Anda di halaman 1dari 7

Menapak Sejarah Masa Depan Bangsa Indonesia : Menghilangkan

Stigma Masa Lalu Anak Bangsa

Pendahuluan
Pada saat wilayah Indonesia dijajah oleh Belanda, kondisi masyarakat Indonesia saat itu
sangatlah terpuruk dalam kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Penjajah Belanda
memonopoli perdagangan dengan harga yang sangat rendah atas hasil rempah-rempah rakyat
Indonesia yang dijual kembali dengan harga berpuluh-puluh kali lipat. Bahkan rakyat Indonesia
banyak yang dijual, untuk dijadikan kuli/buruh di perkebunan-perkebunan Belanda.
Rempah-rempah Indonesia memang menjadi daya tarik bagi para penjajah untuk datang
ke Indonesia. Untuk memperoleh rempah-rempah sebanyak mungkin, mereka melaksanakan
sistem monopoli dalam perdagangan. Namun sistem monopoli perdagangan belum dapat
memuaskan nafsunya, maka mereka berusaha menguasai Indonesia. Sebab, dengan kekuasaan
yang diperoleh, mereka dapat berbuat sekehendak hatinya dan mendapatkan hasil yang
maksimal. Sementara itu, pendidikan rakyat Indonesia pun berjalan dengan sangat
memprihatinkan. Lembaga-lembaga pendidikan terbatas hanya pada kalangan atas seperti
keluarga raja, para bupati, para pejabat tinggi kerajaan atau orang-orang kaya. Pelaksanaan
pendidikan dilakukan hanya untuk memberikan pengetahuan agar rakyat dapat membaca dan
menulis. Bagi mereka yang telah mengenyam pendidikan, hanya diperkerjakan pada perusahaan-
perusahaan swasta asing.
Ketika penjajah Belanda masih bercokol di Indonesia, muncul istilah pribumi dan non
pribumi. Istilah pribumi asalnya dari kata Inlander yang diberikan oleh penjajah Belanda dengan
membagi 3 kasta di wilayah jajahannya, Hindia Belanda: 1) Tertinggi tentunya bangsa kolonial.
2) Bangsa pendatang asal Timur Dekat-Timur Jauh (Arab, India, China) 3) Inlander (Pribumi).
Istilah "pribumi" memang mustahil untuk digantikan/diusangkan, karena pribumi adalah identitas
kita. Kebangsaan Indonesia dibangun dengan sentimen kepribumian.1 Pengalaman tertindas
sebagai warga kelas tiga membuatnya berusaha keras untuk merdeka, melepaskan diri dari
penindasan ras Eropa yang berlagak sebagai tuan di atas tanah rakyat Indonesia.

1
Istilah pribumi dan non pribumi sekarang ini sudah dihapus oleh Keppres Nomor 26 tahun 1998.

1|Halaman
Sebenarnya nama Indonesia untuk pertama kalinya muncul di dunia terdapat pada tulisan
James Richardson Logan halaman 254 (1819-1869). Mr. Earl suggests the ethnographical term
Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term
Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago
(Tuan Earl menyarankan istilah etnografis Indunesian, tetapi menolaknya demi orang Melayu.
Saya lebih suka istilah geografis murni Indonesia, yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk
Kepulauan India atau Kepulauan India). Logan adalah orang Skotlandia yang meraih sarjana
hukum dari Universitas Edinburgh. Dari situlah James Richardson Logan secara konsisten
menggunakan nama Indonesia dalam karya ilmiahnya, dan dengan seiring perjalanan waktu
pemakaian nama Indonesia menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.
Inilah yang menjadi titik awal mula nama Indonesia di dunia.
Putra bangsa Indonesia pertama yang mula-mula menggunakan istilah Indonesia adalah
Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika beliau sedang belajar (dibuang ke negeri
Belanda) tahun 1913, beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-
bureau. Pada dasawarsa 1920-an, nama Indonesia yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi
dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga
nama Indonesia akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang ingin
memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada
terhadap pemakaian kata Indonesia.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, menyebutkan “Negara Indonesia Merdeka yang
akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut -Hindia Belanda-. Juga
tidak -Hindia- saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama
Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan
mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia
(Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”
Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga
Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada
tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij
(Natipij). Akhirnya nama Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada
Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang disebut Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat, DPR zaman
Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo,

2|Halaman
mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesia diresmikan sebagai
pengganti nama Nederlandsch-Indie. Tetapi pemerintah Belanda menolak mentah-mentah.
Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama
Hindia Belanda untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat
Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia. Yang ketika itu dinyatakan dalam teks naskah
proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang dibacakan oleh Ir. Soekarno dan Muhammad
Hatta. Sejak itu Bangsa Indonesia menjadi negara dan bangsa yang merdeka serta mulai
berkiprah di dunia internasional bahkan diakui dalam kancah dunia.
Mulai saat itulah riak perjalanan sebagai bangsa selalu mewarnai setiap gerak
kehidupannya. Kepemimpinan dan sistem pemerintahan silih berganti. Meskipun demikian,
ideologi dan dasar negara (Pancasila dan UUD 9145) bangsa Indonesia masih tetap digunakan.
Berbagai gejolak itu merupakan dinamika yang harus dihadapi dan tidak bisa dihindari. Namun
dengan keteguhan semangat negara dan bangsa Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) masih tetap dapat dipertahankan.

Pancasila Dasar Ideologi Negara dan Bangsa Indonesia


Pada tanggal 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Ir. Soekarno menyampaikan pandangannya tentang fondasi
dasar untuk Indonesia Merdeka yang disebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische
grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia
Merdeka.2
Selama rentang perjalanan bangsa Indonesia, sejak didengungkannya Pancasila sebagai
ideologi dan dasar Negara hingga kini telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah
sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga
demokrasi multipartai di era Reformasi. Di setiap jaman, Pancasila melewati alur dialektika
peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus
berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.
Sejak 1998, bangsa Indonesia memasuki era Reformasi yang diikuti dengan gelombang
demokratisasi di berbagai bidang. Sejak Reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam
pusaran sejarah masa lalu yang dipandang tidak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika
Reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang

2
Pidato BJ Habibie dalam acara yang digelar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, 1 Juni 2011.

3|Halaman
diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan
maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi di tengah denyut
kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan
berpolitik.
Untuk itulah dibutuhkan sebuah langkah dengan wujud reaktualisasi Pancasila yang
mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai
sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang. Melalui reaktualisasi Pancasila,
dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru
dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.
Pasca Reformasi, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) gencar mensosialisasikan kembali
empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding
fathers bangsa Indonesia di masa lalu. Tetapi karena jaman terus berubah yang kadang
berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka perlu untuk disegarkan kembali
empat pilar tersebut, karena sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan
itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali
nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.
Momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu dijalankan melalui aktualisasi
nilai-nilai Pancasila yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa
dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian rakyat Indonesia,
seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan
sosial, diyakini bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus
diinternalisasikan dalam sanubari bangsa Indonesia sehingga Pancasila hidup dan berkembang di
seluruh pelosok nusantara.
Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik
sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Meskipun berbeda suku,
agama, adat istiadat dan afiliasi politik, namun kerja keras itu akan menjadi bangsa Indonesia
sebagai bangsa yang besar, kuat dan maju di masa yang akan datang.

Menghilangkan Stigma Masa Lalu Anak Bangsa


Perjalanan sejak Indonesia merdeka hingga kini, telah ditorehkan dengan sejarah panjang
tumbuh kembangnya bangsa Indonesia, untuk menjadi bangsa yang maju dan bermartabat.

4|Halaman
Sejarah masa lalu, dimana bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 dan Jepang selama
3,5 tahun menjadikan catatan kelam yang menjadikan anak-anak bangsa menjadi terlena sebagai
bangsa yang terjajah.
Catatan sejarah bangsa Indonesia ketika memasuki babak baru dalam pergerakan menuju
kemerdekaan, dimana anak bangsa kala itu, berupaya melepaskan diri dari belenggu penjajahan
Belanda yang menyengsarakan banyak rakyat Indonesia.
Kini bangsa Indonesia telah merdeka, sejak dikumandangkannya teks proklamasi
kemerdekaan Republik Indonesia oleh Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta pada tanggal 17
Agustus 1945. Upaya itu merupakan wujud usaha yang dilakukan oleh golongan muda di masa
itu, untuk membawa Indonesia pada tatanan yang semestinya, yang merdeka dan berdaulat.
Di era sekarang ini, semangat Kebangkitan Nasional hendaknya masih menjadi sesuatu
yang harus terus dipupuk oleh anak bangsa. Jika dulu generasi muda berusaha untuk bangkit
dan lolos dari serangan kolonial Belanda yang memberikan banyak tekanan bagi bangsa ini.
Berbeda dengan sekarang ini, dimana anak bangsa haruslah bangkit dan berdiri untuk lepas dari
upaya memenjarakan diri sendiri.
Anhar Gonggong menyebutkan, Indonesia saat ini mengalami defisit pemimpin. Banyak
mental “pejabat” bukan pemimpin. Rakyat Indonesia kehilangan rasa jujur, jujur pada diri sendiri.
Dia mencontohkan perilaku para wakil rakyat. Dimana perilakunya tidaklah mencerminkan
pemimpin padahal mereka memiliki kewenangan dan peran yang besar untuk Indonesia yang
lebih baik.
Generasi masa depan yang diidamkan adalah generasi masa kini yang tidak merusak masa
depan. Yakni generasi yang mau jujur terhadap diri sendiri. Anhar Gonggong menghimbau para
anak muda untuk mencontoh para pahlawan nasional seperti HOS Cokroaminoto, Ir. Soekarno,
Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir dan Agus Salim yang dulu begitu gigihnya memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia. Mereka itu pemimpin sejati. Mereka memiliki visi yang jelas yang belum
tentu berhasil namun kala itu mereka adalah orang-orang yang mau menampilkan keinginan
untuk sebuah perubahan.
Pemimpin itu adalah sosok yang bersedia membenahi dirinya dengan pengetahuan dan
wawasan luas. Kemudian mereka berani menyimpang untuk perubahan yang lebih baik. Kalau
Soekarno dan Hatta tidak menyimpang maka tidak akan lahir Indonesia. Pahlawan dan para
pejuang kemerdekaan lainnya itu terlebih dahulu merevolusi mental mereka. Selanjutnya
membentuk wadah untuk merevolusi mental masyarakat lebih luas caranya melalui organisasi.

5|Halaman
Bangsa Indonesia itu satu sekaligus bersatu. Walaupun kita itu terdiri dari berbagai suku,
agama ras dan berbagai golongan tetapi mau bersatu. Itulah yang diperjuangkan oleh para
pendiri Negara ini. Harus disadari bahwa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka karena
suatu proses sejarah dengan memperjuangkan kemerdekaan melalui tumpahan keringat dan
darah. Tidak sedikit para pejuang itu yang kehilangan nyawa demi tercapainya kemerdekaan.
Oleh karena itu harus selalu sadar bahwa lewat perjuangan yang panjang ini akhirnya bangsa
Indonesia dapat menikmati hasil jerih payah pemuda masa lalu yang memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia melalui pergerakan nasional.
Dewasa ini, banyak orang mengenal sebutan identitas nasional. Sesuatu yang terus
meresap pada masyarakat untuk hidup tanpa terlalu mengutamakan identitas asal, karena kerap
kali disangka intim dan pribadi. Namun, bukankah identitas nasional akan terwujud jika identitas
asal tetap tertanam dalam sanubari masing-masing? Hal ini pula yang harus ditumbuhkan lagi
pada generasi muda di era sekarang ini. Semangat menunjukkan identitas diri tanpa harus
mengolok-olok atau mengesampingkan identitas lain adalah yang utama. Sebab bangsa ini tidak
akan merdeka seutuhnya jika anak bangsa justru lupa dan menanggalkan identitas diri mereka
sendiri.
Identitas nasional haruslah dibangun dengan daya juang yang kokoh, dengan sergapan dan
pencapaian yang kuat melalui identitas diri yang mumpuni. Tetapi, identitas nasional juga bukan
dibangun atas dasar identitas mayoritas tentang siapa yang lebih kuat dan lebih unggul. Ini
perkara seimbang dan bersama, sebab Indonesia itu satu, bukan dua, tiga, atau selebihnya. Oleh
sebab itu hal-hal yang menjadi sokongan utama demi menguatkan Indonesia sebagai bangsa
yang tangguh adalah upaya untuk menyeimbangkan pikiran serta pendapat dari seluruh anak
bangsanya. Utamanya yang dapat berdiri membangun diri mereka sendiri, guna memberikan
yang terbaik bagi bangsa ini.
Sampai di hari ini, anak bangsa Indonesia bukan lagi dijajah oleh bangsa barat, bukan lagi
berupaya meloloskan diri dari serangan benda tajam atau belati bahkan peluru yang siap
menerkam. Tetapi anak bangsa justru tengah dijajah oleh berbagai macam ungkapan dan stigma
negatif mengenai identitas mereka. Dengan demikian, upaya untuk bangkit adalah usaha untuk
keluar dari zona nyaman yang sesungguhnya, untuk tidak terlalu menjebloskan diri dengan
banyak anggapan terkait menjatuhkan identitas pribadi.
Siapa saja berhak menoleh berbagai macam penjuru, melihat dan mengulas kembali
perlakuan anak bangsa yang membanggakan juga yang patut dijadikan pelajaran. Munculnya

6|Halaman
berbagai macam pembaruan atas dasar cinta tanah air yang telah dihadirkan beberapa anak
muda di era ini hendaknya menjadi simbol dan lonceng kebangkitan bahwa Indonesia tetaplah
negara kuat yang tetap bisa berdiri berkat anak muda yang cinta bangsanya, yang cinta tanah
airnya, dan rela memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.
Di era digital saat ini, muncul generasi yang hidup dengan hiruk pikuk teknologi internet
dan digital. Mereka disebut dengan nama Generasi Now. Generasi Now adalah generasi yang
lahir dan tumbuh sejak era 2000an. Generasi Now sejak kecil sudah akrab dengan teknologi
internet dan digital. Sebenarnya mereka itu adalah generasi emas, karena mereka adalah modal
sumberdaya manusia bangsa Indonesia untuk menapaki langkah menuju Indonesia yang kuat di
masa datang.
Ketimpangan antar generasi yang terjadi di Indonesia saat ini, telah mengakibatkan
terserambutnya generasi now dengan konteks semangat perjuangan bangsa Indonesia. Dimana
aktualisasi Pancasila hilang, ditambah lagi mereka disuguhkan dengan persoalan dinamika
demokrasi dan berpolitik yang dipandang kotor. Kejadian dalam keseharian dengan persoalan
lingkungan hidup, ekonomi, sosial, politik, budaya hingga isu terorisme dan korupsi menjadikan
menjadikan mereka seperti acuh tak acuh dengan segala persoalan yang muncul. Mereka
membutuhkan penerapan “etika” yang notabene tercatat dalam berbagai bahan bacaan dengan
kondisi terbalik dalam kehidupan nyata dinamika berbangsa dan bernegara. Mereka
membutuhkan tuntunan praktis ketimbang pragmatis, dari generasi di atasnya.

7|Halaman