Anda di halaman 1dari 9

Perawatan Payudara Selama Hamil

Saat seorang wanita hamil, terjadi perubahan-perubahan pada tubuhnya yang memang secara
alamiah dipersiapkan untuk menyambut datangnya si buah hati. Perubahan-perubahan itu
antara lain berat badan bertambah, perubahan pada kulit, perubahan pada payudara, dll.

Perawatan payudara sangat penting dilakukan selama hamil sampai masa menyusui. Hal ini
karena payudara merupakan satu-satunya penghasil ASI yang merupakan makanan pokok
bayi yang baru lahir sehingga harus dilakukan sedini mungkin. Inilah karunia Allah yang
sangat besar kepada kaum wanita di mana ASI merupakan makanan paling cocok bagi bayi,
komposisinya paling
lengkap, dan tidak bisa ditandingi susu formula buatan manusia.

Perawatan payudara selama hamil memiliki banyak manfaat, antara lain:


• Menjaga kebersihan payudara terutama kebersihan puting susu.
• Melenturkan dan menguatkan puting susu sehingga memudahkan bayi untuk menyusu.
• Merangsang kelenjar-kelenjar air susu sehingga produksi ASI banyak dan lancar.
• Dapat mendeteksi kelainan-kelainan payudara secara dini dan melakukan upaya untuk
mengatasinya.
• Mempersiapkan mental (psikis) ibu untuk menyusui.

Bila seorang ibu hamil tidak melakukan perawatan payudara dengan baik dan hanya
melakukan perawatan menjelang melahirkan atau setelah melahirkan maka sering dijumpai
kasus-kasus yang akan merugikan ibu dan bayi. Kasus-kasus yang sering terjadi antara lain:
• ASI tidak keluar. Inilah yang sering terjadi. Baru keluar setelah hari kedua atau lebih.
• Puting susu tidak menonjol sehingga bayi sulit menghisap.
• Produksi ASI sedikit sehingga tidak cukup dikonsumsi bayi.
• Infeksi pada payudara, payudara bengkak atau bernanah.
• Muncul benjolan di payudara, dll.

Kasus-kasus tersebut insya Allah bisa dicegah dengan melakukan perawatan payudara sedini
mungkin. Berikut ini perawatan payudara yang bisa dilakukan:
a. Umur kehamilan 3 bulan
Periksa puting susu untuk mengetahui apakah puting susu datar atau masuk ke dalam dengan
cara memijat dasar puting susu secara perlahan. Putting susu yang normal akan menonjol
keluar. Apabila puting susu tetap datar atau masuk kembali ke dalam payudara, maka sejak
hamil 3 bulan harus dilakukan
perbaikan agar bisa menonjol. Caranya adalah dengan menggunakan kedua jari telunjuk atau
ibu jari,
daerah di sekitar puting susu diurut ke arah berlawanan menuju ke dasar payudara sampai
semua daerah payudara. Dilakukan sehari dua kali selama 6 menit.

b. Umur kehamilan 6-9 bulan


• Kedua telapak tangan dibasahi dengan minyak kelapa.
• Puting susu sampai areola mamae (daerah sekitar puting dengan warna lebih gelap)
dikompres dengan minyak kelapa selama 2-3 menit. Tujuannya untuk memperlunak kotoran
atau kerak yang menempel pada puting susu sehingga mudah dibersihkan. Jangan
membersihkan dengan alkohol atau yang lainnya yang bersifat iritasi karena dapat
menyebabkan puting susu lecet.
• Kedua puting susu dipegang lalu ditarik, diputar ke arah dalam dan ke arah luar (searah dan
berlawanan jarum jam).
• Pangkal payudara dipegang dengan kedua tangan, lalu diurut ke arah puting susu sebanyak
30 kali sehari.
• Pijat kedua areola mamae hingga keluar 1-2 tetas.
• Kedua puting susu dan sekitarnya dibersihkan dengan handuk kering dan bersih.
• Pakailah BH yang tidak ketat dan bersifat menopang payudara,
jangan memakai BH yang ketat dan menekan payudara.
Breast-feeding: What every mom needs to know

You know the benefits of breast-feeding. Breast milk contains the right balance of nutrients for
your baby. It’s easier to digest than is commercial formula, and the antibodies in breast milk
will boost your baby’s immune system. Breast-feeding may even help you lose weight after
the baby is born.

But breast-feeding isn’t always easy. You may need more practice - and patience - than you
might have imagined. Here’s help getting off to a good start.

Ask for help - right away


Reading about breast-feeding is one thing. Doing it on your own is something else. The first
few times you breast-feed your baby - starting as soon after delivery as possible - ask for
help. The maternity nurses or the hospital’s lactation consultant can help you position the
baby and make sure he or she is latching on correctly. Your doctor, your baby’s doctor or your
childbirth educator may be able to help, too. Learning correct technique from the very
beginning can help you avoid trouble later on.

Feed your baby often


For the first few weeks, most newborns breast-feed every two to three hours around-the-
clock. It’s intense. But frequent breast-feeding sessions help stimulate your breasts to produce
milk. And the sooner you begin each feeding, the less likely you’ll need to soothe a frantic
baby. Watch for early signs of hunger, such as stirring and stretching, sucking motions and lip
movements. Fussing and crying are later cues.

Get comfortable
Don’t bend over or lean forward to bring your breast to your baby. Instead, cradle your baby
close to your breast. Sit in a chair that offers good arm and back support. Support yourself
with pillows if needed. Or lie on your side with your baby on his or her side, facing you.

When you’re settled, tickle your baby’s lower lip with your nipple. Make sure your baby’s
mouth is open wide and he or she takes in part of the darker area around the nipple (areola).
Your nipple should be far back in the baby’s mouth, and the baby’s tongue should be cupped
under your breast. Listen for a rhythmic sucking and swallowing pattern.

If you need to remove the baby from your breast, first release the suction by inserting your
finger into the corner of your baby’s mouth.

Let your baby set the pace


Let your baby nurse from the first breast thoroughly, until the breast feels soft - often about
15 minutes. Then try burping the baby. After that, offer the second breast. If your baby’s still
hungry, he or she will latch on. If not, simply start the next breast-feeding session with the
second breast. If your baby consistently nurses on only one breast at a feeding during the first
few weeks, pump the other breast to relieve pressure and protect your milk supply.

If your baby pauses during breast-feeding sessions to gaze at you or look around the room,
enjoy the moment. Consider it an opportunity to slow down and bond with your baby.

Hold off on a pacifier - at first


Some babies are happiest when they’re sucking on something. Enter pacifiers - but there’s a
caveat. Giving your baby a pacifier too soon may interfere with breast-feeding. The American
Academy of Pediatrics recommends waiting to introduce a pacifier until a baby is 1 month old
and breast-feeding is well established.

Gauge your success


When your baby is latched on successfully, you’ll feel a gentle pulling sensation on your breast
- rather than a pinching or biting sensation on your nipple. Your breasts may feel firm or full
before the feeding, and softer or emptier afterward. Look for your baby to gain weight
steadily, produce six to eight wet diapers a day and be content between feedings. Your baby’s
stools will become yellow, seedy and loose.

Take care of your nipples


After each feeding, it’s OK to let the milk dry naturally on your nipple. If you’re in a hurry,
gently pat your nipple dry. To keep your nipples dry between feedings, change bra pads often.

When you bathe, keep soap, shampoo and other cleansers away from your nipples. If your
nipples are dry or cracked, try an ointment containing lanolin. Rubbing olive oil or expressed
milk on your nipples may help, too.

Think privacy
Many breast-feeding moms wear loose tops that can be partially unbuttoned - from the
bottom up - for feedings. You can also use a receiving blanket to cover yourself and your baby
while you’re breast-feeding. If you’d like more privacy, ask someone to hold a baby blanket or
stand in front of you while you get the baby settled.

Make healthy lifestyle choices


Your lifestyle choices are just as important when you’re breast-feeding as they were when you
were pregnant.

a.. Eat plenty of fruits, vegetables and whole grains.


b.. Drink lots of fluids.
c.. Rest as much as possible.
d.. Only take medication with your doctor’s OK.
e.. Don’t smoke.
Also beware of caffeine and alcohol. Too much caffeine can make your baby irritable and
interfere with your baby’s sleep. If you choose to have an occasional alcoholic drink, avoid
breast-feeding for two hours afterward.

And if you’re exclusively feeding your infant breast milk, talk with your doctor about vitamin D
supplements for your baby. Breast milk alone may not provide enough vitamin D, which is
essential to help your baby absorb calcium and phosphorus - necessary for strong bones. Too
little vitamin D may cause rickets, a softening and weakening of bones.

Give it time
If breast-feeding is tougher than you expected, try not to get discouraged. It’s OK to have a
slow start. As you and your baby get to know each other, breast-feeding will begin to feel
more natural.

If you’re struggling, ask a lactation consultant or your baby’s doctor for help - especially if
every feeding is painful or your baby isn’t gaining weight. Although your nipples may be
tender for the first few weeks, breast-feeding isn’t supposed to hurt. If you haven’t worked
with a lactation consultant, ask your baby’s doctor for a referral or check with the obstetrics
department at a local hospital. Early support is often the key to breast-feeding success.

Cara Memperbanyak ASI

Cara Memperbanyak ASI :


1. Sering susui bayi. ASI tidak akan banyak jika bayi jarang disusui apalagi ditambah sufor.
Darimana tau ada demand asi kalo demandnya ditutupi oleh sufor????
2. Sering memerah dan sering stimulasi LDR supaya asi cepet keluar. Semakin banyak keluar
dan semakin sering ASI keluar semakin banyak produksinya. Memerah setiap 2 jam sekali
akan membuat produksi asi stabil.
3. Makan sayur yang banyak seperti sayur katuk + kuahnya. Sayur daun papaya dan sayur
lainnya. Makan buah juga.
4. Minum air putih yang banyak 2liter sehari lebih kalo bisa.
5. Minum susu, yoghurt
6. Katanya air rebusan kacang hijau bisa memperbanyak ASI.
ditulis dan di praktekkan oleh lutvita

Cara Menyusui Bayi Setelah Melahirkan

Cara Menyusui Bayi Setelah Melahirkan :


1. Setelah bayi dilahirkan langsung lakukan IMD (inisiasi menyusu dini). Menyusu loh ya
bukan menyusui. Jadi artinya biarkan bayi dengan instingnya mencari puting payudara ibu.
Bayi akan merayap menghampiri puting ibu. Itulah kuasa Tuhan. Kalo lihat bayi-bayi di ruang
bayi. Itu mulutnya celangopan semua mencari putting ibunya. Tapi suster malah memberikan
susu botol bukan berikan ke ibunya untuk disusui. Jadi ini seharusnya tidak boleh terjadi.
2. Kemudian lakukan rawat gabung dengan. Susui setiap bayi nangis. Untuk mengurangi
beban ibu. Tugas si ibu hanya menyusui saja. Untuk ganti popok dsb. Serahkan suster. Ibu
juga bole belajar mengganti popok tapi tugas utamanya susui bayi.
3. Kemudian pijat payudara denagn 30 x 3 gerakan yang biasanya diajarkan suster. Harus
minta diajari dan suster biasanya tahu caranya. Terus kompres payudara bergantian hangat
dan dingin. Hangat 2 menit dingin 1 menit dan hangat 2 menit.
4. Belajar dapat perlekatan yang benar antara mulut bayi dan puting ibu. Sebaiknya ibu dan
bayi belajar sendiri dengan bantuan suster tanpa ada celaan dan gangguan dari pihak
keluarga. Bayi harus minum asi jadi jangan coba-coba tawari susu formula karena bayi nangis
terus. Biasanya pihak keluarga seperti orang tua yang panik bayinya nangis disuruh tambah
sufor. Ini sama sekali TIDAK PERLU dan TIDAK BOLEH dilakukan.
5. Seluruh anggota keluarga harus mendukung sang ibu menyusui bukan malah mencela dan
mencerca yang membuat si ibu semakin stress dan asi jadi seret keluar.
6. Sebaiknya kalo belum pintar menyusui juga jangan terima tamu. Tamu juga suka
menyesatkan dan memberitahukan ilmu-ilmu yang tidak benar belum lagi kata-katanya yang
suka bikin down ibu menyusui. Tapi kalo tamu yang pro ASI boleh lah diterima. Harus malah
untuk ikut menyemangati.
7. Makan makanan bergizi dan minum susu, yoghurt. Makan sayur daun katuk + kuahnya
yang banyak. Daun papaya. Kacang kulit juga bisa memperbanyak asi.
8. Dan tidak lupa berdoa…

Cara Mengatasi Bingung Puting

Cara Mengatasi Bingung Puting di Usia 3-4 Bulan :


1. Menyusui sambil digendong, diayun-ayun disenandungkan. Terus tawari nenen.
2. Suasana ruangan harus sunyi sepi dan lampu juga jangan terang-terang banget.
3. Tawari nyusu langsung terus menerus setiap 15 menit sekali.
4. Pulang kerja secepat mungkin untuk langsung nyusui. Jangan makan atau ngapa-ngapain
dulu. Mandi terus langsung susui bayi dulu. Biar dia ingat kembali akan menyusu langsung.
5. Jika tidak kerja atau libur bawa bayi kemana ibu pergi jangan ditinggal dan dikasih dot lagi
6. Kalau bisa stop pemakaian dot botol.
7. Jika tidak bisa distop, coba komunikasikan terus bahwa “kalo sama ibu, dede nenen
langsung kalo ibu kerja dede nyusu botol”. Terus menerus kasih pengertian. Bayi itu sangat
pintar.
8. Kalau bayi sudah menginjak usia 6-7 bulan dan dah kenal ibunya, ga mau sama yang ga
dikenal. Biasanya bingung putting ini berakhir. Tapi tetap konsep pulang cepet dan libur bawa
bayi kemana-mana jangan lupa. Kalo ngga si bayi mungkin bisa lupa lagi.
9. Mungkin bisa dicoba pake dot ortodentik atau search di internet sudah ada banyak dot yang
ga bikin bingung putting. Mudah-mudahan benar dan ga hanya sekedar iklan. Dengan dot
begini diharapkan hisapannya itu sama dengan waktu menyusu dari ibunya. Jadi ga terlalu
mudah menghisap susunya.
Cara Memerah ASI dengan Tangan Dikantor

Cara Memerah ASI dengan Tangan Dikantor:


1. Cuci tangan yang bersih.
2. Siapkan 2 botol yang kecil (60ml) dan besar (120ml), 1 untuk tempat ASI yang sedang
diperah, satu lagi untuk menampung ASI di PD sebelah yang netes.
3. Buka baju bagian depan atau buka semua boleh. Dan gantung baju ditempat yang aman
dan bersih.
4. Masukkan botol ukuran 60ml ke dalam bra PD sebelah kiri. Jadi botol ditahan sama bra.
5. Mulai stimulasi Let Down Reflek (LDR) supaya keluar. Dengan cara putting tetep dalam bra
trus ujung jempol diluar bra. Diusap-usap dengan lembut si putting dalam bra tsb. Sampai
terasa geli-geli gitu. Dan teruskan saja. Ga lama kemudian akan terasa nyuuuttt pada PD.
Itulah saat LDR keluar. Perah dengan cepat.
6. Setelah LDR terasa. ASI pasti akan netes-netes dari kedua PD. Nah yang sebelah kiri kan
sudah ditadahi dengan botol kecil jadi ga takut terbuang. Yang kanan kita perah.
7. Cara Memerahnya bentuk ke lima jari seperti bikin huruf C terbalik. Jempol diatas PD dan
keempat jari lain dibelakang bawah PD. Jaraknya kurang lebih 2cm dari aerola (lingkaran
hitam/coklat deket putting).
8. Pencet-pencet PD dengan lembut tapi cepat seiring irama hisapan bayi. Jangan digesekkan
jari2nya saat pencet karena akan membuat PD memar. Tapi cukup di pencet-pencet saja.
9. ASI akan keluar dengan deras dan akan terdengar bunyi srot.. srot…
10. Setelah agak berkurang alirannya. Pijat-pijat PD, perah lagi. Kalo sudah kosong pindah ke
PD kiri.
11. Kalo pegel dengan posisi C terbalik, bisa pake posisi huruf U. jadi jempol disebelah kanan
PD dan keempat jari di sebela kiri PD.
12. Setelah kedua PD kosong. Masih bisa distimulasi lagi si LDR. Tapi kalo ga bisa sebaiknya
sudahi sesi memerah.

Memulai Menyusui

Sebelum Mulai Menyusui Pertamakali

Selama masa kehamilan, sebaiknya anda mendiskusikan keputusan untuk menyusui dengan
dokter anda, yang berkewajiban untuk mendukung keputusan tersebut dengan membantu
menciptakan kondisi yang kondusif untuk mulai menyusui. Pada saat melahirkan, dokter dan
staf rumah sakit sebaiknya membantu anda dengan:

* Tidak menggunakan obat-obatan pada saat melahirkan, atau menggunakan obat-obatan


hanya seminimal mungkin. Obat penghilang rasa sakit dapat mempengaruhi refleks hisap
bayi.
Memberi kesempatan anda untuk menyusui sesegera mungkin setelah melahirkan, kalau perlu
pada saat anda masih di ranjang melahirkan apabila melahirkan secara normal. Kenapa?
Sebab refleks hisapan bayi yang paling kuat terjadi hingga setengah jam setelah melahirkan.
* Menyusui sesering dan selama yang bayi inginkan (demand feeding). Berada sekamar
dengan bayi di rumah sakit (rooming-in) akan membantu mempermudah hal ini. Dengan
demand feeding, ASI akan keluar lebih cepat, dan kemungkinan untuk mengalami payudara
bengkak.
* Memberi bayi HANYA ASI. Bayi anda tidak perlu air tambahan atau susu formula, selama
anda mengikuti prinsip demand feeding, dan selama bayi anda dalam kondisi sehat.
Pemberian minuman tambahan (formula, air glukosa, dsb) hanya akan mengurangi nafsu
minum si bayi, sehingga payudara anda tidak cukup terangsang untuk mengeluarkan ASI, dan
bisa berakibat berkurangnya suplai ASI. Kecuali ada justifikasi medis dari dokter untuk
pemberian minuman tambahan (contoh: Bayi yang beratnya kurang biasanya kadar gula
darahnya rendah sehingga perlu glukosa. Atau bayi yang sangat kuning jaundice cenderung
terlalu mengantuk untuk menghisap payudara sehingga perlu suplai cairan tambahan).
* Selain mengurangi nafsu minum si bayi, botol juga mengakibatkan bingung puting. Kenapa?
Sebab aliran cairan di puting botol jauh lebih deras dibandingkan dengan aliran cairan di
payudara, sehingga proses menghisap botol menjadi jauh lebih mudah untuk bayi dibanding
menghisap payudara. Bayi yang sudah kena botol di usia yang terlalu dini bisa-bisa menolak
payudara. (Catatan: Dari buku What To Expect the First Year, idealnya botol diberikan pada
usia 3-5 minggu, saat bayi sudah terbiasa dengan payudara). Selain itu, pemberian empeng
terlalu dini juga bisa mempengaruhi kemampuan hisap bayi. Sebaiknya patuhi tangisan bayi
sebagai indikator pemberian ASI, agar suplai ASI anda tetap bertahan dengan baik.

Komunikasikanlah hal-hal di atas dengan dokter dan staf rumah sakit anda.

Step-By-Step Menyusui

Persiapan

1. Cuci tangan anda untuk menghilangkan kuman. Jika mau anda juga boleh mencuci puting
anda dengan air.
2. Carilah posisi yang enak untuk duduk atau berbaring. Jika posisi duduk anda enak, anda
akan menjadi rileks dan “turunnya” ASI (letdown reflex) lebih mudah terjadi. Berikut adalah
posisi yang barangkali anda bisa coba:
* Duduk dengan sandaran yang enak untuk punggung, misalnya dengan banyak bantal, agar
tidak sakit punggung. Dengan posisi ini, sebaiknya kaki anda berada dalam posisi yang agak
tinggi, misalnya dengan menaruh dingklik sebagai alas kaki di kursi. Dengan ini, paha anda
bertindak sebagai penyangga bayi dalam posisi yang tepat sehingga bayi tidak perlu menarik-
narik puting anda.
* Duduk dengan banyak bantal di tempat tidur.
* Duduk di kursi goyang.
* Berbaring di sisi badan anda di tempat tidur (bukan posisi rebah), dengan tangan
menyangga kepala anda, sementara bayi dalam posisi tidur menghadap anda. Posisi ini
nyaman untuk menyusui di malam hari, atau untuk ibu-ibu yang menjalani operasi sesar.
3. Rilekslah. Kalau perlu lakukan pernafasan relaksasi, mendengarkan musik, membaca, dsb.
Apabila anda terlalu tegang, refleks turunnya susu bisa terhalangi.

Step-by-Step Ambil Posisi Menyusui dan Perlekatan

* Kepala bayi anda diletakkan pada lekukan dalam siku tangan anda. Kemudian, seluruh
badan bayi menghadap dada anda, bukan hanya kepalanya saja. (Waktu pertamakali
barangkali anda akan perlu bantuan orang/suster untuk meletakkan bayi anda dalam posisi
ini, tetapi lama kelamaan anda bisa melakukannya sendiri. Prinsipnya, kepala bayi harus
tersokong dengan baik).
* Ambil payudara dengan tangan anda yang bebas, jempol anda memegang bagian atas
payudara, dan jari lainnya memegang bagian bawah.
* Saat didekankan ke puting, bayi anda biasanya akan refleks membuka mulut dan
menyambut puting anda. Tetapi apabila tidak, colek coleklah bibir bayi anda dengan puting
hingga ia membuka mulutnya.
Pastikan kalau bayi anda membuka mulutnya selebar mungkin, dan letakkan bagian tengah
puting anda pada bukaan mulut tersebut.
* Atau, apabila sulit masuknya puting ke mulut bayi, lakukan trik “Sandwich”, yaitu menekan
puting anda dengan jempol dan telunjuk sehingga segepeng mungkin, paralel dengan alur
bibir bayi, dan masukkan kedalam bukaan mulut bayi (Trik dari Ibu Doris Fok, konsultan
laktasi singapura)
* Perlekatan (latch-on) yang baik adalah apabila sebagian besar aerola anda berada di dalam
mulut bayi, dagu menempel ke payudara anda, dan kepalanya agak ke belakang sehingga
hidungnya tidak ketutupan payudara. Sebenarnya tidak perlu menekan payudara untuk
membuka jalan udara ke hidung bayi, selama posisi menyusui anda benar.
sumber : http://asi.blogsome.com/category/panduan-dasar-menyusui/
Posisi Menyusui Yang Baik

Susu adalah hak setiap bayi dan seorang ibu tidak seharusnya mementingkan diri sendiri
ketika bayi memerlukan ASI (air susu ibu). Dan untuk mengetahui posisi yang baik untuk bayi
maupun ibu yang sedang menyusui silahkan baca tulisan berikut ini.

Sentuh bibir bayi dengan ujung puting hingga bayi membuka mulutnya. Biarkan dia membuka
selebarnya mulutnya hingga sampai bagian besar areola (bagian berwarna coklat). Gerakan
rahang dan bunyi tegukan memastikan bayi menyusui dalam posisi yang betul. Selepas
menyusui, masukkan hujung jari kelingking anda di hujung mulut bayi untuk menghentikan
hisapan.

Refleks ‘let-down’
Refleks ‘let-down’ adalah rasa berdenyut yang menandakan aliran hangat susu dan bayi
berada pada posisi penyusuan yang betul. Jika anda tidak mengalami rasa ini, mungkin
disebabkan oleh gangguan, tidak ada ruang untuk privacy/pribadi, rasa malu atau rasa cemas
mengenai menyusui bayi, letih atau sakit.

Beralih payudara
Jika bisa, berikan bayi menyusui dari kedua payudara setiap kali menyusui. Alihkan bayi pada
satu payudara sehingga dia berhenti menghisap. Angkat bayi, sendawakannya dan alihkannya
ke payudara sebelah dan teruskan menyusui sehingga dia merasa kenyang. Untuk menyusui
yang berikutnya, dimulai dari payudara yang terasa sarat dengan susu.

Sendawakan Bayi
Sendawakan bayi setiap kali selesai menyusui. Bayi mungkin termuntah susu, jadi pastikan
anda menyediakan kain/handuk. Jika dia tidak sendawa selepas 30 detik, dia mungkin tidak
perlu disendawakan. Letakkan bayi di bahu anda dan gosok atau tepuk perlahan belakang
badannya.

Pilih posisi yang nyaman


Dapatkan posisi yang membuat anda dan bayi anda merasa nyaman. Tubuh bayi haruslah
rapat dengan anda dan muka bayi bertemu dengan payudara anda. Mulutnya harus
berhampiran dengan puting dan kepala, leher dan belakangnya sepatutnya dalam keadaan
lurus. Belakang badan anda juga perlu tegak, jangan membungkuk. Gunakan bantal untuk
bersandar, jika perlu.

Posisi dakapan, posisi klasik dan telah menjadi kegemaran kebanyakan para ibu. Posisi ini
membolehkan perut bayi dan perut anda bertemu supaya anda tidak perlu memutar
kepalanya untuk menyusu. Kepala bayi berada di dalam dekapan anda, sokong belakang
badan dan punggung bayi serta lengan bayi perlu berada di bagian sisinya.

Posisi ‘football hold’, posisi ini sangat sesuai jika anda baru pulih dari pembedahan ‘cesarean’,
memiliki payudara yang besar, menyusui bayi premature atau bayi yang kecil ukurannya atau
menyusui anak kembar pada waktu yang bersamaan. Sokong kepala bayi dengan tangan,
gunakan bantal untuk menyokong belakang badan anda.

Posisi berbaring, coba posisi ini apabila anda dan bayi merasa letih. Jika anda baru pulih dari
pembedahan ‘Cesarean’ ini mungkin satu-satunya posisi yang bisa anda coba pada beberapa
hari pertama. Sokong kepala anda dengan lengan dan sokong bayi anda dengan lengan atas.

sumber : http://www.f-buzz.com/2008/08/05/posisi-menyusui-yang-baik/
Let Down Reflek

Refleks turunnya susu

Keluarnya hormon oksitosin menstimulasi turunnya susu (milk ejection /


let-down reflex). Oksitosin menstimulasi otot di sekitar payudara
untuk memeras ASI keluar. Para ibu mendeskripsikan sensasi turunnya
susu dengan berbeda-beda, beberapa merasakan geli di payudara dan ada
juga yang merasakan sakit sedikit, tetapi ada juga yang tidak
merasakan apa-apa. Refleks turunnya susu tidak selalu konsisten
khususnya pada masa-masa awal. Tetapi refleks ini bisa juga
distimulasi dengan hanya memikirkan tentang bayi, atau mendengar suara
bayi, sehingga terjadi kebocoran. Sering pula terjadi, payudara yang
tidak menyusui bayi mengeluarkan ASI pada saat bayi menghisap payudara
yang satunya lagi. Lama kelamaan, biasanya setelah dua minggu, refleks
turunnya susu menjadi lebih stabil.

Refleks turunnya susu ini penting dalam menjaga kestabilan produksi


ASI, tetapi dapat terhalangi apabila ibu mengalami stres. Oleh karena
itu sebaiknya ibu tidak mengalami stres.

Refleks turunnya susu yang kurang baik adalah akibat dari puting
lecet, terpisah dari bayi, pembedahan payudara sebelum melahirkan,
atau kerusakan jaringan payudara. Apabila ibu mengalami kesulitan
menyusui akibat kurangnya refleks ini, dapat dibantu dengan pemijatan
payudara, penghangatan payudara dengan mandi air hangat, atau menyusui
dalam situasi yang tenang.

Sore Nipples

Sore nipples can be so painful that women decide to wean. Although some nipple tenderness
in the early days of breastfeeding is rather common, breastfeeding in general should not hurt.
Nipple pain and sore nipples indicate that something goes wrong.

In most cases sore nipples are caused by improper positioning and incorrect latch-on or
incorrect removal of the baby from the breast. Therefore always turn to your lactation
specialist if you experience nipple pain or sore nipples. As soon as the cause for the discomfort
is evaluated the problem can be solved.

If the pain is extreme it might be advisable to temporarily interrupt breastfeeding. During such
an interruption you must express your milk to avoid engorgement and to keep up your milk
production. Your lactation specialist can inform you about breastpumps and hand expression
and about alternative feeding methods to feed your baby during this time.

If you want to support the healing process, modified lanolin PureLan can be applied to the
nipple. Moist wound healing is considered the treatment of choice. Avoid any ointment that
must be wiped of before feeding the baby. This will irritate the skin even more. Breastshells
can help protect sore nipples.
In some cases nipple soreness can be caused by thrush. If thrush is suspected contact your
doctor to discuss medication for treating