Anda di halaman 1dari 1

Melongok Makam Sunan Gunung Jati

Ari Saputra - detikRamadan

Cirebon - Siapa tak kenal sosok Sunan Gunung Jati. Seorang patriot, ahli dakwah Islam (satu dari
sembilan wali) dan masih terbilang ningrat didalam lingkaran darah biru Cirebon. Di komplek makamnya di
Cirebon, Sunan itu ditaruh pada tingkatan paling, tinggi di antara makam keluarga keraton. Ada enam
tingkat dengan enam pintu yang membentengi.

"Itu menunjukan rukun iman," kata Karto (46), salah satu penjaga makam kepadadetikcom, di komplek
makam Sunan Gunung Jati, Jl RY Klayan, Cirebon. Terlepas dari perumpamaan itu, model pemakaman
bertingkat mengingatkan pada kepercayaan lokal/kejawen.

Di bukit yang tidak terlalu tinggi itu, Sunan Gunung Jati disemayamkan. Di bawahnya, puluhan hingga
ratusan keluarga keraton Kasepuhan dimakamkan. "Yang paling rendah (pada tingkat keraton) berada di
paling bawah," imbuh Karto sambil menunjukan makam bernisan tanpa nama tersebut.

Komplek makam itu sendiri tidak terlalu sulit dijangkau. Dari arah Jakarta, rambu-rambu petunjuk jelas
terlihat. Bila tidak macet, perjalanan cukup 20 menit dari tol Kanci.

Pada musim kemarau, kondisi sekitar kompleks sangat panas dan kering. Puluhan pohon jati meranggas
dan debu beterbangan dari parkir mobil hingga kompleks makam dan masjid. "Tapi, selama-lamanya
kemarau, sumur ini tidak pernah kering," kata Karto menunjukan sumur sumber air berwudlu di masjid
gunung jati yang masih satu kompleks dengan makam.

Masjid dan makam akan ramai dikunjungi peziarah pada tiap hari Jumat ataupun hari tertentu yang
dianggap suci. Namun peziarah tetap saja tertahan di pintu keenam dan masjid karena yang boleh masuk
hingga makam Gunung Jati adalah keluarga keraton saja.

Hanya saja, pungutan untuk memasuki kompleks masjid sangat "tidak manusiawi". detikcom yang berpura-
pura sebagai peziarah/turis biasa telah membuktikan. Ketika memasuki areal makam, ada tiga kotak
sumbangan "shodaqoh". Dengan nada memaksa, masing-masing penjaga di tiap kotak meminta pungutan
Rp 10.000/orang. Karena kami berdua, total menjadi Rp 60.000. Itu semua tanpa surat restribusi sama
sekali.

Saat memasuki makam, pengunjung diminta mengisi buku tamu. Tidak cukup itu, juga wajib dan memaksa
untuk memberi sumbangan. Nilainya cukup fantastis untuk ukuran objek wisata lokal, Rp 50.000. Lagi-lagi
tanpa retribusi atau bukti terima apapun.

Selain itu, guide kami, Karto meminta jatah. Saat diberi Rp 15.000, Karto masih meminta tambahan.
"Cukup. Tadi sudah terlalu banyak," ucap kami menahan kesal.

Foto: mupeng.com

(Ari/tbs)