Anda di halaman 1dari 16

ARTIKEL ILMIAH

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG ISPA


TERHADAP PERILAKU ORANG TUA MERAWAT
BALITA DI PUSKESMAS MOJOGEDANG I
KARANGANYAR

Oleh :

Agus Triyanto
NIM : ST 14005

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2016
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG ISPA TERHADAP
PERILAKU ORANG TUA MERAWAT BALITA DI PUSKESMAS
MOJOGEDANG I KARANGANYAR

1)
Agus Triyanto, 2) Rahajeng Putriningrum , 3) Wahyuningsih Safitri

1) Mahasiswa Prodi S-1 Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta


2) Dosen Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
3) Dosen Prodi S-1 Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta

Abstrak

Pendidikan kesehatan tentang ISPA merupakan usaha atau kegiatan untuk membantu
individu, kelompok atau masyarakat terutama orang tua dalam meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan mereka dalam perawatan balita ISPA. Pendidikan
kesehatan sangat penting bagi orang tua untuk mengenal ISPA lebih dalam agar dapat
memberikan perawatan yang tepat saat sakit dirumah. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang ISPA terhadap perilaku orang tua
merawat balita di Puskesmas Mojogedang I Karanganyar
Penelitian quasi eksperimen dengan one group pretest and post test design dengan
jumlah sampel 101 orang tua balita penderita ISPA di Puskesmas Mojogedang I
Karanganyar. Analisis data menggunakan uji wilcoxon. Variabel yang diamati yaitu
pendidikan kesehatan dan perilaku orang tua merawat balita ISPA. Teknik sampling
menggunakan accidental sampling.
Perilaku keluarga dalam merawat balita ISPA sebelum dilakukan pendidikan
kesehatan, yang paling banyak adalah kategori cukup yaitu sebanyak 71 responden
(70,2%), Sesudah dilakukan pendidikan kesehatan, perilaku keluarga dalam merawat
balita ISPA kategori baik sebanyak 28 responden (27,7%), cukup sebanyak 62 responden
(61,4%), dan kategori kurang sebanyak 11 responden (10,9%). Hasil penelitian nilai Z -
8,495 dan nilai p value 0,000 yang kurang dari α = 0,05 sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang ISPA terhadap perilaku
orang tua merawat balita.
Pendidikan kesehatan dapat meningkatan pengetahuan orang tentang ISPA dan
akhirnya pengetahuan tersebut dapat berpengaruh terhadap perilaku orang tua dalam
merawat ballitanya yang menderita ISPA.

Kata kunci: pendidikan kesehatan, ISPA, perilaku orang tua merawat balita.
Daftar pustaka: 32 (2006-2014).

1
The Effects of Health Education on Acute Upper Respiratory Infection (URI)
on Parental Behaviors in Pediatric Care at Mojogedang I Public Health
Center of Karanganyar

Abstract

Health education on acute upper respiratory infection (URI) is an effort or


activity to help individuals, groups, and communities, particularly parents
increase their knowledge and ability in taking care of children with URI. The
health education is necessary to make them more aware of URI so that they are
able to give proper treatment at home when their children are sick. This research
aims at finding out the effects of health education on URI on parental behaviors in
pediatric care at Mojogedang I public health center of Karanganyar.
It is a quasi-experimental research with one-group pretest-posttest design.
Samples of 101 parents of children with URI were taken at Mojogedang I public
health of Karanganyar with accidental sampling technique. The data were
analyzed using Wilcoxon test. The observed variables included health education
and parental behaviors in taking care of children with URI.
Prior to the provision of health education, most respondents with total
number of 71 respondents (70.2%) had fair parental behaviors in pediatric care.
After health education had been provided, 28 respondents (27.7%) had good
parental behaviors, 62 respondents (61.4%) had fair parental behaviors, and 11
respondents (10.9%) had poor parental behaviors in taking care of their children
with URI. The research results in Z-value of -8.495 and p-value of 0.000 which is
less than α = 0.05, and therefore it can be concluded that there is an effect of
health education on URI on parental behaviors in pediatric care.
In short, health education is capable of increasing parents’ knowledge on
URI, and accordingly it can give effect to their behaviors in taking care of
children with URI.

Keywords: health education, URI, the parental behaviors in pediatric care.

2
1. Pendahuluan ISPA disebabkan oleh pneumonia
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (Dinkes Jateng, 2007).
(ISPA) menurut WHO (Word Health ISPA atau Infeksi Saluran
Organization) merupakan salah satu Pernafasan Akut adalah infeksi akut
penyebab kematian tersering pada anak yang menyerang salah satu bagian/lebih
di negara berkembang. ISPA dari saluran napas mulai hidung sampai
menyebabkan empat dari 15 juta alveoli termasuk adneksanya (sinus,
perkiraan kematian pada anak berusia rongga telinga tengah, pleura)
lima tahun setiap tahunnya (Misnadiarly, (Kemenkes RI, 2012). ISPA adalah
2008). Kasus ISPA di Indonesia selalu salah satu penyakit yang tergolong air
menempati urutan pertama penyebab borne disease. Penularan penyakit ISPA
32,1% kematian bayi pada tahun 2009, terjadi dalam bentuk droplet nuclei,
serta penyebab 18,2% kematian pada maupun dalam bentuk dust (Noor,
balita pada tahun 2010 dan 38,8% tahun 2006).
2011. Data dari Program Pemberantasan Beberapa perawatan yang perlu
(P2) ISPA tahun 2009 cakupan penderita dikerjakan orang tua untuk mengatasi
ISPA melampaui target 13,4%, hasil anaknya yang menderita ISPA di rumah
yang di peroleh 18.749 kasus sementara antara lain mengatasi panas (demam),
target yang ditetapkan hanya 16.534 mengatasi batuk, pemberian makanan,
kasus. Survei mortalitas yang dilakukan pemberian minuman dan beberapa hal
di subdit ISPA tahun 2010 yang harus diperhatikan dalam
menempatkan ISPA sebagai penyebab perawatan ISPA (Depkes RI, 2010).
kematian bayi terbesar di Indonesia ISPA apabila tidak ditangani dengan
dengan persentase 22,30% dari seluruh baik dapat mengakibatkan sejumlah
kematian balita (Kemenkes RI, 2012). kecacatan seperti otitis medis yang
Berdasarkan data dari Dinkes merupakan penyebab ketulian dan
Jateng tahun 2007 tercatat 28% penyakit timbulnya gangguan perkembangan
ISPA mempunyai konstribusi dalam serta gangguan belajar pada anak-anak
menyebabkan kematian bayi dalam satu (Depkes, 2007).
tahun dan 23% pada anak balita dimana Faktor perilaku dalam pencegahan
80-90% dari seluruh kasus kematian dan penanggulangan penyakit ISPA

3
pada bayi dan balita lebih efektif membentuk tindakan seseorang.
dilakukan oleh keluarga baik yang Perilaku yang didasari oleh pengetahuan
dilakukan oleh ibu atau keluarga yang akan lebih langgeng daripada perilaku
tinggal dalam satu rumah. Peran yang tidak di dasari pengetahuan
keluarga sangat penting dalam (Notoatmojo, 2011).
menangani ISPA karena penyakit ISPA Berdasarkan hasil studi
termasuk dalam penyakit yang sering pendahuluan didapatkan data jumlah
diderita sehari-hari di dalam keluarga penderita ISPA pada balita dari Januari
atau masyarakat. Dalam penanganan sampai Juni 2015 di Puskesmas
ISPA tingkat keluarga keseluruhannya Mojogedang I sebanyak 810 orang.
dapat digolongkan menjadi tiga kategori Peneliti melakukan wawancara dengan 4
yaitu perawatan oleh ibu balita, tindakan orang tua balita penderita ISPA di
yang segera dan pengamatan tentang wilayah Puskesmas Mojogedang I
perkembangan penyakit balita, dan Karanganyar. Hasil wawancara
pencarian pertolongan pada pelayanan didapatkan data bahwa 2 orang tua balita
kesehatan (Kemenkes RI, 2011). penderita ISPA mengatakan tidak tahu
Pelayanan kesehatan yang dimaksud tentang ISPA, 1 orang tua mengatakan
salah satunya adalah puskesmas. Salah pernah diberitahu petugas Puskesmas
satu kebijakan operasional dalam saat di Posyandu secara lisan dan 1
penanganan ISPA antara lain pendidikan orang tua pada saat ditanya tindakan
kesehatan (Kemenkes RI, 2012). yang dilakukan sebelum berobat ke
Pendidikan kesehatan tentang Puskesmas untuk mengatasi batuk dan
ISPA merupakan usaha atau kegiatan pilek tersebut mengatakan selama
untuk membantu individu, kelompok dirumah biasanya diberikan obat yang
atau masyarakat terutama orang tua dibelinya dari warung. Orang tua balita
dalam meningkatkan pengetahuan dan penderita ISPA juga mengatakan bahwa
kemampuan mereka dalam perawatan perlunya informasi tentang penanganan
balita ISPA sehingga kualitas kesehatan ISPA yang berupa tulisan atau brosur
tercapai secara optimal (Depkes, 2009). karena kalau cuma lisan biasanya mudah
Pengetahuan individu sangat penting lupa dan apabila ada brosurnya bila lupa
karena merupakan domain dalam bisa dibaca lagi.

4
Pendidikan kesehatan sangat Sampel dalam penelitian ini sebanyak
penting bagi orang tua untuk mengenal 101 responden.
ISPA lebih dalam agar dapat
Hipotesis dalam penelitian ini
memberikan perawatan yang tepat saat
hipotesa nol (H0) adalah tidak ada
sakit dirumah. Berdasarkan beberapa
pengaruh pendidikan kesehatan tentang
fenomena di atas maka peneliti merasa
ISPA terhadap perilaku orang tua
tertarik untuk mengadakan penelitian
merawat balita di Puskesmas
tentang “Pengaruh Pendidikan
Mojogedang I Karanganyar. Hipotesa
Kesehatan tentang ISPA terhadap
alternative (Ha) adalah ada pengaruh
Perilaku Orang Tua Merawat Balita di
pendidikan kesehatan tentang ISPA
Puskesmas Mojogedang I Karanganyar”.
terhadap perilaku orang tua merawat
balita di Puskesmas Mojogedang I
2. Metodologi
Karanganyar.

Penelitian ini dilaksanakan dari 12 Teknik pengumpulan data


Oktober sampai 21 November 2015 menggunakan kuesioner. Kuesioner
Puskesmas Mojogedang I Karanganyar. perilaku orang tua merawat balita ISPA
Desain penelitian ini adalah pre adalah kuesioner berisi 20 item
eksperimen dengan one group pretest pertanyaan tertutup jenis dichotomy
and post test design yaitu penelitian question. Untuk pertanyaan favorable
yang berbertujuan untuk mengungkap penilaiannya adalah untuk jawaban “Ya”
kan hubungan sebab akibat dengan cara diberi skor 1 dan untuk jawaban “Tidak”
melibatkan satu kelompok subjek yang diberi skor 0. Untuk pertanyaan
telah ditentukan. Kelompok subjek unfavorable penilaiannya adalah untuk
diobservasi sebelum dilakukan jawaban “Ya” diberi skor 0 dan untuk
intervensi, kemudian diobservasi lagi jawaban “Tidak” diberi skor 1. Untuk
setelah intervensi (Nursalam, 2013). pendidikan kesehatan tidak memerlukan
Populasi penelitian ini adalah seluruh kuesioner karena merupakan suatu
orang tua balita penderita ISPA di perlakuan. Uji statistik yang digunakan
Puskesmas Mojogedang I Karanganyar. adalah uji wilcoxon.

5
3. Hasil dan Pembahasan peran seorang ayah dalam merawat anak
balita yang menderita ISPA tidak kalah
3.1 Karakteristik Responden pentingnya dengan peran seorang
3.1.1 Jenis Kelamin ibu. Seorang ibu akan berhasil merawat
Tabel 3.1 balitanya yang menderita ISPA apabila
Frekuensi Jenis Kelamin
mendapat dukungan penuh dari
No Jenis kelamin Jml Persentase suaminya. Berdasarkan observasi
(%)
1. Laki-laki 6 5,9 peneliti, anak balita sering dirawat oleh
2. Perempuan 95 94,1
ibunya terutama pada saat sakit. Hal ini
Total 101 100
dapat dilihat pada saat kunjungan ke
puskesmas anak sebagian besar di antar
Hasil penelitian menunjukkan
oleh ibunya.
bahwa jumlah responden perempuan
lebih banyak dibandingkan dengan
3.1.2 Umur
jumlah laki-laki yaitu 95 responden
Table 3.2
(94,1%), Dari data tersebut Frekuensi Umur
menunjukkan bahwa sebagian besar No Umur Jml Persentase
yang berperan dalam merawat balitanya (%)
1. 12 – 16 Thn 0 0
yang menderita ISPA adalah perempuan 2. 17 – 25 Thn 9 8,9
3. 26 – 35 Thn 63 62,4
atau ibu. Anak balita banyak 4. 36 – 45 Thn 27 26,7
menghabiskan waktunya dengan ibu, 5. 46 – 55 Thn 2 2,0
Total 101 100
anak juga mempunyai kedekatan
emosional yang dalam terhadap ibu dan Hasil penelitian menunjukkan
ibu juga memiliki sifat carring yang bahwa jumlah responden yang paling
tidak dapat digantikan oleh siapa pun banyak berusia 26-35 tahun yaitu 63
(Prafitri, 2014). responden (62,4%). Dengan
Peneliti berpendapat bahwa anak bertambahnya umur seseorang akan
balita memiliki kedekatan emosional mengalami perubahan aspek fisik dan
yang lebih dengan ibunya. Apalagi psikologis (mental). Pada aspek
untuk balita yang masih menyusui, psikologis atau mental, taraf berfikir
memiliki ketergantungan yang tinggi seseorang menjadi semakin matang dan
dengan ibunya. Meskipun demikian

6
dewasa (Mubarok, 2011). Semakin ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo
tinggi umur seseorang semakin (2012) yang mengatakan perilaku
bertambah pula ilmu atau pengetahuan seseorang atau masyarakat tentang
yang dimiliki (Notoatmodjo, 2012). kesehatan ditentukan atau terbentuk dari
Peneliti berasumsi bahwa semakin 3 faktor yang salah satu faktor
dewasa umur seseorang, makin tinggi predisposisinya yaitu pengetahuan.
tingkat pengalamannya sehingga akan Pengetahuan sebenarnya tidak dibentuk
mempengaruhi responden dalam hanya satu sub saja yaitu pendidikan
merawat anaknya yang menderita ISPA. tetapi ada sub bidang lain yang akan
juga akan mempengaruhi pengetahuan
3.1.3 Tingkat Pendidikan seseorang misalnya pengalaman,
Tabel 3.3 informasi, kepribadian dan lainya.
Frekuensi Pendidikan
Peneliti berasumsi bahwa hal
No Pendidikan Jml Persentase tersebut bisa diperoleh dari pengalaman
(%)
1. SD 3 3,0 tentang kesehatan misalnya
2. SMP 49 48,5
3. SMA 42 41,6
mendengarkan pengalaman temannya
4. DIII 4 4,0 yang pernah mempunyai balita ISPA.
5. S1 3 3,0
Total 101 100 Pendidikan kesehatan diharapkan
mampu mengubah pola pikir seseorang
Hasil penelitian mengenai tingkat yang pada berikutnya mempengaruhi
pendidikan terlihat bahwa tingkat pengetahuan dan ketrampilan orang tua
pendidikan responden yang tergolong dalam merawat balita penderita ISPA.
pendidikan dasar (SD dan SMP) lebih
banyak dibandingkan pendidikan 3.1.4 Pekerjaan
menengah (SMA) maupun pendidikan Hasil penelitian mengenai pekerjaan
tinggi (DIII dan S1). Jumlah responden terlihat bahwa sebagian besar pekerjaan
yang tergolong pendidikan dasar responden adalah ibu rumah tangga
sebanyak 52 responden (51,5%). yaitu sebanyak 42 responden (41,6%).
Meskipun sebagian besar tergolong
pendidikan dasar, namun perilakunya
dalam merawat balita cukup baik. Hal

7
Tabel 3.4
Frekuensi Pekerjaan
3.2 Perilaku orang tua merawat
No Pekerjaan Jml Persentase balita ISPA sebelum dilakukan
(%)
1. PNS 5 5,0 pendidikan kesehatan.
2. Swasta 24 23,8 Tabel 3.5
3. Petani 12 11,9 Perilaku Sebelum Penkes
4. Pedagang 18 17,8
5. Ibu RT 42 41,6 No Perilaku Jml Persentase
Total 101 100 (%)
1. Baik 15 14,9
2. Cukup 71 70,2
Dari penelitian juga diketahui 3. Kurang 15 14,9
bahwa sebagian besar responden yaitu Total 101 100

59 responden (58,4%) adalah seorang


Hasil penelitian menunjukkan
pekerja, sehingga informasi responden
bahwa sebelum dilakukan pendidikan
dapat di peroleh dari tempat mereka
kesehatan, perilaku orang tua dalam
bekerja.
merawat balita ISPA kategori baik
Hasil penelitian Dewi (2010)
sebanyak 15 responden (14,9%), cukup
menyimpulkan bahwa status pekerjaan
sebanyak 71 responden (70,2%), dan
mempunyai hubungan dan pengaruh
kategori kurang sebanyak 15 responden
terhadap perawatan ISPA pada balita.
(14,9%). Dari data diatas dapat dilihat
Seseorang yang bekerja lebih mudah
responden sudah mempunyai perilaku
untuk mendapatkan pengetahuan
yang cukup baik dalam merawat balita
maupun pengalaman tentang merawat
dengan ISPA. Hal ini ditunjang pula dari
balita yang menderita ISPA. Orang tua
sebagian responden adalah seorang
yang bekerja bisa memperoleh informasi
pekerja, sehingga informasi responden
tentang cara merawat balita yang
dapat di peroleh dari tempat mereka
menderita ISPA dari tempat mereka
bekerja.
bekerja misalnya dari teman yang sudah
Pola pikir yang baik akan
pengalaman merawat anaknya yang
menyebabkan seseorang mempunyai
menderita ISPA maupun mendapatkan
kemampuan dalam hal analisis yang
berbagai informasi kesehatan melalui
lebih baik. Hal ini juga sesuai dengan
internet, koran, majalah dan media sosial
teori yang mengatakan pengetahuan
di lingkungan tempatnya bekerja.

8
merupakan domain yang sangat penting dari pendidikan kesehatan yaitu dari
untuk terbentuknya tindakan seseorang, tidak tahu menjadi tahu. Hasil ini juga
sebab perilaku yang didasari oleh didukung oleh penelitian Baker, Wilson,
pengetahuan dan kesadaran akan lebih Nodstorm, dan Lagwand. (2007). Bahwa
baik dari pada perilaku yang tidak ada pengaruh yang bermakna dari
didasari oleh pengetahuan karena pendidikan kesehatan dengan
apabila perilaku tersebut tidak didasari menggunakan leaflet terhadap
oleh pengetahuan dan kesadaran maka peningkatan pengetahuan, ibu dan
perilaku tersebut tidak akan berlangsung diharapkan nantinya pengetahuan ini
lama (Notoatmodjo, 2012). dapat mempengaruhi perilaku ibu untuk
dapat melakukan perawatan balita yang
3.3 Perilaku orang tua merawat balita menderita ISPA secara mandiri.
ISPA sesudah mendapatkan Peneliti berpendapat bahwa
pendidikan kesehatan. perubahan perilaku pada orang tua balita
penderita ISPA setelah mendapatkan
Tabel 3.6 pendidikan kesehatan terjadi karena
Perilaku Sesudah Penkes
pendidikan kesehatan yang diberikan
No Perilaku Jml Persentase secara berkelompok maka informasi
(%)
1. Baik 28 27,7
akan diterima lebih jelas, pemberian
2. Cukup 62 61,4 pendidikan kesehatan menggunakan
3. Kurang 11 10,9
media berupa lefleat dan power point
Total 101 100
yang diperbesar dengan proyektor yang
Hasil penelitian menunjukkan dapat memperjelas ide atau pesan yang
perilaku orang tua balita ISPA sesudah disampaikan. Semakin banyak alat
dilakukan pendidikan kesehatan indera yang digunakan untuk menerima
meningkat, perilaku baik 28 responden sesuatu, maka semakin banyak dan
(27,7%). Hal ini menunjukkan bahwa semakin jelas pula pengetahuan yang
pendidikan kesehatan sangat diperoleh (Notoatmodjo, 2012). Selain
berpengaruh terhadap pengetahuan itu, informasi tentang ISPA sangat
dimana telah terjadi perubahan dibutuhkan oleh responden, sehingga
pengetahuan seperti yang diharapkan pada saat penyuluhan responden

9
antusiasis menyimak informasi yang tua dari balita yang menderita ISPA
disampaikan secara langsung. mengatakan bahwa mereka sekarang
Analisa dari data tersebut adalah mengetahui mana yang boleh dilakukan
usaha orang tua untuk belajar dan dan mana yang tidak boleh dilakukan
mendapatkan informasi sangat besar dalam merawat balitanya yang
meskipun latar belakang pendidikan menderita ISPA. Karena itu dari
yang sebagian besar hanya pendidikan pengalaman dan penelitian terbukti
dasar. Hal ini dapat dilihat, ketika perilaku yang didasari pengetahuan akan
mereka melakukan kesalahan mereka lebih langgeng dari pada perilaku yang
minta diulang lagi. Setelah dilakukan tidak didasari ilmu pengetahuan.
post test, keluarga bertanya banyak hal Pengetahuan merupakan pangkal dari
tentang perawatan balita ISPA. Menurut sikap, sedangkan sikap akan mengarah
Notoatmodjo (2012), bahwa perilaku pada tindakan seseorang (Notoatmojo,
seseorang atau masyarakat tentang 2012).
kesehatan ditentukan atau terbentuk dari
3 faktor yaitu predisposisi (pengetahuan, 3.4 Pengaruh pendidikan kesehatan
sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai- tentang ISPA terhadap perilaku
nilai dan sebagainya), faktor pendukung orang tua merawat balita.
(lingkungan fisik, ketersediaan fasilitas- Hasil penelitian didapatkan hasil
fasilitas atau sarana-sarana kesehatan) ada pengaruh pendidikan kesehatan
dan faktor pendorong yang meliputi tentang ISPA terhadap perilaku orang
sikap dan perilaku petugas kesehatan. tua merawat balita di Puskesmas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mojogedang I Karanganyar. Tujuan dari
perilaku orang tua dalam merawat balita pemberian pendidikan kesehatan adalah
ISPA sesudah pemberian pendidikan tercapainya perubahan-perubahan
kesehatan mengalami peningkatan, hal perilaku individu, keluarga dan
ini dikarenakan para orang tua banyak masyarakat dalam membina dan
mendapatkan ilmu dan pengalaman memelihara perilaku kesehatan, serta
tentang cara merawat balita yang berperan aktif dalam mewujudkan
menderita ISPA dengan tepat. Setelah kesehatan yang optimal (Effendi, 2007).
pemberian pendidikan kesehatan, orang

10
Hasil penelitian ini sesuai dengan serta di tingkat kelompok masyarakat,
penelitian yang dilakukan oleh Ismanto melakukan pemberdayaan
(2014) yang menunjukan bahwa terdapat masyarakat, melaksanakan advokasi
pengaruh yang positif pendidikan dalam perawatan kesehatan masyarakat,
kesehatan terhadap pengetahuan dan menjalin kemitraan dalam perawatan
sikap orang tua terhadap Kejadian kesehatan masyarakat, dan melakukan
Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) dan penyuluhan kesehatan dan konseling
merekomendasikan bagi petugas (UU No 38 Tahun 2014).
kesehatan untuk terus menggalakkan Peran sebagai pendidik dilakukan
pendidikan kesehatan dalam hal ini dengan membantu klien baik individu,
tentang KIPI, agar para ibu yang keluarga dan masyarakat dalam
mengimunisasi bayinya tidak perlu meningkatkan tingkat pengetahuan
cemas dan secara mandiri dapat kesehatan, gejala penyakit bahkan
melakukan penatalaksanaan KIPI tindakan yang diberikan, sehingga
mandiri di rumah. Penelitian ini juga terjadi perubahan perilaku dari klien
sesuai dengan penelitian yang dilakukan setelah dilakukan pendidikan kesehatan
oleh Rizqiyah (2012) bahwa ada ( Wahid, 2007).
pengaruh pendidikan kesehatan terhadap Pendapat ini sesuai dengan
perilaku (pengetahuan, sikap, tindakan) penelitian yang dilakukan Kurniasih
pada pasien hipertensi. (2009), bahwa ada hubungan yang
Pemberian pendidikan kesehatan signifikan antara tingkat pengetahuan
bagi orang tua dengan balita menderita ibu dengan upaya perawatan terhadap
ISPA sangat dibutuhkan, karena orang balita dengan ISPA. Hal ini diperkuat
tua merupakan orang yang paling dekat oleh teori Green dalam Notoatmodjo
dan paling sering berhubungan dengan (2012) bahwa pengetahuan merupakan
anak. Hal ini sesuai dengan peran faktor predisposisi yang menentukan
perawat dalam menjalankan tugas terbentuknya perilaku seseorang.
sebagai penyuluh dan konselor bagi Sedangkan pengetahuan tersebut didapat
klien. Perawat berwenang melakukan dari hasil belajar, diantaranya melalui
pengkajian keperawatan secara holistik pendidikan kesehatan. Dari pengalaman
di tingkat individu dan keluarga dan penelitian terbukti bahwa perilaku

11
yang didasari oleh pengetahuan akan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut
lebih langgeng daripada perilaku yang pada siswa.
tidak didasari oleh pengetahuan. Peneliti berpendapat kelebihan atau
Pendidikan kesehatan yang peneliti keunggulan pendidikan kesehatan yang
lakukan menggunakan media berupa peneliti lakukan antara lain
lefleat dan power point yang diperbesar menggunakan power point yang
dengan proyektor. Kelebihan leaflet ditayangkan lewat proyektor sehingga
adalah tahan lama, mencakup orang dapat memperjelas ide atau pesan yang
banyak, biaya tidak tinggi, tidak perlu disampaikan dan membantu orang tua
listrik, dapat dibawa kemana-mana, mengingat kembali apa yang diajarkan
dapat mengungkit rasa keindahan, oleh peneliti. Selain itu, peneliti juga
mempermudah pemahaman dan, memberikan leaflet tentang ISPA
meningkatkan gairah belajar sehingga apabila orang tua lupa bisa
(Notoatmodjo, 2012). Program dibaca kembali. Keunggulan lain dari
Microsoft Office Power Point adalah pendidikan kesehatan yang peneliti
salah satu software yang dirancang lakukan adalah peneliti tidak membatasi
khusus untuk mampu menampilkan waktu tanya jawab, sehingga orang tua
program multimedia dengan menarik, balita benar-benar paham tentang ISPA.
mudah dalam pembuatan, mudah dalam
penggunaan dan relatif murah karena 4. Simpulan dan Saran
tidak membutuhkan bahan baku selain a. Kesimpulan
alat untuk menyimpan data (Riyana, Berdasarkan hasil penelitian dan
2008). Hal ini sesuai dengan penelitian pembahasan, maka dapat ditarik
Nurhidayat (2012) bahwa ada perbedaan kesimpulan sebagai berikut:
peningkatan pengetahuan kesehatan gigi Karakteristik responden di
dan mulut antara menggunakan media Puskesmas Mojogedang I Karanganyar,
power point dan flip chart pada siswa jumlah perempuan lebih banyak
kelas IV SDN Sukorejo 2 dan SDN dibandingkan laki-laki yaitu 95
Sukorejo 03 Kecamatan Gunungpati responden (94,1%), umur paling banyak
Semarang, dimana media power point umur 26-35 tahun sebanyak 63
lebih efektif dalam meningkatkan responden (62,4%), tingkat pendidikan

12
paling banyak SMP sebanyak 49 sehingga dapat merubah perilaku orang
responden (48,5%), dan sebagian besar tua dalam merawat balitanya yang
responden bekerja sebagai ibu rumah menderita ISPA.
tangga yaitu sebanyak 42 responden Bagi Puskesmas, hasil penelitian ini
(41,6%). diharapkan dapat dijadikan masukan
Perilaku keluarga dalam merawat pada manajemen Puskesmas sehingga
balita ISPA sebelum dilakukan program pendidikan kesehatan tentang
pendidikan kesehatan, kategori baik ISPA dapat dijadikan program rutin
sebanyak 15 responden (14,9%), setiap 2 minggu sekali yang
kategori kurang sebanyak 15 responden dilaksanakan di Puskesmas.
(14,9%), dan yang paling banyak adalah Bagi institusi pendidikan, hasil
kategori cukup yaitu sebanyak 71 penelitian ini diharapkan dapat
responden (70,2%). Sesudah dilakukan digunakan untuk memperkaya bahan
pendidikan kesehatan, perilaku keluarga ajar dalam proses belajar mengajar di
dalam merawat balita ISPA kategori mata kuliah keperawatan anak
baik sebanyak 28 responden (27,7%), khususnya tentang pendidikan kesehatan
cukup sebanyak 62 responden (61,4%), mengenai ISPA dan perilaku merawat
dan kategori kurang sebanyak 11 balita penderita ISPA, dan instansi
responden (10,9%). pendidikan sebaiknya dapat
Pengaruh pendidikan kesehatan menyediakan buku bacaan yang
tentang ISPA terhadap perilaku orang berhubungan dengan pendidikan
tua merawat balita di Puskesmas kesehatan secara umum maupun buku
Mojogedang I Karanganyar ( p value bacaan tentang ISPA.
0,000 dan Z -8,495 ). Bagi peneliti lain, hasil dari penelitian
b. Saran. ini diharapkan dapat digunakan sebagai
Bagi masyarakat, hasil penelitian ini data dasar bagi peneliti-peneliti
diharapkan dapat dijadikan pedoman selanjutnya, terkait pendidikan
untuk menambah pengetahuan kesehatan tentang ISPA dan perilaku
masyarakat tentang perawatan ISPA di merawat balita penderita ISPA, serta
rumah khususnya orang tua yang bagi peneliti lain dapat melakuan
mempunyai balita penderita ISPA,

13
penelitian yang lebih luas lagi dengan Ismanto, A.Y. (2014). Pengaruh
Pendidikan Kesehatan Terhadap
metode penelitian yang berbeda.
Pengetahuan dan Sikap Orang Tua
Bagi peneliti, hasil penelitian ini Tentang KIPI di BKIA RS Tkt III
R.W.Monginsidi Manado. Ejournal
diharapkan dapat mengembangkan
keperawatan (e-Kp) Volume 2,
wawasan peneliti dalam melakukan Nomor 1. Februari 2014.
penelitian yang berkaitan dengan
Kemenkes RI. 2012. Pedoman
pendidikan kesehatan tentang ISPA dan Pengendalian Infeksi Saluran
Pernafasan Akut Jakarta: Depkes
perilaku merawat balita penderita ISPA,
RI.
serta dapat memacu dan menambah
Kurniasih (2009). Hubungan Tingkat
wawasan peneliti sehingga dapat
Pengetahuan Ibu Dengan Upaya
melakukan penelitian dengan tema yang Perawatan Terhadap Balita Dengan
ISPA di Puskesmas Pangean
lain.
Kabupaten Kuantan Singingi.
Skripsi.
DAFTAR PUSTAKA
Meliono, Irmayanti, dkk, 2007, MPKT
Modul I, Jakarta: Lembaga
Baker, L.M, Wilson, F.L, Nodstorm,
Penerbitan FEUI.
C.K, & Lagwand, C. (2007). Mother
Knowledge and Information Need
Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi
Relating to Childhood
Saluran Napas Pneumonia pada
Immunization. Pediatric Nursing.
Anak Balita, Dewasa, dan Usia
Lanjut. Jakarta: Pustaka Obor
Depkes. 2007. Pedoman Tatalaksana
Populer.
Pneumonia Balita. Jakarta :
Departemen Kesehatan Indonesia
Noor, N. N., 2006. Pengantar
Epidemiologi Penyakit Menular.
Departemen Kesehatan RI 2010,
Cetakan II. Rineka Cipta, Jakarta
Pedoman Tatalaksana Pneumonia
Balita, Ditjen PPM PL-Pusat
Notoatmodjo. 2011. Ilmu Kesehatan
Diknakes, Jakarta.
Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta
Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah.
Notoatmodjo, 2012, Promosi Kesehatan
2007. Profil Kesehatan Provinsi
dan Perilaku Kesehatan, Jakarta:
Jawa Tengah, Semarang: Dinas
Rineka Cipta.
Kesehatan Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah.
Nurhidayat, Oki, 2012. Perbandingan
Media Power Point Dengan Flip
Effendi, Nasrul. 2007. Dasar-Dasar
Chart Dalam Meningkatkan
Keperawatan Kesehatan
Pengetahuan Kesehatan Gigi Dan
Masyarakat. Jakarta: EGC
Mulut. Unnes Journal of Public
Health (1) (2012).

14
Nursalam, 2013. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.

Prafitri, L.D. 2014. Hubungan


Pengetahuan Ibu Tentang Tumbuh
Kembang Pada Balita Dengan Sikap
Ibu Dalam Mendeteksi Dini
Gangguan Tumbuh Kembang Balita
di Desa Wangandowo Kecamatan
Bojong Kabupaten Pekalongan.
Skripsi. STIKES Muhammadiyah
Pekajangan Pekalongan.

Riyana, Ilyasih. 2008. Pemanfaatan


OHP dan Presentasi Dalam
Pembelajaran. Jakarta: Cipta
Agung.

Rizqiyah, Z. 2012. Pengaruh


Pendidikan Kesehatan Terhadap
Perilaku Diet Rendah Garam Pada
Pasien Hipertensi di RT 01 RW 01
Banjarsari Manyar Gresik. Skripsi.
PSIK Universitas Gresik.

Undang Undang Republik Indonesia No


38 Tahun 2014 Tentang
Keperawatan. Jakarta: Penerbit
Laksana.

Wahit Iqbal, dkk. 2007. Ilmu


Keperawatan Komunitas Konsep
dan aplikasi. Jakarta:Salemba
Medika

15