Anda di halaman 1dari 4

XII PEMASARAN

Cadangan bijih nikel di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali


memiliki kadar rata-rata 1.2% untuk limonit, 1.4% untuk transisi, dan 1.66% untuk
saprolit. Hasil penambangan ore nikel akan diolah hanya sebatas penyortiran yaitu
proses yang dilakukan untuk pemisahan bijih nikel berdasarkan kadarnya yang
telah tercampur aduk di stockpile sebelumnya. Jika stockpile yang sudah tercampur
aduk antara bijih nikel limonit, transisi, dan saprolit maka hal tersebut akan menjadi
masalah untuk pengolahan berikut nya (QC jenis kadar bijih yang masuk ke pabrik
pengolahan). Selain itu, dari sudut pandang ekonomis, harga bijih nikel limonit
berbeda dengan saprolit.
Hasil dari penyortiran bijih nikel akan menghasilkan tumpukan ore
berdasarkan kadarnya yang nantinya akan langsung dipasarkan ke pabrik
pengolahan. Pengiriman diangkut menggunakan dump truck dengan kapasitas 6 m3.

12.1. Bagan Alir Pemasaran


Alur pemasaran bijih nikel pada PT. GBM adalah sebagai berikut:

Produk (Nikel Ore)

Penyortiran Kadar

Pengangkutan

Pemasaran

Gambar 12.1 Bagan Alir Pemasaran

Berdasarkn bagan alir diatas maka dapat dijelaskan bahwa metode pemasaran
yang digunakan PT. GBM yaitu dengan memasok produk nikel ore yang telah
disortir berdasarkan kadar pada smelter yang dimiliki oleh pihak perusahan PT.
Sulawesi Mining Investment (SMI) Morowali, Sulawesi Tengah. Jumlah pasokan
nikel ore oleh PT. GBM kepada smelter PT. SMI Morowali didasarkan pada
kapasitas produksi smelter/ tahun yaitu sebesar 1.600.000 ton/tahun. Berdasarkan
kadar limonit, transisi dan saprolit masing- masing harga berbeda. Harga nikel ore
di Indonesia per tanggal 29 September 2017 adalah Rp 675.000/ton untuk kadar
1.66%. (Sumber: FeroAlloyNet.com). Sedangkan untuk kadar 1.4% ialah Rp.
572.727,27/ton dan 1.2% ialah Rp.490.909,09/ton. Harga nikel ore kadar 1.4 dan
1.2 dapat dihitung dengan cara :
1. Untuk kadar 1.4%
Kadar 1.66% = Rp. 675.000/ton
Kadar 1.4% =X
X = Rp.675.000/ton X 1.4%
1.66%
X = Rp. 572.727,27/ton
2. Untuk kadar 1.2%
Kadar 1.66% = Rp. 675.000/ton
Kadar 1.2% =X
X = Rp.675.000/ton X 1.2%
1.66%
X = Rp.490.909,09/ton

12.2. Prospek Pemasaran


Indonesia merupakan salah satu produsen utama bijih nikel dunia. Produksi
bijih nikel Indonesia memang mengalami pasang surut menyesuaikan dengan
perubahan regulasi yang ada. Puncak produksi nikel Indonesia terjadi pada tahun
2013, dimana Indonesia menjadi produsen bijih nikel terbesar nomor 2 di dunia
dengan 440.000 metrik ton nikel, hanya terpaut 6.000 metrik ton dari Filipina
yang berada di no 1.
Sumber daya nikel Indonesia diperkirakan mencapai 2.633 juta ton ore
dengan cadangan sebesar 577 juta ton ore yang tersebar di Sulawesi, Kalimantan,
Maluku dan Papua dengan kandungan unsur nikel rata-rata 1,45%. Sebagian dari
potensi sumber daya tersebut sudah ditambang dan diekspor dalam bentuk nikel
matte oleh PT. Vale Indonesia, ferronickel oleh PT Antam ataupun dalam bentuk
bijih nikel tanpa melalui proses pengolahan dan pemurnian yang dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan yang banyak bertumbuhan dalam dasawarsa terakhir.
Komoditi nikel dikelompokkan menjadi tiga, yaitu bijih nikel, feronikel dan nikel
kasar, hampir seluruhnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor (Kajian
Supply and Demand, ESDM).
Sebanyak 68% dari nikel yang diproduksi di dunia digunakan sebagai bahan
dalam pembuatan stainless steel (baja tahan karat). Sisanya digunakan untuk
pembuatan alloy (16%), plating (9%), baterei (3%), dll. Stainless steel sendiri
banyak digunakan untuk rangka bangunan, industri otomotif, industri berat dan
industri energi. Karena itu, supply and demand nikel akan sangat dipengaruhi oleh
kondisi perekonomian dunia. Saat pertumbuhan ekonomi meningkat, banyak
kegiatan konstruksi dan pembangunan, produksi otomotif meningkat, industri berat
berkembang, dan eksploitasi sumber energi serta pembangunan pembangkit listrik
juga bertambah. Ini tentu akan mengakibatkan kebutuhan stainless steel meningkat
dan ujungnya juga akan meningkatkan kebutuhan nikel.
Grafik harga nikel dunia dilihat mulai tahun 2010 sampai tahun ekarang
menunjukkan penurnan namun pada tahun 2014 harga komoditi nikel mulai
merangkak naik.

(Sumber: Sahamok.com)
Gambar 12.2 Grafik Harga Komoditi Nikel
Dengan melihat adanya peluang tersebut, PT. GBM selaku perusahaan yang
bergerak di bidang penambangan bijih nikel khususnya melakukan penambangan
dengan memperhatikan efektivitas dan efisiensi demi meningkatkan pendapatan
perusahaan.
Rencana obyek pemasaran bijih nikel oleh PT. GBM adalah:
1. Pemasaran Dalam Negeri
Pemasaran dalam negeri dilakukan dengan mengirimkan produk bijih nikel
dengan menggunakan truk menuju smelter atau tempat pengolahan milik PT. SMI
Morowali target produksi/tahun sebesar 188586.2 ton/tahun atau sebesar 776.0748
ton/hari.
2. Pemasaran Luar Negeri
PT. GBM hanya menjual produk bijih nikel di dalam daerah sehingga tidak
ada transaksi pemasaran untuk ke luar Negeri.