Anda di halaman 1dari 122

ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA

IKAN KERAPU MACAN DI PULAU PANGGANG,


KABUPATEN ADMINISTRATIF KEPULAUAN SERIBU,
DKI JAKARTA

Oleh :

Febryanto Wardhana Utama


A14105546

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
RINGKASAN

FEBRYANTO WARDHANA UTAMA. Analisis Kelayakan Usaha Budidaya


Ikan Kerapu Macan Di Pulau Panggang, Kabupaten Administratif Kepulauan
Seribu, DKI Jakarta. (Di bawah bimbingan LUSI FAUSIAH).

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memilliki potensi kelautan


dan perikanan yang besar. Sumberdaya perikanan yang telah besar dimaanfaatkan
adalah komoditas ikan karang, seperti ikan kerapu (Epinephelus spp.). Indonesia
merupakan produsen terbesar kedua dengan pertumbuhan produksi 14,7% per
tahun. Produksi kerapu di Indonesia sebagian besar berasal dari penangkapan
langsung di laut. Negara yang menjadi tujuan ekspor untuk ikan kerapu Indonesia
adalah Hongkong, Taiwan, Singapura, Cina, dan Jepang. Hongkong adalah negara
tujuan ekspor utama Indonesia untuk kerapu. Ekspor kerapu indonesia dari tahun
ke tahun mengalami penurunan. Hal ini disebabkan terjadinya over fishing ikan
kerapu karena nilai ekonomisnya yang tinggi.
Salah satu wilayah yang mempunyai kontribusi dalam produksi kerapu
adalah perairan Kepulauan Seribu. Kepulauan Seribu berada di wilayah Teluk
Jakarta yang memiliki banyak potensi dibidang kelautan dan perikanan, antara
lain ikan konsumsi, ikan hias, terumbu karang, rumput laut, dan mangrove. Ikan
yang paling banyak ditangkap oleh nelayan adalah kerapu. Karena jumlah hasil
tangkapan yang cenderung menurun, saat ini pemerintah melalui DKP lebih fokus
untuk mengembangkan budidaya kerapu.
Dari jenis-jenis ikan kerapu, ikan kerapu macan memiliki kelebihan
dibandingkan ikan kerapu jenis lain. Ikan ini bernilai ekonomis tinggi karena
mempunyai daging yang lezat, bergizi tinggi dan mengandung asam lemak tak
jenuh. Keberhasilan pengembangan budidaya ikan sangat ditentukan oleh pasokan
benih yang meliputi faktor kualitas dan kuantitas. Permasalahan utama dalam
pengembangan budidaya ikan kerapu macan adalah terbatasnya benih dalam
kualitas maupun kuantitas, meskipun diantara ikan kerapu lainnya, pembenihan
jenis ikan ini relatif lebih mantap. Meskipun memiliki prospek yang baik dan
potensi sumber daya alam yang baik, budidaya kerapu dengan sistem KJA masih
belum banyak dilakukan oleh masyarakat. Kendala utama yang dihadapi oleh
masyarakat adalah modal untuk menjalankan budidaya kerapu, khususnya ikan
kerapu macan. Kendala yang kedua adalah ketersediaan bibit ikan kerapu macan
di Kepulauan Seribu, khususnya Pulau Panggang yang belum mampu dipenuhi
oleh pihak pemasok bibit yang ada di Kepulauan Seribu.
Berdasarkan keadaan diatas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai
analisis kelayakan usaha untuk mengetahui apakah KJA yang ada di Pulau
Panggang saat ini layak atau tidak diusahakan jika dilihat dari aspek finansial,
aspek teknis, dan aspek pasar.
Aspek-aspek yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah aspek
finansial, aspek pasar, dan aspek teknis. Pada analisis finansial dianalisis Net
Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit-Cost Ratio (Net
B/C), dan Payback Periods (PP). Pada analisis pendpatan usaha dilakukan analisis
R/C Ratio, dan Cost per Unit, Analisis sensitiviitas dilaukan untuk melihat daya
tahan usaha terhadap perubahan biaya variabel (harga bibit ikan kerapu macan)
dan tingkat kelangsungan hidup ikan kerapu macan.
Analisis terhadap aspek pasar budidaya ikan kerapu macan di Pulau
Panggang dilakukan dengan melihat potensi permintaan dan penawaran di pasar.
Setiap tahunnya, Hongkong mengimpor ikan kerapu hidup dalam jumlah yang
besar dari mancanegara, seperti Australia, Malaysia, Filipina dan Indonesia
sebesar 30.000 ton sedangkan Indonesia baru bisa memasok rata-rata 267,19 ton
per tahun. Harga ikan kerapu macan di Pulau Panggang berkisar antara Rp.
120.000,- sampai Rp. 125.000,- per kilogram, sedangkan di Jakarta berkisar antara
Rp. 130.000,- per kilogram. Berdasarkan gambaran diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa peluang usaha budidaya ikan kerapu macan di Pulau
Panggang masih sangat besar dan layak untuk diusahakan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dilapangan, secara teknis
masih banyak yang harus dibenahi dalam budidaya ikan kerapu macan KJA
karena kebanyakan petani masih menggunakan cara tradisional yang beresiko
tinggi menyebabkan kegagalan panen. Hal ini dapat dilihat dari survival rate (SR)
kerapu macan budidaya yang berkisar 53,8-69,8 persen, sedangkan SR kerapu
macan ideal berkisar antara 70-75 persen. Penyuluhan yang lebih intensif dan
pemberian pelatihan mengenai teknik budidaya ikan kerapu macan dengan sistem
KJA dari Sudin Perikanan Kepulauan Seribu dan pihak lain yang terkait
diharapkan mampu meningkatkan ketrampilan pembudidaya ikan kerapu macan
di Pulau Panggang.
Berdasarkan hasil analisis finansial yang dilakukan, maka usaha budidaya
ikan kerapu macan dengan sistem KJA ukuran 2 kotak, 4 kotak, maupun 6 kotak
dan KJT 4x4 meter layak untuk diusahakan karena memberikan tambahan
manfaat yang positif setelah dianalisis dalam nilai sekarang. Hasil analisis
sensitivitas pada KJA maupun KJT menunjukkan usaha ini masih memberikan
keuntungan walaupun terjadi penurunan nilai SR dan kenaikan harga bibit ikan
kerapu macan sebesar 10 persen.
Penelitian budidaya ikan kerapu macan dengan KJA di Pulau Panggang
didapatkan bahwa usaha budidaya kerapu macan dengan menggunakan sistem
KJA layak diusahakan secara teknis tetapi harus dengan adanya perbaikan
dibeberapa komponen teknis seperti pemberian pakan dan vitamin, dan penentuan
lokasi yang benar-benar sesuai untuk KJA. Usaha budidaya kerapu macan dengan
menggunakan sistem KJA layak diusahakan dari aspek pasar karena pembeli yang
tersedia banyak serta mampu membeli seluruh hasil produksi petani budidaya ikan
kerapu macan sesuai dengan harga pasar. Usaha budidaya kerapu macan dengan
menggunakan sistem KJA layak diusahakan dari aspek finansial karena Nilai
NPV yang didapat bernilai positif, IRR lebih besar dari DF, Net B/C yang lebih
besar dari satu serta payback periode yang masih berada dalam umur proyek.
Budidaya dengan sistem KJA lebih baik dibandingkan KJT karena keuntungan
yang didapatkan lebih besar serta sensitifitas KJA terhadap perubahan biaya
variabel maupun SR lebih baik dibandingkan dengan KJT.
ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA
IKAN KERAPU MACAN DI PULAU PANGGANG,
KABUPATEN ADMINISTRATIF KEPULAUAN SERIBU,
DKI JAKARTA

Oleh :
Febryanto Wardhana Utama
A14105546

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian
Pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
Judul Skripsi : Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Ikan Kerapu Macan Di Pulau
Panggang, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, DKI
Jakarta
Nama : Febryanto Wardhana Utama
NRP : A14105546
Program Studi : Ektensi Manajemen Agribisnis

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Ir. Lusi Fausia, M.Ec


NIP 131 578 845

Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr


NIP 131 124 019

Tanggal kelulusan: 13 Juni 2006


PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI BERJUDUL


“ANALISIS KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA IKAN KERAPU MACAN
DI PULAU PANGGANG, KABUPATEN ADMINISTRATIF KEPULAUAN
SERIBU, DKI JAKARTA” BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA
TULIS ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA
MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK
TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-
BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-
BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK
LAIN KECUALI SEBAGAI RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM
NASKAH

Bogor, Juni 2008

Febryanto Wardhana Utama


A14105546
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 19 Februari 1984 di Medan, Sumatera

Utara. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan A.

Bangun dan S. Surbakti. Pendidikan yang telah penulis tempuh adalah SD pada

tahun 1989 ,SLTP pada tahun 1995. Pada tahun 1998 penulis melanjutkan

pendidikan ke SMUN 1 Medan, dan lulus pada tahun 2001. Pada tahun yang sama

penulis mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan Diploma 3 pada

Program Studi Teknologi Informasi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu

Kelautan Setelah itu pada tahun 2005 penulis melanjutkan kembali pendidikannya

ke Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut

Pertanian Bogor.
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Bapa atas segala kasih dan

Berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan

baik.

Skripsi ini mengambil topik mengenai ”Analisis Kelayakan Usaha Budidaya

Ikan Kerapu Macan Di Pulau Panggang, Kabupaten Administratif Kepulauan

Seribu, DKI Jakarta”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha

budidaya ikan kerapu macan dengan sistem budidaya karamba jaring apung.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam skripsi ini. Kritik dan

saran yang membangun sangat diharapkan untuk lebih menyempurnakan skripsi

ini. Semoga apa yang penulis sampaikan pada skripsi ini dapat memberikan

manfaat bagi pembaca.

Bogor, Juni 2008

Febryanto Wardhana Utama


A14105546

.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH BAPA atas segala
kasih dan karunia-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Penyelesaian skripsi ini tidak
terlepas dari bantuan moril, semangat, bimbingan dan arahan dari semua pihak.
Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada :
1. Kedua orang tua tercinta A.Bangun dan S. Surbakti serta adik-adikku
tersayang Astra Yudha Riady dan Afriliany Tri Lestari yang telah
memberikan dukungan moril, materil serta doa dan kasih sayang.
2. Ir. Lusi Fausia, M.Ec selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
pengarahan dan bimbingannya.
3. Ir. Juniarti Atmakusumah, M.Si yang telah menjadi dosen evaluator yang
memberikan banyak saran pada penelitian saya.
4. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS selaku dosen penguji utama yang telah
memberikan koreksi dan saran pada skripsi saya.
5. Arif Karyadi Uswandi, SP selaku dosen penguji komdik yang memberikan
koreksi dan saran pada penulisan skripsi saya.
6. Someone special for the passion and love. You give me more than I need.
7. Anak-anak Mariners Camp. Iqbal, Eponk, Kincit, Alin, Inyo, Farah,
Franky, Gilang atas dukungan dan bantuannya selama penulis
melaksanakan penelitian dan skripsi.
8. Teman-teman X10C Murry”entes” Hadi N, Simon A, Tomson B, Alfredo
Z, Panjang, Marudut H, Dongok, serta semua pihak yang turut membantu
penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ...............................................................................................xii


DAFTAR GAMBAR..........................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................xiv

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1


1.2 Perumusan Masalah ......................................................................................... 6
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................. 8
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................... 9
1.5 Ruang Lingkup Penelitian................................................................................ 9
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perikanan Laut di Indonesia.............................................................................10
2.2 Biologi Ikan Kerapu.........................................................................................11
2.3 Prospek Budidaya Ikan Kerapu di Indonesia ...................................................13
2.3.1 Budidaya Ikan dengan Karamba Jaring Apung ......................................17
2.3.2 Teknik Budidaya Ikan Kerapu dengan Sistem Karamba
Jaring Apung ...........................................................................................18
2.4 Penelitian Terdahulu ........................................................................................25
2.5 Persamaan dan Perbedaan Dengan Penelitian Terdahulu ................................27

III. KERANGKA PEMIKIRAN


3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Analisis Kelayakan Investasi..................................................................28
3.1.1.1 Analisis Kelayakan Finansial.....................................................29
3.1.1.2 Analisis Kelayakan Pasar...........................................................30
3.1.1.3 Analisis Kelayakan Teknis ........................................................30
3.1.1.4 analisis dampak Terhadap Lingkungan .....................................31
3.1.2 Teori Biaya dan Manfaat ........................................................................31
3.1.3 Analisis Sensitivitas................................................................................32
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ....................................................................33
IV. METODOLOGI
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ...........................................................................35
4.2 Jenis dan Sumber Data .....................................................................................35
4.3 Metode Analisis Data.......................................................................................36
4.4 Analisis Kelayakan Investasi ...........................................................................36
4.5 Analisis Sensitivitas .........................................................................................40

V. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN


5.1 Potensi Sumber Daya Manusia ........................................................................41
5.2 Karakteristik Nelayan Pulau Panggang............................................................42
5.3 Nelayan dan Pembudidaya di Pulau Panggang................................................44
5.4 Permasalahan Nelayan di Pulau Panggng .......................................................47

VI. ANALISIS KELAYAKAN USAHA


6.1 Analisis Aspek Pasar.......................................................................................49
6.1.1 Keputusan Kelayakan Berdasarkan Aspek Pasar...................................52
6.2 Analisis Aspek Teknis ....................................................................................52
6.2.1 Pemilihan Lokasi Karamba Jaring Apung .............................................52
6.2.2 Teknik Budidaya Ikan Kerapu dengan Sistem KJA
6.2.2.1 Persiapan Wadah Pemeliharaan ................................................55
6.2.2.2 Penebaran Bibit .........................................................................56
6.2.2.3 Pemberian Pakan.......................................................................57
6.2.2.4 Penyortiran (Sampling) .............................................................60
6.2.2.5 Perbaikan dan Pembersihan Waring .........................................60
6.2.2.6 Pemanenan ................................................................................61
6.2.3 Keputusan Kelayakan Berdasarkan Aspek Teknis ................................61
6.3 Analisis Dampak Terhadap Lingkungan.........................................................62
6.3.1 Keputusan Berdasarkan Analisis Dampak Lingkungan.........................62
6.4 Analisis Aspek Finansial
6.4.1 Identifikasi Biaya Manfaat ....................................................................63
6.4.2 Keuntungan............................................................................................76
6.4.3 Proyeksi Cash Flow...............................................................................76
6.4.4 Kriteria Kelayakan Usaha
6.4.4.1 Analisis Kelayakan Investasi Usaha .........................................78
6.5 Analisis Sensitifitas.........................................................................................82
6.5.1 Penurunan SR Sebesar 10 Persen ..........................................................83
6.5.2 Kenaikan Harga Bibit Kerapu Macan 10 Persen...................................87
6.6 Keputusan Kelayakan Berdasarkan Aspek Finansial......................................91

VII. KESIMPULAN DAN SARAN


7.1 Kesimpulan .....................................................................................................92
7.2 Saran................................................................................................................93

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................94

LAMPIRAN.........................................................................................................96
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1. Produksi Ikan Kerapu Nasional........................................................................3
2. Nilai Produksi Ikan Kerapu ..............................................................................3
3. Produksi Ikan Kerapu Kepulauan Seribu .........................................................6
4. Evaluasi Penilaian Lokasi Karamba Jaring Apung ........................................20
5. Hubungan Antara Ukuran Benih Dengan Mata Waring ................................21
6. Komposisi Pekerjaan Kepala Keluarga di Kelurahan Pulau
Panggang Tahun 2001 (KK) ..........................................................................41
7. Komposisi Pekerjaan Penduduk di Kelurahan Pulau Panggang
Tahun 2001 ....................................................................................................42
8. Pendidikan Nelayan Pulau Panggang.............................................................43
9. Persentase Nelayan Menurut Penggunaan Alat Tangkap...............................44
10. Penghasilan Rata-rata Nelayan Berdasarkan Alat Tangkap...........................47
11. Ekspor Nasional Kerapu.................................................................................50
12. Kondisi Fisika, Kimia Pulau-Pulau di Kelurahan Pulau Panggang,
Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Kepulauan Seribu .............54
13. Aturan Pemberian Pakan Ikan Rucah Untuk Ikan Kerapu.............................58
14. Komponen Biaya Investasi Ikan Kerapu Macan 2 Kotak ..............................64
15. Komponen Biaya Ikan Kerapu Macan 4 Kotak .............................................65
16. Komponen Biaya Investasi Ikan Kerapu Macan 6 Kotak ..............................66
17. Komponen Biaya Variabel Ikan Kerapu Macan 2 Kotak...............................67
18. Komponen Biaya Variabel Ikan Kerapu Macan 4 Kotak...............................68
19. Komponen Biaya Variabel Ikan Kerapu Macan 6 Kotak...............................69
20. Penyusutan KJA 2 Kotak................................................................................73
21. Penyusutan KJA 4 Kotak................................................................................74
22. Penyusutan KJA 6 Kotak................................................................................75
23. Analisis Kelayakan Investasi Usaha...............................................................91
24. Analisis Sensitifitas SR Turun 10 persen .......................................................91
25. Analisis Sensitifitas Biaya Bibit naik 10 persen.............................................91
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman
1. Ikan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscogattus)...............................................11
2. Karamba Jaring Apung......................................................................................14
3. Jumlah Rumah Tangga/Pengusaha Budidaya ...................................................16
4. Luas Lahan Budidaya Karamba ........................................................................16
5. Jumlah Produksi Perikanan Budidaya Karamba ...............................................16
6. Konstruksi Karamba Jaring Apung ...................................................................17
7. Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Kelayakan
Usaha Budidaya Kerapu dengan Sistem KJA..................................................34
8. Rantai Pemasaran Ikan Kerapu Macan Hasil Budidaya
di Pulau Panggang ............................................................................................51
9. Persiapan Wadah Karamba Jaring Apung.........................................................56
10. Proses Aklimatisasi Ikan Kerapu Macan..........................................................57
11. Pakan Alami (Rucah) Ikan Kerapu Macan.......................................................58
12. Waring Yang Sedang Dijemur Setelah Dibersihkan ........................................61
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman
1. Proyeksi Rugi Laba KJA 2 Kotak ....................................................................96
2. Proyeksi Rugi Laba KJA 4 Kotak ....................................................................97
3. Proyeksi Rugi Laba KJA 6 Kotak ....................................................................98
4. Cash Flow KJA 2 Kotak...................................................................................99
5. Cash Flow KJA 4 Kotak.................................................................................100
6. Cash Flow KJA 6 Kotak.................................................................................101
7. Analisis Sensitifitas Harga Bibit Kerapu Naik 10% KJA 2 Kotak ................102
8. Analisis Sensitifitas Harga Bibit Kerapu Naik 10% KJA 4 Kotak ................103
9. Analisis Sensitifitas Harga Bibit Kerapu Naik 10% KJA 6 Kotak ...............104
10. Analisis Sensitifitas SR Turun 10% KJA 2 Kotak ........................................105
11. Analisis Sensitifitas SR Turun 10% KJA 4 Kotak ........................................106
12. Analisis Sensitifitas SR Turun 10% KJA 6 Kotak .......................................107
I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumberdaya kelautan dan perikanan merupakan potensi yang dapat

memberikan manfaat ekonomi yang tinggi kepada masyarakat. Sebagai negara

maritim yang mempunyai luas perairan sekitar 5,8 juta km2, garis pantai sepanjang

81.000 km serta pantai berkarang yang menyimpan kekayaan flora dan fauna

seluas 3.124.747 Ha Indonesia belum sepenuhnya memanfaatkan potensi tersebut

(Departemen Kelautan dan Perikanan/DKP, 2005). Saat ini sektor kelautan dan

perikanan dapat dijadikan sebagai salah satu pilar dalam pemulihan krisis

ekonomi yang dialami bangsa Indonesia.

Beberapa landasan yang dapat dijadikan sebagai alasan untuk lebih

meningkatkan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan antara lain

sebagai berikut : (1) Permintaan ikan konsumsi dari luar negeri, khususnya ikan

karang konsumsi belum dapat diakomodasi seluruhnya karena minimnya produksi

Indonesia; (2) Perkembangan teknologi dibidang kelautan dan perikanan juga

dapat mendorong pemanfaatan sumberdaya yang belum banyak dieksplorasi; (3)

Pertambahan penduduk menyebabkan permintaan barang dan jasa juga turut

meningkat, selain itu juga terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat dewasa ini

yang lebih berorientasi pada makanan laut1).

Saat ini sumberdaya perikanan yang telah dimanfaatkan dalam skala yang

cukup besar adalah komoditas ikan karang, seperti ikan kerapu (Epinephelus

spp.). Ikan kerapu banyak terdapat di ekosistem terumbu karang khususnya di

kawasan Asia Pasifik. Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan, (2005) pada

1) www.portaliptek.com
tahun 1997 kawasan ini memasok sekitar 90 persen dari total produksi kerapu

dunia.

Ikan kerapu digolongkan dalam komoditas terpenting dan telah banyak

informasi berbagai aspek dalam pemilihannya sebagai komoditas budidaya. Dari

jenis-jenis ikan kerapu, ikan kerapu macan memiliki kelebihan dibandingkan ikan

kerapu jenis lain. Ikan ini bernilai ekonomis tinggi karena mempunyai daging

yang lezat, bergizi tinggi dan mengandung asam lemak tak jenuh. Dengan

tingginya permintaan pasar terhadap ikan kerapu macan, usaha ikan kerapu macan

harus dilakukan.

Indonesia merupakan produsen terbesar kedua dengan pertumbuhan

produksi 14,7 persen per tahun2). Produksi kerapu di Indonesia sebagian besar

berasal dari penangkapan langsung di laut. Menurut Departemen Kelautan dan

Perikanan, (2005) produksi ikan kerapu budidaya hanya sekitar 7.500 ton atau

sekitar 15,45 persen dari sekitar 48.516 ton produksi kerapu Indonesia.

Perdagangan kerapu Indonesia berkembang dengan pesat pada pertengahan tahun

1990-an dengan jumlah ekspor sebesar 300 ton pada tahun 1989 menjadi 3.800

ton pada tahun 1995. Besarnya tingkat permintaan ikan konsumsi terutama ikan

kerapu disebabkan adanya permintaan pasar luar negeri terhadap ikan karang

hidup konsumsi yang dikenal dengan istilah Live Reef Fish for Food (LRFF).

Jumlah produksi ikan kerapu nasional dapat dilihat pada Tabel 1.

2) www.portaliptek.con
Tabel 1. Produksi Ikan Kerapu Nasional
Tahun
Jenis Ikan 1999 2000 2001 2002 2003 2004
(Ton) (Ton) (Ton) (Ton) (Ton) (Ton)
Kerapu Karang 43.472 48.422 48.516 48.400 53.743 14.392
Kerapu Bebek - - - - - 5.807
Kerapu Balong - - - - - 1.182
Keterangan : - (Data Tidak Tersedia)
Sumber : Statistik Kelautan dan Perikanan, 2005

Negara yang menjadi tujuan ekspor untuk ikan kerapu Indonesia adalah

Hongkong, Taiwan, Singapura, Cina, dan Jepang. Hongkong adalah negara tujuan

ekspor utama Indonesia untuk kerapu. Pada tahun 2000, total impor kerapu

Hongkong sebesar 14.000 ton, Indonesia memasok sebanyak 252,60 ton (DKP,

2005).

Ekspor kerapu indonesia dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Hal

ini disebabkan terjadinya over fishing ikan kerapu karena nilai ekonomisnya yang

tinggi. Meskipun ekspor ikan kerapu terus mengalami penurunan, tetapi nilai

ekspor yang dihasilkan masih cukup tinggi sehingga ikan kerapu tetap masih

menjadi komoditi yang menjanjikan untuk ekspor. Nilai produksi ikan kerapu

dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Nilai Produksi Ikan Kerapu


Tahun
Jenis Ikan
2001 (Rp) 2002 (Rp) 2003 (Rp) 2004 (Rp)
Kerapu Karang 509.113.698 617.975.592 561.328.311 147.186.349
Kerapu Bebek - - - 213.901.280
Kerapu Lumpur - - - 49.021.850
Keterangan : - (Data Tidak Tersedia)
Sumber : Statistik Kelautan dan Perikanan, 2005

Ikan kerapu macan hasil budidaya juga memiliki keunggulan

dibandingkan dengan hasil tangkapan langsung di laut. Keunggulan yang pertama

adalah ukuran ikan yang seragam, yang memungkinkan pembudidaya untuk


memanen ikan pada saat ukuran panen/konsumsi yang memiliki nilai ekonomis

paling tinggi yaitu pada saat ikan berbobot delapan ons. Yang kedua adalah

pasokan ikan kerapu macan hasil budidaya dapat terus menerus ada karena dapat

diatur masa penanaman dan panen sesuai dengan kebutuhan pembudidaya/pasar.

Nilai produksi ikan kerapu yang cukup besar dan keunggulan ikan kerapu

hasil budidaya dibandingkan dengan hasil tangkapan langsung membuat

Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) telah menjadikan ikan kerapu sebagai

salah satu komoditas unggulan nasional.

Salah satu wilayah yang mempunyai kontribusi dalam produksi kerapu

adalah perairan Kepulauan Seribu. Kepulauan Seribu berada di wilayah Teluk

Jakarta yang memiliki banyak potensi dibidang kelautan dan perikanan, antara

lain ikan konsumsi, ikan hias, terumbu karang, rumput laut, dan mangrove. Ikan

yang paling banyak ditangkap oleh nelayan adalah kerapu.

Sebagai wilayah kabupaten di dalam Propinsi DKI Jakarta, maka Kabupaten

Administrasi Kepulauan Seribu banyak memiliki ke-khasan yang memerlukan

pendekatan khusus pula dalam proses pembangunannya. Beberapa ke-khasan

tersebut adalah : (1) Wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu adalah

wilayah kepulauan yang terdiri atas 110 buah pulau-pulau sangat kecil dan

perairan yang luas; (2) Penduduk yang menempati hanya 11 pulau pemukiman

yang terpencar dari selatan ke utara dan hampir semua adalah warga pendatang;

(3) Alternatif kegiatan pembangunan yang relatif terbatas yaitu utamanya

perikanan tangkap dan pariwisata dan lain-lain.

Mengingat potensi perairan yang besar, salah satu kegiatan ekonomi yang

dapat dikembangkan adalah perikanan budidaya perairan (marikultur). Perairan


laut kawasan ini terdiri dari laut dangkal (shallow sea, perairan karang dalam)

berupa reef flat, laguna (goba) dan teluk, serta laut lepas (deep sea) berupa selat

(perairan di antara dua pulau) yang berpotensi untuk pengembangan budidaya laut

(marikultur). Luas kawasan potensial untuk marikultur tersebut diperkirakan

mencapai 4.376 Ha (Soebagyo, 2004).

Untuk memulai kegiatan pengembangan marikultur tersebut, Pemerintah

Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu pada tahap awal tengah mempelopori

mengembangkan budidaya laut percontohan skala besar di empat pulau untuk

dijadikan areal budidaya rumput laut dengan sistem longline dan budidaya ikan

kerapu dengan sistem KJA (karamba jaring apung/cage culture) oleh masyarakat,

terutama penduduk Pulau Panggang.

Jumlah produksi kerapu di Perairan Kepulauan Seribu antara tahun 1994

sampai 2004 sebesar 555,55 ton, tetapi produksi kerapu setiap tahunnya

cenderung menurun. Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2005), jumlah

tangkapan ikan kerapu nasional antara tahun 2002-2003 mengalami penurunan

sebesar 72,78 persen. Hal ini disebabkan oleh penangkapan yang banyak

menggunakan potasium sianida dan terjadinya over fishing. Karena jumlah hasil

tangkapan yang cenderung menurun, saat ini pemerintah melalui DKP lebih fokus

untuk mengembangkan budidaya kerapu. Produksi ikan kerapu di Kepulauan

Seribu dapat dilihat pada Tabel 3.


Tabel 3 Produksi Ikan Kerapu di Kepulauan Seribu
Tahun Produksi (Kg) Pertumbuhan (%)
1994 27.856,40 -
1995 19.246,24 -30,90
1996 21.494,10 11,67
1997 23.726,50 10,38
1998 29.141,90 22,82
1999 62.491,46 114,13
2000 63.075,86 0,93
2001 36.466,34 -42,18
2002 119.100,00 226,60
2003 62.410,00 -72,78
2004 90.540,00 45,07
Rata-rata 50.504,44 15,67
Sumber : Suku Dinas Perikanan Kepulauan Seribu, 2005

Kepulauan Seribu merupakan daerah yang sangat berpotensi untuk

budidaya kerapu karena memiliki pantai berkarang yang luas. Pantai dengan

karakteristik seperti ini merupakan habitat yang paling baik bagi kerapu. Menurut

penelitian Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL IPB, 2002),

potensi budidaya kerapu di Kepulauan Seribu seluas 359,49 Ha yang tersebar di

Kelurahan Pulau Kelapa, Kelurahan Pulau Harapan, Kelurahan Pulau Tidung,

Kelurahan Pulau Pari, dan Kelurahan Pulau Panggang. Kondisi fisik di pulau-

pulau diatas sangat baik untuk membudidayakan kerapu, terutama budidaya

dengan menggunakan Karamba Jaring Apung (KJA). Pemanfaatan lahan ini

diharapkan dapat menjadi alternatif mata pencaharian penduduk di Kepulauan

Seribu yang mayoritas pekerjaannya adalah nelayan tangkap.

1.2 Perumusan Masalah

Keberhasilan pengembangan budidaya ikan sangat ditentukan oleh pasokan

benih yang meliputi faktor kualitas dan kuantitas. Permasalahan utama dalam

pengembangan budidaya ikan kerapu macan adalah terbatasnya benih dalam


kualitas maupun kuantitas, meskipun diantara ikan kerapu lainnya, pembenihan

jenis ikan ini relatif lebih mantap. Permasalahan kedua yang dihadapi oleh

pembudidaya adalah keterbatasan modal yang membatasi untuk dilakukannya

pengembangan usaha budidaya ikan kerapu macan. Pengetahuan mengenai teknik

budidaya ikan kerapu macan dengan sistem KJA juga merupakan permasalahan

yang ditemui di Pulau Panggang yang berakibat pada tidak optimalnya hasil

budidaya KJA pembudidaya.

Kepulauan Seribu khususnya di Pulau Panggang memiliki prospek yang

sangat bagus untuk budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA. Sumberdaya alam

berupa pantai berkarang yang merupakan habitat kerapu yang sangat baik untuk

budidaya dengan sistem KJA merupakan sebuah nilai tambah bagi perairan

Kepulauan Seribu.

Meskipun memiliki prospek yang baik dan potensi sumber daya alam

yang baik, budidaya kerapu dengan sistem KJA masih belum banyak dilakukan

oleh masyarakat. Budidaya ikan kerapu, khususnya ikan kerapu macan yang

umumnya dilakukan oleh masyarakat Pulau Panggang masih diusahakan dalam

skala kecil. Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa kendala yang dihadapi oleh

masyarakat Pulau Panggang.

Kendala utama yang dihadapi oleh masyarakat adalah modal untuk

menjalankan budidaya kerapu, khususnya ikan kerapu macan. Hal ini disebabkan

adanya ketakutan pihak perbankan maupun investor selaku pemilik modal

mengenai tingkat keberhasilan budidaya ikan kerapu khususnya dengan sistem

KJA. Kendala yang kedua adalah ketersediaan bibit ikan kerapu macan di
Kepulauan Seribu, khususnya Pulau Panggang yang belum mampu dipenuhi oleh

pihak pemasok bibit yang ada di Kepulauan Seribu.

Berdasarkan keadaan diatas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai

analisis kelayakan usaha untuk mengetahui apakah KJA yang ada di Pulau

Panggang saat ini layak atau tidak diusahakan jika dilihat dari aspek finansial,

aspek teknis, dan aspek pasar.

Aspek finansial dilakukan untuk mengetahui besarnya biaya dan

pemasukan untuk megusahakan budidaya kerapu sistem KJA sehingga dapat

diketahui apakah budidaya diatas layak atau tidak secara finansial. Aspek teknis

dilakukan untuk mengetahui apakah lokasi KJA yang dipilih layak atau tidak

dilihat dari segi kondisi alam dan ketersediaan input yang digunakan dalam usaha.

Aspek pasar perlu dianalisis untuk mengetahui berapa besar tingkat permintaan

dan penawaran kerapu di pasar sehingga dapat diketahui peluang pasar yang dapat

diraih.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha budidaya

ikan kerapu macan dengan sistem KJA di Pulau Panggang ditinjau dari:

1. Aspek finansial

2. Aspek pasar

3. Aspek teknis

4. Analisis sensitifitas

5. Analisis dampak terhadap lingkungan


1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi :

a. Masyarakat Pulau Panggang sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan

usaha maupun pengembangan usaha budidaya kerapu macan.

b. Calon investor/pengusaha sebagai bahan pertimbangan sebelum berinvestasi

pada usaha budidaya kerapu macan dengan sistem KJA.

c. Pihak pihak yang terkait khususnya Suku Dinas Perikanan Kepulauan Seribu

untuk membantu mengatasi kendala-kendala yang dihadapi oleh masyarakat

Pulau Panggang dalam usaha budidaya ikan kerapu macan dengan sistem

KJA.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian yang dilakukan hanya pada ruang lingkup budidaya ikan kerapu

macan dengan sistem KJA berdasarkan tujuan penelitian yang telah disebutkan

diatas. Penelitian ini tidak menganalisis karamba Jaring tancap (KJT) yang juga

terdapat di Pulau Panggang dikarenakan KJT telah dilarang penggunaannya oleh

Pemerintah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. KJT dilarang karena

keberadaannya yang terlalu dekat dengan pantai dan konstruksinya yang

menancap langsung ke dasar perairan sehingga menyebabkan rusaknya terumbu

karang dan mengganggu jalur kapal bersandar.


II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perikanan Laut di Indonesia

Secara garis besar, perikanan dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu

perikanan tangkap dan perikanan budidaya baik di darat maupun di laut.

Perikanan tangkap adalah kegiatan ekonomi yang melakukan penangkapan

terhadap hewan air dan tumbuhan air. Perikanan budidaya adalah kegiatan

ekonomi yang melibatkan manusia dalam membudidayakan hewan dan tumbuhan

air.

Menurut DKP (2005), sumberdaya perikanan di Indonesia dibagi menjadi

dua wilayah perairan yaitu : (1) Perairan barat yang meliputi perairan : Selat

Malaka, timur Sumatera, Laut Jawa, Laut Cina Selatan, dan timur Kalimantan; (2)

Perairan timur yang meliputi perairan: Sulawesi, Irian, Maluku, Nusa Tenggara,

dan Laut Banda.

Karakteristik perairan barat Indonesia ditandai dengan perairan yang subur

(banyak terdapat fitoplankton), dangkal dan sumberdaya ikan yang dominan

adalah ikan demersal dan pelagis kecil. Ikan pelagis besar hanya terdapat di barat

Sumatera, selatan Jawa, dan Selat Makassar. Di perairan timur Indonesia, ikan

yang dominan adalah ikan pelagis besar. Akibat dari over fishing, saat ini jumlah

ikan di perairan barat Indonesia lebih rendah dibandingkan perairan timur. Daerah

lain yang mengalami over fishing adalah perairan utara Jawa, Selat Malaka, dan

Selat Bali. Pada perairan timur Indonesia hanya udang saja yang telah diekplorasi

dalam jumlah besar, seperti di perairan Laut Arafura dan Papua.


2.2 Biologi Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus)

Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) adalah ikan yang hidup di

ekosistem terumbu karang. Bentuk tubuhnya agak rendah, moncong panjang

memipih dan menajam, terdapat bintik putih coklat pada kepala, badan dan sirip,

bintik hitam pada bagian dorsal (punggung) dan poterior (badan). Habitat ikan

kerapu macan adalah pantai yang banyak alga dan karangnya, setelah dewasa

hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari pasar berlumpur. Ikan

kerapu macan termasuk jenis karnivora dan cara makannya mematuk makanan

yang diberikan sebelum makanan sampai ke dasar. Pakan yang paling disukai

jenis Crustaceae (rebon, dogol, dan krosok), selain itu jenis ikan-ikan pelagis

kecil (tembang, teri, dan belanak). Bentuk tubuh ikan krapu macan dapat dilihat

pada Gambar 1.

Gambar 1 Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus)


Sumber: www.fishbase.com
Klasifikasi Ikan Kerapu Macan3)

Class : Chondrichthyes

Sub class : Ellasmobranchii

Ordo : Percomorphi

Divisi : Perciformes

Famili : Serranidae

Genus : Epinephelus

Species : Epinephelus fuscoguttatus

Di pasar internasional kerapu dikenal dengan nama grouper atau trout.

Kerapu mempunyai sekitar 46 spesies yang tersebar di berbagai jenis habitat. Dari

semua spesies tersebut, bisa dikelompokkan ke dalam tujuh genus meskipun

hanya tiga genus yang sudah dibudidayakan dan menjadi jenis komersial yaitu

genus Chromileptes, Plectropomus, dan Epinephelus.

Spesies kerapu komersial Chromileptes altivelis termasuk jenis

Serranidae, ordo Perciformes. Jenis kerapu ini disebut juga polka dot grouper

atau hump backed rocked atau dalam bahasa lokal sering disebut ikan kerapu

bebek. Ciri-ciri tubuh adalah berwarna dasar abu-abu dengan bintik hitam. Daerah

habitatnya meliputi Kepulauan Seribu, Kepulauan Riau, Bangka, Lampung, dan

kawasan perairan terumbu karang. Kerapu Sunu (coral trout) sering ditemukan

hidup di perairan berkarang. Warna tubuh merah atau kecoklatan sehingga disebut

juga kerapu merah, yang warnanya bisa berubah apabila dalam kondisi stres.

Mempunyai bintik-bintik biru bertepi warna lebih gelap. Daerah habitat tersebar

di perairan Kep. Karimunjawa, Kep. Seribu, Lampung Selatan, Kep. Riau, Bangka

Selatan, dan perairan terumbu karang. Kerapu Lumpur (estuary grouper)


3)www.fishbase.com
mempunyai warna dasar hitam berbintik-bintik sehingga disebut juga Kerapu

Hitam. Spesies ini paling banyak dibudidayakan karena laju pertumbuhannya

yang cepat dan benih relatif lebih banyak ditemukan. Daerah habitat banyak

ditemukan di Teluk Banten, Segara Anakan, Kepulauan Seribu, Lampung, dan

daerah muara sungai.

2.3 Prospek Budidaya Ikan Kerapu di Indonesia

Budidaya laut (Marine culture) adalah suatu kegiatan pemeliharaan

organisme akuatik laut dalam wadah dan perairan yang terkontrol dalam rangka

mendapatkan keuntungan. Ada beberapa jenis sistem budidaya yang bisa

digunakan di laut, yaitu sistem sistem kandang (Pen culture), sistem karamba

(Cage culture), dan tali panjang (Longline). Sistem budidaya yang paling banyak

digunakan di Indonesia adalah sistem kandang dan sistem karamba.

Sistem kandang adalah metode budidaya yang membatasi suatu wilayah

di laut dengan luasan tertentu dengan menggunakan kurungan tancap (dikenal

dengan Karamba Jaring Tancap /KJT) atau kurungan apung (dikenal dengan

Karamba Jaring Apung/KJA). Sistem ini juga biasa digunakan pada budidaya ikan

air tawar dan air payau, tetapi tingkat keberhasilannya di laut masih belum

maksimal dibandingkan dengan di air tawar dan payau.

Sistem karamba adalah metode budidaya dengan cara membuat suatu

bangunan semi permanen di laut dan menempatkan jaring di tengahnya dengan

kedalaman tertentu. Sistem ini yang paling banyak digunakan pada budidaya laut

di Indonesia. Bentuk dari Karamba Jaring Apung (KJA) dapat dilihat pada

Gambar 2.
Gambar 2 Karamba Jaring Apung

Produksi kerapu saat ini masih relatif rendah sehingga mengakibatkan

harga jual kerapu juga masih mahal. Harga jual kerapu dalam kondisi hidup lebih

mahal dibandingkan dalam keadaan mati (segar). Harga ikan Kerapu Bebek

(Chromileptis altivelis) ditingkat produsen atau pembudidaya KJA mencapai

Rp 390.000 per kilogram, sedangkan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscoguttatus)

Rp 90.000 per kilogram. Rendahnya produksi kerapu disebabkan oleh masih

tingginya penangkapan langsung dari laut yang hanya bisa menggunakan alat

tangkap kail, yaitu hand line dan long line. Alat tangkap ini hanya bisa

menangkap ikan satu per satu sehingga dibutuhkan waktu yang lama untuk

mendapatkan kerapu dalam jumlah yang besar. Selain itu jumlah kerapu di laut

juga semakin berkurang karena terjadi over fishing dibeberapa daerah dan

penggunaan bahan peledak serta potasium sianida yang mengakibatkan anak-anak

kerapu yang belum layak tangkap juga mati. Penangkapan dengan menggunakan

cara di atas juga menyebabkan ikan yang didapat dalam keadaan mati, padahal
permintaan pasar luar negeri maupun dalam negeri lebih banyak menginginkan

kerapu dalam keadaan hidup.

Kegiatan budidaya kerapu macan relatif lebih mudah dan peluang

keberhasilannya juga tinggi dibandingkan budidaya ikan kerapu jenis lain, udang

maupun bandeng tambak. Kerapu macan mudah untuk dibudidayakan karena

tingkat kelangsungan hidup-nya (survival rate) tinggi serta pakan alami (rucah)

bisa menggunakan ikan laut jenis apapun. Kendala teknis yang paling banyak

ditemukan adalah ketersediaan benih kerapu, karena selama ini pembudidaya

sangat tergantung dari hasil tangkapan di laut. Namun ketersediaan benih yang

berasal dari laut tidak kontinyu dan semakin lama semakin sedikit.

Menurut Sari (2006), tingkat pemanfaatan kerapu hasil tangkapan di

Kepulauan Seribu telah melampaui batas optimal yang disarankan. Produksi

penangkapan dan produksi budidaya kerapu pada interaksi optimal sebesar 32.798

kilogram per tahun untuk penangkapan dan budidaya sebesar 28.348 kilogram

per tahun. Permasalahan benih telah dapat sedikit teratasi dengan adanya BBL

yang menjual benih kerapu yang berkualitas tinggi dan harga yang lebih murah,

serta hatchery yang ada di Bali dan Situbondo (Jawa Timur) sehingga

pembudidaya kerapu tidak lagi sepenuhnya bergantung pada benih yang berasal

dari laut.

Berdasarkan keadaan diatas dapat dilihat usaha budidaya kerapu macan

memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan. Meskipun demikian

analisis kelayakan usaha budidaya kerapu tetap diperlukan untuk mencegah

kerugian investor/pembudidaya kerapu sebelum menanamkan modalnya.

Pengembangan budidaya dengan sistem karamba yang dilakukan

pemerintah beserta instansi yang terkait menyebabkan peningkatan usaha


budidaya dengan karamba. Hal ini ditandai dengan pertambahan Jumlah Rumah

Tangga (JRT)/perusahaan budidaya (Gambar 3), luas lahan budidaya (Gambar 4),

dan jumlah produksi perikanan budidaya karamba (Gambar 5). Menurut DKP

(2005), dari tahun 1999-2004 JRT mengalami kenaikan rata-rata sebesar 27,34

persen, luas lahan budidaya 41,26 persen, dan produksi sebesar 16,24 persen.

25000

20000
Jumlah(buah)

15000
10000
5000
0
1999 2000 2001 2002 2003 2004
Tahun

Sumber : Statistik Perikanan dan Kelautan, 2005

Gambar 3 Jumlah Rumah Tangga/Pengusaha Budidaya


Karamba Jaring Apung

1000
800
Luas (Ha)

600
400

200
0
1999 2000 2001 2002 2003 2004
Tahun

Sumber: Statistik Perikanan dan Kelautan, 2005


Gambar 4 Luas Lahan Budidaya Karamba

70000
60000
Jumlah (Ton)

50000
40000
30000
20000
10000
0
1999 2000 2001 2002 2003 2004
Tahun

Sumber: Statistik Perikanan dan Kelautan, 2005


Gambar 5 Jumlah Produksi Perikanan Budidaya
Karamba
Daerah yang telah berhasil mengembangkan budidaya kerapu dengan

sistem KJA antara lain Kabupaten Munu, Bali, Kepulauan Riau, dan Bangka.

Perkembangan teknologi budidaya kerapu saat ini diharapkan mendorong daerah

lain yang memiliki pantai dengan karakteristik seperti habitat kerapu dapat

mencoba untuk melakukan budidaya kerapu.

2.3.1 Budidaya Ikan dengan Karamba Jaring Apung

Karamba Jaring Apung (KJA) adalah sistem budidaya yang paling banyak

digunakan di Indonesia. KJA telah dilakukan di Jepang pada tahun 1954 dan

kemudian menyebar ke Malaysia pada tahun 1973. Di Indonesia KJA mulai

dikenal pada tahun 1976 di Kepulauan Riau dan sekitarnya, sedangkan di Teluk

Banten dimulai pada tahun 1979. Salah satu kelebihan KJA adalah ikan dapat

dipelihara pada kepadatan yang tinggi tanpa kekurangan oksigen. Konstruksi KJA

dapat dilihat pada Gambar 6.

Waring

Sumber: Petunjuk Teknis Budidaya Ikan Laut di Jaring Apung


Gambar 6 Konstruksi Karamba Jaring Apung
Sarana dan prasarana yang idealnya digunakan dalam usaha budidaya ikan

kerapu antara lain:

1. Rakit

Konstruksi wadah budidaya ikan kerapu macan merupakan konstruksi berupa

rakit. Rakit adalah kotak yang dilengkapi dengan pelampung yang biasanya

berupa tong plastik atau sterofoam. Rakit ini merupakan wadah untuk melekatkan

atau mengikat jaring. Rakit biasanya terbuat dari kayu dengan ukuran bingkai 8 x

8 meter, dimana tiap rakit terbagi menjadi 4 kotak berukuran 3,5 x 3,5 meter.

2. Waring

Waring adalah kantong yang terbuat dari jaring. Waring digunakan sebagai

wadah untuk memelihara ikan kerapu. Untuk pembesaran ikan kerapu, jaring yang

digunakan berukuran 3,5 x 3,5 x 3,5 meter dengan ukuran mata jaring (mesh size)

1-2 inci.

3. Perahu

Perahu merupakan sarana transportasi petani karamba. Perahu ini juga dapat

digunakan untuk pencarian pakan alami ikan kerapu (rucah). Idealnya setiap

petani KJA memiliki minimal 1 perahu.

2.3.2 Teknik Budidaya Ikan Kerapu Dengan Sistem Karamba Jaring Apung

a. Lokasi Usaha

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar KJA dapat berjalan dengan

baik seperti terdapat pada Tabel 4. Dalam hal tata letak, persyaratan umum yang

harus dipenuhi dalam pemilihan lokasi karamba adalah sebagai berikut:


1. Terlindung dari angin dan gelombang besar

Angin dan gelombang besar dapat merusak konstruksi sarana budidaya

(rakit) dan dapat menggangu aktifitas budidayaseperti pemberian pakan. Tinggi

gelombang yang disarankan untuk budidaya kerapu tidak lebih dari 0,5 meter.

2. Kedalaman perairan

Kedalaman perairan ideal untuk budidaya ikan kerpau macan yang

menggunakan karamba jaring apung adalah 5-15 meter. Perairan yang terlalu

dangkal (kurang dari lima meter) dapatmempengaruhi kualitas air karena banyak

sisa pakan yang membusuk. Pada perairan yang kedalamannya lebih dari 15 meter

dibutuhkan tali yang panjang untuk mengikat jangkar sehingga dibutuhkan

tambahan biaya.

3. Jauh dari limbah pencemaran

Lokasi yang jauh dari buangan limbah seperti limbah indusri, pertanian,

rumah tangga, dan tambak sangat dianjurkan untuk budidaya iakn kerapu macan

dengan sistem KJA. Limbah rumah tangga biasanya dapat menyebabkan

tingginya bakter perairan. Limbah industri dapat membuat konsentrasi logam

berat di perairan tinggi. Sementara limbah tambak dapat meningkatkan kesuburan

perairan sehingga organisme penempel seperti teritip dan kerang-kerangan

tumbuh subur dan dapt menyebabkan jaring menjadi tertutup.

4. Dekat sumber pakan

Sumber pakan yang dekat dengan lokasi karamba sangat penting karena

pakan merupakan kunci keberhasilan budidaya ikan kerapu macan. Daerah

penangkapa ikan dengan menggunakan lift net merupakan lokasi terbaik karena

pakan berupa ikan segar dapt diperoleh dengan mudah dan murah.
5. Sarana transportasi

Tersedianya sarana transportasi yang baik dan mudah diakses adalah suatu

keuntungan tersendiri pada lokasi budidaya ikan kerapu macan karena

memberikan kemudahan dalam hal pengangkutan pakan dan hasil panen.

Tabel 4 Evaluasi Penilaian Lokasi Karamba Jaring Apung


Parameter
Nilai Bobot Bobot Nilai
Faktor Ekologi
> 1.0 = 5 10
A. Tinggi Air Pasang (meter)
0.5 - 1.0 = 3 2 6
High Tide (meter)
< 0.5 = 1 2
0.2 - 0.4 = 5 10
B. Arus (meter / detik)
0.005 - 0.2 = 3 2 6
Marine Current (meter/second)
0.4 - 0.5 = 1 2
C. Kedalaman Air dari dasar Jaring > 10 = 5 10
(meter) 4 - 10 = 3 6
2
Water Depth from Net Bottom
<4=1 2
(meter)
5=5 10
D. Oksigen Terlarut (ppm)
3-5=3 2 6
Soluble Oxygen (ppm)
<3=1 2
Jarang = 5 10
E. Perubahan Cuaca
Sedang = 3 2 6
Weather Change
Sering = 1 2
Faktor Pendukung
Baik = 5 5
A. Sumber Listrik
Cukup = 3 1 3
Electric Supply
Kurang = 1 1
Baik = 5 5
B. Sumber Pakan
Cukup = 3 1 3
Feed Supply
Kurang = 1 1
Baik = 5 5
C. Tenaga Kerja
Cukup = 3 1 3
Manpower
Kurang = 1 1
Baik = 5 5
D. Ketersediaan Benih
Cukup = 3 1 3
Fry Supply
Kurang = 1 1
Baik = 5 5
E. Pencemaran
Cukup = 3 1 3
Pollution
Kurang = 1 1
Sumber: Sunyoto, 2000
Pada tabel evaluasi penilaian lokasi KJA diatas nilai bobot menunjukkan

tingkatan kondisi ideal dari parameter pada nilai yang tertera pada kolom nilai

bobot, sedangkan bobot menunjukkan tingkat kepentingan dari parameter-

parameter diatas.

b. Persiapan Wadah

Kegiatan persiapan wadah meliputi pencucian jaring atau waring dengan

mesin penyemprot samapai bersih. Setelah itu dipasang di karamba dengan diikat

dengan tali dan diberi pemberat berupa batu atau jangkar yang diikat di keempat

ujung waring. Ukuran mata jaring yang digunakan harus disuaikan dengan ukuran

benih yang akan ditebar. Hubungan antara ukuran mata jaring dan ukuran benih

dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Hubungan Antara Ukuran Benih dengan Mata Waring


No Ukuran Benih (cm) Ukuran Mata Jaring Satuan
1 2-3 4 mm
2 3-5 4 mm
3 5-7 4 mm
4 7-9 0,5 inchi
5 >9 1-2 inchi
Sumber: Pembesaran Kerapu dengan Karamba Jaring Apung, 2004

c. Penebaran Ikan

Benih kerapu macan yang digunakan dalam usaha pembesaran ikan di

karamba jaring apung berasal dari benih yang dibeli dari hatchery di Gondol,

Situbondo, dan Lampung. Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu

air tidak teralalu tinggi. Aklimatisasi dilakukan agar ikan tidak stres dengan

perbedaan suhu dan salinitas antara pembenihan dan pembesaran. Aklimatisasi

dilakukan dengan cara memasukkan kantong plastik berisi ikan kedalam calon
media pemeliharaan. Kantong dibiarkan mengapung selama 10-15 menit, setelah

itu ikatannya dibuka dan ikan dibiarkan keluar dari plastik dengan cara

menenggelamkan setengah mulut plastik sehingga ikan keluar dengan sendirinya.

d. Pemberian Pakan

Pemilihan jenis pakan pada ikan kerapu macan harus didasarkan pada

kemauan ikan untuk memangsa pakan yang diberikan, kualitas, nutrisi, dan nilai

ekonomisnya. Jenis pakan adalah ikan rucah segar (ikan-ikan non ekonomis

penting) dengan kandungan lemak rendah seperti jenis selar, tanjan, dan benggol

karena harganya relatif murah dan nilai gizinya masih mencukupi untuk ikan

budidaya.

Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari dengan feeding rate (FR)

sebesar sepuluh persen dari bobot tubuh pada pagi hari sekitar pukul 08.00-09.00

WIB dan sore hari pada pukul 16.00-17.00 WIB. Benih kerapu dengan berat

kurang dari 5-10 gram berat tubuh umumnya perlu diberi pakan lebih dari tiga kali

sehari untuk memaksimalkan pengambilan pakan dan mempercepat pertumbuhan

ikan. Semakin besar ukuran ikan, semakin kurang frekuensi pemberian pakan,

tanpa memberi pengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan. Jika ikan diberi makan

dua kali setiap harinya, pemberian pakan harus dilakukan pada pagi hari dan

petang. Untuk ikan yang diberi makan sekali sehari, lebih baik dilakukan pada

waktu petang sebelum matahari terbenam. Tidak baik memberi pakan pada siang

dan sebelum petang, karena sinar matahari yang terik. Pada waktu tersebut, ikan

kerapu cenderung beristirahat di dasar wadah pemeliharaan dan umumnya kurang

aktif makan. Jika pembudidaya ikan menerapkan pemberian pakan sampai

kenyang dan mendistribusikan pakan secara merata, maka hal ini akan mencegah
ikan makan dengan agresif dan dengan demikian mengurangi terbuangnya sisa

pakan ke dasar wadah dan .memperkecil pencemaran. Hindari cara pemberian

pakan dengan melemparkan begitu saja sejumlah pakan baik ikan rucah atau pellet

ke dalam wadah tanpa memeriksa kebiasaan makan dari ikan-ikan tersebut karena

akan banyak pakan yang keluar dari dasar karamba dan menjadi limbah yang

mencemari perairan sekitar. Pemberian pakan diharapkan tidak meninggalkan sisa

pada dasar wadah pemeliharaan karena sisa pakan akan menjadi incaran ikan-ikan

diluar wadah, terutama ikan buntal yang sangat berbahaya dan dapat merobek

waring.

Penambahan multivitamin pada ikan laut dapat menambah kekebalan

tubuh ikan, mempercepat pertumbuhan, menceagah terjadinya pembengkokan

badan, dan mempertinggi tingkat kelulus hidupan (Survival rate/SR). Dosis

pemberian vitamin atau multivitamin dan mineral mix adalah sebesar satu sampai

dua persen dari berat pakan.

e. Penyortiran (Sampling)

Ikan kerapu adalah ikan yang memiliki tingkat kanibalisme yang tinggi.

Faktor penyebab terjadinya kanibalisme adalah ukuran ikan yang tidak seragam,

kepadatan yang terlalu tinggi, kekurangan pakan, dan kualitas air yang jelek.

Kegiatan pemilahan ukuran atau penyortiran dilakukan untuk mengetahui

pertumbuhan, penentuan dosis pakan, dan SR. Sampling dilakukan seminggu

sekali dengan mengambil ikan secara acak sebanyak sepuluh persen dari jumlah

ikan yang ada. Pada saat sampling dilakukan perhitungan, pengukuran panjang,

dan berat tubuhnya sehingga dapat diamati SR-nya. Dari hasil sampling kita juga
dapat menentukan jumlah pakan yang harus diberikan, yaitu sepuluh persen dari

biomassa ikan.

f. Perbaikan dan Pembersihan Waring

Penggantian dan pembersihan waring selama masa pemeliharaan mutlak

dilakukan. Waring kotor akibat penempelan lumpur atau biota penempel, seperti

kerang, teritip, dan alga. Apabila hal ini dibiarkan maka dapat menghambat

pertumbuhan kerapu dan menimbulkan penyakit. Biasanya waring berukuran 8

mm akan kotor setelah dua minggu, waring ukuran 25 mm akan kotor diatas dua

minggu, dan waring ukuran 38 mm akan kotor setelah dua bulan.

Jaring kotor dijemur terlebih dahulu kemudian disemprot dengan air sampai

seluruh kotoran yang menempel terlepas dari waring. Sebelum dipasang kembali

waring harus diperiksa terlebih dahulu, sehingga apabila ada yang robek dapat

diperbaiki. Ikan baronang yang merupakan pemakan tumbuhan dapat membantu

membersihkan waring dari biota penempel khususnya dari jenis tumbuhan.

Waring berukuran 3 x 3 x 3 meter dapat dimasukkan 15-20 ekor ikan baronang.

g. Pemanenan

Pada budidaya kerapu macan hasil panen biasanya dijual atau dikonsumsi

dalam keadaan hidup. Untuk menjaga agar ikan tetap sehat dan segar, maka

pemanenan sebaiknya dilakukan pada sore hari karena suhu relatif lebih rendah.

Pemanenan pada sore hari diharapkan dapat mengurangi tingkat stres pada ikan.

Ada dua metode pemanenan yang biasanya diterapkan pada budidaya ikan

kerapu macan yaitu metode panen selektif dan metode panen total. Panen selektif

merupakan pemanenan terhadap ikan yang telah mencapai ukuran tertentu

menurut keinginan pasar. Panen total merupakan pemanenan secara keseluruhan


yang biasanya dilakukan untuk memenuhi permintaan dalam skala besar, tetapi

ukuran seluruh ikan telah memenuhi kriteria jual.

Alat panen yang biasanya digunakan adalah scoop net yang terbuat dari

kain kasa. Scoop net yang kasar tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan luka

yang dapat menyebabkan penyakit dan stres pada ikan pada saat dibawa ke tempat

penjualan/konsumsi. Pemanenan ikan dilakukan dengan cara mengangkat waring

pemeliharaan dengan tongkat kayu. Tongkat kayu diletakkan pada bagian dasar

waring kemudian diangkat sehingga waring terbagi menjadi dua bagian sehingga

dapat memudahkan pengambilan ikan dari waring secara selektif maupun total.

2.4 Penelitian Terdahulu

Maulana (2003) menganalisis kelayakan usahatani pembesaran dan

pemasaran ikan nila gift budidaya KJA. Analisis yang dilakukan berdasarkan

aspek pasar, teknis, finansial, dan lingkungan. Analisis sensitivitas dilakukan

untuk melihat tingkat kepekaan usahatani terhadap perubahan harga pakan, benih,

biaya tenaga kerja, penurunan harga jual serta penurunan volume produksi. Marjin

pemasaran dan saluran pemasaran juga dianalisis untuk mengetahui tingkat

efisiensi usahatani. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis data

yang dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil yang didapatkan dari

penelitian adalah usahatani tersebut layak diusahakan. Nilai NPV, Net B/C, dan

IRR yang dihasilkan memberikan kemungkinan untuk pengembangan usahatani

tersebut. Berdasarkan analisis sensitivitas dan switching value dapat disimpulkan

usahatani tersebut kurang peka terhadap perubahan yang telah diasumsikan.


Secara keseluruhan saluran pemasaran kurang efisien, hal ini disebabkan oleh

tingginya biaya pengangkutan dan penyusutan ikan.

Atmoko (2006) melakukan penelitian mengenai analisis usahatani

pembesaran dan pemasaran ikan mas. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk

menganalisis keragaan dan kelayakan usahatani pembesaran ikan mas berdasarkan

aspek pasar, teknis, finansial, dan lingkungan. Selain itu juga menganalisis tingkat

sensitivitas kelayakan usahatani terhadap perubahan harga pakan, benih, biaya

tenaga kerja, penurunan harga jual serta penurunan volume produksi. Marjin

pemasaran dan saluran pemasaran juga dianalisis untuk mengetahui tingkat

efisiensi usahatani pembesaran ikan mas. Metode analisis data yang digunakan

adalah analisis pendapatan usahatani, analisis kelayakan investasi, analisis

sensitivitas, dan analisis biaya pemasaran. Hasil dari penelitian didapatkan

kesimpulan bahwa dari aspek pasar, aspek teknis, aspek lingkungan, dan aspek

finansial usahatani tersebut dapat dijalankan. Usahatani diatas memiliki tingkat

kepekaan yang rendah terhadap perubahan yang telah diasumsikan. Secara

keseluruhan saluran pemasaran kurang efisien, hal ini disebabkan oleh tingginya

biaya pemasaran dan menyebabkan tingginya marjin pemasaran ikan mas.

Herlina (2006) melakukan penelitian usaha budidaya pendederan ikan

kerapu macan Pulau Semak Daun. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis

kelayakan usaha pendederan ikan kerapu macan ditinjau dari aspek finansial,

aspek pasar, aspek teknis, dan aspek manajemen. Metode yang digunakan adalah

analisis dekriptif untuk menganalisis data yang tidak termasuk dalam aspek

finansial dan analisis kuantitatif untuk analisis data finansial. Hasil penelitian

yang dilakukan menunjukkan usaha budidaya tersebut dari aspek pasar, teknis,
dan manajemen layak untuk diusahakan. Secara finansial tidak dapat diusahakan

karena nilai jual benih yang dihasilkan dibawah harga pasar, namun usaha

tersebut dapat layak diusahakan apabila harga benih yang dijual mengikuti harga

pasar.

2.5 Persamaan dan Perbedaan Dengan Penelitian Terdahulu

Penulis Persamaan Perbedaan

• Menganalisis kelayakan • Analisis sensitivitas


usahatani pembesaran dan dilakukan untuk melihat
pemasaran ikan nila gift tingkat kepekaan usahatani
budidaya KJA. terhadap perubahan harga
pakan, benih, biaya tenaga
kerja, penurunan harga jual
Maulana
serta penurunan volume
produksi.
• Analisis Marjin pemasaran
dan saluran pemasaran
untuk mengetahui tingkat
efisiensi usahatani.

• Menganalisis keragaan dan • Menganalisis tingkat


kelayakan usahatani sensitivitas kelayakan
pembesaran ikan mas usahatani terhadap
berdasarkan aspek pasar, teknis, perubahan harga pakan,
finansial, dan lingkungan benih, biaya tenaga kerja,
Atmoko penurunan harga jual serta
penurunan volume
produksi.
• Analisis Marjin pemasaran
dan saluran pemasaran
untuk mengetahui tingkat
efisiensi usahatani.
• Menganalisis kelayakan usaha • Dilakukan pada usaha
pendederan ikan kerapu macan pendederan ikan, tidak pada
Herlina
ditinjau dari aspek finansial, pembesaran.
aspek pasar, aspek teknis, dan
aspek manajemen.
III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis


3.1.1 Analisis Kelayakan Investasi

Pengertian proyek pertanian menurut Gittinger (1986) adalah kegiatan

usaha yang rumit karena penggunaan sumberdaya untuk memperoleh keuntungan

atau manfaat. Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya

suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan dengan

berhasil. Karena sumber-sumber yang tersedia bagi pembangunan terbatas, maka

perlu diadakan pemilihan diantara berbagai macam proyek yang dapat

diusahakan. Tujuan utama dilakukannya studi kelayakan proyek adalah untuk

menghindari kesalahan investasi yang memakai dana relatif besar yang pada

akhirnya tidak memberikan keuntungan secara ekonomi.

Manfaat yang diharapkan dari studi kelayakan proyek adalah memberikan

masukan informasi kepada pengambil keputusan untuk memutuskan dan menilai

alternatif proyek investasi yang akan dilakukan. Analisis yang bisa digunakan

dalam menganalisis kelayakan suatu investasi, yaitu analisis finansial dan analisis

ekonomi.

Dalam melaksanakan analisis proyek terdapat aspek-aspek yang saling

berkaitan dan secara bersama-sama menentukan keuntungan yang diperoleh dari

suatu investasi tertentu. Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), beberapa aspek

yang mempengaruhi kelayakan suatu proyek adalah aspek pasar, aspek teknis,

aspek keuangan, aspek hukum, dan aspek ekonomi suatu negara.

Aspek pasar dan pemasaran melihat tentang permintaan dan penawaran,

harga, program pemasaran dan perkiraan penjualan yang bisa dicapai oleh usaha.
Aspek teknis berhubungan dengan hal-hal teknis yang diperlukan dalam suatu

proyek, seperti alat-alat yang digunakan, fasilitas produksi, dan lokasi. Aspek

keuangan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan dana yang dibutuhkan

untuk usaha. Aspek hukum berhubungan dengan segala sesuatu yang menyangkut

hukum dan ketentuan yang berlaku di negara tempat proyek akan dilaksanakan.

Kelayakan aspek-aspek diatas akan menentukan apakah suatu usaha yang

akan dianalisis layak atau tidak diusahakan. Aspek-aspek yang akan dianalisis

dalam penelitian ini adalah aspek finansial, aspek pasar, dan aspek teknis.

3.1.1.1 Analisis Kelayakan Finansial

Analisis aspek finansial merupakan analisis manfaat-biaya yang berpusat

pada hasil dari modal yang ditanamkan dalam proyek dan merupakan penerimaan

langsung bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaannya (Kadariah, 1980).

Analisis finansial penting dalam memperhitungkan insentif bagi orang-orang yang

terlibat langung dalam pelaksanaan proyek yang dilaksanakan.

Menurut Gittinger (1986), unsur-unsur dalam analisis finansial antara lain:

1. Harga yang digunakan adalah harga pasar

2. Pembayaran transfer, yaitu pajak merupakan biaya proyek dan sebagai

pengurang laba. Subsidi akan mengurangi biaya proyek sehingga menambah

manfaat proyek

3. Waktu perolehan return (penerimaan)

4. Kelayakan investasi
3.1.1.2 Analisis Kelayakan Pasar

Gittinger (1986) menyatakan bahwa analisis kelayakan usaha dilakukan

terhadap kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan rencana pemasaran suatu

produk dan rencana penyediaan input produksi. Pemasaran adalah suatu proses

sosial dan manajerial, dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan

dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan, dan bertukar sesuatu

yang bernilai (Kotler, 2005). Para pemasar menggunakan sejumlah alat untuk

mendapatkan tanggapan yang diinginkan dari pasar sasaran mereka. Alat-alat itu

membentuk suatu bauran pemasaran. Bauran pemasaran adalah seperangkat alat-

alat yang digunakan perusahaan secara terus menerus untuk mencapai tujuan

pemasarannya di pasar sasaran. Alat-alat itu diklasifikasikan dan dikenal dengan

istilah empat P, yaitu product (produk), price (harga), place (tempat), dan

promotion (promosi) (Kotler, 2005).

Pangsa pasar (market share) juga termasuk aspek yang harus dikaji untuk

mengetahui berapa besar permintaan pasar dan berapa yang mampu dipasok oleh

produsen, terutama produsen ikan kerapu dari Kepulauan Seribu umumnya dan

Pulau Panggang pada khususnya. Setelah pangsa pasar diketahui, dapat dilihat

posisi para petani karamba di Pulau Panggang di pasar sehingga dapat disusun

langkah-langkah strategis untuk memperbaiki posisi petani karamba untuk

menambah pangsa pasarnya.

3.1.1.3 Analisis Kelayakan Teknis

Analisis teknis berhubungan dengan input proyek (penyediaan) dan output

(produksi). Menurut Gittinger (1986), analisis ini meliputi keadaan tanah dan
potensinya, ketersediaan air, varietas benih yang cocok dengan areal proyek,

pengadaan produksi, mekanisasi, pemupukan, dan alat-alat kontrol yang

diperlukan. Variabel utama yang perlu diperhatikan pada aspek teknis adalah

ketersediaan bahan baku, letak pasar yang dituju, tenaga kerja dan transportasi.

Sistem agribisnis yang dimulai dari hulu, on farm, dan hilir dapat juga

diterapkan pada budidaya ikan kerapu KJA untuk membantu peningkatan efisiensi

dan produktivitas budidaya ikan kerapu KJA sehingga hasil yang didapat oleh

petani dapat meningkat. Selain itu petani juga dapat lebih meningkatkan mutu

produknya karena sistem agibisnis adalah sebuah sistem yang sangat terstruktur

sehingga hasil yang didapatkan lebih maksimal.

3.1.1.4 Analisis Dampak Terhadap Lingkungan

Analisis dampak terhadap lingkungan adalah analisis yang dilakukan

terhadap perubahan-perubahan lingkungan perairan yang terjadi pada saat usaha

budidaya ikan kerapu macan dengan sistem KJA dilaksanakan. Parameter yang

dianalisis meliputi kecerahan air dan kandungan kimia perairan serta dampaknya

terhadap jalur pelayaran/bersandarnya kapal.

3.1.2 Teori Biaya dan Manfaat

Dalam analisis proyek, tujuan analisis harus disertai dengan definisi

mengenai biaya dan manfaat. Biaya adalah segala sesuatu yang mengurangi suatu

tujuan, dan manfaat adalah sesuatu yang membantu tujuan (Gittinger, 1986).

Biaya-biaya yang umumnya dimasukkan dalam perhitungan analisis usaha

pertanian adalah biaya-biaya yang berpengaruh langsung terhadap suatu investasi,


seperti biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi adalah pengeluaran

untuk pembangunan yang tahan lama seperti bangunan, mesin, peralatan dan

biaya untuk penggantiannnya. Biaya operasional merupakan biaya yang

dikeluarkan untuk menjalankan perusahaan seperti biaya bahan baku, upah tenaga

kerja langsung, pemeliharaan, dan pembayaran kembali (angsuran bunga dan

angsuran pokok serta pajak).

Manfaat adalah sesuatu yang dihasilkan oleh suatu kegiatan yang

menggunakan sejumlah biaya. Manfaat yang dihitung merupakan manfaat yang

dapat diukur (tangible) dari hasil penjualan produk. Menurut Kadariah (1980),

manfaat dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :

a. Manfaat langsung (direct benefit) yang diperoleh dari adanya kenaikan nilai

output, fisik, dan atau penurunan biaya.

b. Manfaat tidak langsung (indirect benefit) yang disebabkan oleh adanya proyek

tersebut biasanya dirasakan oleh orang tertentu beserta masyarakat berupa

adanya efek berganda (multiplier) dan skala ekonomi yang lebih besar,

misalnya perubahan dalam produktifitas tenaga kerja yang disebabkan oleh

keahlian.

c. Manfaat yang tidak dapat dilihat dan sulit dinilai dengan uang (intangible

effect), misalnya perbaikan lingkungan hidup.

3.1.3 Analisis Sensitivitas

Menurut Gittinger (1986), analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat

sampai berapa persen penurunan harga atau kenaikan biaya yang terjadi dapat

mengakibatkan perubahan dalam kriteria investasi, yaitu dari layak menjadi tidak
layak dilaksanakan. Dalam analisis ini setiap kemungkinan harus dicoba, hal ini

diperlukan karena analisis proyek didasarkan pada proyeksi-proyeksi yang

mengandung banyak ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi di masa depan.

Perubahan-perubahan yang perlu diperhatikan adalah : (1) perubahan harga jual

produk; (2) keterlambatan pelaksanaan proyek; (3) kenaikan biaya; (4) perubahan

volume produksi.

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional

Melihat prospek budidaya kerapu yang cukup tinggi, banyak individu

maupun perusahaan tertarik untuk mengusahakan budidaya ini. Tetapi karena

masih rendahnya tingkat pengetahuan mengenai kerapu dan budidaya kerapu

khususnya dengan menggunakan sistem KJA, banyak calon pengusaha yang

kurang berminat berinvestasi di bidang ini.

Kepulauan Seribu, khususnya Pulau Panggang merupakan daerah yang

sangat potensial untuk melakukan usaha budidaya kerapu dengan menggunakan

sistem KJA. Sampai saat ini hanya sedikit pengusaha maupun individu yang

melakukan usaha budidaya ini, sehingga menarik untuk dikaji apakah usaha

budidaya kerapu dengan menggunakan sistem KJA layak atau tidak layak

diusahakan di Pulau Panggang.

Aspek-aspek yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah aspek

finansial, aspek teknis, dan aspek pasar. Kriteria yang digunakan dalam menilai

kelayakan suatu proyek antara lain Net Present Value (NPV), Net Benefit-Cost

Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Periode. Kerangka

pemikiran operasional analisis kelayakan usaha budidaya kerapu dengan sistem

KJA pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 7.


• Penurunan Jumlah Ikan Kerapu Hasil Tangkapan
Langsung
• Teknik Budiadaya Ikan Kerapu Yang
Masih Belum Benar
• Kekurangan Modal dan Bibit Ikan Kerapu Macan
• Kelebihan Ikan Kerapu hasil Budidaya dibanding
Tangkapan Langsung

Budidaya Ikan Kerapu


Macan Dengan Sistem KJA

Analisis Kelayakan Usaha

Analisis Analisis Analisis Analisis


Aspek Teknis Aspek Pasar Aspek Finansial Dampak Lingkungan

Layak Tidak Layak

Pengembangan Usaha Budidaya


Ikan Kerapu Macan Evaluasi dan Saran
Dengan Sistem KJA

Gambar 7 Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Kelayakan Usaha Budidaya


Ikan Kerapu Macan Dengan Sistem KJA
IV METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang,

Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu,

DKI Jakarta. Lokasi penelitian ini ditetapkan dengan sengaja (purposive). Pulau

Panggang dipilih sebagai lokasi penelitian karena budidaya kerapu dengan

menggunakan sistem KJA di Kepulauan seribu paling banyak berada disini

walaupun jumlahnya belum terlalu banyak. Penelitian ke lapangan dilakukan pada

bulan Maret 2008.

4.2 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data

sekunder. Data primer yang digunakan berupa cross section data. Data diperoleh

melalui pengamatan langsung terhadap kegiatan produksi dan wawancara

menggunakan kuesioner. Responden yang diambil dilihat berdasarkan jumlah

petak keramba dominan yang dimiliki oleh petani budidaya KJA. Data primer

yang diperoleh adalah biaya investasi, biaya operasional, dan pendapatan

pembudidaya. Data sekunder berasal dari beberapa sumber serta buku-buku yang

dapat dijadikan referensi yang relevan terhadap penelitian ini. Data sekunder yang

digunakan antara lain kondisi fisika perairan Pulau Panggang, teknik budidaya

ikan kerapu, jumlah produksi, dan ekspor ikan kerapu.


4.3 Metode Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan secara

deskriptif dan kuantitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis data

dari aspek pasar dan aspek teknis, dan analisis dampak lingkungan sedangkan

analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisis data finansial.

4.4 Analisis Kelayakan Investasi

Analisis finansial merupakan analisis untuk menilai proyek dari suatu

badan atau orang-orang yang berkepentingan langsung dengan proyek. Asumsi-

asumsi yang digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis aspek finansial

usaha budidaya ikan kerapu macan dengan sistem KJA di Pulau Panggang

meliputi:

a. Penentuan umur ekonomis proyek didasarkan kepada umur investasi yang

paling lama yaitu perahu selama lima tahun. Hal ini dilakukan dengan asumsi

selama investasi masih ada dan dapat digunakan maka usaha akan tetap bisa

berjalan.

b. Penentuan discount factor (DF). DF yang digunakan dalam penelitian ini

merupakan tingkat suku bunga deposito pada bulan Februari sampai Agustus

2008 (suku bunga deposito Bank Mandiri) yaitu sebesar 5,25 persen.

c. Harga produk yang digunakan adalah harga yang berlaku di pasar pada saat

penelitian dilakukan sebesar Rp 120.000 - Rp 125.000.

d. Faktor-faktor yang diukur dalam analisis sensitifitas adalah kenaikan biaya

pembelian bibit ikan kerapu dan penurunan survival rate (SR) ikan kerapu
macan sebesar sepuluh persen berdasarkan inflasi rata-rata pada tahun 2007

sampai maret 2008 sebesar delapan persen4).

Analisis kelayakan finansial yang sering digunakan dalam penilaian

kegiatan produksi (proyek) adalah :

a. Net Present Value (NPV)

Net Present Value (Nilai bersih sekarang) adalah jumlah nilai arus tunai

pada waktu sekarang setelah dikurangi dengan modal investasi yang dianggap

sebagai biaya investasi selama waktu tertentu, atau selisih antara total present

value dari benefit dengan total present value dari cost. Secara matematis

pengertian diatas dapat diformulasikan sebagai berikut :

NPV = Present Value Benefit – Present Value Cost


atau :

n Bt − Ct
NPV = ∑
t =0 (1 + i) t

Dimana : Bt = Benefit bruto proyek pada tahun t

Ct = Biaya bruto proyek pada tahun t

i = Suku bunga

t = 0,1,2,3,...,n

Proyek dapat dijalankan apabila nilai NPV ≥ 0. Jika NPV = 0, berarti

proyek tersebut mengembalikan sebesar Social Opportunities of Capital. Jika

NPV < 0, berarti proyek tidak layak untuk dilaksanakan karena ada penggunaan

lain yang lebih menguntungkan untuk sumber-sumber yang akan dipergunakan

untuk proyek tersebut.


b. Internal Rate of Return (IRR)

IRR adalah tingkat suku bunga suatu usaha dalam jangka waktu tertentu

(i rate) yang membuat NPV dari proyek sama dengan nol. Analisis ini bertujuan

untuk mengetahui tingkat keuntungan internal yang diperoleh dari investasi yang

ditanamkan. Secara matematis formulasi dari IRR adalah sebagai berikut :

⎛ ⎞
⎟ × (i"−i ')
NPV '
IRR = i '+⎜
⎝ NPV '− NPV " ⎠

Keterangan :

I’ = Tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV positif

i” = Tingkat suku bunga yang menghasilkan NPV negatif

NPV’ = NPV pada tingkat bunga i’

NPV” = NPV pada tingkat bunga i’”

Apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat diskonto (discount rate/DR) yang

berlaku, maka dari aspek finansial usaha layak untuk dilaksanakan. Pada

penelitian ini tingkat DR yang digunakan sebesar 5,25% yang merupakan tingkat

suku bunga deposito Bank Mandiri yang berlaku mulai 25 Februari 2008 sampai

dengan 31 Agustus 2008.

c. Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C)

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui berapa besarnya penerimaan

dibandingkan dengan pengeluaran selama umur ekonomis proyek. Net B/C

merupakan perbandingan antara total nilai sekarang dari penerimaan bersih yang

bersifat positif (Bt – Ct > 0) dengan total nilai sekarang dari penerimaan yang

bersifat negatif (Bt – Ct < 0). Untuk menghitung indeks terlebih dahulu dihitung
Bt − Ct
untuk setiap tahun t. Lalu Net B/C merupakan perbandingan sedemikian
(1 + i) t

rupa sehingga pembilangnya terdiri atas Present Value total dari benefit bersih

dalam tahun-tahun dimana benefit bersih itu bersifat positif, sedangkan

penyebutnya terdiri atas Present Value total dari biaya bersih dalam tahun-tahun

dimana benefit bersih itu bersifat negatif yaitu biaya kotor lebih besar daripada

benefit kotor. Secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut :

n
Bt − Ct Bt − Ct
∑ (1 + i)
t =1
t
(1 + i ) t
> 0
Net B/C = n
Ct − Bt
∑ (1 + i)
t =1
t
Ct − Bt
(1 + i ) t
< 0

Jika Net B/C >1 berarti usaha layak untuk diusahakan, apbila Net B/C = 1 berarti

usaha hanya mengembalikan sebesar jumlah modal yang dipakai, dan apabila Net

B/C <1 berarti usaha tidak layak untuk diusahakan.

d. Payback Periods (PP)

Analisis ini dilakukan untuk melihat waktu pengembalian investasi dengan

cara membandingkan investasi dengan keuntungan selama satu tahun. Formulasi

untuk mendapatkan nilai payback periods adalah sebagai berikut:

Investasi
PP =
Keuntungan
4.5 Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas adalah suatu alat analisis untuk menguji secara

sistematis perubahan pada kapasitas penerimaan suatu proyek apabila terjadi

perubahan atau adanya perbedaan dengan perkiraan-perkiraan yang dibuat dalam

perencanaan. Analisis sensitivitas diperlukan karena pada setiap proyek pasti

terdapat unsur ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi dimasa yang akan

datang.

Untuk penelitian ini akan dilakukan uji sensitivitas terhadap perubahan

harga bibit kerapu sebesar sepuluh persen berdasarkan tingkat inflasi rata-rata

sebesar delapan persen, dan perubahan tingkat SR ikan kerapu macan sebesar 10

persen. Dengan adanya analisis ini dapat diketahui sampai berapa besar perubahan

yang berada dalam batas toleransi proyek yang dilaksanakan.


V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5.1 Potensi Sumber Daya Manusia

Kelurahan Pulau Panggang terdiri atas dua pulau pemukiman yaitu pulau

Panggang dan Pulau Pramuka. Di Pulau Panggang jumlah penduduk adalah

sebesar 3.301 orang, sedang di Pulau Pramuka jumlah Penduduk sebesar 963

orang. Dengan demikian jumlah penduduk Kelurahan Pulau Panggang Tahun

2001 sebesar 4.264 orang. Bila dilihat dari komposisi pekerjaannya pada tahun

2001 di Kelurahan Pulau Panggang sebagai berikut pada Tabel 6.

Tabel 6 Komposisi Pekerjaan Kepala Keluarga di Kelurahan Pulau Panggang


Tahun 2001 (KK)

No Jenis Pekerjaan Jumlah KK Persentase


1 Perikanan 847 77,40
2 Perdagangan 45 4,11
3 Pegawai 152 13,9
4 Jasa 22 2,01
5 Lainnya 28 2,56
6 Total 1.094 100,00
Sumber : Sudin Perikanan Kepulauan Seribu, 2005

Dari jumlah penduduk sebesar 4.264 orang di kelurahan P. Panggang, yang

sudah bekerja sebesar 2.015 orang atau 47,9 persen. Dari jumlah penduduk yang

sudah bekerja tersebut, maka komposisi perkerjaannya adalah sebagai berikut

pada Tabel 7.
Tabel 7 Komposisi Pekerjaan Penduduk Kelurahan Pulau Panggang Tahun 2001
No Jenis Perkerjaan Jumlah (orang) Persentase
1 Nelayan 1.727 86,71
2 Pedagang 49 2,43
3 Buruh 21 1,04
4 PNS 192 9,53
5 TNI/Polri 4 0,19
6 Lain-lain 22 1,09
Total 2.015 100,00
Sumber : Sudin Perikanan Kepulauan Seribu, 2005

5.2 Karakteristik Nelayan Kelurahan Pulau Panggang

Nelayan di Pulau Panggang bisa dibedakan menurut jenis ikan yang

ditangkapnya, peralatan yang digunakan, dan menurut status nelayan. Menurut

jenis ikan, terdapat beberapa jenis nelayan yaitu :

• Nelayan ikan hias,

• Nelayan udang,

• Nelayan cumi,

• Nelayan ikan tongkol,

• Nelayan kerapu

• Nelayan musiman yang menangkap apa adanya tergantung musim.

Dari jenis alat tangkap, bisa dikelompokan menjadi :

• nelayan pancing,

• Nelayan bubu,

• Nelayan jaring,

• Nelayan muroami. dan


• Nelayan jaring tegur

Selain itu nelayan juga bisa dikelompokkan berdasarkan status nelayan yaitu :

• Nelayan mandiri,

• Nelayan yang bekerja untuk pemilik kapal yang biasanya masih milik

keluarga,

• Nelayan pekerja yang digaji,

• Nelayan bagi hasil, serta

• Nelayan yang melaut sebagai upaya mendapatkan tambahan penghasilan.

Bagaimana anatomi sosial nelayan umumnya 14,29 persen persen, mereka

adalah lulusan sekolah dasar. Semakin tinggi pendidikan persentase sebagai

nelayan semakin berkurang yaitu 4,76 persen lulusan SLTP, 4,76 persen lulusan

SMU dan sisanya adalah tidak lulus SD 76,19 persen. tingkat pendidikan nelayan

di Pulau Panggang dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Pendidikan Nelayan Pulau Panggang


Tidak Perguruan
Lokasi SD SLTP SMU
Tamat SD Tinggi
Persentase 76,19 14,29 4,76 4,76 -
Sumber : Sudin Perikanan Kepulauan Seribu, 2005

Berdasarkan alat tangkap yang digunakan, terlihat bahwa nelayan yang

menggunakan alat tangkap perangkap dalam hal ini umumnya bubu menempati

urutan pertama terbesar yaitu sekitar 43 persen sedangkan yang paling sedikit

adalah nelayan yang menggunakan alat tangkap pengumpul (bagan) sebagaimana

dilihat pada Tabel 9 berikut ini.


Tabel 9 Persentase Nelayan Menurut Penggunaan Alat Tangkap

Perangkap Pengumpul
Alat Tangkap Jaring Pancing Muroami
(bubu) (bagan)
Persentase 34,76 44,99 14.,29 4,76 1,2
Sumber : Sudin Perikanan Kepulauan Seribu 2005

Umumnya (62 persen) nelayan di Pulau Panggang melakukan

perjalanan/penangkapan dalam satu hari perjalanan (satu trip dilakukan satu

hari),ini terutama nelayan ikan hias. Hanya sekitar 10 persen yang melakukan

penangkapan lebih dari satu minggu dalam satu tripnya. Berdasarkan klasisifikasi

melaut, Nelayan Pulau Panggang dapat dibedakan atas:

• Melaut satu hari (pagi sampai sore) dan pada hari keduanya libur,

• Melaut tiap hari melaut, tetapi hanya setengah hari.

• Bila berencana melaut lebih dari satu hari maka yang mereka lakukan

umumnya adalah melaut enam hari. Mereka tidak melaut pada hari Jumat

{namun ketentuan hari Jumat tidak melaut sudah mulai tidak diberlakukan

lagi sejak akhir tahun 80-an)

5.3 Nelayan dan Pembudidaya di Pulau Panggang

Aktivitas nelayan di Pulau Panggang terdiri dari nelayan pancing, nelayan

bubu, pengusaha nelayan jaring muroami, dan pengusaha nelayan jaring tegur.

Nelayan dapat dikategorikan dalam dua bagian, pertama adalah kelompok nelayan
tangkap, sedangkan kelompok kedua adalah kelompok nelayan budidaya yang

hanya menekuni budidaya rumput laut dan budi daya ikan kerapu.

Dalam hal memanfaatkan peluang yang ada, dukungan keterampilan dan

pengalaman sangat menentukan. Saat ini kegiatan perikanan budidaya telah

dilakukan oleh masyarakat Pulau Panggang, namun keberhasilan budidaya

rumput laut yang pernah dinikmati, saat ini telah surut, karena masalah penyakit

ice-ice yang belum diketahui cara mengatasinya. Demikian pula pembudidayaan

ikan kerapu yang telah dicobakan atas bantuan pemerintah selama empat tahun

terakhir, sebagian besar gagal. Kegagalan yang terjadi diidentifikasi karena aspek

teknis maupun penyebab aspek non teknis. Beberapa aspek teknis yang menjadi

penyebab kegagalan pembudidayaan kerapu adalah : kualitas benih yang rendah

dan teknik budi daya yang belum tepat. Sedang aspek non teknis diantaranya

adalah : institusi kelompok dalam pengelolaan yang gagal, penguasaan teknologi

budidaya yang belum dikuasai pembudidaya ikan sepenuhnya, dan lain-lain.

Kekurangan dari berbagai bantuan proyek selama ini adalah (1)

Pendampingan; dari pihak dinas terkait dalam implementasi proyek, sehingga

kesulitan teknis di lapangan tidak dapat diantisipasi oleh nelayan; (2) Organisasi;

dalam hal pengorganisasian nelayan belum mengenal budaya organisasi yang

baik, sehingga masing-masing anggota saling menyalahkan jika ada sesuatu yang

tidak sesuai dengan harapan (perencanaan), hal ini berpengaruh besar pada

keberhasilan proyek-proyek terdahulu; (3) Aturan main; antara pihak yang terlibat

belum bisa dijalankan, karena kepentingan-kepentingan yang berbeda belum

terkoordinasikan dengan baik. Untuk aturan main konservasi sudah ada inisiasi

daerah perlindungan laut (DPL), sedangkan jaring tegur yang diinisiasikan


nelayan ikan hias sudah berjalan lebih lama, seiring dengan penggantian alat

tangkap dari penggunaan sianida dan potas ke jaring tegur.

Berbagai proyek yang gagal lebih banyak disebabkan oleh aturan main yang

tidak jelas atau tidak dijalankan oleh si pembuat. Pengalaman berkelompok

selama ini tidak begitu mengesankan bagi orang pulau, mungkin disebabkan oleh

homgenitas masyarakat yang tinggi, sehingga kohesifitas sosial yang berkaitan

dengan evaluasi dan saling tegur menjadi rendah, sebab utamanya mereka enggan

dan sungkan karena sebagian masyarakat Pulau Panggang adalah bersaudara

(memiliki hubungan kekerabatan).

Sebab lain adalah pihak pembina atau pemerintah kurang optimal

menyiapkan kelembagaan terlebih dahulu sesuai dengan aspirasi dan kondisi

masyarakat. Pengertian tentang organisasi dan aturan main adalah pemahaman

mereka (dinas) bukan pemahaman orang pulau. sehingga, misalnya, pengertian

tentang koperasi (cooperative-kerjasama) lebih banyak dipahami sebagai

membangun organisasi (Badan Hukum) kopeasi dibadingkan menanamkan aturan

main—nilai-nilai koperasi itu sendiri.

Permasalahan lain terutama dalam kaitannya dengan budidaya (sebagai

alternatif budaya tangkap) adalah (1) Kurangnya kesabaran pembudidaya dalam

pemeliharaan ikan, maupun pemeliharaan fasilitas (karamba) (2) Tidak ada

insentif selama masa produksi dan panenan, sehingga pembudidaya masih enggan

mengembangkan budaya tangkap, (3) Ketidakpercayaan dikalangan mereka

sendiri jika ladang/karamba terlalu banyak yang mengurus, mereka sampai saat ini

memiliki keyakinan bahwa kelompok yang paling baik adalah dua. Dua orang
atau banyak namun memiliki tanggungjawab sendiri-sendiri di dalam mengelola

karamba, baik dalam hal pemberian pakan, pemelihraan dan lain-lain.

Dampak yang terlihat dalam pengelolaan karamba/bagan selama ini adalah

dampak lingkungan dimana banyak bangkai karamba yang dibiarkan, sehingga

mengganggu arus lalu lintas kapal dan mengganggu pemandangan bagi turis yang

ingin menikmati pemandangan.

Dilihat dari sisi penghasilan para nelayan berdasarkan alat tangkap maka

terlihat bahwa nelayan jaring kecil dan nelayan muroami memiliki keuntungan

rata-rata terbesar, sedangkan nelayan perangkap memiliki keuntungan terkecil

pertrip-nya (sehari). Penghasilan rata-rata nelayan berdasarkan alat tangkap secara

jelas diterangkan pada Tabel 10.

Tabel 10 Penghasilan Rata-rata Nelayan Berdasarkan Alat Tangkap


Lama Trip (Hari) Alat tangkap Nilai tangkap Biaya Untung
1 Pancing 655.000 56.000 599.000
6 Muroami 2.000.000 464.000 1.536.000
1 Perangkap 24.000 23.500 500
6 Jaring Kecil 2.180.000 560.000 1.620.000
1 Bubu 69.000 16.923 52.077
Sumber : Sudin Perikanan Kepulauan Seribu, 2005

5.4 Permasalahan Nelayan di Pulau Panggang

Kesulitan untuk memperoleh ikan (baik nelayan ikan hias dan nelayan

ikan makan), penyebabnya menurut nelayan adalah banyaknya nelayan dari pulau

lain (diluar kepulauan seribu) seperti Bangka Belitung dan Madura, Makassar

yang menggunakan alat tangkap lebih besar (canggih) dari mereka. Penyebab

kedua adalah terjadinya overfishing yang menurut nelayan sudah terasa


dampaknya sejak awal 1990. Sebagian besar ikan dijual di luar kepulauan seribu

sehingga struktur harga ditentukan oleh pihak luar.

Khusus untuk nelayan ikan hias mereka masih melihat pemakaian potas

sebagai sebab utama menurunnya hasil tangkapan dalam 20 tahun terakhir.

Keadaan ini menyebabkan generasi baru Pulau Panggang tidak tertarik dengan

kegiatan nelayan, mereka lebih suka menjadi buruh, atau PNS di darat.

Kegiatan ekonomi lain yang banyak adalah perdagangan (yaitu) berdagang

barang-barang konsumsi yang sumbernya diambil dari Jakarta Utara (Pasar

Angke). Kegiatan ini meliputi penjualan barang konsumsi (pangan) dan pakaian.

Sedangkan barang-barang elektronik biasanya langsung dibeli oleh masyarakat

Pulau Panggang dari kota dan dibawa langsung ke Pulau.


VI ANALISIS KELAYAKAN USAHA

6.1 Analisis Aspek Pasar

Analisis terhadap aspek pasar budidaya ikan kerapu macan di Pulau

Panggang dilakukan dengan melihat potensi permintaan dan penawaran di pasar.

Kelangsungan usaha budidaya ikan kerapu macan sangat tergantung oleh

keberhasilan memasarkan produk hasil dari budidaya tersebut.

Pasar ekspor kerapu dunia pada umumnya adalah negara-negara yang

banyak terdapat etnis chinesse karena kerapu merupakan makanan tradisi dari

etnis tersebut. Negara-negara tersebut antara lain China, Hongkong,

Taiwan,Singapura, dan Jepang. Pasar terbesar ikan kerapu adalah Hongkong.

Setiap tahunnya, Hongkong mengimpor ikan kerapu hidup dalam jumlah yang

besar dari mancanegara, seperti Australia, Malaysia, Filipina dan Indonesia

sebesar 30.000 ton. (DKP, 2005). Ukuran kerapu yang paling banyak diminati di

pasar Hongkong adalah ukuran 500-1.200 gram per ekor (Dish size). Permintaan

ikan kerapu Hongkong juga berkaitan dengan siklus ekonomi dan budaya

masyarakat Hongkong. Permintaan ikan kerapu tertinggi umumnya menjelang

tahun baru Imlek (tahun baru china) yang jatuh antara bulan Desember - Februari.

Permintaan terendah akan terjadi pada saat hari raya Ching Bing (mengunjungi

makam para leluhur) sebab saat itu masyarakat Hongkong sangat dipantangkan

memakan ikan selama 4 hari berturut-turut.

Indonesia sebagai Negara penghasil kerapu terbesar kedua di dunia masih

belum mampu untuk memenuhi permintaan pasar dari Negara-negara diatas


dikarenakan jumlah tangkapan langsung ikan kerapu dari laut cenderung

mengalami penurunan dan hasil dari budidaya belum cukup tinggi. Ekspor ikan

kerapu Indonesia dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Ekspor Nasional Kerapu


Tahun Volume (Ton) Pertumbuhan (%)
1997 338,58 -
1998 349,84 3,25
1999 395,80 13,13
2000 252,60 -36,17
2001 195,00 -22,80
2002 185,50 -5,02
2003 205,20 10,61
2004 215,00 4,78
Rata-rata 267,19 -4,03
Sumber : Statistik Kelautan dan Perikanan, 2005

Pertumbuhan produksi ikan kerapu di Kepulauan Seribu menunjukkan nilai

yang positif, namun pembudidaya menghadapi beberapa kendala sehubungan

dengan budidaya ikan kerapu macan dengan sistem KJA. Kendala yang dihadapi

antara lain adalah sulitnya memperoleh bibit dalam kualitas dan kuantitas yang

memenuhi syarat budidaya. Rendahnya ketersediaan bibit ini dikarenakan masih

sedikit pembudidaya yang berhasil untuk membudidayakan kerapu macan. Hal ini

disebabkan oleh sifat kanibal yang dimiliki oleh kerapu macan selama masa

pendederan.

Pasokan bibit ikan kerapu di Pulau Panggang masih sangat bergantung dari

Gondol (Bali) dan Situbondo. Di Pulau Panggang juga ada pembenih (hatchery)

ikan kerapu macan yaitu Nuansa Ayu Karamba, tetapi jumlah bibit ikan kerapu

macan siap tanam (ukuran 11-15 cm) yang dipasarkan masih dalam jumlah yang

sangat rendah. Biasanya pembenih ini menjual bibit ikan kerapu macan ukuran 3-
5 cm sehingga dibutuhkan pembesaran/penggelondongan terlebih dahulu sebelum

bibit siap dimasukkan kedalam KJA.

Di Pulau Panggang hasil panen budidaya ikan kerapu macan biasanya

langsung dijual kepada pedagang pengumpul (tengkulak) yang juga berasal dari

Pulau Panggang atau dari Pulau Pramuka. Adapun rantai pemasaran ikan kerapu

macan hasil budidaya di Pulau Panggang dapat dilihat pada Gambar 8.

Nelayan Pembudidaya Penampung di Pulau (Tengkulak)/


Kerapu Konsumen

Gambar 8 Rantai Pemasaran Ikan Kerapu Macan Hasil Budidaya


di Pulau Panggang

Ikan kerapu macan yang dipanen biasanya berusia delapan sampai sepuluh

bulan dengan berat rata-rata 0,7 – 0,8 kilogram. Petani KJA di Pulau Panggang

tidak pernah kesulitan untuk menjual hasil panen ikan kerapu macan hasil

budidaya ini karena para pedagang pengumpul mampu membeli seluruh ikan hasil

panen dengan harga yang berlaku di pasar.

Petani KJA kebanyakan tidak menjual hasil budidayanya langsung ke

Jakarta walaupun harga yang ditawarkan lebih tinggi dikarenakan biaya

transportasi dan biaya pengepakan ikan yang cukup tinggi. Selain itu resiko

kematian ikan pada saat dibawa juga cukup tinggi, sedangkan pembeli atau

pedagang pengumpul hanya mau membeli ikan kerapu macan dalam keadaan

hidup.

Harga ikan kerapu macan di Pulau Panggang berkisar antara Rp 120.000

sampai Rp 125.000 per kilogram, sedangkan di Jakarta berkisar antara Rp 130.000

per kilogram. Pada saat penjualan, pedagang pengumpul langsung datang ke


lokasi KJA petani untuk pengambilan ikan kerapu macan sehingga petani tidak

memiliki resiko kematian ikan setelah panen.

6.1.1 Keputusan Kelayakan Berdasarkan Aspek Pasar

Berdasarkan gambaran diatas, maka dapat disimpulkan bahwa peluang

usaha budidaya ikan kerapu macan di Pulau Panggang masih sangat besar dan

layak untuk diusahakan karena hasil produksi ikan kerapu macan hasil KJA sudah

memiliki pembeli yang pasti dan mampu membeli dalam jumlah yang tidak

terbatas. Selain itu sistem pembelian langsung ke lokasi KJA juga menyebabkan

petani tidak memiliki resiko kematian ikan kerapu macan. Untuk pasar ekspor

juga peluang masih sangat terbuka karena jumlah ekspor Indonesia masih sangat

jauh dibandingkan permintaan pasar, khususnya dari Hongkong.

6.2 Analisis Aspek Teknis

Analisis aspek teknis dilakukan terhadap teknik budidaya ikan kerapu

macan dengan sistem KJA, kegiatan kegiatan yang bersifat teknis dalam

pengadaan input, dan pemilihan lokasi KJA yang dilakukan oleh petani budidaya

ikan kerapu macan di Pulau Panggang.

6.2.1 Pemilihan Lokasi Karamba Jaring Apung

Pemilihan lokasi KJA diterapkan di kawasan perairan laut yang memiliki

kedalaman 5-40 meter pada saat surut dan memiliki arus laut dengan kecepatan

0,15-0,35 m/detik dengan substrat dasar berupa pasir atau batu. Arus yang

melebihi batas yang disarankan dapat mempengaruhi posisi dari jaring dan sistem
penjangkaran. Kuatnya arus perairan juga dapat menyebabkan bergesernya posisi

rakit dan sebaliknya arus yang terlalu kecil dapat mengurangi pertukaran air

keluar masuk jaring. Hal ini akan mempengaruhi ketersediaan oksigen terlarut dan

timbulnya penyakit akibat parasit yang berasal dari sisa-sisa pakan yang

mengendap di waring.

Berdasarkan pengamatan dilokasi penelitian, pembudidaya KJA di Pulau

Panggang tidak meneliti terlebih dahulu apakah lokasi KJA mereka telah sesuai

dengan literarur-literatur maupun yang dianjurkan oleh Suku Dinas (Sudin)

Perikanan Kepulauan Seribu seperti kedalaman air dari dasar waring, kecepatan

arus, pencemaran terutama dari kapal dan limbah rumah tangga, dan lain-lain.

Kebanyakan petani budidaya menetapkan lokasi KJA hanya karena melihat lokasi

yang kosong dan ukurannya cocok untuk menempatkan KJA-nya.

Data Sudin Perikanan Kepulauan Seribu daerah yang menjadi lokasi KJA

pembudidaya masih layak diusahakan karena berdasarkan aspek fisika-kimia

perairan masih sesuai dengan standar ketentuan lokasi KJA. Kondisi fisika-kimia

dapat dilihat pada Tabel12.

Tabel 12 Kondisi Fisika, Kimia pulau-pulau di Kelurahan Pulau Panggang,


Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Kepulauan Seribu.
Pulau Pulau
Pulau
No. Parameter Satuan Karang Semak
Panggang
Congkak Daun
I Fisika
o
1 Suhu C 30,2 (29,6)*) 30,2 (29,5) 29,5 (29,5)
2 Kecerahan meter 6 9 8,5
3 Kedalaman meter 10 12,2 11
4 Kekeruhan meter 0,70 (1,00) 0,70 (0,70) 0,60 (0,65)
O
5 Salinitas /oo 32 (31) 32 (32) 32 (32)
0,15-0,40 0,10-0,25 0,15-0,35
Arus m/detik
6 m/detik m/detik m/detik
II Kimia
1 pH 8,21 (8,16) 8,19 (8,14) 8,22 (8,28)
Oksigen
mg/l 7,03 (6,35) 7,03 (5,56) 7,11 (5,65)
2 terlarut (DO)
3 BOD5 mg/l 2,94 (6,43) 3,62 (3,15) 3,59 (3,95)
77,43 73,35
COD mg/l 73,35 (73,35)
4 (73,35) (69,28)
NH3-N 0,031 0,016
mg/l 0,021 (0,031)
5 (NH3+NH4) (0,025) (0,011)
0,006 0,005
Nitrit (NO2-N) mg/l 0,006 (0,011)
6 (0,003) (0,007)
0,030 0,025
Seng (Zn) mg/l 0,028 (0,014)
7 (0,030) (0,022)
Timah hitam 0,009 0,006
mg/l 0,008 (0,008)
8 (Pb) (0,006) (0,005)
0,050 0,026
Tembaga (Cu) mg/l 0,026 (0,026)
9 (0,029) (0,044)
0,025 0,025
Nikel (Ni) mg/l 0,025 (0,034)
10 (0,029) (0,025)
<0,001 <0,001 <0,001
Deterjen mg/l
11 (<0,001) (<0,001) (<0,001)
<0,001 <0,001 <0,001
Phenol mg/l
12 (<0,001) (<0,001) (<0,001)
Sumber : Sudin Perikanan Kepulauan Seribu, 2005
Keterangan: *) angka di dalam kurung adalah hasil pengukuran kualitas air dekat dasar laut di
kawasan laguna.

Dari tabel diatas, kondisi fisika perairan yang meliputi suhu, kecerahan

kolom peraian, kedalaman perairan, tingkat kekeruhan, salinitas dan arus perairan

di Pulau Panggang yang menjadi lokasi budidaya masuk dalam kriteria lokasi

yang layak untuk budidaya ikan kerapu macan denga sistem KJA. Perairan Pulau
Panggang juga memenuhi syarat lokasi karena memenuhi beberapa kriteria

kesesuaian lahan budidaya ikan kerapu macan dengan sistem KJA, yaitu:

a. Perairan yang terlindung dari angina dan gelombang besar.

b. Kedalaman perairan 10 meter sesuai dengan budidaya sistem KJA.

c. Dasar perairan yang berkarang dan berpasir yang merupakan habitat alami

dari ikan kerapu macan.

d. Letak lokasi yang tidak mengganggu jalur pelayaran.

e. Relative dekat dengan sumber pakan alami (rucah)

f. Sarana transportasi yang tersedia.

g. Kecepatan arus 0,15-0,40 m/detik, kecerahan 6 meter, salinitas 32 persen, DO

7,03 mg/l, dan pH 8,21.

6.2.2 Teknik Budidaya Ikan Kerapu dengan Sistem KJA


6.2.2.1 Persiapan Wadah Pemeliharaan

Dalam satu unit KJA terdiri dari empat waring/kotak sebagai wadah

pemeliharaan/pembesaran ikan. Media yang digunakan adalah jaring yang terbuat

dari bahan polyethylen dengan bukaan jaring (mesh size) dua inci. Ukuran waring

yang digunakan adalah 3.5 x 3.5 x 3.5 meter per kotak. Persiapan pembudidaya

dalam persiapan wadah dapat dilihat pada Gambar 9.


Gambar 9 Persiapan Wadah Karamba Jaring Apung

6.2.2.2 Penebaran Bibit

Bibit kerapu macan yang digunakan dalam usaha budidaya di Pulau

Panggang berasal dari sea farming Pulau Semak Daun, Nuansa Ayu Karamba,

Gondol (Bali), dan Situbondo (Jawa Timur). Bibit yang ditebar rata-rata

berukuran 11-15 cm. Penebarannya dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat

suhu air tidak terlalu tinggi. Penebaran bibit pada pagi atau sore hari yang

dilakukan petani budidaya telah sesuai dengan aturan yang dianjurkan untuk

budidaya ikan kerapu macan.

Jumlah bibit yang ditebar adalah dua ratus ekor per kotak sehingga

kepadatan ikan sesuai dengan standar padat tebar ikan yang disarankan. Sebelum

bibit ditebar terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi selama tigapuluh menit. Proses

aklimatisasi dapat dilihat pada Gambar 10.


Gambar 10 Proses Aklimatisasi Ikan Kerapu Macan

6.2.2.3 Pemberian Pakan

Petani budidaya ikan kerapu macan di Pulau Panggang memberikan pakan

rucah dua kali dalam satu hari pada pagi hari pada pukul 08.00-09.00 WIB dan

pada sore hari pada pukul 16.00-17.00 WIB. Pakan yang diberikan adalah ikan

rucah segar yang dibeli atau didapatkan petani dari hasil mencari sendiri. Dosis

pakan rucah yang diberikan petani tidak terukur dengan baik. Pembudidaya

memberikan pakan berdasarkan penglihatan mereka di karamba. Apabila ikan

sudah tidak antusias dalam memakan pakan yang diberikan, maka pembudidaya

akan berhenti memberikan rucah. Petani tidak membandingkan antara biomassa

ikan dan jumlah pakan yang diberikan sehingga jumlah pakan yang diberikan

tidak sesuai dengan ketentuan yang seharusnya. Hal ini menyebabkan tidak

efisiennya jumlah pakan yang diberikan kepada ikan. Aturan pemberian pakan

ikan rucah untuk ikan kerapu dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13 Aturan Pemberian Pakan Ikan Rucah Untuk Ikan Kerapu Macan
Ukuran Ikan (g) Ransum Harian (%BT*) Frekuensi Harian
5-10 15-20 3-4
10-50 10-15 2-3
50-150 8-10 1-2
150-300 6-8 1
300-600 4-6 1
Sumber: Sih-Yang Sim et all, 2005
Keterangan : *) Berat Tubuh

Selain itu pakan yang seharusnya digunting untuk memperkecil ukurannya

hanya dicincang secara kasar oleh pembudidaya. Hal ini mengakibatkan banyak

rucah yang belum terpotong dengan sempurna sehingga ukurannya tidak sesuai

dengan besar bukaan mulut ikan yang dibudidaya. Pakan alami (rucah) yang

diberikan oleh pembudidaya dapat dilihat pada Gambar 11.

Penambahan mulitivitamin yang bertujuan untuk meningkatkan daya tahan

ikan terhadap penyakit sangat jarang dilakukan oleh petani. Pemberian obat hanya

dilakukan pada saat terdapat ada ikan yang sakit atau mati untuk mencegah ikan

yang lain tertular penyakit yang sama.

Gambar 11 Pakan Alami (Rucah) Ikan Kerapu Macan

Petani pembudidaya juga tidak menghitung pertambahan bobot tubuh ikan

berdasarkan jumlah pakan yang diberikan (rasio konversi pakan/FCR). FCR ini

dihitung untuk melihat apakah jumlah pakan yang diberikan sebanding dengan
laju pertambahan bobot ikan sehingga dapat diketahui apakah pemberian pakan

yang diberikan telah efisisen atau belum. FCR dapat dihitung dengan

menggunakan rumus sebagai berikut.

Total pakan yang dikonsumsi


FCR =
Total pertambahan berat ikan

Pada KJA dua kotak rata-rata total pakan yang diberikan 4,17 Kg per ekor

dan bobot awal ikan rata-rata 0,01 Kg per ikan dan bobot pada saat panen 0,8 Kg.

Maka FCR ikan pada KJA dua kotak adalah 5,28.

KJA empat kotak rata-rata total pakan yang diberikan 3,13 Kg per ekor

dan bobot awal ikan rata-rata 0,01 Kg per ikan dan bobot pada saat panen 0,8 Kg.

Maka FCR ikan pada KJA dua kotak adalah 3,96.

Pada KJA enam kotak rata-rata total pakan yang diberikan 2,42 Kg per

ekor dan bobot awal ikan rata-rata 0,01 Kg per ikan dan bobot pada saat panen 0,8

Kg. Maka FCR ikan pada KJA dua kotak adalah 3,06.

Pada penelitian ini tidak dapat dibandingkan FCR antara ikan kerapu

macan dengan pakan rucah dan pelet sebagai perbandingan efektifitas pakan

antara rucah dan pelet karena pembudidaya di Pulau Panggang jarang sekali

memberikan pelet pada ikan kerapu macan.

6.2.2.4 Penyortiran (Sampling)

Penyortiran ikan bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, menentukan

dosis pakan, dan memisahkan ikan yang berukuran sama kedalam satu kotak.
Petani budidaya ikan kerapu macan di Pulau Panggang tidak melakukan

penyortiran ikan.

Hal ini menyebabkan petani tidak mengetahui tingkat pertumbuhan,

pertambahan panjang dan tingkat kelulusan hidup ikan kerapu macan. Ikan yang

berukuran lebih besar juga tidak dipindahkan kedalam satu waring, sehingga

menyebabkan ikan yang lebih besar memangsa ikan yang berukuran lebih kecil

sehingga tingkat kelangsungan hidup ikan menjadi rendah.

Tidak dilakukannya penyortiran dan pemindahan ikan yang berukuran

seragam juga nenyebabkan tingkat kepadatan ikan dalam satu waring tidak

merata. Hal ini dapat menyebabkan tingkat stress ikan yang tinggi.

6.2.2.5 Perbaikan dan Pembersihan Waring

Penggantian dan pembersihan waring selama masa pemeliharaan selalu

dilakukan oleh petani budidaya. Waring kotor akibat penempelan lumpur atau

biota penempel, seperti kerang, teritip, dan alga. Pembersihan dan perbaikan

waring dilakukan dua minggu sekali sampai ikan berumur tiga bulan dan setelah

umur tiga bulan sampai masa panen perbaikan dan pembersihan dilakukan dua

bulan sekali. Proses pembersihan waring dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12 Waring Yang Sedang Dijemur Setelah Dibersihkan

6.2.2.6 Pemanenan

Pada budidaya kerapu macan di Pulau Panggang panen biasanya dilakukan

pada sore hari karena suhu relatif lebih rendah. Metode panen yang dilakukan

adalah panen total, yaitu pemanenan secara keseluruhan yang biasanya dilakukan

untuk memenuhi permintaan dalam skala besar, dan ukuran seluruh ikan telah

memenuhi kriteria jual. Ukuran ikan yang biasanya dipanen berkisar antara 0,5-1

kilogram. Permintaan ukuran ikan di pasar untuk konsumsi berkisar 0.5-1.2

kilogram.

6.2.3 Keputusan Kelayakan Aspek Teknis

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dilapangan, secara teknis

masih banyak yang harus dibenahi dalam budidaya ikan kerapu macan KJA

karena kebanyakan petani masih menggunakan cara tradisional yang beresiko

tinggi menyebabkan kegagalan panen. Hal ini dapat dilihat dari survival rate (SR)

kerapu macan budidaya yang berkisar 53,8-69,8 persen, sedangkan SR kerapu

macan ideal berkisar antara 70-75 persen.


Penyuluhan yang lebih intensif dan pemberian pelatihan mengenai teknik

budidaya ikan kerapu macan dengan sistem KJA dari Sudin Perikanan Kepulauan

Seribu dan pihak lain yang terkait diharapkan mampu meningkatkan ketrampilan

pembudidaya ikan kerapu macan di Pulau Panggang.

6.3 Analisis Dampak Terhadap Lingkungan

Hasil pengamatan dilapangan selama penelitian ini dilakukan, tidak terdapat

perubahan yang signifikan pada kondisi perairan Pulau Panggang yang menjadi

tempat budidaya ikan kerapu macan. Hal ini juga didukung dari hasil penelitian

yang dilakukan oleh Sudin Perikanan dan Kelautan Kepulauan Seribu terhadap

kondisi kimia perairan Pulau Panggang.

Keberadaan KJA juga tidak mengganggu jalur pelayaran/bersandar kapal

karena posisinya yang berada antara 50-150 meter dari garis pantai dan tidak pada

jalur pelayaran. Sisa pakan ikan kerapu macan juga tidak menimbulkan toksik

pada perairan karena pakan tidak mengendap tetapi hanyut terbawa arus.

6.3.1 Keputusan Berdasarkan Analisis Dampak Lingkungan

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis dari data yang ada, maka

budidaya KJA ikan kerapu macan layak untuk dilaksanakan karena tidak

memberikan dampak negatif pada perairan Pulau Panggang dan tidak

mengganggu jalur pelayaran dan bersandar kapal.

6.4 Analisis Aspek Finansial

Analisis aspek finansial yang pertama kali dilakukan adalah identifikasi

komponen-komponen yang digolongkan sebagai biaya dan manfaat, kemudian


menyusun dan menganalisis aliran manfaat dan biaya serta yang terakhir adalah

menganalisis kelayakan investasi berdasarkan pada investasi yang digunakan.

6.4.1 Identifikasi Biaya dan Manfaat


a. Biaya

Biaya-biaya yang dikeluarkan pada usaha budidaya ikan kerapu macan di

Pulau Panggang adalah biaya-biaya yang dapat dikuantifikasi atau biaya yang

berpengaruh langsung. Biaya-biaya yang dihitung pada penelitian ini adalah biaya

investasi dan biaya operasional.

Biaya investasi adalah biaya yang dikeluarkan diawal untuk memperoleh

barang-barang fisik yang akan digunakan dalam jangka waktu yang lama

(umumnya lebih dari satu tahun). Biaya investasi terdiri atas biaya konstruksi

KJA, biaya pembelian peralatan, dan biaya pembuatan perahu.

Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi

KJA ikan kerapu macan. Komponen biaya operasional terbagi atas biaya tunai dan

biaya tidak tunai.

Biaya tunai terdiri atas biaya variabel dan biaya tetap. Biaya variabel yang

meliputi biaya pembelian bibit, biaya pakan alami, dan biaya pakan buatan. Biaya

tetap yang meliputi biaya perawatan keramba.

Biaya tidak tunai atau biaya diperhitungkan meliputi biaya tenaga kerja

(pemilik), biaya penyusutan alat, biaya penyusutan KJA dan biaya penyusutan

perahu. Metode penyusutan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

penyusutan garis lurus.

1. Biaya investasi
Pada KJA 2 kotak, biaya investasi yang dikeluarkan sebesar

Rp 3.620.000. Pengeluaran terbesar adalah biaya konstuksi KJA yaitu sebesar Rp

1.880.000 dan biaya terendah adalah biaya pembelian peralatan budidaya sebesar

Rp 240.000. Pembelian rakit adalah pengeluaran terbesar pada biaya konstruksi

KJA yaitu sebesar Rp 600.000. Rataan komponen biaya investasi KJA 2 kotak

selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Komponen Biaya Investasi Ikan Kerapu Macan 2 Kotak


Harga
Uraian dan Umur Jumlah Jumlah
No Satuan Satuan
Teknis Satuan Biaya (Rp)
(Rp)
Konstruksi KJA
Rakit/Tong Buah 6 100.000 600.000
Bambu/Kayu Batang 15 30.000 450.000
1 Jaring Kg 7 50.000 350.000
Pemberat/Jangkar Buah 4 100.000 400.000
Tali Gulung 2 40.000 80.000
Sub Total 1.880.000
Peralatan Budidaya
Parang Buah 1 50.000 50.000
Serok Jaring Buah 2 30.000 60.000
2 Cool Box Gabus Buah 1 40.000 40.000
Sikat Buah 3 10.000 30.000
Ember Buah 3 20.000 60.000
Sub Total 240.000
Perahu Buah 1 1.500.000 1.500.000
3
Sub Total 1.500.000
Total 3.620.000

Biaya investasi pada KJA 4 kotak adalah Rp 5.980.000. Pengeluaran

terbesar adalah biaya konstuksi KJA yaitu sebesar Rp 4.120.000 dan biaya

terendah adalah biaya pembelian peralatan budidaya sebesar Rp 360.000. Biaya

terbesar pada konstruksi adalah biaya pembelian rakit sebesar Rp 1.200.000.

Rataan komponen biaya investasi KJA 4 kotak selengkapnya dapat dilihat pada

Tabel 15.
Tabel 15 Komponen Biaya Investasi Ikan Kerapu Macan 4 Kotak
Harga Jumlah
Uraian dan Umur Jumlah
No Satuan Satuan Biaya
Teknis Satuan
(Rp) (Rp)
1 Konstruksi KJA
Rakit/Tong Buah 12 100.000 1.200.000
Bambu/Kayu Batang 34 30.000 1.020.000
Jaring Kg 14 50.000 700.000
Pemberat/Jangkar Buah 10 100.000 1,000.000
Tali Gulung 5 40.000 200.000
Sub Total 4.120.000
2 Peralatan Budidaya
Parang Buah 2 50.000 100.000
Serok Jaring Buah 4 30.000 120.000
Cool Box Gabus Buah 1 40.000 40.000
Sikat Buah 4 10.000 40.000
Ember Buah 3 20.000 60.000
Sub Total 360.000
3 Perahu Buah 1 1.500.000 1.500.000
Sub Total 1.500.000
Total 5.980.000

Pada KJA 6 kotak, biaya investasi yang dikeluarkan sebesar

Rp 7.625.000. Pengeluaran terbesar adalah biaya konstuksi KJA yaitu sebesar Rp

5.625.000 dan biaya terendah adalah biaya pembelian peralatan budidaya sebesar

Rp 500.000. Pembelian rakit adalah pengeluaran terbesar pada biaya konstruksi

KJA 6 kotak yaitu sebesar Rp 1.800.000. Rataan komponen biaya KJA 6 kotak

dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16 Komponen Biaya Investasi Ikan Kerapu Macan 6 Kotak


Harga Jumlah
Uraian dan Umur Jumlah
No Satuan Satuan Biaya
Teknis Satuan
(Rp) (Rp)
1 Konstruksi KJA
Rakit/Tong Buah 18 100.000 1.800.000
Bambu/Kayu Batang 43 30.000 1.290.000
Jaring Kg 21 50.000 1.050.000
Pemberat/Jangkar Buah 11 100.000 1.100.000
Tali Gulung 7 55.000 385.000
Sub Total 5.625.000
2 Peralatan Budidaya
Parang Buah 2 50.000 100.000
Serok Jaring Buah 5 30.000 150.000
Cool Box Gabus Buah 2 40.000 80.000
Sikat Buah 7 10.000 70.000
Ember Buah 5 20.000 100.000
Sub Total 500.000
3 Perahu Buah 1 1.500.000 1.500.000
Sub Total 1.500.000
Total 7.625.000

2. Biaya Operasional
a. Biaya Tunai
1. Biaya Variabel

Biaya variabel adalah biaya yang berkaitan langsung dengan input dan

output. Biaya akan semakin besar apabila terdapat penambahan input untuk

meningkatkan output, demikian juga sebaliknya. Komponen biaya variabel

budidaya ikan kerapu macan KJA di Pulau Panggang adalah biaya pembelian

benih, pakan buatan, dan pakan alami.

Biaya variabel pada KJA 2 kotak adalah sebesar Rp 4.530.300. Biaya

terbesar dikeluarkan untuk pembelian bibit ikan kerapu macan. Harga bibit kerapu

macan Rp 1000 sampai Rp 1500 per centimeter. Petani budidaya biasanya

membeli bibit berukuran 10-15 centimeter. Pakan alami kerapu diperoleh

pembudidaya dengan mencari sendiri dengan memancing atau menjaring dan

membeli dari nelayan.

Harga pakan alami di Pulau Panggang berkisar antara Rp 2000 sampai Rp

3000 per kilogram. Ikan selar adalah pakan alami yang paling sering digunakan
oleh pembudidaya karena ketersediaan yang banyak di perairan sekitar Pulau

Panggang. Pada KJA 2 kotak ada penggunaan pakan buatan hanya sedikit

dikarenakan harga pakan yang mahal dibandingkan pakan alami. Harga pakan

buatan (pelet) Rp 192.50 per bal. Rataan biaya variabel budidaya ikan kerapu

macan untuk KJA 2 kotak dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17 Komponen Biaya Variabel Budidaya Ikan Kerapu Macan KJA 2 Kotak
Jumlah Harga Jumlah
Jenis Satuan
Satuan Satuan (Rp) Total (Rp)
Pakan Buatan/Pelet Bal 0,2 192.500 38.500
Pakan Alami/Rucah Kg 834 2.700 2.251.800
Bibit Kerapu Ekor 200 11.200 2.240.000
Total Biaya Variabel 4.530.300

Biaya variabel yang dikeluarkan untuk KJA 4 kotak adalah sebesar

Rp 8.305.600. Biaya terbesar adalah pembelian bibit ikan kerapu macan. Harga

bibit kerapu macan Rp 1000 sampai Rp 1500 per centimeter. Petani budidaya

biasanya membeli bibit berukuran 10-15 centimeter. Bibit ikan kerapu macan

diperoleh dari sea farming yang berada di Pulau Semak Daun, Nuansa Ayu

Karamba, dan hatchery di Gondol (Bali) dan Situbondo (Jawa Timur).

Pakan alami kerapu diperoleh pembudidaya dengan mencari sendiri dengan

memancing atau menjaring dan membeli dari nelayan. Harga pakan alami di

Pulau Panggang berkisar antara Rp 2000 sampai Rp 3000 per kilogram. Ikan selar

adalah pakan alami yang paling sering digunakan oleh pembudidaya karena

ketersediaan yang banyak di perairan sekitar Pulau Panggang. Pada KJA 4 kotak

petani budidaya tidak menggunakan pakan buatan (pelet) karena harganya yang

mahal dan ketersediaan yang sedikit di Pulau Panggang. Rataan biaya variabel

budidaya ikan kerapu macan untuk KJA 4 kotak dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18 Komponen Biaya Variabel Budidaya Ikan Kerapu Macan KJA 4 Kotak
Harga
Jumlah Jumlah
Jenis Satuan Satuan
Satuan Total (Rp)
(Rp)
Pakan Buatan/Pelet Bal - - -
Pakan Alami Kg 1.252 2.800 3.505.600
Bibit Kerapu Ekor 400 12.000 4.800.000
Total Biaya Variabel 8.305.600

Biaya variabel pada KJA 6 kotak adalah sebesar Rp 10.437.500. Biaya

terbesar dikeluarkan untuk pembelian bibit ikan kerapu macan sebesar

Rp 6.450.000. Harga bibit kerapu macan Rp 1000 sampai Rp 1500 per

centimeter. Petani budidaya biasanya membeli bibit berukuran 10-15 centimeter.

Pakan alami kerapu diperoleh pembudidaya dengan mencari sendiri dengan

memancing atau menjaring dan membeli dari nelayan.

Harga pakan alami di Pulau Panggang berkisar antara Rp 2000 sampai Rp

3000 per kilogram. Ikan selar adalah pakan alami yang paling sering digunakan

oleh pembudidaya karena ketersediaan yang banyak di perairan sekitar Pulau

Panggang. Pada KJA 6 kotak petani budidaya tidak menggunakan pakan buatan

(pelet) karena harganya yang mahal dan ketersediaan yang sedikit di Pulau

Panggang. Rataan komponen biaya variabel budidaya ikan kerapu macan untuk

KJA 6 kotak dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19 Komponen Biaya Variabel Budidaya Ikan Kerapu Macan KJA 6 Kotak
Jumlah Harga Jumlah
Jenis Satuan
Satuan Satuan (Rp) Total (Rp)
Pakan Buatan/Pelet Bal - - -
Pakan Alami Kg 1.450 2.750 3.987.500
Bibit Kerapu Ekor 600 10.750 6.450.000
Total Biaya Variabel 10.437.500
Dari hasil diatas dapat kita lihat komponen biaya variabel yang paling

besar adalah biaya untuk membeli bibit ikan kerapu macan. Komponen pakan

buatan/pelet pada karamba ukuran empat kotak dan enam kotak tidak ada

dikarenakan jarang sekali petani di Pulau Panggang memberikan pakan buatan.

Alasan petani tidak memberikan pakan buatan antara lain adalah karena harganya

yang mahal dan ketersediaannya di Pulau Panggang sedikit.

2. Biaya Tetap

Biaya tetap merupakan biaya yang besarannya tidak berubah walaupun

outputnya berubah. Komponen biaya tetap pada penelitian ini adalah biaya

perawatan karamba.. Biaya perawatan karamba adalah biaya yang digunakan

untuk pembersihan waring dan perbaikan karamba.

Besarnya rataan biaya pemeliharaan untuk KJA 2 kotak sebesar

Rp 70.000 dalam satu periode budidaya ikan kerapu macan, KJA 4 kotak sebesar

Rp 100.000, dan KJA 6 kotak sebesar Rp 120.000 per tahun. Biaya pemeliharaan

ini dikeluarkan untuk pembersihan waring.

b. Biaya Tidak Tunai


1. Biaya Penyusutan

Perhitungan biaya penyusutan pada penelitian ini menggunakan metode

penyusutan garis lurus. Berikut akan dijelaskan penyusutan komponen-komponen

investasi.

a. Rakit/Tong
Rakit/tong digunakan sebagai pelampung pada karamba jaring apung. Rakit

diikat pada sisi luar dan tengah karamba sesuai dengan kebutuhan. Rakit ini

terbuat dari tong plastik. Harga satu rakit Rp 100.000 dengan umur teknis selama

lima tahun. Setelah umur teknisnya habis rakit masih bisa digunakan seabagai

media penyimpanan ikan atau pakan alami.

b. Bambu/Kayu

Bambu/kayu digunakan sebagai kerangka dari karamba jaring apung. Untuk

bambu/ kayu kualitas sedang umur teknisnya berkisar dua tahun, setelah itu tidak

dapat dipergunakan lagi. Harga satu batang bambu di Pulau Panggang Rp 30.000.

c. Waring/Jaring

Waring adalah bahan yang digunakan sebagai media pemeliharaan ikan

kerapu macan. Waring ini terbuat sari bahan polyethylene dengan ukuran mata

waring dua inci. Harga jaring per-kilogram Rp 50.000 dengan umur teknis selama

lima tahun. Waring masih dapat digunakan setelah umur tenisnya habis sebagai

alat untuk menangkap ikan dan masih memiliki nilai ekonomis.

d. Pemberat/Jangkar

Pemberat digunakan untuk mengikat karamba agar posisinya tidak berubah

di sisi-sisi keramba. Pada perairan yang memiliki arus kencang jumlah pemberat

biasanya lebih banyak yang dipasang. Biasanya jumlah pemberat yang dipasang

empat buah untuk dua kotak. Pemberat ini terbuat dari besi atau semen cor yang

dibeli seharga Rp 100.000 per buah. Umur teknis pemberat ini selama lima tahun

dan masih dapat dipergunakan kembali.

e. Tali
Tali digunakan untuk mengikat bambu/kayu dan jangkar. Tali yang

digunakan adalah tali rafia ukuran sedang yang dibeli seharga Rp 40.000 per

gulung. Umur teknisnya selama lima tahun dan tidak dipergunakan lagi sesudah

umur teknisnya habis.

f. Parang

Parang digunakan untuk memotong pakan alami ikan kerapu macan. Umur

teknisnya selama lima tahun dan tidak memiliki nilai sisa. Harga sebuah parang di

Pulau Panggang Rp 50.000.

g. Serok Jaring

Serok jaring digunakan untuk memanen ikan atau untuk mengambil ikan

kerapu macan yang mati di karamba. Umur teknisnya lima tahun dan tidak

memiliki nilai sisa. Harga serok jaring yang digunakan pembudidaya Rp 30.000

per buah.

h. Cool box gabus

Cool box gabus digunakan sebagai wadah penyimpanan sementara pakan

ikan alami sebelum dipotong-potong. Umur teknisnya selama lima tahun dan

tidak memiliki nilai sisa karena setelah itu tidak dapat digunakan lagi. Harga

sebuah cool box gabus ini Rp 40.000.

i. Sikat

Sikat digunakan untuk pembersihan waring. Umur teknisnya selama lima

tahun dan tidak memiliki nilai sisa. Harga sebuah sikat yang digunakan pada

budidaya ikan kerapu macan Rp 10.000.

j. Ember
Ember digunakan sebagai wadah untuk pakan ikan alami (rucah). Umur

teknisnya selama lima tahun. Harga sebuah ember yang digunakan Rp 20.000.

k. Perahu

Perahu adalah sarana transportasi nelayan ke karamba jaring apung. Umur

teknisnya selama lima tahun, tetapi masih mempunyai nilai sisa karena masih

dapat digunakan dan masih memiliki nilai ekonomis. Harga sebuah perahu Rp

1.500.000.

Penyusutan pada KJA 2 kotak meliputi penyusutan konstruksi KJA,

peralatan budidaya, dan perahu. Biaya penyusutan terbesar pada KJA 2 kotak

adalah penyusutan bambu/kayu. Bambu/kayu memiliki penyusutan terbesar

dikarenakan umur teknisnya lebih singkat dibandingkan yang lainnya yaitu dua

tahun. Penyusutan pada KJA 2 kotak dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20 Penyusutan KJA 2 Kotak


Umur
Nilai Awal Nilai Penyusutan/
No Uraian Ekonomis
(Rp) Sisa(Rp) Tahun (Rp)
(Tahun)
Konstruksi
1
KJA
Rakit/Tong 600.000 5 200.000 80.000
Bambu/Kayu 2 - 225.000
450.000
Jaring 350.000 5 150.000 40.000
Pemberat/
400.000 5 100.000 60.000
Jangkar
Tali 80.000 5 - 16.000
Sub Total - 450.000 421.000
2 Peralatan
Parang 50.000 5 - 10.000
Serok Jaring 60.000 5 - 12.000
Cool Box
40.000 5 - 8.000
Gabus
Sikat 30.000 5 - 6.000
Ember 60.000 5 - 12.000
Sub Total - 48.000
3 Perahu 1.500.000 5 500.000 200.000
Total Biaya
950.000 669.000
Penyusutan

Penyusutan pada KJA 4 kotak meliputi penyusutan konstruksi KJA,

peralatan budidaya, dan perahu. Biaya penyusutan terbesar pada KJA 4 kotak

adalah penyusutan bambu/kayu. Bambu/kayu memiliki penyusutan terbesar

dikarenakan umur teknisnya lebih singkat dibandingkan yang lainnya yaitu dua

tahun. Penyusutan komponen investasi KJA 4 kotak selengkapnya dapat dilihat

pada Tabel 21.

Tabel 21 Penyusutan KJA 4 Kotak


Umur
Nilai Penyusutan/
No Uraian Nilai Awal Ekonomis
Sisa(Rp) Tahun (Rp)
(Tahun)
1 Konstruksi KJA
Rakit/Tong 1.200.000 5 400.000 160.000
Bambu/Kayu 1.020.000 2 - 510.000
Jaring 700.000 5 300.000 80.000
Pemberat/Jangkar 1.000.000 5 250.000 150.000
Tali 200.000 5 - 40.000
Sub Total 950.000 940.000
2 Peralatan
Parang 100.000 5 - 20.000
Serok Jaring 120.000 5 - 24.000
Cool Box Gabus 40.000 5 - 8.000
Sikat 40.000 5 - 8.000
Ember 60.000 5 - 12.000
Sub Total 72.000
3 Perahu 500.000 5 500.000 200.000
Total Biaya
1.450.000 1.212.000
Penyusutan

Penyusutan pada KJA 6 kotak meliputi penyusutan konstruksi KJA,

peralatan budidaya, dan perahu. Biaya penyusutan terbesar pada KJA 6 kotak

adalah penyusutan bambu/kayu. Bambu/kayu memiliki penyusutan terbesar

dikarenakan umur teknisnya lebih singkat dibandingkan yang lainnya yaitu dua

tahun. Penyusutan komponen investasi KJA 6 kotak dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22 Penyusutan KJA 6 Kotak


Umur
Nilai Nilai Penyusutan/
No Uraian Ekonomis
Awal Sisa(Rp) Tahun (Rp)
(Tahun)
1 Konstruksi KJA
Rakit/Tong 1.800.000 5 600.000 240.000
Bambu/Kayu 1.290.000 2 - 645.000
Jaring 1.050.000 5 150.000 180.000
Pemberat/Jangkar 1.100.000 5 300.000 160.000
Tali 385.000 5 - 77.000
Sub Total 1.050.000 1.302.000
2 Peralatan
Parang 100.000 5 - 20.000
Serok Jaring 150.000 5 - 30.000
Cool Box Gabus 80.000 5 - 16.000
Sikat 70.000 5 - 14.000
Ember 100.000 5 - 20.000
Sub Total 100.000
3 Perahu 1.500.000 5 500.000 200.000
Total Biaya
1.550.000 1.602.000
Penyusutan

2. Biaya Tenaga Kerja (Pemilik)

Besarnya upah tenaga kerja yang digunakan dalam penelitian ini adalah

besaran upah pekerja karamba yang berlaku di Pulau Panggang, yaitu Nuansa Ayu

Karamba sebesar Rp 500.000 per bulan. Biaya tenaga kerja untuk seluruh jenis

karamba pada penelitian ini sama karena pembudidaya sendiri (satu orang) yang

mengerjakan seluruh operasional budidaya ikan kerapu macan. Total biaya tenaga

kerja selama satu periode budidaya ikan kerapu macan adalah Rp 5.000.000.

6.4.2 Keuntungan

Keuntungan adalah hasil produksi yang dapat dinilai dengan uang

dikurangi dengan biaya. Besarnya keuntungan yang didapatkan oleh petani

budidaya ditentukan oleh jumlah produksi ikan kerapu macan dan harga jual di

pasar.

Jumlah produksi ini dipengaruhi oleh survival rate (SR) ikan kerapu macan

yang didapatkan dari perhitungan jumlah ikan yang dipanen dibandingkan yang
ditebar. Selama penelitian ini dilakukan tingkat kelangsungan hidup (SR) ikan

kerapu macan di Pulau Panggang adalah 70 persen untuk KJA 2 kotak dengan

rataan jumlah panen 139,6 ekor , 64 persen untuk KJA 4 kotak dengan rataan

jumlah panen 254.8 ekor, dan 54 persen untuk KJA 6 kotak dengan rataan jumlah

panen 322.75 ekor. Jumlah ikan yang ditebar adalah 200 ekor untuk setiap

kotaknya. Harga ikan kerapu macan berkisar antara Rp 120.000 sampai Rp

125.000 per kilogram dengan berat rata-rata penjualan ikan 0,8 kilogram. Hasil

penjualan ikan kerapu yang didapat oleh petani adalah Rp 12.703.600 untuk KJA

2 kotak, Rp 22.167.600 untuk KJA 4 kotak, dan Rp 28.644.063 untuk KJA 6

kotak.

6.4.3 Proyeksi Cash Flow

Proyeksi cash flow memiliki arti penting bahwa investor dapat melakukan

invesatasi dan membayar kewajiban finansial, sedangkan laba tidak dapat

digunakan sebagai alat memenuhi berbagai keperluan kas tersebut. Husnan dan

Suwarsono,1999 mengatakan bahwa proyeksi aliran kas sangat terkait dengan

nilai waktu dari uang yang menyatakan bahwa nilai uang saat ini lebih berharga

daripada nanti.

Budidaya ikan kerapu macan dengan KJA melakukan investasi pada tahun

awal sedangkan manfaat dari investasi itu baru diterima pada tahun berikutnya

atau setelah satu periode produksi. Komponen-komponen yang aliran kas pada

cash flow dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu initial cash flow,

operational cash flow, dan terminal cash flow.


a. Komponen-komponen Initial Cash Flow

Komponen-komponen yang termasuk dalam initial cash flow adalah biaya

untuk investasi pembuatan KJA. Rataan biaya investasi yang dikeluarkan oleh

petani untuk budidaya ikan kerapu KJA adalah sebesar Rp 3.620.000 untuk KJA 2

kotak, Rp 5.980.000 untuk KJA 4 kotak, dan Rp 7.625.000 untuk KJA 6 kotak.

b. Komponen-konponen Operational Cash Flow

Komponen-komponen yang termasuk dalam operational cash flow meliputi

laba bersih (net benefit) dan penyusutan. Rataan operational cash flow yang

didapatkan pada penelitian ini adalah sebesar Rp 6.826.750 untuk KJA 2 kotak.

Nilai ini diperoleh dari net benefit yang dihasilkan Rp 6.157.750 dan nilasi

penyusutan dalam setahun sebesar Rp 669.000.

Operational cash flow pada KJA 4 kotak sebesar Rp 11.585.333. Nilai ini

didapatkan dari nilai net benefit KJA 4 kotak sebesar Rp 10.373.333 dan nilai

penyusutan per tahun sebesar Rp 1.212.000.

Operational cash flow yang didapatkan pada KJA 6 kotak sebesar Rp

15.231.635. Nilai ini didapatkan dari penambahan nilai net benefit sebesar

Rp 13.629.635 dan nilai penyusutan per tahun sebesar Rp 1.602.000.

c. Komponen-komponen Terminal cash Flow

Terminal cash flow terdiri dari cash flow nilai sisa investasi. Nilai sisa yang

diperoleh pada akhir umur proyek adalah sebesar Rp 950.000 untuk KJA 2 kotak.

Nilai sisa ini diperoleh dari komponen rakit sebesar Rp 200.000, nilai sisa jaring

sebesar Rp 150.000. Nilai sisa dari pemberat/jangkar sebesar


Rp 100.000 dan nilai sisa dari perahu sebesar Rp 500.000.

Pada KJA 4 kotak nilai sisa total sebesar Rp 1.450.000. Nilai ini diperoleh

dari nilai sisa pada komponen rakit sebesar Rp 400.000, nilai sisa pada komponen

jaring sebesar Rp 300.000, nilai sisa dari pemberat/jangkar sebesar Rp 250.000

dan nilai sisa dari perahu sebesar Rp 500.000.

Nilai sisa pada KJA 6 kotak didapatkan sebesar Rp 1.550.000 yang berasal

dari nilai sisa rakit sebesar Rp 600.000, nilai sisa dari jaring sebesar

Rp 150.000, nilai sisa dari pemberat sebesar Rp 300.000, dan nilai sisa dari

perahu sebesar Rp 500.000.

6.4.4 Kriteria Kelayakan Usaha


6.4.4.1 Analisis Kelayakan Investasi Usaha

Analisis kelayakan invesatasi usaha ini bertujuan untuk melihat kelayakan

antara KJA 2 kotak, KJA 4 kotak dan KJA 6 kotak sebagai media pembudidayaan

ikan kerapu macan.

a. KJA 2 Kotak

Hasil pengolahan data yang dilakukan untuk KJA 2 kotak didapatkan nilai

NPV sebesar Rp 24.172.937. Nilai ini didapatkan dari nilai total inflow dikurangi

nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount rate. Nilai inflow yang

didapat sebesar Rp 55.357.467 dan nilai outflow sebesar Rp 31.184.530. Nilai

NPV yang positif ini menunjukkan bahwa poyek ini layak untuk dilaksanakan

karena memberikan tambahan manfaat dari nilai sekarang.

Nilai IRR sebesar 220,57 persen juga menunjukkan bahwa usaha ini layak

untuk dijalankan karena nilainya lebih besar dari tingkat diskonto sebesar 5,25
persen. Nilai IRR ini juga menunjukkan bahwa usaha ini akan memberikan

tingkat pengembalian modal yang ditanamkan sebesar 220,57 persen.

Net B/C yang didapat sebesar 1,78, yang berarti setiap pengeluaran usaha

sebesar Rp 1 akan menghasilkan manfaat sebesar Rp 1,78. Nilai ini didapatkan

dari nilai total inflow dibagi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount

rate. Nilai inflow yang didapat sebesar Rp 55.357.467 dan nilai outflow sebesar

Rp 31.184.530.

Payback periode (PP) usaha ini selama 5,64 bulan. Hal ini menunjukkan

keuntungan usaha yang diperoleh akan dapat menutupi biaya investasi setelah

5,64 bulan. Jika dilihat dari periode budidaya ikan kerapu macan yang berkisar

kurang lebih sepuluh bulan, maka PP didapat sebelum masa panen ikan kerapu

macan dilakukan. Hal ini disebabkan oleh keuntungan bersih yang didapatkan

sangat besar jika dibandingkan biaya investasi. Dari hasil diatas dapat diambil

kesimpulan bahwa secara nyata seluruh biaya investasi baru didapatkan setelah

satu periode budidaya walaupun secara perhitungan didapatkan PP sebelum masa

pemanenan.

b. KJA 4 Kotak

Hasil pengolahan data KJA 4 kotak didapatkan nilai NPV sebesar Rp

52.563.430. Nilai ini didapatkan dari nilai total inflow dikurangi nilai total outflow

yang telah dikalikan nilai discount rate. Nilai inflow yang didapat sebesar Rp

96.437.143 dan nilai outflow sebesar Rp. 43.873.713. Nilai NPV yang positif ini

menunjukkan bahwa poyek ini layak untuk dilaksanakan karena memberikan

tambahan manfaat dari nilai sekarang.


Nilai IRR sebesar 225,68 persen juga menunjukkan bahwa usaha ini layak

untuk dijalankan karena nilainya lebih besar dari tingkat diskonto sebesar 5,25

persen. Nilai IRR ini juga menunjukkan bahwa usaha ini akan memberikan

tingkat pengembalian modal yang ditanamkan sebesar 225,68 persen.

Net B/C yang didapat sebesar 2,20 yang berarti setiap pengeluaran usaha

sebesar Rp 1 akan menghasilkan manfaat sebesar Rp 2,20. Nilai ini didapatkan

dari nilai total inflow dibagi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount

rate. Nilai inflow yang didapat sebesar Rp 96.437.143 dan nilai outflow sebesar

Rp 43.873.713.

Pada KJA 4 kotak didapatkan payback periode usaha ini selama 5,49 bulan.

Hal ini menunjukkan keuntungan usaha yang diperoleh akan dapat menutupi

biaya investasi setelah 5,49 bulan. Jika dilihat dari periode budidaya ikan kerapu

macan yang berkisar kurang lebih sepuluh bulan, maka PP didapat sebelum masa

panen ikan kerapu macan dilakukan. Hal ini disebabkan oleh keuntungan bersih

yang didapatkan sangat besar jika dibandingkan biaya investasi. Dari hasil diatas

dapat diambil kesimpulan bahwa secara nyata seluruh biaya investasi baru

didapatkan setelah satu periode budidaya walaupun secara perhitungan didapatkan

PP sebelum masa pemanenan.

c. KJA 6 Kotak

Hasil pengolahan data KJA 6 kotak didapatkan nilai NPV sebesar Rp

55.235.042. Nilai ini didapatkan dari nilai total inflow dikurangi nilai total outflow

yang telah dikalikan nilai discount rate. Nilai inflow yang didapat sebesar Rp.

124.361.541 dan nilai outflow sebesar Rp 69.126.499. Nilai NPV yang positif ini
menunjukkan bahwa poyek ini layak untuk dilaksanakan karena memberikan

tambahan manfaat dari nilai sekarang.

Nilai IRR sebesar 232,86 persen juga menunjukkan bahwa usaha ini layak

untuk dijalankan karena nilainya lebih besar dari tingkat diskonto sebesar 5,25

persen. Nilai IRR ini juga menunjukkan bahwa usaha ini akan memberikan

tingkat pengembalian modal yang ditanamkan sebesar 232,86 persen.

Net B/C yang didapat sebesar 1,80 yang berarti setiap pengeluaran usaha

sebesar Rp 1 akan menghasilkan manfaat sebesar Rp 1,80. Nilai ini didapatkan

dari nilai total inflow dibagi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount

rate. Nilai inflow yang didapat sebesar Rp 124.361.541 dan nilai outflow sebesar

Rp 69.126.499.

Hasil perhitungan pada KJA 6 kotak didapatkan payback periode usaha ini

selama 5,32 bulan. Hal ini menunjukkan keuntungan usaha yang diperoleh akan

dapat menutupi biaya investasi setelah 5,32 bulan. Jika dilihat dari periode

budidaya ikan kerapu macan yang berkisar kurang lebih sepuluh bulan, maka PP

didapat sebelum masa panen ikan kerapu macan dilakukan. Hal ini disebabkan

oleh keuntungan bersih yang didapatkan sangat besar jika dibandingkan biaya

investasi. Dari hasil diatas dapat diambil kesimpulan bahwa secara nyata seluruh

biaya investasi baru didapatkan setelah satu periode budidaya walaupun secara

perhitungan didapatkan PP sebelum masa pemanenan.

6.5 Analisis Sensitifitas

Ada dua variabel yang digunakan dalam penelitian ini untuk analisis

sensitifitas yaitu tingkat kelangsungan hidup (SR) dan komponen biaya variabel
yang mengeluarkan biaya terbesar yaitu biaya pembelian bibit ikan kerapu. SR

dianalisis karena berhubungan erat dengan jumlah output dari usaha budidaya

ikan kerapu macan yang nantinya akan menentukan besar keuntungan usaha

budidaya ini. Biaya pembelian bibit kerapu dianalisis karena merupakan

komponen biaya variabel yang terbesar selama usaha budidaya ini berlangsung,

sehingga apabila terjadi perubahan/peningkatan harga akan mempengaruhi tingkat

pengeluaran dan keuntungan yang didapat usaha budidaya kerapu macan.

6.4.1 Penurunan SR Sebesar 10 Persen

Besarnya perubahan SR yang digunakan sebesar 10 persen dari SR awal

sebesar 70 persen pada KJA 2 kotak, 64 persen pada KJA 4 kotak, dan 54 persen

pada KJA 6 kotak. Nilai penurunan sebesar 10 persen dipilih karena menurut

informasi yang didapatkan dari Sudin Perikanan Kepulauan Seribu SR minimum

agar usaha budidaya ikan kerapu macan menghasilkan keuntungan sebesar 40

persen. Dari nilai SR terendah yang didapatkan di tempat penelitian (54 persen),

maka apabila terjadi penurunan SR sebesar 10 persen usaha tersebut sudah tidak

mendatangkan keuntungan berdasarkan informasi yang didapatkan.

a. KJA 2 Kotak

Apabila SR turun menjadi 60 persen untuk KJA 2 kotak, banyaknya jumlah

ikan yang dipanen 120 ekor. Total pemasukan yang didapatkan sebesar Rp

10.920.000. Hasil pengolahan data yang dilakukan untuk KJA 2 kotak didapatkan

nilai NPV sebesar Rp 24.172.937. Nilai ini didapatkan dari nilai total inflow
dikurangi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount rate. Nilai inflow

yang didapat sebesar Rp 47.688.487 dan nilai outflow sebesar Rp 23.515.550.

Nilai NPV yang positif ini menunjukkan bahwa poyek ini layak untuk

dilaksanakan karena memberikan tambahan manfaat dari nilai sekarang.

Nilai IRR sebesar 170,61 persen juga menunjukkan bahwa usaha ini layak

untuk dijalankan karena nilainya lebih besar dari tingkat diskonto sebesar 5,25

persen. Nilai IRR ini juga menunjukkan bahwa usaha ini akan memberikan

tingkat pengembalian modal yang ditanamkan sebesar 170,61 persen.

Net B/C yang didapat sebesar 2,03 yang berarti setiap pengeluaran usaha

sebesar Rp 1 akan menghasilkan manfaat sebesar Rp 2,03. Nilai ini didapatkan

dari nilai total inflow dibagi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount

rate. Nilai inflow yang didapat sebesar Rp 47.688.487 dan nilai outflow sebesar

Rp 23.515.550.

Payback periode (PP) usaha ini selama 7,23 bulan. Hal ini menunjukkan

keuntungan usaha yang diperoleh akan dapat menutupi biaya investasi setelah

7,23 bulan. Jika dilihat dari periode budidaya ikan kerapu macan yang berkisar

kurang lebih sepuluh bulan, maka PP didapat sebelum masa panen ikan kerapu

macan dilakukan. Hal ini disebabkan oleh keuntungan bersih yang didapatkan

sangat besar jika dibandingkan biaya investasi. Dari hasil diatas dapat diambil

kesimpulan bahwa secara nyata seluruh biaya investasi baru didapatkan setelah

satu periode budidaya walaupun secara perhitungan didapatkan PP sebelum masa

pemanenan.

b. KJA 4 Kotak
Penurunan SR sebesar 10 persen untuk KJA 4 kotak membuat jumlah ikan

yang dipanen 216 ekor. Total pemasukan yang didapatkan sebesar Rp 18.792.000.

Nilai NPV yang didaptkan sebesar Rp 38.049.297. Nilai ini didapatkan dari nilai

total inflow dikurangi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount rate.

Nilai inflow yang didapat sebesar Rp 81,923,011 dan nilai outflow sebesar Rp

43,873,713. Nilai NPV yang positif ini menunjukkan bahwa poyek ini layak untuk

dilaksanakan karena memberikan tambahan manfaat dari nilai sekarang.

Nilai IRR sebesar 168,19 persen juga menunjukkan bahwa usaha ini layak

untuk dijalankan karena nilainya lebih besar dari tingkat diskonto sebesar 5,25

persen. Nilai IRR ini juga menunjukkan bahwa usaha ini akan memberikan

tingkat pengembalian modal yang ditanamkan sebesar 168,19 persen.

Dari perhitungan yang dilakukan didapatkan nilai Net B/C 1,87 yang berarti

setiap pengeluaran usaha sebesar Rp. 1,- akan menghasilkan manfaat sebesar Rp

1,87. Nilai ini didapatkan dari nilai total inflow dibagi nilai total outflow yang

telah dikalikan nilai discount rate. Nilai inflow yang didapat sebesar Rp

81.923.011 dan nilai outflow sebesar Rp 43.873.713. Nilai Net B/C ini

menunjukkan usaha budidaya ikan kerapu macan ini layak untuk diusahakan.

Payback periode usaha ini selama 7,27 bulan. Hal ini menunjukkan

keuntungan usaha yang diperoleh akan dapat menutupi biaya investasi setelah

7,27 bulan. Jika dilihat dari periode budidaya ikan kerapu macan yang berkisar

kurang lebih sepuluh bulan, maka PP didapat sebelum masa panen ikan kerapu

macan dilakukan. Hal ini disebabkan oleh keuntungan bersih yang didapatkan

sangat besar jika dibandingkan biaya investasi. Dari hasil diatas dapat diambil

kesimpulan bahwa secara nyata seluruh biaya investasi baru didapatkan setelah
satu periode budidaya walaupun secara perhitungan didapatkan PP sebelum masa

pemanenan.

c. KJA 6 Kotak

Apabila SR turun menjadi 60 persen untuk KJA 6 kotak, banyaknya jumlah

ikan yang dipanen 264 ekor. Total pemasukan yang didapatkan sebesar Rp

23.430.000. Nilai NPV yang didapat sebesar Rp 59.878.739. Nilai ini didapatkan

dari nilai total inflow dikurangi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai

discount rate. Nilai inflow yang didapat sebesar Rp 101.942.536 dan nilai outflow

sebesar Rp 42.063.797. Nilai NPV yang positif ini menunjukkan bahwa poyek ini

layak untuk dilaksanakan karena memberikan tambahan manfaat dari nilai

sekarang.

Nilai IRR sebesar 148,62 persen juga menunjukkan bahwa usaha ini layak

untuk dijalankan karena nilainya lebih besar dari tingkat diskonto sebesar 5,25

persen. Nilai IRR ini juga menunjukkan bahwa usaha ini akan memberikan

tingkat pengembalian modal yang ditanamkan sebesar 148,62 persen.

Net B/C yang didapat sebesar 2,42 yang berarti setiap pengeluaran usaha

sebesar Rp 1 akan menghasilkan manfaat sebesar Rp 2,42. Nilai ini didapatkan

dari nilai total inflow dibagi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount

rate. Nilai inflow yang didapat sebesar Rp 101.942.536 dan nilai outflow sebesar

Rp 42.063.797. Nilai Net B/C ini menunjukkan usaha budidaya ikan kerapu

macan ini layak untuk diusahakan.

Hasil perhitungan pada KJA 6 kotak didapatkan payback periode usaha ini

selama 8,17 bulan. Hal ini menunjukkan keuntungan usaha yang diperoleh akan
dapat menutupi biaya investasi setelah 8,17 bulan. Jika dilihat dari periode

budidaya ikan kerapu macan yang berkisar kurang lebih sepuluh bulan, maka PP

didapat sebelum masa panen ikan kerapu macan dilakukan. Hal ini disebabkan

oleh keuntungan bersih yang didapatkan sangat besar jika dibandingkan biaya

investasi. Dari hasil diatas dapat diambil kesimpulan bahwa secara nyata seluruh

biaya investasi baru didapatkan setelah satu periode budidaya walaupun secara

perhitungan didapatkan PP sebelum masa pemanenan.

6.4.2 Kenaikan Harga Bibit Ikan Kerapu Macan 10 Persen


a. KJA 2 Kotak

Kenaikan harga bibit ikan kerapu pada KJA 2 kotak membuat biaya

variabel berubah menjadi Rp 4.754.300. Hasil pengolahan data yang didapatkan

nilai NPV sebesar Rp 25.136.074. Nilai ini didapatkan dari nilai total inflow

dikurangi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount rate. Nilai inflow

yang didapat sebesar Rp 55.163.901 dan nilai outflow sebesar Rp 30.027.827.

Nilai NPV yang positif ini menunjukkan bahwa poyek ini layak untuk

dilaksanakan karena memberikan tambahan manfaat dari nilai sekarang.

Nilai IRR sebesar 214,89 persen juga menunjukkan bahwa usaha ini layak

untuk dijalankan karena nilainya lebih besar dari tingkat diskonto sebesar 5,25

persen. Nilai IRR ini juga menunjukkan bahwa usaha ini akan memberikan

tingkat pengembalian modal yang ditanamkan sebesar 214,89 persen.

Net B/C yang didapat sebesar 1,84 yang berarti setiap pengeluaran usaha

sebesar Rp 1 akan menghasilkan manfaat sebesar Rp 1,84. Nilai ini didapatkan

dari nilai total inflow dibagi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount
rate. Nilai inflow yang didapat sebesar Rp 55.163.901 dan nilai outflow sebesar

Rp 30.027.827.

Payback periode (PP) usaha ini selama 5,51 bulan. Hal ini menunjukkan

keuntungan usaha yang diperoleh akan dapat menutupi biaya investasi setelah

5,51 bulan. Jika dilihat dari periode budidaya ikan kerapu macan yang berkisar

kurang lebih sepuluh bulan, maka PP didapat sebelum masa panen ikan kerapu

macan dilakukan. Hal ini disebabkan oleh keuntungan bersih yang didapatkan

sangat besar jika dibandingkan biaya investasi. Dari hasil diatas dapat diambil

kesimpulan bahwa secara nyata seluruh biaya investasi baru didapatkan setelah

satu periode budidaya walaupun secara perhitungan didapatkan PP sebelum masa

pemanenan.

b. KJA 4 Kotak

Kenaikan harga bibit ikan kerapu pada KJA 4 kotak membuat biaya

variabel berubah menjadi Rp 8.890.600. Hasil pengolahan data yang didapatkan

nilai NPV sebesar Rp 49.622.249. Nilai ini didapatkan dari nilai total inflow

dikurangi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount rate. Nilai inflow

yang didapat sebesar Rp 96.011.298 dan nilai outflow sebesar Rp 46.389.049.

Nilai NPV yang positif ini menunjukkan bahwa poyek ini layak untuk

dilaksanakan karena memberikan tambahan manfaat dari nilai sekarang.

Nilai IRR sebesar 215,69 persen juga menunjukkan bahwa usaha ini layak

untuk dijalankan karena nilainya lebih besar dari tingkat diskonto sebesar 5,25

persen. Nilai IRR ini juga menunjukkan bahwa usaha ini akan memberikan

tingkat pengembalian modal yang ditanamkan sebesar 21,69 persen.


Net B/C yang didapat sebesar 2,07 yang berarti setiap pengeluaran usaha

sebesar Rp 1 akan menghasilkan manfaat sebesar Rp 2,07. Nilai ini didapatkan

dari nilai total inflow dibagi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount

rate. Nilai inflow yang didapat sebesar Rp 96.011.298 dan nilai outflow sebesar

Rp 46.389.049.

Payback periode (PP) usaha ini selama 5,45 bulan. Hal ini menunjukkan

keuntungan usaha yang diperoleh akan dapat menutupi biaya investasi setelah

5,45 bulan. Jika dilihat dari periode budidaya ikan kerapu macan yang berkisar

kurang lebih sepuluh bulan, maka PP didapat sebelum masa panen ikan kerapu

macan dilakukan. Hal ini disebabkan oleh keuntungan bersih yang didapatkan

sangat besar jika dibandingkan biaya investasi. Dari hasil diatas dapat diambil

kesimpulan bahwa secara nyata seluruh biaya investasi baru didapatkan setelah

satu periode budidaya walaupun secara perhitungan didapatkan PP sebelum masa

pemanenan.

c. KJA 6 Kotak

Kenaikan harga bibit ikan kerapu pada KJA 6 kotak membuat biaya

variabel berubah menjadi Rp 11.332.500. Hasil pengolahan data yang didapatkan

nilai NPV sebesar Rp 63.726.988. Nilai ini didapatkan dari nilai total inflow

dikurangi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount rate. Nilai inflow

yang didapat sebesar Rp 124.013.122 dan nilai outflow sebesar Rp 60.286.134.

Nilai NPV yang positif ini menunjukkan bahwa poyek ini layak untuk

dilaksanakan karena memberikan tambahan manfaat dari nilai sekarang.


Nilai IRR sebesar 206,51 persen juga menunjukkan bahwa usaha ini layak

untuk dijalankan karena nilainya lebih besar dari tingkat diskonto sebesar 5,25

persen. Nilai IRR ini juga menunjukkan bahwa usaha ini akan memberikan

tingkat pengembalian modal yang ditanamkan sebesar 206,51 persen.

Net B/C yang didapat sebesar 2,06 yang berarti setiap pengeluaran usaha

sebesar Rp 1 akan menghasilkan manfaat sebesar Rp 2,06. Nilai ini didapatkan

dari nilai total inflow dibagi nilai total outflow yang telah dikalikan nilai discount

rate. Nilai inflow yang didapat sebesar Rp 124.013.122 dan nilai outflow sebesar

Rp 60.286.134.

Payback periode (PP) usaha ini selama 5,68 bulan. Hal ini menunjukkan

keuntungan usaha yang diperoleh akan dapat menutupi biaya investasi setelah

5,68 bulan. Jika dilihat dari periode budidaya ikan kerapu macan yang berkisar

kurang lebih sepuluh bulan, maka PP didapat sebelum masa panen ikan kerapu

macan dilakukan. Hal ini disebabkan oleh keuntungan bersih yang didapatkan

sangat besar jika dibandingkan biaya investasi. Dari hasil diatas dapat diambil

kesimpulan bahwa secara nyata seluruh biaya investasi baru didapatkan setelah

satu periode budidaya walaupun secara perhitungan didapatkan PP sebelum masa

pemanenan.

6.6 Keputusan Kelayakan Berdasarkan Aspek Finansial

Berdasarkan hasil analisis finansial yang dilakukan, maka usaha budidaya

ikan kerapu macan dengan sistem KJA ukuran 2 kotak, 4 kotak, maupun 6 kotak
layak untuk diusahakan karena memberikan tambahan manfaat yang positif

setelah dianalisis dalam nilai sekarang. Hasil analisis sensitivitas pada KJA

menunjukkan usaha ini masih memberikan keuntungan walaupun terjadi

penurunan nilai SR dan kenaikan harga bibit ikan kerapu macan sebesar 10

persen.

Berdasarkan hasil analisis finansial yang dilakukan, KJA 6 kotak

merupakan KJA yang paling baik diantara tiga jenis KJA yang ada di Pulau

Panggang dilihat dari NPV, IRR, Net B/C, dan payback periode. Hasil dari

analisis aspek finansial dapat dilihat pada tabel yang tertera di bawah ini.

Tabel 23 Analisis Kelayakan Investasi Usaha


KJA NPV (Rp) IRR (%) Net B/C PP (Bulan)
2 Kotak 24.172.937 220,57 1,78 5,64
4 Kotak 52.563.430 225,68 2,20 5,49
6 Kotak 55.235.042 232,86 1,80 5,32

Tabel 24 Analisis Sensitifitas SR turun 10 persen


KJA NPV (Rp) IRR (%) Net B/C PP (Bulan)
2 Kotak 24.172.937 170,61 2,03 7,23
4 Kotak 38.049.297 168,19 1,87 7,27
6 Kotak 59.878.739 148,62 2,42 8,17

Tabel 25 Analisis Sensitifitas Biaya Bibit Naik 10 persen


KJA NPV (Rp) IRR (%) Net B/C PP (Bulan)
2 Kotak 25.136.074 214,89 1,84 5,51
4 Kotak 49.622.249 215,69 2, 07 5,45
6 Kotak 63.726.988 206,51 2,06 5,68
VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian budidaya ikan kerapu macan

dengan KJA di Pulau Panggang adalah sebagai berikut:

1. Usaha budidaya kerapu macan dengan menggunakan sistem KJA layak

diusahakan secara teknis tetapi harus dengan adanya perbaikan dibeberapa

komponen teknis seperti pemberian pakan dan vitamin, dan penentuan lokasi

yang benar-benar sesuai untuk KJA.

2. Usaha budidaya kerapu macan dengan menggunakan sistem KJA layak

diusahakan dari aspek pasar karena pembeli yang tersedia banyak serta

mampu membeli seluruh hasil produksi petani budidaya ikan kerapu macan

sesuai dengan harga pasar.

3. Usaha budidaya kerapu macan dengan menggunakan sistem KJA layak

diusahakan dari aspek finansial karena Nilai NPV yang didapat bernilai

positif, IRR lebih besar dari DF, Net B/C yang lebih besar dari satu serta

payback periode yang masih berada dalam umur proyek.

4. KJA 6 kotak merupakan KJA yang paling baik diantara tiga jenis KJA yang

ada di Pulau Panggang dilihat dari NPV, IRR, Net B/C, dan payback periode.
7.2 Saran
Dari penelitian yang dilakukan ada beberapa saran yang perlu diperhatikan

agar budidaya ikan kerapu macan di Pulau Panggang dapat berjalan dengan lebih

baik, yaitu:

1. Perlu diberikannya pelatihan yang berkesinambungan mengenai teknik

budidaya ikan kerapu macan dengan sistem KJA dan pengawasan terhadap

aktivitas budidaya ikan kerapu macan agar tetap sesuai dengan ketentuan-

ketentuan teknik budidaya ikan kerapu.

2. Pemberian bantuan modal kepada petani untuk pengembangan usaha budidaya

kerapu macan agar tingkat pendapatan petani budidaya KJA dapat lebih baik

lagi.

3. Ketersediaan bibit ikan kerapu macan di Pulau Panggang lebih ditingkatkan

agar petani budidaya tidak kesulitan mendapatkan bibit pada saat musim

tanam ikan kerapu macan.

4. Penelitian sejenis didaerah lain untuk melihat potensi perikanan budidaya

khususnya tentang budidaya ikan kerapu macan dengan sistem KJA.


DAFTAR PUSTAKA

Atmoko, Gus Dwi. 2006. Analisa Kelayakan Usahatani Pembesaran dan


Pemasaran Ikan Mas (Cyprinus carpio) Budidaya Karamba Jaring Apung.
Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian.
IPB. Bogor

Departemen Kelautan dan Perikanan. 2005. Stastistik Kelautan dan Perikanan


Gittinger, J. Price. 1986. Analisis Ekonomi Proyek-proyek Pertanian. Penerbit
Universitas Indonesia. Jakarta

Herlina, Dewi. 2006. Kajian Kelayakan Usaha Pendederan dan Penggelondongan


Ikan Kerapu Macan di Balai Budidaya Laut (BBL) Pulau Semak Daun
Kabupaten Administrasi Pulau Seribu provinsi DKI Jakarta. Skripsi. Jurusan
Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor

Husnan, Suad dan Suwarsono. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Edisi Keempat.
UPP AMP YKPN. Yogyakarta

Kadariah. 1980. Evaluasi Proyek; Analisa Ekonomi. Lembaga Penerbit FE-UI.


Jakarta

Kotler, Philip. 2005. Manajemen Pemasaran. Edisi Kesebelas. Indeks. Jakarta

Maulana, Andi Budi. 2003. Analisa Kelayakan Usahatani Pembesaran dan


Pemasaran Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Budidaya Karamba Jaring
Apung. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas
Pertanian. IPB. Bogor
Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi. 2005. Jurnal Petunjuk Teknis Budidaya Ikan Laut di Jaring
Apung. Hal 5.
Pusat kajian sumberdaya Pesisir dan Lautan LPPM-IPB. 2004. Kajian Model
Budidaya Laut di Pulau Semak Daun. Bogor

Sari, Yesi Deswita. 2006. Interaksi Optimal Perikanan Tangkap dan Budidaya
(Studi Kasus Perikanan Kerapu di Perairan Kepulauan Seribu, Kabupaten
Kepulauan Seribu Provinsi DKI Jakarta). Tesis. IPB. Bogor

Sih-Yang Sim et all, 2005. Pedoman Praktis Pemberian dan Pengelolaan Pakan
untuk Ikan Kerapu yang di Budidaya. Asia-Pacific Marine Finfish
Aquaculture Network. Australia
Soebagio, 2004. Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang dan Pesisir dan Laut
Kepulauan Seribu dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat
Melalui Kegiatan Budidaya Perikanan dan Pariwisata. Tesis. IPB.
Bogor
Sunyoto, 2000. Jurnal Evaluasi Penilaian Lokasi Karamba Jaring Apung. Hal 2.

Sudin Perikanan Kepulauan Seribu. Laporan Tahunan Perikanan. 2005.


LAMPIRAN
96

Lampiran 1 Proyeksi Rugi Laba KJA 2 Kotak


No Uraian Satuan Jumlah satuan Harga satuan (Rp) Nilai (Rp)
A Penerimaan
Penjualan Ikan Kerapu (± 0,7 kg) Ekor 139.6 91,000 12,703,600
Total Penerimaan Tunai 12,703,600
B Biaya
I. Biaya Tunai
a. Biaya Variabel
Pakan Buatan/Pelet Kg 0,2 192,500 38,500
Pakan Alami Kg 834 2,700 2,251,800
Benih Kerapu Ekor 200 11,200 2,240,000
Total Biaya Variabel 4,530,300
b. Biaya Tetap
Biaya Perawatan Karamba Tahun 1 70,000 70,000
Total Biaya Tetap Tunai 70,000
Total Biaya Tunai 4,600,300
II. Biaya Tidak Tunai
Tenaga Kerja Periode 1 500,000 5,000,000
Penyusutan KJA Tahun 1 381,000 421,000
Penyusutan Peralatan Tahun 1 48,000 48,000
Penyusutan Perahu Tahun 1 200,000 200,000
Total Biaya Tidak Tunai 5,669,000
TOTAL BIAYA PRODUKSI 10,269,300
C KEUNTUNGAN SEBELUM PAJAK 2,434,300
Pajak Penghasilan 0
D KEUNTUNGAN SETELAH PAJAK 2,434,300
E R/C 1.24
F Cost Per Unit 73,562
97

Lampiran 2 Proyeksi Rugi Laba KJA 4 Kotak


No Uraian Satuan Jumlah satuan Harga satuan (Rp) Nilai (Rp)
A Penerimaan
Penjualan Ikan Kerapu (± 0,7 kg) Ekor 254.8 87,000 22,167,600
Total Penerimaan Tunai 22,167,600
B Biaya
I. Biaya Tunai
a. Biaya Variabel
Pakan Buatan/Pelet Kg 0 0 0
Pakan Alami Kg 1252 2,800 3,505,600
Benih Kerapu Ekor 400 12,000 4,800,000
Total Biaya Variabel 8,305,600
b. Biaya Tetap
Biaya Perawatan Karamba Tahun 1 100,000 100,000
Total Biaya Tetap Tunai 100,000
Total Biaya Tunai 8,405,600
II. Biaya Tidak Tunai
Tenaga Kerja Periode 1 500,000 5,000,000
Penyusutan KJA Tahun 1 1,000,000 940,000
Penyusutan Peralatan Tahun 1 72,000 72,000
Penyusutan Perahu Tahun 1 200,000 200,000
Total Biaya Tidak Tunai 6,212,000
TOTAL BIAYA PRODUKSI 14,617,600
C KEUNTUNGAN SEBELUM PAJAK 7,550,000
Pajak Penghasilan 0
D KEUNTUNGAN SETELAH PAJAK 7,550,000
E R/C 1.52
F Cost Per Unit 57,369
98

Lampiran 3 Proyeksi Rugi Laba KJA 6 Kotak


No Uraian Satuan Jumlah satuan Harga satuan (Rp) Nilai (Rp)
A Penerimaan
Penjualan Ikan Kerapu (± 0,7 kg) Ekor 322.75 88,750 28,644,063
Total Penerimaan Tunai 28,644,063

B Biaya
I. Biaya Tunai
a. Biaya Variabel
Pakan Buatan/Pelet Kg 0 0 0
Pakan Alami Kg 1450 2,750 3,987,500
Benih Kerapu Ekor 600 10,750 6,450,000
Total Biaya Variabel 10,437,500
b. Biaya Tetap
Biaya Perawatan Karamba Tahun 1 1,200,000 1,200,000
Total Biaya Tetap Tunai 1,200,000
Total Biaya Tunai 11,637,500
II. Biaya Tidak Tunai
Tenaga Kerja Periode 1 500,000 5,000,000
Penyusutan KJA Tahun 1 1,382,000 1,382,000
Penyusutan Peralatan Tahun 1 100,000 100,000
Penyusutan Perahu Tahun 1 200,000 200,000
Total Biaya Tidak Tunai 6,682,000
TOTAL BIAYA PRODUKSI 18,319,500
C KEUNTUNGAN SEBELUM PAJAK 10,324,563
Pajak Pengjasilan (10%) 1,032,456
D KEUNTUNGAN SETELAH PAJAK 9,292,106
E R/C 1.56
F Cost Per Unit 56,761
99

Lampiran 4 Cash Flow KJA 2 Kotak


No Keterangan Tahun
0 1 2 3 4 5
A INFLOW
Hasil Penjualan - 12,703,600 12,703,600 12,703,600 12,703,600 12,703,600
Nilai Sisa - - - - - 950,000
Total Inflow - 12,703,600 12,703,600 12,703,600 12,703,600 13,653,600
B OUTFLOW
1. Biaya Investasi
Konstruksi KJA (5tahun) 1,880,000
Peralatan 240,000
Perahu 1,500,000
Total Biaya Investasi 3,620,000
2. Biaya Reinvestasi 0 0 450,000 0 450,000 0
3. Total Biaya Variabel - 4,530,300 4,530,300 4,530,300 4,530,300 4,530,300
4. Biaya Tetap
Perawatan Karamba 0 70,000 70,000 70,000 70,000 70,000
Sub Total 0 70,000 70,000 70,000 70,000 70,000
Total Outflow 3,620,000 4,600,300 5,050,300 4,600,300 5,050,300 4,600,300
C Benefit (3,620,000) 8,103,300 7,653,300 8,103,300 7,653,300 9,053,300
D Net Benefit (3,620,000) 8,103,300 7,653,300 8,103,300 7,653,300 9,053,300
E Discuont Factor 8.5% 1 0.9501 0.9027 0.8577 0.8149 0.7743
Present Value (3,620,000) 7,699,097 6,908,830 6,950,173 6,236,778 7,009,651
F Net Present Value 24,172,937
G IRR 220.57
H Net Benefit/Cost 1.78
I PP 5.64
100

Lampiran 5 Cash Flow KJA 4 Kotak


No Keterangan Tahun
0 1 2 3 4 5
A INFLOW
Hasil Penjualan - 22,167,600 22,167,600 22,167,600 22,167,600 22,167,600
Nilai Sisa - - - - - 1,450,000
Total Inflow - 22,167,600 22,167,600 22,167,600 22,167,600 23,617,600
B OUTFLOW
1. Biaya Investasi
Konstruksi KJA (5tahun) 4,120,000
Peralatan 360,000
Perahu 1,500,000
Total Biaya Investasi 5,980,000 - - - - -
2. Biaya Reinvestasi - - 1,020,000 - 1,020,000 -
3. Total Biaya Variabel - 8,305,600 8,305,600 8,305,600 8,305,600 8,305,600
4. Biaya Tetap
Perawatan Karamba - 100,000 100,000 100,000 100,000 100,000
Sub Total - 100,000 100,000 100,000 100,000 100,000
Total Outflow 5,980,000 8,405,600 9,425,600 8,405,600 9,425,600 8,405,600
C Benefit (5,980,000) 13,762,000 12,742,000 13,762,000 12,742,000 15,212,000
D Net Benefit (5,980,000) 13,762,000 12,742,000 13,762,000 12,742,000 15,212,000
E Discuont Factor 5.25% 1 0.9501 0.9027 0.8577 0.8149 0.7743
Present Value (5,980,000) 13,075,534 11,502,530 11,803,621 10,383,629 11,778,115
F Net Present Value 52,563,430
G IRR 225.68
H Net Benefit/Cost 2.20
I PP 5.49
101

Lampiran 6 Cash Flow KJA 6 Kotak


No Keterangan Tahun
0 1 2 3 4 5
A INFLOW
Hasil Penjualan - 28,644,063 28,644,063 28,644,063 28,644,063 28,644,063
Nilai Sisa - - - - - 1,550,000
Total Inflow - 28,644,063 28,644,063 28,644,063 28,644,063 30,194,063
B OUTFLOW
1. Biaya Investasi
Konstruksi KJA (5tahun) 5,625,000
Peralatan 500,000
Perahu 1,500,000
Total Biaya Investasi 7,625,000 - - - - -
2. Biaya Reinvestasi - - 1,290,000 - 1,290,000 -
3. Total Biaya Variabel - 10,437,500 10,437,500 10,437,500 10,437,500 10,437,500
4. Biaya Tetap
Perawatan Karamba - 120,000 120,000 120,000 120,000 120,000
Sub Total - 120,000 120,000 120,000 120,000 120,000
Total Outflow 7,625,000 10,557,500 11,847,500 10,557,500 11,847,500 10,557,500
C Benefit (7,625,000) 18,086,563 16,796,563 18,086,563 16,796,563 19,636,563
D Net Benefit (7,625,000) 18,086,563 16,796,563 18,086,563 16,796,563 19,636,563
E Discuont Factor 5.25% 1 0.9501 0.9027 0.8577 0.8149 0.7743
Present Value (7,625,000) 17,184,382 15,162,688 15,512,783 13,687,748 15,203,898
F Net Present Value 55,235,042
G IRR 232.86
H Net Benefit/Cost 1.80
I PP 5.32
102

Lampiran 7 Analisis Sensitifitas Harga Bibit Kerapu Naik 10% KJA 2 Kotak
No Keterangan Tahun
0 1 2 3 4 5
A INFLOW
Hasil Penjualan - 12,703,600 12,703,600 12,703,600 12,703,600 12,703,600
Nilai Sisa - - - - - 700,000
Total Inflow - 12,703,600 12,703,600 12,703,600 12,703,600 13,403,600
B OUTFLOW
1. Biaya Investasi
Konstruksi KJA (5tahun) 1,880,000
Peralatan 240,000
Perahu 1,500,000
Total Biaya Investasi 3,620,000 0 0 0 0 0
2. Biaya Reinvestasi - - 450,000 - 450,000 -
3. Total Biaya Variabel - 4,754,300 4,754,300 4,754,300 4,754,300 4,754,300
4. Biaya Tetap
Perawatan Karamba - 70,000 70,000 70,000 70,000 70,000
Sub Total - 70,000 70,000 70,000 70,000 70,000
Total Outflow 3,620,000 4,824,300 5,274,300 4,824,300 5,274,300 4,824,300
C Benefit (3,620,000) 7,879,300 7,429,300 7,879,300 7,429,300 8,579,300
D Net Benefit (3,620,000) 7,879,300 7,429,300 7,879,300 7,429,300 8,579,300
E Discuont Factor 8.5% 1 0.9501 0.9027 0.8577 0.8149 0.7743
Present Value (3,620,000) 7,486,271 6,706,620 6,758,049 6,054,238 6,642,649
F Net Present Value 25,136,074
G IRR 214.89
H Net Benefit/Cost 1.84
I PP 5.51
103

Lampiran 8 Analisis Sensitifitas Harga Bibit Kerapu Naik 10% KJA 4 Kotak
No Keterangan Tahun
0 1 2 3 4 5
A INFLOW
Hasil Penjualan - 22,167,600 22,167,600 22,167,600 22,167,600 22,167,600
Nilai Sisa - - - - - 900,000
Total Inflow - 22,167,600 22,167,600 22,167,600 22,167,600 23,067,600
B OUTFLOW
1. Biaya Investasi
Konstruksi KJA (5tahun) 4,120,000
Peralatan 360,000
Perahu 1,500,000
Total Biaya Investasi 5,980,000 - - - - -
2. Biaya Reinvestasi - - 1,020,000 - 1,020,000 -
3. Total Biaya Variabel - 8,890,600 8,890,600 8,890,600 8,890,600 8,890,600
4. Biaya Tetap
Perawatan Karamba - 100,000 100,000 100,000 100,000 100,000
Sub Total - 100,000 100,000 100,000 100,000 100,000
Total Outflow 5,980,000 8,990,600 10,010,600 8,990,600 10,010,600 8,990,600
C Benefit (5,980,000) 13,177,000 12,157,000 13,177,000 12,157,000 14,077,000
D Net Benefit (5,980,000) 13,177,000 12,157,000 13,177,000 12,157,000 14,077,000
E Discuont Factor 5.25% 1 0.9501 0.9027 0.8577 0.8149 0.7743
Present Value (5,980,000) 12,519,715 10,974,436 11,301,868 9,906,905 10,899,325
F Net Present Value 49,622,249
G IRR 215.69
H Net Benefit/Cost 2.07
I PP 5.45
104

Lampiran 9 Analisis Sensitifitas Harga Bibit Kerapu Naik 10% KJA 6 Kotak
No Keterangan Tahun
0 1 2 3 4 5
A INFLOW
Hasil Penjualan - 28,644,063 28,644,063 28,644,063 28,644,063 28,644,063
Nilai Sisa - - - - - 1,100,000
Total Inflow - 28,644,063 28,644,063 28,644,063 28,644,063 29,744,063
B OUTFLOW
1. Biaya Investasi
Konstruksi KJA (5tahun) 5,625,000
Peralatan 500,000
Perahu 1,500,000
Total Biaya Investasi 7,625,000 - - - - -
2. Biaya Reinvestasi - - 1,290,000 - 1,290,000 -
3. Total Biaya Variabel - 11,332,500 11,332,500 11,332,500 11,332,500 11,332,500
4. Biaya Tetap
Perawatan Karamba - 1,200,000 1,200,000 1,200,000 1,200,000 1,200,000
Sub Total - 1,200,000 1,200,000 1,200,000 1,200,000 1,200,000
Total Outflow 7,625,000 12,532,500 13,822,500 12,532,500 13,822,500 12,532,500
C Benefit (7,625,000) 16,111,563 14,821,563 16,111,563 14,821,563 17,211,563
D Net Benefit (7,625,000) 16,111,563 14,821,563 16,111,563 14,821,563 17,211,563
E Discuont Factor 5.25% 1 0.9501 0.9027 0.8577 0.8149 0.7743
Present Value (7,625,000) 15,307,898 13,379,805 13,818,832 12,078,293 13,326,306
F Net Present Value 63,726,988
G IRR 206.51
H Net Benefit/Cost 2.06
I PP 5.68
105

Lampiran 10 Analisis Sensitifitas SR Turun 10% KJA 2 Kotak


No Keterangan Tahun
0 1 2 3 4 5
A INFLOW
Hasil Penjualan - 10,920,000 10,920,000 10,920,000 10,920,000 10,920,000
Nilai Sisa - - - - - 950,000
Total Inflow - 10,920,000 10,920,000 10,920,000 10,920,000 11,870,000
B OUTFLOW
1. Biaya Investasi
Konstruksi KJA (5tahun) 1,880,000
Peralatan 240,000
Perahu 1,500,000
Total Biaya Investasi 3,620,000 0 0 0 0 0
2. Biaya Reinvestasi - - 450,000 - 450,000 -
3. Total Biaya Variabel - 4,530,300 4,530,300 4,530,300 4,530,300 4,530,300
4. Biaya Tetap
Perawatan Karamba - 70,000 70,000 70,000 70,000 70,000
Sub Total - 70,000 70,000 70,000 70,000 70,000
Total Outflow 3,620,000 4,600,300 5,050,300 4,600,300 5,050,300 4,600,300
C Benefit (3,620,000) 6,319,700 5,869,700 6,319,700 5,869,700 7,269,700
D Net Benefit (3,620,000) 6,319,700 5,869,700 6,319,700 5,869,700 7,269,700
E Discuont Factor 8.5% 1 0.9501 0.9027 0.8577 0.8149 0.7743
Present Value (3,620,000) 6,004,466 5,298,729 5,420,385 4,783,299 5,628,672
F Net Present Value 24,172,937
G IRR 170.61
H Net Benefit/Cost 2.03
I PP 7.23
106

Lampiran 11 Analisis Sensitifitas SR Turun 10% KJA 4 Kotak


No Keterangan Tahun
0 1 2 3 4 5
A INFLOW
Hasil Penjualan - 18,792,000 18,792,000 18,792,000 18,792,000 18,792,000
Nilai Sisa - - - - - 1,450,000
Total Inflow - 18,792,000 18,792,000 18,792,000 18,792,000 20,242,000
B OUTFLOW
1. Biaya Investasi
Konstruksi KJA (5tahun) 4,120,000
Peralatan 360,000
Perahu 1,500,000
Total Biaya Investasi 5,980,000 - - - - -
2. Biaya Reinvestasi - - 1,020,000 - 1,020,000 -
3. Total Biaya Variabel - 8,305,600 8,305,600 8,305,600 8,305,600 8,305,600
4. Biaya Tetap
Perawatan Karamba - 100,000 100,000 100,000 100,000 100,000
Sub Total - 100,000 100,000 100,000 100,000 100,000
Total Outflow 5,980,000 8,405,600 9,425,600 8,405,600 9,425,600 8,405,600
C Benefit (5,980,000) 10,386,400 9,366,400 10,386,400 9,366,400 11,836,400
D Net Benefit (5,980,000) 10,386,400 9,366,400 10,386,400 9,366,400 11,836,400
E Discuont Factor 5.25% 1 0.9501 0.9027 0.8577 0.8149 0.7743
Present Value (5,980,000) 9,868,314 8,455,290 8,908,380 7,632,807 9,164,507
F Net Present Value 38,049,297
G IRR 168.19
H Net Benefit/Cost 1.87
I PP 7.27
107

Lampiran 12 Analisis Sensitifitas SR Turun 10% KJA 6 Kotak


No Keterangan Tahun
0 1 2 3 4 5
A INFLOW
Hasil Penjualan - 23,430,000 23,430,000 23,430,000 23,430,000 23,430,000
Nilai Sisa - - - - - 1,550,000
Total Inflow - 23,430,000 23,430,000 23,430,000 23,430,000 24,980,000
B OUTFLOW
1. Biaya Investasi
Konstruksi KJA (5tahun) 5,625,000
Peralatan 500,000
Perahu 1,500,000
Total Biaya Investasi 7,625,000 - - - - -
2. Biaya Reinvestasi - - 1,290,000 - 1,290,000 -
3. Total Biaya Variabel - 10,437,500 10,437,500 10,437,500 10,437,500 10,437,500
4. Biaya Tetap
Perawatan Karamba - 1,200,000 1,200,000 1,200,000 1,200,000 1,200,000
Sub Total - 1,200,000 1,200,000 1,200,000 1,200,000 1,200,000
Total Outflow 7,625,000 11,637,500 12,927,500 11,637,500 12,927,500 11,637,500
C Benefit (7,625,000) 11,792,500 10,502,500 11,792,500 10,502,500 13,342,500
D Net Benefit (7,625,000) 11,792,500 10,502,500 11,792,500 10,502,500 13,342,500
E Discuont Factor 5.25% 1 0.9501 0.9027 0.8577 0.8149 0.7743
Present Value (7,625,000) 11,204,276 9,480,876 10,114,387 8,558,630 10,330,627
F Net Present Value 59,878,739
G IRR 148.62
H Net Benefit/Cost 2.42
I PP 8.17