Anda di halaman 1dari 12

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Diabetes Mellitus


2.1.1 Definisi Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus (DM) adalah gangguan metabolism yang secara genetis dan klinis
termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat (Price &
Wikson, 2008). Menurut Brunner & Suddart (2012), DM merupakan sekelompok kelainan
heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
Hiperglikemia kronik pada DM berhubungan dengan jangka panjang, disfungsi atau
kegagalan beberapa organ tubuh terutama mata,ginjal, syaraf, jantung, dan pembuluh
darah.
Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa
darah melebihi normal. Insulin yang dihasilkan koleh kelenjar pancreas sangat penting
untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa darah yaitu untuk orang normal (non diabetes)
waktu puasa antara 60-120 mg/dL dan dua jam sesudah makan dibawah 140 mg/dL. Bila
terjadi gangguan pada kerja insulin, keseimbangan tersebut akan terganggu sehingga kadar
glukosa darah cenderung naik. Gejala bagi penderita Diabetes Mellitus adalah dengan
keluhan banyak minum (polidipsi), banyak makan (poliphagia), banyak buang air kecil
(poliuri), badan lemas serta penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya, kadar
gula darah pada waktu puasa ≥ 126 mg/dL dan kadar gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dL
(Badawi, 2009).

2.1.2 Klasifikasi Diabetes Mellitus


Klasifikasi diabetes melitus menurut Sari (2012) yaitu sebagai berikut :
a. Diabetes Melitus Tipe I
Diabetes Melitus Tipe I ini pankreas benar-benar tidak dapat menghasilkan insulin
karena se-sel beta yang ada dalam pankreas oleh virus atau autoimunitas. Jadi, antibodi
yang ada dalam tubuh manusia membunuh siapa saja yang tidak dikenalinya termasuk zat-
zat yang dihasilkan oleh tubuh dia anggap benda asing termasuk zat-zat penghasil insulin
maka dari itu Diabetes Melitus Tipe I disebut dengan IDDM (Insulin Dependent Diabetes
Mellitus).
b. Diabetes Melitus Tipe II
Ada 2 bentuk diabetes melitus tipe II yakni, mengalami sekali kekurangan insulin
dan yang ke-2 . resitensi insulin. Pertama berat badan cenderung normal, sedangkan yang
ke-2 memiliki berat badan besar atau gemuk. Diabetes melitus tipe II ini disebut sebagai
penyakit yang lama dan tenang karena gejalanya yang tidak mendadak seperti tipe I, tipe
II cenderung lambat dalam pengeluaran gejala hingga banyak orang yang baru mengetahui
bahwa dirinya terdiagnosa berusia lebih dari 40 tahun. Gejala-gejala yang timbul pun tidak
terlalu nampak karena insulin di anggap normal tetapi tidak dapat membuang glukosa
kedalam sel-sel sehingga obat-obatan yang diberikan ada 2 selain obat untuk memperbaiki
resistensi insulin juga ada obat yang merangsang pankreas menghasilkan insulin.
c. Gastational Diabetes Mellitus (GDM)
Diabetes Melitus tipe ini menjangkit wanita setengah hamil. Lebih sering menjakit
dibulan 6. Resiko neonatal yang terjadi keanehan sejak lahir seperti berhubungan dengan
jantung, sistem nerves yang pusat, dan menjadi sebab bentuk cacat otot atau jika GDM
tidak bisa dikendalikan tidak normal yakni besar atau disebutnya makrosomia yaitu berat
badan bayi diatas 4 kg. Pengendaliannya diabetes melitus harus mendapatkan pengawasan
semasa hamil, sekitar 20-25% dari wanita penderita GDM dapat bertahan hidup.

2.1.3 Etiologi
DM disebabkan oleh penurunan produksi insulin oleh sel-sel beta pulau langerhans
jenis juvenilis (usia muda) disebabkan oleh predisposisi herediter terhadap perkembangan
antibodi yang merusak sel-sel beta atau degenerasi sel-sel beta. DM jenis awitan mal nutrisi
disebabkan oleh degenerasi sel-sel beta akibat penuaan dan akibat kegemukan/obesitas.
Tipe ini jelas disebabkan oleh degenerasi sel-sel beta sebagai akibat penuaan yang cepat
pada orang yang rentan dan obesitas mempredisposisi terhadap jenis obesitas ini karena
diperlukan insulin dalam jumlah besar untuk pengolahan metabolisme pada orang
kegemukan dibandingkan orang normal.
Ada beberapa contoh DM tergantung insulin dan tidak tergantung insulin yaitu :
a. Diabetes Mellitus tergantung insulin (DMTI)
a) Faktor genetic
Penderita DM tidak mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetic
kea rah terjadinya DM type 1. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu
yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu.
b) Faktor imunologi
Pada Diabetes tipe 1 terdapat bukti adanya suatu respon autoimun.terarah pada
jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang
dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.
c) Faktor lingkungan
Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai contoh
hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses
autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas.
d) Kelaianan genetik
DM dapat menurun menurut silsilah keluarga yang mengidap DM. ini terjadi
karena DNA pada orang DMakan ikut diinformasikan pada gen berikutnya terkait
dengan penurunan produksi insulin.
e) Usia
Umumnya manusia mengalami penurunan fisiologis yang secara dramatis
menurun dengan cepat pada usia setelah 40 tahun. Penurunan ini yang akan beresiko
pada penurunan fungsi endokrin pancreas untuk memproduksi insulin.
f) Pola makan yang salah
Kurang gizi atau kelebihan berat badan sama-sama meningkatkan resiko
terkena DM.Malnutrisi dapat merusak pankreas, sedangkan obesitas meningkatkan
gangguan kerja atau resistensi insulin
g) Infeksi
Masuknya bakteri atau virus ke dalam pankreas akan berakibat rusaknya sel-
sel pancreas s. Kerusakan ini berakibat pada penurunan fungs pancreas(Riyadi &
Sukarmin, 2013).
b. Diabetes mellitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Menurut (Julien, Senecal & Guay, 2009) DM tipe 2 atau juga dikenal sebagai Non
Insulin Dependent Diabetes (NIDDM).Dalam DM tipe 2, jumlah insulin yang diproduksi
oleh pankreas biasanya cukup untuk mencegah ketoasidosis tetapi tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan tubuh total.
Secara pasti penyebab dari DM tipe 2 ini belum diketahui faktor genetik
diperkirakan memegang peran dalam proses terjadinya resistensi insulin. Diabetes Mellitus
tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat. DMTTI
ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Diabetes
Mellitus tipe 2 disebut juga Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau Non
Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok
heterogen bentuk-bentuk Diabetes yang lebih ringan, terutama dijumpai pada orang
dewasa, tetapi terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak.
Faktor resiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe 2, diantaranya adalah :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun).
b. Obesitas.
c. Riwayat keluarga.
d. Kelompok etnik.
e. Keturunan.
f. Pola makan
g. Stress dan kurang olah raga
h. Gangguan tidur(Riyadi & Sukarmin, 2013).

2.1.4 Patofisiologi
Pada DM tipe-1 terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-
sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemia puasa terjadi
akibat produkasi glukosa yang tidak terukur oleh hati.Disamping itu gkukosa yang berasal
dari makanan tidak dapat di simpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan
menimbulkan hiperglikemia posprandial (sesudah makan).Jika konsentrasi glukosa dalam
darah cukup tinggi maka ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang
tersaingi keluar, akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosuria). Ketika
glukosa yang berlebihan di ekskresikan ke dalam urine, ekskresi ini akan disertai
pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini dinamakan dieresis
osmotic. Sebagai akibat dari kehilangan cairan berlebihan, pasien akan mengalami
penngkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia).
Rasa lelah dan kelemahan otot akibat katabolisme protein di otot dan
ketidakmampuan sebagai besar sel untuk menggunakan glukosa sebagai energy. Aliran
darah yang buruk pada pasien Diabetes Mellitus kronis juga berperan menyebabkan
kelelahan.
DM tipe 2 (NIDDM) terjadi pada 90% dari semua kasus DM dan biasanya ditandai
dengan resistensi insulinrelative.Resistensi insulin ditandai dengan peningkatan lipolisis
dan produksi asam lemak bebas.Peningkatan produksi glukosa hepatik, dan penurunan
pengambilan glukosa pada otot skelet. Disfungsi sel β mengakibatkan gangguan pada
pengontrolan glukosa darah DM tipe 2 lebih disebabkan karena gaya hidup penderita
Diabetes kelebihan kalori. Kurangnya olahraga dan obesitas dibandingkan pengaruh
genetik. Diabetes yang disebabkan oleh faktor lain (1-2% dari semua kasus Diabetes)
termasuk gangguan endokrin (misalnya akromegali, sindrom cushing). Diabetes Mellitus
gestational (DMG), penyakit pankreas eksokrin (pancreatitis), dan karena obat
(glukokortikoid, pentamidin niasindan a-interferon). Gangguan glukosa puasa dengan
gangguan toleransi glukosa terjadi pada pasien dengan kadar glukosa plasma lebih tinggi
dari normal tetapi tidak termasuk dalam DM. gangguan ini merupakan faktor resiko untuk
berkembang menjadi penyakit DM dan kardiovaskular yang berhubungan dengan sindrom
resistensi insulin(Solikha, 2014).
Sebagian besar patologi DM dapat di hubungkan dengan efek utama kekurangan insulin
yaitu :
a. Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel-sel tubuh, yang mengakibatkan peningkatan
konsentrasi glukosa darah sampai setinggi 300 sampai 1200 mg per 100 ml.
b. Peningkatan mobilisasi lemak dan daerah penyimpanan lemak sehingga menyebabkan
kelainan metabolisme lemak maupun pengendapan lipid pada dinding vaskuler.
c. Pengurangan protein dalam jaringan tubuh(Riyadi & Sukarmin, 2013).
2.1.5 Manifestasi Klinis
Gejala diabetes melitus tipe I muncul secara tiba-tiba pada saat usia anak-anak
sebagai akibat dari kelainan genetika, sehingga tubuh tidak memproduksi insulin dengan
baik. Gejala-gejalanya antara lain adalah :
a. Sering buang air kecil.
b. Terus-menerus haus dan lapar
c. Berat badan menurun
d. Kelelahan
e. Penglihatan kabur
f. Infeksi pada kulit yang berulang
g. Meningkatnya kadar gula dalam darah dan air seni
h. Cenderung terjadi pada mereka yang berusia dibawah 20 tahun
Sedangkan gejala diabetes melitus tipe II muncul secara perlahan-lahan sampai
menjadi gangguan yang jelas seperti gejala diabetes melitus tipe I, yaitu :
a. Cepat lelah, kehilangan tenaga dan merasa tidak fit
b. Sering buang air kecil
c. Terus-menerus lapar dan haus
d. Kelelahan berkepanjangan dan tidak ada penyebabnya
e. Mudah sakit yang berkepanjangan
f. Biasanya terjadi pada mereka yang berusia diatas 40 tahun.
Gejala lain yang muncul biasanya adalah :
a. Penglihatan kabur
b. Kesemutan
c. Luka yang lama sembuh
d. Kaki terasa kebas, geli atau terasa terbakar
e. Infeksi jamur pada saluran reproduksi wanita
f. Impotensi pada pria
(Maulana,2008)

2.1.6 Penatalaksanaan
Menurut (Brunner & Suddarth, 2014) penatalaksanaan dibagi menjadi dua yaitu :
1. Penatalaksanaan medis
Tujuan utama terapi yaitu menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah
guna mengurangi munculnya komplikasi vascular dan neropatik. Tujuan terapeutik
pada setiap tipe DM yaitu untuk mencapai kadar glukosa darah normal (euglikemia)
tanpa disertai hipoglikemia dan gtanpa mengganggu aktivitas pasien sehari-hari. Ada
lima komponen penatalaksanaa DM nutrisi, olahraga, pemantauan, terapi
farmakologis, dan edukasi.
a. Terapi primer untuk DM tipe 1 yaitu insulin.
b. Terapi primer untuk DM tipe 2 yaitu penurunan berat badan.
c. Olahraga penting untuk meningkatkan keefektifan insulin.
d. Penggunaan agens hipoglikemik oral apabila diet dan olahraga tidak tidak berhasil
mengontrol kadar gula darah. Injeksi insulin dapat digunakan pada kondisi akut.
e. Mengingat terapi bervariasi selama perjalanan penyakit karena adanya perubahan
gaya hidup dan status fisik serta emosional dan juga kemajuan terapi, terus kaji
dan modifikasi rencana terapi serta lakukan penyesuaian terapi setiap hari. Edukasi
di perlukan unruk pasien dan keluarga.
2. Penatalaksanaan nutrisi
a. Tujuan untuk mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah dan tekanan
darah dalam kisaran normal (atau seaman mungkin mendekati normal) dan profil
lipid dan lipoprotein yang menurunkan resiko penyakit vascular, mencegah, atau
setidaknya memperlambat munculnya komplikasi kronik.
b. Rencana makan harus mempertimbangkan pilihan makanan pasien, gaya hidup,
waktu biasanya pasien makan, dan latar belakang etnis serta budaya pasien.
c. Bagi pasien yang membutuhkan insulin untuk membantu mengontrol kadar gula
darah, diperlukan konsistensi dalam mempertahankan jumlah kalori dan
karbohidrat yang di konsumsi pada setiap sesi makan.
d. Edukasi awal membahas pentingnya kebiasaan makan yang konsisten, keterkaitan
makanan dan insulin, dan penetapan rencana makan individual.
e. Informasi dasar merupakan hal yang wajib pasien ketahui untuk bertahan hidup dan
mencakup patofisiologi sederhana.
f. Pendidikan yang lebih lanjut dan lebih mendalam mencakup penyuluhan yang lebih
detail terkait keterampilan bertahan hidup dan penyuluhan tentang tindakan
preventif guna mencegah komplikasi DM jangkan panjang, seperti perawatan kaki,
perawatan mata, hygiene umum, dan penatalaksanaan faktor resiko (mis,
pengontrolan tekanan darah dan normalisasi glukosa darah)(Smeltzer, 2014).

2.1.7 Data Penunjang


Menurut (Sujono Riyadi Sukarmin, 2013) Pemeriksaan gula darah pada pasien DM antara
lain :
a. Gula darah puasa (GDO) 70-110 mg/dl kriteria diagnostic untuk DM > 140 mg/dl
paling sedikit dalam dua kali pemeriksaan atau >140 mg/dl disertai gejala klasik
hiperglikemia, atau IGT 115-140 mg/dl.
b. Gula darah 2 jam post prodigal<140 mg/dl digunakan untuk skrining atau evaluasi
pengobatan bukan didiagnostik.
c. Gula darah sewaktu <140 mg/dl digunakan untuk skrining bukan diagnostik.
d. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) GD<115 mg/dl ½ jam, 1 jam, 1½ jam <200 mg/dl,
2 jam <140 mg/dl. TTGO dilakukan hanya pada pasien yang telah bebas dan diet dan
beraktivitas fisik 3 hari sebelum tes tidak di ajurkan pada (1) hiperglikei yang sedang
puasa, (2) orang yang mendapat thiazide, dilantin, propanolol, lasik, thyroid, estrogen,
pil KB, steroid. (3) pasien yang dirawat atau sakit akut atau pasien inaktif.
e. Tes Toleransi Glukosa Intravena (TTGI), dilakukan jika TTGO merupakan kontra
indikasi atau terdapat kelainan gastrointestinal yang mempengaruhi absorbs glukosa.
f. Tes Toleransi Kortison Glukosa digunakan jika TTGO tidak bermakna, kortison
menyebabkan peningkatan kadar gula darah abnormal dan menurunkan penggunaan
gula darah perifer pada orang yang berpredisposisi menjadi DM kadar glukosa darah
140 mg/dl pada akhir 2 jam dianggap sebagai hasil positif.
g. Glycosatet Hemoglobin berguna dalam memantau kadar glukosa garam rata-rata
selama lebih 3 bulan.
h. C-Pepticle 1-2 mg/dl (puasa) 5-6 kali meningkat setelah pemberian glukosa. Untuk
mengukur proinsulin (produks samping yang tak aktif secara biologis) dari
pembentukan insulin dapat membantu mengetahui sekresi insulin.
i. Insulin serum puasa: 2-20 mu/ml post glukosa sampai 120 mu/ml, tidak digunakan
secara luas dalam klinik, dapat digunakan dalam diagnose banding hipoglikemia atau
dalam penelitian DM(Riyadi & Sukarmin, 2013)

2.1.8 Komplikasi
Komplikasi penyakit diabetes mellitus diklasifikasikan menjadi dua, yaitu
komplikasi yang bersifat akut dan kronis (menahun). Komplikasi akut merupakan
komplikasi yang harus ditindak cepat atau memerlukan pertolongan dengan segera. Ada
pun komplikas kronis merupakan komplikasi yang timbul setelah penderita mengidap
diabetes mellitus selama 5-10 tahun atau lebih.
Komplikasi akut meliputi ketoasidosis diabetika (DKA), koma non ketosis
hyperosmolar (koma hiperglikemia), dan hiperglikemia. Sementara kompliasi kronis
meliputi komplikasi mikrovaskular(komplikasi ini dimana pembuluh-pembuluh rambut
kuku atau menyempit sehingga organ yang seharusnya mendapatkan suplai darah dari
pembuluh-pembuluh tersebut menjadi kekurangan suplai) dan komplikasi makrovaskuler
(komplikasi yang mengenai pembuluh darah arteri yang lebih besar sehingga menjadi
aterosklerosis)
Berikut beberapa kerusakan dan gangguan yang terjadi akibat komplikasi penyakit
diabetes mellitus:
a. Kerusakan pada pembuluh darah(vasculopathy)
Kerusakan pada dinding pembuluh darahakan mengakibatkan masalah pada jantung
dan otak, serta gangguan pada pembuluh darah di kaki. Akibatnya:
 Makro dan mikrovaskuler akan terganggu
 Peningkatan tekanan darah, dan
 Infark hati dan cerebral
Penyempitan pembuluh darah disebabkan adanya tumpukan lemak pada dinding
pembuluh darah. Penumpukan ini tidak hanya diakibatkan oleh pola makan yang tidak
normal ,tetapi juga disebabkan oleh control pada metabolism karbohidrat dihati tidak
normal. Perubahan ini menyebabkan meningginya LSL-kolesterol dan trigliserida serta
menurunnya HDL-kolesterol. HDL justru dibutuhkan u\ntuk melindungi dinding
pembuluh darahdari proses penyempitan.
b. Gangguan fungsi jantung
Gangguan pada pembuluh darah akan mengakibatkan aliran darah ke jantung
terhambat atau terjadi ischemia (kekurangan oksigen ke otot jantung), timbul angina
pectoris (sakit didaerah dad, lengan, dan rahang), bahkan pada akhirnya bias
menyebabkan serangan jantung. Terkadang still infarct (infark jantung) muncul tanpa
keluhan angina pectoris.
c. Gangguan fungsi pembuluh darah
Pasien sering merasakan berat dibelakang kepala, leher, dan pundak,
pusing(vertigo) serta pendengaran dan penglihatan terganggu. Jika hal ini dibiarkan,
gangguan neurologis akan muncul, misalnya dalam bentuk stroke yang disebabkan
oleh penyumbatan atau perdarahan
d. Gangguan pembuluh darah dikaki
Berkurangnya sirkulasidarah dan oksigen ke kaki atau betis menyebabkan rasa
sakit di betis muncul sewaktu berjalan kaki. Pasien harus berhenti atau duduk untuk
menghilangkan rasa sakit tersebut. Selain penyumbatan pembuluh darah besar pada
kaki , mikro sirkulasi dikaki juga mudah ter\hambat. Hal ini adalah penyebab utama
gangrene (pembusukan jaringan) yang sering diderita oleh pasien diabetes.
e. Tidak stabilnya pembuluh darah
Tidak stabilnya atau seimbangnya tekanan darah yakni kadang tinggi atau
rendah banyak terjadi pada pasien diabetes mellitus. Tekanan darah tinggi disebabkan
oleh buruknya kondisi pembuluh darah dan memburuknya fungsi ginjal.
Tekanan darah rendah dalam dunia kedokteran barat memnag tidak banyak
mendapat perhatian, kecuali dalam situasi syock. Namun, menurut kedokteran timur,
menurunnya tekanan darah merupakan sinyal dari defisiensi chi dan terhambatnya
aliran darah ( stagnasi darah). Untuk mengetahui dengan pastinya lokasi hambatan itu,
perlu dilakukan hara diagnostic (diagnostic perut) atau refleksi zona diagnostic.
f. Gangguan pada sistem saraf
Neuropathy adalah salah satu komplikasi diabetes mellitus. Kerusakan pada
system saraf ini lebih mengacu pada saraf sensorik (saraf perasa), menimbulkan rasa
sakit, esemutan, serta baal (mati rasa) pada kaki tangan. Kerusakan pada system
motoric memang lebih sedikit, gangguan ini termanifestasi pada berkurangnya tenaga
otot dan volume dari jaringan otot.
g. Gangguan maat (retinopathy)
Retinopathy disebabkan oleh memburuknya kondisi mikro sirkulasi sehingga
terjadi kebocoran pada pembuluh darah retina. Hal ini bahkan bias menjadi salah satu
penyebab kebutaan.Retinopathy sebenarnya merupakan kerusakan yang unik pada
pada diabetes karena selain oleh gangguan mikrovaskuler, penyakit ini juga disebabkan
adanya biokimia darah sehingga terjadi penumpukan zat-zat tertentu pada jaringan
retina.
Gangguan awal pada retina tidak menimbulkan keluha-keluhan sehingga
penderita kebanyakan tidak mengetahui telah terkena retinopathy . hal ini baru
terdeteksi oleh ahli mata dengan opthalmoskop. Jika gangguan ini dibiarkan dan
kerusakan menjadi sangat \progesif serta menyerang daerah penting(macula) maka
penderita dapat kehilangan penglihatn.
Katarak dan glaucoma merupakan salah satu dari komplikasi mata pada pasien
diabetes. Oleh karenya, selain mengontrol mata pada dokter mata secara rutin juga
mutlak dilakukan oleh pasien diabetes.
h. Gangguan ginjal (nefropathy)
Sebab utama gangguan ginjal pada pasien diabetes adalah buruknya
mikrosirkulasi. Gangguan ini sering muncul parallel dengan gangguan pembuluh darah
di mata. Penyebab lainnya adalah proses kronis dari hipertensi yang akhornya merusak
ginjal. Kebanyakan pasien sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit ginjal.
i. Gangguan pada kaki karena diabetesmellitus
Kaki adalah bagian tubuh yang paling snesitif pada pasien diabetes mellitus.
Ada beberapa factor yang berperan dalam perubahan ini, yaitu:
 Terhambatnya sirkulasi menimbulkan rasa sakit pada betis kaki sewaktu berjalan,
gangrene (gangguan makro dan mikrosirkulasi-vasculopathy).
 Gangguan pada saraf (neuropathy), yakni kerusakan pada saraf di otot, kulit dan
kerusakan saraf otonom yang mengganggu regulasi keringat.
 Sensitive terhadap infeksi dikaki
j. Gangguan pada otot dan sendi
Terhambatnya ruang gerak sendi dan otot banyak diderita pada orang tua. Namun,
kini gejala tersebut kerap dijumpai apada anak mida yang menderita diabetes mellitus
tipe 2.
Kedokteran oriental menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh adanya
stagnasi dari cairan tubuh dan stagnasi darah yang mempengaruhi jaringan konektiva.
Walaupun tidak tampak perubahan pada pemeriksaan darah seperti hiper-agregasi
trombosit , tetapi dalam pemeriksaan lidah, nadi, dan hara hal ini bias terdeteksi. (Ir.
B. Mahendra, 2008)