Anda di halaman 1dari 143

ANALISA PENURUNAN PONDASI TIANG PANCANG

KELOMPOK PADA PROYEK INTERNASIONAL TRADE CENTER

(PT. CBD POLONIA-MEDAN)

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas

Dan Memenuhi Syarat untuk Menempuh

Ujian Sarjana Teknik Sipil

Oleh:

BUDI IRAWAN
090424048

PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA EKSTENSI


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015

Universitas Sumatera Utara


LEMBAR PENGESAHAN

ANALISA PENURUNAN PONDASI TIANG PANCANG KELOMPOK


PADA PROYEK INTERNASIONAL TRADE CENTER (PT. CBD
POLONIA-MEDAN)

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat


Untuk Menempuh Ujian Sarjana Teknik Sipil
Dikerjakan oleh :

BUDI IRAWAN
09 0424 048

Dosen Pembimbing:

Dr. Ir. M. Sofian Asmirza S, M.Sc


NIP. 19640404 199103 1 001

Penguji I Penguji II

Ir. Rudi Iskandar, MT M. Agung Putra Handana, ST, MT


NIP. 19650325 199103 1 006 NIP. 19821206 201012 1 005

Mengesahkan:

Koordinator PPSE Ketua


Departemen Teknik Sipil FT USU Departemen Teknik Sipil FT USU

Ir. Zulkarnain A. Muis, M.Eng.Sc Prof. Dr. Ing. Johannes Tarigan


NIP. 19560326 198103 1 003 NIP. 19561224 198103 1 002

PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA EKSTENSI


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015

Universitas Sumatera Utara


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis sampaikan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang

telah mencurahkan rahmat dan karuniaNya kepada penulis, sehingga dapat

menyelesaikan Tugas Akhir ini.

Penyusunan Tugas Akhir ini dengan judul "Analisa Penurunan Pondasi Tiang

Pancang Kelompok Pada Proyek Internasional Trade Center (PT. CBD Polonia-

Medan)" ini disusun guna melengkapi syarat untuk menyelesaikan jenjang

pendidikan Program Strata Satu (S-1) di Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis banyak memperoleh bantuan

dan saran dari berbagai pihak, maka dalam kesempatan ini penulis ingin

sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr.Ir. M. Sofian Asmirza S.,M.Sc, selaku dosen pembimbing utama

yang telah membimbing penulis dalam penulisan Tugas Akhir ini;

2. Bapak Prof. Dr. Ing. Johanes Tarigan, sebagai Ketua Departemen Teknik

Sipil Universitas Sumatera Utara;

3. Bapak Ir. Zulkarnain A. Muis, M.Eng. Sc selaku Koordinator Program

Pendidikan Ekstension;

4. Bapak Ir. Rudi Iskandar, MT selaku dosen penguji;

5. Bapak M. Agung Putra Handana, ST,MT selaku dosen penguji;

6. Seluruh Dosen dan pegawai Universitas Sumatera Utara khususnya

Departemen Teknik Sipil yang telah mendidik dan membina penulis sejak

awal hingga akhir perkuliahan;

7. Pimpinan dan seluruh Staff PT CBD Polonia, sebagai pelaksana proyek yang

Universitas Sumatera Utara


telah memberikan bimbingan kepada penulis;

8. Terimakasih yang teristimewa, penulis ucapkan kepada kedua orangtua

tercinta Ibunda Syamsiah dan Ayahanda Amril, yang telah mengasuh,

mendidik, dan membesarkan serta selalu memberikan dukungan baik moral,

material, maupun doa yang tidak henti-hentinya mereka mohonkan kepada

Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini. Begitu

juga kepada keluarga yang telah memberikan seni kehidupan dan dukungan

yang tiada henti-hentinya kepada penulis untuk menyelesaikan Tugas Akhir

ini;

9. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada rekan-rekan mahasiswa dan teman-

teman yang memberikan dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan

Tugas Akhir ini.

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini kemungkinan belum sempurna,

untuk itu penulis dengan tulus dan terbuka menerima kritikan dan saran yang

bersifat membangun demi penyempurnaan Tugas Akhir ini.

Akhir kata, penulis berharap semoga tugas akhir ini bermanfaat bagi

semuanya.

Medan, Januari 2015

Penulis,

Budi Irawan
090424048

Universitas Sumatera Utara


ABSTRAK

Dalam merencanakan pondasi tiang pancang, disamping harus sanggup


memikul beban konstruksi di atasnya, juga harus mampu mengantisipasi
keamanan terhadap penurunan tiang pancang yang mungkin akan terjadi adalah
juga merupakan permasalahan pokok. Mengingat bahaya yang akan terjadi akibat
penurunan tiang menimbulkan resiko yang sangat buruk.
Penyusunan Tugas akhir ini dimaksudkan untuk menganalisa besarnya
penurunan tiang pancang beton dengan spesifikasi ditentukan pada proyek
Internasional Trade Center (PT. CBD Polonia-Medan). Tujuannya adalah untuk
menganalisa perhitungan penurunan pondasi tiang pancang tunggal dan kelompok
berdasarkan data melaui pengujian lapangan dengan menggunakan metode elastic
settlemet dan consolidasi settlement.
Tahapan penelitian yang dilakukan adalah meninjau teori-teori yang
berkaitan dengan tiang pancang, selanjutnya melakukan peninjauan lokasi serta
mengumpulkan data-data mencakup parameter tanah dan uji beban. Tahapan
terakhir mengadakan analisa perhitungan.
Dari hasil perhitungan dan pengolahan data dapat disimpulkan penurunan
yang terjadi pada tiang pancang yaitu penurunan elastis tiang tunggal yang terjadi
pada tiang uji S-01 sebesar 8,5 mm dan dengan penurunan ijin sebesar 50 mm
dan untuk penurunan elastis kelompok tiang yang terjadi sebesar 40,28 mm dan
untuk penurunan konsolidasi sebesar 71,78 mm.

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i

ABSTRAK ...................................................................................................... iii

DAFTAR ISI .................................................................................................. iv

DAFTAR TABEL .......................................................................................... vii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... viii

DAFTAR NOTASI ........................................................................................ x

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………….. 1

1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1

1.2 Perumusan Masalah …………………………………………… ...... 3

1.3 Mamfaat ............................................................................................ 4

1.4 Pembatasan Masalah .......................................................................... 4

1.5 Metode Pengumpulan Data ................................................................ 5

1.6 Sistematika Penulisan ....................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………... 7

2.1 Pengertian Umum …………………………………………………. 7

2.2 Penyelidikan Tanah (Soil Investigation) ……………………… ....... 9

2.2.1. Sondering Test/Cone Penetration Test (CPT) …...………… 9

2.2.2. Standard Penetration Test (SPT) ........................................... 13

2.3 Macam-macam pondasi .................................................................... 14

2.4 Penggolongan Pondasi Tiang Pancang ............................................... 18

2.4.1 Pondasi tiang pancang menurut pemakaian bahan dan

karakteristik Strukturnya ....................................................... 18

Universitas Sumatera Utara


2.4.2 Pondasi tiang pancang menurut pemasangannya .................... 28

2.5 Alat Tiang Pancang …………………………………......................... 29

2.6 Hidrolik Sistem .................................................................................. 32

2.7 Metode Pelaksanaan Pondasi Tiang Pancang .................................... 35

2.8 Tiang Dukung Ujung dan Tiang Gesek ............................................. 40

2.9 Kapasitas Daya Dukung ..................................................................... 42

2.9.1 Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang dari Hasil Sondir...... 42

2.9.2 Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang dari Hasil SPT ......... 46

2.9.3 Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang dari Hasil Bacaan

Jack Manometer........................................................................ 53

2.10 Kapasitas Kelompok Tiang ............................................................. 54

2.11 Kapasitas Kelompok dan Efisiensi Tiang dalam Tanah Kohesif ..... 55

2.12 Penurunan Tiang (Pile Settlement) ................................................... 60

2.13 Perkiraan Penurunan Tiang Tunggal................................................. 62

2.14 Perkiraan Penurunan Tiang Kelompok ............................................ 68

2.15 Penurunan Diijinkan ........................................................................ 69

2.16 Faktor Keamanan (Safety Factor)................................................... 70

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ……………………………… ... 73

3.1 Data Umum ....................................................................................... 73

3.2 Data Teknis Tiang Pancang .............................................................. 74

3.3 Metode Pengumpulan Data ............................................................... 74

3.4 Cara Analisis ..................................................................................... 76

3.5 Bagan Penelitian ................................................................................ 77

3.6 Lokasi Titik Sondir dan Bore hole ..................................................... 78

Universitas Sumatera Utara


BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN....................................................... 79

4.1 Pendahuluan ................................................................. ...................... 79

4.2 Menghitung Kapasitas Daya Dukung Tiang dari Data Sondir ……. 79

4.2.1 Menghitung Kapasitas Daya Dukung Tiang dengan Metode

Aoki dan De Alencar di Lapangan pada titik 3 (S-3)............. 79

4.2.2 Menghitung Kapasitas Daya Dukung Tiang dengan Metode

Meyerhoff pada Titik 3 (S-3) …………………………... ...... 82

4.3 Menghitung Kapasitas Daya Dukung Tiang dari Data SPT ……… . 88

4.4 Perhitungan Kapasitas Daya Dukung Pondasi Tiang Pada Saat

Penekanan Berdasarkan Bacaan Manometer dari Alat Hydraulic

Jack………… ..................................................................................... 95

4.5 Perhitungan Efisiensi Group Tiang .................................................... 99

4.5.1 Metode Converse-Labarre ........................................................ 100

4.5.2 Metode Los Angles Group ........................................................ 101

4.6 Menghitung Penurunan Tiang Tunggal (Single Pile).. ...................... 104

4.6.1 Penurunan Tiang Tunggal dengan Rumus Poulus-Davis ........ 104

4.6.2 Dari data Sondering S-3 ............................................................ 107

4.7 Penurunan Tiang Kelompok Berdasarkan Metode Poulus Davis ...... 109

4.8 Penurunan yang Diijinkan ................................................................. 110

4.9 Diskusi............................................................................................... 110

4.10.1 Kelebihan dan Kelemahan dari Metode-Metode Pengujian . 114

4.10.2 Hasil Perhitungan Daya Dukung dan Penurunan .................. 117

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................ .......... 121

5.1 Kesimpulan ...................................................................................... 121

Universitas Sumatera Utara


5.2 Saran ……………………………………………………………… 122

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Macam-Macam Tipe Pondasi Berdasarkan Kualitas Material Dan

Cara Pembuatan (Sosrodarsono-K. Nakazawa, 1983) . ................... 10

Tabel 2.2 Faktor Empirik Fb Fs (Titi & Farsakh, 1999) .................................. 32

Tabel 2.3 Hubungan DR, Φ dan N dari pasir (Mekanika Tanah dan Teknik

Pondasi Sosrodarsono Suyono Ir, 1983) .......................................... 34

Table 2.4 SPT hammer efficiencies (Clayton, 1990) ....................................... 36

Tabel 2.5 Borehole, Sampler and Rod Correction Factors (Skempton, 1986) . 37

Tabel 2.6 Hubungan Antara N Dengan Berat Isi Tanah (Sosrodarsono, 1983) 38

Tabel 2.7 Faktor Pengaruh Im (Lee,1962) dan Ip (Schleicher,1962) .................. 48

Tabel 2.8 Perkiraan Modulus Elastisitas (E) ......................................................... 48

Tabel 2.9 Perkiraan Angka Poisson (µ ) ....................................................................... 53

Tabel 2.10 Faktor Aman Yang Disarankan (Reese & O'Neill, 1989) ..... 58

Tabel 4.1 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang pada Titik S-01 ........... 73

Tabel 4.2 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang pada Titik S-02 ......... 74

Tabel 4.3 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang pada Titik S-03 ......... 76

Tabel 4.4 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang pada Titik S-04 ........... 77

Tabel 4.5 Sistem Pelapisan Tanah Berdasarkan Deskripsi Visual BH-01 ...... 78

Tabel 4.6 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang pada Titik BH-01 ........ 80

Tabel 4.7 Sistem Pelapisan Tanah Berdasarkan Deskripsi Visual BH-02 ...... 81

Tabel 4.8 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang pada Titik BH-02 ........ 82

Tabel 4.9 Perhitungan Daya Dukung Tiang nomor 341 berdasarkan bacaan

Manometer hydraulic jack............................................................... 84

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.10 Perhitungan Daya Dukung Tiang nomor 342 berdasarkan bacaan

Manometer hydraulic jack............................................................... 84

Tabel 4.11 Perhitungan Daya Dukung Tiang nomor 343 berdasarkan bacaan

Manometer hydraulic jack............................................................... 85

Tabel 4.12 Perhitungan Daya Dukung Tiang nomor 344 berdasarkan bacaan

Manometer hydraulic jack............................................................... 86

Tabel 4.13 Perhitungan Daya Dukung Tiang nomor 345 berdasarkan bacaan

Manometer hydraulic jack............................................................... 86

Tabel 4.14 Perkiraan Penurunan Tiang Tunggal S-01 ..................................... 95

Tabel 4.15 Perhitungan Penurunan Berdasarkan Data Sondir S-01 ................ 97

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Macam-macam tipe pondasi: (a) Pondasi memanjang, (b) Pondasi

telapak, (c) Pondasi rakit, (d) Pondasi sumuran, (e) Pondasi tiang

(Hardiyatmo, 1996) ..................................................................... 9

Gambar 2.2 Tiang Pancang Precast Reinforced Concrete Pile (Bowles, 1991) 12

Gambar 2.3 Tiang Ditinjau Dari Cara Mendukung Bebannya (Hardiyatmo,

2002) ............................................................................................ 13

Gambar 2.4 Tiang Pancang dengan Tahanan Lekatan (Adhesive Pile) .......... 13

Gambar 2.5 One Dimensional Consolidation (L.D. Wsly, 1977) ................... 17

Gambar 2.6 Grafik Percobaan Konsolidasi pada Undisturbed (L.D. Wely,

1977) ............................................................................................ 19

Gambar 2.7 Uji konsolidasi pada Normally Consolidated (L.D. Wesly, 1977) 20

Gambar 2.8 Uji konsolidasi Over- Consolidated (L.D. Wesly, 1977) ............ 21

Gambar 2.9 Perhitungan Tegangan Di Bawah Pondasi Persegi (L.D.Wesly,

1977) ............................................................................................ 23

Gambar 2.10 Perhitungan Tegangan Di Bawah Pondasi Bulat (L.D.Wesly,

1977) ........................................................................................... 23

Gambar 2.11 Teori Konsolidasi (L.D.Wesly, 1977) ...................................... 24

Gambar 2.12 Perbandingan Uji Konsolidasi-Garis Teoritis (L.D.Wesly,1997) 26

Gambar 2.13 Harga t dari Hasil Laboratorium, (L.D.Wesly,1997) ................ 27

Gambar 2.14 Grafik Variasi harga α berdasarkan kohesi tanah ...................... 39

Gambar 2.15 Perbandingan Zona Tertekan pada Tiang Tunggal dan Kelompok

Tiang. (a)Tiang Tunggal, (b) Kelompok Tiang ....................... 43

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.16 Kelompok Tiang dalam Tanah Lempung yang Bekerja sebagai

Balok ......................................................................................... 45

Gambar 2.17 Defenisi Jarak s dalam Hitungan Efisiensi Tiang ..................... 47

Gambar 2.18 Faktor Penurunan Io (Poulos dan Davis) .................................. 50

Gambar 2.19 Koreksi Kedalaman, Rh (Poulos dan Davis) ............................. 50

Gambar 2.20 Koreksi Kompresi, Rk (Poulos dan Davis) .............................. 51

Gambar 2.21 Koreksi Angka Poisson, Rμ (Poulus dan Davis) ...................... 51

Gambar 2.22 Koreksi Kekakuan Lapisan Pendukung, Rb (Poulos dan Davis) 52

Gambar 2.23 Variasi jenis bentuk unit tahanan friksi (kulit) alami

terdistribusi sepanjang tiang tertanam ke dalam tanah

(Bowles, 1993) ................................................................ 54

Gambar 2.24 Tipe Penurunan ......................................................................... 56

Gambar 3.1 Lokasi Proyek (Google Earth) ................................................... 61

Gambar 3.2 Peta Kawasan CBD Polonia .................................................... 61

Gambar 3.3 Bagan Penelitian ......................................................................... 63

Gambar 3.4 Lokasi Titik Sondir dan Bor Hole ................................................ 64

Gambar 4.1 Grafik CPT Test S-03 (Soil Investigation, 2011) ........................ 68

Gambar 4.2 Perkiraan Nilai qca (base) ............................................................. 69

Gambar 4.3 Nilai qc (side) pada titik sondir S-03 ...................................... 70

Gambar 4.4 Kelompok Tiang .......................................................................... 87

Gambar 4.5 Nilai qc (side) pada titik sondir 1 (S-01) ...................................... 92

Gambar 4.6 Penurunan Pondasi Tiang Kelompok .......................................... 98

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR NOTASI

JP = Jumlah Perlawanan (kg/cm2)

PK = Perlawanan Konus (kg/cm)

A = Tahapan Pembacaan (setiap kedalaman 20 cm)

B = Faktor Alat (10)

I = Kedalaman (m)

Quit = Kapasitas daya dukung tiang


q
b = Tahanan ujung sondir.

Ap = Luas penampang tiang

qca (base) = Perlawanan konus rata-rata 1,5D diatas ujung tiang, 1,5D

dibawah ujung tiang; Fb: faktor empirik

Fb = Faktor empirik, tergantung pada tipe tanah

R = Kekuatan geser tanah (kg/cm2)

C = Kohesi tanah (kg/cm2)

A = Tegangan normal yang terjadi pada tanah (kg/cm2)

= Sudut geser tanah (°)

Ap = Luas penampang tiang bor (m2)

Qp = Tahanan ujung per satuan luas (ton/m2)

Qp = Daya dukung ujung tiang (ton)

N = Nilai rata-rata SPT

f = Tahanan satuan skin friction (ton/m2).

Li = Panjang lapisan tanah (m).

P = Keliling tiang (m).

Universitas Sumatera Utara


Qs = Daya dukung selimut tiang (ton)

α = Faktor adhesi.

cu = Kohesi tanah (ton/m2)

K0 = 1 — sin φ

σv’ = Tegangan vertikal efektif tanah (ton/m2)

Pu = Kapasitas daya dukung ultimate tiang

η = Efesiensi alat pancang

E = Energi alat pancang yang digunakan

s = Banyaknya penetrasi per pukulan

A = Luas penampang tiang pancang

Ep = Modulus elastis tiang

Pijin = Daya dukung ijin tiang pancang

a = konstanta

b = konstanta

eh = Efesiensi baru

Eb = energi alat pancang

S = Banyaknya penetrasi pukulan, dari data kalendering di lapangan

SF = Faktor keamanan (3)

S = Penurunan (Settlement) untuk tiang tunggal

sl = Penurunan elastis / segera

s2 = Penurunan konsolidasi primer

s3 = Penurunan konsolidasi sekunder

Q = Beban yang bekerja

Io = Faktor pengaruh penurunan tiang yang tidak mudah mampat

Universitas Sumatera Utara


Rk = Faktor koreksi kemudah mampatan tiang

Rh = Faktor koreksi ketebalan lapisan yang terletak pada tanah keras

Rµ = Faktor koreksi angka Poisson, µ

Rb = Faktor koreksi untuk kekakuan lapisan pendukung

h = Kedalaman total lapisan tanah; ujung tiang ke muka tanah.

D = Diameter tiang

K = Faktor kekakuan tiang.

Ep = Modulus elastisitas dari bahan tiang.

ES = Modulus elastisitas tanah disekitar tiang.

Ed = Modulus elastisitas tanah didasar tiang

Qwp = Kapasitas daya dukung ujung tiang

Qsp = Kapasitas daya dukung tahanan kulit

ξ = Koefisien dari skin friction

Ap = Luas penampang tiang

Ep = Modulus elastisitas material tiang

L = Panjang tiang

Universitas Sumatera Utara


ABSTRAK

Dalam merencanakan pondasi tiang pancang, disamping harus sanggup


memikul beban konstruksi di atasnya, juga harus mampu mengantisipasi
keamanan terhadap penurunan tiang pancang yang mungkin akan terjadi adalah
juga merupakan permasalahan pokok. Mengingat bahaya yang akan terjadi akibat
penurunan tiang menimbulkan resiko yang sangat buruk.
Penyusunan Tugas akhir ini dimaksudkan untuk menganalisa besarnya
penurunan tiang pancang beton dengan spesifikasi ditentukan pada proyek
Internasional Trade Center (PT. CBD Polonia-Medan). Tujuannya adalah untuk
menganalisa perhitungan penurunan pondasi tiang pancang tunggal dan kelompok
berdasarkan data melaui pengujian lapangan dengan menggunakan metode elastic
settlemet dan consolidasi settlement.
Tahapan penelitian yang dilakukan adalah meninjau teori-teori yang
berkaitan dengan tiang pancang, selanjutnya melakukan peninjauan lokasi serta
mengumpulkan data-data mencakup parameter tanah dan uji beban. Tahapan
terakhir mengadakan analisa perhitungan.
Dari hasil perhitungan dan pengolahan data dapat disimpulkan penurunan
yang terjadi pada tiang pancang yaitu penurunan elastis tiang tunggal yang terjadi
pada tiang uji S-01 sebesar 8,5 mm dan dengan penurunan ijin sebesar 50 mm
dan untuk penurunan elastis kelompok tiang yang terjadi sebesar 40,28 mm dan
untuk penurunan konsolidasi sebesar 71,78 mm.

Universitas Sumatera Utara


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Seiring dengan era perkembangan dan kemajuan teknologi saat ini, banyak

ditemukan jenis-jenis kontruksi dengan berbagai spesifikasi dan fungsi serta

pemanfaatannya, seperti bangunan-bangunan tingkat tinggi, jalan layang (fly

over), jembatan, bendungan dan kontruksi lainnya dengan fungsi berbeda-beda,

yang menggunakan pondasi tiang pancang sebagai penopang utama. Tiang

pancang yang umum digunakan adalah tiang pancang beton prategang

(prestressed concrete pile) dan tiang pancang besi (steel pile). Tiang pancang

seperti ini telah dipakai secara luas sebagai suatu elemen struktur bagian bawah

yang serba guna.

Penggunaan tiang pancang prategang lebih disukai karena kelebihannya

dalam menahan tegangan tarik pada waktu proses pengangkutan serta pada

pelaksanaan pemancangannya. Tiang pancang pretegang merupakan jenis tiang

pancang yang paling umum digunakan pada pelaksanaan pemancangan untuk

pondasi serta paling sesuai untuk diproduksi secara massal, seperti tiang pancang

beton silinder prategak (presstressed spon concrete pile) yang dibuat dengan

menggunakan beton dan baja berkekuatan tinggi, melalui metode-metode

perencanaan yang akurat, sehingga tiang jenis ini dapat memberikan penghematan

atau efisiensi dalam hal pembiayaan pelaksanaan yang cukup besar serta

penggunaan yang lebih teliti dan meningkatkan kekuatan tiang pancang tersebut.

Universitas Sumatera Utara


Pelaksanaan pekerjaan konstruksi dengan penggunaan tiang pancang akan

dibahas pada bab berikutnya, terutama yang berkaitan dengan penurunannya.

Skripsi ini mengupayakan suatu analisa penurunan pondasi tiang pancang

kelompok yang berkaitan dengan kondisi tanah dari bangunan proyek

internasional trade center (PT. CBD Polonia-Medan) Sumatera Utara.

Rencana anggaran biaya yang telah dialokasikan untuk pelaksanaan

penyelidikan tanah (soil investigation) dalam hal untuk menyediakan data teknis

kepada perencana kontruksi sebenarnya cukup besar, antara lain dengan

melakukan investigasi tanah dengan boring, pengujian di laboratorium, uji SPT

(Standard Penetration Test), sondir (Sondering, Cone Penetration Test, CPT).

Pada kenyataan di lapangan, walaupun sebelum pelaksanaan pekerjaan konstruksi

telah dilakukan berbagai pengujian untuk perencanaan serta persiapan

pelaksanaan seperti uji SPT dan sondir, masih juga dilakukan pengujian dinamis

(Pile Dynamic Analysis, PDA) pada titik dimana dilakukan pelaksanaan pekerjaan

pemancangan untuk memberikan keyakinan yang lebih bagi perencana konstruksi

dan bagi pelaksana kontruksi, dan juga memberikan analisis perbandingan

perhitungan dari basil masing-masing metode yang dipakai guna mendapatkan

informasi yang akurat tentang penurunan dan hubungannya dengan kondisi

geologi tanah.

Adapun fungsi dari tiang pancang pada umumnya di gunakan sebagai:

1. Untuk mengangkat beban-beban konstruksi diatas tanah kedalam atau

melalui sebuah stratum/lapisan tanah. Didalam hal ini beban vertikal

dan beban lateral boleh jadi terlibat.

Universitas Sumatera Utara


2. Untuk menahan gaya desakan keatas, gaya guling, seperti untuk

telapak ruangan bawah tanah dibawah bidang batas air jenuh atau

untuk menopang kaki-kaki menara terhadap guling.

3. Memampatkan endapan-endapan tak berkohesi yang bebas lepas

melalui kombinasi perpindahan isi tiang pancang dan getaran

dorongan. Tiang pancang ini dapat ditarik keluar kemudian.

4. Mengontrol lendutan/penurunan bila kaki-kaki yang tersebar atau

telapak berada pada tanah tepi atau didasari oleh sebuah lapisan yang

kemampatannya tinggi.

5. Membuat tanah dibawah pondasi mesin menjadi kaku untuk

mengontrol amplitudo getaran dan frekuensi alamiah dari sistem

tersebut.

6. Sebagai faktor keamanan tambahan dibawah tumpuan jembatan dan

atau pir, khususnya jika erosi merupakan persoalan yang potensial.

7. Dalam konstruksi lepas pantai untuk meneruskan beban-beban diatas

permukaan air melaui air dan kedalam tanah yang mendasari air

tersebut. Hal seperti ini adalah mengenai tiang pancang yang

ditanamkan sebagian dan yang terpengaruh oleh baik beban vertikal

(dan tekuk) maupun beban lateral (Bowles, 1991).

1.2. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah :

1. Menghitung daya dukung pondasi tiang pancang dari hasil Sondir, SPT

(Standart Penetration Test) dan berdasarkan dari Bacaan Jack Manometer.

Universitas Sumatera Utara


2. Membandingkan hasil daya dukung tiang pancang dengan metode

penyelidikan dari data Sondir, SPT (Standart Penetration Test) dan Bacaan

Jack Manometer.

3 Menghitung kapasitas kelompok ijin tiang berdasarkan effisiensi.

4. Mengetahui besarnya penurunan (settlement) yang terjadi pada tiang

pancang tunggal dan tiang pancang kelompok.

1.3. Manfaat

Penulisan Tugas Akhir ini diharapkan bermanfaat bagi :

a. Untuk menambah ilmu pengetahuan, wawasan, dan pembanding kelak

jika akan melakukan suatu pekerjaan yang sama atau sejenis.

b. Terutama bagi penulis sendiri sebagai penambah ilmu pengetahuan

dan pengalaman agar mampu melaksanakan kegiatan yang sama pada

saat bekerja atau terjun ke lapangan.

c. Dapat membantu mahasiswa lainnya sebagai referensi atau contoh

apabila mengambil topik bahasan yang sama.

I.4. Pembatasan Masalah

Umumnya telah diketahui bahwa banyak jenis pondasi tiang pancang yang

digunakan dalam pekerjaan konstruksi dan berbagai permasalahan yang terjadi

dalam hal pelaksanaan pekerjaan pemancangannya. Pada tugas akhir ini

disampaikan pembahasan tentang besarnya penurunan tiang pancang tunggal dan

kelompok yang dipancangkan secara tegak lurus yang terjadi atau yang akan

mungkin terjadi.

Dalam analisa perhitungan penurunan pondasi tiang pancang yang

dilakukan, hanya mempertimbangkan perhitungan penurunan pondasi tiang

Universitas Sumatera Utara


pancang tunggal dan kelompok berdasarkan data yang diperoleh melalui

pengujian di lapangan dengan menggunakan metode elastic settlement.

1.5. Metode Pengumpulan Data

Dalam penulisan Tugas Akhir ini dilakukan beberapa cara untuk dapat

mengumpulkan data yang mendukung agar Tugas Akhir ini dapat diselesaikan

dengan baik. Beberapa cara yang dilakukan antara lain:

a. Metode observasi

Untuk memperoleh data yang berhubungan dengan data teknis pondasi

tiang pancang diperoleh dari hasil lokasi proyek pembangunan

Internasional Trade Center Polonia Medan.

b. Pengambilan data

Pengambilan data yang diperlukan dalam perencanaan diperoleh dari

PT. Nusa Raya Cipta selaku Kontraktor pelaksana berupa data hasil

sondir, hasil SPT (Standart Penetration Test), data hasil Bacaan Jack

Manometer dan gambar struktur.

c. Melakukan studi keperpustakaan

Membaca buku-buku yang berhubungan dengan masalah yang ditinjau

untuk penulisan Tugas Akhir ini.

I.6 Sistematika Penulisan

Rencana sistematika penulisan secara keseluruhan pada tugas akhir ini

terdiri dari 5(lima) bab, uraian masing-masing bab adalah sebagai berikut :

Bab I: Pendahuluan

Berisi mengenai latar belakang, tujuan,manfaat, pembatasan

masalah, dan metode pengumpulan data.

Universitas Sumatera Utara


Bab II : Tinjauan Pustaka

Berisi mengenai penjelasan umum mengenai defenisi tanah,

penggolongan pondasi tiang pancang, kapasitas daya dukung tiang

pancang dari hasil Sondir, hasil SPT (Standart Penetration Test) , dan

hasil Bacaan Jack Manometer, Tiang pancang kelompok, penurunan

tiang dan penurunan yang diizinkan.

Bab III : Data Proyek

Berisi mengenai struktur bangunan proyek Internasional Trade

Center Polonia Medan , Data teknis tiang pancang, Cara analisis, lokasi

titik sondir, SPT (Standart Penetration Test) dan Bacaan Jack

Manometer.

Bab IV: Hasil dan Pembahasan

Berisi mengenai data-data yang diperoleh dari proses pengumpulan

dilokasi proyek dan selanjutnya dilakukan pengolahan untuk kepentingan

analisis yang menghasilkan desain.

Bab V : Kesimpulan dan Saran

Berisi kesimpulan dari analisa yang dilakukan dan saran-saran

berdasarkan kajian yang telah dilakukan dalam tugas akhir ini.

Universitas Sumatera Utara


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Umum

Konstruksi yang direncanakan secara keteknikan dibangun bertumpu pada

tanah, harus didukung oleh pondasi, saat ini berkembang menuju konstruksi yang

lebih ekonomis dengan perencanaan dan penggunaan bahan berkekuatan tinggi.

Penggunaan pondasi tiang pancang sebagai pondasi bangunan apabila

tanah yang berada dibawah dasar bangunan tidak mempunyai daya dukung

(bearing capacity) yang cukup untuk memikul berat bangunan dan beban yang

bekerja padanya (Sardjono, H. S., 1988). Atau apabila tanah yang mempunyai

daya dukung yang cukup untuk memikul berat bangunan dan seluruh beban yang

bekerja berada pada lapisan yang sangat dalam dari permukaan tanah kedalaman

> 8 m (Bowles, J. E., 1991).

Fungsi dan kegunaan dari pondasi tiang pancang adalah untuk

memindahkan atau mentransfer beban-beban dari konstruksi di atasnya (super

struktur) ke lapisan tanah keras yang letaknya sangat dalam.

Dalam pelaksanaan pemancangan pada umumnya dipancangkan tegak

lurus dalam tanah, tetapi ada juga dipancangkan miring (battle pile) untuk dapat

menahan gaya-gaya horizontal yang bekerja. Sudut kemiringan yang dapat dicapai

oleh tiang tergantung dari alat yang dipergunakan serta disesuaikan pula dengan

perencanaannya.

Universitas Sumatera Utara


Tiang Pancang umumnya digunakan:

8. Untuk mengangkat beban-beban konstruksi diatas tanah kedalam atau

melalui sebuah stratum/lapisan tanah. Didalam hal ini beban vertikal

dan beban lateral boleh jadi terlibat.

9. Untuk menentang gaya desakan keatas, gaya guling, seperti untuk

telapak ruangan bawah tanah dibawah bidang batas air jenuh atau

untuk menopang kaki-kaki menara terhadap guling.

10. Memampatkan endapan-endapan tak berkohesi yang bebas lepas

melalui kombinasi perpindahan isi tiang pancang dan getaran

dorongan. Tiang pancang ini dapat ditarik keluar kemudian.

11. Mengontrol lendutan/penurunan bila kaki-kaki yang tersebar atau

telapak berada pada tanah tepi atau didasari oleh sebuah lapisan yang

kemampatannya tinggi.

12. Membuat tanah dibawah pondasi mesin menjadi kaku untuk

mengontrol amplitudo getaran dan frekuensi alamiah dari sistem

tersebut.

13. Sebagai faktor keamanan tambahan dibawah tumpuan jembatan dan

atau pir, khususnya jika erosi merupakan persoalan yang potensial.

14. Dalam konstruksi lepas pantai untuk meneruskan beban-beban diatas

permukaan air melaui air dan kedalam tanah yang mendasari air

tersebut. Hal seperti ini adalah mengenai tiang pancang yang

ditanamkan sebagian dan yang terpengaruh oleh baik beban vertikal

(dan tekuk) maupun beban lateral (Bowles, J. E., 1991).

Universitas Sumatera Utara


2.2. Penyelidikan Tanah (Soil Investigation)

Dalam Perencanaan pondasi konstruksi bangunan diperlukan adanya

penelitian untuk mengetahui parameter-parameter tanah yang akan digunakan

dalam perhitungan daya dukung tanah pondasi. Daya dukung tanah sangat

berpengaruh pada bentuk dan dimensi pondasi serta sistem perbaikan tanah agar

diperoleh perencanaan yang optimal dan efisien.

Pondasi adalah suatu bagian konstruksi bangunan bawah (sub structure)

yang berfungsi untuk meneruskan badan konstruksi atas (upper structure) yang

harus kuat dan aman untuk mendukung beban dari konstruksi atas (upper

structure) serta berat sendiri pondasi.

Untuk dapat memenuhi hal terssebut diatas, dilaksanakan penelitian tanah

(soil investigation) di lapangan dan laboratorium untuk memperoleh parameter-

parameter tanah berupa perlawanan ujung/konus (cone resistance) dan hambatan

lekat (skin friction) yang di peroleh dari hasil pengujian sondir, jenis dan sifat

tanah dari pengujian pengeboran tanah pondasi serta dari hasil pengujian

Laboratorium yang digunakan dalam perhitungan daya dukung pondasi dan cara

perbaikan tanah.

2.2.1. Sondering Test/Cone Penetration Test (CPT)

Pengujian CPT atau sondir adalah pengujian dengan menggunakan alat

sondir type Dutch Cone Penetration yang mempunyai konus seluas 10 cm2, sudut

lancip kerucut 60o untuk mengukur perlawanan ujung, dan dilengkapi mantel

(sleave) yang berdiameter sama dengan konus dan luas selimut 100 cm2, untuk

mengukur lekatan (friction) dari lapisan tanah. Alat ini digunakan dengan cara

ditekan ke dalam tanah terus menerus dengan kecepatan maksimum 1 cm/detik,

Universitas Sumatera Utara


sementara itu besarnya perlawanan tanah terhadap kerucut penetrasi (qc) juga

terus diukur.

Dilihat dari kapasitasnya, alat sondir dapat dibedakan menjadi dua jenis,

yaitu sondir ringan (2 ton) dan sondir berat (10 ton). Sondir ringan digunakan

untuk mengukur tekanan konus sampai 150 kg/cm², atau kedalam maksimal 30 m,

dipakai untuk penyelidikan tanah yang terdiri dari lapisan lempung, lanau dan

pasir halus. Sondir berat dapat mengukur tekanan konus 500 kg/cm² atau

kedalaman maksimal 50 m, dipakai untuk penyelidikan tanah di daerah yang

terdiri dari lempung padat, lanau padat dan pasir kasar.

Keuntungan utama dari penggunaan alat ini adalah tidak perlu diadakan

pemboran tanah untuk penyelidikan. Tetapi tidak seperti pada pengujian SPT,

dengan alat sondir sampel tanah tidak dapat diperoleh untuk penyelidikan

langsung ataupun untuk uji laboratorium. Tujuan dari pengujian sondir ini adalah

untuk mengetahui perlawanan penetrasi konus dan hambatan lekat tanah yang

merupakan indikator dari kekuatan tanahnya dan juga dapat menentukan

dalamnya berbagai lapisan tanah yang berbeda.

Dari alat penetrometer yang lazim dipakai, sebagian besar mempunyai

selubung geser (bikonus) yang dapat bergerak mengikuti kerucut penetrasi

tersebut. Jadi pembacaan harga perlawanan ujung konus dan harga hambatan

geser dari tanah dapat dibaca secara terpisah. Ada 2 tipe ujung konus pada sondir

mekanis yaitu pada (Gambar 2. 1):

1. Konus biasa, yang diukur adalah perlawanan ujung konus dan biasanya

digunakan pada tanah yang berbutir kasar, dimana besar perlawanan

lekatnya kecil;

Universitas Sumatera Utara


2. Bikonus, yang diukur adalah perlawanan ujung konus dan hambatan

lekatnya dan biasanya digunakan pada tanah yang berbutir halus.

Hasil penyelidikan dengan alat sondir ini pada umumnya digambarkan

dalam bentuk grafik yang menyatakan hubungan antara kedalaman setiap lapisan

tanah dengan besarnya nilai sondir yaitu perlawanan penetrasi konus atau

perlawanan tanah terhadap ujung konus yang dinyatakan dalam gaya per satuan

luas. Hambatan lekat adalah perlawanan geser tanah terhadap selubung bikonus

yang dinyatakan dalam gaya per satuan panjang. Dari hasil sondir diperoleh nilai

jumlah perlawanan (JP) dan nilai perlawanan konus (PK), sehingga hambatan

lekat (HL) dapat dihitung sebagai berikut :

1. Hambatan Lekat (HL)

A
HL = ( JP − PK ) x ..................................................................................... (2.1)
B

2. Jumlah Hambatan Lekat (JHL)

JHL = ∑i =0 JHL
n
........................................................................... (2.2)

dimana :

JP = Jumlah perlawanan, perlawanan ujung konus + selimut (kg/cm²)

PK = Perlawanan penetrasi konus, qc (kg/cm²)

A = Interval pembacaan (setiap kedalaman 20 cm)

B = Faktor alat = luas konus/luas torak = 10 cm

I = Kedalaman lapisan tanah yang ditinjau (m)

Universitas Sumatera Utara


(a). Konus (b). Bikonus

Gambar 2.1 Dimensi Alat Sondir Mekanis (Sardjono, 1991)

Data sondir tersebut digunakan untuk mengidentifikasikan dari profil

tanah terhadap kedalaman. Hasil akhir dari pengujian sondir ini dibuat dengan

menggambarkan variasi tahanan ujung (qc) dengan gesekan selimut (fs) terhadap

kedalamannya. Bila hasil sondir diperlukan untuk mendapatkan daya dukung

tiang, maka diperlukan harga kumulatif gesekan (jumlah hambatan lekat), yaitu

dengan menjumlahkan harga gesekan selimut terhadap kedalaman, sehingga pada

kedalaman yang ditinjau dapat diperoleh gesekan total yang dapat digunakan

untuk menghitung gesekan pada kulit tiang.

Besaran gesekan kumulatif (total friction) diadaptasikan dengan sebutan

jumlah hambatan lekat (JHL). Bila hasil sondir digunakan untuk klasifikasi tanah,

Universitas Sumatera Utara


maka cara pelaporan hasil sondir yang diperlukan adalah menggambarkan tahanan

ujung (qc), gesekan selimut (fs) dan ratio gesekan (fR) terhadap kedalaman tanah.

2.2.2. Standard Penetration Test (SPT)

Standard Penetration Test (SPT) sering digunakan untuk mendapatkan

daya dukung tanah secara langsung di lokasi. Metode SPT merupakan percobaan

dinamis yang dilakukan dalam suatu lubang bor dengan memasukkan tabung

sampel yang berdiameter dalam 35 mm sedalam 305 mm dengan menggunakan

massa pendorong (palu) seberat 63,5 kg yang jatuh bebas dari ketinggian 760 mm.

Banyaknya pukulan palu tersebut untuk memasukkan tabung sampel sedalam 305

mm dinyatakan sebagai nilai N.

Tujuan dari percobaan SPT ini adalah untuk menentukan kepadatan relatif

lapisan tanah dari pengambilan contoh tanah dengan tabung sehingga diketahui

jenis tanah dan ketebalan tiap-tiap lapisan kedalaman tanah dan untuk

memperoleh data yang kualitatif pada perlawanan penetrasi tanah serta

menetapkan kepadatan dari tanah yang tidak berkohesi yang biasa sulit diambil

sampelnya. Percobaan SPT ini dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Siapkan peralatan SPT yang dipergunakan seperti : mesin bor, batang bor,

split spoon sampler, hammer, dan lain – lain;

2. Letakkan dengan baik penyanggah tempat bergantungnya beban

penumbuk;

3. Lakukan pengeboran sampai kedalaman testing, lubang dibersihkan dari

kotoran hasil pengeboran dari tabung segera dipasangkan pada bagian

dasar lubang bor;

4. Berikan tanda pada batang peluncur setiap 15 cm, dengan total 45 cm;

Universitas Sumatera Utara


5. Dengan pertolongan mesin bor, tumbuklah batang bor ini dengan pukulan

palu seberat 63,5 kg dan ketinggian jatuh 76 cm hingga kedalaman

tersebut, dicatat jumlah pukulan untuk memasukkan penetrasi setiap 15 cm

(N value);

Contoh : N1 = 10 pukulan/15 cm

N2 = 5 pukulan/15 cm

N3 = 8 pukulan/15 cm

Maka total jumlah pukulan adalah jumlah N2 dengan N3 adalah 5 + 8 =

13 pukulan = nilai N. N1 tidak diperhitungkan karena dianggap 15 cm

pukulan pertama merupakan sisa kotoran pengeboran yang tertinggal

pada dasar lubang bor, sehingga perlu dibersihkan untuk memperkecil

efisiensi gangguan;

6. Hasil pengambilan contoh tanah dari tabung tersebut dibawa ke

permukaan dan dibuka. Gambarkan contoh jenis - jenis tanah yang

meliputi komposisi, struktur, konsistensi, warna dan kemudian masukkan

ke dalam botol tanpa dipadatkan atau kedalaman plastik, lalu ke core

box;

7. Gambarkan grafik hasil percobaan SPT;

Catatan : Pengujian dihentikan bila nilai SPT ≥ 50 untuk 4x interval.

2.3. Macam-macam Pondasi

Pondasi adalah bagian terendah bangunan yang meneruskan beban

bangunan ke tanah atau batuan yang berada dibawahnya. Klasifikasi pondasi

dibagi 2 (dua) yaitu:

Universitas Sumatera Utara


a. Pondasi dangkal

Pondasi dangkal adalah pondasi yang mendukung beban secara

langsung seperti:

1. Pondasi telapak yaitu pondasi yang berdiri sendiri dalam

mendukung kolom (Gambar 2.2b).

2. Pondasi memanjang yaitu pondasi yang digunakan untuk

mendukung sederetan kolom yang berjarak dekat sehingga bila

dipakai pondasi telapak sisinya akan terhimpit satu sama

lainnya (Gambar 2.2a).

3. Pondasi rakit (raft foundation) yaitu pondasi yang digunakan

untuk mendukung bangunan yang terletak pada tanah lunak atau

digunakan bila susunan kolom-kolom jaraknya sedemikian

dekat disemua arahnya, sehingga bila dipakai pondsi telapak,

sisi-sisinya berhimpit satu sama lainnya (Gambar 2.2c).

b. Pondasi dalam

Pondasi dalam adalah pondasi yang meneruskan beban bangunan ke

tanah keras atau batu yang terletak jauh dari permukaan, seperti:

1. Pondasi sumuran (pier foundation) yaitu pondasi yang

merupakan peralihan antara pondasi dangkal dan pondsi tiang

(Gambar 2.2d), digunakan bila tanah dasar yang kuat terletak

pada kedalaman yang relatif dalam, dimana pondasi sumuran

Df/B > 4 sedangkan pondasi dangkal Df/B≤ 1, kedalaman (Df)

dan lebar (B).

Universitas Sumatera Utara


2. Pondasi tiang (pile foundation), digunakan bila tanah pondasi

pada kedalaman yang normal tidak mampu mendukung

bebannya dan tanah kerasnya terletak pada kedalaman yang

sangat dalam (Gambar 2.2e). Pondasi tiang umumnya

berdiameter lebih kecil dan lebih panjang dibanding dengan

pondasi sumuran (Bowles, J. E., 1991).

(a)

(b)

Universitas Sumatera Utara


(c)

(d)

(e)

Gambar 2.2 Macam-macam tipe pondasi: (a) Pondasi memanjang, (b) Pondasi

telapak , (c) Pondasi rakit, (d) Pondasi sumuran, (e) Pondasi tiang

(Hardiyatmo, H. C.,1996)

Universitas Sumatera Utara


2.4. Penggolongan Pondasi Tiang Pancang

Pondasi tiang pancang dapat digolongkan berdasarkan pemakaian

bahan, cara tiang meneruskan beban dan cara pemasangannya, berikut ini akan

dijelaskan satu persatu.

2.4.1 Pondasi tiang pancang menurut pemakaian bahan dan karakteristik

strukturnya

Tiang pancang dapat dibagi kedalam beberapa kategori (Bowles, J. E.,

1991), antara lain:

A. Tiang pancang kayu

Tiang pancang kayu dibuat dari kayu yang biasanya diberi pengawet dan

dipancangkan dengan ujungnya yang kecil sebagai bagian yang runcing. Tapi

biasanya apabila ujungnya yang besar atau pangkal dari pohon di pancangkan

untuk tujuan maksud tertentu, seperti dalam tanah yang sangat lembek dimana

tanah tersebut akan kembali memberikan perlawanan dan dengan ujungnya yang

tebal terletak pada lapisan yang keras untuk daya dukung yang lebih besar.

Tiang pancang kayu akan tahan lama dan tidak mudah busuk apabila tiang

pancang kayu tersebut dalam keadaan selalu terendam penuh dibawah muka air

tanah dan tiang pancang kayu akan lebih cepat rusak apabila dalam keadaan

kering dan basah selalu berganti-ganti, sedangkan pengawetan dengan pemakaian

obat pengawet pada kayu hanya akan menunda dan memperlambat kerusakan dari

kayu, dan tidak dapat melindungi kayu dalam jangka waktu yang lama.

Oleh karena itu pondasi untuk bangunan-bangunan permanen (tetap) yang

didukung oleh tiang pancang kayu, maka puncak dari pada tiang pancang kayu

tersebut diatas harus selalu lebih rendah dari pada ketinggian dari pada muka air

Universitas Sumatera Utara


tanah terendah. Pada pemakaian tiang pancang kayu biasanya tidak diizinkan

untuk menahan muatan lebih tinggi 25 sampai 30 ton untuk satu tiang.

B. Tiang pancang beton

Tiang pancang jenis ini terbuat dari beton seperti biasanya. Tiang pancang ini

dapat dibagi dalam 3 macam berdasarkan cara pembuatannya (Bowles, J. E.,

1991), yaitu:

a. Precast Reinforced Concrete Pile

Precast Reinforced Concrete Pile adalah tiang pancang beton bertulang yang

dicetak dan dicor dalam acuan beton (bekisting) yang setelah cukup keras

kemudian diangkat dan dipancangkan. Karena tegangan tarik beton kecil dan

praktis dianggap sama dengan nol, sedangkan berat sendiri beton besar, maka

tiang pancang ini harus diberikan penulangan yang cukup kuat untuk menahan

momen lentur yang akan timbul pada waktu pengangkatan dan pemancangan.

Tiang pancang ini dapat memikul beban yang lebih besar dari 50 ton untuk

setiap tiang, hal ini tergantung pada jenis beton dan dimensinya. Precast

Reinforced Concrete Pile penampangnya dapat berupa lingkaran, segi empat, segi

delapan dapat dilihat pada (Gambar 2.3).

Gambar 2.3 Tiang pancang beton precast concrete pile (Bowles, J. E., 1991)

Universitas Sumatera Utara


b. Precast Prestressed Concrete Pile

Tiang pancang Precast Prestressed Concrete Pile adalah tiang pancang beton

yang dalam pelaksanaan pencetakannya sama seperti pembuatan beton prestess,

yaitu dengan menarik besi tulangannya ketika dicor dan dilepaskan setelah beton

mengeras seperti dalam (Gambar 2.5). Untuk tiang pancang jenis ini biasanya

dibuat oleh pabrik yang khusus membuat tiang pancang, untuk ukuran dan

panjangnya dapat dipesan langsung sesuai dengan yang diperlukan.

Gambar 2.4 Tiang pancang Precast Prestressed Concrete Pile

(Bowles, J. E., 1991)

c. Cast in Place

Cast in Place merupakan tiang pancang yang dicor ditempat dengan cara

membuat lubang ditanah terlebih dahulu dengan cara melakukan pengeboran.

Pada Cast in Place ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

1. Dengan pipa baja yang dipancangkan ke dalam tanah, kemudian diisi

dengan beton dan ditumbuk sambil pipa baja tersebut ditarik keatas.

Universitas Sumatera Utara


2. Dengan pipa baja yang dipancang ke dalam tanah, kemudian diisi

dengan beton sedangkan pipa baja tersebut tetap tinggal di dalam

tanah.

Gambar 2.5 Tiang pancang Cast in place pile (Sardjono, 1991)

C. Tiang pancang baja

Kebanyakan tiang pancang baja ini berbentuk profil H. Karena terbuat dari

baja maka kekuatan dari tiang ini sendiri sangat besar sehingga dalam

pengangkutan dan pemancangan tidak menimbulkan bahaya patah seperti halnya

pada tiang beton precast. Jadi pemakaian tiang pancang baja ini akan sangat

bermanfaat apabila kita memerlukan tiang pancang yang panjang dengan tahanan

ujung yang besar.

Tingkat karat pada tiang pancang baja sangat berbeda-beda terhadap

tekstur tanah, panjang tiang yang berada dalam tanah dan keadaan kelembaban

tanah.

Universitas Sumatera Utara


a. Pada tanah yang memiliki tekstur tanah yang kasar/kesap, maka karat yang

terjadi karena adanya sirkulasi air dalam tanah tersebut hampir mendekati

keadaan karat yang terjadi pada udara terbuka;

b. Pada tanah liat ( clay ) yang mana kurang mengandung oksigen maka akan

menghasilkan tingkat karat yang mendekati keadaan karat yang terjadi

karena terendam air;

c. Pada lapisan pasir yang dalam letaknya dan terletak dibawah lapisan tanah

yang padat akan sedikit sekali mengandung oksigen maka lapisan pasir

tersebut juga akan akan menghasilkan karat yang kecil sekali pada tiang

pancang baja.

Pada umumnya tiang pancang baja akan berkarat di bagian atas yang dekat

dengan permukaan tanah. Hal ini disebabkan karena Aerated-Condition ( keadaan

udara pada pori-pori tanah ) pada lapisan tanah tersebut dan adanya bahan-bahan

organis dari air tanah. Hal ini dapat ditanggulangi dengan memoles tiang baja

tersebut dengan ter ( coaltar ) atau dengan sarung beton sekurang-kurangnya 20” (

± 60 cm ) dari muka air tanah terendah.

Karat/korosi yang terjadi karena udara (atmosphere corrosion) pada

bagian tiang yang terletak di atas tanah dapat dicegah dengan pengecatan seperti

pada konstruksi baja biasa.

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.6 Tiang pancang baja (Sardjono, 1991)

D. Tiang pancang komposit

Tiang pancang komposit adalah tiang pancang yang terdiri dari dua bahan

yang berbeda yang bekerja bersama-sama sehingga merupakan satu tiang.

Kadang-kadang pondasi tiang dibentuk dengan menghubungkan bagian atas dan

bagian bawah tiang dengan bahan yang berbeda, misalnya dengan bahan beton di

atas muka air tanah dan bahan kayu tanpa perlakuan apapun disebelah bawahnya.

Biaya dan kesulitan yang timbul dalam pembuatan sambungan menyebabkan cara

ini diabaikan.

1. Water Proofed Steel and Wood Pile.

Tiang ini terdiri dari tiang pancang kayu untuk bagian yang di bawah

permukaan air tanah sedangkan bagian atas adalah beton. Kita telah mengetahui

bahwa kayu akan tahan lama/awet bila terendam air, karena itu bahan kayu disini

diletakan di bagian bawah yang mana selalu terletak dibawah air tanah.

Kelemahan tiang ini adalah pada tempat sambungan apabila tiang

pancang ini menerima gaya horizontal yang permanen. Adapun cara

pelaksanaanya secara singkat sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara


a. Casing dan core (inti) dipancang bersama-sama dalam tanah hingga

mencapai kedalaman yang telah ditentukan untuk meletakan tiang

pancang kayu tersebut dan ini harus terletak dibawah muka air tanah

yang terendah.

b. Kemudian core ditarik keatas dan tiang pancang kayu dimasukan

dalam casing dan terus dipancang sampai mencapai lapisan tanah keras.

c. Secara mencapai lapisan tanah keras pemancangan dihentikan dan core

ditarik keluar dari casing. Kemudian beton dicor kedalam casing sampai

penuh terus dipadatkan dengan menumbukkan core ke dalam casing.

2. Composite Dropped in – Shell and Wood Pile

Tipe tiang ini hampir sama dengan tipe diatas hanya bedanya di sini

memakai shell yang terbuat dari bahan logam tipis permukaannya di beri alur

spiral. Secara singkat pelaksanaanya sebagai berikut:

a. Casing dan core dipancang bersama-sama sampai mencapai kedalaman

yang telah ditentukan di bawah muka air tanah.

b. Setelah mencapai kedalaman yang dimaksud core ditarik keluar dari

casing dan tiang pancang kayu dimasukkan dalam casing terus

dipancang sampai mencapai lapisan tanah keras. Pada pemancangan

tiang pancang kayu ini harus diperhatikan benar-benar agar kepala

tiang tidak rusak atau pecah.

c. Setelah mencapai lapisan tanah keras core ditarik keluar lagi dari casing.

d. Kemudian shell berbentuk pipa yang diberi alur spiral dimasukkan

dalam casing. Pada ujung bagian bawah shell dipasang tulangan

Universitas Sumatera Utara


berbentuk sangkar yang mana tulangan ini dibentuk sedemikian rupa

sehingga dapat masuk pada ujung atas tiang pancang kayu tersebut.

e. Beton kemudian dicor kedalam shell. Setelah shell cukup penuh dan

padat casing ditarik keluar sambil shell yang telah terisi beton tadi

ditahan terisi beton tadi ditahan dengan cara meletakkan core diujung

atas shell.

3. Composit Ungased – Concrete and Wood Pile.

Dasar pemilihan tiang composit tipe ini adalah:

 Lapisan tanah keras dalam sekali letaknya sehingga tidak memungkinkan

untuk menggunakan cast in place concrete pile, sedangkan kalau

menggunakan precast concrete pile terlalu panjang, akibatnya akan susah

dalam transport dan mahal.

 Muka air tanah terendah sangat dalam sehingga bila menggunakan tiang

pancang kayu akan memerlukan galian yang cukup dalam agar tiang pancang

kayu tersebut selalu berada dibawah permukaan air tanah terendah.

Adapun prinsip pelaksanaan tiang composite ini adalah sebagai berikut:

a. Casing baja dan core dipancang bersama-sama dalam tanah sehingga

sampai pda kedalaman tertentu ( di bawah m.a.t )

b. Core ditarik keluar dari casing dan tiang pancang kayu dimasukkan

casing terus dipancang sampai kelapisan tanah keras.

c. Setelah sampai pada lapisa tanah keras core dikeluarkan lagi dari casing

dan beton sebagian dicor dalam casing. Kemudian core dimasukkan lagi

dalam casing.

Universitas Sumatera Utara


d. Beton ditumbuk dengan core sambil casing ditarik ke atas sampai jarak

tertentu sehingga terjadi bentuk beton yang menggelembung seperti bola

diatas tiang pancang kayu tersebut.

e. Core ditarik lagi keluar dari casing dan casing diisi dengan beton lagi

sampai padat setinggi beberapa sentimeter diatas permukaan tanah.

Kemudian beton ditekan dengan core kembali sedangkan casing ditarik

keatas sampai keluar dari tanah.

f. Tiang pancang composit telah selesai

Tiang pancang composit seperti ini sering dibuat oleh The Mac Arthur

Concrete Pile Corp.

4. Composite Dropped – Shell and Pipe Pile

Dasar pemilihan tipe tiang seperti ini adalah:

 Lapisan tanah keras letaknya terlalu dalam bila digunakan cast in place

concrete.

 Muka air tanah terendah terlalu dalam kalau digunakan tiang composit

yang bagian bawahnya terbuat dari kayu.

Cara pelaksanaan tiang tipe ini adalah sebagai berikut:

a. Casing dan core dipasang bersama-sama sehingga casing seluruhnya

masuk dalam tanah. Kemudian core ditarik.

b. Tiang pipa baja dengan dilengkapi sepatu pada ujung bawah

dimasukkan dalam casing terus dipancang dengan pertolongan core

sampai ke tanah keras.

c. Setelah sampai pada tanah keras kemudian core ditarik keatas kembli.

Universitas Sumatera Utara


d. Kemudian shell yang beralur pada dindingnya dimasukkan dalam casing

hingga bertumpu pada penumpu yang terletak diujung atas tiang pipa

baja.bila diperlukan pembesian maka besi tulangan dimasukkan dalam

shell dan kemudian beton dicor sampai padat.

e. Shell yang telah terisi dengan beton ditahan dengan core sedangkan

casing ditarik keluar dari tanah. Lubang disekeliling shell diisi dengan

tanah atau pasir. Variasi lain pada tipe tiang ini dapat pula dipakai tiang

pemancang baja H sebagai ganti dari tiang pipa.

5. Franki Composite Pile

Prinsip tiang hampir sama dengan tiang franki biasa hanya bedanya disini

pada bagian atas dipergunakan tiang beton precast biasa atau tiang profil H dari

baja.

Adapun cara pelaksanaan tiang composit ini adalah sebagai berikut:

a. Pipa dengan sumbat beton dicor terlebih dahulu pada ujung bawah pipa

baja dipancang dalam tanah dengan drop hammer sampai pada tanah

keras. Cara pemasangan ini sama seperti pada tiang franki bias.

b. Setelah pemancangan sampai pada kedalaman yang telah

direncanakan, pipa diisi lagi dengan beton dan terus ditumbuk dengan

drop hammer sambil pipa ditarik lagi ke atas sedikit sehingga terjadi

bentuk beton seperti bola.

c. Setelah tiang beton precast atau tiang baja H masuk dalam pipa sampai

bertumpu pada bola beton pipa ditarik keluar dari tanah.

d. Rongga disekitar tiang beton precast atau tiang baja H diisi dengan

kerikil atau pasir.

Universitas Sumatera Utara


2.4.2 Pondasi tiang pancang menurut pemasangannya

Pondasi tiang pancang menurut cara pemasangannya dibagi dua bagian

besar, yaitu:

A. Tiang pancang pracetak

Tiang pancang pracetak adalah tiang pancang yang dicetak dan dicor

didalam acuan beton (bekisting), kemudian setelah cukup kuat lalu diangkat dan

dipancangkan. Tiang pancang pracetak ini menurut cara pemasangannya terdiri

dari :

1. Cara penumbukan, dimana tiang pancang tersebut dipancangkan kedalam

tanah dengan cara penumbukan oleh alat penumbuk (hammer).

2. Cara penggetaran, dimana tiang pancang tersebut dipancangkan kedalam

tanah dengan cara penggetaran oleh alat penggetar (vibrator).

3. Cara penanaman, dimana permukaan tanah dilubangi terlebih dahulu sampai

kedalaman tertentu, lalu tiang pancang dimasukkan, kemudian lubang tadi

ditimbun lagi dengan tanah.

Cara penanaman ini ada beberapa metode yang digunakan:

a. Cara pengeboran sebelumnya, yaitu dengan cara mengebor tanah

sebelumnya lalu tiang dimasukkan kedalamnya dan ditimbun kembali.

b. Cara pengeboran inti, yaitu tiang ditanamkan dengan mengeluarkan tanah

dari bagian dalam tiang.

c. Cara pemasangan dengan tekanan, yaitu tiang dipancangkan kedalam

tanah dengan memberikan tekanan pada tiang.

Universitas Sumatera Utara


d. Cara pemancaran, yaitu tanah pondasi diganggu dengan semburan air yang

keluar dari ujung serta keliling tiang, sehingga tidak dapat dipancangkan

kedalam tanah.

B. Tiang yang dicor ditempat (cast in place pile)

Tiang yang dicor ditempat (cast in place pile) ini menurut teknik

penggaliannya terdiri dari beberapa macam cara yaitu:

1. Cara penetrasi alas, yaitu pipa baja yang dipancangkan kedalam tanah

kemudian pipa baja tersebut dicor dengan beton.

2. Cara penggalian, cara ini dapat dibagi lagi urut peralatan pendukung yang

digunakan antara lain :

a. Penggalian dengan tenaga manusia, penggalian lubang pondasi tiang

pancang dengan tenaga manusia adalah penggalian lubang pondasi yang

masih sangat sederhana dan merupakan cara konvensional. Hal ini dapat

dilihat dengan cara pembuatan pondasi dalam, yang pada umumnya hanya

mampu dilakukan pada kedalaman tertentu.

b. Penggalian dengan tenaga mesin, penggalian lubang pondasi tiang

pancang dengan tenaga mesin adalah penggalian lubang pondasi dengan

bantuan tenaga mesin, yang memiliki kemampuan lebih baik dan lebih

canggih.

2.5. Alat Tiang Pancang

Dalam pemasangan tiang kedalam tanah, tiang dipancang dengan alat

pemukul yang dapat berupa pemukul (hammer) mesin uap, pemukul getar atau

pemukul yang hanya dijatuhkan. Skema dari berbagai macam alat pemukul

diperlihatkan dalam Gambar 2.7a sampai dengan 2.7d. Pada gambar terebut

Universitas Sumatera Utara


diperlihatkan pula alat-alat perlengkapan pada kepala tiang dalam pemancangan.

Penutup (pile cap) biasanya diletakkan menutup kepala tiang yang kadang-kadang

dibentuk dalam geometri tertutup.

A. Pemukul Jatuh (drop hammer)

Pemukul jatuh terdiri dari blok pemberat yang dijatuhkan dari atas. Pemberat

ditarik dengan tinggi jatuh tertentu kemudian dilepas dan menumbuk tiang.

Pemakaian alat tipe ini membuat pelaksanaan pemancangan berjalan lambat,

sehingga alat ini hanya dipakai pada volume pekerjaan pemancangan yang kecil

B. Pemukul Aksi Tiang (single-acting hammer)

Pemukul aksi tunggal berbentung memanjang dengan ram yang bergerak naik

oleh udara atau uap yang terkompresi, sedangkan gerakan turun ram disebabkan

oleh beratnya sendiri. Energi pemukul aksi tunggal adalah sama dengan berat ram

dikalikan tinggi jatuh (Gambar 2.7a).

(a) (b)

Universitas Sumatera Utara


(c) (d)

Gambar 2.7 Skema pemukul tiang : (a) Pemukul aksi tunggal (single acting

hammer), (b) Pemukul aksi double (double acting hammer), (c)

Pemukul diesel (diesel hammer), (d) Pemukul getar (vibratory

hammer) (Hardiyatmo, H. C., 2006)

C. Pemukul Aksi Double (double-acting hammer)

Pemukul aksi double menggunakan uap atau udara untuk mengangkat ram

dan untuk mempercepat gerakan ke bawahnya (Gambar 2.7b). Kecepatan

pukulan dan energi output biasanya lebih tinggi dari pada pemukul aksi tunggal.

D. Pemukul Diesel (diesel hammer)

Pemukul diesel terdiri dari silinder, ram, balok anvil dan sistem injeksi bahan

bakar. Pemukul tipe ini umumnya kecil, ringan dan digerakkan dengan

menggunakan bahan bakar minyak. Energi pemancangan total yang dihasilkan

adalah jumlah benturan dari ram ditambah energi hasil dari ledakan (Gambar

2.7c).

Universitas Sumatera Utara


E. Pemukul Getar (vibratory hammer)

Pemukul getar merupakan unit alat pancang yang bergetar pada frekuensi

tinggi (Gambar 2.7d).

2.6. Hidrolik Sistem

Hidrolik Sistem adalah suatu metode pemancangan pondasi tiang dengan

menggunakan mekanisme hydraulic jacking foundation system, dimana sistem

ini telah mendapatkan hak paten dari United States, United Kingdom, China dan

New Zealand.

Sistem ini terdiri dari suatu hydraulic ram yang ditempatkan pararel

dengan tiang yang akan dipancang, dimana untuk menekan tiang tersebut

ditempatkan sebuah mekanisme berupa plat penekan yang berada pada puncak

tiang dan juga ditempatkan sebuah mekanisme pemegang (grip) tiang, kemudian

tiang ditekan ke dalam tanah. Dengan sistem ini tiang akan tertekan secara

kontiniu ke dalam tanah, tanpa suara, tanpa pukulan dan tanpa getaran.

Penempatan sistem penekan hydraulic yang senyawa dan menjepit pada

dua sisi tiang menyebabkan didapatkannya posisi titik pancang yang cukup

presisi dan akurat. Ukuran diameter piston mesin hydraulic jack tergantung

dengan besar kapasitas daya dukung mesin tersebut. Sebagai pembebanan,

ditempatkan balok – balok beton atau plat – plat besi pada dua sisi bantalan alat

yang pembebanannya disesuaikan dengan muatan yang dibutuhkan tiang.

Keunggulan teknologi hidrolik sistem ini yang ditinjau dari beberapa segi,

antara lain adalah:

1. Bebas getaran

Universitas Sumatera Utara


Bila suatu proyek yang akan dikerjakan berdampingan dengan

bangunan, pabrik atau instansi yang sarat akan peralatan instrumentasi

yang sedang bekerja, maka teknologi hydraulic jacking system ini akan

menyelesaikan masalah wajib bebas getaran terhadap instalasi yang ada

tersebut.

2. Bebas pengotoran lokasi kerja dan udara serta bebas dari kebisingan

Teknologi pemancangannya bersih dari asap dan partikel debu (jika

menggunakan drop hammer) serta bebas dari unsur berlumpur (jika

menggunakan bore piles). Karena sistem ini juga tidak bising akibat suara

pukulan pancang (seperti pada drop hammer), maka untuk lokasi yang

membutuhkan ketenangan seperti rumah sakit, sekolah dan bangunan di

tengah kota, teknologi ini tidak akan membuat lingkungan sekitarnya

terganggu. hydraulic jacking system ini juga disebut dengan teknologi

berwawasan lingkungan (environment friendly).

3. Daya dukung aktual per tiang diketahui

Seperti kita ketahui bahwa kondisi tanah asli di bawah pondasi yang akan

dibangun umumnya terdiri dari lapisan – lapisan yang berbeda

ketebalannya, jenis tanah maupun daya dukungnya. Dengan hydraulic

jacking system, daya dukung setiap tiang dapat diketahui dan dimonitor

langsung dari manometer yang dipasang pada peralatan hydraulic jacking

system sepanjang proses pemancangan berlangsung.

4. Harga yang ekonomis

Teknologi hydraulic jacking ini tidak memerlukan pemasangan tulangan

ekstra penahan impack pada kepala tiang pancang seperti pada tiang

Universitas Sumatera Utara


pancang umumnya. Disamping itu, dengan sistem pemancangan yang

simpel dan cepat menyebabkan biaya operasional yang lebih hemat.

5. Lokasi kerja yang terbatas

Dengan tinggi alat yang relatif rendah, hydraulic jacking system ini dapat

digunakan pada basement, ground floor atau lokasi kerja yang terbatas,

Alat hydraulic jacking system ini dapat dipisahkan menjadi beberapa

komponan sehingga memudahkan untuk dapat dibawa masuk atau keluar

lokasi kerja.

Kekurangan dari teknologi, hydraulic jacking system antara lain adalah :

1. Apabila terdapat batu atau lapisan tanah keras yang tipis pada ujung tiang

yang ditekan, maka hal tersebut akan mengakibatkan kesalahan pada saat

pemancangan;

2. Sulitnya mobilisasi alat pada daerah lunak ataupun pada daerah berlumpur

(biasanya pada areal tanah timbunan);

3. Karena hydraulic jacking ini mempunyai berat sekitar 320 ton dan saat

permukaan tanah yang tidak sama daya dukungnya, maka hal tersebut

akan dapat mengakibatkan posisi alat pancang menjadi miring bahkan

tumbang. Kondisi ini akan sangat berbahaya terhadap keselamatan

pekerja;

4. Pergerakan alat hydraulic jacking ini sedikit lambat, proses

pemindahannya relatif lama untuk pemancangan titik yang berjauhan.

Universitas Sumatera Utara


2.7. Metode Pelaksanaan Pondasi Tiang Pancang

Aspek teknologi sangat berperan dalam suatu proyek konstruksi.

Umumnya, aplikasi teknologi ini banyak diterapkan dalam metode pelaksanaan

pekerjaan konstruksi. Penggunaan metode yang tepat, praktis, cepat dan aman,

sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek konstruksi.

Sehingga target waktu, biaya dan mutu sebagaimana ditetapkan dapat tercapai.

Tahapan pekerjaan pondasi tiang pancang adalah sebagai berikut:

A. Pekerjaan Persiapan

1. Membubuhi tanda, tiap tiang pancang harus dibubuhi tanda serta tanggal saat

tiang tersebut dicor. Titik-titik angkat yang tercantum pada gambar harus

dibubuhi tanda dengan jelas pada tiang pancang. Untuk mempermudah

perekaan, maka tiang pancang diberi tanda setiap 1 meter.

2. Pengangkatan/pemindahan, tiang pancang harus dipindahkan/diangkat dengan

hati-hati sekali guna menghindari retak maupun kerusakan lain yang tidak

diinginkan.

3. Rencanakan final set tiang, untuk menentukan pada kedalaman mana

pemancangan tiang dapat dihentikan, berdasarkan data tanah dan data jumlah

pukulan terakhir (final set).

4. Rencanakan urutan pemancangan, dengan pertimbangan kemudahan

manuver alat. Lokasi stock material agar diletakkan dekat dengan lokasi

pemancangan.

5. Tentukan titik pancang dengan theodolith dan tandai dengan patok.

Universitas Sumatera Utara


6. Pemancangan dapat dihentikan sementara untuk peyambungan batang

berikutnya bila level kepala tiang telah mencapai level muka tanah sedangkan

level tanah keras yang diharapkan belum tercapai.

Proses penyambungan tiang :

a. Tiang diangkat dan kepala tiang dipasang pada helmet seperti yang

dilakukan pada batang pertama.

b. Ujung bawah tiang didudukkan diatas kepala tiang yang pertama

sedemikian sehingga sisi-sisi pelat sambung kedua tiang telah berhimpit

dan menempel menjadi satu.

c. Penyambungan sambungan las dilapisi dengan anti karat

d. Tempat sambungan las dilapisi dengan anti karat.

7. Selesai penyambungan, pemancangan dapat dilanjutkan seperti yang

dilakukan pada batang pertama. Penyambungan dapat diulangi sampai

mencapai kedalaman tanah keras yang ditentukan.

8. Pemancangan tiang dapat dihentikan bila ujung bawah tiang telah mencapai

lapisan tanah keras/final set yang ditentukan.

9. Pemotongan tiang pancang pada cut off level yang telah ditentukan.

B. Proses Pemancangan

1. Alat pancang ditempatkan sedemikian rupa sehingga as hammer jatuh pada

patok titik pancang yang telah ditentukan.

2. Tiang diangkat pada titik angkat yang telah disediakan pada setiap lubang.

3. Tiang didirikan disamping driving lead dan kepala tiang dipasang pada helmet

yang telah dilapisi kayu sebagai pelindung dan pegangan kepala tiang.

Universitas Sumatera Utara


4. Ujung bawah tiang didudukkan secara cermat diatas patok pancang yang telah

ditentukan.

5. Penyetelan vertikal tiang dilakukan dengan mengatur panjang backstay sambil

diperiksa dengan waterpass sehingga diperoleh posisi yang betul-betul

vertikal. Sebelum pemancangan dimulai, bagian bawah tiang diklem dengan

center gate pada dasar driving lead agar posisi tiang tidak bergeser selama

pemancangan, terutama untuk tiang batang pertama.

6. Pemancangan dimulai dengan mengangkat dan menjatuhkan hammer secara

kontinyu ke atas helmet yang terpasang diatas kepala tiang.

C. Metode pengangkatan tiang pancang

1. Pengangkatan tiang untuk disusun (dengan dua tumpuan )

Metode pengangkatan dengan dua tumpuan ini biasanya dilaksanakan pada saat

penyusunan tiang pancang, baik itu dari pabrik (PT. Wika Beton) ke trailer

ataupun dari Trailer ke penyusunan lapangan.

Persyaratan umum dari metode ini adalah jarak titik angkat dari kepala tiang

adalah 1/5 L. Untuk mendapatkan jarak harus diperhatikan momen maksimum

pada bentangan, haruslah sama dengan momen minimum pada titik angkat tiang

sehingga dihasilkan momen yang sama.

Pada prinsipnya pengangkatan dengan dua tumpuan untuk tiang beton adalah

dalam tanda pengangkatan dimana tiang beton pada titik angkat berupa kawat

yang terdapat pada tiang beton yang telah ditentukan dan untuk lebih jelas dapat

dilihat oleh gambar.

Universitas Sumatera Utara


Kabel baj a pengangkat

t it ik angkat ( garis rant ai)

bant alan

kepala t iang
perm ukaan t anah

Kabel baja pengangkat

1/5L 3/5L 1/5L

Gambar 2.8 Pengangkatan Tiang Dengan Dua tumpuan

2. Pengangkatan dengan satu tumpuan

Metode pengangkatan ini biasanya digunakan pada saat tiang sudah siap

akan dipancang oleh mesin pemancangan sesuai dengan titik pemancangan

yang telah ditentukan di lapangan.

Adapun persyaratan utama dari metode pengangkatan satu tumpuan ini

adalah jarak antara kepala tiang dengan titik angker berjarak L/3. Untuk

mendapatkan jarak ini, haruslah diperhatikan bahwa momen maksimum pada

Universitas Sumatera Utara


tempat pengikatan tiang sehingga dihasilkan nilai momen yang sama.

Gambar 2.9 Pengangkatan Tiang Dengan Satu Tumpuan

D. Quality Control

1. Kondisi fisik tiang

a. Seluruh permukaan tiang tidak rusak atau retak

b. Umur beton telah memenuhi syarat

c. Kepala tiang tidak boleh mengalami keretakan selama pemancangan

Universitas Sumatera Utara


2. Toleransi

Vertikalisasi tiang diperiksa secara periodik selama proses pemancangan

berlangsung. Penyimpangan arah vertikal dibatasi tidak lebih dari 1:75 dan

penyimpangan arah horizontal dibatasi tidak lebih dari 75 mm.

3. Penetrasi

Tiang sebelum dipancang harus diberi tanda pada setiap setengah meter di

sepanjang tiang untuk mendeteksi penetrasi per setengah meter. Dicatat

jumlah pukulan untuk penetrasi setiap setengah meter.

4. Final set

Pamancangan baru dapat dihentikan apabila telah dicapai final set sesuai

perhitungan.

(a) (b) (c)

Gambar 2.10 Urutan pemancangan : (a) Pemancangan tiang, (b) Penyambungan

tiang, (c) Calendering/final set

Universitas Sumatera Utara


2.8. Tiang Dukung Ujung dan Tiang Gesek

Ditinjau dari cara mendukung beban, tiang dapat dibagi menjadi 2 (dua)

macam (Hardiyatmo, H. C.,2002), yaitu:

1. Tiang dukung ujung (end bearing pile) adalah tiang yang kapasitas

dukungnya ditentukan oleh tahanan ujung tiang. Umumnya tiang

dukung ujung berada dalam zone tanah yang lunak yang berada diatas

tanah keras. Tiang-tiang dipancang sampai mencapai batuan dasar atau

lapisan keras lain yang dapat mendukung beban yang diperkirakan

tidak mengakibatkan penurunan berlebihan. Kapasitas tiang

sepenuhnya ditentukan dari tahanan dukung lapisan keras yang berada

dibawah ujung tiang (Gambar 2.11a).

2. Tiang gesek (friction pile) adalah tiang yang kapasitas dukungnya

lebih ditentukan oleh perlawanan gesek antara dinding tiang dan tanah

disekitarnya (Gambar 2.11b). Tahanan gesek dan pengaruh

konsolidasi lapisan tanah dibawahnya diperhitungkan pada hitungan

kapasitas tiang.

(a) (b)

Gambar 2.11 Tiang ditinjau dari cara mendukung bebannya

(Hardiyatmo, H. C., 2006)

Universitas Sumatera Utara


2.9. Kapasitas Daya Dukung

2.9.1. Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang dari Hasil Sondir

Diantara perbedaaan tes dilapangan, sondir atau cone penetration test

(CPT) seringkali sangat dipertimbangkan berperanan dari geoteknik. CPT atau

sondir ini tes yang sangat cepat, sederhana, ekonomis dan tes tersebut dapat

dipercaya dilapangan dengan pengukuran terus-menerus dari permukaan tanah-

tanah dasar. CPT atau sondir ini dapat juga mengklasifikasi lapisan tanah dan

dapat memperkirakan kekuatan dan karakteristik dari tanah. Didalam

perencanaan pondasi tiang pancang (pile), data tanah sangat diperlukan dalam

merencanakan kapasitas daya dukung (bearing capacity) dari tiang pancang

sebelum pembangunan dimulai, guna menentukan kapasitas daya dukung ultimit

dari tiang pancang.

Untuk menghitung daya dukung tiang pancang berdasarkan data hasil

pengujian sondir dapat dilakukan dengan menggunakan metode Aoki dan De

Alencar dengan persamaan sebagai berikut :

Qu = Qb + Qs = qb.Ab + f.As ............................................................. …(2.1)

dimana :

Qu = Kapasitas daya dukung aksial ultimit tiang pancang.

Qb = Kapasitas tahanan di ujung tiang.

Qs = Kapasitas tahanan kulit.

qb = Kapasitas daya dukung di ujung tiang persatuan luas.

Ab = Luas di ujung tiang.

f = Satuan tahanan kulit persatuan luas.

As = Luas kulit tiang pancang.

Universitas Sumatera Utara


Dalam menentukan kapasitas daya dukung aksial ultimit (Qu) dipakai

Metode Aoki dan De Alencar.

Aoki dan Alencar mengusulkan untuk memperkirakan kapasitas dukung

ultimit dari data Sondir. Kapasitas dukung ujung persatuan luas (qb) diperoleh

sebagai berikut :

qca (base)
qb = ................................................................................ ..…(2.2)
Fb

dimana :

qca (base) = Perlawanan konus rata-rata 1,5D diatas ujung tiang, 1,5D

dibawah ujung tiang

Fb = faktor empirik tergantung pada tipe tanah.

Setelah diperoleh nilai qb maka kita hitung nilai kapasitas dukung ujung

tiang (Qb) dengan menggunakan rumus:

Qb = qb x Ap …………………………………………………………(2.3)

Kapasitas kulit persatuan luas (f) diprediksi sebagai berikut :

αs
F = qc (side) .............................................................................. … (2.4)
Fs

dimana :

qc (side) = Perlawanan konus rata-rata pada masing lapisan sepanjang

tiang.

Fs = Faktor empirik yang tergantung pada tipe tanah.

Fb = Faktor empirik yang tergantung pada tipe tanah.

Faktor Fb dan Fs diberikan pada Tabel 2.1 dan nilai-nilai faktor empirik αs

diberikan pada Tabel 2.1.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.1 Faktor empirik Fb dan Fs (Titi & Farsakh, 1999)

Tipe Tiang Pancang Fb Fs

Tiang Bor 3,5 7,0

Baja 1,75 3,5

Beton Pratekan 1,75 3,5

Tabel 2.2 Nilai faktor empirik untuk tipe tanah yang berbeda (Titi & Farsak1999)

αs
Tipe Tanah Tipe Tanah αs (%) Tipe Tanah αs (%)
(%)

Lempung
Pasir 1,4 Pasir berlanau 2,2 2,4
berpasir

Lempung
Pasir berlanau
Pasir kelanauan 2,0 2,8 berpasir 2,8
dengan lempung
dengan lanau

Pasir kelanauan Lempung

dengan 2,4 Lanau 3,0 berlanau 3,0

lempung dengan pasir

Pasir Lanau
Lempung 4,0
berlempung 2,8 berlempung 3,0
berlanau
dengan lanau dengan pasir

Pasir Lanau
3,0 3,4 Lempung 6,0
berlempung berlempung

Universitas Sumatera Utara


Pada umumnya nilai αs untuk pasir = 1,4 persen, nilai αs untuk lanau = 3,0

persen dan nilai αs untuk lempung = 6,0 persen.

Setelah kita peroleh nila f, maka kita dapat hitung kapasitas kulit (Qs)

Setelah menggunakan rumus:

Qs = f x As

dimana:

f = Kapasitas dukung kulit persatuan

As = Luas kulit tiang pancang ……………………………………(2.5)

Apabila nilai Qb dan Qs telah kita peroleh, maka nilai kapasitas daya

dukungaksial ultimit tiang (Qu) dapat kita hitung dengan rumus di bawah ini:

Qu = Qb + Qs …………………………………………………...…(2.6)

dimana:

Qu = Kapasitas daya dukung aksial ultimit tiang

Qb = Kapasitas tahanan di ujung tiang

Qs = Kapasitas tahanan kulit

Pada tahap terakhir, kita dapat memperoleh daya dukung ijin tiang (Qa)

dengan memperhitungkan faktor keamanan (safety factor) sesuai dengan rumus

berikut :

Qu
Qa = ………………………………………………….............…(2.7)
SF

dimana :

Qa = Daya dukung ijin tiang

Qu = Kapasitas daya dukung aksial ultimit tiang

FS = Faktor keamanan.

Universitas Sumatera Utara


Untuk menghitung daya dukung tiang pancang berdasarkan data hasil

pengujian sondir dapat dilakukan dengan menggunakan metode Meyerhoff. Daya

dukung ultimite pondasi tiang pancang tunggal dinyatakan dengan rumus:

Qult = (qc x Ap)+(JHL x K11)............................................................ …(2.8)

dimana :

Qult = Kapasitas daya dukung tiang pancang tunggal.

qc = Tahanan ujung sondir.

Ap = Luas penampang tiang.

JHL = Jumlah hambatan lekat.

K11 = Keliling tiang.

Daya dukung ijin pondasi dinyatakan dengan rumus :

q c xAc JHLxK 11
Qijin = + ................................................................ …(2.9)
3 5

dimana :

Qijin = Kapasitas daya dukung ijin pondasi.

qc = Tahanan ujung sondir.

Ap = Luas penampang tiang.

JHL = Jumlah hambatan lekat.

K11 = Keliling tiang.

2.9.2. Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang dari Hasil SPT

Standard Penetration Test (SPT) adalah sejenis percobaan dinamis dengan

memasukkan suatu alat yang dinamakan split spoon kedalam tanah. Dengan

percobaan ini akan diperoleh kepadatan relatif (relative density), sudut geser tanah

(Ф) berdasarkan nilai jumlah pukulan (N). Hubungan kepadatan relatif, sudut

geser tanah dan nilai N dari pasir dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.3 Hubungan Dr, Ф dan N dari pasir (Mekanika Tanah & Teknik Pondasi,

Sosrodarsono Suyono Ir, 1983)

Sudut Geser Dalam

Nilai N Kepadatan Relative (Dr) Menurut Menurut

Peck Meyerhof

0-4 0,0-0,2 Sangat lepas < 28,5 < 30

4-10 0,2-0,4 Lepas 28,5-30 30-35

10-30 0,4-0,6 Sedang 30-36 35-40

30-50 0,6-0,8 Padat 36-41 40-45

> 50 0,8-1,0 Sangat Padat < 41 > 45

Hasil uji SPT yang diperoleh dari lapangan perlu dilakukan koreksi. Pada data

uji SPT terdapat dua jenis koreksi, yaitu koreksi efisiensi alat (cara pengujian) dan

koreksi tegangan overburden efektif (kedalaman).

1. Skempton, 1986, mengembangkan koreksi nilai SPT sebagai berikut :

Em . CB . CS . CR
N60 = .................................................................. …(2.10)
0,60

dimana :

N60 = Nilai koreksi SPT terhadap cara pengujian.

Em = Hammer eficiency (Tabel 2.4).

CB = Koreksi diameter bor (Tabel 2.5).

CS = Koreksi sampler (Tabel 2.5).

CR = Koreksi panjang tali (Tabel 2.5).

N = Harga SPT lapangan.

Universitas Sumatera Utara


2. Koreksi tegangan overburden efektif (kedalaman) sebagai berikut:

N’60 = CN . N60 ................................................................................. …(2.11)

Pasir halus normal konsolidasi:

2
CN = ................................................................................ …(2.12)
σ'
1+ v
σr

Pasir kasar normal konsolidasi:

3
CN = ............................................................................... …(2.13)
2+
σ v'
σr

Pasir over konsolidasi:

1,7
CN = ............................................................................. …(2.14)
0,7 +
σ v'
σr

dimana :

N’60 = Nilai SPT terkoreksi cara pengujian dan regangan overburden.

σ'v = Tegangan overburden efektif.

σr = Reference stress = 100 kPa.

N60 = Nilai koreksi SPT terhadap cara pengujian

Tabel 2.4 SPT hammer efficiencies (Clayton, 1990)

Hammer Release Hammer


Country Hammer Type
Mechanism Effeciency, Em

Argentina Donut Cathead 0.45

Brazil Pin weight Hand dropped 0.72

Automatic Trip 0.60


China
Donut Hand dropped 0.55

Universitas Sumatera Utara


Donut Cathead 0.50

Colombia Donut Cathead 0.50

Tombi trigger
Donut 0.78-0.85
Japan Cathead 2 turns +
Donut 0.65-0.67
Special release

UK Automatic Trip 0.73

Safety 2 turns on cathead 0.55-0.60


USA
Donut 2 turns on cathead 0.45

Venezuela Donut Cathead 0.43

Tabel 2.5 Borehole, Sampler and Rod correction factors (Skempton, 1986)

Factor Equipment Variables Value

Borehole diameter factor,

CB 2.5-4.5 in (65-115 mm) 1.00

6 in (150 mm) 1.05

8 in (200 mm) 1.15

Sampling methode factor,

CS Standard sampler 1.00

Sampler without liner (not 1.20

recommended)

Rod lenght factor, CR

10-13 ft (3-4 m) 0.75

Universitas Sumatera Utara


13-20 ft (4-6 m) 0.85

20-30 ft (6-10 m) 0.95

> 30 ft (> 10 m) 1.00

Hubungan antara harga N dengan berat isi yang sebenarnya hampir tidak

mempunyai arti karena hanya mempunyai partikel kasar (tabel II.5). Harga berat

isi yang dimaksud sangat tergantung pada kadar air.

Table 2.6 Hubungan antara N dengan Berat Isi Tanah (Sosrodarsono, 1983)

Harga N <10 10 - 30 30 – 50 >50


Tanah tidak
Berat isi
kohesif 12 – 16 14 - 18 16 – 20 18 – 23
γ kN/m3

Harga N <4 4 - 15 16 – 25 >25


Tanah
Berat isi
kohesif 14 – 18 16 - 18 16 – 18 >20
γ kN/m3

Pada tanah tidak kohesif daya dukung sebanding dengan berat isi tanah,

hal ini berarti bahwa tinggi muka air tanah banyak mempengaruhi daya dukung

pasir. Tanah dibawah air mempunyai berat isi efektif yang kira-kira setengah berat

isi tanah diatas muka air.

Tanah dapat dikatakan mempunyai daya dukung yang baik, dapat dinilai

dari ketentuan berikut ini :

1. Lapisan kohesif mempunyai nilai SPT, N > 35

2. Lapisan kohesif mempunyai harga kuat tekan (qu) 3 – 4 kg/cm² atau harga

SPT, N > 15

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.12 Grafik Variasi harga α berdasarkan kohesi tanah

Perkiraan kapasitas daya dukung pondasi tiang pancang pada tanah pasir

dan silt didasarkan pada data uji lapangan SPT, ditentukan dengan perumusan

sebagai berikut:

1. Kekuatan ujung tiang (end bearing), (Meyerhof, 1976).

Untuk tanah pasir dan kerikil:

Qp = 40 . N-SPT . L D . Ap < 400 . N-SPT . Ap ......................... …(2.15)

Untuk tahanan geser selimut tiang adalah:

Qs = 2 N-SPT . p. L ...................................................................... …(2.16)

Daya dukung ujung tiang (end bearing) untuk tanah kohesif plastis :

Qp = 9 . Cu . Ap ............................................................................ …(2.17)

Cu = N-SPT . 2/3 . 10

Universitas Sumatera Utara


Untuk tahanan geser selimut tiang adalah:

Qs = α . cu . p . Li ........................................................................... …(2.18)

Dimana : α = Koefisien adhesi antara tanah dan tiang

Cu = Kohesi Undrained

p = keliling tiang

Li = panjang lapisan tanah

2. Kekuatan Lekatan (skin friction), (Meyerhof, 1976).

Untuk pondasi tiang tipe large displacement (driven pile) :

σr
fs = N60 ................................................................................. …(2.19)
50

Untuk pondasi tiang tipe small displacement (bored pile) :

fs = σ r N .................................................................................. …(2.20)
60
100

dan :

Psu = As . fs .................................................................................... …(2.21)

dimana :

fs = Tahanan satuan skin friction, kN/m2.

N60 = Nilai SPT N60.

As = Luas selimut tiang.

Pus = Kapasitas daya dukung gesekan (skin friction), kN.

Untuk tahanan geser selimut tiang pancang pada tanah non-kohesif :

QS = 2 . N-SPT . p . Li .................................................................. …(2.22)

dimana:

Li = Panjang lapisan tanah, m.

p = Keliling tiang, m.

Universitas Sumatera Utara


2.9.3. Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang Dari Hasil Bacaan Jack

Manometer

Kapasitas daya dukung tiang pancang dapat diketahui berdasarkan

bacaan manometer yang tersedia pada alat pancang hydraulic jack.

Kapasitas daya dukung tiang dapat dihitung dengan rumus :

Q = P x A..............................................................................................(2.23)

Keterangan;

Q = Daya dukung tiang pada saat pemancangan (Ton)

P = Bacaan manometer (Kg/cm2)

A = Total luas efektif penampang piston (cm2)

Pada setiap mesin mempunyai dua buah piston.

Untuk mesin kapasitas 320 Ton :

Diameter piston hydraulic jack (1) = 180 mm = 18 cm

(2) = 220 mm = 22 cm

Luas penampang piston (1) = π.r2

= π. 92 cm = 254,47 cm2

Luas penampang piston (2) = π.112 cm = 380,132 cm2

Total luas efektif penampang piston = (2 x 254,47) + (2 x 380,132)

= 1269,204 cm2

2.10. Kapasitas Kelompok Tiang

Kapasitas kelompok tiang tidak selalu sama dengan jumlah kapasitas

tiang tunggal yang berada dalam kelompoknya. Hal ini dapat terjadi jika tiang

dipancang dalam lapisan pendukung yang mudah mampat atau dipancang pada

lapisan yang tidak mudah mampat, namun di bawahnya terdapat lapisan lunak.

Universitas Sumatera Utara


Stabilitas kelompok tiang-tiang tergantung dari dua hal, yaitu (Hardiyatmo, 2003):

1. Kemampuan tanah di sekitar dan di bawah kelompok tiang untuk mendukung

beban total;

2. Pengaruh konsolidasi tanah yang terletak di bawah kelompok tiang.

Oleh karena itu, cara pemasangan tiang tunggal, seperti: pemasangan tiang

dengan cara dipancang, dibor, atau ditekan, akan berpengaruh kecil kedua hal

tersebut di atas. Pada beban struktur tertentu, penurunan kelompok tiang yang

sama dengan penurunan tinag tunggal hanya terjadi jika dasar kelompok tiang

terletak pada lapisan keras.

Jika tiang-tiang dipancang pada lapisan yang mampat (misalnya

lempung kaku), atau kondisi yang lain, dipancang pada lapisan yang tidak mudah

mampat (misalnya pasir padat) tetapi lapisan tersebut berada di atas lapisan tanah

lunak, maka kapasitas kelompok tiang mungkin lebih rendah dari jumlah

kapasitas masing-masing tiang.

Demikian pula, penurunan kelompok tiang yang terjadi sangat mungkin

lebih besar dari penurunan tiang tunggalnya, pada beban yang sama. Pada tiang

tunggal luas zone tertekan pada bagian bawah tiang sangat lebih kecil dari pada

luas zone tertekan untuk kelompok tiang. Hal ini yang menyebabkan penurunan

kelompok tiang menjadi lebih besar dari pada penurunan tiang tunggal.

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.13 Perbandingan Zona Tertekan pada Tiang Tunggal dan Kelompok

Tiang. (a)Tiang Tunggal, (b) Kelompok Tiang

2.11 Kapasitas Kelompok dan Efisiensi Tiang dalam Tanah Kohesif

Jika kelompok tiang dipancang dalam tanah lempung lunak, pasir tidak

padat, atau timbunan, dengan tiang dasar yang bertumpu pada lapisan lempung

kaku, maka kelompok tiang tersebut tidak mempunyai resiko akan mengalami

keruntuhan geser umum (general shear failure).

Kapasits kelompok tiang apung dipengaruhi oleh:

1. Jumlah kapasitas tiang tunggal dalam kelompok tiang bila jarak tiang jauh.

2. Tahanan gesek tiang yang dikembangkan oleh gesekan antara bagian luar

kelompok tiang dengan tanah disekelilingnya, jika jarak terlalu dekat.

Untuk menghitung kapasitas tiang yang berkaitan dengan keruntuhan

blok, Terzaghi dan Peck (1948) mengambil asumsi-asumsi sebagai berikut:

1. Pelat penutup tiang (pile cap) sangat kaku.

2. Tanah yang berada di dalam kelompok tiang-tiang berkelakuan seperti blok

padat.

Universitas Sumatera Utara


Dengan asumsi-asumsi tersebut, keseluruhan blok dapat dianggap sebgai

pondasi-dalam, dengan kapasitas ultimit dinyatakan persamaan (Terzaghi dan

Peck, 1948):

Qs = 2 D (B + L ) c + 1,3 cb N c BL ………………………………(2.24)

dimana : Qs = Kapasitas ultimit kelompo, nilainya harus tidak melampaui nQs

(dengan n = jumlah tiang dalam kelompoknya) (kN)

c = kohesi tanah di sekeliling kelompok tiang (kN/m3)

cb = Kohesi tanah di bawah dasar kelompok tiang (kN/m3)

B = lebar kelompok tiang, dihitung dari pinggir tiang-tiang (m)

L = panjang tiang kelompok

D = kedalaman tiang di bawah permukaan tanah (m)

N c = faktor kapasitas dukung

Dalam hitungan kapasitas kelompok tiang maka dipilih dari hal-hal berikut:

1. Jika kapasitas kelompok tiang (Q g ) lebih kecil daripada kapasitas tiang

tunggal kali jumlah tiang (nQu ) , maka kapasitas dukung pondasi tiang

yang dipakai adalah kapasitas kelompoknya.

2. Sebaliknya, bila dari hitungan kapasitas kelompok tiang (Q g ) lebih besar,

maka dipakai kapasitas tiang tunggal kali jumlahnya (nQu ) .

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.14 Kelompok Tiang dalam Tanah Lempung yang

Bekerja sebagai Balok

Teori dan pengamatan telah menunjukkan, bahwa kapasitas total dari

kelompok tiang gesek (friction pile), khususnya tiang dalam tanah lempung,

sering lebih kecil dari pada hasil kali kapasitas tiang tunggal dikalikan jumlah

tiang dalam kelompoknya. Jadi, disini besarnya kapasitas total menjadi

tereduksi yang tergantung dari ukuran, bentuk, kelompok, jarak, dan panjang

tiangnya.

Menurut Coduto (1983), efisiensi tiang bergantung pada beberapa faktor,

antara lain:

1. Jumlah, panjang, diameter, susunan dan jarak tiang.

2. Model transfer beban (tahanan gesek terhadap tahanan dukung ujung);

3. Prosedur pelaksanaan pemasangan tiang;

4. Urutan pemasangan tiang;

5. Macam tanah;

6. Waktu setelah pemasangan tiang;

7. Interaksi antara pelat penutup tiang (pile cup) dengan tanah;

8. Arah dari beban yang bekerja.

Universitas Sumatera Utara


Efesiensi kelompok tiang didefenisikan sebagai berikut:

Qg
Eg = ……….………………………………………………..(2.25)
nQu

dimana : E g = efesiensi kelompok tiang

Qs = beban maksimum kelompok tiang yang mengakibatkan

keruntuhan

Qu = beban maksimum tiang tunggal yang mengakibatkan keruntuhan

n = jumlah tiang dalam kelompok

Beberapa persamaan efisiensi tiang telah diusulkan untuk menghitung

kapasitas kelompok tiang, namun semuanya hanya bersifat pendekatan.

Persamaan-persamaan yang diusulkan didasarkan pada susunan tiang dengan

mengabaikan panjang tiang, variasi bentuk tiang, variasi sifat tanah dengan

kedalaman dan pengaruh muka air tanah. Berikut adalah metode-metode untuk

perhitungan efisiensi:

1. Converse-Labarre Formula, sebagai berikut:

Eg = 1 − θ
(n '
)
− 1 m + (m − 1) n '
…………………….………(2.26)
90 mn '

dimana : E g = Efesiensi kelompok tiang

m = Jumlah baris tiang

n ' = jumlah tiang dalam satu baris

θ = arc tg d/s, dalam derajat

s = jarak pusat ke pusat tiang

d = diameter tiang

Universitas Sumatera Utara


2. Metode Los Angeles Group

Eg = 1 −
D
s.m.n
{ ( ) ( )}
m n ' − 1 + n ' (m − 1) + 2 ( m − 1) n ' − 1 ……...….(2.27)

dimana : E g = Efesiensi kelompok tiang

m = Jumlah baris tiang

n ' = jumlah tiang dalam satu baris

s = jarak pusat ke pusat tiang

D = diameter tiang

Gambar 2.15 Defenisi Jarak s dalam Hitungan Efisiensi Tiang

Kapasitas ultimit kelompok tiang dengan memperhatikan faktor efesiensi

tiang dinyatakan oleh persamaan (untuk jarak tiang-tiang kira-kira 2,25d atau

lebih).

Q g = E g . n . Qu ……………………………………………………….(2.28)

dimana : Qg = Beban maksimum kelompok tiang yang mengakibatkan keruntuhan

Es = Efesiensi kelompok tiang

n = Jumlah tiang dalam kelompok

Qu = Beban maksimum tiang tunggal

Universitas Sumatera Utara


2.12 Penurunan Tiang (Pile Settlement)

Terdapat dua hal yang perlu diketahui mengenai penurunan, yaitu:

a. Besarnya penurunan yang akan terjadi;

b. Kecepatan penurunan.

Istilah penurunan (settlement) digunakan untuk menunjukkan gerakan

titik tertentu pada bangunan terhadap titik referensi yang tetap. Umumnya,

penurunan yang tidak seragam lebih membahayakan bangunan dari pada

penurunan totalnya.

Selain dari kegagalan daya dukung (bearing capacity failure) tanah,

setiap proses penggalian selalu dihubungkan dengan perubahan keadaan

tegangan di dalam tanah. Perubahan tegangan pasti akan disertai dengan

perubahan bentuk, umumnya ini yang menyebabkan penurunan pada pondasi

(Hardiyatmo, 1996).

Penurunan pondasi yang terletak pada tanah berbutir halus yang jenuh

dapat dibagi menjadi 3 (tiga) komponen. Penurunan total adalah jumlah dari

ketiga komponen penurunan tersebut, yaitu:

S= S1+ S 2 + S 3 .....................................................................................................…(2.29)

dengan:

S = Penurunan total

S1 = Penurunan segera

S2 = Penurunan konsolidasi primer

S3 = Penurunan konsolidasi sekunder

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.7 Faktor Pengaruh Im (Lee,1962) dan Ip (Schleicher,1962)

Fleksibel Kaku
Bentuk Pondasi
Pusat Sudut Rata-rata Ip Im

Lingkaran 1.00 0.64 0.85 0.88 3.70

Bujur sangkar 1.12 0.36 0.95 0.82

Empat persegi panjang

L/B = 1.5

2.0 1.36 0.68 1.20 1.06 4.12

5.0 1.53 0.77 1.31 1.20 4.38

10.0 2.10 1.05 1.83 1.70 4.82

100.0 2.52 1.26 2.25 2.10 4.93

3.38 1.69 2.96 3.40 5.06

(Teknik Pondasi I,H. C. Hardiyatmo, 2002)

Tabel 2.8 Perkiraan Modulus Elastisitas (E)

Jenis Tanah E (kN/m2)

Lempung

Sangat Lunak 300 – 300

Lunak 2000 – 4000

Sedang 4500 – 9000

Keras 7000 – 20000

Berpasir 30000 – 42500

Pasir

Berlanau 5000 – 20000

Tidak padat 10000 – 25000

Universitas Sumatera Utara


Padat 50000 – 100000

Pasir dan kerikil

Padat 80000 – 200000

Tidak padat 50000 – 140000

Lanau 2000 – 20000

Loess 15000 – 60000

Serpih 140000 – 1400000

2.13 Perkiraan Penurunan Tiang Tunggal

Menurut Poulus dan Davis (1980) penurunan jangka panjang untuk

pondasi tiang tunggal tidak perlu ditinjau karena penurunan tiang akibat

konsolidasi dari tanah relatif kecil. Ini dikarenakan pondasi tiang

direncanakan terhadap kuat dukung ujung dan kuat dukung friksinya atau

penjumlahan dari keduanya (Hardiyatmo, 2002).

Perkiraan penurunan tiang tunggal dapat dihitung berdasarkan:

a. Untuk tiang apung atau tiang friksi

Q.I .............................................................................. ...........(2.30)


S=
E S .D

dimana: I= 1 o . Rk . R h .R µ

b. Untuk tiang dukung ujung (end bearing)

Q.I …………………………………………………………………...(2.31
S=
E S .D

dimana: I = Io . R k . R b . R µ

dengan:

Universitas Sumatera Utara


S = Penurunan untuk tiang tunggal.

Q = Beban yang bekerja

Io = Faktor pengaruh penurunan untuk tiang yang tidak mudah

mampat.

Rk = Faktor koreksi kemudah mampatan tiang.

Rh = Faktor koreksi untuk ketebalan lapisan yang terletak pada tanah

Keras.

Rμ = Faktor koreksi angka Poisson μ.

Rb = Faktor koreksi untuk kekakuan lapisan pendukung.

h = Kedalaman total lapisan tanah dari ujung tiang ke muka tanah.

D = Diameter tiang.

Grafik bahwa penurunan tiang berkurang jika panjang tiang bertambah.

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.16 Faktor Penurunan Io (Poulos dan Davis)

Gambar 2.17 Koreksi Kedalaman, Rh (Poulos dan Davis)

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.18 Koreksi Kompresi, Rk (Poulos dan Davis)

Gambar 2.19 Koreksi Angka Poisson, Rμ (Poulus dan Davis)

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.20 Koreksi Kekakuan Lapisan Pendukung, Rb (Poulos dan Davis)

Pada gambar di atas, K adalah suatu ukuran kompresibilitas relatif

dari tiang dan tanah yang dinyatakan oleh persamaan :

E P .R A
K= …………………………………………………………….......(2.32)
ES

AP
Dimana : R A =
1 π .d 2
4

dengan:

K = Faktor kekakuan tiang

Ep = Modulus elastisitas dari bahan tiang

ES = Modulus elastisitas tanah disekitar tiang

Eb = Modulus elastisitas tanah didasar tiang

Perkiraan angka Poisson (µ ) dapat dilihat pada Tabel berikut ini.

Tabel 2.9 Perkiraan Angka Poisson (µ )

Macam Tanah µ

Lempung jenuh 0,4 - 0,5

Lempung tak jenuh 0,1-0,3

Lempung berpasir 0,2-0,3

Lanau 0,3-0,35

Pasir padat 0,2-0,4

Pasir kasar 0,15

Pasir halus 0,25

Batu (tergantung dari macamnya) 0.1-0.4

Universitas Sumatera Utara


Loess 0.1-0.3

(Bowles, 1968; Hardiyatmo, 1996-2002)

Berbagai metode menentukan nilai modulus elastisitas tanah (Es),

antara lain dengan percobaan langsung di tempat dengan menggunakan data

hasil pengujian krucut statis (sondir) (Bowles, 1977). Persamaan hasil dari

pengumpulan data pengujian kerucut statis (sondir) yaitu:

ES = 3q c (untuk pasir)

ES = 2 sampai 8q c , (untuk lempung)

q c (side) = Perlawanan konus rata-rata pada tiap lapisan

sepanjang tiang.

Dari analisa yang dilakukan secara detail oleh Meyerhof, untuk

modulus elastisitas tanah dibawah ujung tiang (E b ) kira-kira 5 sampai dengan

10 kali harga modulus elastisitas tanah di sepanjang tiang (E S ).

Untuk tiang elastis, penurunan segera/elastis (Immediate/Ellastic

Settlement). Penurunan yang dihasilkan oleh distorsi massa tanah yang

tertekan, dan terjadi pada volume konstan. Termasuk penurunan pada tanah-

tanah berbutir kasar dan tanah-tanah berbutir halus yang tidak jenuh karena

penurunan terjadi segera setelah terjadi penerapan beban.

Persamaan penurunan segera atau penurunan elastis dari pondasi yang

diasumsikan terletak pada tanah yang homogen elastis dan isotropis pads media

semi tak terhingga, dinyatakan dengan:

(QWP + ξ .QWS ) L
S1 = …………………………………………..……………(2.33)
AP .E P

Universitas Sumatera Utara


Dimana :

Qwp = Kapasitas daya dukung ujung tiang

Qsp = Kapasitas daya dukung tahanan kulit

ζ = Koefisien dari skin friction

Ap = Luas penampang tiang

Ep = Modulus elastisitas material tiang

L = Panjang tiang

Nilai tergantung kepada unit tahanan friksi (kulit) alami (the nature of

unit friction resistance) pada sepanjang tiang terpancang didalam tanah. Nilai ζ =

0,5 adalah dimana bentuk unit tahanan friksi (kulit) alaminya berbentuk seragam

atau simetris, seperti persegi panjang maupun parabolik seragam, umumnya

pada tanah lempung dan atau lanau. Nilai ζ = 0,67 adalah jika bentuk unit tahanan

friksi (kulit) alami nya berbentuk segitiga, umumnya pada tanah pasir.

ζ = 0.5 ζ = 0.5 ζ = 0.67

Gambar 2.21 Variasi jenis bentuk unit tahanan friksi (kulit) alami

terdistribusi sepanjang tiang tertanam ke dalam tanah (Bowles, 1993)

Penurunan bergantung pada karakteristik tanah dan penyebaran

tekanan pondasi ke tanah dibawahnya. Penurunan pondasi bangunan dapat

diestimasi atau diperkirakan dari hasil pengujian di laboratorium pada contoh

tanah tak terganggu (undisturbed) yang diambil dari pengeboran atau dari

Universitas Sumatera Utara


persamaan-persamaan empiris yang dihubungkan dengan hasil pengujian di

lapangan.

2.14 Perkiraan Penurunan Tiang kelompok

Pada hitungan pondasi tiang kapasitas ijin tiang sering lebih didasarkan

pada persyaratan penurunan. Penurunan tiang terutama bergantung pada nilai

banding tahanan ujung dengan beban tiang. Jika beban yang didukung pertiang

lebih kecil atau sama dengan tahanan ujung tiang, penurunan yang terjadi

mungkin sangat kecil. Sebaliknya, bila beban per tiang melebihi tahanan ujung

tiang, maka penurunan yang terjadi akan besar.

Hubungan penurunan antara tiang tunggal dan kelompok tiang sebagai berikut:

Sg
=
(4 B + 3)2 ................................................................................(2.34)
S ( B + 4 )2
dimana : S g = Penurunan kelompok tiang (m)

B = Lebar kelompok tiang (m)

S = Penurunan tiang tunggal pada intensitas beban yang sama (m)

2.15 Penurunan Diizinkan

Penurunan yang diizinkan dari suatu bangunan bergantung pada

beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi jenis, tinggi, kekakuan, dan

fungsi bangunan, serta besar dan kecepatan penurunan serta distribusinya.

Jika penurunan berjalan lambat, semakin besar kemungkinan struktur untuk

menyesuaikan diri terhadap penurunan yang terjadi tanpa adanya kerusakan

Universitas Sumatera Utara


strukturnya oleh pengaruh rangkak (creep). Karena itu, dengan alasan

tersebut, kriteria penurunan pondasi pada tanah pasir dan pada tanah lempung

berbeda.

Karena penurunan maksimum dapat diprediksi dengan ketepatan yang

memadai, umumnya dapat diadakan hubungan antara penurunan diizinkan

dengan penurunan maksimum.

Dimana syarat perbandingan penurunan yang aman yaitu:

Stotal ≤ Sizin

Sizin = 10 % . D……………………………………………………….…...(2.35)

dimana: D = Diameter tiang

Gambar 2.22 Tipe Penurunan

Karena penurunan maksimum dapat diprediksi dengan ketepatan yang

memadai (namun tidak untuk penurunan tidak seragam), umumnya dapat

diadakan hubungan antara penurunan izin dengan penurunan maksimum.

Skempton dan MacDonal (1955) menyarankan batas-batas penurunan

maksimum seperti yang disajikan pada tabel berikut ini.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.10 Batas Penurunan Maksimum (Skempton dan Macdonald, 1955)

Jenis Pondasi
Batas Penurunan Maksimum (mm)

Pondasi terpisah pada tanah lempung 65

Pondasi terpisah pada tanah pasir 40

Pondasi rakit pada tanah lempung 65-100

Pondasi rakit pada tanah pasir 40-65

Sumber : Hardiyatmo, H. C, 2002, Teknik Pondasi I, Penerbit PT. Beta Offset,

Yogyakarta.

2.16 Faktor Keamanan (Safety Factor)

Untuk memperoleh kapasitas ijin tiang diperoleh melalui kapasitas

ultimit dibagi dengan faktor aman tertentu. Faktor aman perlu diberikan

dengan maksud:

a. Memberi keamanan atas ketidak pastian metode hitungan yang

digunakan;

b. Memberi keamanan terhadap variasi kuat geser dan kompresibilitas tanah.

c. Meyakinkan bahwa bahan tiang cukup aman dalam mendukung beban

yang bekerja;

d. Meyakinkan bahwa penurunan total yang terjadi pada tiang tunggal atau

kelompok masih tetap dalam batas-batas toleransi;

e. Meyakinkan bahwa penurunan tidak seragam diantara tiang-tiang masih

dalam batas toleransi.

Sehubungan dengan alasan butir (d), dari hasil banyak pengujian

beban tiang, baik tiang pancang maupun tiang bor yang berdiameter kecil

Universitas Sumatera Utara


sampai sedang (600 mm), penurunan akibat beban bekerja (working load)

yang terjadi lebih kecil dari 10 mm untuk faktor aman yang tidak kurang dari

2,5 (Thomlinson, 1977).

Beban yang bekerja (working load) atau kapasitas tiang ijin (Qa )

dengan memperhatikan keamanan terhadap keruntuhan adalah nilai kapasitas

ultimit (Qu ) dibagi dengan faktor aman (SF) yang sesuai.

Variasi faktor aman yang telah banyak digunakan untuk perancangan

pondasi tiang pancang, sebagai berikut:

Qu
Qa = ......................................................................................................... (2.36)
2,5

Tabel 2.11 Faktor Aman Yang Disarankan (Reese & O'Neill, 1989)

Klasifikasi Faktor keamanan ( F )


Kontrol Kontrol Kontrol Kontrol
struktur
Monumental B
2,3ik 3 l J 3,5
l k 4 tj l k

Permanen 2 2,5 2,8 3,4

Sementara 1.4 2 2,3 2,8

Universitas Sumatera Utara


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Data Umum

Data umum dari proyek Pembangunan Pada Proyek Internasional Trade

Center (PT. CBD Polonia-Medan) adalah sebagai berikut:

1. Nama proyek : Pembangunan Proyek Internasional Trade

Centre Polonia

2. Lokasi Proyek : Jln. Padang Golf Komp. CBD Polonia

Medan

3. Luas Lahan : ± 33 ha

4. No. Kontrak : 001/ITC/CBD-NRC/XII/2011

5. Pekerjaan : Pondasi

a. Perusahaan : PT. Medan Geoteknik and Struktur

Engineering (MGS) dan PT. Nusa Cipta

Karya

b. Alamat : Jln. Nusa Indah IV No. 28 Komplek

Pemda TK I Tanjung Sari Medan - 20135

6. Kontraktor : PT. Nusa Raya Cipta

7. Status : Proyek Swasta

8. Jenis Kontrak : Unit Price Contract

Universitas Sumatera Utara


3.2 Data Teknis Tiang Pancang

Data ini diperoleh dari lapangan menurut perhitungan dari pihak konsultan

perencana dengan data sebagai berikut:

1. Panjang Tiang : 12 m

2. Dimensi Tiang : φ 500 mm

3. Mutu Beton tiang : K 500

4. Denah Titik Tiang : Dapat dilihat pada Lampiran

5. Detail pondasi tiang : Dapat dilihat pada Lampiran

3.3 Metode Pengumpulan Data

Untuk meninjau kembali perhitungan perencanaan pondasi kelompok tiang

pada proyek Proyek Internasional Trade Center (PT. CBD Polonia-Medan),

penulis memperoleh data dari PT. Medan Geoteknik and Struktur Engineering

(MGS) dan PT. Nusa Cipta Karya yang berupa data hasil:

• Sondir

• SPT

• Bacaan manometer dari alat Hydraulic Jack

• Data uji karakteristik tanah laboratorium

• Denah dan detail pondasi

• Tabel perhitungan konversi daya dukung tiang dari bacaan manometer dari

alat Hydraulic Jack seri DTZ 320 Ton

Universitas Sumatera Utara


Gambar 3.1 Lokasi Proyek (Google Earth)

Gambar 3.2. Peta Kawasan CBD Polonia

Universitas Sumatera Utara


3.4 Cara Analisis

Dalam perhitungan perrencanaan pondasi ini penulis melakukan langkah-

langkah sebagai berikut:

1. Menghitung kapasitas daya dukung tiang, antara lain:

a. Dari data sondir dengan metode Aoki dan De Alencar, dan Meyerhoff

b. Dari data SPT dengan metode Meyerhoff

c. Dari data hasil pembacaa manometer pada alat Hydraulik Jack.

2. Menghitung kapasitas daya dukung pondasi kelompok tiang (pile group)

berdasarkan efisiensi dengan menggunakan 2 (dua) metode, yakni

Converse – Labarre Formula dan Los Angeles Group.

3. Menghitung penurunan tiang tunggal dan tiang kelompok menggunakan

metode Paulus-Davis.

Universitas Sumatera Utara


3.5 Bagan Penelitian

Mulai

Study Pustaka

Pengumpulan Data

Data Primer Data Sekunder

1. Data Sondir Speksifikasi Tiang Pancang


2. Data SPT
3. Data Bacaan
Hydraulic Jack
4. Data Laboratorium
5. Sketsa Lokasi
6. Denah dan Detail
Pondasi

Analisa Data:

1. Analisa Daya Dukung


2. Analisa Efesiensi Group Tiang
3. Analisa Penurunan Elastis

Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Universitas Sumatera Utara


3.6 Lokasi Titik Sondir dan Bor Hole

Sondir yang dilaksanakan pada pembangunan ITC Polonia Medan 4

(empat) titik Cone Penetration Test (CPT) berdasarkan ASTM D-3441-86.4.1

dan 2 (dua) titik Bore hole berdasarkan ASTM D 1586-84.Adapun petunjuk

gambar lokasi titik tersebut dapat dilihat dibawah ini:

Universitas Sumatera Utara


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pendahuluan

Pada tugas akhir ini penelitian dilakukan pada proyek Internasional Trade

Center (PT. CBD Polonia-Medan) dengan 6,5 Ha di jalan Padang Golf Komp.

CBD Polonia Medan. Pada proyek ini selain terdapat gedung utama (Internasional

Trade Center Polonia), terdapat beberapa konstruksi pendukung seperti pagar

disekitar gedung, kantin, jalan menuju bangunan Internasional Trade Center

Polonia tersebut.

4.2 Menghitung Kapasitas Daya Dukung Tiang dari Data Sondir

4.2.1 Perhitungan Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang dengan

Metode Aoki dan De Alencar di lapangan pada titik 3 (S-3)

1) Pada titik 3 (S-3) diperoleh data sondir, yaitu:

• Kedalaman tanah = 7,6 m

• Data hasil sondir dapat dilihat pada lampiran

2) Data tiang:

Diameter tiang (D) = 50 cm

Keliling tiang =π.D

= π x 50 cm

= 157,08 cm2

Luas Tiang (Ap) = 1 .π .D 2


4

= 1 .π .50 2
4

= 1963,50 cm2

Universitas Sumatera Utara


a) Perhitungan kapasitas dukung ujung tiang (Qb)

Kedalaman Perlawanan konus

(meter) (kg/cm2)

21.20 220
21.40 220
21.60 220
Tiang Pancang

21,80 220
22,00 220
23.20 220
23.40 220
23.60 220
23.80 220

Gambar 4.1 Perkiraan nilai qca (base)

Nilai qca diambil rata-ratanya yakni sebesar = 220 kg/cm2

Dari persamaan 2.2, kapasitas dukung persatuan luas (qb):

q ca (base )
qb = ( Nilai Fb dari (Tabel 2.1), beton precast = 1,75)
Fb

220
qb =
1,75

= 125,71 kg/cm2

Dari persamaan 2.3 Kapasitas daya dukung ujung tiang (Qb ) :

Qb = qb x Ap

Qb = 125,71 kg/cm2 x 1963,50 kg/cm2

= 246831,59 kg

= 246,83 ton

Universitas Sumatera Utara


b) Perhitungan Kapasitas Dukung Kulit (Qs)

0,00 meter

Pasir Sedang
22,00

qc (side) rata-rata = 88,63


k / 2

-22,00 meter

Gambar 4.2 Nilai qc (side) pada titik sondir S-03

Dari persamaan (2.4), kapasitas dukung kulit persatuan luas (f):

αs
f = q (side) F ( Nilai α s dan Fs dari Tabel 2.2 dan Tabel 2.3)
c
s

0,014
f = 88,63 = 0,35 kg/cm2
3,5

Dari persamaan (2.5), kapasitas dukung kulit (Qs)

Qs = f x As = 0,35 . 157,08 . 2200

= 120951,6 kg

= 120,95 ton

Dari persamaan (2.6), kapasitas daya dukung aksial ultimit tiang (Qu):

Qu = Qb + Qs

= 246,83 + 120,95 ton = 367,78 ton

Universitas Sumatera Utara


Dari persamaan (2.7), daya dukung kapasitas ijin tiang (Qa):

Qu
Qa =
SF

367,78ton
=
2,5

= 147,11 ton

4.2.2 Perhitungan Kapasitas Daya Dukung Tiang dengan Metode Meyerhoff

pada Titik 3 (S-3)

Data yang di peroleh dari S-3, pada kedalaman 1 meter yakni:

Data tiang:

Diameter tiang (D) : 50 cm

Keliling tiang : π . 50 = 157,08 cm

Mutu Beton : K-500

Luas Tiang (Ap) : 1 .π .D 2


4

: 1 .π .50 2 = 1963,50 cm2


4

Perlawanan penetrasi konus (PPK), qc = 11 kg/cm2

Jumlah Hambatan Lekat (JHL) = 30 kg/cm

Dari persamaan (2.8), kapasitas daya dukung pondasi tunggal (Qult):

Qult = (qc . Ap) + (JH . K)

= (11 . 1963,50) + (30 . 157,08)

= 26310,9kg

= 26,31 ton

Dari persamaan (2.9), kapasitas daya dukung ijin pondasi (Qijin):

qc x Ap JHL . K
Qijin = +
3 S

Universitas Sumatera Utara


11 x 1963,5 30 . 157,08
= +
3 5

= 8141,98 kg

= 8,142 ton.

Daya dukung terhadap kekuatan tanah untuk tiang tarik:

Tult = JHL x K = 30 x 157,08 = 4712,4 kg = 4,7124 ton

Daya dukung ijin tarik:

Tult 4,7124
Qijin = = = 1,5708 ton = 1570,8 kg
3 3

Daya dukung pada kekuatan bahan:

Ptiang = 0,45 x σ 'bk x Ap

= 0,45 x 500 kg/cm² x 1963,50

= 441787,5 kg

= 441,788 ton

Tabel 4.1 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang pada Titik S-01
Kedalaman PPK Ap JHL K11
(qc) (cm²) (kg/cm²) (cm) Qwp Qws Qult Qijin
kg/cm2 (ton) (ton) (ton)
0 0 1963.5 0 157.08 0 0 0 0
0.2 2 1963.5 6 157.08 3.927 0.94248 4.86948 1.4975
0.4 9 1963.5 12 157.08 17.6715 1.88496 19.5565 6.26749
0.6 18 1963.5 18 157.08 35.343 2.82744 38.1704 12.3465
0.8 23 1963.5 26 157.08 45.1605 4.08408 49.2446 15.8703
1 27 1963.5 34 157.08 53.0145 5.34072 58.3552 18.7396
1.2 30 1963.5 42 157.08 58.905 6.59736 65.5024 20.9545
1.4 21 1963.5 50 157.08 41.2335 7.854 49.0875 15.3153
1.6 24 1963.5 58 157.08 47.124 9.11064 56.2346 17.5301
1.8 31 1963.5 66 157.08 60.8685 10.3673 71.2358 22.363
2 32 1963.5 76 157.08 62.832 11.9381 74.7701 23.3316
2.2 50 1963.5 86 157.08 98.175 13.5089 111.684 35.4268
2.4 70 1963.5 96 157.08 137.445 15.0797 152.525 48.8309
2.6 92 1963.5 108 157.08 180.642 16.9646 197.607 63.6069

Universitas Sumatera Utara


2.8 95 1963.5 122 157.08 186.533 19.1638 205.696 66.0103
3 62 1963.5 134 157.08 121.737 21.0487 142.786 44.7887
3.2 62 1963.5 144 157.08 121.737 22.6195 144.357 45.1029
3.4 54 1963.5 152 157.08 106.029 23.8762 129.905 40.1182
3.6 70 1963.5 164 157.08 137.445 25.7611 163.206 50.9672
3.8 78 1963.5 178 157.08 153.153 27.9602 181.113 56.643
4 92 1963.5 194 157.08 180.642 30.4735 211.116 66.3087
4.2 85 1963.5 208 157.08 166.898 32.6726 199.57 62.167
4.4 93 1963.5 222 157.08 182.606 34.8718 217.477 67.8429
4.6 91 1963.5 236 157.08 178.679 37.0709 215.749 66.9737
4.8 88 1963.5 250 157.08 172.788 39.27 212.058 65.45
5 82 1963.5 266 157.08 161.007 41.7833 202.79 62.0257
5.2 88 1963.5 282 157.08 172.788 44.2966 217.085 66.4553
5.4 88 1963.5 300 157.08 172.788 47.124 219.912 67.0208
5.6 91 1963.5 318 157.08 178.679 49.9514 228.63 69.5498
5.8 106 1963.5 336 157.08 208.131 52.7789 260.91 79.9328
6 108 1963.5 356 157.08 212.058 55.9205 267.978 81.8701
6.2 131 1963.5 378 157.08 257.219 59.3762 316.595 97.6147
6.4 142 1963.5 406 157.08 278.817 63.7745 342.591 105.694
6.6 164 1963.5 428 157.08 322.014 67.2302 389.244 120.784
6.8 158 1963.5 452 157.08 310.233 71.0002 381.233 117.611
7 154 1963.5 474 157.08 302.379 74.4559 376.835 115.684
7.2 121 1963.5 494 157.08 237.584 77.5975 315.181 94.714
7.4 142 1963.5 510 157.08 278.817 80.1108 358.928 108.961
7.6 134 1963.5 532 157.08 263.109 83.5666 346.676 104.416
7.8 144 1963.5 556 157.08 282.744 87.3365 370.08 111.715
8 120 1963.5 570 157.08 235.62 89.5356 325.156 96.4471
8.2 152 1963.5 594 157.08 298.452 93.3055 391.758 118.145
8.4 145 1963.5 616 157.08 284.708 96.7613 381.469 114.255
8.6 110 1963.5 636 157.08 215.985 99.9029 315.888 91.9756
8.8 82 1963.5 654 157.08 161.007 102.73 263.737 74.2151
9 85 1963.5 674 157.08 166.898 105.872 272.769 76.8069
9.2 117 1963.5 692 157.08 229.73 108.699 338.429 98.3164
9.4 114 1963.5 712 157.08 223.839 111.841 335.68 96.9812
9.6 95 1963.5 732 157.08 186.5325 114.9826 301.5151 85.17401
9.8 110 1963.5 748 157.08 215.985 117.4958 333.4808 95.49417
10 106 1963.5 766 157.08 208.131 120.3233 328.4543 93.44166
10.2 103 1963.5 784 157.08 202.2405 123.1507 325.3912 92.04364
10.4 91 1963.5 802 157.08 178.6785 125.9782 304.6567 84.75513
10.6 82 1963.5 820 157.08 161.007 128.8056 289.8126 79.43012
10.8 94 1963.5 836 157.08 184.569 131.3189 315.8879 87.78678

Universitas Sumatera Utara


11 105 1963.5 856 157.08 206.1675 134.4605 340.628 95.6146
11.2 100 1963.5 876 157.08 196.35 137.6021 333.9521 92.97042
11.4 116 1963.5 894 157.08 227.766 140.4295 368.1955 104.0079
11.6 112 1963.5 912 157.08 219.912 143.257 363.169 101.9554
11.8 131 1963.5 934 157.08 257.2185 146.7127 403.9312 115.082
12 157 1963.5 956 157.08 308.2695 150.1685 458.438 132.7902
12.2 161 1963.5 978 157.08 316.1235 153.6242 469.7477 136.0993
12.4 172 1963.5 1002 157.08 337.722 157.3942 495.1162 144.0528

Tabel 4.2 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang pada Titik S-02
Kedalaman PPK Ap JHL K11
(qc) (cm2) (kg/cm) (cm) Qwp Qws Qult Qijin
kg/cm2 (ton) (ton) (ton)
0 0 1963.5 0 157.08 0 0 0 0
0.2 5 1963.5 6 157.08 9.8175 0.94248 10.76 3.461
0.4 9 1963.5 12 157.08 17.6715 1.88496 19.5565 6.26749
0.6 21 1963.5 20 157.08 41.2335 3.1416 44.3751 14.3728
0.8 24 1963.5 28 157.08 47.124 4.39824 51.5222 16.5876
1 30 1963.5 36 157.08 58.905 5.65488 64.5599 20.766
1.2 36 1963.5 44 157.08 70.686 6.91152 77.5975 24.9443
1.4 34 1963.5 52 157.08 66.759 8.16816 74.9272 23.8866
1.6 32 1963.5 58 157.08 62.832 9.11064 71.9426 22.7661
1.8 36 1963.5 66 157.08 70.686 10.3673 81.0533 25.6355
2 41 1963.5 74 157.08 80.5035 11.6239 92.1274 29.1593
2.2 48 1963.5 82 157.08 94.248 12.8806 107.129 33.9921
2.4 54 1963.5 90 157.08 106.029 14.1372 120.166 38.1704
2.6 46 1963.5 100 157.08 90.321 15.708 106.029 33.2486
2.8 51 1963.5 110 157.08 100.139 17.2788 117.417 36.8353
3 50 1963.5 120 157.08 98.175 18.8496 117.025 36.4949
3.2 57 1963.5 130 157.08 111.92 20.4204 132.34 41.3906
3.4 54 1963.5 140 157.08 106.029 21.9912 128.02 39.7412
3.6 55 1963.5 150 157.08 107.993 23.562 131.555 40.7099
3.8 62 1963.5 160 157.08 121.737 25.1328 146.87 45.6056
4 61 1963.5 172 157.08 119.774 27.0178 146.791 45.3281
4.2 64 1963.5 184 157.08 125.664 28.9027 154.567 47.6685
4.4 61 1963.5 196 157.08 119.774 30.7877 150.561 46.082
4.6 63 1963.5 206 157.08 123.701 32.3585 156.059 47.7052
4.8 62 1963.5 216 157.08 121.737 33.9293 155.666 47.3649
5 65 1963.5 226 157.08 127.628 35.5001 163.128 49.6425
5.2 78 1963.5 238 157.08 153.153 37.385 190.538 58.528

Universitas Sumatera Utara


5.4 74 1963.5 250 157.08 145.299 39.27 184.569 56.287
5.6 89 1963.5 262 157.08 174.752 41.155 215.906 66.4815
5.8 82 1963.5 274 157.08 161.007 43.0399 204.047 62.277
6 91 1963.5 288 157.08 178.679 45.239 223.918 68.6073
6.2 100 1963.5 302 157.08 196.35 47.4382 243.788 74.9376
6.4 88 1963.5 316 157.08 172.788 49.6373 222.425 67.5235
6.6 100 1963.5 332 157.08 196.35 52.1506 248.501 75.8801
6.8 108 1963.5 352 157.08 212.058 55.2922 267.35 81.7444
7 116 1963.5 368 157.08 227.766 57.8054 285.571 87.4831
7.2 140 1963.5 384 157.08 274.89 60.3187 335.209 103.694
7.4 100 1963.5 400 157.08 196.35 62.832 259.182 78.0164
7.6 87 1963.5 416 157.08 170.825 65.3453 236.17 70.0106
7.8 91 1963.5 434 157.08 178.679 68.1727 246.851 73.194
8 81 1963.5 446 157.08 159.044 70.0577 229.101 67.026
8.2 62 1963.5 458 157.08 121.737 71.9426 193.68 54.9675
8.4 105 1963.5 478 157.08 206.168 75.0842 281.252 83.7393
8.6 135 1963.5 500 157.08 265.073 78.54 343.613 104.066
8.8 160 1963.5 516 157.08 314.16 81.0533 395.213 120.931
9 160 1963.5 536 157.08 314.16 84.1949 398.355 121.559
9.2 184 1963.5 558 157.08 361.284 87.6506 448.935 137.958
9.4 208 1963.5 582 157.08 408.408 91.4206 499.829 154.42

Tabel 4.3 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang pada Titik S-03
Kedalaman PPK Ap JHL K11
(qc) (cm2) (kg/cm) (cm) Qwp Qws Qult Qijin
kg/cm2 (ton) (ton) (ton)
0 0 1963.5 0 157.08 0 0 0 0
0.2 2 1963.5 6 157.08 3.927 0.94248 4.86948 1.4975
0.4 9 1963.5 12 157.08 17.6715 1.88496 19.5565 6.26749
0.6 31 1963.5 18 157.08 60.8685 2.82744 63.6959 20.855
0.8 12 1963.5 24 157.08 23.562 3.76992 27.3319 8.60798
1 11 1963.5 30 157.08 21.5985 4.7124 26.3109 8.14198
1.2 23 1963.5 36 157.08 45.1605 5.65488 50.8154 16.1845
1.4 47 1963.5 44 157.08 92.2845 6.91152 99.196 32.1438
1.6 54 1963.5 52 157.08 106.029 8.16816 114.197 36.9766
1.8 62 1963.5 62 157.08 121.737 9.73896 131.476 42.5268
2 65 1963.5 72 157.08 127.628 11.3098 138.937 44.8045
2.2 58 1963.5 80 157.08 113.883 12.5664 126.449 40.4743
2.4 47 1963.5 88 157.08 92.2845 13.823 106.108 33.5261
2.6 86 1963.5 98 157.08 168.861 15.3938 184.255 59.3658

Universitas Sumatera Utara


2.8 56 1963.5 106 157.08 109.956 16.6505 126.606 39.9821
3 57 1963.5 114 157.08 111.92 17.9071 129.827 40.8879
3.2 53 1963.5 122 157.08 104.066 19.1638 123.229 38.5213
3.4 56 1963.5 132 157.08 109.956 20.7346 130.691 40.7989
3.6 60 1963.5 142 157.08 117.81 22.3054 140.115 43.7311
3.8 65 1963.5 152 157.08 127.628 23.8762 151.504 47.3177
4 80 1963.5 162 157.08 157.08 25.447 182.527 57.4494
4.2 88 1963.5 174 157.08 172.788 27.3319 200.12 63.0624
4.4 100 1963.5 184 157.08 196.35 28.9027 225.253 71.2305
4.6 110 1963.5 200 157.08 215.985 31.416 247.401 78.2782
4.8 167 1963.5 212 157.08 327.905 33.301 361.205 115.962
5 147 1963.5 228 157.08 288.635 35.8142 324.449 103.374
5.2 104 1963.5 244 157.08 204.204 38.3275 242.532 75.7335
5.4 89 1963.5 256 157.08 174.752 40.2125 214.964 66.293
5.6 67 1963.5 268 157.08 131.555 42.0974 173.652 52.271
5.8 116 1963.5 278 157.08 227.766 43.6682 271.434 84.6556
6 136 1963.5 294 157.08 267.036 46.1815 313.218 98.2483
6.2 180 1963.5 310 157.08 353.43 48.6948 402.125 127.549
6.4 110 1963.5 330 157.08 215.985 51.8364 267.821 82.3623
6.6 159 1963.5 346 157.08 312.197 54.3497 366.546 114.935
6.8 127 1963.5 362 157.08 249.365 56.863 306.227 94.4941
7 147 1963.5 378 157.08 288.635 59.3762 348.011 108.087
7.2 182 1963.5 396 157.08 357.357 62.2037 419.561 131.56
7.4 185 1963.5 416 157.08 363.248 65.3453 428.593 134.152
7.6 220 1963.5 436 157.08 431.97 68.4869 500.457 157.687

Tabel 4.4 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang pada Titik S-04
PPK Ap JHL K11
(qc) (cm2) (kg/cm) (cm) Qwp Qws Qult Qijin
kg/cm2 (ton) (ton) (ton)
0 0 1963.5 0 157.08 0 0 0 0
0.2 5 1963.5 6 157.08 9.8175 0.94248 10.76 3.461
0.4 15 1963.5 12 157.08 29.4525 1.88496 31.3375 10.1945
0.6 20 1963.5 20 157.08 39.27 3.1416 42.4116 13.7183
0.8 17 1963.5 26 157.08 33.3795 4.08408 37.4636 11.9433
1 75 1963.5 38 157.08 147.263 5.96904 153.232 50.2813
1.2 95 1963.5 48 157.08 186.533 7.53984 194.072 63.6855
1.4 60 1963.5 58 157.08 117.81 9.11064 126.921 41.0921
1.6 55 1963.5 68 157.08 107.993 10.6814 118.674 38.1338
1.8 54 1963.5 76 157.08 106.029 11.9381 117.967 37.7306

Universitas Sumatera Utara


2 42 1963.5 86 157.08 82.467 13.5089 95.9759 30.1908
2.2 60 1963.5 96 157.08 117.81 15.0797 132.89 42.2859
2.4 57 1963.5 104 157.08 111.92 16.3363 128.256 40.5738
2.6 60 1963.5 114 157.08 117.81 17.9071 135.717 42.8514
2.8 56 1963.5 124 157.08 109.956 19.4779 129.434 40.5476
3 59 1963.5 136 157.08 115.847 21.3629 137.209 42.8881
3.2 64 1963.5 150 157.08 125.664 23.562 149.226 46.6004
3.4 72 1963.5 162 157.08 141.372 25.447 166.819 52.2134
3.6 65 1963.5 176 157.08 127.628 27.6461 155.274 48.0717
3.8 71 1963.5 190 157.08 139.409 29.8452 169.254 52.4385
4 88 1963.5 202 157.08 172.788 31.7302 204.518 63.942
4.2 108 1963.5 218 157.08 212.058 34.2434 246.301 77.5347
4.4 124 1963.5 234 157.08 243.474 36.7567 280.231 88.5093
4.6 168 1963.5 248 157.08 329.868 38.9558 368.824 117.747
4.8 143 1963.5 264 157.08 280.781 41.4691 322.25 101.887
5 140 1963.5 280 157.08 274.89 43.9824 318.872 100.426
5.2 143 1963.5 298 157.08 280.781 46.8098 327.59 102.955
5.4 141 1963.5 316 157.08 276.854 49.6373 326.491 102.212
5.6 110 1963.5 330 157.08 215.985 51.8364 267.821 82.3623
5.8 121 1963.5 348 157.08 237.584 54.6638 292.247 90.1273
6 150 1963.5 364 157.08 294.525 57.1771 351.702 109.61
6.2 165 1963.5 384 157.08 323.978 60.3187 384.296 120.056
6.4 181 1963.5 404 157.08 355.394 63.4603 418.854 131.157
6.6 208 1963.5 428 157.08 408.408 67.2302 475.638 149.582
6.8 216 1963.5 450 157.08 424.116 70.686 494.802 155.509

4.3 Menghitung Kapasitas Daya Dukung Tiang dari Data SPT

Perhitungan kapasitas daya dukung tiang pancang dari data SPT memakai

metode Meyerhoff. Adapun data SPT yang digunakan di ambil dari BH-1 dan

BH-2.

Jenis Tanah pada setiap lapisan tanah biasa berbeda jenisnya. Untuk itu,

perhitungan ini menggunakan 2 jenis rumus yakni untuk jenis tanah non-kohesif

(pasir) dan jenis tanah kohesif (lempung).

Universitas Sumatera Utara


1) Data BH-1

Tabel 4.5 Sistem Pelapisan Tanah Berdasarkan Deskripsi Visual BH-01

Deskripsi
Relative
Kedalaman (m) Jenis Tanah
Density/Consistency
0.00 – 5.50 Lempung berpasir Kaku
5.50 – 15.00 Pasir ukuran sedang Padat – sangat kaku
Lempung bercampur
15.00 - 17.00 Lunak
organic
17.00 – 19.00 Pasir berlempung Lepas
19.00 – 25.00 Pasir ukuran halus Sedang
25.00 – 38.50 Pasir ukuran halus Padat

a) Tanah non-kohesif:

Sebagai contoh perhitungan untuk tanah non-kohesif, kita ambil

data SPT pada kedalaman 10 meter; N-SPT = 50

Dari persamaan (2.15), daya dukung ujung tiang (end bearing) pada

tanah non-kohesif (pasir dan kerikir) adalah:

L
Qp = 40 x N-SPT x x Ap < 400 x N-SPT x Ap
D

1
= 40 x 50 x x 0,19635 < 400 x 50 x 0,19635
0,5

= 785,4 kN < 3927 kN

= 78,54 ton

Dari persamaan (2.16), tahanan geser selimut tiang pada tanah

non kohesif adalah:

Qs = 2 x N-SPT x K x Li

Universitas Sumatera Utara


= 2 x 50 x 1,5708 x 1

= 157,08 kN = 15,71 ton

b) Tanah kohesif

Sebagaimana contoh untuk tanah kohesif, kita ambil data SPT pada

kedalaman 1 meter; N-SPT = 4.

Dari persamaan (2.17), daya dukung ujung tiang pancang pada tanah

kohesif adalah:

Qp = 9 x Cu x Ap Cu= N-SPT x 2/3 x 10

= 9 x 26,667 x 0,19635 = 4 x 2/3 x 10

= 47,12 kN = 26,667

= 4,71 ton

Dari persamaan (2.18), tahanan geser selimut tiang pada tanah

kohesif adalah:

Qs = α x Cu x K x Li

= 0,80 x 26,67 x 1,5708 x 1

= 33,51 kN

= 3,35 ton

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.6 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang pada Titik BH-01

Soil Soil Skin Friction End


Depth N Cu α Qult Qizin
Layer Descrip Local Cumm Bearing
m (kN/m²) ton ton Ton ton (kN/m²)
0,00 TS TS - 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
1,00 4,00 26,67 0,80 3,35 3,35 4,71 8,06 3,22
2,00 9,00 60,00 0,70 6,60 9,97 10,60 20,57 8,23
3,00 I Clay 11,00 73,33 0,62 7,14 17,11 12,96 30,07 12,03
4,00 12,00 80,00 0,50 6,28 23,39 14,14 37,53 15,01
5,00 16,00 106,67 0,42 8,38 31,77 18,85 49,27 19,71
6,00 28,00 - - 8,80 40,57 43,98 84,55 33,82
7,00 33,00 - - 10,37 50,94 51,83 102,77 41,11
8,00 36,00 - - 11,31 62,25 56,55 118,80 47,52
9,00 42,00 - - 13,19 75,44 65,97 141,41 56,56
10,00 Medium 50,00 - - 15,71 91,15 78,54 169,69 67,87
II
11,00 Sand 55,00 - - 17,28 108,43 86,39 194,82 77,93
12,00 59,00 - - 18,54 126,97 92,67 219,64 87,85
13,00 55,00 - - 17,28 144,25 86,39 230,64 92,26
14,00 40,00 - - 12,57 156,82 62,83 219,65 87,86
15,00 26,00 - - 8,17 164,99 40,48 205,47 82,19
16,00 12,00 80,00 0,50 6,28 171,27 14,14 185,41 74,16
III Clay
17,00 5,00 33,33 0,80 4,19 175,46 5,89 181,35 72,54
18,00 6,00 - - 1,88 177,34 9,42 186,76 74,70
IV Sand
19,00 5,00 - - 1,57 178,91 7,85 186,76 74,70
20,00 8,00 - - 2,51 181,42 12,56 193,98 77,59
21,00 22,00 - - 6,91 188,33 34,56 222,89 89,16
22,00 Medium 25,00 - - 7,85 196,18 39,27 235,45 94,18
V
23,00 Sand 24,00 - - 7,54 203,72 37,70 241,42 96,57
24,00 12,00 - - 3,77 207,49 18,50 225,99 90,39
25,00 12,00 - - 3,77 211,26 18,50 229,76 91,90
26,00 35,00 - - 10,99 222,25 54,98 277,23 110,89
27,00 40,00 - - 12,57 234,82 62,83 297,65 119,06
28,00 41,00 - - 12,88 247,70 64,40 312,10 124,84
29,00 42,00 - - 13,19 260,89 65,97 326,86 130,74
30,00 46,00 - - 14,45 275,34 72,25 347,59 139,04
31,00 43,00 - - 13,51 288,85 67,54 356,39 142,55
Fine
32,00 VI 35,00 - - 10,99 299,84 54,98 354,82 141,93
Sand
33,00 31,00 - - 9,74 309,58 48,69 358,27 143,31
34,00 33,00 - - 10,37 319,95 51,83 371,78 148,71
35,00 48,00 - - 15,08 335,03 75,40 410,43 164,17
36,00 50,00 - - 15,71 350,74 78,54 429,28 171,71
37,00 43,00 - - 13,51 364,25 67,54 431,79 172,71
38,00 45,00 - - 14,14 378,39 70,68 449,07 79,63

Universitas Sumatera Utara


2) Data BH-2

Tabel 4.7 Sistem Pelapisan Tanah Berdasarkan Deskripsi Visual BH-02

Deskripsi

Relative
Kedalaman (m) Jenis Tanah
Density/Consistency

0.00 – 3.00 Lempung Sedang

3.00 – 11.50 Lempung berpasir Kaku

11.50 - 13.00 Pasir ukuran halus Sangat padat

13.00 – 17.00 Pasir ukuran halus Sedang – lepas

17.00 – 32.50 Pasir Padat

a) Tanah kohesif:

Sebagai contoh perhitungan untuk tanah non-kohesif, kita ambil

data SPT pada kedalaman 14 meter; N-SPT = 30

Daya dukung ujung tiang pancang pada tanah non-kohesif adalah:

L
Qp = 40 x N-SPT x x Ap < 400 x N-SPT x Ap
D

1
= 40 X 30 X x 0,19635 < 400 x 30 x 0,19635
0,5

= 471,24 kN < 2356,2 Kn

= 47,12 ton < 235,62 ton

Untuk tahanan geser selimut tiang pada tanah non kohesif adalah:

Qs = 2 x N-SPT x K x Li

= 2 x 30 x 1,5708 x 1

= 94,25 kN = 9,42 ton

Universitas Sumatera Utara


b) Tanah kohesif:

Sebagaimana contoh untuk tanah kohesif, kita ambil data SPT pada

kedalaman 1 meter; N-SPT = 5

Daya dukung ujung tiang pancang pada tanah kohesif adalah:

Qp = 9 x Cu x Ap Cu= N-SPT x 2/3 x 10

= 9 x 33,33 x 0,19635 = 5 x 2/3 x 10

= 58,89 kN = 33,33

= 5,89 ton

Untuk tahanan geser selimut tiang pada tanah kohesif adalah:

Qs = α x Cu x K x Li

= 0,80 x 33,33 x 1,5708 x 1

= 41,88 kN

= 4,19 ton

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.8 Perhitungan Daya Dukung Tiang Pancang pada Titik BH-02

Soil Soil Skin Friction End


Depth N Cu α Qult Qizin
Layer Descrip Local Cumm Bearing
m (Kn/m²) ton ton Ton ton Ton
0,00 TS TS - 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
1,00 5,00 33,33 0,80 4,19 4,19 5,89 10,08 4,03
I Clay
2,00 8,00 53,33 0,70 5,86 10,05 9,42 19,47 7,79
3,00 10,00 66,67 0,62 6,49 16,54 11,78 28,23 11,29
4,00 12,00 80,00 0,50 6,28 22,82 14,14 36,96 14,78
5,00 15,00 100,00 0,43 6,75 29,57 17,67 47,24 18,89
6,00 21,00 140,00 0,33 7,25 36,82 24,74 61,56 24,62
Sand
7,00 II 20,00 133,33 0,36 7,54 44,36 23,56 67,92 27,17
Clay
8,00 13,00 86,67 0,49 6,67 51,03 15,32 66,35 26,54
9,00 14,00 93,33 0,46 6,73 57,76 16,49 74,25 29,70
10,00 14,00 93,33 0,46 6,73 64,49 16,49 80,98 32,39
11,00 25,00 166,67 0,30 7,85 143,03 29,45 172,48 68,99
12,00 Fine 60,00 - - 18,85 105,54 94,25 199,79 79,92
III
13,00 Sand 50,00 - - 15,71 121,25 78,54 199,79 79,92
14,00 30,00 - - 9,42 130,67 47,12 177,79 71,12
15,00 Medium 18,00 - - 5,65 136,32 28,27 164,59 65,84
IV
16,00 Sand 13,00 - - 4,08 140,40 20,41 160,81 64,32
17,00 15,00 - - 4,17 144,57 23,56 168,13 67,25
18,00 25,00 - - 7,85 152,42 39,27 191,59 76,64
19,00 30,00 - - 9,42 161,84 47,12 208,96 83,58
20,00 26,00 - - 8,17 170,01 40,84 210,85 84,34
21,00 25,00 - - 7,85 177,86 39,27 217,13 86,85
22,00 26,00 - - 8,17 186,03 40,84 226,87 90,75
23,00 30,00 - - 9,42 195,45 47,12 242,57 97,03
24,00 36,00 - - 11,31 206,76 56,55 263,31 105,32
25,00 38,00 - - 11,94 218,70 59,69 278,39 111,36
26,00 35,00 - - 10,99 229,69 54,98 284,67 113,87
27,00 40,00 - - 12,57 242,26 62,83 305,09 122,04
28,00 V Sand 52,00 - - 16,34 258,60 81,68 340,28 136,11
29,00 58,00 - - 18,22 276,82 91,10 367,92 147,17
30,00 50,00 - - 15,71 192,53 78,54 271,07 108,43
31,00 49,00 - - 15,39 307,92 76,97 384,89 153,96
32,00 49,00 - - 15,71 323,63 76,97 400,60 160,00
33,00 50,00 - - 15,39 339,02 78,54 417,56 167,02
34,00 50,00 - - 15,39 354,41 78,54 432,95 173,18
35,00 52,00 - - 16,34 370,75 81,68 452,43 180,97
36,00 52,00 - - 16,34 387,09 81,68 468,77 187,51
37,00 54,00 - - 16,96 404,05 84,82 488,87 195,55
38,00 54,00 - - 16,96 421,01 84,82 505,83 202,33

Universitas Sumatera Utara


4.4 Perhitungan Kapasitas Daya Dukung Pondasi Tiang Pada Saat

Penekanan Berdasarkan Bacaan Manometer dari Alat hydraulic jack

Kapasitas daya dukung tiang pancang dapat diketahui berdasarkan bacaan

manometer yang tersedia pada alat pancang.

Dari persamaan (2.23), kapasitas daya dukung pondasi tiang dapat dihitung

dengan rumus:

Q=PxA

Keterangan:

Q = Daya dukung tiang pada saat pemancangan (Ton)

P = Bacaan manometer (kg/cm2)

A = Total luas efektif penampang piston (cm2)

Sistem pemancangan pada proyek pembangunan Internasional Trade

Center di jalan Padang Golf Komp. CBD Polonia Medan menggunakan hydraulic

jack dengan kapasitas 360 ton dan working load sebesar 180 ton.

Pult = 200% x Pizin

= 200% x 180 = 360 ton

Daya dukung berdasarkan bacaan manometer alat hydraulic jack dengan

mesin 360 ton:

Q =PxA

= P x 1644,78

= 1644,78P kg

= 1,64478P ton

Universitas Sumatera Utara


Table 4.9 Perhitungan daya dukung tiang nomor 341 berdasarkan bacaan

manometer Hydraulic Jack:

Bacaan Manometer Daya Dukung Mesin Kap. 360 ton


No
(kg/cm²) (ton)
1 2 32,90
2 2 32,90
3 3 49,34
4 3 49,34
5 3 49,34
6 4 65,79
7 6 98,79
8 8 131,58
9 10 164,48
10 16 263,16
11 18 296,06
12 20 328,96
13 18 296,06
14 16 263,16
15 16 263,16
16 15 246,72
17 15 246,72
18 14 230,27
19 16 263,16
20 16 263,16
21 18 296,06
22 23 378,30

Table 4.10 Perhitungan daya dukung tiang nomor 342 berdasarkan bacaan

manometer Hydraulic Jack:

Bacaan Manometer Daya Dukung Mesin Kap. 360 ton


No
(kg/cm²) (ton)
1 2 32,90
2 3 49,34
3 3 49,34
4 3 49,34
5 4 65,79
6 4 65,79
7 6 98,79
8 8 131,58
9 10 164,48
10 10 163,48
11 18 296,06
12 20 328,96

Universitas Sumatera Utara


13 18 296,06
14 16 263,16
15 18 296,06
16 15 246,72
17 15 246,72
18 14 230,27
19 16 263,16
20 16 263,16
21 20 328,96
22 23 378,30

Table 4.11 Perhitungan daya dukung tiang nomor 343 berdasarkan bacaan

manometer Hydraulic Jack:

Bacaan Manometer Daya Dukung Mesin Kap. 360 ton


No
(kg/cm²) (ton)
1 3 32,90
2 3 49,34
3 3 49,34
4 3 49,34
5 5 82,24
6 5 82,24
7 6 98,79
8 5 82,79
9 6 9879
10 10 163,48
11 18 296,06
12 20 328,96
13 18 296,06
14 16 263,16
15 18 296,06
16 15 246,72
17 15 246,72
18 14 230,27
19 18 296,06
20 22 361,85
21 23 378,30

Universitas Sumatera Utara


Table 4.12 Perhitungan daya dukung tiang nomor 344 berdasarkan bacaan

manometer Hydraulic Jack:

Bacaan Manometer Daya Dukung Mesin Kap. 360 ton


No
(kg/cm²) (ton)
1 3 49,34
2 3 49,34
3 3 49,34
4 3 49,34
5 4 65,79
6 4 65,79
7 6 98,79
8 6 98,79
9 6 98,79
10 8 131,58
11 11 180,93
12 14 230,27
13 18 296,06
14 20 328,96
15 20 328,96
16 15 246,72
17 18 296,72
18 14 263,16
19 16 263,16
20 16 328,96
21 19 328,96
22 23 378,30

Table 4.13 Perhitungan daya dukung tiang nomor 345 berdasarkan bacaan

manometer Hydraulic Jack:

Bacaan Manometer Daya Dukung Mesin Kap. 360 ton


No
(kg/cm²) (ton)
1 2 32,90
2 2 32,90
3 3 49,34
4 3 49,34
5 4 65,79
6 4 65,79
7 4 65,79
8 8 131,58
9 7 164,48
10 8 131,58
11 11 180,93
12 15 246,72

Universitas Sumatera Utara


13 15 246,72
14 18 296,06
15 21 345,40
16 19 246,72
17 15 246,72
18 21 345,40
19 15 246,72
20 19 328,16
21 23 378,30

4.5 Perhitungan Efesiensi Group Tiang

Perhitungan yang dilakukan pada perhitungan kekuatan tiang pancang

yang mengacu pada nilai pengujian tanah dan hasil laporan yang dilaksanakan di

lapangan.

Gambar 4.3 Kelompok Tiang

Universitas Sumatera Utara


• d = 0.5 meter

• m =3

• n' = 3

4.5.1 Metode Converse-Labarre

Dari persamaan (2.26), efesiensi kelompok tiang (Eg):

θ = arc tg d/s

50
θ = arc tg = 14,0360
200

Eg =1−θ
(n '
)
− 1 m + (m − 1) n '
90 m n '

Eg = 1 − 14,0360
(2 − 1) 3 + (3 − 1) 2
90 . 3 . 2

E g = 1 – 0,182

E g = 0,818

Dari persamaan (2.28), kapasitas kelompok ijin tiang (Qg ) :

Qg = E g . n . Qa

1. Data Sondir:

• Q a = 147,11 ton kedalaman 22 m (Metode Aoki dan De Alencar)

Kapasitas ultimit kelompok tiang (Qg)

Q g = E g . n . Qa

Q g = 0,818. 5 . 147,11

Q g = 601,68 ton

Universitas Sumatera Utara


• Q a = 200,18 ton kedalaman 22 m (Metode Mayerhoff)

Kapasitas ultimit kelompok tiang (Qg)

Q g = E g . n . Qa

Qg = 0,818. 5 . 200,18

Q g = 818,74 ton

2. Data SPT:

• BH-1 Pada kedalaman 12,4 m

Qa = 79,92 ton

Kapasitas ultimit kelompok tiang (Qg)

Qg = E g . n . Qa

Qg = 0,818. 5 . 79,92

Qg = 326,87 ton

3. Data bacaan manometer

Qa = 151,32 ton

Maka

Q g = 0,818. 5 . 151,32

Q g = 618,89 ton

4.5.2 Metode Los Angles Group

Dari persamaan (2,27), efesiensi kelompok (E g )

Eg = 1 −
D
s.m.n
{ ( )
m n ' − 1 + n ' (m − 1) + 2 (m − 1) n ' − 1 ( )

Eg = 1 −
50
200 . 3 . 2
(
{3 (2 − 1) + 2 (3 − 1) + 2 (3 − 1) 2' − 1 )

Universitas Sumatera Utara


Eg = 1 −
50
(3 + 4 + 2,828)
1200

Eg = 1 −
50
(9,828)
1200

Eg = 0,59

Dari persamaan (2.24), kapasitas kelompok ijin tiang (Qg) :

Qg = E g . n . Qa

1. Data Sondir:

• Q a = 147,11 ton kedalaman 22 m (Metode Aoki dan De Alencar)

Kapasitas ultimit kelompok tiang (Qg)

Q g = E g . n . Qa

Q g = 0,59. 5 . 147,11

Q g = 433,97 ton

• Q a = 200,18 ton kedalaman 22 m (Metode Mayerhoff)

Kapasitas ultimit kelompok tiang (Qg)

Q g = E g . n . Qa

Q g = 00,59. 5 . 200,18

Q g = 590,53 ton

2. Data SPT:

• BH-1 Pada kedalaman 12,4 m

Qa = 79,92 ton

Kapasitas ultimit kelompok tiang (Qg)

Qg = E g . n . Qa

Universitas Sumatera Utara


Q g = 0,59. 5 . 79,92

Q g = 235,76 ton

3. Data bacaan manometer

Qa = 151,32 ton

Maka

Q g = 0,59. 5 . 151,32

Q g = 446,39 ton

Universitas Sumatera Utara


4.6 Menghitung Penurunan Tiang Tunggal (Single Pile)

4.6.1 Penurunan Tiang Tunggal dengan Rumus Poulus-Davis

22 m Pasir (SW)

qc (side) = 88,63 kg/cm2

Limerock

Gambar 4.4 Nilai qc (side) pada titik sondir 3 (S-3)

Dari persamaan (2.31a), modulus elastisitas tanah di sekitar tiang (Es):

Es = 3 qc

= 3 . 88,63 kg/cm2

= 265,89 kg/cm2

= 26,59 Mpa

Menentukan modulus elastisitas tanah di dasar tiang:

Eb = 10 . Es

Universitas Sumatera Utara


= 10 . 26,59 Mpa

= 26 5,9Mpa

Menentukan modulus elastisitas dari bahan tiang:

Ep = 4700 f 'c

= 4700 50

= 33234,018 Mpa

Ap
RA =
1
π d2
4

1963,50
=
1
π 502
4

= 1,00

Menentukan faktor kekakuan tiang

E p . RA
K=
Es

33234,018.1
=
26,59

= 1249,87

db 50
Untuk = = 1 , diameter ujung dan atas sama
d 50

l 2200
Untuk = = 44
d 50

Dari masing-masing grafik diperoleh:

l db
Io = 0,045 (untuk = 44 , = 1) gambar 2.16
d d

l
Rk = 1,26 (untuk = 44 , k = 1249,87) gambar 2.18
d

Universitas Sumatera Utara


R µ = 0,96 (untuk µ s = 0,3 , k = 1249,87) gambar 2.19

l l
Rh = 0,36 (untuk = 44 , = 1) gambar 2.17
d h

l Eb 471
Rb = 0,79 (untuk = 44 , = = 10) gambar 2.20
d Es 47,1

a. Untuk tiang apung atau tiang friksi

I = Io . Rk . Rh . R µ

= 0,045 . 1,26 . 0,36 . 0,96

= 0,0195

Q .I
S =
Es.D

450000 . 0,0195
=
26,59. 50

= 0,66 cm

= 6,6 mm

b. Untuk tiang dukung ujung

I = Io . Rk . Rb . R µ

= 0,045 . 1,26 . 0,79 . 0,96

= 0,043

QI
S =
Es D

450000 kg. 0,043


=
kg
265,9 . 50 cm
cm 2

= 1,45 cm

= 14,5 mm

Universitas Sumatera Utara


c. Untuk penurunan tiang elastis

(Q + ξ Q s ) L
S =
A . Ep

(450000 + (0,67 . 157,08 )) 2200


=
1963,5 . 332340,18

= 1,517 cm

= 15,17 mm

Hasil perhitungan perkiraan penurunan tiang tunggal dapat dilihat pada tabel 4.13

Tabel 4.13 Perkiraan Penurunan Tiang Tunggal S-3

No Bentuk Penurunan Penurunan Tiang (S)

1 Untuk tiang apung atau tiang friksi 6,6 mm

2 Untuk tiang dukung ujung 14,5 mm

3 Untuk penurunan tiang elastis 15,17 mm

Diasumsikan bahwa tiang pancang yang di tinjau adalah tiang elastis, besar

penurunan yang terjadi adalah: 15,17 mm.

4.6.2 Dari data Sondering S-3

Penurunan Elastis (Immediate/Elastic Settlement)

a. Untuk kedalaman 0 – 0,4 m

Q wp = 17,671 ton = 17671 kg

Q ws = 1,885 ton = 1885 kg

ξ = 0,5 (tanah lempung)

A P = 1963,5 cm2

E P = 33234,018 Mpa = 332340,19 kg/cm2

Universitas Sumatera Utara


L = 40 cm

(Q wp + ξ QWS ) L
S 1− 2 =
AP . Ep

(17671 + 0,5.1885) 40
=
1963,5 . 332340,18

= 0,001140 cm = 0,01140 mm

b. Untuk kedalaman 0,4 – 0,6 m

Q wp = 60,868 ton = 60868 kg

Q ws = 2,827 ton = 2827 kg

ξ = 0,67 (tanah pasir) 1963,5

Ap = 1963,5 cm²

Ep = 33234,018 Mpa = 332340,18 kg/cm²

L = 20 cm

(Q wp + ξ QWS ) L
S 2−3 =
AP . Ep

(60868 + 0,67.2827) 20
=
1963,5 . 332340,18

= 0,001923 cm = 0,01923 mm

c. Untuk kedalaman 0,60 – 1 m

Q wp = 21,598 ton = 21598 kg

Q ws = 4,712 ton = 4712 kg

ξ = 0,5 (tanah lempung)

A P = 1963,5 cm2

E P = 33234,018 Mpa = 332340,19 kg/cm2

Universitas Sumatera Utara


L = 40 cm

(Q wp + ξ QWS ) L
S 1− 2 =
AP . Ep

(21598 + 0,5.4712) 40
=
1963,5 . 332340,18

= 0,001468 cm = 0,01468 mm

d. Untuk kedalaman 1 – 7,6 m

Q wp = 431,97 ton = 431970 kg

Q ws = 68,4869 ton= 68487 kg

ξ = 0,67 (tanah pasir) 1963,5

Ap = 1963,5 cm²

Ep = 33234,018 Mpa = 332340,18 kg/cm²

L = 750 cm

(Q wp + ξ QWS ) L
S 2−3 =
AP . Ep

(431970 + 0,67.68487) 750


=
1963,5 . 332340,18

= 0,5492 cm = 5,492 mm

4.7 Penurunan Tiang Kelompok Berdasarkan Metode Poulus Davis

Dari perhitungan penurunan tiang elastis untuk tiang tunggal dari data S-3

maka diambil penurunan yaitu sebesar 15,17 mm. Perhitungan penurunan

tiang kelompok juga dihitung berdasarkan persamaan (2.29), dimana:

Sg
=
(4 B + 3)2
S (B + 4 )2

Universitas Sumatera Utara


Sg
=
(4 . 3,4 . + 3)2
0,01517 (3,4 + 4)2
Sg 275,56
=
0,01517 54,76

54,76 S g = 275,76 × 0,01571

54,76 S g = 4,183

S g = 0,07638 m 0,0609

S g = 76,38 mm

Maka besar penurunan tiang kelompok = 76,38 mm

4.8 Penurunan yang Diijinkan

Dari persamaan (2.30), Penurunan yang diijinkan ( S ijin ):

S ijin = 10 % . d

= 10 % . 50

= 5 cm = 50 mm

Penurunan total tiang tunggal < Penurunan ijin

8,5 mm < 50 mm

4.9 Diskusi

Menurut para ahli Limanto, S., Kusuma, Y.H.., Sumito, P.N., Antonioes

P.G., 2009. Pondasi tiang pancang adalah suatu konstruksi pondasi yang mampu

menahan gaya orthogonal ke sumbu tiang dengan jalan menyerap lenturan.

Pondasi tiang pancang dibuat menjadi satu kesatuan yang monolit dengan

Universitas Sumatera Utara


menyatukan pangkal tiang pancang yang terdapat di bawah konstruksi dengan

tumpuan pondasi. Pelaksanaan pekerjaan pemancangan menggunakan diesel

hammer. Sistem kerja diesel Hammer adalah dengan pemukulan sehingga dapat

menimbulkan suara keras dan getaran pada daerah sekitar. Itulah sebabnya cara

pemancangan pondasi ini menjadi permasalahan tersendiri pada lingkungan

sekitar.

Keuntungan dan Kerugian menurut teknik pemasangan:

A. Pondasi tiang pancang pabrikan.

Keuntungan:

• Karena tiang dibuat di pabrik dan pemeriksaan kualitas sangat ketat,

hasilnya lebih dapat diandalkan.

• Pelaksanaan pemancangan relative cepat, terutama untuk tiang baja.

walaupun lapisan antara cukup keras, lapisan tersebut masih dapat

ditembus sehingga pemancangan ke lapisan tanah keras masih dapat

dilakukan.

• Persediaannya culup banyak di pabrik sehingga mudah diperoleh, kecuali

jika diperlukan tiang dengan ukuran khusus.

• Untuk pekerjaan pemancangan yang kecil, biayanya tetap rendah.

• Daya dukungnya dapat diperkirakan berdasar rumus tiang pancang

sehingga pekerjaan konstruksinya mudah diawasi.

• Cara pemukulan sangat cocok untuk mempertahankan daya dukung beban

vertical.

Universitas Sumatera Utara


Kerugian:

• Karena pekerjaan pemasangannya menimbulkan getaran dan kegaduhan

maka pada daerah yang berpenduduk padat akan menimbulkan masalah di

sekitarnya.

• Untuk tiang yang panjang, diperlukan persiapan penyambungan dengan

menggunakan pengelasan (untuk tiang pancang beton yang bagian atas

atau bawahnya berkepala baja). Bila pekerjaan penyambungan tidak baik,

akibatnya sangat merugikan.

• Bila pekerjaan pemancangan tidak dilaksanakan dengan baik, kepala tiang

cepat hancur. Sebaiknya pada saat dipukul dengan palu besi, kepala tiang

dilapisi denga kayu.

• Bila pemancangan tidak dapat dihentikan pada kedalaman yang telah

ditentukan, diperlukan perbaikan khusus.

• Karena tempat penampungan di lapangan dalam banyak hal mutlak

diperlukan maka harus disediakan tempat yang cukup luas.

• Tiang-tiang beton berdiameter besar sangat berat, sehingga sulit diangkut

atau dipasang. Karena itu diperlukan mesinpemancang yang besar.

• Untuk tiang-tiang pipa baja, diperlukan tiang yang tahan korosi.

Keterangan:

Pada waktu pelaksanaan pekerjaan pondasi tiang pancang beton , dimana lokasi

pelaksanaan berdekatan dengan rumah penduduk, dan jika menggunakan alat

pancang Hammer, terdapat masalah non teknis, yaitu protes warga tentang

adanya getaran tanah saat pemancangan yang kemungkinan besar berdampak

pada bangunan warga sekitar lokasi. Jika metode ini tetap dilaksanakan

kemungkinan besar dampak kerusakan bangunan warga sangat besar terjadi

Universitas Sumatera Utara


karena pada umumnya bangunan yang ada disekitar lokasi adalah bangunan lama

yang kurang kuat menahan getaran saat pemancangan. Ini dibuktikan saat

pelaksanaan tes pile, banyak bangunan yang retak.

Saran saya dengan menggunakan metode alat Jack-in Pile type Hydraulic

Static Pile Driver Sunwad ZYJ320, metode ini adalah tiang pancang di

masukkan ke dalam tanah dengan alat pancang Jacking, yaitu tiang

pancang dipancang secara hydraulick dengan alat Jack-in Pile dan beban

sesuai dengan kapasitas alat yaitu = 320 ton. Secara non teknis alat ini

sangat cocok dipakai dilokasi pemancangan dimana pada sekitar lokasi

pemancangan sudah banyak bangunan gedung atau rumah karena tidak

menimbulkan polusi suara maupun getaran.

B. Pondasi Tiang yang Dicor di Tempat

Keuntungan:

• Karena pada saat melaksanakan pekerjaan hanya terjadi getaran dan

keriuhan yang sangat kecil maka pondasi ini cocok untuk pekerjaan pada

daerah yang padat penduduknya.

• Karena tanpa sambungan, dapat dibuat tiang yang lurus dengan diameter

besar dan lebih panjang.

• Diameter tiang ini biasanya lebih besar daripada tiang pracetak atau

pabrikan.

• Daya dukung sstiap tiang lebih besar sehingga beton tumpuan (Pile cap)

dapat dibuat lebih kecil.

• Selain cara pemboran di dalam arah berlawanan dengan putaran jam, tanah

galian dapat diamati secara langsung dan sifat-sifat tanah pada lapisan

antara atau pada tanah pendukung pondasi dapat langsung diketahui.

Universitas Sumatera Utara


• Pengaruh jelek terhadap bangunan di dekatnya cukup kecil.

Kerugian:

• Dalam banyak hal, beton dari tubuh tiang diletakkan di bawah air dn

kualitas tiang yang sudah selesai lebih rendah dari tiang-tiang pracetak

atau pabrikan. Disamping itu, pemeriksaan kualitas hanya dapat dilakukan

secara tidak langsung.

• Ketika beton dituangkan, dikawatirkan adukan beton akan bercampur

dengan reruntuhan tanah. Oleh karena itu, beton harus segera dituangkan

dengan seksama setelah penggalian tanah dilakukan.

• Walaupun penetrasi sampai ke tanah pendukung pondasi dianggap telah

terpenuhi, terkadang tiang pendukung kurang sempurna karena ada lumpur

yang tertimbun di dasar.

• Karena diameter tiang cukup besar dan memerlukan banyak beton, maka

untuk pekerjaan yang kecil dapat mengakibatkan biaya tinggi.

• Karena pada cara pemasangan tiang yang diputar berlawanan arah jarum

jam menggunakan air maka lapangan akan menjadi kotor. Untuk setiap

cara perlu dipikirkan cara menangani tanah yang telah dibor atau digali.

10.1 Kelebihan dan Kelemahan dari Metode-metode Pengujian

Setelah membahas mengenai pengujian Sondir, SPT dan Bacaan

manometer test pada saat pemancangan, maka dapat diketahui kelebihan dan

kekurangan dari masing-masing metode tersebut.

A. Sondir (Cone Penetration Test)

1. Kelebihan uji Sondir

a. Pengujian dapat di lakukan dengan cara cepat dan ekonomis;

Universitas Sumatera Utara


b. Gangguan dari tanah di sekelilingnya lebih kecil;

c. Sangat baik untuk pengujian tanah lunak yang sulit pengambilan

sampelnya;

d. Baik juga untuk pengujian tanah lempung;

e. Lapisan tanah keras dapat lebih cepat ditentukan.

2. Kelemahan uji Sondir

a. Contoh tanah tidak bias diambil, sehingga perlu dilakukan

berdampingan dengan pengeboran dan SPT. Dengan demikian

segala keraguan dari pengujian yang satu dapat diatasi dengan

pengujian yang lain;

b. Tidak cocok digunakan pada pengujian tanah berbutir kasar

terutama lapisan tanah yang mengandung kerikil atau batu-batuan;

c. Jenis tanah tidak dapat diketahui secara langsung.

B. SPT (Standart Penetration Test)

1. Kelebihan uji SPT

a. Dapat dilakukan dengan cepat;

b. Alat dan cara operasinya lebih sederhana;

c. Biaya relatife murah;

d. Sampel tanah terganggu dapat diperoleh untuk identifikasi jenis

tanah;

e. Uji SPT ini dapat dilakukan untuk semua jenis tanah.

2. Kelemahan uji SPT yaitu hasil SPT bersifat empires, hal ini berarti

dalam uji SPT harus diikuti dengan pengujian-pengujian korelasi data

empires dengan SPT contohnya: kolerasi dengan kohesi, sehingga

Universitas Sumatera Utara


banyak membutuhkan pengujian-pengujian untuk mendukung

interpretasi hasil data SPT.

C. Bacaan Manometer pada alat Jack-in Pile type Hydraulic Static Pile Driver

Sunwad ZYJ320 pada saat pemancangan

1. Kelebihan uji bacaan Manometer Hydraulic Jack

a. Bebas getaran;

b. Bebas pengotoran lokasi kerja dan udara serta bebas dari

kebisingan;

c. Daya dukung aktual per tiang diketahui;

d. Harga ekonomis;

e. Lokasi kerja yang terbatas;

2. Kelemahan Manometer pada alat Jack-in Pile type Hydraulic Static

Pile Driver Sunwad ZYJ320

a. Apabila terdapat batu atau lapisan tanah keras yang tipis pada

ujung tiang yang ditekan, maka hal tersebut akan mengakibatkan

kesalahan pada saat pemancangan;

b. Sulitnya mobilitas alat pada daerah lunak ataupun pada daerah

berlumpur (biasanya pada areal tanah timbunan), kerena alat

tersebut mempunyai berat sekitar 320 ton dan saat permukaan yang

tidak sama daya dukungnya, maka hal tersebut akan dapat

mengakibatkan posisi alat pancang menjadi miring bahkan

tumbang. Kondisi ini sangat berbahaya terhadapat keselamatan

kerja;

Universitas Sumatera Utara


c. Pergerakan alat tersebut sedikit lambat, proses pemindahannya

relatife lama untuk pemancangan titik yang berjauhan.

10.2 Hasil Perhitungan Daya Dukung dan Penurunan

A. Hasil perhitungan daya dukung ultimit tiang pancang Pada Proyek

Internasional Trade Center ini, panjang tiang pancang digunakan 22

m berdasarkan data sondir (CPT- 1), data SPT (BH-1), dan bacaan

Manometer pada alat Jack-in Pile type Hydraulic Static Pile Driver

Sunwad ZYJ320 (pile cap H-7) yakni sebagai berikut:

1. Berdasarkan data Sondir

• Metode Aoki dan De Alencer, Qult = 367,78 ton

• Metode Meyerhoff, Qult = 495,11 ton

2. Berdasarkan data SPT, Qult = 235,45 ton

3. Berdasarkan data bacaan manometer pada alat Jack-in Pile type

Hydraulic Static Pile Driver Sunwad ZYJ320, Qult = 378,30 ton.

Dari beberapa lokasi peninjauan, terlihat di antaranya mempunyai

daya dukung tiang dengan hasil SPT lebih kecil dari pada nilai daya

dukung tiang melalui sondir dan bacaan manometer pada alat Jack-

in Pile type Hydraulic Static Pile Driver Sunwad ZYJ320,

disebabkan:

• Perhitungan daya dukung tiang dengan hasil SPT diselesaikan

menurut jenis lapisan tanah yang ada sehingga membedakan

nilai m dan n yang digunakan.

• Perhitungan daya dukung tiang dengan hasil sondir tidak

memperhatikan jenis dari lapisan tanahnya hanya bergantung

Universitas Sumatera Utara


pada nilai sondir dan nilai hambatan lekat, dimana hambatan

lekat tersebut harganya bertambah besar sebanding dengan

kedalaman di mana posisi tiang dipancangkan.

B. Hasil perhitungan daya dukung kapasitas izin kelompok tiang pancang

(pile group) berdasarkan efisiensi dengan jumlah 5 tiang dalam 1

kelompok serta dihitung berdasarkan berbagai metode, yakni sebagai

berikut:

1. Metode converse-Labarre, Eg = 0,818

• Dari data sondir Metode Aoki dan De Alencar,

Q g = 601,68 ton

• Dari data sondir Metode Meyerhoff, Q g = 818,74 ton

• Dari data SPT, Q g = 326,86 ton

• Dari data Bacaan Manometer Hydraulic Jack,

Q g = 618,89 ton

2. Metode Los Angeles Group (Eg=0,59)

 Dari data sondir Metode Aoki dan De Alencar,

Q g = 601,68 ton

 Dari data sondir Metode Meyerhoff, Q g = 818,74 ton

 Dari data SPT, Q g = 326,86 ton

 Dari data Bacaan Manometer Hydraulic Jack,

Q g = 618,89 ton

Hasil daya dukung tiang izin dari masing-masing metode

tersebut menunjukan bahwa beberapa metode memberikan hasil

Universitas Sumatera Utara


yang pesimistis (hasil daya dukung tiangnya kecil) atau optimistis

(hasil daya dukung tiangnya besar). Dalam hal ini memerlukan

pertimbangan karena biasanya diambil harga daya dukung tiang

yang pesimistis atau yang berdekatan agar dapat merencanakan

pondasi yang cukup kuat dan tidak mengalami penurunan yang

berarti.

C. Hasil perhitungan penurunan tiang tunggal (single pile), penurunan

kelompok tiang (pile group), penurunan konsolidasi dan penurunan ijin

yang terjadi pada tiang uji S-01 sebagai berikut:

1 Berdasarkan perhitungan elastis tiang tunggal, dengan

menggunakan rumus Paulus Davis (1980);

Penurunan elastis tiang tunggal: S = 8,5 mm < 25 mm

Maka, perkiraan penurunan tiang tunggal memenuhi syarat

aman.

2 Berdasarkan perhitungan elastis tiang tunggal, dengan

menggunakan rumus Paulus Davis (1980);

Penurunan elastis tiang kelompok sebesar: S g = 40,28 mm

1. Berdasarkan perhitungan penurunan elastis tiang dengan

menggunakan data sondir S-01, di tampilkan pada tabel

4.15. Maka, perkiraan total tiang tunggal memenuhi syarat

aman. Dari hasil perhitungan elastis tiang, secara umum

semakin besar beban ultimate yang di peroleh, maka besar

penurunan juga semakin besar.

Universitas Sumatera Utara


4 Penurunan konsolidasi

S C = 31,5 mm

3 Dari perhitungan penurunan segera dan konsolidasi maka

total penurunan terjadi:

S = 71,78 mm

4 Penurunan yang di ijinkan,

S ijin = 10 % . d

= 10 % . 50

= 5 cm = 50 mm

Penurunan total tiang tunggal < Penurunan ijin

8,5 mm < 50 mm

Universitas Sumatera Utara


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil perhitungan pada proyek pembangunan

Internasional Trade Center Polonia Medan maka dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut:

1. Hasil perhitungan daya dukung ultimit tiang pada kedalaman 22,00 m

berdasarkan data sondir, data SPT, dan data dari bacaan manometer

pada saat pemancangan dapat dilihat pada Tabel 5.1

Tabel 5.1 Hasil perhitungan daya dukung tiang pancang

Data Sondir Data SPT


Metode Aoki dan Metode Metode Data Manometer
No
De Alencar Mayerhoff Mayerhoff (ton)
(ton) (ton) (ton)

1 367,78 500,457 234,45 378,30

2. Hasil perhitungan daya dukung kapasitas ijin kelompok tiang (pile

group) berdasarkan effisiensi dengan menggunakan 5 tiang/kelompok:

Tabel 5.2 Berdasarkan Metode Converse – Labarre

Metode Converse – Labarre


Data Sondir Data SPT
No
Metode Aoki dan De Metode Metode Data Manometer
Alencar Mayerhoff Mayerhoff (ton)
(ton) (ton) (ton)

1 601,68 818,74 326,87 618,89

Universitas Sumatera Utara


Tabel 5.3 Berdasarkan Metode Los Angeles Group

Metode Los Angeles Group


Data Sondir Data SPT
No
Metode Aoki dan Metode Metode Data Manometer
De Alencar Mayerhoff Mayerhoff (ton)
(ton) (ton) (ton)
1 433,97 590,53 235,76 446,39

3. Berdasarkan hasil perhitungan metode Converse – Labarre maka

kapasitas daya dukung kelompok tiang dari data sondir dengan

menggunakan metode Mayerhof sebesar Qg = 818,74 ton > Pt = 450 ton,

sehingga struktur bangunan pada Proyek Internasional Trade Center

Polonia Medan dapat di nyatakan aman.

4. Berdasarkan hasil perhitungan penurunan elastis (elastic settlement) tiang

tunggal dengan menggunakan metode Paulus Davis sebesar S = 8,5 mm <

Sijin 50 mm. Maka perkiraan total tiang tunggal memenuhi syarat aman.

5. Hasil perhitungan penurunan tiang kelompok (pile group) dengan

menggunakan metode Paulus davis sebesar S g = 40,28 mm

5.2 Saran

Dari hasil perhitungan dan kesimpulan diatas penulis

memberikan saran yang diharapkan dapat dimamfaatkan, yaitu sebagai

berikut:

1. Sebelum melakukan perhitungan hendaknya perlu kita melakukan

persiapan dengan memperoleh data teknis yang lengkap, karena data

tersebut nantinya akan sangat menunjang dalam membuat rencana

analisa perhitungan, sesuai dengan standard dan syarat-syaratnya.

Universitas Sumatera Utara


2. Lebih teliti dalam melaksanakan pengujian baik dalam penggunaan

peralatan ataupun pembacaan hasil yang tertera pada sebagian alat uji

hingga pada pengelohan data.

3. Diharapkan pada penelitian tanah agar disajikan data yang di butuhkan,

misalnya seperti data Kalendering, PDA dan yang lainnya. Untuk

perencanaan penurunan tiang pancang tunggal dan kelompok masih

kurang akurat.

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR PUSTAKA

Bowles, J. E., 1991, Analisa dan Desain Pondasi, Edisi keempat Jilid 1, Erlangga,

Jakarta.

Bowles, J. E., 1993, Analisa dan Desain Pondasi, Edisi keempat Jilid 2, Erlangga,

Jakarta.

Hardiyatmo, H. C., 2002, Teknik Pondasi 2, Edisi Kedua, Beta Offset,

Yogyakarta.

P.P.Rahardjo, MSCE, Ph.D, Manual Pondasi Tiang, Universitas Katolik

Parahyangan, Bandung.

Sosrodarsono, S. dan Nakazawa, K., 1983, Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi,

PT Pradnya Paramita, Jakarta.

Sardjono, H.S, 1988, Pondasi Tiang Pancang, Jilid 1, penerbit Sinar Jaya Wijaya,

Surabaya.

Sardjono, H.S, 1988, Pondasi Tiang Pancang, Jilid 2, penerbit Sinar Jaya Wijaya,

Surabaya.

Titi, H.H and Farsakh, M.A.Y., 1999, Evaluation of Bearing Capacity of Piles

from Cone Penetration Test Data, Lousiana Transfortation Research

Center.

Universitas Sumatera Utara


Lampiran 1

Gambar. Mesin Jack Manometer dan Tiang Tekan Hidrolik

Universitas Sumatera Utara


Gambar. Proses Pemancangan

Gambar. Pengelasan Tiang

Universitas Sumatera Utara