Anda di halaman 1dari 20

BAB 1 PENDAHULUAN

Nyeri puting persisten adalah salah satu alasan paling umum yang diberikan oleh ibu karena berhenti eksklusif menyusui. Nyeri menyusui telah dinyatakan sebagai perhatian bagi ibu, tidak hanya di periode pascapartum segera, tetapi untuk lebih dari sepertiga ibu pada dua minggu dan satu bulan setelahnya kelahiran. Bukan hanya menyakitkan, tetapi juga dapat menyebabkan tekanan psikologis dan mengganggu umum aktivitas, suasana hati, tidur, dan ikatan antara ibu dan bayi. Cara yang paling efektif membantu ibu untuk membentuk menyusui yang nyaman dan tidak menyakitkan agar dapat terus menyusui selama mereka ingin belum ditetapkan, dan penelitian sangat dibutuhkan di daerah ini. Nyeri puting sering dikaitkan dengan penempatan dan pelekatan bayi yang tidak optimal. 1

Trauma puting menimbulkan insidensi tinggi, terutama pada 30 hari pertama pascapersalinan. Karena itu menyakitkan, kondisi tersebut sering menyebabkan gangguan eksklusif menyusui dan menyapih dini. Di kota New York, 35% wanita berhenti menyusui dalam seminggu setelah kelahiran karena trauma puting, dan 30% antara 1 dan 4 minggu pascapersalinan. 3

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan Rinata (2012) di Puskesmas Waru terdapat 75% ibu menyusui dengan teknik yang salah dan berdasarkan hasil penelitiannya didapati bahwa sebagian besar teknik menyusui ibu masih salah (53,3%). Penelitian Kuswanti (2014) mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara paritas primipara dan multipara terhadap keterampilan menyusui pada ibu post partum. Tinggi rendahnya keterampilan menyusui seseorang tidak selalu dipengaruhi oleh paritas yaitu primipara ataupun multipara. Hal ini karena disebabkan oleh semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga seorang ibu baik primipara ataupun multipara sama-sama dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dalam hal ini adalah keterampilan menyusui.

Bukti konklusif belum diberikan mengenai aspek-aspek pemosisian mana yang paling penting penting. Penyebab lain nyeri puting adalah: puting datar atau terbalik,

4

tindakan mengisap bayi yang menyebabkan friksi puting, ankyloglossia bayi, anomali palatal bayi (gelembung atau tinggi langit-langit melengkung , hisap bayi yang kuat, lepuh susu (susu bleb atau bintik putih), infeksi (termasuk Candida albicans, Staphylococcus aureus, virus Herpes simplex), psoriasis, dermatitis, dan fenomena Raynaud. 1

Pasokan susu yang tidak mencukupi mungkin merupakan efek sekunder dari puting susu rasa sakit sebagai akibat dari penghambatan refleks pengeluaran susu karena rasa sakit, atau penghapusan yang tidak efektif susu seperti bayi dengan ankyloglossia atau celah langit-langit. Koreksi posisi dan lampiran adalah rekomendasi berdasarkan pengalaman yang paling umum untuk pengobatan nyeri puting, dan ketika dilakukan dalam minggu pertama kelahiran telah dikaitkan dengan durasi menyusui yang lebih lama dan lebih sedikit masalah menyusui (termasuk puting sakit). 1

Koreksi posisi dan lampiran dengan perawatan kebidanan bersamaan adalah efektif dalam mengurangi nyeri puting dan memperbaiki kondisi puting dalam 20 hari setelah lahir. Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa satu, atau bahkan beberapa, sesi instruksi tepat posisi dan lampiran selama beberapa hari pertama setelah lahir tidak menghasilkan ASI yang lebih lama atau masalah menyusui lebih sedikit. Ini menyoroti fakta bahwa penempatan dan keterikatan yang salah bukan satu-satunya penyebab nyeri puting. 1

Telah dispekulasikan bahwa gerakan puting yang berlebihan di dalam mulut bayi dapat dikaitkan dengan nyeri puting. Ketika ada nyeri gesekan, lanolin anhidrat yang sangat dimurnikan atau salep vitamin A dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit. Frenotomi untuk ankyloglossia telah terbukti efektif dalam menghilangkan rasa sakit dan meningkatkan transfer susu. Ada sedikit bukti yang diterbitkan untuk efek anomali palatal pada menyusui, tetapi dalam satu studi kasus rasa sakit berkurang ketika ibu menyusui dalam posisi terlentang. 1

Hisapan bayi yang kuat telah dikaitkan dengan nyeri puting yang belum diringankan oleh saran dari konsultan laktasi. Saran klinis untuk lecet susu melibatkan aplikasi kompres hangat diikuti dengan menyusui atau lancing melepuh dengan steril jarum. Nyeri puting karena infeksi dapat diobati dengan antibiotik untuk bakteri yang

5

dikonfirmasi infeksi, atau antijamur untuk infeksi Candida. Dermatitis dapat diobati dengan menghindari iritasi dan mungkin memerlukan salep kortikosteroid topikal jangka pendek. Psoriasis pada puting susu juga dapat diobati dengan kortikosteroid topikal. Rasa sakit karena fenomena Raynaud bisa diobati dengan menggunakan langkah-langkah sederhana seperti kehangatan dan penghindaran vasokonstriktor, serta resep nifedipine. 1

Tidak ada bukti yang cukup bahwa glycerine gel dressing, lanolin dengan breast shells, lanolin Sendiri, ASI Ekspres, atau salep puting serbaguna meningkatkan persepsi ibu pada puting rasa sakit dalam tujuh hari pertama laktasi meskipun lanolin anhidrat sangat murni ditemukan lebih efektif daripada ASI yang diekspresikan selama 14 hari pertama laktasi. Sebaliknya, itu telah menyarankan bahwa penggunaan lanolin dapat dikaitkan dengan peningkatan laju infeksi. Namun, mungkin ini mungkin hasil dari kebersihan tangan yang kurang optimal. 1

6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

  • 2.1 Definisi

Menyusui selalu menjadi standar kriteria untuk pemberian nutrisi pada bayi. Sebelum munculnya susu formula, menyusui merupakan satu-satunya cara untuk memberi nutrisi pada bayi. Pada abad ke-21, meskipun sudah mulai muncul susu formula, ASI tetap merupakan nutrisi terbaik bagi bayi dan juga berfungsi untuk perkembangan sistem imun pada bayi. Cracked nipple (puting susu lecet) merupakan perlukaan pada puting susu yang disebabkan karena trauma pada puting susu saat menyusui, kadang kulitnya sampai terkelupas atau luka dan berdarah. 1

  • 2.2 Anatomi dan Fisiologi Payudara

Payudara merupakan kelenjar aksesoris kulit yang terletak pada rusuk kedua sampai rusuk keenam, dari pinggir lateral sternum sampai linea aksilaris media. Kelenjar ini dimiliki oleh pria dan wanita. Namun, pada masa pubertas, payudara wanita lambat laun akan membesar hingga membentuk setengah lingkaran, sedangkan pada pria tidak, pembesaran ini terutama terjadi akibat penimbunan lemak dan dipengaruhi oleh hormon-hormon ovarium. Struktur payudara laki-laki hampir identik dengan yang ada pada payudara wanita, kecuali bahwa jaringan payudara laki-laki tidak memiliki lobulus khusus, karena tidak ada kebutuhan fisiologis untuk produksi air susu oleh payudara laki-laki. Seiring waktu, laki-laki tidak memiliki pertumbuhan dan perkembangan payudara kompleks yang sama seperti perempuan . Secara umum, payudara terdiri atas dua jenis jaringan, yaitu jaringan glandular (kelenjar) dan jaringan stromal (penopang). Jaringan kelenjar meliputi kelenjar susu (lobus) dan salurannya (ductus). Sedangkan jaringan penopang meliputi jaringan lemak dan jaringan ikat. Selain itu, payudara juga memiliki aliran limfe. Fungsi kelenjar payudara adalah untuk sintesis, sekresi, dan ejeksi susu; fungsi-fugsi ini yang disebut laktasi, berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. Pada masa pubertas, tingkat testosteron yang tinggi dan tingkat

7

estrogen yang rendah menghentikan perkembangan payudara pada laki-laki. Beberapa saluran susu ada, tetapi mereka tetap tidak berkembang dan lobulus yang paling sering absen. Selama pubertas, yang dimulai pada usia 10-12 tahun, hipofisis mensekresikan follicle- stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH), menyebabkan pematangan folikel ovarium, yang kemudian mengeluarkan estrogen.Hormon-hormon ini menyebabkan pertumbuhan dan pematangan payudara dan organ genital. Estrogen mendorong pertumbuhan epitel duktal pada payudara. Duktal terminal juga membentuk umbi dari Krause. Ada juga kelenjar keringat apokrindan sebasea tetapi tidak folikel rambut.Tiap papilla dikelilingi oleh daerah kulit yang berwarna lebih gelap yang disebut areola mammae. 2 Areola melingkar dan berpigmen, berukuran 15-60 mm dan terdapat tonjolan- tonjolan halus yang merupakan tonjolan dari kelenjar areola di bawahnya. Jika dilakukan perabaan pada payudara, akan terasa perbedaan di tempat yang berlainan. Pada bagian lateral atas (dekat aksila), cenderung terasa bergumpal-gumpal besar. Pada bagian bawah, akan terasa seperti pasir atau kerikil. Sedangkan bagian di bawah puting susu, akan terasa seperti kumpulan biji yang besar. Namun, perabaan ini dapat berbeda pada orang yang berbeda. 2 Produksi susu distimulasi secara dominan oleh hormon prolaktin dari hipofisis anterior, dengan kerjasama oleh progesteron dan estrogen. Ejeksi susu distimulasi oleh oksitosin, yang dihasilkan dari hipofisis posterior sebagai respon menghisap oleh bayi pada puting susu ibu. Payudara terdiri atas 15-20 lobus yang tersusun radier dan berpusat pada papilla mamma. Saluran utama tiap lobus memiliki ampulla yang membesar tepat sebelum ujungnya yang bermuara ke papilla. Payudara melekat pada otot pektoralis mayor di antara iga kedua dan keenam. Kelenjarnya melekat ke fascia otot pektoralis mayor dengan ligamen Cooper. Ligamen ini melekatkan jaringan parenkim payudara ke fascia otot pektoralis mayor sampai ke kulit bagian dermis. Ligamen ini tidak kaku sehingga payudara dapat bergerak dengan alami. Ligamen ini akan semakin mengendur seiring berjalannya usia. 2

8

Suplai darah ke kulit payudara berasal dari pleksus subdermal, yang

berhubungan langsung dengan pembuluh darah yang lebih dalam di parenkim payudara. Suplai darah tersebut bersumber dari : 2

  • a. Pembuluh darah mamaria interna

  • b. Arteri thoracoacromial

  • c. Pembuluh darah otot serratus anterior

  • d. Arteri thoracica lateral

  • e. Cabang terminal dari pembuluh darah intercosta ke tiga sampai ke delapan

Suplai darah ke kulit payudara berasal dari pleksus subdermal, yang berhubungan langsung dengan pembuluh darah yang

2.3 Insiden

Trauma pada puting memiliki angka kejadian yang tinggi, terutama pada 30 hari postpartum. Karena hal ini merupakan kondisi yang menyakitkan, biasanya hal ini menyebabkan gangguan pemberian ASI eksklusif. Di New York, 35% wanita berhenti menyusui setelah 1 minggu setelah persalinan karena lecet pada puting, dan 30 % wanita berhenti setelah 1 dan 4 minggu postpartum. Hal yang sama terjadi

9

di Brazil, 25% wanita beresiko tinggi mengalami gangguan dalam pemberian ASI eksklusif pada bulan pertama laktasi ketika terdapat lecet pada putting. Masalah- masalah menyusui yang sering terjadi adalah puting susu lecet atau nyeri. Sekitar 57% dari ibu-ibu menyusui dilaporkan pernah menderita kelecetan pada putingnya dan payudara bengkak.Payudara bengkak sering terjadi pada hari ketiga dan keempat sesudah ibu melahirkan, karena terdapat sumbatan pada satu atau lebih duktus laktiferus dan mastitis serta abses payudara yang merupakan kelanjutan atau komplikasi dari mastitis yang disebabkan karena meluasnya peradangan payudara. Sehingga dapat menyebabkan tidak terlaksananya Air Susu Ibu (ASI) eksklusif .

3

2.4 Etiologi

Ada beberapa penyebab terjadinya cracked nipple: 4,5 Kesalahan dalam teknik menyusui Kesalahan dalam teknik menyusui, bayi tidak menyusui sampai areola tertutup oleh mulut bayi. Bila bayi hanya menyusui pada puting susu, maka bayi akan mendapatkan ASI sedikit, karena gusi bayi tidak menekan sinus latiferus, sedangkan pada ibunya akan menjadi nyeri/lecet pada puting.

Moniliasis (Infeksi Candida albicans) Infeksi pada mulut bayi yang kemudian menular ke puting susu ibu

Terkena paparan bahan Sabun, krim, alkohol atau zat iritan lainnya untuk membersihkan puting susu ibu.

Bayi dengan tali lidah yang pendek Bayi dengan tali lidah (frenulum lingual) yang pendek, sehingga menyebabkan bayi sulit menghisap sampai ke areola dan isapan hanya pada puting susu saja.

Penggunaan breast pump yang kurang tepat

10

Penggunaan pada level suction yang tinggi dapat mencederai payudara.

  • 2.5 Etiopatogenesis

Penyebab trauma adalah trauma mekanik akibat menyusui. Apabila aliran susu menurun, tekanan intraoral dari bayi baru lahir akan meningkat karena daya pengisapan bayi berlebihan, sehingga menyebabkan daerah papila mamae edema dan kemerahan setelah menyusui. Penyebab aliran susu menurun sangat banyak, salah satunya adalah posisi menyusui dan perlekatan yang tidak benar. Selain itu,

adanya fisura berkaitan dengan adanya pengaruh dari gaya gesek dan arah gaya gesek terhadap kulit (papilla mammae). 5

  • 2.6 Patofisiologi

Terjadinya puting lecet di awal menyusui pada umumnya disebabkan oleh salah satu atau kedua hal berikut: posisi dan pelekatan bayi yang tidak tepat saat

menyusu, atau bayi tidak mengisap dengan baik. Meskipun demikian, bayi dapat belajar untuk mengisap payudara dengan baik ketika ia melekat dengan tepat saat menyusu (mereka akan belajar dengan sendirinya). Jadi, proses mengisap yang bermasalah seringkali disebabkan oleh pelekatan yang kurang baik. Infeksi jamur yang terjadi di puting (disebabkan oleh Candida Albicans) dapat pula menyebabkan puting lecet. Vasospasme yang disebabkan oleh iritasi pada saluran darah di puting akibat perlekatan yang kurang baik dan/atau infeksi jamur, juga dapat menyebabkan puting lecet. Rasa sakit yang disebabkan oleh pelekatan yang kurang baik dan proses mengisap yang tidak efektif akan terasa paling sakit saat bayi melekat ke payudara dan biasanya akan berkurang seiring bayi menyusu. Namun jika lecetnya cukup parah, rasa sakit dapat berlangsung terus selama proses menyusui akibat pelekatan kurang baik/mengisap tidak efektif. Rasa sakit akibat infeksi jamur biasanya akan berlangsung terus selama proses menyusui dan bahkan setelahnya. 6 Banyak ibu mendeskripsikan rasa sakit seperti teriris sebagai akibat pelekatan yang kurang baik atau proses mengisap yang kurang efektif. Rasa sakit

11

akibat infeksi jamur seringkali digambarkan seperti rasa terbakar. Jika rasa sakit pada puting terjadi padahal sebelumnya tidak pernah merasakannya, maka rasa sakit tersebut mungkin disebabkan oleh infeksi Candida, meskipun infeksi tersebut dapat pula merupakan lanjutan dari penyebab lain sakit pada puting, sehingga periode tanpa sakit hampir tidak pernah terjadi. Retak pada puting dapat terjadi karena infeksi jamur. Kondisi dermatologis (kulit) dapat pula menyebabkan sakit pada puting. 6

2.7 Gambaran Klinis Gambaran dan gejala klinis yang didapatkan pada cracked nipple: 3,4

Luka lecet kekuningan

Kulit tampak terkelupas/ luka berdarah sampai mengakibatkan rasa sakit pada saat menyusui

o

Infeksi jamur rasa sakit terbakar

o

Perlekatan yg kurang baik rasa sakit teriris

Tampak lebih merah

Terlihat retak

akibat infeksi jamur seringkali digambarkan seperti rasa terbakar. Jika rasa sakit pada puting terjadi padahal sebelumnya

Puting susu yang lecet dan kemerahn disertai kulit yang retak

akibat infeksi jamur seringkali digambarkan seperti rasa terbakar. Jika rasa sakit pada puting terjadi padahal sebelumnya

Puting susu yang lecet dengan luka kulit yang kekuningan

akibat infeksi jamur seringkali digambarkan seperti rasa terbakar. Jika rasa sakit pada puting terjadi padahal sebelumnya

Puting susu yang lecet dan kemerahan dengan gumpalan bercak darah

12

2.8

Diagnosis

Anamnesis Pasien mengeluh perasaan seperti teriris pisau atau terbakar. Pasien juga mengatakan rasa nyeri pada puting terjadi saat awal menyusui dan akan membaik seiring dengan waktu menyusuinya. Rasa nyeri dapat terjadi di awal menyusui, dapat pula terjadi secara terus-menerus saat menyusui, bahkan sampai saat setelah selesai menyusui. Rasa nyeri pada puting dapat dibagi menjadi 2 penyebab yang sering. Jika terjadi nyeri karena puting lecet saat awal menyusui dan membaik seiring dengan waktu menyusui biasanya disebabkan oleh posisi dan perlekatan bayi yang kurang tepat saat menyusu, atau bayi tidak menghisap puting dengan baik. Nyeri yang disebabkan oleh perlekatan ini biasanya dirasakan seperti diiris dengan pisau. Lalu ada pula nyeri yang dirasakan secara terus-menerus sebelum, saat, bahkan sampai setelah menyusui. Nyeri ini biasanya disebabkan oleh infeksi. Infeksi yang paling sering adalah infeksi jamur Candida albicans. Nyeri karena infeksi ini biasanya dirasakan seperti rasa terbakar pada daerah puting susu. 3,4

Pemeriksaan fisik

  • Pada inspeksi dapat ditemukan adanya lecet dan kemerahan pada daerah puting susu, pada palpasi dapat ditemukan adanya nyeri tekan

  • Pemeriksaan payudara bisa juga dilakukan dengan teknik SADARI. SADARI sebaiknya dilakukan sebulan sekali, kira-kira satu minggu setelah masa menstruasi karena disaat inilah payudara lebih lunak karena pengaruh hormon. Wanita usia 20-an awal bisa memulai memeriksa payudara sendiri.

2.9

Diagnosis Banding

Mastitis

13

Mastitis merupakan suatu proses peradangan pada satu atau lebih segmen payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Dalam proses ini dikenal pula istilah stasis ASI, mastitis tanpa infeksi, dan mastitis terinfeksi. Apabila ASI menetap di bagian tertentu payudara, karena saluran tersumbat atau karena payudara bengkak, maka ini disebut stasis ASI. Bila ASI tidak juga dikeluarkan, akan terjadi peradangan jaringan payudara yang disebut mastitis tanpa infeksi, dan bila telah terinfeksi bakteri disebut mastitis terinfeksi. Mastitis sering didapatkan dengan gejala klinis berupa Demam dengan suhu lebih dari 38,5 o C, menggigil, nyeri atau ngilu seluruh tubuh, payudara menjadi kemerahan, tegang, panas, bengkak, dan terasa sangat nyeri,peningkatan kadar natrium dalam ASI yang membuat bayi menolak menyusu karena ASI terasa asin, timbul garis-garis merah ke arah ketiak. 8

Ca mammae Kanker payudara (Carcinoma mammae) dalam bahasa inggrisnya disebut breast cancer merupakan kanker pada jaringan payudara. Kanker ini paling umum menyerang wanita, Kanker ini terjadi karena pada kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali, atau kanker payudara sering didefinisikan sebagai suatu penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma. Deteksi dini ca mammae dapat dilakukukan dengan SADARI. SADARI sebaiknya dilakukan sebulan sekali, kira-kira satu minggu setelah masa menstruasi karena disaat inilah payudara lebih lunak karena pengaruh hormon. Wanita usia 20-an awal bisa memulai memeriksa payudara sendiri. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan dalam tiga tahap, yaitu :

  • 1. Melihat payudara

    • a. Pemeriksaan ini dilakukan di depan cermin

    • b. Bukalah seluruh pakaian dari pinggang ke atas dan berdirilah di depan cermin yang besar

    • c. Lakukan dengan kedua tangan disamping tubuh

14

  • d. Perhatikan payudara :

    • Apakah bentuk dan ukuran payudara kanan dan kiri simetris?

    • Apakah payudara membesar atau mengeras?

    • Apakah arah puting tidak lurus ke depan atau berubah arah?

    • Apakah puting tertarik ke dalam?

    • Apakah puting atau kulit ada yang lecet?

    • Apakah ada perubahan warna kulit?

    • Apakah kulit menebal dengan pori-pori melebar (seperti kulit jeruk)

    • Apakah permukaan kulit tidak mulus, ada kerutan atau cekungan?

  • e. Ulangi semua pengamatan diatas dengan posisi kedua tangan lurus keatas.

  • f. Setelah itu, ulangi lagi pengamatan tersebut dengan posisi kedua tangan di pinggang, dada di busungkan, dan siku tertarik ke belakang.

    • 2. Memijat payudara

      • a. Dengan kedua tangan, pijat payudara dengan lembut dari tepi hingga ke puting

      • b. Perhatikan apakah ada cairan atau darah yang keluar dari puting susu (seharusnya, tidak ada cairan yang keluar kecuali pada wanita yang sedang menyusui).

  • 3. Meraba payudara

    • a. Pemeriksaan dilakukan dalam posisi berbaring

    • b. Lakukan perabaan payudara satu persatu

    • c. Untuk memeriksakan payudara kanan, letakkan bantal atau handuk yang dilipat dibawah bahu kanan. Lengan kanan direntangkan disamping kepala atau diletakkan dibawah kepala.

    • d. Raba payudara dengan menggunakan tiga atau empat jari tangan kiri yang saling dirapatkan

    • e. Rabaan dilakukan dengan gerakkan memutar dari tepi payudara hingga keputing susu

  • 15

    • f. Geser posisi jari, kemudian lakukan lagi gerakkan memutar dari tepi payudara hingga keputing susu

    • g. Lakukan seterusnya hingga seluruh bagian payudar diperiksa

    • h. Lakukan hal yang sama pada payudara yang satunya lagi

    • i. Sebaiknya perabaan dilakukan dalam tiga macam tekanan: tekanana ringan untuk meraba adanya benjolan dipermukaan kulit, tekanan sedang untuk memeriksa adanya benjolan ditengah jaringan payudara, dan tekanan kuat untuk meraba benjolan di dasar payudara yang melekat pada tulang iga.

    • j. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan lotion atau minyak sebagai pelicin agar pemeriksaan lebih sensitif

    Setelah itu, dilakukan semua langkah perabaan dalam posisi berdiri. Sebaiknya dilakukan saat sedang mandi (dengan menggunakan sabun).

    2.10 Penatalaksanaan

    Penanganan sebelum menyusui Sebelum menyusui bayi kompres payudara dengan kompres dingin,dengan mengkompres bagian yang terluka dapat mengurangi rasa sakit terutama saat perlekatan awal. Periksa apakah bayi menderita infeksi jamur atau tidak jika ada dapat diberikan antijamur seperti nistatin

    Penanganan saat menyusui Bayi harus disusukan terlebih dahulu pada puting yang normal yang lecetnya lebih sedikit dan untuk menghindari payudara yang bengkak ASI dapat dipompa dan disusukan pada bayi lewat sendok atau pipet.

    Harus yakin bahwa teknik menyusui benar

    Posisi perlekatan yang paling baik adalah pada bagian tengah payudara dengan bagian areola bawah lebih banyak masuk ke mulut bayi

    16

    Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam) sehingga payudara tidak sampai terlalu penuh dan bayi tidak begitu lapar juga tidak menyusu terlalu rakus,kurangi durasi menyusui pada payudara yang lecet Gunakan posisi yang berbeda, dengan mencoba beberapa posisi menyusui ibu dapat mendapatkan posisi yang sesuai dan nyaman untuk bayi dan ibu.

    Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam) sehingga payudara tidak sampai terlalu penuh dan bayi

    Penanganan setelah menyusui Setiap kali selesai menyusui bekas ASI tidak perlu dibersihkan, tapi diangin- anginkan sebentar agar melembutkan puting sekaligus sebagai anti infeksi dan pada puting susu dapat diberikan lanolin atau minyak kelapa. Bilasan Air Garam Tipe spesial dari air garam ini dinamakan Normal Saline. Larutan ini mempunyai konsentrasi garam yang sama dengan air mata. Jadi, tidak menyakitkan untuk digunakan. 1) Setelah menyusui, rendam puting susu dalam larutan garam yang hangat beberapa menit sampai rata mengenai seluruh area puting. 2) Hindari perendaman yang terlalu lama (lebih dari 5-10 menit) karena dapat menyebabkan super-hidrasi pada kulit yang menyebabkan lecet semakin parah dan memperlambat penyembuhan.

    17

    3) Keringkan dengan hati-hati menggunakan handuk yang lembut. 4) Jika bayi terganggu dengan rasa asin dari sisa larutan garam, bilas terlebih dahulu dengan air putih dan keringkan kembali sebelum menyusui.

    Setelah Membilas Dengan Air Garam 1) Untuk menjaga kelembaban kulit dalam tanpa menyebabkan kulit luar puting basah, gunakan salep lanolin (Lansinoh, Purelan, dsb), vaseline atau hydrogel (Comfort Gel, Soothies, dsb). 2) Jika terdapat infeksi jamur, gunakan salep anti jamur. 3) Jika diperlukan, gunakan salep antibiotik atau All Purpose Nipple Ointment (berisi antibiotik, anti-inflamasi, dan anti jamur) setelah menyusui.

    Penanganan Diantara Waktu Menyusui Biarkan puting susu terkena udara selama memungkinkan. Gunakan “Nipple Shells” jika perlu untuk melindungi puting dari kelembaban dan gesekan. Jika ada luka (bekas gigitan, dsb) kompres dengan es yang dibungkus dengan

    o

    o

    o

    kain, selama 20 menit on, 20 menit off, dan ulangi seperlunya. Dapat digunakan obat analgetik yang aman bagi ibu menyusui untuk mengurangi nyeri.

    2.11 Edukasi

    Edukasi mengenai prinsip dasar menyusui yaitu teknik benar, ibu rileks dan percaya diri saat menyusui. Penilaian proses menyusui: 10 B= Body Position : Rileks, nyaman, ibu memegang seluruh tubuh bayi, kepala tegak lurus, dagu bayi menyentuh payudara, seluruh tubuh bayi menghadap ibu, payudara ibu mendekati bayi, bukan bayi mendekati payudara ibu.

    18

    R= Response : Bayi mencari puting, menghisap tenang, dan asi keluar. Isapan

    bayi lambat dan tenang, ada jeda diantara isapan, ada gerakan menelan dari bayi. E= Emotion : Ibu merangkul dengan yakin, atensi ibu baik (menatap bayi).

    A= Anatomi : Payudara lunak setelah menyusui dan terasa lebih ringan

    S= Suckling : Isapan bayi, kekuatan normal. Kelekatan mulut bayi yang baik:

    • - Dagu menyentuh payudara

    • - Mulut bayi terbuka lebar

    • - Bibir Bawah keluar

    • - Areola mammae sedikit terlihat, biasanya bagian bawah tidak terlihat, bagian atas sedikit terlihat. T= Time : 15-20 menit bayi akan melepas sendiri apabila teknik dan posisi menyusui benar.

    Langkah Menyusui yang Benar

    • 1. Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar puting, duduk dan berbaring dengan santai.

    • 2. Bayi diletakan menghadap ke ibu dgn posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahu saja tapi kepala dan tubuh bayi lurus, hadapkan bayi kedada ibu sehingga hidung bayi berhadapan dgn puting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu menyentuh bibir bayi ke puting susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar

     R= Response : Bayi mencari puting, menghisap tenang, dan asi keluar. Isapan  bayi lambat
    • 3. Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak dibawah puting susu. Cara melekatkan mulut bayi dengan benar

    19

    yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar

    yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar
    yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar

    Cara pengamatan teknik menyusui yang benar Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan putting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga, mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu.

    Tanda menyusui yang benar

    • - Bayi tampak tenang

    • - Badan bayi menempel pada perut ibu

    • - Mulut bayi terbuka lebar

    • - Dagu bayi menempel pada payudara ibu

    • - Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk

    • - Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan

    • - Puting susu tidak terasa nyeri

    • - Telinga dan lengan bayi terletak pada 1 garis lurus

    • - Kepala bayi agak menengadah

    yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar

    20

    2.12 Komplikasi  Mastitis  Abses payudara Infeksi Payudara ( Mastitis ) adalah suatu infeksi pada

    2.12 Komplikasi

    Mastitis

    Abses payudara

    Infeksi Payudara (Mastitis) adalah suatu infeksi pada jaringan payudara. Pada infeksi yang berat atau tidak diobati, bisa terbentuk abses payudara (penimbunan nanah di dalam payudara). Abses payudara merupakan komplikasi yang terjadi akibat peradangan payudara kronik. Dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, perembesan sekresi melalui fisura di putting, dan dermatitis yang mengenai puting. 8

    2.13 Prognosis

    Puting susu lecet/luka harus segera ditangani dengan baik, karena jika dibiarkan

    saja akan memudahkan terjadinya infeksi pada payudara (mastitis).

    21

    BAB 3

    KESIMPULAN

    Cracked nipple (puting susu lecet) merupakan perlukaan pada puting susu yang disebabkan karena trauma pada puting susu saat menyusui, kadang kulitnya sampai terkelupas atau luka dan berdarah. 1 Penyebab utama cracked nipple merupakan trauma mekanik akibat menyusui. Apabila aliran susu menurun, tekanan intraoral dari bayi baru lahir akan meningkat karena daya pengisapan bayi berlebihan, sehingga menyebabkan daerah papila mamae edema dan kemerahan setelah menyusui. Penyebab aliran susu menurun sangat banyak, salah satunya adalah posisi menyusui dan perlekatan yang tidak benar. Selain itu, adanya fisura berkaitan dengan adanya pengaruh dari gaya gesek dan arah gaya gesek terhadap kulit (papilla mammae). 5 Diagnosis mastitis biasanya ditegakkan secara klinis. Pasien dengan gejala yang terlokalisir, Jika terjadi nyeri karena puting lecet saat awal menyusui dan membaik seiring dengan waktu menyusui biasanya disebabkan oleh posisi dan perlekatan bayi yang kurang tepat saat menyusu, atau bayi tidak menghisap puting dengan baik. Infeksi yang paling sering adalah infeksi jamur Candida albicans. Nyeri karena infeksi ini biasanya dirasakan seperti rasa terbakar pada daerah puting susu. Pada inspeksi dapat ditemukan adanya lecet dan kemerahan pada daerah puting susu, pada palpasi dapat ditemukan adanya nyeri tekan. 3,4 Penatalaksanaan sebelum menyusui bayi kompres payudara dengan kompres dingin,dengan mengkompres bagian yang terluka dapat mengurangi rasa sakit terutama saat perlekatan awal. Untuk menjaga kelembaban kulit dalam tanpa menyebabkan kulit luar puting basah, gunakan salep lanolin (Lansinoh, Purelan, dsb), vaseline atau hydrogel (Comfort Gel, Soothies, dsb). Jika terdapat infeksi jamur, gunakan salep anti jamur. Jika diperlukan, gunakan salep antibiotik atau All Purpose Nipple Ointment (berisi antibiotik, anti-inflamasi, dan anti jamur) setelah menyusui. 5,7

    22

    Daftar Pustaka

    • 1. Buchanan P. 2002. Assessing the Evidence: Cracked Nipples and Moist Wound Healing. The Breastfeeding Network

    • 2. Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi manusia dari Sel ke Sistem Edisi 6. Jakarta:EGC

    • 3. Santos, et al. 2016. Prevalence and factors associated with cracked nipples in the first month postpartum. BMC Pregnancy and Childbirth

    • 4. Tait, Prscilla, et al. 2000. Nipple Pain in Breearfeeding women: Causes, Treatment, and Prevention Strategies. Journal of Midwifery & Women’s Health.

    • 5. Kent, Jacqueline C., et al. 2015. Nipple Pain in Breatfeeding Mothers: Incidence, Causes and treatments. International Journal of Enviromental Research and Public Health.

    • 6. Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika. Hal 102-105

    • 7. Martin J. 2012. Nipple Pain: Causes, Treatments, and Remedies. Leaven. 36(1):10-11.

    • 8. Inch Sally. 2003. Mastitis Penyebab & Penatalaksanaannya. Jakarta:Widya Medika

    • 9. Nipple Pain and breastfeeding, Fact sheet for Health Care Professionals. 2016. Health Service Executive

    10. Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan Edisi keempat. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

    23