Anda di halaman 1dari 54

DIARE KRONIK DAN DIARE PERSISTEN

Disusun oleh :
MH. Yuda Alhabsy
NIM.082011101036

Pembimbing :
dr. H. Ahmad Nuri, Sp.A
dr. Gebyar T.B., Sp.A
dr. Ramzi Syamlan, Sp.A
dr. Saraswati Dewi, Sp.A

Disusun untuk melaksanakan tugas Kepaniteraan Klinik di SMF


Ilmu Kesehatan Anak RSD dr. Soebandi Jember

SMF ILMU KESEHATAN ANAK RSD dr. SOEBANDI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
JEMBER
2012
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................................................1
DAFTAR ISI......................................................................................................................................2
PENDAHULUAN............................................................................................................................3
PENATALAKSANAAN DIARE PERSISTEN DAN KRONIK...................................3
Definisi.........................................................................................................................................4
Etiologi.........................................................................................................................................4
Patofisiologi................................................................................................................................6
Diagnosis......................................................................................................................................8
Penatalaksanaan.......................................................................................................................10
Komplikasi................................................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................29
PENATALAKSANAAN DIARE PERSISTEN DAN
DIARE KRONIK

PENDAHULUAN
Diare masih menjadi penyebab masalah kesehatan masyarakat di negara
berkembang termasuk di Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian dan
kesakitan tertinggi pada anak, terutama usia balita (bayi dibawah lima tahun). Di
dunia, sebanyak 6 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare dan sebagian besar
kejadian tersebut di negara berkembang. Sebagai gambaran 17% kematian anak di
dunia disebabkan oleh diare. Di Indonesia, berdasarkan hasil Riskerdas 2007
diperoleh bahwa diare masih merupakan penyebab kematian bayi terbanyak yaitu
42% dibanding pneumonia (24%). Untuk golongan usia 1-4 tahun penyebab kematian
karena diare adalah sebesar 25,2% dibanding pneumonia 15,5%.
Definisi diare adalah meningkatnya frekuensi buang air besar (defekasi) lebih
dari tiga kali sehari dan berubahnya konsistensi menjadi lebih lunak atau bahkan cair.
Menurut etiologinya, diare dapat dibagi menjadi diare cair dan diare berdarah,
sedangkan bila ditinjau dari lamanya diare, diare dibagi menjadi diare akut, diare
persisten dan diare kronik
Pada masa lalu, perhatian kita lebih ditujukan untuk mengurangi kematian
diare akut yaitu dengan promosi rehidrasi secara oral agar tidak terjadi dehidrasi berat
dan syok. Saat ini, perhatian kita juga harus ditujukan pada penyakit diare yang
persisten. Diare persisten adalah diare akut dengan atau tanpa disertai darah yang
berlanjut sampai 14 hari atau lebih. Diare persisten merupakan penyebab penting
kematian pada anak di negara berkembang. Jenis diare yang lain yang juga masih
tinggi angka insidensinya di negara berkembang termasuk Indonesia adalah diare
kronik.
Sebagian besar penyakit diare bersifat akut yang biasanya berlangsung selama
3-5 hari, tetapi 5-15% kejadian diare berlangsung selama 14 hari atau lebih dan
menyebabkan 1/3-1/2 atau lebih kematian. Angka kematian akibat diare persisten di
negara berkembang mencapai angka 30-50%. Sedangkan untuk diare kronik di
Indonesia angka kematian mencapai 23-26%. Kasus diare kronik walaupun lebih
jarang dibandingkan diare akut dan diare persisten tetapi sangat penting untuk
dimengerti karena penatalaksanaannya lebih sulit, sering sulit menentukan
penyebabkan dan menentukan pemeriksaan khusus. WHO memperkirakan walaupun
diare persisten terjadi hanya pada 10% dari keseluruhan episode diare, namun
sebanyak 35% kematian dapat terjadi pada anak dengan umur < 5 tahun dengan diare
persisten. Studi komunitas menunjukkan setiap 100 anak dengan umur < 4 tahun,
terjadi 7 kasus diare persisten yang terjadi setiap tahun, dan hal tersebut bertanggung
jawab pada 1/3 hingga 1/2 kejadian diare yang menyebabkan kematian. 20% dari
episode diare akut pada anak malnutrisi menjadi berkepanjangan hingga lebih dari 2
minggu. 60% dari diare persisten terjadi pada umur < 6 bulan dan 90% pada umur < 1
tahun.
Berdasarkan uraian di atas menunjukan perlunya perhatian dan pemahaman
berkelanjutan dari upaya pencegahan dan penatalaksanaan diare khususnya di negara
berkembang.

DEFINISI
Diare persisten didefinisikan sebagai berlanjutnya episode diare selama 14
hari atau lebih yang dimulai dari suatu diare cair akut atau berdarah (disentri).
Menurut WHO mendefinisikan diare persisten sebagai episode diare yang diduga
karena infeksi yang proses terjadinya secara akut tetapi kemudian berlanjut sampai
lebih dari 14 hari, hal ini tidak termasuk diare kronik/kambuh seperti tropical sprue,
gluten sensitive enteropathy, atau kelainan herediter lain. Sedangkan berdasarkan
AAFP, dan schiller et al. diare kronik didefinisikan sebagai buang air besar lebih dari
3 kali sehari atau dari biasanya, urgensi dan berlangsung dengan durasi dari 4
minggu, biasanya dengan etiologi non infeksi. Indian academy of pediatrics memakai
cut off 14 hari atau 2 minggu pada diare kronik.

ETIOLOGI
Sesuai dengan batasan bahwa diare persisten adalah diare akut yang menetap
dengan sendirinya etiologi diare persisten sama dengan diare akut. Dari segi klinis,
etiologi diare persisten dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Kuman penyebab khusus
Diare dengan permulaan yang akut sebagian besar disebabkan oleh infeksi
enterik yang spesifik atau oleh pemaparan enterotoksin. Diare yang demikian ini
biasanya berlangsung kurang dari 7 hari. Namun sebagian kecil kasus mengalami
diare yang berkepanjangan. Faktor virulensi dari enteropatogen dapat
mempengaruhi kejadian diare persisten. Dalam menimbulkan diare persisten,
enteropatogen dapat melakukan operasinya melalui beberapa jalan:
a. Infeksi persisten oleh enteropatogen awal
b. Reinfeksi dengan enteropatogen lain
c. Sensitisasi oleh antigen makanan/ minuman yang disebabkan oleh kerusakan
mukosa usus yang ditimbulkan oleh infeksi awal gastrointestinal akut.
Enteropatogen yang ditemukan pada diare persisten dapat dibagi dalam 2
kelompok besar:
o Kelompok yang dijumpai dengan frekuensi yang sama antara diare akut
dan persisten adalah Shigella, Nontyphoid Salmonella, Campylobacter
jejuni, Enterotoxigenic E. Coli (ETEC), Giardia lamblia, Entamoeba
histolytica, dan Clostridium lamblia.
o Kelompok yang lebih sering dijumpai pada diare persisten adalah
Enteroadherent E. Coli, Cryptosporidium, dan Enteropathogenic E. Coli
(EPEC).
2. Faktor-faktor penjamu (host)
Faktor-faktor penjamu (host) yang berperan antara lain:
a. Usia bayi kurang dari 4 bulan
b. Diare pada anak yang malnutrisi, berlangsung lebih lama dan kelihatannya
lebih sering menjadi persisten
c. Tidak mendapatkan ASI
3. Faktor-faktor lain
Penanganan diare akut yang tidak tepat seperti pemakaian antibiotik yang tidak
rasional dan pemuasaan penderita.
Batasan untuk diare kronik yaitu diare yang lebih dari 14 hari dengan
etiologi noninfeksi. Ada beberapa faktor resiko yang menyebabkan diare kronik pada
anak antara lain malnutris, pemberian ASI <1bulan, pemberian antibiotik, riwayat
diare sebelumnya dalam waktu 3 bulan terakhir dan defisiensi Zn. Penyebab lain
diare kronik dapat disebabkan oleh sindrome malabsorpsi pasca gastroenteritis,
intoleransi susu sapi/protein kedelai, defisiensi disakaridase sekunder, penyakit
celiac, iritable bowel syndrome, inflamatory bowel disesase. Penyebab lain adalah
diare kronik nonspesifik, dan merupakan penyebab paling sering pada anak yang
sedang tumbuh dan akan sembuh sendiri saat anak memasuki umur 3,5 tahun.

PATOFISIOLOGI
Diare secara umum dapat di bagi menjadi :
 Diare sekretorik
Mempunyai karakteristik adanya peningkatan kehilangan banyak air dan
elektrolit dari saluran pencernaan. Diare skretorik terjadi karena infeksi bakteri
dan virus, proses inflamasi, obat obatan, kelainan genetik.
Mekanisme dari absorpsi cairan intestinal dan sekresi pada diare
sekretorik. a | Luminal dan basolateral membran transporter dan signalling
intraseluler terlibat dalam absorpsi cairan dan sekresi oleh enterosit. b | beberapa
bakteri mensekresikan enterotoksin yang menungkatkan siklik nukleotida
intraseluler, yang menghasilkan sekresi Cl- dan inhibisi NHE3 dan absorpsi Na+.
Bakteri invasif menyebabkan respon inflamasi jaringan yang terlibat dalam
pengerahan sel imun dan melepaskan sitokin, yang menyebabkan signalling Ca2+
intraseluler. c | protein rotaviral NSP$ menyebabkan peningkatan konsentrasi
Ca2+ sitoplasmik dengan mengikat pada integrin- α1β2, galanin, dan/atau dengan
aktivasi nervus enterik. Rotaviral NSP4 juga menginhibisi NHE3 dan SLC5A41.
d| diare kongenital hasil dari keturunan mutasi genetik yang langka pada
beberapa protein intestinal. e | aktivasi dari signalling inflamasi pathway seperti
NF-kB menghasilkan Ca2+ atau signalling siklik nukleotida dan stimulasi dari
sekresi Cl- dan inhibisi absorpsi Na+. Pelepasan dari mediator inflamasi seperti
TNF, IL-6 yang dikativasi oleh sel T dan neutrofil juga dapat menstimulasi
sekresi Cl- .
Akibat dari sekresi berlebihan adalah peningkatan sekresi cairan yang
melebihi kemampuan absorpsi maksimum dari kolon dan berakibat adanya diare.
Pada diare sekretorik biasanya pengeluran tinja dalam jumlah besar dan menetap
meskipun dipuasakan serta memiliki komposisi elektrolit yang isotonik.
 Diare osmotik
Diare osmotik didapatkan substansi intraluminal yang tidak dapat
diabsorpsi dan menginduksi sekresi cairan. Biasanya keadaan ini berhubungan
dengan terjadinya kerusakan dari mukosa saluran cerna, akumulasi zat yang tidak
dapat diserap di dalam lumen usus yang menyebabkan terjadinya peningkatan
tekanan osmotik intraluminal, sehingga terjadi pergeseran cairan plasma ke
intestinal. Karakteristik dari diare osmotik adalah diare akan membaik bila
penderita dipuasakan atau dengan membatasi asupan.

Untuk titik sentral patogenesis diare persisten adalah kerusakan mukosa usus
yang disebabkan oleh etiologi diare akut. Pada infeksi rotavirus, diare berlanjut
terjadi akibat defisiensi laktosa yang berkepanjangan. Pada malnutrisi sering terjadi
diare persisten karena sintesis antibodi berkurang, motilitas usus yang menurun dan
regenerasi sel mukosa usus lambat. Faktor yang berperan memperburuk kerusakan
mukosa usus adalah :
1. Berlanjutnya paparan etiologi infeksi
2. Adanya infeksi intestinal sekunder
3. Infeksi parenteral baik sebagai komplikasi maupun sebagai penyakit penyerta
4. Penurunan imunitas
Pada diare kronik definisinya dalah diare lama lebih dari 14 hari dengan
etilogi adalah bukan karen infeksi. Faktor yang berperan antara lain:
1. Kerusakan mukosa usus yang menyebabkan gangguan digesti dan transportasi
nutrien melalui mukosa
2. Gangguan pankreas, hati, dan membran brush border enterosit
3. Malnutrisi

DIAGNOSIS
Diagnosis diare sangat penting ditegakan dalam penentuan jenis diare. Dari
anamnesis dapat diduga gejala timbul dari kelainan organik atau fungsional,
membedakan malabsorpsi kolon atau bentuk diare inflamasi, dan menduga penyebab
spesifik. Diagnosis diare persisten ditegakkan atas adanya diare lebih dari 2 minggu.
Hal yang perlu diperhatikan adalah :
1. Kemungkinan anak mengalami dehidrasi
a. Keseimbangan cairan , riwayat input dan output cairan
b. Tanda dehidrasi
2. Nutrisi
a. Status gizi ditetapkan sesuai standar. Kekurangan mikronutrien seperti
vitamin A dan zinc dapat memperpanjang lama diare, tetapi sering
manifestasi klinik klasik ini belum muncul. Memeriksa kadar mikronutrein
ini relatif sukar dan mahal, sehingga dalam praktek, tanpa pemeriksaan
terlebih dahulu, semua penderita dengan diare lama diberi suplementasi
mikronutrein tertentu.
b. Kemampuan makan anak dinilai berdasarkan riwayat makanan sewaktu
sehat, selama sakit, keadaan umum anak, serta melalui pengamatan untuk
menentukan cara (enteral atau parenteral) dan bentuk pemberian makanan
(cair, sering, lunak, atau biasa)
3. Penyebab infeksi
Pada diare persisten kita harus mencari faktor penyebab diare ini dengan aktif.
Langkah yang dapat dilakukan adalah :
a. Mempelajari perjalanan penyakit dengan harapan mengarahkan pada
diagnosis etiologi
b. Melakukan pemeriksaan mikroskopis feses
c. Melakukan pemeriksaan darah tepi
d. Biakan feses
4. Penyakit penyerta
Diare persisten sering disertai penyakit penyerta
5. Indikasi rawat inap
a. Pasien berumur kurang dari 4 bulan
b. Pasien mengalami diare
c. Pasien menderita KEP sedang dan berat
d. Menderita infeksi berat
Pendekatan diagnosis diare kronik hampir sama dengan diare persisten, hanya
saja pada diare kronik anamnesis dilakukan harus lebih lengkap dan berhati-hati
karena penyebab dari diare kronik sangat beragam. Dari anamnesis dapat diduga
gejala timbul dari kelainan organik atau fungsional, Faktor resiko spesifik yang
meningkatkan dugaan diare organik adalah
1. Anamnesis
a. Riwayat keluarga : terutama keganasan, penyakit celiac, inflamatory bowel
disease
Riwayat operasi sebelumnya : reseksi ekstensif ileum dan kolon
menyebabkan diare karena penurunan jumlah absorpsi karbohidrat dan
lemak, penurunan transit time, malabsorpsi asama empedu. Pertumbuhan
bakteri berlebih juga dapat terjadi pada situasi seperti ini, terutama pada
operasi bypass jejunoileal pada obesitas. Diare kronik juga dapat terjadi
setelah cholesystektomy melalui mekanisme peningkatan transit usus,
malabsorpsi asam empedu dan peningkatan siklus enterohepatik asam
empedu.
c. Penyakit pankreas sebelumnya
d. Alkohol : diare banyak terjadi pada pemakai alkohol.
e. Obat-obatan
2. Pemeriksaan fisik
Berguna untuk menentukan keparahan diare dari pada menemukan penyebabnya.
3. Pemeriksaan awal
a. Tes darah
Abnormalitas pada penipisan awal seperti laju endap darah yang tinggi,
anemia, albumin darah yang rendah memperkuat dugaan adanya penyakit
organik.
b. Tes serologi untuk penyakit celiac Merupakan
penyebab enteropati usus kecil.
c. Pemeriksaan tinja
Inspeksi feses merupakan pemeriksaan yang sangat membantu. Pemeriksaan
feses dibedakan menjadi tes spesifik dan tes nonspesifik.

PENATALAKSANAAN
Diare Persisten
Prinsip umum dalam penatalaksanaan diare akut dapat diterapkan pada diare
persisten. Penderita baru dengan diare persisten sebaiknya dirawat inap untuk
mencari etiologi dan menatalaksana dengan baik. Tujuan utama tatalaksana klinik
adalah mempertahankan status hidrasi dan keseimbangan elektrolit, status nutrisi dan
memperbaiki kerusakan mukosa serta pada keadaan tertentu memberi antibiotika
yang tepat.
A. Penilaian Keadaan
Aspek terpenting dalam penatalaksanaan seorang anak dengan diare persisten
adalah penilaian keadaan (assessment) secara cepat dan penentuan untuk
penatalaksanaan selanjutnya.
Anamnesis mengenai riwayat perjalanan diare, yakni penekanan pada
lamanya perjalanan diare, kemungkinan anak mengalami dehidrasi, frekuensi buang
air besar, adanya darah dalam tinja, diare menjadi lebih buruk setelah diberi makanan
tertentu, riwayat tindakan bedah saluran pencernaan, infeksi ekstraintestinal saat itu,
kesulitan pemberian makanan, kualitas dan kuantitas pemberian makanan, obat yang
ada di rumah yang pernah diberikan, apakah antibiotik telah diberikan seperti yang
dianjurkan, apakah anak dapat tumbuh nomal.
Pemeriksaan fisik, antara lain :
a. Identifikasi adanya dehidrasi
Derajat dehidrasi pada diare persisten ditetapkan sesuai dengan acuan tatalaksana
diare akut, hanya perlu hati-hati pada diare persisten yang disertai KEP dan
penyakit penyerta, yang dapat mengganggu penilaian indikator derajat dehidrasi.

Menentukan Derajat Dehidrasi


Kategori TANDA DAN GEJALA
Dehidrasi berat Dua atau lebih tanda berikut :
 Letargi atau penurunan kesadaran
 Mata cowong
 Tidak bisa minum atau malas minum
 Cubitan kulit perut kembali dengan sangat lambat
( 2 detik)
Dehidrasi tak berat Dua atau lebih tanda berikut :
 Gelisah
 Mata cowong
 Kehausan atau sangat haus
 Cubitan kulit perut kembali dengan lambat
Tanpa dehidrasi Tidak ada tanda gekala yang cukup untuk
mengelompokkan dalam dehidrasi berat atau tak berat

b. Identifikasi adanya komplikasi, antara lain hipoglikemia, hiponatremia, sepsis,


perforasi usus, kejang, malnutrisi, megakolon toksik, sindrom uremik hemolitik..
c. Identifikasi derajat berat malnutrisi, yakni anak yang kelihatan tidak gembira dan
pasif merupakan hal yang umum didapatkan pada malnutrisi sedang sampai
berat. Banyak anak dengan malnutrisi karena malabsorpsi pada diare persisten
menunjukkan adanya kelambatan dalam perkembangannya. Pemeriksaan yang
cermat dari tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala, perbandingan berat
badan terhadap tinggi badan, dan menilai kurva pertumbuhan anak merupakan
hal yang mendasar dari pemeriksaan fisik.

Penderita baru dengan diare persisten sebaiknya dirawat inap untuk mencari
etiologi dan menatalaksana dengan baik. Tujuan utama tatalaksana klinik adalah
mempertahankan status hidrasi dan keseimbangan elektrolit, status nutrisi dan
memperbaiki kerusakan mukosa serta pada keadaan tertentu memberi antibiotika
yang tepat.

1. Pertolongan Awal dan Stabilisasi


Penderita dengan diare persisten membutuhkan penggantian kehilangan
cairan yang masih berlangsung dan koreksi ketidakseimbangan elektrolit.
a. Mempertahankan status hidrasi
Prinsip dasar pengantian cairan yang diterapkan pada diare akut tidak banyak
berbeda
dengan yang
diterapkan
pada diare
persisten.
Rehidrasi
dimungkinkan
secara peroral
maupun
melalui jalur
intavena.
Volume cairan
disesuaikan
dengan derajat
dehidrasi:
 Tanpa dehidrasi :
(sesuai rencana
terapi A)
 Dehidrasi tidak berat (ringan-sedang):
 Dehidrasi berat:
- Cairan yang dibuat dari makanan yang mengandung sedikit garam dan
sumber glukosa berupa berupa polimer glukosa (misalnya tepung) atau
sukrosa. Komposisi cairan yang dibuat dari makanan ini mungkin dibuat
secara tepat menurut cara tradisional atau resep tradisional mungkin perlu
dimodifikasikan misalnya dengan mengencerkan campuran atau
menambahkan garam.
- Larutan gula garam adalah dengan mencampur ½ sendok teh garam dapur
dan 8 sendok teh gula dalam 1 liter air.
- Formula lengkap berupa larutan oralit yang dibuat dari satu bungkus
campuran glukosa dan garam yang dilarutkan dalam air adalah cairan yang
dianjurkan untuk mengobati dehidrasi. Cairan Oral Rehydration Salts (ORS)
marupakan formula dari WHO yang direkomendasikan dalam Oral
Rehydration Therapy (ORT).
Komposisi Oralit WHO
Kandungan Oralit WHO (lama) Oralit WHO (baru) (mmol/l)
(mmol/l)
Natrium 90 75
Kalium 20 20
Sitrat 10 10
Klorida 80 65
Glukosa 111 75
Total Osmolaritas 311 mmol/l 245 mmol/l

- Cairan rehidrasi reduced osmolarity rehiydration solution. Banyak penelitian


menunjukkan keunggulan dari reduced osmolarity rehiydration solution
dibandingkan dengan standar cairan rehidrasi oral WHO. Hahn et al
melaporkan bahwa reduced osmolarity rehiydration solution dikaitkan
dengan hasil yang lebih baik berkenaan dengan infus intravena, output dari
stool, dan efek terhadap kejadian muntah. Air tajin merupakan reduced
osmolarity rehiydration solution. Efikasi dari air tajin dimungkinkan karena
osmolalitasnya yang lebih rendah jika dibandingkan standar rehidrasi oral.
Dengan pemberian air tajin maka dapat dihasilkan cairan yang hipo-osmotik
sehingga dapat meningkatkan absorpsi air dan memungkinkan penurunan
cairan dalam ileum.

 Cairan intravena.
Eksaserbasi akut dan dihubungkan dengan kaitannya dengan terjadinya
muntah sehingga rehidrasi intravena secara cepat diperlukan. Pada sebagian
kecil penderita, mungkin terjadi gangguan absorpsi monosakarida (glukosa,
sukrosa) sehingga diare menjadi berat, pada kasus-kasus demikian dilakukan
dehidrasi secara intravena. Larutan Ringer Laktat adalah adalah larutan paling
baik yang diperdagangkan.

Komposisi Ion dan Larutan Infus Intravena


Larutan Na+ K+ Ca+ Cl- Laktat

Ringer Laktat 130 4 3 109 28


Larutan ½ Darrow 61 18 0 52 27
Larutan NaCl 0,9% 154 0 0 154 0
Larutan Glukosa dan 0 0 0 0 0

2. Koreksi ketidakseimbangan elektrolit


Ketidakseimbangan elektrolit dapat terjadi secara akut antara lain berupa
hipokalemia dan asidosis berat membutuhkan penanganan khusus.
i. Hipernatremia (Na > 155 mEq/L), koreksi penurunan Na dilakukan secara
bertahap dengan pemberian cairan dekstrosa 5% + ½ salin. Penurunan kadar
Na tidak boleh lebih dari 10 mEq perhari karena bias
menyebabkan edem otak.
ii. Hiponatremi (< 120 mmol/L), dilalukan intervensi berupa pemberian NaCl
3% intravena.
Kadar Na koreksi : (mEq/L) = 135 – kadar Na serum x 2/3 x berat BB
(dalam kg)
Satu mil NaCl 3% mengandung 0.532 meq NaCl. Cairan diberikan dalam
waktu 2 jam. Jika kadar Na serum lebih dari 120 mmol/L diatasi dengan
pemberian oralit atau cairan intravena dengan kadar Na relatif tinggi
misalnya Ringer Laktat atau NaCl fisiologis.
iii. Hiperkalemia (K > 5 mEq/L), koreksi dilakukan dengan pemberian kalsium
glukonas 10% 0,5-1 ml/kgBb iv perlahan-lahan dalam 5-10 menit, sambil
memantau denyut jantung
iv. Hipokalemia (K < 3,5 mEq/L), koreksi dilakukan menurut kadar K.
Jika kadar K 2,5 - 3,5 mEq/L, berikan 75 mEq/kgBb per oral per hari dibagi
3 dosis.
Jika kadar K < 2,5 mEq/L; berikan secara drip intarvena dengan dosis :
- 3,5 – kadar K terukur x Bb (kg) x 0,4 + 2 mEq/kgBb/24 jam dalam 4
jam pertama
- 3,5 – kadar K terukur x Bb (kg) x 0,4 + 1/6 x 2 mEq/kgBb jam dalam
4 jam pertama
3. Terapi Medikamentosa
Translokasi bakteri dan infeksi sistemik dapat terjadi pada anak dengan
diare persisten yang dapat menyebabkan kematian, sehingga memerlukan
pemberian antibiotik. terhadap bakteri. Pada keadaan sakit yang berat, diperlukan
pemberian awal dengan antibiotik broadspektrum sambil menunggu hasil kultur.
Dengan pengecualian pengobatan antimikroba terhadap organisme
tertentu yang ditemukan dalam tinja atau terhadap Shigella. Shigella diketahui
dapat menyebabkan terjadinya diare persisten dan dapat diterapi dengan
antibiotik. Terapi dengan antibiotik yang tidak spesifik, tanpa mengetahui
penyebab pasti terjadinya diare persisten, tidak terbukti efektif menyembuhkan
diare persisten dan sebaiknya tidak digunakan. Antiparasit diindikasikan untuk
amebiasis dan giardiasis.
Bahaya komplikasi penggunaan antimikroba merupakan alasan untuk tidak
menggunakan obat secara sembarangan. Terapi antibiotik diberikan sesuai
dengan Tatalaksana Diare Akut atau apabila ada infeksi non intestinal seperti
Pneumonia, Infeksi Saluran Kencing atau Sepsis.
Antibiotik pilihan pertama terkait dengan disentri berdasarkan WHO 2005
adalah golongan Quinolon, seperti siprofloksasin dengan dosis 30-50 mg/kgBb
tiap 8 jam, diberikan selama 5 hari. Pemantauan dilakukan 2 hari pengobatan,
jika tidak ada perbaikan maka amati penyulitnya, hentikan antibiotik sebelumnya
dan berikan antibiotik yang sensitif terhadap shigella berdasarkan area.
Antimikroba Pada Pengobatan Diare Dengan Penyebab Khusus
Penyebab Antibiotik Terpilih Pilihan Lain
Kolera Eritromisin 12.5 TMP 5 mg/kgBb/hari-SMX
mg/kgBB/hari selama 4 hari 25 mg/kgBb/hari, p.o 2 kali
untuk anak di bawah 12 tahun sehari, selama 3 hari
Tetrasiklin 12.5 mg/kgBB/hari
selama 4 hari untuk anak di
>bawah 12 tahun dan dewasa
Shigella Ampisilin 100 mg/ kgBb/
Siprofloksasin 30 - 50
hari, p.o, 4 kali/hari, 5 hari
mg/kgBB/hari dibagi dalam 3
dosis selama 5 hari

Amoeba Metronidazol Dehidroemetin HCl (kasus


7,5 mg/kgBb/hari, po, 3 berat)
kali/hari, 5 hari (tidak berat), 1-1,5 mg/kgBb/hari (maks.
10 hari (berat) 90 mg), IM, 1 kali sehari, 5
hari.
Giardia Metronidazol 5 mg/ kgBb/ Quinakrin 7,5 mg/ kgBb/
hari, p.o, 2 kali/hari, 5 hari hari, p.o, 3 kali sehari, 5
hari

B. Manajemen Nutrisi
Manajemen terhadap nutrisi merupakan bagian yang terpenting karena adanya
hubungan yang kuat antara diare persisten dengan terjadinya malnutrisi, intoleransi
laktosa dan kemungkinan terjadinya defisiensi mikronutrien. Malnutrisi merupakan
faktor predisposisi yang secara signifikan mempertinggi kejadian dan keparahan diare
serta meningkatkan insidensi dari diare persisten.
Pemberian makanan secara tepat direkomendasikan untuk proses pemulihan
nutrisi mencegah penurunan berat badan. Terdapat 2 prinsip dasar dietary
management pada diare pesisten:
a. Jika anak masih mendapat ASI, ASI harus tetap diberikan. Kalau anak tidak
dapat menetek, ASI dapat diperas atau dipompa. Laktosa memang tidak dianjurkan
untuk diberikan pada diare persisten tetapi melihat nilai nutrisi yang lain, sifat-
sifat unologis dan sifat anti infeksi dari ASI maka kelanjutan pemberian ASI pada
penderita diare persisten harus tetap dipertahankan. Diare persisten sangat jarang
terjadi pada anak yang mendapat ASI dibandingkan anak yang diberi susu sapi
atau susu formula
Pada bayi yang tidak minum ASI diberikan susu rendah laktosa. Oleh
karena pada masa awal terjadinya diare, produksi laktase berkurang, menyebabkan
pencernaan yang lambat terhadap laktosa. Pada anak yang sedang sakit
melanjutkan pemberian susu mengandung laktosa, sejumlah laktosa yang tidak
tercerna terdorong ke dalam lower intestine, hal tersebut dapat memindahkan
cairan melewati dinding usus ke dalam lumen usus, yang dapat memperparah
kejadian diare.
Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengurangi intoleransi terhadap
laktosa antara lain pengenceran susu, mencampurkan susu dengan makanan lain
misalnya serealia, mengganti susu dengan produk susu yang telah difermentasikan
misalnya dengan yogurt, dimana susu ini mengandung laktosa lebih sedikit dan
lebih dapat ditoleransi, serta menghentikan susu dan menggantinya dengan
makanan yang tidak mengandung laktosa misalnya bubur tepung atau formula
bukan susu (misalnya formula kedelai). Jika penggantian susu hewani tidak
memungkinkan, batasi susu hewani sampai 50 ml/kgBB/hari.
Terapi untuk Cow’s Milk Allergy didasarkan pada eliminasi susu sapi.
Eliminasi sebaiknya berlanjut sampai 9 atau 12 bulan. Makanan yang bisa diberikan
adalah ASI yang merupakan makanan terbaik untuk bayi, spesial formula dengan
dasar casein hidrolisat dapat diberikan. Jika terjadi malabsorpsi lemak, maka
dipertimbangkan pemberian Medium Chain Tryglicerida (MCT).
b. Memastikan bahwa anak memperoleh nutrisi dalam jumlah yang cukup.
Sasaran akhir ditujukan untuk menjamin tumbuh kembang yang optimal dengan
mengkonsumsi diet yang sesuai dengan umurnya berdasar pada kondisi klinik
yang normal, untuk itu kita harus mengupayakan regenerasi mukosa usus dengan
mematahkan lingkaran setan yang memperberat kerusakan mukosa usus. Pasokan
nutrien yang adekuat, baik dalam jumlah maupun

komposisinya merupakan langkah kunci untuk mencapainya. Pada diare


persisten perlu ditekan adanya malabsorpsi ganda dan berat, sehingga usaha
pemberian nutrisi harus disesuakan dengan kemampuan/kapasitas digesti dan
absorpsi saluran cerna.
Kebutuhan air :
a) BB 0 –10 kg : 100 ml/kgBb
b) BB 11 – 20 kg : 1000 ml + 50 ml x ( Bb – 10 )
c) BB > 20 kg : 1500 ml + 20 ml x ( Bb –20 )

a) BBLR : 150 Kkal / kgBb


b) BBLC : 120 Kkal / kgBb / bulan
c) BB 0 –10 kg : 100 Kkal / kgBb
d) BB 11–20 kg : 1000 Kkal + 50 Kkal x ( Bb-10 )
e) BB >20 kg : 1500 Kkal + 20 Kkal x ( Bb- 20 )

a) BBLR 2,5 – 3 g /kg Bb


b) Usia 0 –1 tahun : 2,5 g /kgBb
c) Usia 2-13 tahun : 1,5 – 2 g /kgBb
Pemberian nutrisi oral akan memacu regenerasi mukosa, meningkatkan
kapasitas digesti dan absorpsi, sehingga akan memperluas pilihan jenis, bentuk
dan cara pemberian makanan. Kemajuan dalam terapi nutrisi parenteral, sangat
membantu penanganan diare persisten. Tetapi harus diingat nutrisi enteral harus
lebih diutamakan karena lebih murah, efek sampingnya lebih sedikit, dan yang
paling penting, ternyata rehabilitasi mukosa jauh akan lebih cepat dan sempurna
kalau diberi nutrisi intra luminal,yang hanya dapat dipasok melalui nutrisi enteral.
a. Banyak acuan dan cara pemberian makanan pada penderita diare persisten.
Makanan akan diberikan dalam bentuk padat atau cair, alami atau hidrolisat atau
produk nutrisi elemental sintetis; kontinyu atau intermiten diberikan secara oral
atau melalui pipa lambung atau pemberian nutrisi paranteral secara perifer atau
sentral. Nutrisi enteral harus merupakan prioritas walaupun terjadi peningkatan
volume dan frekuensi defekasi Keadaan ini dapat ditolerir sepanjang
keseimbangan nutrisi tetap positif. Hiperosmolaritas harus dihindari agar tidak
menyebabkan diare osmotik.
 Nutrisi Enteral
Faktor yang dipertimbangkan :
a. Umur anak
b. Kebiasaan makan sebelum dan selama sakit
c. Kemampuan pencernaan anak

 Jika anak masih mendapat ASI, ASI harus tetap diberikan. Kalau anak tidak
dapat menetek, ASI dapat diperas atau dipompa. Laktosa memang tidak
dianjurkan untuk diberikan pada diare persisten tetapi melihat nilai nutrisi
yang lain. Sifat-sifat unologis dan sifat anti infeksi dari ASI maka kelanjutan
pemberian ASI pada penderita diare persisten harus tetap dipertahankan. Pada
bayi yang tidak minum ASI diberikan susu rendah laktosa.
Pengenceran susu, mencampurkan susu dengan makanan lain misalnya
serealia atau menghentikan susu dan menggantinya dengan makanan yang
tidak mengandung laktosa. Misalnya bubur tepung atau formula bukan susu
(misalnya formula kedele) (Sunoto et al, 1990).
 Apabila anak sudah dapat mengkonsumsi bahan makanan biasa, pilihan yang
dianjurkan antara lain:
- Sumber Karbohidrat : beras
- Sumber Protein : daging ayam , tempe atau telur.
- Sumber Lemak: minyak sayur
Langkah berikutnya adalah menentukan bentuk makanan apakah : cair,
saring, lunak atau biasa. Bentuk yang dipilih disamping tergantung jenis
makanan yang akan diberikan, juga mengikuti pilihan cara pemberian makanan
yang dapat melalui mulut (makan sendiri, disendokkan).
Untuk semua anak, mengurangi jumlah makanan dan menambah
frekuensinya dan kepadatan gizi merupakan kunci asupan makanan yang cukup.
Lemak (minyak nabati) dapat ditambahkan untuk menambah kalori. Makanan
yang mengenyangkan dan tinggi osmolaritasnya misalnya sari buah dan
minuman ringan yang banyak mengandung gula harus dihindarkan atau
diencerkan.
Bayi yang lebih tua dan anak harus diberikan makanan enam kali sehari
segera setelah bisa makan. Kebanyakan mengalami anoreksia selama satu hingga
dua hari sampai infeksi dapat ditanggulangi. Dalam hal ini maka dibutuhkan
makan lewat pipa.
 Nutrisi Parenteral
Nutrisi parenteral adalah suatu teknik untuk memberikan nutrisi yang
diperlukan tubuh melalui intravena. Nutrien yang diberikan terdiri dari air,
elektrolit, asam amino, emulsi lemak, mineral, vitamin dan trace element.
Komplikasi pemberian nutrisi parenteral dapat disebabkan faktor metabolik
mekanik atau infeksi. Bila dilaksanakan dengan hati-hati komplikasi dapat
ditekan serendah mungkin. Pada diare persisten, nutrisi parenteral dapat
diberikan secara sentral atau perifer, total atau parsial tergantung pada keadaan
klinis penderita.
Pertumbuhan dan kenaikan berat badan bayi dan anak yang mendapatkan
nutrisi parenteral secara sentral sama seperti bayi yang minum ASI atau susu
formula standar. dengan adanya nutrisi perenteral angka kematian pada diare
persisten menurun dari 70 –90% menjadi kurang dari 10%. Yang relatif lebih
mungkin dilaksanakan secara umum adalah pemberian terapi nutrisi parsial.
Prosedur ini tetap sangat membantu, karena pada kasus berat dengan kemampuan
perencanaan sangat minimal, dengan menggabung terapi nutrisi enteral dan
parenteral kita dapat memberikan pasokan nutrien yang lebih adekuat. Dengan
demikian diharapkan rehabilitasi mukosa usus akan terlaksana, kemampuan
pencernaan akan meningkat, sehingga porsi makanan enteral dapat ditingkatkan.
Sebagai pegangan untuk melaksanakan terapi nutrisi parenteral parsial ini dapat
digunakan patokan berikut :
 Suplementasi Mikronutrien

Zat gizi mikro seperti Vitamin A, Zn, Fe, Vitamin B 12, dan asam folat
sangat berguna untuk regenerasi mukosa, karena itu dianjurkan agar anak dengan
diare persisten, harus juga memperoleh tambahan multivitamin dan mineral
setiap hari selama 2 minggu yaitu suatu campuran vitamin dan mineral yang
terdiri dari minimal 2 RDA (Recommended Daily Allowance) dari asam folat,
Vitamin A, Zn, Cuprum dan Magnesium.
Contoh : Pada anak berumur 1 tahun berikan Asam folat 100 mcg, Zinc 20 mg,
Vitamin A 600 mcg RE (Retinol Equal Valents ), Besi 20 mg, Tembaga 2 mg,
Magnesium
160 mg.
 Suplementasi Zinc
WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian suplemen zinc sebesar
10 mg (pada bayi di bawah 6 bulan) hingga 20 mg per hari selama 10-14 hari,
karena mampu mengurangi angka kejadian selama 2-3 bulan setelah pemberian
suplemen.
Suplementasi zinc dihubungkan dengan efek klinis yang penting dalam
mengurangi resiko terjadinya diare berkelanjutan (± 23%), frekuensi terjadinya
episode diare persisten (±39%) serta dapat mengurangi jumlah watery stools (±
21-39%). Efek pengurangannya tersebut memungkinkan penurunan resiko
terjadinya dehidrasi dan kebutuhan terhadap penggantian cairan dan elektrolit.
Pada penelitian kecil terhadap diare persisten, pemberian suplemen zinc 20 mg,
dihubungkan dengan efek reduksi sebesar 20% terhadap lamanya diare dan
frekuensi dari stools.
Kemungkinan mekanisme yang ditimbulkan dari suplementasi zinc pada
diare antara lain meningktkan penyerapan air dan elektrolit pada intestinal,
memicu regenerasi dan memperbaiki fungsi dari epitel usus, meningkatkan
jumlah enzim yang terdapat di enterosit brush-border, membantu peran imunitas
dalam melawan proses infeksi termasuk imunitas selular dan imunitas humoral.
 Vitamin A
Diare dapat menyebabkan kekurangan vitamin A, karena selama diare absorpsi
vitamin A berkurang. Karena itu bila ditemukan tanda-tanda dan gejala klinis
kekurangan vitamin A berupa rabun senja, harus diberi 200.000 i.u vitamin A per
oral. Penelitian membuktikan bahwa konsentrasi retinol dalam serum berkurang
pada keadaan defisiensi zinc. Selain itu juga dapat menyebabkan
ketidakmampuan dari retinol untuk mencapai konsentrasi normal dalam serum.
Hal ini terjadi karena kemungkinan adanya interaksi antara zinc dengan vitamin
A. Dibuktikan bahwa dengan suplementasi zinc yang dikombinasikan dengan
retinol vitamin A, maka konsentrasi retinol dalam serum akan meningkat.
Pada anak dengan malnutrisi, suplementasi zinc dapat meningkatkan
konsentrasi retinol binding protein dalam serum. Defisiensi zinc dan vitamin A
sering ko-eksis pada anak dengan malnutrisi, sehingga suplementasi zinc dapat
menaggulangi kegagalan dari suplementasi vitamin A (Rahman et al, 2001).
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rahman dkk (2001) menunjukkan bahwa
zinc dan vitamin A jika digunakan bersama-sama menjadi lebih efektif dalam
mengurangi kejadian diare persisten.
 Pemberian Probiotik
Probiotik telah dipercaya dalam pengobatan diare. Probiotik
merupakan mikroorganisme yang mempunyai efek menguntungkan terhadap
kesehatan manusia saat berkoloni di usus, dianjurkan sebagai terapi tambahan
dalam pengobatan diare. Beberapa mikroorganisme efektif dalam mengurangi
keparahan dan lamanya diare, antara lain Lactobacillus rhamnous, Lactobacillus
plantarum, beberapa strain dari Bifidobacteria, Enterococcus faecium, dan
Saccharomyces boulardii. Probiotik secara umum dianjurkan tanpa indikasi
spesifik. Efikasi sediaan probiotik dalam pengobatan diare dihubungkan dengan
strain dari masing-masing bakteri. Probiotik bisa berbentuk susu fermentasi,
yogurt, keju,mentega, sari buah dan susu formula yang difortifikasi dengan
bakteri asam laktat.
Prebiotik diberi batasan sebagai bahan makanan yang mempunyai efek
pada inang yang menguntungkan dengan secara selektif memacu pertumbuhan
dan aktivitas dari satu spesies atau sejumlah spesies bakteri dalam kolon (flora
komensal) yang dapat menunjang kesehatan.
Penderita diare perlu nutrisi untuk memulihkan kondisi usus. Pemberian
probiotik dapat menjadi alternatif pengelolaan nutrisi pada penderita diare. Dari
berbagai penelitian pemberian probiotik, prebiotik maupun kombinasi keduanya
(sinbiotik) dapat membantu mengurangi gejala, dan mempercepat terjadinya
proses penyembuhan.
Diare Kronik
Penatalaksanaan diare kronik terutama difokuskan pada penyakit yang
mendasarinya. Penatalaksanaan diare kronik meliputi tiga langkah berikut :
1. Rehidrasi enteral/parenteral
a. Tanpa malnutrisi
Penderita diare kronik yang mengalami dehidrasi ringan/sedang tetap
diupayakan memberikan terapi rehidrasi oral, bila perlu cairan diberikan
melalui pipa nasogastrik sampai anak bisa minum per oral secara adekuat.
Oralit efektif untuk sebagian besar penderita diare kronik. Pada sebagian kecil
penderita mungkin terjadi gangguan absorpsi monosakarida (glukosa)
sehingga diare menjadi berat. Pada kasus demikian perlu dilakukan rehidrasi
intravena. Cara pemberian rehidrasi intravena sama dengan pemberian pada
diare akut.
b. Dengan malnutrisi
Cairan yang diberikan adalah resomal, bila perlu dengan sonde. Infus hanya
diberikan dalam keadaan dehidrasi berat/syok dan muntah tidak terkendali.
Cairan infus yang digunakan untuk penderita diare kronik dengan malnutrisi
adalah DG 10% (banyak mengandung kalium). Pantau ketat untuk mencegah
kelebihan cairan dengan perhatian khusus pada tanda-tanda edema dan
produksi urin
2. Terapi nutrisi
a. Nutrisi enteral
Pada bayi yang mendapat ASI harus dilanjutkan. Bila tidak ada ASI beri susu
formula rendah/bebas laktosa. Bila dengan susu formula rendah/bebas laktosa
tidak ada perbaikan, berikan susu formula kusus seperti pepti junior,
nutramigen, pregestemil dll. Pada anak-anak makanan diberikan bertahap
dimulai dari makanan cair, lunak, lalu makanan biasa sesuai dengan umur.
b. Nutrisi parenteral total
Adalah suatu teknik memberikan nutrisi yang diperlukan tubuh melalui
intravena. Nutrisi yang diberikan terdiri dari air, elektrolit, asam amino,
emulsi lemak, mineral, vitamin. Nutrisi parenteral total diberikan pada
penderita yang tidak dapat mentoleran atau menyerap zat makanan yang
diberikan per oral. Bila diberikan dengan benar akan sangat bermanfaat
menyelamatkan jiwa penderita
3. Medikamentosa
a. Antibiotik
Pada umumnya tidak dianjurkan bahkan berbahaya karena dapat mengubah
atau menimbulkan overgrowth flora usus sehingga diare bertambah berat. Jika
diperlukan, berikan sesuai dengan hasil biakan dari tes resistensi.
b. Obat antidiare
Pemberian obat antidiare seperti difenoksilat, loperamid, dan obat pengeras
tinja seperti kaolin, pektin, arang aktif, attapulgit, smectite tidak dianjurkan.
Obat-obatan tersebut berbahaya karena memberikan kesan “sembuh palsu”
dan dapat memperngaruhi motilitas usus yang justru menghambat
pengeluaran bakteri bersama dengan tinja sehingga memberikan kesempatan
pada bakteri untuk berada lebih lama dan berkembang biak dalam usus
c. Kolesteramin dan bismut sub-salisilat
Mengikat asam empedu yang toksis terhadap usus menjadi kompleks yang
tidak larut dan dikeluarkan bersama dengan tinja sehingga stimulasi pada usus
hilang. Dosis 4-20 gram cukup efektif dalam mengurangi jumlah tinja
d. Mikronutrien
Berbagai mikronutrien seperti vitamin A, B12, asam folat dan seng sangat
berguna untuk regenerasi dan reaksi imunologis. Seng memegang peran penting
untuk melindungi integritas sel membran dan mungkin berguna untuk melindunginya
untuk perlukaan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Pada diare kronik kadar seng
berkurang dengan bertambah beratnya penyakit sehingga pemberian seng dapat
memperbaiki status seng penderita. Suplemen seng juga baik dalam nutrisi untuk
meningkatkan berat bdan anak dengan diare kronik.
Defisiensi vitamin A juga merupakan faktor resiko berkembangnya diare kronik.
Penelitian pada bebrapa kasus mendapatkan bahwa pemberian vitamin A dapat
mengurangi resiko diare. Vitamin A dapat memperbaiki pertumbuhan anak dengan
HIV dan malariaserta menurunkan resiko stunting dalam hubungannya dengan diare
persisten

Komplikasi
Pada diare persisten, dapat terjadi komplikasi selama diare, seperti: perforasi
usus, megakolon toksik, sepsis, hipoglikemia, hiponatremia, kejang, Sindrom Uremik
Hemolitik, dan malnutrisi.
 Hipoglikemia: terjadi apabila kadar glukosa <45 mg/ dl atau 55 mg/ dl pada
malnutrisi. Bila penderita tidak sadar, berikan 2 ml/ kgBB dekstrosa 10% secara
i.v bolus. Bila tidak tersedia jalur i.v, dapat diberikan 50 ml air gula lewat pipa
nasogastrik. Apabila anak sadar dan dapat menelan, berikan 50 ml air gula per
oral. Pantau kadar gula darah setelah 30 menit dan ulangi prosedur di atas
apabila kadar gula tetap rendah.
 Hiponatremia: terjadi apabila kadar Na serum <120 mmol/ L dilakukan
intervensi berupa pemberian NaCl 3% intravena.
Jumlah kebutuhan Na dalam satuan meq:
(135-Na serum) x 2/3 x BB (dalam kg)
1 mil NaCl 3% mengandung 0,532 meq NaCl. Cairan diberikan dalam waktu 2
jam. Jika kadar Na serum >120 mmol/ L diatasi dengan pemberian oralit atau
cairan intravena dengan kadar Na relatif tinggi, misalnya Ringer laktat atau
NaCl fisiologis.
Sepsis: Antibiotika diberikan secara parenteral yaitu kombinasi ampisillin 100
mg/ kgBB/ hari dibagi dalam 3 dosis dan gentamisin 5 mg/ kgBB/ hari dibagi
dalam 2 dosis. Jika ada tanda syok diatasi dengan terapi cairan RL 15-30 ml/
kgBB dalam 30 menit sampai 1 jam pertama. Bila tensi membaik, diteruskan
dengan Ringer laktat-Dekstrosa 5% untuk memenuhi kebutuhan cairan sesuai
dengan tekanan vena sentral.
 Perforasi: diatasi dengan laparotomi. Antibiotika sama dengan yang diberikan
pada sepsis, dikombinasikan dengan metronidazol 8 mg/ kgBB/ hari.
 Megakolon toksik: diduga toksin Shigella yang bersifat neurotoksik berperan
penting dalam mempengaruhi motilitas usus, dimana terjadi penurunan
motilitas kolon yang berat diikuti oleh distensi usus yang berat. Distensi dan
penurunan motilitas akan menyebabkan overgrowth bakteri usus,
pengembangan usus sehingga terjadi penipisan seluruh dinding usus, terjadi
penjepitan pembuluh darah yang dapat menimbulkan anoksia, kelumpuhan
fungsi usus serta memperlemah mekanisme pertahanan. Tindakan paliatif yang
penting adalah melakukan dekompresi berupa pemasangan pipa dilanjutkan
pengisapan secara berkala. Makanan enteral dihentikan sementara waktu.
Pemberian makanan secara parenteral dilakukan seadekuat mungkin.
 Kejang: Kejang yang terjadi biasanya adalah kejang demam. Atasi demam
dengan pemberian parasetamol 10 mg/ kgBB/ dosis. Kejang hanya sekali
merupakan gejala yang sering terjadi, akan tetapi bila terjadi lama dan berulang
kali maka sebaiknya diberikan antikonvulsan intravena, hindari antikonvulsan
rektal. Berikan diazepam 0,3 mg/ kgBB tunggu 10 menit, jika masih kejang dan
pernafasan baik, ulangi dosis diazepam dengan pengawasan ketat terhadap
pernafasan.
 Malnutrisi: malnutrisi diatasi sesuai standar yang berlaku. Secara umum acuan
pemberian makanan pada kasus disentri adalah:
- Beri makanan sedikit-sedikit dengan frekuensi yang lebih sering
- Memberi perhatian khusus agar anak dapat makan dalam jumlah cukup
- Pemberian makanan ekstra, minimal sampai 2 minggu setelah sakit.
A
iii.
18
19

20
21
22
23
24
25
26
DAFTAR PUSTAKA

Bhutta, Z. A. 2006. Persistent Diarrhea In Developing Countries Of Pediatrics And


Child Health. Pakistan. Ann Nestle. 2006: 64: 39-47. Accessible at http/www.
karger. comlane.

Komite Medik RSUP dr. Sardjito. 2000. Standar Pelayanan Medis RSUP dr. Sardjito.
Yogyakarta : Medika Fakultas Kedokteran UGM

Markum, et al. 2002. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Santosa, N. Budi. 2007. Perlunya Continued Feeding Pada Diare Akut dalam Naskah
Lengkap Kongres Nasional III BKGAI.

Soenarto, Yati. 2012. Pediatric research office (PRO). Jogjakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.

Sudarmo, et al. 2004. Sindroma Diare Patofisiologi, Diagnosis, Penatalaksanaan.


Gastroenterologi Anak Edisi 3. Divisi Gastroenterologi Laboratorium/SMF
Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR. Surabaya : RSUD dr. Soetomo.

Rosalina, Ina. 2007. Efikasi Pemberian Zinc


Pada Diare dalam Naskah Lengkap Kongres
Nasional III BKGAI.