Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR – A


(PERMASALAHAN / LATAR BELAKANG PEMBUANGAN KOTORAN MANUSIA
DAN LIMBAH CAIR)
Disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah Pengolahan Limbah Cair – A yang diampu oleh
Ferry Kriswandana, SST., MT

OLEH :
KELOMPOK 1

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN SURABAYA
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN SURABAYA
PROGRAM STUDI DIV KESEHATAN LINGKUNGAN SURABAYA
2016
NAMA KELOMPOK :

1. Ika Agustina Windasari (P27833314001)


2. Intan Noer Auliah (P27833314002)
3. Evi Nurdiana (P27833314003)
4. Liana Dewi Wahyuni (P27833314004)
5. Nadia Putri Ramadhani (P27833314005)
6. Fadlillah Fauziah Rahmah (P27833314006)
7. Farida Aisyah Nabilla Balgis (P27833314008)
8. Yuliana Sarasati (P27833314009)
9. Oktaviana Krissanti (P27833314010)
10. Fitria Rizki Ramadhani (P27833314011)
LATAR BELAKANG

Tinja dan limbah cair merupakan bahan buangan yang timbul karena adanya kehidupan
manusia, selain air hujan sebagai salah satu komponen limbah cair yang timbul secara alamiah dari
aktivitas alam. Tinja dan limbah cair timbul sebagai akibat dari adanya kehidupan manusia sebagai
makhluk individu maupun makhluk sosial. Kedudukan manusia sebagai makhluk yang dominan
dalam menentukan terjadinya perubahan di berbagai aspek kehidupan dan lingkungan dituntut
untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Menurut pakar psikologi, Abraham Maslow
(Purwanto, Ngalim, 1990, hlm 77-78), kebutuhan pokok manusia mencakup kebutuhan fisiologis,
kebutuhan rasa aman dan perlindungan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, serta
kebutuhan aktualisasi diri. Untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia secara kolektif ataupun
perseorangan, muncul berbagai kegiatan manusia, baik langsung ataupun tidak langsung
memerlukan adanya air. Sebagai contoh, untuk memenuhi kebutuhan pakaian didirikan pabrik
tekstil dan industry pakaian jadi; untuk memenuhi kebutuhan makanan dan minuman didirikan
pabrik roti, makanan dalam kaleng, minuman lunak, sari buah, tahu, tempe, kecap dan sebagainya;
untuk memenuhi kebutuhan kesehatan didirikan rumah sakit. Untuk memproduksi bahan makanan
dilaksanakan usaha pertanian. Penggunaan air untuk berbagai kegiatan itu menghasilkan limbah
cair karena tidak semua air yang digunakan terikut sebagai bagian dari barang atau bahan yang
diproduksi.

Masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat timbul di berbagai daerah, baik di


perkotaan maupun di pedesaan, karena produk limbah cair yang tidak ditangani secara semestinya.
Di berbagai tempat terjadi pencemaran badan air, sungai atau telaga, yang menimbulkan kematian
ikan yang hidup didalamnya, atau yang menyebabkan air tidak dapat dikonsumsi secara layak oleh
manusia. Di beberapa kota besar (misal Jakarta, Semarang, dan Surabaya) dan berbagai kota lain
sering terjadi peristiwa banjir karena system saluran pembuangan limbah cair dan air hujan tidak
bekerja dengan semestinya. Hal itu terjadi akibat sumbatan, endapan lumpur, kurang perawatan
atau karena perencanaan serta pelaksaan pembangunan tidak sesuai dengan ketentuan teknis.
Limbah cair yang tertahan atau tergenang di suatu lokasi dalam waktu yang relative lama dapat
menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk vektor penyakit malaria, demam berdarah, filariasis,
dan sebagainya.
Kotoran manusia disebut juga tinja, merupakan bahan buangan dari tubuh manusia yang
dikeluarkan dari anus atau rektum. Tinja merupakan bahan sisa dari proses pencernaan makanan
pada sistem saluran pencernaan manusia. Tinja merupakan bahan buangan yang sangat dihindari
oleh manusia untuk berkontak karena sifatnya yang menimbulkan kesan jijik pada setiap orang
dan bau yang sangat menyengat. Tinja juga merupakan bahan yang sangat menarik perhatian
serangga khususnya lalat dan berbagai hewan lain misalnya anjing, ayam, dan tikus karena
mengandung bahan-bahan yang dapat menjadi makanan hewan itu. Pembuangan tinja manusia
yang tidak ditangani sebagaimana mestinya menimbulkan pencemaran permukaan tanah serta air
tanah yang berpotensi menjadi penyebab timbulnya penularan berbagai macam penyakit saluran
pencernaan.

Berbagai dampak negatif pada kehidupan manusia dan lingkungan yang dapat ditimbulkan
oleh tinja dan limbah cair secara disadari atau tidak, telah mendorong tumbuh dan berkembangnya
ilmu pengetahuan dan teknologi untuk penanganan tinja dan limbah cair secara saniter. Hal ini
berarti penanganan limbah cair dilakukan dengan teknik dan prosedur yang sesuai dengan kaidah-
kaidah ilmu sanitasi dan kesehatan lingkungan. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi
penanganan tinja dan limbah cairdi satu pihak diharapkan dapat mengurangi semaksimal mungkin
terjadinya dampak negative tersebut dan di pihak lain membuka peluang kerja bagi orang yang
menaruh minat untuk terjun didalamnya. Yang disebut terakhir ini dapat dipandang sebagai
dampak positif dari permasalahan tinja dan limbah cair. Pada akhirnya, apakah dampak negatif
ataukah dampak positif yang akan dirasakan oleh manusia sebagai individu atau sebagai kelompok
ditentukan oleh manusia itu sendiri. Atas dasar itu, dalam rangka pembangunan yang berwawasan
lingkungan secara berkesinambungan, ilmu pengetahuan dan teknologi pembuangan tinja dan
limbah cair perlu dimasyarakatkan baik di lingkungan pendidikan maupun masyarakat umum,
pengusaha industry, hotel, rumah sakit, kawasan perdagangan, kawasan wisata, dan sebagainya.

TUJUAN PEMBUANGAN TINJA DAN LIMBAH CAIR

Masalah tinja dan limbah cair berhubungan erat dengan masalah lingkungan hidup dan
masalah kesehatan masyarakat. Masalah yang ada akan dieliminasi, ditekan, atau dikurangi apabila
faktor penyebab masalah dikurangi derajat kandungannya, dijauhkan, atau dipisahkan dari kontak
dengan manusia. Sebagai contoh, agar tidak berperan sebagai sumber penularan penyakit tinja
harus dibuang dengan cara ditampung serta diolah pada suatu lubang dalam tanah atau bak tertutup
yang tidak terjangkau oleh lalat, tikus, dan kecoa serta harus berjarak minimal 15 meter dari
sumber air minum. Limbah cair dari suatu sumber baru boleh dibuang ke lingkungan tanah atau
badan air setelah melalui proses pengolahan yang dapat menekan kandungan bahan pencemarnya
sampai tingkatan tertentu yang sesuai dengan baku mutu limbah cair.

Sesuai dengan alas an tersebut, Udin Djabu et al. (1990/1991, hlm.7) menyatakan bahwa
tujuan dari pembuangan tinja dan limbah cair adalah :

1. Mengurangi dan menghilangkan pengaruh buruk tinja dan limbah cair pada kesehatan
manusia dan lingkungannya.
2. Meningkatkan mutu lingkungan hidup melalui pengolahan, pembuangan dan/atau
pemanfaatan tinja dan limbah cair untuk kepentingan hidup manusia dan lingkungannya.

HUBUNGAN PEMBUANGAN TINJA DAN LIMBAH CAIR DENGAN PELESTARIAN


LINGKUNGAN DAN KESEHATAN MASYARAKAT
Hubungan dengan Pelestarian Lingkungan

Pelestarian lingkungan adalah upaya nyata yang dilaksanakan manusia meliputi berbagai
kegiatan yang ditujukan pada manusia dan faktor-faktor lingkungan secara terpadu dan
komprehensif. Upaya itu bertujuan untuk memotivasi manusia untuk berbuat akrab terhadap
lingkungan dan memelihara kapsitas sumber daya alam agar dapat berfungsi sebagai sumber
pemenuhan kebutuhan manusia untuk dapat hidup sehat dan sejahtera. Sebagaimana telah
dikemukakan di atas, tinja dan limbah cair yang tidak ditangani semestinya dapat menimbulkan
dampak negatif pada manusia dan lingkungannya. Keseimbangan ekosistem tanah, air, dan udara
dapat terganggu karena pencemaran ekosistem itu oleh berbagai jenis bahan pencemar biologis,
kimiawi, maupun fisik yang terdapat pada tinja dan limbah cair. Daya dukung lingkungan akan
menurun sampai tingkat yang sangat kritisakibat pencemaran tinja dan limbah cair pada ekosistem.
Pembuangan tinja dan limbah cair yang dilaksanakan semestinya secara aman dan saniter akan
mencegah pencemaran lingkungan. Hal ini jelas sangat mendukung upaya pelestarian lingkungan.

Hubungan dengan Kesehatan Masyarakat

Pembuangan tinja dan limbah cair yang dilaksanakan secara saniter merupakan salah satu
kegiatan dalam rangka penyehatan lingkungan yang lain, seperti penyediaan air bersih,
pembuangan sampah, hygiene sanitasi makanan dan minuman, pengendalian vektor, hygiene
perusahaan dan kesehatan kerja, pengendalian pencemaran lingkungan fisik, sanitasi tempat umum
penyehatan perumahan dan lingkungan pemukiman. Dalam rangka menyehatkan lingkungan,
pembuangan tinja dan limbah cair tidak berdiri sendiri tetapi bersama-sama dengan berbagai upaya
penyehatan lingkungan yang lain. Dengan demikian, penurunan angka kejadian penyakit diare
yang terjadi sebagai hasil pelaksanaan program perbaikan sistem pembuangan tinja dan limbah
cair, mungkin pula merupakan hasil dari pelaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan lain yang
dilaksanakan pada saat yang sama.

Hubungan pembuangan tinja dan limbah cair dengan kesehatan masyarakat dapat dilihat
dari contoh yang diberikan oleh Fair & Geyer (dalam Wagner & Lanoix, 1958, hlm.10) yang
menyatakan bahwa telah terjadi penurunan angka kematian karena penyakit tifus dan paratifus
sampai menjadi sepertiga dari angka semula dan bahkan sampai nol pada saat dilaksanakan
program pembangunan jamban di Negara bagian West Virginia, AS. Menurut Okun & Ponghis
(1975, hlm.4), pembuangan limbah cair yang saniter akan mengurangi kemungkinan terjadinya
infeksi penyakit amoebiasis, ascariasis, cholera, penyakit cacing tambang, leptospirosis,
shigellosis, strongyloidiasis, tetanus, trichuriasis, dan tifus. Uraian singkat tentang daerah
kejadian, kuman penyebab, reservoir, dan cara pemindahannya dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Menurut Wagner & Lanoix (1958, hlm.9), dengan pembuangan tinja yang saniter insidensi
penyakit kolera, tifus dan paratifus, disentri, diare pada anak-anak, penyakit cacing tambang,
ascariasis, bilharziasis, dan infeksi serta investasi parasit pada usus dapat diturunkan.

Tabel 1.1 Beberapa penyakit menular pada manusia yang limbah cair mungkin berperan
sebagai reservoir atau sumber infeksi *)

Kuman Penyebab
Penyakit Daerah Kejadian Cara pemindahan
dan Reservoir
Amoebiasis : Diseluruh dunia, Entamoeba histolytica Lewat air,
suatu penyakit usus sering menyerang  Sejenis pemindahan tinja
50% atau lebih protozoa yang segar dari tangan ke
penduduk didaerah dikeluarkan mulut, sayur-sayuran
yang kekurangan dari tubuh yang terkontaminasi,
fasilitas khususnya di manusia lalat dan tangan
negara tropis melalui tinja penjamah makanan
yang ada tanahnya
Ascariasis : Diseluruh dunia Ascaris lumbricoides Dengan pemindahan
suatu penyakit usus dengan frekuensi  Sejenis cacing secara langsung
tersebar di Negara gelang yang ataupun tidak
tropis yang banyak dikeluarkan langsung telur-telur
hujan/lembab, dari tubuh yang berembrio
prevalensinya bisa manusia lewat dengan infeksi dari
50% tinja tanah ke mulut atau
dipindahkan oleh
debu
kolera : Endemis di India dan Vibrio cholera Paling biasa melalui
Bangladesh, dimana air, tetapi juga bisa
suatu infeksi sitemik ia menyebar dalam  Sejenis bakteri melalui makanan,
yang akut bentuk epidemic dari yang lalat, dan tanah yang
waktu ke waktu strain dikeluarkan terkontaminasi
E1 Tor, endemis di dari tubuh
Pasifik Selatan, Asia, manusia lewat
dan Timur Tengah tinja dan
muntahan
Penyakit cacing Endemis secara luas Necator americanus Larva dalam tanah
tambang (hookworm di kebanyakan dan Ancylostoma yang lembab/basah
disease) : Negara tropis dan duodenale dan hangat
suatu infeksi saluran subtropis, termasuk  Nematode menembus kulit,
usus oelh cacing Negara-negara di yang biasanya kulit kaki
penghisap darah Amerika, daerah dikeluarkan
Mediterania, dan Asia lewat tinja dari
manusia yang
terinfeksi
Leptospirosis : Diseluruh dunia Leptospira icterohae- Secara kontak dengan
suatu infeksi sitemik merupakan penyakit morrhagiae dan air, lumpur, atau
yang akut yang berhubungan lainnya tanah yang
dengan pekerjaan,  Dikeluarkan terkontaminasi oleh
biasanya pada petani lewat urine urine hewan yang
yang berkontak hewan yang terinfeksi
dengan tanah atau air terinfeksi,
yang terkontaminasi termasuk
lembu, anjing,
binatang
pengerat
(rodent), dan
babi
Shigellosis : Diseluruh bagian dari Dua puluh tujuh dengan kontak
penyakit intestinal dunia, daerah Kutub serotype dari genus langsung melalui
yang akut Utara, daerah Iklim shigella tinja, pemindahan
Sedang, dan daerah  Sejenis bakteri melalui mulut, tetapi
Tropis yang juga melalui
dikeluarkan makanan, alat, dan
lewat tinja tanah yang
manusia yang terkontaminasi
terinfeksi
Strongyloidiasis : Distribusi geografis Strongyloides Larva yang infektif
suatu penyakit infeksi sangat mirip dengan stercoralis dalam tanah yang
biasanya pada saluran penyebaran cacing  Sejenis cacing lembab dan
intestinal (usus) tambang yang terkontaminasi,
dikeluarkan menembus kulit
oleh manusia
atau anjing
biasanya pada
kaki
Tetanus : Diseluruh dunia, Clostridium tetani Spora dalam tanah,
suatu penyakit akut terutama merupakan  Sejenis basil dijalan, debu, atau
yang sering penyebab kematian yang kotoran manusia atau
mematikan (fatal) yang penting didaerah dikeluarkan hewan, masuk
disebabkan oleh pedesaan di Negara oleh hewan, kedalam tubuh
racun basil tetanus Tropis terutama kuda, melalui luka,
yang tahan biasanya yang berupa
hidup untuk luka tusukan
periode yang
lama dalam
tanah
Trichuriasis : Tersebar di seluruh Trichuris trichuria Pemasukan telur
dunia (cosmopolitan), cacing yang berasal
penyakit infeksi pada terutama didaerah  Cacing yang dari tanah yang
usus besar yang panas dan dikeluarkan terkontaminasi lewat
basah/lembab lewat tinja mulut
manusia yang
terinfeksi
Tifus (thypoid fever) : Tersebar luas di Salmonella typhi Sarana penyehatan
suatu penyakit usus seluruh dunia dan  Suatu basil yang utama adalah air
merupakan penyakit yang dan makanan yang
biasa di Timur Jauh, dikeluarkan terkontaminasi;
Timur Tengah, Eropa lewat tinja dan sayur-sayuran yang
Timur, Amerika urine manusia tumbuh pada tanah
Tengah, Amerika yang terinfeksi yang terkontaminasi
Selatan, dan Afrika merupakan faktor
yang penting di
beberapa Negara
seperti halnya lalat
*)Diterjemahkan dari Okun & Ponghis (1975, hlm.4)

Menurut Anderson & Arnstein (dalam Wagner & Lanoix, 1958, hlm.11), terjadinya proses
penularan penyakit diperlukan faktor sebagai berikut :

1. Kuman penyebab penyakit


2. Sumber infeksi (reservoir) dari kuman penyebab
3. Cara keluar dari sumber
4. Cara berpindah dari sumber ke inang (host) baru yang potensial
5. Cara masuk ke inang yang baru
6. Inang yang peka (susceptible)

Proses pemindahan kuman penyakit dari tinja sebagai pusat infeksi sampai inang baru
(Gambar 1.2) dapat melalui berbagai media perantara antara lain air, tangan, serangga, tanah,
makanan, susu, serta sayuran. Pembuangan tinja dan limbah cair yang dilaksanakan secara saniter
akan memutuskan rantai penularan penyakit dengan menghilangkan faktor keempat dari enam
faktor itu dan merupakan penghalang sanitasi (sanitation barrier) kuman penyakit untuk berpindah
dari tinja ke inang yang berpotensial.

Limbah cair yang berasal dari kegiatan industri dapat mengandung bahan pencemar
kimiawi berupa senyawa atau unsur logam berat tertentu (Hg, Ni, Cr, Cd, Pb, Mn, Zn, Cu, Fe)
yang dapat terakumulasi dalam tubuh manusia dan menyebabkan gangguan kesehatan. Pengaruh
beberapa unsur atau senyawa kimia pada kesehatan manusia dapat dilihat pada Tabel 1.2.

Gambar 1.2 Jalur pemindahan kuman penyakit dari tinja ke pejamu yang baru (Wagner &
Lanoix, 1958, hlm.12)
Tabel 1.2 Pengaruh beberapa unsur/senyawa kimia pada kesehatan manusia

Unsur/Senyawa Pengaruh Pada Kesehatan Manusia


Nitrat (NO3) Dapat menyebabkan terjadinya methemoglobinemia pada bayi yang
mengkon sumsi air dengan konsentrasi NO3 lebih dari 45 mg/l
Cadmium (Cd) Dapat menyebabkan kerusakan ginjal apabila konsentrasi Cd pada kulit
ginjal mencapai 200 gr/gr berat badan
Timah Hitam Dapat menimbulkan keracunan pada syaraf. Pada anak-anak dapat
(Pb) menyebabkan kerusakan jaringan syaraf otak, anemia, dan kelumpuhan
apabila kandungan Pb dalam air minum lebih besar dari 0,1 mg/l
Mercury (Hg) Dapat menimbulkan penyakit minamata (syaraf) bila kandungan Hg dalam
air lebih dari 0.001 mg/l. Dalam bentuk metil merkuri akan meracuni sel-sel
tubuh, merusak ginjal, hati, dan syaraf, menyebabkan keterbelakangan
mental, dan cerebral palcy pada bayi
Chrom (Cr) Dapat menyebabkan kanker pada kulit dan alat pernapasan bila kandungan
Cr dalam air lebih dari 0,005 mg/l
Cobalt (Co) Dapat merusak sel tubuh
Cyanida (CN) Dapat mengganggu jaringan tubuh sehingga tidak mampu mengubah
oksigen
Hydrocarbon Bersifat karsinogenik bagi manusia
(HC)
Arsen (As) Bersifat karsinogenik dan dapat menyerang sistem pencernaan, pernapasan,
syaraf, hati, kulit, dan darah. Jika kandungan As dalam air lebih dari 0,005
mg/l akan menjadi racun
Tembaga (Cu) Dapat menyebabkan kerusakan pada hati bila kandungan Cu dalam air lebih
dari 1,5 mg/l
Barium (Ba) Dapat mengakibatkan gangguan syaraf, efek hati, saluran darah,
menimbulkan rasa mual, diare, dan gangguan saluran pencernaan jika
kandungan Ba dalam limbah cair lebih besar dari 1 mg/l
Argentum (Ag) Dapat menyebabkan gangguan pada mata dengan terjadinya endapan pada
kulit mata dan mucous membrane apabila kandungan Ag dalam air lebih
besar dari 0,005 mg/l
Ammonia bebas Dapat menyebabkan iritasi pada mata jika kandungan NH3 dalam air lebih
(NH3) besar dari 0 mg/l
Fluorida (F) dapat menyebabkan kerusakan gigi (fluorosis) pada anak-anak berupa noda
coklat yang tidak mudah hilang pada gigi jika kandungan fluoride lebih besar
dari 2 mg/l
Dapat merusak system tulang manusia jika kandungan fluoride dalam air
minum antara 8-20 mg/l
Dapat menyebabkan gigi rapuh dan mudah patah jika orang yang berumur
20 tahun atau lebih menggunakan fluoride dalam kadar 20 mg/l
Nitrit (NO2) Dapat menyebabkan hambatan perjalanan oksigen dalam tubuh
(methaemoglobinemia) dan efek racun bila kandungan NO2 dalam air lebih
besar dari 0 mg/l
Phosphat (PO4) Dapat menyebabkan gangguan tulang apabila kandungan PO4 dalam air rata-
rata dalam waktu 24 jam lebih dari 2 mg/l
Sumber : Udin Djabu dkk. (1990/1991)

SUMBER TINJA DAN LIMBAH CAIR

Pengertian Tinja dan Limbah Cair

Pengertian Tinja

Tinja adalah bahan buangan yang dikeluarkan dari tubuh manusia malaui anus sebagai sisa
dari proses pencernaan makanan disepanjang sistem saluran pencernaan (tractus digestifus).
Beberapa kepustakaan menyebut tinja dengan kotoran manusia. Istilah ini sebenarnya kurang tepat
karena pengertiannya mencakup seluruh bahan buangan yang dikeluarkan dari tubuh manusia
termasuk karbon monoksida (CO2) yang dikeluarkan sebagai sisa dari proses pernapasan, keringat,
lendir dari ekskresi kelenjar, dan sebagainya. Dalam ilmu kesehatan lingkungan, dari berbagai
jenis kotoran manusia yang lebih dipentingkan adalah tinja (faeces) dan air seni (urine) karena
kedua bahan buangan ini memiliki karakteristik tersendiri dan dapat menjadi sumber penyebab
timbulnya berbagai macam penyakit saluran pencernaan (Azwar, 1995, hlm.74). Selanjutnya,
dalam buku ini pengertian tinja mencakup juga air seni yang dikeluarkan dari tubuh manusia
melalui system urogenitalis.

Pengertian Limbah cair

Berbagai kepustakaan menyebutkan pengertian limbah cair dalam istilah maupun batasan
yang berbeda namun secara umum mengandung pengertian yang sama. Batasan limbah cair dari
berbagai sumber dikemukakan berikut ini.

1. Okun & Ponghis (1975, hlm.xii) menyatakan :


“…the word ‘wastewater’… should be taken to mean all liquid domestic wastes (including
sewage) and all industrial wastes discharged to public sewerage system, but not rain water
or surface drainage”.
Yang artinya :
“…kata limbah cair…seharusnya dipakai untuk mengartikan semua limbah cair rumah
tangga, termasuk air kotor dan semua limbah industri yang dibuang ke sistem saluran
limbah cair kecuali air hujan atau drainase permukaan”
2. Tchobanoglous & Elliassen (1979, hlm.1) mendefinisikan limbah cair sebagai berikut :
“…a combination of the liquid or water carried wates removed from residences,
institutions, and commercial and industrial establishments, together with such
groundwater, surface water, and strom water as may be present”.
Yang artinya :
“…gabungan cairan atau sampah yang terbawa air dari tempat tinggal, kantor, bangunan
perdagangan, industri, serta air tanah, air permukaan, dan air hujan yang mungkin ada”.
3. Menurut Willgooso (Udin Djabu, 1990/1991, hlm.9)
“wastewater is water carrying wastes from homes, businesses, and industries that is
mixture of water and dissolved or suspended solids”.
Yang artinya :
“limbah cair adalah air yang membawa sampah dari tempat tinggal, bangunan
perdagangan, dan industri berupa campuran air dan bahan padat terlarut atau tersuspensi”.
4. Menurut Environmental Protection Agency (Udin Djabu, 1990/1991, hlm.9)
“wastewater is water carrying dissolved or suspended solids from homes, farms,
businesses, and industries”.
Yang artinya :
“limbah cair adalah air yang membawa bahan padat terlarut atau tersuspensi dari tempat
tinggal, kebun, bangunan perdagangan, dan industri”.

Dari beberapa definisi limbah cair tersebut, dapat disimpulkan bahwa limbah cair
Merupakan gabungan atau campuran dari air dan bahan-bahan pencemar yang terbawa oleh air,
baik dalam keadaan terlarut maupun tersuspensi yang terbuang dari sumber domestik
(perkantoran, perumahan, dan perdagangan), sumber industri dan pada saat tertentu tercampur
dengan air tanah, air permukaan, atau air hujan. Air tanah, air permukaan, dan air hujan pada
kondisi tertentu masuk sebagai komponen limbah cair, karena pada keadaan sistem saluran
pengumpulan limbah cair sudah rusak atau retak, air alam itu dapat menyatu dengan komponen
limbah cair lainnya dan harus diperhitungkan upaya penanganannya.

Sumber Tinja

Sebagaimana telah dikemukakan diatas, tinja bersumber dari manusia. Dalam


hubungannya dengan strategi penanganan tinja, manusia sebagai sumber tinja dibedakan dalam
dua macam, yaitu : manusia sebagai individu atau perorangan dan manusia sebagai kelompok.

Manusia sebagai individu

Manusia sebagai individu dalam hal ini adalah seorang manusia yang hidup sendiri dalam
suatu tempat tinggal terpisah dari individu yang menempati tempat tinggal lain atau kelompok
manusia yang satu individu dengan individu lainnya terikat dalam satu hubungan kekeluargaan
atau kekerabatan yang menempati satu tempat tinggal sebagai satu keluarga. Tinja yang dihasilkan
dari sumber ini biasanya ditangani secara perorangan oleh individu atau keluarga yang
bersangkutan dengan menggunakan sarana pembuangan tinja berupa jamban perorangan atau
jamban keluarga (private latrine). Dalam hal ini, perencanaan, pembangunanan, penggunaan, serta
pemeliharaan sarana itu merupakan tanggung jawab individu atau keluarga yang
menggunakannya.

Manusia sebagai kelompok


Manusia sebagai kelompok adalah kumpulan manusia yang bertempat tinggal di suatu
wilayah geografis dengan batas-batas tertentu. Individu dalam kelompok terikat oleh satu
hubungan kemasyarakatan yang memiliki norma kelompok yang disepakati bersama. Masalah
penanganan tinja pada kelompok ini sering bersifat sangat kompleks. Berbagai faktor penyebab
yaitu keterbatasan penyediaan lahan, kepentingan yang berbeda antara individu, faktor sumber
daya, faktor fisibilitas pengelolaan dan sebagainya sangat menentukan keberhasilan penanganan
tinja dari manusia sebagai kelompok ini. Penanganan tinja dari manusia sebagai kelompok
biasanya dilakukan secara kolektif dengan menggunakan jamban umum (public latrine). Dalam
hal ini, perencanaan, pembangunanan, penggunaan, serta pemeliharaan sarana itu merupakan
tanggung jawab kelompok individu yang bersangkutan.

Sumber Limbah Cair

Sebagaimana telah dikemukakan diatas, limbah cair bersumber dari aktivitas manusia
(human sources) dan aktivitas alam (natural sources).

Aktivitas manusia

Aktivitas manusia yang menghasilkan limbah cair sangat beragam, sesuai dengan jenis kebutuhan
hidup manusia yang sangat beragam pula. Beberapa jenis aktivitas manusia yang menghasilkan
limbah cair diantaranya adalah aktivitas dalam bidang rumah tangga, perkantoran, perdagangan,
perindustrian, pertanian, dan pelayanan jasa. Berikut adalah penjelasannya :

1. Aktivitas bidang rumah tangga

Sangat banyak aktivitas rumah tangga yang menghasilkan limbah cair antara lain adalah
mencuci pakaian, mencuci alat makan/minum, memasak makanan dan minuman, mandi, mengepel
lantai, mencuci kendaraan, penggunaan toilet, dan sebagainya. Semakin banyak jenis aktivitas
dilakukan, semakin besar volume limbah cair yang dihasilkan. Tingkat sosial, ekonomi, serta
budaya manusia akan mempengaruhi jenis aktivitas yang dilakukan sehingga secara tidak langsung
faktor itu akan berpengaruh pula pada volume limbah cair.

2. Aktivitas bidang perkantoran


Aktivitas perkantoran pada umumnya merupakan aktivitas penunjang kegiatan pelayanan
masyarakat. Beberapa contoh antara lain Kantor Pemerintah Daerah, Kantor Sekretariat DPR,
Kantor Pos, Kantor PDAM, Kantor PLN, Bank, Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kantor
Inspeksi Pajak. Limbah cair dari sumber itu biasanya dihasilkan dari aktivitas kantin yang
menyediakan makanan dan minuman bagi pegawai, aktivitas penggunaan toilet (kamar mandi,
WC, wastafel), aktivitas pencucian peralatan, dan sebagainya. Jenis aktivitas kantor, jumlah
pegawai, kebiasaan hidup bersih pegawai, dan tingkat kesadaran pegawai dalam penghematan
penggunaan air sangat mempengaruhi volume limbah cair yang dihasilkan.

3. Aktivitas bidang perdagangan

Aktivitas bidang perdagangan mempunyai variasi yang sangat luas. Variasi itu ditinjau dari
berbagai aspek yaitu jenis komoditas yang diperdagangkan, lingkup wilayah pemasaran, terpusat
atau tersebar di berbagai lokasi, kemampuan permodalan, bentuk badan/organisasi, jenis kegiatan,
pengelompokan lokasi pelaksanaan kegiatan, dan sebagainya. Ini dapat diamati pada kenyataan
yang ada di lapangan dari adanya pasar tradisional, pasar swalayan, toko, dan warung baik yang
terkelompok di kawasan perdagangan maupun yang berlokasi menyebar di sepanjang jalan atau di
tengah kawasan permukiman. Variasi pelaksanaan aktivitas perdagangan dalam berbagai aspek
tersebut itu sangat berpengaruh pada besar dan sifat masalah limbah cair yang harus ditangani.
Apabila aktivitas perdagangan berlangsung secara terpusat di kawasan perdagangan secara
terencana, penanganan limbah cair relative akan lebih mudah dilaksanakan, akan dapat dibangun
system saluran pengumpulan (sewerage system) dan instalasi pengolahan limbah cair (wastewater
treatment plant) secara kolektif dan terpadu. Kegiatan dalam bidang perdagangan yang
menghasilkan limbah cair yaitu pengepelan lantai gedung, pencucian alat makan dan minum di
restoran, penggunaan toilet, pencucian pakaian, pencucian kendaraan, dan sebagainya. Biaya
perencanaan, pembangunan, operasi, dan pemeliharaan sarana merupakan tanggung jawab
bersama para pengusaha yang melaksanakan kegiatan perdagangan di kawasan itu.

4. Aktivitas bidang perindustrian

Aktivitas bidang perindustrian juga sangat bervariasi. Variasi kegiatan bidang


perindustrian dipengaruhi antara lain oleh faktor jenis bahan baku yang diolah/diproses, jenis
barang atau bahan jadi yang dihasilkan, kapasitas produksi, teknik/jenis proses produksi yang
diterapkan, kemampuan modal, jumlah karyawan, serta kebijakan manajemen industri. Jenis
aktivitas utama yang menghasilkan limbah cair dan sifat pencemaran yang potensial ditimbulkan
dari empat belas jenis industri yang termasuk dalam kategori kelompok prioritas pertama
sebagaimana yang disebutkan oleh Clifton Potter et al. (1994, hlm.1-83) dapat dilihat pada Tabel
2.1.

Tabel 2.1 Komponen limbah cair pada berbagai jenis industri dan potensi pencemaran yang
ditimbulkan

Potensi
No. Jenis Industri Komponen Limbah Cair
Pencemaran
- Air bekas pencucian tangki dan alat
lain
- Ceceran dari kolam reaktifitasi
1. Industri etanol - Limbah bahan sisa fermentasi Fisik, Kimiawi
- Buangan dari menara pendingin
- Minyak fusel, salah satu fraksi dalam
kondisi destilasi
- Air pendingin pada kondensor
barometric
- Air dari proses pencucian pada
2. Industri gula Fisik, Kimiawi
penghilangan warna, pencucian
endapan saringan tekan, pencucian
lantai dan alat
- Air dari sisa pemrosesan (pencucian,
pembersihan, pengenceran)
Fisik, Kimiawi,
3. Industri karet - Sedikit latex yang tidak menggumpal
Biologis
- Serum yang mengandung bahan-
bahan organik dan anorganik
- Air dari proses pengulitan kayu
4. Industri kayu lapis secara hidrolik dan perlakuan awal Fisik, Kimiawi
kayu gelondongan sebelum dipotong
- Air sisa dari proses pembersihan alat
perata, perekat, dan alat pengering
- Air pendingin kompresor dan air
pendingin ketel
- Air dari penyimpanan produk
- Limbah cair dari kegiatan
penghilangan garam dari minyak
mentah
Industri kilang - Buangan dari fraksinasi dan
5. Fisik, Kimiawi
minyak perekahan
- Limbah cair dari kegiatan
polimerisasi, alkilasi
- Limbah dari kegiatan pembersihan
utilitas
- Limbah cair dari kegiatan sterilisasi,
penjernihan, dan hidrosiklon
Industri minyak
6. - Air cuci dari kegiatan pemerasan Fisik, Kimiawi
kelapa sawit
minyak, pemisahan biji/serat, dan
pencucian daging dalam
- Air pencucian peralatan dan lantai
Industri monosodium
7. - Limbah berupa lindi pada pemisahan Fisik, Kimiawi
glutamat (MSG)
Kristal asam glutamate
- Larutan berkonsentrasi tinggi dalam
bejana
- Larutan pembilas
- Pelarut pada proses pembuangan
Industri pelapisan
8. lemak Fisik, Kimiawi
logam
- Air dari kegiatan pengasaman,
pelapisan, perendaman, dan
pencelupan
- Air cucian lantai
- Larutan yang digunakan dalm unit
pemrosesan (perendaman air,
penghilangan bulu, pemberian bubur
Industri penyamakan kapur, perendaman ammonia,
9. Fisik, Kimiawi
kulit pengasaman, penyamakan,
pemucatan, pemberian warna coklat,
dan pewarnaan)
- Air bekas cuci, tetesan dan tumpahan
- Air dari proses pencucian pulp setelah
pemasakan dan pemisahan serat
secara mekanis
Industri pulp dan
10. - Air dari proses pengelantangan Fisik, Kimiawi
kertas
konvensional dengan khlor dan
penghilangan lignin pada pembuatan
pulp secara kimiawi
- Kondesat yang mengandung
ammonia, nitrogen organik, urea, dan
methanol
- Buangan dari sistem pengolahan air,
Industri pupuk
11. demineralisasi, air ketel, dan air Fisik, Kimiawi
nitrogen
pendingin
- Air bekas cuci, buangan dari
absorber, bocoran dari pompa, katup,
dan tangki penyimpan bahan
Limbah dari proses sel merkuri / sel
diafragma / sel membrane :
Industri soda - Lumpur garam
12. Fisik, Kimiawi
kostik/klorin - Bocoran, tumpahan, air cucian sel
- Kondensat
- Larutan penyerap gas sisa
- Limbah padat dan cair dari
penyaringan kostik
- Limbah cair dari proses pencucian
dan pengupasan
- Limbah cair dari pemekatan suspensi
13. Industri tapioka Fisik, Kimiawi
dan pencucian pati
- Limbah cair dari kegiatan penirisan
dan pengepresan onggok
Limbah cair dari proses pengkanjian, proses
penghilangan kanji, pengelantangan,
14. Industri tekstil Fisik, Kimiawi
merserisasi, pewarnaan, pencetakan, dan
proses penyempurnaan
Disarikan dari : Clifton Potter et al. (1994, hlm.1-38)

Jenis industri atau kegiatan yang tertera pada Tabel 2.2 potensial menghasilkan limbah
bahan berbahaya dan beracun (B3).

Yang termasuk limbah B3 adalah limbah yang memenuhi salah satu atau lebih karakteristik
berikut :

1. Mudah meledak
2. Mudah terbakar
3. Bersifat reaktif
4. Beracun
5. Menyebabkan infeksi
6. Bersifat korosif

Limbah lain yang apabila diuji dengan metode toksikologi, memiliki LD50 dibawah nilai
ambang batas yang telah ditetapkan.

Contoh limbah bahan berbahaya dan beracun sebagaimana yang dinyatakan oleh
Environmental Protection Agency (EPA) (Hardam Singh; 1976, hlm.1-8) adalah aldrin, dieldrin,
benzidine dan garam-garamnya, cadmium dan senyawa-senyawanya, cyanide dan semua senyawa-
senyawanya, DDT, endrin, mercury dan semua senyawa-senyawanya, campuran Polychlorinated
biphenyls (PCB’s), Toxaphene.

Tabel 2.2 Jenis industri/kegiatan yang potensial mengeluarkan limbah bahan berbahaya
dan beracun (B3)

No. Jenis Industri/Kegiatan No. Jenis Industri/Kegiatan


1. Pupuk 27. Fotografi
2. Pestisida 28. Baterai kering
3. Proses kloro alkali 29. Baterai sel basah
4. Resin adesif 30. Komponen / peralatan elektronik
Polimer (PVC, PE, resin sintetik) Eksplorasi dan produksi minyak, gas,
5. 31.
dan panas bumi
6. Petrokimia 32. Kilang minyak dan gas bumi
7. Pengawetan kayu 33. Pertambangan
Peleburan/pengolahan besi dan baja PLTU yang menggunakan bahan bakar
8. 34.
batu bara
9. Operasi penyempurnaan baja 35. Penyamakan kulit
10. Peleburan timah hitam (Pb) 36. Zat warna dan pigmen
11. Peleburan dan pemurnian tembaga 37. Farmasi
12. Pabrik tinta 38. Rumah sakit
13. Tinta 39. Laboratorium riset dan komersial
14. Tekstil 40. Pengolahan batu bara dengan pirolisis
Manufaktur dan perakitan kendaraan dan Daur ulang minyak pelumas bekas
15. 41.
mesin
Elektroplating dan galvanis Sabun detergen / produk pembersih /
16. 42.
desinfektan / kosmetik
Cat Pengolahan lemak hewani/nabati dan
17. 43.
derivatnya
Alluminium thermal metallurgi Gas industri
18. Alluminium chemical conversion 44.
Coating
19. Peleburan dan penyempurnaan seng 45. Gelas keramik / enamel
20. Proses logam non-ferro 46. Seal, gasket, packing
21. Metal hardenting 47. Produk kertas
22. Metal/plastic shaping 48. Chemical/industrial cleaning
23. Binatu 49. Fotocopy
IPAL industri Semua jenis industri yang menghasilkan
24. 50.
/ menggunakan listrik
25. Pengoperasian incinerator limbah 51. Semua jenis industri konstruksi
26. Daur ulang pelarut bekas 52. Bengkel pemeliharaan kendaraan
Sumber : Lampiran Peraturan Pemerintah RI No. 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun

5. Aktivitas bidang pertanian

Aktivitas bidang pertanian menghasilkan limbah cair karena digunakannya air untuk
mengairi lahan pertanian. Secara alamiah dan dalam kondisi normal, limbah cair pertanian
sebenarnya tidak menimbulkan dampak negatif pada lingkungan, namun dengan digunakannya
fertilizer serta pestisida yang kadang-kadang dilakukan secara berlebihan sering menimbulkan
dampak negatif pada keseimbangan ekosistem air pada badan air penerima. Peristiwa pengayaan
nutrient yang berlebihan pada badan air yang dikenal sebagai istilah euthrofikasi merupakan salah
satu akibat dari pencemaran limbah cair pertanian.

6. Aktivitas bidang pelayanan jasa

Aktivitas bidang pelayanan jasa dilaksanakan di berbagai jenis usaha, misalnya : rumah
sakit yang memberikan pelayanan jasa perawatan dan pengobatan penderita sakit, usaha
transportasi darat, laut, serta udara yang memberikan pelayanan jasa angkutan barang atau
penumpang, usaha perbengkelan yang memberikan pelayanan jasa perbaikan atau pemeliharaan
barang peralatan rumah tangga atau angkutan, usaha perhotelan yang memberikan pelayanan jasa
penginapan bagi para wisatawan. Sangat banyak dan bervariasi aktivitas di berbagai jenis badan
usaha pelayanan jasa itu, yang berakibat sangat bervariasinya pula kuantitas serta kualitas limbah
cair. Limbah cair terutama dihasilkan dari kegiatan pencucian peralatan kerja, pencucian alat
makan dan minum, pembersihan bangunan gedung, pencucian kendaraan, pemeliharaan
pertamanan, pencucian pakaian serta linen, penyiapan/pemasakan makanan dan minuman,
penggunaan toilet (kamar mandi, WC, wastafel). Karakteristik limbah cair dari kegiatan
perumahan, perkantoran, perdagangan, dan pelayanan jasa secara umum mempunyai kesamaan.
Limbah cair dari keempat jenis kegiatan itu dimasukkan dalam kelompok limbah cair domestik.

Aktivitas alam

Hujan merupakan aktivitas alam yang menghasilkan limbah cair yang disebut air larian (strom
water runoff). Air hujan yang jatuh ke bumi sebagian akan merembes ke dalam tanah (± 30%) dan
sebagian besar lainnya (± 70%) akan mengalir di permukaan tanah menuju sungai, telaga atau
tempat lain yang lebih rendah. Air hujan yang mengalir diatas permukaan tanah akan menjadi air
permukaan (surface water) yang dapat masuk ke saluran limbah cair rumah tangga (sanitary
sewer) yang retak atau sambungannya kurang sempurnasebagai air luapan (inflow). Air larian yang
jumlahnya berlebihan sebagai akibat dari hujan yang turun dengan intensitas dan dalam waktu
yang lama dapat menyebabkan saluran air hujan (strom sewer) teraliri dalam jumlah yang melebihi
kapasitas dan dapat menyebabkan terjadinya banjir. Atas dasar itu air hujan atau air larian perlu
diperhitungkan dalam perencanaan sistem saluran limbah cair agar dapat dihindari hal-hal yang
tidak diinginkan dari adanya air hujan baik bagi lingkungan maupun bagi kesehatan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Soeparman dan Suparmin. 2002. Pembuangan Tinja dan Limbah Cair : Suatu Pengantar. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.