Anda di halaman 1dari 28

STATUS PSIKIATRI

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. WA
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 33 tahun
Agama : Islam
Suku : Minang
Pendidikan : Diploma 1 Manajemen Imformatika.
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status Pernikahan : Menikah, memiliki 1 orang anak.
Alamat : Jakarta Timur
Tanggal Masuk RS : 10 Mei 2007

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Data diperoleh dari :
 Autoanamnesis pada tanggal 31 Mei, 1 s/d 5 Juni 2007
 Alloanamnesis dari :
1. Ny. N ibu kandung pasien, berusia 54 tahun, seorang ibu rumah tangga pada
tanggal 1 Juni 2007 (tidak satu rumah).
2. Ny. B adik ipar pasien, berusia 34 tahun, pendidikan D3 Manajemen Perhotelan,
pekerjaan Asisten Sales Manajer Hotel Haris Jakarta , pada tanggal 1 Juni 2007
(satu rumah dengan pasien).
3. Tn. S paman suami pasien, pekerjaan mantan penghulu (P3RN), tanggal 1 Juni
2007 (tetangga pasien)
4. Tn. U suami pasien, berusia 35 tahun, pendidikan SMU, pekerjaan wiraswasta,
tanggal 2 Juni 2007 (satu rumah dengan pasien).
5. Nn. H adik kandung pasien ke-4, berusia 28 tahun, pendidikan SMU, pekerjaan
karyawan swasta, tanggal 4 Juni 2007 (tidak satu rumah)
 Catatan Rekam Medik.

A. Keluhan Utama
Pasien marah-marah dan memukul saudaranya 2 hari sebelum masuk rumah
sakit.

1
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Sekitar 1 bulan sebelum masuk rumah sakit pasien bertengkar dengan adik
iparnya. Saat itu pasien sedang tidur-tiduran di kamarnya, sementara di dapur
pembantu sibuk memasak dan adik iparnya sedang mengasuh anaknya yang berumur
3 bulan. Kemudian adik iparnya menyuruh pasien memasak nasi di dapur, tetapi
pasien tidak senang, sehingga terjadi pertengkaran. Pasien mengatakan saat itu
badannya sedang tidak begitu sehat. Selama ini pasien mengatakan sudah menahan
diri karena sering sekali disuruh adik iparnya ini, pasien merasa adik iparnya itu tidak
pantas berlaku seperti itu. Hal ini selain karena posisinya sebagai adik ipar, pasien
juga mengatakan ia lebih dahulu mengenal bangku kuliah daripada adik iparnya.
Adik iparnya lalu menelpon ibu pasien yang tinggal di Bekasi meminta agar pasien
dibawa ke Bekasi.
Selama hampir 2 minggu di Bekasi, menurut ibunya pasien susah tidur,
mudah tersinggung, dan banyak bicara. Saat tidak tidur pasien membersihkan rumah
dan merapikan semua lemari pakaian. Tetapi kadang kala pasien juga terlihat seperti
orang yang sangat senang, gembira, banyak tersenyum dan bernyanyi-nyanyi.
Menurut pasien saat itu ia merasa tidak butuh tidur, sangat bersemangat untuk
melakukan banyak pekerjaan, tetapi kadangkala juga merasa kesal, dan cepat
tersinggung. Pasien juga menyatakan ia melakukan semua itu bukan karena ada suara
yang menyuruhnya. Menurut adik pasien melihat keadaan pasien, ia segera
mengambil dan menyimpan uang milik pasien, karena biasanya bila berperilaku
seperti ini pasien akan berbelanja tanpa perhitungan. Semua uang yang ada
dihabiskan.
Setelah 2 minggu di Bekasi, akhirnya pasien pulang sendiri ke rumah
mertuanya, karena ingin bertemu suami dan anaknya. Keadaan pasien belum berubah,
tidak bisa tidur, mudah tersinggung, tetapi kelihatan juga sangat bersemangat, aktif
melakukan pekerjaan di rumah, dengan rasa gembira dan banyak bicara. Menurut
pasien saat kembali ke rumah mertuanya, ia mendengar suara-suara wanita yang
menyuruhnya marah. Pasien menganggap suara itu sebagai suara setan dan ia
berusaha untuk tidak menurutinya tapi kadangkala tidak bisa.
Lima hari sebelum masuk RSCM, pasien berdebat dengan paman suaminya
masalah pernikahan saudaranya, pasien mengeluarkan kata yang agak keras, seperti
membentak, sehingga adik iparnya menegur karena dianggap tidak sopan pada orang

2
tua. Pasien kembali bertengkar dengan adik iparnya kali ini lebih hebat dari kemarin,
pasien mengatakan adik iparnya setan, dan mau menamparnya. Akhirnya pasien di
bawa ke Bekasi kembali.
Dua hari sebelum masuk RSCM, pasien bertengkar dan memukul adiknya,
karena adiknya suka meniru tingkah laku pasien. Perilaku pasien kelihatan semakin
hari semakin parah ; tidak bisa tidur, banyak bicara, pasien selalu marah, berkata
kasar, membentak ayah dan ibunya, dan membanting barang-barang bila marah.
Pasien yang biasanya pelit menjadi banyak berbelanja barang-barang yang tidak
perlu. Akhirnya tanggal 10 Mei keluarga membawa pasien ke RSCM untuk dirawat
karena perilakunya yang tidak bisa dikendalikan lagi. Saat itu pasien menolak untuk
dirawat dan sempat marah dan memukul ibunya.
Selama dirawat pasien masih memperlihatkan perasaan yang mudah
tersinggung dan mudah marah. bersemangat dan banyak bicara. Bila malam pasien
tidak bisa tidur. Pasien sering bersikap agresif terhadap pasien lain, seperti marah-
marah dan memukul pasien karena cepat tersinggung. Karena perilakunya ini pasien
sering di fiksasi. Pasien juga menyatakan ia mendengar suara setan yang
menyuruhnya membagi-bagi air minum ke semua orang dan juga menyuruhnya
marah-marah. Suara itu jelas terdengar di telinga, tapi tidak terus menerus,
kadangkala menghilang. Pasien juga melihat setan tersebut dengan tampang yang
menyeramkan ; bermata satu, mukanya penuh oleh matanya. Tetapi ini juga hilang
timbul. Pasien juga menyatakan ia merasa kesal karena teman-teman seruangannya
suka memperhatikannya, membicarakannya, dan menyindirnya. Pasien pernah
membanting piringnya saat sarapan. Ketika itu pasien lain W dilarang sarapan karena
puasa untuk ECT, pasien meyakini dirinya yang disindir disuruh puasa, karena
badannya gemuk dan karena pasien W dan ia sama-sama suku Minang, sehingga ia
berteriak marah-marah dan membanting piringnya. Saat hari pertama dirawat pasien
mendapat obat risperidon 2x2mg, carbamazepin 2x200mg, dan lorazepam 1x2mg,
tetapi karena pasien terus mengeluh tidak bisa tidur obat diganti menjadi stelazine
3x5mg, chlorpromazine 1x 100mg (malam), dan carbamazepin 2x200mg. Sampai hari
ke 21 dirawat pasien masih menunjukkan emosi dan perilaku yang tidak stabil, saat
ditemui pasien terbaring terikat di tempat tidur, karena marah dan mau menampar
pasien lain. Saat ditemui pasien kelihatan marah dan mengomel. Ia juga marah ketika

3
pasien lain sholat/sembahyang didekatnya, ia menyatakan pasien itu melakukan
sholat untuk dirinya dan mendoakan ia cepat mati.

C. Riwayat Penyakit Dahulu

1. Riwayat Gangguan Psikiatri


Pasien sakit pertama kali 21 tahun yang lalu, yaitu pada saat kelas 1 SMP
bulan Agustus tahun 1986. Saat itu pasien baru masuk ke sebuah SMP favorit merasa
minder dengan teman-temannya. Pasien menjadi pendiam, banyak melamun, tidak
mau bicara, banyak mengurung diri di kamar, tidak mau makan dan mengurus dirinya.
Pasien menyatakan saat itu ia merasa sangat sedih karena tidak bisa seperti siswa lain
yang merupakan anak orang berada, sedang ia adalah anak orang miskin. Pasien
dibawa berobat ke alternatif, setelah 1 bulan akhirnya membaik. Pasien akhirnya bisa
melanjutkan sekolahnya dan lulus dengan nilai yang bagus.
Sekitar 17 tahun yang lalu pasien kembali sakit yang kedua kali. Saat itu
pasien kelas 1 SPK bulan Oktober tahun 1990 dengan gejala sama ; tidak bisa tidur,
banyak melamun, berdiam diri, mengurung diri dan merasa sangat sedih. Karena saat
itu pasien sedang sekolah di SPK YARSI, pasien mendapat pengobatan dari RSI,
menurut ibunya pasien mendapat obat-obat haloperidol dan amitriptilin, dosisnya
tidak ingat. Pasien sakit hampir 2 bulan, setelah itu keluar dari SPK, karena tidak naik
kelas. Menurut ibunya ia sendiri bingung kenapa anaknya tidak naik, walaupun nilai-
nilainya bagus. Sedangkan menurut pasien ia tidak naik karena tidak lulus ujian
praktek. Akhirnya pasien pindah ke SMU, disini pasien bisa berprestasi sangat baik,
sehingga mendapat beasiswa.
Sebelas tahun yang lalu (1996) pasien kembali sakit, karena berhenti dari
pekerjaannya sebagai SPG(sales promotion girl) sebuah produk. Pasien sakit dengan
gejala yang berbeda dari biasanya, menurut ibunya pasien banyak bicara, tidak bisa
tidur, mudah tersinggung dan marah-marah, tetapi kadangkala juga terlihat gembira,
bernyanyi-nyanyi, dan mondar-mandir. Pasien juga merasa sangat membenci adiknya
yang keempat, karena adiknya telah bekerja dan memiliki penghasilan, sementara ia
tidak memiliki uang karena tidak bekerja lagi. Pasien sering minta uang dengan
adiknya kemudian dibelanjakan semua tanpa perhitungan, padahal biasanya pasien
sangat hemat. Pasien lalu dirawat di RSGS selama 2 minggu mendapat obat

4
haloperidol 5 mg, chlorpromazine 100 mg, dan triheksifenidil 2 mg, semuanya dengan
dosis 3 kali sehari. Setelah pulang 2 minggu dirumah, pasien kembali marah-marah
hebat sehingga dirawat kembali selama 2 minggu. Setelah pulang pasien dalam
keadaan baik, dapat kembali bergaul dengan teman-temannya dan membantu ibunya
membuat rajutan. Pasien kontrol dan minum obat tidak teratur.
Delapan tahun lalu, akhir 1999 pasien kembali kambuh dengan gejala sama
seperti tahun 1996. Saat itu penyebabnya karena pasien bertengkar dengan tetangga
yang selalu menaruh motor di depan rumah pasien sehingga adik pasien tidak bisa
menaruh sepeda. Pasien sempat dirawat di RSGS selama 2 minggu. Karena alasan
biaya pasien kemudian dipindahkan ke RSCM, di sini pasien dirawat kira-kira 2
bulan, sempat direncanakan untuk dilakukan tindakan ECT tapi belum dilaksanakan.
Pasien mendapat obat haloperidol 3x5 mg, triheksifenidil 3x2 mg, chlorpromazine
2x100 mg dan carbamazepine 2x200 mg. Pasien pulang dalam keadaan baik, bisa
berfungsi seperti semula. Pasien kontrol dan minum obat tidak teratur.
Tujuh tahun yang lalu (2000) pasien menikah dengan seorang pasien laki-laki
yang dikenalnya saat dirawat di RSCM, saat hamil pasien menghentikan semua
obatnya dan tidak pernah kontrol. Saat hamil tidak mengalami kekambuhan.
Enam tahun yang lalu (2001) pasien melahirkan anak pertamanya, satu
minggu setelah itu pasien kembali kambuh. Pasien terlihat tidak butuh tidur,
bersemangat, banyak bicara, dan mudah tersinggung. Pasien juga terlihat ketakutan
dan merasa curiga, mengunci semua lemari dan kuncinya ia bawa kemana-mana, ia
juga merasa barang-barangnya ada yang hilang dan ia menuduh tetangganya yang
mencuri. Pasien juga menyatakan saat itu ada juga perasaan sedih dan kesal terhadap
anaknya, ia merasa ingin membunuh anaknya. Pasien kembali dirawat di RSCM
selama 1 bulan dan mendapat obat-obat seperti sebelumnya. Pasien pulang dalam
keadaan baik, bisa berfungsi sebagai ibu dan istri yang baik.
Menurut pasien sejak tahun 1986 sampai tahun 2007 ia sering kambuh kira-
kira 2 tahun sekali, tetapi hanya dirawat inap sebanyak 5 kali, selebihnya pasien
hanya rawat jalan. Gejalanya bervariasi tetapi sejak tahun 1996 sampai dirawat saat
ini lebih banyak tidak butuh tidur, bersemangat, rajin bekerja membersihkan rumah
dan menyusun pakaian dalam lemari, mudah tersinggung dan marah, kadangkala
mendengar suara-suara ditelinganya. Dibandingkan gejala sedih, putus asa,
mengurung diri, dan merasa tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu hal. Pasien

5
kontrol dan minum obat tidak teratur. Pasien suka membeli sendiri obat di apotik,
alasannya lebih hemat, tidak perlu bayar karcis dan antri untuk bertemu dokter.
Kontrol terakhir kali kira-kira 1 tahun yang lalu. Obat yang diberikan saat itu
stelazine 3x5 mg, carbamazepine 2x200 mg, dan chlorpromazine 1x100 mg.

2. Riwayat Gangguan Medis


Saat bekerja sebagai SPG Baygon yang bekerja diruangan AC, pasien
menderita batuk-batuk lama yang berdahak. Pasien kemudian berobat dan dilakukan
beberapa pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan darah, sputum, tes manthoux
dan radiologi toraks tetapi hasilnya tidak ditemukan kelainan. Akhirnya pasien
berhenti dari pekerjaannya dan penyakitnya kemudian membaik. Selain itu pasien
tidak pernah menderita penyakit yang memerlukan perawatan atau yang secara
fisiologis berhubungan dengan keadaan pasien saat ini.

3. Riwayat Penggunaan Alkohol dan Zat lain


Pasien tidak pernah merokok, minum minuman beralkohol dan menggunakan
zat psikoaktif lain.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi.

1. Masa Prenatal dan Perinatal


Pasien merupakan anak pertama dari delapan bersaudara. Pasien merupakan
anak yang diharapkan dan kelahirannya membawa kegembiraan sebagai anak pertama
dalam keluarga. Kondisi ibu pada saat mengandung pasien dalam keadaan sehat, tidak
pernah mengalami masalah emosional yang bermakna, penyakit fisik yang serius, dan
tidak mengkonsumsi obat-obatan. Pasien lahir cukup bulan dengan berat badan yang
cukup dan langsung menangis. Kelahirannya ditolong oleh tenaga paramedis di rumah
neneknya di Bukit Tinggi. Proses kelahiran normal dan tidak ada komplikasi saat
melahirkan.

2. Masa Kanak Awal (0-3 tahun)


Pasien tumbuh dan berkembang sehat seperti anak lain. Pasien mendapat ASI
sampai usia 1 tahun, setelah itu pasien mendapat susu formula sampai usia 2 tahun.

6
Pasien dapat berjalan saat umur 10 bulan dan mulai berbicara yang dapat dimengerti
walaupun belum fasih pada usia 1 tahun. Pada usia 2 tahun pasien mulai dilatih buang
air kecil dan buang air besar di kamar mandi, dan usia 3 tahun pasien bisa buang air
kecil dan buang air besar di kamar mandi. Pasien kadang-kadang masih suka
mengompol sampai usia 3 tahun. Pasien diasuh oleh kedua orangtua dan mendapatkan
kasih sayang yang cukup.

3. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)


Pada masa ini pasien tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lain.
Hubungan pasien dengan adik-adiknya sangat akrab. Pasien juga mempunyai banyak
teman, dan bermain seperti anak lainnya. Pasien tidak sekolah TK, karena menurut
ibunya tidak begitu perlu, lebih baik langsung sekolah SD saja.
Saat mulai sekolah SD pasien tidak pernah tinggal kelas dan prestasi
disekolahnya baik. Pasien termasuk anak yang cerdas, mudah mencerna pelajaran,
dan nilai raportnya selalu bagus. Pasien adalah anak periang, mudah bergaul dan
memiliki banyak teman, dan biasanya pasien yang memimpin dan mengkoordinir
teman-temannya.

4. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja


Pada waktu masuk SMP, pasien mulai sakit, karena pasien merasa minder
dengan teman-teman yang lain. Pasien bersekolah di salah satu SMP favorit pada
waktu itu, tapi pasien merasa penampilannya berbeda dengan anak lain, sehingga
pasien merasa rendah diri. Sebenarnya pasien telah keberatan sekolah di sini karena
merasa ia tidak pantas, tetapi ayahnya tetap menginginkannya dan merasa ini hal yang
paling baik buat pasien. Pasien sakit selama satu bulan dibawa ke pengobatan
alternatif, kemudian membaik dan dapat bersekolah seperti biasa hingga lulus.
Pada saat sekolah SPK, pasien sakit akhirnya keluar dan melanjutkan di SMA
swasta. Saat SMA pasien bisa bergaul, mempunyai banyak teman, dan pasien terlihat
ingin selalu jadi yang nomor satu, pasien sering mengambil inisiatif dan jadi
pemimpin diantara teman-temannya. Sehari-hari pasien kelihatan bersemangat dan
rajin belajar, hingga pasien mendapat beasiswa karena prestasinya.
Saat di rumah pun pasien terlihat rajin membantu orang tuanya, mengajari
adik-adiknya karena pasien adalah anak pertama. Ayah pasien mendidik anak-anaknya

7
dengan sangat tegas dan sedikit agak keras. Bila marah ayahnya membentak dan
mengeluarkan kata-kata yang cukup keras.

5. Riwayat Masa Dewasa


1. Riwayat Pendidikan
Pasien menyelesaikan sekolah SD tepat waktu dengan prestasi yang baik,
sehingga pasien bisa masuk ke SMPN favorit. Saat sekolah SMP pasien sempat sakit,
tapi akhirnya bisa menyelesaikan SMP dengan baik. Setelah tamat SMP pasien
memilih sekolah SPK karena bercita-cita ingin jadi perawat, agar bisa cepat bekerja
dan mendapatkan uang. Baru 3 bulan sekolah SPK pasien sakit selama 2 bulan,
sehingga pasien tidak naik kelas dan keluar dari sekolahnya.
Setelah keluar SPK pasien melanjutkan sekolahnya di SMA swasta. Mulanya
pasien mendapat jurusan A2 (biologi), karena jurusan A1 (fisika) tidak ada di SMA
itu, karena nilai-nilai pasien sangat baik. Pasien merasa tidak begitu cocok dengan
jurusan A2, karena merasa pernah gagal saat di SPK. Kemudian pasien pindah jurusan
A3 (Ilmu Pengetahuan Sosial), walaupun guru-gurunya menyayangkan mengingat
prestasinya yang sangat baik. Di jurusan A3 prestasi pasien bertambah baik, hingga
akhirnya ia mendapat beasiswa dan bebas dari biaya pendidikan.
Setamat SMA pasien bercita-cita untuk kuliah tetapi pasien menginginkan
masa kuliahnya singkat, dan cepat bisa bekerja. Pasien akhirnya mengambil D1
jurusan manajemen imformatika, disamping itu pasien juga mengambil kursus-kursus
akuntansi.

2. Riwayat Pekerjaan.
Setelah menyelesaikan pendidikan D1 komputer dan kursus akuntansi A dan B
tahun 1994, pasien mencoba melamar pekerjaan di kantor tapi tidak berhasil.

Akhirnya pasien bekerja sebagai SPG (Sales Promotion Girl) produk obat nyamuk
Baygon tahun 1994, pasien sempat bekerja selama satu setengah tahun dan berhenti
karena alergi dengan AC. Pasien juga pernah bekerja membantu orangtuanya
berdagang minyak wangi kurang lebih selama 2 tahun.
Setelah menikah dan punya anak, pasien sempat bekerja di rumah makan milik
saudaranya tetapi hanya beberapa bulan, pasien berhenti karena keluarga suami tidak

8
setuju. Pasien juga pernah kursus menjahit, dan pasien biasanya menjahit pakaian
untuk keluarganya dan keluarga suaminya. Beberapa kali mencoba berdagang
makanan ringan di sekitar rumahnya tapi juga tidak bertahan lama, karena bangkrut.
Pasien juga pernah bekerja sebagai buruh merajut pakaian, topi atau syal tapi berhenti
karena usaha itu tutup. Beberapa bulan sebelum dirawat kembali pasien mencoba
kerja sebagai sales produk Denpo tetapi hanya bertahan 2 minggu dengan alasan
pasien tidak bisa mengangkat barang-barang berat karena memakai alat kontrasepsi
spiral (IUD).

3. Riwayat Perkawinan
Pasien menikah tahun 2000 dengan seorang laki-laki yang dikenalnya saat
dirawat di RSCM tahun 1999. Suami pasien telah 3 kali dirawat di RSCM dengan
diagnosis skizofrenia paranoid, pertama tahun 1999, kemudian tahun 2003 dan tahun
2006. Saat ini suami pasien dalam keadaan tenang, bisa bekerja membantu
orangtuanya mengurusi usaha penyewaan alat-alat pernikahan milik orang tuanya.
Suami pasien telah berhenti minum obat, karena merasa telah sembuh dan tidak perlu
minum obat.
Pasien mempunyai seorang anak perempuan berumur 5 tahun saat ini anak
tersebut lebih banyak diasuh saudara suaminya. Keluarga ini telah lama menikah dan
belum mempunyai anak, sehingga mereka sangat menyayangi anak pasien. Pasien
dianjurkan orang tuanya mengikuti program KB, dengan alasan sebaiknya pasien
tidak mempunyai anak lagi karena ia dan suaminya sakit jiwa, takut anaknya nanti
juga sakit jiwa.

4. Riwayat Agama
Pasien beragama Islam, selama ini pasien cukup baik menjalankan kewajiban
agamanya. Melakukan sholat lima waktu, mengaji dan berpuasa. Menurut pasien
sakitnya karena tertekan batin, sehingga ia harus banyak berdoa selain minum obat.

5. Riwayat Psikoseksual
9
Pasien tidak pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah,
walaupun pasien sempat mempunyai beberapa teman dekat laki-laki.

6. Aktivitas Sosial
Pasien dapat bergaul dengan baik di lingkungan rumahnya bila tidak dalam
keadaan kambuh. Bila ada tetangga hajatan pasien akan datang. Pasien juga cukup
ramah terhadap tetangganya.

7. Riwayat Pelanggaran Hukum


Pasien belum pernah melakukan tindakan yang melanggar hukum selama ini.

E. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Hubungan pasien dengan
sesama adik-adiknya terlihat cukup erat. Hal ini terlihat dalam 2-3 hari sekali
bergantian adik-adiknya membezuk pasien. Pasien mempunyai riwayat keluarga yang
menderita gangguan jiwa. Nenek dari pihak ayah pasien pernah mendapat pengobatan
psikiater dan sampai sekarang masih memperlihatkan perilaku aneh, walaupun sudah
tua kelihatan sangat bersemangat, hobi menonton di bioskop, rajin, banyak bicara, dan
suka berdandan.
Adik ketiga pasien juga menderita gangguan jiwa sejak tahun 1998 dengan
gejala banyak melamun, tidak mau bicara, merasa bersedih, mengurung diri dan
bermalas-malasan. Tetapi adakalanya adik pasien ini juga terlihat gembira, bernyanyi-
nyanyi, banyak bicara dan bicara sendiri. Tetapi gejala yang lebih banyak adalah
perasaan sedih dan murungnya. Walaupun belum pernah dirawat, tetapi sampai
sekarang masih kontrol di RSP dan minum obat haloperidol 1x 5 mg, chlorpromazine
1x100 mg, triheksifenidil 1x2 mg, dan amitriptilin 1x25 mg.
Suami pasien juga menderita gangguan jiwa dengan diagnosis skizofrenia
paranoid, dan telah 3 kali dirawat sejak tahun 1999 sampai 2006.

72 th

62 th 67 th

10
54 th 56 th

34 th 35 th

3 bln 31 th 30 th 28 th 25 th 22 th 19 th 16 th

34 th 33 th
5 th

Keterangan :

: Wanita : Keluarga dengan gangguan jiwa.

: Pria : Keluarga yang tinggal serumah

: Pasien bersama pasien.

F. SITUASI KEHIDUPAN SEKARANG


Pasien sejak menikah tinggal di rumah orang tua suaminya. Pekerjaan
suaminya adalah membantu usaha penyewaan alat pernikahan milik orang tuanya.
Pasien sendiri pernah mencoba beberapa kali bekerja dan berusaha dagang kecil-
kecilan tapi tidak bertahan lama, karena kurang menguntungkan.
Rumah yang ditempati pasien bersama mertuanya cukup besar dengan ukuran
kira-kira 12 x 8 meter dengan dinding beton dan lantai keramik, dengan 3 kamar
tidur yang terpisah, ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur. Selain pasien sekeluarga
dan kedua mertuanya, di rumah tinggal juga seorang pembantu yang sudah tua. Sejak
4 bulan yang lalu adik ipar pasien beserta suami dan anaknya yang masih bayi
pindah ke rumah orangtuanya karena rumah kontrakan mereka kebanjiran. Pasien
yang selama ini punya keinginan untuk mengontrak rumah sendiri dengan kehadiran
iparnya sekeluarga, keinginannya menjadi semakin kuat, tapi keluarga mertuanya
11
melarang karena memikirkan bagaimana mereka harus membiayai hidup mereka dan
tidak ada yang mengawasi mereka. Pasien juga sering berselisih paham dengan adik
iparnya ini. Pasien merasa adik iparnya sombong, dan ingin mengatur dirinya, karena
adik iparnya ini kuliah di jurusan manajemen perhotelan. Pasien tidak suka karena
sebelum adiknya sekarang kuliah ia telah lebih dahulu kuliah manajemen
informatika, dan telah berpengalaman mengatur teman-temannya dahulu.
Selama ini biaya hidup pasien sekeluarga selain berasal dari hasil kerja
suaminya membantu usaha orangtuanya, pasien juga mendapat biaya dari adik
iparnya khusus buat pasien sebesar Rp 250.000 setiap bulan. Ini telah diberikan sejak
1 tahun terakhir. Sementara untuk biaya makan sehari-hari mertuanya yang
membiayai.
Saat ini anak perempuan pasien yang berumur 5 tahun lebih banyak ikut
sepupu suaminya, yang kebetulan telah lama menikah dan belum mempunyai anak.
Saudara sepupu suaminya ini tinggal tidak jauh dari rumah mereka, sehingga pasien
tidak merasa kesulitan untuk menemui anaknya. Menurut adik iparnya yang
perempuan anak pasien kelihatan lebih suka tinggal bersama saudara sepupunya itu,
dibandingkan mengikuti ibunya, apalagi disana dimanjakan dan keinginan-
keinginannya dapat terpenuhi.
Selama ini ayah kandung pasien beranggapan suami anaknya kurang
bertanggung jawab, sehingga ia menginginkan mereka berpisah saja. Sementara
pasien dan suaminya terlihat masih saling menyayangi, ini terlihat dengan seringnya
suami membesuk pasien dan pasien menerima dengan gembira, dan keluarga suami
juga tidak menginginkan mereka berpisah. Hal ini yang membuat bila pasien pulang
ke rumah orangtuanya sendirian karena suaminya merasa tidak nyaman bertemu
ayah pasien. Pernah suatu saat sepulangnya dari Bekasi setelah semalaman
dinasehatin ayah pasien, suami pasien kambuh dan dirawat di RSCM, Oktober tahun
2006. Setelah pulang hanya kontrol 2 kali saja, pasien sering mengajak suami untuk
kontrol tapi selalu di tolak dan keluarga suami juga melihat keadaan suami pasien
yang sehat tidak perlu minum obat lagi.

G. Persepsi dan Harapan Keluarga


Menurut ibu kandungnya keluarga mereka sekarang telah memahami keadaan
penyakit pasien selama ini dan pengobatan medis adalah yang terbaik. Keluarga

12
pasien dan keluarga suaminya berharap pasien segera sembuh walaupun harus
memerlukan perawatan dan pengobatan yang lebih dari biasanya, mereka akan
berusaha untuk memenuhi. Keluarga pasien menginginkan setelah pulang dari rumah
sakit sebaiknya pasien pulang saja ke Bekasi dan berpisah saja dengan suaminya,
apabila keinginan pasien untuk mengontrak rumah sendiri tidak dituruti keluarga
suaminya. Sementara pasien dan suaminya masih saling menyayangi dan keluarga
pihak suami tetap menginginkan pasien bersama suami tinggal di rumah mereka.

H. Persepsi dan Harapan Pasien


Pasien berharap bisa segera membaik dan pulang untuk mengurus anak dan
suaminya. Pasien merasa heran kenapa penyakitnya belum juga membaik sudah
hampir satu bulan dirawat. Pasien menyatakan waktu awal sakit saat SMP tahun 1987,
gejala pasien sangat bertolak belakang dengan gejalanya sekarang. Pasien juga
menyadari bahwa dengan penyakitnya disebabkan tekanan batin pada kondisi
mentalnya yang tidak kuat. Pasien menyadari harus minum obat dan kontrol, tetapi
pasien keberatan bila dirawat terlalu lama, karena tidak tahan bercampur dengan
pasien lain yang menurutnya aneh dan jorok.

III. STATUS MENTAL


Berdasarkan pemeriksaan tanggal 31 Mei dan 1 Juni 2007 (Hari perawatan ke-21-22)
A. Deskripsi Umum
 Penampilan : Seorang wanita, sesuai usia perawakan agak gemuk, kulit sawo
matang, berpakaian cukup rapi, perawatan diri cukup, ekspresi wajah dan suara
agak tegang, duduk di lantai selasar sambil memegang botol air minum bersama
seorang pasien laki-laki.
 Perilaku dan Aktivitas Psikomotor : Selama di ruangan pasien terlihat mondar-
mandir dan banyak bicara. Kadang-kadang mengomeli pasien lain dan
mengancamnya, sehingga pasien sempat di fiksasi sebelum wawancara. Tapi hari
berikutnya pasien terlihat lebih tenang, gembira dan bersahabat.
Pasien terlihat mesra dengan pasien laki-laki S, dan menyatakan S adalah
selingkuhannya yang kedua, setelah selingkuhannya yang pertama pasien lain A
pulang. Selama wawancara pasien dapat duduk tenang. Tapi bila ada orang lain
pasien mudah beralih perhatiannya, tapi kemudian dapat kembali ke pemeriksa.

13
 Sikap terhadap Pemeriksa : hari pertama dijumpai pasien sedang difiksasi karena
mau memukul pasien lain, pasien mengomel karena diikat. Hari berikutnya pasien
cukup kooperatif.

B. Pembicaraan
 Spontan, lancar, volume keras, lantang, intonasi baik dan artikulasi cukup jelas,
menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diajukan pemeriksa dan idenya cepat
berganti-ganti dari satu topik cerita ke topik cerita yang lain, pasien menceritakan
semua pengalamannya yang telah lama.
 Pasien banyak bicara dan tidak berhenti apabila tidak diminta oleh pemeriksa.

C. Mood dan Afek


 Mood : Iritabel
 Afek : luas
 Keserasian : Serasi

D. Gangguan Persepsi
 Halusinasi auditorik : pasien mendengar suara-suara wanita yang menyuruhnya
marah, dan mendengar suara setan yang menyuruhnya membagi-bagi air minum ke
semua orang. Suara itu jelas terdengar di telinga, tapi tidak terus menerus,
kadangkala menghilang.
 Halusinasi visual : pasien merasa melihat setan dengan tampang yang
menyeramkan ; bermata satu, mukanya penuh oleh matanya. Tetapi ini juga hilang
timbul.

E. Pikiran :
 Proses pikir : Flight of Idea ; bila berbicara pasien terlihat berpindah-pindah
topik pembicaraan dengan cepat, yang satu sama lain tidak saling berhubungan.
 Isi pikir : banyak ide, waham rujukan (delusion of refference) ; merasa kesal
karena teman-teman di ruangannya suka memperhatikannya, membicarakannya,
dan menyindirnya. Pasien pernah membanting piringnya saat sarapan. Ketika itu
pasien lain W dilarang sarapan karena puasa untuk ECT, pasien meyakini dirinya
yang disindir disuruh puasa, karena badannya gemuk dan karena pasien W dan ia
14
sama-sama suku Minang, sehingga ia berteriak marah-marah dan membanting
piringnya. Pasien marah ketika pasien lain sholat/sembahyang didekatnya, ia
menyatakan pasien itu melakukan sholat untuk dirinya dan mendoakan ia cepat
mati.
 Ide-ide kebesaran ; merasa diri lebih hebat dari adik ipar karena lebih dulu kuliah
dan mempelajari ilmu manajemen.

F. Kesadaran dan Kognisi


 Taraf kesadaran dan Kesiagaaan : kompos mentis, baik.
 Orientasi
- Orang : baik, pasien dapat, membedakan pagi, siang, dan
malam.
- Tempat : baik, pasien dapat menyebutkan tempat ia
berada sekarang, di RSCM.
- Orang : baik, pasien dapat mengenali siapa yang memeriksanya dan
pasien lain di bangsal.
 Daya Ingat :
- Jangka Panjang : baik, pasien dapat mengingat kembali tempat
dan tanggal lahirnya.
- Jangka Pendek : baik, pasien dapat mengingat menu makan pagi
sebelum wawancara.
- Jangka Segera : baik, pasien dapat mengulang 5 angka maju
dan selanjutnya 5 angka mundur.
 Konsentrasi dan Perhatian : kurang baik, pasien mudah sekali teralih perhatiannya
dan tidak dapat berkonsentrasi dengan baik.
 Kemampuan Membaca dan Menulis : baik.
 Kemampuan visuospasial : baik, pasien dapat menggambar sebuah jam dengan
baik, dan dalam melakukan aktivitas di ruangan tidak mengalami kesulitan.
 Pikiran Abstrak : Baik. Pasien dapat mengartikan peribahasa rajin pangkal
pandai, hemat pangkal kaya.
 Intelegensi dan kemampuan Informasi : baik, pasien dapat menyebutkan nama
presiden dan wakil presiden saat ini.

15
G. Pengendalian Impuls
Kurang baik. Pasien selama diruangan bersikap agresif pasien lain, sehingga pasien
sering di fiksasi.

H. Daya Nilai dan Tilikan


 Daya Nilai Sosial : Kurang baik, pasien sering marah-marah dan agresif dengan
pasien lain dibangsal tanpa sebab yang jelas, perawatan diri cukup baik.
 Uji Daya Nilai : kurang baik, jika menemukan barang milik pasien lainnya ia
akan mengambil barang tersebut, karena mungkin memang sudah rejekinya.
 Penilaian daya realita (RTA) : terganggu, dengan adanya perilaku agresif,
halusinasi auditorik dan visual serta waham rujukan (delusion of refference)
 Tilikan : derajat 4, pasien mengakui dirinya sakit dan memerlukan pertolongan
obat-obatan, tetapi pasien tidak mengetahui penyebab sakitnya, ia hanya
menyatakan karena tekanan batin.

I. Taraf Dapat Dipercaya


 Secara umum pasien cukup dapat dipercaya.

lV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


A. Status Internus
 Keadaan : Baik
 Kesadaran : Kompos mentis
 Status Gizi : lebih. BB : 78 Kg. TB : 167 cm. BMI : 27,96
 Tanda-tanda Vital : TD : 110/70 mmHg
Frekuensi Nadi : 80 x/menit
Frekuensi Nafas : 20 x/menit
Suhu : 36,5oC
 Mata dan THT : Dalam batas normal
 Mulut dan gigi : Dalam batas normal
16
 Thorax : Cor-Pulmo Dalam batas Normal
 Abdomen : Dalam batas normal
 Ekstremitas : Dalam batas normal.

B. Status Neurologis
 Tanda Rangsang Meningeal : Negatif
 Tanda-tanda efek ekstrapiramidal
- Tremor tangan : negatif
- Akatisia : negatif
- Bradikinesia : negatif
- Cara berjalan : normal
- Keseimbangan : baik
- Rigiditas : negatif
 Motorik : baik
 Sensorik : baik

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Telah diperiksa seorang wanita berusia 33 tahun, agama islam, suku Minang,
status menikah memiliki satu orang anak. Dari anamnesis didapatkan bahwa sekitar 1
bulan sebelum masuk rumah sakit pasien bertengkar dengan adik iparnya. Kemudian
pasien dibawa ke Bekasi. Sejak itu pasien mulai menunjukkan perubahan perilaku,
pasien terlihat mudah tersinggung dan marah-marah. banyak bicara dan mengomeli
orang-orang. Tetapi kadang kala pasien juga terlihat seperti orang yang sangat senang,
gembira, banyak tersenyum dan bernyanyi-nyanyi. Setelah 2 minggu di Bekasi pasien
pulang kerumah mertuanya, tetapi keadaannya belum membaik, malahan cenderung
gejalanya bertambah parah, pasien kembali bertengkar dengan paman suami dan adik
iparnya, pasien dibawa kembali ke Bekasi oleh ibunya. Selama 2 hari di Bekasi gejala
pasien bertambah parah, berbelanja tanpa perhitungan hingga memukul adiknya.
Akhirnya pasien di bawa ke RSCM dan sempat memukul ibunya setelah mengetahui ia
harus menjalani rawat inap.
Pasien telah sakit sejak tahun 1986 saat itu pasien yang baru masuk salah satu
SMP favorit, pasien merasa minder dengan teman-temannya, menjadi pendiam, banyak
17
melamun, malas berbicara, banyak mengurung diri di kamar, tidak mau makan dan
mengurus dirinya. Saat itu pasien hanya mendapat pengobatan alternatif dan membaik
setelah 1 bulan. Kemudian kambuh lagi pada tahun 1990 dengan gejala sama.
Menurut pasien sejak tahun 1986 sampai tahun 2007 ia sering kambuh kira-
kira 2 tahun sekali, tetapi hanya dirawat inap sebanyak 5 kali, yaitu tahun 1986, 1990,
1999, 2001 dan 2007, selebihnya pasien hanya menjalani rawat jalan. Gejalanya
bervariasi tetapi sejak tahun 1996 sampai dirawat saat ini lebih banyak tidak butuh tidur,
bersemangat, rajin bekerja membersihkan rumah dan menyusun pakaian dalam lemari,
mudah tersinggung dan marah, kadangkala mendengar suara-suara ditelinganya.
Dibandingkan gejala sedih, putus asa, merasa tidak berguna, mengurung diri, dan merasa
tidak ada keinginan untuk melakukan sesuatu hal. Kekambuhan penyakit pasien
biasanya ada peristiwa pencetusnya. Pasien kontrol dan minum obat tidak teratur. Pasien
sering mengatur sendiri dosis obatnya. Kontrol terakhir kali kira-kira 1 tahun yang lalu.
Obat yang diberikan saat itu stelazine 3x5 mg, carbamazepine 2x200 mg, dan
chlorpromazine 1x100 mg.
Berdasarkan riwayat kehidupan pribadi, pasien dari kecil merupakan anak
cerdas, berprestasi di sekolah, pasien juga dalam kelompoknya cenderung jadi pemimpin
dan suka mengatur teman-temannya. Pasien beberapa kali berhenti bekerja dengan
alasan yang berbeda-beda. Pasien selama ini selalu merasa dirinya lebih pintar dan lebih
hebat dari orang lain, merasa tidak senang diatur orang lain.
Pada pemeriksaan status mental didapatkan secara deskriptif pasien seorang
wanita sesuai usia, perawatan diri baik, kelihatan bersemangat, ekspresi wajah agak
tegang dan suara lantang, duduk di lantai selasar sambil memegang botol air minum
bersama seorang pasien laki-laki. Psikomotorik meningkat ; sering mondar-mandir dan
bicara banyak selama di ruangan. Sikap kooperatif. Pembicaraan spontan, volume keras
dan lantang, intonasi dan artikulasi baik, banyak bicara. Mood pasien terlihat iritabel,
afek luas dan serasi dengan isi pembicaraan. Gangguan persepsi ditemukan halusinasi
auditorik yang bersifat commanding dan halusinasi visual berupa bayangan setan yang
menyeramkan. Pada proses pikir ditemukan flight of idea, isi pikir banyak ide, adanya
waham rujukan (delusion of refference) dan ide-ide kebesaran. RTA terganggu dengan
tilikan derajat 4. Status internus dan neurologikus dalam batas normal.

18
VI. FORMULASI DIAGNOSTIK

Berdasarkan anamnesis riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan, pada


pasien ini ditemukan adanya pola perilaku, pikiran, dan perasaan yang secara klinis
bermakna dan menimbulkan suatu penderitaan (distress) dan hendaya (disability) dalam
fungsi pekerjaan dan sosial. Dengan demikian berdasarkan PPDGJ III dapat disimpulkan
bahwa pasien ini mengalami suatu gangguan jiwa.
Berdasarkan anamnesis riwayat penyakit medis , pasien tidak pernah
mengalami trauma kepala atau penyakit lainnya yang secara fisiologis dapat
menimbulkan disfungsi otak sebelum menunjukkan gejala gangguan jiwa. Oleh
karenanya, gangguan mental organik dapat disingkirkan (F 00-09).
Pada pasien juga tidak didapatkan riwayat penggunaan alkohol atau zat
psikoaktif sebelum timbul gejala penyakit yang menyebabkan perubahan fisiologis otak,
sehingga kemungkinan adanya gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat
psikoaktif juga dapat disingkirkan (F 10-19).
Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan dalam penilaian realita karena
adanya psikopatologi berupa aktivitas psikomotorik yang meningkat, berkurangnya
kebutuhan tidur, banyak bicara (logorre), mood yang iritabel, afek luas, serasi, halusinasi
auditorik yang bersifat commanding dan halusinasi visual, waham rujukan (delusion of
refference) dan ide-ide kebesaran yang sesuai/kongruent dengan mood, proses pikir yang
berpindah dari satu ide ke ide lainnya dengan cepat (flight of ideas), banyak ide, tilikan

yang buruk. Semua gejala psikopatologi ini telah berlangsung ± 1 bulan, serta timbul
bukan yang pertama kali atau bersifat episodik, bila membaik pasien dapat kembali ke
fungsi premorbid semula, dan adanya beberapa episode yang memenuhi kriteria depresi
dan manik sebelumnya, sehingga berdasarkan PPDGJ III ditegakkan diagnosis untuk
Aksis I adalah F31.2 Gangguan Afektif Bipolar Episode Kini Manik Berat dengan
Gejala Psikotik.
Pada awalnya diagnosis pada pasien ini dipikirkan F25.0 Gangguan
Skizoafektif Tipe Manik, karena berdasarkan data yang didapatkan saat itu gejala-gejala
skizofrenia dan manik sama menonjol. Gejala afektif yang yang ada pasien ini saat itu
adalah mood yang iritabel dan kegelisahan yang disertai perilaku agresivitas,
berkurangnya kebutuhan tidur disertai peningkatan enersi, konsentrasi terganggu, dan

19
hilangnya hambatan sosial yang normal ; pasien berbelanja barang-barang yang tidak
diperlukan dan perilaku seduktif terhadap pasien laki-laki lain. Sedangkan gejala
skizofrenia adalah adanya halusinasi auditorik dan visual, waham rujukan(delusion of
refference) dan ide-ide kebesaran. Gejala-gejala ini mempengaruhi perilaku pasien.
Pada pasien ini ditemukan ciri kepribadian yang spesifik diantara masa
sakitnya , sejak remaja pasien terlihat ingin menjadi yang terbaik, ingin jadi pemimpin
dan mengatur teman-temannya. Selalu merasa lebih hebat dari orang lain, tidak senang
diatur. Mengatur sendiri dosis obat diantara masa kekambuhannya. Sehingga dapat
dipikirkan diagnosis pada Aksis II adalah Ciri Kepribadian Narsisistik.
Pada pasien ini tidak ditemukan kondisi medis umum yang bermakna,
sehingga diagnosis Aksis III pada pasien ini tidak ada diagnosis.
Pada Aksis IV terdapat masalah primary support group. Kehidupan pasien
yang menumpang di rumah mertuanya, dan kemudian dengan adanya adik iparnya
membuat pasien tidak nyaman, sehingga ingin pindah mengontrak sendiri. Sementara
pasien dan suami tidak mempunyai pekerjaan tetap, bahkan selama ini sebenarnya lebih
banyak mengandalkan mertua dan saudara-saudara iparnya, di samping itu suami pasien
adalah seorang penderita gangguan jiwa yang tidak mau teratur minum obat, pasien
sering mengajak suami untuk kontrol tapi selalu ditolak dan keluarga suami juga melihat

keadaan suami pasien yang sehat tidak perlu lagi minum obat. Di sisi lain keluarga
pasien, terutama ayahnya menginginkan pasien bercerai saja dengan suaminya.
Selama satu tahun terakhir ini pasien dapat beraktivitas sebagai ibu rumah
tangga serta bersosialisasi dengan baik. Pada Aksis V GAF HLPY 90, selama 1 tahun
terakhir gejala minimal dan dapat berfungsi baik. GAF pada saat wawancara 41-50,
gejala cukup berat, kesulitan dalam fungsi sosial, pekerjaan dan psikologis.

VII. EVALUASI MULTI AKSIAL

20
Aksis I : F31.2 Gangguan Afektif Bipolar Episode Kini Manik Berat dengan Gejala
Psikotik.
Diagnosis Banding : F25.0 Gangguan Skizoafektif Tipe Manik
Aksis II : Ciri Kepribadian Narsisistik
Aksis III : tidak ada diagnosis.
Aksis IV : - Masalah Primary Support Group (Masalah hubungan dengan kedua
orang tua, mertua dan saudara iparnya, interaksi dengan emosi
ekspresi yangb tinggi).
- Masalah Ekonomi dan Pekerjaan; pasien dan suami tidak mempunyai
penghasilan tetap.
- Masalah Pernikahan ; ayah pasien yang menginginkan pasien
bercerai.
- Masalah Pengetahuan pasien dan keluarga mengenai gangguan jiwa
yang kurang baik.
Aksis V : - GAF HLPY 90 gejala minimal dan dapat berfungsi baik
- GAF Current 41-50, gejala cukup berat, kesulitan dalam fungsi
sosial, pekerjaan dan psikologis.

VIII. DAFTAR MASALAH

A. Organobiologik :
 Terdapat dugaan peranan faktor genetik, yaitu anggota keluarga yang mempunyai
riwayat penyakit gangguan jiwa, yaitu nenek dari pihak ayah dan adik kandung
pasien.
B. Psikologik
 Adanya mood yang iritabel disertai aktivitas psikomotorik yang meningkat.
 Halusinasi auditorik yang bersifat commanding dan halusinasi visual.
 Waham rujukan (delusion of refference) yang sesuai dengan mood.
C. Lingkungan dan Sosioekonomi

21
 Masalah keluarga, kurangnya pengetahuan keluarga suami tentang gangguan
yang dialami pasien dan suaminya, dan hubungan dengan orang tua, mertua serta
saudara ipar.
 Masalah ekonomi keluarga, pasien dan suami tidak mempunyai penghasilan
tetap.
 Masalah pernikahan ; ayah pasien menginginkan pasien berpisah dari suami..
 Kurangnya pengetahuan pasien mengenai gangguan jiwa ; mengatur sendiri dosis
obatnya.

IX. PROGNOSIS
 Quo ad vitam : bonam
 Quo ad functionam : dubia ad bonam
 Quo ad sanationam : dubia ad bonam

Hal –hal yang memperingan prognosis :


 Riwayat respons terapi episode sebelumnya yang cukup baik.
 Keluarga mendukung pengobatan pasien.
 Fungsi kognitif yang cukup baik.
 Riwayat episodik sebelumnya dapat kembali ke fungsi premorbid.
 Jarak waktu kekambuhan yang cukup lama.
 Gangguan afektif.

Hal- hal yang memperberat prognosis:


 Adanya riwayat keluarga dengan gangguan jiwa, dan suami menderita gangguan
jiwa.
 Adanya gejala psikotik ; halusinasi auditorik dan visual. Waham rujukan
(delusion of refference).
 Pengetahuan keluarga mengenai penyakit gangguan jiwa kurang baik.
 Pasien dan suami tidak mempunyai penghasilan tetap, dan masih bergantung
dengan orangtua dan saudara ipar.
 Pasien suka mengatur sendiri dosis obatnya.
 Masalah pernikahan ; ayah pasien menginginkan pasien berpisah dari suami.

22
X. RENCANA PENATALAKSANAAN

A. Psikofarmaka
 Saat ini pasien mendapat obat-obat : Asam valproat 2x250 mg, Risperidon 2x2
mg, dan lorazepam 1x2 mg, bila perlu.
 Bila dalam 3 hari belum menunjukkan perbaikkan direncanakan peningkatan
dosis asam valproat, dan bila 3 hari setelah peningkatan belum menunjukkan
respons yang diharapkan, maka direncanakan pemberian antipsikotik atipikal
quetiapine dengan dosis bertahap. Pemberian obat ini direncanakan secara titrasi
cepat menggantikan risperidon dan carbamazepine, dengan dosis quetiapine
2x50 mg, hari ketiga dinaikkan menjadi 2x100 mg, peningkatan dosis
selanjutnya disesuaikan dengan respons pengobatan.

B. Psikoterapi
Kepada pasien :
1. Terapi individual :
 Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien mengenai penyakitnya
serta hal-hal yang dapat mencegah dan mencetuskan penyakit pasien
sehingga dapat memperpanjang remisi dan mencegah kekambuhan.
 Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien mengenai pentingnya
minum obat secara teratur, adanya efek samping yang bisa timbul dari
pengobatan ini, dan pengaturan dosis harus berdasarkan rekomendasi dokter.
 Memberikan psikoterapi yang bersifat supportif pada pasien mengenai
kondisi penyakitnya, menggali dan memotivasi potensi dan kemampuan yang
ada pada diri pasien, dan kemampuan mengatasi masalah.

2. Terapi kelompok
 Apabila kondisi pasien sudah lebih baik diberikan terapi aktivitas kelompok,
yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam pengendalian
impuls saat memberikan respons terhadap stimulus dari luar, belajar
mengungkapkan komunikasi verbal dan mengekspresikan emosi secara sehat,
membantu pasien untuk meningkatkan orientasinya terhadap realitas dan
memotivasi pasien agar dapat bersosialisasi dengan sehat.
23
Terhadap Keluarga :
 Memberi penjelasan yang bersifat komunikatif, informatif dan edukatif
tentang keadaan penyakit pasien dan suami pasien, sehingga bisa menerima
dan memahami keadaan pasien dan suami pasien, serta mendukung proses
penyembuhannya dan mencegah kekambuhan.
 Memberi informasi dan edukasi kepada keluarga mengenai terapi yang
diberikan pada pasien pentingnya pasien dan suaminya kontrol dan minum
obat secara teratur.
 Memberikan informasi dan edukasi kepada keluarga mengenai pentingnya
ekspresi emosi yang rendah dalam keluarga.

XI. DISKUSI
Pada awalnya diagnosis pada pasien ini dipikirkan F25.0 Gangguan Skizoafektif Tipe
Manik, karena berdasarkan data yang didapatkan saat itu gejala-gejala skizofrenia dan manik
sama menonjol. Gejala afektif yang yang ada pasien ini saat itu adalah mood yang iritabel
dan kegelisahan yang disertai perilaku agresivitas, berkurangnya kebutuhan tidur disertai
peningkatan enersi, konsentrasi terganggu, dan hilangnya hambatan sosial yang normal ;
pasien berbelanja barang-barang yang tidak diperlukan dan perilaku seduktif terhadap pasien
laki-laki lain. Sedangkan gejala skizofrenia adalah adanya halusinasi auditorik dan visual,
waham rujukan (delusion of refference). Tetapi setelah anamnesis dan pemeriksaan yang lebih
seksama terlihat bahwa gejala mood adalah komponen utama, sedang gejala skizofrenia ini
muncul dalam perjalanan perubahan gangguan mood dan bersifat tidak menetap/hilang
timbul. Ditambah lagi data tentang riwayat penyakit sebelumnya, yang bersifat episodik dan
dapat kembali ke fungsi premorbid semula. Sehingga akhirnya ditegakkan diagnosis pada
Aksis I adalah Gangguan Afektif Bipolar Episode kini Manik dengan Gejala Psikotik.
Penatalaksanaan pada pasien ini harus komprehensif, harus mempertimbangkan
berbagai aspek. Karena latar belakang kambuhnya pasien lebih banyak dicetuskan oleh
faktor-faktor psikososial. Farmakoterapi pada pasien ini pada awalnya diberikan Risperidon
2x2mg, Carbamazepin 2x200mg, lorazepam 1x2mg kemudian karena pasien terus mengeluh
tidak bisa tidur sampai hari keempat akhirnya obat dikembalikan ke regimen lama yaitu
stelazine 3x5mg menggantikan risperidon, tetapi sampai hari kesebelas pasien masih

24
mengeluh susah tidur sehingga lorazepam digantikan chlorpromazin 1x100mg, kemudian
pada hari ke 14 obat dikembalikan ke regimen awal risperidon, carbamazepin, dan
lorazepam. Kemudian pada hari ke 21 carbamazepin digantikan asam valproat 2x250mg.
Dengan mempertimbangkan kondisi pasien saat ini pemberian obat-obat yang terakhir akan
ditinjau ulang dalam beberapa hari dengan menaikkan dosis asam valproat menjadi 3x250mg,
bila respon tetap tidak seperti yang diharapkan direncanakan alternatif lain. Alternatif
pertama pemberian lithium, dengan mempertimbangkan perlunya pemeriksaan kadar lithium
secara rutin, ketersediaan obat, dan kemampuan ekonomi pasien, maka pemberian lithium
bukan pilihan utama pada pasien ini. Alternatif berikutnya adalah pemberian antipsikotik
atipikal quetiapin diindikasikan pada mania akut dan pengobatan jangka panjang pada bipolar
manik serta pencegahan relaps pada gangguan bipolar. Quetiapin bekerja sebagai antagonis
serotonin dan dopamine, yang bekerja pada reseptor 5HT2 dan 5HT6, D1 dan D2, H1 dan α1

dan α2. . Pemberian quetiapin ini akan menyederhanakan regimen pengobatan yang diterima
pasien. Apabila ternyata dengan pemberian quetiapin masih belum menunjukkan respon yang
diinginkan, maka pilihan terakhir adalah ECT. Beberapa kepustakaan menyatakan ECT dapat
dilakukan pada mania intractable, dan menunjukkan respon baik.
Penatalaksanaan lain adalah yang tak kalah pentingnya adalah psikoterapi dan
psikoedukasi baik terhadap pasien maupun terhadap keluarga. Psikoterapi dan psikoedukasi

ini diberikan setelah kondisi pasien memungkinkan yaitu setelah psikopatologi yang ada
minimal. Psikoterapi suportif dan psikoedukasi mengenai keadaan penyakitnya, bagaimana
mengatasi gejala yang ada, faktor-faktor yang dapat membantu penyembuhan dan
mencetuskan kekambuhan, serta memotivasi dan mengedukasi pasien untuk mampu
berinteraksi dengan orang lain serta bagaimana mengendalikan agresivitasnya. Keinginan
pasien untuk tinggal sendiri mungkin didiskusikan pada pasien dengan mengemukakan cost
and benefit yang timbul bila ia pindah dari rumah mertuanya. Kepada kedua pihak keluarga
juga didiskusikan bagaimana menurunkan ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga.
Kepada keluarga juga dilakukan psikoedukasi mengenai penyakit pasien,
bagaimana mengatasi bila gejala mulai timbul, bagaimana mencegah kekambuhan dan
membantu penyembuhan pasien, dan bagaimana peranan keluarga dalam hal ini, termasuk
membuat ekspresi emosi dalam keluarga berlangsung sehat, baik dari pihak pasien ataupun
suaminya. Perlu juga dibicarakan mengenai keinginan ayah pasien agar anaknya bercerai,

25
apakah memang akan membawa kebaikkan pada pasien? Atau justru akan memberikan
dampak negatif terhadap pasien, bila melihat sejak ia menikah hingga sekarang jarak
kekambuhan pasien yang lama, serta melihat hubungan suami-istri yang masih saling
menyayangi. Sehingga bila perceraian benar-benar terjadi ditakutkan justru menjadi stressor
besar bagi pasien dan suaminya, yang berdampak pada penyakit pasien dan suami.
Hal lain yang perlu juga dipikirkan adalah memanfaatkan potensi yang ada pada
pasien ini, pasien ini sebenarnya mempunyai kemampuan merajut dan menjahit. Pada
kunjungan rumah didapati memang keluarga mertuanya mempunyai usaha penyewaan
peralatan hajatan, dan ibu mertua pasien adalah seorang penjahit dan mempunyai mesin jahit.
Ini mungkin dapat menolong pasien untuk lebih mengembangkan dan memanfaatkan
kemampuannya. Sehingga hal ini diharapkan membuat pasien lebih produktif, sekaligus
mencari peluang untuk mengurangi beban ekonomi yang selama ini ditanggung mertua dan
saudara-saudara iparnya.
Kombinasi dari semua terapi dan intervensi ini diharapkan mampu meningkatkan
kualitas hidup pasien dan seluruh keluarga, sehingga diharapkan mampu memperpanjang
remisi dan mencegah kekambuhan penyakit yang berulang.

XII. DAFTAR PUSTAKA

1. Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Cetakan Pertama,


Departemen Kesehatan RI Direktorat Jendral Pelayanan Medik, Jakarta, 1993.

2. Saddock B.J, Saddock V. A. ed. : Biological Therapies in Comprehensive Textbook of


Psychiatry. 8th edition. Lippincott Williams and Wilkins. Philadelpia, 2005

3. Saddock B.J, Saddock V. A. ed. : Biological Therapies in Synopsis Textbook of


Psychiatry. 9th edition. Lippincott Williams and Wilkins. Philadelpia, 2003.

26
FOLLOW UP

Tanggal 2 Juni 2007 4 Juni 2007 6 Juni 2007 7 Juni 2007


Keluhan Masih kesal dengan bangun jam 3, ngobrol Bangun subuh.Kesal Tidur jam 8, bangun jam 3,
adik ipar, sok dengan pasien lain. Ingin dengan ayah. sholat dan mengaji, ngobrol
mengatur. pulang. dengan pasien lain.

Psikomotorik Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat

Pembicaraan Bicara banyak Bicara banyak Bicara banyak Bicara banyak

Mood/Afek Iritabel/ luas Iritabel / luas Iritabel / luas Iritabel / luas

Keserasian Serasi Serasi Serasi Serasi

Gangguan persepsi Halusinasi auditorik (-), Tidak ada Tidak ada Tidak ada
halusinasi visual (+)
Proses pikir Flight of Idea Flight of Idea Flight of Idea Flight of Idea

Isi pikir Ide rujukan dan ide Ide-ide rujukan & ide Ide rujukan (-) dan ide Ide rujukan (-) dan ide
kebesaran, banyak ide kebesaran, banyak ide kebesaran, banyak ide kebesaran , banyak ide

Terapi Risperidon 2x2 mg. Risperidon 2x2 mg. Risperidon 2x2 mg. Risperidon 2x2 mg.
As.Valproat2x250 mg, As.Valproat 3x250 mg, As.Valproat 3x250 mg, As.Valproat 3x250 mg,
Lorazepam 1x2 mg, bila Lorazepam 1x2 mg, bila Lorazepam 1x2 mg, bila Lorazepam 1x2 mg, bila perlu.
perlu. perlu. perlu.

Pem. fisik EPS (-), BB 78 kg

SKEMA PERJALANAN PENYAKIT


27
12 tahun 16 tahun 22 tahun 25 tahun 27 tahun 33 tahun

1986 1990 1996 1999 2001 2007

- Pertama sakit kls -Beberapa kali - Kambuh, krn - Beberapa kali kambuh - Beberapa kali -1 bln sebelumnya
1 SMP. kambuh (1986- berhenti kerja  rawat jalan di kambuh  rawat ribut dengan adik
1990) rawat rawat di RSGS 1 RSGS. jalan di RSCM ipar,  kambuh,
- Gejala : minder, jalan di RSCM bulan gejala ; gejala : aktivitas
menjadi pendiam, tapi tak teratur. tidak tidur, - 1999, dirawat di RSGS - 2001 kambuh 1 psikomotorik ,
banyak melamun, semangat, aktif , 2 mgg  RSCM 2-3 mgg postpartum, tidur (-), banyak
tidak mau bicara, - 1990 kambuh banyak bicara, bulan, gejala sama gejala sama bicara, mood
banyak saat kls 1 SPK belanja2, mudah dengan 1996, obat dengan 1996,+ iritabel, waham
mengurung diri,  gejala sama tersinggung & haloperidol 3x5 mg, sedih, ingin bunuh rujukan & ide
tidak mau makan 1986, 2 bulan marah, obat triheksifenidil 3x2 mg, anak, dirawat di kebesaran, flight
& mengurus rawat jalan di haloperidol 3x5 chlorpromazine 2x100 RSGS 2 mgg  of idea, halusinasi
dirinya. sedih, RSI, obat mg, mg dan carbamazepine RSCM 1 bulan, auditorik & visual.
tidak semangat, haloperidol dan chlorpromazine 2x200 mg.. obat sama.
amitriptilin. 1x100 mg, dan -RSCM, obat
- Pengobatan - Pulang baik, kontrol - Pulang baik, Risperidon 2x2
-Membaik, triheksifenidil
alternatif baik, tidak teratur, atur obat kontrol tidak mg.
kontrol tidak 2x2 mg
sekolah (+),  sendiri teratur, atur obat Carbamazepine
teratur - Pulang baik,
lulus SMP. sendiri. 2x200mg,
kontrol tidak - 2000 menikah
Lorazepam 1x2
28