Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fistula ani (in ano) merupakan alur granulomatosan kronis yang berjalan dari anus
hingga bagian luar kulit anus, atau dari suatu abses hingga anus atau daerah perianal.
(Price, 2005). Sedangkan, Hemoroid adalah varises di rektum bagian bawah atau anus.
Hemoroid dapat mucul akibat konstipasi yang dialami bertahun-tahun. (Brooker, 2008)
Fistula ani adalah kasus urogenital yang jarang terjadi. Fistula ani biasanya terjadi
akibat trauma obsetri dan prevelensinya sangat kecil sekali, sekitar 0,1-3%.Angka kejadian
rata-rata per 100.000 populasi sekitar 8,6 kasus, perbandingan rasio antara pria dan wanita
adalah 1,8:1, sedangkan umur rata-rata pasien berkisar 38,3 tahun. Kemudian untuk
penyakit hemoroid sendiri yang terjadi di Amerika serikat merupakan penyakit yang cukup
umum dimana pasien umur 45 tahun yang didiagnosis hemoroid mencapai 1.294 per
100.000 jiwa (Everheart, 2004). Sebuah penelitian yang dilakukan di Iran menunjukkan
sebayak 48% dari pasien yang menjalani prosedur sigmoidoskopi dengan keluhan
perdarahan anorektal memperlihatkan adanya hemoroid (Nikpour dan Asgari, 2008)
Fistula ani merupakan suatu kondisi yang telah tergambarkan sebelum mulainya
sejarah kedokteran. Pada sekitar tahun 430 sebelum masehi, Hipokrates mengemukakan
bahwa fistula ini disebabkan akibat kontusi dari seringnya berkuda atau mendayung. Dia
juga orang pertama yang menyarankan penggunaan seton untuk penatalaksanaannya. Usaha
mencari penanganan yang tepat telah tercatat dalam buku-buku selama lebih dari 2000
tahun. Bahkan rumah sakit St. Mark di London, dibangun khusus untuk menangani pasien-
pasien dengan fistula ani dan kondisi rektal lainnya.
Sejak zaman Hipokrates itu, sedikit yang berubah mengenai pengertian proses
penyakit ini. Pada tahun 1976, dikemukakan klasifikasi fistula ani yang tetap digunakan
secara luas hingga saat ini. Dalam 30 tahun terakhir, banyak penulis telah mempresentasikan
teknik-teknik baru dan sejumlah kasus dalam usaha mengurangi angka frekuensi dan
komplikasi inkontinensia. Walau dengan pengalaman lebih 2500 tahun, fistula ani tetap
menjadi suatu penyakit bedah yang membingungkan.

1
Pada 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luas vena yang
terkena. Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita hamil. Tekanan intra abdomen yang
meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan juga karena adanya perubahan hormon
menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis. Pada kebanyakan wanita, hemoroid yang
disebabkan oleh kehamilan merupakan hemoroid temporer yang berarti akan hilang beberpa
waktu setelah melahirkan.
Hemoroid diklasifikasikan menjadi dua tipe yaitu hemoroid internal dan eksternal,
pada penyakit hemoroid interna ada beberapa derajat yaitu derajat pertama sampai derajat
keempat. Kedua jenis hemoroid ini sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk.

Suatu hal yang perlu dimengerti bahwa fistula ani dan hemoroid bukan kondisi yang
membahayakan jiwa pasien, tetapi bisa mengangu kenyamanan, kebersihan, serta aktivitas
penderita sehari-hari, yang kadang-kadang terasa bau tidak enak. Hal ini lebih memberi
penderitaa akibat pus (anal fistula) yang keluar atau saat defekasi dan berujung pada
keadaan psikososial dari penderita.Oleh karenaitu, dalam makalah ini kami akan membahas
tentang seperti apa anal fistula dan hemoroid dipandang secara medis dan bagaimana
penatalaksanaan medisnya.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui definisi, proses timbulya penyakit dan tata cara penatalaksanaan
yang tepat sehingga dapat mengatasi penyakit tersebut baik dengan medis dan atau
asuhan keperawatan yang tepat dan efektif.
1.2.2Tujuan Khusus
1. Menjelaskan definisi anal fistula dan hemoroid
2. Menjelaskan manifestasi klinis anal fistula dan hemoroid
3. Menjelaskan patofisiologi/proses timbulnya anal fistula dan hemoroid
4. Menjelaskan penatalaksanaan diagnostik anal fistula dan hemoroid
5. Menjelaskan penatalaksanaan medis anal fistula dan hemoroid
6. Menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan anal fistula dan
hemoroid

2
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Anus dan Rektum


Daerah batas rektum dan kanalis analis ditandai dengan perubahan jenis epitel.
Rektum dilapisi oleh mukosa glanduler usus sedangkan kanalis analis oleh anoderm yang
merupakan lanjutan epitel berlapis gepeng kulit luar. Kanalis analis dan kulit luar di
sekitarnya kaya akan persyarafan sensoris somatik dan peka terhadap rangsangan nyeri,
sedangkan mukosa rektum mempunyai persyarafan autonom dan tidak peka terhadap
nyeri. Darah vena di atas garis anorektum mengalir melalui sistem porta, sedangkan
yang berasal dari anus dialirkan ke sistem kava melalui V. Iliaka. Sistem limfe dari
rektum mengalirkan isinya melalui pembuluh limfe sepanjang pembuluh hemoroidalis
superior ke arah kelenjar limfe paraaorta melalui kelenjar limfe Iliaka Interna, sedangkan
limfe yang berasal dari kanalis analis mengalir ke arah kelenjar inguinal.
Kanalis analis berukuran panjang kurang lebih 3 sentimeter. Sumbunya mengarah
ke ventrokranial yaitu mengarah ke umbilikus dan membentuk sudut yang nyata ke dorsal
dengan rektum dalam keadaan istirahat. Pada saat defekasi, sudut ini menjadi lebih besar.
Batas atas kanalis anus disebut garis anorektum, garis mukokutan, linea pektinata atau
linea dentata. Pada daerah ini terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus antara
kolumna rektum. Infeksi yang terjadi di sini dapat menimbulkan abses anorektum yang
dapat membentuk fistel. Lekukan antar-sfingter sirkuler dapat diraba di dalam kanalis
analis sewaktu melakukan colok dubur dan menunjukkan batas antara sfingter ekterna
dan sfingter interna (garis Hilton).
Cincin sfingter anus melingkari kanalis analis dan terdiri dari sfingter interna dan
sfingter eksterna. Sisi posterior dan lateral cincin ini terbentuk dari fusi sfingter interna,
otot longitudinal, bagian tengah dari otot levator (puborektalis) dan komponen m.
sfingter eksternus. M. Sfingter internus terdiri dari serabut otot polos, sedangkan M.
Sfingter eksternus terdiri atas serabut olot lurik.

3
Gambar 1. Anatomi Anus dan Rektum

Normalnya, kelenjar rektum yang terdapat di kripta antarkolumna rektum berfungsi


sebagai barrier terhadap lewatnya mikroorganisme penyebab infeksi yang berasal dari
lumen usus ke daerah perirektal. Kelenjar ini mengeluarkan semacam lendir, berguna
sebagai pelicin/lubrikasi. Saluran ini memiliki klep satu arah agar produksi bisa keluar
tapi feses tidak bisa masuk. Terhalangnya jalan keluar produksi dari kelenjar ini akibat
stasis menyebabkan kuman dan cairan feses masuk ke dalam kelenjar. Feses yang
banyak kumannya berkembang biak ke dalam kelenjar, membentuk peradangan yang jadi
abses. Abses akan mencari jalan keluar dan membentuk semacam pipa yang menembus
kulit. Akibatnya, kulit jadi tampak seperti bisul lalu pecah. Pecahan ini tidak bisa
menutup karena nanah selalu keluar dan tidak bisa kering karena berhubungan dengan
feses. Kondisi ini bisa berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

4
2.2 Anal Fistula
2.2.1 Definisi Anal Fistula
Fistula Anal adalah saluran tipis, tubuler, fibrosa yang meluas ke dalam saluran anal
dari lubang yang terletak di samping anus.Fistula biasanya adalah akibat infeksi. Fistula
juga dapat terjadi akibat trauma, fisura, atau enteritis regional. (Smeltzer, 2001)
Fistula ani (in ano) merupakan alur granulomatosan kronis yang berjalan dari
anus hingga bagian luar kulit anus, atau dari suatu abses hingga anus atau daerah
perianal. (Price, 2005)
Fistula ani disebut juga fistel perianal atau fistel para-anal. Fistula anorektal
(Fistula ani) adalah komunikasi abnormal antara anus dan kulit perianal. Kelenjar pada
kanalis ani terletak pada linea dentate menyediakan jalur organisme yang menginfeksi
untuk dapat mencapai ruang intramuscular.

Gambar 2. Anal Fistula

Fistula adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan kelainan saluran dengan
pembukaan internal pada saluran anus yang meluas dan terbuka pada kulit di dekat anus.
Akibatnya, permukaan kulit di sekitar anus dapat terlihat sebagai suatu lubang, yang
menyebabkan nyeri dan perdarahan seiring dengan pergerakan usus. Fistula ani
kebanyakan merupakan komplikasi dari abses anus, suatu kondisi yang ditandai dengan
terkumpulnya nanah dalam anus.
Fistula ani bukan merupakan kondisi yang mengancam jiwa, namun hal ini dapat
menyebabkan komplikasi yang memalukan, seperti inkontinensia et alvi, yang akan
mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk mengontrol buang air besar. Karena fistula
ani tidak dapat disembuhkan tanpa perawatan, pembedahan selalu diperlukan untuk

5
menangani kondisi ini. Komplikasi lainnya adalah infeksi, gangguan fungsi reproduksi,
gangguan dalam berkemih, gangguan dalam defekasi dan ruptur/ perforasi organ yang
terkait.

2.2.2 Etiologi Anal Fistula


Kebanyakan fistula berawal dari kelenjar dalam di dinding anus atau rektum. Kadang-
kadang fistula merupakan akibat dari pengeluaran nanah pada abses anorektal. Terdapat
sekitar 7-40% pada kasus abses anorektal berlanjut menjadi fistel perianal. Namun lebih
sering penyebabnya tidak dapat diketahui. Organisme yang biasanya terlibat dalam
pembentukan abses adalah Escherichia coli, Enterococcus sp dan Bacteroides sp.
Fistula juga sering ditemukan pada penderita dengan penyakit Crohn, tuberkulosis,
devertikulitis, kanker atau cedera anus maupun rektum, aktinomikosis dan infeksi
klamidia. Fistula pada anak-anak biasanya merupakan cacat bawaan. Fistula yang
menghubungkan rektum dan vagina bisa merupakan akibat dari terapi sinat x, kanker,
penyakit Crohn dan cedera pada ibu selama proses persalinan.
Terdapat beberapa hal yang dapat meningkatkan resiko terjangkit anal fistula
diantaranya :
1. Seorang laki-laki
2. Berusia antara 20 hingga 40 tahun
3. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah
4. Sedang menderita Divertikulitis
5. Sedang menderita Klamidia
6. Sedang menderita Kolitis Ulseratif
7. Sedang menderitaTuberkulosis
8. Telah didiagnosa mengidap Irritable Bowel Syndrome
9. Telah didiagnosa mengidap Kanker Rektum
10. Telah didiagnosa mengidap Penyakit Crohn
11. Telah didiagnosa mengidap Sifilis

6
2.2.3 Klasifikasi Anal Fistula
Berdasarkan lokasi internal opening, maka fistula dibagi dalam dua kelompok yaitu
fistula letak rendah dimana internal opening fistel ke anus terdapat di bawah cincin
anorektal dan kedua adalah fistula letak tinggi dimana internal opening fistel ke anus
terdapat di atas cincin anorektal. Pentingnya menentukan apakah suatu fistel adalah letak
rendah atau tinggi adalah bahwa fistula letak rendah dapat dibuka tanpa takut adanya
resiko inkontinensia permanen akibat kerusakan bundle anorektal. Sedangkan pada fistula
letak tinggi dilakukan koreksi bertahap dengan prosedur operasi yang lebih sulit.
Sistem Klasifikasi Parks menjelaskan ada 4 tipe fistula perianal yang terjadi akibat
infeksi kriptoglandular, yaitu:

Gambar 3. Klasifikasi Park


kPark
1. Fistula Transsphincter
Pada fistula transsfingter, saluran fistula melewati baik sfingter interna maupun
eksterna (cincin otot yang dapat dikendalikan, yang menjaga anus tetap tertutup) dan
terbuka pada permukaan kulit di sebelah anus. Fistula transsphincter disebabkan oleh
abses ischiorektal dengan perluasan jalur melalui sfingter eksterna. Terjadi sekitar 25%
dari semua fistula.
2. Fistula Intersphingter
Pada fistula intersfingter, saluran yang terinfeksi tersebut melintasi sfingter ani
interna (cincin otot polos yang tidak dapat dikendalikan, yang menjaga anus tetap
tertutup) dan terbuka pada permukaan kulit di sebelah anus.

7
Terbatas pada ruang intersphingter dan spingter interna. Disebabkan oleh abses
perianal. Terjadi sekitar 70% dari semua fistula. Semua jalur inflamasi pada posisi medial
striated muscle atau sphincter externus.
3. Fistula suprasfingter
Disebabkan oleh abses supralevator. Melalui otot levator ani, di atas puncak otot
puborektal dan masuk ke dalam ruang interspingter. Terjadi sekitar 5% dari semua
fistula. Sangat jarang, dan jalur utamanya menyebrang melewati levator ani.
4. Fistula ekstrasfingter
Tidak melewati kanalis ani dan mekanisme sfingter, melewati fossa ischiorektal dan
otot levator ani, dan bermuara tingi di rektum. Terjadi sekitar 1% dari semua fistula.
Biasanya akibat sepsis intrapelvis atau operasi bedah yang tidak tepat dari fistula yang
lain, dan jalurnya diluar semua kompleks sfingter.

Gambar 4. Klasifikasi Anal Fisula

2.2.4 Manifestasi Klinis Anal Fistula


Pus atau feses dapat bocor secara konstan dari lubang kutaneus. Gejala lain mungkin
pasase flatus atau feses dari vagina atau kandung kemih, tergantung pada saluran fistula.
Fistula yang tidak dapat teratasi dapat menyebabkan infeksi sistemik disertai gejala yang
berhubungan.(Smeltzer, 2001)

8
Berdasarkan hasil pemeriksaan anamnesa akan diketahui bahwa pasien merasa seperti
keluarnya flatus, cairan atau feses ke dalam vagina, untuk pemeriksaan ginekologi
tampak lubang antara vagina dengan anus, terdapat feses di dalam vagina sedangkan
berdasarkan pemeriksaan colok anus, terdapat lubang antara rektum dengan vagina.
Manifestasi klinik tergantung pada kekhususan defek. Bisanya fistula mengeluarkan
nanah atau feces, berdarah, ekskoriasi, eritema pada kulit, indurasi, fluktuasi dan
terdapat eksternal opening. Gejala lain yang menyertai berupa diare, nyeri perut,
kehilangan berat badan dan perubahan kebiasaan defekasi.
Secara singkat, tanda dan gejala yang dapat ditimbulkan pasien dengan anal fistula
yaitu:
1. Darah di dalam tinja
2. Demam
3. Gatal-gatal di sekitar anus
4. Merasakan ketidaknyamanan atau kegelisahan (malaise atau rasa tidak enak badan)
5. Nanah berbau busuk di sekitar anus
6. Rasa sakit di sekitar daerah dubur yang memburuk ketika duduk
Rasa sakit selama buang air besar

2.2.5 Patofisiologi Anal Fistula


Di dalam kanal anal terdapat kelenjar anal yang kecil. Kelenjar-kelenjar ini bisa
terinfeksi ketika bakteri masuk atau ketika kelenjar-kelenjar ini tersumbat. Kondisi-
kondisi tertentu seperti kolitis atau radang usus terkadang dapat menyebabkan infeksi ini.
Nanah bisa berkumpul di bawah tekanan di bawah kulit, sehingga menghasilkan abses.
Tekanan ini bisa dibebaskan dengan mengeluarkan nanah dari kulit bagian luar. Namun,
setelah nanah pada abses ini kering, terowongan atau saluran ini bisa tetap ingin
menghubungkan kelenjar anal dari tempat timbulnya abses tadi ke kulit bagian luar.
Apabila ini terjadi, keluarnya nanah terus-menerus dari bukaan kulit luar menandakan
bandelnya saluran ini, yang kita istilahkan sekarang sebagai fistula. Saluran fistula bisa
terinfeksi beberapa kali dengan keluarnya nanah yang sering. Sekali muncul, fistula anal
jarang sembuh dengan sendirinya.

9
Hipotesa kriptoglandular menyatakan bahwa infeksi yang pada awalnya masuk
melalui kelenjar anal akan menyebar ke dinding otot sphingter anal menyebabkan abses
anorektal. Abses yang pecah spontan, akhirnya meninggalkan bekas berupa jaringan
granulasi di sepanjang saluran, sehingga menyebabkan gejala yang berulang.
Skema: Mekanisme anal fistula

Kanal anal Kelenjar anal

Obstruksi Bakteri : E.coli, Bakteroides


kelenjar sp, Enterococcus sp

Radang usus

Nanahter
Terinfeksi kumpul Abses
anorektal

3
Lubang
4
fistula tidak Nanah, feses, Terbentuk saluran
fistula
menutup dan berdarah, eritema ke kulit bagian luar
5
tidak kering pada kulit, dll

Gangguan fungsi
Tidak Infeksi
reproduksi, berkemih,
teratasi sistemik
defekasi

2.2.6 Penatalaksanaan Diagnostik Anal Fistula


Pada pemeriksaan fisik di daerah anus (dengan pemeriksaan digital/rectal toucher)
ditemukan satu atau lebih eksternal opening fistula atau teraba adanya fistula di bawah
permukaan kulit. Eksternal opening fistula tampak sebagai bisul (bila abses belum
pecah) atau tampak sebagai saluran yang dikelilingi oleh jaringan granulasi. Internal
opening fistula dapat dirasakan sebagai daerah indurasi/ nodul di dinding anus setinggi
garis dentata. Terlepas dari jumlah eksternal opening, terdapat hampir selalu hanya satu
internal opening.

10
Gambar 5. Opening of Fistula

Lokasi muara eksterna memberikan petunjuk bagi kemungkinan jalur fistula dan
terkadang fistula dapat dirasakan sebagai jalur yang menebal. Pada banyak kasus, untuk
melihat jalurnya membutuhkan banyak alat, dan terkadang jalurnya tidak jelas sampai
dilakukan pembedahan.
Peralatan yang dapat digunakan oleh dokter:
1. Fistula probe. Alat yang secara khusus dibuat untuk dimasukkan ke dalm fistula
2. Anoscope. Instrumen kecil untuk melihat kanalis ani.
Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk membantu mengidentifikasi jenis dan
anatomi/saluran fistel. Sebab hal ini sangat penting bagi penderita, karena menyangkut
cacat fungsional yang mungkin terjadi oleh karena pemilihan prosedur operasi.
Pemeriksaan tersebut antara lain CT Scan, fistulografi, USG endoanal, MRI,
Rektosigmoidoskopi/Kolonoskopi dan Foto Rontgen Thorax.
1. CT Scan berguna dalam mengidentifikasi abses anorektal yang dalam, tapi jarang
digunakan dalam evaluasi sebelum operasi fistula in ano. Gambaran CT Scan
yang relatif sedikit mencitrakan resolusi jaringan lunak, M. Levator ani dan otot-
otot sfingter tidak bisa mengidentifikasi kelainan pada bagian aksial.
2. Sama halnya dengan CT Scan, pada Fistulografi tidak membantu dalam
mendefinisikan hubungan antara saluran fistel ke struktur anatomi normal oleh
karena adanya jaringan granulasi dan materi fistel yang bernanah dapat
menciptakan citra yang palsu.
3. USG endoanal memberikan gambaran yang sangat baik dari daerah anus dan
sangat akurat untuk mengidentifikasi cairan fistulous dan saluran. Namun, jarang
bisa mengidentifikasi bukaan internal.

11
4. Magnetic Resonance Imaging (MRI) memiliki resolusi yang baik dalam
mengidentifikasi internal opening dan saluran fistel. Pemeriksaan MRI sangat
berguna dalam membantu mengevaluasi fistula yang kompleks dan berulang.
Walaupun tampak lebih unggul namun penggunaan USG endoanal lebih murah
dan dapat digunakan diruang operasi saat operasi.
5. Rektosigmoidoskopi atau Kolonoskopi dilakukan pada evaluasi awal untuk
membantu menyingkirkan adanya penyakit yang terkait proses dalam rektum.
6. Foto Rontgen Thorax dilakukan untuk mengevaluasi adanya penyakit lain (TBC)
sebagai penyebab terjadinya fistula.
Diagnosa ditegakkan dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada kasus-
kasus yang sederhana, hukum Goodsall membantu mengantisipasi anatomi fistula
perianal. Hukum ini menyatakan bahwa fistula dengan eksternal opening ke anterior
biasanya memiliki saluran yang berbentuk lurus. Sedangkan fistula dengan eksternal
opening ke posterior atau dorsal biasanya selalu bengkok ke depan karena radang dan pus
terdorong ke anterior di sekitar muskulus puborektal dan dapat membentuk 1 atau lebih
lubang perforasi di sebelah anterior.
Dengan menggunakan pendekatan B6, yaitu:
B1 (Breath) : RR meningkat.

B2 (Blood) : denyut jantung meningkat, tekanan darah meningkat, dan adanya


perdarahan saat defekasi.
B3 (Brain) : nyeri pada anus, demam, dan gelisah.
B4 (Bladder) : pada pemeriksaan genekologi tampak lubang antara vagina dengan
anus, terdapat feses dalam vagina
B5 (Bowel) : nafsu makan menurun, Berat badan menurun, dan inkontinesia alvi
B6 (Bone) : gatal-gatal di kulit anus, keluar nanah, sakit ketika duduk, cepat
lelah, lesi pada kulit anus hingga lubang

12
2.2.7 Penatalaksanaan Medis Anal Fstula
Penanganan dan pengobatan medis anal fistula/fistula ani dapat berbeda tergantung
pada kondisi pasien dan penyakit yang dideritanya.
1. Fistula yang baru pasca trauma obsetri dilakukan reparasi dan perawatan dengan baik alat
genetalia
2. Fistula yang besar, dilakukan operasi setelah 3 bulan kemudian
3. Fistula paca radiasi dilakukan operasi setelah 1 sampai 2 tahun kemudian
4. Fistula karena bawaan, dapat dilakukan sesuai dengan keluhan penderita
Tujuan dari penatalaksanaannya adalah untuk menyembuhkan fistula dengan sedikit
mungkin pengaruh pada otot sfingter. Perencanaan akan bergantung pada lokasi fistula
dan kerumitannya, serta kekuatan otot sfingter pasien.Pengelolaan berdasar pada
eradikasi sepsis dengan seoptimal mungkin menjaga fungsi anal. Jalur fitula harus dibuka
dan diizinkan untuk sembuh dari dasarny. Mayoritas fistula superfisial dan intersphincter
(85%) langsung dapat diatasi.
Sisanya (transphincteric dan suprasphincteric) jauh lebih sulit dan membutuhkan
perawatan spesialis. Biasanya perawatannya lebih lama; dilakukan secara bertahap untuk
mencegah kerusakan sphincter.
Operasi bertujuan menginsisi di atas saluran fistula, meninggalkan insisi tersebut
terbuka untuk bergranulasi nantinya. Biasanya dicapai dengan menempatkan sonde
melalui kedua muara fistula dan memotong di atas sonde. Jika fistula mengikuti
perjalanan yang mengharuskan pemotongan sfingter, maka insisi harus memotong
serabut otot tegak lurus dan hanya pada satu tingkat. Bila timbul inkontinensia, jika otot
terpotong lebih dari satu tempat.
Penanganan terbaik untuk anal fistula adalah bedah pengeringan. Antibiotik
sebenarnya bukan merupakan alternatif yang baik untuk mengeringkan nanah, karena
antibiotik tidak benar-benar menembus dan merawat cairan yang ada di dalam abses.
Pembedahan selalu dianjurkan karena beberapa fistula sembuh secara spontan. Bedah
fistula biasanya cukup mudah. Prosesnya biasanya meliputi pembukaan terowongan atau
saluran fistula, disini akan perlu dilakukan pemotongan sebagian kecil otot sfinkter anal.
Fistulotomi adalah prosedur bedah yang dianjurkan.

13
Fistulotomi(eksisi saluran fistula) merupakan tindakan bedah untuk mengobati anal
fistula dengan cara membuka saluran yang menghubungkan anal kanal dan kulit
kemudian mengalirkan pus keluar. Sebelumnya, usus bawah dievakuasi secara seksama
dengan enema yang diprogramkan. Selama pembedahan, saluran sinus diidentifikasi
dengan memasang alat ke dalamnya atau dengan menginjeksi saluran dengan larutan biru
metilen. Fistula didiseksi ke luar atau dibiarkan terbuka, dan insisi lubang rektalnya
mengarah keluar. Luka diberi tampon dengan kasa. ( Smeltzer, 2001)

Gambar 6. Hukum Goodsall (dapat


digunakan ketika pasien dalam posisi
litotomi)
-Jika muara eksterna terletak anterior
dari garis imajiner yang ditarik
anterior dari kanalis ani, fistula
biasanya berjalan langsung menuju
anal kanal
- -Jika muara eksterna terletak sebelah
posterior dari garis, fistula biasanya
membentuk lengkungan terhadap
garis tengah dari kanalis ani

Sebagian besar bedah fistula bisa dilakukan bersamaan dengan bedah abses, tanpa
memerlukan rawat inap. Jarang sekali anal fistula bisa dalam, atau kompleks dengan
lebih dari satu saluran. Pada situasi-situasi semacam ini, tes gambar khusus akan
diperlukan dan begitu juga teknik bedah alternatif.
Rasa tidak nyaman setelah bedah abses atau fistula anal ini biasanya sedang saja dan
bisa dikendalikan dengan pereda sakit. Luka terbuka pada anus perlu dibersihkan secara
teratur menggunakan air hangat yang disemprotkan ke luka sekitar 3 sampai 4 kali sehari.
Disarankan agar menggunakan bantalan kasa atau bantalan higienis agar nanah tidak
menodai pakaian. Dokter mungkin akan memberikan resep pelunak kotoran dan laksatif
ringan. Buang air besar tidak akan mempengaruhi proses penyembuhan luka ini.

14
Lukanya membutuhkan waktu sekitar 4 minggu untuk sembuh total, walaupun
biasanya akan merasa tidak nyaman setelah 2 minggu. Apabila luka sudah sembuh total,
masalah biasanya tidak kembali. Tapi apabila luka tidak sembuh, ini menandakan
penyakit kambuh lagi; tetapi kemungkinannya sangat kecil.
Adapun pilihan pengobatan fistula anal yang lain adalah
1. Lem Fibrin atau sumbat kolagen
Pada beberapa kasus, dokter dapat menggunakan lem fibrin, terbuat dari protein
plasma, untuk menyumbat dan menyembuhkan fistula daripada memotong dan
membiarkannya terbuka. Dokter menyuntikkan lem melalui lubang eksterna setelah
membersihkan salurannya lebih dahulu dan menempelkan lubang yang di dalam agar
tertutup. Saluran fistula dapat juga disumbat dengan protein kolagen dan kemudian
ditutup.
2. Ligasi Saluran Fistula Intersphincterik
3. Flap rektal
Terkadang, untuk mengurangi jumlah otot sfingter yang digunting, dokter bedah
dapat mengeluarkan jalurnya dan membuat flap ke dalam dinding abdomen untuk
mencapai dan mengeluarkan muara fistula interna. Flap nya kemudian ditempelkan ke
belakang.
4. Ostomi
5. Sumbat Bioprostetik
6. Penempatan Seton
Dokter bedah menggunakan seton untuk menciptakan jaringan parut di sekitar otot
sphincter sebelum memotongnya dengan pisau dan mengizinkan seton untuk secara
lambat memotong seluruh jalur melalui otot selama beberapa minggu. Seton juga dapat
membantu drainase fistula.

15
Gambar 7. Penempatan Seton

Seton dibuat dari benang silk yang besar, penanda silastik, atau pita karet, yang
dipasang pada saluran fistula dan menyediakan tiga tujuan. Yang pertama, kita dapat
melihat langsung ke saluran, sebagai drain dan pemicu fibrin, dan juga memotong
melalui fistula. Oleh sebab itu, seiring waktu, sejalan dengan terjadinya fibrosis di atas
seton. Secara perlahan memotong melalui otot sfingter, dan menampakkan saluran. Seton
diketatkan selama kunjungan ke poli sampai ia ditarik selama lebih dari 6-8 minggu.
Keuntungan pemakaian seton, adalah bahwa “fistulotomi bertahap” ini mengizinkan
untuk pembelahan progresif dari otot sfingter, menghindari terjadinya komplikasi
inkontinensia.

16
2.3 Hemoroid
2.3.1 Definisi Hemoroid
Hemoroid adalah varises di rektum bagian bawah atau anus. Hemoroid dapat mucul
akibat konstipasi yang dialami bertahun-tahun. (Brooker, 2008)
Wasir atau hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah balik (vena) di dalam pleksus
hemoroidalis (anyaman pembuluh darah) yang tidak merupakan kelainan. (Lumenta,
2006).
Hemoroid diklasifikasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal, yaitu hemoroid yang
terjadi diatas sfingter anal sedangkan yang mucul di luar sfingter anal disebut hemoroid
eksternal. (Smeltzer, 2001).
Hemorrhoid internal dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan besar-kecilnya penonjolan
ini. Derajat satu biasanya penonjolan tidak sampai keluar lubang anus, derajat dua
penonjolan bisa keluar masuk lubang anus dengan sendirinya, derajat tiga lebih berat lagi
sehingga penonjolan ini harus dimasukkan dengan tangan untuk mengembalikannya ke
saluran anus, dan yang paling berat adalah derajat empat berupa penonjolan yang sama
sekali terjerat sehingga tidak dapat kembali ke saluran cerna bahkan saat dimasukkan
dengan tangan.
Hemoroid ekternal diklasifikasikan sebagai bentuk akut atau kronis. Bentuk akut
berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan suatu
hematoma, walaupun disebut sebagai hemoroid trombusis ekternal akut. Hemoroid
eksternal kronis atau skin tagbiasanya merupakan sutu sekuele dari hematom akut.
Hemoroid ini berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan ikat dan
pembuluh darah.

17
Internal Hemoroid

Eksternal Hemoroid

Gambar 1 Hemoroid Internal dan Eksternal

2.3.2 Etiologi Hemoroid


Faktor risiko terjadinya hemoroid antara lain faktor mengedan padabuang air besar
yang sulit, pola buang air besar yang salah (lebih banyakmemakai jamban duduk, terlalu
lama duduk di jamban sambil membaca,merokok), peningkatan tekanan intra abdomen,
karena tumor (tumor usus,tumor abdomen), kehamilan (disebabkan tekanan janin pada
abdomen dan perubahan hormonal), usia tua, konstipasi kronik, diare kronik atau diare
akutyang berlebihan, hubungan seks peranal, kurang minum air, kurang makan-makanan
berserat (sayur dan buah), kurang olahraga/imobilisasi. (Sudoyo,2006).
Faktor penyebab hemoroid dapat terjadi karena kebiasaan buang air besartidak tentu
dan setiap kali berak mengedan terlalu keras, terlalu lama duduksepanjang tahun, infeksi,
kehamilan dapat merupakan faktor-faktor penyebab hemoroid. (Oswari, 2003).
Faktor predisposisi terjadinya hemoroid adalah herediter, anatomi,makanan,
pekerjaan, psikis, dan senilitas. Sedangkan sebagai faktor presipitasi adalah faktor
mekanis (kelainan sirkulasi parsial dan peningkatan tekanan intraabdominal), fisiologis
dan radang.Umumnya faktor etiologi tersebut tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan.
(Mansjoer, 2000).

18
2.3.3 Klasifikasi Hemoroid
Hemoroid menyebabkan rasa gatal dan nyeri, dan sering menyebabkan perdarahan
berwarna merah terang pada saat defekasi. Hemoroid eksternal dihubungkan dengan nyeri
hebat akibat inflamasi dan edema yang disebab kanoleh thrombosis. Thrombosis adalah
pembekuan darah dalam hemoroid. Ini dapat menimbulkan iskemia pada area tersebut dan
nekrosis. Hemoroid internal tidak selalu menimbulkan nyeri sampai hemoroid ini
membesar dan menimbulkan perdarahan atau prolaps. (Smeltzer, 2002)

2.3.4 Manifestasi Hemoroid


Menurut Lumentang, ada beberapa manifestasi klinis dari hemoroid yakni sebagai
berikut :
1. Pendarahan
Keluhan yang sering dan timbul pertama kali yakni : darah segar berwarna merah
terang menetes setelah buang air besar (BAB), biasanya tanpa disertai nyeri dan gatal di
anus. Pendarahan dapat juga timbul di luar waktu BAB, misalnya pada orang tua.
Pendarahan ini berwarna merah segar.
2. Benjolan
Benjolan terjadi pada anus yang dapat menciut/tereduksi spontan atau manual
merupakan ciri khas/ karakteristik hemoroid.
3. Nyeri dan rasa tidak nyaman
Dirasakan bila timbul komplikasi trombosis (pembekuan darah dalam hemoroid),
benjolan keluar anus, polip rectum, skin tag.
4. Basah, gatal, dan higiene yang kurang di anus.
Terjadi akibat dari pengeluaran cairan dari selaput lendir disertai perdarahan
merupakan tanda hemoroid interna, yang sering mengotori pakaian dalam bahkan dapat
menyebabkan penyakit kulit.

19
2.3.5 Patofisiologi Hemoroid
Dalam keadaan normal sirkulasi darah yang melalui vena hemoroidalis mengalir
dengan lancar sedangkan pada keadaan hemoroid terjadi gangguan aliran darah balik
yang melalui vena hemoroidalis. Gangguan aliran darah ini antara lain dapat disebabkan
oleh peningkatan tekanan intra abdominal. Vena porta dan vena sistematik, bila aliran
darah vena balik terus terganggu maka dapat menimbulkan pembesaran vena (varices)
yang dimulai pada bagian struktur normal di regio anal, dengan pembesaran yang
melebihi katup vena dimana sfingter anal membantu pembatasan pembesaran tersebut.
Hal ini yang menyebabkan pasien merasa nyeri dan faeces berdarah pada hemoroid
interna karena varices terjepit oleh sfingter anal.
Peningkatan tekanan intra abdominal menyebabkan peningkatan vena portal dan
vena sistemik dimana tekanan ini disalurkan ke vena anorektal. Arteriola regio anorektal
menyalurkan darah dan peningkatan tekanan langsung ke pembesaran (varices) vena
anorektal. Dengan berulangnya peningkatan tekanan dari peningkatan tekanan intra
abdominal dan aliran darah dari arteriola, pembesaran vena (varices) akhirnya terpisah
dari otot halus yang mengelilinginya ini menghasilkan prolap pembuluh darah
hemoroidalis. Hemoroid interna terjadi pada bagian dalam sfingter anal, dapat berupa
terjepitnya pembuluh darah dan nyeri, ini biasanya sering menyebabkan pendarahan
dalam faeces, jumlah darah yang hilang sedikit tetapi bila dalam waktu yang lama bisa
menyebabkan anemia defisiensi besi. Hemoroid eksterna terjadi di bagian luar sfingter
anal tampak merah kebiruan, jarang menyebabkan perdarahan dan nyeri kecuali bila vena
ruptur. Jika ada darah beku (trombus) dalam hemoroid eksternal bisa menimbulkan
peradangan dan nyeri hebat.

20
menyebabkan
peningkatan tekanan peningkatan tekanan tekanan disalurkan ke
intra abdominal vena portal dan vena vena anorektal
sistemik

jika peningkatan tekanan terjadi gangguan aliran


maka vena mengalami dari intra abdominal dan darah balik yang melalui
pembesaran aliran darah dari arteriola vena hemoroidalis
berulang

vena menjadi terpisah maka menghasilkan


dari otot halus yang prolap pembuluh darah
mengelilinginya hemoroidalis

Gambar 2 Bagan Patofisiologi Hemoroid

2.3.6 Penatalaksanaan Medis Hemoroid


1. OperasiHerniadectomy atau eksisi bedah, dapat dilakukan untuk mengangkat semua
jaringan sisa yang terlibat dalam proses ini. Selama pembedahan, sfingter rektal biasanya
didilatasi secara digital dan hemoroid diangkat dengan klem dan kauter atau dengan ligasi
dan kemudia dieksisi setelah prosedur operatif selesai, selang kecil dimasukkan melalui
sfingter untuk memungkinkan keluarnya flatus dan darah; penempata Gelfoan atau kasa
Oxygel dapat diberikan diatas luka anal.

2. Tindakan Non operatif


a) Untuk derajat I dan II
1) Diet tinggi serat untuk melancarkan BAB.
2) Obat – obat suposituria untuk membantu pengeluaran BAB dan untuk melunakan
feces.
3) Anti biotic bilaterjadi infeksi.

21
4) Injeksiskloretika( Dilakukanantaramokosadanvarisesdenganharapantimbul fibrosis
danhemoroidlalumengecil ).
5) “ Rubber Band Ligation “ yaitu mengikat hemoroiddengankaret elastic kira – kira I
minggu, diharapkan terjadi nekrosis.
b) Untuk derajat III dan IV
1) Dapat dilakuakan pembedahan
2) Dapat dilakukan pengikatan atau ligation.
3) Dapat dilakukan rendam duduk.
4) Dengan jalan suntikan”Sklerotika” untuk mengontrol pendarahan dan kolaps
(keluar) hemoroid interna yang kecil sampai sedang.
c) Bila seorang datang dengan derajat IV tidak boleh langsung di lakukan operasi, harus
di usahakan menjad iderajat III dulu. Dengan cara duduk berendam dengan cairan PK
1/10.000 selama 15 menit, kemudian di kompres dengan larutan garam hipertonik
sehingga edema keluar dan kotoran keluar. Biasanya setelah dua minggu akan menjadi
derajat III.
3. Pada wanita hamil, karena akan sembuh setelah kehamilan berakhir, maka tidak perlu di
adakan oprasi karena akan membahayakan janin dan varisesnya pun juga akan hilang. Bila
ada perdarahan lakukan pengikatan sementara, setelah partus baru di adakan tindakan
defenitif.
4. Terapi Bedah
a. Bedah Konvensional, saat ini ada tiga teknik yang biasa digunakan, yaitu:
1) Teknik Milligan – Morgan
Teknik ini digunakan untuk tonjolan hemoroid di 3 tempat utama. Basis
massa hemoroid tepat diatas linea mukokutan dicekap dengan hemostat dan
diretraksi dari rektum. Kemudian dipasang jahitan transfiksi catgut proksimal
terhadap pleksus hemoroidalis. Penting untuk mencegah pemasangan jahitan
melalui otot sfingter internus.
Hemostat kedua ditempatkan distal terhadap hemoroid eksterna. Suatu incisi
elips dibuat dengan skalpel melalui kulit dan tunika mukosa sekitar pleksus
hemoroidalis internus dan eksternus, yang dibebaskan dari jaringan yang
mendasarinya. Hemoroid dieksisi secara keseluruhan. Bila diseksi mencapai jahitan

22
transfiksi cat gut maka hemoroid ekstena dibawah kulit dieksisi. Setelah
mengamankan hemostasis, maka mukosa dan kulit anus ditutup secara longitudinal
dengan jahitan jelujur sederhana.
Biasanya tidak lebih dari tiga kelompok hemoroid yang dibuang pada satu
waktu. Striktura rektum dapat merupakan komplikasi dari eksisi tunika mukosa
rektum yang terlalu banyak. Sehingga lebih baik mengambil terlalu sedikit daripada
mengambil terlalu banyak jaringan.
2) Teknik Whitehead
Teknik operasi yang digunakan untuk hemoroid yang sirkuler ini yaitu
dengan mengupas seluruh hemoroid dengan membebaskan mukosa dari submukosa
dan mengadakan reseksi sirkuler terhadap mukosa daerah itu. Lalu mengusahakan
kontinuitas mukosa kembali.
3) Teknik Langenbeck
Pada teknik Langenbeck, hemoroid internus dijepit radier dengan klem.
Lakukan jahitan jelujur di bawah klem dengan cat gut chromic no 2/0. Kemudian
eksisi jaringan diatas klem. Sesudah itu klem dilepas dan jepitan jelujur di bawah
klem diikat. Teknik ini lebih sering digunakan karena caranya mudah dan tidak
mengandung resiko pembentukan jaringan parut sekunder yang biasa menimbulkan
stenosis. Dalam melakukan operasi diperlukan narkose yang dalam karena sfingter
ini harus benar-benar lumpuh.
b. Bedah Laser
Pada prinsipnya, pembedahan ini sama dengan pembedahan konvensional, hanya
alat pemotongnya menggunakan laser. Saat laser memotong, pembuluh jaringan terpatri
sehingga tidak banyak mengeluarkan darah, tidak banyak luka dan dengan nyeri yang
minimal. Pada bedah dengan laser, nyeri berkurang karena saraf rasa nyeri ikut terpatri.
Di anus, terdapat banyak saraf. Pada bedah konvensional, saat post operasi akan terasa
nyeri sekali karena pada saat memotong jaringan, serabut saraf terbuka akibat serabut
saraf tidak mengerut sedangkan selubungnya mengerut. Sedangkan pada bedah laser,
serabut saraf dan selubung saraf menempel jadi satu, seperti terpatri sehingga serabut
syaraf tidak terbuka. Untuk hemoroidektomi, dibutuhkan daya laser 12 – 14 watt. Setelah

23
jaringan diangkat, luka bekas operasi direndam cairan antiseptik. Dalam waktu 4 – 6
minggu, luka akan mengering. Prosedur ini bisa dilakukan hanya dengan rawat jalan.
c. Bedah Stapler
Alat yang digunakan sesuai dengan prinsip kerja stapler. Bentuk alat ini seperti
senter, terdiri dari lingkaran di depan dan pendorong di belakangnya.
Pada dasarnya hemoroid merupakan jaringan alami yang terdapat di saluran anus.
Fungsinya adalah sebagai bantalan saat buang air besar. Kerjasama jaringan hemoroid
dan m.sfingter ini untuk melebar dan mengerut menjamin kontrol keluarnya cairan dan
kotoran dari dubur. Teknik PPH ini mengurangi prolaps jaringan hemoroid dengan
mendorongnya ke atas garis mukokutan dan mengembalikan jaringan hemoroid ini ke
posisi anatominya semula karena jaringan hemoroid ini masih diperlukan sebagai
bantalan saat BAB, sehingga tidak perlu dibuang semua.
Mula-mula jaringan hemoroid yang prolaps didorong ke atas dengan alat yang
dinamakan dilator, kemudian dijahitkan ke tunika mukosa dinding anus. Kemudian alat
stapler dimasukkan ke dalam dilator. Dari stapler dikeluarkan sebuah gelang dari titanium
diselipkan dalam jahitan dan ditanamkan di bagian atas saluran anus untuk mengokohkan
posisi jaringan hemoroid tersebut. Bagian jaringan hemoroid yang berlebih masuk ke
dalam stapler. Dengan memutar sekrup yang terdapat pada ujung alat, maka alat akan
memotong jaringan yang berlebih secara otomatis. Dengan terpotongnya jaringan
hemoroid maka suplai darah ke jaringan tersebut terhenti sehingga jaringan hemoroid
mengempis dengan sendirinya.
Keuntungan teknik ini yaitu mengembalikan ke posisi anatomis, tidak
mengganggu fungsi anus, tidak ada anal discharge, nyeri minimal karena tindakan
dilakukan di luar bagian sensitif, tindakan berlangsung cepat sekitar 20 – 45 menit,
pasien pulih lebih cepat sehingga rawat inap di rumah sakit semakin singkat.

2.3.7 Penatalaksanaan Diagnostik Hemoroid


Penatalaksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada klie dengan penyakit hemoroid
adalah sebagai berikut :
a. Pemeriksaan fisik yaitu inspeksi, rektaltouche (colok dubur), dan pendekatan B6

24
Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna stadium awal tidak dapat diraba
sebab tekanan vena di dalamnya tidak terlalu tinggi dan biasanya tidak nyeri. Hemoroid
dapat diraba apabila sangat besar. Apabila hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan
menebal. Trombosis dan fibrosis pada perabaan terasa padat dengan dasar yang lebar.
Pemeriksaan colok dubur ini untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum.
Berdasarkan pendekatan B6:

B1 (Breath) : RR meningkat.

B2 (Blood) : denyut jantung meningkat, tekanan darah meningkat, dan adanya


perdarahan saat defekasi.
B3 (Brain) : nyeri pada abdomen bawah dan anus.
B4 (Bladder) : ada sedikit nyeri karena perambatan nyeri dari anus ke daerah
eliminasi urin.
B5 (Bowel) : nafsu makan menurun, Berat badan menurun, asites abdomen,
inflamasi sekitar anus.
B6 (Bone) : gatal sekitar anus dan terdapat benjolan keluar anus

b. Anoskopy
Dengan cara ini dapat dilihat hemoroid internus yang tidak menonjol keluar.
Anoskop dimasukkan untuk mengamati keempat kuadran. Penderita dalam posisi
litotomi. Anoskop dan penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam mungkin,
penyumbat diangkat dan penderita disuruh bernafas panjang. Hemoroid interna terlihat
sebagai struktur vaskuler yang menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita diminta
mengejan sedikit maka ukuran hemoroid akan membesar dan penonjolan atau prolaps
akan lebih nyata. Banyaknya benjolan, derajatnya, letak ,besarnya dan keadaan lain
dalam anus seperti polip, fissura ani dan tumor ganas harus diperhatikan.
c. Pemeriksaan Proktosigmoidoskopy
Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan
disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat tinggi, karena hemoroid
merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Feses harus diperiksa
terhadap adanya darah samar.
d. Rontgen (colon inloop) atau Kolonoskopy
25
e. Tes Laboratorium
Tes labaoratorium dapat dilakukan untuk mengatahu kadar eritrosit, leukosit, dan Hb.

26
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Asuhan Keperawatan pada Anal Fistula


A. Pengkajian

Kelelahan Umum

1. Nyeri hebat pada anus


2. Perubahan kebiasaan buang air besar (BAB)
a. Kaji feses (warna, bau, bentuk, konsistensi, frekuensi, dan jumlah)
b. Diare dan konstipasi
3. Pendarahan
a. Serangan, lamanya, dan jumlah
b. Hematemesis, muntahan merah terang, dan muntahan seperti kopi
c. Kaji feses apakah melena (feses hitam atau seperti teh), fese merah darah, feses
warna normal dengan uji guaiak positif.

Riwayat

1. Apakah klien pernah mengalami pendarahan rectum, fesesnya hitam atau seperti teh,
nyeri rectal, atau perubahan aktivitas usus besar (konstipasi atau diare) ?
2. Tentukan apakah ada riwayat kanker kolorektal, polip, atau penyakit inflamasi usus
besar. Perhatikan hal ini bila klien berusia diatas 40 tahun.
3. Kaji kebiasaan diet terhadap pemasukan tinggi lemak atau kurang makanan berserat
yang mungkin berhubungan atau penyebab kanker usus besar. Apakah klien pernah
menjalani pemeriksaan kanker kolorektal?
4. Kaji riwayat pengobatan mengenai pemakaian laktasif atau kartatik, kodein, atau
tambahan zat besi, yang dapat mengganggu pola-pola eliminasi.
5. Tanyakan apakah klien pernah mengalami aliran kemih yang lemah atau terputus-
putus, ketidak mampuan berkemih, kesulitan memulai atau menghentikan aliran
perkemihan, nokturia, hematuria, atau disuria.

27
6. Kaji riwayat keluarga klien mengenai : kanker kolon, polip keluarga, sindrom
Gardner, sindrom Peuttz Jegher (risiko terjadinya kanker kolorektal)

Kaji riwayat keluarga klien mengenai : kanker kolon, polip keluarga, sindrom
Gardner, sindrom Peuttz Jegher (risiko terjadinya kanker kolorektal)

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa, proses inflamasi.
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, proses
pembedahan.
3. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan pola defekasi.
4. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
5. Kurang pengetahuan dengan kurang informasi, kesalahan interpretasi.
C. Intervensi

Diagnosa Keperawatan
Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa, proses inflamasi.
Tujuan
Nyeri berkurang atau hilang

Intervensi Rasional
1. Dorongan pasien untuk melaporkan 1. Mencoba untuk mentoleransi nyeri tanpa
nyeri. analgesik
2. Kaji laporan kram abdomen atau nyeri, 2. Nyeri sebelum defekasi sering terjadi
catat lokasi, lamanya, intensitas. pada KU dengan tiba-tiba, dimana dapat
3. Catat petunjuk non-verbal, misalnya berat dan terus-menerus.
gelisah, menolak untuk bergerak, berhati- 3. Dapat digunakan pada hubungan
hati dengan abdomen. petunjuk verbal untuk mengidentifikasi
4. Kaji ulang faktor-faktor yang luas/beratnya masalah.
meningkatkan / menghilangkan nyeri. 4. Dapat menunjukkan dengan tepat

28
5. Bersihkan area rektal dengan sabun pencetus atau faktor pemberat.
ringan dan / lap setelah defekasi dan 5. Melindungi kulit dari asam usus,
berikan perawatan kulit. mencegah ekskoriasi.
6. Observasi / catat distensi abdomen, 6. Dapat menunjukkan terjadinya obstruksi
peningkatan suhu, penurunan TD.
usus karena inflamasi, edema, dan
jaringat perut.

Diagnosa Keperawatan
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, proses pembedahan.
Tujuan
Klien bebas dari tanda-tanda infeksi.
Intervensi Rasional
1. Pantau tanda-tanda vital, perhatikan 1. Suhu malam hari memuncak yang
peningkatan suhu. kembali ke normal pada pagi hari adalah
2. Observasi penyatuan luka, adanya karakteristik infeksi.
inflamasi. 2. Perkembangan infeksi dapat
3. Pantau pernapasan, bunyi napas. memperlambat pemulihan.
Pertahankan kepala tempat tidur tinggi 3. Infeksi pulmonal dapat terjadi karena
4. Observasi terhadap tanda / gejala depresi pernapasan, ketidakefektifan
peritonitis, mis, demam, peningkatan batuk, dan distensi abdomen.
nyeri, distensi abdomen. 4. Meskipun persiapan usus terganggu, mis,
5. Pertahankan perawatan luka aspetik. ruptur praoperasi, kebocoran
Pertahankan balutan kering. anastomosis.
6. Berikan obat antibiotik sesuai indikasi. 5. Melindungi pasien dari kontaminasi
silang selama penggantian balutan.
Balutan basah bertindak sebagai retrogad,
menyerap kontaminan eksternal.
6. Diberikan secara profilaktik dan untuk
mengatasi infeksi.

Diagnosa Keperawatan

29
Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan pola defekasi.
Tujuan
Terjadi peningkatan rasa harga diri
Intervensi Rasional
1. Kaji respon dan reaksi pasien dan 1. Menyediakan data tentang masalah pada
keluarga terhadap penyakit dan pasien dengan keluarga dalam
penanganannya. menghadapi perubahan dalam hidup.
2. Kaji hubungan antara pasien dan anggota 2. Mengidentifikasi penguatan dan
keluarga . dukungan terhadap pasien.
3. Kaji pola koping pasien dan anggta 3. Pola koping yang efektif dimasa lalu
keluarga. mungkin potensial destruktif ketika
4. Ciptakan diskusi terbuka tentang memandang pembatasan yang ditetapkan.
perubahan yang terjadi akibat penyakit 4. Pasien dapat mengidentifikasi masalah
dan penanganannya. dan langkah-langkah yang diperlukan
untuk menghadapinya.

Diagnosa Keperawatan
Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan : Kecemasan berkurang atau teratasi.
Intervensi Rasional
1. catat petunjuk perilaku mis, gelisah, peka 1. Stress dapat terjadi sebagai akibat gejala
rangsang, menolak, kurang kontak mata, fisik kondisi, juga reaksi lain.
perilaku menarik perhatian. 2. Membuka hubungan teraupetik.
2. Dorong menyatakan perasaan. Berikan Membantu dalam mengidentifikasi
umpan balik. masalah yang menyebabkan stress.
3. Akui bahwa ansietas dan masalah mirip 3. Validasi bahwa perasaan normal dapat
yang diekspresikan orang lain. membantu menurunkan stress.
Tingkatkan perhaian mendengan pasien 4. Keterlibatan pasien dalam perencanaan
4. Berikan informasi yang akurat dan nyata perawatan memberikan rasa kontrol dan
tentang apa yang dilakukan. membantu menurunkan ansietas.
5. Berikan lingkungan tenang dan istirahat. 5. Meningkatkan relaksasi, membantu
6. Dorong pasien / orang terdekat untuk menurunkan ansietas.
menyatakan perhatian, perilaku 6. Tindakan dukungan dapat membantu

30
perhatian. pasien merasa stress berkurang.
7. Bantu pasien belajar mekanisme koping 7. Meningkatkan kontrol penyakit.
baru, mis teknik mengatasi stress.

Diagnosa Keperawatan
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan interpretasi.
Tujuan : Klien / keluarga menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan.
Intervensi Rasional
1. Tentukan persepsi pasien / keluarga 1. Membuat pengetahuan dasar dan
tentang proses penyakit. memberikan kebutuhan belajar individu.
2. Kaji ulang proses penyakit, penyebab / 2. Kaji ulang proses penyakit, penyebab /
efek hubungan faktor yang menimbulkan efek hubungan faktor yang menimbulkan
faktor pendukung. faktor pendukung.
3. Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis, 3. Meningkatkan pemahaman dan dapat
dan kemungkinan efek samping. meningkatkan kerjasama dalam program.
4. Tekankan pentingnya perawatan kulit, 4. Menurunkan penyebaran bakteri dan
mis, teknik cuci tangan dengan baik dan resiko iritasi kulit / kerusakan, infeksi
perawatan perineal yang baik. 5. Pasien dengan inflamasi beresiko untuk
5. Penuhi kebutuhan evaluasi jangka kanker dan evaluasi disgnostik teratur
panjang dan evaluasi periodik. dapat diperlukan.

3.2 Asuhan Keperawatan pada Hemoroid


A. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan diambol untuk menentukan adanya gatal, rasa terbakar dan nyeri
beserta karakteristiknya.
a. Apakah ini terjadi selama defekasi ?
b. Berapa lama ini berakhir ?
c. Adakah nyeri abdomen dihubungkan dengan hal itu ?
d. Apakah terdapat pendarahan dari rektum ?

31
e. Seberapa banyak ?
f. Seberapa sering ?
g. Apakah warnanya ?
h. Adakah rabas lain seperti mukus atau pus ?
2. Pertanyaan lain berhubungan dengan pola eliminasi dan penggunaan laksatif.
a. Riwayat diet, termasuk masukan serat.
b. Jumlah latihan
c. Tingkat aktivitas
d. Pekerjaan (khususnya bila mengharuskan duduk atau berdir lama)
(Smeltzer, 2002 ; 179 )
3. Pengkajian Obyektif
Menginspeksi feses apakah terdapat darah atau mucus dan area perianal akan adanya
hemoroid, fisura, iritasi, atau pus.
4. Pemeriksaan fisik pada klien dengan hemoroid :
a. Kaji tingkat kesadaran (kacau mental, letargi, tidak merespon)
b. Ukur tanda-tanda vital (TD meningkat / menurun , takikardi)
c. Aukskultasi bunyi nafas.
d. Kaji kulit (pucat,bengkak, dingin)
e. Kaji terhadap nyeri atau mual
f. Abdomen : nyeri tekan pada abdomen, bisa terjadi konstipasi.
g. Anus : pembesaran pembuluh darah balik (vena) pada anus, terdapat benjolan
pada anus, nyeri pada anus, pendarahan. (Engram, 1999;789)

32
B. Diaknosa Keperawatan
Pre Operatif
1. Resiko kekurangan nutrisi (defisiensi zat) berhubungan dengan pecahnya vena
plexus hemmoroidalis ditandai dengan perdarahan yang terus menerus waktu
BAB
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya massa anal atau anus, yang
ditandai benjolan didaerah anus, terasa nyeri dan gatal pada daerah anus.
3. Personal hygene pada anus kurang berhubungan dengan massa yang keluar pada
daerah eksternal

Post Operasi

1. Gangguan rasa nyaman (Nyeri) pada luka operasi berhubungan dengan adanya
jahitan pada luka operasi dan terpasangnya cerobong angin.
2. Resiko terjadinya infeksi pada luka berhubungan dengan pertahanan primer tidak
adekuat
3. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang
perawatan dirumah.
C. Intervensi
PreOperatif
Diagnosa Keperawatan
Resiko kekurangan nutrisi berhubungan dengan pecahnya vena plexus hemmoroidalis
ditandai dengan pendarahan terus menerus wahtu BAB
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, resiko kekurangan nutrisi
terpenuhi
Kiteria Hasil
1. Tidak terdapat Anemis
2. Perdarahan Terhenti
3. BB tidak turun
Intervensi Rasional
1. Observasi tanda-tanda anemis 1. Tanda-tanda anemis disuga adanya
2. Diet rendah sisa atau serat selma kekurangan zat besi (Hb turun )

33
terjadinya pendarahan 2. Dapat mengurangi perangsangan
3. Berikan penjelasan tentang pada daerah anus sehingga tidak
pentingnya diet kesembuhan terjadi perdarahan
penyakitnya 3. Pendidikan tentang diet, membantu
4. Beri kompres es pada daerah keikutsertaan pasien dalam
terjadinya pendarahan meningkatkan keadaan penyakitnya.
5. Beri obat atau terapi sesuai dengan 4. Pasien dengan pecahnya vena plexus
pesanan dokter hemoriodalis perlu obat yang dapat
membantu pencegahan terhadap
perdarahan yang memerlukan
penilaian terhadap respon secara
periodik
5. Pasien dengan pecahnya vena plexus
hemmoroidalis perlu obat yang dapat
membantu pencegahan terhadap
perdarahan yang memerlukan
penilaiannya terhadap respon obat
tersebut secara periodik

Diagnosa Keperawatan
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya massa anal atau anus, yang ditandai
benjolan didaerah anus, terasa nyeri dan gatal pada daerah anus.

Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, gangguan rasa nyaman teratasi
Kiteria Hasil
1. Nyeri berkurang
2. Rasa gatal berkurang
3. Massa mengecil
Intervensi Rasional
1. Berikan randam duduk 1. Menurunkan ketidaknyamanan lokal,
2. Berikan pelicin pada saat mau BAB menurunkan edema dan
3. Beri diet rendah sisa meningkatkan penyembuhan

34
4. Anjurkan pasien agar jangan banyak 2. Membantu dalam melancarkan
berdiri atau duduk (harus dalam defikasi sehingga tidak perlu
keadaan seimbang) mengedan
5. Observasi keluhan pasien 3. Mengurangi rangsangan anus dan
6. Berikan penjelasan tentang melemahkan feses
timbulnya rasa nyeri dan jelaskan 4. Gaya gravitasi akan mempengaruhi
dengan singkat timbulnya hemoroid dan duduk dapat
7. Beri pasien suppositoria meningkatkan tekanan intra abdomen
5. Membantu mengevaluasi derajat
ketidak nyamanan dan ketidak
efektifan tandakan atau menyatakan
terjadinya komplikasi
6. Pendidikan tentang hal tersebut
membantu dalam keikut sertaan
pasien untuk mencegah / mengurangi
rasa nyeri
7. Dapat melunakkanfeses dan dapat
mengurangi pasien agar tidak
mengejan saat defekasi

Diagnosa Keperawatan
Defisit Personal hygene pada anus kurang berhubungan dengan massa yang keluar pada
daerah eksternal.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, terjaganya kebersihan anus
Kiteria Hasil
1. Tidak ada tanda infeksi
2. Tidak terasa gatal-gatal pada daerah anus
3. Rasa gatal pada anus berkurang
Intervensi Rasional
1. Berikan sit bath dengan larutan 1. Meningkatkan kebersihan dan
permagan 1/1000% pada pagi dan memudahkan terjadinya
sore hari. Lakukan digital (masukan penyembuhan prolaps

35
prolaps dalam tempat semula setelah 2. Peradangan pada anus menandakan
dibersihkan) adanya suatu infeksi pada anus
2. Observasi keluhan dan adanya 3. Pengetahuan tentang cara
tanda-tanda pendarahan anus membersihkan anus membantu
3. Beri penjelasan cara membersihkan keikutsertaan pasien dalam
anus dan menjaga kebersihannya mempercepat kesembuhannya.

PosOperatif
Diagnosa Keperawatan
Gangguan rasa nyaman (Nyeri) pada luka operasi berhubungan dengan adanya jahitan pada
luka operasi dan terpasangnya cerobong angin.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, gangguan rasa nyaman
terpenuhi
Kiteria Hasil
1. Tidak terdapat rasa nyeri pada luka operasi
2. Pasien dapat melakukan aktivitas ringan
3. Skala nyeri 0-1
4. Klien tampak rileks
Intervensi Rasional
1. Beri posisi tadur yang menyenangkan 1. Dapat menurunkan tegangan
pasien abdomen dan meningkatkan rasa
2. Ganti balutan setiap pagi sesuai kontrol
tehnik aseptik 2. Melindungi pasien dari kontaminasi
3. Latihan jalan sendini mungkin silang selama penggantian balutan.
4. Observasi daerah rektal apakah ada Balutan basah bertindak sebagai
perdarahan penyerap kontaminasi eksternal dan
5. Cerobong anus dilepaskan sesuai menimbulkan rasa tidak nyaman
advice dokter (pesanan) 3. Menurunkan masalaha yang terjadi
6. Berikan penjelasan tentang tujuan karena imobilisasi
pemasangan cerobong anus (guna 4. Perdarahan pada jaringan inflamasi
cerobong anus untuk mengalirkan lokal atau terjadinya infeksi dapat
sisa-sisa perdarahan yang terjadi meningkatkan rasa nyeri
didalam agar bisa keluar) 5. Meningkatkan fungsi fisiologi anus

36
dan memberikan rasa nyaman pada
daerah anus pasien karena tidak ada
sumbatan
6. Pengetahuan tentang manfaat
cerobong anus dapat membuat pasien
paham guna cerobong anus untuk
kesembuhan lukanya.

Diagnosa Keperawatan
Resiko terjadinya infeksi pada luka berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat
Tujuan : Stelah dilakukan tindakan perawatan selama 2x24 jam, resiko infeksi teratasi
Kiteria Hasil
1. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi (dolor, kalor, rubor, tumor, fungsiolesa)
2. Radang luka mengering
3. Hasil LAB :
-Leukosit
-Trombosit
Intervensi Rasional
1. Observasi tanda vital tiap 4jam 1. Respon autonomik meliputi TD,
2. Observasi balutan setiap 2-4 jam, respirasi, nadi yang berhubungan
periksa terhadap perdarahan dan bau dengan keluhan / penghilang nyeri.
3. Ganti balutan dengan teknik aseptik Abnormalitas tanda vital perlu di
4. Bersihkan area perianal setelah setiap observasi secara lanjut.
depfikasi 2. Deteksi dini terjadinya proses infeksi
5. Berikan diet rendah serat / sisa dan dan / pengawasan penyembuhan
minum yang cukup luka operasi yang ada sebelumnya
3. Mencegah meluas dan membatasi
penyebaran luas infeksi atau
kontaminasi silang
4. Mengurangi / mencegah kontaminasi
daerah luka
5. Mengurangi rangsangan pada anus
dan mencegah mengedan pada waktu

37
defekasi

Diagnosa Keperawatan
Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan dirumah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatn selama 3x 24 jam, kurangnya pengetahuan
teratas
Kiteria Hasil
1. Klien tidak banyak bertanya tentang penyakitnya
2. Pasien dapat menyatakan atau mengerti tentang perawatan dirumah
3. Keluarga klien paham tentang proses penyakit
4. Klien menunjukkan wajah tenang
Intervensi Rasional
1. Diskusikan pentingnya 1. Rasionalisasi : pengetahuan tentang
penatalaknaan diet rendah sisa diet berguna untuk melibatkan pasien
2. Demonstrasikan perawatan area anal dalam merencanakan diet dirumah
dan minta masien mengulangi nya yang sesuai dengan yang dianjurkan
3. Berikan rendam duduk sesuai oleh ahli gizi
pesanan 2. Pemahaman akan meningkatkan
4. Bersihkan area anus dengan baik dan kerja sama pasien dalam program
keringkan seluruhnya setelah terapi, meningkatkan penyembuhan
defekasi dan proses perbaikan terhadap
5. Berikan balutan penyakitnya
6. Diskusikan gejala infeksi luka untuk 3. Meningkatkan kebersihan dan
dilaporkan kedokter kenyamanan pada daerah anus (luka
7. Diskusikan mempertahankan difekasi atau polaps)
lunak dengan menggunakan pelunak 4. Melindungi area anus terhadap
feses dan makanan laktasif alami kontaminasi kuman-kuman yang
8. Jelaskan pentingnya menghindari berasal dari sisa defekasi agar tidak
mengangkat benda berat dan terjadi infeksi
mengejan 5. Melindungi daerah luka dari
kontaminasi luar
6. Pengenalan dini dari gejala infeksi
dan intervensi segera dapat

38
mencegah progesi situasi serius
7. Mencegah mengejan saat defekasi
dan melunakkan feses
8. Menurunkan tekanan intra abdominal
yang tidak perlu dan tegangan otot.

3.3 Kasus semu


Tuan X berjenis kelamin laki-laki umur 40 tahun datang ke rumah sakit Universitas
Airlangga dengan keluhan perdarahan terus menerus saat BAB, nyeri, dan gatal pada anus.
Pasien mengatakan mulai keluar benjolan di anusnya beberapa minggu lalu, kemudian
beberapa hari setelah BAB ada darah yang keluar menetes. Riwayat pasien sering kerja
hingga larut malam dalam posisi duduk dan sering mengalami konstipasi. Selain itu, pasien
juga mengatakan pernah menderita penyakit hemoroid sebelumnya, sembuh atau terulang
kembali dan pada waktu pasien melakukan pengobatan terdahulu tidak dilakukan
pembedahan sehingga akan kembali RPD. Didapatkan data pemeriksaan TTV, yaitu:
N:80x/menit, T: 36°C, RR: 23x/menit, TD: 120/80mmHg.

A. Asuhan Keperawatan
Pengkajian
1. Identitas pasien.
Nama : Tuan X
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama :-
Umur : 40 tahun
Status :-
Suhu : 36°C
Nadi : 80x/menit
RR : 23x/menit
TD : 120/80 mmHg
Kebiasaan sehari-hari : sering kerja hingga larut malam dalam posisi duduk dan sering
mengalami konstipasi.

39
2. Riwayat penyakit.
 Riwayat penyakit sekarang
Pasien mulai keluar benjolan di anusnya beberapa minggu hanya ada benjolan yang
keluar (pasien mengalami nyeri pada saat defekasi) dan beberapa hari setelah BAB ada
darah yang keluar menetes (perdarahan terus menerus saat BAB).
 Riwayat penyakit dahulu
Pasien pernah menderita penyakit hemoroid sebelumnya, sembuh atau terulang
kembali. Dan pada pasien waktu pengobatan terdahulu tidak dilakukan pembedahan
sehingga akan kembali RPD.
3. Pola kebiasaan dan pemeliharaan kesehatan.
a. Pola Nutrisi
Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme, kita perlu melakukan
pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien, selain
juga perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS.
b. Pola Istirahat dan Tidur
Adanya nyeri otot dan dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh terhadap
pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat, selain itu akibat perubahan kondisi
lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit yang banyak
orang mondar-mandir.
c. Pola Aktivitas
Akibat nyeri otot pasien akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal.
Disamping itu pasien juga akan mengurangi aktivitasnya. Dan untuk memenuhi
kebutuhan aktivitasnya sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan
keluarganya.
d. Pola Eleminasi
Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan ilusi dan
defekasi sebelum dan sesudah MRS. Karena keadaan umum pasien yang lemah, pasien
akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi, selain akibat
pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot tractus
degestivus.

40
4. Pemeriksaan fisik.
a. B1 (Breath)
a) analisa secara umum pada orang tanpa gangguan hemoroid akan didapati,
1) Bentuk dada : simetris
2) Pola nafas : teratur, RR normal
3) Suara nafas : tidak ada bunyi nafas tambahan
4) Retraksi otot bantu nafas : tidak ada
5) Alat bantu pernafasan : tidak ada alat bantu pernafasan
b) namun pada pasien hemoroid kemungkinan didapati:
1) pola nafas : tidak teratur, RR meningkat hingga
takipnea karena kehilangan beberapa volume darah dan adanya nyeri

b. B2 (Blood)
1. analisa secara umum pada orang tanpa gangguan hemoroid akan didapati,
1) Irama Jantung: teratur
2) Nyeri dada: tidak ada
3) Bunyi jantung: tidak ada bunyi jantung tambahan
4) Akral: tangan bentuk simetris, tidak ada peradanagn sendi dan oedem,
dapat bergerak dengan bebas, akral hangat, tangan kanan terpasang infus.
Kaki bentuk simetris, tidak ada pembatasan gerak dan oedem, akral
hangat.
2. pada pasien hemoroid kemungkinan didapati: denyut jantung meningkat
hingga takikardia, akral dingin karena penurunan volume cairan, TD
meningkat karena nyeri dan kehilangan darah saat defekasi
c. B3 (Brain)
1) Pengelihatan (mata): gerakan bola mata dan kelopak mata simetris,
konjungtiva tampak anemis, sclera putih, pupil bereaksi terhadap cahaya,
produksi air mata (+), tidak menggunakan alat bantu pengelihatan.iap
pertanyaan

41
2) Pendengaran (telinga): bentuk D/S simetris, mukosa lubang hidung merah
muda, tidak aada cairan dan serumen, tidak menggunakan alat bantu,
dapat merespon setiap perntanyaan yang diajukan dengan tepat.
3) Penciuman (hidung): penciuman dapat mebedakan bau-bauan, mukosa
hidung merah muda, secret tidak ada, tidak terlihat ada pembesaran
mukosa atau polip.
4) Kesadaran: kompos mentis
namun pada pasien hemoroid kemungkinan didapati:
1) Persepsi Nyeri pada abdomen bawah, gelisah/cemas, takut, penurunan
kesadaran
d. B4 (Bladder)
1) Kebersihan: tidak bersih (karena anus sering mengeluarkan darah terus
menerus setelah BAB)
2) Bentuk alat kelamin; normal
3) Uretra: normal
4) Produksi urin: -
namun pada pasien hemoroid kemungkinan didapati:
1) Mungkin ada sedikit nyeri kerena perambatan nyeri dari anus ke
daerah eliminasi uri
e. B5 (Bowel)
1) Nafsu makan: Menurun (anoreksia)
1 1
2) Porsi makan: sampai dengan 2 porsi
4

3) Mulut : gigi lengkap, tidak ada pembengkakan gusi, tidak terlihat


pembesaran tonsil
4) Mukosa: pucat
5) Berat badan turun
6) Asites abdomen
7) Inflamasi sekitar anus

f. B6 (Bone)
1) Kemampuan pergerakan sendi: normal

42
2) Kondisi tubuh: kelelahan, malaise, lemah
3) Adanya gangguan inegritas kulit berupa lesi, turgor kulit menurun, nyeri
pada tullang ekor akibat salah satu penyebab hemorod yaitu terlalu sering
duduk, gatal sekitar anus, benjolan keluar anus
.
Selain berdasarkan pendekatan B6, pasien juga di baringkan dengan posisi menungging
dengan kedua kaki di tekuk dan menempel pada tempat tidur.

a) . Inspeksi
i. Pada insfeksi lihat ada benjolan sekitar anus.
ii. Benjolan tersebut terlihat pada saat prolapsi.
iii. Warna benjolan terlihat kemerahan.
iv. Benjolan terletak di dalam ( internal ).
b) Palpasi
Dilakuakan dengan menggunakan sarung tangan ditambah vaselin dengan
melakuakan rektal tucher, dengan memasukan satu jari kedalam anus. Dan ditemukan
benjolan tersebut dengan konsistensi keras, dan juga ada perdarahan.
5. Informasi penunjang.
a. Pemeriksaan laboratorium
i. Hb 14,3 N : 14-18 mg/dl
ii. Lekosit 12-700 N : 4000 – 11.000
iii. Elektrolit :
K 2,8 N : 3,6 – 5,5 mmol/L
Na 137,6 N : 135 – 155 mmol/L
Cl 107 N : 70 – 108 mmol/L
b. Diagnostik
i. Kolonoscopy
ii. Anoskopy

B. Analisa Data
N Data Penunjang Etiologi Masalah
o
1 DS: Sering mengejan dan duduk 1. Konstipasi
1. Klien mengeluh BAB mulai lama=> kongesti vena 2. Gangguan

43
seminggu yang lalu terasa sangat hemoroidalis=>gangguan aliran rasa
nyeri dan keluar darah segar balik=>pembengkakan vena nyaman
bersama dengan feses. hemoroidalis=> hemoroid=>suplai
3. Gangguan
airan dan elektrolit
2. Klien mengeluh BAB terakhir
menurun=>penurunan peristaltik keseimban
saat keras,sehingga harus
usus=> feses keras=> konstipasi gan nutrisi
mengejan karena hemoroid klien
=> Penyumbatan jalan defekasi =>
kambuh lagi. kurang
Penumpukan makanan di saluran
3. Klien mengeluh pola BAB pencernaan => Distensi abdomen dari
memang tidak normal dari => mual => Gangguan rasa kebutuhan
dulu,klien BAB 1-2 kali /minggu, nyaman => gangguan
walupun sering makan sayur dan keseimbangan nutrisi, kurang
buah-buahan. dari kebutuhan
4. Klien mengatakan saat ini
hampir seminggu belum BAB
karena takut meresakan nyeri dan
perdarahan seperti sebelumnya.
DO:
1. Distensi abdomen (+)
2. Teraba massa pada regio bawah
abdomen.
3. Pemeriksaan anus adanya
benjolan dibawah kulit kanalis
analis yang nyeri, tegang,
berwarna kebiru–biruan,
berukuran 1 cm, benjolan harus
didorong dengan tangan agar
masuk kedalam anus.
4. Suhu : 36°C
Nadi : 80x/menit
RR : 23x/menit
Data tambahan :
1. Pola BAB tidak teratur.
2. Karakteristik feses (warna:
kuning kecoklatan, konsistensi:
lembek berampas)
2 DS: Adanya hemoroid pada daerah 1. Nyeri

44
1. Klien mengeluh nyeri dan anal=>menyumbat pemuluh 2. Intoleransi
panas pada daerah anus. darah=> menekan dan merangsang aktivitas
2. Klien mengeluh nyeri pada saat
nocireseptor nyeri=>
duduk dan berbaring terutama saat
tidur malam hari. nyeri+kehilangan darah karena
3. Klien mengeluh BAB seminggu pendarahan saat sumbatan
yang lalu terasa sangat nyeri dan darah pecah karena mengejan
keluar darah srgar bersama
=> intoleransi aktivitas
dengan feses,bahkan darah
menetes saat BAB.
DO:
1.TTV :
TD = 120/80 mmHg
Suhu = 36°C
Nadi = 80x/menit
RR = 23x/menit

2. Distensi abdomen (+)


3. Pemeriksaan anus adanya
benjolan dibawah kulit kanalis
analis yang nyeri, tegang,
berwarna kebiru–biruan,
berukuran 1 cm, benjolan harus
didorong dengan tangan agar
masuk kedalam anus.
Data tambahan :
1. skala nyeri 6
2. klien tampak meringis
3. klien tampak memegangi
daerah nyeri.
4. klien tidak dapat tidur.

45
3 DS : klien mengeluh BAB pembengkakan vena 1. Perdaraha
seminggu yang lalu karena keluar hemoroidalis=> tekanan saat n
darah segar bersama feses bahkan mengejan=> Vena Hemoroidalis
2. Risiko
darah menetes saat BAB pecah=> Ruptur pembuluh darah
DO : =>luka pendarahan => Risiko kekuranga
1. Klien tampak lemah kekurangan volume cairan n volume
2. Konjungtiva pucat
Resiko infeksi cairan
3. hasil lab :
Hb= 8,9 gr/dl 3. Risiko
Gangguan intregitas kulit
Data Tambahan : Infeksi
1. Pasien tidak dapat melakukan
4. Gangguan
aktivitas mandiri.
2. Klien cepat lelah dan lemas intregitas
setelah beraktivitas. kulit
3. Banyaknya aktifitas klien yang
dibantu oleh orang lain

C, Diagnosa Keperawatan

PRE OPERATIF

1. Konstipasi berhubungan dengan pembesaran vena hemoroidalis


2. Nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid pada daerah anus.
3. Perdarahan berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis yang ditandai dengan
perdarahan waktu BAB.

POST OPERATIF
1. Gangguan rasa nyaman nyeri pada luka operasi berhubungan dengan adanya jahitan
pada luka operasi dan terpasangnya cerobong anus.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan dirumah.

46
D. Rencana Tindakan Keperawatan

PRE OPERATIF
Dx
N Tujuan Intervensi
Keperawata Rasional
o. (NOC) (NIC)
n
1. Konstipasi Setelah 1.Berikan dan anjurkan 1.Mencegah dehidrasi secara
dilakukan minum kurang lebih 2 oral.
berhubungan
tindakan liter/hari.
dengan keperawatan 2.Berikan posisi semi 2.Meningkatkan usaha
selama 2 x 24 fowler pada tempat tidur. evakuasi feses.
pembesaran
jam 3.Anjurkan
vena diharapkan mengkonsumsi makana 3.Makanan tinggi serat dapar
konstipasi tinggi serat. melancarkan proses defekasi.
hemoroidalis.
teratasi. 4.Auskultasi bunyi usus.
KH: 4.Bunyi usus secara umum
a.Pola BAB 5.Hindari makanan yang meningkat pada diare dan
(1- membentuk gas. menurun pada konstipasi.
normal
6.Kurangi / batasi 5.Menurnnkan distres gastrik
2x/minggu).
makanan seperti produk dan distensi abdomen.
b.Konsistensi susu.
feses lunak. 7.lakukan enema 6.produk susu sebagai
c.Warna 8.Berikan laktasif jika penyebab dan dapat
feses kuning. diadviskan oleh dokter. memperparah konstipasi.
7.Membantu melancarkan
d.Klien tidak proses defekasi.
takut untuk 8. jika enema tidak
BAB. memungkinkan obat laksatif
e.Tidak ada akan lebih memudahkan
nyeri pada defekasi menjadi lancar
saat BAB.
2. Nyeri Setelah 1.Berikan Posisi yang 1.Minimalkan
berhubungan dilakukan nyaman. stimulasi/meningkatkan
tindakan relaksasi.
dengan
keperawatan
2.Meminimalkan tekanan di
adanya selama 3 x 24 2.Berikan bantalan
bawah bokong/meningkatkan
jam dibawah bokong saat
hemoroid relaksasi.
diharapkan duduk.
pada daerah 3.Untuk menentukan
nyeri teratasi. 3.Observasi tanda-tanda
anal. KH: intervensi selanjutnya.
vital.
a.Wajah 4.Pengalihan perhatian melalui
4.Ajarkan teknik untuk
pasien kegiatan-kegiatan.
menguranyi rasa nyeri
tampak
seperti membaca,

47
meringis. menarik nafas panjang, 5.Meningkatkan relaksasi.
b.Skala nyeri menonton TV, dll. 6.Menurunkan
berkurang 0- 5.Berikan kompres ketidaknyamanan fisik.
3 atau hilang. dingin pada daerah anus
c.Klien dapat 7. mencegah kerusakan
3-4 jam dilanjutkan
istirahat integritas kulit dan nyeri yang
dengan redam duduk
tidur. dapat menimbulkan
hangat 3-4 x/hari atau
d.TTV komplikasi
dengan memberikan
Normal 8.Mengurangi nyeri dan
teknik berendam
TD: 100/80 menurunkan rangsang saraf
mmHg 6.Berikan lingkungan simpatis dan untuk
yang tenang. mengangkat hemoroid.
7. ajarkan pasien unttuk
menghindari posisi
duduk yang menekan
anus, arahkan pasien
untuk posisi miring ke
kanan atau kiri
bergantian
8.Kolaborasi dengan
dokter untuk pemberian
analgesik, pelunak feses
dan dilakukan
hemoroidectomi.
3. Perdarahan Setelah 1.Observasi TTV. 1.Untuk menentukan tindakan
berhubungan dilakukan 2.Monitor banyaknya selanjutnya.
tindakan
dengan perdarahan klien. 2.Untuk menentukan tingkat
keperawatan kehilangan cairan.
pecahnya selama 3 x 24 3.Kaji ulang tingkat
jam toleransi aktifiitas klien. 3.Untuk mengetahui tingkat
vena
diharapkan kelemahan klien.
4.rawat liuka klien
hemoroidalis
kekurangan dengan prinsip aseptic 4.mempercepat penyembuhan
yang ditandai nutrisi luka dan mencegah infeksi
Kolaborasi:
dengan terpenuhi.
Kolaborasi:
KH: 1.Konsultasikan nutrisi
perdarahan
a.Konjungtiv untuk klien dengan ahli 1.Untuk menentukan
waktu BAB. a klien merah gizi. kebutuhan nutrisi yang tepat
muda. pada klien.
2.Berikan vitamin K dan
b.Hb Normal B12 sesuai indikasi. 2.Untuk membantu proses

48
(12-14 g/dl). 3.Konsultasi dengan ahli pembekuan darah dan Untuk
gizi. meningkatkan produksi sel
c.Tidak ada
darah merah.
perdarahan 4.kolaborasi pemberian
v.hemoroid. cairan IV. 3.Untuk menentukan diet yang
tepat bagi klien.
d.Dapat
melakukan 4.Untuk menggantikan
aktivitas banyaknya darah yang hilang
mandiri. selama perdarahan.
e.Klien tidak
cepat lelah
setelah
beraktivitas.
f.Aktifitas
klien sudah
tidak dibantu
oleh perawat.

49
4. Resiko infeksi Setelah dilakukan 1. Observasi 1. Respon autonomik
berhubungan dengan tindakan tanda vital meliputi TD,
keperawatan selama respirasi, nadi yang
pertahanan primer tidak
2 x 24 jam infeksi 2. Observasi berhubungan dengan
adekuat tidak terjadi. balutan setiap 2 keluhan / penghilang
jam, periksa nyeri . Abnormalitas
KH:
terhadap tanda vital perlu di
a.tidak terdapat perdarahan dan observasi secara
tanda-tanda infeksi bau. lanjut
(dolor, kalor, rubor, 2. Deteksi dini
tumor, fungsiolesa) 3. Ganti balutan terjadinya proses
b.TTV Normal (TD: dengan teknik infeksi dan /
120/80 mmHg, N: aseptik pengawasan
96 x/menit, S: 36,7 penyembuhan luka
O
C, RR: 18 x/menit) 4. Bersihkan area oprasi yang ada
perianal setelah sebelumnya
c.luka mengering
setiap defekasi 3. Mencegah meluas
5. Berikan diet dan membatasi
rendah serat dan penyebaran luas
minum yang infeksi atau
cukup kontaminasi silang
4. Mengurangi /
mencegah
kontaminasi daerah
luka
5. Mengurangi
rangsangan pada
anus dan mencegah
mengedan pada
waktu defekasi
5. Gangguan integritas 1. Menunjukkan 1. catat 1. memantau proses
kulit berhubungan jaringan atau iritasi,dan penyembuhan
dengan pruritus. kulit utuh yang tanda tanda dan waspada
bebas infeksi seperti
terhadap gejala
akskoriasi. kalor, rubor,
2. Melaporkan dolor, nyeri, infeksi
tak ada atau serta ukur 2. mencegah
penurunan daerah pruritus trauma dan
pruritus. 2. berikan melindungi kulit
pelindung serta mencegah
kulit yang iritasi lebih
efektif

50
selidiki lanjut
keluhan rasa 3. membantu
terbakar / gatal proses
3. berikan sprei
penyembuhan
kortikosteroid
dan bedak dan penutupan
nistatinn luka
sessui indikasi 4. mempercepat
penyembuhan
4. kolaborasi
dengan dokter
pemberian
obat topical
untuk
mencegah
iritasi

51
KESIMPULAN

Fistula Anal adalah saluran tipis, tubuler, fibrosa yang meluas ke dalam saluran anal
dari lubang yang terletak di samping anus.Fistula biasanya adalah akibat infeksi. Fistula juga
dapat terjadi akibat trauma, fisura, atau enteritis regional. (Smeltzer, 2001)
Umumnya anal fistula muncul akibat dari pengeluaran nanah pada abses anorektal
akibat terinfeksi bakteri Escherichia coli, Enterococcus sp dan Bacteroides sp. Fistula juga
sering ditemukan pada penderita dengan penyakit Crohn.
Gejala yang timbul dapat berupa diare, nyeri perut, kehilangan berat badan dan
perubahan kebiasaan defekasi. Jika anal fistula tidak dapat diatasi maka akan timbul
komplikasi infeksi, gangguan fungsi reproduksi, gangguan dalam berkemih, gangguan dalam
defekasi dan ruptur/ perforasi organ yang terkait.
Untuk mengetahui apakah pasien mengalami anal fistula dilakukanlah pemeriksaan
penunjang untuk membantu mengidentifikasi jenis dan anatomi/saluran fistel. Pemeriksaan
tersebut antara lain CT Scan, fistulografi, USG endoanal, MRI,
Rektosigmoidoskopi/Kolonoskopi dan Foto Rontgen Thorax.
Banyak hal yang dapat dilakukan sebagai pengobatan anal fistula diantaranya lem
fibrin, ligasi saluran fistula intersphincterik, flap rektal, ostomi, sumbat bioprostetik, dan
penempatan seton. Namun dari itu semua ada satu yang sangat dianjurkan yaitu fistulotomi.
Pada dasarnya penyakit anal fistula ini dapat dicegah dengan cara menghindari seks anal dan
jangan memasukkan benda asing ke dalam anus.
Kemudian untuk wasir atau hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah balik (vena) di
dalam pleksus hemoroidalis (anyaman pembuluh darah) yang tidak merupakan kelainan.
Hemoroid diklasifikasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal, yaitu hemoroid yang terjadi
diatas sfingter anal sedangkan yang mucul di luar sfingter anal disebut hemoroid eksternal.
Manifestasi klinis dari hemoroid adalah pendarahan,benjolan, nyeri dan rasa tidak
nyaman, basah, gatal, dan higiene yang kurang di anus. Dalam keadaan normal sirkulasi
darah yang melalui vena hemoroidalis mengalir dengan lancar sedangkan pada keadaan
hemoroid terjadi gangguan aliran darah balik yang melalui vena hemoroidalis. Hal

52
inidapatmenimbulkan pembesaran vena (varices) yang dimulai pada bagian struktur normal
di regio anal, dengan pembesaran yang melebihi katup vena dimana sfingter anal membantu
pembatasan pembesaran tersebut. Hal ini yang menyebabkan pasien merasa nyeri dan faeces
berdarah pada hemoroid interna karena varices terjepit oleh sfingter anal.
Penatalaksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada klien dengan penyakit hemoroid
adalah pemeriksaan fisik yaitu inspeksi dan rektaltouche (colok dubur), Anoskopy,
pemeriksaan proktosigmoidoskopy, rontgen (colon inloop) atau kolonoskopy, dan tes
laboratorium kadar eritrosit, leukosit, serta Hb.
Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan pada klien hemoroid adalah operasi
herniadectomy atau eksisi bedah, tindakan non operatif dan terapi bedah (bedah
konvensional, bedah laser dan bedah stapler).

53
DAFTAR PUSTAKA

Gracia-Aguilar, Julio, Rothenberg, David A. Anorectal Abscesses and Fistula-in Ano. In;
Morris-Oxford Textbook of Surgery 2nd Edition (page149)
Henry MM, Thompson JN. 2005. Principles of surgery, 2nd edition. Elsevier Saunders:
Philadelphia (page 423-426)
Mien, Quah Hak. Absesa Anal dan Fistula Anal. Disitasi dari
http://www.colorectalcentre.com.sg/indonesian/anal-abscess-anal-
fistula.htmlPennsylvania. 2004. Fistula in Ano. In; Sabiston Textbook of Surgery 16th
Edition.WB Saunders, Philadelphia,. (Page 984-986)
Sabiston. 1995. Buku Ajar Ilmu Bedah, bagian II, cetakan kedua. Jakarta: EGC (hal 59-62)
Sjamsuhidajat, R, de Jong, Wim. 1997. Dalam : Usus Halus, Apendiks, Kolon dan Anorektum.
Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi revisi. Jakarta: EGC(Hal.833-924)
Vasilevsky, Carol-Ann, Gordon, Philip H. 2007. Benign Anorectal: Abscess and Fistula. In;
The ASCRS Textbook of Colon and Rectal Surgery. Springer, New York(Page192-214)
William, Norman.S. Chapter 61. The Anus and Anal Canal. In; Bailey’s Textbook of
Surgery(Page 644)
Yudha, Herry. 2012. Diagnosa dan Penatalaksanaan Fistula Ani. Disitasi dari
http://www.dokterbedahherryyudha.com/2012/08/diagnosa-dan-penatalaksanaan-fistula-
ani.html
Zigmatch. 2012. Fistula Perianal. Disitasi dari
http://zigmatech.wordpress.com/2012/03/07/fistula-perianal/.html
Gracia-Aguilar, Julio, Rothenberg, David A. Anorectal Abscesses and Fistula-in Ano. In;
Morris-Oxford Textbook of Surgery 2nd Edition (page149)
Henry MM, Thompson JN. 2005. Principles of surgery, 2nd edition. Elsevier Saunders:
Philadelphia (page 423-426)
Mien, Quah Hak. Absesa Anal dan Fistula Anal. Disitasi dari
http://www.colorectalcentre.com.sg/indonesian/anal-abscess-anal-fistula.html
Pennsylvania. 2004. Fistula in Ano. In; Sabiston Textbook of Surgery 16th Edition.WB
Saunders, Philadelphia,. (Page 984-986)
Sabiston. 1995. Buku Ajar Ilmu Bedah, bagian II, cetakan kedua. Jakarta: EGC (hal 59-62)

54
Sjamsuhidajat, R, de Jong, Wim. 1997. Dalam : Usus Halus, Apendiks, Kolon dan Anorektum.
Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi revisi. Jakarta: EGC(Hal.833-924)
Vasilevsky, Carol-Ann, Gordon, Philip H. 2007. Benign Anorectal: Abscess and Fistula. In;
The ASCRS Textbook of Colon and Rectal Surgery. Springer, New York(Page192-214)
William, Norman.S. Chapter 61. The Anus and Anal Canal. In; Bailey’s Textbook of
Surgery(Page 644)
Yudha, Herry. 2012. Diagnosa dan Penatalaksanaan Fistula Ani. Disitasi dari
http://www.dokterbedahherryyudha.com/2012/08/diagnosa-dan-penatalaksanaan-fistula-
ani.html
Zigmatch. 2012. Fistula Perianal. Disitasi dari
http://zigmatech.wordpress.com/2012/03/07/fistula-perianal/
Brooker, Chris. 2008. EnsiklopediaKeperawatan. Jakarta : EGC.

Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 2. Jakarta: EGC.
Lumenta, Nico A. 2006. ManajemenHidupSehat :KenaliJenisPenyakitdan Cara
Penyembuhannya. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

Tambayong, Jan. 2000. PatofisiologiuntukKeperawatan. Jakarta : EGC.

Parakrama, Chandrasoma. 2006. Ringkasan Patofisiologi Anatomi Edisi 2. Jakarta: EGC.


Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi Edisi 4. Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzzane. 2000. KeperawatanMedikalBedah. Jakarta : EGC.


Carpenito J.Lynda. (2001). Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Jakarta: EGC
Doengoes, Marylin E. (2000). Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Edisi 3. Jakarta:
EGC
Sinanau L. Franklin. 2011. Fistula in Ano . URL: http://www.scribd.com/doc/45183857//Fistula-
in-Ano.

55

Anda mungkin juga menyukai