Anda di halaman 1dari 63

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan proses mengubah tingkah laku siswa menjadi

manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat di

lingkungan alam sekitarnya. Melalui pendidikan siswa dapat mengembangkan

kemampuan secara optimal dan dapat mewujudkan fungsi dirinya sesuai dengan

kebutuhan pribadi dan masyarakat.

Matematika merupakan salah satu bidang studi yang memiliki peranan

penting dalam pendidikan. Penguasaan terhadap bidang studi matematika

merupakan suatu keharusan. Dengan belajar matematika orang dapat

mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, kritis, dan kreatif

yang sungguh dibutuhkan dalam kehidupan. Oleh sebab itu matematika

merupakan salah satu ilmu dasar yang perlu diajarkan di sekolah karena

penggunaannya yang luas pada aspek kehidupan.

Sofan Amri (2013:2) pembelajaran matematika di sekolah masih

cenderung text book oriented dan kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari

siswa. Pembelajaran konsep cenderung abstrak, sehingga konsep-konsep

akademik sulit dipahami. Sementara itu kebanyakan guru dalam mengajar masih

kurang memperhatikan kemampuan berpikir siswa, atau dengan kata lain tidak

melakukan pengajaran bermakna, metode yang digunakan kurang bervariasi, dan

sebagai akibat motivasi belajar siswa menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar

cenderung menghafal.

1
2

Pembelajaran matematika beserta sistem evaluasi selama ini kurang

memberikan kesempatan siswa untuk memunculkan ide-ide atau gagasan-gagasan

selama belajar matematika. Salah satu masalah yang selalu muncul dalam

pembelajaran matematika selain hasil belajar yang rendah adalah pembelajaran

yang tidak mengungkap aspek berpikir kritis siswa. Hal ini tentu akan

menghasilkan prestasi siswa yang sangat rendah sehingga tidak mampu bersaing

dalam bidang keilmuan maupun memunculkan gagasan-gagasan baru.

Penyebab utama pentingnya pelajaran matematika karena kemampuan

siswa dalam bermatematika merupakan landasan dan wahana pokok yang menjadi

syarat mutlak dan dapat melatih siswa berpikir dengan jelas, teratur, sistematis,

kritis, kreatif, bertanggung jawab dan memiliki kepribadian sehari–hari yang

harus dibina sejak pendidikan dasar. Demikian juga Abdurrahman (2003:251)

mengemukakan bahwa “Semua orang harus bermatematika karena merupakan

sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari–hari“. Besarnya peranan

matematika tersebut menuntut siswa harus mampu menguasai pelajaran

matematika.

Pokok pikiran inilah yang harus dikembangkan dalam penyelesaian

kegiatan belajar matematika, supaya proses belajar bermakna dapat terjadi dengan

baik. Dalam mengajarkan matematika guru harus berusaha agar siswa lebih

banyak mengerti dan mengikuti pelajaran matematika dengan gembira, dan

berusaha bagaimana agar siswa tersebut tertarik dengan mata pelajaran

matematika, sehingga akan mendapatkan hasil belajar yang baik.

Berfikir kritis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh

setiap orang. Untuk itu, proses pembelajaran setiap jenjang pendidikan seharusnya
3

menitik beratkan pada pengembangan berfikir kritis siswa. Namun upaya untuk

melatih keterampilan berfikir kritis siswa sering luput dari perhatian guru. Hal ini

tampak dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru yang lebih banyak

memberi informasi, diikuti oleh diskusi dan tanya jawab biasa. Sedangkan

keterampilan berfikir kritis tidak datang dengan sendirinya. Harus ada upaya-

upaya yang sistematis untuk mencapainya. Misalnya melalui pembelajaran

disekolah, keterampilan berfikir kritis juga merupakan salah satu modal utama

bagi siswa dalam mempelajari matematika.

Dalam penyampaian materi matematika harus sudah dikembangkan oleh

guru sedemikian, sehingga materi tersebut menjadi menarik, sebab secara realistis

seorang siswa yang belajar itu pada dasarnya adalah mencari hubungan antara hal

yang dipelajari dengan yang telah dimiliki, dikuasai siswa, dialami atau diketahui

siswa.

Kemampuan berpikir kritis melatih siswa untuk membuat keputusan dari

berbagai sudut pandang secara cermat, teliti, dan logis. Oleh karena itu sebaiknya

pembelajaran di sekolah melatih siswa untuk menggali kemampuan dan

keterampilan berpikir kritis. Namun kenyataannya dalam pembelajaran

matematika di sekolah selama ini belum banyak memberikan kesempatan kepada

siswa untuk mengembangkan kemampuan ini. Upaya memfasilitasi agar

kemampuan berpikir kritis siswa berkembang menjadi sangat penting.

Pembelajaran matematika beserta sistem evaluasi selama ini kurang

memberikan kesempatan siswa untuk memunculkan ide-ide atau gagasan-gagasan

selama belajar matematika. Salah satu masalah yang selalu muncul dalam

pembelajaran matematika selain hasil belajar yang rendah adalah pembelajaran


4

yang tidak mengungkap aspek berpikir kritis siswa. Hal ini tentu akan

menghasilkan prestasi siswa yang sangat rendah sehingga tidak mampu bersaing

dalam bidang keilmuan maupun memunculkan gagasan-gagasan baru. Salah satu

indikator rendahnya prestasi belajar siswa Indonesia terungkap pada laporan hasil

Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2012.

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2012,

Indonesia berada diperingkat ke-64 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam tes.

Penilaian itu dipublikasikan The Organization for Economic Cooperation and

Development (OECD) pada hari Rabu, 4 Desember 2012 yang menyatakan bahwa

rata-rata skor matematika anak-anak Indonesia 375, rata-rata skor membaca 396,

dan rata-rata skor untuk sains 382. Padahal rata-rata skor OECD secara berurutan

adalah 494, 496, dan 501.

(http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-resultsoverview.pdf.pada
tanggal 15 Oktober 2014, pada pukul 10.40 WIB)
Hasil PISA di atas menunjukan bahwa kemampuan anak-anak Indonesia

di bidang matematika masih rendah dibandingkan dengan anak-anak lain di dunia.

Hal ini senada dengan pendapat Iwan Pranoto. Menurut Iwan Pranoto, guru besar

matematika Institut Teknologi Bandung (ITB), sejak tahun 2000 performa anak-

anak Indonesia buruk di PISA. Hal ini disebabkan kecakapan matematika yang

diharapkan dunia melalui tes PISA itu berbeda dengan yang diajarkan di sekolah

dan yang diujikan dalam ujian nasional. Iwan menambahkan sekolah Indonesia

melupakan pembelajaran bernalar dan terlalu fokus mengajarkan kecakapan yang

sudah kadaluwarsa, seperti menghafal dan menghitung sehingga kemampuan

bernalar anak-anak Indonesia masih lemah.

(https://groups.google.com/forum/#!topic/bencana/UGna4p6lJgQ. pada tanggal 15


Oktober 2014, pada pukul 10.00 WIB)
5

Lemahnya kemampuan bernalar anak-anak Indonesia perlu mendapatkan

perhatian lebih dari pemerintah. Salah satunya dengan membenahi system

pembelajaran di sekolah. Pembelajaran matematika di sekolah diharapkan mampu

meningkatkan kemampuan bernalar sehingga anak-anak Indonesia mampu

bersaing dengan anak-anak lain di dunia.

Pada era reformasi sekarang ini, kemampuan berpikir kritis menjadi

kemampuan yang sangat diperlukan agar siswa sanggup menghadapi perubahan

keadaan atau tantangan-tantangan dalam kehidupan yang selalu berkembang.

Kemampuan berpikir kritis melatih siswa untuk membuat keputusan dari berbagai

sudut pandang secara cermat, teliti, dan logis. Salah satu yang dihadapi siswa di

SMA Negeri 1 Barumun khususnya bidang studi matematika adalah rendahnya

kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini disebabkan oleh :

Kurangnya respon siswa pada saat proses pembelajaran, yaitu dari 30

siswa yang hadir hanya 10 orang yang mengerjakan sedangkan sebagian siswa

tidak ada keinginan untuk bertindak atau berpartisipasi aktif, para siswa merasa

jenuh dan kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran di kelas, karena

menurut mereka ada beberapa guru yang kurang memberikan kenyamanan dan

antusias mereka dalam belajar. Seperti dalam hal pemilihan model pembelajaran,

penggunaan media, pengelompokan siswa dan dalam penataan tempat duduk,

sehingga proses pembelajaran yang berlangsung kurang optimal. Selain itu, siswa

juga kurang percaya diri dan tidak berani mengemukakan pendapat. Sebagian

besar siswa kurang mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari

dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dimamfaatkan atau diaplikasikan

pada situasi baru. Seperi yang terlihat pada gambar 1.1


6

Gambar 1.1

Dari gambar 1.1 terlihat jelas adanya sebagian siswa yang tidak mau

mencoba mengerjakan soal-soal LKS yang diberikan guru, ada yang tidur, ada

yang asyik bicara dengan teman sebangkunya, dan ada juga yang acuh tak acuh

terhadap soal-soal yang diberikan guru. Seharusnya diberikan kesempatan kepada

siswa untuk memikirkan dan mengembangkan sendiri konsep matematika dan

siswa dilatih mendefenisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang

berhubungan dengan berfikir kritis.

Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan pada tanggal 02 April

2018 dengan ibu Juhanis Fausiah, S.Pd selaku guru di kelas XI IPA bidang studi

Matematika menyatakan bahwa kemampuan berfikir kritis siswa rendah,

permasalahan yang selalu muncul pada saat pembelajaran berlangsung adalah

siswa lebih cenderung menghafal dari pada memahami konsep sehingga

menyebabkan siswa kurang terlatih mengembangkan keterampilan berpikir dalam

memecahkan masalah dan menerapkan konsep-konsep yang telah dipelajari ke

dalam suatu permasalahan.


7

Peran siswa dalam proses pembelajaran masih kurang, yakni hanya sedikit

siswa yang menunjukkan keaktifan berpendapat dan bertanya. Pertanyaan yang

diajukan siswa juga belum menunjukkan pertanyaan-pertanyaan kritis berkaitan

dengan materi yang sedang dipelajari. Pada saat guru mengajukan pertanyaan,

hanya beberapa siswa saja yang mampu menjawab pertanyaan. Kemudian

jawaban dari pertanyaan masih sebatas ingatan saja, belum terdapat sikap siswa

yang menunjukkan jawaban analisis dari pertanyaan guru.

Selain pernyataan guru bidang studi matematika di atas, peneliti juga

membagikan soal berupa pretest pada hari Senin 07 April 2014 yang

mengkhususkan pada pengujian peningkatan berfikir kritis siswa pada pokok

bahasan peluang. Hasil nilai pretest yang diperoleh dari 35 siswa hanya 5 orang

dengan kriteria baik, 7 orang dengan kriteria cukup, 16 orang dengan kriteria

kurang, dan 7 orang dengan kriteria sangat kurang, karena masih berada dibawah

standar KKM SMA Negeri 1 Barumun yaitu 75. Hal ini terlihat dari jawaban

ketika siswa diminta menyelesaikan soal pretest nomor 1, yaitu:

1. Sebuah kantong berisi 4 buah bola merah dan 5 bola berwarna putih. Jika dua

buah bola diambil dari dalam kantong satu persatu dengan tidak

mengembalikan setiap pengambilan, maka peluang terambilnya kedua bola

itu berwarna merah sebesar…..

Sebagian siswa menjawab seperti jawaban dibawah ini :


8

Gambar 1.2

Dari lembar jawaban siswa pada gambar 1.2, terlihat ketidak

komunikatifan siswa dalam mengidentifikasi informasi yang pada soal,

menentukan apa yang ditanyakan, dan menentukan penyelesaian dari masalah.

Untuk jawaban yang benar pada pretest di atas adalah sebagai berikut:

Langkah 1

Dik : Banyaknya bola (n1) = 9 (4 bola merah + 5 bola putih)

Banyaknya bola merah (k1) = 4

Dit : Peluang terambilnya kedua bola berwarna merah ?

Langkah 2

Penyelesaian :

Peluang suatu kejadian yang diinginkan adalah perbandingan banyaknya titik

sampel kejadian yang diinginkan itu dengan banyaknya anggota ruang sampel

kejadian tersebut. Jika dua bola diambil satu persatu tanpa pengambilan, maka

kejadian tersebut merupakan kejadian yang saling bergantungan.

Langkah 3

Misalkan = A = Pengambilan pertama adalah bola merah,


9

𝑘1
Maka P =
𝑛1

4
=
9

𝐵
= Pengembalian kedua adalah bola merah lagi.
𝐴

Karna tidak dikembalikan, maka dalam kantong tersebut tinggal 3 bola merah dan

5 bola putih, n2 = 8, k2 = 3. Sehingga,

𝐵
P( ) = Nilai kemungkinan B dimana kejadian A sudah terjadi
𝐴

𝐵 𝑘1 3
P( )= =
𝐴 𝑛1 8

Langkah 4

P (A∩B) = Dua kejadian A dan B yang saling bergantungan, maka muncul atau

tidak munculnya kejadian A akan mempengaruhi muncul atau tidaknya kejadian

B. Jadi, peluang terambilnya kedua bola itu berwarna merah adalah

𝐵
P (A∩B) = P (A) x P ( )
𝐴

4 3
= x
9 8

12
=
72

1
=6

1
Jadi peluang terambilnya kedua bola itu berwarna merah adalah
6

Untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis siswa dalam pembelajaran

matematika, guru harus mengupayakan pembelajaran dengan menggunakan


10

model-model belajar yang dapat memberi peluang dan mendorong siswa

mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memahami matematika. Untuk itu

dalam proses belajar mengajar guru tidak boleh mengabaikan penguasaan

kemampuan berpikir kritis siswa. Orang yang berpikir kritis matematis akan

cenderung memiliki sikap yang positif terhadap matematika, sehingga akan

berusaha menalar dan mencari strategi penyelesaian masalah matematika. Oleh

karena itu, pemilihan lingkungan belajar khususnya model pembelajaran menjadi

sangat penting untuk dipertimbangkan artinya pemilihan model pembelajaran

harus dapat mengakomodasi kemampuan matematika siswa yang heterogen

sehingga dapat memaksimalkan hasil belajar siswa.

Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa

adalah dengan mengubah model pembelajaran ke arah yang lebih baik, efektif,

kondusif, bervariasi dan menyenangkan. Untuk menciptakan suasana

pembelajaran kondusif dan menyenangkan perlu adanya pengemasan

pembelajaran yang menarik.

Dengan inovasi model pembelajaran diharapkan akan tercipta suasana

belajar aktif, mempermudah penguasaan materi, siswa lebih kreatif dalam proses

pembelajaran, kritis dalam menghadapi persoalan, memiliki keterampilan sosial

dan memperoleh hasil pembelajaran yang optimal. Model pembelajaran yang

digunakan guru seharusnya dapat membantu proses analisis dan berpikir kritis

siswa.

Salah satu model pembelajaran tersebut adalah Problem Based Learning

(PBL). Model Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model

pembelajaran yang melibatkan aktivitas siswa dalam melakukan penyelidikan


11

terhadap suatu permasalahan. Dalam kegiatan penyelidikan tersebut siswa

diarahkan untuk mengembangkan kemampuan memilih dan menggunakan strategi

atau prosedur yang tepat untuk memecahkan masalah serta membuat kesimpulan

dari hasil penyeledikannya.

Dengan demikian, siswa diharapkan mampu menciptakan ide/gagasan atau

konsep dengan bahasa sendiri. Peran siswa yang dominan dalam pembelajaran ini

menempatkan guru hanya sebagai fasilitator.Dengan menerapkan model PBL

pada pembelajaran matematika diharapkan siswa akan mampu menggunakan dan

mengembangkan kemampuan berpikir kritis untuk menyelesaikan masalah dengan

menggunakan berbagai strategi penyelesaian.

Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan

kemampuan berpikir kritis siswa adalah Problem Based Learning ( PBL).

Menurut Jhon R. Savery dalam The Interdiciplinary Journal of Problem-Based

Learning (2006:12) PBL juga dapat diartikan sebuah pendekatan pengajaran yang

mendorong siswa untuk melakukan penelitian, teori dan latihan yang saling

berhubungan dan aplikasi ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk membangun

pemecahan suatu masalah.

Melalui model Problem Based Learning (PBL) siswa dapat menemukan

sesuatu yang baru dalam penyelesaian suatu masalah, khususnya masalah yang

berkaitan dengan matematika. Dengan dasar ini, maka model pembelajaran

Problem Based Learning (PBL) dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar.

Berdasarkan uraian di atas, penulispun merasa tertarik untuk mengadakan

penelitian dengan judul : “PENINGKATKAN BERPIKIR KRITIS


12

MATEMATIKA SISWA MELALUI MODEL PROBLEM BASED

LEARNING ( PBL) DI SMA NEGERI 1 BARUMUN ”.

1.2 Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, identifikasi masalah dalam penelitian

ini adalah:

1. Rendahnya kemampuan berpikir kritis matematika siswa

2. Kurangnya respon sebagian siswa pada saat proses pembelajaran

3. Kurangnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran

1.3 Batasan Masalah

Agar pembatasan masalah dari penelitian ini lebih terarah dan tidak jauh

menyimpang, maka dalam penelitian ini perlu dilakukan pembatasan masalah,

Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Peningkatam berfikir kritis dan respon siswa dalam belajar

2. Pendekatan yang dilakukan adalah Model Pembelajaran Problem Based

Learning (PBL) untuk kelas eksperimen pada pokok bahasan peluang di

kelas XI IPA SMA Negeri I Barumun Tahun Pelajaran 2014-2015.

3. Penerapan model Direct Intruction (DI) untuk kelas kontrol pada pokok

bahasan peluang di kelas XI IPA SMA Negeri I Barumun Tahun Pelajaran

2014-2015.

1.4 Rumusan Masalah

Sebagaimana peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berfikir kritis matematika

siswa melalui model Problem Based Learning (PBL) dengan model Direct

Intruction (DI) di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Barumun ?


13

2. Apakah terdapat perbedaan respon siswa melalui model Problem Based

Learning (PBL) dengan model Direct Intruction (DI) di kelas XI IPA SMA

Negeri 1 Barumun ?

1.5 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan berfikir kritis

matematika siswa melalui model Problem Based Learning (PBL) dengan

model Direct Intruction (DI)di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Barumun

2. Untuk mengetahui perbedaan respon siswa melalui model melalui model

Problem Based Learning (PBL) dengan model Direct Intruction (DI) di kelas

XI IPA SMA Negeri 1 Barumun

1.6 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah diantaranya bagi :

1. Bagi siswa

a. Dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan

keterampilan pemecahan masalah.

b. Dapat melatih siswa untuk belajar mengaitkan mata pelajaran dengan

kehidupan nyata.

c. Siswa dapat membangun kemampuannya sendiri

2. Bagi guru

a. Sebagai bahan masukan untuk memperbaiki kegiatan belajar di kelas

b. Dapat membantu tugas guru dalam meningkatkan kemampuan berfikir

kritis siswa selama proses pembelajaran di kelas secara efektif dan efisien.

c. Sebagai bahan masukan bagi para guru matematika di SMA Negeri 1

Barumun untuk menerapkan model Problem Based Learning ( PBL ).


14

3. Bagi sekolah

Sebagai bahan masukan bagi sekolah dalam memilih sistem pembelajaran

yang lebih mengefektifkan siswa dalam belajar terhadap kemampuan berpikir

kritis matematika siswa.

4. Bagi peneliti

a. Penelitian ini dapat menambah wawasan peneliti tentang pelaksanaan model

pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

b. Peneliti mampu mengidentifikasi kelemahan penyebab terhambatnya

kemampuan berfikir kritis matematika siswa kelas XI IPA SMA Negeri I

Barumun .

c. Peneliti mampu mengetahui dan memahami bagaimana kemampuan berfikir

kritis matematika siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Barumun .

1.7 Defenisi Operasional

1. Kemampuan berpikir kritis adalah model berpikir mengenai hal, substansi atau

masalah apasaja dan di mana saja si pemikir meningkatakan kualitas

pemikirannya dengan menangani secara terampil sturuktur dengan yang

melekat dalam pemikiran dan penerapan standar–standar intelektual padanya

melalui materi pokok bahasan peluang adalah materi matematika. Indikator

berfikir kritis adalah sebagai berikut :1). Memberikan penjelasan secara

sederhana 2). Membangun keterampilan dasar 3). Menyimpulkan 4).

Memberikan penjelasan lanjut.

2. Respon adalah suatu tingkah laku atau sikap yang terwujud baik sebelum

pemahaman yang mendetail, penelitian, pengaruh atau penolakan, suka atau

tidak suka serta pemamfaatan pada suatu fenomena tertentu. Indikator respon
15

adalah :1). Keinginan untuk bertindak atau berpartisipasi aktif 2). Membacakan

atau mendengarkan 3). Menimbulkan atau membangkitkan perasaan 4).

Mengamati 5).Keaktifan 6). Memahami 7). Keseriusan 8).Mengingat.

3. Problem based learning (PBL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang

menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk

belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta

untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esemsial dari materi

pelajaran. PBL digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam

situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana

belajar.Peran guru dalam dalam pembelajaran PBL adalah menyajikan

masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.

langkah-langkah problem based learning (PBL) adalah sebagai berikut, yaitu

:1). Pernyataan masalah 2). Berbagai macam peran yang dilakukan oleh siswa

3). Kesempatan untuk menganalisa situasi, timbulnya pertanyaan 4).

Investigasi untuk mencari jawaban biasanya dilakukan secara berkelompok 5).

Analisa kritis untuk penemuan dan penggambaran kesimpulan yang masuk

akal 6). Penemuan tersebut untuk dibagikan, dipresentasikan yang sering

dilakukan di depan kelas 7). Berbagai macam penilaian informasi dan formal

secara autentik oleh siswa dan guru.

4. Model Direct Intruction (DI) adalah salah satu pendekatan mengajar yang

dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaiatan

dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural yang terstruktur

dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap,

selangkah demi selangkah. Langkah-langkah model Direct Intruction (DI)


16

adalah :1). Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa 2).

Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan 3). Membimbing pelatihan

4). Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik 5). Memberikan

kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.


17

BAB II
KERANGKA TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
PENELITIAN

2.1 Kerangka Teoritis

2.1.1 Pengertian Berpikir

Jika kita makan, kita bukan berpikir, Tetapi jika kita membayangkan suatu

makanan yang tidak ada, maka kita menggunakan idea atau simbol-simbol

tertentu dan tingkah laku ini disebut berpikir. Sebagaimana kita ketahui, bahwa

berfikir tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, seseorang bisa saja

memikirkan masalah-masalah yang muncul dari situasi dan kondisi masa kini,

masa lampau ataupun masalah-masalah yang bisa muncul di masa-masa yang

akan datang. Sadirman A.M (2010:46) menyatakan bahwa berpikir adalah

aktivitas mental untuk dapat merumuskan pengertian, menyintesis, dan menarik

kesimpulan.

Sejak kanak-kanak manusia sudah memiliki kecenderungan dan

kemampuan untuk berpikir. Sebagai mahkluk rasional, manusia selalu terdorong

untuk memikirkan hal-hal atau kejadian disekitarnya merupakan bagian dari

kemampuan berpikirnya dan terbentuknya aktivitas mental dan kognitif sejak

manusia itu lahir. Kecenderungan ini dapat kita temukan pada seorang anak kecil

yang memandang berbagai benda disekitarnya dengan penuh rasa ingin tahu. Ia

akan meraba atau menyentuhnya dengan senyum dan rasa bahagia. Sedangkan

Ahmad Fauzi (2007:47) menyatakan bahwa berfikir adalah tingkah laku yang

menggunakan ide, yaitu suatu proses simbolis.

Saat siswa menghadapi kegiatan pembelajaran, siswa melakukan kegiatan

berpikir tentang obyek yang sudah diberikan (materi pelajaran) dan tugas siswa
18

adalah membuka mata terhadap obyek tersebut. Kegiatan berpikir siswa akan

terjadi apabila siswa sudah harus menyadari bahwa obyek atau dalam hal ini

materi tertentu adalah tidak sederhana, siswa harus mengenal obyek tersebut,

membanding-bandingkan apa yang dilihatnya, dan selalu melihat serta

menganalisis obyek tersebut dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Apabila saat mempelajari materi tertentu melakukan kegiatan menganalisis

melalui berbagai sudut pandang siswa, artinya siswa tersebut telah melakukan

kegiatan penalaran. Keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki peserta didik

hal ini dikarenakan peserta didik jarang melakukan transfer sendiri keterampilan

berpikir ini, sehingga perlu latihan terbimbing. Keterampilan berpikir dapat

didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-

langkah nyata yang kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Menurut Jean

Piaget (2009:124-126) Manusia memiliki sturuktur pengetahuan dalam otaknya,

seperti kotak-kotak yang masing-masing memiliki makna yang berbeda. Piaget

membagi tahap perkembangan kognitif manusia ke dalam empat fase, diantaranya

yaitu sebagai berikut :

1. Tingkat sensori motor pada usia 0-2 tahun

Bayi lahir dengan refleks bawaan, dimodifikasi dan digabungkan untuk

membentuk tingkah laku yang telah lebih kompleks. Pada masa ini anak belum

mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia dapat mengetahui hal-hal yang

dapat ditangkap oleh inderanya.


19

2. Tingkat Pra-Operasional pada usia 2-7 tahun

Anak mulai timbul pertumbuhan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada

hal-hal yang dapat dijumpai (dilihat) didalam lingkungannya saja baru pada

menjelang akhir tahun ke-2 anak telah dapat mengenal symbol atau nama.

1. Anak dapat mengkaitkan pengalaman yang ada dilingkungan bermainnya

dengan pengalaman pribadinya dan karenanya ia menjadi egois.

2. Anak belum memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang

membutuhkan berfikir, “ yang dapat dibalik” .

3. Anak belum mampu melihat dua aspek dari satu objek atau situasi sekaligus

dan belum mampu bernalar secara induktif dan deduktif.

4. Anak bernalar secara tranduktif (dari khusus ke khusus) juga belum mampu

membedakan antara fakta dan fantasi.

5. Anak belum memilliki konsep kekekalan (kuantitas, materi, luas, berat dan

isi).

6. Menjelang akhir tahap ini anak mampu member alasan mengenai apa yang

mereka percayai. Anak dapat mengklasifikasikan objek ke dalam kelompok

yang hanya mempunyai satu sifat tertentu dan juga telah mulai mengerti

konsep yang kongkret.

3. Tingkat operasi kongkrit pada usia 7-11 tahun

Anak telah dapat mengenal symbol-simbol matematis, tetapi belum dapat

menghadapi hal-hal yang abstrak, kecakapan kognitif anak adalah :

1. Kombinnasi atau klasifikasi

2. Reversibilitas

3. Asosiativitas
20

4. Identitas

5. Seriasi

4. Tingkat operasi formal pada usia 11 tahun keatas

Tahap ini disebut juga sebagai tahap operasi hipotetik-deduktif yang

merupakan tahap tertinggi dari perkembangan intelektual, karakteristinya adalah

sebagai berikut :

1. Berfikir hipotetik –deduktif , Bila berhadapan dengan masalah , Anak dapat

membuat perumusan teori, merumuskan hipotesis dan menguji hipotesis.

2. Berfikir proporsional, berfikir anak tidak dibatasi pada benda-benda atau

peristiwa yang kongkret.

3. Berfikir kombinatorik, yaitu berfikir meliputi semua kombinasi benda-benda,

gagasan atau proposisi yang mungkin.

4. Berfikir reflektif, anak dapat berfikir kembali pada suatu rangkaian operasi

mental.

5. Anak sudah dapat memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak

simbol atau gagasan cara berfikirnya.

6. Anak mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik dan

kompleks.

7. Konsep konservasi juga telah dicapai sepenuhnya.

Adapun macam-macam kegiatan berfikir menurut Ahmad Fauzi (2007:47-

48) dapat dinyatakan sebagai berikut :

1. Berfikir Asosiatif, yaitu proses berfikir dimana suatu ide dapat merangsang

timbulnya ide lain. Jalan pikiran dalam proses berfikir asosiatif tidak
21

ditentukan atau diarahkan sebelumnya, jadi ide-ide timbul secara bebas.

Jenis-jenis berfikir asosiatif :

1. Asosiasi bebas : suatu ide akan menimbulkan ide mengenai hal lain, tanpa

ada batasnya.

2. Asosiasi terkontrol : suatu ide tertentu akan menimbulkan ide mengenai

hal lain dalam batas-batas tertentu.

3. Melamun : yaitu menghayal bebas, sebebas-bebasnya tanpa batas, juga jug

a mengenai hal-hal yang tidak realistis.

4. Mimpi : Ide-ide tentang berbagai hal, yang timbul secara tidak disadari

pada waktu tidur.

5. Berfikir Artistik : yaitu proses berfikir yang sangat subjektif . Jalan pikiran

sangat dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan diri pribadi tanpa

menghiraukan keadaan sekitar.

2. Berfikir terarah, yaitu proses berfikir yang sudah ditentukan sebelumnya dan

diarahkan pada sesuatu, biasanya diarahkan pada pemecahan persoalan. Ada

dua macam berfikir terarah yaitu :

1. Berfikir kritis, yaitu membuat keputusan atau pemeliharaan terhadap suatu

keadaan.

2. Berfikir kreatif, yaitu berfikir untuk mrenentukan hubungan-hubungan baru

antara berbagai hal, menemukan pemecahan baru dari suatu soal,

menemukan system baru, menemukan bentuk artistic baru, dan

sebagainya.
22

2.1.2 Pengertian Berpikir Kritis

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin meluas, siswa SMA

dihadapkan dengan berbagai tantangan dalam kehidupannya. Perkembangan yang

terjadi terlihat dari berbagai hal, baik itu yang bersifat positif maupun negatif.

Dengan melihat kondisi seperti itu, maka tugas dari seorang guru yaitu tidak

hanya mengajar melainkan terus membimbing siswa agar siswa memiliki

kemampuan atau keterampilan berpikir kritis. Hal tersebut tidak lain bertujuan

untuk melatih siswa agar dapat memfilterisasi segala bentuk perubahan atau

perkembangan zaman yang terjadi. Edward de Bono (2007:204) Kata “ Kritis”

berasal dari bahasa Yunani, yang berarti “Hakim” yang kemudian diserap oleh

bahasa Latin. Kamus (Oxford) menerjemaahkan “sensor” atau pencarian

kesalahan.

Keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki peserta didik hal ini

dikarenakan peserta didik jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir

ini, sehingga perlu latihan terbimbing. Keterampilan berpikir dapat didefinisikan

sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang

kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir

adalah menarik kesimpulan, yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk

menghubungkan berbagai petunjuk dan fakta atau informasi dengan pengetahuan

yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan.

Untuk mengajarkan keterampilan berpikir menarik kesimpulan tersebut, pertama-

tama proses kognitif menarik kesimpulan harus dipecah ke dalam langkah-

langkah sebagai berikut: (a) mengidentifikasi pertanyaan atau fokus kesimpulan

yang akan dibuat, (b) mengidentifikasi fakta yang diketahui, (c) mengidentifikasi
23

pengetahuan yang relevan yang telah diketahui sebelumnya, dan (d) membuat

perumusan prediksi hasil akhir.

Alec Fisher (2009:10) Berfikir kritis adalah Interprestasi dan evaluasi yang

terampil dan aktif terhadap observasi, informasi dan argumentasi. Berpikir kritis

bukan berarti mengumpulkan informasi saja, akan tetapi terkadang seseorang

yang mempunyai daya ingat yang baik dan mengetahui banyak akan informasi

belum tentu baik dalam berpikir kritis. Hal ini dikarenakan seorang pemikir kritis

seharusnya mempunyai kemampuan dalam membuat atau menarik kesimpulan

dari segala informasi yang ia ketahui, ia pun dapat mengetahui bagaimana

menggunakan informasi yang ia punya untuk menyelesaikan sebuah

permasalahan, dan mencari sumber informasi yang relevan untuk membantunya

menyelesaikan sebuah permasalahan.

B. Jhonson (2007:185) Berfikir kritis adalah Kemampuan untuk

mengatakan sesuatu dengan penuh percaya diri. Berfikir kritis juga merupakan

sebuah proses sistematis yang memungkinkan siswa untuk merumuskan dan

mengevaluasi keyakinan dan pendapat mereka sendiri. Berfikir kritis juga

merupakan sebuah proses terorganisasi yang memungkinkan siswa mengevaluasi

bukti, asumsi, logika, dan bahasa yang mendasari pernyataan orang lain. Jadi,

berfikir kritis adalah tahapan berfikir tingkat tinggi yang tidak akan muncul

dengan sendirinya, namun harus dilatih. Berfikir kritis merupakan kemampuan

seseorang dimana ia mampu menilai mana yang benar dan mana yanag salah dari

pendapat mereka sendiri maupun orang lain.

B. Jhonson (2007:185) Tujuan dari berfikir kritis adalah untuk mencapai

pemahaman yang mendalam. Pemahaman membuat kita mengerti maksud dibalik


24

ide yang mengarahkan hidup kita setiap hari. Pemahaman mengungkapkan makna

dibalik setiap kejadian. Menurut Wahidin yang dikutip oleh Susriyati Mahanal

(2007:2-3) Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari pembelajaran

yang menekankan pada proses keterampilan berpikir kritis, yaitu :

1. Belajar Lebih ekonomis, yakni apa yang diperoleh dalam pembelajarannya

akan tahan lama dalam pikiran siswa.

2. Cenderung menambah semangat belajar baik pada guru maupun siswa.

3. Diharapkan siswa dapat memiliki sikap ilmiah.

4. Siswa memiliki kemampuan memecahkan masalah baik pada saat proses

belajar mengajar di kelas maupun dalam menghadapi permasalahan nyata

yang dialaminya

2.1.3. Kemampuan Berpikir Kritis Matematika

Berpikir diperlukan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Melalui

berpikir manusia dapat mengenali masalah, memahami, dan memecahkannya. Di

kalangan pelajar, kegiatan berpikir juga amat diperlukan dalam pembelajaran,

tidak terkecuali pembelajaran matematika. Matematika sebagai suatu disiplin ilmu

yang secara jelas mengandalkan proses berpikir dipandang sangat baik untuk

diajarkan pada siswa.

Di dalamnya terkandung aspek yang secara substansial menuntun siswa

untuk berpikir logis menurut pola dan aturan yang telah tersusun secara baku.

Sehingga seringkali tujuan utama dari mengajarkan matematika tidak lain untuk

membiasakan agar siswa mampu berpikir logis, kritis, dan sistematis. Khususnya

berpikir kritis sangat diperlukan bagi kehidupan mereka, agar mereka mampu

menyaring informasi, memilih layak atau tidaknya suatu kebutuhan,


25

mempertanyakan kebenaran yang terkadang dibaluti kebohongan, dan segala hal

apa saja yang dapat membahayakan kehidupan mereka.

Apalagi pada pembelajaran matematika yang dominan mengandalkan

kemampuan daya pikir, perlu membina kemampuan berpikir siswa (khususnya

berpikir kritis) agar mampu mengatasi permasalahan pembelajaran matematika

tersebut yang materinya cenderung bersifat abstrak. Hal ini sejalan dengan

pendapat Sumarno (2011:43) yang mengatakan bahwa hakekat pendidikan

matematika memiliki dua arah pengembangan, yaitu pengembangan untuk masa

kini dan pengembangan untuk masa yang akan datang.

Pengembangan kebutuhan masa kini yang dimaksud adalah pembelajaran

matematika mengarah pada pemahaman konsep-konsep yang diperlukan untuk

menyelesaikan masalah matematika dan ilmu pengetahuan lainnya. Sedangkan

yang dimaksud dengan kebutuhan di masa yang akan datang adalah terbentuknya

kemampuan nalar dan logis, sistematis, kritis, dan cermat serta berpikir objektif

dan terbuka. Kemampuan bernalar, berpikir kritis, berpikir objektif dan terbuka

inilah yang dibutuhkan di masa kini untuk mempersiapkan siswa agar sanggup

menghadapi perubahan keadaan atau tantangan-tantangan di dalam kehidupan dan

di dunia yang selalu berkembang.

Terdapat beberapa definisi tentang berpikir kritis yang dikemukakan oleh

para ahli, di antaranya Norris (2009:137) mendefinisikan berpikir kritis sebagai

pengambilan keputusan secara rasional apa yang diyakini dan dikerjakan. Sejalan

dengan Norris, Ennis (2011:22) juga mengungkapkan bahwa berpikir kritis

merupakan berpikir reflektif yang berfokus pada memutuskan apa yang harus

dipercaya dan dilakukan. Proses pengambilan keputusan tersebut hendaknya


26

dilakukan secara hati-hati dan tidak tergesa-gesa. Ini berarti berpikir kritis

menuntut penggunaan berbagai strategi untuk dapat menghasilkan suatu

keputusan sebagai dasar pengambilan tindakan atau keyakinan.

Jadi, seseorang yang berpikir kritis akan selalu aktif dalam memahami dan

menganalisis semua informasi yang ia dapatkan. Krulik dan Rudnik ( 2011:81)

mengemukakan bahwa yang termasuk berpikir kritis dalam matematika adalah

berpikir yang menguji, mempertanyakan, menghubungkan, dan mengevaluasi

semua aspek yang ada dalam suatu situasi atau suatu masalah. Berpikir kritis

memungkinkan siswa untuk menemukan kebenaran di tengah banjirnya kejadian

dan informasi yang mengelilingi mereka setiap hari. Berpikir kritis merupakan

sebuah proses sistematis yang memungkinkan siswa untuk merumuskan dan

mengevaluasi keyakinan dan pendapat mereka sendiri.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa

kemampuan berpikir kritis matematis merupakan kemampuan memecahkan

masalah dengan mencari, menganalisis, dan mengevaluasi alasan-alasan yang baik

agar dapat mengambil keputusan yang terbaik dalam memecahkan masalah

matematika. Sebagai contoh, ketika seseorang sedang membaca naskah

matematika atau mendengar suatu ungkapan atau penjelasan tentang matematika

seyoganya ia akan berusaha memahami dan mencoba menemukan hal-hal yang

penting. Demikian juga dari suatu data atau informasi ia akan dapat membuat

kesimpulan yang tepat dan benar sekaligus mendeteksi ada tidaknya kejanggalan

dari informasi tersebut. Singkatnya, orang yang berpikir kritis itu selalu akan peka

terhadap informasi atau situasi yang sedang dihadapinya, dan cenderung bereaksi

terhadap situasi atau informasi itu.


27

Berpikir kritis dalam belajar matematika merupakan suatu proses kognitif

atau tindakan mental dalam usaha memperoleh pengetahuan matematika

berdasarkan penalaran matematika. Ennis dan Norris, (2009:137) membagi

komponen kemampuan penguasaan pengetahuan menjadi lima keterampilan, yang

selanjutnya disebut keterampilan berpikir kritis, yaitu:

1) Klarifikasi elementer (elementary clarification), yang meliputi: memfokuskan

pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan menjawab pertanyaan yang

membutukan penjelasan.

2) Dukungan dasar (basic support), meliputi: mempertimbangkan kredibilats

sumber dan melakukan pertimbangan observasi.

3) Penarikan kesimpulan (inference), meliputi: melakukan dan

mempertimbangkan deduksi, induksi, dan nilai keputusan.

4) Klarifikasi lanjut (advanced clarification), meliputi: mengidentifikasi istilah

dan mepertimbangkan definisi, dan mengidentifikasi asumsi.

5) Strategi dan taktik (strategies and tactics), meliputi: menentukan suatu

tindakan dan berinteraksi dengan orang lain.

Lebih lanjut Ennis mengemukakan indikator kemampuan berpikir kritis, sebagai

berikut.
28

Tabel 2.1
Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

Sub
Keterampilan
No keterampilan Penjelasan
berpikir kritis
berpikir kritis

1 1 Memberikan Memfokuskan Mengidentifikasi atau merumuskan


penjelasan pertanyaan pertanyaan
sederhana Mengidentifikasi atau merumuskan
kriteria
untuk mempertimbangkan kemungkinan
jawaban
Menjaga kondisi berpikir

Menganalisis Mengidentifikasi kesimpulan


argumen Mengidentifikasi kalimat-kalimat
pertanyaan
Mengidentifikasi kalimat-kalimat bukan
pertanyaan
Mengidentifikasi dan menangani suatu
ketidaktepatan
Melihat struktur dari suatu argumen
Membuat ringkasan

Bertanya dan Memberikan penjelasan sederhana


menjawab Menyebutkan contoh
pertanyaan

2 Membangun Mempertimba Mempertimbangkan keahlian


keterampilan ngkan apakah Mempertimbangkan kemenarikan konflik
dasar sumber dapat Mempertimbangkan kesesuaian sumber
dipercaya atau Mempertimbangkan reputasi
tidak Mempertimbangkan penggunaan prosedur
yang tepat
Mempertimbangkan risiko untuk reputasi
Kemampuan untuk memberikan alasan
Kebiasaan berhati-hati

Mengobservasi Melibatkan sedikit dugaan


Dan Menggunakan waktu yang singkat antar
mempertimbang observasi dan laporan
kan laporan Melaporkan hasil observasi
observasi Merekam hasil observasi
Menggunakan bukti-bukti yang benar
Menggunakan akses yang baik
Menggunakan teknologi
Mempertanggungjawabkan hasil
observasi
29

3 Menyimpulkan Mendeduksi Siklus logika Euler


dan Mengkondisikan logika
mempertimban Menyatakan tafsiran
gkan hasil
deduksi

Menginduksi Mengemukakan hal yang umum


dan Mengemukakan kesimpulan dan hipotesis
mempertimban Mengemukakan hipotesis
gkan hasil Merancang eksperimen
induksi Menarik kesimpulan sesuai fakta
Menarik kesimpulan dari hasil
menyelidiki
Membuat dan Membuat dan menentukan hasil
menentukan pertimbangan
hasil berdasarkan latar belakang dan fakta-fakta
pertimbangan Membuat dan menentukan hasil
pertimbangan
berdasarkan akibat
Membuat dan menentukan hasil
pertimbangan
berdasarkan penerapan fakta
Membuat dan menentukan hasil
pertimbangan
keseimbangan dan masalah
4 Memberikan Mendefinisika Membuat bentuk definisi
penjelasan n istilah dan Strategi membuat definisi
lanjut mempertimban Bertindak dengan memberikan penjelasan
gkan suatu lanjut
definisi Mengidentifikasi dan menangani
ketidakbenaran yang disengaja
Membuat isi definisi

Mengidentifik Penjelasan bukan pernyataan


asi Mengkonstruksi argumen
asumsiasumsi 

5 Mengatur Menentukan Mengungkap masalah


strategi dan suatu tindakan Memilih kriteria untuk
taktik mempertimbangkan
solusi yang mungkin
Merumuskan solusi alternatif
Menentukan tindakan sementara
Mengulangi kembali
Mengamati penerapannya
Berinteraksi Menggunakan argumen
dengan orang Menggunakan strategi logika
lain
30

Menggunakan strategi retorika


Menunjukkan posisi, orasi, atau tulisan

Diakses dari : http://evisapinatulbahriah.wordpress.com. Pada tanggal 08
September 2014, pukul 11.10

2.1.4 Langkah-langkah menjadi Pemikir Kritis

B. Jhonson (2007:191-201) Langkah berfikir kritis adalah penerapan

pikiran kedalam tindakan atau aplikasi pemikiran dan pengtahuan pada kehidupan

nyata. Menerapkannya untuk hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Maka

sesungguhnya kita belum ketahui dengan benar mengenai pentingnya memikirkan

sesuatu. karena prinsip ini maka kemampuan berfikir yang ideal adalah dikuatkan

dengan kemampuan memanfaatkan atau merealisasikan fikiran kedalam dan

bentuk tindakan.

Berpikir kritis memerlukan pendekatan yang sistematis dan terorganisasi.

Seorang pemikir kritis akan bertanya, memeriksa dengan teliti asumsi-asumsi,

memandang segala sesuatu yang berbeda-beda. Seseorang dapat belajar untuk

berpikir dengan kritis karena otak manusia secara konstan berusaha untuk

memahami pengalaman. Dalam berpikir kritis terdapat hal yang dapat

mengembangkan kemampuan berpikir, seperti meneliti asumsi, menghargai bukti

dan memeriksa bahasa dengan teliti.

Langkah-langkah pemikir kritis ini dijadikan dalam bentuk pertanyaan,

karena dengan menjawab pertanyaan seorang siswa dilibatkan dalam kegiatan

mental yang mereka perlukan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam.

Pernyataan ini dikemukakan sesuai dengan urutan untuk meneliti secara

menyeluruh setiap masalah, isu, proyek atau keputusan yang dihadapi.

Menerapkan langkah-langkah ini akan membantu mereka menjadi pemikir kritis.


31

Langkah-langkah menjadi pemikir kritis adalah sebagai berikut :

1. Apa sebenarnya isu, masalah, keputusan atau kegiatan yang sedang

dipertimbangkan ? Ungkapkan dengan jelas .

Sebuah masalah atau isu dapat diteliti apabila sebelumnya masalah itu

digambarkan dengan jelas.

2. Apa sudut pandangnya ?

Sudut pandang adalah sudut pribadi yang digunakan dalam memandang

sesuatu . Seorang pemikir kritis harus berusaha menangguhkan sementara pilihan

subjektifnya. Pada saat yang sama melakukan pertimbangan-pertimbangan dan

waspada terhadap bukti yang lemah untuk meningkatkan pengetahuan dan

mendapatkan pemahaman.

3. Apa alasan yang diajukan ?

Kenyataan dan tindakan pada dasarnya diambil atas alasan yang masuk

akal. Pemikir kritis memiliki tugas mengidentifikasi alasan dan bertanya apakah

alasan-alasan yang dikemukakan masuk akal sesuai dengan konteksnya. Sehingga

dapat ditarik kesimpulan sesudahnya.

4. Asumsi-asumsi apa saja yang dibuat ?

Asumsi adalah ide-ide yang diterima apaadanya mengutip pendapat

Browne Keeley, seorang pemikir kritis tidak mudah memasukkan asumsi dalam

argumennya dan tidak mudah menerima asumsi yang terdapat dalam materi yang

dibuat oleh orang lain. Asumsi yang dapat diterima apabila jelas, logis, didasarkan

pada pengalaman yang luas, dan didukung dengan fakta.

5. Apakah bahasanya jelas ?


32

Dalam memahami sebuah makna seorang pemikir kritis memperhatikan

kata-kata. Kata-kata dapat membentuk ide, sehingga pemikir kritis harus terus

menerus memeriksa bahasa mereka sendiri maupun orang lain. Kata-kata yang

tidak digunakan dengan tepat akan mengurangi pemahaman.

6. Apakah alasan didasarkan pada bukti-bukti yang meyakinkan ?

Bukti adalah informasi yang akurat dan dapat dipercaya. Dengan adanya

bukti dapat mendukung sebuah kesimpulan, membedakan pengetahuan dengan

keyakinan, dengan membuktikan sebuah pendapat. Tugas seorang pemikir kritis

adalah menilai bukti. Bukti yang dipercaya memiliki sifat, yaitu :

1. Tidak bertentangan dengan pokok masalah

2. Berasal dari sumber-sumber terbaru

3. Akurat

4. Dapat diuji

7. Kesimpulan apa yang ditawarkan ?

Menurut Angelo (dalam Santoso, 2009) ada lima perilaku yang sistematis

dalam berpikir kritis. Lima perilaku tersebut adalah sebagai berikut :

1). Keterampilan Menganalisis

Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan menguraikan

sebuah struktur ke dalam komponen-komponen agar mengetahui

pengorganisasian struktur tersebut. Dalam keterampilan ini terkandung tujuan

untuk memahami sebuah konsep dengan cara menguraikan atau merinci globalitas

tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci.


33

2). Keterampilan Mensintesis

Keterampilam mensintesis merupakan ketrampilan yang berlawanan

dengan keterampilan menganalisis. Keterampilan mensintesis adalah keterampilan

menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan atau susunan yang baru.

3). Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah

Keterampilan ini merupakan katerampilan aplikatif konsep kepada

beberapa pengertian. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk memahami

bacaan dengan kritis sehingga setelah selesai kegiatan membaca mampu

menangkap beberapa pokok pikiran bacaan, sehingga mampu mempola sebuah

konsep.

4). Keterampilan Menyimpulkan

Keterampilan menyimpulkan adalah kegiatan akal pikiran manusia

berdasarkan Pengertian atau pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya, dapat

beranjak mencapai pengertian (kebenaran) yang baru yang lain.

5). Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai

Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan

nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Setelah mengumpulkan data dan

mengevaluasi informasi untuk memecahkan sebuah masalah pemikir kritis mulai

merumuskan kesimpulan yang tepat. Pemikir kritis meneliti alasan, bukti, dan

logika untuk menentukan sebuah kesimpulan adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi alasan

Apakah kesimpulan yang diambil sesuai dan konsisten dengan alasan yang

mendasarinya.

Apakah implikasi dari kesimpulan-kesimpulan yang sudah diambil ?


34

Kesimpulan mempunyai efek samping baik menyangkut persoalan pribadi

maupun umum. Pemikir kritis berusaha untuk memprediksi dan mengevaluasi

semua efek samping yang akan timbul. Jika kesimpulan yang diambil tidak

berdampak negatif, maka akan diambil.

2.1.5 Indikator Berpikir Kritis

Pada dasarnya kemampuan berpikir kritis erat kaitannya dengan proses

berpikir kritis dan indikator-indikatornya. Indikator berpikir kritis dapat dilihat

dari karakteristiknya sehingga dari dengan memiliki karakteristik tersebut

seseorang dapat dikatakan telah memiliki kemampuan berpikir kritis.

Wade dalam Filsaime (2008:81) menjelaskan karakteristik berpikir kritis

yang melibatkan kemampuan-kemampuan :

1. Mengajukan berbagai pertanyaan.

2. Mengidentifikasi masalah.

3. Menguji fakta-fakta.

4. Menganalisis asumsi dan bias.

5. Menghindari penalaran emosional.

6. Menghindari oversimplifikasi.

7. Mempertimbangkan interpretasi lain.

8. Mentoleransi ambiguitas.

Adapun indikator dan sub indikator menurut kesepakatan secara

internasional dari para pakar mengenai berpikir kritis dalam pembelajaran

menurut Anderson (Fachrurazi, 2011) adalah:

1. Interpretasi

- Pengkategorian.
35

- Mengkodekan (membuat makna kalimat).

- Pengklasifikasian makna.

2. Analisis

- Menguji dan memeriksa ide-ide.

- Mengidentifikasi argumen.

- Menganalisis argumen.

3. Evaluasi

- Mengevaluasi dan mempertimbangkan klien/pernyataan.

- Mengevaluasi dan mempertimbangkan argumen.

4. Penarikan kesimpulan

- Menyangsikan fakta atau data.

- Membuat berbagai alternatif konjektur.

- Menjelaskan kesimpulan.

5. Penjelasan

- Menuliskan hasil

- Mempertimbangkan prosedur.

- Menghadirkan argumen.

6. Kemandirian

- Melakukan pengujian secara mandiri.

- Melakukan koreksi secara mandiri.

2.1.6 Respon

Menurut Sobur (2003:53), Respon berasal dari kata response, yang berarti

balasan atau tanggapan (reaction) Respon adalah istilah psikologi yang digunakan

untuk menamakan reaksi terhadap rangsang yang diterima oleh panca indra. Hal
36

yang menunjang dan melatar belakangi ukuran sebuah respon adalah sikap,

resepsi, partisipasi.

Respon siswa merupakan gambaran reaksi yang muncul dari pembelajaran

yang dilakukan oleh guru. Guru merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi

respon yang muncul dari siswa. Respon yang positif dapat muncul jika guru dapat

menarik perhatian siswa dengan menerapkan metode pembelajaran yang bagus,

menarik serta memberdayakan siswa. Berbagai cara dapat dilakukan, misal

dengan membeikan kuis reward, permainan, atau penyajian konsep yang menarik

dan berbeda dari biasanya. Respon siswa yang positif dapat dilihat dari kegiatan

pembelajaran yang efektif dan kondusif. Dalam proses pembelajaran ada berbagai

faktor yang mempengaruhi terjadinya respon siswa, antara lain: guru, materi,

metode pembelajaran, waktu,tempat, dan fasilitas.

Respon pada prosesnya didahului sikap seseorang karena sikap merupakan

kecendrungan atau kesediaan seseorang untuk bertingkah laku jika menghadapi

suatu rangsangan tertentu. Jadi, berbicara mengenai respon atau tidak respon

terlepas dari pembahasan sikap. Respon juga diartikan sebagai suatu tingkah laku

atau sikap yang berwujud baik sebelum pemahaman yang mendetail, penelitian ,

pengaruh atau penolakan, suka atau tidak suka sreta pemamfaatan pada suatu

fenomena tertentu.

2.1.7 Indikator Respon

Belajar merupakan perubahan tingkah laku secara keseluruhan. Dengan

demikian, seseorang yang belajar akan mengalami perubahan dalam segenap

aspek perilakunya, dan akan merubah responnya terhadap sesuatu menjadi lebih

baik.
37

Menurut Soemanto (2001: 28), “respon yang muncul ke dalam kesadaran,

dapat memperoleh dukungan atau rintangan dari respon lain”. dukungan terhadap

respon akan menimbulkan rasa senang. Sebaliknya respon yang mendapat

rintangan akan menimbulkan rasa tidak senang. Respon merupakan keinginan

seseorang untuk belajar, jika seseorang tidak berkeinginan untuk belajar tidak

akan tercapai tujuan belajar. Respon seseorang harus ada dukungan dari respon

lain misalnya, guru, orangtua, dan teman.

Sardiman (2000: 215), mengemukakan beberapa indikator respon:

a. Keinginan untuk bertindak/berpartisipasi aktif,

a. Membacakan/mendengarkan,

b. Menimbulkan/membangkitkan perasaan dan

c. Mengamati.

d. Keaktifan

e. Memahami

f. Keseriusan

g. Mengingat

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa indikator dari

respon itu adalah senang atau positif dan tidak senang atau negatif. Mengenai rasa

tidak senang ini pada setiap orang berbeda-beda. Sebagian ada yang menghargai

dan menyenangi karena kedermawanannya, yang lainnya lagi karena intelegensi

dan sebagainya.

2.1.8 Problem Based Learning (PBL)

Problem based learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang

menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar
38

tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk

memperoleh pengetahuan. PBL digunakan untuk merangsang berpikir tingkat

tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar

bagaimana belajar.Peran guru dalam dalam pembelajaran PBL adalah menyajikan

masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.

Problem Based Learning (PBL) tidak dapat dilaksanakan tanpa guru

mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide

secara terbuka. Secara garis besar PBL terdiri dari menyajikan kepada siswa

situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan

kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.

Menurut Barrows, Gallagher et all dan Hmelo-Silver yang dikutip oleh

Brian R. Belland (2009:286) menyatakan bahwa PBL adalah suatu pendekatan

intruksional yang melibatkan argumen siswa dalam suatu proses pembelajaran.

Dalam PBL siswa dibentuk dalam suatu kelompok kecil kemudian disajikan suatu

permasalahn dengan beberapa solusi penyelesaian beserta alur dari solusi yang

disediakan. Setelah mendefenisikan masalah yang diajukan, siswa perlu

menentukan dan mengumpulkan informasi yang danggap paling sesuai dengan

solusi yang mereka pilih. Informasi yang mereka dapatkan tersebut harus mereka

kembangkan sedemikian rupa, sehingga pilihan solusi yang mereka gunakan

memiliki landasan dan argumen yang dapat dipertahankan di hadapan siswa atau

kelompok lainnya.

(Diakses dari:http://works.bepress.com/brian_belland/, Senin 04 Agustus

2014, 19:45)
39

Dan menurut Jhon R. Savery dalam The Interdiciplinary Journal of

Problem-Based Learning (2006:12) PBL juga dapat diartikan sebuah pendekatan

pengajaran yang mendorong siswa untuk melakukan penelitian, teori dan latihan

yang saling berhubungan dan aplikasi ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk

membangun pemecahan suatu masalah. PBL juga merupakan sebuah metode

pembelajaran dimana siswa belajar melalui pemecahan masalah yang berpusat

pada sebuah masalah kompleks dan tidak memiliki satu jawaban tepat.

Menurut Tan dalam Rusman (2003:229) PBL merupakan inovasi dalam

pembelajaran karena dalam PBL kemampuan berpikir siswa betul-betul

dioptimalisasikan melaui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis,

sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan

kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan. Problem Based Learning (

PBL )merupakan salah satu model pembelajaran yang berasosiasi dengan

pembelajaran kontekstual. PBL memberi pengertian bahwa dalam pembelajaran

siswa dihadapkan pada suatu masalah, yang kemudian diharapkan melalui

pemecahan masalah siswa belajar keterampilan-keterampilan berpikir yang lebih

mendasar.

Menurut Boud dan Felleti dalam Rusman (1998:230) PBL adalah inovasi

paling signifikan dalam pendidikan tinggi dan pendidikan untuk profesi. Model

pembelajaran inidibuat oleh ahli pendidikan untuk mencari alternatif

pembelajaran yang dianggap mampu membangun situasi pembelajaran agar dapat

memberi stimulus dan fokus pada aktivitas berpikir siswa.


40

2.1.9 Ciri atau Karakteristik Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning (PBL) memiliki karakteristik yang berbeda

dengan model pembelajaran yang lain meskipun pada awal pembelajaran sama-

sama menggunakan masalah. Pengertian Problem (masalah) dalam model

Problem Based Learning (PBL) adalah kesenjangan antara situasi nyata dan

kondisi yang diharapkan, atau kenyataan yang terjadi dengan apa yang

diharapkan. Baron (2012:12) mengemukakan bahwa ciri-ciri Problem Based

Learning adalah:

1. Menggunakan permasalahan dalam dunia nyata,

2. Pembelajarandipusatkan pada penyelesaian masalah,

3. Guru berperan sebagai fasilitator.

Peran guru sebagai fasilitator mendorong agar setiap siswa dapat

berpartisipasi dan berinteraksi sepenuhnya dalam aktivitas belajar. Selain itu,

menurut Forgarty (1997) PBL memiliki karakteristikkarakteristik sebagai berikut :

1. Belajar dimulai dengan suatu masalah,

2. Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata

siswa,

3. Mengorganisasikan pelajaran di seputar masalah, bukan diseputar disiplin ilmu,

4. Memberikan tanggung jawab yang besar kepada pebelajar dalam membentuk

dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri,

5. Menggunakan kelompok kecil, dan

6. Menuntut pebelajar untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari

dalam bentuk suatu produk atau kinerja.

(Diakses dari : http://noviansangpendiam.blogspot.com. Pada tanggal 04 Agustus


2014, pukul 11.00)
41

Pada hakekatnya karakteristik PBL ini menciptakan pembelajaran yang

menantang siswa untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dengan

menjalin kerjasama dengan siswa lain, dan guru hanya berperan sebagai

fasilitator. Jadi, pembelajaran berpusat pada siswa. Pembelajaran dengan

menggunakan model PBL menuntut siswa lebih banyak melakukan tindakan

secara aktif dengan inisiatifnya untuk mencari jawaban atas permasalahan yang

dihadapinya. Siswa diminta bekerja sama dalam kelompok dan yang lebih penting

lagi diharuskan untuk mendapatkan pengalaman baru dari langkah pemecahan

masalah. Pendapat lain mengenai karakteristik Problem Based Learning (PBL)

yang lebih rinci dinyatakan oleh Hung dan Kolmos (2013:42) menyatakan

karakteristik Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut :

1) Problem focused, yaitu siswa yang belajar berdasarkan permasalahan.

2) It is student centered, yaitu proses pembelajaran yang berpusat pada siswa.

3) Self-directed learning, yaitu siswa yang mengendalikan prosespembelajaran

mereka sendiri meskipun masih dalam koridor tujuan pembelajaran yang sudah

ditentukan.

4) Self reflective yaitu membuat refleksi dalam proses dan hasil pembelajaran

mereka.

5) Tutors as facilitators yaitu guru yang hanya bertindak sebagai fasilitator dalam

proses pembelajaran bukan sebagai pemberi konsep.

Kunandar (2006:355) ciri-ciri atau karakteristik PBL adalah sebagai

berikut :

1. Pembelajaran pernyataan atau masalah


42

Problem Based Learning (PBL) bukan hanya mengorganisasikan prinsip-

prinsip atau atau keterampilan akademik tertentu, tetapi mengorganisasikan

pengajaran disekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara social

penting dan secara pribadi bermakna untuk peserta didik. Mereka mengajukan

situasi kehidupan nyata yang autentik, menghindari jawaban sederhana, dan

memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu,

2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin

Meskipun PBL mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu, tetapi

dalam pemecahannya melalui solusi, siswa dapat meninjaunya dari berbagai mata

pelajaran yang ada.

3. Penyelidikan autentik

PBL mengharuskan peserta didik melakukan penyelidikan autentik untuk

mencari penyelesaian nyata terhadap masalah. Mereka harus menganalisis dan

mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, dan membuat prediksi,

mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika

diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan kesimpulan.

4. Menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya

PBL menuntut peserta didik untuk menghasilkan produk tertentu dalam

bentuk karya nyata dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk

penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa transkip

debat, laporan, model fisik, video.

(Ibrahim dan Nur,2005 dalam Nurhadi,2003)

Ida Bagus Putu Arnyana menyebutkan bahwa PBL juga memiliki cirri atau

karakteristik, diantaranya :
43

1. Mengajukan pertanyaan atau masalah yang terkait masalah kehidupan nyata

2. Melibatkan berbagai disiplin ilmu

3. Melakukan penyelidikan autentik

4. Menghasilkan produk atau karya serta mengkomunikasikannya atau

memamerkannya.

5. Kerja sama dalam melakukan penyelidikan.

Ni Made Suci (2008:77) Problem Based Learning memiliki sejumlah

karakteristik atau ciri-ciri yang membedakannya dengan model pembelajaran

lainnya yaitu :

1. Pembelajaran bersifat student centered

2. Pembelajaran terjadi pada kelompok-kelompok kecil

3. Guru berperan sebagai fasilitator dan moderator

4. Masalah menjadi focus dan merupakan sarana untuk mengembangkan

keterampilan problem solving

5. Informasi-informasi baru diperoleh dari belajar mandiri

Ida Bagus Putu Arnyana (2005:650) menyebutkan bahwa Problem Based

Learning (PBL) memiliki karakteristik atau ciri-ciri diantaranya yaitu sebagai

berikut :

1. Mengajuakan pertanyaan atau masalah terkait dengan kehidupan nyata

2. Melibatkan berbagai disiplin ilmu

3. Melakukan penyelidikan autentik

4. Menghasilkan produk atau karya serta mengkomunikasikannya atau

memamerkannya.
44

5. Kerja sama dalam melakukan penyelidikan

Berdasarkan berbagai pendapat mengenai karakteristik Problem Based

Learning (PBL) tersebut dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari PBL adalah

sebagai berikut:

1. Adanya permasalahan yang mendasari proses belajar siswa,

2. Proses pembelajaran yang berpusat pada siswa,

3. Proses pembelajaran yang dikendalikan oleh siswa,

4. Proses pembelajaran yang menekankan pada aktivitas menganalisis dan

mengevaluasi masalah melalui kegiatan penyelidikan kelompok, dan

5. Refleksi terhadap proses pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dilakukan

sendiri oleh siswa.

2.1.10 Keunggulan dan Kelemahan Model Problem Based Learning (PBL)

Dalam setiap pendekatan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan,

begitupun dengan pembelajaran berbasis masalah, menurut Arends dalam Trianto

(2009:97), yaitu:

1. Kelebihannya adalah :

a. Realistik dengan kehidupan siswa

b. Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa

c. Memupuk sifat inquiri siswa

d. Retensi konsep menjadi kuat

e. Memupuk kemampuan problem solving

2. Kelemahannya adalah :

Selain memiliki kelebihan, pembelajaran berbasis masalah juga memiliki

kelemahan, yaitu :
45

a. Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks

b. Sulitnya mencari problem yang relevan

c. Sering terjadi miss-konsepsi

d. Memerlukan waktu yang cukup panjang

Wee dan Kek dalam Amir (2010:32) mengemukakan beberapa keunggulan

model pembelajaran Problem Based Learning, sebagai berikut:

1. Punya keaslian seperti di dunia kerja.

2. Dibangun dengan memperhitungkan pengetahuan sebelumnya. Masalah yang

dirancang, dapat membangun kembali pemahaman pemelajar atas pengetahuan

yang telah didapat sebelumnya. Jadi, sementara pengetahuanpengetahuan baru

didapat, ia bisa melihat kaitannya dengan bahan yang telah ditemukan dan

dipahaminya sebelumnya.

3. Membangun pemikiran yang metakognitif dan konstruktif. Metakognitif

artinya mencoba berefleksi seperti apa pemikiran kita atas satu hal. Pemelajar

menjalankan proses Problem Based Learning sembari menguji pemikirannya,

mempertanyakannya, mengkritis gagasannya sendiri, sekaligus mengeksplor

hal yang baru.

4. Meningkatkan minat dan motivasi dalam pembelajaran. Dengan rancangan

masalah yang menarik dan menantang, pemelajar akan tergugah untuk belajar.

Bila relevansinya tinggi dengan saat nanti praktik, biasanya pemelajar akan

terangsang rasa ingin tahunya dan bertekad untuk menyelesaikan masalahnya.

Diharapkan, pemelajar yang tadinya tergolong pasif bisa tertarik untuk aktif.

Disamping keunggulan, Problem Based Learning juga memiliki

kelemahan di antaranya:
46

1) Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan

bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa

enggan untuk mencoba.

2) Keberhasilan model pembelajaran ini membutuhkan cukup waktu untuk

persiapan.

3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah

yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin

pelajari.

2.1.11 Langkah-langkah dalam Proses Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning (PBL) merupakan pembelajaran yang

memfokuskan pada pemecahan masalah oleh siswa itu sendiri. Dengan demikian

persyaratan yang harus ada dalam Problem Based Learning (PBL) adalah adanya

masalah. Problem Based Learning (PBL) dalam kaitannya dengan matematika

diawali dengan menghadapkan siswa pada masalah matematika. Dengan segenap

pengetahuan dan kemampuannya, siswa dituntut untuk menyelesaiakan masalah

yang kaya dengan konsep-konsep matematika. PBL melibatkan siswa dalam

penyelidikan pilihan sendiri yang memungkinkan mereka menginterpretasikan

dan menjelaskan fenomena nyata dan membangun pemahamannya tentang

fenomena itu. Selanjutnya guru bisa memberikan berbagai macam perlakuan

terhadap masalah agar siswa belajar dari masalah tersebut.

Langkah-langkah umum dalam melaksanakan model Problem Based

Learning menurut Sigit Mangun Wardoyo (2013:47) adalah sebagai berikut:

1) Guru membuat kelompok diskusi dan menetapkan tujuan pembelajaran yang

akan dicapai.
47

2) Guru memberikan sebuah masalah pada siswa untuk dijadikan sebagai bahan

belajar.

3) Siswa mengidentifikasi learning issue berdasarkan permasalahan dan

disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.

4) Siswa melaksanakan self-directed learning untuk mencari berbagai informasi

untuk memecahkan masalah.

5) Siswa mengevaluasi tentang hasil dan proses yang mereka lakukan dalam

kegiatan tersebut.

2.2 Penelitian yang Relevan

Beberapa penelitian terdahulu yang dapat dijadikan acuan, antara lain:

1. Hasratuddin (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Meningkatkan

Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP melalui Pendekatan Matematika

Realistik”, menyimpulkan bahwa banyak subjek pada kelas eksperimen dengan

pembelajaran melalui pendekatan matematika realistik adalah 135 orang,

sedangkan pada kelas kontrol dengan pembelajaran biasa adalah 130 orang. Rata-

rata perolehan siswa pada pretes pada pembelajaran realistic adalah 0,88,

sedangkan pada pembelajaran biasa adalah 1,02. Sedangkan ratarata perolehan

skor awal kemampuan berpikir kritis dengan pendekatan pembelajaran

matematika realistik adalah 11,50, sedangakan pembelajaran biasa adalah 5,96.

Sehingga rata-rata peningkatan yang diperoleh siswa pada pembelajaran melalui

pendekatan matematika realistik adalah 10,62 dan pada pembelajaran biasa adalah

4,94. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan

kemampuan berpikir kritis siswa yang diberi perlakuan pembelajaran matematika

realistik dengan pembelajaran biasa. Karena, peningkatan rata-rata kemampuan


48

berpikir kritis siswa yang diberi perlakuan pembelajaran matematika realistik

lebih besar dari pada siswa yang diberi perlakuan pembelajaran biasa, maka dapat

dismpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika

realistik lebih baik dari pembelajaran biasa dalam meningkatkan kemampuan

berpikir kritis siswa.

2. Dasa Ismaimuza (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Problem

Based Learning (PBL) dengan Strategi Konflik Kognitif terhadap Kemampuan

Berpikir Kritis Matematis dan Sikap Siswa SMP”, menyimpulkan bahwa

kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh Pembelajaran

Berbasis Masalah dengan Strategi Konflik Kognitif lebih baik dari pada siswa

yang memperoleh pembelajaran konvensional, kemudian sikap siswa yang diajar

dengan pembelajaran PBLKK lebih positif dibandingkan dengan sikap siswa yang

diajar dengan pembelajaran konvensional.

Dari contoh judul penelitian terdahulu memiliki keterkaitan dari segi

masalah yaitu mencari tahu tentang hubungn dan pengaruh akan tetapi objek dan

sasarannya berbeda. Oleh karena itu memilih masalah tentang, Peningkatan

Berpikir Kritis Matematika Siswa Melalui Model Problem Based Learning (PBL)

di SMA Negeri 1 Barumun

2.3 Kerangka Berpikir

1. Diduga adanya pebedaan peningkatan kemampuan berfikir kritis dan respon

siswa melalui model Problem Based Learning (PBL) dengan model Direct

Intruction (DI) di kelas XI IPA SMA Negeri I Barumun .

Model Problem Based Learning (PBL) adalah pembelajaran yang berpusat

pada siswa. Ciri dari pembelajaran ini adalah menekankan pada aktivitas
49

menganalisis dan mengevaluasi masalah melalui kegiatan penyelidikan kelompok,

sehingga siswa diarahkan membangun sendiri pengetahuannya.

Guru hanya sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan siswa

pada saat melakukan penyelidikan tersebut. Dengan demikian model Peoblem

Based Learning (PBL) diduga dapat berpengaruh dalam kemampuan berfikir kritis

dan respon siswa.

Sedangkan Model Direct Intruction (DI) lebih aktif mendominasi dalam

belajar, guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada seluruh siswa tanpa

partisipasi aktif dari siswa sehingga para siswa merasa jenuh dan kurang

bersemangat dalam mengikuti pembelajaran di kelas.

Model Direct Intruction (DI) guru berperan sebagai penyampai informasi,

informasi yang disampaikan dapat berupa pengetahuan procedural (yaitu

pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu). Kritik terhadap

penggunaan model ini antara lain bahwa model ini tidak dapat digunakan setiap

waktu dan tidak untuk semua tujuan pembelajaran dan semua siswa.

Sehingga dapat diduga adanya peningkatan kemampuan berfikir kritis dan

respon siswa melalui model Problem Based Learning (PBL) dengan model Direct

Intruction (DI) di kelas XI IPA SMA Negeri I Barumun

2. Diduga adanya perbedaan respon siswa melalui model Problem Based

Learning (PBL) dengan model Direct Intruction (DI) di kelas XI IPA SMA

Negeri I Barumun .

Pada model Direct Intruction (DI) guru lebih aktif mendominasi siswa

dalam belajar, guru hanya menjelaskan di depan kelas tanpa ada partisipasi aktif
50

dari siswa, sehingga para siswa merasa jenuh dan kurang bersemangat dalam

mengikuti pembelajaran di kelas.

Sedangkan pada model Problem Based Leaning (PBL) dimana siswa

mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun

pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berfikir,

mengembangkan kemandirian, dan percaya diri. Siswa lebih aktif sedangkan guru

hanya membimbing siswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Model Problem Based Leraning (PBL) bukan hanya sekedar model

mengajar tetapi juga merupakan suatu model berfikir, sebab dalam memecahkan

masalah dapat menggunakan model lainnya yang dimulai dengan mencari data

sampai pada menarik kesimpulan.

Respon siswa merupakan gambaran reaksi yang muncul dari pembelajaran

yang dilakukan oleh guru. Guru merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi

respon yang muncul dari siswa. Respon yang positif dapat muncul jika guru dapat

menarik perhatian siswa dengan menggunakan model pembelajaran yang bagus,

menarik serta memberdayakan siswa sebagai cara dapat dilakukan, misalnya

dengan permainan, atau penyajian konsep yang menarik dan berbeda dari

biasanya.

Sehingga dapat diduga ada perbedaan respon siswa melalui model

Problem Based Learning (PBL) dengan model Direct Intruction (DI) di kelas XI

IPA SMA Negeri I Barumun .

2.4. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara dari suatu penelitian yang diuji

terhadap rumusan masalah yang didasarkan pada kajian teoritis.


51

Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto bahwa:

“Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalah

penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul”.

Berdasarkan hal tersebut maka hipotesis dalam penelitian ini adalah

1. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematika siswa

melalui model Problem Based Learning (PBL) dengan model Direct Intruction

(DI) di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Barumun .

2. Terdapat perbedaan respon siswa melalui model Problem Based Learning

(PBL) dengan model Direct Intruction (DI) di kelas XI IPA SMA Negeri 1

Barumun
52

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah metode eksperimen kuasi

(Quasi Experimental Research). Menurut Liche Seniati (2009:37), Eksperimen

kuasi adalah suatu penelitian yang ingin dilakukan dengan mengamati kelompok

subjek yang memiliki variabel bebas berbeda, yaitu model Problem Based

Learning (PBL) dengan model Direct Intruction (DI), kemudian mengukur

variabel terikat yang terjadi. Dimana peneliti sengaja membangkitkan suatu

kejadian, kemudian diteliti pengaruhnya, dengan menerapkan model Problem

Based Learning (PBL) kepada siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan

menggunakan model Direct Intruction (DI).

Dalam desain penelian ini melibatkan dua kelas, yakni kelas yang

pembelajarannya dengan model Problem Based Learning (PBL) dan model

pembelajaran Direct Instruction (DI). Setelah mendapatkan perlakuan dilakukan

postest (tes akhir). Tujuan dilaksanakannya postest adalah untuk melihat

perbedaan kemampuan pemecahan masalah pada kedua kelas tersebut.

Tabel 3.1
Sampel Penelitian

Kelas sampel Perlakuan Postest

Eksperimen X1 T1

Kontrol X2 T1

Keterangan:
X1 = Perlakuan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
X2 = Perlakuan dengan model pembelajaran Direct Instruction (DI)
T1 = Pemberian postest
(Suharsimi Arikunto, 2009:210)
53

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Barumun yang beralamatkan

di Jalan Bhayangkara IV Desa rumbio kecamatan panyabungan.

Waktu penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran

2014/2015.

3.3 Populasi dan Sampel

Sugiyono (2009:61), Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas

obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Populasi merupakan jumlah keseluruhan subjek yang akan diteliti. Oleh

karena itu ditetapkan populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA

Negeri 1 Barumun yang terdiri dari 3 kelas berjumlah 98 orang siswa yang terdiri

dari 37 siswa laki-laki dan 61 siswa perempuan.

Tabel 3.2
Jumlah Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Barumun

JUMLAH SISWA
No KELAS TOTAL
L P
1 XI IPA-1 10 20 30
2 XI IPA-2 12 21 33
3 XI IPA-3 15 20 35
JUMLAH 37 61 98
(Sumber : Dokumentasi SMA Negeri 1 Barumun , 2014)

3.1.1 Sampel

Sugiyono (2009:62) mendefinisikan sampel adalah bagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak

mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbasan

dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil

dari populasi itu.


54

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan teknik

Cluster Sampling. Teknik Sampling digunakan untuk menentukan sampel dimana

objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas. Satu kelas terpilih dijadikan

sebagai kelas eksperimen dan satu kelas lagi dijadikan kelas kontrol.

Teknik pengambilan sampel dengan cara mengundi kelas, adapun yang

menjadi sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI IPA-1 sebagai kelas

eksperimen dan kelas XI IPA-3 sebagai kelas kontrol di SMA Negeri 1 Barumun .

3.4 Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes, observasi,

dan wawancara. Tes dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dari

pelaksanaan tindakan yang dilakukan, observasi untuk mengetahui aktivitas siswa

selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, wawancara untuk

mengungkap kebiasaan sehari-hari peserta didik dan ditambah dengan

memperkuat data yang diperoleh dari penelitian yaitu membuat suatu dokumen.

1. Test : Tes kemampuan berfikir kritis matematika siswa disusun dalam

bentuk essay yang berjumlah 10 item. Isi test di usahakan mencakup seluruh

materi pokok bahasan yang disusun berdasarkan kurikulum KTSP.

2. Observasi : Obserasi dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang respon

siswa dalam proses belajar mengajar di SMA Negeri I Barumun . Semua

kegiatan akan dicatat di lembar observasi yang bentuk penilaiannya di uraikan

dalam lampiran.

3. Wawancara : Wawancara dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang

tingkat keberhasilan belajar siswa.


55

3.5 Alat pengumpulan data

1. Lembar Observasi

Hal-hal yang diobservasi dalam penelitian ini adalah respon siswa dalam

pembelajaran. Untuk memperoleh data respon siswa selama pembelajaran,

digunakan instrumen berupa lembar pengamatan respon siswa melalui model

pembelajaran Problem Based Instruction (PBI). Pada lembar pengamatan respon

siswa, observer menuliskan nomor-nomor kategori respon siswa yang dominan

muncul dalam kegiatan pembelajaran.

2. Lembar Tes

Digunakan untuk memperoleh data skor kemampuan berfikir kritis

matematika siswa dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL)

Tes yang digunakan berbentuk essay test dengan jumlah soal 10.

Namun sebelum tes digunakan terlebih dahulu dilakukan uji validitas,

tingkat kesukaran dan daya pembeda.

1. Validitas tes

Untuk mengukur validitas soal dilakukan dengan menggunakan rumus

kolerasi product moment dengan rumus sebagai berikut :

n x1 y1   x1  y1 
rxy 
n x   x n y   y  
1
2
1 1
2 2

Keterangan

rxy = koefisien korelasi product moment


x = skor item soal
y = skor total butir soal
n = jumlah siswa
56

Untuk menafsirkan keberartian harga tiap item tes, maka harga tersebut
dibandingkan dengan harga kriteria r product moment dengan ∝= 0,05 jika r
hitung > r tabel maka kolerasi tersebut dinyatakan valid dan sebaliknya.
Kriteria Validitas tes dapat dikategorikan sebagai berikut :
0,80 < rxy ≤ 1,00 : validitas kecil
0,60 < rxy ≤ 0,80 : validitas cukup
0,40 < rxy ≤ 0,60 : validitas rendah
0,00 < rxy ≤ 0,4 : validitas rendah
0,00 < rxy ≤ 0,20 : validitas amat rendah
Rxy < 0,00 : validitas tidak valid
(Suharsimi Arikunto, 2009:89)
2 Reabilitas Tes
Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui keterpercayaan hasil tes.

Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes

tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Untuk mengetahui tingkat reliabilitas

instrumen dilakukan dengan menggunakan alpha cronbach, yaitu:3

 k     b 
2

r11 =   1 
 k  1   t2 

Keterangan :

r11= reliabilitas instrumen

k = banyaknya pertanyaan atau butir soal

Σ 𝜎 b2= jumlah varians butir

𝜎 t2= varians total

Untuk menafsirkan reabilitas soal maka harga tersebut dibandingkan dengan harga

kritis r tabel dengan 𝜎 = r hitung > r tabel maka soal dikatakan reliabel.

Kriteria Reabilitas test dapat dikategorikan sebagai berikut :

1. Antara 0,800 samapi dengan 1,00 : sangat tinggi


57

2. Antara 0,600 samapi dengan 0,800 : tinggi

3. Antara 0,400 samapi dengan 0,600 : cukup

4. Antara 0,200 samapi dengan 0,400 : rendah

5.Antara 0,000 samapi dengan 0,200 : sangat rendah

(Suharsimi Arikunto, 2009:109)

3.Tingkat Kesukaran

Untuk menghitung tingkat kesukaran soal digunakan rumus

∑ 𝑘 𝐴+𝐾𝐵
TK = X 100 %
𝑆.𝑁.𝑟

Dimana :

Σ KA = Jumlah skor kelas atas

Σ KB = Jumlah skor kelas bawah

St = Skor tertinggi

Nt = 27 % x (banyak salah satu kelompok sampel) x

Kriteria tingkat kesukaran soal dapat dikategorikan sebagai berikut :

Jika TK < 27 % maka soal dikatakan sukar

Jika 27 % ≤ TK ≤ 73 % maka soal dikatakan sedang

Jiaka TK > 78 % maka soal dikatakan mudah

(Suharsimi Arikunto, 2009:285)

4.Daya Pembeda soal

Untuk menghitung daya pembeda soal digunakan rumus

WL  WH
DP =
n

DP = Daya pembeda

n = Jumlah kelompok atas atau kelompok bawah


58

WL = Jumlah siswa yang menjawab salah dari kelompok bawah

WH = Jumlah siswa yang menjawab dari kelompok atas

Kriteria daya pembeda soal dapat dikategorikan sebagai berikut:

DP : 0,00 – 0,20 : Jelek

DP : 0,20 – 0,40 : Cukup

DP : 0,40 – 0,70 : Baik

DP : 0,70 – 1,00 : Baik sekali

(Suharsimi Arikunto, 2009:213)

3.5 Analisa Data

Setelah data terkumpul ditempuh langkah-langkah sebagai berikut :

1. Uji Normalitas

Uji normalitas data ini dilakukan untuk mengetahui apakah data

berdistribusi normal atau tidak, untuk menguji normalitas ini digunakan prosedur.

1. Membuat tabel distribusi frekuensi dan data yang diperoleh

2. Menghitung rata-rata ( X )

3. Pengamatan x1, x2,x3 ............, xn dijadikan biangan baku z1,z2,z3,………….zn

xx
dengan menggunakan rumus Zi = , ( X dan S masing-masing
s
merupakan rata-rata dan simpangan baku sampel).

4. Untuk setiap bilangan baku dan menggunakan daftar distribusi normal

baku, kemudian dihitung peluang F(zi) = peluang (z ≤ zi).

5. Selanjutnya dihitung proporsi Z1, Z2, Z3, … Zn yang lebih kecil atau sama

dengan Z I, jika proporsi ini dinyatakan oleh S(zi), maka :


59

S(zi) = bannyaknya Z1, Z2, Z3…Zn


n

6. Menghitung seisih F(zi) - S(zi) kemudian ditentukan harga mutlaknya

7. Kriteria pengujian dengan 𝛼 = 0,05 adalah jika L hitung < Ltabel, maka data

berdistribusi normal , jika L hitung > Ltabel, maka data tidak berdistribusi

normal.

(Sudjana, 2005:99)
2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas varians bertujuan untuk melihat apakah kedua kelompok

data mempunyai yang homogeny atau tidak. Dengan taraf nyata 𝛼 = 0,05, dimana

F < Ft memiliki variansi yang homogen untuk kedua kelompok data. Rumus

varians data untuk masing-masing data untuk menghitung harga F, dikemukakan

Sudjana sebagai berikut :

𝑆12
F= 2
𝑆 2

Dimana :

F = Varians kelompok data

S1 = Varians hasil belajar yang tinggi

S2 = Varians hasil belajar yang rendah

Kriteria pengujian adalah = diterima H0 jika F hitung < F tabel.

Jadi harga sudah didapatkan maka dibandingkan F tersebut (Fb) dengan

harga pembilang = 1 dan penyebut = n2 – 1, Bila harga F yang didapat dari harga

F pada tabel maka kedua kelompok data mempunyai varians yang homogen dan

sebaliknya.

(Sudjana, 2005:249)
60

3.6 Pengujian Hipotesis

1. Hipotesis 1 dan 2

Pengujian hipotesis dijabarkan kedalam hipotesis statistik induktif dilakukan

dengan uji - t, dengan menggunakan rumus:

XX
t
1 1

n1 n2

Dengan

(𝑛1 − 1)𝑆12 + (𝑛2 − 1)𝑆22


𝑆2 =
𝑛1 + 𝑛2 − 2

Dimana:

X1 = Rata – rata nilai kelas eksperimen

X2 = Rata – rata kelas kontrol

n1 = Jumlah sampel kelas eksperimen

n2 = Jumlah sanpel kelas kontrol

S1 = Standar deviasi kelas eksperimen

S2 = Standar deviasi kelas kontrol

S2 = Standar deviasi gabungan

(Sudjana, 2005:239)

Hipotesis yang akan diuji adalah:

H0 : 1 = 

Ha : 1 = 

1. H0 : “Tidak ada perbedaan kemampuan berfikir kritis matematika siswa

melalui model Problem Based Learning (PBL) dengan model Direct


61

Intruction (DI) pada materi peluang di kelas XI IPA SMA Negeri 1

Barumun ”.

Ha : “Ada perbedaan kemampuan berfikir kritis matematika siswa melalaui

model Problem Based Learning (PBL) dengan model Direct Intruction

(DI) pada materi peluang di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Barumun ”.

2. Ha : “Ada perbedaan respon siswa melalui penerapan model Problem Based

Learning (PBL) dengan model Direct Intruction (DI) di kelas XI IPA

SMA Negeri 1 Barumun ”.

H0 : “Tidak ada perbedaan respon siswa melalui penerapan model Problem

Based Learning (PBL) dengan model Direct Intruction (DI) di kelas XI

IPA SMA Negeri 1 Barumun ”.

Kriteria pengujian hipotesis dua arah.

Diterima H0 jika – t1-1/2 𝛼 < t1-1/2𝛼 , dimana didapat daftar distribusi t dengan dk =

(n1 + n – 2) dan peluang (1- ½ 𝛼). Untuk harga-harga lainnya H0 ditolak.


62

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulijono. 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar


Jakarta: Reneka Cipta.

Aisyah, Nyimas. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD.Jakarta


Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Aldila, Bertha. 2013. Upaya Meningkatkan Minat Dan Prestasi Belajar


Matematika Melalui Model Pembelajaran Think Pair And Share Pada
Siswa Sma Negeri 7 Yogyakarta. yang di akses dari
(https://www.google.co.id/?gws_rd=cr&ei=Bw0kVObCA8VuATx_YHY
BA#q=skripsi+tps+matematika).

Ansari Dan Yamin.2008. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa.


Jakarta : Putra Grafika.

Arikunto, Suharmi. 2002. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta: PTRineka Cipta.

_______________. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, jakarta:PT.Bumi


Aksara.

Atun,I. (2006) . Pembelajaran Matematika Dengan Strategi Kooperatife Stad


Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Komunikasi
Siswa Sma, Tesis Pada PPS UPI Bandung.

Aziez, F, (2012), Ensiklopedia Pendidikan, Jakarta: Adhi Aksara Abadi


Indonesia.

Dimyati, Mudjiono. 2006. Belajar Dan Pembelajarn. Jakarta: Penerbit Rineka


Cipta.

Djamarah. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Gulo, W. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Grasindo.

Istarani. 2011. 58 Model Pembelajaran Inovatif, Medan:PT. Media Persada.

M. Dalyono. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Maharani, Fatchurya. 2013. Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas


VIII Wahid Hasyim Malang Melalui Pembelajaran Think Pair And
Share. Pada Materi Kubus Dan Balok. Di akses melalui (http://
Maharani.blogspot.com/2011/10/skripsi-think-pair-share.html).
63

Mulyadi. 2002. Auditing,Buku Dua, Edisi Ke Enam, Salemba Empat, Jakarta.

Nana Sudjana. (2005). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar


Baru Algensindo.

Nurkacana, Wayan Dan P.P.N. (1992).Evaluasi Pendidikan, Surabaya : Usaha


Nasional.

Ruliyani. 2012. Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah


Matematika Melalui Model Problem Based Instruction (PBI) Siswa Kelas
VII B SMP Negeri 1 Kecamatan Bungkal Tahun Pelajaran 2011/2012.
(https://www.google.co.id/?gws_rd=cr&ei=Bw0kVObCA8VuATx_YHY
BA#q=skripsi+pemecahan+masalah).

Seniati, Liche dkk, (2009), Psikologi Eksperimen, Jakarta: PT Indeks.

Sardiman A. M. (2000). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT


Raja Grafindo Persada.

Slameto. 2010. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta:.Rineka


Cipta.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Bisnis. Bandung : CV.Alfabeta.

Sudrajat, Akhmat. 2008. Metode Dan Tehnik Pembelajaran Sekolah Menengah


Atas, Dikdasmen.

Suprijono,Agus. 2009. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pusaka Pelajar.

Syaiful, Sagala. 2009. Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung : CV.


Alfabeta.

Trianto, (2009), Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Jakarta: Predana Media


Group.

(http://www.antaranews.com/berita/375840/jateng-juara-olimpiade-sains-
nasional)