Anda di halaman 1dari 22

HUBUNGAN ANTARA PARITAS DENGAN PENGGUNAAN METODE KONTRASEPSI

PADA WANITA USIA SUBUR DI PUSKESMAS JAGAKARSA

THE RELATIONSHIP BETWEEN PARITY WITH THE USE OF CONTRACEPTIVE


METHODS IN WOMEN OF CHILDBEARING AGE IN PUBLIC HEALTH CENTER
(PHC) JAGAKARSA

Noversly Saerang1 Dr.dr.Raditya Wratsangka, Sp.OG (K)2

1. Program Studi Pendidikan Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


Jakarta

2. Bagian Ilmu Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


Jakarta

Alamat korespondensi :

1. Fenomerad Residence Kav.11, Jakarta Selatan. Telp. 081311111794. E-mail:


noversly.saerang@yahoo.com

2. Kampus B Universitas Trisakti, Jl. Kyai Tapa No. I, Grogol, Jakarta – 11440 Telp.
0811868601 E-mail: rwratsangka@ymail.com

ABSTRAK

1
Hubungan antara Paritas dengan Penggunaan Metode Kontrasepsi pada Wanita Usia
Subur di Puskesmas Jagakarsa

LATAR BELAKANG
Metode kontrasepsi merupakan upaya dalam Program Keluarga Berencana (KB) untuk
pengendalian fertilitas dan menekan pertumbuhan penduduk yang paling efektif.
Penggunaan kontrasepsi juga dipengaruhi oleh karakteristik sosiodemografi. Paritas
merupakan banyaknya kelahiran yang hidup yang dipunyai oleh seorang perempuan.
Beberapa penelitian menunjukan terdapat hubungan antara paritas dengan metode
kontrasepsi.
METODE
Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang mengikutsertakan 82 wanita
usia subur (WUS) peserta KB di Puskesmas Jagakarsa. Data dikumpulkan dengan
menggunakan kuesioner yang meliputi karakteristik responden dan riwayat
penggunaan kontrasepsi. Kemudian dilakukan uji statistik dengan menggunakan
program komputer Statistical Package for Social Science (SPSS) 21.0 for windows
dan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0,05.
HASIL
Hasil uji statistik dengan chi-square antara paritas dengan metode kontrasepsi
diperoleh p < 0,05 yang artinya terdapat hubungan antara paritas dengan metode
kontrasepsi pada WUS di Puskesmas Jagakarsa. Terdapat hubungan antara usia dengan
metode kontrasepsi dengan nilai p < 0,05. Terdapat hubungan antara pengetahuan
dengan metode kontrasepsi dengan nilai p < 0,05. Terdapat hubungan antara
pendidikan dengan metode kontrasepsi dengan nilai p < 0,05. Tidak ada hubungan
antara pekerjaan dengan metode kontrasepsi dengan nilai p > 0,05.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan antara paritas dengan metode
kontrasepsi pada wanita usia subur di Puskesmas Jagakarsa. Sebagian besar responden
dengan paritas 0-2 anak menggunakan kontrasepsi hormonal, sedangkan responden
dengan paritas > 2 anak lebih memilih menggunakan kontrasepsi non-hormonal.
Kata kunci : paritas, keluarga berencana, kontrasepsi, wanita usia subur

ABSTRACT

2
The Relationship Between Parity with The Use of Contraceptive Methods in Women
of Childbearing Age in Public Health Center (PHC) of Jagakarsa

BACKGROUND
Method of contraceptive is a most effective effort in Family Planning (FP) for fertility
control and suppressing the growth of the population. Contraceptive use is also
influenced by sociodemographic characteristics. Parity is the number of live births
which is owned by a woman. Several studies have shown an association between
parity and the contraceptive methods.
METHODS
This study uses a cross-sectional design that included 82 women of childbearing
(WUS) who are joining FP in PHC of Jagakarsa. The data is collected using a
questionnaire that covers the characteristics of respondents and a history of
contraceptive use. Then the statistical test uses Statistical Package for Social Science
(SPSS) 21.0 for Windows and the significance levels is 0.05.
RESULTS
Test results with the chi-square statistic between parity and the contraceptive methods
obtained p < 0.05, which means there is a relationship between parity and the
contraceptive methods in WUS in PHC of Jagakarsa. There is a relationship between
age and the method of contraceptive with a p-value of < 0.05. There is a relationship
between knowledge of contraceptive methods with value of p < 0.05. There is a
relationship between education and contraceptive method with a value of p <0.05.
There is no relationship between job and contraceptive method with a value of p >
0.05.
CONCLUSION
This study shows that there is a relationship between parity and method of
contraceptive in women of childbearing age in PHC of Jagakarsa. Most respondents
with a parity of 0-2 children use hormonal contraceptive, while respondents with parity
of more than to 2 children prefer to use a non-hormonal contraceptive.
Keywords : parity, family planning, contraceptive, women of childbearing age.

PENDAHULUAN

3
a. Latar belakang

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan berbagai jenis


masalah, salah satunya adalah masalah di bidang kependudukan dengan masih
tingginya pertumbuhan penduduk.1 Berdasarkan hasil Sensus 2010, penduduk
Indonesia menunjukkan jumlah penduduk yang telah mecapai 237 juta jiwa. Laju
pertumbuhan penduduk Indonesia makin meningkat yaitu sebesar 1,49 % per
tahun.2 Pada periode 10 tahun sebelumnya, laju pertumbuhan penduduk per tahun
sekitar 1,44 %.3

Selain tingginya pertumbuhan penduduk, distribusi penduduk di Indonesia


pun tidak merata, baik antara pedesaan dan perkotaan maupun antar pulau,
sehingga apabila tingkat pertumbuhan penduduk ini tidak diusahakan
penanganannya maka penduduk Indonesia dapat menjadi 360 juta sebelum tahun
2025. Akibatnya, banyak penduduk yang kekurangan bahan pangan dan
kekurangan gizi yang berakibat pada tingkat kesehatan yang buruk, pendidikan
yang rendah, dan kekurangan lapangan pekerjaan. Jumlah penduduk yang makin
meningkat dapat mengakibatkan berbagai macam masalah kesehatan, misalnya
pembiayaan kesehatan untuk memberikan jaminan perlindungan kesehatan
masyarakat yang masih terbatas, sedangkan peningkatan jumlah penduduk
menuntut pemerintah untuk memberikan anggaran kesehatan yang tinggi dan
memberikan pelayanan kesehatan yang semakin berkualitas.1-4

Di samping itu, masih terdapat juga pandangan masyarakat yang


mengatakan bahwa banyak anak banyak rezeki. Pandangan masyarakat tersebut
juga mempengaruhi tingginya angka kelahiran, karena menurut pandangan mereka
makin banyak anak maka makin banyak juga yang membantu pekerjaan dan
mencari nafkah orang tuanya sehingga dapat meningkatkan penghasilan keluarga. 4
Keadaan penduduk yang demikian akan mempersulit usaha peningkatan dan
pemerataan kesejahteraan rakyat. Tingginya pertumbuhan penduduk, maka makin
besar juga usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat.
Salah satu program di Indonesia untuk menekan angka pertumbuhan penduduk
dan untuk menurunkan angka kematian ibu yaitu melalui Program Keluarga
Berencana (KB).5

4
Pada awalnya Program KB adalah upaya pengaturan kelahiran dalam
rangka peningkatan kesejahteraan ibu dan anak, namun dalam perkembangannya
program KB dituntut untuk dapat menciptakan dan membudayakan Norma
Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS). Akan tetapi, paradigma baru
program keluarga berencana telah diubah visinya dari mewujudkan NKKBS
menjadi Keluarga Berkualitas pada tahun 2015. Keluarga berkualitas adalah
keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal,
berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis, dan bertakwa terhadap
Tuhan Yang Maha Esa. Dalam paradigma baru program keluarga berencana ini
misinya sangat menekankan bahwa pentingnya upaya hak – hak reproduksi
sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas keluarga.6

Sasaran program KB ini adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang lebih
dititikberatkan pada kelompok Wanita Usia Subur (WUS) yang berada pada
kisaran usia 15-49 tahun. Sedangkan, menurut Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2011, wanita usia subur adalah wanita
usia 18-49 tahun dengan keadaan organ reproduksi berfungsi dengan baik, baik
dengan status belum kawin, kawin maupun janda. Tingkat pencapaian pelayanan
Keluarga Berencana dapat dilihat dari cakupan Pasangan Usia Subur (PUS)
yang sedang mengguanakan alat/metode kontrasepsi (KB aktif), cakupan peserta
KB yang baru menggunakan alat/metode kontrasepsi, tempat pelayanan KB,
dan jenis kontrasepsi yang digunakan akseptor.7- 9

Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013, peserta KB saat ini


baik dengan cara modern maupun cara tradisional meningkat dari 55,8% pada
tahun 2010 menjadi 59,7% di tahun 2013, dengan variasi antar provinsi mulai
dari yang terendah di Papua (19,8%) sampai yang tertinggi di Lampung (70,5%).
Dari 59,7 % yang menggunakan KB saat ini, 59,3 % menggunakan cara modern
yang terdiri dari 51,9 % penggunaan KB hormonal dan 7,4 % non-hormonal.
Sedangkan, menurut metodenya 10,2 % penggunaan kontrasepsi jangka panjang
(MKJP), dan 49,1 % non-MKJP.10
Berdasarkan penelitian sebelumnya, metode kontrasepsi merupakan salah
satu upaya dalam Program Keluarga Berencana untuk pengendalian fertilitas dan
menekan pertumbuhan penduduk yang paling efektif. Kontrasepsi dapat kita
definisikan sebagai tindakan atau usaha yang bertujuan untuk mencegah terjadinya

5
konsepsi atau pembuahan. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, saat ini telah
tersedia berbagai macam metode-metode pengendalian kesuburan. Macam-macam
metode kontrasepsi saat ini, ada yang bersifat sementara dan dapat juga bersifat
permanen. Namun, tidak ada satupun metode kontrasepsi yang benar-benar aman
dan efektif. Hal ini disebabkan karena pada masing–masing metode kontrasepsi
memiliki kesesuaian dan kecocokan yang berbeda dari setiap individu. Pemilihan
metode kontrasepsi yang digunakan disesuaikan dengan pilihan akseptor atau
peserta KB.11
Penggunaan kontrasepsi juga dipengaruhi oleh karakteristik
sosiodemografi. Wanita yang tinggal di daerah pedesaan akan lebih banyak
menggunakan metode kontrasepsi dibandingkan daerah perkotaan dikarenakan
kesenjangan status ekonomi. Selain itu, wanita yang cenderung berusia tua akan
lebih banyak menggunakan metode kontrasepsi untuk membatasi kelahiran oleh
karena fase pra-menopause. Sedangkan, wanita yang memiliki jenjang pendidikan
tinggi akan lebih banyak memilih menggunakan metode kontrasepsi karena
mereka memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai pentingnya penggunaan
kontrasepsi tersebut dibandingkan dengan pendidikan rendah ataupun tidak ada.12
Berdasarkan BKKBN tahun 2006, Paritas merupakan banyaknya kelahiran
yang hidup yang dipunyai oleh seorang perempuan. Wanita dengan jumlah dua
anak atau kurang dari dua (paritas rendah) cenderung memberikan penilaian
yang lebih baik dibandingkan dengan wanita dengan jumlah anak yang lebih
banyak (paritas tinggi). Wanita dengan jumlah dua sampai tiga anak merupakan
paritas paling aman, ditinjau dari resiko kematian. Paritas tinggi mempunyai
resiko kematian maternal yang lebih tinggi.13

Berkaitan dengan hal tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti dan


memastikan apakah terdapatnya hubungan antara paritas dengan penggunaan
metode kontrasepsi pada wanita usia subur di Puskesmas Jagakarsa.

b. Keaslian penelitian

Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya


oleh Amirul Amalia yang berjudul Hubungan Karakteristik Ibu (usia, Pendidikan,
Pekerjaan, Dan Paritas ) dengan pemilihan kontrasepsi suntik di Puskesmas

6
Sukudono Sidoarjo. Pada penelitian tersebut hanya diprioritaskan pada ibu yang
menggunakan kontrasepsi suntik.14

Sedangkan, pada penelitian ini ditujukan kepada semua WUS yang


menggunakan metode kontrasepsi, berupa hormonal maupun non-hormonal.

c. Tujuan penelitian

1) Untuk mengetahui adanya hubungan antara paritas dengan penggunaan


metode kontrasepsi pada WUS di Puskesmas Jagakarsa.

2) Untuk mengetahui adanya hubungan karakteristik (usia, pengetahuan,


pendidikan, dan pekerjaan) dengan penggunaan metode kontrasepsi pada
WUS di Puskesmas Jagakarsa.

METODE

a. Desain

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik
dengan desain potong silang.

b. Populasi /sampel

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah :

- Wanita usia subur yang mengikuti Program Keluarga Berencana (KB) di


Puskesmas Jagakarsa

- Bersedia bekerja sama dalam penelitian ini dengan mengisi kuesioner yang
dibagikan untuk menjadi responden

Kriteria ekslusi pada penelitian ini adalah :

- Wanita usia subur yang tidak mengikuti Program Keluarga Berencana (KB)
di Puskesmas Jagakarsa

- Tidak bersedia untuk menjadi responden penelitian

Perkiraan besarnya sampel dihitung dengan menggunakan rumus

Rumus infinit :

7
N0 =

N0=

N0 =

N0 = 101

- N0 = Besar sampel optimal yang dibutuhkan

- Zα2 = Pada tingkat kemaknaan 95% besarnya 1,96

- P = Prevalensi yang menderita penyakit/peristiwa

- Q = Prevalensi yang tidak menderita penyakit/peristiwa yang


diteliti (1- P)

- d = Akurasi dari ketepatan pengukuran

Rumus finit :

N = N0 / 1 + (N0 / populasi)

N = 101/1 + (101/425)

N= 101/1 + 0,23

N= 101/1,23

N=82,1 (82)

c. Bahan dan alat serta pengukuran

Pada penelitian ini dilakukan pengumpulan data yaitu berupa kuesioner untuk
mengidentifikasi paritas dan karaketristik responden (tingkat pendidikan,
pekerjaan, dan pengetahuan metode kontrasepsi). Sebelumya, kuesioner telah diuji

8
kepada WUS di daerah Pondok Labu Jakarta Selatan sebanyak 20 responden dan
hasilnya valid dan reliabel (nilai α > 0,6 ).

d. Alur kerja penelitian

Wanita usia subur peserta Program


Keluarga Berencana (KB)
di Puskesmas Jagakarsa

Sampel

Informed Consent

Bersedia Tidak Bersedia

Kuesioner

Data

Pengelolaan dan
analisis data

9
HASIL PENELITIAN

a. Analisis univariat

Tabel 5. Sebaran responden berdasarkan karakteristik (N=82)

Variabel Frekuensi P*
n %
Paritas .000
0-2 anak 36 43,9
> 2 anak 46 56,1
Usia .000
< 20 tahun 5 6,1
20 – 35 tahun 37 45,1
> 35 tahun 40 48,8
Pengetahuan .000
Baik 42 51,2
Sedang 25 30,5
Buruk 15 18,3
Pekerjaan .000
Ibu Rumah Tangga (IRT) 33 40,2
Bekerja 49 59,8
Pendidikan .000
SMP 5 6,1
SMA 31 37,8
Perguruan Tinggi /akademi 46 56,1

*Signifikan pada p < 0,05 uji Kolmogorov-Smirnova

Dari 82 WUS di Puskesmas Jagakarsa, didapatkan sebagian besar yaitu 46


responden (56,1%) memiliki paritas > 2 anak. Sebagian besar responden yaitu sebanyak 40
responden (48,8%) berusia > 35 tahun. Berdasarkan tingkat pengetahuan kontrasepsi,

10
didapatkan 42 responden (51,2%) memiliki pengetahuan yang baik. Berdasarkan
pekerjaannya, paling banyak yaitu 49 responden (59,8%) bekerja, dibandingkan sebagai ibu
rumah tangga. Berdasarkan tingkat pendidikan responden, didapatkan sebagian besar yaitu
sebanyak 46 responden (56,1%) tamatan perguruan tinggi atau akademi.

Metode kontrasepsi yang digunakan :

Tabel 6. Sebaran responden berdasarkan metode kontrasepsi dan jenis kontrasepsi (N=82)

Variabel Frekuensi P*

n %

Metode kontrasepsi .000


Hormonal 40 48,8
Non hormonal 42 51,2
Jenis kontrasepsi .000
Pil 27 32,9
Suntik 13 15,9
AKDR 35 42,7
Sterilisasi 7 8,5

*Signifikan pada p<0,05 uji Kolmogorov-Smirnova

Berdasarkan metode kontrasepsi yang digunakan, didapatkan bahwa sebagian besar


responden yaitu sebanyak 42 responden (51,2%) menggunakan metode kontrasepsi non-
hormonal. AKDR merupakan jenis kontrasepsi non hormonal terbanyak yang digunakan oleh
WUS di Puskesmas Jagakarsa yaitu sebanyak 35 responden (42,7%) dan hanya 7 responden
(8,5%) yang menggunakan kontrasepsi non hormonal berupa sterilisasi.

11
b. Analisis bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel bebas
yaitu paritas dan variabel perancu (karakteristik responden) dengan variabel tergantung yaitu
kontrasepsi pada penelitian ini.

Tabel 7. Sebaran responden berdasarkan metode kontrasepsi (N=82)

Variabel Metode Kontrasepsi P

Hormonal Non-hormonal
n % n %

Paritas 0,000
0-2 anak 27 (75,0) 9 (25,0)
> 2 anak 13 (28,3) 33 (71,7)
Usia 0,000
< 20 tahun 5 (100,0) 0 (0)
20-35 tahun 29 (78,4) 8 (21,6)
>35 tahun 6 (15,0) 34 (85,0)
Pengetahuan 0,000
Baik 5 (11,9) 37 (88,1)
Sedang 23 (92,0) 2 (8,0)
Buruk 12 (80,0) 3 (20,0)
Pendidikan 0,000
SMP 5 (100) 0 (0)
SMA 26 (83,9) 5 (16,1)
PT /Akademi 9 (19,6) 37 (80,4)
Pekerjaan 0,079
IRT 20 (60,6) 13 (39,4)
Bekerja 20 (40,8) 29 (59,2)
12
Hubungan antara paritas dengan metode kontrasepsi

Berdasarkan tabel di atas, responden dengan paritas 0-2 anak yang menggunakan
metode kontrasepsi hormonal sebanyak 27 orang (75,0%) dan responden yang menggunakan
metode kontrasepsi non hormonal sebanyak 9 orang (25,0%). Sedangkan, responden dengan
paritas > 2 anak yang menggunakan kontrasepsi hormonal 13 orang (28,3%) dan responden
yang menggunakan kontrasepsi non hormonal sebanyak 33 orang (71,7%). Berdasarkan hasil
uji chi-square didapatkan nilai P = 0,000 atau P < 0,05, maka terdapat hubungan yang
bermakna antara paritas dengan metode kontrasepsi.

Hubungan antara usia dengan metode kontrasepsi

Hasil penelitian didapatkan sebagian besar yang menggunakan metode kontrasepsi


hormonal sebanyak 29 orang (78,4%) pada wanita yang berusia 20-35 tahun. Pada wanita
usia > 35 tahun, terdapat 34 orang (85,0%) paling banyak menggunakan metode kontrasepsi
non hormonal. Hasil uji Chi-Square tidak layak untuk dipakai sebagai uji pada tabel
hubungan antara usia dengan metode kontrasepsi, maka digunakan uji Kolmogorov-Smirnov.
Dari hasil uji Kolmogorov-Smirnov didapatkan p = 0,000 atau p < 0,05 maka didapatkan
hubungan yang bermakna antara usia dengan metode kontrasepsi.

Hubungan antara pengetahuan dengan metode kontrasepsi

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan wanita dengan tingkat pengetahuan baik


paling banyak menggunakan metode kontrasepsi non hormonal yaitu sebanyak 37 orang
(88,1%). Sedangkan, wanita dengan tingkat pengetahuan sedang paling banyak menggunakan
metode kontrasepsi hormonal sebanyak 23 orang (92,0%). Pada wanita dengan tingkat
pengetahuan buruk, terdapat 12 orang (80,0%) yang menggunakan metode kontrasepsi
hormonal. Hasil uji chi-square didapatkan nilai p = 0,000 atau p <0,05, menunjukkan terdapat
hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan metode kontrasepsi.

Hubungan antara pendidikan dengan metode kontrasepsi

Hasil penelitian didapatkan 5 orang (100,0%) wanita dengan tingkat pendidikan


SMP menggunakan metode kontrasepsi hormonal dan tidak ada yang menggunakan metode

13
kontrasepsi non-hormonal. Wanita dengan tingkat pendidikan SMA paling banyak
menggunakan metode kontrasepsi hormonal sebanyak 26 orang (83,9%). Sebagian besar
wanita dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi sebanyak 37 orang (80,4%) menggunakan
metode kontrasepsi non-hormonal Hasil uji Chi-Square tidak layak untuk dipakai sebagai uji
pada tabel hubungan antara usia dengan metode kontrasepsi, maka digunakan uji
Kolmogorov-Smirnov. Dari hasil uji Kolmogorov-Smirnov didapatkan p = 0,000 atau p < 0,05
maka didapatkan hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan metode kontrasepsi.

Hubungan antara pekerjaan dengan metode kontrasepsi

Hasil penelitian didapatkan wanita sebagai ibu rumah tangga paling banyak
menggunakan metode kontrasepsi hormonal sebanyak 20 orang (60,6%). Sedangkan, wanita
yang bekerja paling banyak menggunakan metode kontrasepsi non-hormonal yaitu sebanyak
29 orang (59,2%) Hasil uji chi-square didapatkan nilai P = 0,079 atau P > 0,05 yang
menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan metode
kontrasepsi.

PEMBAHASAN

a. Hubungan antara paritas dengan penggunaan metode kontrasepsi


Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat hubungan antara paritas dengan
penggunaan metode kontrasepsi pada WUS di Puskesmas Jagakarsa. Hasil penelitian ini
sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Amirul14, yang menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara paritas dengan penggunaan metode kontrasepsi. Hasil penelitiannya juga
menunjukkan bahwa paling banyak yang memilih metode kontrasepsi hormonal adalah
responden berparitas rendah dibandingkan dengan responden yang berparitas tinggi.
Sedangkan, kontrasepsi non hormonal banyak digunakan pada responden dengan paritas
tinggi.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rifa’i15 yang
menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara paritas dengan penggunaan alat
kontrasepsi di Puskesmas Buhu Kabupaten Gorontalo. Menurut penelitiannya, jumlah anak
dari pasangan usia subur tidak mempengaruhi minat mereka untuk menggunakan alat
kontrasepsi, walaupun jumlah anak mereka sudah lebih dari 2 orang, mereka enggan
menggunakan alat kontrasepsi dan yang hanya mempunyai anak 2 atau kurang dari 2, mereka

14
malah tidak menggunakan alat kontrasepsi. hal tersebut dikarenakan mereka masih
menggunakan mitos bahwa banyak anak maka banyak pula rejeki. Perbedaan hasil penelitian
ini mungkin dikarenakan lokasi tempat penelitian yang berbeda dan faktor budaya responden
yang masih percaya dengan mitos.

b. Hubungan antara usia dengan penggunaan metode kontrasepsi


Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan terdapat hubungan yang bermakna antara
usia dengan penggunaan metode kontrasepsi. Pada usia < 20 tahun dan usia 20-35 tahun lebih
banyak yang menggunakan metode kontrasepsi hormonal dibandingkan non hormonal.
Sedangkan, pada WUS berusia > 35 tahun lebih banyak yang menggunakan metode
kontrasepsi non hormonal dikarenakan lebih membutuhkan metode kontrasepsi yang lebih
efektif untuk membatasi kelahiran. Hasil penelitian ini diperkuat dengan pernyataan menurut
Depkes RI tahun 2007, perencanaan keluarga berencana untuk menuju keluarga kecil
bahagia dan sejahtera di bagi atas 3 masa dari usia reproduksi istri yaitu masa menunda
kehamilan bagi pasangan usia subur yang istrinya berumur dibawah 20 tahun, masa mengatur
kesuburan atau menjarangkan kehamilan pada WUS 20-35 tahun, dan masa mengakhiri
kesuburan atau tidak hamil lagi pada WUS diatas 35 tahun.. Hal ini sesuai dengan yang
peneliti lakukan bahwa mayoritas pasangan usia subur memilih alat kontrasepsi di usia 20-30
tahun, hal ini disebabkan karena diusia tersebut adalah usia produktif yang dapat
direncanakan kapan untuk memiliki anak lagi.16

c. Hubungan antara pengetahuan dengan penggunaan metode kontrasepsi


Dari hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan
dengan penggunaan metode kontrasepsi pada WUS di Puskesmas Jagakarsa. Hasil penelitian
ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Intan, dimana terdapat
hubungan yang erat antara pengetahuan dengan metode kontrasepsi. Pengetahuan tentang
metode kontrasepsi dapat diperoleh ibu dari tenaga kesehatan, buku, maupun informasi dari
media massa ( radio, televisi, majalah, dan surat kabar). Tingkat pengetahuan yang rendah
dimulai dari tahu (know) yaitu mengingat suatu materi yang telah dipelajari atau diterima
sebelumnya. Sedangkan, pada tingkat pengetahuan yang lebih tinggi ibu dapat memahami,
mengaplikasikan, menganalisis, dan mampu melakukan penilaian terhadap metode
kontrasepsi. Maka, dapat disimpulkan sebagian besar ibu yang memiliki pengetahuan baik
tentang metode kontrasepsi cenderung lebih memilih menggunakan metode kontrasepsi non
hormonal.17 Hasil penelitian ini juga didukung dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan

15
oleh Selli18, bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan
penggunaan metode kontrasepsi. Hal ini berarti semakin baik pengetahuan ibu akseptor
keluarga berencana maka semakin rasional dalam menggunakan alat kontrasepsi.

d. Hubungan antara pendidikan dengan penggunaan metode kontrasepsi


Pada hasil penelitian ini, didapatkan hubungan yang bermakna antara pendidikan
dengan penggunaan metode kontrasepsi. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Rinda dan Kuspriyanto 19, dimana terdapat hubungan antara
pendidikan dengan penggunaan metode kontrasepsi dikarenakan tingkat pendidikan akan
mempengaruhi pengetahuan dan persepsi seseorang tentang pentingnya suatu hal
termasuknya perannya dalam Program KB. Pada hasil penelitiannya, disimpulkan bahwa
PUS dengan tingkat pendidikan rendah memilih metode kontrasepsi tidak efektif karena
keikutsetaannya dalam program KB hanya ditujukan untuk mengatur kelahiran. Sedangkan
pada responden dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memilih metode
kontrasepsi efektif karena selain untuk mengatur kelahiran juga untuk meningkatkan
kesejahteraan keluarga karena dengan cukup dua anak dalam satu keluarga akan terwujud
keluarga kecil bahagia dan sejahtera sehingga mereka lebih memikirkan tingkat efektifitas
dari metode kontrasepsi yang digunakan.

e. Hubungan antara pekerjaan dengan penggunaan metode kontrasepsi


Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara pekerjaan
dengan penggunaan metode kontrasepsi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Ika, dkk20 yang menunjukan tidak adanya hubungan antara pekerjaan dengan
penggunaan metode kontrasepsi. Menurut hasil penelitiannya, responden yang bekerja
maupun sebagai ibu rumah tidak terlalu berpengaruh dalam menentukan metode kontrasepsi
yang akan digunakan. Namun, pengalaman efek samping dari kontrasepsi sebelumnya lebih
berpengaruh dibandingkan dengan pekerjaan responden.

KESIMPULAN

1. Dari hasil penelitian terhadap 82 WUS, diketahui bahwa sebagian besar WUS
memiliki paritas > 2 anak dan menggunakan kontrasepsi non hormonal berupa
AKDR dan sterilisasi.
2. Terdapat hubungan antara paritas dengan penggunaan metode kontrasepsi dengan
nilai p (0,000) < 0,05.

16
3. Terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik responden (usia,
pendidikan, pengetahuan) dengan penggunaan metode kontrasepsi dengan nilai p
(0,000) < 0,05.
4. Tidak terdapat hubungan secara signifikan antara pekerjaan dengan penggunaan
metode kontrasepsi dengan nilai p (0,079) > 0,05.

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Bersama ini saya ucapkan banyak terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu, yaitu :

1. Dr. dr. Raditya Wratsangka, Sp.OG (K) selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan perhatian, bimbingan, serta limpahan ilmunya dalam penyusunan skripsi
ini.
2. Dosen penguji I dan penguji II yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk
menguji skripsi dan memberikan masukan dalam penulisan skripsi menjadi lebih baik.

3. Orangtua penulis, yang telah memberikan dukungan, doa, nasihat, dan motivasi
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

4. Seluruh staf di Puskesmas Jagakarsa yang telah memberikan izin, bantuan, dan
bimbingan selama penelitian berlangsung.

5. Teman-teman kelompok bimbingan skripsi, Novia dan Nuvita.

6. Orang-orang kesayangan dan teman seperjuangan, Dinalhaq, Sitta Thara, Vivi


Nurvianti, Muhammad Dainul, Ula Inda, dan Nurul yang telah memberikan doa,
semangat, dan membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rochma KM. Hubungan pengetahuan dan paritas dengan pemasangan alat kontrasepsi
dalam Rahim di wilayah kerja puskesmas gandus Palembang. Palembang : Poltekes
Kemenkes ; 2012

17
2. Tutut H. Hubungan keberfungsian kekuatan keluarga dengan pemilihan metode
kontrasepsi di desa rambigundam kecamatan rambipuji kabupaten jember. Jember :
Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember ; 2012

3. Badan Pusat Statistik. Kependudukan 2010. Available at :


http://www.bps.go.id/menutab. Accessed Mei 21, 2014

4. Nurafni, Ramli. Hubungan karakteristik pasangan usia subur yang tidak mengikuti
program keluarga berencana di desa reudep melayu kecamatan glumpang tiga
kabupaten pidie. Aceh : Program Studi Kebidanan Stikes U’Budiyah ;2013

5. Erman I, Elviani Y. Hubungan paritas dan sikap akseptor KB dengan penggunaan alat
kontrasepsi jangka panjang di kelurahan muara enim wilayah kerja puskesmas
perumnas kota lubuk linggau Palembang : Program Studi Keperawatan Politeknik
Kesehatan ; 2012

6. Rosy Y, Yuni W. Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang keluarga berencana


hormonal dengan tingkat kecemasan menghadapi gangguan menstruasi kelurahan
pablengan kabupaten karanganyar kartasura : Program Studi Keperawatan FIK UMS ;
2009

7. Departemen Kesehatan Republik Indoesia. Profil kesehatan masyarakat ; 2012

8. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Program keluarga


berencana ; 2011

9. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Pelayanan KB ; 2014

10. Badan Penelitian dan Pengembagan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset
Kesehatan Dasar (RISKESDAS 2013) ; 2013

11. Amalia A. Hubungan karakteristik ibu dengan pemilihan kontrasepsi suntik di


puskesmas sukudono sidoarjo. Lamongan : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Muhammadiyah Lamongan ;2008

12. Maurice MJ. Intention to use contraception and subsequent contraceptive behaviour.
Johannesburg : University of Witwatersrand ; 2007

13. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Pelayanan KB ; 2006

18
14. Amalia A. Hubungan karakteristik ibu dengan pemilihan kontrasepsi suntik di
puskesmas sukudono sidoarjo. Lamongan : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Muhammadiyah Lamongan ;2008

15. Ali R. Faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan alat kontrasepsi pada
pasangan usia subur di wilayah Puskesmas Buhu Kabupaten Gorontalo ; 2013

16. Departemen Kesehatan Republik Indoesia. Profil kesehatan masyarakat ; 2007

17. Ratnaningtyas IA. Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang metode kontrasepsi
dengan pemakaian kontrasepsi hormonal dan non hormonal di RW III Desa
Karangasri Ngawi. Surakarta : Fakultas kedokteran universitas sebelas maret ; 2009

18. Sitopu SD. Hubungan pengetahuan akseptor keluarga berencana dengan penggunaan
alat kontrasepsi di Puskesmas Helvetia. Medan : Fakultas Ilmu keperawatan
Universitas Darma Agung ; 2012
19. Maiharti RI, Kuspriyanto. Hubungan tingkat pengetahuan, pendidikan, dan
pendapatan dengan penggunaan metode kontrasepsi pada PUS di Kecamatan Jenu dan
Kecamatan Jatirogo Kabupaten Tuban. Surabaya : Fakultas Ilmu Sosial Universitas
Negeri Surabaya ; 2012
20. Rahayu I, Nugroho RJ, Winarni S. Hubungan beberapa karakteristik wanitas pasangan
usia subur (PUS) peserta KB aktif dengan pemilihan metode kontrasepsi suntik di
Kelurahan Kramas Kecamatan Tembalang Triwulan I Tahun 2013. Semarang :
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro ; 2013

19
20
21
22