Anda di halaman 1dari 28

Etika Kristen

Etika Kristen (Yunani: ethos, berarti kebiasaan, adat) adalah suatu cabang ilmu teologi yang memajukan
masalah tentang apa yang baik dari sudut pandang kekristenan.[1] Apabila dilihat dari sudut pandang
Hukum Taurat dan Injil, maka etika Kristen adalah segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan itulah
yang baik.[1] Dengan demikian, maka etika Kristen merupakan satu tindakan yang bila diukur secara
moral baik.[2] Saat ini, permasalahan yang dihadapi etika Kristen ialah kehendak Allah dari manusia yang
diciptakan menurut gambarNya, serta sikap manusia terhadap kehendak Allah itu.[1]

Etika Perjanjian Lama


Titik tolok etika Perjanjian Lama adalah anugerah Allah terhadap umatnya dan tuntutan perintahnya yang
terikat pada tindakannya demi keselamatan umat manusia.[3] Oleh karena itu, bentuk etika Perjanjian
Lama berkisar pada tindakan Allah dalam sejarah umatnya dan juga yang menuntut respon yang serasi.[3]
Hal ini juga menyebabkan konsep etika Perjanjian Lama selaras dengan sebuah etika yang dinamakan
etika teonom yang berlandaskan hubungan antara Allah dan umatnya.[3] Sesuai dengan konsep ini, maka
dasar etika Perjanjian Lama dapat disoroti dari empat sisi.[3] Pertama, menanggapi perbuatan Allah
dimana bangsa Israel harus memiliki dorongan untuk mengarah pada kelakuan etis dalam wujud
tanggapan akan tindakan-tindakan Allah dalam sejarah kehidupan mereka.[3] Kedua, mengikuti teladan
Allah, dimana bangsa Israel wajib untuk memperlihatkan sifat Allah melalui kelakuan mereka.[3] Ketiga,
hidup dibawah pemerintahan Allah, maksudnya adalah kedaulatan dan kewibawaan Allah sebagai Raja
ilahi yang karenanya manusia harus tunduk sebagai makhluk ciptaan dan hamba.[3] Keempat adalah
menaati perintah Allah.[3]

Anugerah Allah Dalam Penciptaan

Etika Perjanjian Lama pada dasarnya tidak dapat terlepas dari moralitas manusia pertama.[4] Manusia
diciptakan Allah sebagai makhluk yang istimewa, yaitu sebagai gambar Allah, dalam bahasa Ibrani
disebut tselem dan dalam bahasa Latin disebut Imago Dei.[4] Tidak hanya itu saja, manusia yang
diciptakan Allah juga memiliki kesamaan moral dengan Allah yang maha suci, hal itu terjadi pada waktu
Adam dan Hawa belum jatuh ke dalam dosa.[4] Manusia yang telah diciptakan Allah selanjutnya
merupakan makhluk moral yang diberi kemampuan memilih apa yang akan dilakukannya, apakah akan
mematuhi perintah-perintah Allah atau malah menentangnya.[4] Hal ini terjadi karena manusia adalah
pribadi bebas yang juga memiliki kehendak bebas.[4] Namun demikian, kehendak bebas haruslah disertai
dengan tanggung jawab.[4] Pada waktu Adam dan Hawa telah diciptakan, Allah memberikan sebuah
perintah kepada Adam yaitu berupa larangan untuk memetik dan memakan buah dari pohon pengetahuan
yang baik dan yang jahat yang berada dalam taman Eden.[4] Namun demikian, perintah dari Allah tidak
dihiraukan oleh Adam dan Hawa dan mereka mengambil sebuah keputusan etis yaitu dengan memetik
dan memakan buah tersebut.[4] Ketika Allah mengetahui perbuatan tersebut ada sebuah tindakan yang
dilakukan oleh Allah dan hal ini merupakan ethos Allah (ethos:sikap dasar dalam berbuat sesuatu).[4]
Tindakan Allah ini merupakan inisiatif dari Allah sendiri yang mencerminkan sikap kasihNya pada
manusia, terdapat dua hal yang dilakukan Allah:

1. Ketika manusia pertama jatuh ke dalam dosa yang kemudian telanjang dan merasa malu dan
bersembunyi di antara pohon-pohon dalam taman, Allah mencarinya dan lebih dahulu
menyapanya, dimanakah engkau?(Kej 3:9).[4]
2. Untuk menutupi ketelanjangan manusia, Allah membuatkan pakaian dari kulit binatang, lalu
mengenakannya pada kedua manusia berdosa,Adam dan istrinya Hawa (Kej 3:21).[4]
Ethos yang ditunjukkan Allah telah menunjukkan bahwa Allah mau merendahkan diriNya dan
memperlihatkan sikap kasihnya kepada manusia berdosa.[4] Namun demikian, sikap dan respon manusia
terhadap kebaikan Allah justru semakin meningkatkan perbuatan dosanya.[4] Hal ini dapat terlihat pada
anak Adam yaitu Kain yang begitu tega dan kejam membunuh adiknya Habel, hanya karena iri terhadap
soal persembahan.[4] Tidak hanya itu saja, ketika manusia bertambah banyak, perbuatannya semakin
dipenuhi kejahatan, sampai Tuhan menyesal telah menciptakan manusia (Kej 6:5-6).[4]

Etika dan Moral Abraham

Etika dan moral Abraham dapat terlihat ketika ia dipanggil Allah dalam usianya yang ke 75.[4] Pada saat
itu, ia bersama dengan istrinya Sarai beserta keponakannya Lot menuju Kanaan melalui Sikhem dan Betel
sekitar tahun 2091 SM (Kej 12:1-5).[4] Abraham yang pada waktu itu bernama Abram pergi hanya dengan
berbekal iman kepada Tuhan dan ia sendiri tidak mengetahui bagaimana sebetulnya daerah Kanaan
tersebut.[4] Ketika ia sampai di Kanaan, ternyata negri itu sedang mengalami bencana kelaparan, oleh
karena itu ia bersama dengan keluarganya pergi ke Mesir melalui Negep.[4] Peristiwa Abraham yang
menuruti perintah Allah memperlihatkan beberapa sikap iman dan moralnya, antara lain:

1. Berani melangkah mentaati perintah Tuhan untuk menuju ke negeri yang belum diketahui
keadaannya.[4]
2. Bersedia meninggalkan rumahnya dan pergi mengembara yang penuh suka duka serta ancaman
bahaya.[4]
3. Ketika Abraham mencapai tempat yang ia tuju, ada bencana kelaparan disana, namun Abraham
tidak meninggalkan tempat itu melainkan tetap percaya dan setia pada Tuhan.[4]
4. Percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik dan hal itu terjadi hingga Abraham
menjadi Bapa orang beriman bagi segala bangsa.[4]

Selain dari sikap iman dan moral yang ditunjukkan Abraham, ada juga moral buruk yang ia tunjukkan
ketika menghadapi permasalahan hidupnya, yaitu:

1. Ketika ia berada di Mesir dimana ia kuatir dirinya akan dibunuh supaya orang bisa mengambil
istrinya.[4]
2. Abraham berbohong demi menyelamatkan dirinya dengan mengakui istrinya sebagai adik.[4]
3. Sikap egois dan tidak mengasihi istri dimana Abraham tidak melindungi istrinya dan membiarkan
istrinya rela diambil orang.[4]
4. Abraham tidak menyerahkan perlindungannya pada Allah tetapi ia tenggelam pada perasaan
takutnya yang bisa mengancam nyawanya.[4]

Hukum Taurat

Istilah Taurat berasal dari bahasa Ibrani yaitu torah yang artinya ajaran.[4][1] Asal kata torah ada
hubungannya dengan kata kerja hora yang memiliki arti memimpin, mengajar, mendidik, dan juga sering
diterjemahkan dengan istilah pengajaran.[4][1] Istilah torah diartikan pengajaran tetapi bisa juga diartikan
hukum yang berasal dari kata yarah yang artinya mengarahkan atau mengajar.[4][1] Kata tora kemudian
juga dipakai untuk menyebutkan Pentateuch (yakni kelima kitab pertama yang ada dalam Alkitab).[4][1]

Hukum Taurat Musa yang tertulis dalam kelima kitabnya, dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu:

1. Hukum Moral yang membicarakan peraturan-peraturan Allah bagi umat Israel untuk hidup kudus,
mengasihi Allah dan mengasihi sesama yang prinsip dasarnya tertulis dalam sepuluh perintah
Tuhan (Kel 20:1-17).[4]
2. Hukum Perdata atau Hukum Sosial yang membicarakan serta membahas kehidupan hukum dan
sosial kemasyarakatan bangsa Israel (Kel 21:1-23:33).[4]
3. Hukum Peribadatan yang membicarakan bentuk dan upacara penyembahan umat Israel kepada
Tuhan, juga mengenai sistem pesembahan korban dan kehidupan keagamaan (Kel 24:12-
31:18).[4]

Etika Perjanjian Baru

Etika Perjanjian Baru adalah sebuah petunjuk-petunjuk sikap dan kelakuan orang-orang Kristen.[5] Oleh
karena itu, etika Perjanjian Baru saling terkait dengan kelakuan orang-orang Kristen yang pertama dan
dengan kehidupan mereka sehari-hari.[5]

Ajaran etik Yesus

Ajaran etik Yesus Kristus di antaranya terdapat dalam Injil-injil sinoptis (Matius, Markus, Lukas), salah
satu ajaran tersebut adalah khotbah di bukit (Mat 5-7; Luk 6:20-49).[6] Dalam khotbah di bukit, Yesus
mempermasalahkan etik orang farisi yang sangat berpegang teguh pada pelaksanaan hukum taurat tetapi
tidak mengarah kepada kegenapan hukum taurat dan kitab para nabi.[7] Dalam hal ini Yesus mengatakan
bahwa "jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-
orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga" (Mat 5:20) karena Kerajaan
Allah sudah dekat kepadamu (Luk 10:9.[7]

Selain itu, ajaran etik Yesus juga meminta kepada manusia untuk menjadi seorang manusia yang bersifat
ilahi.[8]. Kata ilahi ini memiliki arti menjadi seseorang yang lebih baik dari yang lain.[8] Sebagai contoh,
Yesus mengajarkan "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun
menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.[8] Dan kepada orang yang hendak
mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.[8] Dan siapa yang menyuruh
engkau berjalan berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (Matius 5;39-41).[8]
[sunting] Yesus dan Hukum Taurat

Pada zaman Yesus, terdapat orang Farisi yang menganggap isi taurat sebagai sejumlah tuntutan dan
larangan yang harus dipatuhi.[5] Semua peraturan itu berjumlah 613.[5] Masing-masing peraturan ditambah
dengan sejumlah petunjuk-petunjuk dan nasihat-nasihat yang menentukan situasi dan waktu di mana
peraturan tersebut harus dilaksanakan.[5] Petunjuk dan nasihat yang ditambahkan berfungsi sebagai pagar
keliling taurat dan dikenal dengan sebutan halakha (=jalan).[5] Halakha merupakan penjelasan taurat tetapi
sekaligus juga hukum adat yang berdasarkan taurat.[5] Oleh karena tindakan yang dilakukan orang Farisi,
maka ada sebuah sikap etis yang dilakukan oleh Yesus yang terdapat dalam keempat Injil.[3] Sikap Yesus
terhadap hukum Taurat juga berhubungan dengan pengajaran-pengajaran yang Ia lakukan.[3] Salah satu
sikap yang ditunjukkan Yesus tedapat dalam Matius 5:17, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku
datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi.[3] Aku datang bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya".[3]Maksud dari kata menggenapi adalah memenuhi atau
menyempurnakan.[3] Namun demikian muncul pertanyaan bagaimana cara Yesus untuk menggenapi
hukum Taurat itu?[3]

1. Yesus mensyaratkan sesuatu yang lebih mendasar daripada hukum Taurat.[3] Yesus dengan
segenap hatiNya tunduk kepada tuntutan-tuntutan Hukum Taurat, kerena menurutNya tiada
kehendak yang berlaku kecuali kehendak Bapa yang dinyatakan dalam Hukum Taurat.[3] Dengan
kata lain Yesus tidak mengartikan kehendak Allah atas dasar hukum taurat melainkan hukum
taurat atas dasar kehendak Allah.[3] Sebagai contoh Markus 2:23-28, "Pada suatu kali, pada hari
Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir
gandum.[3] Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu
yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?"[3] Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah
kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan
kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam
Besar lalu makan roti sajian itu yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam dan
memberinya juga kepada pengikut-pengikut.[3] Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat
diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga
Tuhan atas hari Sabat."[3]
2. Yesus bertindak dengan wibawa terhadap hukum taurat.[3] Sebagai contoh, dalam hukum Taurat
(Imamat 11-15) dikatakan mengenai peraturan tentang hal yang tahir dan hal yang najis, tentang
makanan yang halal dan yang haram, tetapi Yesus mmengatakan bahwa apa yang masuk ke
dalam tubuh seseorang tidak dapat menajiskannya tetapi apa yang keluar dari tubuh tersebut
itulah yang menajiskannya.[3] Dengan demikian Yesus ingin mengatakan bahwa semua makanan
halal (Mark 7:15,19).[3]

[sunting] Etika Gereja Mula-mula

Pada masa gereja mula-mula, perkembangan etika dipengaruhi oleh keadaan ekonomi dimana hak milik
pribadi dan hak milik bersama selalu diperdebatkan dan menjadi masalah yang cukup besar.[9] Oleh
karena permasalahan ini, muncul pendapat dari beberapa tokoh gereja mula-mula, yaitu Clement dari
Roma, Ignatius dari Antiokhia, dan Agustinus.[9]

[sunting] Clemens dari Roma

Clemens adalah orang yang disebut oleh Paulus sebagai sahabat yang setia dalam perjuangan pemberitaan
Injil (Flp 4:3).[10] Clemens dikenal karena ia memiliki hubungan dengan surat Paulus kepada jemaat di
Korintus.[10] Pada saat di Korintus, terjadi kericuhan yaitu presbiter yang tua dipecat oleh presbiter yang
muda.[10] Clemens menasihatkan kepada jemaat agar mereka hidup dalam persekutuan yang rukun, dalam
kasih, rendah hati, dan hidup suci meniru teladan Kristus, terutama teladan Paulus dan Petrus.[10] Ia
meminta supaya presbiter yang telah dipecat dipulihkan kedudukannya serta jemaat menghormati
pemimpin-pemimpinnya.[10] Clemens menyatakan bahwa Tuhan Allah membenci kekacauan, Allah
menghendaki ketertiban.[10] Dalam pandangan teologinya, Clemens mengikuti teologi Paulus terutama
mengenai pembenaran oleh iman.[10] Ia mengatakan bahwa semua orang besar dan mulia bukan karena
diri mereka sendiri atau pun oleh pekerjaan mereka, tetapi karena kehendak Allah.[10]

Dalam pemikiran Clemens tentang etika, ia menyatakan bahwa sikap hidup jemaat mula-mula seharusnya
tidak terfokus pada materi.[9] Hal ini ia katakan untuk menentang pengajaran kaum gnostik yang
menganggap tingkat kekayaan dapat dijadikan tolak ukur atau menentukan tingkat kehidupan sesorang.[9]
Permasalahan moral mengenai kekayaan, Clemens tuliskan dalam sebuah tulisannya yang berjudul Who
Is The Rich Man That Shall Be Saved?[9] Tulisan Clemens ini mencoba untuk menyelidiki maksud dari
cerita mengenai orang kaya sukar masuk kerajaan Allah (Markus 10:17-27).[9] Menurut Clemens, tidak
ada masalah mengenai kekayaan, yang menjadi masalah sebenarnya adalah sikap kita terhadap
kekayaan.[9]

[sunting] Ignatius dari Antiokhia

Ignatius adalah seorang yang berasal dari Siria.[10] Ia dilahirkan sekitar tahun 35.[10] Sebelum menjadi
kristen, ia adalah seorang kafir yang diduga turut menganiaya orang Kristen.[10] Menurut tradisi, Ignatius
adalah uskup dari Antiokhia yang merupakan murid dari rasul Yohanes.[10] Ia hidup pada masa
pemerintahan kaisar Trajanus.[10] Pada masa itu, kaisar sempat mengunjungi Antiokhia dan mengancam
orang-orang disana untuk mau mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa, namun apabila ada yang
tidak melakukan hal ini, maka ia akan dihukum mati.[10] Perintah kaisar ini tidak didengarkan oleh
Ignatius, ia tetap mempertahankan imannya dan menolak mempersembahkan korban kepada dewa-dewa
karena ia tidak mau menyangkal Yesus.[10] Oleh karena tindakannya ini, Ignatius dijatuhi hukuman mati
dengan dibuang ke dalam Koloseum di Roma dengan tangan yang terantai.[10]

Menurut pendapat Ignatius, permaslahan etika yang muncul pada masa gereja mula-mula adalah
banyaknya orang yang tidak memperhatikan tentang kasih.[9] Menurutnya, orang kaya tidak
memperhatikan janda-janda, orang-orang yang ada dipenjara, orang-orang yang lapar maupun orang-
orang yang haus.[9]

[sunting] Agustinus

Agustinus adalah seorang murid Paulus.[10] Ia dikenal sebagai pelawan penyesat-penyesat yang gigih.[10]
Dalam perlawanannya dengan Donatisme menyebabkan ia menguraikan pandangannya tentang gereja dan
sakramen.[10] Pemikiran etis Agustinus terkhusus mengenai seksualitas dan materi.[9] Pemikiran etis
Agustinus mengenai seksualitas diawali dengan pemahaman etika individu dan sosialnya mengenai
pertikaian kebaikan (virtue).[11] Menurut Agustinus, kebaikan akan memimpin orang ke dalam hidup yang
bahagia dan kehidupan bahagia ini didapatkan oleh tiap orang melalui cinta kasih yang sempurna dari
Allah.[11] Agustinus juga menyatakan bahwa baik atau buruknya moral seseorang ditentukan dari cintanya
terhadap orang lain.[11] Permasalahan mengenai materi, bagi Agustinus kekayaan bukanlah hal yang
salah.[9] Jika kekayaan itu dipergunakan untuk memuliakan Allah, maka hal itu adalah hal yang baik.[9]
Namun demikian, apabila motivasi kita menyembah Allah hanya untuk kekayaan, maka itulah yang
salah.[9]
[sunting] Etika Kristen abad Pertengahan dan Reformasi

Dalam abad pertengahan, hal-hal yang berhubungan dengan etika diterangkan dalam kumpulan-kumpulan
tulisan yang disebut kitab-kitab pengakuan dosa.[9] Tokoh-tokoh yang berperan pada saat itu antara lain
Luther, Calvin, Zwingli, dan Beza.[9] Tokoh-tokoh ini seringkali menuliskan tulisan tentang permasalahan
etika yang saat itu muncul seperti masalah kesusilaan, masalah perang, etika politik, etika jabatan, serta
tentang pengajaran iman yang terdapat dalam hukum taurat.[9]

[sunting] Etika Kristen Abad 20

Salah satu tokoh dalam perkembangan etika abad 20 adalah Reinhold Niebuhr.[9] Niebuhr memberikan
sebuah ajaran etis mengenai dosa asal atau dosa warisan.[9] Ia berpendapat bahwa dosa warisan itu adalah
sifat universal manusia yang cenderung memilih untuk berdosa.[9] Hal itu dikarenakan manusia
kekurangan kebebasan dalam mengambil keputusan yang bermoral.[9] Selain itu, Karl Barth juga
memberikan pandangannya mengenai etika, ia menyatakan etika bersumber dari kasih karunia Tuhan
yang ditunjukkan melalui Yesus Kristus.[9] Oleh karena itu manusia tidak dapat menghindar dari
keputusan bebas dari kasih Allah yang meletakkan Yesus Kristus ke dalam hubungan dengan manusia.[9]

[sunting] Referensi

1. ^ a b c d e f g J. Verkuyl. 1993. Etika Kristen bag. Umum. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm.15-17.
2. ^ (Indonesia)Norman L. Geisler. 2000. Etika Kristen. Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara.
Hlm.17.
3. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x Verne H. Fletcher. 1990. Lihatlah Sang Manusia. Yogyakarta:
Duta Wacana University Press.Hlm. 124-125, 160.
4. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah Karel Sosipater. 2010. Etika Perjanjian
Lama. Jakarta: Suara Harapan Bangsa. Hlm. 9-21.
5. ^ a b c d e f g Henk ten Napel. 1991. Jalan yang Lebih Utama Lagi: Etika Perjanjian Baru. Jakarta:
BPK Gunung Mulia. hlm. 5-7.
6. ^ J.A.B. Jongeneel. 1980. Hukum Kemerdekaan: Buku Pegangan Etik Kristen, Jilid 1: Bagian
Umum. Jakarta: BPK Gunung Mulia. hlm. 84.
7. ^ a b (Inggris)Richard A. Burridge. 2007. Imitating Jesus: an Inclusive approach to New
Testament Ethics. Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans. hlm. 40.
8. ^ a b c d e Bernhard Kieser. 1987. Moral Dasar: Kaitan Iman dan Perbuatan. Yogyakarta: Kanisius,
hlm. 54.
9. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v (Inggris)J. Philip Wogaman. 1993. Christian Ethics: A Historical
Introduction. USA: Westminster/John Knox Press. hlm. 23-36, 218-221.
10. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s F.D. Wellem. 1993. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh Dalam
Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 82-83.
11. ^ a b c (Inggris)George Wolfgang Forell. 1979. History of Christian Ethics. Minneapolis:
Augsburg Publishing House. Hlm.165.
Pertanyaan: Apa itu etika Kristen?

Jawaban: “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di
mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila
Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan
Dia dalam kemuliaan. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan,
kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,
semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka)” (Kolose 3:1-6).

Walaupun Alkitab bukan sekedar daftar “perintah” dan “larangan”, namun Alkitab memberi kita instruksi
terinci mengenai seharusnya kita hidup sebagai orang Kristen. Alkitab adalah satu-satunya kitab yang kita
perlukan untuk mengetahui bagaimana menghidupi kehidupan Kristen. Namun demikian Alkitab tidak
secara eksplisit menguraikan segala situasi yang kita akan hadapi dalam kehidupan kita. Kalau begitu
bagaimana Alkitab cukup? Di situlah giliran Etika Kristen.

Sains mendefinisikan etika sebagai, “serangkaian prinsip moral, kajian mengenai moralitas.” Karena itu
Etika Kristen adalah prinsip-prinsip yang disarikan dari iman Kristen yang menjadi dasar tindakan kita.
Walaupun Firman Tuhan mungkin tidak menyinggung dan membicarakan seluruh situasi yang mungkin
kita hadapi dalam kehidupan kita, prinsip-prinsipnya memberi kita standar yang harus kita ikuti dalam
situasi-situasi di mana tidak ada instruksi yang eksplisit. Misalnya, Alkitab tidak berbicara secara eksplisit
mengenai penggunaan obat-obat terlarang, namun berdasarkan prinsip-prinsip yang kita pelajari melalui
Alkitab kita tahu bahwa itu salah.

Salah satunya adalah Alkitab mengatakan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus dan kita harus
memuliakan Allah dengannya (1 Korintus 6:19-20). Mengenali apa yang diakibatkan oleh obat-obat
terlarang pada tubuh kita – kerusakan yang diakibatkan pada berbagai organ tubuh – kita tahu bahwa
menggunakan obat-obat terlarang adalah merusak bait Roh Kudus. Dan jelas hal itu tidak memuliakan
Allah. Alkitab juga memberi tahu kita bahwa kita harus mengikuti pemerintah yang Allah telah
tempatkan (Roma 13:1). Mengingat natur obat-obat terlarang yang ilegal, penggunaannya berarti kita
tidak menaati pemerintah namun melawan mereka. Apakah ini berarti kalau obat-obat terlarang itu
dilegalisasi lalu berarti boleh? Tetap tidak karena melanggar prinsip pertama.

Dengan menggunakan prinsip-prinisp yang kita temukan dalam Kitab Suci orang-orang Kristen dapat
menentukan jalan yang harus ditempuh dalam situasi apapun. Dalam kasus-kasus tertentu ini merupakan
hal yang sederhana, seperti peraturan hidup yang terdapat dalam Kolose 3. Dalam kasus-kasus lain kita
perlu menggali lebih dalam. Cara yang terbaik untuk melakukan hal ini adalah dengan mendoakan Firman
Tuhan. Roh Kudus mendiami setiap orang percaya dan bagian dari peranan-Nya adalah mengajar
bagaimana seharusnya kita hidup: “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa
dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu
akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yohanes 14:26). “Sebab di dalam diri kamu tetap ada
pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain.
Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu—dan pengajaran-Nya itu
benar, tidak dusta—dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap
tinggal di dalam Dia” (1 Yohanes 2:27). Jadi ketika kita mendoakan Kitab Suci, Roh Kudus akan
menuntun kita dan mengajar kita. Dia akan menunjukkan kita prinsip yang kita perlu pegang dalam
situasi tertentu.

Walaupun Firman Allah tidak membicarakan segala situasi yang kita hadapi dalam hidup kita, Firman
Allah cukup untuk kita menghidupi kehidupan Kristen. Untuk kebanyakan hal kita tinggal melihat apa
yang dikatakan Alkitab dan mengikuti arah yang diberikan. Dalam kasus-kasus di mana Alkitab tidak
memberi petunjuk yang eksplisit untuk situasi tertentu, kita perlu melihat prinsip yang
melatarbelakanginya. Sekali lagi dalam kasus-kasus tertentu itu merupakan hal yang mudah. Kebanyakan
dari prinsip yang orang-orang Kristen ikuti adalah cukup untuk hampir semua situasi. Dalam kasus yang
langka di mana tidak ada petunjuk Kitab Suci yang eksplisit maupun prinsip yang jelas, kita perlu
bersandar kepada Allah. Kita mesti mendoakan Firman-Nya, dan membuka diri kita kepada Roh-Nya.
Roh Kudus akan mengajar kita dan menuntun kita dalam Alkitab untuk mendapatkan prinsip yang kita
perlu pegang sehingga kita dapat berjalan dan hidup sebagaimana layaknya orang Kristen.
Etika Kekristenan terhadap UANG (Nats : Kisah 5:1-11)

Sejak dulu sampai hari ini tidak ada manusia yang tidak membutuhkan uang, sepertinya ”tanpa
uang manusia akan mati.” Manusia pada masa kini bergantung pada uang, sehingga hampir dari setiap
manusia bersaing di dalam hal ekonomi demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Maslow pernah
berkata, beberapa tingkatan kebutuhan manusia, dan yang paling dasar dari semua kebutuhan yang ia
ungkapkan adalah pemenuhan hidup. Demi memenuhi kebutuhan tersebut, maka manusia harus mulai
berusaha dengan cara mencari uang. Semakin banyak uang, manusia masuk ke dalam tingkatan
keinginan, sebab kebutuhan sudah terpenuhi.

Kisah Ananias dan Safira merupakan bukti bahwa mereka sudah dihasut dan dikuasai oleh uang.
Pada faktanya, manusia tidak mungkin puas dengan apa yang sudah miliki sekarang. Contoh: Saudara
yang punya sepeda motor, ingin punya mobil; Saudara sudah punya Hp 1, ingin punya 2 Hp. Apakah
keinginan tersebut salah? Jawabannya tergantung. Tergantung kepada tujuan pribadi masing-masing di
dalam menyingkapi apa yang manusia ingini. Namun pada kenyataannya, keinginan dengan kebutuhan
berbeda. Keinginan: Sudah memiliki suatu benda, tapi masih ada perasaan ingin untuk memiliki benda
yang lebih baik daripada yang dimiliki sekarang. Kebutuhan: Pemenuhan hidup seseorang agar ia bisa
tetap bertahan hidup. Ananias dan Safira ada di level keinginan dan bukan lagi di level kebutuhan, sebab
mereka adalah keluarga kaya yang tidak kekurangan suatu apapun. Karena mereka di level setingkat
lebih tinggi dari kebutuhan, maka mereka mengalami godaan harta yang lebih berat dibanding-kan
dengan orang-orang yang masih ada di level pemenuhan kebutuhan. Sekarang ini, Saudara dilevel
mana? Pada level pemenuhan kebutuhan, atau pada level keinginan?

Allah mau kita memanagement keuangan dengan sebaik-baiknya. Allah tidak pernah tidak
memenuhi kebutuhan manusia, walaupun kita sadari di dalam dunia ini ada orang kaya dan ada orang
yang kurang mampu, namun pada dasarnya Allah memenuhi kebutuhan manusia. IA ingin manusia
memanagement apa yang sudah IA berikan, khususnya di dalam hal ini adalah hal keuangan. Allah tidak
ijinkan manusia dengan sembarangan mengunakan uang, sekalipun orang yang kaya raya. Saat seseorang
dikuasai uang / materi, maka manusia masuk ke dalam dosa, sebab yang menjadi allah mereka adalah
uang atau harta. Allah tidak bisa berkompromi dengan hal tersebut, bahkan Allah menentang kekuasaan
uang. Contoh: Saya punya uang Rp. 1.000,- Mungkin bagi Saudara melihat uang Rp.1000 itu kecil,
namun benarkah uang tersebut kecil? Bagi orang yang bermain saham, melihat uang Rp.1000 sang
berarti. Dengan uang Rp.1000, banyak preman jalanan / tukang parkir bertengkar. Inilah bukti bahwa
uang sekecil apapun sungguh berarti dan tanpa disadari manusia dikuasai oleh uang.

Firman Tuhan ingin mengajar kita untuk tidak dikuasai uang, namun kita yang harus menguasai
uang. Pada dasarnya uang itu adalah benda mati yang berguna, namun bisa menjadi dosa sebab manusia
itu sendiri yang menyalahgunakan uang dan mereka menyerahkan dirinya untuk dikuasai oleh uang. Uang
disediakan oleh Allah melalui manusia yang berguna untuk memenuhi setiap kebutuhan manusia, maka
sekarang kita tahu siapa sebenarnya yang berkuasa, yaitu Allah berkuasa atas uang melalui kita umat
manusia yang menggunakan uang tersebut.

Kisah orang kaya yang bodoh, lebih rela meninggalkan Yesus daripada meninggalkan hartanya.
Dengan ada seorang bapak yang berdosa dengan rela meninggalkan dan membagi-bagikan hartanya
bahkan berkali lipat kepada masyarakat demi mengikut Tuhan Yesus, sebab ia sadar selain Allah, tidak
ada yang lebih berharga (Zakheus). Dimanakah posisi kita saat ini? Apakah kita sedang ada di dalam
kisah Ananias Safira dan orang kaya yang bodoh? Ataukah kita ada di dalam kisah Zakheus yang
bertobat? Janganlah salah memilih jalan hidup, sebab jika sekali kita salah memilih jalan, maka fatal
akibatnya. Memanagement uang dan kuasai uang adalah etika Kristen yang benar, sebab Allah tidak
ingin kita berdosa karena uang kita sendiri.

Kiranya Tuhan menolong kita, Amin (sumber: http://sienny.blog.com/khotbah-etika/).


Pemazmur menyatakan bahwa TUHAN membentuk manusia. Kelahiran manusia di bumi adalah
pekerjaan ajaib dari TUHAN yang berharga bagi-Nya. Melalui Yeremia, Tuhan memberitahukan
siapakah kita yang dilahirkan di bumi ini. [Yer 1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim
ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan
engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa]. Tuhan memiliki tujuan
terhadap setiap makhluk ciptaan-Nya terlebih-lebih manusia. Bila mengamati Keluaran 21:22-25
memberikan hukuman yang sama kepada orang yang mengakibatkan kematian seorang bayi yang masih
dalam kandungan dengan orang yang membunuh. Hal ini dengan jelas mengindikasikan bahwa Allah
memandang bayi dalam kandungan sebagai manusia sama seperti orang dewasa. Bagi orang Kristen
aborsi bukan hanya sekedar soal hak perempuan untuk memilih. Aborsi juga berkenaan dengan hidup
matinya manusia yang diciptakan dalam rupa Allah (Kejadian 1:26-27; 9:6).

Geisler mengajukan pertanyaan etis: dapatkah dibenarkan untuk mengakhiri kehidupan dalam kandungan
melalui aborsi? Pertanyaan sekitar status janin terkait aborsi memunculkan 3 sikap dasar. Pertama,
kelompok yang berpendapat bahwa janin adalah bagian dari tubuh manusia sehingga mereka menyetujui
aborsi sesuai permintaan. Kedua, kelompok yang berpendapat bahwa janin itu berpotensi menjadi
manusia sehingga mereka menyetujui aborsi dalam situasi tertentu. Dan ketiga, kelompok yang
berpendapat bahwa janin itu benar-benar manusia sehingga mereka menolak sama sekali aborsi. Ketiga
kelompok ini membangun sikap dasarnya dengan argumentasi alkitabiah maupun ilmiah.

Permasalahan aborsi saat ini sudah diatur dalam Undang-Undang NOMOR 36 TAHUN 2009 dalam
sejumlah pasal. Antara lain:

Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:

 a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam
nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun
yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
 b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi
korban perkosaan.

(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling
dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling
pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam
hal kedaruratan medis;
b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang
ditetapkan oleh menteri;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak
bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Sekalipun Undang Undang mengizinkan melakukan aborsi, namun undang undang juga mengizinkan agar
sekalipun memiliki alasan yang dapat dibenarkan melakukan aborsi untuk mengambil tindakan tidak
melakukan aborsi. Melakukan aborsi sangat dipengaruhi oleh keyakinan terhadap proses kelahiran dan
masa depan ibu dan anak yang akan dilahirkan. Keyakinan adalah bagian dari iman yang tertanam dalam
kehidupan bakal ibu dan bakal anak yang akan melahirkan dan atau dilahirkan. Setiap pasangan yang
menghadapi situasi yang sangat sulit ini harus berdoa minta hikmat dari Tuhan (Yakobus 1:5) untuk apa
yang Tuhan mau mereka buat.

Mujizat Tuhan masih dapat terjadi. Mujizat dan rencana Tuhan acapkali bekerja melampaui akal budi,
pengertian, pengetahuan manusia. Manusia yang dilahirkan menikmati kehidupan mendapatkan perhatian
istimewa dari Tuhan. Dalam kelemahan disana kuasa Allah dengan sempurna dapat ditampilkan. Dia
memeliki rencana yang indah bagi setiap manusia.

Pilihan aborsi atau tidak sangat kental dengan keimanan orang tersebut terlebih dalam kondisi diizinkan
oleh Undang-undang dan atau pendapat ahli sebelum lahirnya Undang-undang yang menyatakan bahwa, ”
Jelas janin/anak adalah anugerah Tuhan dan kita berkewajiban melindunginya dengan kasih. Kepentingan
utama kita adalah memelihara dan mempertahankan kekudusan hidup sehingga tindakan aborsi semata-
mata dapat dilakukan hanya untuk kasus di mana pilihannya menyelamatkan nyawa si ibu atau sibayi
seperti kasus kanker rahim (aborsi terapeutik). Sesuai dengan sikap pimpinan Majelis keagamaan
Indonesia yang dengan tegas melarang aborsi dan mengajak semua umat beragama menjunjung tinggi
nilai luhur perkawinan dan keluarga (Kusmaryanto, 179)”. Manusia lebih dari sekedar jasad. Allah
memanggil setiap orang dengan namanya dan menyediakan kerajaanNya, Sorga yang kekal untuk didiami
oleh manusia sebab manusia sangat dikasihi-Nya. Dia ingin manusia yang dilahirkan binasa dalam neraka
yang kekal.

Memilih tidak aborsi adalah subuah tindakan iman yang mengharapkan mujizat Tuhan, dan memerlukan
kedewasaan rohani dan campur tangan Tuhan. Hanya dengan iman…. manusia dapat menjangkau Tuhan
untuk menyatakan mujizat dan berdiamlah dalam-Nya agar mengetahui kehendak Tuhan, visi dan misi
Tuhan yang diberikan terhadap proses kehamilan yang dialami. Tuhan mampu melakukan segala sesuatu
yang tidak mungkin dan menjadikan segala sesuatu menjadi indah pada waktunya.

Bila anda berdosa…. datanglah padaNya memohon pengampunan. Sekalipun dosa aborsi tidaklah lebih
sulit diampuni dibanding dengan dosa-dosa lainnya. Melalui iman dalam Kristus, semua dosa apapun
dapat diampuni (Yohanes 3:16; Roma 8:1; Kolose 1:14). Perempuan yang telah melakukan aborsi, atau
lai-laki yang mendorong aborsi, atau bahkan dokter yang melakukan aborsi, semuanya dapat diampuni
melalui iman di dalam Yesus Kristus namun mengambil tindak aborsi mendatangkan resiko tersendiri dan
memerlukan aneka pertimbangan yang bijaksana.

Tuhan kiranya menolong dalam mengambil keputusan sulit…. bertumbuhlah mulai saat ini dalam iman
agar dapat menjawab permasalah dengan pertolongan kuasa dan kasih Allah yang dapat menyatakan
mujizatNya. Hanya Mujizat dan kasih Allah menjawab segala permasalah yang dihadapi.
Sains dan Iman Ditinjau dari Sudut Pandang Etika Kristen
ejak abad 12 sains mulai mengalami kemajuan pesat dan signifikan, hingga di abad postmodern ini sains
telah merajai segala bidang. Lalu bagaimana orang Kristen mengimplementasikan iman dalam kehidupan
di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan? Apakah sains mempengaruhi iman Kristen dalam
mengambil keputusan etis, dan adakah etika Kristen bergeser mengikuti perkembangan arus zaman?

Jika kita mempelajari Alkitab, kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah melarang manusia menggali dan
mengembangkan sains. Dalam kitab Kejadian 2:27-28 tercatat ada perintah bagi manusia untuk
menaklukkan alam semesta, pertanda Tuhan menyuruh manusia untuk berakal dan berilmu, sebab tanpa
itu manusia mustahil mampu menaklukkannya. Bukankah penemuan-penemuan sains pada awalnya
didominasi oleh saintis Kristen, pertanda banyaknya orang Kristen yang mematuhi perintah itu dan
mempercayai Alkitab sebagai sumber pengetahuan. Bahkan asas-asas geologi modern pun dipelopori oleh
sarjana-sarjana Kristen. Namun ironisnya setelah memasuki abad modern, justru banyak sarjana Kristen
yang menjadi kritikus bagi dasar-dasar iman Kristiani. Seperti: Karl Barth dan Emil Brunner yang
meragukan historis Alkitab dan pengilhamannya, bersama Rudolph Bultmann mereka berpendapat bahwa
Alkitab hanya terdiri dari mitos-mitos, ketiganya adalah para teolog yang berpengaruh di abad 20. Tidak
heran jika pada akhir abad 20 tersiar suara miring yang mengatakan "Allah sudah mati." Mengapa
demikian? Untuk kejelasan, kita perlu melihat sedikit sejarah yang melatar-belakangi munculnya
pemikiran seperti itu.

Menurut etimologi kata logika berasal dari kata λογικος (logikos), berawal dari kata λογια (logia)
atau λογος (logos) yang berarti firman. Seharusnya setiap logi (ilmu) bersumber atau berdasarkan logos
(firman Allah). Menjelang abad XIV, gereja masih sebagai pusat dunia dalam arti segala sesuatu masih di
bawah kontrol gereja, karena Alkitab masih dipegang sebagai satu-satunya sumber kebenaran dan
pengetahuan. Memasuki abad XIV, muncullah Renaissance, gerakan bangkitnya kesadaran baru bagi
gelombang pemikiran dan budaya (Barat dan Eropa), yang melahirkan paham Humanisme. Paham ini
beranggapan bahwa manusia adalah kaidah atau ukuran segala sesuatu yang ada, jadi pusat
perhatian Humanisme adalah manusia, bukan lagi Allah. Gerakan Renaissance memberikan dampak
ganda, positifnya Renaissance memberikan kebebasan dalam berteologi dan menggali ilmu pengetahuan,
sehingga kaumHumanis mengkritisi penyimpangan yang banyak terjadi dalam jabatan gerejawi, dan
secara tidak langsung menjadi pemicu lahirnyaReformasi Kristen. Dampak negatifnya, manusia menjadi
kaidah segala sesuatu, artinya segala sesuatu hanya dapat dimengerti melalui akal budi, inilah langkah
awal dari Rasionalisme. Humanisme menurut keterangan Colin Brown adalah sejenis agama dengan
kredonya, agama tanpa Allah, jikapun ada Allah, maka Ia tidak dapat dikenal dan tidak dapat
disadari. Humanisme tidak berbedadeisme, yang menempatkan Allah begitu transenden sehingga tidak
mungkin diketahui apalagi dikenal. Maka kesimpulannya manusia harus hidup bagi dirinya sendiri,
senang atau tidak manusia sudah terdampar di bumi ini dan harus berjuang mempertahankan
kehidupannya sendiri. Jadi manusia adalah penguasa atau pencipta bagi dirinya sendiri, ia harus
menciptakan standard hidupnya sendiri, ia harus menciptakan sasaran hidupnya sendiri, dan ia harus
menetapkan jalan sendiri untuk mencapai sasarannya. Terbentuklah orang-orang yang
mengandalkan Rasio seperti kaum humanis, yang pola pikirnya mulai mengabaikan kebenaran-kebenaran
firman Tuhan, dan mereka mencari pengetahuan atau kebenaran melalui empiris dengan hanya
mengandalkan senjata rationya.

Kemudian pada abad pertengahan muncul dua kubu teologi dengan bentuk yang berbeda, pertama
adalah teologi natural, yang berpendapat bahwa suatu pengenalan sejati akan Allah dan kaitan-Nya
dengan dunia ini, dapat dicapai melalui refleksi rasional terhadap natur segala sesuatu tanpa perlu
mempertimbangkan pengajaran Kristen. Kedua, teologi wahyu yang menaruh perhatian terhadap apa yang
disingkapkan atau dinyatakan oleh Allah melalui wahyu yang tercatat dalam Alkitab. Dapat disimpulkan
bahwateologi wahyu kembali kepada wahyu Alkitab, sedangkan teologi natural kembali ke filsafat
Yunani, terutama Aristoteles. Di dunia filsafat dan ilmu pengetahuan, orang menyebut filsuf Yunani yang
bernama Aristoteles sebagai bapak logika, karena dia dianggap sebagai peletak dasar logika. Menurut
Immanuel Kant, logika yang diciptakan Aristoteles sudah sempurna, padahal sebenarnya Aristoteles
sendiri tidak pernah menggunakan istilah logika. Dia hanya memakai dua istilah,
yaitu Analitika dan Dialektika. Analitika adalah pemikiran khusus untuk meneliti berbagai argumentasi
yang berangkat dari proposisi (rancangan usulan) yang benar, sedangkanDialektika adalah pemikiran
khusus untuk meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang diragukan kebenarannya.
Perlahan tetapi pasti, Alkitab telah disingkirkan dan kebenaran isinya diragukan bahkan menurut kaum
naturalis harus dibuang. Ronald H. Nash mengatakan bahwa seorang naturalis tidak konsisten bila ia
mempercayai doktrin Kristen tentang penciptaan, sebab jika theisme berkata "Pada mulanya Allah", maka
naturalisme berkata, "Pada mulanya materi". Menurut C.S. Lewis melalui bukunya "Miracle" (New York:
MacMillan, 1960), orang Barat yang keberatan dengan kepercayaan Kristen mengenai mujizat disebabkan
paham naturalisme yang mereka percayai. Dari semua itu kita dapat melihat bahwa hikmat manusia yang
dibangun berdasarkan kemampuan rasionya, memisahkan dan menjauhkan manusia dari kebenaran yang
hakiki dan Tuhan. Tidak salah jika Alkitab menyatakan bahwa hikmat manusia di dunia adalah
kebodohan bagi Allah (1 Korintus 3:19).

Jika diteliti dalam pertumbuhan sains sebenarnya juga terjadi banyak dilema intelektual, yakni apa yang
disangka sebagai pengetahuan ternyata lebih merupakan suatu kepercayaan yang dianut tanpa terlebih
dahulu dianalisis. Sebagai contoh, menjelang perang dunia kedua, dunia pendidikan begitu optimis bahwa
pendidikan bermutu bisa menghasilkan manusia yang baik, sehingga mampu menciptakan dunia yang
damai sejahtera tanpa terjadi perang. Meletusnya perang dunia kedua membuktikan apa yang sebaliknya,
pendidikan tinggi justru memungkinkan orang membuat senjata perusak yang lebih mengerikan. Kasus
pembobolan bank yang terjadi belakangan di republik ini, membuktikan sains telah mengantar kejahatan
berkembang secara intelek. Fritz Ridenour melalui bukunya "Who says?" (California: Gospel Light
Publications, 1967) membentangkan adanya kebohongan pakar arkeologi dalam merekonstruksi fosil-
fosil dengan merekayasanya, dan juga ternyata carbon penguji umur tulang-belulang itu tidak mampu
memberikan data yang akurat. Belum lagi tumpang tindih teori-teori ilmiah hasil riset yang saling
menggugurkan, menyadarkan kita bahwa sains tidak mengikat sebagai kebenaran yang hakiki.

Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen terhadap hasil sains yang bersinggungan dengan etika
Kristen, misalnya pencemaran alam atau lingkungan? Dari sudut etika masalah pencemaran merupakan
hal penting untuk dibahas, karena pencemaran sering dilakukan tanpa sadar, padahal bahaya dari
akibatnya begitu besar. Mungkin kita tidak terlalu memperhatikan pencemaran-pencemaran yang terjadi
setiap hari, yang dihasilkan dari limbah industri, dari knalpot alat transportasi, pemakaian pestisida,
limbah atau sampah dari rumah ke rumah. Pencemaran tidak hanya sekedar menimbulkan bau tidak sedap
atau buruk dipandang mata, tetapi memberikan ekses yang berbahaya bagi manusia dan alam. Seperti
misalnya kandungan polusi yang mengeluarkan bahan kimia: unsur nikel bisa menjadi penyebab kanker
paru-paru; unsur berilium menyebabkan keracunan akut dan kanker; unsur kadmiummenyebabkan
penyakit jantung dan hipertensi; unsur timbal menyebabkan kerusakan otak dan perubahan prilaku,
bahkan mempercepat kematian. Masalah pemanasan global, terjadinya lubang ozon, mencairnya es kutub,
yang sekarang ini mendapat perhatian seluruh dunia karena sudah cukup mengkhawatirkan, merupakan
dampak dari pencemaran yang bersifat meluas dan berakumulasi dalam jangka waktu lama. Sejauh mana
kepedulian kita? Apakah kita merasa perlu memperbaiki kendaraan transportasi kita yang tidak lulus
melewati uji emisi? Atau bagaimana sikap kita terhadap polusi kecil yang ditimbulkan oleh asap nikotin,
yang kita tahu tidak aman bagi kesehatan terlebih lagi bagi penghisap pasif. Apa pandangan kita,
bolehkah orang Kristen merokok? Mungkin ada yang berpikir "asal tidak merugikan orang lain", lantas
apakah kita boleh merugikan diri sendiri? Masih begitu banyak pertimbangan-pertimbangan etis yang
perlu kita pikirkan lagi, tetapi pada dasarnya apakah kita mau menyadari dan peduli, atau tidak sama
sekali?!

Bagi orang Kristen yang tidak mempelajari Alkitab, akan mengalami dilema etis dalam menghadapi
sains. Misalnya, berkaitan dengan bidang kedokteran, bolehkah orang Kristen melakukan aborsi? Dalam
batasan bagaimana aborsi diidentikkan dengan tindak kriminal? Jika kita memakai alat KB apakah
termasuk upaya pengguguran? Bagaimana dengan pelaksanaan KB melalui proses pemandulan? Apakah
etika Kristen mengharuskan kita menolak cloning, rekayasa genetika, pembuahan in vitro atau bayi
tabung, euthanasia dan lainnya? Sepertinya semua itu masih berlanjut di ruang tunggu dalam kondisi pro
dan kontra.

Para teolog mengetahui bahwa etika tidak dimasukkan dalam mata pelajaran sistematika, melainkan
dogmatika, suatu bidang teologi yang memikirkan tentang isi iman. Menurut J. Verkuyl, pokok
dogmatika ialah Allah lebih dulu mengasihi kita, sedangkan pokok etika ialah kita mengasihi Allah.
Untuk mengambil keputusan etis, sebagai orang Kristen kita harus menjunjung tinggi etika yang ditopang
oleh pilar-pilar etis, yaitu etika tujuan, etika tanggungjawab, dan etika wajib. Seperti pemahaman
tritunggal, ketiga pilar etis tidak dapat dipisahkan untuk berjalan sendiri-sendiri, melainkan serempak di
dalam kesatuan. Ketiga pilar etis ini tentunya berlandasan firman Tuhan, yang menjadi koridor bagi kita
dalam mereaksi kasih Allah kepada kita, dan teropong untuk membuktikan kasih kita kepada Allah.
Semua orang pasti setuju terhadap etika tujuan, tetapi orang Kristen tidak boleh hanya beretika tujuan,
sebagaimana biasa kebanyakan orang senang melakukannya. Misalnya dalam pengalaman Mr. X yang
membeli sesuatu barang, demi mencapai tujuan penjualan, sang penjual memberikan janji-janji seperti
kwalitas terbaik, garansi perbaikan, atau layanan purnajual lainnya. Namun ketika Mr. X mengklaimnya,
penjual itu sama sekali tidak memiliki etika tanggungjawab. Orang Kristen pasti memahami bahwa etika
Kristen tidak kerdil seperti itu, sebab di belakang etika tujuan ada yang tidak boleh dilupakan atau
ditinggalkan, yaitu etika tanggungjawab dan etika wajib.

Mengapa etika tanggungjawab? Sebab kita bertanggung jawab kepada Tuhan (Ibrani 4:13; 1 Petrus 4:5),
juga kepada sesama manusia (1 Petrus 3:15). Tuntutan firman Tuhan mengajarkan kita agar hidup
berdamai (Markus 9:50), bahkan kita disuruh pergi berdamai dengan saudara atau lawan (Matius 5:24-
25), itu artinya kita harus hidup bertanggungjawab terhadap sesama manusia. Jadi tanggungjawab kita
secara vertikal terhadap Allah, dan secara horisontal terhadap sesama manusia, inilah bentuk salib dari
tanggungjawab Kristen. Kita tidak bisa hanya bilang, "Ah, yang penting saya clear di hadapan Tuhan.",
kita harus juga berjuang untuk bisa clear di hadapan sesama manusia. Lain halnya jika kita bermasalah
dengan seseorang dan sudah mencoba mengklarifikasi masalah kepada orang itu namun tetap
disalahpahami, atau sudah meminta maaf tidak juga dimaafkan. Dalam hal itu kita tidak bersalah sebab
wajar jika kita disalahpahami, ditolak dan tidak didengar (Matius 10:14), Kristus juga mengalaminya
bahkan sampai dihukum mati.

Di samping itu, masih ada satu lagi yang harus kita pegang teguh, yaitu etika wajib. Mengapa etika wajib?
Sebab Alkitab mencatat bahwa kita mempunyai kewajiban-kewajiban sebagai orang percaya. Kita wajib
hidup dalam persekutuan Kristen (1 Yohanes 1:3; 1 Korintus 15:58; Efesus 4:18), kita wajib hidup
memelihara kesucian (Imamat 11:44; 19:2), wajib memuliakan Allah (Mazmur 22:24; 34:4; Amsal 3:9; 1
Korintus 6:20; Wahyu 14:7), wajib memberi persembahan perpuluhan kepada Allah (Maleakhi
3:10 bandingkan Lukas 20:25); wajib menaati Tuhan dan kebenaran firman-Nya (KPR 5:29; 1 Petrus
1:2,14; Galatia 5:3), wajib hidup sama seperti Kristus (1 Yohanes 2:6), dan sebagainya. Sebagai contoh
adalah Kristus, Teladan Agung kita, Dia mencapai tujuan menjalani visi dan misi Allah dalam hal
menyelamatkan manusia, tanpa melalaikan tanggungjawab-Nya di hadapan Bapa dan manusia, dan Dia
juga menjalani kewajiban-Nya sebagai Anak Allah dengan ketaatan penuh sampai mati.

Setiap hari kita bergelut dalam kehidupan yang sarat dengan sarana dan fasilitas hasil kemajuan sains,
orang Kristen tidak perlu menjadi sentimen terhadap sains. Jika kita percaya bahwa Allah sebagai
Pencipta atas alam ini, dan Alkitab adalah Wahyu Allah, maka mustahil kita percaya Alkitab bertentangan
dengan sains, sebab sains empiris merupakan hasil penelitian atas penemuan sesuatu dari alam. Sesuatu
yang dihasilkan alam, tidak mungkin bertentangan dengan Sang Pencipta, maupun Firman-Nya.
Seandainya kita mendapati hasil sains bertentangan dengan Alkitab, kemungkinan riset ilmiah itu keliru,
maka patut kita teliti ulang atau abaikan, jangan Alkitab yang kita singkirkan. Bukankah jika sains tidak
kontra dengan Alkitab, berarti sains itu tidak akan menyerang untuk meruntuhkan iman kita? Kita harus
memilih secara cermat sains mana yang pantas kita gunakan secara efektif, sebab sains bisa sangat
bermanfaat bagi kita, juga untuk melayani Tuhan, dan bahkan melaluinya kita bisa memuliakan Allah.

Dengan demikian berarti setiap saat kita diperhadapkan dengan banyak pilihan. Memilih untuk
mengenakan baju warna apa, mungkin bebas karena tidak berpeluang melanggar etika, tetapi jika diminta
memilih jenis, bukan warnanya. Jelas tidak bisa sembarang! Soalnya, apakah etis jika kita memilih
memakai baju bikini ke gereja? Barangkali ada juga yang nekad melakukan itu, dengan berpikir asal
tujuannya tercapai, yakni mendapat perhatian banyak orang. Tetapi bagaimana tanggungjawabnya secara
moral, dan berkaitan dengan kewajiban, apakah itu memuliakan atau memalukan Tuhan? Maka setiap kali
kita ingin memilih atau mengambil keputusan untuk bertindak, jangan lupa pertimbangkan dengan ketiga
pilar etis yang telah dipaparkan, supaya kita tidak menjadi pelanggar kode etik. Pelanggaran terhadap
etika Kristen adalah identik dengan dosa, dan dosa adalah pelanggaran hukum Allah (1 Yohanes 3:4),
sebab firman Allah identik dengan hukum Allah, yang menjadi rambu-rambu dalam etika Kristen.

Walaupun pengaruh sains menyebabkan banyak orang telah menghina atau membuang Alkitab, tetapi
sebagai orang Kristen sejati kita harus tetap teguh menghargai kedaulatan Alkitab, tetap mengakui
Alkitab sebagai Firman Allah yang menjadi dasar iman kita. Kiranya renungan dalam rubrik ini,
walaupun terbatas bahasannya, setidaknya menyadarkan kita untuk lebih berhikmat dan berlaku bijak,
terutama dalam pengambilan keputusan etis.
Bahaya Hipnotis
July 14, 2011Yohannis TrisfantARTIKEL
Penulis: Pdt. Yohannis Trisfant, MTh
Trend baru zaman ini.
Pada zaman yang penuh dengan tekanan dan ketegangan ini, banyak orang mencari berbagai macam cara
untuk mengatasi tekanan dan ketegangan mereka. Ketika muncul sebuah cara yang mengklaim sebagai
cara aman, maka cara tersebut akan diserbu oleh masyarakat, termasuk orang-orang Kristen. Salah satu
hal yang dianggap sebagai solusi masalah hidup adalah hipnotis. Hipnotis, saat ini menjadi gaya hidup
masyarakat perkotaan untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup orang kota. Para ahli hipnotis sendiri
mengklaim bahwa hipnotis dapat menolong mereka yang ingin kurus, yang ingin berhenti merokok, yang
depresi, yang terikat oleh narkoba. Hipnotis juga dipakai untuk menghilangkan rasa takut,
membangkitkan rasa percaya diri. Jangankan orang awam, beberapa dokter gigi juga
memakai hipnotis agar supaya pasien tenang menjalani pengobatan gigi.
Hipnotis dianggap sebagai cara yang aman dan ilmiah dalam menolong masalah-masalah hidup manusia,
karena hipnotis memakai teknik sugesti. Pasien akan disugesti dan dibawa dalam keadaan tidur hipnosa.
Dalam kondisi ini, pasien akan diberikan sugesti-sugesti untuk mengatasi persoalan mereka. Misalnya
mereka akan disugesti bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan, atau disugesti bahwa mereka tidak suka
makan banyak. Setelah sugesti itu, pasien tidak akan menyukai rokok dan tidak suka makan banyak. Ini
akan menolong pasien untuk berhenti merokok dan menjalani diet agar kurus. Hipnotis juga dapat
dipelajari secara pribadi dengan melatih konsentrasi dan sugesti diri, untuk meningkatkan kepercayaan
diri, mengatasi rasa takut dan mengatasi persoalan-persoalan dosa yang mengikat manusia.
Banyak orang Kristen yang juga ikut-ikutan mempelajari hipnotis dan memberikan diri dihipnotis untuk
mengatasi persoalan-persoalan mereka. Ada juga yang masih ragu-ragu, apakah boleh dihipnotis dan
mempelajari hipnotis untuk mengatasi persoalan kita?
Bahaya Hipnotis
Walaupun ahli hipnotis membungkus hipnotis sebagai sesuatu yang ilmiah, namun hipnotis bertentangan
dengan iman Kristen. Hipnotis bertentangan dengan iman Kristen karena tidak sesuai dengan nilai-nilai
kristiani dalam mengatasi persoalan dan karena hipnotis mengandung bahaya-bahaya. Ada beberapa
bahaya mempelajari hipnotis maupun dihipnotis.
1. Hipnotis dapat membuka pikiran untuk mempercayai apa saja, termasuk dusta. Seorang yang
terhipnotis dapat disugestikan sebuah kebohongan dan dia akan memegang kebohongan itu sebagai
sebuah kebenaran. Sugesti yang diberikan bukanlah kebenaran atau fakta mengenai keadaan pasien.
Pasien yang memang suka rokok disugesti bahwa dirinya tidak suka rokok. Pasien yang memang penakut
disugesti bahwa dirinya berani. Akhirnya dalam pikiran pasien terdapat fantasi hasil sugesti dan setelah
dihipnotis, pasien tidak bisa membedakan antara fantasi dengan kenyataan.
2. Hipnotis adalah usaha untuk menguasai diri melalui sugesti, baik itu oleh orang lain maupun oleh diri
kita. Sebuah usaha yang berada di luar karya Roh Kudus. Padahal penguasaan diri adalah karya Roh
Kudus di dalam diri orang percaya (Gal 5:22-23). Ketika kita mengikuti pimpinan Roh Kudus, Dia akan
memberikan kita kuasa untuk mengontrol diri kita. Dosa diatasi dengan menyerahkan diri kepada Allah
dan bukan dengan menyerahkan diri kepada ahli hipnotis atau menyerahkan diri kepada diri sendiri. (Yak
4:6,7; 1 Kor 6:9-12; Roma 6:12-12). Sebagai orang percaya , fokus kita adalah kepada Kristus, dan bukan
kepada diri kita sendiri atau kepada hal-hal lain (Ibr 12:2). Jawaban persoalan kita bukan di dalam diri
kita, melainkan di dalam Kristus (Matius 11:28)

3. Hipnotis membuka “ pintu hati” atau “pintu pikiran“ kita kepada serangan kuasa kegelapan. Dalam
hipnotis, bukan hanya ahli hipnotis yang akan mengubah sikap dan tingkah laku kita, tetapi iblis pun mau
juga merubah diri kita sesuai dengan keinginannya. Dengan memberikan diri dihipnotis, maka kita berada
dalam keadaan emosi yang tidak stabil, tidak aman dan akan memberikan kesempatan kepada Iblis untuk
menguasai diri kita. Hipnotis memberikan kemungkinan kepada kerasukan setan.
4. Hipnotis bukanlah sains, tetapi merupakan bagian integral dari okultisme selama ribuan tahun. Banyak
teknik yang digunakan dalam hipnotis mirip dengan sistem mistik dan okultisme. Profesor Psikiater,
Thomas Szasz mengatakan bahwa hipnotis adalah “ilmu pengetahuan gadungan” . Yoga, Zen dan metode
penyembuhan timur di dalam banyak aspek memiliki kesamaan mendasar dengan hipnotis. Dan hal yang
perlu diketahui mengenai Yoga adalah, tujuan utamanya adalah kesatuan dengan Allah. Kesatuan ini
dicapai bukan melalui Kristus melainkan melalui meditasi.

5. Hipnotis adalah pelanggaran terhadap hak Allah. Tidak seorang pun yang memiliki hak untuk
menguasai pikiran dan kehendak seseorang. Hanya Allah dan orang itu sendiri yang memiliki hak untuk
menguasai piikiran dan kehendaknya. Praktek hipnotis merupakan pelanggaran etika Kristen.

Akhir dari tulisan ini adalah pertimbangkanlah nasehat Petrus:”Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu,
si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat
ditelannya.” (1Pe 5:8).

KEPUSTAKAAN

Brown, David L. The Dangers of Hypnosis, mengutip dari Many Lives, Many Loves by Gina Cerminara;
Wm Morrow and Company, 1963.
Kroger, William and Fezler, William. Hypnosis and Behavior Modification:Imagery Conditioning.
Philadelphia: J. B. Lippincott Co., 1976.

Martin and Bobgan Deidre, Hypnosis: Medical, Scientific, or Occultic? California:EastGate Publishers

Szasz, Thomas. The Myth of Psychotherapy. Garden City: Anchor Press/Doubleday, 1978.

W. Provonsha, Jack Mind Manipulation: A Christian Ethical Analysis. Online Ethics Library:
www.ilu.edu/ilu/bioethics

PENULIS
Yohannis Trisfant, MTh.
Saat ini melayani di GKIm Amanat Kristus, BANDUNG
Dalam narasi penciptaan, kitab Kejadian menggambarkan Allah sebagai Sang Tertib. Karya Sang Tertib
ini dapat dilihat dalam hal diubahnya kekacaubalauan menjadi teratur, baik dan indah. Peristiwa ini
hendak menegaskan bahwa Allah Sang Pencipta adalah Allah yang tidak menyukai ketidakteraturan, baik
dalam kehidupan individu maupun kolektif bahkan bumi secara keseluruhan. Penciptaan manusia
pertama, Adam dan Hawa disertai kewajiban-kewajiban mensyaratkan kebebasan dan tanggung jawab
etis, demi menjaga kehidupan yang kudus yang tertib di hadapan Allah dan hubungannya dengan sesama
dalam kapasitas mereka sebagai mitra dalam penciptaan.

Namun dalam kenyataan, manusia pertama justru menyalahgunakan kebebasan dengan lebih
mengutamakan keinginan. Adam dan Hawa mengambil keputusan untuk memilih tidak taat kepada Allah;
dan sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan itu, mereka diusir dari Taman Eden. Jika pada
mulanya, mereka berada dalam sebuah tatanan etis maka penghukuman atas pelanggaran menempatkan
mereka dalam sebuah lingkup kehidupan pribadi dan sosial yang dibayang-bayangi murka Allah.
Meskipun demikian, Allah tidak pernah membiarkan segenap keturunan Adam dan Hawaberada dalam
hubungan permusuhan dengan Allah. Justru sebaliknya, Ia sendiri mengambil prakarsa untuk
menyelamatkan manusia dari kekacaubalauan sekaligus mengikat dan
memperbaruiperjanjian keselamatan (bnd. Kej. 6-9).

Tulisan ini bermaksud untuk menunjukkan konsistensi hakikat dan tindakan Allah sebagai Pemberi
hukum dan peraturan sebagai landasan perjanjian kasih karunia-Nya. Dengan mengambil umat Israel
sebagai model, diharapkan melalui ketaatan terhadap hukum dan peraturan tersebut, Israel tetap menjaga
kekudusan hubungan dengan Allah selaku Pemberi Hukum dan dengan sesama bahkan dengan bangsa-
bangsa lain. Israel, dengan demikian menjadi model bagi ketaatan gereja dan umat kristiani, kini dan dan
di sini.
[sunting]Hukum Taurat dalam kaitannya dengan etika

Karya Allah dalam seluruh peristiwa sejarah Israel merupakan titik tolak utama dalam Etika Perjanjian
Lama. Peristiwa pemanggilan Abraham yang berujung pada perjanjian dan menyelamatan bangsa Israel
dari perbudakan merupakan landasan yang paling utama dari seluruh tindakan etis bangsa Israel. Seluruh
peristiwa sejarah yang dilakukan Allah dimaknai sebagai seluruh karya Allah yang harus ditanggapi
bukan secara intelektual untuk menelusuri tujuan Allah tetapi melalui tanggapan etis yaitu, penyesuaian
cara hidup dengan tindakan dan sabda Allah.[1]

Tindakan menurut sabda Allah adalah landasan utama yang melandasi segala tindakan yang lahir dari
komunitas ini. Hukum Taurat menjadi dasar yang paling utama yang mengatur seluruh keberlangsungan
kehidupan mereka dalam segala aspek. Hukum Taurat dipandang sebagai bentuk yang paling penting
karena keseluruhan isinya mengatur tentang bagaimana seharusnya mereka melaksanakan tugasnya
sebagai umat pilihan Allah baik dalam hubungannya secara individual, kolektif maupun sebagai
bangsa. Christoph Barth menjelaskan bahwa, Taurat sebagai pengajaran atau hukum yang berkembang di
kalangan Israel dan penekanan terhadap penggunaannya terjadi pada masa Israel berada
di pembuangan. Hukum Taurat mengacu kepada kelima kitab Taurat yang diajarkan oleh Musa, yaitu
Kejadian sampai dengan Ulangan. Taurat merupakan sebutan bagi seluruh hukum yang terdapat dalam
Perjanjian Lama. Hukum taurat lahir bukan untuk menduduki keberadaannya sebagai hukum yang
terpisah. Hukum taurat lahir bersama-sama dengan kisah perjanjian antara Allah dengan umat pilihan-
Nya. Melalui keberadaan hukum inilah, tindakan manusia sebagai umat Allah diberitahukan oleh Allah.
Allah memberikan hukum-Nya agar umat-Nya bertindak sesuai kekudusan Allah.[2]

Dalam Perjanjian Lama, pengelompokan terhadap jenis hukum terdiri atas empat bagian. Wright
menjelaskan bahwa keempatnya adalah, Dasa Titah yang isinya merupakan perintah Allah yang
diberikan pada peristiwa Sinai. Kitab Perjanjian menempati posisinya yang kedua, seluruh isinya
berkaitan dengan ketetapan-ketetapan yang mengatur kehidupan masyarakat secara sosial. Selain itu,
terdapat pula Kumpulan Imamat yang isinya menekankan tentang bagaimana sebagai komunitas yang
menjaga kekudusan dihadapan Allah melalui tindakan kepada Allah dalam peribadahan maupun kepada
sesama. Terakhir, yaitu Kumpulan Ulangan adalah pengulangan terhadap bentuk hukum yang
sebelumnya telah diungkapkan serta memberikan penekanan langsung terhadap penggunaan berbagai
hukum tersebut. Berbagai bentuk hukum yang telah klasifikasikan di atas tetap menjadi suatu hukum yag
terikat dalam satu bentuk hukum yaitu, Hukum Taurat.[3].

Dengan demikian, dapat dilihat dengan jelas bahwa hukum taurat menduduki peranan yang sangat
penting dalam kehidupan bangsa Israel. Hukum taurat merupakan landasan paling utama yang mengatur
seluruh kehidupan bangsa Israel dalam tatanan hidup yang berarah pada kekudusan di hadapan Allah.
Hukum taurat mengatur bagaimana umat pilihan Allah bertindak sesuai dengan ketetapan Pemiliknya.
[sunting]Pengajaran nabi-nabi Israel dalam kaitannya dengan Hukum Taurat dan etika

Bahwa Allah yang menetapkan Israel sebagai umat perjanjian-Nya mengundang mereka di dalam dan
melalui pemberitaan para nabi. Para Nabi adalah orang yang secara khusus ditetapkan untuk
menyampaikan Firman Allah dalam sebuah situasi khusus tetapi firman yang mereka sampaikan selalu
dihubungkan dengan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Kata-kata “demikianlah firman Tuhan…. “
bermaksud mengingatkan umat agar tidak melupakan perjanjian itu. Konkritnya adalah supaya mereka
tidak menyembah ilah lain sebab jika mereka melakukan hal itu mereka melupakan perjanjiannya dan
pasti dihukum. Umat diingatkan untuk tidak melakukan ketidakadilan sebab tindakan semacam itu tidak
hanya bersifat moral tetapi merupakan bagian dari iman yang berpangkal pada perjanjian. Iman yang
sesungguhnya, bukan hanya membuat upacara-upacara ritual tetapi dengan melakukan kebenaran dan
keadilan bukan hanya dikalangan umat Israel tetapi juga dengan bangsa-bangsa lain dengan seluruh alam
semesta.[4]
Karena nabi adalah penyampai firman Allah dan juga sebagai penyampai kehendak Allah, maka mereka
harus mengingatkan setiap tindak tanduk bangsa Israel, dan bagaimanakah sikap para nabi Israel terhadap
hukum Taurat?, para nabi memakai hokum Taurat dalam mengecam umat yang melakukan kesalahan atau
kejahatan di mata Tuhan. Seperti dalam kitab Amos 2:7,” mereka menginjak-injak kepala orang lemah ke
dalam debu dan membelokkan jalan orang sengsara; anak dan ayah pergi menjamah seorang perempuan
muda, sehingga melanggar kekudusan nama-Ku;”, dalam hal ini Nabi Amos mengecam dengan memakai
hokum Taurat. Namun kadangkala juga mereka tidak memakainya sebab, perkembangan bangsa Israel
dari corak agraris kearah masyarakat perkotaan dan perdagangan . Namun hokum Taurat tetap dipakai
sebab, hukum Taurat merupakan dasar para nabi dalam menyampaikan kehendak Tuhan.

Dan para nabi bukanlah seorang pengajar aliran etika yang baru, mereka merupakan para orang yang
memanggil Israel kembali kepada dasar kebangsaannya sendiri , memanggil Israel dari seluruh kejahatan
sosial dan kembali kepada jalan Tuhan.
[sunting]Ciri khas etika Perjanjian Lama

Bagian ketiga tulisan ini akan dibahas mengenai ciri khas etika Kristen dalam Perjanjian Lama. Bentuk
utama etika Perjanjian Lama adalah prakarsa dan tanggapan. Kemudian Prakarsa dan tanggapan ini
terbagi lagi kedalam empat bentuk yaitu menanggapi perbuatan Allah, mengikuti teladan Alah, hidup di
bawah pemerintahan Allah, dan menaati perintah Allah.

Etika dalam Perjanjian Lama dianggap sebagai tanggapan terhadap prakarsa ilahi. Konsep ini lahir dari
sejarah bangsa Israel ketika Allah mengeluarkan mereka dari perbudakan di Mesir. Kemudian Allah
memberikan hukum kepada manusia. Manusia menanggapi hukum tersebut dengan kepatuhan kepada
kehendak Allah yang menjadi ungkapan rasa syukur karena sebenarnya bangsa Israel tidak layak
menerima pemberian-pemberian allah tersebut. Dengan demikian etika Perjanjian Lama merujuk ke arah
masa depan dimana tanggapan-tanggapan manusia akan menjadi serasi dengan cara Allah bertindak
terhadap mereka. Kedua mengikuti teladan Allah dengan memperlihatkan sifat Allah melalui kelakuan
manusia. Contohnya dalam pembelaan kaum lemah dan kesucian (Keluaran 22:21-22,25:23:6 janganlah
kau tindas seorang orang asing, seorang janda atau anak yatim; Jika engkau meminjamkan uang kepada
orang yang miskin janganlah kamu bebanan bungan uang kepadanya; Janganlah engkau memperkosa hak
orang miskin). Kesucian dalam hal ini artinya terpisah dan berbeda. Umat Israel membedakan tuntutan-
tuntutan Allah dengan perbolehan-perbolehan dewa-dewa yang dipuja. Maka pemisahan ini memberikan
kesadaran moral. Ketiga adalah manusia berada di bawah pemerintahan Allah dan manusia menaati
perintah Allah. Poin ketiga dan keempat ini saling terkait.
rtikel Penuntun - SYARAT-SYARAT MORAL BAGI PENILIK JEMAAT
Nas : 1Tim 3:1-2
Ayat: "Benarlah perkataan ini: 'Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan
yang indah.' Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat
menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang."
Jikalau seorang ingin menjadi "penilik" jemaat (Yun. _episkopos_, yaitu seorang yang mempunyai
kewajiban pastoral; gembala), dia menginginkan pekerjaan yang indah (1Tim 3:1). Akan tetapi, keinginan
orang itu harus ditetapkan oleh Firman Allah (1Tim 3:1-10; 4:12) dan gereja (1Tim 3:10), karena Allah
telah menetapkan beberapa syarat tertentu bagi gereja. Setiap panggilan yang diakui dari Allah untuk
melakukan pekerjaan pastoral harus diuji oleh anggota jemaat menurut standar alkitabiah yang terdapat
dalam 1Tim 3:1-13; 4:12; Tit 1:5-9
(lih. art.KARUNIA-KARUNIA PELAYANAN GEREJA).
Gereja seharusnya tidak menyokong seorang untuk pekerjaan pastoral hanya berdasarkan keinginan,
pendidikan, beban, panggilan atau visi yang didugakan. Gereja masa kini tidak berhak untuk mengurangi
syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Allah. Syarat-syarat itu mutlak perlu dan harus diikuti demi nama
Allah, kerajaan-Nya dan kepercayaan jabatan penilik yang tinggi.

1. 1) Standar yang terdaftar untuk penilik jemaat terutama bersifat moral dan rohani. Watak yang
terbukti benar dari mereka yang hendak menjadi pimpinan dalam gereja jauh lebih penting
daripada kepribadian, karunia berkhotbah, kemampuan administratif atau prestasi akademis. Titik
inti syarat-syarat ini adalah kelakuan yang telah bertekun dalam kebijaksanaan ilahi, pilihan yang
tepat, dan kekudusan pribadi. Sejarah rohani setiap orang yang menginginkan jabatan penilik
harus "diuji dahulu" (bd. 1Tim 3:10). Demikianlah, Roh Kudus telah menetapkan standar yang
tinggi bahwa calon itu harus orang percaya yang dengan tabah setia kepada Yesus Kristus dan
prinsip-prinsip kebenaran-Nya, dan dengan demikian dapat menjadi teladan kesetiaan, kebenaran,
kejujuran, dan kekudusan. Dengan kata lain, wataknya harus mencerminkan ajaran Kristus
dalam Mat 25:21, bahwa menjadi "setia dalam perkara kecil" akan membawa kepada posisi
"tanggung jawab dalam perkara yang besar".
2. 2) Terutama sekali, pemimpin-pemimpin Kristen harus menjadi "teladan bagi orang-orang
percaya" (1Tim 4:12; bd. 1Pet 5:3), yaitu kehidupan Kristen mereka dan iman yang tetap dapat
ditunjukkan di depan jemaat sebagai sesuatu yang layak ditiru.
1. (a) Penilik jemaat harus menunjukkan teladan tertinggi tentang ketekunan dalam
kesalehan, kesetiaan, dan kekudusan dalam menghadapi pencobaan, tetap setia kepada
dan kasih kepada Kristus dan Injil-Nya (1Tim 4:12,15).
2. (b) Umat Allah harus belajar etika Kristen dan kesalehan sejati bukan saja dari Firman
Allah, tetapi juga dari contoh gembala yang hidup menurut standar rasuli. Gembala yang
kualitas hidupnya menjadi contoh iman adalah sangat penting dalam rencana Allah untuk
kepemimpinan Kristen. Mengesampingkan prinsip kepemimpinan saleh yang telah
menjadi teladan tak bercacat untuk diikuti gereja berarti mengabaikan ajaran Alkitab
yang jelas. Gembala haruslah orang yang kesetiaannya kepada Kristus dapat diajukan
sebagai teladan atau contoh (bd. 1Kor 11:1; Fili 3:17; 1Tes 1:6; 2Tes 3:7,9; 2Tim 1:13).
3. 3) Roh Kudus memandang kepemimpinan orang percaya dalam rumah, pernikahan, dan
hubungan keluarga sebagai penting sekali (bd. 1Tim 3:2,4-5; Tit 1:6). Seorang penilik harus
menjadi teladan kepada keluarga Allah, khususnya dalam kesetiaannya kepada istri dan
keluarganya. Betapapun, jikalau ia sudah gagal dalam hal ini, "bagaimanakah ia dapat mengurus
jemaat Allah" (1Tim 3:5)? Ia harus "suami dari satu isteri" (1Tim 3:2). Frasa ini mempertahankan
pendapat bahwa seorang calon untuk jabatan penilik haruslah orang percaya yang secara moral
setia kepada istrinya. Bahasa Yunaninya adalah mias gunaikos yang secara harfiah diterjemahkan
"laki-laki satu wanita" yaitu suami yang setia kepada istrinya. Ini berarti bahwa seorang calon
penilik harus membuktikan bahwa dia telah setia dalam hal yang teramat penting ini. Kesetiaan
moral yang tekun kepada istri dan keluarga dituntut untuk siapapun yang ingin menjadi pemimpin
dan contoh di dalam gereja.
4. 4) Oleh karena itu, orang dalam gereja yang bersalah melakukan dosa serius atau pelanggaran
moral tidak memenuhi syarat untuk jabatan gembala atau posisi kepemimpinan tinggi dalam
gereja (bd. 1Tim 3:8-12). Orang semacam itu boleh diampuni oleh kasih karunia Allah, tetapi
mereka kehilangan kemampuan untuk menjadi teladan ketekunan yang tak putus-putus dalam
iman, kasih, kesucian, dan ajaran sehat (1Tim 4:11-16; Tit 1:9). Dalam PL pun Allah telah
menjelaskan bahwa para pemimpin umat Allah diharapkan akan mempertahankan standar moral
dan rohani yang tinggi; jikalau tidak, maka orang lain akan menggantikan mereka

(lihat cat. --> Kej 49:4;


lihat cat. --> Im 10:2;
lihat cat. --> Im 21:7;
lihat cat. --> Im 21:17;
lihat cat. --> Bil 20:12;
lihat cat. --> 1Sam 2:23;
lihat cat. --> Yer 23:14;
lihat cat. --> Yer 29:23).
[atau --> Kej 49:4; Im 10:2; 21:7,17;

Bil 20:12; 1Sam 2:23; Yer 23:14; 29:23]

5. 5) Selanjutnya, 1Tim 3:2,7 mengajukan prinsip bahwa seorang penilik jemaat yang
mengesampingkan kesetiaannya kepada Allah, Firman-Nya, istri, dan keluarganya harus dipecat
dari jabatannya. Setelah itu, ia tidak bisa dinyatakan "tak bercacat" (1Tim 3:2) lagi. Mengenai
seorang antara umat Allah yang telah berzinah, Firman Allah mengatakan bahwa "malunya tidak
terhapuskan"

(lihat cat. --> Ams 6:32-33).


[atau --> Ams 6:32-33]

6. 6) Hal ini tidak berarti bahwa Allah dan gereja tidak akan mengampuni lagi. Allah pasti akan
mengampuni setiap dosa yang terdaftar dalam 1Tim 3:1-13, jikalau ada penyesalan sungguh dan
pertobatan untuk dosa itu. Perlu diterangkan bahwa orang semacam itu boleh diampuni dan
dipulihkan dalam hubungannya dengan Allah dan gereja. Akan tetapi, yang dikatakan Roh Kudus
ialah bahwa ada dosa yang begitu berat sehingga rasa malu (aib) dari dosa itu akan tinggal
seumur hidup, meskipun sudah diampuni (bd. 2Sam 12:9-14).
7. 7) Tetapi bagaimana Raja Daud? Perihal Daud tetap menjadi raja Israel kendatipun dosa zinah
dan pembunuhan (2Sam 11:1-21; 12:9-15) kadang-kadang dianggap sebagai pembenaran
alkitabiah bahwa seorang penilik tetap dapat memangku jabatannya walaupun telah melanggar
standar yang disebut di atas. Akan tetapi, perbandingan ini adalah salah berdasarkan beberapa
alasan.
1. (a) Jabatan seorang raja Israel pada masa perjanjian yang lama dan jabatan penilik rohani
gereja Yesus Kristus di bawah perjanjian yang baru adalah dua hal yang sama sekali
berbeda. Allah bukan hanya membiarkan Daud tetapi juga banyak raja yang jelas-jelas
jahat untuk tetap menjadi raja Israel. Kepemimpinan gereja yang dibeli dengan darah
Yesus Kristus menuntut patokan rohani yang jauh lebih tinggi.
2. (b) Menurut penyataan Allah dan tuntutan PB, Daud tidak memenuhi syarat untuk
jabatan penilik jemaat. Istrinya banyak, dia tidak setia dalam pernikahannya, sangat gagal
mengatur keluarga, pembunuh dan sudah sering menumpahkan darah. Perhatikan juga
bahwa oleh karena dosanya, Daud berada di bawah hukuman Allah sepanjang sisa hidup

(lihat cat. --> 2Sam 12:9;


lihat cat. --> 2Sam 12:10;
lihat cat. --> 2Sam 12:11-12).
[atau --> 2Sam 12:9-12]

8. 8) Gereja-gereja masa kini hendaknya jangan berbalik dari syarat-syarat benar yang sudah
ditetapkan Allah bagi seorang penilik dalam penyataan asli kepada rasul-rasul. Sebaliknya, gereja
harus menuntut dari para pemimpinnya standar yang tertinggi dari kekudusan, ketekunan dalam
kesetiaan kepada Allah dan Firman-Nya dan kehidupan saleh. Mereka harus didoakan dengan
sungguh-sungguh, diberi semangat dan didukung, sementara mereka menjadi "teladan bagi
orang-orang percaya dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam
kesetiaanmu dan dalam kesucianmu" (1Tim 4:12).
BAB IPENDAHULUANA . L a t a r B e l a k a n g .
Psikologi agama adalah 2 kata yang secara tekstual dapat kita maknai sebagai ilmu yang
mempelajari jiwa manusia dan tidak merusak/ mengacaukand i r i n y a s e n d i r i a t a u o r a n g l a i n
( A . H . R i d w a n , 1 9 9 0 : 1 4 ) . D i h a r a p k a n d a r i definisi di atas muncul sebuah asumsi bahwa
psikologi dan agama adalah 2 halyang sangat erat kaitannya dalam mewarnai tingkah laku kehidupan
manusia.Asumsi di atas memang tidak salah, namun kenyataannya di lapanganterjadi miss comunicasi/
salah paham antara keduanya. Yang tentunya di latar belakangi oleh kepentingan para psikologi
dan agama. Atau bisa diketahuimereka berbeda dalam melihat sisi dari keduanya, bisa
dikatakan psikologimenuduh agama sebagai candu yang tentunya akan membuat siapa saja
yang beragama akan mengabdi atau siapa saja yang ada di dalamnya berbuat kejam,keji yang menurut
agamanya benar-benar (fanatik) seperti terorisme, gerakanmassa, perang jihad, dan sebagainya.
Dua sumberpun juga demikian halnyaagama menuduh psikologi sebagai sumber kekacauan,
agamanya berpendapat bahwa jika manusia cenderung untuk menguasai, selalu kurang, ingin
bebasd a n s e b a g a i n y a . B i s a d i k a t a k a n b a h w a j i k a d u n i a m u d i p e n u h i
k a u m psikologial tak ayal lagi akan menciptakan dunia yang ortodales, hukum rimba berlaku disiapa
kuat dia yang hidup. Dari asumsi itulah kami menulis melaluiini ingin mengetahuilebih jauh lagi kenapa
hal itu terjadi.
B.Rumusan Masalah
a . P e n g e r t i a n a g a m a d a n p s i k o l o g i . b.Pengertian agama dan psikologi saling
bermusuhan.c.Bagaimana pandangan psikologi sekuler (James Luba) terhadap agama.
BAB IIPEMBAHASANA.P engerti an P si kol ogi Dan Agam a
1 . P e n g e r t i a n P s i k o l o g i . Psikologi merupakan kelanjutan studi tentang tingkah lakumanusia dalam
kehidupan sehari-hari, konsep dalam psikologi dapat ditemukan yang berasal dari kehidupan hubungan
antara manusia, hal inisering menimbulkan perasaan pada setiap orang bahwa dirinya mengertidasar-dasar
psikologi, bahwa menganggap dirinya kompeten dalam bidangini. Sedanmgkan psikologi secara harfiah
berasal dari psyche: jiwa danlogos: ilmu dalam mitologi yunani, psyche adalah seorang gadis
cantik bersayap seperti sayap kupu-kupu, jiwa digambarkan berupa gadis dankupu-kupu symbol
keabadian. Psikologi dapat diterjemahkan ilmu jiwa,tetapi karena “jiwa” di Indonesia sering dihubungkan
dengan masalahmistik, kebatinan, dan kerohanian. Maka para sarjana lebih sukamenggunakan istilah
psikologi. Selain ini objek utama psikologi bukanlah jiwa, karena jiwa tidak dapat di pelajari secara
ilmiah.objek psikologiadalah tingkah laku manusia atau gejala kejiwaan. Walaupun banyak definisi
mengenai psikologi tetapi belum ada devinisi yang sempurna, dan para ahli secara garis besarnya
menyetujui bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam
hubungandengan lingkungannya (Drs.H.Ahyadi, 2001: 23).2 . P e n g e r t i a n A g a m a . Kata “Agama”
berasal dari sangsakerta, dalam bahasa Indonesia berarti “peraturan-peraturan”.Ada yang mengatakan
dalam bahasa sangsakerta kata “Agama” berasal dari dua suku kata, yaitu “A” dan “Gama”. “A” artinya
“tidak” dan
“Gama” artinya kacau, jika keduanya di satukan berarti “tidak kacau” atautidak chaos.Agama juga di
artikan sesuatu ajaran, kepercayaan, ritualitas yangdilakukan manusia dengan harapan dapat membagi
atau menentramkan,menolong dari kesulitan-kesulitan, masalah atau problem, agama dapatmenolong
kesulitan dirinya pada aturan supernatural.Menurut keterangan Prof. Musthofa Abdur Raziq
paska,kebanyakan ahli-ahli eropa yang terdahulu menyatakan bahwa agamaadalah suatu ikatan lengkap
untuk mengikat manusia dengan pekerjaan- pekerjaannya sebagai ikatan wajib, dan untuk mengikat
manusia kepadatuhannya.Kemudian Prof. Musthofa Abdur Raziq paska, menerangkan lagi, bahwa makna
asal dari agama yang lama adalah “perasaan mengakui hak-hak tuhan dengan takut dan hormat”. Adapun
masa sekarang, ahli-ahli pengetahuan telah menetapkan adanya tiga makna
yaitu:P e r t a m a : O r g a n i s a s i m a s y a r a k a t s e g o l o n g a n m a n u s i a ,
y a n g menyusun pelaksanaan sembah yang untuk mempercayaisuatu kepercayaan.K e d u a :
k e s e m p u r n a a n z a t y a n g m u t l a k , m e m p e r c a y a i , h u b u n g a n manusia
dengan kekuatan rokhani yang lebih muliadaripada mereka sendiri, dan rohani tersebut di
pandangEsa.K e t i g a : p e n g h o r m a t a n d e n g a n k h u s u k t e r h a d a p
a d a n y a s u a t u perundang-undangan atau adat atau perasaannya(K.H.Abbas, 1984: 39).
B.Mengapa Psikologi dan Agama Saling Bermusuhan.
Dapat klita ketahui bagaimana psikologi lahir dari agama dan tumbuh besar bersama
agama. Di tengah perjalanan, karena pengaruh Sains modern
p s i k o l o g i m e m i s a h k a n d i r i d a n m e m u s u h i a g a m a w a l a u p u n p e r k e m b a n g a n terakhir
nenunjukkan gerakan ke arah integrasi, di dunia akademis pandanganyang dominan setiak-tidaknya
menganggap agama tidak penting. Pada
tingkaty a n g e k s t r e m , p s i k o l o g i m e n u d u h a g a m a s u m b e r p e n y a k i t m e
n t a l , dogmatisme, prasmika rasional, dan tindakan kekerasan.D a l a m h a l i n i p s i k o l o g i
menjadi pesaing agama dalam
masyarakat barat. Ia menawarkan cara pandang dunia dengan pandangannya sen
dirit e n t a n g k e h i d u p a n y a n g b a i k , d a n d e n g a n m e k a n i s m e n y a s e n d i r i u n t u
k memecahkan persoalan.a . P a n d a n g a n P s i k o l o g i y a n g n e g a t i f t e r h a d a p A g a m a . Sebab
yang mendorong antara psikologi dengan agama saling bertentangan adalah paham dominan dikalangan
psikologi yangmelecehkan agama. Freud menyebutkan, agama sebagai obsesi, kadangsebagai pemenuhan
keinginan anak-anak, dan pada waktu yang lainsebagai ilusi.Freud mengilhami kebanyakan psikologi
meninggalkan agamamenjadi nkarakter intelektual; menganggap agama sebagai psikologigangguan
kejiwaan menjadi sikap ilmiah. Ellis, tokoh terapi kognitif bekavioral, menulis dalam jurnal of
Comceling and dinical psychologi,1980.Agama yang dogmatis, ortodok, dan taat (atau yang mungkin
kitasebut sebagai kesalahan) berkorelasi, sangat signifikan dengan gangguanemosional. Orang umumnya
menyusahkan dirinya dengan sangatmempercayai kemastian, keharusan dan kewajiban yang
absolut.Kebanyakan orang yang secara dogmatis, mempercayai agamatertentu, memperdayai hal-hal
absolut yang merusak kesehatan ini. Burungyang sehat secara emosional bersifat lunak terbuka, toleran,
dan bersedia berubah. Sedangkan orang yang sangat relegius cenderung kaku, terttutup, tidak toleran dan
tiak mau berubah. Kerena itu kesholehan dalam berbagaihal sama dengan pemikiran tidak rasional dan
gangguan emosional. b . P a n d a n g a n A g a m a y a n g N e g a t i f t e r h a p P s i k o l o g i . Arogansi seperti
psikolug ellis mengundang reaksi yang sangatkeras dari pokok agama. William Elpatrick menyesalkan
para agamawanyang mencampur psikologi dengan agama. Pada salah satu artikelnya yang berjudul “First
things” : “fath and terapy” : 1999, ia menulis bahwa tidak ada kompromi antara agama Kristen
dan kelompok psikologi. Rieff 1991: juga menyatakan dengan tegas bahwa kebudayaan terapeutis
menerangikebudayaan tradisional dengan bertujuan menghancurkannya.Sebagaimana peringatan
dostoyevsky, tanpa tuhan jadi segalanya bolehdan budadu terapeutik tidak punya tuhan. Budaya ini
sekarang bergerak untuk untuk memporak-porandakan struktur. Moral masyarakat melaluiajakan yang
setengah tulus untuk bersifat toleran, penuh kasih, danmenghargai keragaman. Tidak ada alasan untuk
menduga ia akanmenunjukkan batas tentang apa yang boleh secara movil. Akhirnya tidak ada lagi
perbedaan antara nihilisme budaya terapeutis dengan nihilisme Nietzsche, kecuali bahwa terapeutis tidak
memiliki kepekatan Nietzscheatau sifat kehidupan yang teragis. Psikologi sangat sedikit berbicaratentang
kebanyakan manusia yang menderita dan dunia ini. Ai sama sekalitidak berbicara tentang kenyataan
budaya bahwa kita sama akan mati.Sebuah situs yang di buat khusus manyerang psikologi (Rakhmat,
2005:152).
C.Pandangan Psikologi Skuler (james luba) terhadap Agama.
Psikolog yang paling memusuhi agama tradisional, tetapi juga yang paling informatif dan persuasif adalah
Leubu sejumlah tulisanya tentang psikolog agama menentang dalam kurun waktu setegah abad.
Leubamenentang agama mistik tradisional dengan berbagai cara, secara langsung ia
mengumpulkan bukti menyimpulkan bahwa pengalaman mistikal dapatdijelaskan dengan prinsip-prinsip
pokok psikologi dan fisiologi. Iamenunjukkan secara eksperimental bahwa ia dapat menimbulkan
perasaankehadiran sesuatu yang samar-samar dan tidak terlihat pada subyek penelitiannya dengan
mengarahkan mereka untuk mengharapkan pengalamanseperti itu. Menurut Leuba (1925), reaksi yang
terjadi sama saja seperti pengalaman sehari-hari ketika kita merasakan kehadiran orang lain.
Fenomenamystical yang lebih dramatis melalui penjelasan tentang proses potologis,termasuk epilepsy,
hysteria, neuratirice, dan intotilausi agfjkfklffks.Ia mengatakan bahwa mistikus setelah pengalaman
keagamaan sepertiitu besifat naif dan khuyali setelah itu, Leuba menunjukkan banyak ajaranagama yang
bermutu rendah dan tidak masuk akal. Ia juga menunjukkan bahwa pandangan keagamaan yang
konservatis itu menghabat perkembangan pengetahuan ilmiah (Leuba, 1950).Walaupun sangat
keras mengkritik agama, Leuba sebenarnya bermaksud memperbarui dan bukan menghancurkan agama.
Bagaimana iasangat teritis terhadap agama tradisional, ia juga sangat kritis terhadap sainyang
maferialistik. Leuba (1950: 136) mengemukkan teori tentang “doronganspiritual intelejen” menuju
kesempurnaan moral, suatu kecerdasan yangdianggapnya karakterstik asli tabiat manusia. Untuk
mengembangkan dayaspiritual alamiyah ini, Leuba menyerahkan dibentuknya kelompok keagamaanyang
menggunakan bentuk-bentuk, upacara, ibadah, pengakuan, dan keseniansakral yang sudah dimodifikasi
perkembangan pengetahuan dengan bantuan pengetahuan ilmiah dan pengalaman bersama. Walaupun
mereka tidak lagimenyembah Tuhan social, anggota masyarakat ini dapat mengambil faedahdari nilai-
nilai hakiki termasuk wawasan batiniah, kedamaian dan energi moraldari segi feistiknya.
Psikologi adalah ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan
pengaruhnya pada perilaku; ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan jiwa. Pertanyaannya, apakah
psikologi bisa dikaitkan dengan teologi? Tentu saja! Alkitab memiliki banyak petunjuk yang terkait
dengan masalah psikologi. Sayangnya, buku-buku yang membahas tentang psikologi yang terkait dengan
Alkitab di Indonesia tidak terlalu banyak. Salah satu referensi yang bisa dipilih adalah buku "Psikologi
yang Sebenarnya" yang ditulis oleh Dr. W. Stanley Heath. Dr Heath adalah seorang warga negara asing
yang telah lama tinggal di Indonesia. Dia memiliki tiga gelar Doktor dalam bidang teknologi,
penggembalaan, dan teologi. Selain pernah menjadi dosen di ITB dan menjadi pendiri Institut Alkitab
Tiranus di Bandung, Dr. Heath juga banyak terlibat dengan konseling-konseling Kristen. Buku-buku lain
yang ditulis Dr. Heath adalah "Penginjilan dan Pelayanan Pribadi" dan "Tak Mengambang, Tak Meleset".

Buku "Psikologi yang Sebenarnya" memiliki tiga bagian, bagian pertama membahas tentang kaitan
psikologi dengan epistemologi, filsafat manusia, kodrat yang multidimensi, dan tuntutan-tuntutan kodrati.
Bagian kedua tentang dinamika hidup kodrati, yang dijelaskan dalam 5 bab, dan bagian ketiga yaitu
tentang faktor-faktor nirkodrati yang terbagi dalam 3 bab. Dalam buku ini, Dr. Heath mencoba mengupas
ilmu psikologi yang didasarkan dengan kebenaran Alkitab. Manusia, sebagai objek yang dipelajari dalam
ilmu psikologi, dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu manusia beriman dan tidak beriman.
Meskipun penulis tidak banyak menampilkan ayat-ayat Alkitab, namun pembahasan yang diberikan
cukup setia dengan pengajaran Alkitab. Setiap bab diperkaya dengan referensi-referensi yang cukup
berkualitas. Pemakaian bahasa Indonesia dalam buku ini juga bagus, meskipun Dr. Heath bukan orang
asli Indonesia. Buku ini cocok untuk Anda -- para mahasiswa psikologi, konselor, hamba Tuhan, maupun
orang awam. Bacalah buku ini agar Anda memperoleh landasan yang benar dalam memandang psikologi
Kristen.