Anda di halaman 1dari 22

PORTOFOLIO

Topik : Retensio Plasenta


Tanggal : 9 Juni 2018 Presentan : dr Yuni Suwinda
Tanggal Presentasi : Pendamping : dr Suciati Lestari

Objekttif Presentasi :
 Keilmuan  Keterampilan  Penyelenggara  Tinjauan Pustaka
 Diagnostik  Manajemen  Masalah  Istimewa
 Neonatus  Bayi  Anak  Remaja  Dewasa √ Bumil
 Deskripsi : Seorang perempuan 41 tahun hamil 35-36 minggu datang ke IGD RSUD
Muara Labuh dengan nyeri ari-ari, keluar lendir bercampur darah, kemudian melahirkan
anak kedua dengan perdarahan banyak karena plasenta tidak lahir 65 menit setelah
melahirkan.
 Tujuan : Tatalaksana Retensio Plasenta
Bahan Bahasan  Tinjauan Pustaka  Riset  Kasus  Audit
Cara membahas  Diskusi  Presentasi dan diskusi  Email  Pos
Data Pasien Nama : Tn. NY Umur : 41 tahun No. Reg :
Pekerjaan : IRT Status : menikah
Alamat : Pasir Talang Agama : islam
Kebangsaan : Indonesia
RSUD Muaro Labuah Telp: Terdaftar :
Data utama untuk bahan diskusi
1. Diagnosa /Gambaran klinis :

Awalnya pasien datang ke IGD RSUD Muara Labuh pukul 07.05 WIB dengan keluhan
nyeri pinggang menjalar ke ari-ari, disertai dengan keluar lender bercampu darah. Keluar
air-air tidak ada. Menurut pasien saat diperiksa pembukaan 2. Pasien hamil anak kedua
Dua hari yang lalu pasien kontrol kehamilan ke dokter, usia kehamilan 35-36 minggu.
Pasien dirawat dan observasi persalinan.

1
13 jam kemudian pasien melahirkan dibantu oleh bidan. Pada saat setelah bayi lahir,
plasenta tidak keluar. Setelah ditunggu selama 45 menit plasenta tidak lahir, lapor dokter
jaga. Tali pusat terputus saat dokter jaga melakukan peregangan tali pusat terkendali. Ibu
mengalami perdarahan. Kemudian dilakukan manual plasenta oleh dokter pukul 21.20
WIB, plasenta berhasil dikeluarkan, eksplorasi plasenta.

2. Riwayat Pengobatan : pasien kontrol kehamilan sudah 4 kali selama hamil


3. Riwayat Kesehatan dan Penyakit : riwayat penyakit jantung (-) DM (-) hipertensi (-)
4. Riwayat Keluarga : -
5. Riwayat Pekerjaan : IRT
DAFTAR PUSTAKA
1. Satriyandari Y, Nena R. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perdarahan Post Partum.
Jurnal of Health Studies. 2017;1(1):49-64
2. World Health Organization (WHO). WHO, UNICEF, UNFPA, The World Bank.
Trends in maternal mortality: 1990 to 2013. 2014
3. Ekane, Gregory Edie Halle, dkk. Prevalence and Risk Factors of Primary Postpartum
Hemorrhage after Vaginal Deliveries in the Bonassama District Hospital, Cameroon.
International Journal of Tropical Disease& Health. 2016; 13(2): 1-12
4. Friyandini, F. Lestari, Y. Hubungan Kejadian Perdarahan Postpartum dengan Faktor
Risiko Karakteristik Ibu di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada Januari 2012 - April
2013. Jurnal Kesehatan Andalas. 2015;4(3)
5. Sunarto. 2010. Hubungan Kejadian Anemia Kehamilan dengan Kejadian Perdarahan
Postpartum di PONED Ngawi. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes. 2012;3(2)
6. Manuaba. Pengantar Kuliah Obstetri Perdarahan Postpartum. Jakarta: EGC; 2009
7. Cunningham, G. Obstetri Williams, Edisi 2, Volume 2. Jakarta: EGC; 2010
8. Rohmawati W, Aisyiana S. Hubungan Persalinan Lama dengan Kejadian Atonia
Uteri di RSUD Dr.Moewardi Surakarta Tahun 2009. 2011;1(2): 45-51
9. Kurniawan H. Penanganan Perdarahan Postpartum. Fakultas Kedokteran Universitas
Wijaya Kusuma Surabaya. 2014;2(3)

2
10. Jaringan Nasional Klinik-Kesehatan Reproduksi. Pelayanan Obstetri dan Neonatal
Emergensi Dasar (PONED). Jakarta: Bakti Husada; 2008
11. WHO. Guidelines for The Management of Postpartum Haemorrhage and Retained
Placenta. World Health Organization. 2015: 4-20
12. Queensland Ambulance Service. Clinical Practice Guidelines: Uterine Inversion.
Queensland Government. 2016: 1-3
13. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo;
2008

Hasil pembelajaran
1. Anamnesis Retensio Plasenta
2. Diagnosis Retensio Plasenta
3. Tatalaksana Retensio Plasenta
4. Komplikasi Retensio Plasenta

3
LAPORAN KASUS

A. Subjectif (Autoanamnesa)
a. Keluhan Utama :
Pasien mengalami perdarahan aktif setelah melahirkan dan plasenta belum
lahir sejak 65 menit setelah melahirkan pukul 20.15 WIB.

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Awalnya pasien datang ke IGD RSUD Muara Labuh pukul 07.05 WIB
dengan keluhan nyeri pinggang menjalar ke ari-ari, disertai dengan keluar lender
bercampu darah. Keluar air-air tidak ada. Menurut pasien saat diperiksa
pembukaan 2. Pasien hamil anak kedua Dua hari yang lalu pasien kontrol
kehamilan ke dokter, usia kehamilan 35-36 minggu. Pasien dirawat dan
observasi persalinan.

13 jam kemudian pasien melahirkan dibantu oleh bidan. Pada saat setelah
bayi lahir, plasenta tidak keluar. Setelah ditunggu selama 45 menit plasenta
tidak lahir, lapor dokter jaga. Tali pusat terputus saat dokter jaga melakukan
peregangan tali pusat terkendali. Ibu mengalami perdarahan. Kemudian
dilakukan manual plasenta oleh dokter pukul 21.20 WIB, plasenta berhasil
dikeluarkan, eksplorasi plasenta.

c. Riwayat pengobatan :
Pasien kontrol kehamilan sudah 4 kali selama hamil
d. Riwayat kesehatan / penyakit:
Riwayat penyakit jantung (-) DM (-) hipertensi (-)
e. Riwayat keluarga:
Tidak ada anggota keluarga yang mengeluhkan keluhan yang sama dengan
pasien.
f. Kondisi lingkungan sosial dan fisik :

4
Pasien tinggal dengan suami dan anak laki-laki pertama

B. Objective

Riwayat Obstetri
 GPA : P2A0H2
 HPHT : Tidak diketahui
 TP : Tidak bisa dihitung
 Menarche : Umur 13 tahun
 Siklus haid : teratur 28 hari
 Lama haid : 7-8 hari
 Riwayat Persalinan :

No. Tahun Umur Jenis Penolong Penyulit Anak Ket

Partus Kehamilan Persalinan JK BB

1. 2007 Aterm Pervaginam Bidan - Lk 3200 H

2. 2018 Preterm Pervaginam RS - Pr 2100 H

 Riwayat Perkawinan : Os menikah satu kali, lamanya 12 tahun


 Riwayat Kontrasepsi : Os pernah menggunakan KB pil, dan KB suntik 3 bulan
 Imunisasi TT : Tidak ada
 ANC : 4 x selama kehamilan

2.3 Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum : Lemah
Kesadaran : Compos Mentis
TD : 80/60 mmHg
N : 118 x/menit
RR : 28 x/menit

5
Suhu : 36,0 0C
Berat badan sebelum hamil : 50 kg
Berat badan saat hamil : 56 kg
Tinggi Badan : 154 cm

Status Generalisata
Kepala : Normocephale, rambut hitam tidak mudah dicabut
Mata : Conjungtiva anemis +/+, sklera ikhterik -/-, reflek cahaya +/+,
Palpebra edema -/-
THT : Dalam batas normal
Leher : Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
Thorak : Pergerakan dada simetris
Pulmo : Vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Cor : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : Membesar, soepel, BU (+) Normal
Ekstremitas Superior : Akral dingin +/+, edema -/-, sianosis -/-
Ekstremitas Inferior : Akral dingin +/+, edema -/-, sianosis -/-

Status Obstetri
Pemeriksaan Luar
Inspeksi :
Abdomen : Perut tampak besar, striae gravidarum (+), sikatrik (-)
Palpasi :
Leopold I : TFU 2 jari dibawah umbilikus
Leopold II :-
Leopold III :-
Leopold IV :-
TBJ :-
HIS :-
Auskultasi : DJJ : -

6
Pemeriksaan Dalam :
Tidak dilakukan

Pemeriksaan Panggul :
Tidak dilakukan

2.4 Pemeriksaan Penunjang


Darah rutin (9 Juni 2018)
Hb : 10,6 gr/dl
Ht : 31,4 %
Leukosit : 13000/mm3
Eritrosit : 4.1/mm3
Trombosit : 232000/mm3

GDS : 102 g/dl

2.5 Diagnosis
P2A0H2 Post Partum Pervaginam H1 dengan HPP e.c Retensio Plasenta
2.6 Penatalaksanaan
 Observasi Keadaan umum, tanda – tanda vital dan perdarahan
 O2 3L nasal canul
 IVFD RL tetes cepat
 IVFD RL 500 cc + oksitosin : metergin 1:1, 20 tpm
 Inj. Oksitosin 1 ampul bolus
 Inj. Ceftriaxone 2x1 gr
 Rencana manual plasenta
 Pasang Kateter
 Post manual plasenta masukan misoprostol 4 tablet melalui anus
 Cek DR post manual plasenta

7
Darah rutin (10 Juni 2018)
Hb : 8,6 gr %
Ht : 26,4 %
Leukosit : 17300/mm3
Eritrosit : 4.3/mm3
Trombosit : 228000/mm3

GDS : 98 g/dl

FOLLOW UP
Hari/ Tanggal Catatan Perkembangan Pasien
10 Juni 2018 S: Perdarahan (+), Nyeri (+), Lemas (+)
Hari ke 2

O: TD 90/60, HR 98X/menit, RR 24X/menit, T 36.8 C


CA +/+
A: P2A0H2 Post Partus Pervaginam hari II dengan HPP ec
Retensio Plasenta

P:
- Diet MB
- IVFD RL 20gtt/menit
- IVFD RL 500 cc + oksitosin : metergin 2:1, 20 tpm
- Inj. Ceftriaxone 2x1 gr
- Asam Mefenamat 3x500mg
- Diabion 2x1tablet
- Cormega 1x1tablet
- Rencana transfuse PRC 2 Kolf
- Cek Leukosit ulang, Hb post transfuse

8
11 Juni 2018 S: Perdarahan sedikit, Nyeri (+), Lemas (-)
Hari ke 3

O: TD 110/70, HR 98x/menit, RR 20x/menit, T 36.4 C


CA -/-
Laboratorium
Hb : 10.2
Leukosit : 9800

A: P2A0H2 Post Partus Pervaginam hari III dengan HPP


ec Retensio Plasenta

P:

- Diet MB
- IVFD RL 500 cc + oksitosin : metergin 2:1, 20 tpm
- Cefixime tablet 2x200mg
- Asam Mefenamat 3x500mg
- Diabion 2x1tablet
- Cormega 1x1tablet
- Aff kateter
12 Juni 2018 S: Perdarahan (-), Nyeri (-), Lemas (-)

O: TD 110/70, HR 88x/menit, RR 20x/menit, T 36 C

A: P2A0H2 Post Partus Pervaginam hari IV dengan HPP


ec Retensio Plasenta

P:

9
- Rawat Jalan
- Cefixime tablet 2x200mg
- Asam Mefenamat 3x500mg
- Diabion 2x1tablet
- Cormega 1x1tablet

10
TINJAUAN PUSTAKA

Perdarahan Pospartum
Definisi

Perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan atau hilangnya darah 500 ml atau
lebih yang terjadi setelah anak lahir. Perdarahan dapat terjadi sebelum, selama, atau
sesudah lahirnya plasenta.5 Pada praktisinya tidak perlu mengukur jumlah perdarahan
sampai 500 ml sebab menghentikan perdarahan lebih dini akan memberikan prognosis
lebih baik. Pada umumnya bila terdapat perdarahan yang lebih dari normal, apalagi telah
menyebabkan perubahan tanda vital (seperti kesadaran menurun, pucat, limbung,
berkeringat dingin, sesak nafas, serta tensi <90 mmHg dan nadi >100 kali per menit), maka
penanganan harus segera dilakukan.5,6

Klasifikasi
Perdarahan postpartum dapat diklasifikasikan sebagai berikut:6,7
Perdarahan Postpartum

Primer Sekunder

Perdarahan yang terjadi Perdarahan yang terjadi antara


dalam 24 jam setelah 24 jam dan 6 minggu setelah
anak lahir anak lahir

Penyebab: Penyebab:
1. Atonia uteri (50-60%) 1. Sisa plasenta
2. Sisa plasenta (23-24%) 2. Endometritis
3. Retensio plasenta (16-17%)
4. Laserasi jalan lahir (4-5%)
5. Kelainan pembekuan darah (0,5-0,8%) Sub involusio
6. Inversio uteri

Bagan 3.1 Klasifikasi Perdarahan Postpartum

11
RETENSIO PLASENTA

Definisi
Retensio plasenta adalah plasenta yang belum lahir dalam setengah jam setelah
janin lahir. Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian
plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan manual plasenta dengan segera.6,7

Klasifikasi
Berdasarkan tempat implantasinya, retensio plasenta dapat diklasifikasikan menjadi
5 bagian :7,13

Gambar 3.1 Retensio Plasenta


1. Plasenta Adhesiva
Tertanamnya plasenta secara kuat pada rahim sehingga menyebabkan kegagalan pada
mekanisme separasi fisiologis.
2. Plasenta Akreta
Implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki lapisan miometrium yang
menembus lebih dalam miometrium tetapi belum menembus serosa.
3. Plasenta Inkreta

12
Implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai atau memasuki miometrium,
dimana vili korialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua sampai ke
miometrium .
4. Plasenta Perkreta
Implantasi jonjot khorion plsenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan
serosa di uterus, yang menembus serosa atau peritoneum dinding rahim.
5. Plasenta Inkarserata
Tertahannya plasenta di dalam kavum uteri dan disebabkan oleh kontraksi ostium uteri.

Epidemiologi
Retensio plasenta terjadi pada 3% kelahiran per vagina. 15 % retensio
plasenta adalah ibu yang pernah mengalami retensio plasenta.2

Faktor Risiko
Beberapa faktor risiko dari retensio plasenta adalah :10,11
1. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu : Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan
plasenta (plasenta adhessiva)
2. Kelainan dari plasenta, misalnya : Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh
sebab villi khorialis menembus desidua sampai miometrium – sampai dibawah
peritoneum (plasenta akreta-perkreta)
3. Kesalahan manajemen kala III persalinan, seperti : manipulasi dari uterus yang tidak
perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta dapat menyebabkan kontraksi yang
tidak ritmik, pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya juga dapat
menyebabkan serviks kontraksi (pembentukan constriction ring) dan menghalangi
keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta).

Apabila terjadi perdarahan post partum dan plasenta belum lahir, perlu diusahakan untuk
melahirkan plasenta dengan segera. Jika plasenta sudah lahir, perlu dibedakan antara
perdarahan akibat atonia uteri atau perdarahan karena perlukaan jalan lahir. Pada

13
perdarahan karena atonia, uterus akan membesar dan lembek pada palpasi, sedangkan pada
perdarahan karena perlukaan jalan lahir uterus berkontraksi dengan baik.
Patofisiologi
Segera setelah anak lahir, uterus berhenti kontraksi, namun secara perlahan
tetapi progresif uterus mengecil yang disebut retraksi. Pada masa retraksi, uterus
lembek namun serabut-serabutnya secara perlahan memendek kembali. Peristiwa
retraksi menyebabkan pembuluh-pembuluh darah yang berjalan dicelah-celah
serabut otot-otot polos rahim terjepit oleh serabut otot rahim itu sendiri. Bila serabut
ketuban belum terlepas, plasenta belum terlepas seluruhnya, dan bekuan darah
dalam rongga rahim bisa menghalangi proses retraksi yang normal dan
menyebabkan banyak darah hilang.7

Manifestasi Klinis
Tanda-tanda gejala yang selalu ada yaitu plasenta belum lahir setelah 30
menit, perdarahan segera, dan kontraksi uterus baik. Gejala yang kadang-kadang
timbul :8,11
1. Tali pusat putus akibat kontraksi berlebihan
2. Inversio uteri akibat tarikan
3. Perdarahan lanjutan
Dijumpai pada kala tiga atau postpartum dengan gejala nyeri yang hebat,
perdarahan yang banyak, bahkan kadang dijumpai pasien mengalami syok. Keadaan
akan lebih berat bila plasenta masih melekat dan sebagian sudah ada yang terlepas,
hal ini dapat mengakibatkan terjadinya strangulasi dan nekrosis.
Diagnosis biasanya tidak sulit, terutama apabila timbul perdarahan banyak
dalam waktu pendek. Bila perdarahan sedikit dalam waktu lama, tanpa disadari
penderita telah kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat. Nadi serta
pernafasan menjadi lebih cepat dan tekanan darah menurun. Jika perdarahan
berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan syok. Perdarahan yang banyak bisa
juga menyebabkan Sheehan syndrome sebagai akibat nekrosis, dimana gejalanya

14
adalah asthenia, hipotensi, anemia, turunnya berat badan, menimbulkan penurunan
fungsi seksual, dan kehilangan rambut pubis.
Penegakan Diagnosis
a. Anamnesis
Meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai
episode perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multipel fetus dan
polihidramnion. Serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas
secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.
b. Pemeriksaan Pervaginam
Plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara parsial
atau lengkap menempel di dalam uterus.
c. Pemeriksaan Penunjang
 Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan
hematokrit (Hct), melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada
keadaan yang disertai dengan infeksi, leukosit biasanya meningkat.
 Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung Protrombin Time(PT)
dan Activated Partial Tromboplastin Time (APTT) atau yang sederhana
dengan Clotting Time (CT) atau Bleeding Time (BT). Ini penting untuk
menyingkirkan perdarahan yang disebabkan oleh faktor lain.

Tatalaksana
Pada retensio plasenta, perdarahan hanya terjadi pada plasenta yang
sebagian atau seluruhnya telah lepas dari dinding rahim. Banyak atau sedikitnya
perdarahan tergantung luasnya bagian plasenta yang telah lepas. Melalui periksa
dalam atau tarikan pada tali pusat dapat diketahui apakah plasenta sudah lepas atau
belum dan bila lebih dari 30 menit maka dapat dilakukan manual plasenta. Manual
plasenta adalah prosedur pelepasan plasenta dari tempat implantasinya pada dinding
uterus dan mengeluarkannya dari kavum uteri secara manual yaitu dengan
melakukan tindakan invasi dan manipulasi tangan penolong persalinan yang
dimasukkan langsung ke dalam kavum uteri.11,13

15
Manual plasenta dilakukan karena indikasi retensio plasenta yang berkaitan
dengan :7,10,
1. Plasenta belum lepas dari dinding uterus yang terjadi karena:
 Plasenta adhesiva yaitu kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan
plasenta
 Plasenta akreta yaitu implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki
sebagian lapisan miometrium
 Plasenta inkreta yaitu implantasi jonjot korion plasenta hingga
mencapai/memasuki miometrium
 Plasenta perkreta yaitu implantasi jonjot korion plasenta yang menembus
lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus
 Plasenta inkarserata yaitu tertahannya plasenta di dalam kavum uteri yang
disebabkan oleh konstriksi ostium uteri.
2. Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan dan dapat terjadi perdarahan
3. Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan
4. Terjadinya retensio plasenta tanpa perdarahan yang dapat diperkirakan terjadi
karena:
 Darah penderita terlalu banyak hilang
 Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam

Prosedur manual plasenta yang dapat dilakukan sebagai tatalaksana retensio


plasenta yaitu:10,11
1. Sebaiknya pelepasan plasenta secara manual dilakukan dalam narkosis, karena
relaksasi otot memudahkan pelaksanaannya terutama bila retensi telah
lama. Sebaiknya juga dipasang infus NaCl 0,9% sebelum tindakan dilakukan.
Setelah disinfektan tangan dan vulva termasuk daerah seputarnya, labia
dibeberkan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan dimasukkan secara
obstetrik ke dalam vagina.
2. Tangan kiri menahan fundus untuk mencegah kolporeksis (suatu keadaan
dimana terjadi robekan di vagina bagian atas, sehingga sebagian serviks uteri

16
dan sebagian uterus terlepas dari vagina, robekan ini memanjang atau
melingkar). Tangan kanan dengan posisi obstetrik menuju ke ostium uteri dan
terus ke lokasi plasenta; tangan dalam ini menyusuri tali pusat agar tidak terjadi
salah jalan.
3. Supaya tali pusat mudah diraba, dapat diregangkan oleh asisten. Setelah tangan
dalam sampai ke plasenta, maka tangan tersebut dipindahkan ke pinggir plasenta
dan mencari bagian plasenta yang sudah lepas untuk menentukan bidang
pelepasan yang tepat. Kemudian dengan sisi tangan kanan sebelah kelingking,
plasenta dilepaskan pada bidang antara bagian plasenta yang sudah terlepas dan
dinding rahim dengan gerakan yang sejajar dengan dinding rahim. Setelah
seluruh plasenta terlepas, plasenta dipegang dan dengan perlahan-lahan ditarik
keluar.
4. Kesulitan yang meungkin dijumpai pada waktu pelepasan plasenta secara
manual ialah adanya lingkaran konstriksi yang hanya dapat dilalui dengan
dilatasi oleh tangan dalam secara perlahan-lahan dan dalam narkosis yang
dalam. Lokasi plasenta pada dinding depan rahim juga sedikit lebih sukar
dilepaskan daripada lokasi di dinding belakang. Ada kalanya plasenta tidak
dapat dilepaskan secara manual seperti halnya pada plasenta akreta, dalam hal
ini tindakan dihentikan.

Setelah plasenta dilahirkan dan diperiksa bahwa plasenta lengkap, segera


dilakukan kompresi bimanual uterus dan disuntikkan ergometrin 0,2 mg
intramuskular atau intravena sampai kontraksi uterus baik. Pada kasus retensio
plasenta, risiko untuk terjadinya atonia uteri tinggi sehingga harus segera dilakukan
tindakan pencegahan postpartum. Apabila kontraksi rahim tetap buruk, dilanjutkan
dengan tindakan sesuai prosedur tindakan atonia uteri.

17
Gambar 3.2 Teknik manual plasenta

18
Bagan 3.2 Tatalaksana Retensio Plasenta

19
Komplikasi
Komplikasi retensio plasenta yang dapat terjadi adalah perforasi uterus yang
disebabkan karena kesalahan dalam melakukan tindakan manual plasenta. Beberapa
komplikasi yang dapat terjadi antara lain:6
1. Terjadinya infeksi : Terdapat sisa plasenta atau membran dan bakteri yang
terdorong ke dalam rongga rahim
2. Terjadi perdarahan karena atonia uteri
Untuk memperkecil komplikasi, dapat dilakukan tindakan profilaksis dengan
memberikan uterotonika intravena dan intramuskular.

20
KESIMPULAN

Perdarahan post partum adalah perdarahan pervaginam 500 cc atau lebih, setelah
anak lahir. Perdarahan pasca persalinan terbagi menjadi 2, yaitu perdarahan post partum
primer 24 jam pertama setelah bayi lahir dan sekunder setelah 24 jam pertama setelah lahir
pada masa nifas.
Berdasarkan etiologinya, perdarahan post partum dapat disebabkan oleh atonia
uteri, robekan jalan lahir, retensio plasenta, sisa plasenta, dan gangguan pembekuan darah
(koagulopati).
Pada persalinan kala III, normalnya plasenta akan lahir setelah 5 – 30 menit.
Apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir disebut dengan retensio
plasenta. Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian
plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan segera.
Dari laporan kasus diatas dapat disimpulkan pasien a.n Ny. NY 41 tahun mengalami
perdarahan jalan lahir setelah melahirkan dan plasent belum lahir. Dari hasil anamnesis,
pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang pasien didiagnosa P2A0H2 dengan
Retensio Plasenta.

21
DAFTAR PUSTAKA

14. Satriyandari Y, Nena R. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perdarahan Post Partum.


Jurnal of Health Studies. 2017;1(1):49-64
15. World Health Organization (WHO). WHO, UNICEF, UNFPA, The World Bank.
Trends in maternal mortality: 1990 to 2013. 2014
16. Ekane, Gregory Edie Halle, dkk. Prevalence and Risk Factors of Primary Postpartum
Hemorrhage after Vaginal Deliveries in the Bonassama District Hospital, Cameroon.
International Journal of Tropical Disease& Health. 2016; 13(2): 1-12
17. Friyandini, F. Lestari, Y. Hubungan Kejadian Perdarahan Postpartum dengan Faktor
Risiko Karakteristik Ibu di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada Januari 2012 - April
2013. Jurnal Kesehatan Andalas. 2015;4(3)
18. Sunarto. 2010. Hubungan Kejadian Anemia Kehamilan dengan Kejadian Perdarahan
Postpartum di PONED Ngawi. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes. 2012;3(2)
19. Manuaba. Pengantar Kuliah Obstetri Perdarahan Postpartum. Jakarta: EGC; 2009
20. Cunningham, G. Obstetri Williams, Edisi 2, Volume 2. Jakarta: EGC; 2010
21. Rohmawati W, Aisyiana S. Hubungan Persalinan Lama dengan Kejadian Atonia Uteri
di RSUD Dr.Moewardi Surakarta Tahun 2009. 2011;1(2): 45-51
22. Kurniawan H. Penanganan Perdarahan Postpartum. Fakultas Kedokteran Universitas
Wijaya Kusuma Surabaya. 2014;2(3)
23. Jaringan Nasional Klinik-Kesehatan Reproduksi. Pelayanan Obstetri dan Neonatal
Emergensi Dasar (PONED). Jakarta: Bakti Husada; 2008
24. WHO. Guidelines for The Management of Postpartum Haemorrhage and Retained
Placenta. World Health Organization. 2015: 4-20
25. Queensland Ambulance Service. Clinical Practice Guidelines: Uterine Inversion.
Queensland Government. 2016: 1-3
26. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2008

22