Anda di halaman 1dari 28

.(Sumber: Antarasumbar.

com)

Alam yang kaya merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Esa, Nusantara tanahnya yang subur, punya
kekayaan di laut dengan berbagai ragamnya menunggu rakyat untuk mengolah. Semua kebutuh manusia
tersedia pada alam, namun demikian apabila tidak bisa mengatur dan mengolahnya kekayaan tersebut
belum tentu sampai dinikmati sacara merata bagi penduduknya. Pengelolaan, pengaturan dan
pendistribusiannya itulah yang menjadi tugas penduduk yang menghuni nusantara ini. Konsep negara
kesatuan dan otonomi yang diberikan kepada daerah sehingga pemerintah pusat dan pemerintah daerah
memiliki hubungan kerja sama untuk mengolah alam sehingga kesejahteraan dapat dinikmati oleh

88
masyarakat secara merata. Pertanyaan adalah bagaimanakah hubungan kerja sama tersebut sehingga
bermanfaat bagi kesejahteraan bersama.
Peta Konsep

Hubungan Struktural
Pemerintah Pusat dan
Daerah

Hubungan Hubungan Fungsional


Pemerintah Pusat Pemerintah Pusat dan
dan Daerah Daerah

Otonomi Daerah

Setelah siswa membaca dan memahami bab ini diharapkan siswa mampu:

 Memahami hubungan structural dan fungsional pemerintahan pusat dan daerah menurut Undang
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
 Menyaji hasil telaah hubungan struktural dan fungsional pemerintahan pusat dan daerah
menurut Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Karakter yang dikembangkan:


Taat aturan
Tertib
Mengutamakan kepentingan umum
Kritis
Kooperatif
Saling menghargai.

Kata Kunci:
Struktural, fungsional, sentralisasi, desentralisasi, otonomi daerah, dekonsentralisasi, daerah
istimewa, daerah khusus, nagari, dukuh, banjar, reformasi.

89
A Hubungan Struktural

(Sumber: forumkeadilan.com)

Pelantikan Gubernur oleh


Menteri Dalam Negeri
sebagai simbol hubungan
struktural antara pemerintah
pusat dengan pemerintah
daerah.

Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah berbentuk kesatuan di pihak lain ditampung
kemajemukan bangsa sesuai dengan sasanti Bhinneka Tunggal Ika. Pemerintah Daerah di dalam
perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dilatarbelakangi oleh
kehendak untuk menampung semangat otonomi daerah dalam memperjuangkan kesejahteraan
masyarakat daerah. Hal itu dilakukan setelah belajar dari praktik ketatanegaraan pada era sebelumnya
yang cenderung sentralistis, adanya penyeragaman sistem pemerintahan seperti dalam Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang
Pemerintahan Desa, serta mengabaikan kepentingan daerah. Akibat kebijakan yang cenderung
sentralistis itu, Pemerintah Pusat menjadi sangat dominan dalam mengatur dan mengendalikan daerah
sehingga daerah diperlakukan sebagai objek, bukan sebagai subjek yang mengatur dan mengurus
daerahnya sendiri sesuai dengan potensi dan kondisi objektif yang dimilikinya.

Perubahan Pasal 18 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjadi dasar hukum
bagi pelaksanaan otonomi daerah yang dalam era reformasi menjadi salah satu agenda nasional. Melalui
penerapan tentang Pemerintahan Daerah diharapkan lebih mempercepat terwujudnya kemajuan daerah
dan kesejahteraan rakyat di daerah, serta meningkatkan kualitas demokrasi di daerah. Semua ketentuan
itu dirumuskan tetap, dalam kerangka menjamin dan memperkuat NKRI, sehingga dirumuskan

90
hubungan kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dengan memperhatikan
kekhususan dan keragaman daerah.

Dalam perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengatur
hubungan wewenang pemerintah pusat dan pemerintahan daerah dalam satu pasal, yaitu Pasal 18A
ayat (1) dan ayat (2) dengan rumusan bahwa hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan peme-
rintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota, atau antara provinsi dan kabupaten dan kota, diatur
dengan undang-undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.

Daerah dalam mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya berlandaskan atau mengacu
pada bahwa:

(1) Presiden memegang kekuasaan pemerintahan.

(2) Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya
antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras
berdasarkan undang-undang.

Ketentuan hubungan ini dimaksudkan agar penyelenggaraan pemerintahan daerah tetap menjamin
adanya prinsip keadilan dan keselarasan. Sementara itu, hal-hal yang menyangkut keuangan, termasuk
yang menyangkut hak-hak daerah. Demikian pula halnya dengan urusan pelayanan umum, pemanfaatan
sumber daya alam dan sumber daya lainnya juga ditata agar daerah mendapatkan bagian secara
proporsional. Seiring dengan itu, juga menjamin sejumlah kewajiban untuk memperhatikan daerah lain
bagi yang memiliki sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berbeda atau daerah lain yang
tidak memilikinya.

Ditinjau dari sudut hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat dilihat dari
Adanya hubungan dalam penyelenggaraan pemerintahan, Kebijakan desentralisasi dimaksudkan untuk
memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam
ikatan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahwa tanggung jawab akhir dari penyelenggaraan
urusan-urusan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah adalah menjadi tanggung jawab Pemerintah
Nasional (Pusat) karena dampak akhir dari penyelenggaraan urusan tersebut akan menjadi tanggung
jawab negara. Peran Pusat dalam kerangka otonomi Daerah akan banyak bersifat menentukan kebijakan
makro, melakukan supervisi, monitoring, evaluasi, kontrol dan pemberdayaan agar Daerah dapat
menjalankan otonominya secara optimal. Sedangkan peran daerah akan lebih banyak pada tataran
pelaksanaan otonomi tersebut. Dalam melaksanakan otonominya Daerah berwenang membuat kebijakan
Daerah. Kebijakan yang diambil Daerah adalah dalam batas-batas otonomi yang diserahkan kepadanya

89
dan tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundangan yang lebih tinggi yaitu norma, standard dan
prosedur yang ditentukan Pusat.

Pemerintahan daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan memiliki hubungan dengan


pemerintah pusat dan dengan pemerintahan daerah lainnya. Hubungan tersebut meliputi:

1. Hubungan wewenang

2. Keuangan

3. Pelayanan umum

4. Pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya.

Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam, dan sumber daya lainnya
dilaksanakan secara adil dan selaras. Hubungan wewenang, keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan
sumber daya alam dan sumber daya lainnya menimbulkan hubungan administrasi dan kewilayahan antar
susunan pemerintahan.

Dalam hubungan strukrural antara pemerintah pusat dan daerah dilaksanakan oleh lembaga-lembaga negara
ditingkat pusat dan pada tingkat daerah seperti terlihat dalam bagan berikut ini:

90
LEMBAGA-LEMBAGA DALAM SISTEM KETATANEGARAAN
menurut UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945

PUSAT
UUD 1945

BPK Presiden DPR MPR DPD MA MK


kpu bank
sentral
kementerian
negara
badan-badan lain KY
yang fungsinya
dewan berkaitan dengan
pertimbangan
kekuasaan
TNI/POLRI kehakiman

Perwakilan Pemerintahan Daerah Lingkungan


BPK Provinsi Provinsi
Peradilan Umum
Gubernur DPRD
Lingkungan
Peradilan Agama
Lingkungan
Peradilan Militer
Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota Lingkungan
Bupati/ Peradilan TUN
DPRD
Walikota

DAERAH

Secara struktural hubungan antara pemerintah pusat dan daerah dilaksanakan berdasarkan asas
dekonsentrasi dimana pemerintah tingkat pusat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada instansi
atau lembaga pada tingkat daerah yang selanjutkan pemerintah pada tingkat daerah
mempertanggungjawabkan tugas dan kewenangan tersebut kepada pemerintah pusat. Kewenangan yang
menjadi tanggung jawab pemerintah pusat tetapi secara struktural tugas dan kewenangannya ada didaerah
antara lain seperti :

1. Politik luar negeri; mengangkat pejabat diplomatik dan menunjuk warga negara untuk
duduk dalam jabatan lembaga internasional, menetapkan kebijakan luar negeri,

91
melakukan perjanjian dengan negara lain, menetapkan kebijakan perdagangan luar
negeri, dan sebagainya
2. Pengadilan/yustisi; kekuasaan kehakiman berada pada lembaga negara Mahkamah Agung,
Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial. Lembaga kehakiman tersebut ada pada tingkat
daerah, khususnya yang bertanggung jawab secara strukturan kepada Mahkamah Agung yaitu
Pengadilan tingkat pertama (Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Pengadilan Tata Usaha
Negara, Pengadilan Niaga dll) semua berada pada tingkat kabupaten/kota. Sedangkan Pengadilan
Tinggi atau pengadilan tingkat banding berada pada tingkat propinsi.
3. Moneter dan keuangan ; bank sentral sebagai suatu lembaga yang sangat penting dalam suatu
negara yang mengatur dan melaksanakan fungsi kebijakan moneter. Untuk melaksanakan
tugasnya Bank Sentral memiliki kantor di Propinsi. Badan Pemeriksa Keuangan yang bertugas
memeriksa anggaran pendapat belanja Negara dan APBD maka kedudukannya di ibu kota
negara, dan memiliki perwakilan di setiap provinsi.

4. Pertahanan , Tentara Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan
Angkatan Udara sebagai alat negara bertugas mempertahankan, melindungi, dan memelihara
keutuhan dan kedaulatan negara.Untuk melaksanakan tugasnya TNI memiliki hubungan
structural di daerah, seperti Komando Daerah Militer (Kodam) pada tingkat daerah propinsi dan
Komando Distrik Militer(Kodim) pada tingkat kabupaten/kota.

5. Keamanan, Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan
dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta
menegakkan hukum.Untuk melaksanakan tugasnya kepolisian memilik hubungan structural
pada tingkat daerah baik propinsi atau kapubaten, yaitu Kepolisian Daerah Polda (Polda) di
setiap Propinsi, Kepolisian Resimen (Polres)disetiap kabupaten/kota dan pada tingkat
kecamatan disebut Kepolisian Sektor (Polsek)

6. Agama, Urusan agama menjadi kewenangan pemerintah pusat, namun semua urusannya
dilakasnakan pada tingkat propinsi disebut Kanwil Kementerian Agama, pada tingkat
kabupaten/kota Kandepag.
Kewenangan tersebut diatas merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawan pemerintah pusat, tetapi
secara struktural dilaksanakan pada tingkat daerah. Namun juga kewenangan pemerintah pusat dan daerah
dalam suatu urusan dibagi menurut asas desentralisasi dan sebagian lagi masih menjadi kewenangan
pemerintah pusat, contohnya dalam urusan pendidikan, pemerintah pusat berwenang menetapkan
kurikulum (seperti kurikulum 2013) bagaimana melaksanakan kurikulum tersebut diperlukan pra sarana

92
dan sarana, maka pemerintah daerah melaksanakan persiapan sarananya, seperti gedung sekolah, guru-
guru, media belajarnya. Disini akan terlihat hubungan antara pemerintah pusat dan daerah sangat terkait,
keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh bagaimana kurikulum dan standar mutu juga ditentukan
bagaimana pemerintahan menyediakan pelayanan dalam bidang sarana dan pra sarana. Lembaga negara
yang menjalankan kekuasaan pada tingkat pemerintah pusat seperti pada bagan dibawah ini.

Lembaga-lembaga Negara yang memegang kekuasaan menurut UUD

DPR Presiden MA MK

Pasal 24 (1)***
Pasal 4 (1) Kekuasaan kehakiman
Pasal 20 (1)*
Memegang merupakan kekuasaan
Memegang kekuasaan yang merdeka untuk
kekuasaan pemerintahan menyelenggarakan
membentuk UU
peradilan guna menegakkan
hukum dan keadilan

Dewan Perwakilan Daerah (DPD)


Hubungan antara pemerintah pusat dengan daerah akan terlihat lebih jelas dengan peranan yang dilakukan
oleh Dewan Perwakilan Daerah. Dalam UUD 1945 perubahan dapat dilihat kedudukan dan fungsi DPD,
yaitu:

(1) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan umum.

(2) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi jumlahnya sama dan jumlah seluruh
anggota Dewan Perwakilan Daerah itu tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota Dewan
Perwakilan Rakyat.

(3) Dewan Perwakilan Daerah bersidang sedikitnya sekali dalam setahun.

(4) Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat rancangan
undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah,
pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan
sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan

93
daerah.

(5) Dewan Perwakilan Daerah ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan
otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah; pembentukan, pemekaran, dan penggabungan
daerah; pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan
keuangan pusat dan daerah; serta memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan
Rakyat atas rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara dan
rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama.

(3) Dewan Perwakilan Daerah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang
mengenai: otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan
pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya,
pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama serta
menyampaikan hasil pengawasannya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai bahan
pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 melahirkan sebuah lembaga
baru dalam struktur ketatanegaraan Indonesia, yakni Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Dengan
kehadiran DPD tersebut, dalam sistem perwakilan Indonesia, DPR didukung dan diperkuat oleh DPD.
DPR merupakan lembaga perwakilan berdasarkan aspirasi dan paham politik rakyat sebagai pemegang
kedaulatan, sedangkan DPD merupakan lembaga perwakilan penyalur keanekaragaman aspirasi daerah.
Keberadaan lembaga DPD merupakan upaya menampung prinsip perwakilan daerah.

Sistem perwakilan yang dianut Indonesia merupakan sistem yang khas Indonesia karena dibentuk sebagai
perwujudan kebutuhan, kepentingan, serta tantangan bangsa dan negara Indonesia.

Ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mengatur keberadaan
DPD dalam struktur ketatanegaraan Indonesia itu antara lain dimaksudkan untuk

1. memperkuat ikatan daerah-daerah dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mem-
perteguh persatuan kebangsaan seluruh daerah;

2. meningkatkan agregasi dan akomodasi aspirasi dan kepentingan daerah-daerah dalam


perumusan kebijakan nasional berkaitan dengan negara dan daerah;

3. mendorong percepatan demokrasi, pembangunan dan kemajuan daerah secara serasi dan
seimbang.

94
Dengan demikian, keberadaan daerah berjalan sesuai dengan keberagaman daerah dalam rangka
kemajuan bangsa dan negara.

DPD memiliki fungsi yang terbatas di bidang legislasi, anggaran, pengawasan, dan pertimbangan. Fungsi
DPD berkaitan erat dengan sistem saling mengawasi dan saling mengimbangi dalam sistem
ketatanegaraan Indonesia, yaitu

(1) dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat rancangan undang-undang yang berkaitan
dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya,
serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah;

(2) ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah; hubungan
pusat dan daerah; pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah; pengelolaan sumber
daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah;
serta memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-
undang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang
berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama;

(3) dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai: otonomi daerah,
pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah,
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama serta menyampaikan hasil
pengawasannya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai bahan pertimbangan untuk
ditindaklanjuti.

Pemantauan pelaksanaan otonomi bagi daerah otonomi dibentuklah Dewan Pertimbangan Otonomi
Daerah (ketuanya Menteri Dalam Negeri) dengan tugasnya adalah memberikan pertimbangan kepada
Presiden mengenai:

1. Pembentukan, penghapusan, penggabungan dan pemekaran daerah.


2. Perimbangan keuangan pusat dan daerah,
3. Kemampuan daerah kabupaten dan kota untuk melaksanakan kewenangan tertentu.

95
Atas pertimbangan dari Dewan Otonomi Daerah dengan berbagai pertimbangan semenjak tahun 2009
presiden menghentikan proses pemekaran daerah baru dengan berbagai pertimbangan, seperti kurang
memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh undang-undang.

Pendalaman Materi:
Jawablah pertanyaan berikut ini!
1. Sebutkanlah undang-undang yang mengatur pemerintah daerah di masa Orde Baru dan
apakah kelemaahannya?
2. Apakah dasar atau prinsip hubungan pemerintah pusat dan daerah setelah perubahan
UUD 1945?
3. Sebutkanlah bentuk-bentuk hubungan antara pemerintah pusat dengan daerah?
4. Sebutkanlah tugas dan wewenang pemerintah pusat yang ada di daerah?
5. Sebutkanlah fungsi Dewan Perwakilan Daerah?

B Hubungan Fungsional

(Sumber: Kemendagri.com)
(sumber: waspada.co.id)

Perhatikanlah gambar di atas, yang sebelah kri Presden melantik pada menteri sebagai pembantunya yang
pemerintahan pada tingkat pusat, disamping kanan kepala daerah juga melantik kepala-kepala dinas
dalam rangka melaksanakan tugas-tugas yang menjadi urusan pemerintah daerah. Masing-masing
pemerintahan melaksanakan fungsinya masing-masing menurut tanggung jawab yang telah ditetapkan
oleh peraturan perundang-undang.

96
Hubungan fungsinal dalam konteks penyelenggaraan program pemerintah. Secara harfiah hubungan
fungsional adalah adanya hubungan atau bagian dari komunikasi karena faktor proses , sebab akibat
atau karena kepentingan yang sama, faktor proses misalnya dari pengolah bahan baku ke bahan
setengah jadi baru ke produk , bisa saja terjadi karena faktor sebab akibat misalnya air laut menguap
yang terkena matahari kemudian menimbulkan awan dan hujan atau karena faktor kepentingan atau
urusan.

hubungan pemerintah pusat dan daerah atas dasar otonomi teritorial, dimana otonomi teritorial
merupakan konsep dalam negara kesatuan. Satuan otonomi teritorial merupakan suatu satuan mandiri
dalam lingkungan negara kesatuan yang berhak melakukan tindakan hukum sebagai subjek hukum
untuk mengatur dan mengurus fungsi pemerintahan (administrasi negara) yang menjadi urusan rumah
tangganya. Jadi, hubungan pusat dan daerah atas dasar otonomi teritorial memiliki kesamaan dengan
hubungan pusat dan daerah atas dasar federal yaitu hubungan antara dua subjek hukum yang masing-
masing berdiri sendiri. Perbedaannya, dalam otonomi teritorial, pada dasarnya seluruh fungsi
kenegaraan dan pemerintahan ada dalam lingkungan pemerintah pusat yang kemudian dipencarkan
kepada satuan-satuan otonomi. Pemencaran ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

1) Undang-undang menetapkan secara tegas berbagai fungsi pemerintahan (administrasi


negara) sebagai urusan rumah tangga daerah.
2) Pusat dari waktu ke waktu menyerahkan berbagai urusan baru kepada satuan otonomi.
3) Pusat mengakui urusan-urusan pemerintahan tertentu yang “diciptakan” atau yang
kemudian diatur dan diurus satuan otonomi.
4) Membiarkan suatu urusan yang secara tradisional atau sejak semula dikenali sebagai
fungsi pemerintahan yang diatur dan diurus satuan satuan otonomi.

Pembagian Urusan Pemerintahan

Sejarah ketatanegaraan RI memasuki babak baru setelah era reformasi yaitu dengan pelaksanaan
otonomi daerah berdasarkan UU No. 22 tahun 1999. Dalam undang-undang tersebut telah terpenuhi
sendi-sendi otonomi, yaitu: pembagian kekuasaan (sharing of power), pembagian pendapatan
(distribution of income) dan kemandirian administrasi pemerintah daerah (emporing). Undang-undang
tersebut kemudian diperbaharui dengan UU No. 32 tahun 2004. Sementara berkaitan dengan
perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, lahir UU No. 25 tahun 1999 yang kemudian

89
telah dirubah dengan UU No. 33 tahun 2004, UU tersebut juga mengatur tentang pembiayaan
pembangunan daerah yang bersumber dari pendapatan anggaran daerah, dana perimbangan dan
pendapatan lain-lain.
Konsep dasar hubungan pemerintahan pusat dengan secara fungsional menurut UU No. 22/1999
tentang Pemerintahan Daserah adalah:

1) Membesarkan kewenangan dan tanggung jawab daerah otonom.


2) Keleluasaan daerah untuk mengatur / mengurus kewenangan semua bidang pemerintahan kecuali
enam kewenangan.
3) Kewenangan yang utuh dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian.
4) Pemberdayaan masyarakat, tumbuhnya prakarsa, inisiatif, meningkatnya peran masyarakat dan
legislatif.

Asas-asas Otonomi Daerah

1. Asas Sentralisasi adalah pemusatan seluruh penyelenggaraan pemerintah Negara dengan


pemerintah pusat.
2. Asas Desentralisasi adalah segala pelimpahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah.
3. Asas Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah gubernur sebagai wakil
pemerintah dan perangkat pusat di daerah.
4. Asas Pembantuan adalah asas yang menyatakan turut serta dalam pelaksanaan urusan pemerintah
yang ditugaskan kepada pemerintah daerah dengan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan
kepada yang memberi tugas.

Pembagian Kewenangan (UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah)

a. Kewenangan Pemerintah (ps 10 ayat (3)) :


1) politik luar negeri;
2) pertahanan;
3) keamanan;
4) yustisi;
5) moneter dan fiskal nasional; dan
6) agama
b. Kewenangan Wajib Pemerintah Daerah Provinsi (ps 13)
1) perencanaan dan pengendalian pembangunanan
2) perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
3) penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;
4) penyediaan sarana dan prasarana umum;

90
5) penanganan bidang kesehatan;
6) penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya masusia potensial;
7) penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota;
8) pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota;
9) fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah termasuk lintas
kabupaten/kota;
10) pengendalian lingkungan hidup;
11) pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota;
12) pelayanan kependudukan, dan pencatatan sipil;
13) pelayanan administrasi umum pemerintahan;
14) pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/ kota;
15) penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh
kabupaten/kota; dan
16) urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.
c. Kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota (pada dasar-nya sama namun dalam
skala kabupaten/kota, ps 14) :
1) perencanaan dan pengendalian pembangunanan;
2) perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
3) penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;
4) penyediaan sarana dan prasarana umum;
5) penanganan bidang kesehatan;
6) penyelenggaraan pendidikan;
7) penanggulangan masalah sosial;
8) pelayanan bidang ketenagakerjaan;
9) fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah;
10) pengendalian lingkungan hidup;
11) pelayanan pertanahan;
12) pelayanan kependudukan, dan pencatatan sipil;
13) pelayanan administrasi umum pemerintahan;
14) pelayanan administrasi penanaman modal;
15) penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan
16) urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.

91
d. Kewenangan Pemerintah Daerah untuk mengelola sumber daya alam dan sumber daya
lainnya di wilayah laut meliputi (ps 18):
1) eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan laut;
2) pengaturan administrasi;
3) pengaturan tata ruang;
4) penegakan hukum terhadap peraturn yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahklan
kewenganannya oleh Pemerintah;
5) ikut serta pemeliharaan keamanan; dan
6) ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara.
Sedangkan batas wilayahnya adalah paling jauh 12 mil laut diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan
1/3 nya menjadi keweangan daerah ka-bupaten/kota.

Segala urusan yang menjadi tanggung pemerintah daerah dilaksanakan oleh pemerintah daerah yaitu
Gubernur/Kepala Daerah Tk I bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tk I dan Bupati/Walikota
bersama DPRD Tk II. Seperti dalam bagan dibawah ini.

PEMERINTAHAN DAERAH
Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi
atas daerah-daerah provinsi dan daerah
provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota,
yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu
mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur
dengan undang-undang
[Pasal 18 (1)**]

Gubernur,
Bupati, PEMERINTAHAN DAERAH anggota
DPRD dipilih
Walikota KEPALA PEMERINTAH
DPRD melalui
dipilih secara DAERAH
pemilu
demokratis mengatur dan mengurus sendiri urusan [Pasal 18 (3) **]
[Pasal 18 (4)**] pemerintahan menurut asas otonomi dan
tugas pembantuan [Pasal 18 (2)**]
menjalankan otonomi seluas-luasnya,
kecuali urusan pemerintahan yang oleh
UU ditentukan sebagai urusan
Pemerintah Pusat [Pasal 18 (5) **]
berhak menetapkan peraturan daerah
dan peraturan-peraturan lain untuk
melaksanakan otonomi dan
tugas pembantuan [Pasal 18 (6)**]

92
Keuangan Daerah

Pelaksanaan otonomi daerah yang dimulai tahun 2001 menimbulkan reaksi berbeda-beda bagi daerah.
Pemerintah daerah yang memiliki sumber daya alam yang besar menyambut dengan senang dan penuh
harapan, tetapi daerah yang miskin sumber daya alam menimbulkan sedikit kekhawatiran, karena sumber
daya alam akan berhubungan dengan penerimaan pendapatan daerah. Daerah otonom dituntut untuk
mencari alternative sumber pembiayaan pembangunan tanpa mengurangi harapan masih adanya bantuan
pemerintah pusat. Dalam kondisi seperti ini peranan investasi swasta dan perusahaan milik daerah sangat
diharapkan, disamping menarik investasi asing. Namun demikian keberhasilan otonomi daerah tidak
selalu ditentukan oleh sumber keuangan yang banyak, melainkan ditentukan oleh kinerja pemerintah yang
dapat dilihat dari berbagai indikator , yaitu:

1. Perbandingan antara anggaran dan realisasinya.


2. Perbandingan antara standar biaya dengan realisasinya.
3. Target dan presentase fisik proyek.
4. Standar pelayanan yang diharapkan.
Pendapatan asli daerah (PAD) adalah semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli
daerah, meliputi: pajak daerah, retribusi daerah, hasil badan usaha milik daerah dan hasil pengelolaan
kekayaan daerah dan lain-lain PAD yang sah.
Pelaksanaan otonomi daerah harus disertai dengan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan
daerah, agar otonomi tersebut dapat membawa kemandirian dan kemajuan untuk kemakmuran rakyat
sesuai dengan UU No. 25 tahun 1999. Lihatlah tabel-tabel berikut ini.

93
Dana Bagi Hasil Antara Pemerintah Pusat,Propinsi dan Kabupaten/ Kota
( UU no 25 Tahun 1999 )

BAGI HASIL PEMERINTAHAN PEMERINTAHAN PROPINSI PEMERINTAHAN


PUSAT KABUPATEN/ KOTA

PAJAK BUMI DAN PBB 10 % PBB 90 %


BANGUNAN BPHTB 20 % BPHTB 80 %

KEHUTANAN HPH 20 % HPH 16 % HPH 64 %


PROV HSL HUTAN PROV HSL HUTAN PROV HSL HUTAN
20 % 16 % 64 %
PERTAMBANGAN land Rent 20 % land Rent 16 % land Rent 64 %
Explor, Exploi 20 % Explor, Exploi 16% Explor, Exploi 64 %

PERIKANAN 20 % - 80 %

TAMBANG MINYAK Minyak Bumi 85 % Minyak Bumi 3 % Minyak Bumi 12 %


GAS ALAM
Gas Alam 70 % Gas Alam 6% Gas Alam 24 %

Pendalaman Materi
Jawablah pertanyaan berikut:

1. Apakah hubungan fungsional antara pemerintah pusat dengan daerah menurut UUD 1945?
2. Sebutkanlah 3 contoh pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah menurut
UU No. 32 tahun 2004?
3. Lembaga apakah yang terlibat sebagai pemerintah daerah menurut UUD 1945?
4. Apakah reaksi daerah daerah dengan adanya pemberian otonomi dilihat dari segi sumber
keuangan daerah?
5. Sebutkanlahprosentase bagi hasil keuangan antara pemerintah pusat, provinsi dan
kabupaten/kota?

89
C Otonomi Daerah

(Sumber: ngawikab.go.id)

Lahirnya otonomi bagi daerah-daerah seluruh Indonesia adalah setelah reformasi tahun 1999. Berbagai
alasan munculnya otonomi bagi daerah antara lain, ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah,
kemiskinan dan keterbelakangan daerah, akibatnya banyak penduduk melakukan urbanisasi ke pusat yaitu
Jakarta. Daerah-daerah sangat pasif, pemerintah tidak efektif, kekayaan negara semua ditarik ke
pemerintah pusat kemudian pendistribusiaan dalam pembangunan kurang efektif. Inilah sebagai penyebab
gerakan reformasi yang salah satu tuntutannya adalah daerah di beri otonomi agar daerah juga
bertanggung jawab untuk mensejahterakan rakyat di daerah-daerah.

Otonomi Daerah Menurut Perubahan UUD 1945


Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi
atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan
daerah, yang diatur dengan undang-undang.
Prinsip otonomi daerah menurut UUD 1945 adalah:

1. Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
2. Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota memiliki Dewan Perwakilan

89
Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.
3. Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah
provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis.
4. Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan
yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat.
5. Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain
untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.
6. Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-
undang.
Dalam ketentuan itu, antara lain, ditegaskan bahwa pemerintah daerah (baik provinsi, kabupaten,
maupun kota) mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan. Penegasan ini menjadi dasar hukum bagi seluruh pemerintahan daerah untuk dapat men-
jalankan roda pemerintahan (termasuk menetapkan peraturan daerah dan peraturan lainnya) secara
lebih leluasa dan bebas serta sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan karakteristik daerahnya masing-
masing, kecuali untuk urusan pemerintahan yang dinyatakan oleh undang-undang sebagai urusan peme-
rintah pusat.

Mengenai asas dekonsentrasi tidak diatur dalam bab yang memuat ketentuan tentang pemerintahan
daerah ini. Tugas dekonsentrasi adalah bagian dari tugas pemerintahan negara yang berkaitan dengan
Bab III tentang Kekuasaan Pemerintahan Negara. Namun, meskipun daerah diberi hak untuk
membentuk peraturan daerah dan peraturan lain dalam rangka melaksanakan otonomi daerah [ayat (6)
di atas], itu bukan berarti bahwa daerah boleh membuat peraturan yang bertentangan dengan prinsip
negara kesatuan. Hal itu menjadi penting karena Pemerintahan Daerah dalam menjalankan otonomi
seluas-luasnya, kecuali menyangkut urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai
urusan Pemerintah Pusat, daerah dalam melaksanakan urusan pemerintahan itu juga harus
memperhatikan hubungan wewenang antarpemerintahan yang diatur dengan undang-undang. Untuk
itu hak pemerintahan daerah tersebut sangat berkaitan erat dengan ketentuan Pasal 4 ayat (1) dalam
menjalankan urusan pemerintahan dan Pasal 33 serta Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 dalam menjalankan perekonomian dan kesejahteraan sosial.

Selain itu tercantum pula ketentuan bahwa pemerintahan daerah memiliki DPRD yang anggotanya
dipilih melalui pemilihan umum. Ketentuan ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mewujudkan
demokratisasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang DPRD-nya berwenang dalam menetapkan

90
peraturan daerah dan APBD bersama-sama dengan pemerintah daerah, serta mengawasi
penyelenggaraan pemerintah daerah. Dalam pasal ini juga dimuat ketentuan bahwa kepala
pemerintah daerah dipilih secara demokratis. Ketentuan itu mengandung arti bahwa pemilihan itu harus
dilakukan dengan cara yang demokratis, yang menjamin prinsip kedaulatan rakyat, seperti dipilih secara
langsung atau cara lain sesuai dengan keistimewaan atau kekhususan daerah yang diatur dengan
undang-undang, tetapi tetap kedaulatan ada di tangan rakyat.

Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau
bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. Ketentuan ini mendukung keberadaan berbagai
satuan pemerintahan yang bersifat khusus atau istimewa (baik provinsi, kabupaten dan kota, maupun
desa). Contoh satuan pemerintahan bersifat khusus adalah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta; contoh
satuan pemerintahan bersifat istimewa adalah Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta dan Daerah Istimewa
(DI) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak
tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip
Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang. Satuan pemerintahan di
tingkat desa seperti gampong (di NAD), nagari (di Sumatera Barat), dukuh (di Jawa), desa dan banjar (di
Bali) serta berbagai kelompok masyarakat di berbagai daerah hidup berdasarkan adat dengan hak-
haknya seperti hak ulayat, tetapi dengan satu syarat bahwa kelompok masyarakat hukum adat itu
benar-benar ada dan hidup, bukan dipaksa-paksakan ada; bukan dihidup-hidupkan. Oleh karena itu
dalam pelaksanaannya, kelompok itu harus diatur lebih lanjut dalam peraturan daerah yang ditetapkan
oleh DPRD. Selain itu, penetapan itu tentu saja dengan suatu pembatasan, yaitu tidak boleh
bertentangan dengan prinsip-prinsip negara kesatuan.

Makna Otonomi Daerah

Landasan konstitusional pemerintah adalah UUD 1945 pasal 18 (2) : Pemerintah daerah provinsi,
daerah kabupaten dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi
dan tugas perbantuan. Pasal 18 (5) : Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali
urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat.
Otonomi adalah pemberian kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk
secara mandiri berdaya membuat keputusan mengenai kepentingan sendiri berkaitan dengan urusan

91
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan atau
hak dan kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku (UU No. 32 tahun 2004).
Daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu, yang
berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (UU No. 32
tahun 2004).

Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia berdasarkan kepada otonomi luas, nyata dan bertanggung
jawab. Adapun tujuan pemberian otonomi daerah adalah sebagai berikut :

1. Peningkatan pelayanan masyarakat yang semakin baik.


2. Pengembangan kehidupan demokrasi.
3. Keadilan.
4. Pemerataan.
5. Pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar daerah dalam rangka
keutuhan NKRI.
6. Mendorong untuk memberdayakan masyarakat.
7. Menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas, meningkatkan peran serta masyarakat, mengembangkan
peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Otonomi luas adalah kekuasaan daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup
kewenanganan semua bidang pemerintahan, kecuali kewenangan pada bidang-bidang tertentu yang masih
ditangani oleh pemerintah pusat. Kewenangan yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat meliputi
beberapa bidang antara lain seperti :
1. Politik/Hubungan luar negeri ;
2. Pengadilan/yustisi;
3. Moneter dan keuangan ;
4. Pertahanan
5. Keamanan
6. Agama
Otonomi yang nyata adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan kewenangan
pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada diperlukan serta tumbuh, hidup dan berkembang di
daerah.

92
Penyelenggaraan negara secara garis besar diselenggarakan dengan dua sistem yakni sistem
sentralisasi dan sistem desentralisasi. Sistem sentralisasi adalah jika urusan yang bersangkutan dengan
aspek kehidupan dikelola di tingkat pusat. Pada hakekatnya sifat sentralistik itu merupakan konsekuensi
dari sifat negara kesatuan.
Dalam perkembangan selanjutnya nampaknya desentralisasi merupakan pilihan yang dianggap
terbaik untuk menyelenggarakan pemerintahan, meskipun implementasinya di beberapa negara, terutama
di negara ketiga masih banyak mendapat ganjalan struktural, sehingga penyelenggaraan desentralisasi
politik masih setengah hati.
Sistem desentralisasi adalah sistem di mana sebagian urusan pemerintahan diserahkan kepada
daerah untuk menjadi urusan rumah tangganya. Dengan demikian daerah bertanggung jawab sepenuhnya
pengelolaan baik dari aspek perencanaan, peralatan dan pembiayaan maupun personil dan lain-lainnya.

Otonomi Daerah dan Implementasinya


Sesuai dengan UU No. 32 tahun 2004, pemerintah daerah dalam era otonomi diberi kesempatan untuk
membuat dan mengembangkan kebijakannya sendiri sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerahnya
masing-masing. Pada prinsipnya otonomi daerah merupakan sarana untuk menjawab tiga persoalan
mendasar dalam tatanan pemerintahan dan pelayanan terhadap publik , yaitu:
1. Otonomi daerah merupakan upaya untuk mendekatkan pemerintah kepada rakyat.
2. Melalui otonomi daerah dapat tercipta akuntabilitas/tanggungjawab yang terjaga dengan baik.
3. Kesempakan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dan ikut serta bertanggung jawab dalam
pengambilan kebijakan di tingkat lokal.
Dalam aspek ekonomi, implementasi otonomi daerah bertujuan untuk memberdayakan kapasitas
daerah untuk mengembangkan dan meningkatkan perekonomiaannya. Otonomi daerah membuka
kesempatan seluas-luasnya kepada pemerintah lokal untuk membuat kebijakan ekonomi sesuai dengan
kepentingan daerahnya, misalnya dengan membuat regulasi yang sederhana dan tidak berbelit-belit terkait
dengan kepentingan masyarakat baik dari dalam maupun luar negeri untuk berinvestasi di daerah
sehingga roda perekonomian bisa berjalan dengan baik. Peningkatan investasi akan mendorong laju
pertumbuhan ekonomi kea arah yang lebih baik yang pada gilirannya berdampak luas kepada penyerapan
tenaga kerja di tingkat lokal. Dengan demikian, Peningkatan perekonomian daerah berdampak kepada
peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah, juga diharapkan memberi pelayanan maksimal kepada para
pelaku ekonomi di daerah, baik lokal, nasional, regional maupun global.
Dalam aspek sosial budaya, implementasi otonomi daerah merupakan apresiasi terhadap
keanegaragaman daerah, baik suku bangsa, agama, nilai-nilai sosial dan budaya serta potensi lainnya yang

93
terkandung di daerah. Namun, masalah pengelolaan lingkungan hidup harus mendapat perhatian dalam
pelaksanaan otonomi daerah. Pemanfaatan sumberdaya alam seharusnya digunakan untuk kepentingan
pembangunan daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, akan tetapi pada
kenyataannya eksploitasi bahan tambang, pemanfaatkan sumber daya hutan (logging) telah berdampak
kepada ancaman kelestarian lingkungan, dalam hal ini perlu kewenangan pemerintah pusat terlibat baik
dalam bentuk regulasi dan permodalan dengan transfer APBN ke daerah daerah dalam bentuk dana
alokasi umum, dana alokasi khusus dan bagi hasil.

Instrumen Desentralisasi
Sebagaimana telah dikemukakan di muka desentralisasi tidak hanya sekedar desentralisasi administrasi,
tetapi juga terkait erat dengan kewenangan, untuk itu perlu instrumen-instrumen sebagai berikut:
a. Harus ada ruang selain institusi negara (bukan politik yang monolitik), artinya dalam
pelaksanaan desentralisasi dimungkinkan adanya ruang publik yang bebas yang memungkinkan
publik mengakses informasi, dan bebas membicarakan isu-isu yang menyangkut kepentingan
bersama yang dikenal dengan wacana publik seperti menyatakan pendapat, mengartikulasikan
kepentingan, melakukan protes, memilih pimpinan atau perwakilan rakyat. Dengan demikian
masyarakat mempunyai kemampuan mengakses kegiatan-kegiatan publik, mereka berhak
melakukan kegiatan secara merdeka di dalamnya, termasuk menyampaikan pendapat secara
lisan atau tulisan.
b. Harus memungkinkan lahirnya institusi non pemerintah (organisasi non pemerintah)
yang merdeka atau civil society. Civil society dipahami sebagai mengurangi dominasi
negara terhadap masyarakat. Pengurangan dominasi dimaksudkan dalam rangka
membangun kesetaraan hubungan antara masyarakat dan negara sehingga negara tidak
superior dan masyarakat inferior. Dengan demikian, desentralisasi menciptakan relasi
yang seimbang antara pemerintah (pusat) dengan masyarakat.

Pendalaman Materi:
Jawablah pertanyaan berikut ini:
1. Sebutkanlah prinsip-prinsip otonomi daerah menurut UUD 1945?
2. Bagaimana kedudukan DPRD dalam otonomi daerah?
3. Apakah arti pemerintahan daerah bersifat khusus dan istimewa?
4. Apakah tujuan pemberian otonomi kepada daerah?
5. Apakah arti otonomi sebagai pelayan publik?

94
6. Apakah yang dimaksud dengan desentralisasi kewenangan dalam otonomi
daerah?

D Rangkuman

1. Kebijakan desentralisasi dimaksudkan untuk memberikan kewenangan kepada daerah


untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan negara kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).
2. Secara struktural hubungan antara pemerintah pusat dan daerah dilaksanakan
berdasarkan asas dekonsentrasi dimana pemerintah tingkat pusat melimpahkan sebagian
kewenangannya kepada instansi atau lembaga pada tingkat daerah yang selanjutkan
pemerintah pada tingkat daerah mempertanggungjawabkan tugas dan kewenangan
tersebut kepada pemerintah pusat
3. Hubungan pemerintahan pusat dengan secara fungsional adalah membesarkan
kewenangan dan tanggung jawab daerah otonom, keleluasaan daerah untuk mengatur /
mengurus kewenangan semua bidang pemerintahan kecuali enam kewenangan,
Kewenangan yang utuh dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian
dan pemberdayaan masyarakat, tumbuhnya prakarsa, inisiatif, meningkatnya peran
masyarakat dan legislatif.
4. Otonomi daerah merupakan pemerintah daerah (baik provinsi, kabupaten, maupun kota)
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan.

Evaluasi

Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pernyataan berikut:

1. Pemerintah Pusat menjadi sangat dominan dalam mengatur dan mengendalikan daerah sehingga daerah
diperlakukan sebagai objek, Pernyataan ini sesuai dengan system…

1. Sentralisasi

95
2. Desentralisasi

3. Dekonsentrasi

4. Tugas perbantuan

5. Pemberian wewenang

2. Pemerintahan daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan memiliki hubungan dengan pemerintah
pusat dan dengan pemerintahan daerah lainnya. Berikut ini yang bukan merupakan Hubungan tersebut
adalah…

a. Perjanjian dengan Negara lain

b. Hubungan wewenang

c. Keuangan

d. Pelayanan umum

e. Pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya.

3. Kewenangan yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat tetapi secara struktural tugas dan
kewenangannya ada didaerah antara lain. Kecuali….
a. Sistem pertahanan dan keamanan

b. Kekuasaan kehakiman

c. Urusan agama dan kepercayaan

d. Urusan moneter dan fiskal

e. Urusan luar negeri

4. Pelimpahan wewenang dari pemerintah gubernur sebagai wakil pemerintah dan perangkat pusat di daerah.
Pernyataan ini adalah pengertian dari asas pemerintahan daerah, yaitu….
a. Sentralisasi

b. Desentralisasi

c. Dekonsentralisasi

d. Tugas perbantuan

e. Made bewind

5. Kedudukan Anggota Dewan Perwakilan Daerah adalah……

96
a. Berasal dari perwakilan provinsi melalui pemilihan umum

b. Berasal dari setiap kabupaten/kota dalam suatu provinsi

c. Berasal dari tokoh-tokoh masyarakat di suatu propinsi

d. Sebagai utusan daerah dan golongan-golongan

e. Merupakan tokoh-tokoh partai politik peserta pemilu

6. Pemantauan pelaksanaan otonomi bagi daerah otonomi dibentuklah Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah
(ketuanya Menteri Dalam Negeri) dengan tugasnya adalah memberikan pertimbangan kepada Presiden.
Berikut ini bukan merupakan tugas dari badan tersebut....
a. Pembentukan, penggabungan dan pemekaran daerah.
b. Penghapusan suatu daerah yang tidak mampu dalam otonomi
c. Perimbangan keuangan pusat dan daerah,
d. Kemampuan daerah kabupaten dan kota untuk melaksanakan kewenangan tertentu.
e. Pemilihan dan penganggakat dari kepala daerah

7. Berikut ini sumber-sumber Penerimaan Daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah ( PAD ), Kecuali…..:
a. Pajak

b. Retribusi

c. Keuntungan Perusahaan Daerah ( Perusda )

d. Pengelolaan Aset Daerah

e. Dana Perimbangan

8. Prosentase Provinsi Dalam pajak bumi dan bangunan (PBB) sebagai Dana Bagi Hasil Antara Pemerintah
Pusat,Propinsi dan Kabupaten/ Kota adalah ...
a. 10%

b. 20%

c. 40%

d. 70%

e. 90%

9. Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahannya menurut perubahan UUD 1945 adalah menurut…..
a. asas otonomi dan tugas pembantuan.

97
b. Asas sentralisasi dan desentralisasi

c. Asas perbantuan dan made bewind

d. Asas sentralisasi dan dekonsentrasi

e. Asas deregulerisasi dan debirokratisasi

10. Demokratisasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang DPRD-nya berwenang dalam menetapkan….
a. peraturan daerah dan APBD

b. pemekaran daerah baru

c. penggabungan suatu daerah baru

d. meminta pertanggungjawaban otonomi

e. membuat perjanjian dengan Negara lain

Jawablah pertanyaan berikut dilembaran kerja anda!

1. Apakah hubungan kekuasaan kehakiman antara pemerintah pusat dengan pemerintahan di


daerah?
2. Jelaskanlah hubungan struktural antara pemerintah pusat dan daerah?
3. Sebutkanlah lembaga negara pemerintah pusat dan lembaga pemerintah daerah?
4. Jelaskan asas-asas pemerintahan daerah ?
5. Sebutkanlah tiga fungsi dari Dewan Perwakilan daerah?
6. Apakah berbedaan antara Dewan Perwakilan Daerah dengan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah?

Carilah kasus penyimpangan pelaksanaan otonomi daerah dilihat dari UUD 1945,
Diskusikanlah!

Glosari
Otonomi daerah : kewenangan yang diberikan kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut aspirasi masyarakat untuk
meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap
masyarakat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

98
Desentralisasi adalah pelimpahan kekuasaan dan pembuatan keputusan secara meluas kepada tingkatan –
tingkatan yang lebih rendah.
Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada gubernur sebagai
wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.
Reformasi secara umum berarti perubahan terhadap suatu sistem yang telah ada pada suatu masa.
Daerah otonom adalah daerah di dalam suatu negara yang memiliki kekuasaan otonom, atau kebebasan
dari pemerintah di luar daerah tersebut. Biasanya suatu daerah diberi sistem ini karena keadaan
geografinya yang unik atau penduduknya merupakan minoritas negara tersebut, sehingga diperlukan
hukum-hukum yang khusus, yang hanya cocok diterapkan untuk daerah tersebut.

99