Anda di halaman 1dari 11

Pemerintah Percepat Sertifikasi Unit

Usaha Pembudidayaan Ikan. Buat Apa?


oleh M Ambari [Jakarta] di 4 June 2018

Prinsip ketelusuran dalam produk perikanan budidaya menjadi salah satu


kekhawatiran yang dirasakan para pengusaha yang bergerak di sektor perikanan
budidaya. Prinsip itu menjadi hal penting untuk meyakinkan negara tujuan ekspor
tentang produk perikanan yang datang dari Indonesia. Adapun, negara yang
menjadi tujuan ekspor sebagian besar dikirim ke Amerika Serikat dan negara Uni
Eropa.

Untuk menghilangkan kekhawatiran yang kini sedang menyergap para pengusaha


di sektor perikanan budidaya, Pemerintah Indonesia segera bergerak cepat untuk
memulai pelaksanaan sertifikasi bagi unit usaha pembudidayaan ikan, khususnya
bagi komoditas untuk orientasi ekspor. Percepatan itu mulai dilakukan dari 2018 ini.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)


Slamet Soebjakto mengatakan, percepatan sertifikasi dilakukan oleh KKP dengan
cara menjemput bola kepada unit usaha yang siap disertifikasi. Kemudian, setelah
melimpahkan kewenangan sertifikasi kepada dinas kelautan dan perikanan provinsi
di seluruh Indonesia.

“Walaupun faktanya saat ini tidak ada informasi komplain terkait mutu di negara-
negara tujuan ekspor, khususnya bagi produk udang yang mayoritas telah
bersertifikat CBIB (cara budidaya ikan yang baik). Ini dapat terlihat dari kinerja
ekspor udang yang cenderung positif dari tahun ke tahun,” ungkapnya belum lama
ini.

baca : Strategi Apa untuk Tingkatkan Produksi Perikanan Budidaya di 2018?


Hamdani, kepala bagian pembesaran PT Bali Barramundi, Buleleng, Bali pada Kamis
(10/5/2018) memberikan pakan pada ikan budi daya di keramba. Perusahaan itu telah
menerapkan prinsip Seafood Savers untuk perikanan berkelanjutan. Foto : Anton
Muhajir/Mongabay Indonesia
Untuk keperluan percepatan sertifikasi, Slamet mengungkapkan, KKP sudah
menyiapkan anggaran sebesar Rp3,1 miliar dan akan digunakan untuk
melaksanakan dua jenis sertifikasi, yakni Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB)
dan Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB). Anggaran tersebut diakuinya akan
berfokus pada dekonsentrasi, sehingga seluruh propinsi dapat melakukan proses
sertifiksasi sekaligus surveillance ke unit-unit usaha budidaya.

Slamet menuturkan, saat ini sudah ada auditor CBIB yang jumlahnya mencapai
1.000 orang dan tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Keberadaan
auditor di daerah tersebut, akan memangkas waktu dan proses sertifikasi yang
sebelumnya dilakukan oleh tim auditor pusat. Oleh itu, auditor di daerah diharapkan
bisa mempercepat proses sertifikasi.

“Sebelumnya proses penilaian sertifikasi membutuhkan waktu dan tentunya


anggaran yang tidak sedikit. Akhir tahun lalu kita sudah lakukan reviewterhadap
auditor CBIB tersebut,” jelasnya.

Standar Internasional

Agar kekhawatiran para pelaku usaha bisa ditepis dengan baik, Slamet
menyebutkan, ada proses harmonisasi kaidah CBIB dengan standar internasional
yang dilakukan langsung oleh KKP. Kaidah tersebut berisi panduan lebih lengkap
dan komprehensif dan sudah menyesuaikan dengan permintaan pasar perikanan
global.

“Di dalam kaidah, tidak hanya dibahas soal aspek mutu, food safety dan social
responsibility saja, namun aspek sustainability juga jadi perhatian. Ini menyangkut
preferensi masyarakat global saat ini,” paparnya.

baca : Indonesia Kampanyekan Perikanan Berkelanjutan untuk Dunia, Seperti


Apa Itu?
Keramba budidaya ikan napoleon dan ikan kerapu di Pulau Sedanau Kecamatan
Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Ikan napoleon dijual Rp1,2
juta per ekor dan kerapu Rp300 ribu per ekor. Perikanan menjadi sektor ekonomi utama
di Natuna. Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

Menurut Slamet, saat ini KKP tengah mempersiapkan rencana penyatuan seluruh
sertifikasi yang ada, yakni CPIB, CBIB, CPPIB (Cara Pembuatan Pakan Ikan yang
Baik), dan CPOIKB ke dalam satu dokumen sertifikasi yakni Indonesian Good
Aquaculture Practice (IndoGap). Penyatuan itu, tak lain untuk menjamin agar proses
sistem jaminan mutu dan keamanan pangan lebih baik dan terintegrasi.

Berkaitan dengan rencana pembentukan struktur baru yang independen, Slamet


menjelaskan bahwa saat ini masih dalam tahap penyiapan payung hukum yang
relevan. Untuk membahas tentang mekanisme dan hal lainnya, KKP menggandeng
Badan Sertifikasi Nasional (BSN) dan stakeholders terkait untuk membahas ini.

“Jadi semua membutuhkan proses. Intinya kita perlu aturan hukum yang jelas.
Aturan hukum tersebut tidak boleh lepas tanpa ada aturan hukum di atasnya,
sehingga proses sertifikasi nantinya diakui secara legal formal,” ucapnya.

Selain mengawal dari sisi regulasi, Slamet menambahkan, untuk menjamin


konsistensi penerapan CBIB pada pembudidaya kecil, Pemerintah juga akan
melakukan kontrol melalui inspeksi secara berkala dalam rangka membina dan
menumbuhkan tanggung jawab pembudidaya. Inspeksi bisa melibatkan pengawas
perikanan yang sudah ada.

KKP juga melakukan perbaikan sistem kodefikasi bagi pembudidaya udang di


seluruh Indonesia yang bertujuan untuk memudahkan ketelusuran produk yang
dihasilkan. Untuk proses sertifikasi tersebut, KKP membuka diri untuk melibatkan
pihak unit pengolahan ikan (UPI) dan diharapkan akan tercipta timbal balik yang
positif antara konsumen yang diwakili UPI dengan pembudidaya.

baca : Sudah Saatnya Indonesia Fokus Bangun Sektor Perikanan Budidaya


Perikanan budidaya. Foto : kkpnews
Sebelum memulai percepatan sertifikasi, Slamet menambahkan, KKP lebih dulu
memulai proses penjajakan hal serupa dengan perusahaan ritel besar dunia, seperti
Walmart dan Hatfield. Dari penjajakan tersebut, Pemerintah akan fokus menyiapkan
standar IndoGap untuk proses sertifikasi, sementara UPI berperan dalam
prosesnya.

“Untuk auditor tetap kita libatkan tim yang sudah ada saat ini. Mudah-mudahan
semua pihak bisa terima konsep ini, sehingga sertifikasi memiliki daya kontrol yang
kuat. Namun, semuanya butuh proses karena perlu menyiapkan perangkat yang
jelas,” jelas dia.

Agar para pembudidaya bisa tetap konsisten melaksanakan prinsip ketelusuran,


Slamet menghimbau kepada UPI untuk bisa memberikan insentif khusus kepada
mereka. Dengan demikian, para pembudidaya bisa konsisten menerapkan CBIB
dan pada akhirnya mereka mendapatkan nilai tambah atas hasil produksi yang
tersertifikasi.

“UPI juga mestinya memberikan reward khusus seperti pembelian produk yang
tersertifikasi CBIB dengan selisih harga lebih tinggi dibanding yang tidak
tersertifikasi. Ini untuk memicu tanggungjawab pembudidaya supaya konsisten
menerapkan CBIB,” tandas dia.

Untuk diketahui, pasar ekspor udang dari Indonesia diupayakan Pemerintah


Indonesia tidak hanya terbatas ke AS dan Uni Eropa saja. Pemerintah saat ini
tengah menjajaki ekspansi pasar ekspor ke negara lain seperti kawasan Timur
tengah, Tiongkok, Rusia dan negara lainnya. Adapun, untuk unit usaha budidaya
yang sudah tersertifikasi, dari data KKP pada 2017, jumlahnya sudah mencapai
8.792 unit.

baca : Sejak 1950, Perikanan Budidaya Indonesia Lambat Berkembang,


Kenapa Demikian?
Seorang pekerja tengah memberikan makanan ikan di keramba jaring apung yang ada
di Danau Toba. Foto: Ayat S karokaro/Mongabay Indonesia

Sertifikasi Mandiri

Selain Pemerintah Indonesia, upaya meningkatkan daya saing produk perikanan


budidaya melalui prinsip ketelusuran juga dilakukan secara mandiri oleh pelaku
usaha. Melalui pendampingan yang dilakukan WWF Indonesia, prinsip ketelusuran
diterapkan dalam proses produksi dan berakhir dengan sertifikasi
seperti Aquaculture Stewardship Council (ASC).
Di antara pelaku usaha yang secara mandiri melakukan proses itu, adalah PT
Mustika Minanusa Aurora yang berlokasi di Kota Tarakan, Kalimantan Utara.
Perusahaan tersebut berkomitmen meraih sertifikat ASC, antara lain supaya
ekosistem laut di Indonesia bisa tetap terjaga baik, legalitas terjaga, perbaikan
lingkungan, pekerja, sosial, dan ketelusuran juga terjaga dengan baik.

Direktur Program Coral Triangle WWF-Indonesia Wawan Ridwan mengatakan,


keberhasilan PT MMA mendapatkan sertifikasi ekolabel ASC, menjadi contoh
penerapan kebijakan pengelolaan budi daya berkelanjutan. Sinergi antara pelaku
industri perikanan (perusahaan dan petambak), lembaga swadaya, dan pemerintah
akan membawa proses pengelolaan sumber daya laut ke tahap perbaikan dan
peningkatan kualitas sumber daya perikanan.

“Dalam program perbaikan budi daya udang, PT MMA telah melibatkan setiap
pelaku dalam mata rantai suplai udang dan mengikutsertakan peran importir udang
dan retailer di Jepang dalam peningkatan kualitas lingkungan ditingkat produksi,”
jelas dia.

Sementara Manajer Perbaikan Perikanan Tangkap dan Budidaya WWF Indonesia


Abdullah Habibi mengungkapkan, praktik budidaya yang dijalankan PT MMA telah
menerapkan seluruh prinsip budidaya laut yang bertanggung jawab. Hal itu,
dibuktikan melalui perolehan sertifikasi ASC.

“Kita mendorong adanya dukungan pasar untuk memperluas implementasi praktik


budi daya serupa oleh pelaku usaha lainnya,” tuturnya.

Menurut Habibi, salah satu poin penting untuk mendapatkan sertifikat ekolabel ASC,
adalah adalah kewajiban menanam 50 persen areal tambak dengan pohon bakau
(mangrove). Kewajiban tersebut, dimaksudkan agar ekosistem di sekitar lokasi
tambak bisa tetap terjaga dengan baik, meskipun ada perikanan budidaya.

baca : Perikanan Budidaya Disuntik Anggaran 3 Kali Lipat, Lima Komoditas


Digenjot Produksinya
Seorang pekerja sedang memberikan pakan pada ikan nila dalam budidaya keramba
jaring apung di Danau Toba, Sumut. Foto : Jay Fajar/Mongabay Indonesia

Selain perikanan budidaya, Habibi menjelaskan, sertifikasi ASC juga diberikan


kepada perusahaan yang bergerak di sektor perikanan tangkap. Seperti perikanan
budidaya, perikanan tangkap juga pada prinsipnya adalah penerapan perikanan
yang berkelanjutan.

“Selain PT MMA, saat ini ada empat perusahaan lain yang sudah menyatakan
tertarik untuk mengikuti sertifikasi. Sementara, dua perusahaan lagi saat ini sedang
mendaftar untuk bisa didampingi oleh WWF,” jelasnya.

Untuk sektor perikanan tangkap, Habibi menuturkan, saat ini WWF sedang
mendampingi delapan perusahaan yang tertarik untuk menerapkan praktik ekolabel.
Ke depannya, perusahaan-perusahaan tersebut diharapkan bisa menyusul untuk
mendapatkan sertifikat ASC yang berarti simbol penghargaan untuk perikanan
berkelanjutan.

http://www.mongabay.co.id/2018/06/04/pemerintah-percepat-sertifikasi-unit-usaha-pembudidayaan-
ikan-buat-apa/