Anda di halaman 1dari 36

MANAJEMEN DAN SISTEM RUJUKAN RUMAH SAKIT

Oleh :

1. Chihargo, drg.
2. Theresia Tarigan, drg.
3. Selamat Suhardi Butar Butar, drg.
4. Miftha Chairina Lubis, drg.
5. Jevin F Tandean, drg.
6. Purwana, drg.

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014
BAB I

PENDAHULUAN

A. Pendahuluan
Pada saat ini rumah sakit adalah pusat pelayanan kesehatan sangat penting dalam
masyarakat yaitu melakukan sebuah pelayanan harus berdasarkan melalui pendekatan kesehatan
(promotiv,preventif,kuratif dan rehabiltatif) dan dilaksanakan menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Rumah sakit juga dituntut untuk menjalankan tugas dan fungsinya
dengan baik. Sebuah kualitas rumah sakit dapat berpengaruh pada citra rumah sakit tersebut.
Definisi Rumah Sakit Menurut WHO adalah suatu bagian yang menyeluruh dari
organisasi sosial dan medis, yang berfungsi untuk menyediakan pelayanan kesehatan lengkap
kepada masyarakat dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif),
pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif)
yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu serta berkesinambungan, di mana hasil
pelayanannya menjangkau pelayanan keluarga dan lingkungan; rumah sakit juga merupakan
pusat pelatihan tenaga kesehatan dan untuk penelitian biososial.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1045/MENKES/PER/XI/2006 Rumah
Sakit adalah suatu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan rawat inap dan
rawat jalan yang memberikan pelayanan kesehatan jangka pendek dan jangka panjang yang
terdiri dari observasi, diagnostik, terapeutik dan rehabilitatif untuk orang-orang yang menderita
sakit, cidera dan melahirkan. Rumah Sakit diklasifikasikan berdasarkan tugas, fungsi,
kemampuan pelayanan kesehatan dan kapasitas sumber daya organisasi dalam beberapa kelas,
yaitu rumah sakit kelas A, kelas B (Pendidikan dan Non-Pendidikan), Kelas C, dan Kelas D.
Pada zaman yang sudah modern ini dan globalisasi rumah sakit juga dituntut ntuk
mengikuti perkembangan yang telah ada dalam hal ini adanya kompetisi yang sangat ketat antar
rumah sakit. Hal ini berdampak pada manajerial rumah sakit yang mengembangkan strategis
salah satunya adalah peranan system informasi manajemen di rumah sakit. Dalam hal ini
teknologi saat ini berkembang sangat cepat dan berpengaruh pada system informasi manajemen.
Sistem Informasi Manajemen (SIM) merupakan sumber daya organisasi untuk
mendukung proses pengambilan keputusan pada berbagai tingkat manajemen, data dapat diolah
menjadi informasi sesuai keperluan manajer sebagai pimpinan manajemen. Informasi yang
diperlukan manajemen dan manajer, maka harus dirancang suatu SIM yang baik.
Menurut Abdul Kadir (2003) Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah system
informasi yang digunakan untuk mendukung operasi, manajemen dan pengambilan keputusan
dalam sebuah organisasi biasanya, SIM menyediakan informasi untuk operasi organisasi.
Menurut Haag (2000) SIM juga sering disebut sebagai sistem peringatan manajemen karena
sistem ini memberikan peringatan kepada pemakai terhadap masalah maupun peluang.
Rumah Sakit juga mempunyai SIM yang biasanya disebut SIMRS. Dalam hal ini
masyarakat belum sama sekali mengenal akan SIMRS bias dikatakan tingkat pengetahuan
masyarakat sangat rendah maka dari itu perlunya masyarakat untuk terbuka ataupun pasien.
Pada dasarnya apabila dibuat suatu batasan atau definisi tentang manajemen, maka dapat
dikemukakan sebagai berikut "Bekerja dengan orang-orang untuk menentukan,
menginterprestasikan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau
kepegawaian (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading) dan pengawasan (controlling)".
Menurut Fayol H, perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan
pengontrolan merupakan unsur-unsur menejemen. Sedangkan alat menejemen untuk mencapai
tujuan adalah yang disebut sebagai enam M yaitu man, money, materials,machine, methode dan
markets yang diterjernahkan bebas sebagai manusia, uang, bahan, mesin, metode, dan pemasaran
(Koontz, 1988).
Jika menyebut manajemen kesehatan, sebenarnya terdapat dua pengertian di dalamnya
yaitu pengertian menejemen di satu pihak dan pengertian kesehatan di pihak lain. Yang
dimaksud dengan menejemen kesehatan ialah menejemen yang diterapkan pada pelayanan
kesehatan demi terciptanya keadaan sehat (Azwar, 1996)

Pelayanan medik khususnya medik spesialistik merupakan salah satu ciri dari Rumah Sakit
yang membedakan antara Rumah Sakit dengan fasilitas pelayanan lainnya. Kontribusi pelayanan
medik pada pelayanan di Rumah Sakit cukup besar dan menentukan ditinjau dari berbagai aspek,
antara lain aspek jenis pelayanan, aspek keuangan, pemasaran, etika dan hukum maupun
administrasi dan manajemen Rumah Sakit itu sendiri.

B. Latar Belakang
Sejalan dengan amanat Pasal 28 H, ayat (l) perubahan Undang – undang Dasar Negara
Repubrik Indonesia Tahun 1945 telah ditegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh
pelayanan kesehatan, kemudian dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan negara bertanggungjawab
atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan fasilitas pelayanan umum yang layak.
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas perayanan kesehatan perorangan merupakan
bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan
upaya kesehatan. Penyelenggaran pelayanan kesehatan di rumah sakit mempunyai karakteristik
dan organisasi yang sangat kompleks.
Berbagai jenis tenaga kesehatan dengan perangkat keilmuan yang beragam, berinteraksi
satu sama lain. Ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang berkembang sangat pesat yang
perlu diikuti oleh tenaga kesehatan dalam rangka pemberian pelayanan yang bermutu standar,
membuat semakin kompleksnya permasalahan di rumah sakit. Pada hakekatnya rumah sakit
berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Fungsi dimaksud
memiliki makna tanggung jawab yang seyogyanya merupakan tanggung jawab pemerintah
dalam meningkatkan taraf keejahteraan mesyarakat.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2005 Tentang Pedoman
Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal BAB I ayat 6 menyatakan : Standar
pelayanan Minimal yang selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu
pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga negara
secara minimal. Ayat 7. Indikator SPM adalah tolak ukur untuk prestasi kuantitatif dan kualitatif
yang digunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuh didalarn
pencapaian suatu SPM tertentu berupa masukan, proses, hasil dan atau manfaat pelayanan.
Ayat 8. Pelayanan dasar adalah jenis pelayanan publik yang mendasar dan mutlak untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sosial ekonomi dan pemerintahan.
Dalam penjelasan pasal 39 ayat 2 PP RI No 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan standar pelayanan minimal
adalah tolak ukur kinerja dalam menentukan capaian jenis dan mutu pelayanan dasar yang
merupakan urusan wajib daerah.

C. Maksud dan Tujuan


Standar pelayanan minimal ini dimaksudkan agar tersedianya panduan bagi daerah dalam
melaksanakan perencanaan pelaksanaan dan pengendalian serta pengawasan dan
pertanggungjawaban penyelenggaraan standar pelayanan minimal rumah sakit. Standar
pelayanan minimal ini bertujuan untuk menyamakan pemahaman tentang definisi operasional,
indikator kinerja, ukuran atau satuan rujukan, target nasional untuk tahun 2007 sampai dengan
tahun 2012, cara perhitungan / rumus / pembilangan penyebut / standar / satuan pencapaian
kinerja dan sumber data.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Klasifikasi Rumah Sakit Umum


Klasifikasi Rumah Sakit adalah pengelompokan kelas rumah sakit berdasarkan
fasilitas dan kemampuan pelayanan.
Berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan, Rumah Sakit Umum
diklasifikasikan menjadi :
a. Rumah Sakit Umum Kelas A
b. Rumah Sakit Umum Kelas B (Pendidikan dan Non-Pendidikan);
c. Rumah Sakit Umum Kelas C
d. Rumah Sakit Umum Kelas D
Klasifikasi Rumah Sakit Umum ditetapkan berdasarkan:
a. Pelayanan
b. Sumber Daya Manusia
c. Peralatan
d. Sarana dan Prasarana
e. Administrasi dan Manajemen

1. Rumah Sakit Umum Kelas A


RSU Kelas A dipimpin oleh Direktur Utama yang membawahi paling banyak
empat Direktorat. Masing-masing Direktorat terdiri dari paling banyak tiga bidang atau
bagian. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak tiga Seksi. Masing-masing
Bagian terdiri dari paling banyak tiga Sub bagian.
Rumah Sakit Umum Kelas A harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit 4 Pelayanan Medik Spesialis Dasar, 5 Pelayanan
Spesialis Penunjang Medik, 12 Pelayanan Medik Spesialis Lain dan 13 Pelayanan
Medik Sub Spesialis.
Kriteria, fasilitas dan kemampuan Rumah Sakit Umum Kelas A meliputi
Pelayanan Medik Umum, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Medik Spesialis Dasar,
Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, Pelayanan Medik Spesialis Lain, Pelayanan
Medik Spesialis Gigi Mulut, Pelayanan Medik Subspesialis, Pelayanan Keperawatan
dan Kebidanan, Pelayanan Penunjang Klinik, dan Pelayanan Penunjang Non Klinik.
Pelayanan Medik Umum terdiri dari Pelayanan Medik Dasar, Pelayanan Medik
Gigi Mulut dan Pelayanan Kesehatan Ibu Anak /Keluarga Berencana.
Pelayanan Gawat Darurat harus dapat memberikan pelayanan gawat darurat 24 jam dan
7 hari seminggu dengan kemampuan melakukan pemeriksaan awal kasus-kasus gawat
darurat, melakukan resusitasi dan stabilisasi sesuai dengan standar.
Pelayanan Medik Spesialis Dasar terdiri dari Pelayanan Penyakit Dalam,
Kesehatan Anak, Bedah, Obstetri dan Ginekologi.
Pelayanan Spesialis Penunjang Medik terdiri dari Pelayanan Anestesiologi,
Radiologi, Rehabilitasi Medik, Patologi Klinik dan Patologi Anatomi.
Pelayanan Medik Spesialis Lain sekurang-kurangnya terdiri dari Pelayanan Mata,
Telinga Hidung Tenggorokan, Syaraf, Jantung dan Pembuluh Darah, Kulit dan Kelamin,
Kedokteran Jiwa, Paru, Orthopedi, Urologi, Bedah Syaraf, Bedah Plastik dan
Kedokteran Forensik.
Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut terdiri dari Pelayanan Bedah Mulut,
Konservasi/Endodonsi, Periodonti, Orthodonti, Prosthodonti, Pedodonsi dan Penyakit
Mulut.
Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan terdiri dari pelayanan asuhan
keperawatan dan asuhan kebidanan.
Pelayanan Medik Subspesialis terdiri dari Subspesialis Bedah, Penyakit Dalam,
Kesehatan Anak, Obstetri dan Ginekologi, Mata, Telinga Hidung Tenggorokan, Syaraf,
Jantung dan Pembuluh Darah, Kulit dan Kelamin, Jiwa, Paru, Orthopedi dan Gigi
Mulut.
Pelayanan Penunjang Klinik terdiri dari Perawatan Intensif, Pelayanan Darah,
Gizi, Farmasi, Sterilisasi Instrumen dan Rekam Medik. Pelayanan Penunjang Non
Klinik terdiri dari pelayanan Laundry/Linen, Jasa Boga/ Dapur, Teknik dan
Pemeliharaan Fasilitas, Pengelolaan Limbah, Gudang, Ambulance, Komunikasi,
Pemulasaraan Jenazah, Pemadam Kebakaran, Pengelolaan Gas Medik dan
Penampungan Air Bersih.
Pada Pelayanan Medik Dasar minimal harus ada 18 orang dokter umum dan 4
orang dokter gigi sebagai tenaga tetap.
Pada Pelayanan Medik Spesialis Dasar harus ada masing-masing minimal 6 orang
dokter spesialis dengan masing-masing 2 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap.
Pada Pelayanan Spesialis Penunjang Medik harus ada masing-masing minimal 3 orang
dokter spesialis dengan masing-masing 1 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap.
Pada Pelayanan Medik Spesialis Lain harus ada masing-masing minimal 3 orang
dokter spesialis dengan masing-masing 1 orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap.
Untuk Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut harus ada masing-masing minimal 1 orang
dokter gigi spesialis sebagai tenaga tetap.
Pada Pelayanan Medik Subspesialis harus ada masing-masing minimal 2 orang
dokter subspesialis dengan masing-masing 1 orang dokter subspesialis sebagai tenaga
tetap.
Perbandingan tenaga keperawatan dan tempat tidur adalah 1:1 dengan kualifikasi
tenaga keperawatan sesuai dengan pelayanan di Rumah Sakit.
Sarana prasarana serta peralatan yang dimiliki Rumah Sakit harus memenuhi
standar yang ditetapkan oleh Menteri. Peralatan radiologi dan kedokteran nuklir harus
memenuhi standar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jumlah
tempat tidur minimal 400 buah.
Administrasi dan manajemen terdiri dari struktur organisasi dan tata laksana.
Struktur organisasi paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah
Sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur penunjang medis, komite
medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi umum dan keuangan. Tata
laksana meliputi tatalaksana organisasi, standar pelayanan, standar operasional prosedur
(SPO), Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), hospital by laws dan
Medical Staff by laws.
Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan merupakan contoh Rumah Sakit
Umum Kelas A dengan tenaga medis 300 dokter tetap, 700 perawat, 650 tempat tidur,
dan 1600 orang tenaga adminitrasi.
2. Rumah Sakit Umum Kelas B
Rumah Sakit Umum Kelas B adalah rumah sakit yang mampu memberikan
pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis terbatas. Rumah sakit ini didirikan di
setiap ibukota provinsi yang menampung pelayanan rujukan di rumah sakit kabupaten.
Rumah sakit umum kelas B terdiri dari rumah sakit umum pendidikan dan non-
pendidikan.
Rumah Sakit Umum Kelas B Pendidikan dipimpin oleh Direktur Utama yang
membawahi paling banyak 3 Direktorat. Masing-masing Direktorat terdiri dari paling
banyak 3 atau Bagian. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3 Seksi.
Masing-masing Bagian terdiri dari paling banyak 3 Sub bagian.
Rumah Sakit Umum Kelas B harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) Pelayanan Medik Spesialis Dasar, 4 (empat)
Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, 8 (delapan) Pelayanan Medik Spesialis Lainnya
dan 2 (dua) Pelayanan Medik Subspesialis Dasar.
Pada Pelayanan Medik Dasar minimal harus ada 12 (dua belas) orang dokter
umum dan 3 (tiga) orang dokter gigi sebagai tenaga tetap. Pada Pelayanan Medik
Spesialis Dasar masing-masing minimal 3 (tiga) orang dokter spesialis dengan masing-
masing 1 (satu) orang sebagai tenaga tetap.
Pada Pelayanan Spesialis Penunjang Medik harus ada masing-masing minimal 2
(dua) orang dokter spesialis dengan masing-masing 1 (satu) orang dokter spesialis
sebagai tenaga tetap. Pada Pelayanan Medik Spesialis Lain harus ada masing-masing
minimal 1 (satu) orang dokter spesialis setiap pelayanan dengan 4 orang dokter spesialis
sebagai tenaga tetap pada pelayanan yang berbeda.
Pada Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut harus ada masing-masing minimal 1
(satu) orang dokter gigi spesialis sebagai tenaga tetap. Pada Pelayanan Medik
Subspesialis harus ada masing-masing minimal 1 (satu) orang dokter subspesialis
dengan 1 (satu) orang dokter subspesialis sebagai tenaga tetap. Jumlah tempat tidur
minimal 200 (dua ratus) buah.
Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan merupakan contoh Rumah Sakit Kelas B
Pendidikan. Rumah Sakit Umum Martha Friska merupakan contoh Rumah Sakit Umum
Kelas B Non-Pendidikan.
3. Rumah Sakit Umum Kelas C
Rumah Sakit Umum Kelas C adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan
kedokteran spesialis terbatas. Rumah sakit ini didirikan di setiap ibukota kabupaten,
yang menampung pelayanan rujukan dari puskesmas.
Rumah Sakit Umum Kelas C dipimpin oleh Direktur yang membawahi paling
banyak 2 Bidang dan 1 Bagian. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3
Seksi. Bagian terdiri dari paling banyak 3 Sub bagian.
Rumah Sakit Umum Kelas C harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) Pelayanan Medik Spesialis Dasar dan 4
(empat) Pelayanan Spesialis Penunjang Medik.
Pada Pelayanan Medik Dasar minimal harus ada 9 (sembilan) orang dokter umum
dan 2 (dua) orang dokter gigi sebagai tenaga tetap. Pada Pelayanan Medik Spesialis
Dasar harus ada masing-masing minimal 2 (dua) orang dokter spesialis setiap pelayanan
dengan 2 (dua) orang dokter spesialis sebagai tenaga tetap pada pelayanan yang
berbeda.
Pada setiap Pelayanan Spesialis Penunjang Medik masing-masing minimal 1
(satu) orang dokter spesialis setiap pelayanan dengan 2 (dua) orang dokter spesialis
sebagai tenaga tetap pada pelayanan yang berbeda. Jumlah tempat tidur minimal 100
(seratus) buah. Rumah Sakit Umum Deli Medan adalah contoh Rumah Sakit Umum
Kelas C.

4. Rumah Sakit Umum Kelas D


Rumah Sakit Umum Kelas D adalah rumah sakit yang bersifat transisi dengan
kemampuan hanya memberikan pelayanan kedokteran umum dan gigi. Rumah sakit ini
menampung rujukan yang berasal dari puskesmas.
Rumah Sakit Umum Kelas D dipimpin oleh Direktur yang membawahi 2 Seksi
dan 3 Subbagian. Masing-masing Bidang terdiri dari paling banyak 3 Seksi. Bagian
terdiri dari paling banyak 3 Sub bagian.
Rumah Sakit Umum Kelas D harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit 2 (dua) Pelayanan Medik Spesialis Dasar.
Pada Pelayanan Medik Dasar minimal harus ada 4 (empat) orang dokter umum
dan 1 (satu) orang dokter gigi sebagai tenaga tetap. Pada Pelayanan Medik Spesialis
Dasar harus ada masing-masing minimal 1 (satu) orang dokter spesialis dari 2 (dua)
jenis pelayanan spesialis dasar dengan 1 (satu) orang dokter spesialis sebagai tenaga
tetap. Jumlah tempat tidur minimal 50 (lima puluh) buah.
Rumah Sakit Umum Sufina Azis Medan merupakan contoh Rumah Sakit Umum
Kelas D. Adapun jumlah dokter spesialis 21 orang dan dokter umum 9 orang.

B. Klasifikasi Rumah Sakit Khusus


Rumah Sakit Gigi dan Mulut
Salah satu contoh RSGM yang sudah eksis adalah RSGM FKG UGM. RSGM
FKG UGM merupakan Rumah Sakit Gigi dan Mulut di Daerah Istimewa Yogyakarta
yang berfokus pada pelayanan kesehatan gigi kepada masyarakat dan merupakan Rumah
Sakit rujukan untuk kasus gigi dan mulut di DIY dan JATENG.
Keunggulan dari RSGM FKG UGM adalah pelayanan kesehatan gigi yang
terpadu dan paripurna. Setiap keluhan yang dihadapi pasien akan ditangani secara tuntas
dan menyangkut semua aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Setiap pasien
akan ditangani secara khusus berdasarkan kasus yang diderita, oleh tenaga professional
dengan peralatan yang lengkap dan steril.
Secara umum RSGM FKG UGM memiliki empat jenis klinik perawatan yaitu :
• Klinik perawatan gigi umum yang ditangani oleh dokter gigi umum
• Klinik perawatan gigi spesialistik ditangani oleh dokter gigi spesialis
• Klinik perawatan gigi VIP ditangani oleh para dokter gigi spesialis
berpengalaman dan mempunyai system on call (dengan perjanjian) sehingga
memudahkan pasien.
• Klinik gigi pendidikan / Ko As
Setiap pasien yang datang ke RSGM akan didiagnosa secara lengkap di bagian
distribusi dan memiliki Rekam Medik pribadi yang menggambarkan kondisi
kesehatannya.
Dari bagian Distribusi pasien akan dirujuk menuju salah satu dari enam bagian
pelayanan kesehatan gigi yang merupakan bagian terintegrasi dengan pelayanan
kesehatan gigi secara keseluruhan. Setiap kasus yang dihadapi oleh pasien akan
diarahkan menuju bagian yang langsung menangani penyakit gigi secara profesional.
1. Klinik Bedah Mulut
Bagian bedah mulut menangani kasus dengan tindakan pencabutan gigi, operasi
kista atau tumor, patah rahang dan lain-lain.
2. Klinik Konservasi Gigi
Bagian konservasi menangani kasus dengan tindakan tambalan, perawatan gigi, estetik
dan kosmetik seperti pemutihan gigi (bleaching) dan memperbaiki gigi patah
3. Klinik Ortodonsia
Bagian orthodonsia menangani kasus dengan tindakan untuk merapikan gigi yang
memiliki bentuk tidak teratur baik dengan alat fixed (cekat) maupun removable
(lepasan)
4. Klinik Pedodonsia
Bagian ini khusus menangani pasien anak-anak di bawah 16 tahun yang
mengalami masalah gigi.
5. Klinik Periodonsia
Bagian ini menangani kasus pada jaringan pendukung gigi termasuk tindakan
pembersihan karang gigi
6. Klinik Prostodonsia
Bagian Prostodonsia menangani rehabilitasi pada kasus kehilangan gigi baik
sebagian maupun keseluruhan dengan metode cekat, lepasan maupun implant.
7. Klinik Penyakit Mulut
Bagian ini menangani kasus oral non bedah dan compromised cases.
8. Unit Promotif dan Preventif
Bagian ini melayani konsultasi dan penyuluhan pencegahan penyakit gigi dan
mulut.
Instalasi Pendukung RSGM
1. Radiologi Dental
Bagian ini melayani kepentingan diagnostik foto roentgen.
2. Farmasi
Instalasi Farmasi memberikan layanan obat yang dibituhkan untuk kesehatan gigi
3. Laboratorium Tekhnik Gigi
Memberikan pelayanan pembuatan gigi palsu, untuk keperluan rehabilitatif
maupun estetik, alat orthodontia dan lain-lain.

C. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS)


SIMRS merupakan himpunan atau kegiatan dan prosedur yang terorganisasikan dan
saling berkaitan serta saling ketergantungan dan dirancang sesuai dengan rencana dalam usaha
menyajikan informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai kebutuhan guna menunjang proses
fungsi-fungsi manajemen dan pengambilan keputusan dalam memberikan pelayanan kesehatan
di Rumah Sakit.
SIMRS saat ini ditujukan untuk menunjang fungsi perencanaan dan evaluasi dari
penampilan kerja RS, antara lain adalah jaminan mutu pelayanan rumah sakit yang bersangkutan,
pengendalian keuangan dan perbaikan hasil kerja RS tersebut, kajian dalam penggunaan dan
penaksiran permintaan pelayanan kesehatan RS oleh masyarakat, perencanaan dan evaluasi
program RS, penyempurnaan laporan RS sertauntuk kepentingan pendidikan dan penelitian.

1. Medical Information System


Sistem yang mencatat semua kegiatan operasional rumah sakit baik yang bersifat medis
maupun non medis. Meliputi proses pendaftaran pasien, admisi, tindakan medis, laboratorium,
radiology, dan sebagainya yang semuanya tercatat secara elektronis pada database medical
record. Modul ini menggunakan engine software opensource Care2X dengan modifikasi yang
disesuaikan dengan kondisi sistem informasi manajemen rumah sakit yang diinginkan dan telah
diintegrasikan dengan modul

2. Accounting Information System.


Program ini telah teruji dan digunakan oleh banyak rumah sakit i beberapa negara. Sistem
yang mencatat semua aspek keuangan yang timbul dari kegiatan-kegiatan yang terjadi pada
modul Medical Information System, pencatatan hutang piutang, invoice, pelunasan, inventory
control (obat dan bahan-bahan medis), point-of-sales, sampai dengan laporan-laporan keuangan
seperti neraca, laba rugi, buku besar, dan sebagainya. Modul ini menggunakan engine software
opensource SQL-Ledger dengan modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi sistem informasi
keuangan rumah sakit yang diinginkan. Program ini telah teruji dan digunakan oleh banyak
perusahaan beberapa negara.
3. Tugas Tim Sistem iformsi Rumah Sakit meliputi:
 Menentukan Spesifikasi aplikasi yang diinginkan yaitu: Output atau laporan yang
didinginkan. Selain itu Proses pemasukn data yang diinginkan .
 Memberkan data yang berkitan dengan spesifikasi aplikasi
 Memberikan feedback yang cepat, akurat kepada pengembang dengan mengisi form
yang diberikan.
4. Yang harus dilakukan oleh Tim SIRS atau tim SIM Rumah sakit :
 Adanya kerjasama tip unit dalam pemasukan data
 Buat Komitmen dalam tim untuk mencapai tujuan
 Tim SIM rumah sakit mengajukan hardware pendukung SIM
 Kordinator bertanggung jawabterhadap data base unit yang dipimpinnya
 Adanya surat tugas dari manjemen untuk Tim SIM rumah Sakit
 Dibuat Protap atau SOP serta Jobdescription dari setiap unit
 Komitmen dari TIM dibutkan kontrak
 Dibuat jadwal pertemuan rutin tiap unit
 Buat SK pembentukan Tim SIM rumah sakit
5. Sistem informasi rumah sakit dapat dikelompokan pada kelas rumah sakit dan status
rumah sakit ;
 Rumah Sakit Vertikal
 Rumah Sakt Umum Daerah
 Rumah Sakit Umum Swasta
 Rumah Sakit Spesialis
6. Kendala-kendala yang sering terjadi dilapangan saat implementasi adalah:
 Ketidak siapan rumah sakit dalam menerapkan sistem informasi yang terintergrasi
dan berbasi kmputer.
 Penyajian data yang belum semua menjadi data elektronik yang akan memudahkan
pada proses migrasi data.
 Komitment yang dilaksanakan secara bersamaan dan menyelur sehingga
menimbulkan kekacaun pada data transakit.
 Koordinasi antar unit bagian yang terkesan mementingkan unit masing-masing.
 Berubah-ubahnya kebijakan.
 Mengubah pola kerja yang sudah terbiasa dengan manual ke komputerisasi.
 Pemahaman yang belum merata antara SDM terkait,
 Mengacu pada UU Nomor 44 Tahun 2009,tentang Rumah Sakit yaitu pasal 52 Ayat 1
yang berbunyi : “ Setiap rumah sakit wajib melakukan pencatatan dan peloparan
tentang semua kegiatan penyelenggaraan Rumah Sakit dalam bentuk SISTEM
INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT.”
7. Topologi Arus Data
8. Topologi Jaringan SIM-RS

9. SOLUSI SIM-RS
SIM-RS JS adalah aplikasi berbasis web,yang ditunjuk untuk memperbaiki pengelolaan
data Rumah Sakit agar data Rumah Sakit dan informasi bisa ditata dengan baik dan dapat di
pertanggungjawabkan.Pengelolaan data dan informasi meliputi :
 Daftar Modul Software
 Front-Office
 Medical Record
 Billing System
 Akuntansi
 Pelaporan Keuangan
 Manajemen Pembelian (Pengadaan Barang / Jasa)
 Logistik & Persediaan
 Analisis Ratio
 Kepegawaian
 Rawat Jalan/Poliklinik
 Instalasi Gawat Darurat
 Rawat Inap
 ICU/PICU/NICU
 OK/VK
 Medical Check Up
 Laboratorium
 Radiologi
 Farmasi
 Instalasi Gizi
 Instalasi Laundry
 Keperawatan
 Sistem Administrator

10. KEUNTUNGAN SIM-RS JS


1. Dapat memantau perkembangan Rumah Sakit secara akurat
2. Dapat meningkatkan pelayanan dibidang kesehatan kepada masyarakat secara akurat.
3. Rumah Sakit tersebut dapat terpantau secara langsung oleh lembaga-lembaga dari
luar atau dalam Negeri secara akurat,
4. sehingga mempermudah akses bagi lembaga tersebut jika akan memberikan informasi
serta mempermudah akses jika ingin memberikan dana.
5. Dapat menyimpan data base Rumah Sakit mulai dari Pasien, Karyawan yang terdiri
dari Data Rumah Sakit, data administrasi,data Aset Rumah Sakit dan lain-lain
6. Dapat mengangkat brand image Rumah Sakit tersebut secara tidak langsung dengan
memiliki fasilitas modern
7. Dapat mengurangi beban kerja sub-bagian rekam medis dalam menangani berkas
rekam medis,Bagian Rekam Medis memang sub-bagian yang paling direpotkan mulai
dari coding,indexing,filling dan lain-lain.Sebagian Rumah Sakit di Indonesia masih
mengggunakan petugas Rekam Medis ataupun kurir dalam mendistribusikan berkas-
berkas ke masing-masing pelayanan
8. Dapat mengurangi pemakaian kertas.Pemakaian kertas masih belum bisa dihilangkan
di Indonesia karena data medis sangat rentan dengan hukum dan akan
memporakporandakan perdagangan kertas di Indonesia . Dengan sistem yang
terkomputerisasi , pemakaian kertas yang bisa di pangkas antara lain :
 1 Lembar kertas Rekam Medis yang tidak berhubungan dengan masalah Autentikasi
atau aspek hukum
 Laporan masing-masing unit pelayanan ( karena semua laporan telah terekap oleh
sistem )
 Rekap Laporan ( RL ) 1-6 yang dikirim ke dinas Kesehatan.
 Menghasilkan pelaporan keuangan rumah sakit yang dapat di pertanggungjawabkan.

Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Juragan Software Sudah Terdaftar pada
HAKI ( Hak Kekayaan Intelektual ) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia, Nomer :C00201104668

D. Manajemen Pelayanan Medik


Bukan rahasia lagi pengaturan pelayanan medik khususnya medic spesialistik sampai saat
ini masih menghadapi berbagai kendala; tenaga spesialis masih kurang dan belum merata di
berbagai daerah di Indonesia, ketidakseimbangan tenaga medik dan sarana dan prasarana alat
kesehatan antara Rumah Sakit Pemerintah dan Rumah Sakit Swasta, berbagai peraturan yang
belum dilaksanakan dengan baik, perilaku dokter sebagai tenaga medis dan lain-lain yang pada
akhirnya sangat mempengaruhi kualitas pelayanan medik di Rumah Sakit. Adanya krisis moneter
yang saat ini melanda Negara Kita, pembiayaan kesehatan makin meningkat, sedangkan daya
beli masyarakat makin menurun cukup mempengaruhi pelayanan Rumah Sakit khususnya
pelayanan medik.
Namun demikian keadaan ini jangan dijadikan alasan untuk menurunkan mutu pelayanan
medik, kita harus tetap berpegang pada profesionalisme dan etika profesi. Apalagi saat ini telah
terjadi reformasi di bidang kesehatan dimana profesionalisme merupakan salah satu strategi
untuk mencapai visi Departemen Kesehatan yaitu Indonesia Sehat 2010. Di lain pihak saat ini
Rumah Sakit menghadapi era globalisasi dengan persaingan dari pihak Penanam Modal Asing
yang lebih unggul baik dari segi sumber daya manusia.
Tenaga Medik menurut PP No.32 Tahun 1996 Tenaga Medik termasuk tenaga kesehatan,
serta menurut Permenkes No.262/1979 yang dimaksud dengan tenaga medis adalah lulusan
Fakultas Kedokteran atau Kedokteran Gigi dan "Pascasarajna" yang memberikan pelayanan
medik dan penunjang medik. Pelayanan medik di Rumah Sakit : adalah salah satu jenis
pelayanan Rumah Sakit yang diberikan oleh tenaga medik. Manajemen Pelayanan Medik di
Rumah Sakit secara sederhana : adalah suatu pengelolaan yang meliputi perencanaan berbagai
sumber daya medk dengan mengorganisir serta menggerakkan sumber daya tersebut diikuti
dengan evaluasi dan kontrol yang baik, sehingga dihasilkan suatu pelayanan medik yang
merupakan bagian dari sistem pelayanan di Rumah Sakit.

E. Pelayanan Medik sebagai Suatu Sistem


Dengan pendekatan sistem pelayanan medik terdiri dari beberapa komponen yaitu :
A. Komponen INPUT yang terdiri dari :
a. Tenaga medik yaitu dokter umum, dokter gigi dan dokter spesialis. Perhitungan
kebutuhan tenaga medik Rumah Sakit dapat melalui berbagai cara antara lain :
Peraturan Menkes 262/1979, Indikator Staff Needs (ISN) dan standar minimal.
b. Organisasi dan Tata Laksana Struktur organisasi yang berlaku saat ini mengacu
kepada SK Menkes 983/ 1992, namun pada pelaksanaannya banyak mengalami
hambatan karena SDM yang ada belum memenuhi kualifikasi yang ditentukan.
Dalam SK Menkes 983, kedudukan tenaga medik ada pada :
- Staf Medik Fungsional yang dikoordinasi oleh kepala SMF yangdipilih
dan bertanggung jawab kepada Direktur Rumah Sakit.
Komite Medik yang bertugas membantu memonitor dan mengembangkan
SMF ditinjau dari aspek teknis medis termasuk hukum dan etika
profesi maupun etika Rumah Sakit.
Untuk lebih jelasnya tentang komite medik ini menurut Departemen
Kesehatan sesuai dengan surat keputusan Dirjen Pelayanan Medik No.
HK 00.06.2.3.730 Juli 1995 (terlampir).
- Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan (Rumah Sakit Kelas B), Seksi
pelayanan (Kelas C & D) yang mengelola sistem pelayanan medik
sehingga dihasilkan suatu pelayanan medik yang bermutu sesuai
dengan visi dan misi Rumah Sakit.
Sesuai dengan Pasal 29 Permenkes 983/1992.
Tugas Wadir pelayanan sekurang-kurangnya meliputi pelayanan rawat jalan,
rawat inap, rawat darurat, bedah sentral, perawatan intensif, radiologi, farmasi,
gizi, rehabilitasi medis, patologi klinis, patologi anatomi, pemulasaraan jenazah,
pemeliharaan sarana Rumah Sakit dan kegiatan bidang pelayanan, keperawatan
serta urusan ketatausahaan dan kerumahtanggaan. Tugas bidang pelayanan
mengkoordinasikan semua kebutuhan pelayanan medis, penunjang medis,
melaksanakan pemantauan dan pengawasan penggunaan fasilitas serta kegiatan
pelayanan medis dan penunjang medis, pengawasan dan pengendalian
penerimaan dan pemulangan pasien. Tugas ini juga dilaksanakan oleh seksi
pelayanan pada Rumah Sakit Kelas C.
c. Kebijakan Direktur
Tentang pelayanan medik di Rumah Sakit termasuk hak dan kewajiban pasien,
hak dan kewajiban petugas medik dan peraturan-peraturan lainnya.
d. Sarana dan Prasarana Pelayanan Medik yang meliputi :
- Gedung rawat jalan, rawat inap, ruang bedah, UGD, penunjang medik
radiologi, laboratorium, gizi dan lain-lain yang harus memenuhi syarat
sesuai dengan arsitektur Rumah Sakit yang berlaku.
- Sarana dan prasarana alat kesehatan sederhana maupun canggih untuk
terlaksananya pelayanan medik yang bermutu.
e. Dana
Ada beberapa sumber dana yang dapat digunakan untuk terselenggaranya
pelayanan medik, antara lain :
- Pendapatan Asli Rumah Sakit
- APBN (Depkes)
- APBN (Depdagri)
- APBD Tingkat I
- APBD Tingkat II
- Banpres
- Asuransi
- Kontraktor
- Subsidi
- dll.
Dana tersebut digunakan untuk :
l. Investasi peralatan medik yang diperlukan sesuai dengan jenis pelayanan
yang diberikan.
2. Operasional yang terdiri dari :
- Jasa pelayanan medis yaitu jasa yang diberikan kepada petugas
kesehatan (mediss, paramedis maupun non-medis) atas pelayanan
yang diberikan.
- Jasa Rumah Sakit yaitu jasa yang digunakan untuk operasional
dan pemeliharaan Rumah Sakit sehingga dapat memberikan
pelayanan.
- Bahan habis pakai yaitu bahan-bahan yang digunakan untuk
terselenggaranya suatu kegiatan pelayanan kepada pasien.
Ketiga komponen operasional tersebut tercermin pada tarif Rumah Sakit.
f. Pasien/klien
Dilihat dari status sosio-ekonomi dan budaya masyarakat pasien dapat
digolongkan pada pasien tingkat menengah ke atas dan tingkat menengah ke
bawah. Pada perencanaan suatu Rumah Sakit perlu memperhitungkan status
pasien yang akan menjadi pangsa pasar Rumah Sakit sesuai dengan visi dan misi
Rumah Sakit.
Dari 200 juta penduduk Indonesia, lebih dari 27 juta masih termasuk
penduduk miskin yang perlu perhatian dan bantuan sesuai dengan fungsi sosial
Rumah Sakit. Untuk itu Peraturan Menkes No. 378/1993 tentang Pelaksanaan
Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta telah mengatur fungsi sosial Rumah Sakit
dimana tempat tidur Kelas III bagi Rumah Sakit Swasta/BUMN milik Yayasan
adalah 25% dari jumlah tempat tidur yang ada. Sedangkan bagi Pemodal Dalam
Negeri (PMDN) dan Pemilik Modal Asing (PMA) adalah 10% karena dikenakan
pajak. Namun demikian jumlah tempat tidur tersebut bukan satu-satunya fungsi
sosial Rumah Sakit Swasta karena dapat berupa yang lain misalnya Balkesmas,
penyuluhan-penyuluhan, pelatihan. Dengan demikian diharapkan kontribusi
swasta/BUMN terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat khususnya
masyarakat miskin melalui pelayanan kesehatan di Rumah Sakit mempunyai daya
ungkit yang cukup besar.

B. Komponen Proses Menggambarkan Manajemen Pelayanan Medis.


Secara sederhana terdiri dari :
a. Perencanaan
- Tenaga yang dibutuhkan sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan,
beban kerja yang ada dengan memperhitungkan kecenderungan (TREND) pada
masa yang akan datang.
- Sumber daya lain yang dibutuhkan untuk terselenggaranya suatu
pelayanan medis.
- Kegiatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan sasaran yang
diharapkandengan memperhitungkan sumber daya potensial yang ada maupun
kendala yang mungkin terjadi. Berdasarkan "waktu" maka perencanaan kegiatan
dapat harian, mingguan, bulanan, tahunan dan jangka panjang sesuai dengan visi
dan misi Rumah Sakit dalam perencanaan kegiatan alangkah baiknya apabila
Rumah Sakit mempunyai skala prioritas dan mempunyai projek unggulan.
b. Pengorganisasian
Seperti telah dibicarakan pada bab sebelumnya, tenaga medik ini
diorganisir melalui staf medik fungsional dari komite medik, sedangkan
pengelolaan pelayanan medik di bawah Wadir Pelayanan Medik. Sesuai dengan
ketentuan Depkes dan akreditasi Rumah Sakit bahwa Wadir Pelayanan Medik
harus seorang dokter (umum/spesialis), ketua SMF adalah seorang dokter
spesialis (bila memungkinkan), sedangkan ketua komite medik dipilih dari ketua
SMF yang ada dan bertanggung jawab kepada Direktur Rumah Sakit.

c. Penggerakan
Kondisi saat ini, kegiatan inilah yang paling sulit dilakukan karena
beberapa dilema. Di lain pihak kebutuhan akan tenaga dokter spesialis khususnya
bagi Rumah Sakit Swasta cukup tinggi karena tidak mempunyai tenaga dokter
tetap di lain pihak citra Rumah Sakti Pemerintah menurun karena dokternya lebih
mengutamakan Swasta sehingga SK Meskes 415a/1984 belum dapat berjalan
dengan baik. Selain itu cukup sulit untuk memotivasi mereka karena keterbatasan
Rumah Sakit Pemerintah dan tuntutan kebutuhan dokter spesialis sendiri.
d. Pelaksanaan pelayanan medis
Ada beberapa hal penting yang mendasari pelayanan medis agar
dihasilkan suatu pelayanan yang optimal yaitu :
- Falsafah dan tujuan
Pelayanan medis yang diberikan harus sesuai dengan ilmu pengetahuan
kedokteran mutakhir serta memanfaatkan kemampuan dan fasilitas Rumah Sakit
secara optimal. Tujuan pelayanan medis adalah mengupayakan kesembuhan
pasien secara optimal melalui prosedur dan tindakan yang dapat
dipertanggungjawabkan sesuai dengan standar masing-masing profesi.
- Administrasi dan pengelolaan
Wadir pelayanan medis/seksi pelayanan medis ditetapkan sebagai
ADMINISTRATOR yang mempunyai fungsi antara lain :
• Membuat kebijakan dan melaksanakannya.
• Mengintegrasi, merencanakan dan mengkoordinasi pelayanan.
• Melaksanakan pengembangan DIKLAT
• Melakukan pengawasan termasuk medikolegal
- Staf dan pimpinan
Penetapan staf dan hak/kewajibannya ditentukan oleh pejabat yang
berwenang, dengan prinsip seleksi : dapat memberikan pelayanan profesional,
sesuai kebutuhan Rumah Sakit dan masyarakat serta adarekomendasi profesi.
- Fasilitas dan peralatan
Tersedia fasilitas pelayanan yang cukup sehingga tujuan pelayanan efektif
tercapai, misalnya ruang pertemuan staf medis, fasilitas untuk berkomunikasi,
tenaga, administrasi untuk pencatatan kegiatan medis.
- Kebijakan dan prosedur
Perlu dibuat kebijakan dan prosedur klinis maupun nonmedis sesuai
dengan standar yang ada.
- Pengembangan staf dan program pendidikan.
Hal ini diperlukan untuk peningkatan mutu pelayanan medis.
- Evaluasi dan pengendalian mutu
Ada program pengendalian mutu yang menilai konsep, hasil kerja dan
proses pelayanan medis. Dilaksanakan oleh Komite medis. Ketujuh kriteria di atas
merupakan point penting dalam penil aian akreditasi Rumah Sakit di samping
administrasi dan manajemen, manajemen keperawatan, unit gawat darurat serta
rekam medik.
e. Pengawasan dan pengendalian
Ada dua macam yaitu :
- Pengawasan pelaksanaan pelayanan termasuk medikolegal oleh wadir/
seksi pelayanan.
- Pengawasan teknis medis oleh komite medis
Keduanya bertanggung jawab kepada Direktur Rumah Sakit. Pengawasan
ini harus secara periodik dan kontinyu dilakukan baik dengan audit medis/audit
manajemen maupun dengan upaya-upaya peningkatan mutu yang lain, namun
tetap dengan prinsip : "penelaahan bersama tentang suatu kejadian/kegiatan
pelayanan medis dan bukan mencari siapa yang salah, kemudian mencari solusi
tindak lanjut sehingga kejadian yang sama tidak terulang lagi.”

C. OUTPUT
Tentu saja out put yang diharapkan adalah pelayanan medis yang bermutu,
terjangkau oleh masyarakat luas dengan berdasarkan etika profesi dan etika Rumah Sakit.
Dengan demikian beberapa tolok ukur keberhasilan pelayanan di Rumah Sakit seperti
angka kematian di Rumah Sakit, kejadian infeksi nosokomial, kepuasan pasien, waktu
tunggu dan lain-lain akan berubah yaitu angka kematian rendah, kejadian infeksi
nosokomial rendah, kepuasan pasien meningkat, waktu tunggu pendek. Keadaan ini akan
meningkatkan CITRA Rumah Sakit yang merupakan pemasaran Rumah Sakit.

D. FAKTOR yang mempengaruhi


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi :
a. Pemilik Rumah Sakit (Pemerintah Pusat, PEMDA, Yayasan, PT, PMA dll)
Misi dan dukungan pemilik sangat menentukan keberhasilan pelayanan medik.
b. Depkes
Peraturan dan kebijakan dengan sanksi yang tegas akan meningkatkan sistem
pelayanan medis di Rumah Sakit.
c. IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi)
Kemajuan IPTEK harus diikuti sesuai falsafah Rumah Sakit yaitu memberikan
pelayanan sesuai IPTEK kedokteran yang mutakhir. Tercantum dalam GBHN 1993 dan
PELITA VI kesehatan bahwa tujuan pembangunan adalah meningkatkan SDM (Sumber
Daya Manusia), sehingga IPTEK menjadi sangat penting apalagi bila kita tidak ingin
ketinggalan dalam menghadapi era globalisasi tahun 2003 nanti.
d. Sosio-ekonomi-budaya masyarakat
Untuk lebih jelasnya sistem pelayanan medis tampak pada bagan dibawah ini.
F. Masalah-masalah yang Timbul dalam Manajemen Pelayanan Medik
Masalah-masalah yang timbul antara lain :
1. Tenaga, khususnya tenaga medis spesialis masih kurang dan tidak merata (di Pulau
Jawa lebih banyak dibanding daerah lain).
2. Belum semua Rumah Sakit menerapkan/mengacu kepada struktur organisasi 983/1992
karena keterbatasan kualifikasi tenaga yang ada.
3. Fasilitas yang belum sesuai dengan standar.
4. Kecenderungan untuk memiliki alat canggih tanpa memperhitungkan efisiensi dan
efektivitas.
5. Sikap dan perilaku tenaga medi s yang kurang mendukung si stem pelayanan medis
maupun Rumah Sakit sebagai suatu sistem.
6. Sikap dan perilaku pimpinan Rumah Sakit yang kurang tegas dalam pelaksanaan
pelayanan medis.

G. Upaya Pemecahan Masalah


1. Program Pendidikan Dokter/Dokter Gigi Spesialis (PPDS/PPDGS) bagi daerah-daerah
yang sangat memerlukan dan tidak ada Fakultas Kedokteran/Kedokteran Gigi.
2. Rumah Sakit Swasta sebaiknya merekrut dokter pasca PTT dan menyekolahkannya
sehingga menuju kemandirian swasta dalam aspek tenaga.
3. Adanya program kerjasama antar Rumah Sakit namun tanpa melanggar Keputusan
Menkes 415a/1984 baik bagi "provider" maupun Rumah Sakit sendiri.
4. Perencanaan peralatan secara bertahap perlu ditingkatkan dengan memperhitungkan
skala prioritas dan projek unggulan, tidak perlu seluruhnya membeli tetapi dengan sistem
kerja sama ataupun sewa.
5. Komunikasi, koordinasi, integrasi dengan unit lain di Rumah Sakit ditingkatkan. Unit
lain sebagai "MITRA". Sehingga pelayanan medik dan Rumah Sakit sebagai suatu sistem
dapat berlangsung dengan optimal.
6. Menempatkan tenaga medis sesuai dengan peran, tugas dan fungsinya.
7. Pimpinan Rumah Sakit harus mempunyai sikap yang tegas dalam mengayomi,
mengawasi dan mengendalikan pelayanan medis Ruma Sakit.
H. Sistem Rujukan Rumah Sakit

Undang- undang no 44 tahun 2009 Pasal 42 ayat 2 menyatakan bahwa setiap Rumah
Sakit mempunyai kewajiban merujuk pasien yang memerlukan pelayanan di luar kemampuan
pelayanan rumah sakit.

Salah satu bentuk pelaksanaan dan pengembangan upaya kesehatan dalam Sistem
kesehatan Nasional (SKN) adalah rujukan upaya kesehatan. Untuk mendapatkan mutu pelayanan
yang lebih terjamin, berhasil guna (efektif) dan berdaya guna (efesien), perlu adanya jenjang
pembagian tugas diantara unit-unit pelayanan kesehatan melalui suatu tatanan sistem rujukan.
Dalam pengertiannya, sistem rujukan upaya kesehatan adalah suatu tatanan kesehatan yang
memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya
masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masyarakat, baik secara vertikal maupun
horizontal, kepada yang berwenang dan dilakukan secara rasional.

Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari :

 Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam
institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke puskesmas
induk
 Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang pelayanan
kesehatan, baik horizontal maupun vertikal.

Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari :

 Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya penyembuhan
(kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk pasien puskesmas dengan
penyakit kronis (jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus) ke rumah sakit umum
daerah.
Jenis rujukan medis :

1. Transfer of patient, yaitu konsultasi penderita untuk keperluan diagnostik,


pengobatan, tindakan operatif dan lain sebagainya
2. Transfer of speciment, yaitu pengiriman bahan untuk pemeriksaan laboratorium yang
lebih lengkap
3. Transfer of knowledge/personel, yaitu pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau
ahli untuk meningkatkan mutu layanan pengobatan setempat. Pengiriman tenaga-
tenaga ahli ke daerah untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan melalui
ceramah, konsultasi penderita, diskusi kasus dan demonstrasi operasi (transfer of
knowledge). Pengiriman petugas pelayanan kesehatan daerah untuk menambah
pengetahuan dan ketrampilan mereka ke rumah sakit yang lebih lengkap atau rumah
sakit pendidikan, juga dengan mengundang tenaga medis dalam kegiatan ilmiah yang
diselenggarakan tingkat provinsi atau institusi pendidikan (transfer of personel)
 Rujukan Kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan dengan upaya
peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Contohnya,
merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (pojok gizi puskesmas),
atau pasien dengan masalah kesehatan kerja ke klinik sanitasi puskesmas (pos Unit
Kesehatan Kerja).
Tata laksana rujukan:
1. Internal antar- petugas di satu rumah

2. Antara puskesmas pembantu dan puskesmas

3. Antara masyarakat dan puskesmas

4. Antara satu puskesmas dan puskesmas lainnya

5. Antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan


kesehatan lainnya

6. Internal antar-bagian/unit pelayanan di dalamsatu rumah sakit.

7. Antara rumah sakit, laboratorium, atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya

Alur sistem rujukan :

1. Dari kader dapat langsung merujuk ke :


 Puskesmas pembantu
 Pondok bersalin atau bidan di desa
 Puskesmas rawat inap
 RS pemerintah / rs swasta
2. Dari Posyandu dapat langsung merujuk ke:
 Puskesmas pembantu
 Pondok bersalin atau bidan di desa

Gambar alur sistem rujukan

Pelaksanaan sistem rujukan di indonesia telah diatur dengan bentuk bertingkat atau
berjenjang, yaitu pelayanan kesehatan tingkat pertama, kedua dan ketiga, dimana dalam
pelaksanaannya tidak berdiri sendiri-sendiri namun berada disuatu sistem dan saling
berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan medis tingkat
primer maka ia menyerahkan tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan di atasnya, demikian
seterusnya. Apabila seluruh faktor pendukung (pemerintah, teknologi, transportasi) terpenuhi
makaproses ini akan berjalan dengan baik dan masyarakat awam akan segera tertangani dengan
tepat.
Langkah-langkah rujukan

1. Menentukan kegawat daruratan penderita.

Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih ditemukan penderita yang tidak dapat
ditangani sendiri oleh keluarga atau kader/dukun bayi, maka segera dirujuk ke fasilitas pelayanan
kesehatan yang terdekat,oleh karena itu mereka belum tentu dapat menerapkan ke tingkat
kegawatdaruratan.

Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembatu dan puskesmas Tenaga kesehatan yang ada
pada fasilitas pelayanan kesehatan tersebut harus dapat menentukan tingkat kegawatdaruratan
kasus yang ditemui, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya, mereka harus
menentukan kasus mana yang boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang harus dirujuk

2. Menentukan tempat rujukan

Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang mempunyai
kewenangan dan terdekat termasuk fasilitas pelayanan swasta dengan tidak mengabaikan
kesediaan dan kemampuan penderita.

3. Memberikan informasi kepada penderita dan keluarga

Beritahu keluarga kondisi terakhir pasien dan jelaskan pada mereka alasan atau tujuan
merujuk pasien dirujuk kefasilitas rujukan tersebut. Suami atau anggota keluarga lain harus
menemani pasien ketempat rujukan. .

4. Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju

5. Memberitahukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk

a. Meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan selama
dalam perjalanan ke tempat rujukan
b. Meminta petunjuk dan cara penangan untuk menolong penderita bilapenderita tidak
mungkin dikirim.
6. Persiapan penderita

Persiapan yang harus diperhatikan dalam melakukan rujukan disingkat ”BAKSOKU”,


yang dijabarkan sebagai berikut :

B (bidang) :pastikan ibu/bayi/klien didampingi oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan
memiliki kemampuan untuk melaksanakan kegawatdaruratan.

A (alat) : bahwa perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan, seperti spuit, infus set,
tensimeter dan stetoskop

K (keluarga) : beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu (klien) dan jelaskan pada
mereka alasan atau tujuan merujuk ibu dirujuk kefasilitas tersebut Suami atau anggota keluarga
lain harus menemani pasien ketempat rujukan..

S (surat) : Berikan surat ketempat rujukan yang berisi identitas Ibu atau klien ,cantumkan
alasan rujukan, uraian hasil pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang telah diterima

O (obat) : bawa obat-obat esensial diperlukan selama perjalan merujuk

K (kendaraan) : Siapkan kendaraan yang cukup untuk memungkinkan ibu atau klien
dalam kondisi nyaman dan dapatmencapai tempat rujukan dalam waktu yang cepat

U (uang) : Ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk
membeli obat dan bahan-bahan kesehatan yang diperlukan.

Upaya kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari upaya kesehatan secara
menyeluruh yang penyelenggaraannya terintegrasi secara lintas program dan lintas sektoral.
Rujukan upaya kesehatan gigi dan mulut (gimul), dilaksanakan melalui pelayanan medik gigi
dasar sampai dengan spesialistik. Banyak faktor yang mempengaruhi terselenggaranya rujukan
upaya kesehatan gigi dan mulut, antara lain faktor lingkungan, geografi, transportasi, sosial
ekonomi dan sosial budaya.

Tujuan umumnya adalah terwujudnya suatu tatanan pelayanan kesehatan gigi dan mulut
yang merata, terjangkau ,bermutu, berdaya guna dan berhasil guna. Sedangkan tujuan khususnya,
agar mantapnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut di setiap jenjang pelayanan kesehatan yang
berlaku. Terwujudnya alur (arus) rujukan medik gigi dan rujukan kesehatan gigi. Sasaran sistem
upaya rujukan gimul ialah setiap institusi pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta.

A. Rujukan Medik Gigi :


1. Rujukan kasus dengan atau tanpa pasien, untuk keperluan diagnostik, pengobatan,
tindakan operatif dan pemulihan (model rahang)
2. Rujukan spesimen, untuk pemeriksaan penunjang /tambahan.
3. Rujukan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK); mendatangkan atau mengirim
tenaga/ahli yang kompeten untuk memberikan dan mendapatkan bimbingan
pengetahuan dan ketrampilan kesehatan gigi dan mulut (gimul).
B. Rujukan Kesehatan Gigi :
1. Bantuan teknologi berupa teknologi tepat guna, cukup sederhana, dapat dikuasai dan
dilksanakan, serta terjangkau masyarakat. Contoh: cara menyikat gigi yang baik dan
benar, bentuk-bentuk sikat gigi yang benar.
2. Bantuan sarana berupa alat-alat, buku-buku, brosur, poster-poster, leaflet-leaflet.
3. Bantuan operasional berupa dana operasional dan pemeliharaan peralatan kesehatan
gigi dan mulut, terutama pada unit pelayanan kesehatan terdepan di poli gigi
puskesmas.

Indikasi Rujukan Kesehatan Gigi dan Mulut

Untuk efektifitas pelayanan kesehatan gimul, perlu diperhatikan indikasi rujukannya, antara lain:

1. Rujukan Kasus Dengan Atau Tanpa Pasien :


o Dari posyandu/sekolah/pustu ke puskesmas, indikasinya :semua
kelainan/kasus/keluhan yang ditemukan pada jaringan keras dan jaringan
lunak didalam rongga mulut
o Dari poli gigi puskesmas ke rumah sakit yang lebih mampu ,indikasinya
:semua kelainan/kasus yang ditemukan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi,
perawat gigi) dipuskesmas yang memerlukan tindakan diluar kemampuannya.
2. Rujukan Model (Prosthetic Atau Orthodonsi) :

Indikasinya :pelayanan kesehatan gigi yang memerlukan pembuatan prothesa


termasuk mahkota dan jembatan, plat orthodonsi, obturator, feeding plate, inlay, onlay,
uplay.

3. Rujukan Spesimen :

Indikasinya : semua kelainan/kasus yang ditemukan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi,
perawat gigi) di puskesmas yang memerlukan pemeriksaan penunjang diagnostik/laboratorium
sehubungan dengan kelainan dalam rongga mulutnya.

4. Rujukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi :

Indikasinya :keadaan dimana dibutuhkan peningkatan ilmu pengetahuan dan atau


ketrampilan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, agar dapat memberikan pelayanan yang lebih
optimal.

5. Rujukan Kesehatan Gigi :

Indikasinya :semua kegiatan peningkatan promosi kesehatan dan pencegahan kasus


yangmemerlukan bantuan teknologi, sarana dan biaya operasional.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan, Rumah Sakit Umum diklasifikasikan


menjadi Rumah Sakit Umum Kelas A, B, C, dan D yang berfungsi untuk menyediakan
pelayanan kesehatan lengkap kepada masyarakat dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan
kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan
pemulihan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu serta berkesinambungan,
Sistem informasi manajemen digambarkan sebagai sebuah bangunan piramida dimana
lapisan dasrnya terdiri dari informasi untuk pengolahan transaksi, penjelasan status, dan
sebagainya. Lapisan berikutnya terdiri dari sumber-sumber informasi dalam mendukung operasi
manajemen sehari-hari. Lapisan ketiga terdiri dari sumber daya sistem informasi untuk
membantu perencanaan taktis dan pengambilan keputusan untuk pengendalian manajemen, dan
lapisan puncak terdiri dari sumber daya informasi untuk mendukung perencanaan dan perumusan
kebijakan oleh manajemen tingkat puncak.
Pelayanan medis khususnya medis spesialis merupakan salah satu inti dan ciri khas
pelayanan Rumah Sakit. Di dalam pelaksanaannya masih ditemukan berbagai kendala sehingga
perlu dilakukan berbagai upaya pemecahan masalah dengan mengikutsertakan semua pihak yang
terkait dan sikap tegas seorang pimpinan Rumah Sakit.
Sistem rujukan upaya kesehatan adalah suatu tatanan kesehatan yang memungkinkan
terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu
kasus atau masalah kesehatan masyarakat, baik secara vertikal maupun horizontal, kepada yang
berwenang dan dilakukan secara rasional.
Dari batasan tersebut dapat dilihat bahwa hal yang dirujuk bukan hanya pasien saja tapi
juga masalah-masalah kesehatan lain, teknologi, sarana, bahan-bahan laboratorium, dan
sebagainya. Disamping itu rujukan tidak berarti berasal dari fasilitas yang lebih rendah ke
fasilitas yang lebih tinggi tetapi juga dapat dilakukan diantara fasilitas-fasilitas kesehatan yang
setingkat.
Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari :
• Rujukan Internal
• Rujukan Eksternal

Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari


• Rujukan Medik
• Rujukan Kesehatan

B. Saran
Rumah Sakit harus mempunyai visi untuk kemandirian Rumah Sakit dalam aspek
ketenagaan khususnya tenaga medis spesialis. Pelaksanaan Rumah Sakit sebagai suatu sistem
dan keinginan yang transparan dari berbagai pihak Rumah Sakit agaknya merupakan salah satu
cara yang tepat untuk penyelesaian masalah yang ada.
Makalah ini dibuat oleh penulis dengan tujuan supaya para pembaca lebih mengetahui
tentang sistem informasi manajem Rumah Sakit. Makalah yang di buat oleh penulis jauh dari
sempurna maka penulis meminta saran dari para pembaca makalah ini.
BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Rumah Sakit Umum dan Pendidikan Dirjen Yanmed Depkes RI, Standar
Pelayanan Rumah Sakit cetakan ketiga, Jakarta 1994.
2. Dirjen Yanmed, Pembentukan dan Tata Kerja Komite Medik Rumah Sakit, Jakarta Juli
1995.
3. Djuhaeni. H, Manajemen Pelayanan Medik dan Keperawatan, Hospital Management
Training PERSI 1993.
4. MC Gibony, Principles of Hospital Administration Pittsburgh, 1969.
5. Taurany M.H., Pendekatan Sistem dalam Manajemen Rumah Sakit. Dalam : Taurany
M.H. kumpulan materi kuliah KMA 600, FKM - UI, Depok 1989.