Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN KASUS

KESEHATAN IBU DAN ANAK


PUSKESMAS ALAK

Oleh :
Azarella Alberthojones Ballo, S. Ked
1408010037

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN IKM-IKKOM


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
PUSKESMAS ALAK
KUPANG
2018

1
LAPORAN KASUS KESEHATAN IBU DAN ANAK
oleh
Azarella Alberthojones Ballo, S.Ked
SMF/Bagian IKM – IKKOM
Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang
Puskesmas Alak

ANTENATAL CARE (ANC)

I. PENDAHULUAN
Hasil Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) 2004, angka kematian Ibu (AKI) di
Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan untuk NTT adalah 554 per
100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2007 Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI,
2007), AKI turun menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup dan di NTT menjadi 306 per 100.000
kelahiran hidup hasil. Walaupun ada penurunan tapi angka ini masih tinggi dibandingkan angka
Nasional. Demikian pula angka kematian bayi (AKB), pada tahun 2004, Nasional 52 per 1000
kelahiranhidup turun menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup sedangkan untuk NTT dari 62 per
1000 kelahiran hidup turun menjadi 57 per 1000 kelahiran hidup.
Salah satu program Multiple Development Goals adalah meningkatkan kesehatan ibu dan
anak. Hal ini dapat dilakukan dengan pemeriksaan Ante Natal Care (ANC) secara teratur.
Menurut Kemenkes RI (2011), pemeriksaan antenatal dilakukan denganstandar pelayanan
antenatal dimulai dengan : ukur tinggi badan, timbang berat badan dan Lingkar Lengan Atas
(LILA), ukur tekanan darah, ukur Tinggi Fundus Uteri (TFU), imunisasi Tetanus Toxoid (TT),
pemberian Tablet besi (fe), tanya/temu wicara. Setiap ibu hamil menghadapi risiko terjadinya
kematian, sehingga salah satu upaya menurunkan tingkat kematian ibu adalah meningkatkan
status kesehatan ibu hamil sampai bersalin melalui pelayanan ibu hamil sampai masa nifas.
Peningkatan kesehatan Ibu di Indonesia merupakan Tujuan Pembangunan Milenium
(MDG). Tingginya angka kematian ibu ini juga merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar
yang mendapat perhatian dunia. Data yang diperoleh World Health Organization (WHO)
menunjukkan sebanyak 800 ibu hamil meninggal setiap harinya karena penyebab yang

2
berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran yang sebenarnya dapat dicegah. Sebanyak 99%
dari seluruh kasus ini terjadi di negara berkembang. Masalah-masalah yang menyebabkan
kematian ibu adalah berbagai macam komplikasi, seperti perdarahan, infeksi dan eklampsia.
Penyebab ini sendiri sebenarnya dapat dicegah, jika dilakukan deteksi dini yang memadai
dengan adanya pelayanan antenatal, dan dilakukannya persalinan di fasilitas kesehatan yang
memadai dan dibantu oleh petugas kesehatan yang terlatih. Pada negara dengan penghasilan
yang besar, ibu hamil melakukan kunjungan antenatal setidaknya 4 kali selama masa
kehamilannya dan persalinannya dibantu oleh petugas kesehatan yang terlatih, sementara di
negara dengan penghasilan yang rendah, hanya sepertiga dari seluruh ibu hamil yang melakukan
hal tersebut. Kemiskinan, jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan, kurangnya informasi,
kurangnya pusat pelayanan serta berbagai praktek adat yang dilakukan yang berhubungan
dengan kehamilan adalah penyebab rendahnya jumlah ibu hamil yang melakukan kunjungan
antenatal dan melakukan persalinan di fasilitas kesehatan dibantu tenaga kesehatan terlatih.

3
Kerangka konsep pelayanan antenatal yang komprehensif dan terpadu.

Faktor yang berkontribusi terhadap kematian ibu, secara garis besardapat dikelompokkan
menjadi penyebab langsung dan penyebab tidaklangsung. Penyebab langsung kematian ibu
adalah faktor yangberhubungan dengan komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas
sepertiperdarahan, pre eklampsia/eklampsia, infeksi, persalinan macet danabortus. Penyebab
tidak langsung kematian ibu adalah faktor-faktor yangmemperberat keadaan ibu hamil seperti
EMPAT TERLALU (terlalu muda,terlalu tua, terlalu sering melahirkan dan terlalu dekat jarak
kelahiran)menurut SDKI 2002 sebanyak 22.5%, maupun yang mempersulit prosespenanganan
kedaruratan kehamilan, persalinan dan nifas seperti TIGATERLAMBAT (terlambat mengenali
tanda bahaya dan mengambilkeputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan dan terlambat
dalampenanganan kegawatdaruratan). Faktor berpengaruh lainnya adalah ibuhamil yang
menderita penyakit menular seperti Malaria, HIV/AIDS,Tuberkulosis, Sifilis; penyakit tidak
menular seperti Hipertensi, DiabetesMellitus, gangguan jiwa; maupun yang mengalami
kekurangan gizi.
Pelayanan antenatal terpadu dan berkualitas secara keseluruhan meliputi hal-hal sebagai
berikut:

4
a. Memberikan pelayanan dan konseling kesehatan termasuk gizi agar kehamilan berlangsung
sehat;
b. Melakukan deteksi dini masalah, penyakit dan penyulit/komplikasi kehamilan
c. Menyiapkan persalinan yang bersih dan aman;
d. Merencanakan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi
penyulit/komplikasi.
e. Melakukan penatalaksanaan kasus serta rujukan cepat dan tepat waktu bila diperlukan.
f. Melibatkan ibu dan keluarganya terutama suami dalam menjaga kesehatan dan gizi ibu
hamil, menyiapkan persalinan dan kesiagaan bila terjadi penyulit/komplikasi.
Dalam melakukan pemeriksaan antenatal, tenaga kesehatan harus memberikan pelayanan
yang berkualitas sesuai standar terdiri dari:
1. Timbang berat badan
2. Ukur lingkar lengan atas (LILA)
3. Ukur tekanan darah
4. Ukur tinggi fundus uteri
5. Hitung denyut jantung janin (DJJ)
6. Tentukan presentasi janin
7. Beri imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
8. Beri tablet tambah darah (tablet besi)
9. Periksa laboratorium (rutin dan khusus)
a. Pemeriksaan golongan darah
b. Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (Hb)
c. Pemeriksaan protein dalam urin
d. Pemeriksaan kadar gula darah
e. Pemeriksaan darah Malaria
f. Pemeriksaan tes Sifilis
g. Pemeriksaan HIV
h. Pemeriksaan BTA
10. Tatalaksana/penanganan Kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil pemeriksaan laboratorium, setiap
kelainan yang ditemukan pada ibu hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan

5
kewenangan tenaga kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat ditangani dirujuk sesuai
dengan sistem rujukan

II. PRESENTASI KASUS


Identitas :
Nama : Ny. I
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 26 tahun
Alamat : Alak
Masuk Poli KIA : Kamis, 01 Febuari 2018
Anamnesis :
- Pasien datang ke poliklinik KIA Puskesmas Alak untuk memeriksakan kehamilannya.
Mual (-), muntah (-). Demam (-), nyeri ulu hati (-).
- Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi, Diabetes melitus (-)
- Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat maupun makanan
- HPHT : 18-8-2017
- HTP : 24-5-2018
- Umur Kehamilan : 37 minggu
Pemeriksaan Fisik
- Tekanan Darah : 120/80 mmHg
- Nadi : 86x/menit
- Lila : 26 cm
- Berat Badan : 58 Kg
- Kulit : kulit sawo matang, pucat (-), jaundice (-)
- Mata :
 Konjungtiva : pucat-/-
 Sklera : kuning -/-
 Pupil : isokor, 3mm/3mm
 Refleks cahaya langsung +/+
 Refleks cahaya tdk langsung +/+
- Hidung

6
 Pernapasan cuping hidung (-)
 Rinorhea (-)
- Jantung : Ictus cordis teraba di ICS V linea midclavicula sinistra, thrill (-),
S1-S2 tunggal, reguler, gallop (-), murmur (-)
- Paru : ekspirasi inspirasi saat statis dan dinamis sama, retraksi otot-otot
bantu napas (-), vesikuler +/+, ronchi -/-, wheezing -/-
- Extremitas : Kaki edema (-/-).
- Status Obstetrik : Pemeriksaan Luar
 Inspeksi :Perut tampak membuncit, linea nigra (+), striae albican (+),
putting susu nampak normal dan baik, retraksi puting (-).
 Palpasi :
Leopold 1 : Ballotement (+), tinggi fundus uteri 3 jari di bawah proc.
xyphoideus (29 cm)
Leopold 2 : punggung kiri
Leopold 3 : Letak kepala
Leopold 4 : Kepala sudah memasuki PAP
 Auskultasi : DJJ (+) 132 x/menit

Diagnosis
G1P0A0 + UK 37 minggu

Penatalaksanaan
Saat ini kehamilan pasien berada pada trimester ketiga. Usia kehamilan memasuki fase
aterm.Konsultasi persiapan kelahiran diberikan kepada pasien. Pasien dijanjikan untuk
melahirkan di fasilitas kesehatan yakni puskesmas, persiapan biaya maupun asuransi
kesehatan, fisik dan jasmani pasien, untuk obat-obatan diberikan tablet fe, kalk dan vitamin
C yang dikonsumsi setiap hari. Pasien diedukasi mengenai kehamilannya yaitu :
- Saat ini pasien sudah mendekati waktu untuk melahirkan, sehingga segala persiapan
harus segera dilakukan.
- Menjelaskan pada ibu bahwa persalinan wajib ditolong oleh tenaga medis di fasilitas
kesehatan.

7
- Menjelaskan kepada ibu mengenai pentingnya mengkonsumsi tablet tambah darah,
vitamin C serta kalk, serta mengkonsumsi secara rutin
- Menjelaskan kepada ibu mengenai pola makan dengan gizi seimbang serta pemilihan
menu makanan yang dapat memperbaiki anemia pada pasien. Seperti mengkonsumsi
susu, bayam, daging merah, telur dan lain-lain.
- Menjelaskan pada ibu agar suami dan keluarga siap mengantar ibu melahirkan di
Puskesmas PONED / Rumah Sakit PONEK (dengan catatan: bila lokasi tempat tinggal
jauh dari fasilitas kesehatan yang memadai dan siap 24 jam, menyiapkan diri untuk
tinggal di rumah tunggu).
- Istirahat yang cukup, tidak mengerjakan pekerjaan rumah seperti mengangkat beban
berat.
- Menjaga kebersihan diri dengan mandi 2 kali sehari, menggosok gigi, mencuci rambut,
merawat payudara, vagina/vulva, dan kuku.

8
III. DOKUMENTASI

Gambar 3.1 Pemeriksaan Leopold

Gambar 3.2 Pengukuran tinggi fundus

9
DAFTAR PUSTAKA

1. Riset Kesehatan Dasar.2007. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan


Kementrian Kesehatan RI
2. Riset Kesehatan Dasar.2010. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementrian Kesehatan RI
3. Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Pedoman Revolusi KIA di Provinsi NTT. 2009. [cited
2016 Agustus 29]. Available from:URL:
4. Riset Kesehatan Dasar. Status Gizi. 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementrian Kesehatan RI

5. Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pedoman Revolusi KIA Provinsi NTT :
Percepatan Penurunan Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir. . Dinas Kesehatan Provinsi
NTT. Kupang. 2009

6. Kementerian Kesehatan Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Pedoman


Pelayanan Antenatal Terpadu. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2010.
[online] [cited 2016Agustus 29]. Available
from:URL:http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/wpcontent/downloads/2013/12/Pedoman
-ANC-Terpadu.pdf

10