minum tehnya."
"Aku coba." Louise akhirnya bisa memakan
telur dan minum teh, meskipun dirasa agak
terlaiu kental. Martha memakan semua keik
coklat dan telur di piringnya. Tapi dia juga
merasa teh pagi itu terlaiu kental.
"Apakah kau bisa menyelinap keluar dan
menelepon Hakim Beck?" tanya Louise ketika
mereka selesai sarapan.
"Kamu lupa!" Martha memandang kakak-
nya dengan serius. "Bulan lalu Roger mencabut
saluran telponnya."
"Ya Tuhan, iya," seru Louise. "Katanya
tagihan telpon terlaiu mahal."
"Meskipun kita menawarkan diri untuk
membayarnya. Itu cara pertama yang dilaku-
kannya untuk memutuskan hubungan kita
dengan dunia luar."
"Sekarang kita tidak mungkin bisa minta
tolong!" suara Louise bernada panik.
"Kita masih bisa. Seperti yang kukatakan
tadi malam, aku benci melakukannya, tapi akan
kujakukan jika terpaksa. Sekarang, lanjutkan
pekerjaanmu menjahit selimut. Aku akan mem-
bacakan koran untukmu. Kita harus pura-pura
sibuk. Apa yang pertama harus kubaca?"
Teriakan Minta Tolong | 61

"Oh, berita kematian," kata Louise. "Kalau-


kalau ada orang yang kita kenal meninggal
dunia." Wajahnya khawatir. "Kita tidak men-
dapatkan kabar lagi sekarang ini. Mary
Thompson biasanya memberitahu kita jika
terjadi apa-apa, tapi dia tidak punya mobil—"
suara nafas Martha yang tertahan membuat
Louise menghentikan ucapannya. "Ada apa?"
"Mary Thompson!"
"Dia tidak mati kan?" tanya L o u i s e ,
waspada.
"Tidak," sahut Martha sambil memainkan
mulutnya. "Tapi mungkin dia lebih baik
meninggal. Menurut berita, dia masuk Haven
Home."
"Oh, tidak!" teriak Louise.
Martha mengangguk. "Perempuan malang
itu memintanya sendiri. Bayangkan, orang
seusianya dipaksa tinggal di tempat tua dan
mengerikan itu. Tempat itu dingin, busuk, dan
penuh tikus. Benar-benar Rumah Per-
lindungan! Nama yang bagus bukan berati
tempatnya juga bagus. Tempat itu hanya
sebuah rumah di desa dan sudah rusak,
mencoreng lingkungan! Baginya, itu sama saja
dengan mati."
"Mary yang malang," ujar Louise sedih. "Oh,
aku teringat pada acara minum teh, dengan
perapian yang sedang menyala dan kucing-
62 | Robert Arthur

kucing yang tidur di depannya, dan Mary


datang mengunjungi kita."
Raut wajahnya berubah bagai anak kecil
yang kegirangan. "Jika kita bisa kembali ke
rumah kita yang lama Mary bisa tinggal
bersama kita! Kita akan membayar beberapa
pembantu dan itu pasti akan menyenangkan!"
"Kita bisa," kata Martha berjanji. "Mary
Thompson tidak akan melewati hari-hari
sepinya di tempat mengerikan itu selama kita
masih punya cara untuk membantunya."
Harapan untuk mendapatkan rumah
mereka kembali dan tinggal serumah dengan
sahabat lama mengangkatsuasana hati Louise
beberapa saat. K e m u d i a n , saat hendak
menjahit potongan perca yang dua puluh tahun
silam adalah gaun wol terbaik yang biasa
dipakai ke gereja di hari Minggu, tiba-tiba
Louise tertegun.
"Aku—aku merasa tidak enak badan." Dia
menunggu beberapa saat, kemudian menatap
adiknya dengan ngeri. "Aku sakit. Lebih baik
aku tidur."
Martha membantunya naik ke ranjang dan
memijat pergelangan tangan Louise. "Sudan
agak baikan?" tanyanya.
"Aku merasa aneh," jawab Louise berbieik.
"Lemah, tidak berdaya dan—dan kaget.
Seperti—sepertinya aku diracun!" Kata-kata
terakhir itu keluar dalam bisikan putus asa dan
Teriakan MintaTolong | 63

ketakutan, dan ketika terucap kedua kakak


beradik itu bersitatap dengan sebuah
pengertian yang tampak jelas di mata mereka.
"Tehnya," kata Martha. "Oh, pintar sekali
Roger itu. Tapi aku tidak meminumnya dan kau
hanya minum sedikit—" dia mencengkeram
pergelangan tangan Louise dengan kuat. "Aku
yakin kau tidak sakit parah. Kau hanya minum
the itu sedikit dan itu tidak cukup untuk mem-
buatmu keracunan. Lagipula, aku yakin Roger
merencanakan untuk melakukannya perlahan-
lahan, untuk membuatnya terlihat seperti
penyakit yang bisa menyebabkan kematian.
Tapi kita akan memaksa mereka untuk me-
manggil dokter Roberts. Dan dia akan
menyampaikan pesan kita ke Hakim Beck."
"Kamu memang cerdas, Martha," ujar
Louise menggumam kagum.
"Sebelum kita bertemu Hakim Beck, kita
harus merahasiakan kecurigaan kita terhadap
Roger dan Ellen. Kalau sampai terlihat, dia tidak
akan menunggu lama-lama."
"Tidak, tentu tidak."
Tetapi ketika Ellen masuk, dia tidak
menyarankan agar mereka dijenguk oleh
dokter. Ellen hanya mondar-mandir mengurusi
Louise dan menyarankan minum aspirin,
bikarbonat dan botol air panas. Bagaimanapun,
Martha tetap memaksa dan akhirnya, dengan
malas, Ellen mengenakan mantel dan pergi ke
64 | Robert Arthur

rumah tetangga terdekat yang jaraknya


seperempat mil untuk menghubungi dokter
Roberts lewat telpon. Dia kembali, mengabar-
kan bahwa dokter Roberts sedang menangani
kelahiran, tapi akan datang secepatnya.
Waktu berjalan lambat. Louise tidak ber-
tambah parah. Tetapi dia tetap tinggal di kasur,
selalu mengaduh dan mengeluh, sementara
Martha memijat pergelangan tangannya dan
menyeka pelipisnya dengan minyak angin.
Mereka menolak makan siang dan hal ini
membuat Ellen bertambah panik.
"Tapi Bibi harus makan," bujuknya "supaya
Bibi tetap kuat."
"Aku sudah makan banyak tadi pagi," kata
Martha. "Dan aku yakin Louise malah akan
bertambah parah jika dia makan dalam
keadaan tegang seperti ini. Lebih baik tidak
makan apapun ketika perutmu sedang ber-
masalah."
Ellen yang kelihatan marah dan khawatir
itu akhirnya membawa nampan makan siang
mereka keluar.
Dokter Roberts datang sore-sore, agak
kedinginan dan nafas berembun. Dia adalah
seorang lelaki pendek dan gempal dengan
rambut-rambut halus berwama putih, sedikit
lebih muda dari kedua kakak-beradik itu.
"Ayo, ayo... ada apa ini?" tanya si dokter
sambil duduk dan meraba denyut nadi di
Teriakan Minta Tolong | 65

pergelangan tangan Louise. "Mmm. Seperti-


nya kamu gelisah. Coba kuperiksa lidahmu,
gadis kecil."
Martha segera mendekat ketika dokter
Roberts memasang stetoskop dan mendengar
denyut jantung Louise.
"Ada sesuatu yang m e n g g a n g g u m u ,
Louise?" tanyanya sambil mengelus dagunya.
"Kata Ellen kucingmu baru saja hilang?"
"Kucing itu d i r a c u n , " kata Martha.
"Sekarang Toby sudah tidak ada. Kami khawatir
kalau-kalau Toby juga diracun."
"Hmmm, hmmm. Gawat sekali. Menurutku
kau terlalu mencemaskan binatang pelihara-
anmu. Aku akan memberimu resep yang dapat
dibeli Roger. Kau beruntung, ada Roger yang
bekerja di apotik. Kau bisa menghemat
setengah harga obat. Sekarang ini harga obat
sangat mahal."
"Cemas!" seru Louise ketika dokter Roberts
meraih buku resepnya. "Dokter, aku—"
Martha mengisyaratkan Louise untuk diam.
Dokter Roberts, yang sedang sibuk dengan
rosepnya, tidak memperhatikan kedua perem-
puan itu.
"Dokter," tanya Martha ketika dokter sedang
melipat s t e t o s k o p n y a , "bisakah Anda
menyampaikan pesan kami untuk Hakim
Beck?"
66 | Robert Arthur

"Tentu, tentu, Martha. Apa pesannya?"


Dokter Robertrs berdiri dan memijit lembut
puncak kepalanya yang botak.
"Tolong katakan pada Hakim Beck untuk
datang kesini malam ini! Katakan padanya ini
amat sangat penting."
"Amat sangat penting. Hmmm.. aku tidak
suka memintanya pergi malam-malam. Dia
sedang demam."
"Jadi, dia tidak sedang di Boston?" tanya
Louise.
"Boston? Darimana kail tahu bahwa dia di
Boston? Dia sedang sakit ketika terakhir aku
bertemu dengannya."
"Tolong minta padanya untuk datang malam
ini," kata Martha memohon. "Katakan padanya
ini masalah hidup dan mati."
"Hidup dan mati? Hmmm." Dokter Roberts
mengangkat alisnya yang putih dan tebal.
"Well, baiklah, baiklah, bila dia sudah cukup
sehat. Dan jangan khawatir tentang Toby dan
Queenie. Peliharalah lagi beberapa anak
kucing yang sehat dan kalian akan merasa jadi
perempuan baru."
"Saat kami kembali ke rumah kami di kota
kami akan melakukannya," sahut Martha tegas.
"Pasti menyenangkan melihat kucing yang
bermain-main di depan perapian."
"Rumah kalian di kota?" tanya si dokter
keheranan. "Mengapa kalian ingin kembali
Teriakan MintaTolong j 67

kesana? Tempat itu terlalu besar buat kalian—


amat sangat besar. Kalian tidak akan mampu
menjaganya. Kusarankan lebih baik kalian tetap
disini karena ada yang akan merawat kalian."
Setelah dokter itu meninggalkan ruangan,
Martha mendengar Ellen berbicara dengannya
di lorong. Martha melongokkan kepalanya
keluar pintu untuk mencuri dengar. Sesaat
kemudian dia berjalan kembali ke samping
Louise.
"Katanya kau hanya gelisah," bisiknya. "Dia
meresepkan obat penenang."
"Obat penenang! Seharusnya tadi kita
bilang kalau itu racun!"
"Dia tidak akan mendengarnya. Tidakkah
kau lihat? Semua orang berpihak pada Ellen
dan Roger. Orang-orang semua mengira
mereka adalah sepasang suami istri yang
manis dan menyenangkan yang merawat dua
orang nenek tua yang tidak berdaya."
Martha melambaikan tangannya putus asa.
"Louise, meskipun Hakim Beck datang
malam ini, dia pasti akan berpikiran sama. Aku
bisa menyimpulkannya sekarang. Kita berdua
sudah berada di kuburan dalam waktu sebulan
dan semua orang akan bersedih untuk Roger
dan Ellen."
"Kita berikan saja saham dan surat ber-
harga kita pada mereka," bisik Louise. "Jadi
68 | Robert Arthur

mereka tidak punya alasan untuk membunuh


kita."
"Tentu saja tidak boleh." Mata Martha mem-
belalak. "Mereka akan langsung membawa kita
ke Haven Home. Kau mau hari-harimu berakhir
di tempat yang mengerikan itu?"
"Lebih baik aku mati. Tapi bila tak ada
satupun yang mau mendengarkan kita—"
"Hanya ada satu cara, kita harus kabur."
"Martha!" Louise terduduk. "Kau tahu kita
tidak bisa seperti itu. Kau bahkan tidak akan
sanggup berjalan setengah mil ke rumah
keluarga Lamb, apalagi sambil mendorong
kursi rodaku. Kita akan mati kedinginan. Coba
dengar angin di luar sana!"
Angin itu menggetarkan daun jendela sekan
menegaskan pernyataan Louise. Tetapi Martha
mengangguk-angguk dengan raut wajah
misterius.
"Kau akan lihat. Aku sudah mengatakan-
nya, aku punya rencana. Kita akan kabur.
Jangan takut."
"Tapi jika kita memang bisa kabur, mereka
akan mengatakan kita ini nenek-nenek yang
tolol dan mereka pasti akan membawa kita
kembali kesini lagi," sahut Louise.
"Aku juga sudah memikirkannya. Kita akan
lari dan mereka akan membawa kita kembali
ke rumah lama. Tapi kita harus menunggu
sampai Roger pulang."
Teriakan Minta Tolong | 69

Tanpa menghiraukan rasa penasaran


Louise, Martha tetap bungkam mengenai
rencananya itu. Ketika hari beranjak sore, suhu
mulai bertambah dingin, dan saat malam mulai
menjelang suhu dingin mulai terasa mendesak
jendela-jendela tinggi di rumah itu. Martha
mulai memilah-milah perhiasan dan pernak-
pernik berharga yang mereka miliki dan
mengumpulkannya menjadi satu dan dimasuk-
kan dalam syal.
"Kita tidak bisa membawa banyak-banyak,"
katanya. "Kita harus meninggalkan pakaian kita
disini. Tapi kita bisa menjual saham kita dan
membeli pakaian lagi."
Louise merasa lebih baik dan sekarang dia
duduk. "Kuharap aku tahu lebih banyak tentang
rencanamu itu. Kau pasti tidak akan bisa
berjalan sambil mendorongku sejauh setengah
mil. Kita akan membeku."
"Bantuan akan datang pada waktunya,"
sahut Martha berjanji. "Sekarang kau harus
ingat, Ellen dan Roger tidak boleh mencurigai
hal ini karena mereka adalah pembunuh.
Mereka telah membunuh Queenie dan Toby
mereka berencana membunuh kita juga.
Biarkan aku saja yang bicara."
"Baiklah," sahut Louise pasrah. "Tapi kita
tentu tidak akan makan makanan mereka,
bukan?"
70 I Robert Arthur

"Tentu saja jangan. Sekarang sssttt—


Roger sudah pulang, dan kurasa aku dengar
Ellen membawakan kita makan malam."
Terdengar suara piring berdentingan dan
Ellen masuk membawa nampan berisi piring
dan peralatan makan perak. Roger berdiri di
belakangnya, kacamata tebalnya berkilat dalam
cahaya lampu.
"Dr. Roberts memintaku untuk mem-
bawakanmu obat istimewa, Bibi Louise," kata
Roger. Dia tersenyum lebar saat mengambil
botol obat itu dari saku, melempar dan me-
nangkapnya kembali. "Debu emas murni
mungkin lebih murah. Tetapi dengan obat ini,
dalam seminggu Bibi akan selincah anak kuda."
"Terima kasih, Roger. Aku akan meminum-
nya nanti."
"Sebelum makan, begitu resepnya. Ini.
Ditelan, ya."
Dia memegang sebutir kapsui merah dan
segelas air. Louise menatap Martha seolah
memohon padanya, kemudian menelan kapsui
itu.
"Itu baru gadisku. Bibi harus meminumnya
lagi sebelum tidur."
"Kau sudah menemukan Toby?" tanya
Martha. "Dia masih belum pulang."
Roger membasahi bibirnya dan Ellen
langsung menyela. "Toby? Tidak, tapi aku yakin
dia akan kembali. Dia hanya keluyuran di luar."
Teriakan MintaTolong | 71

"Kukira aku mendengarnya di ruang bawah


tanah. Kedengarannya dia lemah sekali."
Martha terlihat khawatir. "Tolonglah, Roger,
maukah kau lihat ke bawah?"
"Di ruang bawah tanah?" Roger dan Ellen
saling berpandangan tidak nyaman. "Aku heran
mengapa dia ada di bawah sana. Aku juga
pernah mendengarnya mengeong disana
sebelum kejadian ini."
"Ayolah, Roger. Tolong dilihat. Kau juga
mendengarnya bukan, Louise?"
"Oh, iya. Aku yakin dia ada di ruang bawah
tanah," sahut Louise.
"Tidak ada salahnya melihat kesana," saran
Ellen. "Mungkin dia menyelinap masuk saat aku
mengambil persediaan makanan kita dua hari
yang lalu."
"Baiklah, aku pergi." Roger mengangkat
bahunya dengan gaya berlebihan. "Ke ruang
bawah tanah untuk menemukan Toby."
Dia melangkah ke lorong dan mereka
mendengarnya menuruni tangga dengan
berisik. Sesaat kemudian mereka mendengar
gumaman di bawah lantai.
"Tidak ada tanda-tanda adanya kucing
disini."
"Ellen, tolong, bantu Roger mencari Toby,"
pinta Martha. "Toby mungkin sembunyi di
belakang tempat batu bara dan Roger tidak
dapat melihatnya."
72 | Robert Arthur

"Well, baiklah," sahut Ellen, dan pergi


menyusul Roger di ruang bawah. "Kemari,
Toby." Mereka bisa mendengar suara Ellen dan
Roger memanggil-manggil Toby.
Martha terpincang-pincang menuju lorong
dan pelan-pelan menutup pintu ruang bawah
tanah. Kemudian didorongnya palang pintu
yang berat itu ke tempatnya.
"Sudah!" kata Martha dengan suara penuh
kemenangan. "Sekarang kita bisa kabur."
"Tapi kita akan kedinginan!" Louise me-
mekik ketika Martha setengah menariknya dari
tempat tidur dan membantu mengenakan
pakaian hangat. "Dan mereka akan membawa
kita kembali lagi kesini."
"Tidak. Mereka tidak akan mengirim kita
kembali kesini."
Martha kemudian mengenakan mantel dan
m e n g e r u d u n g i kepalanya dengan s y a l ,
kemudian mendudukkan Louise di kursi roda.
Saat itulah Roger dan Ellen sadar pintu
ruangan sudah terkunci rapat dan mereka
menggedor-gedomya.
"Bibi Martha!" teriak Ellen memanggil-
manggil. "Buka pintu! Mengapa dikunci?"
"Hey Bibi!" teriak Roger. "Leluconnya
bagus, sekarang biarkan kami keluar. Toby
tidak ada di bawah sini. Kami sudah mencari-
nya kemana-mana."
Teriakan Minta Tolong j 73

"Toby tidak ada di bawah karena mereka


telah membunuhnya." Martha bergumam sinis
sambil menatap Louise.
Dia mendorong kakaknya ke selasar yang
menuju ke pintu depan dan keluar melalui
beranda. Malam menjelang, dan diluar sana
gelap gulita. Angin dingin menggoyangkan
dahan-dahan pohon yang meranggas, suara-
nya berdengung lembut.
Louise memekik kaget ketika Martha
membuat kursi rodanya tersandung satu anak
tangga dan Martha terus mendorong sampai
ke jalan raya, seratus meter dari rumah. Lalu
dia memutar kursi itu dan mengunci rodanya.
"Sekarang kau tunggu sebentar," ujarnya.
"Aku tidak akan lama."
Martha berjalan tertatih-tatih dan masuk
kembali ke dalam rumah, mengacuhkan
teriakan Roger dan Ellen yang memohon dari
ruang bawah tanah yang terkunci rapat.
Terbungkus dalam syal dan mantel tebal,
Louise menunggu dalam gelap di luar rumah.
Angin mempermainkannya, menggigitinya
bagai geligi kecil, dan Martha kembali, mem-
bawa syal dengan perhiasan mereka di
dalamnya.
"Martha!" teriak Lousie. "Aku kedinginan.
Apa yang akan kau lakukan?"
"Kau akan lihat." Martha berhenti di
sebelahnya, menggigil, dan membungkuk
74 | Robert Arthur

bertelekan tongkat. "Kau akan lihat nanti,


Louise. Perhatikan saja rumahnya."
Lousie memperhatikan. Di belakang jendela
tepat di bagian sayap tempat tinggal mereka
terlihatsemburat kuning cerah. Berkelap-kelip,
kemudian menyembur. Dan semburat kuning
itu membesar dengan cepat dan berubah
menjadi tirai api yang menjilat-jilat melalui
jendela yang setengah terbuka. Api terus
bertambah besar, menjadi lebih besar dan kuat
seiring angin yang berhembus di sela-sela
tanaman rambatyang lebat.
"Api!" Louise tersentak. "Rumah itu ter-
bakar!"
"Aku memercikkan minyak tanah dari lampu
ke sekitar ruangan," sahut Martha, "ingat, Ellen
dan Roger berencana membunuh kita. Mereka
telah melakukannya pada kucing-kucing kita.
Kita harus melindungi diri kita sendiri. Tidak ada
jalan lain."
Suara Martha sedikit meninggi. "Tapi ingat.
Kita tidak boleh membicarakan rencana mereka
ini kepada siapapun. Mereka keturunan kita.
Tidak ada seorangpun yang akan memper-
cayainya. Anggaplah semua ini adalah tragedi
yang menyedihkan. Kau mengerti?"
"Oh, ya. Ya," sahut Louise, senang. "Kau
sangat cerdas. Sekarang akan ada orang yang
melihat api itu dan memanggil pemadam
kebakaran. Bukankah begitu?"
Teriakan MintaTolong | 75

"Ya, kebakaran di desa selalu menarik


perhatian orang. Begitulah cara kita memanggil
bantuan karena kita tidak berdaya. Setelah
semua ini berakhir, kita akan kembali ke rumah
lama kita."
Kemudian mereka mengamati api itu dalam
diam. Lidah api dari jendela semakin besardan
segera berubah menjadi obor raksasa. Setelah
beberapa saat terdengar raungan sirine yang
sayup-sayup terdengar dari atap pemadam
kebakaran di kota.
"Api ini lumayan hangat." Louise bergumam
sambil mengulurkan tangannya ke arah rumah.
"Nyaman sekaii rasanya."
Atap tempat tinggal mereka runtuh sambil
memercikkan bara api, seiring datangnya mobil
pemadam kebakaran dan para petugas yang
mengenakan helm yang saling teriak satu sama
lain. Tetapi rumah itu sudah diselimuti api dan
para petugas tidak bisa berbuat apa-apa.
Perapian ruang tamu hakim Beck berderak
menyenangkan. Martha dan Louise me-
mandangnya, dan melihat bayangan-bayangan
indah disana.
"Kita akan berada di rumah kita sendiri
secepatnya," gumam Louise.
"Dengan anak-anak kucing yang bermain
di karpet dan Mary Thompson menemani kita.
Putri Mrs. Rogers bisa kita perbantukan dengan
76 | Robert Arthur

bayaran dua puluh lima dolar seminggu. Kita


mampu membayarnya dengan mudah."
"Harta kita akan bertahan selama kita masih
hidup," jawab Martha menyetujui. "Kurasa aku
mendengar Pak Hakim datang."
Pintu terbuka, tetapi bukan seorang lelaki
yang masuk melainkan seekor kucing Siam
yang menyelinap. Kucing itu melompat ke
pangkuan Martha dan mengeong senang.
"Toby!" seru Louise.
"Toby!" ujar Martha mengikuti. "Darimana
saja kau, kucing nakal?"
"Kukira dia akan menjadi sebuah kejutan
yang menyenangkan," sebuah suara kering
menyahut. Suara itu berasal dari Hakim Beck,
seorang pria kurus, tinggi dan agak bungkuk
berusia enampuluhan, yang berjalan masuk di
belakang si kucing. "Sesuatu yang akan mem-
buat hari-hari mendung ini sedikit berwarna.
Salah satu petugas pemadam kebakaran
menemukannya semalam tidak jauh dari
reruntuhan."
Dia menyalami masing-masing perempuan
itu dengan genggaman tangan yang kuat,
kemudian meniup hidungnya dengan suara
keras.
"Maaf," katanya. "Saya terserang demam
ketika berada di Boston. Kota yang buruk.
Berangin, ribut."
Teriakan Minta Tolong | 77

"Anda—ke Boston?" tanya M a r t h a .


Bibirnya terasa kering tiba-tiba.
"Tiga hari. Dan bisa dibilang semuanya sia-
sia saja."
Hakim itu duduk dan menggelengkan
kepalanya.
"Ini adalah peristiwa yang sangat menyedih-
kan. Rumah-rumah kuno adalah perangkap api
yang mengerikan. Tapi kita tidak akan bicara
masalah itu. Lebih baik kita tidak membahas-
nya. Kita akan bicara tentang kalian, karena
Roger dan Ellen—well, tiada."
"Oh, kami akan baik-baik saja," sahut
Louise cepat. "Kami akan pindah kembali ke
rumah lama. Dan kami akan membawa serta
Mary Thompson bersama kami. Dia tidak boleh
tinggal lebih lama seharipun di tempat mengeri-
kan itu."
Hakim Beck meniup hidungnya kembali.
Raut wajahnya terlihat sedih saat tanpa sadar
dia menelusuri lambang Mason di jam berantai
emas miliknya.
"Martha, Louise—" Hakim Beck berhenti
sesaat. Mereka memandangnya, sepasang
mata cerah di wajah antik itu. "Sulit bagiku untuk
mengatakannya pada kalian. Kunjunganku ke
Boston sesungguhnya mengenai kalian."
"Mengenai kami?" tanya mereka beriringan.
"Sesungguhnya mengenai harta warisan
ayah kalian, tepatnya. Sebagaimana yang
78 | Robert Arthur

kalian ketahui, warisan itu terdiri dari sejumlah


u a n g — y a n g sudah d i b e l a n j a k a n — d a n
beberapa saham Rel Kereta Api di New
England dan Toronto."
"Ya?" tanya Martha, dan mereka tetap saja
menatapnya.
"Well, bisnis perkeretaapian sedang me-
nurun belakangan ini dan New England dan
Toronto menderita bangkrut musim panas yang
lalu. Itulah alasan mengapa Ellen dan Roger
menginginkan kalian tinggal bersama mereka,
agar bisa merawat kalian. Ellen menginginkan
kuasa hukum darimu untuk memudahkannya
dan Roger mengurus sisa harta yang ada tanpa
kalian ketahui. Aku ingin mengatakan yang
sebenarnya, tetapi mereka khawatirhal tersebut
akan membuat kalian cemas. Karena itulah
kami tetap menutupi dan merahasiakannya.
"Sayang sekali, sekarang kalian harus tahu,
Martha dan Louise. Aku turut bersedih karena
rumah kalian yang lama tidak bisa ditempati.
Bahkan kami tidak bisa menemukan orang
yang mau membelinya. Tidak ada dana untuk
merenovasi. Bahkan tidak ada uang yang
tersisa dari harta warisan yang ditinggalkan
ayahmu." Hakim Beck berhenti sesaat. Dengan
lembut Hakim Beck melanjutkan, "Kalian
mugkin sering bertanya-tanya mengapa Ellen
dan Roger sering merasa tegang dan malu. Kini
Teriakan Minta Tolong | 79

kalian t a h u . Percayalah, mereka tidak


keberatan. Mereka mencintai kalian."
Kedua bersaudara itu saling pandang,
membisu dalam kengerian.
"The Haven Home." Suara Louise berbisik
sangat pelan. Martha bahkan tidak bisa berkata
apa-apa.[]

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com
PERMAINAN
Mike Marmer

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

Matahari merah-jingga yang hampir terbenam


di langit Jamaika tergantung rendah di
cakrawala Kepulauan Karibia seolah sengaja
berada disana untuk bergaya. Bayang-bayang
senja memanjang sudah, miring, dengan warna
hitam lembut di atas semak bougenvil dan
bunga sepatu yang berwarna cerah, dan ujung
bayang-bayang itu berakhir di bagian depan
Hotel Dorando yang mewah dan terang di
Montego Bay. Pemandangan itu seperti yang
terdapat pada gambar-gambar di kartu pos,
ketika tubuh George Farnham, dengan tangan
menggapai-gapai liar dan teriakan yang makin
lama makin terdengar samar, melesat turun
melewati dedaunan kelapa dan terjerembab di
beranda bawah.
Dua puluh menit kemudian, di kamar lantai
dua belas di mana almarhum Mr. Farnham me-
mulai perjalanan jatuhnya ke beranda, janda-
nya duduk membisu di sofa, dengan raut wajah
kedukaan.
Di s e b e r a n g n y a , Mr. Tibbie, Asisten
Manager yang sedikit botak, duduk bertengger
82 I Mike Marmer

seperti burung di pinggir kursi. Wajahnya


menyiratkan dukacita, selain perasaan tidak
nyaman yang membebaninya selama seper-
empat jam terakhir sejak janda Mr. Farnham
berada dalam tanggungjawabnya.
Tibbie menggeleng-gelengkan kepala.
"Buruk sekali," ujarnya ke arah Mrs. Farnham.
"Kecelakaan yang buruk sekali," ulangnya.
Janda Mr. Farnham mendongak, mendapati
raut wajah penuh simpati Mr. Tibbie yang
m e n g a n g g u k samar, dan menundukkan
kepalanya kembali.
Kecelakaan. Hal itu tidak pernah terlintas
di benaknya, kematian George dianggap
sebagai kecelakaan. Dalam waktu sepersekian
detik di teras tadi, dia hanya memikirkan polisi,
pemeriksaan dan pengadilan. Tetapi disini,
untuk kesekian kalinya dalam lima belas menit
terakhir, Mr. Tibbie menyebutnya sebagai
kecelakaan.
Dan sebelumnya, saat dia bergegas
menuju beranda secepat mungkin dengan lift,
semua orang berbisik-bisik mengenai
kecelakaan itu. "Tragedi," bisik mereka.
"Kecelakaan yang mengerikan... perempuan
yang menyenangkan... dengan dua anak-anak
yang cantik dan tampan... kecelakaan yang
sangat buruk."
Apakah tidak ada seorangpun yang melihat
kejadian di teras saat itu?
Permainan | 83

Priscilla Farnham adalah seorang perem-


puan lembut dan agak gemuk, dengan garis-
garis kecantikan masa remaja yang masih
membayang di wajahnya. Selama ini tidak
pernah dia menganggap dirinya sebagai orang
yang kuat dan cerdik, dan sekarang dia terkejut
mendapati kekuatan yang terdapat dalam
dirinya untuk bisa tabah menghadapi semua
ini. Dia heran akan kemampuannya untuk tetap
tenang dan tetap mengenakan topeng sedih
seorang janda yang baru ditinggal suaminya.
Perasaanya pada George sudah hilang
sejak lama. Seingatnya, Priscilla hanya merasa
sedikit menyesal ketika dia memandang ke
bawah dari balkon. Menurutnya, George seperti
sepotong bagian aneh dari sebuah gambar
teka-teki yang terbingkai di lempengan lantai
batu.
Suara telpon membuyarkan lamunannya.
Tibbie, dengan pandangan minta maaf
karena suara telpon yang mengganggu, ber-
gegas menjawabnya. Dia memperkenalkan
siapa dirinya, mendengarkan, kemudian
mengatupkan sebelah tangannya ke telpon.
"Ini Pak Edmonds, dari kepolisian. Dia
bilang, ada orang dari C.I.D yang menunggu
di lobi dan, bila Anda menyanggupi, dia akan
datang kesini dan mengajukan beberapa
pertanyaan."
84 I Mike Marmer

Tibbie tersenyum meyakinkan. "Saya yakin,


ini hanya tugas rutin mereka. Anda adalah
pelancong di pulau ini. Dan menurut Pak
E d m o n d s , dia akan membawa seorang
penyelidik bersamanya."
Wajah Priscilla pasti menunjukkan per-
ubahan, karena Tibbie langsung menambah-
kan: "Tapi bila Anda keberatan mengenai hal
ini..."
"Tidak, tidak, mereka dipersilahkan untuk
datang kemari," sahutnya.
Tibbie menyambungkan jawaban itu ke
telpon, kemudian kembali menoleh ke Priscilla.
"Lima menit?"
Priscilla mengangguk.
"Lima menit bisa," kata Tibbie memberitahu
Pak Edmonds lewat telpon, kemudian meletak-
kan gagang telpon kembali ke tempatnya.
Matanya memandang Priscilla kembali. "Apa
masih ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Saya akan sangat berterimakasih jika Anda
sudi menjaga anak-anak."
Dengan wajah yang menunjukkan rasa
terima kasih karena diperkenankan pergi, dia
bergegas menuju kamar tidur.
Anak-anak. Merekalah yang terpenting saat
ini. Apa yang dapat mereka perbuat tanpa
dirinya? Dia membayangkan Mark, dengan
rambut ikalnya yang legam dan bulu mata yang
panjang. Usianya baru sembilan tahun, tetapi
Permainan | 85

sudah menunjukkan ciri fisik tubuh yang tegap


dan tampan saat dia dewasa nanti. Dan Amy,
berbeda dua tahun dari Mark, mewarisi
kecantikan dan rambut pirang Priscilla dengan
mata violet yang besar. Berpikir untuk berpisah
dengan mereka membuatnya kacau, dan
kecerdikan yang baru saja didapatnya itu tiba-
tiba dibayangi rasa ketakutan.
Lima menit. Lima menit untuk membangun
benteng pertahanannya. Untuk apa? Mungkin
p e r t a n y a a n - p e r t a n y a a n n y a nanti hanya
formalitas belaka, penyelidikan tentang
peristiwa kecelakaan yang mengerikan, seperti
yang diyakinkan oleh Mr. Tibbie, dan tidak perlu
persiapan berlebihan untuk menghadapinya.
Tetapi bila anggota C.I.D itu memeriksa lebih
j a u h , bila mereka bisa mengungkapkan
kebenaran yang sesungguhnya, penyeiidikan
tersebut akan berbeda sama sekali.
Pembunuhan!
Priscilla menggigil mengingatnya, tetapi
harus disebut apalagi selain pembunuhan? Dia
mengakui, kematian George bukan hal yang
sudah "dipersiapkan"; tidak ada perencanaan
matang dan berdarah dingin. Tapi tetap saja
pikiran tentang hal itu masih selalu ada, lima-
sepuluh menit sesudahnya. Pembunuhan?
Mungkin. Akan ada banyak interpretasi
mengenai tingkat pembunuhan itu sendiri, tapi
masing-masing memiliki hukuman khusus.
86 | Mike Maimer

Tidak, dia harus mengambil arah lain. Pem-


benarankah? Apakah kematian George adalah
sesuatu yang dapat dibenarkan? Secara sah
memang tidak; meskipun dalam cara yang
paling sederhana dan hampir primitif sekalipun
Priscilla menganggap itu adalah hal yang bisa
dibenarkan. Dalam hal tertentu, semua ini salah
George sendiri. Dia yang menyebabkan terjadi-
nya peristiwa ini.
Tibbie kembali ke ruangan dan membuyar-
kan pemikirannya. Dia melaporkan keadaan
anak-anak, dan mereka baik-baik saja. Salah
satu pegawai hotel yang diminta Tibbie untuk
menjaga mereka mengatakan anak-anak itu
bersikap sangat baik.
"Kelihatannya mereka hanya meng-
khawatirkan keadaan Anda," Tibbie me-
nambahkan dengan senyuman menghibur.
"Saya katakan pada mereka, Anda akan
kembali bersama mereka sebentar lagi."
Priscilla mengangguk berterimakasih.
"Kami memang sangat dekat," ujarnya pada
Asisten Manager itu ketika dia kembali duduk
bertengger di kursi.
Sekarang semua sudah ditangani, begitu
pikir Priscilla pada dirinya sendiri. Semua hal
untuk dapat terhindar dari tuduhan pem-
bunuhan.
Apa yang akan ditanyakan oleh anggota
C.I.D itu? Mereka tentu mencari motif. Uang?
Permainan | 87

Tidak, hal itu tidak berlaku disini. Cemburu?


Dia segera menghilangkan pikiran itu. Benci?
Well, mereka memang sempat bertengkar
sebelumnya, tetapi bukankah pertengkaran
adalah hal yang wajar terjadi, di keluarga yang
paling harmonis sekalipun?
Tetapi, karena keluarga Farnham sedang
berada di negara asing, tidakkah penelitian
akan berdasarkan pada keadaan mereka
selama disini?
Harapannya segera kandas. Mereka
memang bertengkar s e b e l u m n y a . Per-
tengkaran hebat dan menyakitkan. Dan
seingatnya, ketika semuanya memuncak, dia
berpaling dari George dan tiba-tiba melihat
anak-anaknya berdiri disana, di ambang pintu
ruang tamu, dengan raut wajah yang menyirat-
kan ketakutan dan kepedulian. Dia telah ber-
usaha memperingatkan George, tetapi dia terus
saja berteriak-teriak, menumpahkan sumpah
serapah yang menyakitkan untuk didengar.
Kemudian dia bergegas ke balkon, dan anak-
anak berlari mendekat dan memeluk ibu
mereka erat-erat.
Perlu waktu lima sampai sepuluh menit
untuk merangkai kata-kata, membujuk George
membatalkan niatnya. Dia mengajak anak-anak
untuk mengadakan Permainan. Ketakutan dan
kecemasan menghilang, dan mereka berlari ke
ruang tamu untuk mulai bermain.
88 | Mike Marnier

A n e h , pikirnya. Kalau saja George


mengerti dan turut serta dalam Permainan itu,
maka semuanya akan lain. Kalau saja George
mau turut serta dalam semua hal yang
melibatkan perasaan cinta dan saling berbagi,
dia tidak akan terbaring di bawah sana, tertutup
taplak meja beranda konyol berwarna cerah.
Kejadian yang menyebabkan peman-
dangan di bawah sana dimulai sejak lama,
ketika George berubah. Awalnya dia seorang
yang riang dan penuh perhatian saat mereka
masih pacaran. Tetapi ketika ayah Priscilla
meninggal tidak lama setelah mereka menikah,
George mengambil alih perusahaan dan
manajemen yang ditinggalkan ayah Priscilla,
dan perubahan itupun dimulai. Yang dipikirkan
George hanya perusahaan. Mereka tidak punya
waktu lagi untuk bersenang-senang berdua.
Tidak ada lagi kejutan-kejutan berbentuk
hadiah, coklat dan bunga yang datangnya tak
terduga. Tidak ada satupun barang bawaan di
dalam mobil yang membuat Priscilla terkejut
dengan senang, tidak seperti George yang
dulu.
Dia berusaha membuat George tertarik
untuk mengikuti Permainan dan membuatnya
mengalami keasyikan dalam keceriaan dan
kedekatan yang bisa ditemukan dalam
keluarganya sendiri. Seingatnya, George
pernah mengikuti permainan itu sekali, dengan
Permainan | 89

terpaksa. Priscilla mendekat manja dan


berkata, "coba tebak." George akan menjawab
sesuai peraturan Permainan: "Apa?" Kemudian
Priscilla akan berkata: "Coba tebak apa yang
sudah kulakukan untukmu hari ini." Kemudian
George harus menerka dengan hal-hal konyol,
seperti: "Kau menemukan emas seharga sejuta
dollar dan akan menyembunyikannya di bawah
serbet makanku." Atau, "kau membuat replika
Taj Mahal dari tusuk gigi, dan besok kita akan
pergi ke kota untuk mengambil beberapa
mebel." Lalu tebak-menebak itu akan semakin
serius sampai George bisa menebak dengan
benar apa yang telah dilakukan Priscilla untuk
mengejutkannya; atau dia menyerah dan
Priscilla mengatakan kejutannya.
Tapi biasanya George selalu berhenti
setelah berkata "Apa?" Dia selalu bilang,
Permainan itu "konyol" dan Priscilla lebih konyol
karena memainkannya.
Priscilla mengaku, Permainan itu memang
konyol, tapi menyenangkan. Permainan itu
penuh dengan Kejutan, rasa Saling Memberi,
Bermain, dan Cinta. Juga Romantis, karena
kejutannya hari itu adalah gaun tidur yang
sangat menggoda.
Baik George maupun dirinya terus saja
m e n g a m b a n g , dan satu-satunya yang
menyelamatkan pernikahan mereka adalah
hadirnya anak-anak. Mark dan Amy mewaris-
90 | Mike Marmer

kan paras dan semangat Priscilla. Mereka pergi


tamasya, membuat kejutan-kejutan, melakukan
Permainan, dan menunjukkan rasa saling
mengasihi sebagaimana yang ditunjukkan
sang ibu pada mereka. Dan itu membuat
mereka sangat dekat dengan Priscilla.
Mungkin—Priscilla merasa sedikit
kegetiran dalam hatinya—Priscilla terlalu men-
curahkan perhatiannya pada Mark dan Amy
dan tidak pada George. Tetapi Priscilla
membela diri, kalau saja George mau menjadi
bagian dari mereka... kalau saja dia mau
berbagi perasaan saling mengerti yang
menyenangkan itu... kalau saja—
Priscilla menghentikan lamunannya.
Ketukan pelan di pintu mengakhiri rentetan
ingatannya dan membuat Tibbie terlompat dari
tempatnya bertengger. Dia berjalan ke pintu,
membukanya, dan menyapa Pak Edmonds dan
seorang lelaki jangkung dengan pakaian
preman.
Edmonds yang gilang-gemilang dalam
seragam musim panas dengan seragam santai
berwama merah dan topi "Bobby", topi polisi
yang layaknya dipakai anggota kepolisian
Inggris, memperkenalkan rekannya. Lalu dia
mengangguk dan mundur kembali ke lorong,
menutup pintu di belakangnya.
Lelaki itu adalah Sersan Detektif Waring,
berparas tangkas dengan sepasang mata biru
Permainan | 91

terang dan rambut sewarna pasir yang mulai


memutih dan bertindak sebagai penyelidik dari
Pusat Penyelidikan Daerah untuk wilayah Teluk
Montego.
"Saya minta maaf karena mengganggu
Anda di saat seperti ini, Mrs. Farnham,"
sapanya patah-patah dalam bahasa Inggris
berdialek British. "Jika Anda bersedia untuk
menjawab beberapa pertanyaan yang saya
ajukan, saya usahakan untuk menyelesaikan-
nya secepat mungkin."
"Saya akan memberi semua informasi yang
Anda perlukan," jawabnya.
Sersan tersebut duduk di sebelah Tibbie
dan mengambil sebuah buku notes kecil dari
saku jas. Tanpa sadar dia mencari pensil dan
menemukannya, lalu membalik lembaran buku
itu, memandang sekilas dan kembali menatap
Priscilla.
"Kita bisa muiai dengan apa yang Anda bisa
ingat, semampu Anda, mengenai sesaat
sebelum... peristiwa tersebut terjadi."
"Saya tidak ingat banyak, sayang sekali.
Saya sedang berbaring di sofa—pikiran saya
sedang kacau. Saya tidak ingat apakah jeritan
itu yang menyadarkan saya ataukah anak-
anak. Yang saya ingat hanya ketika mereka
mengguncang saya, kemudian saya bangkit.
Kemudian kami ke balkon—saya melongok ke
bawah"—Priscilla berusaha m e n g a t a s i
92 | Mike Marmer

suaranya yang bergetar—"dan saya melihat


suami saya."
Sersan Waring berdiri dan berjalan cepat
ke balkon, memandang sebentar, kemudian
kembali ke kursinya.
"Apakah suami Anda tampak tertekan
belakangan ini? Apakah Anda merasa bahwa
dia mungkin sedang berpikir untuk mengakhiri
hidupnya sendiri?"
"Oh, tidak!" jawab Priscilla cepat, dan
langsung menyesali jawabannya itu. Dia tidak
berpikir akan adanya kemungkinan bunuh diri.
Sekarang kemungkinan itu hilang.
Waring bertanya, "Apakah dia baik-baik
saja?"
Priscilla agak bingung mendengarnya.
"Maksud saya, apakah dia sehat-sehat
saja? Apakah dia pernah pingsan atau merasa
pusing atau semacamnya?"
"Ya," sahutnya. "Malahan, itu adalah salah
satu alasan mengapa kami mengadakan
liburan kesini. Suami saya bekerja terlalu keras.
Terlalu keras, menurut kami. Dan terkadang dia
mengeluh sakit kepala dan pusing. Saya
merasa dia harus terbebas dari semua itu...
untuk santai. Karena itulah kami pergi ke
Jamaika."
Priscilla heran, sungguh mengagumkan
betapa mudahnya orang berbohong ketika apa
yan dipertaruhkan sangat besar.
Permainan | 93

Penyelidik itu membuat catatan di buku


hitamnya.
"Saya mengerti betapa menegangkannya
hal ini bagi Anda," lanjutnya. Ucapannya ber-
nada prihatin. "Jika Anda masih sanggup saya
akan mengajukan beberapa pertanyaan lagi
selama beberapa menit. Saya yakin semuanya
akan selesai. Kami harus membuat beberapa
penyelidikan mengenai kematian yang tidak
wajar." Waring berhenti beberapa saat, lalu
melanjutkan. "Sebagaimana yang Anda tahu,
disana ada teralis setinggi tiga kaki yang
mengelilingi teras di balkon. Sangat sulit untuk
memastikan seorang pria jatuh begitu saja dari
teralis setinggi itu..."
Priscilla mulai merasa terganggu dengan
kegugupannya sendiri.
"... kecuali bila memang dia mendadak
terserang pusing dan terpeleset. Begini, Mrs.
Famham, seorang karyawan..." dia melirik ke
buku catatannya"... seorang pelayan bernama
Parsons, sedang mempersiapkan meja di
beranda untuk makan malam. Kebetulan dia
mendongak, atau mungkin teriakan suami
Anda—yang juga Anda dengar—yang mem-
buatnya mendongak. Dan dia metihat suami
Anda jatuh melampaui teralis tersebut. Tapi
Parsons bersikeras, dia merasa bahwa suami
Anda tidak terjatuh."
94 | Mike Marmer

Kejutan mendadak itu membuatnya kaget.


S e s e o r a n g telah melihat kejadian yang
sebenarnya.
"Biasanya, kami akan meminta Parsons
memastikan adanya orang lain disamping
suami Anda saat itu. Dan dia mengaku tidak
melihat siapa-siapa."
"Tentu Anda tidak berpikir bahwa—"
"Tentu saja tidak," sahut Waring memotong
cepat. "Tetapi kami hams menindaklanjuti
pernyataan apapun mengenai hal itu. Kami juga
mendapati pernyataan Parson ini tidak berarti
apapun bagi kami. Lagipula, Parson berada
tepat di bawah balkon, jadi dia melihat lurus ke
atas, dia tidak mungkin melihat balkon Anda
denganjelas. Dan pernyataan Parsons tersebut
membuat saya yakin bahwa suami Anda seolah
sedang berusaha menyeimbangkan posisinya.
Tangannya melambai-lambai di udara mencari
pegangan. Karenanya dapat disimpulkan
bahwa..."
Priscilla merasakan kehangatan yang
merasukinya tiba-tiba dan meyakinkannya.
Mungkin dia bisa lolos dari tuduhan pem-
bunuhan!
"...dan mungkin dia salah mengartikan
gerakan suami Anda yang sedang menyelamat-
kan diri itu sebagai hal lain," lanjut Sersan itu.
"Dan karena sekarang telah terbukti bahwa
memang suami Anda sedang dalam keadaan
Permainan | 95

tidak sehat, kami dapat menyimpulkan bagai-


mana suami Anda terjatuh dari balkon."
Ketukan di pintu mengganggu mereka. Dia
melangkah ke pintu, membukanya, dan melihat
topi Pak Edmonds menyembul ketika dia bicara
cepat dengan suara pelan.
Waring melongokkan kepalanya kembali ke
ruang tamu. Dia memandang dengan teliti ke
arah Priscilla sebelum berkata, "Saya permisi
sebentar, hanya akan keluar beberapa menit.
Kelihatannya kita punya saksi mata yang lain."
Keyakinannya memudar. Priscilla duduk
dengan bibir terkatup rapat dan pertanyaan
demi pertanyaan bermunculan di benaknya.
Jawaban itu datang ketika Waring masuk
kembali ke ruangan itu dan berjalan ke arahnya.
Raut wajahnya berubah serius.
"Mrs. Farnham, apa Anda dan suami Anda
sempat bertengkar sebelum dia tiada?"
"Ya," jawab Priscilla dengan suara pelan.
Waring mendesak. "Pasangan di kamar
sebelah—keluarga Rinehart—berkata bahwa
mereka mendengar Anda dan suami ber-
tengkar lumayan hebat. Suara Anda terdengar
keras, dan mereka mendengar suami Anda
menyebut-nyebut tentang... mati."
"Semua ini terdengar seperti pertengkaran
konyol sekarang—"
Sersan itu menatapnya, meminta pen-
jelasan lebih lanjut.
96 | Mike Marmer

"Maksud saya tidak benar-benar konyol,"


lanjutnya. "Sekarang semuanya terlihat... well,
tidak penting lagi sekarang. Suami saya ingin
mengakhiri liburan ini dan pulang. Saya dan
anak-anak masih ingin tinggal disini setidak-
nya seminggu lagi. Liburan yang sudah kami
rencanakan mestinya baru berakhir minggu
depan. Sayangnya, pertengkaran kami me-
manas dan beberapa perkataan kasarterucap
dari mulut kami. Lalu dia mengatakan, saat dia
mati nanti saya boleh melakukan apa yang saya
mau. Tapi sekarang, saat dia masih menjadi
kepala keluarga, kami harus pulang." Priscila
menarik sudut bibirnya membentuk seulas
senyum samar. "Itu adalah salah satu ungkapan
kesukaannya."
Dia kembali memandang Waring. Itu adalah
kebisuan'terlama yang pernah dialami Priscilla.
Wajah Sersan itu melembut. "Sepertinya
hal itu menjelaskan apa yang didengar keluarga
Rineharts tanpa sengaja." Sekali lagi Waring
melihat catatannya.
"Ada satu lagi, Mrs. Farnham," lanjutnya.
"Anda bilang Anda sedang berbaring di sofa
ketika suami Anda jatuh."
Priscilla mengangguk.
"Dan Anda juga mengatakan," sambung-
nya, "anak-anak membangunkan Anda segera
setelah Anda merasa mendengar teriakan
suami Anda."
Permainan | 97

Dia kembali mengangguk.


Waring menatapnya kembali dengan
pandangan yang tidak bisa ditebak. "Apa Anda
keberatan jika anak-anak dibawa masuk kesini
dan bertanya pada mereka dimana Anda
berada ketika mereka memanggil? Ini semua
sekedar formalitas saja. Biasanya, kami tidak
bisa bertanya pada mereka secara resmi; dan
kami harus mendapatkan persetujuan dari
Anda. Tapi semua akan memperjelas laporan
saya dan akan menghentikan semua penye-
lidikan ini."
Priscilla mengangkat bahunya. "Baiklah,"
jawabnya. "Tapi tolong—"
Waring mengangguk menghargainya. Dia
mengangguk ke Tibbie yang langsung pergi ke
kamartidur, kemudian kembali membawaAmy
dan Mark.
Priscilla tidak menoleh ketika mereka
masuk. Kemudian, ketika mereka dibimbing ke
arah Sersan W a r i n g , perlahan dia me-
nengadahkan wajahnya dan tersenyum.
Waring kembali ke tempat duduknya,
sedikit membungkuk agar dia dan anak-anak
berada dalam jarak pandang yang sama. Dia
bicara dengan lembut tapi tegas. "Apakah
kalian mengerti apa yang terjadi hari ini?"
Mark dan Amy mengangguk pelan.
"Bapak akan bertanya sesuatu pada kalian.
Maukah kalian meniawabnya?"
98 | Mike Marmer

Wajah mereka tetap sendu ketika mereka


melempar pandangan bertanya-tanya ke arah
Priscilla.
"Kalian hams menjawab pertanyaan bapak
itu," ujarnya lembut. Ketika Priscilla meng-
isyaratkan agar anak-anaknya kembali mem-
perhatikan Waring, dia melihat pandangan
sersan itu yang terarah langsung padanya.
Tatapan pak polisi itu kembali terarah ke
Amy dan Mark, lalu dia mulai dengan sangat
hati-hati. "Tadi, ketika kalian mendengar Ayah—
berteriak... Apa kalian ingat?"
Mereka menatap balik ke arah si sersan.
Waring melanjutkan. "Kalian berteriak
ketika kalian melihat ayah. Kalian berteriak
pada Ibu... dan mengguncangnya. Benar?"
Mereka mengangguk khidmat.
"Kalian ingat, dimana Ibu berada ketika
kalian mengguncangnya?"
Mark menjawab, "tadi Ibu berada di tempat-
nya sekarang."
"Kau yakin?"
"He eh," sahut Amy. "Kami sedang meng-
adakan Permainan."
"Permainan?"
Priscilla menjelaskan, "Itu hanya permainan
kecil yang kami mainkan—"
Kata-katanya terhenti saat Sersan meng-
angkat tangannya, memperingatkan untuk
diam. Ini adalah saat yang ditakuti Priscilla.
Permainan | 99

Bagaimanapun, dia merasa semuanya akan


terungkap ketika mereka mengetahui perihal
Permainan ini.
"Permainan apa? Apa yang kalian main-
kan?"
Mark mengambil alih. "Itu semacam per-
mainan yang kami mainkan bersama ibu.
Menyenangkan sekali. Kami membuat kejutan-
kejutan kecil. Kami membeli... atau membuat
sesuatu... atau melakukan sesuatu. Lalu kami
akan berkata, 'Coba tebak!'"
"'Coba tebak?'" ulang Sersan.
"lya," ujar Amy. Suaranya melengking
pelan. "Ibu akan berkata, 'Coba tebak apa yang
Ibu lakukan untuk kalian,' dan kami akan
mencoba menebak kejutannya."
"Atau kami akan berkata, 'Coba tebak apa
yang kami lakukan untuk Ibu,' dan Ibu akan
menebaknya," Mark menambahkan.
"Lanjutkan."
"Well, setelah Ayah dan Ibu"—suara Mark
berubah pelan—"bertengkar, Ibu berkata mari
kita mengadakan permainan." Suaranya
kembali ceria, kemudian berpaling melihat
adiknya. "Lalu Amy dan aku pergi ke kamar
untuk memikirkan kejutan apa yang akan kami
buat untuk Ibu. Dan Ibu tetap tinggal disini
memikirkan kejutan untuk kami."
"Lalu, ketika kalian mendengar Ayah
berteriak," tanya Waring hati-hati sekali, "kalian
100 | Mike Marnier

langsung menghampiri Ibu. Dan Ibu berada


disana, di sofa?"
"Oh, iya," ujar Amy riang. "Ibu sedang ber-
baring. Kami datang untuk memberitahukan
kejutan kami pada Ibu. Apa Bapak mau tahu
kejutan apa yang kami siapkan untuk Ibu?"
"Tidak," sahut Sersan Waring sambil ter-
tawa. "Rahasia adalah rahasia. Aku hanya ingin
bertanya apakah kalian masih ingat dimana Ibu
kalian berada saat itu."
Dia kembali memandang Priscilla. "Saya
rasa ini membuat semuanya menjadi jelas, Mrs.
Farnham. Dan nanti akan ada pemeriksaan
post mortem, tapi itu adalah hal rutin."
"Haruskah anak-anak dilibatkan kembali?"
tanyanya.
"Saya rasa tidak. Masalah ini sudah cukup
berat bagi mereka."
Waring berjabat tangan dengan Amy dan
Mark dan mengucapkan terima kasih.
"Saya turut prihatin, Mrs. Farnham," ujar-
nya. "Saya harap penyelidikan ini tidak terlalu
memberatkan Anda. Saya sadar, kecelakaan
tragis yang menimpa suami Anda sudah cukup
membuat Anda sedih tanpa harus terganggu
lagi dengan pertanyaan-pertanyaan saya ini.
Tapi ini adalah tugas saya."
"Saya mengerti, Sersan Waring. Dan terima
kasih karena Anda sangat pengertian meng-
hadapi anak-anak."
Permainan | 101

"Oh, tidak masalah," sahutnya. "Saya juga


punya anak." Sersan itu mengisyaratkan Tibbie
untuk mengikutinya keluar dan menutup pintu
dengan lembut.
Priscilla duduk tanpa bergerak selama
beberapa saat seakan tidak percaya semuanya
sudah berakhir. Lalu dia tersenyum pada anak-
anaknya yang masih saja berdiri tanpa suara.
Amy, dengan raut muka sedikit marah,
memecahkan keheningan diantara mereka.
"Ibu, Ibu belum bilang kejutan Ibu untuk kami."
Mark menambahkan dengan nada suara
kecewa. "Ibu belum mengatakan apa yang Ibu
lakukan untuk kami. Ibu lupa ya?"
"Tidak, Ibu tidak lupa," jawab Priscilla.
Suaranya terdengar sedih.
Dia akan segera memberitahukan mereka
apa yang dilakukannya. Ketika sudah saatnya
untuk duduk bersama dan menjelaskan bagai-
mana Permainan yang selama ini mereka
mainkan disalahgunakan hari itu.
Tidak, dia tidak lupa. Dia juga tidak akan
lupa ketika Mark dan Amy mengguncangnya
dan berteriak, "Coba tebak!" Dalam keheranan-
nya, Priscilla bertanya, "Apa?" Dan anak-
anaknya, berwajah cerah karena kejutan yang
telah mereka buat, menariknya ke teras di
balkon dan menunjuk ke arah teralis kemudian
berteriak riang, "Coba tebak apa yang kami
lakukan hari ini untuk Ibu!" []
KECELAKAAN
Henry Slesar

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

Fran keluar dari apartemen Lila, memasukkan


kertas taruhan pacuan kuda berwama hijau
dalam kantung celemeknya. Lila, si gadis ber-
untung itu! Tiga kali menang dalam seminggu!
Fran menggeleng-gelengkan kepala sambil
menaiki tangga kumuh ke apartemennya
sendiri di sebelah, cemburu dengan keber-
untungan Lila dan sebal dengan ketidak-
beruntungannya sendiri.
Ketika pintu terbanting di belakangnya,
Fran bergegas ke meja dapurdan mendorong
sisa sarapan suaminya ke samping. Kertas
taruhan kuda dikeluarkan, matanya turun naik
mencermati tulisan kecil-kecil dan membaca
daftar pacuan ke empat besok.
"Sonny Boy, County Judge, Chicago Flyer,
Marzipan, Goldenrod..."
Dibacanya semua nama itu keras-keras
sambil jemarinya memain-mainkan sejumput
rambut coklat di keningnya. Lalu matanya
tertutup dan kepalanya mendongak ke atas.
Seharusnya nama-nama berarti sesuatu, kalau
tidak, sia-sia saja. Begitulah caranya memilih.
104 | Henry Slesar

Memang tidak begitu banyak membantu, tetapi


hanya begitulah caranya.
"Sonny Boy," bisiknya. Ed, suami Fran,
sangat mengagumi Jolson. "Sonny Boy,"
teriaknya keras-keras.
Dia berjalan menuju telepon dan dengan
cepat memutar nomer yang dituju.
"Vito's," jawab suara seorang lelaki di ujung
sana.
"Halo, apa Mr. Cooney ada disana?"
"Hey, Phill, untukmu."
"Halo?" jawab Cooney.
"Mr. Cooney? Ini Fran Holland. Bisakah
Anda mernap^ng taruhan lima dollar untukku
pada pacuan kuda besok? Aku ingin—"
"Tunggu, Mrs. Holland. Saya senang Anda
m e n e l p o n . Begini, saya sudah berniat
mengunjungi Anda, Mrs. Holland. Segera
setelah saya selesai bercukur."
"Mengunjungi saya?" Fran memandang
aneh ke pesawat telpon.
"Ya, Mrs. Holland. Begini. Pertama, saya
tidak diizinkan memasang taruhan untuk Anda
sampai semua urusan selesai, Mrs. Holland.
Kedua, saya hams datang kesana dan mungkin
menagih hutang Anda. Semua jadi dua puluh
lima dollar sekarang."
"Dua puluh lima dollar? Tapi itu banyak
sekali. Maksud saya, sebesar itu?"
Kecelakaan | 105

"Ya, Mrs. Holland. Anda mungkin tidak


menyadarinya. Saya cuma resepsionis. Semua
ini bukan gagasan saya. Terlalu banyak
simpang siur masalah uang disini, Anda tahu
kan maksud saya?"
"Tidak! Saya tidak tahu!" sahut Fran naik
darah, layaknya ibu-ibu yang dibohongi oleh
tukang daging.
"Well, saya akan datang kesana dan men-
jelaskan semuanya, Mrs. Holland. Kita bertemu
nanti."
"Jangan! Tunggu sebentar—"
Tetapi lelaki bernama Cooney itu tidak mau
menunggu. Suara klik di ujung sana mengakhiri
percakapan mereka.
Fran memandang tolol ke corong telpon
yang berdengung sebelum meletakkan kembali
ke tempatnya. Dan berpikir tentang Cooney
yang datang nanti—atau siapapun—membuat
Fran bertindak otomatis. Dia segera mem-
bersihkan sisa-sisa makanan dipiring dan
menumpuknya di bak cuci piring. Meja juga
dibersihkan dari remah-remah dengan sapuan
tangannya, dan kotorannya dia masukkan ke
dalam tas kertas yang bersandardekat kompor.
Fran segera melepaskan celemeknya dan
melempar ke lemari dinding.
Di kamar, Fran berhenti dan membersihkan
wajahnya sambil berkaca di meja rias. Wajah
106 | Henry Slesar

itu masih terlihat muda, tetapi garis-garis


ketuaan sedikit nampak di sekitar matanya.
Rambutnya mencuat ke segala arah dan Fran
mengambil sisir lalu merapihkannya dengan
tarikan-tarikan menyakitkan.
Dia berencana menghubungi Lila, tetapi
mengingat raut wajahnya yang ceria dan senang
membuatnya kesal. Tidak, dia akan mem-
bicarakan hal ini dengannya nanti, saat mereka
bersimpati pada kuda-kuda yang lambat.
Dia duduk di meja dapur dan menyalakan
sebatang rokok. Sepuluh menit kemudian bel
pintu berbunyi. Dengan tenang Fran berjalan
menuju pintu.
Cooney melepas topinya. Lingkaran topi itu
lumayan kencang dan meninggalkan bekas
bulat di permukaan rambutnya yang baru
dicukur. Dia tampak seperti agen asuransi yang
mulai beranjak tua, antusias untuk mendapat-
kan banyak nasabah.
"Selamat pagi, Mrs. Hollad. Boleh masuk?"
"Tentu saja," sahut Fran.
Cooney melangkah masuk, mata kecilnya
memeriksa apartemen tiga kamar itu. Dia duduk
di kursi tamu dan menggoyang-goyangkan abu
rokok di asbak.
"Ada masalah apa sebenarnya?" tanya Fran
layaknya ibu-ibu yang sedang mengomel.
"Bukan masalah pribadi sebenarnya, Mrs.
Holland. Anda tahu, saya senang berbisnis
Kecelakaan | 107

dengan orang-orang seperti Anda. Hanya saja


pihak manajemen sedikit terganggu dengan
laporan penerimaannya."
Fran hampir tersenyum. "Saya kira apa."
"Tidak, saya serius." Wajahnya terlihat
sedih. "Anda kira berapa banyak keuntungan
yang kami dapatkan dengan menjalankan
bisnis seperti ini? Begini, orang-orang me-
nengah bawah adalah motor penggerak bisnis
kami ini. Tapi saat Anda mengumpulkan banyak
orang seperti itu, Mrs. Holland—"
"Saya menggunakan uang saya sendiri!
Anda jangan menuduh saya—"
"Siapa yang menuduh? Begini, Mrs.
Holland, Anda telah berhutang dua puluh lima
dollar pada kami sejak—" Cooney merogoh
saku jasnya dan mengambil buku neraca
berwama hitam, "20 Mei," ujarnya. "Ini sudah
hampir dua bulan. Sekarang coba Anda pikir,
bagaimana perasaan seseorang atau bagai-
mana tindakan perusahaan jika Anda melaku-
kan hal itu, Mrs. Holland?"
"Dengar, Mr. Cooney. Anda tahu, kan, saya
selalu bayar, cepat atau lambat. Sejak saya
mulai—"
"Anda teman Mrs. Shank, bukan?" Per-
tanyaan itu datang tiba-tiba.
"Ya, dan Anda juga sudah tahu itu. Apakah
Lila yang memberitahu—"
108 | Henry Slesar

"Ya. Well, dia sebenarnya juga tidak lebih


baik, Mrs. Holland. Bila ini membuat Anda
merasa lebih baik."
"Tapi dia baru saja menang—"
"Bagus baginya. Jika Mrs. Shank menang
kami harus membayarnya secepat mungkin,
kalau tidak dia akan berteriak-teriak kesetanan.
Tapi saat dia sedang tidak beruntung—" Wajah-
nya merengut, dan itu membuat Fran tidak
nyaman dengan situasi yang sedang dia hadapi.
"Baiklah," sahutnya getir. "Bila Anda ber-
tingkah seperti itu maka saya akan mencari
orang lain."
"Silahkan. Anda boleh melakukan itu, Mrs.
Holland." Cooney memasukkan kembali buku
itu ke sakunya. "Tapi yang dua puluh lima dollar
itu tetap harus dibayar."
"Saya akan membayarnya minggu depan."
"Tidak, Mrs. Holland."
"Tidak bagaimana? Saya akan memberikan
uangnya minggu depan. Suami saya baru
gajian minggu depan."
"Ya, Mrs. Holland."
Fran memandangnya. "Anda kenapa sih?
Saya tidak mungkin memberi Anda sesuatu
yang tidak saya miliki. Anda mau mengharap-
kan apa lagi?"
"Dua puluh lima dollar, Mrs. Holland. Saya
diperintah untuk itu. Anda bisa meminjamnya,
bukan? Dari Mrs. Shank, mungkin?"
Kecelakaan | 109

"Jangan dia," ujar Fran pahit.


"Anda pasti punya sesuatu dalam rumah ini.
Uang belanja."
"Tidak! Saya hanya punya satu dollar lima
puluh sen. Hanya itu! Hutang saya dimana-
mana—"
Lelaki itu berdiri, kalau cahaya dalam
ruangan itu tidak berubah, maka rautwajah Mr.
Cooney-lah yang berubah. Kelembutan meng-
hilang dari wajahnya, dan raut itu mengeras,
walaupun tidak berbahaya.
"Saya harus dapat uangnya hari ini, Mrs.
Holland. Dan kalau saya tidak mendapatkannya
sekarang—"
"Apa yang akan Anda lakukan?" Fran tidak
percaya tingkah lakunya; selama ini Cooney
berlaku baik padanya.
"Saya akan datang kembali jam enam, Mrs.
Holland."
"Kembali?"
"Untuk menemui suami Anda."
Itu adalah kata-kata yang tidak pernah
diucapkan Cooney, tidak pernah sama sekali.
Dia datang pagi-pagi dua kali dalam seminggu
dalam tiga bulan terakhir. Keberadaan Eddie
membekas dimana-mana. Piring sarapan yang
tandas karena nafsu makan Eddie yang besar,
pipa rokoknya yang butut tergeletak di rak
piring, dan kadang-kadang ada kemeja yang
harus ditisik dan diletakkan di kursi dapur, tetapi
110 | Henry Slesar

Cooney tidak pernah menyebutkan hal itu


sebelumnya.
"Mengapa?" sahut Fran. "Mengapa Anda
harus melakukannya? Saya sudah bilang, nanti
saya cari uangnya. Eddie tidak usah tahu
tentang semua ini, bukan?"
"Tentu tidak usah sampai beliau tahu, Mrs.
Holland. Anda hanya harus membayarhutang
itu—lain tidak. Dan suami Anda tidak perlu
mengetahui hal ini sama sekali."
"Bukannya karena saya malu atau
semacamnya!" teriak Fran. "Saya belum ke-
hilangan keberuntungan saya, kok!"
"Tentu saja, Mrs. Holland."
"Anda tidak bisa melakukan itu pada saya,
Mr. Cooney—"
Topi itu kembali ditancapkan ke rambut
yang mengkilap dan berminyak. "Saya benar-
benar harus pergi, Mrs. Holland. Anda tahu
dimana Anda bisa bertemu saya. Di Vito's. Bila
Anda datang jam berapapun sebelum jam
enam, maka kita bisa melupakan semuanya."
"Tapi saya sudah mengatakannya pada
Anda!" Fran mengacak-acak kembali rambut-
nya yang sudah tersisir rapi. "Saya tidak
memiliki uang sebanyak itu! Saya tidak bisa
mendapatkan uang sebanyak itu! Tidak ada
cara apapun—"
"Anda tahu pegadaian?"
Kecelakaan | 111

"Saya sudah—" Fran berhenti dan jari-


jarinya menutupi mulut. Kalau saja Eddie tahu!
"Sampai jumpa, Mrs. Holland."
Lelaki itu keluardan menutup pintu pelan-
pelan.
Fran mendengar langkah kaki lelaki itu di
lorong yang semakin sayup dan kemudian
menghilang, dan dia memikirkan Eddie. Fran
memandang ke meja dapur seakan dapat
melihat suaminya duduk di seberangnya,
terlihat sedih dan bingung seperti yang sudah
pernah dilihat Fran berkali-kali sebelumnya,
menggeleng-gelengkan kepala dan berkata,
"Mengapa kau lakukan itu, Fran? Untuk apa?"
Bagaimana mungkin dia menghadapi
adegan itu lagi? Setelah semua janji-janji,
adegan saling tuduh yang penuh airmata, dan
kata-kata maaf? Saat pertama itu terjadi semua
tidaklah begitu buruk; mereka masih berbulan
madu, dan apapun yang dilakukan mempelai
Eddie selalu m e n y e n a n g k a n , lucu dan
menarik—bahkan bertaruh untuk pacuan kuda
dengan uang belanja. Mereka mentertawakan
hal itu lalu menyelesaikannya—sebelum
perdebatan berlangsung terlalu jauh—dengan
cara-cara lembut dan penuh kasih seperti yang
biasa dilakukan pasangan pengantin baru. Tapi
peristiwa itu terulang untuk yang kedua kali,
kemudian ketiga, dan di setiap kejadian itu,
112 I Henry Slesar

Eddie terlihat semakin sedih dan heran, dan


keheranan itu meningkat sampai berubah jadi
kemarahan. Kemudian ada kejadian buruk
bulan Oktober kemarin, ketika Eddie menge-
tahui lingkaran putih di jari manis Fran itu
tadinya tempat cincin pertunangan...
Fran merinding mengingatnya. Tidak ada
pengampunan dari Eddie saat itu. Fran telah
bersumpah kebiasaannya itu sudah hilang; dia
juga berusaha sebisanya untuk meyakinkan
Eddie bahwa dia telah belajardari pengalaman.
Tetapi tetap saja Eddie tidak mau memaafkan-
nya; dia telah memperingatkan Fran dengan
halus.
"Kalau sampai terjadi sekali lagi, Fran... Ya
Tuhan... kalau sampai terjadi sekali lagi... Aku
akan keluar dari sini..."
Dia beranjak dari kursi dapur dan lari ke
kamar. Dibukanya laci lemari dengan kasar,
melemparpakaian-pakaian dan kardus-kardus
dari swalayan yang berisi kancing, jepitan topi,
dan kain-kain perca. Semua tas tangannya
digerayangi, jemarinya meraba ke semua
kantung demi mencari recehan yang tertinggal.
Fran meraba dua pasang saku-saku setelan
milik suaminya yang tergantung di lemari,
berharap bisa mendengar suara gemerincing
uang receh. Dibukanya kotak perhiasan dari
plastik yang diberikan Ed Natal kemarin, dan
kaget karena di dalamnya hampir tidak ada apa-
Kecelakaan | 113

apa lagi yang berharga kecuali pernak-pernik


berharga murah yang didapatnya di toko
obralan.
Bahkan ketika Fran "terbang" ke ruang tamu
dia merasa sudah pernah melakukan semua
hal yang baru dilakukannya.
Di bawah bantal sofa Fran menemukan koin
sepuluh sen dan satu sen yang sudah meng-
hitam. Di dalam vas bunga porselen di rak buku
ditemukannya selembar uang satu dollar yang
terlipat.
Dibawanya semua harta karun yang di-
temukan ke meja dapurdan mulai menghitung.
"Dua dollar tujuh puluh delapan sen,"
bisiknya.
Fran menopang dagu dengan kedua
tangan.
"Ya Tuhan! ya Tuhan," katanya.
Dua puluh lima dollar tidaklah banyak,
pikirnya. Tapi dimana dia bisa mendapatkan
uang sebesar itu? Dia tidak punya teman lagi
kecuali Lila. Keluarganya tinggal berpuluh-
puluh kilo jauhnya dari sini. Dimana dia bisa
mendapatkannya sebelum jam enam? Dia
melirik pergelangan tangannya, tetapi jam yang
dulu berada disana sekarang sedang berdetik
di sebuah toko loak di jalan Broadway. Dia me-
mandang sekilas ke jam listrik di meja dapur
dan kaget demi melihat jam yang menunjukkan
pukul sebelas tigapuluh.
114 | Henry Slesar

Kurang dari tujuh jam! Dua puluh lima


dollar! Dan Cooney menyebutnya bisnis
recehan.
Lalu gagasan itu muncul di kepala Fran.
Gagasan itu terlahir dari kenangan sedih,
gambaran yang tidak menyenangkan di sudut
jalan berangin dua minggu lalu. Fran baru saja
pulang setelah seharian berbelanja dan ada
gaun yang agak terlalu mahal dalam kotak
garis-garis cantik dalam dekapannya. Dia
sudah lama berdiri di sudut itu, dengan kaki
sakit, sambil berdoa moga-moga Bis Nomer
Lima tidak penuh. Kemudian Fran membuka
tas tangannya, tas tangan yang ini, yang
diletakkannya di atas meja, mencari recehan...
Fran beranjak secepat kilat sampai kursi
yang didudukinya bergeser dan menggesek
lantai linoleum dibawahnya dengan keras. Dia
berlari ke kamar dan berdandan sedikit.
Diambilnya sepasang sepatu beludru dan
mengeluarkan benda serupa sutra yang di-
sebutnya "selendang sore" dari laci. Efek yang
dilihatnya di cermin tidak begitu menggembira-
kannya, dan Fran segera mengganti pakaian-
nya.
Ketika semuanya selesai, Fran terlihat
seperti gadis yang biasa dipamerkan Eddie di
pesta-pesta.
Kemudian dia melangkah keluar.
Kecelakaan | 115

Empat blok dari bangunan apartemen Fran


terdapat halte bis terdekat. Halte bis yang
bagus, dengan bis Nomer Lima, Nomer Lima
Belas dan Nomer Dua Puluh Tiga saling
menyeruduk satu sama lain di pinggir jalan saat
jam-jam sibuk. Bis Nomer Lima baru saja pergi
terseok-seok, setengah terisi di siang hari. Tapi
masih banyak orang yang berdiri disana,
menunggu angkutan ke tempat yang hanya
Tuhan yang tahu.
Sebagian besar adalah orang-orang tua.
Orang tua tidak terlalu bagus untuk rencana
yang akan dijalankannya. Tetapi Fran me-
langkah dengan pasti ke arah tiang penyangga
berbentuk panah dan terlihat seperti seorang
perempuan dengan maksud tertentu
Dari sudut matanya, Fran memilih calon
korban pertama. Dia tahu, yang pertama adalah
yang paling sulit, jadi dia harus berhati-hati
dalam memilih. Bapak itu tidak terlalu tua,
mungkin beberapa tahun di atas lima puluh.
Matanya menggembung dan bahunya naik,
seakan matahari bulan Juni, anehnya, mem-
buat dia kedinginan. Kedua tangannya berada
dalam saku, dan uang receh di dalamnya ber-
gemerincing.
Dia berjalan ke arah si bapak itu dari
samping, mengintai jalanan kalau-kalau ada bis
yang mendekat. Si bapak melihat Fran dengan
acuh.
116 I Henry Slesar

Lalu Fran melihat bis Nomer Lima Belas di


kejauhan. Dia membuka tas tangan dan
mengaduk-aduk isinya.
"Ya Tuhan!" sahutnya keras.
Si bapak menatap Fran dengan mata
melebar.
Fran memandang tanpa daya ke arah si
bapak, dan ekspresi setengah panik dan
setengah bergurau terpadu di wajah Fran
dengan sangat baik.
"Bagus sekali!" kata Fran. "Aku tidak punya
sesenpun!"
Si bapak tersenyum samar, tidak tahu hams
berbuat apa. Dan tangannya berhenti mem-
permainkan recehan.
"Apa yang hams kulakukan? Aku harus
pergi ke kota—"
"Saya—hmm" Si bapak itu berdehem.
"Begini, bisakah saya—ehmm—"
"Bisakah Anda? Bisakah Anda meminjam-
kan saya lima belas sen? Saya merasa
bodoh—"
Bapak itu tersenyum lebar; ini akan menjadi
bahan obrolan buatnya nanti. Fran juga tidak
merasa segan; karena dialah yang beramal
untuk si bapak sebenamya.
Tangannya meraih saku dan keluar dengan
segenggam koin perak. Diambilnya koin lima
dan sepuluh sen dan kemudian mengangsur-
kannya ke Fran.
Kecelakaan | 117

"Tidak usah dipikirkan," ujarnya. Bis itu ber-


henti di depan mereka. "Kau bisa mengembali-
kannya lewat pos," katanya lagi. "Hahaha! Well,
ini bisnya—"
"Bukan bisku," jawab Fran sambil ter-
senyum. "Aku menunggu bis Nomer Lima.
Terima kasih banyak."
"Kembali!" sahutnya riang dan mulai
berjalan menaiki bis.
Semoga harimu cerah, Pak, pikirnya.
Seorang lelaki muda yang baru turun dari
bis sedang melipat koran di depannya.
"Maaf—"
"Hah?" Orang itu menengadahkan wajah-
nya, matanya yang pucat bertanya-tanya.
"Saya merasa bodoh sekali, tapi—" Fran
mengedip-ngedipkan bulu matanya dengan
cantik. Lelaki itu masih sangat muda, dan dia
tersipu. "Saya meninggalkan rumah tanpa
membawa uang sesenpun. Dan saya harus
naik bis berikutnya ke kota—"
"Ya ampun," sahutnya, menyeringai malu.
"Saya tahu bagaimana perasaan A n d a .
Sebentar—" Dia meraba-raba saku jaketnya.
"Hanya ada dua puluh lima sen—"
"Oh, tapi—"
"Tidak, tidak, ambillah semuanya. Aku juga
sering begitu." Dia kembali menatap wajah Fran
lebih lama, dan baru menyadari ternyata Fran
terlihat lebih tua daripada senyumnya. Lelaki
118 I Henry Slesar

itu mengangguk dan melanjutkan perjalanan-


nya.
"Permisi," katanya pada seorang perem-
puan tua yang sedang memicingkan matanya
ke arah jalan. "Saya merasa tidak enak sekali
meminta bantuan A n d a , tapi saya baru
sadar—"
"O yah?" kata si perempuan tua itu.
Fran tersenyum getir. "Tidak," katanya
dengan muka masam.
Seorang lelaki perlente berkacamata,
mengepit buku di salah satu lengannya,
berjalan perlahan menuju halte. Matanya
berkedip ketika Fran berjalan mendekatinya.
"Permisi," kata Fran.

Sejam kemudian, Fran merasa tumit kanan-


nya membengkak. Aneh sekali, bagaimana
mungkin hal ini dapat mengakibatkan sakit
yang begini hebat pada kakinya. Padahal untuk
berjalan bermil-mil ke seluruh toko-toko pakaian
dia bisa...
Lalu Fran memikirkan uang recehan yang
ada di tas tangannya dan cepat-cepat
menyeberang jalan. Ada apotik di sudut jalan,
dan Fran segera menghampiri salah satu bilik
telepon dan segera menutup pintu lipatnya
rapat-rapat.
Dia menghitung recehannya dengan
cermat.
Kecelakaan | 119

Jumlah semuanya tiga dollar lima belas


sen. Ditambah uang yang dia miliki, semuanya
jadi lima dollar sembilan puluh tiga sen. Fran
mendesah. Pekerjaannya masih panjang...
Seorang lelaki berdiri di luar ketika Fran
membuka pintu bilik telepon.
"Permisi," sahutnya otomatis. "Saya merasa
bodoh sekali, tapi saya keluar rumah tanpa
membawa uang sesenpun, dan saya harus
pergi ke—saya harus menelpon."
Lelaki itu tersenyum lemah. "Begitukah?"
sahutnya. Lalu dia menyadari Fran meng-
harapkan sesuatu darinya, dan dia segera
mengaduk-aduk sakunya. "Oh, yah, tentu, aku
punya sepuluh sen."
"Terima kasih," sahut Fran. "Terima kasih
banyak."
Fran kembali menutup pintu bilik dan
memencet nomer tanpa memasukkan uang.
Dia bicara dengan cepat dan riang pada
pesawattelpon yang mati itu untuk sesaat, lalu
meletakkan corong telpon kembali ke tempat-
nya setelah dia mengucapkan salam per-
pisahan yang menyenangkan, lalu tersenyum
penuh kemenangan pada lelaki yang menyusul
masuk segera setelah Fran keluar.
Kemudian Fran kembali ke halte bis.

Pukul tiga sore, dan Fran hampir


mengumpulkan sepuluh dollar lagi. Pukul tiga
120 | Henry Slesar

lewat lima belas, Fran kembali ke bilik telepon


untuk kembali menghitung.
"Empat dollar sembilan sen," ujarnya keras.
Jarinya mengorek-ngorek kotak pengem-
balian koin di bagian bawah pesawat, dan dia
mendapatkan koin sepuluh sen.
"Ini memang hari keberuntunganku!" Dan
Fran tertawa senang.
Pukul empat sore Fran mulai kehilangan
semangat. Kumpulan orang yang menunggu
bis di halte mulai memadat, tetapi meningkat-
nya lalu-lintas tidak membantunya mengumpul-
kan receh-receh yang diperlukan.
Pukul setengah lima Fran masih harus
berusaha keras memenuhi target dua puluh
lima dollar.
"Permisi..." Fran menyapa seorang lelaki
gemuk dengan raut wajah kosong. "Saya
merasa bodoh sekali, tapi saya keluar rumah
tanpa menyadari bahwa saya tidak membawa
uang sepeserpun. Bisakah Anda membantu
saya—"
"Pergi," sahut lelaki gemuk itu kasar.
"Anda tidak mengerti," kata Fran. "Saya
hanya meminta Anda untuk—"
"Nyonya, tolong, pergilah," sahut si lelaki
gemuk.
Itu penolakan pertamanya. Fran tahu, dia
lebih baik tidak membantah lelaki itu. Tapi tiba-
tiba dia merasa bebal.
Kecelakaan | 121

"Begini," kata Fran dengan suara meninggi.


"Hanya lima belas sen. Maksud saya, itu 'kan
cuma ongkos bis—"
Dia merasa lengannya dicengkeram dan
Fran berputar marah.
"Maafkan saya, Nyonya—"
Dia menatap dengan pandangan terhina ke
arah lelaki yang jemarinya bersandar dengan
kukuh di lengan Fran. Usianya masih awal
tigapuluhan, dan pakaian yang dikenakannya
berpotongan mewah. Si lelaki gemuk bergegas
dari hadapan mereka, dan hal itu membuat Fran
lebih marah.
"Apa yang Anda inginkan?"
Lelaki itu tersenyum. Giginya panjang-
panjang dan matanya tidak memancarkan
senyum yang terpampang di wajahnya.
"Saya rasa Anda harus ikut dengan saya,
Nyonya."
"Apa?"
"Tolong. Lakukanlah demi kita berdua dan
jangan membuat situasi yang membuat orang
curiga. Bagaimana?"
"Saya tidak mengerti maksud Anda!"
"Begini, Nyonya. Aku telah mengamatimu
setengah jam terakhir ini. Kau mengerti
maksudku, bukan? Sekarang mari ikut baik-
baik denganku sebelum aku berubah pikiran."
Perut Fran yang kosong mulai bergolak.
122 | Henry Slesar

"Mengapa saya harus ikut Anda? Anda pikir


Anda ini siapa?"
"Kalau kau ingin melihat lencana, aku bisa
melambaikannya untukmu. Tapi kita sudah
cukup membuat banyak orang menatap kesini.
Jadi, bagaimana menurutmu?"
Fran menelan ludah dengan susah payah.
"Baiklah."
Mereka berjalan menjauhi halte bis, dengan
tangan si lelaki masih berada di lengan Fran
sambil tersenyum layaknya teman lama yang
kebetulan bertemu. Dia tidak mengatakan
apapun sampai mereka tiba di sebuah mobil
sedan abu-abu yang diparkir seratus meter dari
halte.
Dia membuka pintu mobil untuk Fran.
"Silahkan masuk."
"Begini, Tuan, kalau boleh, saya bisa
menjelaskan apa yang terjadi—"
"Kau akan mendapatkan kesempatan itu
nanti. Silahkan naik."
Fran menurut. Lelaki itu menuju ke sisi yang
lain dan menyelinap masuk di sebelah Fran.
Mereka segera meninggalkan tempat itu dan
berputar ke kiri di sudut jalan.
"Anda tidak mengerti," ujar Fran memelas.
"Saya tidak melakukan kesalahan apapun.
Saya tidak mencuri atau semacamnya. Saya
hanya meminta, Anda mengerti kan? Begini,
saya punya masalah—"
Kecelakaan | 123

"Kau memang dalam masalah, itu benar."


Dengan mulus mereka menerabas lampu
merah yang telah berganti hijau dan kembali
berbelok ke kiri.
Fran menutup wajah dengan kedua tangan-
nya dan mulai menangis. Tapi sumurnya telah
kering; tidak ada airmata menetes disana.
"Percuma saja kau melakukannya," ujar si
lelaki. "Aku telah banyak melihat perempuan-
perempuan sepertimu, Nyonya. Tapi harus
kuakui—gayamu tadi belum pernah kulihat
sebelumnya. Kau pikir berapa banyak uang
yang berhasil kau kumpulkan?"
"Tapi saya tidak memerlukan uang banyak.
Hanya beberapa dollar! Saya harus punya dua
puluh lima dollar sebelum jam enam nanti.
Harus!"
"Berapa banyak yang kau dapat?"
"Tidak banyak. Saya mengatakan yang
sejujumya. Hanya beberapa dollar! Anda tidak
akan menahan saya hanya karena beberapa
dollar, bukan?"
"Berapa banyak, Nyonya?"
Fran membuka tas tangannya dan me-
mandang sekumpulan uang receh di dalamnya.
"Saya tidak tahu persis berapa," jawabnya
lemah. "Mungkin lima belas atau enam belas
dollar. Tapi semua ini belum cukup..."
124 | Henry Slesar

Mobil mereka meluncur di jalur lambat, jauh


dari jalan utama yang sibuk, menuju daerah
pergudangan dekat sungai.
"Please!" teriak Fran. "Jangan laporkan
saya! Saya tidak akan melakukannya lagi! Saya
putus asa demi mendapatkan uang itu—"
"Seberapa banyak lagi yang kau perlukan,
Manis?"
"Apa?"
"Untuk menggenapi dua puluh lima dollar?"
Fran kembali membuka tasnya. "Saya tidak
tahu persisnya. Mungkin sepuluh dollar.
Mungkin kurang dari itu."
"Hanya itu?" Dia menyeringai.
Kakinya menekan pedal gas kuat-kuat,
seakan-akan dia ingin segera sampai di tujuan.
Leiaki itu menikung tajam di tiap belokan, ban
mobilnya meneriakkan protes, dan Fran
menjadi waspada karenanya.
"Hey!" Fran memandang keluarjendela dan
dilihatnya kawasan sepi yang aneh itu. "Apa ini?
Anda ini polisi atau bukan?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Fran menatap leiaki itu. "Kau bukan polisi!
Kau bahkan tidak akan menangkapku sama
sekali—" Fran menepi ke pintu dengan satu
tangan memegang gagang pintu.
"Jangan bertindak bodoh; kau hanya akan
melukai dirimu sendiri. Lagipula, Manis, aku
masih bisa menghadapkanmu ke polisi. Aku
Kecelakaan | 125

masih bisa mengadukan penipuan yang kau


lakukan itu—"
"Mereka tidak akan mempercayaimu!"
"Mungkin saja. Tapi kenapa harus susah-
susah?" Dia melepaskan tangan kanan dari
kemudi dan menggapai Fran kemudian me-
rangkulnya.
"Hati-hati!" teriak Fran dengan tajam.
"Kau tidak bertindak cerdas, sayang. Kau
harus mendapatkan uang dua puluh lima dollar
sebelum jam enam. Sekarang sudah hampir
jam lima. Kau kira darimana kau akan men-
dapatkan sisanya?"
"Keluarkan aku dari sini!"
"Mungkin aku bisa membantumu, Manis."
Dia menarik Fran mendekat, matanya masih
menatap lurus ke jalan, dengan seringai yang
makin lebar di wajahnya. "Jika kau memper-
bolehkan aku—"
"Tidak," sahut Fran. "Tidak!"
Dia melambat di belokan berikutnya, dan
Fran melihat kesempatannya datang. Tangan-
nya membuka gagang pintu, dan pintu itu
segeraterbuka. Si lelaki menyumpah-nyumpah
dan menarik tangan Fran.
"Tinggalkan aku sendiri!" Fran berteriak,
kemudian melayangkan tas tangannya yang
diberati recehan ke kepala si lelaki. Dengan
suara buk pelan, tas itu mengenai pelipisnya.
Lelaki itu berteriak marah, dan tangannya yang
126 | Henry Siesar

luput mencengkeram lengan Fran malah


merobek lengan bajunya. Tangannya yang kiri,
tanpa sadar, melepas setir, dan mengakibatkan
mobilnya melesat bagai kuda liar, melemparkan
Fran kejalan.
Fran jatuh dengan lutut lebih dulu, terisak
tapi tidak terluka, dan menatap tanpa rasa ngeri
atau sesal ketika mobil itu menabrak trotoar
kemudian menabrakkan kap depannya ke
tembok gudang yang terbuat dari batu bata
merah.
Pikiran pertama yang ada di benak Fran
adalah lari, karena tidak ada siapapun yang
melihat kejadian itu. Lalu dia ingat tas tangan-
nya yang masih ada di dalam. Fran kemudian
memaksakan diri untuk mendekati mobil yang
sudah penyok itu untuk mencari tasnya.
Pintunya masih terbuka, dan tasnya berada
di sebelah lelaki yang sedang pingsan itu. Fran
tidak tahu apakah orang itu sudah mati atau
masih hidup, dan hal itu bukanlah hal yang
penting baginya. Lelaki itu membungkuk, ter-
tahan oleh setir mobil di bawah tubuhnya
dengan tangan menggantung tak berdaya di
sisi badannya. Fran terperanjat, tapi dia tetap
meraih tasnya.
Kemudian Fran mendapat gagasan untuk
mencari dompet si lelaki itu. Tangannya men-
jelajah mantap tanpa ragu, dan tidak ada
kegugupan dalam caranya bergerak. Dia
Kecelakaan | 127

menemukan lembaran-lembaran uang dalam


saku di dalam jas yang dikenakan si lelaki.
Berlembar-lembar uang, tetapi—dengan rasa
keadilan yang aneh—Fran hanya mengambil
sepuluh dollar.

Fran mencapai pemangkas rambut Vito


sepuluh menit sebelum pukul enam. Vito baru
akan menyeringai, tetapi raut wajahnya
langsung berubah ketika dia melihat Fran
masuk dengan wajah kusut dan pakaian kotor.
"Cooney, ya? Dia ada di belakang. Hey,
Phill! Ada perempuan mencarimu!"
Cooney menatap Fran penasaran ketika dia
masuk keluar dari ruang belakang. Lengan
kemejanya tergulung dan kelihatannya dia
sedang main poker. Wajahnya berubah cerah
ketika dilihatnya Fran meraih tasnya dan
tertawa ketika Fran mengeluarkan tangannya
yang penuh recehan.
"Apa yang Anda lakukan, Mrs. Holland?
Merampok celengan anak-anak?"
"Hitunglah," ujar Fran pelan. "Hitunglah, Mr.
Cooney."
Mereka menumpahkan isi tas ke atas meja
manicure. Vito membantunya. Setelah selesai,
Cooney menengadah.
"Tiga puluh dollar empat puluh enam sen,
Mrs. Holland," ujarnya, tersenyum puas.
"Akhirnya Anda bisa melunasinya dengan uang
128 | Henry Slesar

recehan sekalipun. Saya menyesal karena


hams menetapkan peraturan ini pada Anda
seperti yang telah saya lakukan tadi pagi. Tapi
Anda sudah membuktikan, Anda bisa me-
lakukannya."

Fran menaiki tangga menuju apartemennya


dengan langkah perlahan. Di lantai tiga, sebuah
pintu terbuka, dan seorang perempuan pirang,
dengan rambut penuh alat pengeriting, me-
longok keluar.
"Fran! Ya Tuhan, kemana saja kau?"
"Belanja," sahut Fran letih.
"Kau berantakan sekali. Dapat barang
bagus?"
"Tidak. Tidak ada yang bagus, Lila."
"Well, aku punya berita bagus untukmu,
nak. Kau tidak perlu memasak malam ini.
Datanglah ke tempatku dan kita akan makan
b e r s a m a kalau kau enggan memasak
sendiri—"
"Maksudmu?"
"Susah sekali mencarimu, kiddo." Perem-
puan pirang itu tertawa. "Ed pasti menelpon
sembilan kali siang ini. Dan akhirnya dia
menelponku, dikiranya kita sedang kumpul
disini, mabuk atau semacamnya."
"Ed?" Fran menatap perempuan itu, mata-
nya mengerjap.
Kecelakaan | 129

"Ya. Dia menelpon dari kantor. Dia ingin


memberitahu kalau dia tidak pulang sampai
besok. Ada urusan penting dan mendadak
dengan seorang klien, atau apalah. Katanya,
dia harus pergi ke Chicago dengan
penerbangan pukul lima sore ini."
"Tidak pulang?" Fran memandang dengan
bodoh.
"Hey, santai saja. Kau dengar kataku. Dia
pergi ke Chicago. Kau bisa santai malam ini,
sayang."
Fran mendesah dan mulai melangkah
pergi. "Terimakasih, Lila."
"Santai saja," jawab perempuan pirang itu
sambil mengangkat bahu. "Hey, yakin kau baik-
baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
Diatas, Fran memutar kunci, membuka
pintu depan dan masuk ke dalam. Piring-piring
bekas sarapan di bak cuci piring terlihat suram
dalam cahaya matahari yang mulai memudar.
Dia melempar tasnya ke atas meja, dan
melepas sepatunya dengan kasar.
Di ruang tamu, Fran menghempaskan diri
ke sofa dan menyalakan sebatang rokok. Dia
duduk kelelahan, menatap cahaya muram di
luar, menghisap rokoknya dalam diam.
Dia membetulkan selendang sore dari
bahunya, seakan-akan udara menjadi dingin
dalam ruangan itu.
130 | Henry Slesar

"Chicago," sahut Fran dengan getir.


Dan nama itu punya arti tertentu. Pasti
punya arti. Fran segera berdiri. Itulah rahasia
dari semua ini, pikimya. Nama itu harusnya
memiliki arti tertentu.
Fran bergegas menuju telepon dan me-
mutar nomer yang dihafalnya luar kepala.
"Halo, apa Mr. Cooney ada?"
Kakinya yang terbalut stoking mengetuk-
ngetuk lantai linoleum tidak sabar.
"Halo, Mr. Cooney? Dengar, ini Fran
Holland. Pada pacuan keempat besok. Saya
bertaruh lima dollar untuk Chicago Flyer. Benar,
pada pacuan keempat..." []

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com
GADIS EMAS
Ellis Peters

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

"Shakespeare," ujar manajer keuangan kapal


itu dengan muram, saat dia menghadap gelas
bir keduanya seusai pertunjukan teater, "tentu
saja semuanya menampilkan Shakespare
tahun ini". Aktor-aktor itu juga memainkan
peranannya dengan cukup menggigit. Kalimat
'hartaku dan putriku' dan semacamnya—ada
seorang aktor yang memainkan peranan itu
dengan lebih bagus. Aku ingat, aku pernah
menontonnya. The Jew of Malta judulnya, dan
Marlowe yang menulisnya 'Oh emas, Oh gadis!
O h , k e c a n t i k a n ! Oh, k e b a h a g i a a n k u ! '
Menonton The Merchant malam ini membuatku
teringat kembali. Juga mengingatkanku akan
sebuah kasus nyata yang kualami—hanya saja
dia bukan putrinya. Bukan, bukan seperti itu.
"Saat itu aku masih seorang awak kapal
junior, atasanku si tua McLean, di perahu
Aurea, oh, sepuluh tahun yang lalu, hal itu
terjadi. Kadang aku masih memimpikannya,
tapi jarang sekali sekarang ini. Perahuku
sedang berlayar dari Liverpool ke Bombay,
pelayaran ketiga bagiku, dan pasangan itu naik,
132 | Ellis Peters

dalam keramaian, tepat sebelum perahu mulai


berlayar. Di kerumunan orang yang begitu
banyak, kau pasti bisa melihat mereka. Gadis
itu. Dia amat sangat cantik, benar-benarcantik,
dengan rambut warna jagung keemasan, mata
sayu, dan satu lagi, dia sedang hamil, dan itu
membuat orang-orang tersentuh. Kau tahu,
'kan, dengan baju longgar dan sepasang
lengan ramping yang terjuntai di samping
tubuhnya yang berat. Dan caranya berjalan,
hati-hati dan canggung, berusaha agar tidak
jatuh. Perlahan dia menuju geladak bawah,
berpegang erat pada susuran tangga. Kau bisa
rasakan semua lelaki disana berusaha me-
nahan diri untuk tidak lari dan membantunya.
"Mereka memesan perjalanan ke Bombay,
mungkin mengenai pekerjaan sebagai pe-
nasihat handal disana. Suaminya, lebih tua dari
si gadis, mungkin empatpuluhan sementara si
gadis baru dua puluh dua, tapi ada sesuatu
yang menarik dari diri si suami ini. Perempuan-
perempuan di perahu saling berbisik-bisik
tentang si suami, padahal perahu baru berlayar
kurang dari satu jam. Lelaki itu gagah, dengan
wajah tampan, kulit gelap, pendiam, dengan
raut wajah cerdas, berputar-putar di sekeliling
istrinya, dengan perhatian yang membuat
semua istri-istri yang berada di perahu
berwajah hijau karena cemburu. Bandot insyaf,
kata mereka. Don Juan yang telah menetapkan
Gadis Emas | 133

satu gadis pilihan. Godalah dan jauhkan diri


dari istrinya! Banyak diantara peremption
perempuan itu yang memang mencoba men-
dekatinya sebelum perahu berlabuh di Bombay.
Tapi tidak, sepanjang perjalanan itu, tidak ada
perempuan lain selain istrinya. Dia selalu me-
nempel pada istrinya dengan wajah khawatir,
tiap hah, selama tujuh belas hari.
"Dua hari kemudian kami mengadakan
latihan sekoci di perahu. Kami memang selalu
melakukannya, walaupun biasanya kurang dari
setengah penumpang yang muncul, apalagi
pada pelayaran tahun itu, ketika laut bertingkah
seperti yang biasa terjadi di laut. Aku adalah
awak yang menangani sekoci mereka, dan aku
bergegas ke kabin mereka ketika sirine pertama
berbunyi. Suaminya tidak ada. Dia pergi meng-
ambil beberapa buku perpustakaan untuk
istrinya. Menyenangkan sekali membantunya
memakai jaket penyelamat. Seperti perempuan
pada umumnya, dia tidak tahu sama sekali
bagaimana mengenakannya, dengan atau
tanpa pedoman.
"Dia tidak terlihat begitu tambun di bawah
baju longgarnya. Hanya sedikit lebih besar dari
ukuran normal, menurutku. Dan caranya meng-
ucapkan terimakasih padaku, membuatku rela
lompat ke laut untuknya. Ya, dia baik-baik saja,
ya, dia akan pergi ke dek dan melaporkan
semuanya sebagaimana mestinya, seperti
134 | Ellis Peters

orang-orang yang lain. Dan dia memang


melakukannya. Bagai anak-anak yang sedang
bermain, orang yang paling ceria diantara
orang-orang sekelilingnya. Tiba-tiba si suami
datang bergegas ke arahnya, dengan liar
menculiknya dari kerumunan orang-orang di
sekitar dan menjaganya sendiri. Tidak ada
seorangpun yang tidak iri dengan haknya itu.
"Seperti itu, sepanjang perjalanan, selama
tujuh belas hari. Ketika diadakan pemutaran
film, mereka saling berpegangan tangan di
sudut yang sepi. Menurut si istri, mereka
merasa belum lama menikah, dan menurut si
suami dia belum sembuh benar dari keter-
kejutan yang membahagiakan dengan me-
nikahi istrinya itu, dan dia seperti tidak percaya
akan keberuntungan yang menimpanya.
"Kami menurunkan kira-kira setengah
penumpang di Karachi, dan terus melaju
menuju Bombay, sepi dan perlahan-lahan
seperti biasanya. Dan malam itu, sekitar tengah
malam, kebakaran terjadi.
"Waktu itu sedang berlangsung pesta
dansa, dan kami biasa menampilkan sesuatu
yang menggembirakan untuk melengkapi pesta
perpisahan itu. Jadi kami tidak tahu bagaimana
awal mulanya. Yang kutahu, tiba-tiba terdengar
suara sirine dari bawah dek, tapi di dalam bar-
bar di atas, sirine itu tidak terdengar sama
Gadis Emas | 135

sekali, dan musik tetap mengalun, dan di


geladak atas masih banyak orang di kolam
renang bahkan ketika situasi di bawah sudah
mendekati kepanikan. Komunikasi tidak dapat
dilakukan karena seluruh sistem pengeras
suara rusak. Dan sebelum kau selesai meng-
ucapkan kata 'pisau', asap sudah menyebar
kemana-mana. Dalam sepuluh menit, semua-
nya jadi kacau. Tidak ada seorangpun yang
bisa mendengar suaranya sendiri, bahkan jika
dia berteriak sekuat-kuatnya sekalipun. Dan jika
orang sudah merasa ketakutan, suara yang
keluar juga tidak terlalu keras.
"Bukan panik, sebenarnya. Harusnya bisa
lebih baik kalau saja ada cara memberitahu
mereka bagaimana menghadapi keadaan
seperti itu. Sayangnya tidak semua seperti itu,
hanya sebagian kelompok kecil saja. Lagipula
jumlah awak perahu tidak mencukupi untuk
berkeliling dan mengawasi para penumpang.
Kadang rasa bingung dan kekacauan
menyebabkan hal yang sama seperti panik.
Beberapa diantara mereka, orang-orang atletis
yang berusaha berbuat sesuatu, melakukan
hal-hal yang salah karena tidak ada panduan
bagi mereka. Dan yang lain berjalan mondar-
mandir, menghalang-haiangi kelompok mereka
dan kami. Apa yang bisa kau lakukan? Puji
Tuhan, untung saja keadaan laut saat itu tenang
136 | Ellis Peters

sekali. Dua-tiga perahu menerima panggilan


kami dan bergerak menyelamatkan para
penumpang dan awak perahu.
"Dan terjadilah semuanya. Api menyebar
seolah marah, dan si istri juga ada di dek
diantara kerumunan penumpang yang lain.
Kami mendorong orang-orang untuk naik ke
geladak atas dan meminta mereka mengena-
kan jaket penyelamat, lalu mulai menurunkan
sekoci. Hiruk-pikuk itu adalah sesuatu yang
akan kuingat seumur hidupku. Tidak ada yang
menjerit, tapi semua orang saling berteriak.
"Aku tertatih-tatih berusaha mencapai Dek
B dalam kepulan asap, membuka pintu kabin,
menyisir apakah ada penumpang yang masih
berada di dalam kabin, dengan salah satu
penumpang perempuan bersandar di tangan
kananku dan seorang awak perahu dari Goa
juga menggandeng dua orang penumpang
yang lain. Aku mendorong pintu 56, dan
disanalah si gadis emas kami, menempel pada
suaminya, dan sepasang mata bak danau
berwarna abu-abu besar dan membelalak itu
terbius oleh teror. Mereka berdua sedang
berusaha memasangkan jaket penyelamat ke
tubuh si istri dengan canggung. Jaket si suami
sendiri tergeletak di bawah. Aku menggeram
keras, menyegerakan memakaikan jaket itu ke
istrinya, dengan cepat, dan segera merangkul-
nya dengan tangan kiriku setelah dia terlindung
Gadis Emas | 137

jaket. Dia bekerja keras menjejakkan kakinya


selangkah demi selangkah menaiki tangga
geladak di belakangku, terengah-engah, dan
caranya berjalan sangat sukar dan menyakitkan
seperti seorang nenek tua. Aku bahkan sedikit
terluka, di dalam, karena aku hams memaksa-
nya berjalan cepat-cepat, tapi, Ya Ampun, kami
memang harus buru-buru. Aurea berderak di
bawah kami, menggigil di laut yang tenang dan
damai. Perahu itu tidak akan dapat bertahan
lebih lama lagi.
"Well, akhirnya aku bisa menuntun mereka
ke sekoci, ke hiruk-pikuk yang ada di dek atas.
Disana sudah ada perahu pengangkut minyak
ke arah timur yang sudah menunggu, dengan
sekoci-sekoci terapung menunggu kami dan
lampu-lampu besar berseliweran di air yang
kelam. Kemudian dek di bawah kaki kami
bergerak miring dan mulai berdiri tegak,
membuat kami tergelincir menuju pagar di
pinggir perahu. Para penumpang perempuan
menjerit histeris dan menggapai apapun yang
terpegang. Kukira kami juga akan jatuh,
sebagaimana orang-orang lain, tapi si gadis
emas itu segera membetulkan posisi tubuhnya
kembali. Sekoci kami tergelincir ke buritan, dan
macet, dan aku tahu sekoci itu tidak akan bisa
dipergunakan. Beberapa penumpang lainnya
sudah selamat sampai ke perahu tanker, berdiri
tegak di geladak dan menunggu untuk dapat
138 | Ellis Peters

menyelamatkan barang-barang sebisanya


ketika kami sedang tenggelam. Sekoci lainnya
bergerak mendekat dari perahu tanker itu.
Salah satunya sudah dekat ke kapal dan
berteriak-teriak ke arah kami. Aku berteriak
balik ke arah mereka, dan mereka bergerak
semakin mendekat. Aku memeluk erat-erat si
gadis emas. Dua nyawa—kau tidak tahu
bagaimana rasanya.
"Suaminya memekik marah, memegangnya
erat dengan ketakutan yang sangat, menjerit
kasar dengan bahasa yang bahkan tidak bisa
dimengerti dalam kondisi hiruk pikuk yang
biasanya. Tidak ada waktu untuk meyakinkan
siapapun tentang apapun. Aku merengkuhkan
tanganku untuk menggapai dagu si suami dan
menariknya ke atas, dan pegangannya ke si
istri terlepas. Aku merengkuhnya dan me-
lemparnya melewati pagar, dan meletakkannya
dengan lembut dan hati-hati ke tempat yang
kutahu adalah tempat teraman saat itu, ke laut
yang hanya beberapa meter jaraknya dari
sekoci yang sedang mendekat. Petugas yang
kupanggil-panggil sudah condong ke laut dan
bersiap-siap menangkapnya.
"Dan setelah itu dua hal yang kerap kuimpi-
kan sampai sekarang, terjadilah. Suaminya
menjerit keras bagai suara pekikan jiwa yang
terkutuk, suara yang tidak pernah kulupakan.
Dia berusaha sekuat tenaga mencapai pagar
Gadis Emas | 139

sambil terus berteriak. Dan si gadis, si gadis


emas itu—Ya Tuhan, begitu dia menyentuh air,
tubuhnya langsung tenggelam seperti batu!
"Wajahnya menengadah ke arahku, tanpa
suara, menatapku dengan pandangan tersesat
dan takut, sedetik sebelum laut menelannya.
Dia menghilang dan tidak muncul-muncul lagi.
"Semenit penuh aku berusaha meraihnya.
Bayangkan! Lalu aku menyelam mencarinya,
terus ke dalam dan semakin dalam, mem-
burunya, terus, terus, terus, sampai aku harus
ditarik ke sekoci dengan paksa. Aku tidak
menemukannya. Tapi sekilas, kurasa, aku
melihat suaminya, jauh di bawah sana, sama
nekatnya sepertiku. Sepertinya aku ingat seraut
wajah dengan rambut mencuat ke berbagai
arah, matayang kalut, dan mulutyang meraung
tanpa suara. Nama si gadis? Mungkin akan
jauh lebih baik kalau saja semuanya hanya
terjadi dalam khayalanku. Lebih baik me-
lupakannya. Tapi tetap saja aku tidak bisa
melakukannya.
"Saat itu yang tersisa dari si suami tidak ada
sama sekali, hanya jaket penyelamatnya yang
terobang-ambing tanpa tujuan, saat dia
merobek dan melemparkannya demi menye-
lamatkan si istri. Seharusnya kami tidak usah
menemukannya, kalau saja pusaran air
Austeria tidak mengaduk-aduk isi laut dan
menghempaskannya kembali ke pinggir pantai.
140 | Ellis Peters

Sekoci perahu tanker itu masih berputar-putar


berkeliling, dan salah satu diantaranya secara
kebetulan menemukan tubuh si gadis, sesaat
sebelum kembali tenggelam. Tapi kami tidak
pernah menemukan suaminya.
"Tubuhnya ditemukan, dan kami juga
menemukan apa yang terdapat padanya, yang
membuat Interpol terlibat dalam cerita ini."
"Tentu saja dia bukan istrinya. Dia adalah
model yang biasa berpose untuk fotografer dan
aktris kacangan yang dikenalnya di sebuah
klub. Dia juga tidak hamil. Hanya saja, perasaan
si lelaki itu padanya—dan aku berani ber-
sumpah—itu tulus. Dia belum pernah menyewa
gadis itu sebelumnya. Semua muatannya yang
berharga telah diselundupkan lewat udara,
dengan alat transportasi lainnya, dan yang
terakhir ini adalah hal mudah, perjalanan
menyenangkan dengan hadiah yang cantik
menunggu di tempat tujuan. Bisnis yang sangat
menguntungkan. Kurasa mereka tidak akan
kembali.
"Semua barang yang dia bawa dalam korset
di bawah baju hamil longgarnya itu, ketika
latihan perahu telah selesai, disembunyikan
dalam jaket penyelamat yang dikenakan si
gadis. Apa mereka pikir itu adalah tempat yang
amat sangat aman? Well, begini, kuberitahu
kau. Tidak ada yang bakal percaya mereka
Gadis Emas | 141

menggunakan jaket penyelamat itu untuk


tujuan sesungguhnya—tidak ada seorangpun.
Itu bukan tempat yang paling aman. Dan dia
bisa membuat dirinya nyaman sampai dia
harus mengumpulkan semua bebannya itu di
Bombay dan membawanya dengan sabar ke
darat melalui Pabean. Hanya saja mereka lupa
menukarnya kembali malam sebelumnya,
sehingga mereka tidak siap menghadapi
kebakaran.
"Tentu saja si suami bisa mengenakan jaket
itu ke tubuhnya sendiri dan menyerahkan
jaketnya untuk si gadis. Mungkin dia akan
melakukannya, kalau saja aku tidak menyeret-
nya memakai jaket itu dan memaksa tangan-
nya. Atau mungkin saja dia tidak akan me-
lakukannya. Gadis itu memang seorang
profesional yang melakukan pekerjaannya
untuk si suami. Begitu si gadis sampai di sekoci
maka dia akan selamat. Dan apapun yang
terjadi sesudahnya, itu adalah karena si gadis,
dengan kecantikannya yang melenakan dan
keadaannya yang membuat trenyuh, yang pasti
akan mendapatkan perawatan V.I.P, dan
kesempatan besar mendapatkan hadiah
mereka, dan membawanya ke India dengan
aman.
"Aku masih bertanya-tanya, apa se-
sungguhnya yang membuat si lelaki itu
142 | Ellis Peters

menyelam mencarinya, si gadis, atau lima belas


kilogram batangan-batangan gemuk emas
murni yang menenggelamkan si gadis." []
BOCAH PERAMAL GEMPA
Margaret St. Clair

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

"Kamu ini memang skeptis," ujar Wellman. Dia


menuang air dari teko kristal, menaruh sebutir
pil di lidahnya, dan menelannya dengan
bantuan air. Secara alamiah memang bisa
dimengerti. Aku tidak akan meyalahkanmu, aku
bahkan tidak bermimpi untuk menyalahkanmu.
Sayangnya, banyak dari kami disini yang ber-
pikiran sepertimu, ketika kita mulai menayang-
kan si bocah Herbert ini. Aku tidak berkeberatan
memberitahukanmu, ini hanya diantara kita
berdua, aku sendiripun agak ragu-ragu acara
itu nantinya akan berhasil di televisi."
Weilman menggaruk-garuk belakang
telinganya ketika Read memandangnya
dengan tatapan tertarik yang sok ilmiah. "Well,
aku salah," sahut Wellman sambil meletakkan
kembaii tangannya dari belakang telinga.
"Dengan senang hati aku katakan bahwa aku
1000 persen salah. Pertunjukan si bocah
pertama kalinya, yang tanpa pariwara dan tanpa
pemberitahuan menghasilkan 1400 pucuk
surat keesokan harinya. Dan rating yang dia
144 | Margaret St. Clair

hasilkan sekarang..." Dia membungkuk ke arah


Read dan membisikkan sesuatu.
"Oh!" Hanya itu yang bisa dikatakan Read.
"Kami belum bisa menyebutkannya dengan
pasti sekarang ini, karena banyaknya orang-
orang usil di Purple yang tidak akan memper-
cayai kita. Tapi ini hanyalah kejujuran yang
sederhana. Tidak ada karakter televisi lain
sekarang ini yang memiliki banyak pengikut
seperti bocah itu. Dia bahkan dibicarakan di
saluran gelombang pendek, dan orang-orang
seluruh dunia mendengarkannya. Tiap acara-
nya ditayangkan, kantor pos mengirimkan dua
truk berisi surat-surat untuknya. Kau tidak bisa
membayangkan betapa bahagianya aku, Read,
akhirnya kalian para ilmuwan mulai berpikiran
untuk menelitinya. Aku amat bersungguh-
sungguh tentang hal ini."
"Bagaimana sifat anak itu?" Read bertanya.
"Si bocah? Oh, sangat sederhana, pen-
diam, amat sangat tulus. Aku sangat suka
padanya. Ayahnya—well, dia itu yang ber-
karakter kuat."
"Bagaimana program ini berlangsung?"
"Maksudmu bagaimana Herbert melaku-
kannya? Sejujurnya, R e a d , itulah yang
seharusnya menjadi bahan penelitian kalian,
para ilmuwan. Kami tidak memiliki petunjuk
apapun mengenai hal ini, sungguh."
Bocah Peramal Gempa | 145

"Tapi aku bisa memberikanmu perincian


bagaimana program ini bekerja. Bocah ini
mengadakan pertunjukan dua kali seminggu,
tiap Senin dan Jumat. Dia tidak menggunakan
naskah"—Wellman meringis—"yang cukup
membuat kami sakit kepala. Katanya, naskah
membuatnya kering. Dia mengudara selama
dua belas menit. Kebanyakan dia hanya bicara,
bercerita pada para pendengartentang apa saja
yang telah dilakukannya di sekolah, buku-buku
yang sedang dibacanya, dan sebagainya. Hal-
hal yang sering kau dengar dari anak-anak baik
dan pendiam. Tapi dia selalu membuat dua atau
tiga ramalan, selalu, sedikitnya satu, dan tidak
pernah lebih dari tiga. Ada hal-hal yang
nantinya akan terjadi dalam empat puluh jam
mendatang. Menurut Herbert, dia tidak bisa
melihat lebih jauh dari itu.
"Dan hal-hal itu benar-benar terjadi?" tanya
Read yang pertanyaannya itu lebih mirip
penegasan.
"Ya," sahut Wellman dengan agak berat.
Tanpa sadar dia mencibirkan bibirnya. "Herbert
meramalkan ada sebuah pesawat yang jatuh
di Guam April kemarin, angin topan dinegara-
negara Gurun, dan hasil pemilu. Dia meramal-
kan bencana perahu selam di kepulauan
Tortuga. Sadarkah kau, ada agen FBI yang
menontonnya di studio, diam-diam, setiap
146 | Margaret St. Clair

pertunjukannya berlangsung? Itu agar Herbert


bisa diamankan dan pertunjukannya dihentikan
bila dia mengatakan sesuatu yang mengacau-
kan stabilitas keamanan umum. Mereka me-
nanggapi bocah ini dengan serius.
"Aku melihat-lihat catatan anak ini kemarin
ketika aku tahu universitas akan mengadakan
penelitian mengenai anak ini. Acaranya telah
ditayangkan selama satu setengah tahun, dua
kali seminggu. Dia telah meramalkan 106
kejadian selama ini. Dan setiap ramalan, satu
demi satu, benar-benar terjadi. Dan saat ini
masyarakat luas percaya"—Wellman mem-
basahi bibirnya dan mencoba mencari kata-
kata yang tepat—"mereka akan percaya bila dia
meramalkan hari kiamat atau siapa yang akan
memenangkan hadiah dari Pertempuran di
Irlandia.
"Aku sungguh-sungguh mengenai hal ini,
Read. Amat sangat sungguh-sungguh sampai
aku sendiri takut. Herbert adalah hal terbesar
yang ada di televisi sejak adanya penemuan
sel selenium. Kau tidak membesar-
besarkannya atau m e n g a d a - a d a akan
pentingnya dia. Sekarang, maukah kau pergi
menghadiri acaranya? Sudah waktunya dia
mengudara."
Wellman berdiri dari meja kerjanya, me-
rapikan dasi bermotif penguin ungu dan merah
muda di lehernya. Dia memimpin Read melalui
Bocah Peramal Gempa | 147

koridor stasiun radio menuju ruang observasi


studio 8G tempat Herbert Pinner mengudara.
Menurut Read, Herbert terlihat seperti anak
baik yang pendiam. Usianya sekitar 15 tahun,
dengan perawakan tinggi untuk anak seumur-
nya, dan dengan raut wajah menyenangkan
dan cerdas, tetapi juga penuh kekhawatiran.
Dia berdiri tegak saat sedang mempersiapkan
diri untuk mengudara dan terkesan menyakit-
kan bagi orang yang melihatnya.
"... aku sedang membaca sebuah buku
yang sangat menarik," ujar Herbert kepada para
pendengarnya. "Judulnya The Count of Monte
Cristo. Kurasa semua orang yang membaca
buku itu pasti suka isi ceritanya." Herbert
mengambil buku dan menunjukkannya ke
penonton di studio. "Aku juga mulai membaca
buku mengenai astronomi yang dikarang oleh
seseorang bernama Duncan. Membaca buku-
nya membuatku ingin membeli teleskop. Kata
ayahku, jika aku belajar dengan giat dan
mendapatkan nilai-nilai bagus di sekolah, aku
boleh memiliki teleskop kecil pada akhir tahun
pelajaran. Aku akan menceritakan pada Anda
semua apa saja yang kulihat setelah aku
membelinya nanti.
"Akan ada gempa bumi, tidak begitu besar,
di negara-negara Atlantik Utara malam ini.
Banyak bangunan yang akan rusak, tapi tidak
ada korban jiwa. Besok pagi sekitar pukul
148 | Margaret St. Clair

sepuluh mereka akan menemukan Gwendolyn


Box yang hilang di kepulauan Sierra sejak
Kamis kemarin. Kakinya patah, tapi dia masih
hidup.
"Setelah mendapatkan teleskop aku ber-
harap agar bisa menjadi salah satu anggota
kelompok-kelompok pengamat bintang
variabel. Bintang-bintang variabel adalah
bintang yang kecemerlangannya bervariasi
akibat perubahan internal maupun eksternal..."
Setelah acara selesai, Read diperkenalkan
pada si Pinner muda. Dia merasa anak itu
sangat kooperatif dan sopan, tetapi agak sedikit
tertutup.
"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa me-
lakukannya, Mr. Read," jawab Herbert ketika
sejumlah pertanyaan awal diajukan. "Bukan
gambar-gambar, seperti yang Anda tunjukkan,
dan juga bukan kata-kata. Tetapi—tapi semua
hal itu datang begitu saja dalam benakku."
"Satu hal yang aku sadari, aku tidak bisa
meramalkan apapun yang aku sama sekali
tidak tahu. Aku bisa meramalkan adanya
gempa bumi karena semua orang tahu apa itu
gempa bumi. Tapi aku tidak akan bisa meramal-
kan Gwendolyn Box jika aku tidak tahu dia
hilang. Aku hanya merasakan seseorang atau
sesuatu akan ditemukan."
"Maksudmu, kau tidak akan bisa meramal-
kan apapun kecuali hal tersebut ada dalam
Bocah Peramal Gempa | 149

kesadaranmu sebelumnya?" tanya Read


bersemangat.
Herbert agak ragu-ragu menjawabnya.
"Kurasa begitu," ujarnya. "Hal itu membuat...
semacam titik dalam benakku, hanya saja aku
tidak dapat mengatakannya. Seperti melihat
dalam sinarterang dengan mata yang tertutup
rapat. Anda tahu ada cahaya disana, tapi hanya
itu yang Anda tahu. Itulah alasannya mengapa
aku membaca begitu banyak buku. Makin
banyak hal-hal yang kuketahui, makin banyak
juga yang bisa kuramalkan."
"Kadang-kadang aku juga melupakan
beberapa hal penting. Aku tidak tahu mengapa.
Waktu itu ada kejadian meledaknya sejumlah
bahan atom dan banyak korban jatuh. Yang aku
ingat saat itu adalah melonjaknya kebutuhan
tenaga kerja."
'Aku betul-betul tidak mengerti bagaimana
cara kerjanya, Mr. Read. Aku betul-betul tidak
mengetahuinya."
Ayah Herbert datang menghampiri. Dia
adalah seorang lelaki kecil dan agak bungkuk
dengan sifat persuasif dan tertutup. "Jadi Anda
yang akan meneliti Herbie, ya?" katanya setelah
perkenalan singkat dengan Read. "Well,
baiklah. Sudah saatnya dia diteliti."
"Saya yakin kita berpendapat sama,"jawab
Read hati-hati. "Saya harus mengetahui
beberapa hal untuk diuji."
150 j Margaret St. Clair

Mr. Pinner memandangnya dengan galak.


"Anda ingin menguji apa benar ada gempa
bumi nanti? Begitu? Semuanya berbeda bila
Anda mendengarkannya sendiri. Well,
memang akan ada gempa bumi. Hal yang
menyedihkan, gempa bumi itu." Dia men-
decakkan lidah seakan meledek. "Tapi tidak
akan ada korban jiwa, itu bagusnya. Dan
mereka akan menemukan Miss Box itu sebagai-
mana yang tadi dikatakan Herbie."
Gempa yang diramalkan terjadi pukul 9:15
ketika Read sedang duduk di bawah lampu
penghubung dan membaca laporan dari Per-
kumpulan untuk Penelitian Supranatural. Read
mendengar sekelilingnya berderak-derak dan
bergerak, dan kemudian tanah di bawahnya
berayun lama dan membuatnya mual.
Keesokan paginya, Read meminta
sekretarisnya menghubungi Haffner, seorang
seismologis yang dikenalnya. Haffner, melalui
sambungan telpon itu, menjelaskan dengan
cepat dan terperinci.
"Seharusnya tidak akan ada cara meramal-
kan terjadinya gempa," ujarnya dengan gemas.
"Bahkan tidak sejam sebelumnya. Kalaupun
ada, kami akan mengeluarkan pengumuman
dan mengungsikan orang-orang tepat pada
waktunya. Tidak akan ada korban jiwa jika kami
dapat melakukan hal itu. Ya, kami akan
menjelaskan bagaimana gempa itu secara
Bocah Peramal Gempa | 151

keseluruhan. Sudah bertahun-tahun kami


mengetahui daerah ini termasuk dalam salah
satu daerah gempa. Tetapi untuk mengetahui
waktu tepatnya itu—"ini seperti kau bertanya
pada seorang astronom untuk meramalkan
terjadinya nova. Dia tidak akan tahu, begitu juga
kami. N g o m o n g - n g o m o n g , apa yang
menyebabkan hak ini? Ramalan yang dibuat
si bocah pinner ini ya?"
"Ya, kami sedang menimbang-nimbang
untuk menelitinya."
"Menimbang-nimbang? Maksudmu,
sekarang kau berkeliling dan menelitinya? Ya
Tuhan! Kalian psikolog-psikolog peneliti, benar-
benar membangun menara gading!"
"Menurutmu dia asli?"
"Jawabannya secara tidak profesional
adalah:ya."
Read menutup telponnya. Ketika dia keluar
makan siang dia melihat kepala berita di koran
tentang ditemukannya Miss Box seperti yang
diramalkan Herbert dalam acara radio kemarin.
Tapi Read masih ragu. Kamis kemarin dia
baru menyadari, masalahnya bukan dia takut
menghabiskan uang universitas dalam meneliti
penipuan, tetapi dia terlalu yakin apapun yang
diramalkan Herbert Pinner adalah sungguhan.
Dia tidak terlalu antusias sekarang untuk
memulai penelitiannya. Dia takut.
152 | Margaret St. Clair

Kesadaran itu mengejutkannya. Dia


langsung menghubungi dekan saat itu juga,
menanyakan mengenai persetujuan yang dia
ajukan, dan dekan memberitahukan tidak akan
ada kesulitan dalam birokrasi penelitiannya.
Jumat pagi dia segera memilih dua asisten
untuk membantunya dalam proyek ini, dan
ketika acara Herbert akan ditayangkan mereka
sudah berada di stasiun radio.
Mereka melihat Herbert duduk tegang di
kursinya dalam studio 8G didampingi oleh
Wellman dan sekitar lima atau enam eksekutif
radio yang berkerumun di sekelilingnya. Ayah-
nya berjalan mondar-mandir kebingungan,
dengan tangan melambai-lambai kesana-
kemari. Orang-orang FBI itu bahkan lupa
bersikap tenang dan pasif, dan bergabung
dalam argumentasi yang memanas. Dan
Herbert, di tengah, menggeleng-gelengkan
kepalanya dan berkata, "Tidak, tidak, aku tidak
bisa," dengan terus menerus sambil bergerak-
gerak.
"Tapi mengapa, Herbie?" Ayahnya me-
rengek. "Tolong katakan pada Ayah mengapa?
Mengapa kau tidak mau mengudara
sekarang?"
"Aku tidak bisa,' jawab Herbert. "Tolong
jangan paksa aku. Aku benar-benar tidak bisa
sekarang!" Read menyadari betapa pucat anak
itu, apalagi di sekeliling mulutnya.
Bocah Peramal Gempa | 153

"Herbie, kau bisa mendapatkan apapun


yang kau mau, apapun, kalau kau mau meng-
udara malam ini. Yang penting kau mau meng-
udara! Teleskop itu—aku akan membelikanmu
besok. Aku akan membelinya malam ini!"
"Aku tidak ingin teleskop," ujar si Pinner
muda itu sedih. "Aku tidak ingin melihat apapun
lewat teleskop itu."
"Aku akan membelikanmu kuda poni,
perahu bermotor, bahkan membuatkanmu
kolam renang! Herbie, aku akan melakukan
apapun untukmu!"
"Tidak," jawab Herbert.
Mr. Pinner memandang berkeliling dengan
putus asa. Matanya tertumbuk ke arah Read
yang sedang berdiri di sudut, dan dia segera
menghampirinya. "Nasihatilah dia, Mr. Read,"
ujarnya tergagap.
Read menggigit bibir bawahnya. Dalam
satu hal itu memang urusannya. Dia menyeruak
diantara orang-orang yang mengerumuni
Herbert, dan menepuk bahu bocah itu dengan
tangannya. "Aku dengar kau tidak mau meng-
udara malam ini, Herbert. Ada apa ini?" tanya
Read.
Herbert memandangnya. Ungkapan terhina
yang ada dalam matanya membuat Read
merasa bersalah sedih. "Saya hanya tidak bisa
melakukannya sekarang. Anda juga jangan
mulai bertanya-tanya pada saya, Mr. Read."
154 | Margaret St. Clair

Read menggigit bibirnya sekali lagi.


Sebagian teknik dalam para psikologi adalah
bagaimana membuat subjek untuk bisa diajak
bekerjasama. "Bila kau tidak mengudara
sekarang ini, Herbert, maka akan ada banyak
orang yang sangat kecewa."
Wajah Herbert menunjukkan sedikit
kepastian. "Saya tidak dapat menahannya,"
kata Herbert.
"Lebih dari itu, akan ada banyak orang yang
ketakutan. Mereka tidak tahu mengapa kau
tidak mengudara dan mereka pasti akan mem-
bayangkan yang tidak-tidak. Banyak bayangan
yang tidak-tidak. Bila mereka tidak melihatmu
maka banyak orang yang akan ketakutan."
"Aku—" Herbert mengusap-usap pipinya.
"Mungkin itu benar," jawabnya pelan. "Hanya
saja..."
"Kau harus melanjutkan acaramu itu."
Herbert menyerah dengan mendadak.
"Baiklah," ujarnya. "Aku akan mencobanya."
Setiap orang yang ada di studio meng-
hembuskan nafas lega. Orang-orang itu
kemudian bergerak menuju pintu ke ruang
observasi. Mereka bicara dengan nada suara
gugup dan agak meninggi. Ketegangan sudah
berlalu, hal yang paling buruk sekalipun tidak
akan terjadi.
Bagian pertama acara Herbert hampir tidak
ada bedanya dengan pertunjukan-pertunjukan-
Bocah Peramal Gempa | 155

nya yang lalu. Suara si bocah itu sedikit


bergetar dan tangannya juga sedikit gemetar,
tetapi ketidakwajaran ini tidak akan diperhatikan
oleh kebanyakan penonton di studio. Ketika
acara sudah berlangsung kira-kira lima menit,
Herbert menyingkirkan bukunya dan meng-
gambar (dia telah membahas beberapa gambar
mekanis sebelumnya), dan menunjukkannya
kepada penonton lalu mulai bicara dengan
sangat serius.
"Saya akan memberitahukan kalian
mengenai kejadian besok," ujarnya. "Besok"—
Herbert berhenti dan dan menelan ludah—
"besok akan menjadi hari yang berbeda dari
yang sudah-sudah. Besok adalah awal dari
dunia yang baru dan lebih baik bagi kita semua."
Read, mendengarkan dari ruangan yang
tertutup kaca, merasa hawa dingin merayap
sedikit demi sedikit di sekujur tubuhnya ketika
dia mendengar si bocah bicara. Dia menatap
wajah orang-orang di sekelilingnya dan mereka
sedang mendengarkan Herbert dengan
seksama, wajah mereka terlihat gugup dan
kaget. Rahang bawah Wellman agak sedikit
terbuka, dan dia meraba penjepit dasi ber-
bentuk unicorn di lehernya.
"Di masa lalu, kita mengalami masa-masa
yang cukup sulit. Kita mengalami pe-
perangan—banyak sekali peperangan—dan
kelaparan, dan wabah penyakit. Kita meng-
156 | Margaret St. Clair

alami depresi dan tidak tahu apa yang


m e n y e b a b k a n n y a . Banyak orang-orang
kelaparan sementara banyak makanan
tersedia, dan banyak orang yang sakit parah
padahal kita tahu obatnya. Kita telah melihat
sumber daya alam dihabiskan tanpa malu,
sungai-sungai berair hitam oleh tanah-tanah
yang dihanyutkan, sementara kelaparan
semakin mendekati kita hari demi hari dengan
pasti. Kita telah menderita, kita telah meng-
alami masa-masa sulit.
"Mulai besok"—suaranya semakin keras
dan dalam—"semua hal akan berubah. Tidak
akan ada lagi peperangan. Kita akan hidup
bersama-sama berdampingan layaknya
saudara. Kita akan melupakan pembunuhan
dan perampokan dan bom. Dari kutub ke kutub,
dunia ini akan menjadi sebuah taman yang
besar, dipenuhi dengan kekayaan dan buah-
buahan, dan semua itu akan tersedia buat kita
untuk dipergunakan dan dinikmati. Manusia
akan berumur panjang dan hidup dengan
bahagia, dan ketika mati, mereka akan me-
ninggal karena usia tua. Tidak akan ada
seorangpun yang akan takut. Pertamakalinya
sejak manusia menghuni bumi ini, kita akan
hidup dengan cara sebagaimana manusia
hidup."
"Kota-kota akan diperkaya dengan budaya
yang beragam, dengan seni dan musik serta
Bocah Peramal Gempa | 157

buku-buku. Dan setiap ras di dunia ini akan


turut andil dalam menyumbangkan kebudaya-
annya m a s i n g - m a s i n g sesuai dengan
t i n g k a t a n n y a . Kita akan menjadi lebih
bijaksana, lebih gembira dan lebih kaya
daripada manusia-manusia sebelumnya. Dan
dalam waktu dekat"—Herbert agak ragu-ragu
sebentar seakan-akan pikirannya terhenti di
tengah jalan—"dalam waktu dekat kita akan
meluncurkan pesawat roket."
"Kita akan pergi ke Mars, Venus dan Jupiter.
Kita akan pergi ke perbatasan sistem tata surya
kita untuk melihat bagaimana Uranus dan Pluto
itu. Dan mungkin dari sana—ini mungkin saja—
kita akan melanjutkan untuk pergi melihat
bintang-bintang."
"Besok adalah awal dari semua itu. Cukup
sekian untuk malam ini. Selamat tinggal.
Selamat malam."
Sesaat setelah Herbert mengundurkan diri
tidak ada seorangpun yang bergerak atau
bicara. Kemudian suara-suara panik mulai ter-
dengar. Read memandang s e k e l i l i n g ,
menyadari betapa pucat orang-orang di
sekelilingnya dengan mata-mata mereka yang
membelalak.
"Aku penasaran bagaimana dampak hal ini
dalam acara televisi," kata Wellman, seolah
pada dirinya sendiri. Dasinya berkibar-kibar
liar. "Akan ada pertunjukan televisi, itu pasti—
158 | Margaret St. Clair

itu adalah bagian bagusnya." Dan kemudian


ke arah Pinner yang sedang meniup hidung
dan mengusap matanya. "Bawa dia keluar dari
sini, Pinner, secepatnya. Dia akan dikerubuti
orang-orang bila dia tetap tinggal disini."
Ayah Herbert mengangguk. Dia segera
berlari kedalam studio mendapatkan Herbert
yang sudah dikerumuni orang-orang dan
kembali dengan anaknya itu. Bersama dengan
Read, mereka berusaha keluar dari kerumunan
itu dan berjalan melalui koridor ke luar menuju
jalanan di belakang gedung stasiun radio.
Read masuk ke dalam mobil tanpa di-
persilahkan dan duduk di hadapan Herbert di
salah satu kursi lipat. Anak itu kelihatan lelah,
tetapi wajahnya menunjukkan senyum samar.
"Lebih baik kau minta supir untuk membawamu
ke sebuah hotel yang sepi," kata Read meng-
anjurkan ayah Herbert. "Kau akan digerebek
jika pulang ke tempat biasanya."
Pinner mengangguk. "Hotel Triler,"
perintahnya pada supir. "Pelan-pelan saja, Pak.
Kita butuh waktu untuk berpikir."
Mr. Pinner melingkarkan tangan ke tubuh
Herbert dan memeluknya. Matanya berkilat-
kilat. "Ayah bangga padamu, Herbie," ujarnya
tulus, "bangga sebagaimana biasanya. Apa
yang kau katakan—itu adalah hal yang amat,
sangat, indah."
Bocah Peramal Gempa | 159

Pak supir tidak membuat gerakan apapun


untuk menyalakan mobil. Dan sekarang dia
menolehkan wajahnya ke belakang dan
berkata, "Anda Mr. Pinner muda, bukan? Saya
tadi baru saja melihat pertunjukan Anda.
Bisakah saya bersalaman?"
Setelah beberapa saat Herbert mem-
bungkuk ke depan dan menjabat tangan si
supir. Supir yang disalami menanggapinya
dengan semangat. "Saya hanya ingin ber-
t e r i m a k a s i h — h a n y a ingin mengucapkan
terimakasih—Oh, persetan! Maafkan saya, Mr.
Herbert. Yang tadi Anda sampaikan benar-
benar berarti bagi saya. Dulu saya ikut dalam
perang yang terakhir."
Mobil itu meluncur dari bahu jalan. Ketika
mereka melalui perkotaan, Read memperhati-
kan bahwa saran Mr. Pinner untuk berjalan
pelan-pelan sesungguhnya tidak perlu. Orang-
orang sudah memadati jalan-jalan yang mereka
lalui. Pinggir-pinggir jalan dipadati manusia.
Orang-orang mulai berlarian ke trotoar. Mobil
melambat, akhirnya merangkak, dan orang-
orang itu tetap saja berlarian keluar. Read
segera menutup kaca dengan tirai, dia takut
mereka mengenali Herbert.
Penjual-penjual koran berteriak-teriak di
sudut-sudut dengan suara histeris dan keras.
Ketika mobil itu berhenti Pinner membuka pintu
mobil dan menyelinap keluar. Dia datang
160 | Margaret St. Clair

kembali dengan sekumpulan koran yang


dirangkum dalam kedua tangannya.
"DUNIA BARU AKAN DATANG!" kata salah
satu koran, sementara yang lain, "MILENIUM
ESOK!" dan yang lainnya, cukup sederhana
"KEBAHAGIAAN BAGI DUNIA!" Read melebar-
kan salah satu koran itu dan mulai membaca.
"Seorang bocah berusia lima belas tahun
mengatakan bahwa dunia dan semua per-
masalahannya akan segera berakhir, mulai
besok, dan dunia menjadi liar karena gembira.
Si bocah, Herbert Pinner, yang ramalan-
ramalan mengagumkannya sangat akurat dan
membuatnya digandrungi banyak orang di
seluruh dunia, meramalkan sebuah masa
damai, makmur dan sejahtera sebagaimana
yang belum pernah dialami dunia ini sebelum-
nya..."
"Bukankah ini indah, Herbert?" kata Pinner
agak gagap. Matanya menyala-nyala. Dia
mengguncang lengan Herbert. "Bukankah ini
menakjubkan? Tidakkah kau senang?"
"Ya,"jawab Herbert.
Mereka akhirnya tiba di hotel dan men-
daftar. Mereka menempati sebuah kamar
mewah di lantai enam belas. Bahkan pada
ketinggian ini mereka masih bisa mendengar
suara teriakan-teriakan samar kerumunan
orang-orang yang bergembira di bawah.
Bocah Peramal Gempa | 161

"Berbaring dan istirahatlah, Herbert," kata


Pinner. "Kau terlihat letih. Mengatakan semua
itu—pasti hal itu menyulitkanmu." Dia ber-
keliling ke seluruh ruangan untuk beberapa
saat dan kembali ke putranya sambil meminta
maaf. "Kau tidak apa-apa bukan kalau aku
keluar sebentar, Herbert? Aku terlalu gembira
untuk bisa tenang. Aku ingin melihat ada apa
di luar sana." Tangannya sudah berada di
kenop pintu.
"Ya, s i l a h k a n , " jawab Herbert. Dia
menenggeiamkan dirinya di sofa.
Read dan Herbert hanya berdua di ruangan
itu. Beberapa saat hanya ada kesunyian
diantara mereka. Herbert menjalin jari-jemari-
nya di kening dan menghela nafas.
"Herbert," Read memanggil pelan. "Kupikir
kau tidak dapat melihat masa depan lebih dari
empat puluh jam mendatang?"
"Itu benar," jawab Herbert tanpa melihat.[]

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com
BERJALAN SENDIRIAN
Miriam Allen Deford

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

John Larsen berdiri menunggu bis yang akan


membawanya ke tempat kerja. Saat itu per-
tengahan Maret, tetapi musim semi telah
menebarkan aromanya; udara cenderung
hangat dan langit berwarna biru lebih gelap
daripada saat musim dingin. Di seberang jalan,
pucuk-pucuk tunas daun berwarna hijau di
pohon poplar seperti sedang mengiklankan
datangnya musim semi.
Saat itu juga ingatannya kembali pada
suatu pagi yang cerah bagai musim di semi
ketika dia masih seorang bocah, empat puluh
tahun yang lalu. Dia akan bangun dan menatap
langit yang berwarna seperti ini melaluijendela
kamarnya yang terbuka, dan hatinya akan
dipenuhi dengan emosi yang aneh dan tanpa
nama, akibat kehausannya akan sesuatu,
menunggu hal yang belum pernah dialami.
Bis yang ditunggu belum juga datang. Jika
bis itu terlambat datang, dia juga terlambat
masuk kerja, dan Sims, atasannya, akan me-
masang raut wajah masam dan berkata, "Hah
yang sibuk, Larsen. Bisakah kau datang tepat
164 | Miriam Allen Deford

waktu?" Tapi sebenarnya tidak pernah ada hari


yang sibuk—sangat jarang terjadi. Orang-orang
tidak membeli karpet dan keset seperti mereka
jnembeli sayur-mayurdan serbet kertas.
"Muak," ujar Larsen pada dirinya sendiri,
menungu sendiri di sudut yang suram. "Benar-
benar muak." Benaknya kosong mengingat
kejadian sejam sebelumnya, dan suara Katie
yang menjengkelkan. "Demi Tuhan, John,
bangun! Kau mau terlambat sampai ke tempat
kerja? Kalau kau terus begini mungkin kau akan
dipecat, dan kita akan kemana? Cepat! Kau
pikir aku suka bangun jam berapapun untuk
memasakkan sarapanmu? Setidaknya kau bisa
memakannya saat makanan itu sudah ku-
masakkan!"
Itu adalah monolog yang sama dan selalu
terulang. Ketika dia pergi, istrinya akan kembali
merangkak ke tempat tidur, masih mengenakan
pengeriting yang tidak sedap dipandang itu,
dan hanya Tuhan yang tahu kapan dia akan
merangkak keluar dari sana hanya untuk
berleha-leha sepanjang hari. Dia bisa memper-
siapkan sarapannya sendiri dan hanya perlu
setengah dari waktu yang diperlukan istrinya,
tapi itu tidak akan membuat Katie bagai martir
untuk seorang suami yang tidak efisien dan
suka melamun.
Larsen menggigil dalam mantelnya yang
sudah usang; saat ini tidak seperti suasana
Berjalan Sendirian | 165

musim semi seperti yang dilamunkannya,


meskipun matahari akan menghangatkan
semuanya dengan cepat. Pikirannya melayang
pada hutan dan lapangan bermain di masa
kecilnya, sebuah kebebasan dan kemerdekaan
di tahun masa lampau. Matanya dipicingkan ke
jalanan; tidak ada isyarat sedikitpun bis itu akan
lewat.
Dengan tiba-tiba, Larsen menyeberang ke
apotik di sudut, sebelum akal sehatnya
mengambil alih. Dia merogoh sakunya dan
mengeluarkan sekeping recehan sepuluh sen
dan pergi ke bilik telepon.
"Mr. Sims? Ini Larsen. Begini, saya benar-
benar minta maaf, tapi saya tidak bisa datang
hari ini. Nyeri punggung saya kambuh; saya
akan pergi ke dokter untuk memeriksanya. Tapi
saya akan datang besok, meskipun saya masih
sakit. Tidak, saya tidak bisa datang meskipun
hanya setengah hari—nyeri punggung ini
seperti sakit gigi. Ya, saya tahu, tapi—Well,
baiklah, Mr. Sims. Saya akan melakukannya.
Ya, Pak, saya juga menyesal."
Sims mungkin akan heran mengapa bukan
Katie yang menelepon jika dia sendiri sedang
sakit. Mungkin dia akan mengatakan bahwa dia
memerlukan karyawan yang lebih muda untuk
menangani pekerjaannya. Oh, persetan
dengan itu semua; sekarang sudah terlambat
untuk mempertimbangkannya kembali.
166 | Miriam Allen Deford

Dia kembali berdiri di tempatnya tadi, dan


bis yang dinaikinya adalah bis yang mengarah
ke arah yang berlawanan, jauh dari kota. Dia
turun setelah bis itu mencapai tujuan terakhir.
Hanya ingin sendiri—itu adalah perasaan
yang menyenangkan. Tidak ada seorangpun
yang merengek padanya, tidak perlu bergegas-
gegas. Dia belum pernah berada di daerah
pinggiran tempat bis itu menurunkannya. Dia
hanya berjalan berputar-putar untuk beberapa
saat, mengagumi rumah dan halaman—jenis
tempat tinggal yang sering dia impikan, saat
dia dan Kate masih pengantin baru. Mungkin
jika mereka punya anak yang akan mem-
buatnya berambisi melakukan sesuatu, atau
jika Kate tidak berubah menjadi sangat keras
dan galak seperti sekarang—
Ketika siang menjelang Larsen sudah letih
berjalan. Dia kembali ke daerah perkantoran
yang tidak begitu luas, makan sepotong
hamburger dan minum secangkir kopi di ruang
makan yang hampir sepi. Dia menanyakan
jadwal bis disana. Agar bisa kembali ke rumah
seperti biasanya, agar Kate tidak akan tahu, jadi
tidak ada alasan bagi Kate untuk berteriak-
teriak dan mengomelinya. Tidak ada rasa takut
kalau-kalau dia meneleponnya ke toko; Katie
tahu orang-orang disana tidak akan me-
manggilnya kecuali dalam keadaan darurat. Dia
membeli sekotak rokok dan majalah, lalu mulai
Berjalan Sendirian | 167

berjalan menuju ke pinggir kota dengan penuh


harapan.
Setelah berjalan selama satu jam lebih,
akhirnya dia menemukan apa yang dia cari—
sebuah hutan kecil dan teduh yang dilaiui
sungai kecil dan dataran cerah bermandi sinar
matahari di pinggir jalan yang sepi, tempat dia
bisa duduk di atas pokok pohon yang tumbang
sambil membaca dan merokok, lalu mem-
biarkan keheningan dan kedamaian meresap
masuk ke syaraf-syarafnya. Di kejauhan
dilihatnya atap-atap rumah perbukitan yang
tersembunyi di balik tajuk pohon-pohon
rindang, tapi tidak ada satupun yang terlalu
dekat dengan hutan itu yang akan membuatnya
merasa diamati. Kendaraan lewatsatu-dua kali
ke arah yang berlainan, dan tidak ada satupun
orang yang memperhatikan di tempat per-
lindungan yang nyaman itu. Suasana saat itu
sangat sunyi dan membuat Larsen terkantuk-
kantuk.
Dia terbangun dan merasa segar, dan hal
pertama yang dilihatnya adalah matahari, lalu
jam tangannya. Pukul 4:40; masih banyak
waktu untuk mengejar bis yang akan mem-
bawanya kembali ke rumah. Dia berdiri dan
meregangkan tubuhnya, berdebat dalam hati
apakah dia akan berjalan kaki lebih jauh atau
berbalik berlenggang perlahan-lahan menuju
halte bis.
168 | Miriam Allen Deford

Di jalan, dalam keheningan, didengarnya


suara dedaunan kering bergemerisik. Dia
melongok, dan melihat seorang gadis remaja
berjalan menuju ke arahnya. Larsen mundur,
menunggu sampai si gadis melewatinya;
mungkin dia akan membuat si gadis takut jika
tiba-tiba dia melihat ada seorang lelaki tua
muncul dari dalam hutan. Sambil bersandar
pada sebatang pohon, Larsen memperhatikan
si gadis berjalan.
Gadis itu cantik, dengan rambut kuning
keemasan yang jatuh sampai ke kerah sweater
merahnya. Dia mengenakan rok berwarna biru
gelap, kaus kaki merah, dan sepatu kulit coklat,
dan dia mengepit beberapa buku pelajaran di
bawah lengannya. Dia bersenandung sambil
jalan, suaranya jernih, tipis, dan kekanak-
kanakkan. Saat itu senja sudah agak larut
baginya untuk pulang sekolah, tapi mungkin
gadis itu baru selesai menghadiri rapat pelajar.
Mungkin dia tinggal di salah satu rumah yang
atapnya terlihat diantara pepohonan; mungkin
ada jalan pintas menembus hutan menuju ke
sana.
Dia melewati Larsen dan Larsen menunggu
sampai si gadis hilang dari pandangan di
kelokan jalan. Lalu didengarnya suara mobil,
berjalan perlahan dari belakang, ke arah yang
sama dengan si gadis.
Berjalan Sendirian | 169

Mobil dua pintu itu berwarna hitam dan


reyot, dengan seorang lelaki di dalamnya.
Larsen melihat sekilas ke lelaki di belakang
kemudi—seorang lelaki berperawakan besar
seusianya, dengan rambut hitam yang meng-
herankan untuk lelaki tua seusianya, tanpa topi.
Mobil itu juga melewatinya, dan Larsen keluar
dari persembunyiannya lalu melangkah menuju
ke arah kota. Sayangnya, dia terlambat untuk
melambai ke mobil reyot itu dan mungkin
meminta tumpangan sampai ke halte bis.
Jarak si gadis dengan mobil itu sekarang
hanya kira-kira seratus kaki, hampir membelok
di tikungan. Mobil itu hampir mencapai si gadis.
Dan mendadak berhenti.
Semuanya terjadi dengan sangat cepat dan
Larsen tidak segera menyadari, akibat tidur
siangnya tadi.
Lelaki tua yang mengemudi melompat
keluar, mengatakan sesuatu pada si gadis, dan
si gadis menggelengkan kepala. Lelaki itu
mencengkeram lengan si gadis dan meng-
giringnya masuk ke dalam mobil. Dia melawan
dan berteriak; tetapi lelaki itu membekap
mulutnya dengan satu tangan. Diseretnya si
gadis, lalu dia menyusul masuk ke dalam mobil
dan membanting pintu. Si gadis melompat—
mungkin dia melihat Larsen saat itu, yang
seakan lumpuh karena keterkejutannya—
170 I Miriam Allen Deford

menggapai pintu mobil dan mencoba berteriak.


Lelaki itu memukulnya dua kali, membuatnya
roboh ke lantai mobil. Lalu dia segera menjalan-
kan mobil dan melaju sekencang-kencangnya.
Ketika Larsen, yang masih gemetar, lari menuju
tikungan, mobil dan pengendaranya sudah
hilang dari pandangan. Plat nomer mobil
bahkan tidak diperhatikannya.
Sepanjang jalan di daerah pinggiran
menuju kota, Larsen merenungkan apa yang
harus dia lakukan. Sudah menjadi tugasnya,
dia tahu itu, untuk mencari polisi kota itu dan
melaporkan kejadian yang tadi dilihatnya. Tapi
itu membuatnya harus menjelaskan keberada-
annya disana, memberi nama dan alamat, dan
mengharuskannya datang ke kantor polisi
sebagai saksi yang melihat kejahatan yang
telah terjadi dan mengidentifikasi pelakunya.
Lalu Sims akan tahu alasan ketidakhadirannya
di tempat kerja adalah bohong belaka. Kate juga
akan tahu. Sims mungkin akan memecatnya.
Kate bahkan akan membuat hidupnya lebih
buruk daripada di neraka. Dia bahkan tidak
akan mendapatkan pekerjaan lain, walaupun
nantinya pekerjaan itu sama payahnya dengan
yang dia miliki sekarang, di usianya sekarang.
Dia tidak punya tabungan, dan hutang mereka
adalah setengah barang yang memenuhi
rumah mereka sekarang.
Berjalan Sendirian | 171

John Larsen membayangkan dengan jelas


hal menakutkan apa yang bakal dihadapinya
nanti bila dia berniat melaporkan kejadian itu.
Dia tidak begitu mengerti situasinya. Lelaki
itu mungkin ayahnya. Si gadis mungkin sedang
keluyuran, sebagaimana yang sedang di-
lakukannya, atau mungkin dia telah melanggar
beberapa aturan yang ditetapkan orangtuanya.
Apa yang disaksikannya mungkin hanyalah
hukuman berat tapi syah menurut hukum untuk
kenakalan-kenakalan yang diperbuat anak-
anak.
Lagipula, apa yang bisa dilakukannya? Dia
bahkan tidak bisa mengidentifikasi lelaki itu—
hanya melirik sekilas ketika mobil lelaki itu
melewatinya, tidak akan bisa menunjuk orang
yang tepat bila harus dihadapkan dengan
berbagai macam lelaki setengah baya dengan
rambut hitam tebal. Larsen hanya akan mem-
buat dirinya berada dalam kekacauan tanpa
bisa keluardari sana, dan semua sia-sia belaka.
Dia sampai di kota dengan cepat, tanpa
melihat atau mendengar mobil tadi sekilaspuh;
lagipula mobil seperti itu ada dimana-mana dan
salah satunya mungkin mobil si lelaki. Untuk
menenangkan kesadarannya, dia mencari-cari
polisi di sekitar daerah perkantoran itu, tapi tidak
ada tanda-tanda keberadaan mereka di sekitar.
Tercekat dengan ketidaktentramannya, Larsen
172 | Miriam Allen Deford

ikut masuk ke dalam bis yang baru saja datang,


dan menyadari nanti dia akan tiba di kota terlalu
cepat, kemudian dia ikut sampai separuh jalan,
dan menanti bis berikutnya. Dia sampai di
rumahnya sendiri pada jam yang biasa, dan
Kate belum mempersiapkan makan malam. Dia
duduk dengan marah sambil membaca koran
sore, sementara Kate mengeluh dan meng-
omelinya dari dapur. Mereka tidak pernah
bertanya satu sama lain tentang apa yang
mereka hadapi hari itu; tidak ada sesuatupun
yang akan menarik minat salah satu dari
mereka.
Akhirnya Larsen bisa berpikir jernih ke-
esokan harinya dan mengatakan pada Sims
bahwa dokter yang ditemuinya berkata
penyakitnya hanya encok biasa, dan
istirahatnya seharian kemarin sudah cukup
membuatnya merasa lebih baik. Saat dia
melihat tatapan Sims, Larsen meringis dan
mengusap-usap pinggang belakangnya sering-
sering. Larsen cukup beruntung hari ini karena
berhasil menjual karpet tangga kuno yang
panjang dan sudah berbulan-bulan lalu ingin
mereka singkirkan. Sims menunjukkan
kepuasannya dengan mengucapkan selamat
malam dan berharap encok yang diderita
Larsen cepat sembuh. Bagaimanapun Sims
tidak lupa memotong gajinya karena membolos
sehari penuh. Artinya, Larsen harus tetap
Berjalan Sendirian | 173

bekerja pada jam makan siang minggu depan


tiap hari; dia tidak ingin Kate sampai tahu
gajinya berkurang.
Saat Larsen berhenti untuk membeli koran,
dua hari sesudahnya, ada gambar wajah
seorang gadis terpasang di halaman depan.
Apakah Anda pernah melihat gadis ini? begitu
bunyi kepala beritanya. Larsen segera
mengenali wajah itu. Pakaian yang digambar-
kan di koran sama seperti yang dikenakan si
gadis di foto pada hari itu.
Namanya Diane Morrison, putri kepala
sekolah Belleville Consolidated Junior High
School, tempatnya belajar di tahun pertama.
Biasanya, ayahnya yang mengantar-jemput
putrinya itu. Selasa kemarin Diane menunggu
ayahnya sampai pukul setengah empat, laiu
ayah mengatakan bahwa dia masih sibuk
sampai sejam kemudian; lalu, sebagaimana
yang sering terjadi, si ayah menganjurkan
anaknya pulang dengan berjalan kaki dan
bilang pada ibu bahwa ayah akan pulang
terlambat. Ketika si ayah pulang pukul enam,
anak gadisnya belum muncul. Dia adalah
seorang anak yang bisa diandalkan, yang
selalu menelepon ke rumah bila ingin mampir
kemanapun. Orangtuanya telah menelusuri
semua jalan pulang dari sekolah dan meng-
hubungi semua kawan-kawannya. Tapi tidak
ada seorangpun yang melihat Diane. Dan
174 I Miriam Allen Deford

sejak saat itu Diane tidak terlihat lagi di-


manapun.
Karena ada kemungkinan terjadinya pen-
culikan, FBI diminta menangani kasus tersebut.
FBI, polisi negara bagian dan kepolisian distrik
setempat menyisir hutan dan daerah perbukitan
sekitar Belleville. Sejauh ini mereka sama sekali
tidak menemukan j e j a k atau petunjuk
keberadaannya.
"Demi Tuhan," omel Kate, "Bisakah kau
buka mulutmu selain untuk makan? Tidak ada
satu katapun yang keluar dari mulutmu,
kerjamu hanya melamun terus. Sementara aku
disini, terkurung seharian, dan kau pulang dan
berlagak seolah aku hanya salah satu perabot
rumah atau semacamnya. Kau pikiraku ini—"
Larsen membiarkan istrinya meracau. Dia
mencoba memutuskan, haruskah dia melapor
atau tidak? Apakah laporannya nanti akan
membantu? Mereka mungkin akan mengenali
lelaki itu bila dia menggambarkannya. Tapi
nanti John Larsen berada dimana? Yang pasti
dia akan menghadapi permasalahan hidup
yang paling buruk.
Ditatapnya Kate dan Larsen hampir saja
mengatakan semuanya dan meminta nasihat
istrinya. Tapi kemudian dia mempertimbangkan
kembali, gentar mengingat bagaimana dia akan
menghadapinya nanti. Dan dia bahkan tahu
apa yang akan dinasihatkan istrinya nanti—
Berjalan Sendirian | 175

menjauhlah dari masalah itu dan jangan


membuat kita makin susah sebagaimana yang
kau buat pada kehidupan kita. Biarkan polisi-
polisi itu melakukan tugas mereka—untuk
itulah mereka dibayar.
Sejak saat itu Larsen mulai rajin membeli
koran terbitan pagi dan sore, memaksakan diri,
disertai rasa takut yang menjalar dingin di perut,
untuk mencari berita tentang kejadian itu.
Seminggu berlalu sudah, dan dibawah
tumpukan kerikil di sebuah pertambangan tua,
mereka menemukan mayat si gadis. Tulang
tengkoraknya retak di tiga tempat akibat
pukulan benda berat serupa linggis. Tubuh itu
penuh luka dan memar, dan si gadis itu juga
disinyalir telah mengalami perundungan
seksuai. Di tangan kanannya tergenggam
selembar sapu tangan lelaki, bermotif kotak-
kotak warna merah dan putih.
John Larsen terjaga sepanjang malam,
sementara Katie tertidur lelap dengan nafas
berat dan teratur di sebelahnya. Ketika di-
lihatnya jendela telah berubah warna menjadi
abu-abu karena sinar matahari yang malu-
maiu, Larsen memutuskan untuk membiarkan
masalah itu berialu beberapa lama. Dia ingat
beberapa cerita kriminal yang pernah di-
bacanya. Mungkin ada serpihan kulit di bawah
kuku si gadis dan lembaran-lembaran benang
dan rambut di pakaian korban yang ditemukan
176 | Miriam Allen Deford

penyelidik forensik hanya dalam hitungan


menit, dan mereka akan melacak mobil-mobil
yang dicurigai dan mencari sidik jari disana. Di
desa kecil seperti Belleville mereka akan
menemukan lelaki berambut gelap itu dengan
cepat, kecuali jika si lelaki adalah orang asing
yang berasal dari tempat lain.
Dan Larsen mungkin satu-satunya saksi
mata yang menyaksikan penculikan itu. Kalau
saja dia tidak berada disana—tetap saja mereka
harus menyelidikinya sebagaimana yang telah
mereka lakukan sampai detik ini. Dia mem-
bayangkan dirinya mencoba menjelaskan
semuanya pada petugas FBI yang meragukan
keterangan Larsen mengenai apa yang sedang
dilakukannya di jalanan dekat Belleville
sementara dia seharusnya bekerja di kota.
Ketika Larsen mempertimbangkan kembali
semuanya, gagasannya membolos kerja se-
harian sepertinya amat sangat mengherankan
dan kekanak-kanakan. Tidak ada seorangpun
yang akan mengerti; mereka pasti mengira dia
bohong. Mereka pasti mengira dia hanya
mengarang-ngarang cerita untuk melindungi
dirinya sendiri. Mereka mungkin akan me-
nuduhnya melakukan pembunuhan tingkat
tiga. Saat terbaring di tempat tidur, Larsen
sedang mempertimbangkan nasibnya. Dan
hidupnya akan hancur. Satu-satunya yang bisa
dia lakukan adalah berpura-pura kejadian itu
Berjalan Sendirian | 177

tidak pernah ada. Lagipula mereka akan segera


menemukan si lelaki itu—mereka selalu bisa
menemukannya. Dan ketika itu terjadi, Larsen
akan merasa lega karena dia masih punya nyali
untuk membiarkan semua itu berlalu.
Dan, ketika tiga hari kemudian dia mem-
baca kepala berita Tersangka Pembunuhan
Morisson Tertangkap, Larsen merasa luar
biasa lega dan membuat matanya berkaca-
kaca. Sambil berdiri dalam bis, Larsen mem-
baca berita itu dengan cermat.
Yang ditangkap adalah asisten penjaga
sekolah. Namanya Joseph Kennelly. Dari awal
dia memang sudah dicurigai, begitu menurut
berita yang dimuat. Tentu saja, dia kenal gadis
itu sambil lalu. Joe tidak menikah, dan tinggal
sendiri di sebuah gubuk dua kamar dekat
pertambangan tempat mayat si gadis di-
temukan. Dia juga memiliki catatan kejahatan—
tidak termasuk kejahatan seksual, tapi dia
sering sekali ditangkap akibat pelanggaran dan
menyetir sambil mabuk. Joe juga menghabis-
kan sebagian besar masa remajanya di tempat
penampungan anak-anak terbelakang.
Teori yang diajukan polisi adalah; Joe
melihat si gadis pulang terlambat saat dia
sudah selesai bertugas. Tidak diragukan lagi,
Joe sangat tertarik pada si gadis; sekarang
ketika semuanya sudah terlambat, teman-
teman sekolah Diane sering melihat Joe
178 | Miriam Allen Deford

melontarkan lelucon vulgar tentang rambut


keemasan dan perawakan Diane yang sedang
mekar. Joe adalah karyawan yang seram-
pangan, dengan kelakuan yang sering men-
jengkelkan kepala sekolah dan sering kepergok
minum ketika sedang bekerja. Mr. Morisson
sudah mengancam akan memecatnya. Dan
motif kejahatan itu jelaslah sudah—balas
dendam dan nafsu.
Saputangan itu memang miliknya—yang
dibuktikan dengan tanda penatu. Lagipula, ada
bekas luka dalam di rahang kirinya, kemung-
kinan sudah berumur satu atau dua minggu.
Joe menyangkal semuanya dengan marah,
tentu. Dia sudah pulang sambil mengendarai
mobilnya seperti biasa, dan sama sekali tidak
meninggalkan gubuknya sampai dia pergi
bekerja keesokan harinya. Dia bahkan tidak
pernah bertemu Diane—atau orang lain.
Sebuah botol wiski yang hampir kosong di-
temukan di lemari sapu, dan menurut Kennelly
dia memang agak mabuk ketika dia pulang. Di
rumah dia kembali minum, tertidur kira-kira
pukul sepuluh malam, dan tidak bangun-
bangun lagi sampai fajar menjelang. Tidak ada
orang yang melihatnya saat itu, di sekolah
maupun di tempat lain, antara hari Selasa jam
empat sore sampai Rabu pagi jam sembilan.
Mengenai saputangannya, dia mengakui
saputangan itu memang miliknya yang sudah
Berjalan Sendirian | 179

lama hilang, berminggu-minggu sebelumnya,


entah dimana. Pasti si pembunuh itu yang
menemukannya. Bekas luka di pipi? Keesokan
paginya setelah bermabuk-mabukan tangan-
nya gemetar dan dia melukai dirinya sendiri
saat sedang bercukur.
Sejauh ini baik-baik saja: John Larsen
membaca berita itu dengan penuh rasa syukur
karena telah membiarkan semua berjalan apa
adanya. Tapi kemudian hatinya melonjak bagai
peluru meriam demi membaca berita selanjut-
nya.
Joseph Kennelly berusia dua puluh enam
tahun. Gambar yang tercetak di koran me-
nunjukkan seorang lelaki muda tinggi dan kurus
dengan rambut sedikit terang dan agak botak
di sekitar pelipis. Dan mobilnya adalah sedan
biru gelap.
Larsen sampai di rumah, berjalan bagai
robot dari halte bis. Dilemparnya koran dan topi
ke kursi terdekat, pergi ke kamar mandi, dan
mengunci diri disana: satu-satunya kamar
tempat dia bisa merenung sendirian di rumah.
"Kaukah itu, John?" panggil Kate; dan ketika
dia melihat kemana suaminya itu pergi dia
berjalan kembali ke dapur. Makan malam baru
saja dimasak, seperti biasa; John sering heran,
apa saja sih yang dilakukan istrinya sepanjang
hari. Mungkin melekat di kursi tepat di depan
180 I Miriam Allen Deford

televisi, sebagaimana dulu dia melekat di kursi


dekat radio.
Sambil meringkuk di dudukan toilet, Larsen
bergumul dengan kesadarannya. Tiada guna-
nya dia yakinkan diri sendiri bahwa apa yang
diketahuinya bukan suatu hal yang penting. Dia
telah melihat Diane Morisson diculik, melihat
pelakunya, dan itu bukan Joseph Kennelly. Dia
tidak bisa menelepon dari rumah—Kate akan
berada di dekat lehernya, menguping. Dia
harus mencoba mencari alasan untuk bisa
menelepon dari luar. Dia bermain-main kembali
dengan gagasannya untuk menceritakan
semuanya pada Kate. Tidak, hal itu sama sekali
tidak bisa diharapkan; dia kenal betui siapa
Kate.
Kenop pintu diputar-putar dari luar.
"Ya ampun," ujarnya dari balik pintu,
"kenapa kau kunci pintunya? Apa kau sakit atau
apa?"
"Aku baik-baik saja," sahut John ber-
gumam, kemudian memutar kunci.
"Aku tidak pernah melihat lelaki sepertimu!
Tidak ada satu katapun keluar dari mulutmu
saat kau pulang—mungkin kau tidak merasa
punya istri. Aku hanya pembantu disini, yang
memasak makanan dan merawatmu. Kau
mengunci diri di sana, seakan-akan aku ini
orang asing. Aku terkurung disini, bekerja keras
seharian—"
Berjalan Sendirian | 181

"Kau mau aku bicara apa? Aku lelah."


"Kau pikir aku tidak?"
"Sudah, kita tidak usah bertengkar lagi,
Kate," ujar John lelah. Sebuah gagasan muncul
di benaknya. "Kepalaku sakit sekali. Kalau
makan malam belum siap, kurasa aku akan
pergi ke apotik dan membeli obat."
"Makan dulu," jawabnya, berusaha ber-
damai. "Kau akan merasa lebih baik sesudah
m a k a n . " Dia berusaha keras mendapat
jawaban bernada ramah dari John, dan itu
terlihat jelas di wajahnya. "Aku baru saja
membaca-baca berita yang ada di koran. Ya
ampun, anak itu kasihan sekali ya? Aku senang
mereka berhasil menangkap pelakunya.
Orang-orang seperti itu harusnya diceburkan
dan digoreng dalam minyak panas."
"Bagaimana kau tahu kalau dia memang
pelakunya?" Larsen tidak bisa menahan diri
untuk tidak bertanya.
Saat itu juga Kate menjadi panas.
"Well, sekarang kau jadi lebih tahu dari para
polisi itu ya, Tuan Pintar? Bila dia bukan pelaku-
nya, mengapa mereka menangkapnya? Mereka
tidak akan menangkapnya sampai mereka
mendapatkan barang-barang milik korban
padanya—dan semua orang juga tahu itu."
"Mungkin juga," sahutnya lemah, dan
Larsen segera mengatur meja makan sebelum
Kate menyuruhnya.
182 | Miriam Allen Deford

Kepalanya memang sakit, dan itu bukan


hal yang aneh. Ucapan-ucapan Kate mem-
buatnya berpikir kembali. Kate salah: mereka
memang menangkap orang yang tidak
bersalah. Dengan kesadaran itu, mereka tidak
bisa menjatuhkan vonis padanya. Pikirannya
terbang ke laboratorium polisi yang pernah dia
baca di cerita misteri. Rambut dan serat yang
ada di pakaian si gadis itu mungkin saja milik
orang lain, seorang lelaki setengah baya yang
tegap dengan rambut gelap dan t e b a l ,
siapapun dia. Tidak diragukan lagi, ada banyak
temuan ilmiah lain yang tidak diketahui Larsen,
dan temuan-temuan itu akan meringankan
tuduhan terhadap Kennelly. Penjaga sekolah
itu mungkin akan didakwa oleh juri yang agung
berdasarkan apa yang mereka temukan—asal
Larsen tidak muncul di pengadilan. Mereka
sungguh-sungguh yakin bahwa mereka
akhirnya menangkap pelakunya.
Dan bila John Larsen tidak menjulurkan
leher kemana-mana, maka kehancuran yang
tidak pernah usai tidak akan dialaminya.
Dia tidak keluar rumah untuk menelepon.
Para juri akhirnya memang mendakwa
Kennelly, dan dia ditahan tanpa uang jaminan
di penjara setempat. Larsen sering sekali
memikirkan Kennelly, meskipun pengaruh jahat
kejadian itu telah terasa samar dalam dirinya,
sedikit demi sedikit. Benar-benar nasib buruk
Berjalan Sendirian | 183

untuk Kennelly, dipenjara selama itu untuk


sesuatu yang tidak dilakukannya. Tapi dilihat
dari sudut manapun, lelaki itu memang tidak
berguna, dan bila dia ditakut-takuti dengan
baik, mungkin dia akan menjadi lurus. Saat ini
mungkin mereka sadar mereka tidak punya
bukti yang cukup untuk membawa Kennelly ke
meja hijau, atau akan muncul sesuatu yang
akan menunjukkan pada mereka siapa pelaku
kejahatan itu sebenarnya—meskipun Larsen
sadar mereka tidak akan mencari tertuduh lain
dengan sekuat tenaga ketika mereka pikir
mereka telah mendapatkan tertuduh yang
sebenarnya.
Kennelly dibela seorang pengacara yang
hebat—dari seorang paman kaya yang muncul
entah dari mana dan membayarsemua keper-
luannya. Lawrence Prather, nama si pengacara.
Dia membela beberapa kasus pembunuhan di
beberapa daerah dan hampirselalu meloloskan
kliennya dari dakwaan. Kennelly yakin dirinya
akan dibebaskan, jika dia diadili.
Tanggal pengadilan ditetapkan.
Larsen menenangkan dirinya sendiri, jika
nanti ada sedikit saja keraguan tentang pem-
bebasannya maka dia akan mengorbankan diri
dan menemui Prather dengan ceritanya. Tapi
tidak ada keraguan sedikitpun saat pengadilan
berlangsung. Larsen mendengar orang-orang
membicarakan kasus itu di toko, juga di bis;
184 | Miriam Allen Deford

semua orang sangat tertarik mengikuti berita


itu. Semua orang mengira Kennelly akan
bebas, bukan berarti mereka menganggap
Kennelly tidak bersalah. Beberapa orang
memandang sinis pada peradilan: mereka
menganggap orang tidak bisa didakwa hanya
karena bukti atau tuduhan semata.
Kadangkala, dengan gemetar, John Larsen
membayangkan dirinya sedang diwawancara
pengacara pembela. Keberadaannya tidak
berguna, meskipun dia datang ke pengacara
itu, jika Larsen tidak mau menjadi saksi mata.
Dan dia bisa mendengar suara jaksa penuntut
yang mengadakan pemeriksaan silang ter-
hadapnya di pengadilan.
"Ceritakan bagaimana Anda sampai berada
di tempat yang tidak wajar dan di waktu yang
juga tidak wajar itu, Mr. Larsen?"
Tidak akan ada seorangpun yang mem-
belanya: hanya ada kata-katanya yang ber-
tentangan dengan ucapan semua orang. Jaksa
penuntut mungkin akan membuat dirinya
menjadi salah satu kaki-tangan Kennelly, atau
menuduhnya menerima suap demi umpan ini:
bahwa Larsen mengarang semua hal yang
dikatakannya. Mereka bahkan akan men-
curigai, atau berpura-pura curiga, tentang
ceritanya yang tidak melindungi Kennelly tetapi
melindungi dirinya sendiri. Orang-orang yang
Berjalan Sendirian | 185

ada di tempat makan siang akan mengenali


wajahnya; dia ada Belleville sore itu. Namanya
akan segera dibersihkan, memang, tetapi
dengan begitu banyak perhatian yang tertuju
padanya saat itu, orang akan memandangnya
dengan tatapan lain saat dia keluar dari sana.
Larsen menjauh dari kantor Prather.
Pengadilan Kennelly dimulai bulan Oktober.
Larsen benar-benar tidak bisa pergi; dia
harus bekerja. Tetapi dia mengikuti berita
tersebut dari koran-koran, kata demi kata. Dia
tidak bisa mengalihkan pikirannya ke hal lain.
Sims memergokinya membicarakan kasus itu
pada salah satu pelanggan, dan marah karena-
nya. "Kita ingin orang-orang bicara tentang
karpet disini, bukan pembunuhan," ujarnya.
"Jika kau tidak bisa bekerja dengan benar,
Larsen—" Larsen segera minta maaf dan lebih
berhati-hati.
Dia terpana dan takut akan antusiasme
masyarakat. Perlu waktu hampir seminggu
hanya untuk mendapatkan juri. Kennelly
disoraki dan diteriaki saat dibawa ke dan dari
ruang sidang. Pembunuh dan penyiksaan
seksual terhadap seorang gadis kecil adalah
kejahatan terburuk yang bisa dibayangkan, dan
masyarakat ingin ada orang yang diganjar
untuk kejahatan ini. Larsen menggigil saat
berpikir untuk memberanikan diri mencabut
186 | Miriam Allen Deford

mangsa dari mulut mereka. Menyatakan


bahwa dia percaya Joseph Kennelly mungkin
tidak bersalah hanya akan membuatnya tidak
aman.
Saat pengadilan berlangsung, Larsen mulai
mengalami mimpi buruk. Dia tidak nafsu makan
dan bobotnya terus turun. Kate bahkan
menyadari keadaannya dan terus saja me-
rongrong suaminya dengan berbagai macam
pertanyaan. Sebagaimana orang-orang di
sekitarnya, Kate juga rajin mengikuti berita
tentang kasus tersebut di koran-koran, dan tiap
malam dia sangat ingin membicarakannya. Dia
tahu Kennelly memang bersalah, dan kursi
listrik terlalu bagus untuknya. Dan jika dia
sampai bebas, dia hams dirajam sampai mati.
"Diam!" teriak suaminya.
"Sepertinya kau prihatin padanya ya?"
sahutnya. "Mungkin kau berharap untuk dapat
melakukan sesuatu seperti yang dilakukannya
dan pergi begitu saja!"
Larsen masuk ke kamar mandi demi meng-
hindari istrinya yang selalu menuntut jawaban.
Selama pengadilan berlangsung, dia me-
nunggu sia-sia akan adanya rambut atau serat
kain yang akan disebut-sebut sebagai bukti:
kelihatannya tidak ada apapun yang ditemukan,
atau mungkin keberadaannya diacuhkan
karena bukti-bukti tersebut tidak menunjukkan
bahwa Kennelly memang tidak bersalah. Tidak
Berjaian Sendirian | 187

ada seorangpun yang menyebut-nyebut


adanya noda darah atau sidik jari dalam
mobil—mungkin dengan alasan yang sama.
Seorang saksi ahli mengatakan ada serpihan
kerikil yang ditemukan dalam sepatu terdakwa
yang memang berasal dari pertambangan itu,
tapi Kennelly sering mengunjungi tempat itu
karena dekat dengan gubuknya. Dan tidak ada
saksi mata yang membuktikan alibi Kennelly,
atau menyangkalnya. Teman-teman sekolah
Diane hanya bisa menyatakan kebiasaan
Kennelly secara samar. Larsen merasa beban-
nya mulai berkurang.
Tapi pembelaan itu ternyata lebih dari
sekedarformalitas. Hanya Kennelly sendirilah
saksinya, dan dia adalah saksi yang buruk,
bahkan bagi dirinya sendiri—dia mengaku
mabuk di saat-saat yang m e n e n t u k a n .
Pengacaranya tidak berusaha untuk me-
nyatakan ketidakwarasan Kennelly sebagai-
mana yang diharapkan Larsen. Prather
menyampaikan pidato penutup yang kuat,
merujuk pada kurangnya bukti dan menyatakan
tidak adanya kesaksian apapun yang bisa
sungguh-sungguh menjerat kliennya dan
mendakwanya bersalah.
Tetapi Jaksa Penuntut Holcombe me-
maparkan semua hal yang menyangkut si
penjaga sekolah—mencela, mengungkap
catatan kejahatannya yang panjang, dan
188 | Miriam Allen Deford

memanggilnya "mahluk berbentuk manusia,


dengan sifat kebinatangan yang kejam jahat".
Yang paling celaka dari semua itu adalah
saputangan. "Aku sama sekali tidak percaya
dengan kebetulan-kebetulan seperti itu," ujar
Holocombe sarkastis. "Kuberitahu apa saja
yang aku percaya—aku percaya si gadis
malang itu menarik keluar saputangan itu dari
saku Kennelly sendiri saat dia berusaha untuk
melawan dan berjuang demi keselamatan dan
kehormatannya. Dan aku percaya gadis
malang itu melukai wajah Kennelly dalam
perjuangannya yang tanpa daya, hanya untuk
melarikan diri dari monster yang menyerang-
nya."
Orang-orang yang menonton di ruang
sidang bertepuk tangan, dan mereka tidak
berhenti sampai Hakim mengancam untuk
mengusir mereka.
Di depan juri, Hakim Stith berusaha netral,
tapi para juri sendiri bisa menilai di pihak siapa
Hakim itu berdiri. Mereka juga berpihak pada
orang yang sama; masih jelas dalam ingatan
mereka foto-foto si malang Diane kecil yang
sudah jadi mayat. Beberapa orang diantara juri
tersebut juga memiliki putri. Harus ada sese-
orang yang dihukum untuk kejahatan brutal ini.
Akhirnya mereka memutuskan terdakwa
bersalah atas kedua tuduhan: penculikan dan
pembunuhan. Pemungutan suara hanya di-
Berjalan Sendirian | 189

adakan tiga kali—begitu menurut pegawai


pengadilan pada wartawan setelah sidang
selesai—untuk mengembalikan akal sehat
beberapa juri yang sentimentil dan konyol yang
menyatakan keraguan beralasan.
Tetapi Hakim tidak boleh menjatuhkan
hukuman mati, pikir Larsen panik. Dia tidak bisa
berbuat begitu, hanya dengan kesaksian tidak
langsung. Paling berat, orang itu hanya akan
diberi hukuman seumur hidup, dan itu artinya
dia akan bebas bersyarat suatu hari nanti. Hal
itu tidak akan begitu menyakitkan bagi kennelly,
juga tidak akan membuatnya menjadi lebih
baik.
Hakim memutuskan untuk menghukum
Kennelly di kursi listrik. Dia juga punya seorang
putri di rumah.
Tapi 'kan selalu ada permohonan naik
banding, pikir Larsen putus asa. Dan per-
mohonan itu akan dikabulkan. Kennelly akan
bersidang lagi, dan nanti kebenaran akan
muncul ke permukaan.
"Demi Tuhan, berhentilah mondar-mandir
begitu!" ujar Kate dengan nada marah untuk
kesekian kalinya sore itu. "Ada apa denganmu
akhir-akhir ini? Dan kau terlalu banyak
merokok, John. Aku tidak suka itu—kau meng-
habiskan terlalu banyak uang untuk rokok!"
Permohonan naik banding ditolak.
190 | Miriam Allen Deford

Jaksa penuntut menyatakan kegembiraan-


nya pada wartawan. "Kematian terlalu bagus
bagi manusia ular seperti Kennelly," ujarnya.
Prather tidak membawa persidangan itu ke
Pengadilan Negara Tertinggi. "Tidak ada
alasan,"jelasnya.
Tapi masih ada alasan-alasan lain. Dan
Larsen akan menyediakannya.
Dua kali Larsen mencoba menghubungi
nomertelepon Prather. Tapi kemudian dia sadar
apa yang akan setelah itu. Lalu dia meletakkan
kembali gagang telepon ke tempatnya. Tunggu
dan lihat sajalah, ujarnya pada diri sendiri. Hal-
hal seperti ini akan makan waktu bertahun-
t a h u n , itu berarti tahun demi tahun
penangguhan hukuman.
"Dan mengapa Anda menunda-nunda
terlalu lama untuk memberi informasi ini, Mr.
Larsen?" tanya pengacara pembela di dalam
kepala Larsen sendiri.
Tidak ada guna mengorbankan diri demi
mendapatkan pengampunan bagi Kennelly,
memohon mereka untuk mengikuti beberapa
petunjuk tanpa keterlibatan John Larsen sama
sekali. Tanpa kesaksiannya, semua bukti-bukti
baru sama sekali tidak berarti. Lagipula,
sekarang ini semuanya sudah tidak ada artinya
lagi. Ketika pertama kali Kennelly ditahan—atau
sebelumnya—mungkin apa yang diketahui
Larsen akan sangat berguna. Sekarang dia
Berjalan Sendirian | 191

hanya akan melibatkan diri dalam peluang tipis


untuk menyelamatkan Kennelly, begitu Larsen
berkata, terus dan terus, pada diri sendiri.
Kalau saja ada seseorang—seorang saja
di dunia ini—untuk bisa diceritakan tentang
peristiwa itu, yang akan memberinya nasihat,
melindunginya, dan membuat segalanya
berakhir dengan baik!
Kennelly berada dalam tahanan khusus
bagi terhukum mati di penjara negara bagian.
Tanggal eksekusinya sudah ditetapkan tiga
bulan lagi.
Dua bulan berlalu.
Akhirnya hanya tinggal sebulan.
Prather membawa paman Kennelly, satu-
satunya keluarga yang dimiliki lelaki itu,
menghadap gubernur. Sementara Gubemur
sedang berkampanye kembali mencalonkan
diri bulan November nanti. Dan dia tidak ingin
ada penangguhan hukuman seorang lelaki
yang didakwa atas pembunuhan seksual
seorang gadis kecil.
Waktu berlalu. Eksekusi itu berlangsung
seminggu lagi.
Kemudian dua hari lagi.
Bobot John Larsen berkurang dua puluh
kilogram. Dia takut tidur; karena dia pernah
berteriak dalam tidurnya dan membangunkan
Kate. Dia bahkan tidak pernah memperhatikan
omelan istrinya lagi.
192 | Miriam Allen Deford

"Kalau kau sakit, pergilah ke dokter."


"Aku tidak sakit."
"Kau pikir aku bodoh? Kau menyimpan
sesuatu, John. Apa yang telah kau lakukan,
John?" Kate mencoba beberapa kemungkinan.
"John, beritahu aku!" Tiba-tiba istrinya menangis
terisak-isak. "Aku tahu ada apa ini sebenarnya,
dan aku tidak akan bertahan menghadapinya.
Kau berhubungan dengan perempuan lain! Bila
selama dua puluh tujuh tahun pernikahan ini
kau pikir aku akan membiarkanmu—"
Larsen tertawa. Dan tawa yang keluar
bukanlah suara yang enak didengar.
Beberapa rencana gila memenuhi benak-
nya. Dia akan pergi ke Belleville, dia akan ber-
buru sampai dia menemukan lelaki berambut
gelap itu dan akan memaksa pembunuh itu
mengaku.
Semuanya hanya omong kosong.

Penangguhan pada menit-menit terakhir


ditiadakan. Dalam hati Larsen juga berharap
hal itu tidak ada. Kennelly menduduki kursi
tepat sesuai jadwal, berteriak-teriak dirinya tidak
bersalah dengan sisa nafas yang masih dia
miliki.
Membaca cerita menyedihkan itu seluruh-
nya dari koran, akhimya John Larsen ber-
hadapan dengan kebenaran yang sesungguh-
nya.
Berjalan Sendirian | 193

Mungkin dia tidak bisa mencegah


terjadinya pembunuhan terhadap gadis itu—
meskipun dia mungkin bisa melakukannya jika
dia bertindak cepat saat itu juga. Tapi apa yang
dilakukannya sudah cukup.
Dia telah mengakhiri hidup seorang lelaki
yang tidak bersalah, hanya demi mempertahan-
kan pekerjaan yang menjijikkan dan istri yang
dia benci. Dia, John Larsen, telah membunuh
seorang lelaki yang tidak dikenalnya, sebagai-
mana lelaki tak dikenal itu membunuh Diane
Morisson.
Dia adalah pembunuh, dan pembunuh
harus mati. Tapi dia tidak punya cukup
keberanian untuk menyelamatkan Kennelly,
dan dia juga tidak punya nyali sedikitpun untuk
mati. Yang dapat dilakukannya hanya bertahan,
sampai batas kemampuannya.
Melihat raut wajah suaminya petang itu,
omelan Kate tertahan sampai di bibir. John
memunguti makan malam di piringnya dalam
kebisuan. Setelah itu dia segera tidur. Dalam
tidur panjangnya yang tanpa mimpi, Larsen
bagai binatang yang letih.
Keesokan paginya Larsen sedang me-
nunjukkan sebuah karpet pada seorang
pelanggan. Tiba-tiba dia menjatuhkan karpet
itu dan berdiri dengan tegang.
Dan dia berteriak-teriak: "Aku melakukan-
nya! Aku melakukannya!"
194 | Miriam Allen Deford

Perlu dua orang lelaki untuk menenangkan-


nya sampai ambulan datang...

Dan di dekat Belleville, seorang lelaki


dengan rambut hitam kelam, 'tokoh' yang tidak
berbahaya yang dikenal setiap orang tapi tidak
diperhatikan siapapun, menyusuri jalan sepi di
desa itu dengan mobil tuanya yang berwarna
hitam, dan matanya mencari-cari seorang gadis
cantik yang sedang berjalan sendirian.[]
HUKUMAN UNTUK
ORANG-ORANG KASAR
Jack Ritchie

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

"Berapa usiamu?" tanyaku!


Matanya mengarah ke pistol yang sedang
kupegang. "Begini, Mister, uang dalam mesin
kasir ini memang tidak terlalu banyak, tapi
ambillah s e m u a n y a . Aku tidak akan
menyusahkanmu."
"Aku tidak tertarik dengan uang kotormu itu.
Berapa usiamu?"
Dia terkejut. "Empat puluh dua."
Aku mendecakkah lidah. "Sayang sekali.
Setidaknya—menurutmu. Kau mungkin bisa
hidup dua sampai tiga puluh tahun lagi kalau
saja kau bisa sedikit bersusah payah untuk
berlaku sopan."
Dia tidak mengerti.
"Aku akan membunuhmu," kataku, "untuk
sebuah perangko seharga empat sen dan
sekantung permen cherry."
Dia tidak mengerti sedikitpun tentang
permen cherry, tapi dia tau apa yang kumaksud
dengan perangko.
196 | Jack Ritchie

Kepanikan mulai menjalar di wajahnya.


"Kau pasti gila. Kau tidak bisa membunuhku
hanya karena itu."
"Tapi buktinya aku bisa."
Dan memang kulakukan.

Ketika dokter Biller mengatakan bahwa aku


hanya punya sisa waktu empat bulan sebelum
mati, tentu saja aku merasa gelisah. "Apakah
Anda yakin hasil X-ray saya tidak tertukar
dengan orang lain? Saya pernah mendengar
ada peristiwa semacam itu."
"Sayangnya tidak, Mr. Turner."
Aku menyatakan apa yang ada di benakku
dengan lebih bersungguh-sungguh. "Laporan
laboratorium itu. Mungkin secara tidak sengaja
petugasnya menempelkan nama saya pada
kertas yang salah..."
Perlahan dia menggelengkan kepalanya.
"Saya sudah memeriksanya dua kali. Saya
selalu melakukannya dalam kasus-kasus
seperti ini. Keamanan praktek medis, seperti
biasa."
Saat itu sore hampir beranjak petang, dan
sudah waktunya matahari lelah. Aku sedikit
berharap ketika sudah saatnya jiwaku beranjak
dari raga, maka saat itu adalah pagi hari. Agak
lebih cerah kelihatannya.
"Dalam kasus-kasus seperti ini," lanjut
dokter Biller, "seorang dokter menghadapi
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 197

sebuah dilema besar. Haruskah dia mengata-


kan yang sesungguhnya pada si pasien? Saya
selalu berterus terang pada semua pasien saya.
Itu akan memudahkan mereka mengurus
semuanya dan mencoba-coba alternatif
penyembuhan lainnya." Dia menarik sebuah
buku catatan. "Saya juga sedang menulis
sebuah buku. Apa yang akan Anda lakukan
dengan sisa waktu yang Anda miliki?"
"Saya sungguh-sungguh tidak tahu. Saya
baru saja memikirkannya satu-dua menit yang
lalu."
"Tentu saja," jawab Briller. "Tidak usah buru-
buru. Tapi ketika Anda sudah memutuskannya,
Anda akan memberitahukannya pada saya,
bukan? Buku saya berisi tentang hal-hal yang
akan dilakukan orang-orang dengan sisa waktu
mereka saat mereka sadar usia mereka hanya
sebentar lagi."
Buku catatannya disingkirkan. "Datanglah
tiap dua atau tiga minggu sekali. Dengan cara
itu kita akan lihat bagaimana perkembangan
kemunduran kesehatan Anda."
Briller mengiringiku ke pintu. "Saya sudah
menulis sekitar dua puluh dua kasus seperti
Anda." Matanya menerawang ke masa depan.
"Anda tahu, ini bisa jadi buku laris."

Hidupku selalu saja membosankan. Bukan-


nya tidak bermakna, cuma membosankan.
198 | Jack Ritchie

Aku merasa tidak menyumbangkan apapun


di dunia ini—dan aku memiliki banyak
kesamaan yang terdapat pada hampir setiap
orang—tetapi di sisi lain aku juga tidak
mengambil apapun. Singkatnya, aku hanya
minta untuk tidak diganggu. Hidup ini sudah
cukup susah tanpa harus bersosialisasi dengan
masyarakat yang tidak pernah ada habisnya.
Apa yang dapat dilakukan seseorang
dengan sisa waktu hidup empat bulan yang
membosankan?
Aku tidak tahu sudah seberapa jauh aku
berjalan dan berpikirtentang hal itu, sampai aku
tiba di sebuah jembatan panjang yang me-
lengkung turun ke sebuah lapangan di pinggir
danau. Suara musik mekanis meruyak masuk
ke dalam benakku dan aku melihat ke bawah.
Sirkus, atau mungkin pasar malam, adalah
apa yang kulihat.
Disana adalah dunia keajaiban yang lusuh,
tempat benda-benda berkilat dianggap emas,
tempat pemimpin pertunjukan dengan topi
tinggi dianggap seorang pria sejati, sama
sejatinya dengan medali yang tersemat di
dadanya. Tempat para wanita yang terbalut
gaun merah muda di atas punggung-punggung
kuda berwajah tegang dengan mata memicing.
Disanalah tempat para penjual-penjual ber-
suara kasar, dengan kembalian yang sering
kurang.
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 199

Aku selalu merasa kematian sebuah sirkus


besar mungkin dianggap sebagai salah satu
kemajuan budaya pada abad ke duapuluh,
tetapi aku terus saja berjalan menuruni
jembatan itu dan dalam beberapa menit aku
sudah berada di tengah jajaran kios-kios
dimana mutasi manusia dieksploitasi dan
dipamerkan sebagai hiburan anak-anak.
Tanpa sadar aku sampai ke sebuah kubah
besar dan memandang pemeriksa tiket yang
bosan dalam kotaknya di sebelah pintu masuk
utama yang beberapa tangga lebih tinggi.
Seorang bapak dengan wajah menyenang-
kan menggiring dua gadis kecil mendekati
sebuah pos dan mengangsurkan beberapa
kartu segiempat yang kelihatannya seperti tiket.
Si pemeriksa tiket menelusuri daftar di
hadapannya dengan jari. Matanya menegang
dan dia membentak si bapak dan anak-anak
kecil itu beberapa saat. Kemudian pelan-pelan
dan dengan sengaja dia merobek-robek kartu
itu menjadi sobekan-sobekan kecil dan men-
jatuhkannya ke lantai. "Ini sudah tidak bisa
dipakai lagi," katanya.
Wajah si bapak memerah. "Saya tidak
mengerti."
"Kau tidak menjaga poster sirkus tetap di
tempatnya," bentak si pemeriksa tiket. "Pergi
sana, sampah!"
200 | Jack Ritchie

Anak-anak itu menengadah memandang


ayah mereka, keheranan membayang di wajah
mereka. Apa yang akan dilakukan Ayah?
Bapak itu hanya berdiri dengan wajah pucat
menahan a m a r a h . Sepertinya dia ingin
mengatakan sesuatu, tetapi kemudian dia me-
natap kedua gadis kecilnya. Matanya mengatup
sebentar, mengendalikan a m a r a h n y a .
Kemudian dia berkata, "Mari, Nak. Kita pulang."
Dia kembali menggiring dua gadis kecil itu
pergi, terus ke jalan, dan kedua bocah itu
menoleh ke belakang, heran, tapi mereka tidak
mengatakan apapun.
Aku mendekati si pemeriksa tiket.
"Mengapa kau lakukan itu?"
Dia memandangku dari tempatnya yang
agak tinggi. "Apa urusannya denganmu?"
"Banyak, mungkin."
Dengan marah dia meneliti wajahku.
"Karena dia tidak menjaga poster yang kami
tempelkan itu di tempatnya."
"Aku sudah mendengarnya tadi. Jelaskan
padaku."
Dia menarik nafas seakan-akan dia harus
bayar hanya untuk menjelaskan hal itu. "Anak
buah kami menyusuri kota dua minggu lebih
duiu. Mereka menempelkan poster berisi iklan
pertunjukan ini dimanapun sebisa mereka—
toko kelontong, toko sepatu, toko daging—
tempat manapun yang mau memajang poster-
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 201

poster itu di jendela dan menjaganya tetap


melekat disana sampai sirkus ini datang kemari.
Anak buah kami akan memberikan dua atau
tiga tiket gratis sebagai ganti penempelan
poster. Tetapi beberapa pelawak ini tidak tahu
kalau kami memeriksa poster-poster tersebut.
Bila poster itu sudah tidak ada di tempatnya
saat sirkus datang ke kota maka tiket-tiket yang
kami berikan sudah tidak berlaku lagi."
"Begitu," ujarnya kering. "Jadi kau merobek
tiket-tiket itu di hadapan mereka dan anak-anak
mereka. Memang terbukti orang itu menurun-
kan poster dari jendela toko mungilnya terlalu
cepat. Atau mungkin orang-orang yang me-
nurunkan poster itu dari jendela mereka
memberikan tiket itu padanya."
"Apa bedanya? Tiket-tiket itu tetap tidak
berlaku."
"Mungkin menurutmu tidak ada bedanya.
Tapi sadarkah apa yang telah kau lakukan?"
Matanya menyipit, mencoba mengira-ngira
kemampuan dan kekuatanku.
"Kau telah melakukan salah satu kejahatan
terbesar dalam bersikap terhadap sesama
manusia," ujarku datar. "Kau mempermalukan
seorang ayah dihadapan anak-anaknya. Kau
telah menorehkan luka dalam diri anak-
anaknya dan luka itu akan tetap tinggal seumur
hidup mereka. Dia akan pulang bersama anak-
anaknya, dan perjalanan itu akan sangat
202 | Jack Ritchie

panjang sekali. Dan apa yang dapat dia katakan


pada mereka?"
"Apakah kau polisi?"
"Aku bukan polisi. Anak-anak seusia
mereka menganggap ayah adalah orang
terbaik di seluruh dunia. Paling berani, paling
baik. Dan sekarang mereka akan selalu ingat
ada seorang lelaki yang jahat pada ayah—dan
si ayah tidak melakukan apapun terhadapnya."
"Aku memang sudah merobek tiketnya.
Kenapa dia tidak membeli tiket saja? Apa kau
penyelidik kota?"
"Aku juga bukan penyelidik kota. Apa kau
berharap dia membeli tiket setelah kejadian
yang memalukan itu? Kau membuat bapak itu
tidak bisa mengambil jalan lain. Dia tidak bisa
membeli tiket dan tidak bisa menciptakan
skenario untuk memperbaiki keadaan tersebut
karena anak-anak ada bersamanya. Dia tidak
bisa melakukan apapun. Sama sekali tidak
bisa, kecuali kembali pulang bersama anak-
anak yang ingin melihat sirkusmu yang
menyedihkan itu."
Aku melihat ke lantai pos jaganya. Ada
banyak serpihan-serpihan mimpi yang ter-
buang disana—reruntuhan dari ayah-ayah
yang lain yang melakukan kejahatan terbesar
karena tidak menjaga poster-poster itu tetap
menempel di tempatnya. "Setidaknya kau bisa
berkata, 'Maaf, Pak, tiket-tiket ini tidak berlaku
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 203

lagi.' Kemudian kau bisa menjelaskan kepada


mereka dengan baik-baik dan sopan."
"Aku tidak dibayar untuk sopan." Dia me-
nunjukkan gigi-giginya yang kuning. "Lagipula,
Mister, aku suka merobek-robek kertas. Itu
membuatku merasa berkuasa."
Dan begitulah. Orang kecil yang diberi
sedikitkekuasaan dan menggunakannya bagai
Caesar.
Dia setengah berdiri. "Sekarang keluarlah
dari sini, Mister, sebelum aku datang dan
mengejar-ngejarmu ke seluruh taman bermain
ini."
Ya. Dia memang orang yang kejam, seekor
binatang dua dimensi yang lahir tanpa
kepekaan dan perasaan, yang ditakdirkan
untuk melakukan sesuatu yang mencelakakan
orang lain seumur hidupnya. Dia adalah mahluk
yang hams dimusnahkan dari muka bumi ini.
Andaikan aku punya kekuatan untuk...
Aku menatap wajah orang yang sedang
merengut itu dan sesaat kemudian berbalik dan
pergi. Di atas jembatan aku naik bis menuju
toko olahraga di Thirty-seventh Street.
Aku membeli pistol kaliber .32 dan sekotak
peluru.
Mengapa kita tidak membunuh? Apakah
karena kita tidak merasakan pembenaran moral
dalam melakukan hal final seperti itu? Atau
apakah kita cenderung takut pada konsekwensi
204 | Jack Ritchie

yang menimpa jika kita tertangkap—harga yang


harus dibayar oleh kita sebagai pelaku, oleh
istri, oleh anak-anak kita?
Kita telah memperlakukan orang-orang
yang bersalah dengan sikap lunak, dan kita
harus bertahan dengan keberadaan mereka
karena untuk menghilangkan mereka dari muka
bumi ini akan membuat kita mengalami
penderitaan akan kesakitan dan kepedihan
yang lebih parah.
Tapi aku tidak punya keluarga dan sahabat.
Dan hidupku tinggal empat bulan lagi.
Matahari telah tenggelam dan lampu-lampu
di pasar malam bersinar terang saat aku turun
dari bis di jembatan yang tadi. Aku melongok
ke jajaran panggung dan melihat lelaki itu
masih berada disana.
Bagaimana aku melakukannya? Aku ber-
tanya-tanya dalam hati. Apa aku langsung saja
berjalan kesana dan menembaknya di atas
singgasana yang mungil itu?
Masalah itu terpecahkan begitu saja. Aku
melihatnya digantikan oleh pemeriksa tiket
lainnya—dan itu jelas-jelas membuatnya lega.
Dia menyalakan rokok dan dengan santai
berjalan keluar dari jajaran panggung menuju
tepi danau yang gelap.
Kususul dia saat akan membelok di
tikungan yang tertutup semak-semak. Tempat
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 205

itu sepi, tapi cukup dekat dengan pasar malam


dan suara riuh masih terdengar dari sana.
Dia mendengar langkah kakiku yang
sedang rnendekat dan menoleh. Seulas
senyum licik tersungging di bibirnya dan dia
mengusap buku-buku jarinya. "Kau yang minta,
Pak."
Matanya membelalak saat dia melihat pistol
yang kupegang.
"Berapa usiamu?" tanyaku.
"Begini, Pak, aku hanya punya beberapa
lembar sepuluh dolar di saku," jawabnya panik.
"Berapa usiamu?" aku kembali bertanya.
Matanya berkilat-kilat gugup. "Tiga puluh
dua."
Dengan raut wajah sedih aku menggeleng-
gelengkan kepala. "Kau bisa hidup sampai usia
tujuh puluh tahun. Mungkin kau masih punya
waktu sampai empat puluh tahun lagi, kalau kau
mau sedikit bersusah payah bersikap selayak-
nya manusia."
Wajahnya memucat. "Apa kau sudah gila
atau semacamnya?"
"Mungkin."
Dan pelatuknya kutarik.
Suara tembakan itu tidak sekeras yang
kubayangkan, atau mungkin bunyinya tertelan
oleh hiruk-pikuk riuhnya pasar malam.
206 | Jack Ritchie

Dia terhuyung-huyung sedikit dan jatuh ke


pembatas jalan setapak. Dari penampilannya,
dia memang sudah mati.
Aku duduk di bangku taman terdekat dan
menunggu.
Lima menit. Sepuluh. Apa tidak ada orang
yang mendengar suara tembakan tadi?
Tiba-tiba aku merasa lapar sekali. Aku
belum makan apapun sejak tadi s i a n g .
Bayangan tentang kantor polisi dan per-
tanyaan-pertanyaan panjang yang harus
kujawab membuatku tidak tahan lagi. Lagipula,
kepalaku sangat sakit.
Aku merobek selembar kertas dari buku
catatanku dan menulis:
Kata-kata ceroboh masih dapat dimaafkan.
Tetapi kehidupan yang dipenuhi sikap kasar dan
kejam tidak dapat dimaafkan. Orang ini pantas
mati.
Aku baru akan menuliskan namaku, tapi
akhirnya kuputuskan, mungkin inisialku sudah
cukup untuk saat ini. Aku tidak mau ditangkap
sebelum makan kenyang dan minum aspirin.
Kertas itu kulipat dan kumasukkan ke saku
kemeja lelaki yang sudah mati itu.
Tidak ada seorangpun yang kutemui saat
aku menelusuri jalan setapak yang menanjak
kejembatan. Aku berjalan menuju Weschler's,
yang mungkin merupakan restoran terbaik di
seluruh kota. Harganya, dalam keadaan
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 207

normal, diluar jangkauanku, tapi kupikir inilah


saatnya memanjakan diriku sendiri.
Setelah makan, kuputuskan untuk pesiar
petang dengan bis sebagai kegiatan selanjut-
nya. Aku lebih menyukai tamasya seperti ini,
lagipula sebentar lagi kemerdekaanku untuk
bisa bergerak bebas akan sangat terbatas.
Supir bis yang kukendarai adalah lelaki
yang tidak sabaran dan dia memperlakukan
para penumpang bagai musuh. Tetapi malam
itu indah dan bis yang kutumpangi juga sepi.
Di Sixty-eighth Street, seorang perempuan
berambut putih dengan raut wajah halus
menunggu di halte. Si supir menghentikan
kendaraannya sambil menggerutu dan mem-
buka pintu.
Nenek itu tersenyum dan mengangguk
pada setiap penumpang ketika dia menjejakkan
kaki ke tangga bis, dan orang yang melihatnya
bisa langsung tahu kehidupannya yang penuh
kebahagiaan nan lembut dan sedikit perjalanan
naik bis.
"Welir bentak si supir. "Apa naik ke dalam
bis saja perlu waktu seharian?"
Wajah si nenek memerah dan dia gugup.
"Maaf." Tangannya menyodorkan selembar
uang lima dolar ke si supir.
Dia murka. "Apa kau tidak punya uang
receh?"
208 | Jack Ritchie

Warna di wajahnya semakin memerah.


"Kukira tidak. Tapi coba kulihat dulu."
Supir itu tidak terburu-buru untuk mengejar
jadwalnya dan dia menunggu.
Dan yang terlihat jelas di wajahnya adalah:
dia sangat menikmati keadaan ini.
Si nenek menemukan pecahan seperempat
dollar dan mengangsurkannya dengan tangan
gemetar.
"Masukkan dalam kotak!" bentak si supir
lagi.
Dan uang pecahan itu dijatuhkannya ke
dalam kotak.
Si supir kembali menjalankan kendaraan-
nya dengan gerakan mendadak. Untung
tangan si nenek berhasil meraih tali pegangan
tepat pada waktunya.
Matanya mencari-cari mata penumpang
yang lain, seolah minta maaf—karena tidak
bergerak lebih cepat, karena tidak menyedia-
kan uang receh, dan karena hampir jatuh saat
bis bergerak. Senyum itu gemetar, kemudian
dia duduk.
Di Eighty-second Street, dia membunyikan
bel tanda berhenti, bangkit dari kursi, dan
berjalan ke depan.
Supir itu menoleh ke belakang dan kembali
membentak-bentak si nenek sambil meng-
hentikan kendaraannya. "Gunakan pintu
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 209

belakang! Kalian semua, tidak pernah belajar


mempergunakan pintu belakang ya?"
Aku adalah penumpang yang selalu meng-
gunakan pintu belakang. Khususnya jika bis
sedang penuh. Tapi saat itu hanya ada enam
orang penumpang dan mereka membaca koran
dengan ketakutan netral.
Dia berbalik, wajahnya pucat, dan turun
lewat pintu belakang.
Petang yang telah atau akan dia nikmati,
sekarang sudah hancur. Mungkin petang-
petang lainnya juga akan hancur, saat si nenek
kembali mengingat kejadian yang baru saja dia
alami.
Aku tetap duduk di dalam bis sampai tujuan
terakhir.
Aku satu-satunya penumpang ketika si
supir berbelok dan parkir.
Tempat parkir itu adalah sebuah sudut
remang-remang yang sepi, dan tidak ada
satupun penumpang yang menunggu di halte.
Supir itu melirik jam tangannya, menyalakan
rokok, dan baru sadar masih ada satu
penumpang di dalam bisnya. "Jika kau ingin
kembali ke kota, bayar seperempat dollar lagi,
Pak. Disini tidak ada penumpang gratis."
Aku bangkit dari tempat dudukku dan
berjalan pelan ke depan. "Berapa usiamu?"
Matanya menyipit. "Bukan urusanmu."
210 | Jack Ritchie

"Mungkin sekitar tiga puluh lima tahun,"


kataku. "Kau mungkin masih bisa hidup sampai
sekitar tiga puluh tahun lebih." Sambil berkata
demikian, aku mengeluarkan pistolku.
Dia menjatuhkan rokoknya. "Ambil saja
uangnya," ujarnya.
"Aku tidak tertarik dengan uangmu. Aku
memikirkan nenek baik yang tadi, dan mungkin
ratusan nenek-nenek, kakek-kakek dan anak-
anak baik yang sedang tersenyum. Kau
penjahat. Keberadaanmu tidak dibenarkan."
Dan aku membunuhnya.
Aku duduk dan menunggu.
Setelah sepuluh menit aku masih sendirian
dengan si mayat.
Tiba-tiba aku merasa ngantuk. Sangat
mengantuk. Mungkin akan lebih baik jika aku
menyerahkan diri kepada polisi setelah aku
tidur nyenyak malam ini.
Aku menuliskan surat pembenaran diriku
atas kematian si supir dengan selembar kertas
dari buku notes, membubuhkan inisialku, dan
meletakkannya di saku kemeja si supir.
Aku berjalan empat blok sebelum aku men-
cegat taksi yang mengantar ke apartemenku.
Aku tidur nyenyak sekali dan mungkin aku
bermimpi saat tidur itu. Dan kalaupun iya,
mimpiku sangat menyenangkan dan damai,
dan ketika aku bangun, ternyata sudah pukul
sembilan.
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 211

Setelah mandi dan sarapan dengan nikmat,


aku memilih pakaianku yang terbaik. Lalu aku
ingat, aku belum membayar tagihan telepon
bulan ini. Aku menuliskan sejumlah angka di
cek dan memasukkannya ke dalam amplop
yang kemudian kububuhkan alamat di sampul
depannya. Tapi aku ingat, aku kehabisan
perangko. Tidak apa-apa. Aku bisa membelinya
di jalan menuju kantor polisi.
Aku hampir sampai di sana ketika aku ingat
perangko itu. Lalu aku berhenti di sebuah apotik
di sudut jalan. Tempat itu belum pernah ku-
kunjungi sebelumnya.
Penjaganya, mengenakan jas yang terlihat
seperti dokter, duduk di belakang teko soda
sambil membaca koran dan seorang agen
penjual keliling sedang mencatat sesuatu di
buku pesanannya yang besar.
Penjaga itu tidak menoleh dari bacaannya
ketika aku masuk. "Mereka mendapatkan sidik
jarinya pada kertas notes itu, mereka juga
mendapatkan tulisan tangannya dan inisial si
pelaku. Ada apa dengan para polisi sekarang?"
Si agen mengangkat bahu. "Apa gunanya
jika sidik jari pembunuh tidak ada dalam
catatan polisi? Tulisan tangan juga begitu,
kalau tidak ada pembandingnya ya buat apa?
Lagipula, ada berapa ribu L T di kota ini?" Dia
menutup bukunya. "Aku akan kembali lagi
minggu depan."
212 | Jack Ritchie

Ketika si agen itu pergi, apoteker itu masih


saja membaca koran.
Aku berdehem.
Dia segera menyelesaikan bacaannya yang
panjang dan lalu mendongak. "Well?"
"Aku mau membeli perangko seharga
empat sen."
Apa yang kukatakan membuatnya bagai
tersambar petir. Dia hanya memandangku
selama lima belas detik penuh. Dia beranjak
dari kursi dan berjalan pelan ke belakang apotik
menuju rak toko berteralis.
Langkahku mendadak terhenti demi melihat
pipa-pipa yang dipajang di rak.
Setelah beberapa saat aku merasa ada
yang mengawasi dan aku mendongak.
Si apoteker itu berdiri di ujung rak terjauh,
dengan satu tangan berkacak pinggang dan
tangan lain memegang perangko dengan acuh.
"Kau mau aku membawakannya?"
Dan aku teringat seorang bocah lelaki ber-
umur enam tahun yang hanya punya uang lima
sen. Kali ini tidak hanya satu sen, tapi lima, dan
peristiwa ini terjadi waktu uang satu sen
seharga dengan bermacam-macam permen.
Bocah itu masuk karena apa yang terpajang
di rak menarik perhatiannya—lima puluh jenis
permen manis beraneka rasa, dan benaknya
berjingkrak gembira campur bingung menentu-
kan permen mana yang akan dipilih. Cambuk
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 213

merah? Licorice? Atau campuran? Tapi


jangan permen cherry. Dia tidak suka permen
cherry.
Dan kemudian dia menyadari, apoteker
yang menjaga toko itu sedang berdiri di sebelah
rak pajangan—mengetuk-ngetukkan sebelah
kaki. Matanya membara karena merasa
terganggu, dan—tidak lebih dari itu—marah.
"Apa kau perlu waktu seharian hanya untuk
memutuskan bagaimana cara menghabiskan
uang lima senmu itu?"
Bocah itu sangat halus perasaannya dan
mendengar hal itu dia merasa seperti ada orang
yang baru saja meninju perutnya. Uang lima
sennya yang berharga kini bukan apa-apa lagi.
Lelaki itu menghina uangnya. Dan dia juga
menghina si bocah.
Dia menunjuk asal-asalan. "Aku mau itu
sebanyak lima sen."
Ketika dia meninggalkan apotik, dibukanya
kantung permen itu dan menemukan permen
cherry di dalamnya.
Bukan masalah baginya. Apapun yang dia
temukan di dalam kantung itu dia tidak akan
bisa memakannya.
Saat ini aku sedang m e m a n d a n g si
apoteker itu, yang memegang perangko
seharga empat sen, dan kebencian yang dituju-
kan pada orang-orang yang tidak menyumbang
langsung demi keuntungannya. Aku yakin,
214 | Jack Ritchie

apoteker itu pasti tidak akan berjingkrak senang


jika aku membeli salah satu pipa rokoknya.
Kemudian aku teringat perangko seharga
empat sen itu, dan sekantung permen cherry
yang kubuang beberapa tahun yang lalu.
Aku bergerak menghampiri si apoteker dan
mengeluarkan pistol dari dalam saku. "Berapa
usiamu?"

Ketika dia mati, aku segera menuliskan


pesan. Saat ini aku membunuh untuk diriku
sendiri dan sepertinya aku perlu minum.
Aku berjalan beberapa saat dan masuk ke
sebuah bar kecil. Aku memesan brandy dan air.
Setelah sepuluh menit aku baru mendengar
suara sirine polisi yang melintas.
Bartender menghampiri jendela. "Seperti-
nya dekat." Dia lalu mengambil mantelnya. "Aku
harus lihat apa yang terjadi. Jika ada yang
masuk, bilang saja aku akan kembali." Botol
brandy diletakkannya di atas meja bar. "Ambil
sendiri, tapi nanti katakan padaku seberapa
banyak yang kau minum."
Aku menyesap brandyku perlahan-lahan
dan memandang mobil polisi tambahan yang
melintas di j a l a n , yang disusul dengan
ambulans.
Si bartender kembali setelah sepuluh menit
menghilang, diikuti seorang pelanggan. "Bir
botol pendek, Joe."
Hukuman UntukOrang-Orang Kasar | 215

"Ini brandy keduaku," ujarku.


Joe memungut recehanku. "Si apoteker di
seberang jalan terbunuh. Sepertinya oleh
pembunuh yang menghabisi orang-orang yang
kurang sopan."
Si pelanggan melihat Joe yang sedang
membuka tutup botol bir. "Bagaimana kau
tahu? Mungkin hanya perampokan."
Joe menggelengkan kepalanya. "Bukan.
Fred M a s t e r s — y a n g punya toko TV di
seberang jalan—menemukan mayatnya dan
membaca pesan di sakunya."
Pelanggan itu meletakkan sepuluh sen di
atas meja. "Aku tidak akan menangisinya. Aku
selalu membeli keperluanku di tempat lain. Dia
bertingkah seakan dia berbuat kebajikan saat
dia menunggumu."
Joe mengangguk. "Kurasa orang-orang
sekitar sini tidak akan merindukannya. Dia
selalu membuat banyak masalah."
Aku baru saja berniat untuk menghampiri
apotik itu dan menyerahkan diri, tapi aku malah
memesan segelas brandy lagi dan mengeluar-
kan buku catatanku. Aku mulai mendaftar
beberapa nama.
Mengejutkan sekali bagaimana satu nama
mengikuti nama-nama yang lain dalam daftar-
ku. Ada kenangan-kenangan pahit dalam
nama-nama tersebut, beberapa kenangan
besar, lainnya kecil, dan kenangan-kenangan
216 | Jack Ritchie

lain yang kualami sendiri dan banyak lagi yang


kusaksikan—mungkin dirasakan lebih men-
dalam oleh korbannya.
Nama-nama. Juga seorang penjaga
gudang yang tidak kuketahui namanya tapi
harus kusertakan dalam daftar.
Aku ingat ketika Miss Newman mengajarku.
Kami adalah murid-muridnya di kelas enam dan
beliau membawa kami mengadakan
kunjungan—kali ini ke gudang yang terletak di
sepanjang sungai, tempat dia akan men-
jelaskan 'bagaimana cara kerja industri'.
Beliau selalu merencanakan kunjungan-
kunjungannya dan meminta izin dari para
pengelolanya, tapi kali ini kami tersasar ketika
kami sampai di gudang-gudang itu—Miss
Newman dengan tiga puluh anak yang
mengaguminya.
Dan penjaga gudang itu mengusirnya
keluar. Dia menggunakan bahasa yang tidak
kami mengerti, tapi kami merasakan kegalakan-
nya, dan dia menggiring kami dan Miss
Newman.
Miss Newman adalah seorang perempuan
mungil yang ketakutan ketika kami akhirnya
meninggalkan tempat itu. Beliau tidak hadir
keesokan harinya, juga hari-hari berikutnya,
sampai akhirnya kami tahu bahwa beliau minta
izin pindah tugas.
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 217

Dan aku, yang juga sangat menyayanginya,


tahu alasan sebenarnya. Beliau tidak punya
muka menghadapi kami, murid-muridnya,
setelah apa yang terjadi kemarin.
Apakah penjaga gudang itu masih hidup?
Aku membayangkan lelaki berusia duapuluhan
saat itu.
Ketika aku pergi meninggalkan bar
setengah jam kemudian, kusadari ada banyak
pekerjaan yang harus kulakukan.
Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari yang
sibuk, dan diantara orang-orang lainnya, aku
menemukan si penjaga gudang itu. Aku
mengatakan alasan kematiannya karena dia
tidak ingat sama sekali tentang kejadian dulu.
Dan ketika aku sudah menyelesaikan apa
yang harus kulakukan, aku mampir ke sebuah
rumah makan kecil tidak jauh dari sana.
Pelayan yang ada disana segera
menyudahi obrolannya dengan kasir dan
menghampiri mejaku. "Kau mau apa?"
Aku memesan steak dan tomat.
Daging steaknya ternyata tepat seperti yang
diharapkan dari lingkungan seperti ini. Ketika
aku akan mengambil sendok kopi, tanpa
sengaja aku malah menjatuhkannya ke lantai.
Aku memungutnya. "Pelayan, bisakah Anda
mengambilkan sendok lagi?"
218 | Jack Ritchie

Dia kembali ke mejaku dan merampas


sendok itu dari tanganku. "Kau ini gemetaran
atau kenapa, sih?"
Setelah beberapa saat dia kembali dan
keiihatannya dia ingin membanting sendok itu
ke meja.
Tapi kemudian raut wajahnya yang galak
berubah. Gerakan tangannya berhenti sesaat,
dan ketika sendok itu akhirnya menyentuh
taplak, dia meletakkannya dengan lembut
sekali. Sangat lembut.
Dia tertawa gugup. "Maafkan ucapan saya
tadi ya, Pak."
Itu adalah sebuah permintaan maaf, dan
aku menjawab,"Tidak apa-apa."
"Maksud saya, Anda boleh menjatuhkan
sendok berapa kali pun sesuka Anda. Saya
akan senang mengambilkan sendok lain untuk
Anda."
"Terima kasih." Dan aku mencermati kopiku.
"Anda tidak merasa kesal, kan, Pak?"
"Tidak. Sama sekali tidak."
Dia mengambil koran dari meja kosong di
dekatnya. "Ini, Pak. Anda bisa membaca koran
ini sambil makan. Maksud saya, ini bagian dari
pelayanan kami. Gratis."
Ketika pelayan itu meninggalkan mejaku,
kasir yang tadi mengobrol dengannya menatap
si pelayan dengan mata membelalak. "Apa
maksudmu dengan semua itu, Mable?"
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 219

Mable melirik sekilas ke arahku sebelum


menjawab pertanyaan si kasir dengan pan-
dangan tidak nyaman. "Kau tidak akan tahu
siapa yang kau hadapi sekarang-sekarang ini.
Lebih baik kau berlaku sopan mulai sekarang."
Aku membaca koran sambil makan, dan
satu berita menarik perhatianku. Seorang lelaki
memanaskan uang receh di wajan sebelum
memberikannya ke anak-anak yang mengetuk
pintu dan berteriak trick-or treat pada malam
Halloween. Dan dia hanya didenda dua puluh
dolar. Menyedihkan.
Aku mencatat nama dan alamatnya.

Dokter Briller baru selesai memeriksa


kesehatanku. "Selesai sudah, Mr. Turner."
Aku mengambil kemejaku. "Saya rasa
dunia pengobatan belum menemukan ke-
ajaiban untuk penyakit saya sejak terakhir kali
saya kesini. Bukan begitu, dokter?"
Dia tertawa riang seperti biasa. "Sayangnya
belum." Dia memandangku yang sedang
mengancingkan kemeja. "Ngomong-ngomong,
Anda sudah memutuskan apa yang akan Anda
lakukan dengan waktu yang tersisa?"
Sudah, tapi kupikir-pikir lebih baik aku
mengatakan, "Belum."
Dia kelihatannya agak kesal dengan
jawabanku. "Harusnya Anda memikirkannya.
Sekarang Anda hanya punya waktu tiga bulan
220 | Jack Ritchie

lagi. Dan katakan pada saya apa yang akan


Anda lakukan nanti. Harus."
Ketika aku selesai mengancingkan kemeja-
ku, dia duduk di kursinya dan melirik ke koran
yang tergeletak di atas meja. "Kelihatannya
pembunuh itu sedikit sibuk, ya?"
"Tapi yang paling mengejutkan adalah
reaksi publik terhadap kejahatan ini. Apa Anda
sudah membaca Surat Pembaca baru-baru
ini?"
"Belum."
"Pembunuhan ini kelihatannya sangat
disetujui oleh seluruh masyarakat. Beberapa
penulis surat itu malahan ada yang mengusul-
kan akan memberi daftaryang berisi beberapa
nama pilihan mereka untuk si pembunuh."
Aku harus membeli koran itu.
"Tidak hanya itu," ujar dokter Briller,
"seluruh kota diserang demam kesopanan."
Aku mengenakan mantelku. "Apa saya
harus kembali kesini dua minggu lagi?"
Dia menyingkirkan korannya. "Ya. Dan
cobalah untuk menghadapi semuanya dengan
gembira. Kita semua kan pasti mati suatu hari
nanti."
Tapi waktu kematian dokter Briller belum
ditentukan dan mungkin maut akan men-
jemputnya beberapa puluh tahun lagi nanti.
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 221

Pertemuanku dengan dokter Briller ber-


langsung tadi sore, dan sekarang sudah pukul
sepuluh malam ketika aku turun dari bis dan
berjalan menuju apartemenku.
Ketika aku mendekati tikungan terdengar
suara tembakan. Aku berbalik arah menuju ke
Milding Lane dan memergoki seorang lelaki
dengan pistol di tangan sedang berdiri di
sebelah mayat yang tergeletak di trotoar yang
sepi.
Aku melongok ke bawah. "Ya ampun.
Polisi."
Lelaki kecil itu mengangguk. "Ya. Apa yang
saya lakukan mungkin terlihat agak keterlaluan,
tapi tadi dia mempergunakan berbagai macam
bahasa yang tidak penting untuk diucapkan."
"Ah," ujarku.
Lelaki kecil itu kembali mengangguk. "Saya
memarkir kendaraan di dekat hidran pemadam
kebakaran. Dan saya tidak bermaksud untuk
berlama-lama disana, sungguh. Polisi ini
menunggu saya ketika saya kembali ke mobil.
Dan akhirnya dia tahu saya lupa membawa
SIM. Saya tidak akan bertindak seperti ini kalau
saja dia cukup menulis surat tilang—karena
saya memang bersalah, Pak, dan saya meng-
akuinya—tapi dia tidak puas hanya dengan
surat tilang itu. Dia mempertanyakan hal-hal
yang membuat saya malu, menyangkut ke-
cerdasan, keawasan mata, kemungkinan mobil
222 | Jack Ritchie

itu mobil curian, dan akhirnya mengenai


keabsahan kelahiran saya." Matanya
mengerjap, mengenang sesuatu. "Padahal ibu
saya itu bagaikan malaikat, Pak. Malaikat
sejati."
Aku ingat ketika aku ditegur saat
menyeberang sembarangan. Dengan senang
hati aku terima peringatan biasa, atau surat
tilang, tetapi polisi yang menegurku itu terus
saja memberiku kuliah dengan bahasa yang
kasar di hadapan para pejalan kaki yang lalu-
lalang di sekitarku sambil tersenyum simpul.
Sangat memalukan.
Lelaki kecil itu memandang pistol di tangan-
nya. "Saya baru saja membelinya hari ini dan
bermaksud menggunakannya untuk pengelola
bangunan apartemen tempat saya tinggal.
Seorang lelaki kasar yang sokjagoan."
Aku setuju. "Jenis orang yang patut me-
nerima hukuman."
Dia menarik nafas. "Haruskah saya
menyerahkan diri ke polisi sekarang?"
Aku m e n i m b a n g - n i m b a n g . Dia me-
mandangku.
Dia berdehem sekali. "Atau mungkin saya
tinggalkan pesan saja, ya? Saya pernah
membaca di koran tentang..."
Aku meminjamkan buku notesku.
Dia menuliskan beberapa kata, mem-
bubuhkan inisial namanya, dan meletakkan
Hukuman Untuk Orang-Orang Kasar | 223

kertas itu diantara dua kancing jaket si polisi


yang sudah mati.
Dia menyerahkan kembali buku notesku.
"Saya harus ingat untuk membeli buku notes
seperti ini nanti."
Dia membuka pintu mobilnya. "Apakah
saya bisa mengantar sampai ke tempat tujuan
Anda, Pak?"
"Terima kasih, tapi tidak usah," jawabku.
"Malam ini cerah sekali. Saya ingin berjalan kaki
saja."
Seorang lelaki yang menyenangkan, kataku
dalam hati, ketika aku berjalan meninggalkan-
nya.
Sayangnya, hanya sedikit orang yang
seperti dia.[]
MAAF, SALAH SAMBUNG
Lucille Fletcher dan Allan Ullman

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com

Dia menggapai telepon di meja sebelah tempat


tidurnya sekali lagi, memutar piringan nomer
dengan kekuatan berlebihan. Cahaya dari
lampu tidur—satu-satunya cahaya yang ber-
sinardi kamar gelap itu—membuat perhiasan-
perhiasan di tangannya berkilat-kilat. Wajah
yang cantik dan lembut, dalam taburan cahaya
lampu yang melingkar, mengerutkan kening,
menyiratkan perasaan kesal yang sesuai
dengan gerakan tergesa-gesa dan resah saat
dia memutar piringan nomer telepon.
Setelah selesai memutar nomer telepon
yang dituju, dia duduk dengan resah untuk
beberapa saat. la merasa tidak nyaman dengan
sakit di punggung belakangnya akibat duduk
tanpa penyangga. Terdengar suara di telepon
yang menandakan nomer yang dituju sedang
sibuk. Dia membanting gagang telepon ke
tempatnya, dan berteriak, "Tidak mungkin.
Tidak mungkin."
Tubuhnya dihempaskan ke bantal-bantal
lembut di tempat tidur. Matanya terpejam,
mencoba menghilangkan bayangan-bayangan
226 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

di dalam dan di luar kamar, panorama kota


yang kabur berbentuk segiempat yang dapat
dilihatnya melalui jendela yang terbuka. Saat
dia terbaring di seprei tipis yang biasa
dipergunakan di musim panas, dirasakannya
angin sore sepoi-sepoi meraba lipatan-lipatan
baju tidumya. Suara-suara malam dan hiruk-
pikuk jalan tiga lantai di bawahnya masih bisa
didengamya.
Konsentrasinya yang keras itu membuatnya
menganggap saat-saat menunggu seperti ini
adalah sebuah siksaan. Dimana dia? Apa yang
membuatnya tidak pulang-pulang? Mengapa
dia tidak memilih malam lain selain malam ini
untuk meninggalkannya sendirian, untuk
menghilang tanpa memberi kabar padanya
lebih dulu, dan tanpa pesan apapun? Itu bukan
kebiasaannya. Sama sekali bukan kebiasa-
annya. Dia tahu betul bagaimana sikap yang
seperti itu berpengaruh terhadap istrinya. Dan
terhadap dirinya sendiri. Untuk melakukan apa
yang hampirdilakukan sebelumnya sangatlah
tidak mungkin. Tapi bila sekarang ini ketidak-
hadirannya memang disengaja—bagaimana?
Apa dia terluka? Tidak mungkin dia mengalami
kecelakaan tanpa ada orang yang meng-
hubungi ke rumah saat itu juga!
Tapi ada hal lain yang membuatnya jengkel,
dan semuanya berakar dari kejengkelannya
akibat ketidakhadiran lelaki itu yang tanpa
Maaf, Salah Sambung | 227

alasan. Ada masalah dengan telepon. Setelah


dipikir-pikir, itulah yang paling mengganggu-
n y a — t e l e p o n . Dia telah menghubungi
kantornya berkali-kali selama setengah jam
lebih. Dia telah mencoba menghubungi kantor
lelaki itu. Tiap saat dia memutar nomer, selalu
saja nada sibuk yang terdengar. Bukan nada
'jangan dijawab' yang lebih meyakinkan, tapi
selalu saja nada sibuk. Kalau saja lelaki itu
disana—dan jelas sekali selalu ada seseorang
disana—apa mungkin dia bicara lewat telepon
selama setengah jam penuh? Kemungkinan?
Ya. Kesempatan? Tidak.
Benaknya membayangkan apa saja yang
dilakukan si lelaki saat ini, seolah dia sendiri
yang berhadapan langsung dengan semua
yang dihadapi lelaki itu sekarang. Hasilnya
adalah kesulitan yang ditimbulkan akibat
sakit—penyakitnya—yang membobol benteng
pertahanan kesabarannya. Kelihatannya lelaki
itu tidak pernah terlalu peduli dengan periode-
periode panjang saat dia tidak mampu me-
respon ajakan si lelaki. Meskipun dia itu lelaki
yang memiliki hasrat menggebu-gebu—
binatang sehat dan kuat—kemampuannya
mengendalikan diri sangat patut diandalkan.
Dengan kata lain, terus terang saja, dia tidak
pernah bermimpi mengenai perempuan lain—
atau beberapa! Tapi sekarang... ?
228 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

Tetapi kemungkinan seperti itu sepertinya


tidak cocok dalam situasi sekarang. Apalagi
setelah dia membicarakannya secara terang-
terangan dan memeriksa semua kemungkinan
dengan seksama. Dia adalah seorang lelaki
yang hati-hati. Apapun yang dia lakukan, di-
rencanakannya dengan matang dan dilaksana-
kan dengan rapi. Dia tidak mungkin bertindak
bodoh—atau ceroboh—karena itu tidak sesuai
dengan sifatnya selama ini.
Prospek terkecilpun bahkan tidak mungkin
untuk dilaksanakan. Dia lebih menginginkan
sesuatu yang berskala besar, sesuai dengan
keberanian yang merefleksikan kekuatan dan
ketampanan sendunya dengan sempuma.
Pikiran-pikiran itu membuatnya membuka
mata sejenak, menatap ke foto pernikahan
mereka dalam pigura cantik di meja sebelah
tempat tidurnya. Foto itu terlihat samar-samar,
tapi kenangannya tergambar jelas, ber-
dampingan. Dia mengenakan gaun sutra
gading yang anggun di sebelah lelaki tegap dan
tampan dan mereka tersenyum bahagia. Tidak
ada yang berubah darinya. Dalam kurun waktu
sepuluh tahun, tidak ada yang merubah tubuh
berototnya yang bersih itu, juga senyum yang
jarang terpancar di wajahnya yang tampan dan
tanpa kerut.
Yang berubah adalah perempuan itu
sendiri. Hanya perawatan yang sangat
Maaf, Salah Sambung | 229

paripurna sajalah yang meninggalkan sedikit


bukti-bukti apa saja yang telah dilakukan oleh
waktu dan ketidakberdayaannya sekarang.
Tetapi, secepat apapun dia berusaha memulih-
kan kekuatannya kembali dan memanfaatkan
kemudaan yang masih tersisa, peralatan
kecantikan termahalpun tidak dapat menutupi
kerut-merut di seputar mata dan garis di dekat
bibir yang semakin dalam, atau kulit yang
menggelambir di bawah d a g u . Apakah
mungkin lelaki itu memperhatikan apa yang
membuat istrinya terus mengurung diri di
rumah sepanjang hari semata-mata bukan
karena penyakit saja?
Dia mengenang kembali apa yang disukai
suaminya—hal-hal yang sangat dihargai lelaki
itu. Setelah sepuluh tahun menikah—per-
nikahan yang direncanakan si istri dengan amat
sangat cermat—dia tahu betul kekayaan
ayahnya adalah sesuatu yang meredakan
kegelisahan si suami selama ini. Dia sangat
menghormati gundukan uang itu. Jangan harap
dia mau melakukan apapun jika dia tidak
terjangkau oleh gelimangan uang jutawan
Cotterell.
Begitulah caranya jika kau menginginkan
sesuatu, ujarnya, mengingatkan dirinya sendiri.
Jangan pernah lupa tentang hal itu. Dia yang
selalu menginginkannya seperti itu. Hubungan
praktis dengan suaminya yang kini telah
230 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

berkembang itu telah memberi apa yang paling


diinginkannya—lelaki yang paling bisa me-
nciptakan ilusi yang dikembangkannya sendiri,
ilusi sebuah pernikahan yang bahagia. Teman-
temannya cemburu, dan dicemburui adalah hal
yang paling didambakan yang bisa ditawarkan
oleh kehidupan.
Kenangan akan pernikahannya yang di-
rancang sedemikian rupa itu memudar, dan
sekali lagi kejengkelannya karena ditinggal
sendiri membuatnya mendidih. Telepon sialan!
Ada sesuatu yang licik tentang telepon itu—
tentang nada sibuk yang tidak putus-putus itu.
Tapi kemudian terlintas di benaknya,
mungkin ada kerusakan mekanis atau se-
macamnya dalam sistem pemanggilan nomer.
Dia duduk kembali, menjangkau telepon
dengan tangannya, dan tidak sabar dengan
dirinya sendiri karena tidak memikirkan hal itu
sebelumnya. Piringan nomer ke 'Operator'
diputarnya.
Suara dengungan yang putus-putus itu,
kemudian berbunyi klik diikuti suara ramah
yang berkata, "Silahkan sebutkan nomer
tujuan."
"Operator, bisakah Anda menghubungi
Murray Hill 3:0093?"
"Anda bisa m e n g h u b u n g i nomer itu
langsung dengan menelepon dari pesawat
Anda sendiri," jawab si operator.
Maaf, Salah Sambung | 231

"Sudah, tapi selalu tidak bisa," katanya lagi,


merasa terganggu. "Karena itulah saya meng-
hubungi Anda."
"Apa masalahnya, Nyonya?"
"Well, saya telah menghubungi Murrray Hill
3:0093 selama setengah jam ini dan nadanya
selalu saja sibuk. Itu sangat tidak mungkin."
"Murray Hill 3:0093?" ulang si operator.
"Saya akan mencoba menghubunginya. Silah-
kan tunggu sebentar."
"Itu kantor suami saya," jelasnya sambil
mendengarkan operator yang sedang ber-
usaha. "Harusnya dia sudah berada di rumah
sejak tadi. Aku tidak habis pikir apa yang
membuatnya tertahan disana—atau mengapa
sambungan telepon konyol ini tiba-tiba selalu
saja bernada sibuk. Biasanya kantor itu tutup
pukul enam sore."
"Menghubungi Murray Hill 3:0093," jawab
si operator otomatis.
Lagi-lagi nada sibuk! Nada sibuk bodoh dan
terkutukyang seakan-akan berlangsung abadi.
Dia baru akan meletakkan kembali gagang
telepon ke tempatnya, ketika tiba-tiba, secara
ajaib, nada sibuk itu berhenti, dan suara
seorang lelaki berkata, "Halo?"
"Halo!" teriaknya, bersemangat. "Tolong
sambungkan dengan Mr. Stevenson."
Lagi-lagi lelaki itu menjawab, "Halo?"
232 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

Suaranya dalam, serak, dengan aksen


kental, dan suara itu mudah dikenali meskipun
dia hanya mengucapkan satu kata.
Dia mendekatkan bibirnya ke gagang
telepon, berbicara lambat-lambat, dengan
suara ramah, "Maaf, saya ingin bicara dengan
Mr. Stevenson, disini Mrs. Stevenson."
Dan suara serak itu berkata, "Halo?
George?"
Yang lebih gila lagi, tiba-tiba terdengar
suara kedua—sengau—dan datar—menjawab,
"Ya."
Dengan suara putus asa, dia berteriak,
"Siapa ini? Ini nomer berapa, ya? Tolong
katakan."
"Aku sudah menerima pesanmu, George,"
kata si suara serak. "Apa semua berjalan lancar
malam ini?"
"Ya. Semuanya lancar, Aku sedang
bersama klien kita sekarang. Dia bilang
medannya sudah bersih."
Fantastis sekali. Tidak bisa dipercaya dan
sangat tidak mungkin. Dengan suara dingin
akhirnya dia berkata, "Permisi. Apa yang
sedang terjadi disini? Saya sedang memper-
gunakan sambungan ini, jika Anda semua tidak
berkeberatan."
Bahkan ketika dia sedang bicara tadi, dia
tahu mereka yang di ujung sana tidak bisa
mendengarnya. Si 'George' atau lelaki satunya
Maaf, Salah Sambung | 233

itu sama sekali tidak dapat mendengarnya. Dia


menyalahkan sambungan telepon yang acak-
acakan. Sekarang dia harus memutuskan
teleponnya, menghubungi si operator lagi, dan
harus menjalani semua tetek-bengek seperti
tadi. Setidaknya itulah yang seharusnya dia
lakukan. Tapi tidak. Orang-orang aneh itu
sedang berbicara dan apa yang didengarnya
membuatnya terpaku di tempat.
"Oke," sahut si suara serak lagi. "Nanti jam
11:15 kan, George?"
"Ya, tepat pukul 11:15. Kuharap kau sudah
mengerti semuanya sekarang."
"Ya. Kurasa begitu."
"Well, coba jelaskan padaku sekali lagi
agar aku tahu kau sudah memahami semua-
nya dengan baik."
"Oke, George. Jam 11:00 polisi penjaga
rumah akan pergi ke bar di Second Avenue
untuk membeli bir. Aku akan masuk melalui
jendela dapur di belakang rumah. Kemudian
aku akan menunggu kereta melintas di
jembatan—kalau-kalau jendelanya terbuka
dan dia berteriak."
"Benar."
"Aku lupa menanyakannya padamu,
George. Apa aku boleh mempergunakan
pisau?"
"Boleh," jawab suara nasal si George itu
datar. "Tapi lakukan dengan cepat, ya. Klien
234 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

kita tidak mau perempuan itu menderita terlalu


lama."
"Aku mengerti, George."
"Danjangan lupa, ambil cincin dan kalung-
nya—dan perhiasan di laci lemari pakaian,"
ujar George. "Klien kita ingin semua terlihat
seperti perampokan biasa. Hanya pe-
rampokan biasa. Ini penting sekali."
"Semuanya tidak akan meleset, George.
Kau tahu betul siapa aku."
"Ya. Sekarang sekali lagi..."
"Oke. Saat polisi itu pergi beli bir, aku akan
masuk lewatjendela belakang—di dapur. Lalu
aku menunggu kereta lewat. Setelah
semuanya selesai, aku akan mengambil
perhiasannya."
"Benar. Kau ingat alamatnya?"
"Ya," sahut si suara serak. "Di—"
Terpana oleh rasa takut dan gelisah,
ditempelkannya gagang telepon itu erat-erat ke
telinga sampai pelipisnya terasa sakit. Saat itu
juga tiba-tiba sambungan terputus, lalu bebe-
rapa detik kemudian suara dengung monoton
menggantikan percakapan tadi.
Dia tercengang, dan berteriak, "Mengerikan
sekali! Sangat mengerikan!" Adakah tanda-
tanda keraguan dalam suara yang aneh, tanpa
emosi, dan bernada bisnis itu? Pisau? Pisau!
Pisau! Orang di telepon itu mengatakan dengan
jelas seakan-akan pisau adalah hal paling
Maaf, Salah Sambung | 235

umum dibicarakan orang di dunia ini, selain


jendela yang terbuka dan perempuan yang
menjerit.

9:35
Dia memegang gagang telepon, menatapnya
dengan penuh ketakutan ke arah meja yang
berantakan. Apa yang barusan didengarnya?
Tidak mungkin—semua itu tidak mungkin. Itu
hanya imajinasinya saja yang menipu—jeda
waktu yang sejenak dirasakan saat kenyataan
memudardan lamunan menyapu ceruk pikiran-
nya. Tapi nada suara George yang tenang dan
datar yang sedang berbicara dengan lelaki
bersuara dalam itu kembali terdengar sejelas-
jelasnya ketika dia mencoba mengingat-ingat
mereka. Tidak pernah ada mimpi dengan
gambaran sejelas ini. Dia memang mendengar
mereka. Dia merasa itu nyata, senyata benda
hitam dingin yang dia pegang sedari tadi,
senyata itulah dia mendengar mereka. Dia
mendengar dua suara yang berbeda meng-
gambarkan kematian seorang perempuan
malang—perempuan yang sedang berada di
rumah sendirian, seseorang yang memesan
pembunuh bayaran seakan-akan dia memesan
sayuran pada sebuah toko agar diantar ke
rumahnya.
Dan apa yang bisa dia lakukan? Dalam hal
ini, apa yang harus dia lakukan? Dia tidak
236 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

sengaja mendengarnya, sistem telepon yang


dipergunakannya meleset secara mekanik. Dia
tidak mendengar apapun yang mengarah
langsung ke para lelaki tadi. Mungkin dia dapat
memaksakan benaknya untuk mencoba meng-
ingat-ingat lagi dengan sekuat tenaga untuk
bisa mengurutkan kembali percakapan tadi.
Tapi dia tidak bisa, yang dia ingat hanya
perempuan ini—perempuan seperti dirinya,
mungkin, sendiri dan kesepian—bisa dia
peringatkan kalau saja dia tahu bagaimana
caranya. Dia tidak bisa hanya berdiam diri saja
disini—dia harus segera melakukan sesuatu
untuk menenangkan kesadarannya. Dengan
jemari bergetar, dia kembali mengangkat
gagang telepon dan menghubungi operator.
"Operator," katanya gugup. "Sambunganku
baru saja diputus."
"Maaf, Nyonya. Nomer berapa yang Anda
hubungi?"
"Harusnya Murray Hill 3:0093, tapi ternyata
bukan. Pasti ada sambungan lain yang masuk
ke dalam saluran saya dan tiba-tiba saya malah
terhubung dengan nomer yang salah dan
saya—saya baru saja mendengar hal yang
paling mengerikan—pembunuhan—" Suara-
nya meninggi dan bernada memerintah. "Dan
saya ingin Anda menghubungi nomer itu
kembali."
Maaf, Salah Sambung | 237

"Maaf, Nyonya. Saya tidak mengerti."


"Oh!" serunya tidak sabar. "Aku tahu aku
salah nomer dan bukan urusanku untuk
mendengarkan apa yang mereka bicarakan,
tapi dua orang lelaki ini—dua orang jahat
berdarah dingin—akan membunuh seseorang.
Seorang perempuan malang yang tidak
bersalah—yang sedang sendirian—di sebuah
rumah dekat jembatan. Dan kita harus meng-
hentikan mereka—kita harus menghentikan
mereka!"
"Nomer berapa yang Anda tuju, Nyonya?"
tanya si operator dengan sabar.
"Itu tidak jadi soal sekarang," bentaknya. "Ini
nomer yang salah. Nomer yang kau putar
sendiri. Dan kita harus tahu nomer berapa tadi
yang kau putar, secepatnya."
"Tapi—Nyonya—"
"Bodoh sekali kamu ini!" Sekarang dia
benar-benarmurka. "Begini. Kelihatannya kau
salah memutar nomer. Aku memintamu untuk
menghubungkan aku dengan Murray Hill
3:0093. Kau memutamya. Tapi jari tanganmu
terpeleset atau semacamnya—dan kau mem-
buatteleponku salah sambung ke nomer lain—
dan aku bisa mendengar mereka bicara tapi
mereka tidak bisa mendengarku. Sekarang,
sepertinya aku bisa memintamu untuk mem-
buat kesalahan seperti itu lagi, kali ini sengaja.
238 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

Bisakah kau menghubungkanku kembali


dengan Murray Hill 3:0093, sama cerobohnya
seperti tadi?"
"Murrray Hill 3:0093, silahkan tunggu
sebentar," sahut operator dengan cepat.
Ketika dia menunggu operator itu, tangan-
nya bergerak ke arah botol-botol obat di meja
samping tempat tidur dan memungut selembar
sapu tangan berenda yang teronggok di antara
botol-botol. Dia melap butiran keringat di kening
ketika lagi-lagi terdengar nada sibuk, dan
operator menyela, "salurannya sedang sibuk,
Nyonya."
Dengan marah dia meninju kasurnya.
"Operator! Kamu pasti tidak mencoba meng-
hubungkan saya dengan nomer yang salah
seperti tadi! Saya sudah jelas-jelas meminta-
nya. Kamu malah menghubungkan saya
dengan nomer yang benar. Sekarang saya
minta kamu melacak nomer tadi. Sudah
tugasmu melacak nomer tadi!"
"Sebentar," sahut si operator, tetap dengan
suara ramah, seperti ingin mengundurkan diri.
"Saya akan menyambungkan Anda dengan
atasan saya."
"Silahkan," jawabnya, kembali meng-
hempaskan diri ke bantal di belakangnya. Lalu
terdengar suara lain yang ramah, efisien dan
menenangkan dari seberang sana. "Disini
Kepala Operator," dan sekali lagi dia ber-
Maaf, Salah Sambung | 239

konsentrasi dengan gagang telepon di tangan-


nya, bicara dengan sangat hati-hati. Suaranya
terdengar sangat jengkel.
"Saya sedang sakit keras, tapi saya baru
saja mendengar sesuatu yang mengejutkan—
melalui telepon—dan saya ingin sekali melacak
sambungan telepon tadi. Yang saya dengar ini
menyangkut pembunuhan—pembunuhan ber-
darah dingin yang kejam yang akan diiaksana-
kan pada seorang perempuan malang, malam
ini—pukul 11:15. Begini, tadi saya mencoba
menghubungi kantor suami saya. Saya sedang
sendirian sekarang—pembantu saya sedang
libur dan pelayan yang lain tidur di rumah
masing-masing. Suami saya berjanji untuktiba
di rumah pukul enam—jadi ketika dia belum
pulang jam sembilan, saya menghubungi
kantornya. Tapi yang terdengar selalu nada
sibuk. Kemudian saya mengira mungkin
salurannya ada yang salah dan meminta
operator untuk menghubungkannya. Tapi
ketika sudah terhubung, saya malah masuk ke
saiuran yang salah dan mendengar per-
cakapan dua orang pembunuh yang mengeri-
kan ini. Dan kemudian salurannya terputus
sebelum aku tahu siapa dua orang ini, dan
kupikir bila kau bisa menghubungkanku
kembali dengan saiuran yang salah tadi, atau
mungkin melacaknya..."
240 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

Kepala operator itu adalah orang yang


penuh pengertian dan lembut hati—dan hal itu
hampir membuatnya gila. Dia menjelaskan
hanya sambungan yang sedang berlangsung
saja yang bisa dilacak. Dan sambungan yang
sudah terputus sudah pasti tidak bisa dilacak.
"Saya tahu mereka mungkin sudah berhenti
bicara sekarang," sahutnya tajam. "Mereka kan
tidak sedang bergosip. Karena itulah saya minta
operatormu untuk mencoba menemukan
kembali nomer mereka. Kau kira hal sederhana
seperti itu tidak..."
Kritikan pedas dalam suaranya tidak
menggoyahkan ketenangan suara Kepala
Operator di seberang. "Atas dasar apa Anda
menginginkan nomer ini dilacak, Nyonya?"
"Alasan!" serunya. "Apa aku perlu alasan
yang lebih daripada alasan yang sudah ku-
utarakan tadi? Secara tidak sengaja, aku
mendengar dua pembunuh. Pembunuhan
yang mereka lakukan akan dilaksanakan
malam ini—pukul 11:15. Ada seorang perem-
puan yang akan terbunuh—di suatu tempat di
kota ini..."
Kepala Operator itu sangat simpatik—dan
dia sangat sabar. "Saya mengerti itu, Nyonya,"
sahutnya. "Saya hanya bisa menyarankan agar
Anda memberitahukan kepada polisi mengenai
inforrmasi ini. Bila Anda ingin menghubungi
operator dan meminta..."
Maaf, Salah Sambung | 241

Dia langsung memutuskan telepon, namun


ia kembali mengangkat gagang telepon lalu
menunggu s a m p a i ada nada paggil.
Kemarahan bangkit dalam dadanya, membuat
pipinya yang pucat berwarna kemerahan, dan
mengasingkannya dari sekitar kecuali nada
panggil di teleponnya yang terus berrdengung.
Dia tidak mendengar suara berbisik dari
perahu-perahu yang membelah sungai kelam
di bawahnya, atau suara lalu-lintas yang
mengalir pelan di sepanjang jalan tol di pinggir
sungai. Dia tidak mendengar suara denting
logam baja yang beradu, dan suara grek, grek,
grek dari kereta yang mendekati jembatan.
Jendela kamarnya yang bergetar akibat kereta
yang melintas juga tidak diperhatikannya—
getaran yang dirambatkan secara molekuler
oleh jembatan yang bergetar. Dan ketika kereta
itu akhimya berbunyi dengan keras, dia baru
mendengamya. Di saat yang sama, suara
seorang operator terdengar dari seberang
telepon. "Silahkan sebutkan nomer yang Anda
tuju."
"Sambungkan saya dengan polisi," kata-
nya, sambil menyipitkan mata ketika suara baja
yang saling beradu itu berteriak memenuhi
malam dan kemudian semakin samar dan
menghilang.
Ketika dengung telepon terdengar di
telinganya sekali lagi, dia baru merasakan hawa
242 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

panas yang menekan. Dia menyentuh kening-


nya dan bagian lembab di bawah matanya
dengan sapu tangan. Kemudian sebuah suara
lelah menyahut, "Kantor Polisi. Markas
Tujuhbelas. Disini Sersan Duffy."
"Ini Mrs. S t e v e n s o n — M r s . Henry
Stevenson—Sutton Place nomer 43," sahut-
nya. "Saya bermaksud melaporkan kejadian
pembunuhan..."
"Apa yang Anda maksud, Nyonya?"
"Saya mau melaporkan adanya pem-
bunuhan."
"Anda bilang pembunuhan, Nyonya?"
"Tolong, dengarkan saya sampai selesai..."
"Ya, silahkan, Nyonya."
"Pembunuhan ini belum berlangsung, tapi
pasti akan terjadi... Saya baru saja mendengar
secara tidak sengaja tentang pembunuhan itu
melalui telepon."
"Anda bilang Anda mendengarnya di
telepon, Nyonya?"
"Ya. Melalui saluran yang salah sambung
yang dihubungkan oleh operator telepon. Saya
sudah mencoba untuk melacak sendiri nomer
telepon itu—tapi semua orang yang kumintai
bantuan-sepertinya begitu bodoh..."
"Bisakah Anda memberitahukan kepada
saya dimana pembunuhan itu akan terjadi?"
"Rencana pembunuhan itu jelas sekali,"
sahutnya getir, merasakan keraguan polisi itu
Maaf, Salah Sambung | 243

mengenai laporannya. "Aku mendengarnya


dengan sangat jelas. Ada dua orang lelaki yang
sedang berbicara. Mereka akan membunuh
seorang perempuan pada jam 11:15 malam ini.
Perempuan itu tinggal di sebuah rumah dekat
jembatan."
"Lalu?"
"Dan ada satpam di jalanan. Dia akan pergi
ke suatu tempat di Second Avenue untuk
membeli segelas birdan kemudian pembunuh
ini akan memanjat jendela dan membunuhnya
dengan pisau."
"Selanjutnya bagaimana, Nyonya?"
"Dan ada lelaki ketiga disana—seorang
klien—begitu mereka memanggilnya—yang
membayar mereka untuk melakukan hal ini—
hal mengerikan yang akan dilakukan lelaki-
lelaki lainnya. Si klien ini menginginkan agar
perhiasan si perempuan itu diambil agarterlihat
seperti perampokan biasa."
"Begitu. Apakah itu sudah semuanya,
Nyonya?"
"Well, hal ini benar-benar mengguncang
syarafku—saya sedang sakit..."
"Begitu. Dan kapan Anda mendengar hal
ini, Nyonya?"
"Sekitar delapan menit yang lalu."
"Dan nama Anda, Nyonya?"
"Mrs. Henry Stevenson."
"Dan alamat Anda?"
244 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Sutton Place nomer empat puluh tiga.


Dekat jembatan. Jembatan Queensboro, Anda
tahu, bukan? Dan kami juga punya penjaga
pribadi di jalan rumah kami—dan di Second
Avenue..."
"Nomer berapa yang Anda hubungi tadi,
Nyonya?"
"Murray Hill 3:0093. Tapi bukan dari nomer
itu saya mendengarnya. Murray Hill 3:0093 itu
kantor suami saya. Saya sedang mencoba
menghubungi suami saya karena dia belum
pulang-pulang juga—"
"Well," ujar si polisi merasa bosan, "kami
akan mencoba mengeceknya, Mrs. Stevenson.
Kami akan mengecek perusahaan telepon."
"Tapi tadi perusahaan telepon bilang
mereka tidak bisa meiacak telepon yang
sambungannya sudah terputus. Mungkin Anda
pribadi bisa melakukan sesuatu dengan lebih
cepat dan drastis daripada hanya mengecek
panggilan itu. Di saat Anda sedang meiacak
telepon itu—mereka sudah akan melaksanakan
pembunuhan tersebut."
"Well, kami akan menanganinya, Bu,"jawab
si polisi itu sambil menghela napas. "Jangan
khawatir."
"Tapi saya benar-benar khawatir, Pak,"
sahutnya setengah mengeluh. "Anda harus
melakukan sesutu untuk melindungi orang ini.
Saya akan merasa lebih aman bila Anda me-
Maaf, Salah Sambung | 245

lakukannya—bila Anda mengirimkan panggilan


melalui radio polisi ke lingkungan itu."
Polisi itu menarik napas lagi. "Begini, Bu,
apakah Anda tahu seberapa panjang jalan
Second Avenue itu?"
"Saya tahu, tapi..."
"Dan apakah Anda tahu ada berapa banyak
jembatan di Manhattan?"
"Tentu saja, tapi..."
"Jadi apa yang membuat Anda berpikir
bahwa p e m b u n u h a n ini akan terjadi di
lingkungan Anda, kalau memang nanti akan
terjadi pembunuhan? Mungkin yang Anda
dengar tadi adalah panggilan dari New York.
Mungkin Anda tersambung ke saluran inter-
lokal."
"Saya kira Anda mau melakukan sesuatu,"
jawabnya getir. "Anda seharusnya bertanggung
jawab untuk melindungi para anggota masya-
rakat yang baik. Tapi ketika saya membicarakan
tentang pembunuhan yang akan terjadi Anda
malah mengira saya sedang bergurau atau
semacamnya."
"Maafkan saya, Bu," sahut si polisi itu
dengan tenang. "Banyak terjadi pembunuhan
di kota ini. Bila kami bisa menghentikan semua-
nya, kami akan lakukan itu. Tapi petunjuk yang
Anda berikan pada saya—well, itu petunjuk
yang masih samar. Bahkan hampir tidak ada
gunanya sama sekali. Begini saja," tambahnya,
246 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

berusaha terdengar riang. "Mungkin yang Anda


dengartadi hanyalah salah satu program radio
sinting yang tanpa sengaja masuk ke saluran
telepon. Mungkin Anda terhubung dengan
salah satu acara kriminal tentang pembunuhan.
Bahkan mungkin Anda mendengarnya samar-
samardari jendela dan mengira mendengarnya
di telepon."
"Bukan," jawabnya dingin. "Sama sekali
bukan begitu. Sudan saya bilang saya men-
dengarnya di telepon. Mengapa Anda ngotot
sekali sih?"
"Saya ingin membantu Anda sebisa
mungkin, Nyonya," sahut si polisi dengan suara
meyakinkan. "Apakah Anda tidak merasa ada
sesuatu sifatnya menipu mengenai panggilan
tadi—atau apakah ada seseorang yang
berencana membunuh Anda?"
Dia tertawa, gugup. "Saya? Tentu saja tidak.
Itu akan menjadi hal yang paling menggelikan.
Maksudku—mengapa harus ada orang yang
menginginkan kematianku? Aku bahkan tidak
kenal seorangpun di New York. Aku baru
beberapa bulan tinggal disini dan aku tidak
menemui siapapun kecuali pembantu-pem-
bantuku dan suamiku."
"Kalau begitu, Bu, tidak ada sesuatupun
yang harus Anda khawatirkan," ujarnya jujur.
"Dan sekarang—jika Anda mengijinkan, Bu,
Maaf, Salah Sambung | 247

ada beberapa hal lain yang lebih penting yang


harus saya tangani. Selamat malam, Nyonya."
Dengan perasaan jijik dia menjatuhkan
gagang telepon ke tempatnya. Diambilnya
tabung kecil berisi garam harum, membuka
sumbatnya, dan menghirupnya dalam-dalam.
Setelah dia merasa lega, dia menyumbatnya
dengan gabus dan meletakkan kembali di meja
sebelah tempat tidur. Lagi-lagi dia meng-
hempaskan diri ke bantal, bertanya-tanya apa
yang harus dia lakukan selanjutnya. Marahnya
akibat laporan yang hanya ditanggapi sekena-
nya oleh polisi itu telah berkurang sekarang.
Lagipula, mungkin memang sulit s e k a l i .
melacak kedua orang yang berbicara di telepon
tadi secara langsung. Tapi tetap saja, mereka
harus melakukan sesuatu—setidaknya mereka
mengumumkannya lewat radio atau semacam-
nya untuk memperingatkan polisi-polisi lainnya
di kota tentang adanya bahaya yang meng-
ancam seseorang—dimanapun orang itu
berada.
Sesaat, keadaan genting yang diakibatkan
telepon pembunuhan itu terasa samar-samar
di benaknya. Tetapi percakapan keji yang dia
dengar itu bukan berarti bisa dilupakannya
sama sekali—juga pikiran tentang perempuan
malang yang bernasib buruk itu. Tetapi
kesepiannya sendiri kembali menjadi hal yang
248 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

mengganggu. Perbuatan Henry meninggalkan-


nya sendirian di rumah benar-benar tidak bisa
dimaafkan. Kalau saja dia tahu, pembantunya
pasti akan dipaksa untuk tetap tinggal di rumah.
Sekelilingnya mulai membuatnya gugup
kini. Ruangan yang remang-remang, dipenuhi
dengan perabotan terbaru yang mahal-mahal,
menjadi kepompong yang membuatnya ter-
kungkung dan merasa tidak ada jalan keluar.
Jajaran botol-botol dan tabung-tabung, kotak
dan penyegar yang terletak di atas meja has
yang terletak di dinding seberangnya, me-
mancarkan suasana membosankan, meng-
ingatkannya akan kecantikan yang makin
memudar. Ruang duduk mewah dan nyaman,
dengan bangku-bangku anggun dan kursi-
kursi taman yang diletakkan di ruangan yang
ditutupi dengan cantik, meja-meja pajangan
yang dihias dengan mewah—semuanya
diletakkan dalam ruangan dengan karpet
setinggi mata kaki yang sesuai dengan warna
dindingnya—dan semua terlihat seakan-akan
diatur oleh tangan terampil yang tidak terlihat.
Ruangan itu tidak memiliki kehidupan. Serasa
di dalam tahanan. Kain halus dan berkilat yang
menutupi tirai, membingkai jendela bagai terali
besi penjara. Dia benci sekali tempat ini. Dia
juga membenci ketidakberdayaannya dalam
mengatasi kesepian. Lagi-lagi dia menyambar
pesawat telepon dan memutar nomer operator.
Maaf, Salah Sambung | 249

"Operator, demi Tuhan, bisakah Anda


menghubungkan saya dengan Murrray Hill
3:0093 sekali lagi? Saya tidak habis pikir, apa
yang menahannya disana sebegitu lama."
Kali ini tidak ada nada sibuk terdengar!
Hanya nada panggil yang bersuara seperti
mendengkur, terus dan terus. Sampai akhimya
suara operator memutus dengkuran itu dan
berkata, "Tidak ada jawaban dari s a n a ,
Nyonya."
"Saya tahu," sahutnya dengan suara manis.
"Saya tahu. Anda tidak usah mengumumkan-
nya pada saya. Saya bisa dengar sendiri."
Akhirnya telepon itu diletakkannya kembali.
Dia kembali berbaring di kasur, menatap
pintu kamar yang setengah terbuka, men-
dengarkan dengan seksama layaknya orang-
orang kesepian yang mencoba mendengarkan
suara-suara dari sekelilingnya, mencari bukti
adanya gerakan sekecil apapun, tanda-tanda
berakhirnya kesepian ini. Tapi tidak ada apa-
apa sama sekali. Pandangannya tertumbuk ke
meja kecil di sebelah tempat tidur, dengan
jejeran botol-botol obat, jam meja, dan sapu-
tangan kusut—semuanya terkelompok dekat
telepon. Tanpa sadar, dia membuka iaci di
bawah meja itu, mengambil sisir bertatahkan
berlian dan kaca kecil dari sana. Sisir berkilau
itu meluncur tenang di rambutnya, dan dia
menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri
250 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

untuk melihat hasilnya di kaca. Puas dengan


tatanan rambutnya yang anggun, dia meng-
ambil lipstik dari laci yang sama, dengan hati-
hati memulaskan warna merah yang kembali
memunculkan kesegaran di wajahnya.
Henry selalu bisa menunjukkan kekaguman
akan kecantikannya, pikirnya. Belakangan ini,
mungkin, komentarnya yang menggebu-gebu
menjadi kurang spontan, terasa rutin, mekanis.
Atau apakah karena sekarang dia belum pulang
tanpa ada pemberitahuan makanya dia merasa
seperti itu? Dan itu mengingatkannya akan
keberadaan Henry yang masih jadi masalah
sekarang ini, situasi menyebalkan yang tidak
juga terselesaikan.
Dari laci yang sama dia mengambil notes
kecil bersampul hitam dengan jilid spiral. Dia
membuka pada bagian "J" ketika telepon ber-
bunyi tiba-tiba. Dengan cepat dan antusias,
disambarnya telepon dan dijawab dengan
suara manis, "Hallo-o-o-o."
Kepalanya agak pusing saat dia mendengar
suara dari telepon, "Ini adalah sambungan
interlokal. Ada seseorang yang ingin berbicara
dengan Mrs. Stevenson dari Chicago."
"Ya, disini Mrs. Stevenson." Lalu beberapa
menit kemudian, "Halo, Ayah, apa kabar?"
"Baik-baik saja," sahut Jim Cotterell
bersemangat. "Baik-baik saja, Leona. Dan—
bagaimana kabar gadisku malam ini?"
Maaf, Salah Sambung | 251

Sepanjang hidupnya, Leona Stevenson


selalu mendengar dan selalu sebal dengan
ungkapan yang selalu diucapkan ayahnya yang
tinggi besar itu dalam setiap percakapan yang
biasanya hanya terjadi satu arah. Percakapan
yang isinya—biasanya—si ayah memerintah-
kan seseorang untuk melakukan sesuatu. Dan
sesuatu itu seringkali berhubungan dengan
kenyamanan pribadi Jim Cotterell maupun
rekening banknya yang membengkak, atau
keduanya. Energinya yang meluap-luap dan
lidahnya yang tajam telah berhasil meng-
gelindingkan formula pil biasa menjadi salah
satu bisnis pabrik farmasi terbesar saat ini.
Walaupun dia sendiri bukan seorang kimiawan,
dia telah berhasil menemukan tambang platina
murni yang mengguncangkan hasrat publik
akan pengobatan diri sendiri. Kimiawan—
seperti yang biasa dia katakan saat tidak ada
seorangpun kimiawan hadir di tempat yang
sama, atau kadang ada beberapa—kimiawan
itu pasaran, dinilai hanya dengan setumpuk
recehan. Tapi agen penjual yang baik itu sangat
jarang ditemui dan mereka bernilai layaknya
emas.
Tiga puluh tahun yang lalu Jim Cotterell
berhasil menipu seorang apoteker di sudut
jalan agar menjual murah formula obat sakit
kepala yang tidak berbahaya tapi selalu bekerja
efektif. Dan sekarang, pil, puyer dan sirup obat
252 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

batuknya mengalir dari selusin pabrik raksasa


ke seluruh penjuru dunia. Dia memerintah
jaringan korporasi yang besar ini dengan
tangan besi, dan itu adalah tangan yang sama
yang bergetar kebingungan saat putrinya,
Leona, merajuk atau marah. Hubungan antara
Jim dan Leona memang aneh, dan tidak ada
seorangpun yang mengerti kecuali Jim dan
Leona sendiri.
Ibu Leona, yang meninggal ketika me-
lahirkan putrinya, memiliki kecantikan anggun
dan kebanggaan halus. Tapi perempuan itu
bukanlah pasangan yang sebanding dengan
mahluk besar yang biasa mengayun tubuh
mungil istrinya sampai kakinya terjuntai dari
atas lantai. Kematian istrinya adalah kekalahan
Jim Cotterell yang pertama, dan yang paling
utama. Kejadian itu membuat jiwanya kosong
akan kelembutan, membuatnya enggan me-
lakukan hal-hal yang menyenangkan dan
membuat insting bisnisnya berkurang. Kecuali
untuk hal-hal yang menyangkut diri si putri,
Leona. Bukannya menjadi objek cinta ayahnya,
Leona adalah semacam tanda mata dari cinta
yang pernah dimiliki ayahnya. Jim menjaga
Leona seperti seorang pemburu tersesat yang
kedinginan menjaga api unggun yang hampir
mati. Dan ketika api itu membesar, dia menjadi
semakin takut. Bukan takut akan api yang
membakar dirinya, tapi takut api itu mati.
Maaf, Salah Sambung | 253

Leona, yang mewarisi kecantikan ibunya,


memiliki perpaduan aneh antara kebanggaan
yang dimiliki ibunya dan sifat keras kepala dari
ayahnya. Ketika tahun demi tahun dia tumbuh
dewasa, Leona tidak memiliki pribadi yang
cukup kuat dari perpaduan ini. kebalikannya,
dia menjadi sangat galak, sangat perhitungan,
dan harus mendapatkan segala sesuatu yang
dia inginkan, apapun itu. Tanpa perduli siapa
nanti yang akan menjadi korban.
Jim, dengan alasan yang jauh tersembunyi
di balik sifatnya yang agresif, malah mendorong
temperamen putrinya yang keras itu. Dalam hal
tertentu, itu menyenangkan baginya—me-
muaskan kebutuhan akan sesuatu di dalam
dirinya—memiliki sepotong pujaan tempat dia
bisa merendahkan diri di hadapan pujaan itu.
Dia membenarkan sikapnya sendiri dengan
alasan kesehatan Leona yang lemah dan
mengancam jiwa sang putri. Ketakutannya
akan hal ini ditunjang sepenuhnya oleh dokter
keluarga yang heran karena seringnya Leona
murka maka dia menganjurkan untuk selalu
membuat Leona tenang. Kemudahan yang
dimiliki putri kecil itu seakan seperti perisai dan
pedang khayalan yang akan melawan segala
kesusahan yang dia alami, dan tahun-tahun
berikutnya keluhan sakitnya menelan hal-hal
nyata yang dia alami. Kenangan masa kecil
tenggelam di alam bawah sadarnya—hanya
254 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

gejala-gejala sakitfisik yang mengkhawatirkan


yang terlihat saat dia mengalami stres berat.
Dan akibatnya, di usia tigapuluhan, dia percaya
dan yakin bahwa dia menderita lemah jantung.
Dokter yang menanganinya masih saja heran,
meskipun kemungkinan dia mengidap penyakit
itu tetap ada. Ada banyak indikasi yang me-
nunjang pendapat si dokter. Tapi Jim tetap saja
memperlakukan Leona sekehendak hatinya.
Hanya ketika Leona memutuskan untuk pindah
ke New York saja maka Jim memintanya untuk
menemui ahli jantung lainnya.
"Bagaimana kabar gadisku malam ini?"
tanya Jim.
"Aku sedang kesal," jawab si putri,
cemberut.
"Kesal?"
"Well, siapa sih yang tidak kesal? Aku tidak
tahu dimana Henry, lagipula—aku baru saja
mendengar rencana pembunuhan di telepon!"
"Demi Tuhan, s a y a n g , apa yang kau
bicarakan?"
"Aku mencoba menghubungi Henry di-
kantornya. Dan entah bagaimana tahu-tahu aku
sudah terhubung dengan saluran yang salah
dan aku mendengar kedua orang ini bicara
mengenai pembunuhan yang akan mereka
lakukan terhadap seorang perempuan..."
"Tunggu sebentar," potong Jim kasar. "Aku
harus tahu hal yang sebenarnya. Mengapa kau

.
Maaf, Salah Sambung | 255

mencoba menghubungi Henry dikantornya—


malam-malam begini?"
"Karena dia belum pulang. Aku tidak tahu
ada apa sebenarnya. Sudah kucoba untuk
telepon kantornya, tapi malah nada sibuk yang
terdengar. Sampai akhirnya kudengar dua
orang itu bicara."
"Begitu ya, sayang?" sahut ayahnya
dengan suara marah. "Ini sangat meng-
gangguku. Anak ini memang tidak punya
tanggung jawab sama sekali dan sekarang dia
berulah seperti ini. Kalaupun dia memang
menghadiri rapat di Boston, harusnya dia..."
"Boston?" teriaknya. "Ada apa di Boston?"
"Apa Henry belum bilang? Ada konvensi
pengusaha obat-obatan di Boston, dan dari
laporannya, dia berencana akan pergi kesana.
Bahkan jika dia berubah pikiran dalam menit-
menit terakhir, dia tidak berhak membuatmu
menunggu sendiri di rumah."
"Mungkin dia sudah berusaha mengabar-
kan aku," jawab Leona ragu-ragu. "Mungkin dia
mencoba menelepon kesini saataku mencoba
menghubungi kantornya pada waktu yang
bersamaan. Jika dia harus berangkat dengan
kereta malam..."
"Alasan apa itu! Seharusnya dia berusaha
keras untuk mengabarkan hal ini padamu!"
"Aku tahu, Ayah."
256 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Well, jangan khawatir, Sayang. Aku akan


meluruskan kelakuan Henry ini..."
"Masalahnya," sahut Leona tiba-tiba, "aku
tidak bisa berhenti mengkhawatirkan per-
cakapan di telepon tadi..."
"Santai sajalah, Sayang. Yang kau dengar
tadi mungkin saja cuma gurauan—cuma
beberapa orang badut iseng yang sedang
beraksi. Lagipula. Siapa yang bakal mem-
bicarakan tentang pembunuhan yang sebenar-
nya di telepon?"
"Tapi itu sungguhan," ujarnya, mencoba
meyakinkan ayahnya. "Dan aku sama sekali
merasa tidak enak jadinya—apalagi aku hanya
sendirian di rumah."
"Sendiri! Dan bahkan pembantumu itu..."
"Ya, Ayah," ujarnya.
"Well, kalau b e g i t u . . . A p a kau sudah
menelepon polisi?"
"Tentu saja. Tapi mereka tidak begitu tertarik.
Hal-hal seperti ini dianggap tidak masuk akal."
"Well, kau sudah melakukan sebisamu
dalam situasi seperti ini. Jadi, Sayang, jangan
biarkan hal itu terus mengganggumu lagi. Dan
besok," suaranya kini berat karena kemarahan
yang ditahan. "Besok kita akan bicara sedikit
dengan Henry—dimanapun dia berada."
"Baiklah Ayah. Selamat malam."
"Selamat malam," sahutnya. "Ya ampun...
kuharap kau pulang, Sayang. Tempat ini seperti
Maaf, Salah Sambung | 257

kamar mayat saja. Aku tidak tahu mengapa


Henry membuatku membicarakan tentang...
Well, jaga dirimu baik-baik. Aku akan me-
nelepon lagi besok."
Leona meletakkan gagang telepon kembali
ke tempatnya, seulas senyum samar terbayang
di wajahnya, membayangkan bagaimana
bencinya Henry mendapatkan telepon seperti
ini dari bapak mertuanya. Henry tidak pernah
menyinggung mengenai hal ini sama sekali,
tapi kebenciannya adalah sesuatu yang bisa
dirasakan, bukan dilihat atau didengar oleh
Leona.

9:51
Dia agak tenang dengan kepedulian ayahnya
dan dengan pikiran akan ganti rugi yang hebat
yang menunggu kepulangan Henry nanti. Tapi
tetap saja dia tidak dapat membujuk pikirannya
untuk tenang dan membiarkan waktu yang
menjawab pertanyaan dalam benaknya. Dari
pembicaraan tidak mengenakkan antara
"George" dan salah satu teman iblisnya yang
suka memakai pisau, dia telah mencoba
sebisanya untuk menarik perhatian para polisi.
Tidak ada alasan kejujurannya nanti akan
disalahkan jika terjadi tragedi nanti. Koran
besok pagi mungkin akan menjelaskan akhir
cerita malam ini—jika akhir itu memang ada.
Dan jika nanti ada seorang perempuan tidak
258 I Lucille Fletchers Allan Ullman

bersalah yang ditikam sampai mati, dan di-


rampok, dia akan meminta Henry untuk menulis
ke koran itu, ke Komisaris Polisi, dan mungkin
ke Walikota, tentang tanggapan para polisi di
Departemen Kepolisian yang biasa-biasa saja
terhadap informasi vital ini. Dan mereka akan
menyelidiki misteri sebenarnya karena ke-
saksiannya akan membuktikan perampokan itu
bukan hal yang sesungguhnya terjadi dan ada
seseorang yang memerintahkan agar perem-
puan itu dibunuh. Hal-hal seperti ini akan
menjadi sensasi untuk pers, dan kebajikannya
untuk menceritakan apa yang dia dengar
semalam akan membuat dirinya menjadi kepala
berita di koran-koran. Kawan-kawannya di
Chicago akan terpesona oleh keberaniannya.
Padahal dia invalid—setidaknya itulah yang dia
rasakan.
Tapi Henry ini kemana sih? Pikiran-pikiran-
nya terganggu oleh usaha yang dia lakukan
untuk dapat medengarkan suara sekecil
apapun—dan itu dipertegas dengan gerakan-
gerakannya—akan adanya seseorang yang
masuk ke dalam rumah. Papan yang berderak,
atau kertas yang bergemerisik karena
hembusan angin, dan untuk sesaat dia men-
dengar suara langkah kaki, maupun orang
bernapas. Jantungnya berdebar-debar tiap
saat; dan kekecewaannya seperti menambah-
kan minyak ke dalam api kemarahannya. Dia
Maaf, Salah Sambung | 259

tidak bisa hanya duduk dan menunggu disana.


Setidaknya dia dapat berusaha melaporkan
semua ini ke Henry.
Sebuah buku notes berwarna hitam kecil
dikeluarkannya dari dalam laci meja sebelah
tempat tidur, mencari-cari bagian dengan huruf
'J'. Disana dia menemukan entri dengan nama
'Miss Jennings', dan di sebelahnya ada nomer:
Main 4:4500.
Dan nomer ini diputarnya.

Perempuan-perempuan yang serupa


burung dan bersarang di hotel khusus perem-
puan di Elizabeth Pratt itu bercicit-cicit heboh
di ruang duduk utama. Malam itu adalah malam
permainan Bingo, dan mereka seakan ber-
tengger di meja-meja yang memenuhi ruangan
itu—meja kartu, meja perpustakaan, dan meja
biasa yang dipinjam dari ruang makan—dan
berkonsentrasi penuh pada kartu-kartu di-
hadapan mereka, berdecak dan berderik, dan
kadang-kadang berkoak-koak ketika sejumlah
angka disebutkan.
Ruangan itu kuno, tua, dengan bau beledu
dan kehormatan yang sudah usang. Lukisan-
lukisan suram dan berdebu di bingkai-bingkai
berkilat berukuran besar tergantung pada
dinding coklat pudar. Kursi-kursi kecil dan
dudukan-dudukan antik bersandar di dinding
dengan nuansa kaku, dipisahkan oleh meja-
260 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

meja dengan berbagai lampu porselen berkap


rumbai-rumbai di atasnya. Di langit-langit
terdapat tempat lilin kuningan yang sudah
usang, dengan keran gas yang dibuka dan
bersinar menandakan zaman kesangsian saat
tempat lilin itu dibuat, yang meninggalkan
semacam kilatan di barisan lampu-lampu listrik
yang berjajar. Tidak ada sesuatupun di dalam
ruangan itu yang bisa mengganggu bayangan
kejayaan masa lalu tempat sebagian besar
tamu hotel itu hidup.
Di salah satu ujung ruangan, seorang
perempuan besar bergaun warna hitam karat
menatap melalui kacamata tanpa gagang ke
arah angka-angka yang diambil dari tabung di
sebelahnya. Ketika satu demi satu angka-
angka itu menjadi jelas di matanya, dia akan
menyentak kepalanya ke satu arah, me-
mandang ke seluruh ruangan, dan menyebut
angka itu dengan suara yang keras, tinggi, dan
menyakitkan. Wajah tirusnya akan tersenyum
mendadak dan kemudian dia akan kembali
mengambil angka-angka itu lagi. Itu ber-
langsung beberapa waktu secara terus
menerus dan monoton, sehingga ketika ada
gangguan mendadak dia terhuyung kagetdari
duduknya.
Seorang perempuan kecil dan bundar
dengan kerah dan lengan baju terkanji,
merayap ke dalam ruangan dan mengangkat
Maaf, Salah Sambung | 261

tangan ragu-ragu ke arah si penyebut nomer


itu. "Ssss-shhht, Miss Jennings—"
Perempuan yang dipanggil itu, terkejut dan
marah, memandang galak ke arah si pengacau.
"Tolong ya!" katanya tajam, dan sekali lagi mulai
memilih sebuah angka dari tabung. Tapi
pengacau itu, meskipun jelas-jelas diintimidasi,
tidak mau diusir begitu saja. "Ada telepon,"
bisiknya seolah meminta maaf. "Untuk Anda,
Miss Jennings... dari Mrs. Stevenson..."
Miss Jennings, dengan sepotong kertas
karton terhenti di udara, memandang tajam ke
arah perempuan kecil yang gugup itu. "Siapa?"
tanyanya terkejut.
"Mrs. Stevenson... Itu juga kalau dia masih
menunggu..."
Mata Miss Jennings membesar dan kaca-
mata tanpa gagang yang ada di ujung hidung-
nya bergetar. "Oh!" teriaknya. "Katakan
padanya, aku segera datang." Lalu dia memutar
kepalanya yang dihiasi rambut bercat hitam
yang disanggul ke orang-orang yang me-
nontonnya, dengan riang dia berteriak, "Aku
mohon maaf, nona-nona. Kuharap kalian tidak
keberatan. Aku harus menerima telepon
penting dari Mrs. Stevenson... Kalian tahu
kan—putri Mr. Cotterell... Mr. Cotterell yang
memiliki Perusahaan Cotterell..." kemudian dia
terbang ke tujuannya.
262 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

Sambil meluncur keluar ruang duduk dan


melintas di depan meja operator telepon,
perempuan itu berteriak agardia dihubungkan
dengan Mrs. Stevenson dari kamarnya yang
terletak di ujung lorong sempit dan panjang di
lantai satu—yang dilaluinya dengan kaki yang
hampir tidak menyentuh tangga berkarpet
maupun lantai papan tua. Pintu kamar dibuka,
dan dia langsung melemparkan diri ke sebuah
kursi malas raksasa berwama hijau di sebelah
ranjang bertiang kuningan, dan menyambar
pesawat telepon—semua dilakukan dengan
satu gerakan mengalir. "Hal—halo. Halo, Mrs.
Stevenson," dia menyapa sambil meng-
hembuskan napas lega. Matanya yang kecil
terlihat seperti mata burung sekarang karena
kacamata tanpa gagang yang biasa dikenakan-
nya diletakkan di pangkuan. "Saya senang
sekali karena Anda menelepon."
"Maafkan jika saya mengganggu," ujar
Leona.
"Tidak apa-apa," seru Miss Jennings. "Saya
hanya sedang mengadakan permainan kecil
sebagai pengisi waktu luang di hotel sini. Saya
harap saya tidak membuat Anda menunggu
terlalu lama."
"Tidak apa-apa. Saya menelepon karena
ingin bertanya, kira-kira Mr. Stevenson pergi
kemana, ya? Telepon saya—nadanya sibuk
sekali sore ini sehingga saya—saya khawatir
Maaf, Salah Sambung | 263

mungkin dia tidak dapat menghubungi saya.


Dan saya cemas sekali..."
Miss Jennings mencengkeram gagang
telepon lebih erat ke dadanya yang kurus.
Matanya memancarkan ketertarikan yang tidak
tulus. Ini mengasyikkan.
"Tidak," jawabnya agak terengah. "Saya
tidak tahu Mr. Stevenson pergi kemana. Aneh
sekali beliau belum sampai ke rumah."
"Apa dia ada sesuatu yang hams dikerjakan
sampai malam begini?" tanya Leona.
"Ti—tidak. Saya rasa tidak. Beliau tidak ada
di kantor ketika saya pulang pukul enam."
"Dia tidak ada disana?"
"Tidak. Bahkan beliau hanya ada di kantor
beberapa menit seharian ini. Siang, kalau tidak
salah. Kemudian beliau pergi dengan seorang
perempuan dan itu adalah terakhir kalinya saya
melihat Mr. Stevenson hari ini."
"Perempuan—?"
"Ya," sahut Miss Jennings, dan sinar di
matanya itu semakin terang. "Ada seorang
perempuan yang menunggu kedatangan Mr.
Stevenson selama satu jam lebih. Dan ke-
lihatannya dia sangat cemas."
Leona ragu-ragu sejenak. Kemudian dia
bertanya, suaranya bergetar. "Apakah—
apakah—perempuan itu orang yang dikenal Mr.
Stevenson? Seseorang yang pernah kesana
sebelumnya?"
264 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

"T-t-tidak. Dia belum pernah kesini


sebelumnya. Saya tidak yakin. Dan Mr.
Stevenson juga kelihatannya tidak—tidak mau
mengenalinya. Awalnya memang begitu."
"Apakah Anda ingat siapa nama perempuan
itu, Miss Jennings?"
"Namanya Lord—L-O-R-D, Mrs. Lord. Saya
rasa nama depannya Sally."
"Well, apa yang mereka lakukan?" desak
Leona.
Miss Jennings memandang langit-langit
kamar, mengingat-ingat apa saja yang telah
terjadi hari ini. "Mr. Stevenson kelihatannya
agak malu, tapi bagaimanapun beliau berusaha
memulihkan situasi tersebut. Beliau mengata-
kan pada Mrs. Lord bahwa beliau sudah ada
janji dengan seseorang dan memintanya untuk
datang lain kali. Perempuan itu menolak, dia
bilang ini penting. Jadi Mr. Stevenson meng-
usulkan agar dia menemaninya makan
sebelum mengadakan pertemuan dengan
orang yang dijanjikan. Lalu mereka pergi
keluar."
"Dan dia sama sekali tidak kembali setelah
itu?"
"Tidak, Mrs. Stevenson. Saya pulang pukul
enam, seperti yang sudah saya katakan tadi,
dan beliau belum datang juga. Hanya ada satu
pesan untuk beliau selama beliau pergi
sepanjang sore tadi."

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com
Maaf, Salah Sambung | 265

"Pesan? Dari siapa?"


"Oh, dari Mr. Evans—orang yang meng-
hubungi Mr. Stevenson tiap minggu. Biasa...
pengganggu."
"Well," sahut Leona agak bimbang." Semua
ini aneh sekali. Tapi saya yakin Mr. Stevenson
akan mengabari saya jika ada sesuatu yang
penting. Dia selalu mengatakan segala yang
terjadi di kantor."
"Ya, Mrs. Stevenson." Seulas senyum
mengejek membayang di wajahnya ketika dia
mengatakannya.
"Saya ingin bertanya," sambung Leona.
"Apa Mr. Stevenson pernah mengatakan pada
Anda tentang kepergiannya ke Boston? Dia—
dia mengatakan padaku..."
"Oh, itu!" seru Miss Jennings. "Beliau
memang melaporkan pada Mr. Cotterell
mengenai kemungkinan untuk menghadiri
kovensi di Boston. Tapi jika beliau pergi
sekarang—saya tidak tahu."
"Well, terima kasih," sahut Leona seriang
mungkin. "Terima kasih banyak, Miss Jennings.
Saya tidak akan menahan Anda lebih lama
lagi."
"Saya yang berterima kasih pada Anda,
Mrs. Stevenson. Saya senang bisa membantu
Anda. Saya harap keterangan saya cukup
membantu. Sebagian besar orang-orang di
kantor—well—kami agak-agak iri terhadap
266 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

Anda, Mrs. Stevenson. Mr. Stevenson sangat


setia pada Anda."
"Ya," sahut Leona. "Dia memang begitu—"
"Saya harap Anda menyukai bunga yang
dikirim hari ini," sambung Miss Jennings. "Saya
rasa bunga kamelia cukup cantik, sebagai
ga;nti..."
"Sangat cantik memang," sahut Leona.
"Selamat malam, Miss Jennings."
Miss Jennings menjawab salam Leona dan
menutup teleponnya. Dia bersandar sambil
menerawang, menatap langit-langit kuningan
tempat tiga bola lampu yang berpendar
telanjang tanpa tudung. Tapi dia tidak melihat
sinar tajam itu atau yang lainnya. Matanya
berputar di dalam rongganya, mengira-ngira
akan adanya sebuah rahasia yang nantinya
amat menjanjikan dan mengejutkan. Tidak ragu
lagi, itu memang rahasia, atau sesuatu yang
dulunya dirahasiakan. Adanya penjelasan yang
nantinya akan dikemukakan oleh Mr.
Stevenson akan langsung ditolaknya mentah-
mentah. Dia selalu merasa ada yang aneh
tentang diri Mr. Stevenson. Ada suasana konflik
yang selalu melingkupi wajah tampan dan
keras itu dan sikapnya tak tertembus. Kalau
dipikir-pikir, dia hanya sebentar saja berada di
kantor. Dan Miss Jennings, dengan pikirannya
yang sedang berputar-putar penuh tipu daya,
mulai memikirkan segala kemungkinan.
Maaf, Salah Sambung | 267

Pucat dan gemetar, Leona jatuh ke atas


tempat tidur yang bertaburkan bantal-bantal.
Jadi begitu ya! Apa yang tidak bisa terjadi
temyata sekarang terjadi! Bodoh! Benar-benar
bodoh! Membuat dirinya terjebak per-
selingkuhan kotor dengan gadis dari masa
lalunya. Dan terpergok hampir saat itu juga.
Membuka aibnya tentang caranya bertugas
dalam menangani perusahaan ayahnya. Untuk
memaksanya memilih salah satu adalah aib
dalam masyarakat—hancurnya ilusi yang
diciptakan Leona tentang kehidupannya yang
menyenangkan—tapi di sisi lain dia harus
menanggung malu yang dirasakannya secara
pribadi, dikalahkan selamanya oleh Henry yang
tahu Leona tidak bisa mengalahkannya,
selamanya. Tidak masuk akal! Mengapa
semuanya terjadi malam ini? Apakah ada
seseorang yang mencoba membuatnya gila?
Apakah ada seseorang—Henry, mungkin—
yang mencoba untuk membuatnya kena
serangan jantung?
Sesuatu melintas di benaknya... nama
perempuan itu—Lord. Sepertinya nama itu
pernah dia dengar sebelumnya. Atau melihat-
nya. Hari ini. Suatu waktu di hari ini nama itu
pernah dilihatnya. Tapi karena gelisah, sulit
sekali mengingatnya. Dia yakin nama itu
pernah dilihatnya. Dan tiba-tiba saja dia ingat.
Dia mengayunkan kakinya untuk turun dari
268 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

tempat tidur, awalnya agak gemetar. Dia


berjalan menuju meja rias, menyalakan lampu
yang menyala di salah satu ujungnya. Matanya
menangkap sebentuk kartu putih di dekat
tempat bunga—kartu yang menyertai bunga
kamelia yang dikirimkan Henry hari ini.
"Dengan segenap cintaku, Henry," tulisnya. Dia
menyambar kartu putih itu, merobeknya sampai
membentuk serpihan kecil dan menyebarnya
di lantai. Dia mulai mengacak-acak barang-
barang yang ada di meja, sampai matanya
tertumbuk pada salah satu botol parfum yang
di belakangnya ada sepucuk kertas dengan
beberapa ban's berisi daftar yang ditulis oleh
pelayannya. Ketika dia mengambil kertas itu,
telepon berdering.
Dia kembali meneggelamkan diri ke tempat
tidur dengan kertas itu tergenggam di tangan-
nya sambil mengangkat telepon. Suara seorang
lelaki—bergaung, lelah, dan tua, dengan aksen
Inggris yang kental, berkata, "Tolong dengan
Mr. Stevenson."
"Dia tidak ada," bentaknya. "Siapa ini?"
"Mr. Evans disini. Kapan kira-kira dia
datang? Ini penting sekali. Saya sudah meng-
hubungi kantornya, dan sepertinya dia tidak
ada disana."
"Saya tidak tahu dimana Mr. Stevenson
sekarang ini," sahutnya. "Lebih baik Anda
menelepon lagi nanti."
Maaf, Salah Sambung | 269

"Kira-kira lima belas menit lagi?" tanya si


lelaki. "Saya tidak punya waktu lagi. Saya akan
menginggalkan kota tengan malam nanti."
"Baiklah," ujarnya. "Lima belas menit lagi."
"Terima kasih," sahutnya bergumam. "Saya
akan menelepon lagi nanti. Dan—tolong
katakan pada Mr. Stevenson saya menelepon.
Jika dia sudah pulang. Nama saya Evans. E-
V-A-N-S. Saya ada keperluan yang sangat
penting."
Evans dan teleponnya tadi segera meng-
hilang dari benaknya segera saat Leona
menutup telepon. Dia membawa sepucuk
kertas itu ke bawah lampu. Di atasnya tertulis:
Telepon untuk Mr. Stevenson." Di bawahnya
ada 3 entri yang ringkas:
15:30 Mr. Evans. Richmond 8:12.
16:35 Mr. Evans. Richmond 8:12.
16:50 Mrs. Lord. Jackson Heights 5:9964.
Itu dia. Mrs. Lord! Menghubungi Henry di
rumahnya sendiri—di rumah Leona. Konyol
sekali. Ada batasan tertentu untuk hal-hal
semacam ini, dan salah satu batas itu telah
terlampaui. Dijangkaunya telepon dan di-
putarnya nomer Jackson Heights. Wajahnya
mengeras, cemburu, sekeras batu. Jemarinya
gemetar gugup, menggenggam ujung tempat
tidur ketika dia menunggu jawaban dari
seberang. Kemudian nada panggil berubah
270 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

menjadi suara anak kecil yang berkata, "Halo,


disini kediaman Lords."
Terkejut, Leona berkata, "Saya ingin bicara
dengan Mrs. Lord. Apa dia ada?"
"Sebentar," sahut si bocah. "Saya panggil."
Didengarnya anak kecil itu meletakkan
telepon. Samar-samar terdengar suara seorang
lelaki, "Apa itu untuk Ayah, Nak?" Lalu suara si
bocah, "Buat Ibu," lalu suara lelaki itu meng-
gumam bingung, tapi tidak terlalu jelas untuk
dikenali. Dia mencoba mendengarkan dengan
seksama, jika mungkin mengenali, gaya bicara
lelaki itu. Tapi tidak ada satupun dari suara-
suara tersebut yang dikenalnya. Tiba-tiba dia
merasa tegang, dan menempelkan gagang
telepon lebih erat ke telinganya untuk bisa
mendengar lebih jelas. Tadi dia mendengar ada
yang menyebutkan "Stevenson" dari per-
cakapan yang samar-samar itu. Dan "Cotterell
Corporation"! Dan "Staten Island." Setelah itu
ada seseorang—perempuan—mendekati
telepon, memperingatkan si bocah untuk
kembali ke tempat tidur, berkata ke salah
seorang lelaki disana, "Fred—teganya kamu!
Dia berjalan keluartanpa alas kaki!" Kemudian
ada suara berkerisik ketika telepon itu kembali
diangkat, dan perempuan itu menyapa, "Halo?"
Mulut Leona tiba-tiba seperti penuh kapas.
Dia terdiam sesaat untuk menelan ludah. "Halo,
Mrs. Lords?"
Maaf, Salah Sambung | 271

"Saya sendiri."
"Ini Mrs. Henry Stevenson, Mrs. Lords.
Saya—saya yakin kita belum pernah bertemu—
tapi saya tahu Anda menemui suami saya siang
ini."
" O h — y a — m e m a n g , " sahut suara di
seberang agak ragu.
Kegugupan yang didengarnya dari si
perempuan itu membuat lidah Leona terasa
longgar.
"Biasanya, saya bahkan tidak akan ber-
mimpi untuk mengganggu Anda, Mrs. Lord,"
kata Leona menyindir. "Tetapi—sebagaimana
yang sudah terjadi—suami saya belum pulang
sore ini. Saya tidak dapat menghubunginya
dimanapun. Dan saya pikir mungkin Anda bisa
mengatakan pada saya dimana kira-kira dia
berada..."
"Oh—ya—bisa," sahut si perempuan tadi,
samar-samar.
"Saya tidak bisa mendengar suara Anda,
Mrs. Lords. Bisakah Arrda bicara sedikit lebih
keras?"
"Tentu saja—saya..."
"Apa ada yg salah?" tanya Leona dengan
dingin. "Saya harap Anda tidak menyembunyi-
kan sesuatu dari saya, Mrs. Lords."
"Oh, tidak... Bisakah saya menghubungi
Anda kembali?"
"Mengapa?"
272 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Karena..." Suara perempuan itu mendadak


berubah dari putus asa yang diam menjadi
aneh dan merasa terganggu. "Sekarang malam
bermain kartu bridge, Anda mengerti kan?"
"Apa maksud Anda?" Tanya Leona men-
desak. 'Apa hubungannya permainan bridge
dengan hal ini? Maaf, tapi saya sama sekali
tidak mengerti apa yang Anda maksud, Mrs.
Lords!"
"Dan kemudian kita jalan-jalan ke Rotin
Point," si perempuan itu melanjutkan seolah
tidak terjadi apapun.
"Hey, dengar," ujar Leona kasar. "Anda ingin
mempermainkan saya, ya, Mrs. Lords? Jika
Anda belum tahu, saya ini invalid. Saya tidak
tahan dengan perbuatan yang menjengkelkan
ini. Sekarang bilang pada saya: Apakah suami
saya ada disana bersama Anda? Apakah dia
ada disana? Katakan sejujurnya pada saya!"
"Tiga telur dipisahkan," kata si perempuan
itu meracau. "Dua gelas susu, dan satu gelas
susu asam. Buat krim susu asam itu dengan
menambahkan sedikit gula, lalu tambahkan
satu sendok tepung..." Kemudian hening
sesaat, lalu terdengar suara perempuan itu
berbisik. "Leona... Leona... Ini Sally Hunt,
Leona. Kau ingat kan? Maafkan kekonyolanku,
tapi tadi suamiku berdiri dekat sekali dengan
telepon. Aku tidak bisa bicara sekarang. Aku
Maaf, Salah Sambung | 273

akan menghubungi secepat mungkin. Tunggu


saja..." Dan suaranya menghilang.
Leona berbaring di kasur, menenangkan
sarafnya. Dia sangat bingung dengan apa yang
baru saja terjadi. Aneh sekali cara Sally untuk
kembali masuk ke dalam kehidupannya seperti
ini!
Sally Hunt!

Dulu Sally jatuh cinta pada Henry, mungkin


sampai sekarang juga masih, meski mungkin
dia sudah menikah dan punya anak. Dia sudah
jatuh cinta pada Henry sejak dia mengundang
Henry untuk menemaninya ke pesta dansa di
kampus. Malam itu Leona mencabutnya dari
keramaian. Kejadian itu sudah lama berselang.
Tapi Leona mengingatnya dengan mudah.
Musik dansa menggelegar dari sebuah
fonograf yang disandarkan pada tembok
panggung Auditorium. Dibawahnya, dalam
ruang luas yang dihiasi dengan baliho dan
kertas warna-warni, beberapa pasang muda-
mudi menari berjingkrakan, atau hanya berdiri
sambil ngobrol, atau berkelana ke meja
prasmanan. Sebagian besardari para pemuda
itu bertampang sama—rambut cepak, celana
baggy, jas wol. Dan gadis-gadisnya memiliki
seragam mereka sendiri—sweater gombrong
dan rok, dengan rambut panjang diikat di
tengkuk.
274 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

Tapi ada dua orang diantara mereka yang


berbeda.
Pemuda yang berdansa dengan Sally jelas-
jelas bukan anak kampus. Pakaiannya sesuai,
rambutnya dipotong bergaya konvensional dan
rapih; dan caranya menari sangat anggun dan
jauh dari kesan kasar. Tubuhnya tinggi, berotot,
dan berambut gelap, juga tampan. Dari cara
Sally memandang penuh rasa kagum, mudah
sekali mengetahui apa yang membuat
sepasang mata gadis itu berbinar-binar, dan itu
bukan akibat kegairahan pesta saat itu.
Dari raut wajahnya, tidak ada sedikitpun
yang bisa menampakkan isi hati si pemuda. Dia
memandang acuh dari atas kepala Sally, dan
lagaknya hampir seperti pengawal.
Leona, gadis berpengalaman dengan ke-
cantikan pucat, terbalut gaun hitam dan rambut
pendek berkilat sampai ke ujung daun telinga,
adalah sosok yang menonjol diantara kumpulan
pemuda-pemudi itu bagai kapal pesiar diantara
tongkang. Segala hal yang ada pada dirinya
terlihat sangat berbeda. Perbedaan mahal itu
nyata-nyata terpampang. Gadis-gadis tidak
berpakaian seperti itu dari uang saku yang pas-
pasan.
Dia memperhatikan Sally yang berdansa
untuk beberapa saat, lalu melangkah ke arah
mereka, menuju punggung lebar pasangan
Sally itu. Dia menepuk bahu pemuda itu dan
Maaf, Salah Sambung | 275

berkata, sambil t e r s e n y u m , "Boleh aku


menyela?"
Mereka berdua terkejut, berdiri samping-
menyamping, dan Sally bingung. Pemuda itu
menatap langsung ke wajah Leona penasaran.
"Kau tidak keberatan kan, Sally?" tanya
Leona.
Sally segera pulih dari keterkejutannya,
dengan cepat berkata, "Kau mendapat
taklukan, Henry. Selamat."
Leona menatap dengan pandangan sayu
ke arah pasangan Sally. "Aku Leona Cotterell.
Siapa namamu?"
Sebelum si pemuda menjawab, Sally
segera mengenalkannya. "Ini Henry Stevenson,
Leona."
Leona tersenyum dan menyibakkan
rambutnya dengan anggun kemudian bergerak
ke arahnya. "Mari kita berdansa," ajaknya. Dan
terjadilah apa yang terjadi.
Mereka berdansa dan Leona menjadi pusat
perhatian. Pandangan acuh Henry tidak terlihat
lagi sejak saat itu. Diajelas-jelas terpesona, dan
meskipun pemuda itu tidak mengobrol pujian
terhadap Leona, dia telah menyampaikan
kekagumannya pada daya tarik Leona, akan
jurang yang memisahkannya dengan teman-
temannya yang lain, seperti misalnya, Sally.
Dia langsung menebak ayahnya adalah Jim
Cotterell. "Beliau adalah orang yang sangat
276 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

kukagumi," ujarnya. "Beliau tahu apa yang di-


inginkan. Memiliki otak untuk merencanakan
dan mendapatkannya. Uang. Kau bisa lakukan
apapun dengan uang. Suatu hari nanti..." dan
dia berhenti mendadak sambil tersenyum
layaknya seorang bocah.
Leona suka senyum itu. Senyum yang tidak
melebar ke seluruh wajah sebagaimana per-
ubahan wajah dengan mempertontonkan
banyak gigi seperti sebagian pemuda lainnya.
Senyum itu seperti menyalakan lilin di matanya,
dan lengkungan menarik di sudut mulutnya
menjadi lebih dalam. Hal ini malah memperkuat
karakter wajahnya. Senyum yang tulus, lugu
dan tidak berkesan sombong.
Ketika mereka bergerak perlahan melintasi
lantai dansa, ada hal lain tentang diri pemuda
acuh ini dan membuat Leona sangat tertarik.
Dia sama sekali tidak peduli dengan kuliah.
"Terlalu miskin," jawabnya tanpa senyum.
"Keluargaku terlalu miskin. Aku harus mem-
bantu mereka sebisaku."
Leona menanggapi dengan apik.
"Beberapa orang-orang menarik yang aku tahu
malah tidak kuliah. Ayahku juga bukan orang
kuliahan."
"Oh?" Henry menanggapi senang. "Jadi
masih ada harapan bagiku. Maksudku, untuk
bisa meraih kesuksesan."
Maaf, Salah Sambung | 277

"Ayahku selalu bilang, jika seorang lelaki


tidak punya bakat untuk mencetak uang, kuliah
tidak akan membuatnya jadi berbakat. Dan jika
dia memang berbakat mencetak uang,
mengapa menghabiskan waktu di bangku
kuliah?"
Hal itu benar-benar membuat Henry
senang. "Hore untuk Ayah!" ujarnya.
Musik berhenti dan Henry menarik tangan-
nya dari pinggang Leona, juga melepaskan
tangan gadis itu yang sedari tadi digenggam-
nya. "Terima kasih," katanya. "Banyak terima
kasih."
Leona tersenyum nakal. "Maukah kau
duduk jika musik diputar kembali?"
"Tunggu sebentar," ujarnya dengan wajah
pura-pura takut. "Bagaimana dengan Sally?
Lagipula, Sally itu adalah—adalah peng-
iringku—kalau dia tidak mengundangku..."
Leona menunjuk ke arah Sally yang sedang
berbicara asyik dengan beberapa pemuda
berambut cepak di seberang ruangan. "Sally
sudah ada yang menemani, lagipula kita cuma
beberapa menit saja. Ayo kita keluar dan akan
kutunjukkan mobilku padamu—kesayangan-
ku."
Dia menarik tangan si pemuda dan mem-
bawanya keluar dari auditorium. Mereka me-
lintasi halaman yang diterangi cahaya bulan ke
278 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

arah jalanan. Berpuluh-puluh mobil berjajardi


sepanjang halaman parkir, tapi ada satu mobil
yang bentuknya lebih rendah dan lebih panjang
daripada mobil lainnya, dan dua kali lebih
gagah daripada mobil di sebelahnya.
"Bukankah dia cantik?" ujarnya bangga.
"Tidak ada satupun yang seperti ini. Per-
bandingannya satu banding seratus, begitu
kata penjual yang menawarkan ke Ayah. Kata
Ayah mobil ini terlalu mewah untukku, tapi
setelah aku melihatnya, mobil lain sepertinya
tidak ada apa-apanya di dunia ini."
"Mobil hebat," ujar Henry. "Bugatti!
Lumayan! Sangat lumayan!"
Leona kembali menarik tangan Henry.
"Bagaimana kalau kau mencobanya?" tanya
Leona memaksa. "Cuma berputar-putarsedikit
di jalanan sekitar sini. Tidak ada seorangpun
yang akan kehilangan kita."
Dengan segera dia menyetujuinya, dan
Leona bahkan ingat betul bagaimana Henry
kemudian agak berlari kembali melintasi
halaman dan masuk ke dalam auditorium untuk
mengambilkan mantel bulu Leona dan jaketnya
sendiri. Hanya dalam beberapa menit mereka
sudah berada di jalanan, atap terbuka, dengan
mesin Bugatti menderum dan bergetar galak.
Udara musim dingin yang tajam mengiris wajah
mereka, mengaduk-aduk mereka dengan
perasaan gembira yang menggelitik. Dia
Maaf, Salah Sambung | 279

mengerti kini—ketika hal itu dipikirkannya


kembali sekarang—bukan dia atau mobilnya
yang hebat yang menjadi sumber kesenangan
Henry yang menyetir sambil berteriak-teriak
ribut malam itu. Tapi kesan yang ditampilkan
dari diri dan kendaraannya itu—yang tidak
hanya dilihat dari kejauhan, tidak dimimpikan,
ada di bawah kendali tangannya. Dan itulah
sebabnya mengapa wajahnya bercahaya saat
dia mengendarai mobil Leona. Dan itulah
alasan mengapa dia tidak menolak ketika diajak
kabur dari lantai dansa.
Dia telah merasakan apa yang selanjutnya
diketahui dengan pasti, dan bahkan benaknya
telah mulai membuat rencana, membuat bagan,
dan menentukan pola yang akan dilaksanakan-
nya nanti. Sedikit demi sedikit dia merasakan
kepastian yang makin menguat di dalam
pikirannya. Dia mengarahkan Henry untuk
berbelok dan akan membuat mereka terjebak
di jalan buntu.
"Mobil hebat," katanya memuji, enggan
untuk berhenti. "Mobil ini benar-benar bisa
ngebut. Aku ingin membawanya keluar kapan-
kapan dan melepaskannya di alam bebas."
Sambil tertawa Leona berkata, "Kita hampir
tidak mengenal satu sama lain. Kuharap kau
mau mengantarku pulang nanti. Atau apakah
aku harus keluar dan berjalan kaki pulang?"
280 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

Leona merebahkan diri ke jok mobil untuk


menatap langit malam, hitam bagai beledu dan
bertabur bintang-bintang, terpotong di satu
tempat oleh bulan dingin setipis pisau.
"Sally Hunt," gumamnya, melamun. "Aku
tidak pernah bisa membayangkan kalian ber-
dampingan berdua sampai kapanpun."
Dia berpaling dari setir dan memandang-
nya, tangan melingkar dari atas kepala me-
meluk jok mobil bagian belakang. "Mengapa?"
"Oh—perasaanku saja. Aku mengenali
berbagai sifat. Ayahku sering mengajakku
kemana-mana—keluar negeri dan semacam-
nya—dan aku sering sekali bertemu banyak
orang baru. Kau akan mengkotak-kotakkan
orang berdasarkan kelasnya setelah beberapa
saat—setelah kau sering bepergian seperti itu.
Kau dan Sally tidak berada di kelas yang sama.
Kalian sangat jauh berbeda."
"Maksudmu uang?" tanyanya getir.
"Maksudmu keluarganya kaya dan aku se-
harusnya tidak masuk begitu saja dan merusak
tatanan itu?"
"Bukan begitu maksudku," katanya terburu-
buru. "Aku sama sekali tidak memikirkan hal
itu."
"Tidak ya? Lalu apa?"
"Aku hanya berpikir Sally memang cocok
untukmu karena kalian berasal dari kota kecil
yang sama. Tapi kau berbeda."
Maaf, Salah Sambung | 281

"Aku berbeda? Dan kau bisa menemukan


perbedaan itu pada diriku—dalam waktu
sesingkat ini?" Dia tertawa kecil mengejek.
"Mengapa tidak?" Leona balik bertanya.
"Kau lihat saja anak-anak di lantai dansa tadi.
Mereka anak-anak kampus yang berasal dari
keluarga baik-baik, kaya dan terpandang. Tapi
kau membuat mereka terlihat seperti bayi. Dan
sebagian besar dari mereka akan tetap menjadi
bayi seumur hidup."
"Bagaimana denganku?"
"Kau bukan bayi, Henry. Mungkin bahkan
kau tidak pernah menjadi bayi."
Saat itulah Henry mencondongkan badan
ke arah Leona dan menciumnya—agak kasar,
dan berpengalaman. Ciuman itu cukup lama
untuk membuat Leona merasa gemetar karena
kegembiraan luar biasa yang menjalari setiap
syaraf di tubuhnya.
Lalu Henry kembali ke tempatnya semula,
menatapnya seperti seorang seniman me-
meriksa hasil karya seninya. "Aku selalu ingin
mencium uang sejuta dollar," ujarnya.
Dia tersenyum licik. "Apa kau mau mencoba
mencium uang dua juta dolar?"
Ucapannya membuat Henry kaget, me-
maksanya untuk terpaksa tersenyum. Dia telah
memasukkan cakarnya kembali—untuk
sesaat—dan mata Henry berkilat-kilat gembira.
282 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Aw!" serunya, dan kemudian, "Mungkin


aku agak sedikit lebih baik daripada anak-anak
berandal di pesta dansa tadi. Tapi semua itu
karena aku harus memenuhi kebutuhan
hidupku dan keluargaku selama ini—dan itu
tidak cukup bagiku."
"Bagiku itu sudah cukup jauh. Aku tahu kau
akan berusaha semampumu. Semua ini ber-
kaitan dengan penampilanmu. Bagaimana kau
mempengaruhi orang lain. Orang sepertiku."
Raut wajahnya kembali dingin dan sinis. "Ini
lucu sekali," ujarnya. "Yang kulakukan hanya
duduk disini dan menyerap semua pujian dari
seorang gadis yang punya uang jutaan dolar,
jaket bulu, dan Bugatti, dan tidak akan pernah
kutemui lagi."
"Kau tidak tahu," kata Leona. "Kau tidak
tahu—apa-apa."
"Aku tidak mengerti."
"Kau akan mengerti nanti," ujarnya lembut.
"Ceritakan tentang dirimu, Henry. Darimana
asalmu? Bagaimana keluargamu?"
Dia tertawa sinis. "Itu cerita yang sangat
singkat. Aku datang dari keluarga yang sering
disebut sebagai 'salah jalur'. Ayahku meng-
antarkan batubara ketika dia sadar, dan
berpidato tentang kemiskinan saat mabuk.
Keadaan ibuku mungkin akan baik-baik saja
jika beliau tidak jatuh cinta pada Ayah. Ibu dulu
pernah mengenyam pendidikan dan meng-
Maaf, Salah Sambung | 283

inginkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Tapi


beliau malah membesarkan enam anak,
menjaga mereka agar tetap hidup dan jauh dari
masalah, dengan atap—bocor lagi—di atas
kepala mereka dan sesuatu untuk mengganjal
perut mereka. Begitulah. Impian Amerika."
"Tapi bagaimana dengan kamu?" tanya
Leona. Kau tidak kelihatan seperti—seperti—"
"Seperti orang miskin? Seperti orang yang
membagi rokoknya menjadi dua agar lebih
awet? Tidak," ujarnya. "Tidak separah itu. Ibuku
berusaha memasukkanku ke sekolah lanjutan
dan bukan memaksaku bekerja, setelah aku
menyelesaikan kelas delapan. Di sekolah
lanjutan mereka sadar bahwa aku bisa berlari
cepat sambil mengepit bola. Aku jadi terkenal.
Sally Hunt mengajakku untuk menemui
keluarganya—di kotaku, keluarga Hunt ter-
golong keluarga yang lumayan terpandang—
dan ayahnya temyata menyukaiku. Dia mem-
beriku pekerjaan di apotikterbesardi kota itu."
"Apotik!" seru Leona. "Henry, ini takdir!"
"Tentu saja," sahut Henry menyeringai dan
menerima sindiran Leona. "Sudah kuduga kau
akan merasa seperti itu."
"Ceritakan lebih banyak lagi padaku," ujar
Leona dengan riang. "Apa kita masih berurusan
di bidang yang sama?"
"Tentu saja," sahut Henry. "Sekarang aku
adalah manager segalanya kecuali bagian
284 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

resep. Bocah lokal membuat semua jadi enak.


Sandwich enak, soda enak..."
"Bagaimana dengan Sally?" tanya Leona.
Saat-saat konyol dan singkat itu hilang. Dia
ragu-ragu, raut sedih yang terlihat alami
kembali mewarnai wajahnya.
"Sally anak yang baik," jawabnya. "Kami
berteman akrab. Tidak lebih dari itu. Keluarga-
nya sangat baik padaku. Mereka membantuku
di masa-masa sulit. Tapi aku tidak tahu.
Kadang-kadang aku merasa..."
Dia mengalihkan pandang dari Leona.
Matanya menerawang jauh ke depan, ke arah
hutan gelap di pinggir lapangan di tepi jalan,
dan jauh lagi sampai dia tidak bisa melihatnya.
"Ya... Merasa... apa?" tanya Leona lembut.
"Seolah-olah aku terjebak. Seolah-olah
apapun yang kulakukan—sekeras apapun aku
bekerja—aku tidak akan pernah mendapatkan
apa yang kumau karena aku menginginkan
lebih banyak."
Mereka duduk dalam diam. Henry me-
nawarkan rokok padanya, mengambil satu, dan
menyalakan rokok mereka. Pengakuannya itu
menimbulkan kemarahan terpendam dalam
dirinya. Akhirnya dia menghisap rokoknya
dalam-dalam, berbalik ke arah Leona sambil
menyeringai dan berkata, "Kau dan Bugatti
sialanmu! Ayo kita kembali ke pesta dansa!"
Maaf, Salah Sambung | 285

Mereka kembali berkendara dalam diam.


Tidak ada seorangpun yang bicara sampai
mereka memarkir mobil dan Henry membuka
pintu untuk Leona. Tiba-tiba Leona menarik
lengan bajunya. "Bagaimana jika kau ku-
pertemukan dengan ayahku, Henry?"
"Boleh, itu boleh saja. Kami punya banyak
kesamaan. Kami berdua bekerja dalam bidang
obat-obatan." Dia tertawa, kali ini tanpa ke-
getiran di dalamnya, melainkan ingin me-
nunjukkan apa yang diucapkan itu memang
lucu.
"Aku sungguh-sungguh. Kurasa Ayah akan
menyukaimu. Apalagi jika dia kupaksa untuk
itu. Beliau akan datang akhir pekan besok dan
aku akan membolos hari Sabtu. Bagaimana jika
kau bertemu dengan kami pada hari itu?"
"Tahukah kau," jawabnya lambat-lambat.
"Mengapa tidak? Lagipula tidak akan kerugian
padaku jika kulakukan."
Dan dari situlah semuanya bermula. Henry,
layaknya anak kuda yang gelisah, awalnya
tidak mudah ditangani. Dia memiliki ke-
banggaan dan kemandirian, dan dia tahu ada
seorang gadis anak orang terkaya di Amerika
yang menaruh perhatian besar padanya.
Perhatian khusus yang sangat besar, dan itu
membuatnya curiga. Tapi Leona sabar me-
nunggu. Henry pernah berkata mungkin dia
286 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

meminta terlalu banyak. Dengan itulah Leona


membuka pintu hati Henry. Dengan dunia
dalam genggamannya, kebanggaan itu tidak
bisa ditahan lagi. Dan ketika itu dihancurkan
saat itulah Leona mendapatkan apa yang ia
inginkan.
Leona mengenang kejadian dengan Sally
Hunt yang hampir membuatnya tertawa, tidak
lama setelah pesta dansa itu. Suatu sore Sally
mendatangi kamarnya, agak ragu-ragu, tapi
dengan ketegasan yang meliputi wajah cantik
yang biasanya hang itu.
"Leona, ada sesuatu yang ingin kubicara-
kan denganmu."
Saat itu Leona sedang membungkuk di atas
beberapa koper yang tergeletak di atas tempat
tidurnya. Dia menegadah ke arah Sally sambil
berkata dengan nada jengkel, "Well—Ya
Tuhan, cepat katakan apa maksudmu! Aku
akan pergi ke Chicago dalam beberapa menit."
Sally menunduk sesaat, kemudian menatap
mata Leona dengan tiba-tiba. "Kau sering sekali
menemui Henry beberapa minggu ini, Leona,
dan ada sesuatu..."
"Ya?" jawab Leona agak mengejek.
"Ada sesuatu yang kurasakan—dan
kupikir—aku harus mengatakannya padamu."
"Kau sudah mengatakan hal itu sebelum-
nya. Ayo, katakan saja ada apa."
Maaf, Salah Sambung | 287

"Dia bukan jenis laki-laki—untuk


dipermainkan, Leona. Jangan main-main lagi
dengan dia, Leona—tolong."
"Siapa bilang aku main-main dengannya?"
tanya Leona ingin tahu sambil berjalan ke arah
lemari untuk mengambil pakaian lagi.
"Oh, Leona—dia itu bukan orang dari
golonganmu—dia tidak lebih dari anak-anak
yang lain..."
Leona mendadak diam. "Aku suka ke-
beranianmu..."
Tapi Sally terus bicara dengan penuh
semangat. "Jika kau tidak menghentikannya
sekarang kau akan menyesal, Leona. Henry
bukan orang yang tepat untukmu. Aku
mengenalnya hampir seumur hidupku. Ayahku
membantunya. Seluruh keluargaku memper-
lakukannya seolah dia bagian dari kami. Dan
dia selalu baik jika salah satu dari kami ada di
dekatnya—untuk membantunya. Tapi dia—
agak lain. Dia memang manis, baik dan
lembut—untuk beberapa saat, kemudian
suasana hatinya akan—berubah. Dia meng-
inginkan hal-hal yang tidak bisa didapatkannya.
Dan jauh di dalam lubuk hatinya hal itu mem-
buatnya gila. Saat itulah dia perlu bantuan—
kami. Oh, kukira aku memang mencintainya.
Tapi pengertian lebih penting dari cinta. Dia
tidak akan nyaman dengan orang yang tidak
288 | Lucille Fletcher & Allan Uilman

mengerti dirinya. Dia melakukan hal-hal


yang—yang akan membawanya berhadapan
dengan banyak masalah jika orang tidak
memahami betul bagaimana dia sebenarnya."
Leona tertawa keras. "Tipuan bagus, tapi
tidak berhasil untukku, Sally. Kau hanya tidak
bisa bersaing. Sesungguhnya, aku sangat
memikirkan si Henry Stevenson itu. Dan aku
mengerti dia. Dan kupikir dia terlalu bagus
untuk ditempatkan di kotamu. Jika aku ingin
mengajaknya bersenang-senang, memper-
kenalkannya ke beberapa orang, itu urusanku.
Jika aku ingin menikahinya—itu juga urusan-
ku."
"Menikahinya!" Sally terperanjat. "Kau tidak
bermaksud begitu 'kan. Kau bercanda."
Leona tersenyum puas. "Apa ada alasan
yang lebih baik mengapa aku tidak bisa
menikahinya?"

Sally menarik diri setelah Leona mengata-


kan hal itu, dan Leona kembali mengingatnya
ketika dia berbaring gelisah di ranjang. Sally
sama sekali tidak melakukan perlawanan yang
cukup berarti. Dan jika dia melakukan ke-
balikannya, sebenarnya itu lebih baik.
Perlawanan dari Jim Cotterell juga tidak
banyak berarti, meskipun dia telah berusaha
sekuat tenaga bagai lembu jantan yang sedang
distempel dengan logam panas.
Maaf, Salah Sambung | 289

"Anak itu tidak punya apa-apa," ujar Jim


setahun kemudian, Ada setitik permohonan
dalam suaranya yang bergemuruh itu. "Dia
memang seorang pemuda yang gagah. Tapi dia
hanya bocah biasa—layaknya batu—pasaran.
Setelah banyaknya biaya yang kukeluarkan
untuk pendidikanmu—ke luar negeri—mem-
berikan apapun yang kau mau—mengapa kau
membuat dirimu jadi sia-sia begini?"
"Aku mencintainya," jawab Leona dengan
tegas, menatap langsung mata ayahnya.
"Sampah!" teriak Jim. "Kau itu keras
kepala."
Leona dengan kepala batu berdebat
dengan ayahnya untuk menegaskan bahwa dia
bukan anak yang keras kepala. Dia mencintai
Henry dan itu dikatakannya berulang-ulang kali.
Tapi Jim mengetahui semua dengan lebih baik.
Leona mencintai Henry sama seperti dia
mencintai Bugatti-nya, teriak Jim.
"Masalahnya, Ayah," sahut Leona murka,
"Ayah tidak ingin aku menikah dengan
siapapun. Ayah hanya ingin aku tinggal disini,
di rumah ini—bersamamu."
Leona berdiri tegak menantang ayahnya.
Jim berjalan mondar-mandir di kandangnya,
dengan wajah segemuk sapi berwarna ke-
unguan karena kecemasan dan kejengkelan-
nya.
290 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Itu tidak benar—sama sekali tidak benar,"


jawabnya sambil menghentikan langkah di
hadapan Leona. "Kau tahu aku memberikan
segalanya untukmu. Aku selalu memberikan
apa yang kau inginkan—membiarkanmu
melakukan apapun yang kau suka, tanpa
memikirkan bagaimana perasaanku. Tapi kali
ini lain. Pernikahan adalah hal besar bagi gadis
dengan posisi sepertimu. Aku telah bekerja
dengan sangat keras. Aku membangun bisnis
besar. Untukku? Bukan! Pertama untuk ibumu,
sekarang untukmu. Saat aku mati nanti, kau
akan dapatkan semuanya. Dan aku tidak ingin
nantinya ada seorang bodoh yang meng-
gerayangi hakmu hanya karena kau menikah
dengannya. Apalagi di saat kau terlalu gelisah
untuk bisa berpikir dengan jernih."
"Dengarkan Ayah, sayang. Kau harus
berpikir tentang hal ini sekali lagi. Coba beri
waktu bagi dirimu sendiri—misalnya setahun—
untuk bisa melihat seberapa baik anak ini
u n t u k m u . Temuilah dia sesuka hatimu.
Kemudianjika kau masih menginginkannya..."
Tawaran ayahnya hanya membuat amarah
Leona makin memuncak.
"Ayah ini pembenci!" teriak Leona. "Egois
dan pembenci. Ayah tidak peduli denganku.
Ayah hanya memikirkan diri dan bisnis Ayah
itu. Ayah tidak suka Henry hanya karena dia
mencampuri rencana egois Ayah. Anggaplah
Maaf, Salah Sambung | 291

dia anak desa. Memangnya sewaktu Ayah


memulai semuanya itu, Ayah siapa, sih—di
Texas sini?"
Tubuh Leona tergetar menahan amarah.
Dia memandang senang demi melihat raut
wajah khawatir yang segera terpampang di
sana.
"Tenang, Sayang," ujar Jim memohon. "Kau
hanya akan membuat dirimu sendiri jadi sakit."
"Sakit!" teriak Leona. "Membuat diriku sakit!
Ayahlah yang membuat diriku sakit. Ayah
dengan uang dan bisnis Ayah yang hebat itu.
Ayah tidak peduli jika semua itu hanya akan
membawaku ke alam kubursupaya aman dan
tidak ada seorangpun yang akan mengambil-
nya dari Ayah."
Leona mengisak, dan Jim mencoba me-
rangkulnya. Dia berkelit, dengan sebal meng-
hempaskan diri ke kursi. "Aku—aku tidak ingin
lagi membicarakan hal ini" ujarnya sedih
diantara isak tertahan. "Aku merasa tidak enak
badan..." Kemudian, sambil berkonsentrasi
penuh, Leona membuat dirinya pingsan, dan
ketika dia mendekati kegelapan yang meng-
undang, Leona mendengarayahnya berteriak-
teriak memanggil pelayan kepaia.

Pernikahan itu adalah kemenangan yang


mulus dan cepat. Masih segar dalam ingatan-
nya getaran suara yang gembira sarat dengan
292 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

hasrat memiliki ketika dia mengucapkan,


"Saya—Leona—bersedia menerima Henry—"
Dan sikap Henry memenuhi semua
harapan Leona. Dia tidak tegang—juga tidak
terlalu santai—dan perilakunya membuat
semua tamu terpesona. Dan Henry sudah mulai
menyerap pengaruh menyenangkan dari
gelimang kemewahan yang tiada akhir. Jika ada
sedikit keraguan dan keberatan dalam diri
Henry maka Leona akan segera menampiknya.
Saat itu Henry menunjukkan bahwa pem-
bawaan dirinya yang sempurna dan itu
membanggakan Leona.
Bahkan Jim kelihatannya senang akan
semua itu, untuk beberapa saat. Tapi Leona
mengerti wajah ayahnya yang tersenyum lelah
itu sebenarnya menyimpan banyak kesedihan.
Jim tidak akan pernah bisa menerima Henry
seutuhnya. Tidak akan pernah. Seberapapun
kerasnya dia mencoba.
Semua ini memenuhi benaknya selama
upacara pernikahan dan setelah makan malam
di kediaman Jim. Bagi Leona, Henry adalah
sebuah proyek yang sedang ditangani, sebuah
persamaan matematika yang harus dipecah-
kan. Dia bermaksud menyelesaikan persamaan
dan proyek itu dengan harga berapapun. Pada
akhirnya Jim harus mengakui kesalahannya.
Kesenangan akan kemenangan yang belum
juga dimenangkannya terpancar dengan riang
Maaf, Salah Sambung | 293

di benaknya, ketika—tanpa terlihat oleh orang


lain—tangannya yang memandu tangan Henry
menelusuri jajaran perangkat makan perak
yang berkilat di meja sarapan.
Selama bulan madu panjang di Eropa
setelah itu, Leona senang akan kesantaian
yang tidak memalukan sama sekali yang
diajarkan Henry padanya. Tidak diragukan lagi,
tawaran kemewahan tanpa batas yang diajukan
Leona untuknya, serasi dengan wajah ayu dan
penerimaan tubuh Leona atas Henry, membuat
lelaki itu lengah. Dia menerima ajaran Leona
dengan a n g g u n , bahkan dengan p e n g -
hormatan. Jika Leona memaksa memilihkan
pakaian untuk Henry dan bagaimana cara
Henry memakainya, maka itu adalah ke-
senangan, bukan gangguan atau penghinaan.
Dia kelihatannya cukup cepat untuk menyadari
sebagaimana pentingnya hal-hal tersebut
dalam dunia Leona, dan bagaimana dia bisa
lebih nyaman bila dia tampil dengan benar dan
perilakunya tanpa cela. Bahkan dia juga tidak
sadar ketampanannya yang nyata dan tegas
diperjelas dengan tatanan yang teratur itu.
Leona melihatnya mendiami kehidupan
dimana masa lalu—bagaimanapun itu—meng-
hilang, atau begitulah yang diinginkannya. Itu
tidak begitu penting. Yang penting baginya
adalah pada saatnya nanti Henry akan begitu
larut ke dalam keghidupan yang diciptakan
294 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

Leona sampai tidak ada sedikitpun kekuatan


yang bisa melawannya. Dan itulah yang diingin-
kan Leona.
Pandangan kemenangan—senyum puas
yang terulas samar—bermain-main di wajah
lelah dan ketakutan Leona ketika dia terbaring
sambil menduga-duga apa yang kira-kira terjadi
sejak malam ketika Sally memperkenalkan
Leona pada Henry.
Sesaat kemudian Leona mendengar
ledakan serak dari salah satu perahu di sungai.
Senyum itu memudar ketika dia bangkit,
memandang botol-botol obat di meja kecil, dan
jam di sebelahnya. Tiba-tiba saja suara telepon
berdering mengejutkannya.

9:55
Ternyata Sally yang menelepon.
"Aku minta maaf karena tadi terdengar
bodoh dan misterius," kata Sally. "Aku tidak bisa
bicara saat itu. Aku takut suamiku mendengar
apa yang aku bicarakan. Jadi aku mencari
alasan agar aku bisa keluar dan menelepon dari
telepon umum."
"Well, kalau dipikir-pikir memang aneh,"
jawab Leona.
"Kau mungkin akan berpikir bahwa semua
ini aneh, Leona—mendengar suaraku lagi
setelah beberapa tahun. Tapi aku harus
Maaf, Salah Sambung | 295

menemui Henry lagi hari ini. Aku sangat


khawatir memikirkannya."
"Khawatir? Kalau boleh tahu, mengapa kau
sangat mengkhawatirkan Henry? Kuharap kau
ingat, Sally, simpatimu itu tidak terlalu banyak
berguna."
"Aku tidak memiliki maksud apapun—
hanya menolongmu. Ini mungkin bisa jadi hal
yang serius untuk Henry—sangat serius. Agak
sukar menjelaskannya. Tapi akan kucoba
menjelaskannya secepat mungkin."
"Tolong lakukan," sahut Leona kasar.
"Well—Fred, suamiku, adalah penyelidik
Jaksa Wilayah..."
"Oh, menyenangkan sekali!" bisik Leona.
"Sekitartiga minggu yang lalu dia, suamiku,
menunjukkan kliping koran tentang kau dan
Henry. Sepertinya itu dari halaman
Perkumpulan atau semacamnya..."
"Ya, aku ingat."
"...dan dia ingin tahu apakah itu Henry
Stevenson yang dulu adalah kekasihku."
"Kekasihmu?" ujar Leona. "Aneh sekali!"
"Kukatakan pada Fred, itu memang Henry
dan Fred hanya tertawa sambil berkata, 'Well,
tenyata kau tidak tahu 'kan!' Lalu dia memasuk-
kan kliping itu kembali ke dalam saku. Aku
bertanya apa yang aneh melihat nama Henry
di koran. Dia hanya tersenyum dan berkata
296 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

semua ini hanya kebetulan—ada sesuatu


yang berhubungan dengan kasus yang
sedang ditanganinya."
"Kasus?"
"Ya. Fred bilang dia tidak bisa membicara-
kan kasus itu—hanya dugaan. Aku sudah
mencoba memancing-mancing. Tapi dia mulai
menggodaku dengan mengatakan aku masih
menaruh rasa pada Henry..."
"Yang, tentu saja, kau sangkal," ujarLeona
menyindir.
"Tentu saja—" sahut Sally merepet.
"Sungguh konyol mengatakan hal itu setelah
bertahun-tahun yang kami alami!"
"Teruskan—"
"Kami hampir selesai sarapan saat itu. Lalu
telepon berbunyi. Itu adalah salah satu
bawahannya Fred—dari kantor Jaksa Wilayah.
Aku dengar Fred bicara sesuatu tentang
'Stevenson' dan seseorang yang kedengaran-
nya seperti 'Harpootlian'. Fred berkata Tentu
saja kita akan pergi. Katakan pada Harpootlian
untuk mengatur semuanya. Hari kamis sekitar
pukul 11:30, di bilik pergantian Ferry di
Selatan."
Sally berhenti bicara sesaat, dan Leona
membentak marah, "Begini, Sally. Semua ini
memang menarik. Tapi bisakah kau langsung
ke pokok permasalahan? Henry mungkin
sedang mencoba menghubungiku saat ini.
Maaf, Salah Sambung | 297

Lagipula, apa hubungan Henry dengan semua


hal sampah menyangkut suamimu itu?"
"Aku akan mengatakannya padamu se-
cepat mungkin," rengek Sally. "Tapi ini semua
agak rumit dan aku harus menceritakan
padamu seluruhnya. Aku tidak akan meng-
ganggumu, Leona, jika apa yang kukatakan ini
tidak penting."
"Well,—" Leona menarik napas pasrah.
"Lalu bagaimana selanjutnya."
"Aku—aku menguntit mereka—"
"Kau—apa?"
"Aku menguntit mereka. Kamis pagi. Aku
tahu mungkin semua ini sulit dipercaya—
kedengarannya gila—tapi aku takut. Aku ingin
tahu apa yang terjadi. Lagipula, aku sudah
mengenal Henry hampir seumur hidupnya.
Aku—well—ada hal-hal dalam dirinya yang
agak aneh. Aku mencoba mengatakannya
padamu—bertahun-tahun yang lalu."
Leona mengeluarkan suara-suara tidak
sabar. "Sungguh," ujarnya. "Tapi—apakah ini
semua penting? Jika kau ingin mem-
peringatkan aku, Sally, lebih baik kau berhenti
sekarang."
Jawaban Sally semakin menunjukkan
kesan sedih. "Tolonglah, jangan terlalu curiga
padaku," ujarnya memohon. "Aku mengatakan
apa yang terjadi padamu karena semua ini
mungkin ada hubungannya dengan
298 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

ketidakhadiran Henry malam ini. Aku tidak tahu


pasti, tapi biarkan aku menyelesaikan
ceritaku..."
"Silahkan," ujar Leona. "Secepatnya."
"Pagi itu hujan rintik-rintik. Aku membawa
payung, jadi aku menutupi wajahku hampir
sepanjang waktu. Meskipun kupikir hal itu tidak
membawa banyak perbedaan. Tidak sulit untuk
menguntit orang-orang itu—apalagi saat
gerimis.
"Aku melihat Fred menemui dua orang
lelaki—salah satunya adalah Joe Harris, rekan
kerja Fred yang hampir setiap waktu bekerja
bersamanya. Lainnya adalah seorang lelaki
gemuk dengan rambut putih berombak. Kukira
dia adalah orang yang disebut-sebut sebagai
Harpootlian.
"Aku menunggu di kejauhan sampai
mereka bergerak ke kerumunan orang di dekat
ferry. Kemudian aku membeli tiket dan meng-
ikuti mereka. Tidak sulit untuk sembunyi dari
mereka dalam ferry. Lagipula hampir sepanjang
waktu kuhabiskan dengan duduk di kamar
mandi."
"Menyenangkan sekali," sahut Leona
megejek.
"Well, itu adalah tempat terbaik... Oh, well"
lanjut Sally dengan mantap, "setelah mereka
turun dari ferry di Staten Island mereka naik
Maaf, Salah Sambung | 299

kereta. Aku menempel ketat di belakang


mereka. Tentu saja tidak di gerbong yang
sama..."
"Tentu saja!" sahut Leona menggaung.
"...tapi dua gerbong' sesudah gerbong
mereka. Aku menunggu mereka turun dari
kereta, dan ketika mereka turun aku juga turun.
Saat itu gerimis masih saja turun dan tidak ada
seorangpun yang memperhatikanku. Kukira
sebagian besar orang-orang itu sedang ber-
gegas-gegas, terburu-buru keluar dari
gerbong."
"Kamu benar-benar perhatian terhadap
sekeliling—"
"Tempat ini adalah semacam koloni pantai,
Leona. Kelihatan kosong dan kumuh sekali.
Jalan-jalan disana bergelombang dan dialasi
dengan semen kasar. Disana-sini banyak
tumpukan pasir kecil-kecil. Rumah-rumah itu
sebagian besar berupa pondok-pondok lusuh
dan di tengah-tengahnya terdapat rumah judi
kecii. Setelah Fred dan kedua lelaki itu berjalan
menuju pantai, aku berjalan menuju rumah judi
itu dan mengawasi mereka dari sudut beranda.
Aku bisa melihat mereka dengan jelas dari
sana. Dan sepertinya tidak ada yang memper-
hatikan aku yang berdiri di keteduhan."
"Sungguh!" sahut Leona. "Apakah aku
harus...?"
300 I Lucille Fletcher& Allan Ullman

"Itu benar! Itu benar!" seru Sally. "Sudah


kubilang semua ini mungkin kedengarannya
gila..."
"Gila itu bukan kata yang tepat..."
"Hanya ada seorang lelaki disamping Fred
dan dua orang lelaki itu—seorang lelaki sedang
menggali kerang di pinggir pantai. Lelaki
berambut putih itu kelihatannya berhenti sesaat
dan memandang ke arah si lelaki, dan lelaki itu
sedang melakukan sesuatu di kejauhan.
Kemudian dia melanjutkan menggali, dan si
lelaki berjalan menuju meja makan kecil lalu
masuk ."
Leona, mengomel dongkol, menyela, ber-
teriak. "Demi Tuhan, Sally, apakah harus
sebegini lama? Bisakah kau memberitahukan
secara langsung tanpa harus mengajakku
berputar-putar sampai ke Staten Island seperti
ini? Atau apakah kau sengaja menahanku
untuk terus mendengarkanmu dengan alasan
tertentu?"
Sally meyakinkan Leona. "Kau harus men-
dengar semuanya. Kau kira aku senang
meringkuk di dalam bilik pengap ini? Pemilik
toko ini terus saja melirik ke arahku. Dia marah
karena tokonya sudah mau tutup.
"Kemudian," lanjutnya, "aku menunggu di
dalam rintik hujan selama satu jam dan tidak
terjadi apapun. Kemudian, ketika aku sedang
memikirkan kebodohanku ikut dalam per-
Maaf, Salah Sambung | 301

jalanan ini, aku melihat sesuatu yang aneh.


Leiaki yang sedang mencari kerang itu berdiri
dan merentangkan tangannya seolah-olah
sedang menguap. Beberapa saat kemudian
kudengar suara perahu bermotor di pantai, dan
aku lihat perahu itu bergerak cepat menuju
daratan. Perahu itu melambat mendekati
daratan dan menuju dermaga yang paling dekat
ke rumah teraneh di tempat itu.
"Kuharap kau bisa melihat rumah itu,
Leona. Kuno, dan sedikit miring. Kukira fondasi-
nya sudah tenggelam ke pasir bertahun-tahun
sebelumnya. Menyeramkan sekali, horor,
seperti rumah Charles Adams—di New Yorker,
kau tahu kan?"
"Tolong," kata Leona. "bisakah kau bicara
secara langsung?"
"Well, perahu itu merapat di dermaga dan
seorang leiaki bungkuk keluar dari sana dan
mengikat kapal itu. Kemudian seorang leiaki
paruh baya bertubuh tinggi juga keluar dari
perahu itu. Dia berpakaian hitam-hitam, kecuali
topi Panama yang dikenakan di kepalanya. Dia
mengepit koper kerja. Saat kakinya menginjak
daratan, si leiaki kecil bungkuk itu segera
menyalakan motor dan pergi.
"Leiaki berpakaian hitam itu berjalan keluar
dermaga dan masuk ke dalam rumah tua itu.
Beberapa saat kemudian si pencari kerang
mengambil ember dan sekopnya dan berjalan
302 I Lucille Fletcher & Allan lillman

menuju ke rumah makan kecil itu. Aku memper-


hatikan ketika dia melewati rumah makan itu
dia agak tersandung, membuat embernya
membenturpintu. Itu pasti isyarat. Dia terus saja
melewati pantai, dan Fred serta yang lainnya
keluar dari rumah makan itu dan berjalan
menuju ke rumah tua. Lelaki berambut putih
itu mengetuk pintu, pintu dibuka, dan mereka
masuk.
"Aku masih tidak mengerti sedikitpun apa
yang terjadi saat itu, Leona—siapa orang-orang
itu maupun apa yang terjadi di rumah tua..."
"Sebuah rumah bordil, tidak diragukan lagi,"
sindir Leona tajam.
"...tapi aku sadar mereka di dalam selama
setengah jam penuh. Ketika mereka akhirnya
keluar, Fred membawa tas kerja—yang tadinya
dibawah oleh orang yang berpakaian hitam-
hitam!"
"Baiklah," ujar Leona. "Fred membawa tas
kerja. Lalu apa?"
"Aku tidak tahu," sahut Sally lemah.
"Sesudah itu aku harus segera pulang ke
rumah—mendahului Fred. Tapi aku tahu,"
tambahnya dengan penuh semangat, "kita
harus melakukan sesuatu... sebelum semua-
nya terlambat!"
Sebelum Leona menjawab, sekeping uang
receh berbunyi nyaring mengenai dasar kotak
telepon dan terdengar suara operator menyela.
Maaf, Salah Sambung 303

Waktu bicara Sally selama lima menit sudah


habis. Leona mendengar Sally mengegerutu
seraya mencari-cari recehan di dalam tasnya.
Akhirnya dia berkata, "Sudah, Operator."
Kemudian, "Leona, Leona—apakah kau masih
disana?"
"Ya, aku masih mendengarkanmu," sahut
Leona curiga. "Aku harus bilang, ini semua
aneh sekali."
"Aku tahu," Sally mengamini. "Ini memang
aneh sekali bagiku. Aku tidak bisa mem-
percayainya. Aku tidak bisa menghubungkan
Henry dengan—dengan kejahatan yang
diselidiki Fred. Itulah mengapa aku menemui
Henry hah ini—untuk mengetahui kebenaran
dari dirinya."
"Apakah kau mendapatkannya?" tanya
Leona suram.
"Aku menemuinya—kau tahu itu—tapi aku
tidak berhasil mengetahui apapun. Aku tidak
punya kesempatan."
"Tapi kau keluar bersamanya," kata Leona.
"Sekretarisnya bilang dia melihatmu."
"Ya, aku memang keluar bersamanya. Dia
juga tidak begitu senang melihat kedatanganku.
Aku memang tidak mengharapkan dia me-
lompat-lompat atau semacamnya. Tapi dia—
bisa dibilang tidak begitu sopan. Dia kelihatan
asik dengan pikirannya sendiri. Aku pem.ih
melihatnya seperti itu ketika dia masih kecil, dan
304 I Lucille Fletcher & Allan Uliman

itu biasanya terjadi ketika—well—dia sedang


mengalami konflik dalam dirinya sendiri.
"Dia mengajakku makan bersama dengan-
nya, dan kami pergi ke Georgian Room di
Metropolis. Ketika kami baru saja duduk, se-
orang pria bernama Freeman—Bill Freeman—
seorang lelaki tua dan makmur—datang
menghampiri dan bicara tentang bursa saham
pada Henry."
"Freeman?" tanya Leona. "Kurasa aku tidak
kenal seorangpun bernama Freeman—"
"Henry kelihatannya tidak ingin mem-
bicarakan hal itu tapi Mr. Freeman itu terus saja
bicara. Kurasa ada hal serius yang sedang ter-
jadi pada beberapa saham atau semacamnya
pagi itu. Henry berkata, 'Kau pasti membuat
kesalahan suatu hari nanti,' dan Freeman
hanya tertawa dan berkata 'Suatu hari nanti,
Stevenson? Kau hanya sedikit beruntung. Tapi
seorang lelaki dengan posisi sepertimu bisa
menerima berbagai macam hukuman. Tapi aku,
aku harus lebih berhati-hati. Aku ini hanya
kentang biasa.'
"Henry makan sedikit sekali, begitu juga
aku. Yang menggangguku adalah Mr. Freeman
yang sedang bicara tentang masalah-masalah-
nya, dan aku sama sekali tidak bisa mengata-
kan apa-apa. Akhirnya kami berdiri dan Mr.
Freeman pergi. Henry dan aku berjalan keluar
menuju lobi hotel. Henry meminta maaf karena
Maaf, Salah Sambung | 305

dia punya janji dalam beberapa menit, dan dia


menyarankan mengapa aku tidak menelepon
kau, Leona, kapan-kapan, dan kita bisa
berkumpul bersama-sama. Tapi sepertinya dia
tidak bersungguh-sungguh mengatakan itu.
Kami berdiri dekat pintu masuk kantor cabang
pialang saham di hotel itu, dan seorang lelaki
kurus keluar dan memanggil Henry, 'Oh, Mr.
Stevenson, aku ingin segera bicara dengan
Anda secepatnya.' Henry menjadi pucat, bagiku
sepertinya begitu, dan dia berkata pada lelaki
kecil itu, 'Baiklah, Mr. Hanshaw, saya akan
segera berada di kantor Anda.' Dia meng-
ucapkan selamattinggal padaku dengan agak
terburu-buru dan aku melihatnya masuk ke
dalam kantor itu. Di pintunya tertulis, T. F.
Hanshaw, Manager."
"Well—dia pasti—dia pasti mengatakan
sesuatu padamu," ujar leona merepet. "Aku
yakin dia tidak hanya duduk disana dan bicara
tentang saham dan semacamnya—karena dia
tidak tahu apapun tentang itu—tiap saat."
"Oh, aku sudah bertanya padanya apakah
dia bahagia, dan apakah dia menyenangi
pekerjaannya. Dia berkata, 'Baik—baik. Aku
sekarang adalah wakil direkturyang besar.Aku
memencet lebih banyak tombol daripada orang
lain—kecuali diantara beberapa wakil direktur.'
Dia mencoba melucu, tapi aku bisa merasakan
kegetiran yang dia rasakan. Aku bertanya
306 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

padanya mengenai hal itu, dan saat itulah Mr.


Freeman datang."
"Aku sama sekali tidak mengerti semua ini."
Kesangsian Leona yang mengejek itu jelas
terdengar. "Saat Henry pergi pagi ini, dia
kelihatan seperti biasa, dan aku yakin sekali.
Kami sangat bahagia dalam kurun waktu
sepuluh tahun ini—sangat bahagia. Henry
sama sekali tidak punya masalah apapun.
Ayahku juga melihatnya. Dan sepanjang itu
menyangkut masalah bisnis, kukira semuanya
baik-baik saja dengan Henry. Kau pasti salah
mengartikan ucapannya—kalaupun memang
dia mengucapkan sesuatu. Aku masih tidak
yakin kalau ini bukanlah semacam permainan
yang kau lakukan padaku, Sally."
Lagi-lagi, sebelum Sally menjawab, ter-
dengar suara operator berkata dengan jelas,
"Waktu Anda selama lima menit sudah habis,
Nyonya. Silahkan masukkan lima sen untuk
waktu bicara lima menit lagi.'
Sally mencari-cari ke dalam tasnya, dan
akhirnya berkata, putus asa, "Aku tidak punya
recehan lagi. Aku akan kembali meneleponmu
jika aku sudah dapat uang receh lagi."
Kemudian dia menambahkan dengan sedikit
terburu-buru, "Aku hanya ingin mengatakan—
sekarang aku tahu—bahwa Henry memang
sedang dalam m a s a l a h . Fred sedang
Maaf, Salah Sambung | 307

mengerjakan semacam laporan malam ini.


Kasus ini, apapun itu masalahnya, kelihatannya
akan jadi besar nanti. Dia sedang sibuk
bertelepon kesana-sini. Aku mendengar nama
Henry disebutkan berulang-ulang. Dan ada
juga nama lain—seseorang bernama Evans."
"Waktu Anda sudah habis, Nyonya," kata
si operator.
"Waldo Evans," kata Sally berbicara dengan
cepat. "Kurasa itulah nama yang kulihat pada
rumah yang ada di Staten Island..."
"Waktu Anda sudah habis, Nyonya."

10:05
Segera setelah Sally menutup telepon, Leona
menjumput gumpalan kertas dimana dia
menemukan nomer telepon Sally. Dan disitu
tertulis, "Mr. Evans. Richmond 8:1112." Dengan
hati-hati dia memutar nomer itu dan terkejut
ketikaterdengarsuara operator yang bertanya,
"Apakah Anda menghubungi W. Evan,
Richmond 8:1112?"
"Ya," jawab leona gelisah. "Betul."
"Nomer tersebut... sudah diputus."
Dia duduk tegak di tempat tidur dan
meletakkan gagang telepon ke tempatnya,
memandang ke depan—matanya terbuka lebar
dan bingung. Kejadian-kejadian aneh sore ini
saling berkejaran di benaknya. Tidak adanya
308 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

Henry di rumah, pembunuh di telepon, Miss


Jennings, cerita gila Sally—tidak ada satupun
yang masuk akal. Dan entah bagaimana, ada
kekacauan yang akan terjadi, aroma yang
menyiratkan bahayatercium di udara. Mungkin
Henry dalam kesulitan. Mungkin ada sesuatu
yang terjadi dan Leona tidak mencurigainya
sebelumnya. Pikiran mengenai kesendiriannya
dalam kebingungan yang menegangkan syaraf
itu membangkitkan rasa kasihan pada diri
sendiri. Mengapa semuanya harus terjadi
malam ini—pada malam saat dia benar-benar
sendirian—yang bahkan seorang pelayanpun
tidak ada? Semua ini terlalu berat baginya.
Amat sangat berat untuk ditanggung seorang
yang cacat dan lemah. Bibirnya bergetar, dan
dia menghubungi operator interlokal untuk di-
sambungkan ke Jim Cotterell di Chicago.
Operator di Chicago mengulangi nomer
telepon yang diberikan Leona dan dia segera
dapat mendengar suara telepon di rumah Jim
Cotterell berdering. Seseorang mengangkatnya
dan Leona berkata, "Halo," tapi sambungan itu
langsung terputus. Keheningan itu membuat-
nya murka dan dia menyuarakan kejengkelan-
nya. Beberapa detik berlalu, dan operator itu
berkata dengan halus, "Mr. Cotterell tidak
berada di Lake Forest, Nyonya. Saya akan coba
mencarinya untuk Anda."
"Apa?" sahut Leona sebal.
Maaf, Salah Sambung | 309

"Saya akan menghubungi Anda kembali,


Nyonya, " jawab operator itu dan mematikan
teleponnya.
Marah oleh kebiasaan ayahnya yang suka
pergi ke klub malam atau ke tempat main kartu
semalaman, dia kembali memikirkan siapa kira-
kira yang bisa diceritakan tentang kegelisahan-
nya. Sulit sekali—menjadi seorang asing di
New York—untuk memilih seeorang yang bisa
dimintai bantuan. Kurangnya pilihan mem-
buatnya semakin marah.
Akhirnya dia ingat seorang dokter—dokter
Alexander. Hanya kenalan biasa. Dia pernah
memeriksanya beberapa kali. Dia pernah
beberapa kali membuat beberapa tes ter-
hadapnya yang hasilnya tidak diketahui Leona.
Dia bisa meminta dokter itu kesini, dan dia
harus datang. Setidaknya ada orang di
dekatnya untuk beberapa saat.
Kembali dia meraih gagang t e l e p o n ,
berhenti sesaat ketika didengarnya kereta
melintas dengan suara gaduh di jembatan.
Terkutuk sekali kekacauan ini! Leona berpikir,
bodoh sekali hidup di sebuah kota dimana
penduduknya, siapapun dia, tidak bisa me-
nemukan kedamaian dan ketenangan. Dia juga
memikirkan kereta yang diceritakan para
pembunuh itu (Pasti seperti keadaan saat ini!)
dan dia merasa ngeri. Lebih baik dia tidak
mengingat-ingat kejadian itu.
310 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

Suara kereta itu semakin menghilang dan


Leona kembali meraih telepon. Di saat yang
sama telepon itu berdering dan Leona segera
mengangkatnya.
Itu adalah Evans. Leona tidak kesulitan
mengenali suara lelah, bergaung, dan beraksen
kental itu.
"Apa Mr. Stevenson ada disana?" tanyanya.
"Tidak," jawab Leona. "Apakah ini Mr.
Evans?"
"Ya, Mrs. Stevenson."
Leona berkata dengan riang, "Pertama-
tama—saya ingin mengetahui kebenaran
tentang apa yang terjadi di Staten Island. Saya
baru saja mendengar tentang hal itu malam
ini—dan saya gugup sekali—apalagi Mr.
Stevenson sedang tidak ada di rumah—juga
saya mendengar telepon aneh tentang
pembunuhan—" Leona menceracau, dan dia
takjub.
Ketika dia bicara, Leona mendengar suara
deru angin yang berasal dari telepon Mr. Evans,
dimanapun dia berada. Semakin Leona men-
coba mendengarkan, semakin kencang pula
suara itu. Suaranya seperti sering didengar
Leona—suara pemadam kebakaran atau mobil
polisi yang berjalan melintasi jalanan di dekat
rumahnya. Dengan gugup dia memanggil,
"Apakah Anda masih disana, Mr. Evans?"

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com
Maaf, Salah Sambung | 311

Suara deru angin itu makin kencang ter-


dengar dan Leona berteriak, "Mr. Evans—?
Apakah Anda masih ada?"
Tidak ada jawaban, hanya suara deru
angin. Akhirnya telepon itu ditutupnya dengan
putus asa. Tapi segera telepon itu berbunyi lagi.
"Hello? Mr. Evans?" tanyanya dengan
cepat. Tidak ada jawaban. Dia malah men-
dengar suara ributdan bergemuruh yang lebih
menakutkan dari suara sebelumnya.
"Mr. Evans—" Leona memanggil lagi,
hampir berteriak, tapi hanya suara gemuruh itu
yang menjawab.
Dengan suara mendekati histeris, Leona
berteriak, "Halo! Siapa disana? Siapa ini yang
menelepon?" Leona berhenti beberapa saat,
lalu kembali berteriak, "Mengapa kamu tidak
menjawab pertanyaanku?" Lagi-lagi Leona
diam beberapa saat. Kemudian, ketika tidak ada
sedikitpun suara yang terdengar, benteng
pertahanan Leona runtuh dan dia berteriak
nyaring, "JAWAB!"
Dari kejauhan, hampir terkubur oleh
gemuruh suara yang berkepanjangan, dia
mendengar suara kecil berkata, "Leona—?"
Leona bertanya takut-takut, "Siapa disana?"
Suara itu sepertinya menjadi lebih jelas
sekarang, dan lebih jernih, lalu suara itu
berkata, "Ini Sally. Aku menelepon dari stasiun
312 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

kereta bawah tanah. Semua toko sudah tutup


jam sepuluh di dekat tempat tinggalku. Aku
hams bicara padamu, jadi aku pergi kesini. Aku
sudah pulang tadi, Leona—setelah bicara
denganmu—dan ternyata ada lagi yang terjadi."
Leona, dengan wajah tegang dan keras,
berkata, "Kali ini, Sally, tolong katakan semua-
nya atau jangan kau ganggu aku lagi. Aku
sudah cukup mendengar apa yang terjadi hari
ini."
"Ada mobil polisi parkir di halaman rumahku
tadi," kata Sally terburu-buru. "Rumah di Staten
Island itu terbakar sore ini. Polisi mengepung
rumah itu. Mereka menangkap tiga orang lelaki.
Tapi orang yang bernama Evans ini berhasil
lolos."
"Tapi siapa Evans ini? Apa hubungannya
dengan Henry?" tanya Leona.
"Aku masih belum mengetahuinya, Leona.
Yang aku tahu, semua ini ada hubungannya
dengan perusahaan ayahmu..."
"Perusahaan ayahku? Tapi—ini aneh.
Ayahku meneleponku dari Chicago malam ini
dan dia sama sekali tidak menyebut-nyebut
masalah ini."
Dia berhenti, menunggu sampai suara
kereta yang sedang lewat itu menghilang.
Kemudian dia melanjutkan, "Begini. Coba kau
runtutkan kembali ceritanya. Siapa yang
ditangkap? Mengapa?"
Maaf, Salah Sambung | 313

"Tiga orang lelaki," jawab Sally. "Aku tidak


tahu apa alasannya."
"Dan mengapa kau pikir Henry ada diantara
mereka?"
"Aku tidak berkata begitu. Aku hanya tahu
dia terlibat dalam masalah ini."
kemarahan Leona bangkit lagi. "Apa
mereka bilang Henry ditangkap—atau akan
ditangkap?"
"Tidak, bukan begitu tepatnya."
"Lalu—kau ini bicara apa?" tanya Leona
murka. "Mengapa kau meneleponku begini?
Sadarkah kau bahwa kau membuatku takut
sampai hampir mati?"
"Aku tahu, tapi—"
"...pertama aku mengangkat telepon dan
tanpa sengaja mendengar dua orang bicara
tentang pembunuhan..."
"Pembunuhan—!"
"...mereka merencanakan akan membunuh
seorang perempuan... lalu mahluk ini yang
bernama Evans meneleponku, suaranya
seolah-olah dia berada di dalam kuburan... lalu
orang-orang yang teleponnya kuhubungi tiba-
tiba saja bernada sibuk atau diputus... dan
sekarang kamu—tanpa alasan sama sekali..."
"Maafkan—"
"...tanpa alasan sama sekali..." Leona
terdiam untuk menarik napas. "Apakah kitu
314 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

cemburu karena aku mengambilnya darimu?


Apakah kau tidak bisa melihatku bahagia?"
"Sungguh, Leona..."
"Kau tidak bisa berhenti mengatakan hal-
hal bohong dan menyusahkan sekarang ini ya?
Aku tidak percaya sepatah katapun yang kau
ucapkan—kau dengar? Tidak sepatah katapun!
Dia tidak bersalah. Dia sedang dalam per-
jalanan pulang kesini—sekarang!"
Sebelum Leona sempat berkata-kata lagi,
Sally sudah menutup teleponnya.

Leona terbaring sambil menggerak-gerak-


kan tangannya, bertanya-tanya tentang teriakan-
teriakan tadi. Dengan semua hal tadi terjadi,
Sally mungkin mengetahui sesuatu yang akan
melibatkan Henry dalam bahaya. Tapi apa?
Uang? Tentang pasar saham tadi? Ini sukar
dimengerti. Leona tahu, tidak ada seorangpun
yang berani bermain di bursa saham tanpa
uang. Henry tidak punya uang. Gajinya sebagai
wakil direktur Cotterell Company tidak begitu
besar, dan sebagian besar habis untuk biaya
rumahtangga yang bersikeras dibayarkan
Henry. Kebanggaan membuatnya melakukan
itu, sebagaimana kejadian konyol tentang
apartemen mereka—apartemen yang dia ingin
sewa untuk Leona ketika mereka masih tinggal
bersama Jim di Chicago. Tidak, Henry tidak
punya apa-apa sama sekali. Tapi dia diper-
Maaf, Salah Sambung | 315

bolehkan untuk membiayai rumah tangga


mereka. Tapi biaya terbesar yang dikeluarkan
tetap berasal dari kocek Jim Cotterell.
Leona tidak bisa menemukan celah dimana
Henry bisa bermain-main masalah keuangan.
Bahkan investasi yang dilakukan Jim selalu
berbalik pada Leona—untuk mengurangi pajak
kematian yang suatu saat nanti akan dibeban-
kan pada kekayaannya—dan terdaftar atas
nama Leona, dan sepengetahuan Henry itu
sama sekali tak bisa disentuh. Kecuali, tentu
saja, jika istrinya itu meninggal. Jika Leona
meninggal, maka kekayaan itu akan menjadi
milik Henry. Wasiat Leona menyatakan hal-hal
semacam itu—dan Leona turut senang untuk
Henry. Dan pikiran itu benar-benar memati-
kan—untuk saat ini! Dia langsung membuang
jauh-jauh pikiran itu. Terlalu menakutkan
baginya.
Tapi pasti ada alasan lain dibalik cerita
menakjubkan yang dikatakan Sally. Kecuali jika
itu hanyalah khayalan Sally belaka. Kecuali jika
Sally memiliki rencana busuk dan keji untuk
menyakitinya karena apa yang telah terjadi di
masa lalu. Anggaplah dia memang punya
rencana seperti itu. Apa dia mampu mengarang-
ngarang cerita seperti tadi? Dan jika memang
dia mampu, mengapa dia harus menceritakan-
nya di malam yang aneh ini?
316 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

Misteri itu semakin berkembang di benak-


nya, berputar dalam awan perkiraan.
Kecurigaan kecil yang menakutkan makin
berkembang dan menolak untuk dipadamkan.
Tiap pikiran yang tersembunyi menghasilkan
pikiran yang lain, dan imajinasinya menjadi
layaryang menampilkan bayangan-bayangan
jahat akan kemungkinan yang masuk akal.
Mungkin! Mungkin! Bagaikan mimpi buruk,
teror melimpah yang ditimbulkan kejadian-
kejadian itu menyebabkan reaksi fisik yang
kentara. Jantungnya berdebar kencang, sangat
kencang dan itu membuatnya sakit. Untuk ber-
nafaspun dia harus berusaha keras agar udara
yang ada dalam paru-parunya berkeinginan
untuk keluar. Dengan tangan bergetar, dia
mengambil saputangan dan melap wajahnya
yang menyiratkan ketakutan dan kekhawatiran
yang amat sangat. Dia sudah tidak ingin
mengetahui apa yang terjadi dengan Henry—
atau apa yang nanti akan terjadi. Kepedulian-
nya akan keadaan dirinya sendiri mengalahkan
semuanya. Bayangan tentang kekacauan yang
akan terjadi, runtuhnya ketidakjujuran yang
selama ini dibangunnya, semuanya sudah tidak
tertahankan. Tubuhnya mulai bergetar dengan
perasaan tersiksa di atas ranjang, ketika lagi-
lagi terdengar suara telepon berdering.
"Apakah ini Plaza 9:2265?" tanya seorang
lelaki.
Maaf, Salah Sambung | 317

"Ya, ada apa?" sahutnya dengan suara


bergetar, hampir seperti bisikan.
"Ini Western Union. Kami ada pesan untuk
Mrs. Stevenson. Apakah ada orang yang bisa
menerima pesan ini?"
"Disini Mrs. Stevenson."
"Telegram ini berbunyi: 'Mrs. Henry
Stevenson, Sutton Place nomer 43, New York,
New York. Sayang, maaf sekali, aku harus pergi
ke pertemuan di Boston pada menit terakhir.
Titik. Naik kereta kesana. Titik. Kembali Minggu
pagi. Titik. Menelepon, tapi selalu sibuk. Titik.
Baik-baik ya. Penuh cinta, Henry.

10:15
Leona tertegun. Tangannya bergerak menutupi
mulut dengan putus asa. Operator Western
Union itu ingin tahu apakah salinan telegram
perlu diantar atau tidak, dan Leona mengata-
kan, "Tidak, itu—tidak—perlu," dengan suara
lemah, meletakkantelepon kembali ketempat-
nya dan bergerak layaknya robot. Dan Leona
kembali mendengar gemuruh ribut dari
jembatan dan dia beranjak dari tempat tidur
menuju jendela, perlahan, seakan berjalan
dalam mimpi. Dengan satu tangan bertumpu
pada bingkai jendela, Leona memandang siluet
jembatan bergaya Gotik dengan latar belakang
langit malam. Sekarang dia bisa melihat kereta,
yang serupa deretan sinar kotak-kotak panjang
318 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

yang bergerak seperti ulat, dan gemuruhnya


semakin keras saat kereta itu bergerak ke
arahnya, makin keras, makin keras, makin
keras, dan suara itu bertambah lemah saat
menjauh. Bingkai jendela sedikit bergetar di
bawah tangannya. Dia hanya berdiri seperti
terhipnotis. Potongan-potongan pembicaraan
mengalir dari benaknya, "Kemudian aku me-
nunggu... sampai kereta melintasi jembatan...
menurut klien kita tempat itu aman... aku sudah
dapat pesanmu, George, apa semuanya siap
malam ini?... Dimana Henry? Bisnis. Bisnis
apa ?... kadang-kadang hari berlalu begitu saja
ketika Mr. Stevenson tidak hadir... Henry sedang
bermasalah... sangat bermasalah... sayang,
maaf sekali, harus naik kereta... kemudian aku
tunggu sampai kereta melintasi jembatan...
Dengan keluhan kecil dia membawa dirinya
kembali ke dunia nyata, berjalan kembali ke
tempat tidur, menggenggam dinginnya gagang
telepon di tangannya. Terdorong kebutuhan
dari dalam diri, Leona bergerak gugup sambil
memutar piringan nomer telepon.

Suara dengung kipas angin yang monoton


terdengar diantara hiruk-pikuk suara dalam
ruang tamu sederhana di sebuah apartemen
kecil. Anginnya diarahkan langsung ke arah
papan kontrol yang berjajar dalam satu tembok.
Kipas angin itu menawarkan kenyamanan pada
Maaf, Salah Sambung | 319

empat orang gadis yang duduk dekat papan


pengendali yang sibuk memindahkan colokan
telepon, memencet tombol, dan mencatat
pesan dengan cepat yang kemudian akan di
sampaikan ke para pelanggan Layanan
Penjawab. Di sebuah sofa dekat jendela yang
terbuka, pegawai kelima sedang beristirahat,
Dari arah arah jendela, gadis itu bisa melihat
tangga darurat, dengan salah satu batang
tanaman geranium yang miring di dalam salah
satu pot di sudut. Si gadis, yang tidak terlalu
suka tanaman, hanya berbaring dan meng-
awasi teman-temannya yang sedang bertugas.
Ketika sinyal terdengar, dia berdiri dan duduk
di salah satu kursi, bergantian dengan salah
seorang pegawai lain yang keluar. Dia me-
masang kabel penghubung corong bicara ke
sekitar lehernya serta alat penerima melalui
kepalanya. Matanya melihat cahaya berkedip
di papan pengendali, dan dia langsung bekerja
dengan berkata, "Tidak, Nyonya. Dokter
Alexander tidak ada di tempat. Apakah Anda
ingin meninggalkan pesan?"
Dia mendengarkan beberapa saat, wajah-
nya menyiratkan kewaspadaan. "Bagaimana,
Nyonya? Tidak—saya tidak bisa mengatakan...
Bila Anda memberikan nama dan alamat Anda?
Ya, Nyonya. Ya—Mrs. Stevenson. Mrs. Henry
Stevenson. Plaza 9:2265. Saya pasti akan
mencoba menghubungi beliau."
320 I Lucille Fletcher & Allan Uflman

Dr. Alexander meletakkan kartu-kartu di


atas meja, mengaturnya dalam jajaran panjang
dan rapi dengan tangannya yang lentik dan
bersih.
"Sudah, partner," ujarnya sambil tersenyum.
"Coba lihat apa yang dapat kau lakukan dengan
kartu-kartu itu."
"Sempuma!"
"Kurasa memang sempurna—kalau saja
aku tahu tawaranmu."
Dia merioleh ke arah tuan rumah yang
duduk di sebelah kirinya. "Jika boleh, aku mohon
permisi sebentar, Mona. Aku ingin me-
nelepon—"
"Tentu saja, Philip," sahutnya. "Kau tahu
dimana teleponnya, 'kan?"
"Sayangnya..." ujarnya sambil bangkit dari
kursi.
"Di seberang lorong di ruang kerja. Kau
akan lihat telepon itu ada di atas meja Harry.
Kau tidak mungkin tidak melihatnya."
"Sekarang aku ingat. Bodohnya diriku..."
Dengan langkah kaki panjang-panjang,
postur tubuhnya yang tegap keluar dari
ruangan. Tanpa sadar, dua perempuan yang
berada di meja kartu menoleh saat me-
mandangnya pergi. Dia memang selalu
menjadi perhatian para perempuan. Sebagai
konsekuensinya, dia menarik bayaran besar—
Maaf, Salah Sambung | 321

lumayan besar, untuk kemampuannya yang


setara dengan penampilannya.
Ketika dia sudah duduk di meja kerja,
dengan telepon di hadapannya, lampu di meja
itu membuat bayangan menarik di sekitar
wajahnya. Wajah serupa elang, hidup, sehat,
dengan garis-garis di sudut bibir tipis dan mata
abu-abunya yang terbentuk semakin dalam
oleh waktu dan rasa humor. Rambutnya tebal
dan hitam, dengan bayangan abu-abu di sekitar
pelipis. Dia itu, sebagaimana biasa dikatakan
para suami saat pembayaran tagihan yang
biasa, adalah seorang dokter Kerah Arrow,
dokter rapi dan gaya—seorang pemeran dokter
beralatkan pisau bedah, bukan naskah. Tapi
mereka harus mengakui kehebatannya—
meskipun istri-istri mereka kadang memancar-
kan raut wajah seperti orang melamun yang
memandang nanar ke depan, sejalan dengan
aura sehat yang terpancar dari dalam diri
mereka.
Dokter itu memutar nomer Layanan
Penjawab secara mekanis sambil berpikir
betapa menyenangkan jika malam itu dia tidak
terganggu oleh hal-hal sepele. Dia sedang
menikmati malam—sebuah hal yang jarang
ditemui oleh seorang dokter sukses.
"Dokter Alexander," kata si dokter pada
seorang gadis yang menjawab teleponnya.
322 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Apa ada pesan untukku?—kuharap tidak


ada..."
"Oh—ada, dokter," jawab si gadis. "Dari
Mrs. Stevenson. Mrs. Henry Stevenson. Dia
bilang dia sangat sakit dan khawatir. Salah satu
pasienjantung Anda, katanya. Kedengarannya
dia agak panik."
"Ada lagi?" tanya si dokter lagi.
"Tidak, dokter. Hanya Mrs. Stevenson."
"Baik, saya akan segera menghubungi Mrs.
Stevenson. Terima kasih."
Dari dalam saku jasnya, dokter itu meng-
ambil sebuah buku alamat yang bagus sekali
dan mencari-cari nama Leona di dalamnya. Dia
ragu sejenak sebelum memutar nomer telepon,
dengan rasa putus asa berpikir ini mungkin saja
hanya telepon yang m e r e p o t k a n . Mrs.
Stevenson kadang-kadang bersikap sombong.
Dan kesombongan itu akan bertahan lama,
sedangkan si dokter tidak berniat untuk men-
dengarkan kondisi kesehatannya yang tidak
berkesudahan itu. Sambil tersenyum, dokter itu
berpikir, sepertinya Mrs. Stevenson sudah
membuat gadis operator di Layanan Penjawab
itu ketakutan, meskipun kemungkinan keada-
annya benar-benar mengkhawatirkan itu kecil
sekali—Well, mungkin saat ini tidak terlalu
buruk. Sudah saatnya dia tahu keadaan yang
sesungguhnya.
Diputarnya nomer telepon Leona.
Maaf, Salah Sambung | 323

Leona menjawab telepon tepat pada dering


pertama. Merengek sesaat, kemudian marah-
marah, dan semua masalah langsung mem-
banjiri telinga si dokter.
"Aku amat sangat ketakutan," ujarnya
lemah. "Jantungku seperti terjepit. Debarannya
menyakitkan sekali—aku—aku tidak tahan lagi.
Paru-paruku seolah mau meledak setiap kali
aku menarik napas panjang. Dan aku terus saja
gemetar. Aku hampir tidak dapat memegang
telepon ini, sakit sekali."
"Oh, ayolah—ayo, Mrs. Stevenson," sahut-
nya menenangkan. "Saya rasa kondisi Anda
tidak separah itu. Dimana pelayan Anda malam
ini? Bisakah dia datang menemani Anda? Saya
yakin jika ada seseorang yang menemani maka
Anda tidak akan begitu tersiksa."
"Tidak ada seorangpun disini—semua tidak
ada," teriak Leona, hampir menangis. "Dan
kurasa aku tidak begitu sehat. Aku ingin kau
datang kesini malam ini. Kau dokterku dan aku
perlu kau—malam ini."
"Wah—saya rasa saya tidak bisa kesana,"
ujarnya, masih dengan nada lembut yang
profesional. Saya akan datang jika memang
sangat mendesak—dan saya rasa sekarang
kondisi Anda tidak begitu mendesak. Anda
hanya sedang gugup, itu saja. Jika Anda me-
maksa diri untuk rileks dan duduk diam-diam
untuk beberapa menit, maka akan merasa lebih
324 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

baik. Jika Anda mau, minumlah beberapa butir


bromide. Obat itu akan membantu menenang-
kan kegugupan Anda."
Leona menangis, "Tapi kau tahu saya
sedang sakit. Untuk apa aku datang padamu
selama beberapa bulan ini? Bagaimana
mungkin kau menolak untuk menemuiku
sekarang—saat aku sedang memerlukanmu?
Dokter macam apa kamu ini?"
Rahang dokter itu mengeras. Ini sudah
terlalu jauh, bahkan untuk Mrs. Stevenson yang
kaya itu. "Begini, Mrs. Stevenson," sahutnya
dingin. "Bukankah sekarang sudah saatnya
bagi Anda untuk menghadapi secara jujur dan
mulai bekerjasama dengan suami Anda dan
juga saya?"
"Kau ini bicara apa?" tanya Leona. "Apa
yang kau maksud dengan—bekerjasama?"
Pertanyaannya mengagetkan dokter
Alexander. "Apa yang saya bicarakan? Mrs.
Stevenson, Anda tahu betui sebagaimana saya
juga mengetahuinya. Saya sudah menjelaskan
semuanya pada suami Anda—seminggu yang
lalu."
"Suami saya? Anda pasti sedang ingin
membuat saya jengkel seperti yang lain. Saya
yakin, suami saya tidak mengatakan apapun..."
Dokter Alexander menjadi semakin heran.
"Anda yakin suami Anda... Saya sudah men-
Maaf, Salah Sambung | 325

ceritakan semuanya... Dia berjanji... Dan dia


belum bilang apa-apa?"
"Cerita semua tentang apa?" tanya Leona
mendesak. "Cerita apa? Ada apa sih dengan
semua ini?"
Dokter Alexander berhenti bicara. Semua
ini agak membingungkannya.
"Well, ini benar-benar aneh, sangat aneh,
Mrs. Stevenson. Saya sudah membahas
masalah kesehatan Anda dengan suami
Anda—semuanya—kira-kira sepuluh hari yang
lalu. Dia datang ke kantorsaya."
"Dan apa yang kau katakan padanya,
dokter?"
"Sungguh, Nyonya yang baik, sekarang
bukan waktunya untuk membahas semua ini.
Jika Anda sudah bisa menguatkan diri—
cobalah untuk tidur—mungkin kita bisa
membicarakan masalah ini besok."
"Kita akan membahas masalah ini
sekarang—SEKARANG! Kau dengar!" jerit
Leona. "Kau pikir bagaimana saya bisa
melewati malam ini tanpa tahu—dengan hati
bertanya-tanya tentang kejadian buruk apa lagi
yang akan terjadi padaku selanjutnya? Saya
tidak akan mendengar Anda..."
Dokter Alexander mengangkat bahu dan
sebelah alisnya naik seolah melecehkan sambil
mendengarkan telepon.
326 | Lucille Fletcher & Allan- Ullman

"Baiklah, Mrs. Stevenson. Tolong tunggu


sebentar..."
Dia meletakkan telepon itu di atas meja dan
berjalan keluar ruang kerja untuk kembali ke
ruang tamu. Di pintu, dokter itu berhehti. Kartu
sudah dibagi dan mereka menunggunya.
"Maaf," ujarnya ke arah mereka. "Aku masih
hams bicara di telepon agak lama..."
"Penaklukanmu lagi ya, Philip?" tanya
rekannya dengan senyum menyiratkan
keriangan yang berlebih.
"Tentu saja. Tapi hanya sebentar. Sebenar-
nya saya tidak suka membuat kalian menunggu
seperti ini."
Dia kembali ke ruang kerja. "Terima kasih
sudah menunggu, Mrs. Stevenson."
"Aku harap kau bisa menjelaskan semua-
nya sekarang," desaknya, merajuk. "Aku tidak
habis pikir mengapa suamiku sampai me-
nemuimu."
"Dia datang ke kantor saya untuk menge-
tahui diagnosis penyakit Anda. Dia bilang ayah
Anda memperingatkan tentang penyakit
jantung yang Anda derita—dan Anda gampang
sekali terkena serangan sejak kecil. Katanya,
sebagai jawaban pertanyaan yang saya ajukan,
keadaan Anda sudah sejak lama membaik, dan
dia tidak mengetahui kondisi jantung Anda
sampai kalian berdua menikah. Ayah Anda
Maaf, Salah Sambung | 327

yang mengatakannya pada hari pernikahan


kalian. Itu membuatnya terkejut."
"Ayah saya memang agak-agak—bebal."
"Suami Anda mengatakan Anda tidak
mengalami serangan jantung sampai kira-kira
sebulan setelah pernikahan dan kalian baru
saja kembali dari berbulan madu. Apakah itu
benar, Mrs. Stevenson?"
"Ya," jawab Leona. "Saya menyesalkan hal
itu."
"Suami Anda mengatakan serangan itu
terjadi ketika dia ingin berpisah dari perusahaan
ayah Anda, dan Anda tidak ingin mendengar-
nya."
"Kurasa—kurasa memang seperti itu,"
jawab Leona mengakui. "Henry mengingin-
kan—kalau dipikir-pikir memang konyol
kedengarannya—dia menginginkan untuk
berusaha sendiri. Dia memang agak tidak sabar
dalam hal ini—kadang-kadang."
"Menurutnya lebih daripada itu, Mrs.
Stevenson."
"Oh? Lebih dari itu?"
"Ya, sepertinya ada semacam pertengkaran
dengan ayah Anda—apakah benar?"
"Well, iya..." jawab Leona enggan. "Menurut
Henry, ayah tidak memberinya cukup tanggung
jawab. Pernyataan bodoh."
"Tapi menurut suami Anda itu tidak bodoh."
328 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Tetap saja bodoh. Ayah mengangkatnya


jadi wakil direktur dan memberikan salah satu
kantor yang paling indah..."
"Bagaimanapun kejadiannya, dia telah
bertengkar dengan ayah Anda dan kemudian
dengan Anda sendiri. Dan karena itu Anda jadi
sakit keras."
"Ya," jawabnya. "Saya tidak tahan meng-
hadapi pertengkaran."
"Suami Anda sepertinya sudah memper-
kirakan hal itu," ujar si dokter kering. "Dia juga
tidak memperdulikan pertengkaran itu—setelah
apa yang terjadi. Kelihatannya suami Anda
seorang pria yang kuat—dan cerdas menurut
saya. Katanya, sejak saat itu tidak ada lagi
serangan jantung sampai dia mengejutkan
Anda dengan apartemen—yang dia ingin untuk
Anda tempati."
"Oh—ya," sahutnya. "Dia itu sangat konyol.
Dia ingin membawaku pergi dari rumah Ayah
dan tinggal di tempat kontrakan. Henry yang
malang. Dia tidak tahu apa-apa mengenai hal
itu. Dia bahkan tidak bisa menghargai bagai-
mana enaknya tinggal bersama Ayah, tidak ada
masalah bagaimana menjalankan rumah-
tangga. Ayah tidak pernah mengganggu kami.
Hanya saja Henry punya pikiran konyol untuk
menjadi kepala rumah tangga—seperti layak-
nya pegawai atau tenaga penjual kebanyakan
yang tinggal di pinggir kota."
Maaf, Salah Sambung | 329

"Anda juga bertengkar tentang hal itu,


bukan?"
"Ya," sahutnya. "Dan meskipun aku men-
coba sekuat tenaga, tetap saja aku jadi sakit."
"Hal itu tepat seperti yang dikatakan suami
Anda," ujar dokter Alexander. "Hal itu mem-
buatnya berpikir untuk tidak bertentangan
dengan apa yang Anda inginkan. Tapi kondisi
kesehatan Anda menurun sejak saat itu, dan
semakin memburuk—menurutnya—sampai
sekarang Anda menjadi hampir invalid begini.
Tentu saja dia ingin tahu apa yang akan terjadi
di masa depan."
"Aku yakin dia khawatir," sahut Leona. "Dia
selalu menjagaku. Dia sangat mencintaiku."
Dokter Alexander terbatuk. "Saya sepakat
dengannya mengenai tidak tersedianya waktu
untuk dia bisa bersenang-senang. Saya
bahkan bertanya apa pernah terlintas di
benaknya untuk meninggalkan Anda." Dia
mendengar Leona tersentak, dan buru-buru
melanjutkan ucapannya. "Dia menatap saya
terkejut. Katanya hal itu bahkan tidak pernah
dipertimbangkannya. Aku mengatakan, itu
mungkin hal yang paling Anda perlukan, Mrs.
Stevenson. Jelas sekali, dia adalah sumber
semua gangguan emosional yang Anda alami
selama sepuluh tahun belakangan ini. Jika dia
keluar dari kehidupan A n d a , mungkin
kesehatan Anda akan membaik."
330 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Itu—ucapanmu itu jahat sekali—sangat


jahat," bisik Leona sambil menahan tangis.
"Menurutnya hal itu mungkin malah akan
membunuh Anda," lanjut dokter Alexander
dengan t e n a n g . "Dan saya langsung
menyetujuinya untuk satu hal itu. Menurut saya
hal ini mungkin akan menjadi tahap yang
menakutkan bagi Anda, Mrs. Stevenson, tapi
seiring dengan berjalannya waktu Anda akan
menjadi pulih—bila Anda menginginkannya,
tentu. Dengan kata lain, saya akan mengatakan
yang sesungguhnya, Nyonya yang baik.
Jantung Anda itu sama sekali tidak ber-
masalah..."
"Apa?"
"Betul, Mrs. Stevenson. Secara medis,
jantung Anda sehat walafiat."
"Berani sekali kau berkata seperti itu!"
bentaknya. "Kau tahu, aku ini perempuan yang
sakit keras..."
"Semua ini bukan sebagaimana penyakit
yang Anda rasakan," ujarnya. "Penyakit ini
hanya ada dalam pikiran Anda saja..."
"Pikiran saya! Saya rasa Anda ber-
sekongkol dengan—dengan orang-orang yang
lain yang mencoba mengacaukan pikiran
saya."
"Saya mohon, Mrs. Stevenson, Anda hams
menggunakan akal sehat Anda. Tidak ada
seorangpun yang berusaha menyakiti Anda."
Maaf, Salah Sambung | 331

"Ada!" teriaknya. "Mereka ingin menyakiti-


ku!"
"Saya rasa saya tidak mengerti maksud
Anda," sahutnya tenang. "Saya sarankan Anda
membicarakan semua hal ini dengan suami
Anda, Mrs. Stevenson..."
"Membicarakan? Bagaimana saya mem-
bicarakannya? Dia tidak ada disini. Aku tidak
tahu kemana dia pergi."
"Mungkin besok Anda dapat..."
"Oh, Anda..."
Dokter Alexander hampir bisa merasakan
keterkejutan yang dirasakan Leona ketika
telepon itu dibanting dari seberang. Nada
panggil mendadak berdengung pelan di
telinganya. Dia menurunkan gagang telepon,
tangannya berada di atas piringan nomer.
Meneleponnya kembali? Tidak. Dia tersenyum
sinis, mengangkat bahu, dan dengan lembut
meletakkan gagang telepon kembali ke tempat-
nya. Saat dia baru saja menuju pintu, sebuah
suara dari ruangan lain mengambang di udara.
"Philip! Kau sudah terlalu lama berada disana,
sayang!"

Leona—terkejut, merasa semuanya tidak


masuk akal—menatap ke pesawat telepon,
sebuah mesin celaka yang khusus dirancang
untuk menyiksanya tanpa henti melebihi batas
k e m a m p u a n n y a . K e m a r a h a n , rasa ke-
332 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

banggaan yang terluka, keraguan, bertempur


dalam batinnya. Itu sangat tidak mungkin!
Semasa kecil memang dia membesar-besar-
kan masalah kesehatannya. Tapi sekarang dia
benar-benar sakit! Dia tidak berpura-pura! Dia
memang sakit! Tangan Leona meraba jantung-
nya, menekan dengan keras di tempat yang
terasa sakit. Dia menarik napas dalam-dalam,
merasakan sakit yang mengiris t a j a m .
Alexander bodoh. Orang bodoh yang jahat.
Mengatakan semua gagasannya mengenai hal-
hal yang buruk, menyatakan bahwa dirinya
adalah penyebab ketidakbahagiaan Henry.
Apakah dia sengaja membuatnya kesal,
membuatnya mengalami semacam krisis? Dia
akan melaporkannya ke Asossiasi Kedokteran
nanti.
Dan kebohongannya tentang Henry!
Semua itu dusta dan dia akan mengajak Henry
menemui dokter itu dengan semua kebohongan-
kebohongan yang telah dia sampaikan tadi.
Semua itu hanya kebohongan belaka. Dia
seorang perempuan yang sakit keras. Henry
mencintainya dan ingin membantu. Memang
sudah seperti itu. Tidak bisa tidak.
Tiba-tiba matanya memancarkan sikap
menantang. Leona menyibakkan selimut tipis,
mengayunkan sebelah kakinya ke lantai dan
kemudian satunya lagi. Dia berdiri, menahan
napas, dan berjalan ke arah jendeia. Jantung-
Maaf, Salah Sambung | 333

nya berdebar kencang. Dadanya ditekan,


seakan apa yang dilakukannya akan membuat
jantungnya berhenti berdebar-debar karena
tekanan jemarinya. Dan sekali lagi telepon itu
berbunyi!
Keterlaluan! Dia terjatuh ke atas tempat
tidur, megap-megap, tersiksa oleh rasa sakit
karena penderitaannya. "Pembohong!" isaknya.
"Pembohong... pembohong... pembohong!"
Telepon itu terus berdering, dan dia me-
nolehkan wajahnya yang terkejut, sambil
menangis. "Aku tidak ingin bicara dengan
siapapun. Aku benci kalian semua!"
Tapi deringan yang berkelanjutan itu
seakan mengejek kemarahannya. Lalu, di-
antara deringan itu dia mendengarsuara yang
dikenalnya. Leona bisa merasakan getaran
halus dari bangunan apartemennya ketika
kereta kembali melintasi jembatan. Kedekatan-
nya memulihkan akal sehat Leona, membuang
semua gerakan tergesa-gesa yang dihasilkan
oleh syarafnya yang terguncang. Sementara
telepon itu terus saja berbunyi. Dia meng-
angkatnya.

10:30
"Halo,"sahutnya. Suara itu keluardari mulutnya
dengan lemah.
"Mrs. Stevenson?"
334 ! Lucille Fletcher & Allan Ullman

Tidak sukar baginya untuk mengenali


suara itu. "Ya, Mr. Evans, ini Mrs. Stevenson."
"Apa Mr. Stevenson sudah pulang?"
"Belum," jawabnya tegang. "Dia tidak akan
pulang sampai besok." Lalu mendadak dia
menambahkan, "Maukah Anda—tolong, saya
mohon dengan sangat, Mr Evans, katakan pada
saya apa arti semua ini. Mengapa Anda
meneleponnya setiap lima menit?"
Evans menyahut dengan suara penuh
penyesalan, "Maafkan saya. Saya tidak ber-
maksud mengganggu Anda."
"Well, Anda sudah mengganggu saya.
Saya meminta Anda untuk—"
"Ini adalah saat yang agak genting—
terutama bagi Mr. Stevenson," sahut Evans
sedih. "Saya rasa jika Anda bisa mengatakan-
nya..."
"Saya tidak bisa menerima pesan sekarang,"
teriak Leona. "Saya terlalu jengkel..."
"Sayang sekali, Anda harus melakukannya,
Mrs. Stevenson. Ini sangat penting."
"Anda punya hak apa untuk..." tanya Leona.
Tapi Evans melanjutkan dengan tenang,
"Tolong katakan pada Mr. Stevenson bahwa
rumah di Dunham Terrace nomer 20—dieja D-
U-N-H-A-M—Dunham Terrace nomer 20—
sudah dibakar. Saya sudah membakarnya sore
ini."
Maaf, Salah Sambung | 335

"Apa? Apa maksud Anda?" teriak Leona


terkejut.
"Ada lagi—tolong katakan pada Mr.
Stevenson," lanjutnya dengan tenang, "saya
tidak percaya pada Mr. Morano—ejaannya M-
O-R-A-N-0—menghianati kita ke polisi karena
Mr. Morano sudah ditangkap. Jadi sekarang ini
tidak ada gunanya untuk mengangkat uang-
nya."
"Siapa itu Morano?" tanya Leona sambil
gemetar.
Evans mengacuhkan pertanyaannya dan
melanjutkan pesannya. "Ketiga, tolong katakan
pada Mr. Stevenson bahwa saya melarikan diri
dan sekarang berada di Manhattan. Lagipula
seharusnya saya tidak berada disini sebelum
tengah malam—tapi jika beliau ingin bertemu
dengan saya—beliau bisa menghubungi
Caledonia 5:1133."
"Tapi—apa maksud semua ini sebenar-
nya?" teriak Leona memprotes.
"Saya rasa cukup sekian," ujar Evans
dengan tenang. "Jika Anda tidak keberatan,
saya ingin Anda mengulanginya—"
"Mengulanginya! Saya tidak akan me-
lakukannya!" pekik Leona. "Apakah Anda tidak
sadar saya invalid, Mr. Evans? Sakit keras?
Saya—saya tidak tahan menghadapi semua
ini..."
336 I Lucille Fletcher & Allan Uilman

Ada nada kasihan dan pengertian di


dalam suara lelah Mr. Evans saat dia berkata,
"saya sangat sadar akan kondisi Anda yang
memprihatinkan, Mrs. Stevenson. Bahkan saya
sudah cukup lama mengetahui keadaan Anda."
"Anda mengetahui keadaan saya?" tanya
Leona murka. "Well, seumur hidup saya sama
sekali belum kenal Anda—sama sekali!"
Dengan penuh rasa hormat Evans berkata,
"Saya menyesal atas apa yang terjadi dengan
Anda, Mrs. Stevenson. Tapi saya pastikan
bahwa semua hal ini bukanlah kesalahan Mr.
Stevenson—seutuhnya."
"Demi Tuhan! Berhentilah berteka-teki!
Sesungguhnya apa yang telah terjadi?" desak
Leona.
"Mungkin akan lebih baik jika saya mem-
beritahu Anda," sahut Evans bijak, "sebelum
fakta yang sesungguhnya dikatakan oleh—
ah—polisi."
"Polisi...\"
Evans terdiam, kemudian bciara dengan
perlahan, "Apakah Anda punya pensil, Mrs.
Stevenson? Ada beberapa nama dan tempat
yang harus Anda catat yang mungkin ber-
guna—jika Anda—ehm—menulisnya..."

Saya akan mulai pada saat saya pertama


kali mengenal Mr. Stevenson (kata Evans).
Saya rasa waktu itu tanggal 2 Oktober 1946,
Maaf, Salah Sambung | 337

tempatnya di pabrik ayah Anda di Cicero,


Illinois. Saat itu pabrik sedang sibuk-sibuknya
dan saya bekerja terlalu larut di laboratorium—
menguji beberapa catatan formula obat-obatan.
Suara pelan di belakang punggung menarik
perhatian saya dan saya menoleh dan melihat
seseorang sedang memandang ke arah saya
melalui jendela pengintai di pintu. Sesaat
kemudian pintu itu terbuka dan seorang lelaki
muda masuk.
"Selamat malam," sapa si lelaki muda.
"Bukankah sekarang sudah terlalu malam
untuk bekerja?"
"Ya, Mr. Stevenson," kata saya. "Memang
sudah larut."
Saya jelaskan, saya terbiasa bekerja
sampai larut malam.
"Saya hanya sedang berjalan-jalan," ujar
beliau, sambil melangkah pelan mengelilingi
laboratorium. "Baru kali ini saya berkesempatan
melihat-lihat."
Saya sangat senang mendengarnya. Saya
jarang dikunjungi oleh orang yang tertarik
dengan hasil kerja saya, dan harus saya akui,
kesempatan untuk pamer amat sangat dinanti-
nanti. Karena Mr. Stevenson itu menantu Mr.
Cotterell, maka kunjungannya membuat
suasana hati saya tambah terangkat.
Laboratorium itu adalah tempat yang
menyenangkan. Saya memiliki peralatan ter-
338 I Lucille Fletcher & Allan Uilman

baik, dan semua peralatan itu berada dalam


jajaran yang teratur dan efisien di bawah pendar
lampu neon di langit-langit yang dengan lembut
dibiaskan lantai keramik di bawahnya.
"Apakah ada yang ingin Anda lihat secara
khusus?" tanya saya.
"Tidak—tidak—saya hanya penasaran,"
ujarnya. "Saya selalu bertanya-tanya ada apa
di dalam departemen ini. Apa yang Anda
kerjakan disini?"
"Pekerjaan kami disini meliputi kimiawi
narkotika. Narkotika itu tidak selalu berbahaya
sebagaimana yang sering kita baca. Banyak
manfaatnya juga bagi manusia jika digunakan
dalam dosis yang tepat—seperti pada produk-
produk Cotterell." .
Kelihatannya sikap saya membuatnya
senang. Beliau tersenyum pada saya. "Begini,
Evans, saya telah berurusan dengan obat-
obatan hampir seumur hidup saya. Sekarang
katakan, apa yang sedang terjadi disini?"
"Well, di laboratorium ini kami memecahkan
opium mentah menjadi berbagai macam
senyawa alkaloid. Saya rasa Anda tahu opium
itu terdiri dari 24 alkaloid—morpin, kodein..."
"Baik," sahutnya menyela. "Candu. Pasti
banyak sekali disini."
"Memang. Boleh dibilang, tanggung jawab
yang berat, Pak."
Maaf, Salah Sambung | 339

"Apa yang Anda lakukan dengan berbagai


macam alkaloid itu?" tanyanya.
"Digunakan dalam produk-produk Cotterell,
tentu saja."
"Tidak, bukan, maksud saya apa yang Anda
lakukan sebelum alkaloid-alkaloid itu di-
pergunakan dalam Cotterell Industry? Tidak
mungkin disini Anda menyimpannya begitu
saja dalam staples."
"Well—saya rasa hal itu rahasia, Mr.
Stevenson."
"Memang sudah begitu peraturannya.
Mungkin saya bisa bertanya sendiri pada Mr.
Cotterell..."
"Oh, jangan," jawab saya. "Saya hanya
ingin membuat Anda terkesan dengan cara
kami memperlakukan semua informasi disini
dengan sangat hati-hati. Tidak ada alasan bagi
menantu Mr. Cotterell untuk tidak mengetahui-
nya."
Saya berjalan diatas lantai keramik menuju
pintu dan membuka sebuah celah di atas saklar
lampu dengan sebuah kunci. Sebagian dinding
itu bergeser ke samping, menampakkan
brankas yang sangat besar tempat persediaan
narkotika kami disimpan. Mr. Stevenson
kelihatan sangat terkesan.
"Apakah ini membuatmu khawatir?" tanya
beliau ingin tahu. "Menyimpan bom manusia
ini sendirian?"
340 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Sebagaimana yang saya katakan sebelum-


nya, ini adalah tanggung jawab. Lemari besi
ini tidak akan terbuka kecuali dengan kombinasi
nomeryang tepat."
"Maksud saya bagaimana jika terjadi
kesalahan? Misalnya saja Anda salah men-
jumlahkan zat yang Anda lepaskan untuk
produk tertentu. Apakah itu tidak mem-
bahayakan?"
"Kejadian seperti itu bisa dibilang hampir
tidak mungkin terjadi," jawab saya yakin. "Zat
yang kami lepaskan sangat tepat dan sesuai
dengan formula yang kami buat. Saya sudah
bekerja disini selama lima belas tahun dan
tidak pernah sekalipun terjadi kesalahan
seperti itu."
"Tentu saja," sahutnya sambil tersenyum.
"Saya hanya penasaran."
Beliau datang ke laboratorium beberapa kali
setelah itu—selalu bersikap ramah dan baik
pada saya. Saya menunjukkan berbagai proses
yang sedang berlangsung, dan pengalaman
selama bertahun-tahun bekerja di apotik
membuatnya cepat mengerti apa yang mungkin
dirasa sulit bagi orang kebanyakan. Saya
sangat tersanjung, ada orang penting di kantor
yang sangat ramah pada saya.

Kau sama sekali belum mengatakan apa


yang tidak aku tahu, pikir Leona. Henry
Maaf, Salah Sambung | 341

memang seperti itu. Penasaran. Cermat. Dan


untuk tahu apa yang terjadi di perusahaan itu
sudah menjadi urusannya. Yang diistilahkan
ayah sebagai pengintai. Itu adalah salah satu
hal yang mereka perdebatkan. Henry merasa
ayah membencinya dan ingin menjatuhkan-
nya. Dia bahkan membicarakannya pada
dokter Alexander. Mungkin ayah terlalu keras.

Sekitarsebulan setelah pertemuan pertama


dengan Mr. Stevenson, saya sedang berada di
luar, menunggu bis untuk pulang ke rumah.
Sore itu cuaca agak buruk, dengan angin
bertiup kencang yang membuat hujan turun
hampir horisontal di sepanjang jalan di kota.
Payung yang saya pegang tidak memberi
cukup perlindungan. Saya benar-benar terlihat
menyedihkan sambil menunggu di sudut itu.
Tapi tidak lama kemudian sebuah mobil sedan
yang mengagumkan berhenti di depan saya,
dan seseorang memanggil, "Evans!"
Saya menyipitkan mata untuk bisa melihat
dengan jelas dalam rinai hujan, dan saya
melihat Mr. Steveson di dalam mobil itu. "Ayo
masuk. Kuantar kau."
"Anda baik sekali. Tapi saya tidak ingin
merepotkan. Mungkin Anda bisa mengantar
saya untuk menunggu bis di tempat yang lebih
baik. Saya rasa saya tidak berminat untuk
menunggu sambil berhujan-hujan."
342 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Lupakan saja. Aku akan senang meng-


antarmu sampai rumah. Sebenarnya, aku tidak
begitu suka bermobil sendirian."
Kami meluncur dengan tenang, dan saya
tidak bisa menahan diri untuk tidak mengagumi
keanggunan mobil itu.
"Ini milik istriku," ujarnya ketika kekaguman
itu terucap.
"Saya tidak pernah punya mobil. Kelihatan-
nya mobil itu terlalu—well—mekanis. Secara
pribadi, saya ingin punya kuda dan kereta saja."
Mr. Stevenson tidak menghentikan pem-
bicaraan saya, jadi saya kira saya terus saja
mengoceh selama beberapa saat mengenai—
kuda. Saya dibesarkan di tempat kuda-kuda
dikembangbiakkan, di Surrey. Dan saya rasa
tidak seorangpun yang bisa mengingkarinya.
"Kuda itu binatang yang baik. Mereka
kuat—dan juga sangat lembut. Saya kadang
berharap bisa memiliki ratusan kuda."
Ketika saya berkata demikian, Mr.
Stevenson memandang saya dengan tatapan
aneh. "Maksudmu...?"
"Ya," saya meyakinkannya. "Tidak ada yang
lebih saya sukai selain kuda. Saya bahkan ingin
punya peternakan kuda sendiri. Istal yang
bersih dan bagus. Dengan hamparan padang
rumput menghijau. Dan ternak terbaik di seluruh
Inggris."
"Inggris?" tanya Mr. Stevenson.
Maaf, Salah Sambung | 343

"Oh, ya. Saya heran dengan setiap orang


Inggris yang tinggal di luar negeri. Mereka
selalu berharap untuk bisa menghabiskan
masa tua di daerah kelahiran mereka. Selalu
ada sesuatu yang menarik kami kembali
kemanapun kami pergi."
Mr. Stevenson kembali menatap saya,
dengan seulas senyum samar membayang.
"Tidak ada salahnya menginginkan sesuatu.
Yang salah adalah jika kau tidak melakukan
apapun untuk mendapatkannya."
"Bicara memang mudah. Maaf jika ucapan
saya kurang sopan, tapi tidak setiap orang bisa
mewujudkan keinginan dengan tenaga yang
dimilikinya—dan uang, terutama. Kadang
seseorang tidak tahu apa yang diinginkan
sampai semuanya sudah terlambat. Misalnya
saja—saya sedang bermain sedikit dengan diri
saya sendiri."
"Kau...?" Wajah Mr. Stevenson memancar-
kan rasa senang.
"Ya. Saya pergi berlibur ke Inggris beberapa
tahun yang lalu, dan saya tertarik dengan
sebuah tempat di dekat Dorking. Tempat
sempuma. Ada sebidang tanah disana, padang
rumput membentang dengan pohon-pohon
besar dan rindang, dan sungai kecil yang indah.
Kuda suka sekali hidup di dekat sungai kecil.
Saya memikirkan harganya setiap waktu—
hanya untuk bersenang-senang saja—tapi
344 | Lucille Fletchers Allan Ullman

saya tahu saya tidak akan pernah mampu


membelinya. Saya mendapatkan kesenangan
hanya dengan membuat rencana untuk tempat
itu jika saya memilikinya."
"Kau benar," sahut Mr. Stevenson agak
sinis. "Kau tidak akan pernah mampu membeli
tempat itu dengan bekerja untuk bapak mertua-
ku."
Hal ini agak membuat saya malu. "Menurut
saya juga begitu," ujarsaya, mengakui.
Lagi-lagi dia menatap saya sekilas, dan kali
ini saya melihat pandangannya menyiratkan
sebuah spekulasi, seakan-akan dia sedang
berpikir untuk mengatakan—atau tidak
mengatakan—sesuatu. Apa yang beliau
katakan, akhirnya, membuat saya kaget.
"Kau dan aku, Evans, memiliki banyak
kesamaan."

Fantastis! Ujar Leona dalam hati. Henry dan


bapak tua yang membosankan! Mengapa
Henry menghubungkan dirinya sendiri dengan
orang yang melelahkan ini? Kedengarannya
bapak tua ini sedikit aneh.

"Tapi—tapi, Mr. Stevenson, itu omong


kosong! Saya pikir..."
"Jangan berpikir, Evans, kecuali tentang
pekerjaanmu dan peternakan di Inggris itu."
Beliau mengucapkannya dengan agak muram.
Maaf, Salah Sambung | 345

Untuk beberapa saat, kami hanya terdiam.


Sesampainya di rumah, aku membuka pintu
mobil dan akan keluar. Tiba-tiba aku merasakan
tangan Mr. Stevenson memegang lenganku.
"Sebentar, Evans. Aku ingin bicara denganmu."
"Silahkan, Mr. Stevenson," jawabku dan
kembali menutup pintu mobil.
"Evans, aku ada ide. Jika menurutmu ini ide
bagus, maka peternakan di Inggris itu akan jadi
milikmu. Bagiku, itu berarti—well—tidak
penting apa artinya bagiku. Kau yang akan
memutuskan apakah ini ide yang bagus atau
bukan, Evans. Tidak ada seorangpun yang bisa
memutuskan selain kau." Beliau sama sekali
tidak tersenyum. Wajah beliau memancarkan
kegelapan sekelam malam. Matanya menatap
tajam menembus mata saya. Cekalannya di
lengan saya mengeras, hampir menyakitkan.
"Maksud Anda?" tanya saya dengan cepat,
karena sikapnya itu sangat menakutkan saya.
"Maksudku, kau bisa mendapatkan apa
yang kau inginkan di Inggris, atau dimanapun,
hanya dengan membuat beberapa kesalahan."
"Kesalahan? Maaf, tapi saya rasa saya tidak
mengerti maksud Anda."
"Kesalahan," sahutnya datar. "Kesalahan
dalam mengukur jumlah candu yang kau atur
untuk produk-produk Cotterell. Tidak di-
lebihkan, Evans—kurang. Hanya dikurangi
sedikit."
346 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Demi Tuhan, tidak," sahut saya dengan


gemetar. "Saya belum pernah mendengar..."
"Tidak ada seorangpun kecuali kau—dan
aku—yang akan mengetahuinya, Evans,"
ujarnya. "Kau tahu betul sebagaimana aku
mengetahuinya bahwa obat ajaib murahan itu
akan lebih baik bagi penyakit yang diderita
manusia jika diberikan lebih sedikit candu di
dalamnya. Tidak ada seorangpun—apalagi di
Cotterell Industries—yang akan tahu perbeda-
annya. Dan candu yang ada padamu nanti,
Evans, akan mampu memberimu peternakan
yang kau bicarakan itu—di inggris."

Tidak! Teriak Leona dalam hati. Itu tidak


mungkin. Lelaki ini gila. Apa yang berusaha
dilakukannya? Dia pikir, siapa yang akan
percaya ceracaunya? Dengan mengatakan
Henry melakukan hal seperti ini! Dia gila.
Sudan pasti. Gila! Pasti ada sesuatu dibalik
semua omong kosong ini. Henry pasti mem-
buat semacam perjanjian dengan lelaki ini.
Miss Jennings mengatakan lelaki ini me-
nelepon Henry beberapa kali.

Aku amat ketakutan—dan terpesona. Beliau


menjelaskan semuanya dengan sangat cepat
sehingga saya hampir tidak bisa berpikir. Saya
perlu sedikit waktu untuk berpikir.
Maaf, Salah Sambung | 347

"Saya tidak yakin semua itu bisa dilakukan


dengan begitu mudah."
"Apa! Bagi seorang kimiawan sepertimu
semuanya akan menjadi mudah."
Pujian beliau membuat perasaan saya jadi
hangat, dan itu harus saya akui. Tidak ada
seorangpun yang mau bersusah payah meng-
hargai atau memahami keajaiban kimia yang
dengan sangat hati-hati diproduksi dibawah
pengawasan saya di laboratorium Cotterell.
Apalagi Mr. Cotterell sendiri.
"Apa Anda benar-benar percaya saya
seorang kimiawan yang baik?" tanya saya
bodoh.
"Saya tahu kamu adalah yang terbaik
disini," jawab beliau dengan cepat. "Saya
mengawasi pekerjaanmu. Saya melihat
catatanmu. Dan saya benci melihat mereka
yang hanya menghargai otakmu seharga
kacang."
Saya tidak tahu apa yang harus saya
lakukan. Godaan merupakan sesuatu yang
sangat buruk, apalagi bila yang harus saya
lakukan sangat mudah—menjadi seorang
kimiawan yang baik. Saya ragu-ragu—dan
memain-mainkan pegangan pintu. Tapi ada lagi
yang dikatakan Mr. Stevenson.
"Ayolah, Evans—jangan bodoh. Aku sudah
membicarakan semuanya dengan seseorang."
348 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

Saya terperanjat. "Orang lain? Ya Tuhan!


Itu tolol sekali!"
"Bukan tolol," jawab beliau sambil ter-
senyum suram. "Hanya indera yang peka.
Harus ada seseorang yang menjual barang itu
setelah kita mendapatkannya. Aku tidak akan
tahu apa yang harus kulakukan dengan benda
itu. Belum tahu—begitu tepatnya. Tapi orang
yang kutemui tahu betul bagaimana me-
lakukannya. Namanya Morano. Dia akan
menjual apapun yang kita berikan padanya—
dan hasilnya dibagi tiga."

Gila, pikir Leona. Sekarang sudah tidak


diragukan lagi. Mungkin dia hanya seorang
pegawai yang sudah dipecat dan pikirannya
sedang kacau. Cerita gila. Seperti dalam film
saja.

Kejahatan berdarah dingin yang terdapat


dari rencana itu akhirnya membunyikan bel
tanda bahaya di benak saya. Jika yang
mengatakan itu orang lain selain Mr. Stevenson,
saya tidak akan begitu kaget. Tapi lelaki muda
tampan dan berkuasa ini, yang hidup di tengah-
tengah keluarga kaya, adalah hal yang
menakjubkan jika sampai memiliki rencana
jahat seperti itu.
"Anda—Anda benar-benar membuat saya
kaget setengah mati, Mr. Stevenson," ujar saya
Maaf, Salah Sambung j 349

dengan suara lemah. "Bagaimana mungkin


Anda—dari semua orang yang ada disini—mau
melibatkan diri dalam urusan sepele tapi
membahayakan seperti ini? Saya yakin Anda
hanya menguji integritas saya saja—dan saya
menolaknya, Pak."
Wajah beliau cemberut, dan seringai di
wajah itu sangat tidak sedap dipandang.
"Evans, kau menginginkan s e s u a t u —
peternakan itu. Aku juga menginginkan
sesuatu. Uang. Uangku sendiri. Aku akan
mendapatkannya. Dan lebih cepat lebih baik.
Itu saja. Aku menginginkannya. Aku men-
dapatkannya. Sekarang mari kita masuk ke
dalam rumahmu dan membicarakan semua-
nya."
"Tunggu," ujar saya memohon. "Bagaimana
jika kira tertangkap nanti?"
"Tidak akan. Ayo kita masuk."
Dan kami memang tidak tertangkap, Mrs.
Stevenson. Dari tanggal 15 Desember 1946
sampai 30 April 1947 kami tidak pernah ter-
tangkap. Saya melaksanakan bagian pekerjaan
saya dengan kemudahan yang menakjubkan.
Gampang sekali mengganti sejumlah besar
alkaloid morfin dengan bubuk dan cairan yang
tidak berbahaya. Biasanya saya melakukan
penggantian itu di malam hari, saat para
pegawai tidak ada. Tidak ada seorangpun yang
memperhatikan. Dan paket barang haram itu
350 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

saya serahkan pada Mr. Stevenson tiap Jumat.


Lalu Mr. Stevenson menyerahkannya pada
Morano, yang saya sendiri tidak tahu dimana
dia berada. Saya tidak pernah bertemu dengan
Morano sama sekali.
Tanggal 30 April saya telah mengumpulkan
hampir lima belas ribu dollar. Luar biasa sekali.
Rasanya mimpi saya jadi kenyataan.
Kemudian, pada suatu hari saya menerima
pemberitahuan dari Cotterell Company yang
isinya saya harus dimutasi ke pabrik di
Bayonne, New Jersey. Menurut surat itu saya
juga akan bertanggung jawab untuk labora-
torium narkotik disana, sama seperti disini.
Meskipun begitu saya tetap takut. Kelihatannya
kepindahan saya ke tempat baru untuk
mengerjakan pekerjaan dan bayaran yang
sama sangat tidak penting. Saya langsung
menemui Mr. Stevenson secepatnya.
Ketika kami hanya berdua di kantor, saya
memperlihatkan surat itu.
"Apakah kau meminta pemindahan itu?"
tanya beliau tajam.
"Tidak, sama sekali tidak pernah," jawab
saya meyakinkan. "Karena itulah saya agak
khawatir dengan hal ini. Saya yakin ada sesuatu
yang dicurigai disini."
"Omong kosong," ujar beliau. "Kau pasti
sudah lama diangkut polisi jika ada yang salah.
Perpindahan ini pastilah hanyalah masalah
Maaf, Salah Sambung | 351

rutin. Aku akan mengeceknya sendiri, tapi


untuk apa kita menarik perhatian orang dengan
hal itu? Tidak usah khawatir mengenai hal ini."
Saya sama sekali tidak tenang dengan
keyakinan dingin beliau. Mr. Stevenson
memiliki sifat sekeras besi dalam dirinya, tapi
saya tidak.
"Ini adalah sebuah isyarat," ujar saya
dengan gugup. "Sebuah petanda. Saya yakin
sekali."
"Pertanda—apa?" tanya Mr. Stevenson.
"Untuk berhenti," jawab saya. "Ini—ini
adalah bisnis yang jelek, Mr. Stevenson. Saya
tidak bisa meneruskannya. Saya sudah tua, Mr.
Stevenson. Di satu sisi saya sudah tidak muda
lagi. uang saya sudah hampir cukup untuk
berhenti sekarang dan kembali ke Inggris.
Mungkin saya akan melakukannya segera
setelah pemindahan saya ke Bayonne di-
laksanakan."
Mr. Stevenson memandang saya dengan
senyum licik. Bukan tatapan yang sedap
dipandang, menurut saya. "Evans," ujar beliau
lembut. "Kau boleh berhenti saat aku bilang
berhenti. Kita harus memperjelas semuanya
ini—saat aku bilang berhenti. Bukan sebelum-
nya."
Beliau bangkit dari meja kerjanya dan
berjalan ke pintu untuk memastikan tidak ada
orang yang mendengar pembicaraan kami.
352 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

Kemudian beliau kembali dan duduk di ujung


meja dekat kursi yang saya duduki. Bibirnya
masih saja tersenyum, tapi matanya sedingin
es.
"Aku memerlukanmu, Evans, dan aku tidak
bermaksud melepaskanmu. Mungkin kau
merasa cukup dengan uang untuk membeli
pakan ternak yang berhasil kita kumpulkan.
Tapi aku belum. Aku menginginkan lebih. Lebih
banyak, Evans, dan aku akan mendapatkan-
nya. Dan kurasa aku tahu bagaimana cara
untuk mendapatkannya—dengan cepat. Lebih
cepat daripada yang kita dapatkan selama ini."
"Maksud Anda?"
"Kau memberiku gagasan, Evans. Gagasan
besar—gagasan yang membuatku tertarik. Kau
benar dengan mengatakan pemindahan itu
adalah sebuah pertanda. Itu adalah pertanda
terbesaryang pernah kau rasakan. Dan semua
ini menunjuk tepat pada tumpukan uang
terbanyak yang pernah kau lihat. Saat aku
mendapatkan tumpukan itu—kau juga dapat
memilikinya, Evans. Tidak perlu waktu lama
untuk mendapatkannya—jika kau melakukan
apa yang kusuruh."
Beliau bicara dengan suara rendah, tapi
ketegasannya tidak diragukan lagi. Matanya
bersinar dengan ketegasan itu dan saya
merasakan sedikit kegilaan disana.

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.


nurulkariem@yahoo.com
Maaf, Salah Sambung | 353

"Tolonglah, Mr. Stevenson," kata saya


sambil memohon. "Apakah Anda yakin untuk
melanjutkan semua ini lebih jauh adalah hal
yang bijaksana? Saya akui sejauh ini semua-
nya masih sederhana bagi saya. Tapi tidakkah
kemudahan yang ada di awal ini mengacaukan
penilaian Anda? Lagipula, sejauh mana Anda
mempercayai Mr. Morano?"
Beliau mendengus. "Morano. Gangster
kecil-kecilan. Dia memanfaatkan kita sebagai-
mana dia memanfaatkan kroco-kroconya,
Evans. Kita yang menanggung resikonya
sementara dia yang mengangguk untung
banyak."
Beliau bangkit dan berjalan menujujendela,
memandang ke arah pabrik besar itu. Sambil
berdiri memunggungi saya, beliau berkata,
"Aku tidak melihat Morano lagi dalam gambaran
ini. Tidak, aku tidak lagi melihatnya—si penipu
kecil itu." Beliau berbalik menatap saya.
"Dengan keberadaanmu di Bayonne, Evans,
kurasa Mr. Morano harus mencari orang lain
untuk bisa memasoknya."
Saya sama sekali tidak mengerti apa yang
beliau maksud. "Tidak begitu mudah untuk ber-
henti berurusan dengan orang seperti Morano.
Aku bisa membayangkannya," kata saya.
"Orang-orang ini bekerja dalam kelompok, dan
biasanya mereka agak sulit—mereka menyukai
354 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

kontak fisik—untuk menangani hal-hal


semacam ini."
"Aku akan menangani Morano," ujar Mr.
Stevenson. "Jika dia mengetahui kepindahan-
mu ke Bayonne, memotong pasokanku, dia
tidakakan berpikirdua kali. Dia itu orang bodoh,
Evans. Dan seluruh orang-orangnya itu sama
sekali tidak punya otak. Dia tidak akan
membuat masalah."
Beliau kembali duduk di atas meja.
"Sekarang, begini rencananya. Masalah
narkotik ini adalah hal besar. Aku tidak
menyadari seberapa besar hal ini sampai aku
lihat apa yang didapat penjahat kecil-kecilan
seperti Morano itu dari kita. Dan jangan lupa
transaksinya dengan orang lain. Baiklah, kita
akan menutup toko sekarang, melenyapkan
Morano dan sepertiga bagiannya. Kita akan
mulai usaha kita sendiri di Bayonne, men-
jajakannya di New York, pasarterkaya di negara
ini. Usaha kita akan berkembang, dengan
keuntungan yang lebih besar untuk kita berdua.
Yang harus kau lakukan adalah hal-hal seperti
biasanya. Kecuali mungkin kita harus
menyimpannya di gudang di suatu tempat. Kita
akan mencari tempat lain untuk—showroom.
Dan kita kembali berbisnis!"
"Ini fantastis, Mr. Stevenson. Tapi misalkan
saja—ini sekedar berandai-andai—misalnya
saya membantu Anda dengan cara ini. Bagai-
Maaf, Salah Sambung | 355

mana Anda bisa—bisa menghubungi para


pembeli? Terlalu riskan. Lebih baik kita tetap
berbisnis kecil-kecilan tapi aman, dan tetap
terpelihara," kata saya.
"Begini, Evans. Waktu itu aku masih kecil,
pekerjaanku menuang soda dan membungkus
beberapa paket di apotik, aku selalu berhasil
mengutil beberapa barang, beberapa botol
parfum, barang-barang kecil semacam itu.
Selalu ada orang yang mau membelinya dariku,
dengan harga murah, tanpa bertanya. Aku
hanya pernah tertangkap sekali. Dan seorang
lelaki tua bernama Dodge, yang kebetulan
menyukaiku dan memahami keadaanku yang
miskin serta harus membantu keluarga, meng-
entaskanku dari masalah. Aku tertangkap
karena aku tidak berhati-hati dalam me-
langkah—dan hal itu menjadi pelajaran bagiku.
Kau bisa lolos dari apapun jika kau pintar dan
berhati-hati dalam melangkah. Well, Evans, aku
sudah cukup cerdas untuk membuat beberapa
penghubung di New York. Kau serahkan saja
hal itu padaku. Dan percayalah padaku, orang-
orangpun tidak akan memimpikan kau dan aku
ada hubungannya dengan hal ini."

Ya Tuhan! Semua ini busuk sekali! Leona


hampir mempercayai ucapannya. Dia mem-
buat semuanya seakan nyata. Semua ter-
gabung dengan sangat rapih. Tapi dia tidak
356 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

boleh berpikiran seperti itu, sama sekali tidak


boleh mempercayainya. Semua ini tidak
mungkin terjadi. Leona tidak akan membiarkan
hal ini terjadi.

Satu setengah bulan kemudian kami mulai


operasi kami di Staten Island, New York.
Markas kami adalah sebuah rumah kuno di
Dunham Terrace nomer 20. Saya membeli
rumah itu untuk Mr. Stevenson. Saya berhasil
menyewa bocah-bocah sekitar—anak-anak
yang tidak terlalu cerdas, Anda tahu kan—
anak-anak yang mengira saya sedang
mengerjakan proyek ilmiah untuk pemerintah.
Salah seorang bocah itu bertindak sebagai se-
macam pengintai untuk saya, memperingatkan
akan adanya orang asing, dan semacamnya.
Yang lainnya, si bungkuk, menjaga tempat itu
agar selalu bersih dan menjalankan perahu
motor yang saya beli untuk pergi ke rumah itu
lewat jalan air. Keduanya sangat setia dan
sangat menjaga rahasia, meskipun saya tetap
memiliki sedikit ketakutan, tapi di dalam rumah
itu memang tidak ada apa-apa yang bisa
membuat mereka curiga. Rumah itu hanya
sebagai tempat distribusi—showroom, me-
nurut istilah Mr. Stevenson—dan obat terlarang
itu dibawa dari "gudang" dan langsung
dilepaskan.
Maaf, Salah Sambung | 357

Gudang yang dimaksud adalah kamar


saya, kamar darimana saya menelepon
sekarang ini. Disini adalah rumah pribadi
dengan lingkungan yang cukup terpandang—
pemilik rumah saya adalah seorang pensiunan
menteri dengan sikap hidup sangat sederhana.
Koper saya berguna sebagai tempat
penyimpanan barang-barang yang kami jual.
Sepertinya tidak ada tempat seaman ruangan
yang menyenangkan ini, dimanapun.
Saya mengunjungi State Island beberapa
kali dalam seminggu, dimana saya akan
bertemu dengan klien yang dikirimkan oleh Mr.
Stevenson. Bagaimana beliau bisa men-
dapatkannya, saya sama sekali tidak tahu. Kami
memiliki semacam kode rahasia untuk meng-
identifikasi klien-klien tersebut sampai saya
mengenal sebagian besar dari mereka saat
saya melihatnya. Para lelaki ini—dan beberapa
perempuan—adalah para pedagang kecil.
Mereka membeli dalam jumlah tertentu dan
mendistribusikan barang-barang itu kembali
ke—ah—para konsumen utama.
Mungkin Anda pikir saya menabung cukup
banyak uang setiap minggunya dan Anda
memang benar. Tapi kelihatannya Mr.
Stevenson tidak begitu senang dengan
kemajuan yang saya buat.
Beberapa bulan yang lalu—sebagaimana
yang Anda ketahui—Mr. Stevenson tiba di New
358 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

York, bertindak seolah beliau sudah mulai


bekerja di tempatnya yang baru, kantor
Cotterell Company di New York. Dan seperti
yang Anda duga, tujuan sebenarnya adalah
untuk mengambil alih penjualan obat-obatan
itu, karena beliau percaya peningkatan volume
bisnis kami bisa distimulasikan lebih jauh jika
kami dekat dengan sumber. Saya mengetahui
hal itu sesaat setelah Mr. Stevenson merasa
terdesak untuk mendapatkan uang sebanyak
mungkin, secepatnya. Nyatanya, Mr. Stevenson
sedang bermain-main di bursa saham, mem-
pergunakan hasil dari keringatnya yang tidak
begitu halal itu sebagai modalnya. Sayang,
beliau tidak begitu cerdik dalam spekulasi pasar
saham, tidak seperti di bisnis kami yang ilegal
itu. Beliau sedang berada tingkat kesulitan
tinggi. Yang lebih disayangkan lagi adalah,
beliau tidak berhenti, sesampainya di New York,
untuk terus mengucurkan uang lebih banyak
lagi untuk operasi pasar yang tidak berguna itu,
sehingga tiap sen yang beliau miliki segera saja
berpindah tangan ke pialang saham.

Sally! Sally menyebut-nyebut tentang


kantor pialang. Dan lelaki itu—Freeman atau
siapapunlah namanya—bersimpati pada
Henry atas kekalahannya. Ini bukan suatu
kebetulan. Evans tidak mengada-ada pada
bagian ini. Semuanya jadi lebih masuk akal
Maaf, Salah Sambung | 359

dari waktu ke waktu, dan itu menakutkan.


Mungkin Evans memang tidak gila.

Semuanya ini sangat mengejutkan saya,


apalagi saya melihat tidak adanya kesempatan
melepaskan diri dari cengkeraman Mr.
Stevenson. Kesombongan beliau yang meluap-
luap itu—yang benar-benar sudah mengakar
pada kegelisahannya untuk berhasil dengan
cara yang halal—membuat beliau berusaha
menutupi kekalahannya, berulang-ulang.
Ketika saya menyarankan untuk berhenti dan
mengumpulkan keuntungan dari bisnis kami
yang lumayan itu, beliau hanya memandang
saya dengan tatapan dingin yang akhirnya
sudah saya kenal dengan amat baik, dan beliau
berkata untuk tidak usah turut campur.
Suatu hari saya bertanya pada beliau, "Mr.
Stevenson, mengapa Anda terus bersikeras
untuk berjudi di pasar saham? Belakangan ini
kesempatan untuk mendapatkan keuntungan
berlebih dengan cara begitu sangat terbatas—
dibandingkan dengan bisnis yang kita jalan-
kan."
Beliau hanya tersenyum aneh dan me-
mandang saya. "Kau tahu aku menginginkan
uang. Bukan sembarang uang. Tapi uang yang
bisa kupamerkan kemana-mana—uang yang
bisa membelikanku penghormatan walau
sedikit. Aku menginginkan banyak sekali uang
360 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

seperti itu. Dan aku tidak mau menunggu uang


itu seumur hidupku. Baiklah—bagaimana
caraku menjelaskan; bagaimana caraku men-
dapatkan uang dari penipuan ini? jawaban-
nya—tidak bisa. Yang bisa kulakukan adalah
menggunakannya untuk mendapatkan sesuatu
yang terhormat. Jadi aku main-main dengan
bursa saham. Saat aku sudah berhasil, tidak
akan ada satupun yang tahu dari apa aku
memulainya. Aku akan bilang pada mereka,
aku menabung sedikit uang dari Mr. Cotterell
untuk menghangatkan kursinya. Kemudian, jika
semuanya terlaksana sebagaimana mestinya,
aku akan kaya, terhormat, dan operator yang
cerdas—dan kemudian aku bisa mengatakan
pada Cotterell apa yang bisa dilakukannya
dengan kursi wakil direkturku."
Mr. Stevenson, sebagaimana yang bisa
Anda rasakan, sangat getir—dan sangat
sombong. Hasratnya untuk dipandang lebih
amat sangat dimengerti jika saja hal itu terjadi
pada lelaki muda selain beliau. Tapi lelaki muda
yang lain akan bekerja dengan jujur untuk
mencapai tujuannya, dimana Mr. Stevenson
berusaha untuk mendapatkan tujuannya tanpa
bekerja. Saya dapat menarik pelajaran moral
malam ini dari keadaan Mr. Stevenson yang
kurang bermoral itu. karena—sebagaimana
yang Anda perkirakan—saya akhirnya me-
lepaskan diri dari ikatan itu. Saya bukan lagi
Maaf, Salah Sambung | 361

miliknya. Saya tidak akan membiarkan lagi


tindakan saya yang seperti ini. Tapi tingkah laku
saya ini adalah kelemahan seorang lelaki tua
yang hilang harapan dan mudah sekali tergoda.
Di sisi lain, Mr. Stevenson adalah sebuah
produk yang tidak bahagia dari sebuah pikiran
yang sesat dan berahlak buruk di dalam tubuh
tegap dan kuat. Dengankata lain: saya adalah
si jahat—beliau si berbahaya.
Untungnya—atau sayangnya, tergantung
bagaimana cara Anda memandang—bab ter-
akhirdari cerita kami ini sedang ditulis bahkan
pada saat Mr. Stevenson sedang merencana-
kan untuk meningkatkan penjualan obat-obatan
terlarang yang saya pasok. Sekitar sebulan
yang lalu kami kedatangan tamu.

10:40
Pada suatu malam saya harus menemui Mr.
Stevenson di rumah Dunham Terrace. Saya
datang agak terlambat daripada biasanya. Kali
ini saya datang dengan ferry dari Manhattan,
dan kabut di sungai membuat kedatangan jadi
terlambat. Saya terburu-buru menaiki tangga
dan masuk ke dalam rumah. Mr. Stevenson
sedang duduk di salah satu kursi reyot yang
melengkapi ruangan itu. Sebuah lampu minyak
berdiri di meja sebelahnya, dan cahayanya
membuat saya dapat melihat wajah beliau
dengan jelas. Pucat seperti kapas, dan senyum
362 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

aneh itu berkelap-kelip di wajahnya. Beliau


menatap saya, kemudian memandang ke sudut
ruangan di belakang pintu yang saya buka.
Saya masuk, menutup pintu—dan melihat
seorang lelaki dibaliknya!
Dia mengangkangi kursi dapur, lengannya
terlipat di belakang sandaran kursi. Dengan
sinar lampu yang remang-remang itu saya tidak
begitu jelas melihat wajahnya. Yang saya tahu
saya belum pernah melihat orang itu sebelum-
nya. Perawakannya kecil, pakaiannya rapih.
Rambutnya yang hitam berminyak memantul-
kan cahaya lampu. Dia melihat ke arah saya,
dan yang dapat saya lihat dari wajahnya sangat
tidak menyenangkan—tajam, dengan garis-
garis wajah yang biasa, dengan warna kulit
kehitaman, dan sepasang mata kecil yang
hampir tidak pernah berkedip. Sesaat setelah
saya menutup pintu, tidak ada satupun diantara
kami yang bicara. Kemudian si lelaki kecil itu
menoleh ke arah Mr. Stevenson. "Dia?"
tanyanya.
Mr. Stevenson menjawab. "Dia." Dan beliau
berkata, "Evans, kenalkan kawan lama kita—
Morano."
Lelaki kecil itu memandangku. "Duduk,"
perintahnya.
Saya duduk—dengan rasa lega. Keter-
kejutan atas pertemuan yang tidak disangka ini
Maaf, Salah Sambung | 363

membuat saya lemas. Saya sangat gusar


dengan kejadian ini.
"Morano tidak senang dengan kita," ujar Mr.
Stevenson mengejek. "Beliau ini sakit hati
memikirkan bahwa kita telah mendepaknya dari
dewan direksi."
Saya menatap cemas ke arah Morano demi
melihat reaksinya terhadap ucapan Mr.
Stevenson. Kalaupun ada, maka saya tidak bisa
melihatnya. Dia hanya duduk diam-diam di
tempatnya, menunggu Mr. Stevenson
menyelesaikan kalimatnya.
"Saya baru saja memberitahukan Mr.
Morano bahwa kita tidak dapat menerima
lamarannya untuk kembali duduk dalam jajaran
kepengurusan ini," lanjut Mr. Stevenson.
"Beliau baru akan mengomentari keputusan ini
ketika kau baru saja masuk." Sambil bicara,
ujung-ujung jemarinya disatukan, bertumpu
pada bibirnya, dan matanya menatap Morano
dengan kesopanan yang menjengkelkan.
Morano masih menatap sesaat lebih lama
seolah-olah sedang merencanakan sesuatu
dalam benaknya. Kemudian dia mulai bicara.
Kata-katanya seperti tertelan ketika dia bicara
dengan bibir yang hampir tidak bergerak. Tapi
kami tidak kesulitan menangkap ucapannya.
"Hati-hati," ujarnya. "Mungkin semua ini
tidak terlalu lucu. Mungkin jika kau menyimak
364 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

dan mendengarkan maka kau akan mem-


pelajari sesuatu, Stevenson. Bahkan terkadang
orang pintar sepertimu juga harus belajar.
Sesuatu... misalnya saja belajar bagaimana
untuk tetap hidup." Ucapannya terhenti sesaat.
"Kau pikir ini bisnis macam apa? Barang
kelontong? Apa tiap orang bisa buka toko? Bisa
langsung pindah dan bekerja begitu saja? Apa
otak pintarmu itu mengatakannya, Stevenson?
Sebagaimana otakmu itu menyuruhmu untuk
menghianatiku? Aku tidak akan mengawasi-
mu?"
"Satu kemenangan bagimu," jawab Mr.
Stevenson malas-malasan. "Saya salah
menilaimu."
"Semua itu bukan murni kesalahanmu,"
bentak Morano. "Jika bukan karena aku,
mungkin kau sudah mati sekarang. Setiap
mafia yang bergerak di bidang ini tahu apa yang
kau lakukan. Atau barangkali kau pikir mereka
tidak tahu? Kau itu mudah dijatuhkan segera
setelah mereka tahu siapa profesor dibalik ini
semua. Mereka menginginkannya. Segera
setelah mereka mendapatkannya, dan terus
dapat memasok barang, sesuatu akan terjadi
padamu, Stevenson. Sesuatu yang amat
menyedihkan. Tadi aku sudah mengurusnya.
Aku punya banyak teman disini. Jadi mereka
akan membiarkanmu sendiri—dengan hanya
sedikit luka kecil."
Maaf, Salah Sambung | 365

Mr. Stevenson tidak tersenyum lagi. "Saya


rasa kami tidak tertarik, Mr. Morano. Saya rasa
kami akan meneruskannya tanpa bantuan
Anda. Jika kami ingin membuat perjanjian maka
kami akan membuatnya secara langsung. Kau
punya bisnis di Chicago. Seharusnya itu sudah
cukup."
"Lucu," sahut Morano, "tapi tidak cukup.
Kau ini bertindak sangat bodoh, Stevenson.
Kurasa kau tidak punya banyak pilihan dalam
perjanjian ini. Rasanya kau sama sekali tidak
punya pilihan apapun."
"Dan itu artinya adalah...?"
"Artinya kau bisa memilih mau memasuk-
kan aku kembali atau biarkan aku meniup peluit
di toilet ini. Semudah itu. Aku ambil alih
sekarang—atau nanti tidak akan ada bisnis
sama sekali."
Mr. Stevenson berdiri tegak. "Kau tidak akan
melakukannya, Morano. Kau sendiri termasuk
dalam perjanjian Chicago waktu itu. Kau akan
jatuh bersama kami."
"Tidak—" jawab Morano. "Tidak ada se-
orangpun yang akan menggangguku. Tidak
ada seorangpun yang memiliki bukti dan
membuatku tertangkap. Aku belum pernah
melihat kalian sama sekali seumur hidupku,
bukan begitu? Terlebih lagi, tidak akan ada
seorangpun yang tahu siapa yang menyanyi-
kan Iagu tentang menantu Mr. Cotterell yang
366 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

menjalankan bisnis obat terlarang. Sebuah


persenan seperti itu bisa membeli berbagai
macam perlindungan."
Lalu terjadilah hal itu.
Mr. Stevenson serentak bangkit dari kursi-
nya, pucat karena marahnya dan meneriaki
Morano. Tinjunya menghantam pelipis si lelaki
kecil itu dan membuatnya terjungkal. Bagaikan
binatang murka, Mr. Stevenson mengikuti arah
jatuhnya, menghempaskan diri ke tubuh
Morano dan mencekik lehernya saat mereka
jatuh berbarengan. Saya yakin beliau pasti
sudah membunuh si Morano saat itu juga—
semua setara kini. Tapi sebagaimana yang
sudah saya ketahui, dan menurut perkataan
Morano sendiri, tidak ada apapun yang setara.
Ketika dua lelaki itu menghantam lantai, tiba-
tiba pintu terbuka lebar dan Mr. Stevenson
langsung berdiri tegak, kedua lengannya
dicengkram oleh anak buah Morano. Mereka
adalah bandit-bandit bertampang kejam, dan
saya takut mereka akan memukuli Mr.
Stevenson sampai babak belur. Tapi Morano
berkata, dari lantai tempatnya duduk, "Anak-
anak, biarkan dia. Aku tidak mau dia sampai
kenapa-kenapa. Aku tidak mau kalau sampai
dia harus menjelaskan apapun pada siapapun."
Morano berdiri, menepis-nepis pakaiannya
yang rapi itu dan meluruskan dasi di lehernya.
Dari sakunya dia mengambil sebuah sisir dan
Maaf, Salah Sambung | 367

secara hati-hati dia kembali merapihkan


rambut hitam berkilatnya agar berkilau dengan
sempurna. Kemudian dia berkata, "Dudukkan
dia di kursi itu—dan sana pergi."
Mereka menyorong-nyorongkan Mr.
Stevenson kembali ke kursinya. Saya melihat
salah satu anak buah Morano itu meraba-raba
pakaian Mr. Stevenson, sepertinya mencari
senjata. Mr. Stevenson duduk dengan wajah
pucat dan tubuh gemetar, sementara orang-
orang itu keluar ruangan. Morano menghampiri
Mr. Stevenson dan berdiri di hadapan beliau.
"Kau mengerti maksudku, 'kan?"
Mr. Stevenson mengangguk sambil
merengut.
"Oke. Sekarang kita sudah sama-sama
mengerti. Kita tidak perlu lagi main jambak-
jambakan. Kau lakukan apa yang kuperintah-
kan dan aku akan mengurusmu. Peraturan ini
juga berlaku untuk si profesor." Dia menatapku
sambil menyeringai jahat.
"Mulai sekarang aku yang mengambil alih
urusan ini. Hasilnya akan dibagi separo-separo.
Setengah untukku dan setengahnya lagi kalian
bagi berdua. Mungkin tidak sebanyak yang
kalian dapatkan seperti sebelumnya—tapi
pengeluaranku banyak."
"Ini—ini tidak adil," ujar Mr. Stevenson
lemah. "Jumlahnya tidak akan cukup..."
368 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Ini sudah adil," bentak Morano. "Adil


karena aku bilang begitu. Kalau kau tidak suka
maka kau dipersilahkan untuk keluar, asal si
profesor tetap tinggal." Lalu dia menoleh
padaku. "Atau mungkin profeesor lebih suka
itu? Setengah bagian penuh? Profesor ini tidak
akan menghianati siapapun—kecuali mungkin
kau, Stevenson."
Tapi omongan Morano yang sok lucu itu
tidak berlangsung lama. Tatapan dinginnya
kembali ke Mr. Stevenson. "Sekarang kita tahu
tempat kita berdiri dari sekarang. Hanya ada
satu masalah kecil yang hams diselesaikan—
masalah kecil sebesar seratus ribu dollar."
Mr. Stevenson menegang di kursinya.
"Seratus ribu dollar? Untuk apa?"
"Sebagai ganti rugi saat ini sampai kau
memutuskan untuk mendepakku tadi."
"Kau gila," teriak Mr. Stevenson. "Aku tidak
punya uang sebanyak itu. Aku hampir ke-
hilangan semua uangku dalam bisnis ilegal ini."
"Sial sekali," ujar Morano berlagak sedih.
"Ini benar-benar sial." Lalu tatapannya kembali
dingin. "Kau akan bisa mengumpulkan uang
sejumlah itu. Dan kau harus bisa mengumpul-
kannya dalam waktu sebulan."
Mr. Stevenson memucat. "Kau gila, Morano.
Aku tidak akan bisa mengumpulkan uang
sebanyak itu dalam waktu sebulan. Aku perlu
waktu lebih. Kemudian mungkin istriku akan..."
Maaf, Salah Sambung | 369

Morano berkata dengan penuh peng-


hinaan, "Istrimu! Kau tidak mungkin tidak bisa
mendapatkan uang sepeserpun dari istrimu."
"Kau tidak mengerti," sahut Mr. Stevenson
serak. "Dia itu sedang sakit. Dia akan segera
meninggal... sebentar lagi. Dia akan mewaris-
kan semuanya padaku... Semua ada pada surat
wasiatnya. Tunggulah beberapa bulan lagi... Itu
saja, aku yakin itu..."
"Aku tidak akan menunggu siapapun
meninggal—tidak akan," sahut Morano. "Dan
kau juga tidak akan seperti itu—jika kau cerdas.
Bila ada orang yang akan mati—maka dia akan
mati."
"Ya Tuhan!" teriak Mr. Stevenson. "Aku tidak
bisa..."
"Aku tidak peduli apa yang kau bisa atau
tidak bisa," bentak Morano. "Kau harus
membawa uang sejumlah itu dalam tiga puluh
hah."
"Tapi—"
"Begini—" kata Morano sambil me-
nyeringai. "Aku tidak ingin terlalu keras
terhadapmu, Stevenson..."
"Ya?" tanya Mr. Stevenson penuh harap.
"Kau datang padaku dengan beban berat.
Mungkin aku bisa memberimu—bantuan."
Malam itu tanggal 17 Juli. Dan sejak saat
itu saya belum melihat Mr. Stevenson maupun
Morano. Dan sekarang—seperti saya
370 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

menyampaikan pesan terakhir ini pada Anda,


saya yakin sisa cerita ini akan dapat Anda
lanjutkan sendiri...

Telepon itu bergetar dalam genggaman


tangan Leona. Air mata ketakutan menggenang
di pelupuk matanya. Tubuhnya terasa kosong
dan energinya tersedot, dan Leona hampir tidak
bisa mengendalikan rahangnya yang gemetar
hebat. "Melanjutkan—bagaimana?" tanya leona
pada akhirnya. "Dimana suami saya? Dimana
Mr. Stevenson saat ini?"
"Saya harap saya bisa memberitahu
dimana beliau berada, Mrs. Stevenson," jawab
suara lelah itu. "Mungkin jika Anda coba
menghubungi nomer di Caledonia..."
"Nomer—Caledonia?"
"Nomer yang tadi saya berikan sebagai
pesan," jawab Evans. "Dan sekarang—jika
Anda ingin mengeceknya bersama saya..."
"Saya tidak bisa," sahut Leona sambil
menangis. "Saya tidak bisa, saya lupa me-
nuliskannya."
"Saya akan mengulanginya sekali lagi
untuk Anda, Mrs. Stevenson. Pertama: rumah
di Dunham Terrace nomer 20 sudah dibakar
oleh Mr. Evans sore ini. Kedua: Mr. Evans
berhasil lolos. Ketiga: Mr. Morano sudah
ditangkap. Keempat: uang itu sudah tidak
Maaf, Salah Sambung | 371

diperlukan lagi karena bukan Morano yang


menghubungi polisi."
"Semua itu tidak penting," sahut Leona.
"Semuanya sudah tidak penting lagi sekarang.
Berikan saja padaku nomer Caledonia itu—
nomer untuk menghubungi Mr. Stevenson."
"Kelima," lanjut Mr. Evans datar. "Kelima:
Mr. Evans ada di alamat Manhattan, tapi dia
sudah pergi sekarang dan bisa ditemukan di
alamat Caledonia 5:1133."
"Caledonia 5:1133," sahut Leona meng-
ulang, menulisnya dengan lipstik di atas
selembar kertas yang dirobeknya dari buku
notes.
"Setelah tengah malam—" kata Evans
dengan suara pelan. Kemudian, dengan suara
menghembuskan napas karena lega, dia
menambahkan, "Terima kasih banyak, Mrs.
Stevenson. Dan selamat malam."
Setelah Evans menutup teleponnya, Leona
hanya menatap kosong pada nomer telepon
berwarna merah tua yang seperti membara di
atas kertas putih itu, seolah-olah jika dia
menolehkan matanya memandang ke arah lain
maka angka-angka itu akan menghilang.
Secara otomatis, tanpa perasaan sama sekali,
dia memutar nomer itu. Pertama dia mencoba-
nya, jemarinya terpeleset karena gemetar dan
dia harus mengulanginya lagi. Saat dia sedang
372 I Lucille Fletcher & Allan Uilman

memutar piringan nomer, ketegangannya


memuncak dan menyebabkan tiap tarikan
napasnya terasa sakit. Kali ini dia berhasil me-
mutar nomer telepon itu dan setelah terdengar
nada panggil mendengkur dua kali, telepon itu
diangkat.
Seorang lelaki menjawab, "Caledonia
5:1133."
Takut dan cemas membuat suara Leona
meninggi mendekati histeris. "Caledonia
5:1133? Apakah Mr. Stevenson ada disana?"
tanya Leona.
"Siapa, Bu?"
"Mr. Stevenson. Mr. Henry Stevenson. Saya
diberi nomer ini—oleh Mr. Evans."
"Anda bilang Stevenson? Tunggu
sebentar—saya carikan."
Leona mendengar suara tumbuikan pelan
ketika lelaki itu meletakkan teieponnya. Leona
mendekatkan gagang telepon itu di telinganya
dan mencoba mendengarkan suara selain
langkah kaki si lelaki itu yang semakin jauh.
Lalu hening. Detik demi detik berlalu pelan.
Jantungnya berdebar kencang sekali seolah
sedang berusaha untuk terbang dari dadanya.
Dia mengepal-ngepalkan tangan yang tidak
memegang telepon berulang-ulang kali,
meremasnya sampai kuku jemarinya yang
panjang terbenam di telapak tangan. Di luar,
suara siulan rendah seperti rengekan dari arah
Maaf, Salah Sambung | 373

sungai terdengar sayu-sayup, dan dibawah


sana, seseorang—polisikah?—menggeser-
geser kayu di pagar besi.
Tiba-tiba suara lelaki itu kembali terdengar.
"Tidak, Mr. Stevenson tidak ada disini, Bu."
"Oh, Mr. Evans bilang dia mungkin ditunggu
disini. Apa saya bisa meninggalkan pesan?"
"Pesan? Kami tidak mencatat pesan disini,
Bu." Suara lelaki itu terdengar heran—dan
sedikit terhibur. "Disini pesan tidak berguna,
Bu."
"Tidak? Memang ini nomer apa? Siapa—
saya menghubungi nomer apa ya?"
"Caledonia 5:1133," ujar si lelaki. "Kamar
Mayat."

Leona duduk tidak bergerak di tempat tidur,


dengan putus asa berusaha untuk menyatukan
bagian demi bagian gambar puzzle dari
kejadian-kejadian malam ini. Kekacauan yang
bagai mimpi itu membuat keterkejutannya
makin menumpuk, tapi dia berhasil merangkai
semuanya menjadi satu bentuk kebenaran
yang utuh. Dan ketika kebenaran itu terasa
makin nyata, hal itu makin membuatnya meng-
gigil. Bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi
padanya! Bagaimana mungkin hal jahat seperti
ini bisa menimpa dirinya!
Telepon jahat, pikirnya. Mengapa harus dia
yang mendengar para penjahat itu bicara?
374 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

Mengapa teleponnya ke kantor Henry—telepon


yang dihubungi tanpa bantuan operator—harus
dijawab oleh nada sibuk? Siapa yang ada di
kantor Henry kalau bukan dia? Kalaupun ada
seseorang—siapapun dia—sedang memper-
gunakan telepon di kantor Henry, bukankah dia
bisa saja menghubungi para penjahat yang
suaranya terdengar...? Tidak—dia tidak akan
memikirkan hal itu. Dia akan memaksa diri
untuk membuang hal itu dari benaknya. Banyak
hal lain yang harus dipikirkan.
Bagaimana dengan cerita dari Sally?
Tentang keterlibatan Henry dengan pihak yang
berwajib? Dia harus percaya juga—setidaknya
sebagian dari hal itu—karena Evans sudah
melengkapi kebenaran cerita itu. Kalau saja
semua itu benar adanya dan bukan sebuah
rencana jahat untuk membuatnya gila. Kalau
memang apa yang diceritakan Evans memang
benar, berarti Henry ditekan untuk segera
mengumpulkan uang sebegitu banyak, seratus
ribu dollar. Dan dia tidak akan bisa, kecuali
Henry menceritakan semua hal busuk ini ke
ayah mertuanya, Jim Cotterell! Dan ini sangat
tidak mungkin terjadi! Leona masih terheran-
heran bagaimana Henry bisa tampak begitu—
begitu normal selama beberapa minggu ini.
Ketika Leona mengingat-ingat kembali, dia
kembali ingat apa yang dikatakan Sally ber-
tahun-tahun yang lalu, saat Sally berusaha
Maaf, Salah Sambung | 375

memperingatkan Leona akan sifat Henry yang


misterius. Sally tidak bohong saat itu!
Apa yang sekarang harus dilakukan Henry?
Tentu saja Leona tahu apa jawaban pertanyaan
itu. Dia tahu hal itu ketika Evans sudah
menyelesaikan ceritanya. Dia tidak lagi bisa
melenyapkan pikiran itu dari benaknya, juga
pikiran tentang apa yang didengarnya dari para
penjahat di saluran telepon tadi.
Dan ketika kesadaran yang menakutkan itu
sedang merobek-robek akal sehatnya, Leona
kembali mendengar suara desing dan dentang
kereta yang melaju di atas jembatan. Potongan-
potongan percakapan melintas dengan bebas
di alam bawah sadarnya... klien kami...Lalu aku
akan menunggu kereta yang melintas di atas
jembatan...kalau-kalau dia nanti men-
jerit...apakah aku boleh memakai pisau...klien
kami...klien kami...dia akan mati...aku tidak
mau menunggu orang mati...klien kami...klien
kami...
Leona gusar dengan ketakutannya sendiri
dan dia kembali menyambar telepon dan
menghubungi operator.
"Silahkan sebutkan nomer yang Anda tuju."
Mulus sekali! Dan tanpa keramahan!
"Tolong sambungkan saya dengan polisi,"
teriaknya tanpa sadar.
"Menghubungi Kepolisian..."
376 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

Dalam beberapa detik telepon itu diangkat.


"Kepolisian. Markas Tujuhbelas. Dengan
Sersan Duffy disini."
"Ini Mrs. Stevenson lagi," sahut Leona.
"Saya tadi menelepon Anda kesini.."
"Ya, Bu. Anda bilang Mrs. Stevenson?"
"Mrs. Henry Stevenson. Sutton Place
nomer 43. Saya menelepon karena secara tidak
sengaja saya mendengarkan percakapan di
telepon..."
"Ya, Bu. Saya ingat itu."
"Well, saya bertanya-tanya tentang apa—
apa yang kalian lakukan untuk mengatasinya?"
"Semuanya sudah dicatat, Bu," jawab Duffy
waspada.
"Berarti—Anda belum...?"
"Well, kami akan melakukan apapun yang
kami bisa, Bu. Jika ada sesuatu yang ter-
jadi—"
"Jika ada sesuatu yang terjadi?" ulang
Leona. "Maksud Anda jika sesuatu terjadi maka
baru Anda akan melakukan sesuatu?"
"Saya sudah katakan sebelumnya, Bu,
bahwa informasi samar seperti ini tidak begitu
banyak membantu..."
"Tapi..." Ucapannya terhenti. Dia tidak
mungkin mengatakannya pada polisi. Bahkan
jika mungkin semua itu benar, Leona tidak
mungkin mengatakannya. Dalam keadaan
apapun, itu tidak mungkin terjadi. Dan jika dia
Maal, Salah Sambung | 377

mengatakannya sekarang maka semua itu


tidak bisa ditarik kembali. Dia tidak akan
menarik ucapannya. Itu akan menjadi akhir
mimpinya. Dia tidak bisa mengatakannya pada
polisi. Dia harus mencari cara lain...
"Maafkan jika saya menyusahkan," ucap-
nya dengan suara lemah. "Saya rasa Anda
mungkin bisa mengabarkan lewat radio polisi..."
"Itu semua terserah keputusan Markas
Besar," ujar Sersan Duffy. "Kami hanya
mengatakan pada mereka dan semua terserah
bagaimana mereka memperlakukan informasi
yang telah kami beri. Sejauh ini tidak ada
satupun laporan yang masuk."
"Terima kasih," kata Leona. "Saya—saya
harap semua ini hanya kesalahan saja."
Telepon ditutup, dan Leona memikirkan
langkah apa yang harus dilakukan dengan rasa
takut. Dia harus melakukan sesuatu, sesuatu
yang bisa melindunginya jika ada sesuatu
terjadi...
Agen detektif? Mungkin itu salah satu cara
untuk mendapatkan seseorang yang bisa
melindunginya, seseorang yang dijamin bisa
menjaga kerahasiaan. Dia melihat sekilas ke
jam meja di samping tempat tidur. Jam sebelas!
Dia tidak punya cukup waktu. Tubuhnya
kembali gemetar, dan dia kembali memutar
nomer telepon dan menghubungi operator.
378 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Tolong sambungkan saya dengan agen


detektif," pinta Leona dengan gugup.
"Anda bisa mencari daftar nama agen-agen
detektif di buku telepon, Nyonya."
"Saya tidak punya buku telepon—maksud
saya—saya tidak punya waktu—untuk men-
cari-cari—ini—sekarang hampir terlambat."
"Saya akan sambungkan Anda dengan
bagian informasi."
"Jangan!" teriak Leona dengan marah. "Kau
tidak peduli dengan apa yang terjadi padaku,
bukan? Saya bisa mati—dan kau sama sekali
tidak peduli...!"
"Bagaimana, Nyonya...?"
"Sambungkan saya dengan rumah sakit
kalau begitu," ujar Leona.
"Apa ada rumah sakit khusus yang ingin
Anda hubungi?"
"Rumah sakit manapun! Pokoknya rumah
sakit! Kau dengar?" teriak Leona.
"Silahkan tunggu sebentar."

11:00
Dia menunggu sementara telepon berbunyi,
melihat ke sekeliling ruangan dengan rasa tidak
nyaman dan menatap pintu kamar yang
setengah terbuka dengan gugup, ke arah
gambar-gambar yang membayang di dinding,
ke jejeran barang-barang anggun yang kacau
balau di meja dan kaca riasnya. Deringan itu
Maaf, Salah Sambung | 379

segera berhenti dan seorang perempuan


menjawab teleponnya. "Disini Rumah Sakit
Bellevue."
"Tolong hubungkan saya dengan bagian
Perawat Terdaftar."
"Anda ingin bicara dengan siapa?"
"Saya ingin dihubungkan dengan bagian
Perawat Terdaftar. Saya perlu seorang perawat
terlatih. Saya ingin mempekerjakan seorang
perawat malam ini, segera."
"Begitu. Saya akan meneruskan telepon
Nyonya kesana," jawab perempuan itu.
"Kantor Perawat Tedaftar," sahut sebuah
suara lain menjawab.
"Saya ingin mempekerjakan seorang
perawat malam ini, segera," jawab Leona
mengulang. "Saya perlu seorang perawat
secepatnya. Penting sekali untuk saya untuk
memperoleh soorang perawat malam ini."
"Apa kasusnyn, Nyonya?"
"Kasus? Saya—saya invalid—dan saya
sendirian—saya—saya tidak kenal siapapun di
kota ini—dan saya baru saja mengalami
keterkejutan yang amat sangat—saya tidak bisa
sendirian malam ini."
"Apakah Anda sudah diinstruksikan untuk
memanggil salah satu dari anggota kami disini,
Nyonya?"
"Tidak," jawab Leona jengkel dengan nada
suara semakin meninggi. "Tapi saya tidak
380 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

mengerti mengapa—mengapa semua per-


tanyaan ini harus diajukan pada saya? Lagipula
saya pasti akan membayar siapapun yang akan
datang..."
"Saya mengerti, Nyonya," jawab suara itu
tenang. "Tapi ini adalah rumah sakit kota. Bukan
swasta. Kami tidak mengutus perawat tanpa
ada kasus tertentu kecuali untuk urusan darurat
dan harus atas instruksi salah seorang dokter
kami. Saya sarankan Anda menghubungi
nomer telepon Perawat Terdaftar swasta yang
lainnya saja."
"Tapi saya tidak tahu nomer lainnya," ujar
Leona setengah merengek. "saya tidak bisa
menunggu. Saya betul-betul memerlukan
bantuan saat ini."
"Saya akan memberikan nomer yang bisa
Anda hubungi. Schuyler 2:1037. Mungkin
disana ada orang yang bisa membantu Anda."
"Schuyler 2:1037. Terima kasih."
Lagi-lagi Leona memutar nomer telepon,
detaknya seolah palu'yang menghantam
kepalanya. Dering telepon seakan tidak
berkesudahan, walaupun hanya beberapa detik
sebelum telepon itu diangkat.
"Pusat Perawat Terdaftar. Dengan Miss
Jordan disini."
"Saya ingin mempekerjakan seorang
perawat malam ini—secepatnya."
"Dengan siapa saya bicara?"
Maaf, Salah Sambung | 381

"Mrs. Stevenson. Mrs. Henry Stevenson,


Sutton Place nomer 43. Dan ini sangat men-
desak."
"Apakah Anda menghubungi nomer ini atas
instruksi seorang dokter, Mrs. Stevenson?"
"Tidak," jawab Leona tidak sabar. "Saya
orang baru disini—dan saya sakit. Dan malam
ini saya melewati malam yang berat. Saya
sudah tidak tahan tinggal sendirian di rumah."
"Well," sahut Miss Jordan ragu-ragu.
"Sekarang ini kami sedang kekurangan perawat
disini. Mengirimkan perawat tanpa sepenge-
tahuan dokter adalah hal yang tidak biasa,
kecuali ada dokter yang menyatakan bahwa
kasusnya sangat penting."
"Tapi ini memang sangat penting," sahut
Leona setengah memohon. "Penting sekali.
Saya sedang sakit dan saya sendirian di
rumah—saya tidak tahu dimana suami saya
berada—saya tidak bisa menghubunginya.
Dan saya sangat ketakutan. Jika tidak ada
seorangpun yang datang dengan segera—jika
tidak ada seorangpun yang bisa datang kesini,
saya rasa saya akan jadi gila."
"Begitu, ya," jawab si perempuan dengan
penuh perhatian. "Well—saya akan meninggal-
kan pesan untuk Miss Phillips untuk meng-
hubungi Anda secepatnya jika dia sudah
datang."
"Miss Phillips? Kapan dia datang?"
382 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Kira-kira pukul sebelas tiga puluh..."


"Sebelas tiga puluh!"
Saat itulah Leona mendengar suara ber-
detik. Detik pelan yang terdengardari telepon.
Leona merasa suara itu sering didengarnya di
telepon.
"Apa itu?" tanya Leona, tanpa sadar
berteriak.
"Apa, Nyonya?"
"Suara klik—yang baru saja kudengar—di
telepon. Sepertinya ada orang yang meng-
angkat telepon di bawah..."
"Saya tidak mendengar apapun, Nyonya."
"Tapi saya mendengarnya!" seru Leona
dengan suara tercekat saking takutnya. "Ada
orang di rumah inL.ada seseorang di dapur...
dan mereka sedang mendengarkan apa yang
kubicarakan sekarang. Mereka..." Kengerian
melingkupinya dan dia berteriak, meletakkan
telepon begitu saja dengan gerakan mekanis.
Dengan tangan mencengkram seprai
dengan kengerian yang tak terkatakan, Leona
berkonsentrasi dengan kesunyian di sekitar-
nya. Tiba-tiba dia mendengar suara langkah
kaki di lantai—pelan—teratur. Tubuhnya
gemetar, dengan mata nyalang, dan tangan
terangkat menutupi wajah.
"Siapa itu?" panggilnya panik. "Siapa
disana?"
Maaf, Salah Sambung | 383

Saat suara langkah itu berlanjut—perlahan


tapi pasti—dia hanya menatap dengan
pandang ketakutan yang amat sangat ke arah
pintu kamar—menunggu—menunggu. Tiba-
tiba Leona berteriak keras, "Henry! HENRY!"
Tidak ada jawaban. Suara langkah yang
teratur dan tanpa ragu itu terus saja terdengar.
Dihentaknya selimut dan berusaha bangkit dari
tempat tidur. Tapi rasa takut yang melumpuh-
kan itu menyedot semua tenaganya. Dia
berusaha keras menarik dirinya untuk bangkit,
tapi lagi-lagi dia terhempas ke atas bantal—
membeku karena ngeri—tidak dapat bergerak.
Pandangan matanya yang liar memandang ke
sekeliling ruangan, dan langsung tertumbuk ke
arah pintu kamar yang setengah terbuka dan
memandang ke arah luar, takut akan apa yang
nantinya akan dia lihat. Terdengar gemuruh
suara mesin truk di bawah, dan sambil me-
mandang ke jendela akhirnya Leona menge-
tahui sumber suara yang mirip langkah kaki
itu—tirai jendela yang diberi pemberat dan
sedang melambai-lambai karena angin yang
bertiup agak kencang!
Dia merasa lega untuk sesaat. Debar
jantungnya sedikit berkurang. Dokter Alexander
mungkin benar, pikirnya. Jantung ini baik-baik
saja. Dan tiba-tiba saja Leona menangis saking
senangnya. Jika dia bisa melewati malam ini
384 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

dan tetap hidup, dia tidak akan terus tinggal


di tempat tidur, tidak akan pernah! Dia akan
sembuh dan kuat secepat mungkin. Tapi aroma
bahaya masih tercium dimana-mana. Dia harus
cepat-cepat melakukan sesuatu. Dia harus
keluar dari ruangan itu!
Secara otomatis Leona meraih gagang
telepon. Tapi mendadak tangannya terhenti di
udara. Siapa yang akan dia hubungi? Siapa
yang akan membantunya sekarang?
Pendengar bisu yang berada di suatu tempat
di dalam rumahnya sudah mendengarnya
bicara dengan perawat itu. Seberapa besar
kesempatan Leona untuk bisa lolos darinya?
Dari mereka?
Dia terbaring sambil memikirkan keputusan
apa yang harus diambil. Kengerian telah meng-
ambil alih kemampuannya untuk memilah-
milah semua hal yang membanjiri pikirannya
sekarang. Kemudian, sebagaimana yang
sering terjadi malam itu, kesunyian yang suram
dan mencekam itu ditingkahi oleh suara dering
telepon yang m e m e k a k k a n . Dia segera
menyambarnya, mencoba tetap bertahan pada
akal sehatnya.
"Halo," jawabnya, dengan suara yang
mengundang belas kasihan.
Suara menyebalkan si operator yang
tanpa perasaan itu menyapanya. "Sambungan
Maaf, Salah Sambung | 385

telepon dari New Haven untuk Mrs. Henry


Stevenson. Apa Mrs. Stevenson ada?"
"Ya," teriak Leona dengan hati mencelos.
"Saya tidak punya waktu sekarang... telepon
kembali beberapa menit lagi. Saya tidak bisa
bicara—"
"Ini sambungan telepon pribadi untuk Mrs.
Henry Stevenson dari Mr. Henry Stevenson.
Anda tidak ingin menerimanya, Nyonya?"
Seakan disambar petir Leona mendengar-
nya. "Mr. Henry Stevenson...?" tanya Leona
hampir menangis. 'Apa Anda tadi bilang—
Mr.?—Dari New Haven?"
"Apa Anda bisa menerimanya, Nyonya?"
Dan saat itulah muncul sebuah harapan
besar—bahwa semua ini hanyalah mimpi
buruk. Tidak ada hal buruk setitikpun yang
terjadi dengan lelaki yang sudah berbagi
kehidupan bersamanya beberapa tahun ini.
Tapi di sisi lain dia tahu ini bukanlah mimpi.
Kalau saja ada jawaban untuk semuanya ini!
Well, setidaknya dia bisa minta tolong Henry
untuk segera menghubungi polisi. Itu akan
menyelesaikan semua masalah.
"Ya... saya akan menerimanya."
Dia menunggu dengan tegang, hampir tak
bernapas. Leona mendengar suara dering
telepon ditempat operator telepon interlokal itu,
kemudian, "New Haven, silahkan."
386 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

11:05
Stasiun kereta di New Haven adalah sebuah
tempat yang sepi di malam selarut ini. Hanya
beberapa orang saja yang berjalan-jalan di luar,
atau duduk-duduk di bangku taman, terlihat
bagai titik-titik di tempat seluas itu. Langkah kaki
berdetak-detak di atas lantai batu dan bergaung
ke langit-langit jauh di atas. Kekosongan itu
hampir bisa dirasakan, keadaan maya yang
hampir terasa nyata—seolah-olah stasiun
tersebut kelelahan oleh kesibukan siang hari
dan saat ini sedang beristirahat dengan
nyenyak.
Dibawah sebuah jam dinding raksasa
jejeran telepon umum berderet di sepanjang
dinding, semua dalam keadaan kosong dan
gelap, kecuali satu. Di sebelah pintu bilik yang
sedang terisi terdapat sebuah tas yang cantik—
terbuat dari kulit babi yang halus dengan inisial
"H. S." tercetak dalam huruf emas di dekat kunci
utamanya. Di dalam bilik terang itu Henry
Stevenson sedang berusaha menghubungi
istrinya.
Kepalanya tanpa topi. Dengan rambut acak-
acakan berwama coklat, lelaki itu sangat
t a m p a n — s e r a u t wajah menarik dengan
dandanan rapih, bulu mata panjang dan bagus,
dan bentuk rahang dan mulut yang sesuai. Saat
dia berdiri sambil memandangi telepon, raut
Maaf, Salah Sambung | 387

wajahnya memancarkan rasa sedih dan


khawatir. Dia seperti seorang yang mengerti
betul apa yang sedang dilakukannya, dan
apapun yang dilakukannya harus diselesaikan.
Akhirnya didengarnya suara operator
interlokal itu berkata, "Silahkan, New Haven."
"Halo. Kaukah itu, sayang?" tanya Henry
hampir berbisik.
"Henry! Henry, dimana kau?" Lelaki hampir
bisa merasakan genggaman istrinya dari jarak
ratusan kilometer.
"Aku sedang dalam perjalanan ke Boston,
sayang. Singgah sebentar di New Haven.
Apakah kau sudah menerima pesanku?"
"Ya, sudah...Tapi—tapi aku tidak begitu
mengerti—"
"Tidak ada yang perlu dimengerti, sayang.
Aku tidak bisa menghubungimu sebelumnya.
Teleponmu sering sekali sibuk. Kupikir lebih
baik kutelepon sekarang untuk mengetahui
bagaimana keadaanmu. Aku minta maaf—
karena meninggalkanmu tanpa kabar—tapi aku
percaya kau akan baik-baik saja."
"Aku tidak baik-baik saja—aku..." Kemudian
Leona mulai bicara menggeragap. "Ada sese-
orang yang masuk ke dalam rumah—aku yakin
sekali."
Selarik sinar jahat berkilat di matanya untuk
sesaat. Dia mendengus dan dia menghembus-
kan napas dengan keras.
388 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

"Tidak mungkin, sayang. Bagaimana


mungkin ada orang yang bisa masuk? Kau
tidak sendirian disana, bukan?" ujarnya.
"Aku memang sendirian," jawabnya, me-
rengek. "Hanya aku sendiri disini, tidak ada
siapapun. Kau meliburkan Larsen..."
"Iya,ya..."
"Dan kau berjanji untuk pulang tepat pukul
enam."
"Oh ya?" tanyanya tanpa dosa. "Aku tidak
ingat."
"Kau sudah janji, dan aku berada di rumah
sendirian selama berjam-jam. Aku banyak
menerima telepon-telepon jahat yang aku tidak
mengerti... dan Henry... kuminta kau menelepon
polisi... kau dengar kan, Henry? Katakan pada
mereka untuk segera datang kesini..."
Dia bertanya-tanya demi mendengarsuara
istrinya yang panik. Leona betul-betul
ketakutan. Tapi yang dikatakannya itu tidak
masuk akal. Bagaimana mungkin dia tahu?
Kalau Cuma marah, dia bisa mengerti—Leona
memiliki kapasitas berlebih untuk marah. Tapi
ketakutan yang dirasakannya ini adalah
masalah lain. "Dengar, Leona. Kau tidak perlu
gugup..."
"Gugup!"
"Kau tahu betul, kau benar-benar aman di
dalam rumah. Larsen pasti sudah mengunci
semua pintu sebelum dia pergi..."
Maaf, Salah Sambung | 389

"Aku tahu," jawabnya dengan suara lemah.


"Tapi—aku dengar—suara—ada orang yang
mengangkat telepon di dapur. Aku yakin aku
mendengamya."
"Tidak mungkin. Rumah itu terkunci.
Lagipula ada satpam pribadi yang mengurusi
keamanan disana. Dan telepon itu juga berada
di samping tempat tidurmu. Terlebih lagi, kau
berada di jantung kota New York, Leona.
Tempat teraman di seluruh dunia."
"Aku akan merasa lebih baik jika kau
menelepon polisi, Henry. Aku sudah meng-
hubungi mereka. Tapi mereka tidak mempeduli-
kan aduanku." Leona mulai menangis dan
mengasihani dirinya sendiri.
"Begini, aku sekarang berada di New
Haven. Jika aku menelepon dari sini mereka
pasti mengira aku gila. Lagipula mengapa
harus sampai memanggil polisi? Mengapa kau
tidak menghubungi dokter Alexander saja?"
Teruskan, pikirnya sambil melihat ke jam
yang melingkar di pergelangan tangannya.
Biarkan dia terus bicara—hanya beberapa
menit lagi. Apa yang bisa dilakukannya saat itu?
Dia tersenyum, sebuah senyum aneh yang
mengubah wajah muramnya menjadi serupa
topeng setan yang sedang marah. Sambil
merubah posisi berdirinya dalam bilik telepon,
dia melirik sekilas ke arah pintu, kemudian
kembali memandang telepon. Ada seorang
390 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

lelaki tua ubanan berkulit gelap dengan


sepasang mata berair berwarna hitam yang
sedang mondar-mandir beberapa langkah dari
biliknya dan hampir tidak diperhatikannya.
Apa yang dikatakan Leona ini?
"Henry! Apa kau kenal seseorang bernama
Evans?"
"Evans?" Henry terperanjat.
"Ya. Waldo Evans."
"Aku belum pemah mengenalnya seumur
hidupku, Leona. Memangnya ada apa?"
"Dia meneleponku—tadi—dan dia bercerita
banyak... tentang kau."

11:10
Lelaki bertubuh besar dengan rambut beruban,
berkulit hitam dan raut wajah sedih itu bergerak
cukup jauh dari bilik telepon Henry. Kalau tidak,
mungkin dia akan bisa melihat wajah Henry
yang tiba-tiba berubah pucat seperti mayat—
dan mempertegas bentuk rahangnya yang
semakin mengeras. Tapi lelaki itu sama sekali
tidak tertarik dengan percakapan Henry di
telepon, dia hanya tertarik dengan Henry. Lelaki
itu menunggu dengan sabar, mengawasi
barisan bilik-bilik telepon umum itu, dan tanpa
sadar meraba lambang polisi di sakunya.
"Tentang aku?" tanya Henry, berusaha
terdengar datar. "Apa yang dikatakannya
tentangku?"
Maaf, Salah Sambung | 391

"Dia mengatakan beberapa hal yang me-


nakutkan, Henry. Bahkan kedengaran seperti—
orang gila. Tapi ada sebagian yang ke-
dengarannya sungguhan..."
"Orang iseng," ujar Henry. "Seharusnya kau
tidak usah mendengarkan setiap orang yang
iseng menelepon ke rumah. Sekarang lebih
baik kau coba lupakan saja kejadian itu..."
"Dia mengatakan padaku bahwa kau
mencuri obat-obatan terlarang dari pabrik Ayah.
Apakah itu benar?"
Henry mendengus. "Benar? Begini, Leona.
Aku sedikit tersinggung dengan apa yang
barusan kau ucapkan. Kau pasti bermimpi
buruk tadi..."
"Mimpi!" jerit Leona. "Aku sama sekali tidak
bermimpi! Dia meninggalkan beberapa pesan
untukmu. Dia bilang dia sudah membakar
rumah di Staten Island—dan polisi sudah
mengetahui semuanya. Dia bilang seseorang
bernama Morano sudah ditangkap..."
"Apa?" bentak Henry. "Apa yang kau
katakan?"
"Aku—aku sama sekali tidak percaya
ucapannya—kecuali tadi ada telepon dari Mrs.
Lord—kau ingat? Sally Hunt—dan dia
mengatakan padaku hal yang sama..."
Hening beberapa saat, sampai terdengar
suara Leona memanggil, "Apa kau masih
disana—Henry?"
392 I Lucille Fletcher & Allan Ullman

Dia membasahi bibirnya. "Ya," sahutnya.


"Ya, aku disini."
"Mereka bilang kau penjahat," lanjut Leona
menceracau. "Mereka bilang kau putus asa...
dan Evans bilang kau—kau—kau ingin agar
aku—mati!"
"Aku—" Dia berusaha mengatakan sesuatu,
tapi banjir kata-kata dari istrinya tidak bisa
dihentikan.
"Uang itu, Henry—uang sebanyak seratus
ribu dollar. Mengapa kau tidak minta saja
padaku? Aku akan dengan senang hati mem-
berikannya padaku—kalau saja aku tahu."
"Lupakan saja," gumamnya.
"Apakah sudah terlambat?" tanya Leona
sambil menangis. "Aku akan memberikannya
untukmu—jika belum terlambat."
"Tidak apa-apa,"jawabnya. "Lupakan saja."
Airmata mengalir deras di pipinya. Suara-
nya serak dan tercekat.
"Aku tidak bermaksud jahat padamu,
Henry," ujarnya. " A k u — m e l a k u k a n n y a —
karena—aku mencintaimu. Aku takut kau tidak
benar-benar mencintaiku. Kurasa aku takut jika
kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Aku
takut—aku takut kau pergi begitu saja—dan
meninggalkanku sendirian..."
Maal, Salah Sambung | 393

11:11
Sekarang Henry ingat siapa orang yang berdiri
di dekat bilik teleponnya. Dia melirik ke arah
pintu dan ketika dia tidak melihat siapapun,
pintu itu dibuka lebih lebar agar pandangannya
bisa lebih leluasa. Leiaki itu sedang berdiri
disana, tidak terlalu jauh. Dia sedang meng-
awasi biliknya. Henry segera menutup pintu
dan memanggil Leona di telepon.
"Leona?"
"Ya."
"Leona, ada sesuatu yang harus kau
lakukan."
"Apakah kau mau memaafkanku—Henry?"
tanya Leona sambil terisak. "Maukah kau
memaafkanku?'
"Demi Tuhan," bentak Henry kasar. "Henti-
kan semua omong kosong itu dan dengarkan
aku!"
"Baiklah," sahut Leona berbisik.
"Lakukan seperti yang kusuruh, mengerti?
Aku mau kau beranjak dari tempat tidur..."
"Aku—aku tidak bisa," keluh Leona. "Aku
tidak bisa melakukannya."
"Kau harus berdiri, Leona," perintahnya.
"Kau harus bangkit dari tempat tidur—dan
berjalan keluar dari kamar. Pergilah ke kamar
depan. Berjalan ke jendela dan berteriaklah—
berteriaklah ke jalanan."
394 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

Henry menunggu dengan tegang, melawan


rasa takut yang bersarang dalam dirinya. Dia
bisa mendengar suara istrinya yang bernapas
dengan berat dari gagang telepon.
"Aku tidak bisa!" gumam Leona lemah. "Aku
tidak bisa bergerak, Henry. Aku terlalu takut.
Aku sudah berusaha, tapi aku tidak bisa
bergerak."
"Teruslah berusaha," sahut Henry me-
mohon. "Aku akan celaka jika kau...jika kau
tidak..."
"Bakar!" jeritnya. "Apa...?"
"Kau harus bergerak, Leona. Ayo coba
terus. Jika tidak, kau hanya punya waktu tiga
menit untuk hidup!"

11:12
"Apa...?" Suaranya tercekat di kerongkongan.
"Jangan bicara lagi, Leona." Kini suaranya
sendiri terdengar sangat ketakutan. Keringat
dingin membasahi bajunya. Berat tubuhnya
disandarkan sepenuhnya ke dinding, agar
lututnya yang gemetar tidak terlalu kentara.
"Tidak usah banyak bicara, berdirilah dari
tempattidursekarang. Semua itu benar, Leona.
Semuanya, kau dengar? Aku sedang dalam
masalah besar. Aku sangat putus asa—aku
bahkan mencoba—malam ini—mengutus
seseorang—untuk..."
Maaf, Salah Sambung | 395

"Henry!" Jeritan ngeri terdengar dari


bibirnya. "Henry! Ada seseorang—naik ke
atas!"
"Keluar!" teriak Henry bagai orang gila.
"Bangunlah dari tempat tidur! Jalan, Leona!"
"Aku tidak bisa!"
"Kau harus bisa! Kau harus bisa!"
"Henry!" Lagi-lagi Leona berteriak. "Henry!
Selamatkan aku! Selamatkan aku!"
Henry tidak marnpu lagi mengendalikan
diri—nasib buruk yang datang dengan pasti
yang akan menimpa istri dan dirinya sendiri
menyedot habis semua keberaniannya—
tubuhnya bergetar hebat. "Tolong, Leona. Aku
mohon. Mereka akan menangkapku. Mereka
akan tahu—mereka mengetahuinya dari
Morano."
Kemudian, melalui telepon, Henry men-
dengar s u a r a — s a m a r - s a m a r — y a n g ke-
mungkinan berasal dari kereta yang lewat di
atas jembatan. Dan diantara suara itu, dia bisa
mendengar suara Leona dengan jelas, ber-
teriak memanggil namanya. "Henry!"

11:15
Sesaat setelah dia berteriak, Leona men-
cengkram erat-erat telepon di genggamannya.
Kemudian dia membanting telepon itu ke
tempatnya. Matanya menyiratkan ketakutan
396 | Lucille Fletcher & Allan Ullman

yang tidak terkatakan, debaran jantungnya


berdentam tanpa ampun, dan dia mendengar
gemuruh suara kereta yang memekakkan
telinga. Dengan tenggorokan tercekat Leona
berusaha menarik diri untuk bangkit dari tempat
tidur. Tapi tubuhnya seperti terikat pada besi
baja yang berat sekali. Dia sama sekaii tidak
bisa bergerak. Suara itu semakin keras, dan
dari kekelaman malam kereta itu muncul, dan
udara dipenuhi gemuruhnya yang meninggi
bagai guntur. Tidak ada suara apapun yang
bisa menandingi kerasnya suara kereta itu.
Bahkan desahan napas Leona yang putus
asa... dan untuk terakhir kalinya.
Kereta itu melintas, dan ruangan itu menjadi
sunyi kembali, hanya suara desahan napas
yang kasar terdengar disana—dan gerakan
mengendap menjauhi tempat tidur.
Tiba-tiba telepon itu kembali berbunyi.
Terdengar suara sol sepatu karet yang sedang
melangkah di atas lantai. Sebentuk tangan
dengan sarung ternoda darah meraih gagang
telepon itu dan mengangkatnya. Terdengar
suara Henry yang gemetar, putus asa. "Leona!
LEONA!"
Sunyi sesaat. Komudian terdengar suara
kasar yang dalam, menjawab...
"Maaf, salah sambung..."

11:16 []