Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PRAKTIKUM

MANIPULASI RESIN AKRILIK TIPE HEAT CURED

INSTRUKTUR :
drg. Selviana Rizky Pramitha
DISUSUN OLEH
KELOMPOK B2

 Akhmad Aufayed Ma’rifatullah 161 1111 31 0001


 Almadina Latanza 161 1111 32 0002
 Alya Rahmasari 161 1111 32 0003
 Amalia Noviyanti 161 1111 32 0004
 Annisa Fitri Yuniar 161 1111 32 0005
 Annisa Rahma 161 1111 32 0006
 Anugrah Amsal Pratama Biring 161 1111 31 0007
 Della Isnadya Noor 161 1111 32 0008
 Devi Rosalinda 161 1111 32 0009
 Fidya Mariam 161 1111 32 0010
 Furnama Winda Sari 161 1111 32 0011

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan anugerah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah dari praktikum Manipulasi Resin Akrilik Tipe Heat Cured ini.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada drg.


Selviana Rizky Pramitha yang telah membimbing kami dalam praktikum
Manipulasi Resin Akrilik Tipe Heat Cured dan penyusunan makalah ini. Makalah
ini disajikan dengan bahasa yang singkat dan mudah dimengerti. Makalah ini
diawali dengan bab 1 merupakan pendahuluan, bab 2 merupakan tinjauan pustaka,
bab 3 berisikan tentang metode praktikum, bab 4 merupakan pembahasan
praktikum yang memaparkan hasil pengamatan dari praktikum Manipulasi Resin
Akrilik Tipe Heat Cured, dan bab 5 merupakan bagian penutup yang berupa
kesimpulan dan saran dari praktikan. Makalah ini juga dilengkapi dengan daftar
pustaka yang menjelaskan sumber dan referensi bahan dalam penyusunan
makalah ini.

Kami menyadari tentunya makalah ini belum sempurna. Kami


mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun, semoga pada penulisan
selanjutnya akan lebih baik. Kami berharap makalah praktikum Manipulasi Resin
Akrilik Tipe Heat Cured ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Amin.

Banjarmasin, 14 Desember 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................... 1
1.1 Latar Belakang…………….……….…………………….....…….1
1.2 Rumusan Masalah…………………....……………….…………. 1
1.3 Tujuan Penulisan…………….....…....…….....……....…………. 1
1.4 Manfaat Praktikum…...………………………….......…..…....…. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................ 3
2.1 Pengertian Resin Akrilik…………….……….…………………...3
2.2 Manipulasi Resin Akrilik................................................................3
2.3 Macam-Macam Resin Akrilik.........................................................3
2.4 Sifat-sifat yang dimiliki Resin Akrilik............................................3
2.5 Tingkatan Proses Polimerisasi Resin Akrilik..................................4
2.6 Curing Resin Akrilik.......................................................................4
2.7 Self Cured Resin Akrilik.................................................................4
BAB III METODE PRAKTIKUM................................................... 5
3.1 Waktu dan Tempat…………..………………………….....….…. 5
3.2 Alat dan Bahan…………………….……….......….......……...…. 5
3.3 Cara Kerja……………………..……………...……..……...……. 6
BAB IV PEMBAHASAN................................................................... 11
4.1 Hasil Pengamatan………...………………………………..….…. 11
4.2 Hasil Praktikum ...…………..…………….……….……….……. 13
BAB V PENUTUP......................................................................... 18
5.1 Kesimpulan………...………………………...….……....…….…. 18
5.2 Saran ……………………..…………….……......…....….…...…. 18
DAFTAR PUSTAKA......................................................................... 19

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Resin akrilik merupakan polimer yang sering digunakan pada bidang
kedokteran gigi, terutama dalam pembuatan basis gigi tiruan dan basis piranti
orthodontik lepasan. Berdasarkan polimerisasinya ada tiga jenis resin akrilik, yaitu
cold cured, heat cured, dan light cured. Bahan basis gigi tiruan yang sering
digunakan adalah polimetil metakrilat, resin akrilik jenis heat cured (Larasati DM,
2012).

Polimetil metakrilat yang merupakan bahan dasar resin akrilik mempunyai


beberapa keunggulan antara lain estetik yang baik, kekuatan tinggi, menyerap air
rendah, daya larut rendah, mudah dilakukan reparasi, proses manipulasi mudah
karena tidak memerlukan peralatan yang rumit (Yuliati A, 2005). Disamping
mempunyai keuntungan, resin akrilik juga mempunyai kekurangan yaitu mudah
patah apabila jatuh pada permukaan yang keras atau akibat kelelahan bahan serta
mengalami perubahan warna karena lama pemakaian(David dkk, 2005)

Kekasaran permukaan akibat sifat porus yang terjadi pada basis resin akrilik heat
cured disebabkan karena pemakaian gigi tiruan yang terus menerus sehingga
menimbulkan beberapa reaksi terhadap jaringan oleh karena mukosa di bawah
gigi tiruan akan tertutup dalam jangka waktu lama. Permukaan yang kasar pada
basis gigi tiruan memudahkan terjadinya penumpukan plak dan sisa makanan
sehingga meningkatkan koloni candida albicans yang dapat menyebabkan denture
stomatitis (Park SE, 2008) (Rathe M, 2010)

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja alat dan bahan untuk manipulasi resin akrilik tipe heat cured?
2. Bagaimana teknik penggunaan peralatan dan bahan untuk manipulasi resin
akrilik tipe heat cured?
3. Apa sajakah tahapan yang terjadi saat pencampuran bubuk polimer dan cairan
monomer?
4. Bagaimana hasil polimerisasi resin akrilik tipe heat cured pada setiap tahap?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Memahami bahan dan peralatan yang digunakan untuk memanipulasi resin
akrilik tipe heat cured.
2. Memahami teknik penggunaan peralatan dan bahan yang tepat untuk
manipulasi resin akrilik tipe heat cured.
3. Mengetahui tahapan yang terjadi pada pencampuran bubuk polimer dan cairan
monomer yaitu fase sandy, stringy, dough, rubbery, stiff.
1
4. Mengetahui hasil polimerisasi resin akrilik tipe heat cured pada setiap tahap.

1.4 Manfaat Praktikum


Memberikan pemahaman pada mahasiswa tentang manipulasi resin
akrilik tipe heat cured.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Resin Akrilik

Berdasarkan raksi polimerisasinya, resin akrilik dibedakan menjadi tiga


macam. Heat cured acrylic resin(resin akrilik aktivasi panas) adalah resin akrilik
yang menggunakan proses pemanasan untuk polimerisasi. Self cured acrylic
resin/cold curing acrylic (resin akrilik ativasi kimia) adalah resin akrilik yang
menggunakan akselerator kimia untuk polimerisasi. Light cured resin (resin
akrilik polimerisasi sinar) adalah resin akrilik yang menggunakan sinar tampak
untuk polimerisasi. (Yuliati, A. 2015)

2.2 Manipulasi Resin Akrilik

Pencampuran polimer (bubuk) dan monomer (cairan) perbandingan harus


tepat, dengan perbandingan volume 3:1 atau perbandingan berat 2:1. Bubuk dan
cairan dengan penutup dan tidak tembus cahaya, hingga mecapai dough stage.
Perbandingan volume 3:1, akan terjadi shrinkage 6% dan linier shrinkage 0,5%.
Bila polimer terlalu banyak dalam adonan, maka akan terjadi under wetting
(kekurangan cairan) dan adonan menajdi ber granular selanjutnya akan terjadi
weak material. Apabila monomer terlalu banyak, maka polymerization shrinkage
meningkat 21% dan basis gigi tiruan terjadi tidak tepat (fitting berkurang).
(Yuliati, A. 2015)

2.3 Macam-macam Resin Akrilik

Berdasarkan reaksi polimerisasinya, resin akrilik dibedkan menjadi tiga


macam.

1. Heat cured acrylic resin (resin akrilik aktivasi panas) adalah resin akrilik
yang menggunakan proses pemanasan untuk polimerisasi.
2. Self cured acrylic resin/cold curing acrylic (resin akrilik aktivasi kimia)
adalah resin akrilik yang menggunakan akselerator kimia untuk
polimerisasi.
3. Light cured resin (resin akrilik polimerisasi sinar) adalah resin akrilik yang
menggunakan sinar tampak untuk polimerisasi.

2.4 Sifat-sifat yang dimiliki Resin Akrilik

a. Monomer sisa
b. Porositas
c. Penyerapan air
3
d. Crazing
e. Kekuatan
f. Pengerutan
g. Perubahan dimesi
h. Konduktivitas termal
i. Solubilitas
j. Fructure
k. Stabilitas warna
l. Radiolucent

2.5 Tingkatan proses polimerisasi Resin Akrilik

1. Inisiasi
Inisiasi merupakan tahap penggerak awal dari proses polimerisasi yang
membutuhkan radikal bebas. Periode inisiasi adalah saat molekul inisiator
teraktivasi membentuk radikal bebas yang berinteraksi dengan monomer.
2. Propagasi
Pada tahap ini terjadi reaksi antara monomer dengan radikal bebas sebagai
awal dari terbentuknya rantai polimer. Monomer yang teraktivasi akan
mengaktifkan monomer lainnya agar dapat membentuk rantai polimer
secara terus-menerus.
3. Terminasi
Tahap terimnasi akan tercapai bilamana dua radikal bebas bereaksi dari
rantai satu ke rantai polimer lain membentuk molekul yang stabil.

2.6 Curing Resin Akrilik

Proses curing adalah proses polimerisasi dari resin akrilik, di mana jenis heat
cured resin akrilik terjadi curing dengan aktivasi panas. Proses dilakukan
dengan menggunakan metode waterbath dan microwave.

2.7 Self cured Resin Akrilik

Self cured resin akrilik atau disebut cold curing acrylic, merupakan resin
akrilik yang diaktivasi secara kimia. Resin akrilik yang diaktivasi secara
kimia tidak memerlukan penggunaan energi termal, dan dapat dilakukan pada
suhu kamar. Aktivasi kimia dapat dicapai melalui penambahan amintersier
terhadap monomer sebagai activator. Bila komponen polimer bubuk (powder)
dan cairan (liquid) diaduk, amintersier akan menyebabkan terpisahnya
benzoil peroksida sehingga dihasilkan radikal bebas dan mulai
berpolimerisasi.

4
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


a. Waktu
1. Praktikum basis plat akrilik 1 : Kamis, 7 Desember 2017
2. Praktikum basis plat akrilik 2 : Selasa 12 Desember 2017
3. Praktikum basis plat akrilik 3 : Kamis 14 Desember 2017
b. Tempat
1. Praktikum basis plat akrilik 1 : Lab. Basah Lantai 4 FKG UNLAM
2. Praktikum basis plat akrilik 2 : Lab. Basah Lantai 4 FKG UNLAM
3. Praktikum basis plat akrilik 3 : Lab. Basah Lantai 4 FKG UNLAM
3.2 Alat dan Bahan
a. Alat
1. Alas kain / handuk putih
2. Pisau malam, pisau model dan pisau gips
3. Pensil dan penggaris
4. Spiritus brander
5. Kuvet
6. Pres Kuvet
7. Mangkuk karet ( bowl ) dan spatula
8. Kuas ukuran sedang
9. Mangkuk porcelen / kaca tidak transparan, dengan tutup ( 1 kelompok
3)
10. Amplas besi ( kekasaran ; kasar no. 300, sedang no.600/800 dan halus
no.1000)
11. Masker
b. Bahan
1. Baseplate wax
2. Bubuk (polimer) dan cairan (monomer) resin akrilik tipe Head Cured
3. Bahan separator ( Could mould seal dan Vaselin)
4. Plastik cellophane
5. Gips tipe II dan Gips tipe III
6. Gelas ukur
7. Timbangan
8. Vibrator
9. Panci / dandang
10. Teko pemanas air
11. Kompor
12. Mikro motor dan straight handpiece
13. Hidraulic press
14. Pres besar
5
3.1 Cara kerja
Tahap Pembuatan Lempeng Akrilik dari Resin Akrilik Tipe Heat Cured dan
manipulasinya:
1. Sebelum membuat plat akrilik tipe heat cured, harus melakukan persiapan
alat dan bahan, alas kain / handuk putih, pisau malam, pisau model dan
pisau gips, spiritus brander, pensil penggaris.

Pembuatan pola dari malam dengan cara memotong malam merah sesuai
desain berbentuk persegi panjang berukuran 65 x 10 x 2,5 mm ( spesifikasi
ADA No.12) buah lempeng perkelpmpok.sebanyak 3 buah lempeng
perkelompok.

2. Rapikan dan haluskan tepi permukaan.

A. Penanaman model dalam kuvet / FLASKING


a) Memeriksa tepi kuvet dapat tertutup rapat, ulasi seluruh bagian dalam
kuvet ( kuvet atas dan bawah) dengan vaselin.
b) Menyiapkan kuvet bagian bawah, aduk gips tipe II dengan
perbandingan gips dengan air pada kuvet air : bubuk = 30 ml : 100
gram.

c) Menuang adonan gips tipe II perlahan ke kuvet bawah (setinggi kuvet)


diatas vibrator. Wax diletakkan pada adonan gips yang mulai
mengalami pengerasan ( setting ) didalam kuvet dan diamkan gips
sampai setting sehingga tepi pola malam setinggi tepi kuvet.

6
d) Merapikan kelebihan gips dan jangan ada daerah retensi, tunggu sampai
gips tipe II setting.

e) Permukaan gips pada kuvet bawah diolesi vaselin dan mengulaskan


dengan kuas adonan gips tipe III merata diatas malam merah. Jangan
ada udara terjebak antara malam dan gips tipe III, tunggu 5-10 menit.
f) Menutupkan penutup samping kuvet bagian atas, periksa tepi kuvet
harus rapat.

g) Mengaduk gips tipe II dan tuang ke dalam kuvet sampai penuh ( diatas
vibrator), kemudian tutup kuvet dan dilakukan pengepresan dengan pres
besar (2-4 menit), kemudian pindahkan ke pres tangan tunggu sampai
gips setting.

B. Buang Malam / Wax elimination


1. Masukan kuvet beserta press kedalam air mendidih selama 5 menit.

2. Buka kuvet pada keadaan panas, dengan pisau gips.

7
3. Ambil / bersihkan malam merah dan bila masih ada sisanya, siram
dengan air mendidih sampai bersih.

C. Persiapan Pengisian Cetakan (Mould) dengan Adonan Resin Akrilik


1. Menyiapkan bahan resin akrilik dan peralatan untuk packing.
2. Mengolesi permukaan mould dan sekitarnya dengan Cold Mold Seal
(CMS) menggunakan kuas sampai merata dan menunggu sampai kering.

3. Mengukur cairan monomer menggunakan gelas ukur sebanyak 2 ml,


kemudian menuangkan kedalam pot porselen.
4. Menimbang bubuk polimer sebanyak 4 gr, kemudian memasukkan ke
dalam pot porselen secara perlahan sampai polimer terbasahi oleh
monomer selama 20 detik.

Tugas 1: Menghitung/ mencatat awal waktu pengadukan dengan


stopwatch, mengaduk campuran polimer dan monomer dengan pisau
malam pada bagian yang tumpul sampai homogeny, kemudian menutup
porselen. Mengamati fase sandy, dough, rubbery dan stiff dengan cara
membuka tutup pot perselen setiap 30 detik sekali, bila fase dough
belum tercapai maaka porselin ditutup lagi. Perubahan dari masing –
masing tahapan dicatat berdasarkan waktunya.

D. Pengisian Akrilik
a. Menyiapkan bahan resin akrilik dan peralatan untuk packing.
b. Mengolesi permukaan mould dan sekitarnya dengan Cold Mould Seal
(CMS) memakai kuas dan ditunggu sampai kering.
8
c. Mengukur cairan monomer menggunakan gelas ukur sebanyak 2 ml,
kemudian menuangkan kedalam pot porselen.
d. Menimbang bubuk polimer sebanyak 4 gr, kemudian memasukkan ke
dalam pot porselen secara perlahan sampai polimer terbasahi oleh
monomer selama 20 detik.
Tugas 2 :
1. Karena terdapat tiga kuvet, kuvet pertama diisi dengan adonan resin
akrilik yang dimasukkan ke dalam cetakan yang ada pada kuvet
bawah setelah stringy stage tercapai.
- Kuvet kedua, adonan resin akrilik dimasukkan ke dalam kuvet
bawah setelah dough stage tercapai.
- Kuvet ketiga, adonan resin akrilik dimasukkan ke dalam cetkan
yang ada pada kuvet bawah setelah rubbery stage.
2. Menutup permukaan adonan resin akrilik dengn plastic, kemudian
memasang kuvet atas dan melakukan pengepresan pada press
hidrolik dengan kekuatan mencapai 2000 psi. Setelah pengepresan,
membuka kuvet mengangkat plastic sebagian untuk memotong
kelebihan resin akrilik menggunakan pisau model tepat pada tepi
cetakan. Lalu tutup akrilik dengan plastic dan kuvet atas.

1. Melakukan pengepresan kedua lalu mengulangi kegiatan


sebelumnya lagi. Pada pengepresan terakhir tidak menggunakan plastic,
kuvet atas dan bawah harus rapat kemudian dipindahkan pada
handpress.

E. Proses polimerisasi / kuring


1. Proses kuring resin akrilik tipe heat cured dilakukan sesuai dengan
aturan pabrik, untuk jenis Quick Cure, proses kuring langsung pada air
mendidih 100o c selama 20 menit.
9
2. Proses kuring resin akrilik tipe head cured umumnya dipanaskan
dengan api sedang 30 menit, kemudian besarkan api dan didihkan,
biarkan selama 30 menit, kemudian matikan api biarkan sampai air
dan kuvet dingin.
3. Pada praktikum ini, proses kuring resin akrilik dilakukan sesuai
dengan aturan pabrik, untuk merek QC20 :
A) Memasak air pada panic diatas kompor sampai mendidih ( suhu
100o C)
B) Kuvet yang telah diisi akrilik dan dalam keadaan di pres direndam
terlebih dahulu pada air dingin (suhu ruang), kemudian dimasukkan
pada air mendidih selama 20 menit. Kemudian api kompor
dimatikan, ditunggu sampai air tidak panas lagi (suhu ruang ).

F. Deflasking
1. Setelah proses kuring selesai, kuvet dibiarkan sampai dingin kemudian
kuvet dibuka, akrilik hasil kuring diambil secara hati – hati dengan
menggunakan pisau malam.

2. Gips dipisahkan dari kuvet.


3. Resin akrilik dikeluarkan dari gips tipe III.

4. Resin akrilik dihaluskan dengan amplas ukuran grit kasar ( 600) ke


halus (1000).

10
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

FASE WAKTU

Stringy stage 3 menit 47 detik


Dought stage 8 menit 7 detik
Ruberry stage 14 menit

a. Fase Stringy stage

b. Fase Dought stage

c. Fase Ruberry stage

11
4.2 Hasil Praktikum
1. Waktu setting
Pada praktikum manipulasi resin akrilik tipe heat cured yaitu
menghitung dan mencatat waktu pengadukan dengan stopwatch,
mengaduk campuran polimer dan monomer dengan pisau malam pada
bagian yang tumpul sampai homogen, kemudian menutup pot porselen.
Mengamati fase stringy, dought, dan ruberry dengan cara membuka pot
porselen setiap 1 menit sekali. Perubahan dari masing-masing fasean
dicatat berdasakan waktunya.

Fase 1 (Stringy stage)

Fase ini mempunyai ciri berserat atau lengket apabila adonan


disentuh dan ditarik. Butir-butir polimer mulai larut, monomer bebas
meresap ke polimer. Di dapat dalam waktu 3 menit 47 detik.

Fase 2 (Dought stage)

Adonan bersifat plastis dan mudah dibentuk. Adonan tersebut tidak


lagi berserat dan tidak melekat pada permukaan cawan atau spatula
pengaduk. Di dapat dalam waktu 8 menit 7 detik.

Fase 3 (Ruberry stage)

Fase seperti karet atau elastic. Adonan memantul bila ditekan atau
diregangkan dan adonan tidak lagi mengalir dengan bebas. Pada fase ini
monomer habis karena penguapan dan terserap lebih jauh ke dalam butir-
butir polimer yang tersisa. Di dapat dalam waktu 14 menit.

(Yuliati A, 2015)

FASE WAKTU
Stringy stage 3 menit 47 detik
Dought stage 8 menit 7 detik
Ruberry stage 14 menit
Tabel: Hasil pencatatan waktu manipulasi resin akrilik tipe head cured

2. Porositas
Adanya gelembung udara kecil-kecil di permukaan dan di bawah
permukaan gigi tiruan dandapat memengaruhi sifat fisik, kebersihan serta
nilai estetik dari gigi tiruan tersebut. Porositas cenderung terjadi pada basis
gigi tiruan yang lebih tebal. Porositas tersebut akibat dari penguapan
monomer sisa serta polimer berberat molekul rendah, bila suhu resin
mencapai atau melebihi titik didih material tersebut. Porositas dapat

12
memberikan pengaruh yang tidak menguntungkan pada kekuatan resin
akrilik, estetik dan higienis gigi tiruan.

Faktor yang memengaruhi terjadinya porositas seperti:

- Pengadukan yang tidak homogen


- Penguapan monomer sisa
- Peningkatan suhu yang cepat
- Tekanan atau tidak cukupnya material adonan di rongga kuvet selama
polimerisasi
- Masuknya udara selama proses pengadukan dan pemanasan.

Ada tiga jenis porositas yang ditemukan pada basis gigi tiruan yaitu:

1. Shrinkage porosity
Kelihatan sebagai gelembung udara yang tidak beraturan bentuk di
seluruh permukaan gigi.
2. Granular porosity
Terjadi karena pengadukan yang tidak homogen dan di bagian
tertentu terdapat lebih banyak monomer
3. Gaseous porosity
Terjadi karena tekanan yang kurang atau bahan yang tidak cukup.
Porositas juga dapat terjadi apabila adonan dimasukkan ke dalam
cetakan sebelum fase dought. (Yuliati A, 2015)

Pada praktikum yang telah dilakukan terdapat porositas terhadap


tiga variasi pencetakan resin akrilik tipe heat cured yaitu:

1. Fase stringy terlihat sedikit porus dan granula


2. Fase dought hampir tidak ada porus maupun granula
3. Fase ruberry terlihat banyak porus dan granula.

3. Perbandingan Warna
Pada stringy stage didapatkan warna yang lebih terang dan opak
dibandingkan dengan fase lainnya, memiliki tingkat porositas yang tinggi
karena terlihat banyak gipsum yang masih menempel setelah resin akrilik
diamplas selain karena porus penempelan resin terjadi karena kurangnya
pengolesan CMS pada gipsum, memiliki kekuatan yang lebih tinggi, dan
perubahan dimensi yang paling besar dibandingkan fase lainnya. Pada fase
dough stage warnanya translusen dan cukup terang, memiliki tingkat
porositas yang lebih rendah jika dibandingkan dengan stringy stage,
memiliki nilai kekuatan yang lebih rendah dibanding stringy stage, dan
memiliki perubahan dimensi paling rendah dari fase lainnya. Kemudian
fase rubbery stage memiliki warna yang lebih translusen dan kurang
13
terang, memiliki tingkat porositas yang paling rendah, memiliki kelenturan
yang paling tinggi, dan perubahan dimensi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan fase dough namun lebih rendah dibanding fase stringy.

4. Kekerasan Permukaan
Pada fase stringy stage kekuatannya itu keras dibandingkan pada
fase lainnya, Fase dough stage sedikit lentur sedangkan pada fase rubbery
stage lebih lentur dari pada fase lainnya. Kekuatan transversal merupakan
ketahanan basis resin akrilik terhadap beban, tekanan, dan gaya dorong
sewaktu mulut berfungsi. Adanya porositas yang tidak terlihat pada saat
pengadukan membuat kekuatan transversal berbeda-beda pada resin
akrilik. Kekuatan transversal dipengaruhi juga dengan kandungan
monomer sisa yang masih tertinggal. Kandungan monomer sisa yang
tinggi dapat mempengaruhi sifat fisik polimer yang dihasilkan karena
monomer sisa akan bertindak sebagai plasticizer dan membuat resin
akrilik menjadi fleksibel serta kekuatannya menurun. Resin akrilik
polimerisasi panas memiliki sifat fisik salah satunya yaitu mampu
menyerap air. Kemampuan menyerap air dapat membuat kekuatan
transversal berubah entah semakin kuat atau semakin rapuh. Penyerapan
air selalu terjadi pada resin akrilik dengan tingkat yang lebih besar pada
bahan yang lebih kasar. Penyerapan air menyebabkan perubahan dimensi,
meskipun tidak signifikan (Sormin dkk, 2017).

5. Perbandigan Polimer dan Monomer


Heat cured acrylic resin, komposisinya terdiri dari dua kemasan yaitu:
1. Polymer(Bubuk):
a. Polymer; poly (methyl methacrylate).Polimer, polimethyl metacrylate,
baik serbuk yang diperoleh dari polimerisasi methyl metacrylate dalam
air maupun pertikel yang tidak teratur bentuknya yang diperolah dengan
cara menggerinda batangan polimer.
b. Initiator Peroxide; berupa 0,2-0,5% benzoil peroxide.
c. Pigmen; sekitar 1% tercampur dalam partikel polymer.
2. Cairan(Monomer):
a. Monomer: methyl methacrylate.
b. Stabilizer; sekitar 0,006% hydroquinone untuk menccegah
polymerisasi selama penyimpanan.
c. Terkadang terdapat bahan untuk memacu cross-link; seperti ethylene
glycol dimethacrylate. (E. combe 1992: 270)
Dalam praktikum kali ini, cairan monomer di ukur sebanyak 2 ml,
kemudian dimasukkan kedalam pot porselen, dan menimbang bubuk

14
polimer sebanyak 4 gr, kemudian masukkan ke dalam pot porselen secara
perlahan sampai polimer terbasahi oleh monomer selama 20 detik.

Ada 3 percobaan :

1. Kuvet pertama di isi dengan adonan resin akrilik yang dimasukkan ke


dalam cetakan yang ada pada kuvet bawah setelah stringy stage
tercapai.

1. Kuvet kedua, adonan resin akrilik dimasukkan ke dalam kuvet bawah


setelah dough stage tercapai.
2. Kuvet ketiga, adonan resin akrilik dimasukkan ke dalam cetakan yang
ada pada kuvet bawah setelah rubbery stage.

Pencampuran polimer (bubuk) dan monomer (cairan) perbandingan


harus tepat. Bubuk dan cairan dengan perbandingan yang tepat dicampur
di dalam cawan (pot porselen) dengan penutup dan tidak tembus cahaya.
Bila polimer terlalu banyak dalam adonan maka terjadi under wetting
(kekurangan cairan) dan adonan menjadi ber granular selanjutnya akan
terjadi weak material. (Yulianti A, 2015)

15
Perbandingan polimer/ monomer, bila tinggi waktu lebih singkat.
Sedangkan penggunaan plastik bertujuan untuk mengontrol kelebihan dari
adonan akrilik. Tujuan pemberian monomer/ cairan pada proses
pembuangan kelebihan akrilik karena monomer dari akrilik mudah
menguap sehingga dengan adanya pemberian ini menjaga agar
perbandingan powder dan liquid tetap. Setelah pengepresan terakhir kuvet
beserta press direndam dalam air untuk mempertahankan tekanan yang
sudah ada dan mengindari menguapnya dari monomer. ( Anusavice, 2003)

6. Resin Akrilik untuk Ortodontik/Prostodontik


Resin akrilik sekarang menjadi bahan pilihan karena memiliki
kualitas estetika yang bagus, murah dan mudah pembuatannya. Resin
Akrilik Aktivasi Panas (Heat-Cured Resins) bahan-bahan nya terdiri dari bubuk
dan cairan, setelah pencampuran dan selanjutnya dipanaskan akan menjadi
padatan yang kaku. Campuran bubuk polimer dan cairan monomer melalui
beberapa tahap yaitu sandy, stringy, dough, rubbery, dan stiff. Resin
akrilik aktivasi panas digunakan dalam pembuatan basis gigi tiruan
lepasan. energi termal diperlukan dalam proses polimerisasi. Energi termal
dapat diperoleh melalui perendaman air. (dalam percobaan yang dilakukan
diperlukan air mendidih untuk proses polimerisasi). ( Philips,2004.)

Sebagai alat ortodonsi lepasan, dipakai sebagai plat dasar alat ortodontik
lepasan yang berupa lempengan plat akrilik berbentuk melengkung mengikuti
permukaan palatum atau permukaan lingual lengkung mandibula. Jenis resin yang
dipakai adalah heat curing dan cold curing. Bahan dari coldcuring memiliki
berat molekul lebih rendah sehingga pengkerutannya lebih sedikit namun memiliki
porositas lebih banyak sehingga kekuatannya lebih rendah. ( Craig RG, 2002. )

16
7. Fase yang paling ideal
Resin akrilik tipe heat cured merupakan material basis gigi tiruan
yang paling banyak digunakan dan menggunakan proses pemanasan untuk
polimerisasi. Resin akrilik tipe heat cured, tersedia dalam bentuk powder
dan liquid. Pada saat pencampuran bubuk dan cairan ada lima stage yang
terjadi yaitu, sandy stage, stringy stage, dough stage, rubbery stage, dan
stiff stage. (Yuliati, A. 2015)
Sandy stage atau tahap seperti pasir basah, sedikit atau tidak ada
interaksi pada tingkat molekuler. Stringy stage mempunyai ciri berserat
atau lengket bila bahan disentuh atau ditarik. Pada dough stage, secara
visual, massa bersifat plastis, suatu adonan yang dapat dibentuk. Adonan
tersebut tidak lagi berserat dan tidak melekat pada permukaan cawan atau
spatula pengaduk. Karakteristik fisik dan kimia yang terlihat dari fase ini
adalah ideal untuk moulding tekanan. Pada tahap ini, saat terbaik adonan
segera dimasukkan ke dalam mould atau cetakan. Rubbery stage, secara
visual, adonan memantul bila ditekan dan diregangkan. Adonan tidak lagi
mengalir dengan bebas, mengikuti bentuk cetakan atau wadahnya, adonan
ini tidak dapat dibentuk dengan teknik penekanan. Sedangkan, stiff stage,
secara visual, adonan tampak sangat kering dan tahan terhadap deformasi
mekanik. (Yuliati, A. 2015)

8. Keuntungan dari Resin Akrilik


Kelebihan dari resin akrilik yaitu, estetis baik, warna menyerupai
gusi, dapat memperbaiki pengunyahan, tahap terhadap fraktur, dan harga
relative murah, serta reparasi mudah, secara klinis cukup stabil terhadap
panas. Resin akrilik adalah resin transparan dengan kejernihan luar biasa,
warna serta sifat optic tetap stabil dibawah kondisi mulut yang normal.
(Naini, A. 2012)

17
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa packing
yang dilakukan saat fase dough paling ideal daripada fase yang lain (stringy dan
rubbery) karena lebih tidak porus, tidak bergranula, tidak bersayap dan warnanya
mendekati warna gingiva. Disamping itu masih memungkinkan terjadinya
ketidaksempurnaan pada akrilik yang disebabkan human error seperti lupa
mencatat data, keteledoran serta pemotongan kelebihan akrilik yang kurang
presisi.

5.2 Saran
Diharapkan dengan membaca makalah ini, pembaca dapat lebih
memahami mengenai resin akrilik tipe heat cured terutama setting time dan tanda
fase yang paling ideal untuk packing, sehingga dapat memperluas wawasan ilmu
pengetahuan dan setiap pembaca dapat mempraktikannya dan menjadikan teori di
atas sebagai pengaplikasian klinis.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Larasati DM, Firsty KN, Yogiartono M. 2012. Efectiveness of Ellagic


Acid That Contains In Strawberry For Acrylic Discoloration. J. Asia
Pasifik Dent.Students. 3(3): 3-9.
2. Yuliati A. 2005. Viabilitas Sel Fibroblas BHK 21 Pada Pemukaan Resin
Akrilik Rapid Heat Cured. Majalah Kedokteran Gigi (Dent.J). 38(2): 68-
72.
3. David, Munadziroh E. 2005. Perubahan Warna Lempeng Resin Akrilik
yang Direndam Dalam Larutan Desinfektan Sodium Hipoklorit dan
Klorheksidin. Majalah Kedokteran Gigi (Dent.J). 38(1): 36-40.
4. Park SE, et al. 2008. Candida Albicans Adherence To Surfied-Modified
Denture Resin Surfaces. Journal of Posthodontics. 17(1): 365-9.
5. Rathee M, Anita H, Pankaj G. 2010. Denture Hygiene In Geriatric Person.
Journal of geriatric and geriodontology. 6(1).
6. Yuliati A, Harijanto E. 2015. Buku Ajar Ilmu Material Kedokteran Gigi 1.
Surabaya: Airlangga University Press (AUP).
7. Sormin LTM, Rumampuk JF, Wowor VNS. 2017. Uji Kekuatan
Transversal Resin Akrilik Polimerisasi Panas yang Direndam dalam
Larutan Cuka Aren. Jurnal e-Gigi. 5(1): 31-33.
8. Craig RG, Powers JM. 2002. Restorative Dental Materials 11th Ed.
Missouri: Mosby Inc.
9. Annusavice, Kenneth J. 2003. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan
Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC.
10. Combe, EC. 1992. Sari Dental Material Penerjemah: Slamat Tarigan.
Jakarta: Balai Pustaka.
11. Naini A. 2012. Perbedaan Stabilitas Warna Bahan Basis Gigi Tiruan Resin
Akrilik dengan Resin Nilon Termoplastis terhadap Penyerapan Cairan.
J.K.G Unej. 9(1).

19