Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Kristalisasi merupakan proses pemisahan padat-cair dimana terjadi


perpindahan massa dari solute (zat yang terlarut) menuju padatan dari fasa yang
homogen atau dengan kata lain peristiwa pembentukan partikel-partikel zat padat
dalam suatu fasa homogen.
Dalam kristalisasi dari larutan sebagaimana yang dilakukan oleh industri,
campuran dua fasa cairan induk (mother liquor) dan kristal dari segala ukuran yang
mengisi crystallizer, akan dikeluarkan sebagai hasil atau disebut dengan magma.
Tujuan dari kristalisasi yang utama ialah mendapatkan perolehan atau hasil
yang memuaskan terutama kemurnian yang tinggi. Untuk mencapai tersebut, maka
distribusi ukuran kristal (crystal size distribution) atau CSD, harus dikendalikan
dengan benar dan itulah yang menjadi tujuan utama dalam perancangan dan operasi
pada crystallizer.
Alat-alat kristalisasi disebut juga Crystallizer atau Kristallisator. Alat-alat
ini digunakan dalam proses kristalisasi terutama dalam skala industri, alat-alat yang
digunakan dalam proses kristalisasi sangat beragam. Hal ini disebabkan oleh sifat-
sifat bahan dan kondisi pertumbuhan kristal yang sangat bervariasi. Disamping itu
juga karena kristallisasi dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda-beda (pemisahan
bahan, pemurnian bahan, pemberian bentuk). Kristal yang baik, terbentuk dengan
baik, umumnya hampir murni, namun masih mengandung cairan induk bila
dikeluarkan dari magma akhir dan jika hasil tersebut masih mengandung agregat
kristal, massa zat padat itu mungkin mengandung cairan induk bersama kristal.

1.2.Rumusan Masalah
1. Apa itu alat circulating magma crystallizer?
2. Apa saja jenis – jenis dari circulating magma crystallizer?
3. Bagaimana cara kerja dari setiap alat dalam circulating magma crystallizer?
4. Apa kelebihan dan kekurangan dari alat yang ada didalam circulating
magma crystallizer?

1.3.Tujuan
1. Dapat mengetahui jenis – jenis alat yang termasuk ke dalam circulating
magma crystallizer
2. Dapat mengetahui cara kerja dari setiap alat yang termasuk ke dalam
circulating magma crystallizer
3. Dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan dari setiap alat yang termasuk
ke dalam circulating magma crystallizer

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Circulating Magma Crystallizer

Circulating Magma Crystallizer merupakan alat kristalisasi yang dimana


dalam pembentukan menjadi kristalnya menggunakan cairan induk. Dalam
kristalisasi dari larutan sebagaimana yang dilakukan oleh industri, campuran dua
fasa cairan induk (mother liquor) dan Kristal dari segala ukuran yang mengisi
crystallizer, akan dikeluarkan sebagai hasil nya yang disebut dengan magma.

2.2. Jenis – Jenis Circulating Magma Crystallizer

A. Forced Circulating Liquid Evaporator Crystallizer


Crystallizer jenis ini menggabungkan proses antara proses pendinginan
dan penguapan (evaporasi). Hal tersebut dimaksudkan untuk mencapai keadaan
yang supersaturasi (supersaturated) atau keadaan dimana larutan lewat
jenuh. Larutan terlebih dulu dilewatkan pemanas HE, kemudian menuju badan
kristaliser. Di sini terjadi flash evaporation, mengurangi jumlah pelarut dan
meningkatkan konsentrasi solute, membawa ke kondisi supersaturasi.
Selanjutnya larutan ini mengalir melalui area fluidisasi dimana kristal terbentuk
melalui nukleasi sekunder. Produk kristal diambil sebagai hasil bawah,
sedangkan larutan pekat direcycle, dicampur dengan umpan segar.

B. OSLO Evaporative Crystallizer


Crystallizer ini dirancang berdasarkan adanya perbedaan suspensi yang
mulai terbentuk pada chamber of suspension. Dimana terdapat HE eksternal
yang bertujuan untuk membuat keadaan lewat jenuh pada suhu super saturasi
nya.

C. OSLO Surface Cooled Crystallizer


Tidak jauh berbeda dengan OSLO Evaporative Crystallizer, hanya saja
cairan induk didinginkan terlebih dahulu sebelum masuk kedalam crystallizer.
Crystallizer jenis ini sangat cocok digunakan untuk proses kristalisasi yang
tidak beroperasi pada keadaan vakum.Lainnya sama dengan jenis crystallizer
OSLO EC.

D. Draft Tube Baffle (DTB) Crystallizer


Draft Tube Baffle (DTB) crystallizer atau plat buang atau tabung hisap
kristalisasi merupakan salah satu dari beberapa jenis alat kristalisator yang
didasarkan pada pemisahan debu atau uap dari bahan melalui fase lewat jenuh
yang ditingkatkan sehingga diperoleh kristal-kristal yang besar. Alat ini
dilengkapi dengan tabung junjut fungsi sekat untuk mengendalikan sirkulasi
magma dan dilengkapi pula oleh alat penggerak (agitator) . Pada crystallizer
jenis ini, terdapat keunggulan dimana pada badan crystallizer terdapat pola atau
sirkulasi untuk mekanisme kristalisasi. Diantaranya ialah draft tube, draft tube
akan memisahkan antara cairan induk dengan kristal yang akan terbentuk, yang

2
di lengkapi dengan pengaduk yang bergerak lambat. Pengaduk tersebut ada
dimaksudkan untuk membuat cairan induk dapat bernukleasi dengan cepat,
karena dengan pengadukan reaksi akan berjalan cepat.

E. Draft Tube Crystallizer


Jenis Crystallizer ini tidak jauh berbeda dengan DTB Crystallizer, hanya
saja pada jenis ini tidak ada baffle atau penyekat antara draft tube dengan badan
crystallizer. Namun kelemahan dari Crystallizer jenis ini kenaikan titik didih
atau untuk dapat membuat larutan menjadi lewat jenuh agak sulit, karena jenis
ini beroperasi dengan lambat dan panjang, namun akan didapatkan hasil atau
magma yang cukup banyak.

F. Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer


Crystallizer jenis ini menggunakan prinsip sirkulasi cairan atau larutan
induk, dimana umpan maupun hasil kristalisasi akan masuk kedalam Shell and
Tube Heat Exchangers untuk didinginkan.

G. Vacuum Pan Crystallizer


Jenis crystallizer ini banyak digunakan pada industri gula. Proses
kristalisasi gula terjadi di dalam suatu pan masak yang prosesnya kerjanya
dilakukan pasa keadaan vakum (hampa udara). Di samping itu proses
kristalisasi dapat dilakukan baik dengan single effect maupun multiple effect.

2.3. Prinsip dan Cara Kerja Circulating Magma Crystallizer

1) Forced Circulating Liquid Evaporator Crystallizer

Gambar 1. Forced Circulating Liquid Evaporator Crystallizer

3
Pada gambar diatas terlihat bahwa umpan berupa larutan induk
terlebih dahulu dilewatkan melalui sebuah Heat Exchangers untuk
dipanaskan. Heat exchangers tersebut berada di dalam evaporator. Di dalam
evaporator terjadi flash evaporation yaitu, terjadi pengurangan jumlah atau
kandungan pelarut dan terjadi peningkatan konsentrasi zat terlarut. Dimana
pada saat itu juga, keadaan zat terlarut sudah lewat jenuh atau supersaturasi.
Larutan yang sudah berada pada keadaan lewat jenuh tersebut dialirkan
menuju badan crystallizer untuk diperoleh padatan berupa kristal. Dimana
pada badan crystallizer terdapat mekanisme kristalisasi yaitu nukleasi dan
pertumbuhan kristal. Produk kristal dapat diambil sebagai hasil pada bagian
bawah crystallizer, namun tidak semua proses berjalan sempurna atau
dengan kata lain tidak semua cairan induk berubah menjadi padatan kristal.
Karena itu ada proses pengembalian kembali hasil pipa sirkulasi (circulating
pipe) atau proses recycle hasil kristalisasi.
Terlihat bahwa umpan dan campuran umpan dengan hasil yang
masih belum padatan, dialirkan dengan paksa atau forced circulation, serta
adanya Heat Exchangers dapat membuat kenaikan titik didih yang
sempurna. Kenaikan titik didih pada Heat Exchangers pada Evaporator
untuk dapat membuat larutan menjadi lewat jenuh berkisar antara 3 – 100F
untuk sekali lewat. Bila kenaikan titik didih yang diharapkan untuk
mendapatkan kristal yang baik tidak sesuai, maka dapat digunakan beberapa
evaporator untuk menaikan titik didih, dimana konsentrasi zat terlarut akan
meningkat juga. Karena mengalir secara paksa menggunakan pompa, maka
kecepatan aliran cukup tinggi, sehingga akan mengakibatkan ketinggian
permukaan larutan pada crystallizer tidak tetap atau naik turun. Umumnya
crystallizer jenis ini dibangun dengan diameter 2 feet atau pada skala
industri sekitar 4 feet atau lebih.

2) OSLO Evaporative Crystallizer

Gambar 2. OSLO Evaporative Crystallizer


Terlihat pada gambar, bahwa umpan masuk pada G, karena dipompa
umpan akan bergerak secara paksa, masuk kedalam evaporator yang
terdapat HE, cairan umpan tersebut masuk kedalam B. Sebelum masuk ke

4
B, pada bagian A cairan induk yang panas akan bercampur dengan panas
penguapan pada bagian B. Laju penguapan tersebut harus dikontrol antara
kerja pompa untuk mengalirkan cairan induk dengan perubahan panas
campuran tersebut.
Pada bagian B terjadi proses pencampuran antara keadaan
supersaturasi dengan kedaan penguapan, maka sering timbul scale atau
kerak garam, sehingga akan mengganggu proses sirkulasi dari aliran
tersebut. Sering kali diberikan bibit kristal pada bibit kristal untuk
mempercepat pembentukan kristal-kristal yang kita harapkan.

3) OSLO Surface Cooled Crystallizer

Gambar 3. OSLO Surface Cooled Crystallizer


Tidak jauh berbeda dengan OSLO Evaporative Crystallizer,
hanya saja cairan induk didinginkan terlebih dahulu sebelum masuk
kedalam crystallizer.

4) Draft Tube Baffle (DTB) Crystallizer

Gambar 4. Draft Tube Baffle (DTB) Crystallizer

5
Proses kerja Draft Tube Baffle (DTB) crystallizer dapat dibedakan
menjadi dua bagian,yaitu:
1) Proses Kristalisasi
Bahan sampel dan cairan induk dimasukkan ke dalam tangki DTB
crystallizer melalui sebuah pipa Superheated Solution From Heater and
Recirculation Pump, komponen ini akan mendorong bahan naik ke atas
dalam Draft Tube (tabung hisap). Di dalam tabung hisap bahan akan
tercampur dan mengalami sirkulasi dengan bantuan Agitator (pemutar atau
pengaduk) yang berada di dalam tangki bagian bawah. Kedua bahan ini
akan membentuk magma melalui fase lewat jenuh yang ditingkatkan.
Magma yang terbentuk akan mengalami perubahan densitas sehingga uap
yang terkandung di dalamnya akan terlepas ke permukaan magma menuju
ke Vapor Separation (pemisahan uap). Lalu mengalami proses nukleasi
(pembentukan inti kristal), kristal yang terbentuk akan mengendap ke dasar
larutan dan sebagian akan naik ke permukaan.
Kristal yang mengendap akan mengalami pemisahan antara kristal
halus dengan kristal kasar pada settling zone (zona penyelesaian), dimana
sebagian kristal akan dikeluarkan dari dasar tangki dan selebihnya dijadikan
umpan bersama cairan induk untuk melakukan proses sirkulasi guna
melarutkan partikel-partikel halus yang masih mengendap.

2) Proses Klarifikasi

Terjadi pemisahan pada bentuk kristal. Kristal yang sesuai dengan


keinginan akan diambil dan kristal yang belum sesuai (ukuran besar atau
kasar) akan dikembalikan ke zona kristalisasi untuk proses lebih lanjut.

5) Draft Tube Crystallizer

Gambar 5. Draft Tube Crystallizer

Jenis Crystallizer ini tidak jauh berbeda dengan DTB


Crystallizer, hanya saja pada jenis ini tidak ada baffle atau penyekat
antara draft tube dengan badan crystallizer. Namun kelemahan dari
Crystallizer jenis ini kenaikan titik didih atau untuk dapat membuat
larutan menjadi lewat jenuh agak sulit, karena jenis ini beroperasi

6
dengan lambat dan panjang, namun akan didapatkan hasil atau magma
yang cukup banyak.

6) Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer

Gambar 6. Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer


Crystallizer jenis ini menggunkan prinsip sirkulasi cairan atau
larutan induk, dimana umpan maupun hasil kristaliasi akan masuk
kedalam Sheell and Tube Heat Exchangers untuk didinginkan.
Perbedaan dengan jenis crystallizer lainnya ialah karena pada saat
dibadan crystallizer terbentuk campuran kristal dan cairan induk,
maka akan terjadi tumbukan antara cairan dengan kristal sehingga
suhu campuran akan meningkat, untuk mendinginkannya diperlukan
medium pendingin. Crystallizer ini mneggunakan prinsip pendinginan,
karena kristalisasi dapat terjadi melalui pembekuan (solidification). Terlihat
pada gambar diatas, umpan dan recylce kristalisasi
bersama-sama masuk kedalam medium pendingin.
Jenis kristalisasi ini terdiri dari penukar panas shell dan tabung yang
memompa bubur kristal yang tumbuh, badan kristalisasi untuk memberikan
waktu retensi, dan pompa sirkulasi dan perpipaan. Di dalam tubuh pembuat
kristal adalah baffle yang dirancang untuk menjaga kristal yang terlalu halus
dipisahkan dari magma yang sedang tumbuh untuk ukuran dan kepadatan
yang terkontrol.
Tingkat sirkulasi melalui penukar panas biasanya cukup tinggi
sehingga penurunan suhu berada pada kisaran 1 sampai 2 ° F. Sekitar tabung
adalah media pendinginan, baik air hangat yang disirkulasikan melalui
baffle tersegmentasi atau refrigeran yang menguap.
Karena dinding tabung adalah bagian terdingin dari sistem
pengkristalan, perbedaan suhu antara dinding dan lumpur yang dipompa
melalui tabung harus sekecil praktis. Nilai praktis bergantung pada siklus
operasi dan sifat dan karakteristik material. Perbedaan suhu berkisar antara
5 sampai 15 ° F diperlukan untuk mencapai siklus operasi yang wajar.

7
Namun ada kelemahannya yaitu, panjang untuk pertukaran panas
pada HE dan kecepatan umpan serta recycle kristalisasi sangat di
perhitungkan,sebab jika terjadi kesalahan penurunan suhu untuk dapat
melakukan kristalisasi pada proses pendinginan tidak berlangsung secara
optimal. Oleh karena itu, pompa untuk sirkuasi sangat dikontrol dengan
baik, karena pompa itulah yang menciptakan laju alir disamping
bukaan valve. Adanya pompa menyebabkan cairan induk akan
mengalir secara turbulen baik didalam HE maupun didalam badan
Crystalizer, maka akan terjadi sering tumbukan untuk menghasilkan
kristal, dimana terdapat sekat antara saluran Head HE dengan ujung
keluaran cairan induk. Bila kristal sudah terbentuk pada cairan induk
yang sudah lewat jenuh, maka kristal akan turun karena adanya gaya
gravitasi dan perbedaan massa jenis. Kristal dari Crystallizer jenis ini
berukuran besar antara 30 – 100 mesh. .

7) Vacuum Pan Crystallizer

Gambar 7. Vacuum Pan Crystallizer


Proses kristalisasi gula terjadi di dalam suatu pan masak yang
prosesnya kerjanya dilakukan pasa keadaan vakum (hampa udara). Di
samping itu proses kristalisasi dapat dilakukan baik dengan single effect
maupun multiple effect. Kondisi vakum dimaksudkan agar nira yang
diperoleh tidak rusak. Nira yang digunakan ialah nira yang kental yang
merupakan bahan baku proses kristalisasi. Dalam kristalisasi kadar kotoran
dan air pada nira kental akan dihilangkan.
Pada nira kental masih terkandung kotoran sekitar 15-20% zat
terlarut, sedangka kadar airnya sekitar 35-40% (dengan Brix 60-65).
Sebelum dilakukan kristalisasi dalam pan masak, nira pekat terlebih dahulu
dialirkan gas SO2 untuk proses bleaching dan untuk menurunkan viskositas
masakan nira. Langkah pertama dari proses kristalisasi adalah menarik
masakan (nira pekat) untuk diuapkan airnya sehingga mendekati kondisi
jenuh nya. Dengan pemekatan secara terus-menerus koefisien ke jenuh an
nya akan meningkat. Pada keadaan lewat jenuh maka akan terbentuk suatu

8
pola kristal sukrosa. Setelah itu langkah membuat bibit yaitu dengan
memasukkan bibit gula kedalam gula kedalam pan masak kemudian
melakukan proses pembesaran kristal. Pada proses masak ini kondisi kristal
harus dijaga jangan sampai larut kembali ataupun tidak beraturan.

2.4. Kelebihan dan Kekurangan Alat Circulating Magma Crystallizer

a) Forced Circulating Liquid Evaporator Crystallizer


 Kelebihan:
 Gerakan cairan yang cepat karena koefisien perpindahan panas
tinggi
 Cocok untuk zat thermolabile karena penguapan yang cepat
 Koefisien transfer panas tinggi sehingga tidak terjadi foulling
dan scalling

 Kekurangan:
 Harga peralatan yang mahal
 Biaya perawatan yang mahal
 Konsumsi daya yang besar saat penggunaan pompa sirkulasi
 Kecepatan cairan dengan evaporator hanya dibatasi oleh pompa
 Laju aliran cairan harus kontinyu
 Ukuran kristal sulit di kontrol

b) OSLO Evaporative Crystallizer


 Kelebihan:
 Kristal yang dihasilkan besar dan kasar
 Biaya operasi jauh lebih rendah dari jenis kristalisator lainnya
 Perawatan yang rendah
 Memungkinkan siklus produksi yang panjang antara periode
pencucian

 Kekurangan:
 Laju penguapan harus dikontrol antara kerja pompa untuk
mengalirkan cairan induk dengan perubahan panas campuran
tersebut.
 Sering timbul scale atau kerak garam, sehingga akan
mengganggu proses sirkulasi dari aliran tersebut
 Perlu penambahan bibit kristal untuk memperbanyak kristal
yang dihasilkan

c) OSLO Surface Cooled Crystallizer


 Kelebihan:
 Kristal yang dihasilkan besar dan kasar
 Biaya operasi murah
 Biaya perawatan yang murah
 Perawatan yang mudah

9
 Kekurangan:
 Hanya memproduksi kristal dalam ukuran yang besar

d) Draft Tube Baffle (DTB) Crystallizer


 Kelebihan:
 Mampu memproduksi kristal – kristal dalam bentuk tunggal
 Siklus operasionalnya lebih panjang
 Biaya operasi lebih rendah
 Kebutuhan ruang minimum
 Instrumen dapat dikendalikan dengan mudah
 Operasinya dilaksanakan secara sederhana

 Kekurangan:
 Sering diperlukan pembilasan untuk meminimalisir deposit pada
dinding kristallizer
 Tidak dapat menangani bubur secara efektif pada densitas yang
tinggi

e) Draft Tube Crystallizer


 Kelebihan:
 Magma yang dihasilkan banyak
 Produk yang dihasilkan besar

 Kekurangan:
 Kenaikan titik didih atau untuk dapat membuat larutan menjadi
lewat jenuh agak sulit
 Jenis ini beroperasi dengan lambat dan panjang

f) Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer


 Kelebihan:
 Kristal yang dihasilkan berukuran besar

 Kekurangan:
 Pertukaran panas pada HE sangat lama
 Kecepatan umpan serta recycle kristalisasi sangat di
perhitungkan,sebab jika terjadi kesalahan penurunan suhu untuk
dapat melakukan kristalisasi pada proses pendinginan tidak
berlangsung secara optimal.
 Pompa untuk sirkuasi sangat dikontrol dengan baik

g) Vacuum Pan Crystallizer


 Kelebihan:
 Prosesnya kerjanya dilakukan pasa keadaan vakum (hampa
udara)
 Proses kristalisasi dapat dilakukan baik dengan single effect
maupun multiple effect

10
 Kekurangan:
 Kondisi operasi harus vakuum agar bahan masuk tidak rusak
 Pada proses masak ini kondisi kristal harus dijaga jangan sampai
larut kembali ataupun tidak beraturan

2.5. Aplikasi Circulating Magma Crystallizer

1. Forced Circulating Liquid Evaporator Crystallizer


 Pada industri pertambangan
 Pada industri pengolahan natrium klorida
 Pada industri pembuatan natrium sulfat
 Pada natrium pembuatan karbonat monohidrat
 Pada industri pembuatan asam sitrat
 Pada industri pembuatan monosodium glutamat
 Pada pembuatan urea

2. OSLO Evaporative Crystallizer


 Pada industri pembuatan ammonium sulfat
 Pada industri pembuatan ammonium nitrat
 Pada industri pembuatan kalium klorida

3. OSLO Surface Cooled Crystallizer


 Pada produksi larutan kaustik
 Pada produksi larutan NaCl

4. Draft Tube Baffle (DTB) Crystallizer


 Pada produksi garam
 Pada produksi ammonium sulfat
 Pada produksi Natrium Karbonat (Sodium Carbonate)
 Pada produksi Sodium Sulfat (Sodium Sulfate)
 Pada produksi Natrium Nitrat (Sodium Nitrate)
 Pada produksi Tembaga Sulfat (Copper Sulfate)
 Pada produksi Sodium Sulfit (Sodium Sulfite)
 Pada produksi Kalsium Klorida (Calcium Chloride)
 Pada produksi Kalium Klorida (Potassium Chloride)

5. Draft Tube Crystallizer


 Pada produksi ammonium sulfat

6. Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer


 Pada proses pembuatan natrium klorida dari larutan kaustik
 Pada pembuatan natrium karbonat dekahidrat dari larutan limbah
 Pada pembuatan natrium klorat dari larutan jenuh natrium klorida

7. Vacuum Pan Crystallizer


 Pada industri gula

11
BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan

Alat-alat kristalisasi disebut juga Crystallizer atau Kristallisator. Alat-


alat ini digunakan dalam proses kristalisasi terutama dalam skala industri, alat-
alat yang digunakan dalam proses kristalisasi sangat beragam. Hal ini
disebabkan oleh sifat-sifat bahan dan kondisi pertumbuhan kristal yang sangat
bervariasi. Disamping itu juga karena kristallisasi dilaksanakan untuk tujuan
yang berbeda-beda (pemisahan bahan, pemurnian bahan, pemberian bentuk).
Circulating Magma Crystallizer merupakan alat kristalisasi yang
dimana dalam pembentukan menjadi kristalnya menggunakan cairan induk.
Dalam kristalisasi dari larutan sebagaimana yang dilakukan oleh industri,
campuran dua fasa cairan induk (mother liquor) dan Kristal dari segala ukuran
yang mengisi crystallizer, akan dikeluarkan sebagai hasil nya yang disebut
dengan magma.
Jenis – jenis circulating magma crystallizer antara lain forced circulating
liquid evaporator crystallizer, OSLO Evaporative crystallizer, OSLO surface
cooled crystallizer, draft tube baffle crystallizer, draft tube crystallizer, forced
circulation baffle surface cooled crystalizzer, dan vacuum pan crystallizer. Dari
semua jenis alat tersebut mempunyai prinsip dan cara kerja yang berbeda sesuai
dengan kegunaanya di industri.

3.2.Saran

Penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca mengenai


makalah yang telah dibuat ini serta semoga makalah ini bermanfaat untuk
pembaca.

12
DAFTAR PUSTAKA

Aditya,2016. “ Circulatting magma vacuum crystallizer.pdf”.


https://www.coursehero.com/file/p5sb20l/Circulating-Magma-Vacuum-
Crystallizer-in-this-type-of-crystallizer-the/

Diana,2014.”Jenis – jenis alat kristalisasi.pdf”.


https://patents.google.com/patent/US3378236

Suwarno, 2015.” Makalah crystallizer.pdf”.


https://edoc.site/makalah-crystallizer-pdf-free.html

Putri, Dwi 2017. “Makalah Crystallizer.pdf”


https://dokumensaya.com/download/makalah-crystallizer-dan-alat-
transportasi-zat-padat_58f49887dc0d60493bda97dd_pdf

Destrina, Zefrina, 2014, “Kristalisasi”


http://zefdes.blogspot.co.id/2014/03/makalah-kristalisasi.html

13