Anda di halaman 1dari 3

Kajian Praksis Demokrasi di Indonesia

Praktik Demokrasi di Indonesia

Demokrasi sering disebut-sebut sebagai penghubung antara pemerintah dengan rakyat.


Sekarang ini, demokrasi merupakan satu-satunya konsep pemikiran yang berkembang pesat saat ini,
sebgai perwujudan aspirasi masyarakat kepada pemerintah atau jajaran pemerintahan tinggi
negara. Dalam era reformasi sekarang, mengkritik pemerintah, baik melalui aksi demonstrasi,
melalui tulisan, diskusi maupun jejak pendapat. Hal ini merupakan bentuk kemajuan kongkret yang
diterapkan pada sistem pemerintahan Indonesia.

Namun, demokrasi justru menjadi sebuah boomerang yang pelaksanaannya sangat


kontradiktif. Secara hukum rakyat memiliki hak mutlak untuk mengaspirasikan segala bentuk
ketidakadilan yang mengancam kesejahteraan mereka, selama aspirasi tersebut tidak melewati
batas demokrasi yang diberlakukan bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang ras, suku,
agama, serta kedudukan dan kepentingan golongan. Namun yang terjadi Banyak ketidakadilan yang
dirasakan oleh masyarakat.

Demokrasi saat ini tidak memiliki keadilan untuk rakyat dan hal tersebut telah berlangsung
lama di tengah bangsa Indonesia. Beberapa kekerasan dan perlakuan semena-mena oleh oknum
aparat penegak hukum pada penyelesaian konflik pelanggaran HAM merupakan bukti yang nyata.
Sentuhan kekerasan oknum aparat penegak hukum itu sudah terjadi berulangkali, namun lembaga
seolah tak pernah bercermin dan belajar.

Sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, beberapa oknum polisi selaku aparat
penegak hukum sepertinya semakin tak punya batas dalam menggunakan kekuasaannya. Melalui
demokrasi, seharusnya rakyat memperoleh hidup yang selayaknya seperti jaminan kemakmuran dan
rasa aman, yang tertera dalam UUD 1945. Tindak kekerasan yang dilakukan oleh oknum kepolisian
terhadap masyarakat sipil ini telah menunjukkan bagaimana wajah polisi Republik Indonesia saat ini.
Bagaimana oknum polisi sebagai lembaga keamanan negara yang katanya pelindung, pengayom, dan
pelayan rakyat itu justru seolah-olah menganggap masyarakat yang tanpa senjata, dan tanpa
kekuatan sebagai musuh yang patut ditembak dengan senapan besar, senjata dan adu jotos.
Akibatnya pelanggaran HAM pun banyak terjadi. Dalam konflik PT. Freeport dengan warga Papua, 2
orang masyarakat tewas dengan bukti adanya penembakan. Kejadian ini justru setelah terlaksananya
kongres antara warga dengan pihak kepolisian. Sedangkan kasus Mesuji telah menelan korban 9
orang dengan bukti adanya penembakan dan pemakaian benda tajam. Sementara itu, konflik Bima
pun kejadiannya hampir serupa, bahwa secara terang-terangan oknum polisi melakukan tindak
kekerasan terhadap masyarakat dengan tembakan dan penganiayaan terhadap para pendemo,
hingga 2 orang tewas tertembak dan puluhan lain dalam kondisi kritis.

Solusi

Dalam praktiknya pelaksanaan demokrasi di Indonesia tidak sesuai dengan pilar demokrasi
di Indenesia yaitu demokrasi dengan Hak Asasi Manusia (HAM), pada kasusnya perlakuan semena-
mena oleh oknum aparat penegak hukum pada penyelesaian konflik pelanggaran HAM merupakan
bukti yang nyata. Sentuhan kekerasan oknum aparat penegak hukum itu sudah terjadi berulangkali.
Sebenarnya pihak penegak hukum harus melindungi masyarakat untuk melakukan solusi
pemecahan masalah agar pelaksanaan demokrasi bisa berjalan dengan lancar tanpa menimbulkan
permasaahan dilingkungan masyarakat.

Dalam masalah ini pemerintah wajib menegakkan undang-undang yang ada . Oknum
penegak hukum harus ditindak oleh pemerintah atau pengadilan sesuai dengan kesalahan yang
dilakukan supaya hal ini tidak dilakukan lagi dan melakukan suatu kekerasan kepada masyarakat
atau rakyat agar polisi tersebut akan jera dengan hukuman yang diberikan.

Rakyat sebagai subyek demokrasi berhak ikut secara efektif menentukan keinginan-
keinginan serta pelaksana keinginannya itu. Prinsip demokrasi Pancasila adalah memperhatikan
kepentingan semua golongan, lapisan masyarakat, berbagai daerah, suku dan agama, sebaliknya
tidak berprinsip pada kemutlakan suara terbanyak yang dapat mengakibatkan tirani mayoritas dan
juga tidak mendasarkan pada satu kekuasaan minoritas yang dapat menimbulkan tirani minoritas.
Dalam mengambil keputusan – keputusan ditentukan berdasarkan kebulatan mufakat sebagai hasil-
hasil hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, dalam prosedur pengambilan
keputusan berdasarkan atas dasar musyawarah untuk mufakat.

Sebagai sistem pemerintahan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila yang
fungsinya ialah sebagai dasar filsafat negara dan sumber tertib hukum Indonesia, maka demokrasi
Pancasila harus dibina dan ditegakkan oleh seluruh aparatur negara Republik Indonesia, khususnya
oleh penguasa dan petugas penegak hukum dan penegak negara.

Sebagai suatu sistem pemerintahan dari rakyat dan oleh serta untuk rakyat, maka tugas
penegakan dan pembinaan demokrasi pancasila itu akhirnya merupakan tugas seluruh masyarakat
Indonesia yang mendukung hukum dan pemerintahan negara dengan tidak ada kecualinya.

Dari pihak pemerintah dan aparat penegak hukum harus lebih mendengarkan aspirasi dari
masyarakat. Hak – hak asasi manusia telah diatur dalam pancasila dan UUD 1945. Sehingga
pelaksanaannya harus dilaksanakan semaksimal mungkin dengan sebaik-baiknya. Sebagai warga
negara Indonesia yang baik, harus patuh dan mentaati peraturan dan undang – undang yang ada.
Para aparat penegak hukum harus adil pada orang yang memang bersalah dalam melanggar
peraturan tetapi tidak boleh semena- mena dan menghakimi dengan caranya sendiri.