Anda di halaman 1dari 7

NUR SYAIFULLAH

10535406709

III F

ENGERTIAN AQIDAH TAUHID .1

‫سلَ َم أَي‬َ ‫علَيه َو‬ َ ‫صلَى‬


َ ُ‫ّللا‬ َ ‫ّللا‬ َ ‫سو َل‬ ُ ‫سأَلتُ َر‬ َ ‫ّللا بن َمسعُو ٍد قَا َل‬َ ‫عبد‬َ ‫عن‬َ
‫ّللا قَا َل أَن تَجعَ َل َلِل ندًّا َو ُه َو َخلَقَ َك قَا َل قُلتُ لَهُ إ َن ذَل َك‬ َ ‫الذَنب أَع‬
َ َ‫ظ ُم عند‬
‫لَعَظيم قَا َل قُلتُ ث ُ َم أَي قَا َل ث ُ َم أَن تَقت ُ َل َولَدَ َك َمخَافَةَ أَن يَطعَ َم َمعَ َك قَا َل قُلتُ ث ُ َم أَي‬
َ ‫قَا َل ث ُ َم أَن تُزَ ان‬
)‫ي َحليلَةَ َجار َك (متفق عليه‬

Artinya : Diceritakan dari Abdullah bin Mas'ud r.a.: Aku bertanya kepada Nabi
s.a.w. "Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah"? Jawab Beliau:
"ialah kamu menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang
menciptakanmu". Aku berkata: "Kalau begitu, sungguh itu merupakan
dosa yang sangat besar". Kemudian aku bertanya lagi: "Kemudian apa"?
Nabi menjawab: "Kamu membunuh anak-anakmu, lantaran kamu takut ia
akan makan bersamamu (takut menjadi miskin)". Aku bertanya lagi:
"Kemudian apa lagi? Nabi menjawab: "Yaitu kamu menzinahi istri
tetanggamu". (HR. Bukhari: 4389, Muslim: 124 )

2. Seperti apa aqidah tauhid itu???

Selain rukun iman yang 6, pembahasan keyakinan atau keimanan dalam Islam
dapat kita peroleh dengan memahami aqidah tauhid. Aqidah tauhid merupakan
dasar keyakinan seorang muslim yang berfungsi sebagai syarat diterimanya ibadah
kepada 4jj1 SWT. Dalam Islam, syarat diterimanya ibadah kepada 4jji ada 3, yaitu:
1. Mabda (dasarnya) adalah aqidah tauhid
2. Manhaj (metodenya) adalah syariat Nabi Muhammad
3. Ghoyah (tujuannya) adalah mendapatkan ridlo allah di dunia dan diakhirat
Aqidah tauhid sebagai syarat diterimanya ibadah berarti walaupun metode dan
tujuannya benar tetapi tidak dilandasi aqidah tauhid maka ibadahnya sia-sia.

aqidah tauhid merupakan keterikatan seorang manusia kepada allah SWT yang
lahir dari perjanjian yang kokoh dan kuat, tidak main-main dan diazamkan, yang
menuntut untuk dipenuhi, dipelihara dan hanya ditujukan kepada allah sajalah,
maka sumber ilmu aqidah harus berasal dari allah yaitu Al Quran. Dari ayat-ayat
Al Quran lah kita bisa mengenal allah dan apa konsekuensi seseorang yang
beraqidah tauhid. Ilmu aqidah tidak boleh berasal dari filsafat, karena filsafat
merupakan hasil pikiran (prasangka) manusia yang karena keterbatasan akal tidak
akan mungkin mencapai kebenaran.
"Dia (allah) mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (termasuk
pengetahuan tentang-Nya)" (Q.S. 96:5)
"Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan allah semua yang ada di langit dan semua
yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain allah,
tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka
belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga."(Q.S. 10:66)
"Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya
persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran.
Sesungguhnya allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.Tidaklah
mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain allah, akan tetapi (Al Quran itu)
membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang
telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb
semesta alam."(Q.S. 10:36-37)
"Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: Jika Allah
menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya
dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun. Demikian pulalah
orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka
merasakan siksaan Kami. Katakanlah: Adakah kamu mempunyai sesuatu
pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami? Kamu tidak
mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya
berdusta."(Q.S.6:148)
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah
mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap
Allah)."(Q.S. 6:116)
"Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-
adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)
nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang
diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada
mereka dari Tuhan mereka."(Q.S. 53:23)
"Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak
lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada
berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran."(Q.S. 53:28)
"Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk
orang-orang yang ragu."(Q.S. 2:147)

Sumber tauhid adalah kalimat thayyibah yang berbunyi :


LaailaaHa illa allah wa Muhammadar-Rasuulu allah
yang secara sederhana diterjemahkan dengan tiada ilah selain allah dan Nabi
Muhammad adalah utusan allah Kalimat LaailaaHa illa allah merupakan
pernyataan tauhid yang disampaikan setiap Nabi dan Rasul allah. Ayat-ayat Al
Quran yang menjelaskan tentang tauhid, sumber tauhid dan lawannya syirik dapat
ditemukan pada ayat-ayat sbb.

Q.S. 38:65;
Q.S. 39:6,17;
Q.S. 40:62,65;
Q.S. 45:23;
Q.S. 46:28;
Q.S. 47:19;
Q.S. 59:22,23;
Q.S. 60:4;
Q.S. 64:13;

Demikian banyaknya ayat yang menjelaskan tentang Tauhid dan Syirik, untuk
selanjutnya pembahasan ayat-ayat tersebut akan dikelompokkan berdasarkan
pembahasan sumber tauhid, yaitu LaailaaHa illa allah

3. Cara memurnikan aqidah islamiah

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam


Syafi’i mengatakan : “Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut salah satu
asma’ Allah, kemudian melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarat.
Dan barangsiapa yng bersumpah dengan menyebut nama selain Allah, misalnya,
“Demi Ka’bah”, “Demi ayahku” dan sebagainya, kemudian melanggar sumpah itu,
maka ia tidak wajib membayar kaffarat.”

Begitu pula apabila ia bersumpah dengan mengatakan “demi umurku”, ia tidak


wajib membayar kaffarat. Namun, bersumpah dengan meyebut selain Allah adalah
haram, dan dilarang berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya Allah melarang kamu untuk bersumpah dengan menyebut nenek
moyang kamu. Siapa yang hendak bersumpah, maka bersumpahlah dengan
menyebut asma Allah atau lebih baik diam saja

Imam Syafi’i beralasan bahwa asma’-asma’ Allah itu bukan makhluk, karenanya
siapa yang bersumpah dengan menyebut asma’ Allah, kemudian ia melanggar
sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarat

Imam Ibn al-Qayyim menuturkan dalam kitabnya Ijtima’ al-Juyusy, sebuah


riwayat dari Imam Syafi’i, bahwa beliau berkata: “Berbicara tentang Sunnah yang
menjadi pegangan saya, shahib-shahib (murid-murid) saya, begitu pula para ahli
hadits yang saya lihat dan saya ambil ilmu mereka, seperti Sufyan, Malik, dan lain-
lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa
Muhammad adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah adalah di atas ‘Arsy
di langit, dan dekat dengan makhluk-Nya, terserah kehendak Allah, dan Allah itu
turun ke langit terdekat kapan saja Allah berkehendak.”

Imam adz-Dzahabi meriwayatkan dari al-Muzani, katanya: “Apabila ada orang


yang mengeluarkan unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid yang ada
dalam hati saya, maka itu adalah Imam Syafi’i.”

Saya pernah dengar di masjid Cairo dengan beliau, ketika saya mendebat di depan
beliau, dalam hati saya terdapat unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid.
Kata hatiku, saya tahu bahwa seseorang tidak akan mengetahui ilmu yang ada pada
diri Anda, maka apa yang sebenarnya yang ada pada diri Anda?

Tiba-tiba beliau marah, lalu bertanya: “Tahukah kamu, di mana kamu sekarang?”
Saya menjawab, “Ya”. Beliau berkata, “Ini adalah tempat di mana Allah
menenggelamkan Fir’aun. Apakah kamu tahu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah menyuruh bertanya masalah yang ada dalam hatimu?”.
“Tidak”, jawab saya. “Apakah para sahabat pernah membicarakan masalah itu?”,
Tanya beliau lagi. “Tidak pernah”, jawab saya. “Berapakah jumlah bintang di
langit?”, Tanya beliau lagi. “Tidak tahu”, jawab saya. “Apakah kamu tahu jenis
bintang-bintang itu, kapan terbitnya, kapan terbenamnya, dari bahan apa bintang
itu diciptakan?”, Tanya beliau. “Tidak tahu”, jawab saya. “Itu masalah makhluk
yang kamu lihat dengan mata kepalamu, ternyata kamu tidak tahu. Mana mungkin
kamu mau membicarakan tentang ilmu Pencipta makhluk itu”, kata beliau
mengakhiri.
Kemudian beliau menanyakan kepada saya tentang masalah wudhu’, ternyata
jawaban saya salah. Beliau lalu mengembangkan masalah itu menjadi empat
masalah, ternyata jawaban saya juga tidak ada yang benar. Akhirnya beliau
berkata: “masalah yang kamu perlukan tiap hari lima kali saja tidak kamu pelajari.
Tetapi kamu justru berupaya untuk mengetahui ilmu Allah ketika hal itu berbisik
dalam hatimu. Kembali saja kepada firman Allah:

“Artinya : Dan Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Satu. Tidak ada Tuhan
(yang Haq) selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang,bahtera yang
berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati
(gersang) dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angina
dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sesungguhnya (terdapat)
tanda-tanda (kekuasaan Allah)bagi orang-orang yang berakal.” [Al-Baqarah : 163-
164]

“Karenanya”, lanjut Imam Syafi’i, “Jadikanlah makhluk itu sebagai bukti atas
kekuasaan Allah, dan janganlah kamu memaksa-maksa diri untuk mengetahui hal-
hal yang tidak dapat dicapai oleh akalmu

Imam Ibn Abdil Bar meriwayatkan dari Yunus bin Abdul A’la, katanya:
“Apabila kamu mendengar ada orang berkata bahwa nama itu berlainan dngan apa
yang diberi nama, sesuatu itu, maka saksikanlah bahwa orang itu adalah kafir
zindiq.”

Dalam kitabnya ar-Risalah, Imam Syafi’i berkata: “Segala puji bagi Allah yang
memiliki sifat-sifat sebagaimana Dia mensifati diri-Nya, dan di atas yang disifati
oleh makhluk-Nya.”
Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala’ menuturkan dari
Imam Syafi’i, kata beliau: “Kita menerapkan sifat-sifat Allah ini sebagaimana
disebutkan di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
kita meniadakan tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk_nya), sebagaimana
Allah juga meniadakan tasybih itu dalam firman-Nya:

“Artinya : Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia.” [Asy-Syura : 11]
Imam ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, saya
mendengar Imam Syafi’i berkata tentang firman Allah:
“Artinya ; Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu (Hari Kiamat)
benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan merek.” [Al-Muthaffifin : 15]

Ayat ini memberitahu kita bahwa pada Hari Kiamat nanti ada orang-orang yang
tidak terhalang, mereka dapat melihat Allah dengan jelas

Imam al-Lalaka’i menuturkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya: “saya dating
ke rumah Imam Syafi’i, ketika itu ada sebuah pertanyaan kepada beliau: “Apakah
pendapat anda tentang firman Allah dalam surat al-Muthaffifin ayat 15, yang
artinya, “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu (Hari Kiamat)
benar-benar erhalanga dari (melihat) Tuhannya?.”

Imam Syafi’i menjawab, “Apabila orang-orang itu tidak dapat melihat Allah
karena dimurkai Allah, maka ini merupakan dalil bahwa orang-orang yang diridhai
Allah akan dapat melihat-Nya.”

Ar-Rabi’ lalu bertanya: “Wahai Abu Abdillah, apakah anda berpendapat seperti
itu?. “Ya, saya berpendapat seperti itu, dan itu saya yakini kepada Allah”, begitu
jawab Imam Syafi’i

Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan, katanya, di hadapan Imam Syafi’i ada
orang yang menyebut-nyebut nama Ibrahim bin Isma’il bin Ulayah. Kemudian
Imam Syafi’i berkata: “saya berbeda pendapat dengan dia dalam segala hal. Begitu
pula dalam kalimat “la ilaha illallah”. Saya tidak berpendapat seperti pendapatnya.
Saya mengatakan, bahwa Allah berfirman kepada Nabi Musa secara langsung
tanpa penghalang. Sedangkan dia mengatakan, ketika Allah berfirman kepada Nabi
Musa, Allah menciptakan ucapan-ucapan yang kemudian dapat didengar oleh Nabi
Musa secara tidak langsung (ada penghalang

Imam al-Lalaka’i meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam


Syafi’imengatakan: “Barangsiapa mengatakan bahwa al-Qur’an itu makhluk, maka
dia telah menjadi kafir.”

4. Kesimpulan:

1. Setiap orang mukmin harus terus menjaga kelestarian akidah tauhid, dengan
meng-Esakan Allah s.w.t. Esa dalam wujud-Nya, Esa dalam uluhiyyah-Nya,
Esa dalam af'al-Nya, Esa dalam nama dan sifat-Nya, Esa dalam rububiyyah-
Nya dan seterusnya. Setiap mukmin tidak boleh mencampuradukkan antara
keyakinan dan keragu-raguan dalam iman. Keyakinannya harus murni
kepada Allah s.w.t.

2. Larangan melakukan tindakan pembunuhan terhadap sesama umat manusia,


meskipun pembunuhan itu dilakukan dengan cara pengguguran kandungan.
Itu merupakan dosa yang sangat besar.

3. Setiap orang harus berhati-hati dalam bergaul dengan tetangganya, sehingga


tidak melakukan dosa-dosa yang terjadi, yang akan mengkhianati dan
sekaligus melakukan dosa besar terhadap Allah s.w.t.

4. Kehati-hatian dalam bergaul harus selalu dijaga, sehingga pergaulan


menjadi mulus dan selamat dari perbuatan dosa dan perbuatan tercela lainnya