Anda di halaman 1dari 183

KEMENTRIAN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA


DINAS PEKERJAAN UMUM PROVINSI JAMBI
B I D A N G C I P T A K A R Y A
K E L O M P O K K E R J A S A T U A N K E R J A
PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN JAMBI
JL. H. AGUS SALIM NO. 02 KOTA BARU, TELP. 0741 – 445802 / 445892 JAMBI

PEKERJAAN :
RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PEMBANGUNAN
PRIORITAS (RPKPP)
KAB. TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Kata Pengantar

Atas Rahmat Tuhan Yang Maha Esa kami Konsultan yang ditunjuk sebagai konsultan pelaksana
Pekerjaan Rencana Pengembangan Kawasan Pembangunan Prioritas (RPKPP) Kabupaten
Tanjung Jabung Barat, telah berhasil menyelesaikan Laporan Akhir ini dengan baik.

Penyusunan Laporan Akhir ini adalah dimaksudkan untuk memberikan laporan kedua kepada
pihak pemberi pekerjaan dan sebagai pemenuhan salah satu tugas awal pekerjaan konsultan
yang diisyaratkan dalam kontrak kerja konsultan dengan pemberi pekerjaan.

Laporan Akhir ini pada intinya berisi tentang latar belakang, kajian kebijakan pembangunan
permukiman dan infrastruktur, potensi dan permasalahan pembangunan permukiman dan
infrastruktur perkotaan, konsep dan rencana penanganan, rencana DED pembangunan tahap 1
di kawasan kampung nelayan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, organisasi pelaksanaan
pekerjaan dan rencana pelaksanaan pekerjaan dan pelaporan yang akan melaksanakan
pekerjaan ini.

Semoga Laporan Akhir dapat memberikan arahan yang tepat pada konsultan sehingga dalam
melaksanakan kegiatan bisa mencapai hasil yang baik yang diharapkan oleh pemberi
pekerjaan.

Jambi, Desember 2013


PT. Bennanta Jasindo

Eko Yunianto, ST
Direktur

Laporan Akhir i
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Daftar Isi

KATA PENGANTAR ---------------------------------------------------------------------------- i


DAFTAR ISI -------------------------------------------------------------------------------------- ii
DAFTAR TABEL --------------------------------------------------------------------------------- v
DAFTAR GAMBAR ------------------------------------------------------------------------------ vii

BAB.1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Pelaksanaan Pekerjaan ---------------------------------- I – 2
1.2. Tujuan ----------------------------------------------------------------------- I – 3
1.3. Sasaran ----------------------------------------------------------------------- I - 3
1.4. Ruang Lingkup -------------------------------------------------------------- I - 4
1.5. Kedudukan RPKPP ---------------------------------------------------------- I – 10
1.6. Rangkuman Proses Penyusunan RPKPP ---------------------------------- I – 13
1.7. Penyajian Dokumen -------------------------------------------------------- I - 14

BAB.2. GAMBARAN UMUM WILAYAH KABUPATEN DAN KAWASAN PRIORITAS SPPIP


2.1. Gambaran umum Kabupaten Tanjung Jabung Barat ------------------ II – 2
2.2. kawasan prioritas menurut SPPIP ----------------------------------------- II – 14
2.2.1 Kawasan Prioritas 1 (Kampung Nelayan) ------------------------- II – 14
2.2.2 Kawasan Prioritas 2 (Manunggal) ---------------------------------- II – 19
2.2.3 Kawasan Prioritas 3 (Pembengis) --------------------------------- II – 20
2.3. Kajian Mikro kawasan prioritas 1 ------------------------------------------ II – 22
2.3.1 Pembagian blok kawasan Prioritas 1 ----------------------------- II – 22
2.3.2 Potensi dan Permasalahan blok 1 --------------------------------- II – 24
2.3.3 Potensi dan Permasalahan blok 2 --------------------------------- II – 27
2.3.4 Potensi dan Permasalahan blok 3 --------------------------------- II – 30
2.3.5 Potensi dan Permasalahan blok 4 --------------------------------- II – 34
2.3.4 Potensi dan Permasalahan blok 5 --------------------------------- II – 37
2.3.5 Potensi dan Permasalahan blok 6 --------------------------------- II – 40

Laporan Akhir ii
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.3.4 Potensi dan Permasalahan blok 7 --------------------------------- II – 44


2.3.5 Potensi dan Permasalahan blok 8 --------------------------------- II – 48

BAB.3. KAJIAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN DAN INFRASTRUKTUR


PERKOTAAN
3.1. Arahan dan Kebijakan Strategi Pembangunan ------------------------- III – 2
3.1.1. Rencana Tata Ruang Kota Kuala Tungkal ----------------------- III – 8
3.1.2. Rencana Pembangunan dan pengembangan Perumahan dan
Permukiman Kabupaten Tanjung Jabung Barat --------------- III – 9
3.2 Arah Pengembangan Pembangunan Perkotaan ------------------------ III – 12
3.2.1. Rencana Program Jangka Panjang Kabupaten
Tanjung Jabung Barat---------------------------------------------- III – 12
3.2.2. Rencana Program Investasi Jangka Menengah ----------------- III - 16
3.3 Profil Permukiman Perkotaan -------------------------------------------- III – 26
3.3.1. Kondisi permukiman ----------------------------------------------- III – 26
3.3.2. Pertumbuhan Permukiman Kota --------------------------------- III – 26
3.3.3. Pola Permukiman Kota -------------------------------------------- III – 27
3.3.4. Permasalahan Permukiman Kota dan Kebutuhan Rumah------ III - 27
3.4 Pembangunan Permukiman Perkotaan ---------------------------------- III – 31
3.4.1. Air Bersih ------------------------------------------------------------ III – 31
3.4.2. Jalan Lingkungan permukiman ----------------------------------- III – 33
3.4.3. Drainase-------------------------------------------------------------- III – 36
3.4.4. Persampahan ------------------------------------------------------- III – 38
3.4.5. Air Limbah ---------------------------------------------------------- III – 40

BAB.4. KONSEP DAN RENCANA PENANGANAN KAWASAN


4.1.Kebutuhan penyedian permukiman dan infrastruktur permukiman
berdasarkan daya dukung lingkungan -------------------------------------- IV - 2
4.1.1 Kebutuhan rumah ---------------------------------------------------- IV - 2
4.1.2 Kebutuhan air bersih ------------------------------------------------ IV - 2
4.1.3 Kebutuhan Jalan Lingkungan --------------------------------------- IV - 3
4.1.4 Timbulan sampah ---------------------------------------------------- IV – 3

Laporan Akhir iii


IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.1.5 Limbah----------------------------------------------------------------- IV - 4
4.1.6 Drainase --------------------------------------------------------------- IV - 5
4.1.7 Kebutuhan Infrastruktur penunjang perikanan ------------------ IV - 5
4.1.8 Kebutuhan Infrastruktur penunjang pariwisata------------------ IV – 6
4.1.9 Matrik Kebutuhan Penanganan ------------------------------------- IV - 7
4.2 Konsep Penanganan Kawasan ---------------------------------------------- IV – 9
4.2.1. Penanganan Kawasan Prioritas Blok 1 --------------------------- IV - 9
4.2.2. Penanganan Kawasan Prioritas Blok 2---------------------------- IV - 15
4.2.3. Penanganan Kawasan Prioritas Blok 3---------------------------- IV – 20
4.2.4. Penanganan Kawasan Prioritas Blok 4---------------------------- IV - 26
4.2.5. Penanganan Kawasan Prioritas Blok 5---------------------------- IV – 32
4.2.6. Penanganan Kawasan Prioritas Blok 6---------------------------- IV - 38
4.2.7. Penanganan Kawasan Prioritas Blok 7---------------------------- IV – 43
4.2.8. Penanganan Kawasan Prioritas Blok 8---------------------------- IV - 49
4.3. Perumusan Tahapan Pelaksanaan Program Pembangunan
Permukiman Tahap 1 ------------------------------------------------------- IV - 54
4.3.1 Penyusunan Tahapan Pelaksanaan Penanganan Pembangunan
Permukiman --------------------------------------------------------- IV - 54
4.3.2 Perumusan Kriteria dan Indikator Penentuan
Kawasan Pembangunan Tahap 1 --------------------------------- IV – 55
4.3.3 Penentuan Kawasan Pembangunan Tahap 1 ------------------- IV – 58
4.4 Penyusunan Rencana Penanganan Kawasan Pembangunan Tahap 1 IV - 61

Laporan Akhir iv
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Daftar Tabel

Tabel 1.1 Luas dan Jumlah Penduduk Kelurahan di Kawasan Kampung Nelayan ..... I - 7
Tabel 2.1 Pembagian Administrasi dan Luas Wilayah Kab. Tanjung Jabung Barat -- II – 2
Tabel 2.2 Matrik Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada Kawasan Prioritas
Blok 1 ------------------------------------------------------------------------------ II – 24
Tabel 2.3 Matrik Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada Kawasan Prioritas
Blok 2 ------------------------------------------------------------------------------ II - 27
Tabel 2.4 Matrik Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada Kawasan Prioritas
Blok 3 ------------------------------------------------------------------------------ II - 30
Tabel 2.5 Matrik Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada Kawasan Prioritas
Blok 4 ------------------------------------------------------------------------------ II - 34
Tabel 2.6 Matrik Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada Kawasan Prioritas
Blok 5 ------------------------------------------------------------------------------ II - 37
Tabel 2.7 Matrik Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada Kawasan Prioritas
Blok 6 ------------------------------------------------------------------------------ II - 40
Tabel 2.8 Matrik Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada Kawasan Prioritas
Blok 7 ------------------------------------------------------------------------------ II - 44
Tabel 2.9 Matrik Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada Kawasan Prioritas
Blok 8 ------------------------------------------------------------------------------ II - 48

Tabel 3.1 Matrik Kajian Kebijakan dan Strategi Pembangunan ----------------------- III – 17
Tabel 3.2 Kebutuhan Jumlah Rumah di Wilayah Perkotaan Kuala Tungkal
Sampai Tahun 2032 -------------------------------------------------------------- III – 31
Tabel 3.3 Kebutuhan sarana Air Minum di wilayah Perkotaan Kuala Tungkal ------- III – 32
Tabel 3.4 Analisis Timbunan sampah dan Kebutuhan sarana Persampahan
Pada wilayah Perkotaan Kuala Tungkal -------------------------------------- III – 37
Tabel 3.5 Penggunaan jenis Jamban oleh Penduduk di Perkotaan Kuala Tungkal - III – 41
Tabel 4.1 kebutuhan Jumlah Rumah di Kawasan Prioritas I Kampung Nelayan Sampai
Tahun 2032 ------------------------------------------------------------------------ IV – 2
Tabel 4.2 kebutuhan Sarana Air Minum di Kawasan Prioritas I Kampung Nelayan Sampai

Laporan Akhir v
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Tahun 2032 ------------------------------------------------------------------------ IV – 2


Tabel 4.3 Prakiraan timbulan sampah dan Kebutuhan Sarana Persampahan Pada Kawasan
Prioritas I Kampung Nelayan Sampai
Tahun 2032 ------------------------------------------------------------------------ IV – 3
Tabel 4.4 Kebutuhan Penanganan Kawasan Permukiman Kampung Nelayan -------- IV - 8
Tabel 4.5 Kebutuhan Penanganan permukiman dan infrastruktur Kawasan
Permukiman Kampung Nelayan (Blok 1) -------------------------------------- IV – 10
Tabel 4.6 Kebutuhan Penanganan permukiman dan infrastruktur Kawasan
Permukiman Kampung Nelayan (Blok 2) -------------------------------------- IV -15
Tabel 4.7 Kebutuhan Penanganan permukiman dan infrastruktur Kawasan
Permukiman Kampung Nelayan (Blok 3) -------------------------------------- IV -20
Tabel 4.8 Kebutuhan Penanganan permukiman dan infrastruktur Kawasan
Permukiman Kampung Nelayan (Blok 4) -------------------------------------- IV -26
Tabel 4.9 Kebutuhan Penanganan permukiman dan infrastruktur Kawasan
Permukiman Kampung Nelayan (Blok 5) -------------------------------------- IV -32
Tabel 4.10 Kebutuhan Penanganan permukiman dan infrastruktur Kawasan
Permukiman Kampung Nelayan (Blok 6) -------------------------------------- IV -38
Tabel 4.11 Kebutuhan Penanganan permukiman dan infrastruktur Kawasan
Permukiman Kampung Nelayan (Blok 7) -------------------------------------- IV -43
Tabel 4.12 Kebutuhan Penanganan permukiman dan infrastruktur Kawasan
Permukiman Kampung Nelayan (Blok 8) -------------------------------------- IV -49
Tabel 4.13 Kriteria dan Indikator Penentuan Kawasan Pembangunan Tahap 1 ------- IV -56

Laporan Akhir vi
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Daftar Gambar

Gambar 1.1 Orientasi wilayah ------------------------------------------------------------- --I – 8


Gambar 1.2 Delinasi Perencanaan--------------------------------------------------------- - I - 9
Gambar 1.3 Keterkaitan SPPIP dan RPKPP dlm kerangka Kebijakan
Pembangunan Kota ---------------------------------------------------------- -I – 11
Gambar 1.4 Keterkaitan Pihak yang Terlibat Dalam Proses Penyusunan
SPPIP dan RPKPP---------------------------------------------------------------- I – 12

Gambar 1.5 Rangkaian Kegiatan Penyusunan RPKPP ----------------------------------- -I – 13


Gambar 2.1 Peta Administrasi Kab. Tanjung jabung Barat ---------------------------- II – 4
Gambar 2.2 Peta Curah Hujan Kab. Tanjung jabung Barat ---------------------------- II – 5
Gambar 2.3 Peta Hidrologi Kab. Tanjung jabung Barat -------------------------------- II – 9
Gambar 2.4 Peta Kawasan Rawan Bencana Kab. Tanjung jabung Barat ------------- II – 10
Gambar 2.5 Peta Kesesuaian Lahan Kab. Tanjung jabung Barat---------------------- II – 12
Gambar 2.6 Peta Pembagian Blok --------------------------------------------------------- II – 23
Gambar 2.7 Peta Potensi dan permasalahan Blok 1 ------------------------------------ II - 26
Gambar 2.8 Peta Potensi dan permasalahan Blok 2 ------------------------------------ II - 29
Gambar 2.9 Peta Potensi dan permasalahan Blok 3 ------------------------------------ II - 33
Gambar 2.10 Peta Potensi dan permasalahan Blok 4 ------------------------------------ II - 36
Gambar 2.11 Peta Potensi dan permasalahan Blok 5 ------------------------------------ II - 39
Gambar 2.12 Peta Potensi dan permasalahan Blok 6 ------------------------------------ II - 43
Gambar 2.13 Peta Potensi dan permasalahan Blok 7 ------------------------------------ II - 47
Gambar 2.14 Peta Potensi dan permasalahan Blok 8 ------------------------------------ II - 51
Gambar 3.1 Peta arah Perkembangan Permukiman Perkotaan Kuala Tungkal ----- III - 15
Gambar 3.2 Peta Potensi dan Permasalahan Permukiman di Kawasan Prioritas
Permukiman Kampung Nelayan -------------------------------------------- III - 10
Gambar 3.3 Prasarana jaringan jalan di Kampung Nelayan --------------------------- III - 34
Gambar 4.1 Perspektif Konsep Pengembangan Kawasan Wisata Lingkungan
Kawasan Prioritas ------------------------------------------------------------ IV - 7
Gambar 4.2 Konsep Penanganan Kawasan Blok 1 --------------------------------------- IV – 14
Gambar 4.3 Konsep Penanganan Kawasan Blok 2 --------------------------------------- IV – 19

Laporan Akhir vii


IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Gambar 4.4 Konsep Penanganan Kawasan Blok 3 --------------------------------------- IV – 25


Gambar 4.5 Konsep Penanganan Kawasan Blok 4 --------------------------------------- IV – 31
Gambar 4.6 Konsep Penanganan Kawasan Blok 5 --------------------------------------- IV – 37
Gambar 4.7 Konsep Penanganan Kawasan Blok 6 --------------------------------------- IV – 42
Gambar 4.8 Konsep Penanganan Kawasan Blok 7 --------------------------------------- IV – 48
Gambar 4.9 Konsep Penanganan Kawasan Blok 8 --------------------------------------- IV – 53
Gambar 4.10 Peta Blok 4--------------------------------------------------------------------- IV -59
Gambar 4.11 Peta Konsep Blok 4 ----------------------------------------------------------- IV -60
Gambar 4.12 Akses Menuju Lokasi Penanganan------------------------------------------- IV -62

Laporan Akhir viii


IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

PENDAHULUAN
Bab
01

Laporan Akhir I -1
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

1.1. LATAR BELAKANG

Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik
berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan
tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung
perikehidupan dan penghidupan (PP No. 26 Tahun 2008). Kawasan permukiman
mendominasi kawasan perkotaan yang membangkitkan kegiatan dan terus mengikuti,
bahkan mengarahkan pengembangan kawasan lainnya dan akan mempengaruhi arah
pengembangan kota yang bersangkutan. Setiap kawasan fungsional yang dikembangkan
akan membutuhkan kawasan permukiman untuk mengakomodasi pertumbuhan
penduduk yang berkualitas di dalam kawasan tersebut.

Pertumbuhan kawasan permukiman dapat dikelompokan sebagai kawasan yang


direncanakan dan tertata dengan baik, serta kawasan permukiman yang merupakan
cikal bakal (alamiah) tumbuhnya kawasan perkotaan dan terus berkembang mengikuti
pertumbuhan penduduk dan perkembangan kegiatannya, berkenaan dengan kedua
jenis kawasan tersebut, maka perkembangan dari kawasan permukimanlah yang sangat
rentan terhadap adanya perkembangan yang tidak terkendali yang dapat menyebabkan
munculnya permukiman kumuh, yang seringkali berdampak lebih lanjut pada
meningkatnya kesenjangan masyarakat serta angka kriminalitas, dan rendahnya tingkat
kesehatan masyarakat.

Dalam rangka mengatasi permasalahan permukiman tersebut, pemerintah daerah


bersama dengan semua pemangku kepentingan pembangunan permukiman perlu
menentukan kawasan permukiman yang akan mendapatkan penanganan prioritas
sesuai dengan potensi dan tantangan yang dihadapi kawasan tersebut.
Adapun kawasan permukiman prioritas ditentukan berdasarkan hasil penyusunan
Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP), yaitu kawasan
prioritas Kampung Nelayan sebagai contoh dari kawasan permukiman yang tumbuh
secara alamiah, kawasan Manunggal sebagai kawasan permukiman yang direncanakan

Laporan Akhir I -2
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

dan kawasan Pembengis Bram Itam sebagai kawasan permukiman untuk


pengembangan kota.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka setiap kota perlu melakukan penyusunan
Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas yang dilakukan berdasarkan
dokumen Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan. Untuk itu,
Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum, melalui Direktorat
Pembangunan Permukiman memberikan Bantuan Teknis berupa pendampingan
penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP).

1.2. TUJUAN

Kegiatan ini bertujuan memberikan pendampingan kepada pemangku kepentingan


untuk dapat menghasilkan Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas
dengan muatan rencana program investasi jangka menengah infrastruktur bidang Cipta
Karya, serta rencana pembiayaan dan dilengkapi dengan detail desain pada tahun
pertama.

1.3. SASARAN

Berdasarkan tujuan tersebut, maka sasaran dari Kegiatan Penyusunan Rencana


Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP) ini adalah :

 Terwujudnya peningkatan kapasitas pemangku kepentingan kabupaten dalam


penyusunan RPKPP sebagai dokumen acuan dalam pelaksanaan pembangunan
kawasan permukiman prioritas dikabupaten.
 Terwujudnya interaksi dan keterlibatan masyarakat dalam proses rencana
pembangunan kawasan permukiman melalui community participatory
approach (CPA).

Laporan Akhir I -3
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 Tersedianya instrument penanganan persoalan pembangunan yang bersifat


operasional pada kawasan permukiman prioritas yang dapat diacu oleh seluruh
pemangku kepentingan dikabupaten.

1.4. RUANG LINGKUP

a. Lingkup Kegiatan.

Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan dengan rangkaian lingkup kegiatan sebagai


berikut :
1) Melakukan kajian terhadap kebijakan, strategi, dan program pembangunan daerah
berdasarkan dokumen kebijakan terkait yang telah tersedia dan dijadikan acuan
pelaksanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah serta dokumen SPPIP yang
telah dibuat.
2) Melakukan kajian mikro kawasan permukiman prioritas sesuai arahan dalam SPPIP
melalui penyusunan profil rinci eksisting kawasan.
3) Bersama dengan pemangku kepentingan kota melakukan analisis mendalam
tentang potensi dan persoalan pembangunan permukiman dan infrastruktur
permukiman perkotaan pada kawasan permukiman prioritas.
4) Melakukan penyusunan konsep dan rencana penangannan pada kawasan
permukiman prioritas.
5) Bersama dengan pemangku kepentingan kota dan kawasan menghasilkan :
 Rencana aksi programpembangunan permukiman dan infrastruktur
perkotaan pada kawasan prioritas selama 5 tahun dengan pendekatan
perencanaan partisipatif.
 Pemilihan kawasan didalam kawasan prioritas yang akan dilakukan
pembangunannya pada tahun pertama (dilakukan penyusunan rencana
penangannan secara lebih rinci dan operasional, dengan tingkat kedalaman
skala perencanaan 1 : 1.000).
 Kebutuhan infrastruktur dan skala prioritas penangannan.

Laporan Akhir I -4
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

6) Bersama dengan tim penyusunan SPPIP mengikuti kegiatan kolokium pemangku


kepentingan kota menghasilkan :
 Strategi, program strategi dan pendetailan program pada kawasan prioritas.
 Pemilihan kawasan didalam kawasan prioritas yang akan dilakukan
pembangunannya pada tahap pertama (dilakukan penyusunan rencana
penanganan secara lebih rinci dan operasional, dengan tingkat kedalaman
skala perencanaan 1 : 1.000)

7) Bersama dengan tim penyusun SPPIP mengikuti kegiatan kolokium yang akan
dikoordinasikan oleh tim pusat untuk memberikan pemaparan dan pembahasan
capaian kegiatan.
8) Penyelenggaraan konsultasi public untuk menjaring masukan terhadap strategi,
program strategi dan pendetailan program pada kawasan prioritas serta rencana
aksi programpembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan pada
kawasan prioritas selama 5 tahun.
9) Penyusunan Rencana Detail Desain (Detailed Engineering Design / DED) untuk
pelaksanaan tahun pertama didalam kawasan yang meliputi infrastruktur bidang
Cipta Karya.
10) Melakukan desiminasi hasil penyusunan RPKPP kepada dinas/instansi terkait di
kota bersangkutan.

b. Lingkup Wilayah.

Kegiatan Penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Permukimnan Prioritas


(RPKPP) dilakukan untuk kawasan permukiman prioritas yang mengacu pada arahan
yang terdapat dalam dokumen SPPIP pada wilayah Kota Kuala Tungkal Kabupaten
Tanjungjabung Barat.

Laporan Akhir I -5
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Berdasarkan hasil kajian dari penyusunan SPPIP telah ditentukan kawasan prioritas
pertama di Kampung Nelayan sesuai SK Bupati no. 393 yang selanjutnya dapat di
tindaklanjuti dengan kajian dan penyusunan RPPKP.
Penentuan kawasan prioritas dengan pertimbangan antara lain sebagai berikut :
 Kampung Nelayan merupakan cikal bakal tumbuh dan berkembangnya Kota
Kuala Tungkal
 Kampung Nelayan terletak di kawasan CBD, berdampingan atau diapit oleh
Pelabuhan barang Tangga Rajo, Pelabuhan ASDP yang melayani Kuala Tungkal-
Batam PP, Pelabuhan Rakyat yang melayani daerah hinterland, Pelabuhan
Pendaratan Ikan (PPI) dan Pelabuhan Roro.
 Kampung Nelayan merupakan sentra perdagangan ikan skala regional.
 Kampung nelayan mempunyai kawasan kumuh yang masif.
 Mempunyai kebutuhan penangan infrastruktur yang mendesak, jaringan jalan,
air minum, hidran kebakaran, persampahan, sanitasi, drainase dan
penerangan.
 Penanganan drainase di kawasan tersebut karena menjadi bagian dari
penyebab banjir selain pasang surut air sungai.
 Penanganan sampah juga merupakan bagian dari penyebab banjir karena
masih ada warga masyarakat yang membuang sampahnya di sungai dan
saluran drainase skunder.
 Penanganan air limbah, karena di kawasan sepanjang Sungai masih terdapat
pembuangan air limbah secara langsung ke sungai tersebut.
 Penanganan kawasan kumuh, karena di sepanjang sungai di kawasan tersebut
terdapat beberapa bangunan yang langsung dibangun di sebelah dinding
sungai tanpa memperhatikan sempadan sungai.

Berdasarkan luas, jumlah penduduk dan jumlah KK pada kelurahan Kampung Nelayan
adalah sebagai berikut :

Laporan Akhir I -6
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Tabel 1.1
Luas dan Jumlah PendudukKelurahan di Kawasan Kampung Nelayan

NO KAMPUNG NELAYAN ha

1 Luas Kelurahan 78,5


2 Luas kawasan prioritas 51
3 Jumlah KK 17.418
4 Jumlah rumah 8.542
5 Rata rata hunian existing 9
6 Rata rata hunian standar 6

Laporan Akhir I -7
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

RENCANA PEMBANGUNAN KAWASAN


PERMUKIMAN PRIORITAS (RPKPP)

TIM POKJANIS RPKPP


PEMERINTAH KABUPATEN
TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir I -8
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir I -9
IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

1.5. KEDUDUKAN RPKPP

Dalam penyelenggaraannya, SPPIP dan RPKPP ini merupakan suatu bagian yang tidak
dapat dipisahkan dari kebijakan pengembangan dan pembangunan kota secara
keseluruhan. SPPIP dan RPKPP menjadi alat sinkronisasi berbagai perencanaan
pembangunan dan penataan ruang yang ada terutama dalam pembangunan
permukiman dan infrastruktur perkotaan.Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dilihat
bahwa SPPIP merupakan acuan bagi kebijakan dan strategi pembangunan sektoral yang
terkait dengan permukiman dan infrastruktur perkotaan, seperti sistem sanitasi,
persampahan, jalan, dan perumahan. Selain itu, dalamkaitannya dengan rencana makro
pembangunan kota, SPPIP ini didudukan sebagai penterjemah arahpengembangan dan
pembangunan kota yang terdapat dalam RPJP, RPJM, maupun RTRW
untukpembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan. Adapun untuk RPKPP,
lebih didudukansebagai alat operasionalisasi dari SPPIP dalam skala kawasan
permukiman prioritas.

SPPIP ini merupakan terjemahan arahan pengembangan dan pembangunan kota


untukpembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan selama jangka waktu 20
tahun sebagaimanaarahan dalam RTRW dan RPJPD. Adapun untuk lima tahun pertama
didasarkan pada arahan dalamRPJMD dan KSPD. Sedangkanlima tahun pertama dalam
SPPIP akan menjadi acuan bagi penyusunanRPKPP dan RPIJM. Ilustrasi kedudukan SPPIP
dan RPKPP dalam kerangka kebijakan pembangunankota terdapat pada Gambar 1.1.

Selain itu, secara khusus, dalam kaitannya dengan RPIJM yang dikeluarkan oleh
Direktorat JenderalCipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, SPPIP dan RPKPP ini juga
akan menjadi penjembatandengan RPIJM bidang cipta karya. SPPIP akan menjadi acuan
kebijakan dan program investasibidang cipta karya yang tertuang dalam RPIJM,
sedangkan RPKPP akan menjadi alatoperasionalisasi RPIJM sebagaimana yang
ditampilkan dalam Gambar 1-2. Dalamhal ini, program lima tahunan yang dihasilkan
dalam SPPIP akan menjadi acuan dan dasar dalampenyusunan program, indikasi
kegiatan, serta alokasi pendanaannya di dalam RPIJM. Adapunprogram, indikasi

Laporan Akhir I -10


IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

kegiatan, serta alokasi pendanaan di dalam RPIJM tersebut akan dirinci dalamprogram
dan kegiatan yang terukur dari sisi volume, biaya, dan lokasinya di tiap kawasan
prioritasRPKPP.

Gambar 1-3
Keterkaitan SPPIP dan RPKPP Dalam Kerangka Kebijakan Pembangunan KotaJM

Laporan Akhir I -11


IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Gambar 1-4
Keterkaitan Pihak yang Terlibat Dalam Proses Penyusunan SPPIP dan RPKPP

Laporan Akhir I -12


IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

1.6. RANGKUMAN PROSES PENYUSUNAN RPKPP


Gambar 1-5
Rangkaian Kegiatan Penyusunan RPKPP

Laporan Akhir I -13


IRPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

1.7. PENYAJIAN DOKUMEN

BAGIAN 1. PENDAHULUAN

Bagian ini menjelaskan tentangLatar Belakang, Tujuan, Sasaran, Ruang


Lingkup serta Kedudukan RPKPP dan sistimatika Penyajian Dokumen.

BAGIAN 2.GAMBARAN UMUMWILAYAH KABUPATEN


DAN KAWASAN PRIORITAS SPPIP

Bagian ini menjelaskan tentangGambaran Umum Kabupaten Tanjung JAbung


Barat, Profil Kawasan, Profil Infrastruktur Kawasan, Potensi dan Persoalan
Permukiman dan Infrastruktur Permukiman Kawasan.

BAGIAN 3.KAJIAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN


DAN INFRASTRUKTUR PERKOTAAN

Bagian ini menjelaskan mengenaibeberapa kebijakan Pemrintah Kabupaten


Tanjung Jabung Barat yang dijadikan dasar Penyusunan SPPIP dan RPKPP,
sehingga priduk yang dihasilkan nantinya sesuai dengan arahan kebijakan
pemerintah daerah.

BAGIAN 4. KONSEP DAN RENCANA PENANGANAN KAWASAN

Bagian ini menjelaskan mengenaiKonsep Pembangunan danRencana


Pembangunan.

BAGIAN 5. RENCANA DETAIL ENGINEERING DESIGN (DED) PEMBANGUNAN TAHAP 1

Bagian ini berisikan tentangrencana kegiatan pembangunan tahap 1 dan


DED.

Laporan Akhir I -14


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

GAMBARAN UMUM WILAYAH KABUPATEN DAN Bab


KAWASAN PRIORITAS SPPIP 02

Laporan Akhir II -1
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.1 Gambaran Umum Kabupaten Tanjung Jabung Barat

2.1.1 Kondisi Geografis

Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah salah satu kabupaten yang ada di
Propinsi Jambi, dengan Ibukotanya Kuala Tungkal. Luas wilayah Kabupaten Tanjung
Jabung Barat 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63 % dari luas wilayah Propinsi Jambi. Kota
Kuala Tungkal terletak di sebelah timur laut kota Jambi (Ibukota Propinsi Jambi),
dengan jarak ± 39 km. Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dibagi menjadi 18
Kecamatan dan 144 desa, dengan pembagian administrasi seperti Tabel 2.1. berikut di
bawah ini.

Tabel 2.1.
Pembagian Administrasi dan luas wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat

No Kecamatan Luas Wilayah (Km2 ) Jumlah Kelurahan Jumlah Desa


1 Tungkal Ilir 222.09 4 2
2 Seberang Kota 243.07 1 3
3 Bram Itam 312.66 0 4
4 Tungkal Ulu 345.69 1 6
5 Tebing Tinggi 342.89 1 4
6 Batang Asam 1042.37 0 6
7 Merlung 311.65 0 8
8 Renah Mendaluh 473.72 0 6
9 Muara Papalik 336.38 0 5
10 Betara 570.21 0 4
11 Kuala Betara 307.67 0 4
12 Pengabuan 440.13 1 3
13 Senyerang 426.63 1 6
Jumlah 9 61

Tanjung Jabung Barat adalah salah satu kabupaten yang terletak di Pantai
Timur Provinsi Jambi, tepatnya antara 0O 53' 00” - 01O 41' 00” Lintang Selatan dan
103O 23' 00” - 104O 21' 00” Bujur Timur.

Batas Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat :

Sebelah Utara : Provinsi Riau dan Laut Cina Selatan;

Laporan Akhir II -2
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Sebelah Selatan : Kabupaten Muara Jambi dan Kabupaten Batang Hari;


Sebelah Barat : Kabupaten Batang Hari dan Kabupaten Tebo;
Sebelah Timur : Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Selat Berhala.

Secara lebih rinci dapat terlihat seperti pada Peta 2.1. berikut di bawah ini

2.1.2 Curah Hujan

Keadaan iklim di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat tidak jauh


berbedadengan keadaan iklim di wilayah Provinsi Jambi.Berdasarkan klasifikasi
menurut Schmidt dan Ferguson, iklim di Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah Type
Afa, yaitu type iklim hujan tropis. Suhu udara rata-rata 29,9º C, suhu udara maksimum
mencapai 32º C dan suhu udara minimum 21º C. Curah hujan tahunan rata - rata
berkisar antara 2.324 - 2.373 mm pertahun.
Berdasarkan data tahun 2009, curah hujan bulanan rata-rata adalah 186,54 mm
dan rata-rata hujan bulanan 9,7 hari. Distribusi curah hujan bulanan secara umum
merata sepanjang tahun dengan bulan basah terjadi pada bulan Nopember-Januari
sedangkan bulan kering umumnya jatuh pada bulan Mei-Juni.

2.1.3. Pemerintahan

Kabupaten Tanjung Jabung Barat terdiri dari 13 kecamatan, 56 desa dan 14


Kelurahan. Kecamatan yang ada di Tanjung Jabung Barat antara lain : Kecamatan
Tungkal Ilir, Seberang Kota, Bram Itam, Tungkal Ulu, Tebing Tinggi, Batang Asam,
Merlung, Renah Mendaluh, Muara Papalik, Betara, Kuala Betara, Pengabuan dan
Senyerang.

Laporan Akhir II -3
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Peta 2.1. Peta Administrasi Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Laporan Akhir II -4
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Peta 2.2. Peta Curah Hujan Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Laporan Akhir II -5
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.1.4. Hidrologi
Kondisi hidrologi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat sangat beragam
baik itudari sungai dan DAS maupun air permukaan dan air tawar.
a. Sungai dan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Sebagian wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat merupakan bagian
darikawasan pantai Timur Sumatera yang ditunjukan dengan ciri-
ciritenggelamnya dataran rendah dibawah permukaan pada zaman Kuarter
Tua.Oleh sebab itu daerah ini agak datar dan keadaan tata airnya
dikendalikanoleh gradien sungai sehingga drainase terhambat dengan
akibatpenggenangan yang luas dan bersifat permanen.
Beberapa sungai yang relatif besar di Kabupaten Tanjung Jabung
Barat semuanya bermuara ke Selat Berhala yaitu: Sungai Pengabuan, Sungai
Pangkal Duri, Sungai Betara, dan beberapa sungai kecil lainya. Sesuai dengan
karakteristik wilayah dan letak Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang
berbatasan langsung dengan laut, maka masing-masing sungai mempunyai
sistem yang khas baik ditinjau dari daerah asal, pola drainase maupun kualitas
airnya. Masing-masing sistem sungai tersebut adalah sebagai berikut: Sistem
perairan hulu, terbentuk dari sungai-sungai yang berasal dari daerah perbukitan
berlitologi kompleks. Sungai utama pada sistem ini adalah Sungai Pengabuan
dan Sungai Pangkal Duri yang merupakan berdasarkan sistem sungai tersebut
maka di Kabupaten Tanjung Barat terdapat tiga sistem daerah aliran sungai
(DAS) yaitu : DAS Sungai Pengabuan, DAS Sungai Pangkal Duri dan DAS Sungai
Betara. Terdapatnya beberapa sistem aliran sungai di daerah ini menyebabkan
perbedaan terhadap potensi wilayah terdapat pada DAS.Pada daerah yang
dilalui oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berhulu pada daerah perbukitan
dan pegunungan mempunyai potensi yang baik bagi pengembangan pertanian,
hal ini karena sungai-sungai mengangkut sedimen aluvial yang berasal dari erosi
formasi batuan tersier dibagian atas. Sementara daerah yang berbeda Daerah
Aliran Sungai (DAS) kecil yang berasal dari daerah bergambut dimana kondisi
tanah sangat miskin unsur hara akan kurang berpotensi bagi pengembangan
pertanian. Sedang daerah yang berada diantara ketiga sistem tersebut memiliki
potensi sedang bagi pengembangan pertanian.Penyebaran masing-masing
Daerah Aliran Sungai.

Laporan Akhir II -6
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

b. Air Permukaan dan Air Tawar


Kondisi air permukaan dan air tanah di Kabupaten Tanjung Jabung Bara
dipengaruhi oleh musim dan fluktuasi pasang surut. Pada saat musim
penghujan fluktuasi air tanah dan permukaan akan tinggi sehingga
menyebabkan dibeberapa tempat terjadi genangan atau banjir sedangkan pada
saat kemarau dimana air sungai rendah dan terjadi penyusupan air laut jatuh
ke wilayah pedalaman.

2.1.5.Kerawanan bencana

Kabupaten Tanjung Jabung Barat mempunyai 2 jenis kerawanan bencana,


yaitu rawan banjir dan rawan kebakaran.Daerah kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten
Tanjung Jabung Barat mempunyai kerawanan terhadap banjir serta kebakaran.Peta
kerawanan bencana seperti pada Peta 2.4.berikut ini.

2.1.6.Potensi

Kabupaten Tanjung Jabung Barat mempunyai beragam potensi perekonomian


mulai dari pertanian, perikanan dan peternakan, hutan, flora dan fauna, industri,
tambang serta potensi pariwisata.

Pertanian yang dimiliki Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebagian besar adalah
lahan kering tadah hujan (± 90 %) yang tergantung pada daur iklim khususnya curah
hujan.Lahan sawah beririgasi relatif sempit dan sebagian besar sawah tadah hujan.

Untuk membangun Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang berbasis pertanian


dengan orientasi Agribisnis dan Agroindustri yang bermuara pada Ekonomi
Kerakyatan, maka kabupaten ini dibagi dalam 3 (tiga) wilayah berdasarkan
ketersediaan sumberdaya air sebagai berikut:
1. Wilayah Basah, di wilayah ini dikembangkan padi, sayur-sayuran, palawijaya
tambak/kolam keramba dan pengembangan peternakan unggas, terutama
bebek. Kebijakan yang diambil program Sejuta Bebek.
2. Wilayah Basah/Kering, pengembangan padi, palawijaya termasuk sayur-
sayuran dan ternak seperti kambing dan ayam. Kebijakan yang diambil adalah
meningkatkan produksi yang dihasilkan menjadi penyanggah daerah yang kita
sebut juga Wilayah Penyanggah Ketahanan Pangan.

Laporan Akhir II -7
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

3. Wilayah Kering, pengembangan ternak besar dan perkebunan. Kebijakan yang


diambil untuk pengembangan usaha Agro Ekonomi dan sekaligus Agroindustri
yang kita sebut juga wilayah Agro Ekonomi dan Agroindustri.

Laporan Akhir II -8
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Peta 2.3. Peta Hidrologi Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Laporan Akhir II -9
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Peta 2.4. Peta Kawasan Rawan Bencana Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Laporan Akhir II -10


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.1.7. Penggunaan Lahan


Penggunaan lahan hutan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, mencakup
jenispenggunaan kawasan hutan produksi, hutan produksi terbatas, hutan
lindunggambut, cagar alam dan Taman Nasional.Dalam pengelolaannya kawasan
hutan yang ada di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat termasuk dalam hutan
Negara. Untuk kawasan hutan, Hutan produksi mempunyai areal terluas yaitu
184.246,70 Ha atau 36,78 % dari luas Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Sedangkan
untuk Kawasan yang Terbangun meliputi penggunaan lahan sektor pertanian antara
lain Kebun Kelapa dalam seluas 34.355 Ha (6.86 %), Kebun Kelapa Sawit seluas
36.100 Ha (7,21%), Kebun Karet seluas 22,755 Ha 4,54%).dan Sawah seluas 47.382
Ha (6,23%). Dari data yang diperoleh jenis penggunaan lahan di wilayah Kabupaten
Tanjung Jabung Barat pada tahun 2009, dapat dibedakan kedalam Kawasan Hutan
dan Kawasan Terbangun.

2.1.8. Sosial Budaya

Pada tahun 2009 jumlah sarana kesehatan yang tersedia di Kabupaten


Tanjung Jabung Barat meliputi Rumah Sakit Umum sebanyak 1 Unit, puskesmas
sebanyak 16 Unit, dan Pukesmas Pembantu sebanyak 70 Unit, Disamping
penyediaan sarana kesehatan terdapat tenaga medis yaitu 49 orang dokter yang
terdiri dari 35 dokter umum, 7 orang dokter gigi, dokter spesialis kandungan dan
anak 2 orang. Dan 152 orang bidan serta 83 tenaga medis lainnya.

Untuk sektor budaya, Kondisi kehidupan dan aktivitas budaya dan kesenian
di Kabupaten Tanjung Jabung Barat secara umum masih berjalan baik, terlihat dari
upaya dan kegiatan masyarakat untuk mempertahankan dan mengembangkan
budaya dan kesenian yang ada. Bahkan juga tampak adanya upaya untuk menggali
kembali budaya dan kesenian yang hampir punah, serta upaya kaderisasi kepada
generasi muda.

Sarana peribadatan diKabupaten Tanjung JabungBarat sangat


beragamjenisnya, mayoritas penduduk diKabupaten Tanjung JabungBarat
merupakan penganutagama islam sebesar 98,69%, kemudian agamakristen

Laporan Akhir II -11


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

(Protestan dan Katolik) sebesar 0,99% sedangkan sebagian kecilpenganut agama


Hindu dan Budha.

Peta 2.5. Peta Kesesuaian Lahan Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Laporan Akhir II -12


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.1.9.Kependudukan

Jumlah penduduk merupakan modal dasar dalam pembangunan namun


jumlahpenduduk yang besar jika tidak diikuti dengan peningkatan kualitasnya
justrudapat menjadi beban pembangunan.Oleh karena itu masalah kependudukan
harus mendapat perhatian yang serius, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal
sebagai modal pembangunan.

Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk


Kabupaten Tanjung Jabung Barat (angka sementara) adalah 278.937 jiwa yang
terdiri dari 144.759 orang penduduk laki-laki dan 134.178 penduduk perempuan.
Kecamatan Tungkal Ilir merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak
yaitu berjumlah 67.711 orang diikuti dengan Kecamatan Tebing Tinggi sebanyak
34.598 orang.Kecamatan yang paling sedikit penduduknya adalah Kecamatan
Seberang Kota yaitu sebanyak 8.126 orang.Perbandingan penduduk laki-laki dan
perempuan atau sex ratio di kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah sebesar 108,
yang artinya dari 108 penduduk laki-laki terdapat 100 penduduk perempuan.Dari 13
kecamatan yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat tidak ada sex ratio-nya di
bawah 100.Sehingga di setiap kecamatan tersebut jumlah perempuan selalu lebih
rendah dari jumlah laki-laki.Sex ratio tertinggi terdapat di kecamatan Muara
Papalik yaitu sebesar 108, dan yang terendah di Kecamatan Tungkal Ilir sebesar
102. Dengan luas wilayah 5.009,82 Km2 yang didiami 278.937 orang maka rata-rata
tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah 56 jiwa/Km2.
kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatannya adalah kecamatan Tungkal Ilir
yaitu 675 jiwa/Km2, sedangkan yang paling rendah adalah Kecamatan Batang Asam
yakni 23 jiwa/Km2. Jumlah rumah tangga di Kabupaten Tanjung Jabung Barat
berdasarkan hasil SP2010 adalah sebesar 71.257 rumah tangga. Dengan jumlah
penduduk sebesar 278.937 jiwa, maka rata-rata banyaknya anggota rumah tangga
dalam satu rumah tangga adalah sebesar 3,91 orang.

Laporan Akhir II -13


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.2 Kawasan Prioritas Menurut SPPIP

Didalam Dokumen SPPIP, bahwa kawasan prioritas di perkotaan Kabupaten


Tanjung Jabung Barat adalah sebanyak 3 kawasan prioritas yaitu:

1. Prioritas I (Kampung Nelayan di Kelurahan Tungkal II),


2. Prioritas 2 (Manunggal di Kelurahan Tungkal II).
3. Prioritas 3 (Desa Pembengis di Kecamatan Bram Itam).
Untuk melihat kondisi (profile) masing-masing kawasan prioritas, akan
diuraikan pada sub bab berikut.

2.2.1 Kawasan Prioritas I (Kampung Nelayan)

Pada sub bab ini akan membahas kondisi (profile) kawasan prioritas
1Kampung Nelayan yang akan dijabarkan sebagai berikut :

Kawasan Prioritas I ( Kampung Nelayan), memiliki luas wilayah sebesar lebih


Kurang 58 ha. Dengan batas-batas Wilayah sebagai berikut :

Batas sebelah utara : Sungai Pangabuan

Batas sebelah Selatan: Kelurahan Tungkal II

Batas sebelah Barat: Desa Tungkal I

Batas sebelah Timur: Kelurahan Tungkal III

Adapun batas-batas secara lebih jelas akan disajikan pada Gambar 2.1

Kawasan prioritas I Kampung nelayan Kota Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung


Jabung Barat, merupakan kawasan yang mempunyai historis yang sangat menarik
untuk diungkap, adapun pembahasan ini akan meliputi beberapa aspek antara lain
adalah :
1. Aspek Historis

Dilihat dari historis perkampungan nelayan merupakan cikal bakal terjadinya


permukiman yang terdapat di Kota Kuala Tungkal, hal ini dikarenakan
kampung ini merupakan tempat persinggahan para nelayan dari berbagai
tempat yang berprofesi sebagai nelayan. Mengingat lokasinya terdapat di
pinggiran Sungai Pangabuan dan diatas air sehingga bentuk bangunan/rumah
berkonstruksi panggung.

Laporan Akhir II -14


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Gambar 2.1
Batas Kawasan Prioritas I Kampung Nelayan

Laporan Akhir II -15


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Selain itu masyarakat kampung nelayan pada awalnya menggunakan sungai


yang ada sebagai prasarana transportasi.

2. Aspek Fisik dan Geografi


Berdasarkan kajian lapangan, aspek fisik
dan geografi kawasan ini merupakan
kawasan pasang-surut dari Sungai
Pangabuan yang dipengaruhi oleh pasang-
surut air laut pada muara sungai tersebut.
Dengan kondisi demikian, maka perlu
adanya pembangunan yang bersifat
khususyang dapat diterapkan pada
kawasan perkampungan nelayan ini.

Daya dukung tanah kawasan ini sangat


rendah mengingat tanah yang terdapat
dibawah perkampungan ini merupakan
tanah liat, yang mempunyai erosi sangat
tinggi, serta kekerasannyapun sangat
rendah (lembek). Namun jika dilihat dari

Laporan Akhir II -16


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

nilai strategis kawasan ini dapat dikatakan sangat strategis karena berada
pada muara sungai pangabuan yang langsung
berinteraksi dengan laut lepas.
Dari kondisi lokasi yang ada, kawasan ini
merupakan tempat pembudidayaan hutan
mangroove, dimana hasil dari pada budidaya ini
disamping memberikan manfaatuntuk
lingkungan juga bermanfaat sebagai salah satu peningkatan ekonomi melalui
industri kecil (home Industri) yang menghasilkan sirup magroove.

3. Aspek Ekonomi
Kawasan Prioritas I Kampung nelayan dilihat dari
segi perekonomian merupakan pusat kegiatan
pasar ikan yang jangkauan pelayanannya
sekabupaten Tanjung Jabung Barat , terutama

dalam koomoditi perikanan laut, selain itu


kawasan ini sebagai sentra industri pengolahan
ikan dan home industri pengolahan sirup dari
buah mangroove yang terkenal dengan sebutan
Sirup Pedade. Perdagangan Jasa yang terdapat
dikawasan ini jika dilihat dari lokasinya dapat
diakses dari darat dan laut, sehingga
pertumbuhan kawasan ini sangat cepat.

4. Aspek Budaya
Perrmukiman Kampung Nelayan pada awalnya dihuni oleh komunitas Suku
Duano, suku ini merupakan komunitas yang tinggal di atas air (hidup di air),
dimana dominan interaksinya melalui air dan bermata pencaharian dari
laut dan sungai. Suku Duano ini memiliki budaya tarian yang sering
dipertunjukkan pada ajang festifal daerah dan ini perlu adanya upaya dari
pemerintah untuk melestarikan budaya yang ada.

Laporan Akhir II -17


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

5. Aspek Pemerintahan
Kelurahan Kampung Nelayan (prioritas I) merupakan kelurahan hasil
pemekaran dari kelurahan induk Kelurahan Tungkal II, secara adminiatrasi
kelurahan ini sudah jelas batas-batasnya namun secara legalitas masih dalam
proses oleh pemerintah setempat.

6. Aspek Keciptakaryaan
a. Perumahan
Kondisi perumahan pada kawasan ini sangat rapat dan banyak yang tidak
mengindahkan sempadan sungat/parit yang terdapat dilingkungan ini,
dampak dari kondisi tersebut akan memberikan kesan kumuh dan
menimbulkan rawan kebakaran. Perumahan yang ada banyak dihuni oleh
Suku Duano yang memiliki pola hidup tersendiri (sebagian besar sebagai
nelayan antar pulau).
b. Jalan
Kondisi jalan pada kawasan ini pada umumnya kurang baik, dilihat dari
segi fisik (terbuat dari Kayu) maupun dari segi dimensinya yang sangat
sempit (1 sampai 1,5 meter), sehingga menyulitkan bila ada kendaraan
yang saling perpapasan.
c. Drainase
Kawasan Kampung Nelayan ini belum memiliki sistem drainase, baik yang
terdapat dibantaran sungai pangabuan ataupun yang terdapat di atas
permukaan tanah.
d. Air Minum
Kebutuhan akan air minum pada kawasan ini msyarakat masih
menggunakan air isi ulang, hal ini disebabkan belum adanya layanan air
minum yang berasal PDAM. Untuk kebutuhan air bersihnya masyarakat
masih mengandalkan PAH (Penampungan Air Hujan).
e. Sanitasi
Pada sektor sanitasi, kawasan ini masih belum ada sistem sanitasi yang
baik. Saat ini masyarakat membuang limbah domestiknya langsung ke
sungai ataupun ke daerah genangan yang terdapat di bawah bangunan
rumah.
f. Persampahan

Laporan Akhir II -18


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Untuk sistem persampahan dikawasan ini masih belum ada, dan masarakat
untuk membuang sampah dilakukan langsung dibuang kesungai, sehingga
pada kawasan ini menimbulkan aroma bau yang tidak sedap.

2.2.2 Kawasan Prioritas 2 (Manunggal)

Kawasan prioritas 2 merupakan kawasan yang telah tertata dan


perumahannya adalah landed (tidak diatas air) berbeda dengan kampung nelayan.
Kondisi fisik dasar Kawasan ini adalah landai, sehingga memudahkan untuk
dikembangkan sebagai kawasan permukiman. Untuk sarana dan prasarana
penunjang yang telah ada dikawasan ini akan diuraikan sebagai berikut.

a. Perumahan
Lokasi Perumahan yang terdapat di kawasan prioritas 2 mempunyai akses yang
tinggi terhadap pusat kegiatan ekonomi (pusat Kota), kawasan ini merupakan
permukiman yang sudah tertata dan sebagian besar warga merupakan PNS.
b. Jalan
Kawasan permukiman di prioritas 2 ini telah memiliki jaringan jalan yang cukup
baik dan membentuk pola grid, namun pada beberapa ruas jalan masih terlihat
adanya jalan yang kondisi perkerasannya rusak. Hal ini dapat mengurangi nilai
akses yang ada.

c. Drainase
Kawasan ini sebagian besar belum memiliki sistem jaringan drainase yang baik,
hal ini terlihat dengan masih adanya beberapa ruas jalan yang tidak memiliki
jaringan drainase, bahkan ada jaringan drainase yang tidak terintergrasi.

d. Air Minum
Kawasan prioritas 2 manunggal sebagian besar telah terlayani oleh jaringan Air
Minum yang berasal dari PDAM, namun layanan PDAM ini masih belum mengalir
selama 24 jam, sehingga perlu adanya peningkatan pelayanan baik dari segi
kapasitas debit maupun dari perluasan jaringan.

e. Sanitasi

Laporan Akhir II -19


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Terkait dengan sanitasi lingkungan yang terdapat di kawasan permukiman


prioritas 2 (manunggal), sebagian besar telah miliki sanitasi, hal ini karena
lingkungan permukiman yang ada merupakan kawasan permukiman yang telah
tertata dan dibangun oleh developer (BTN). Sehingga untuk sanitasi lingkungan
pada kawasan ini tidak meimbulkan permasalahan lingkungan.

f. Persampahan
Sistem persampahan yang terdapat pada kawasan manunggal sampai dengan saat
ini dapat dikatakan masih kurang memadai, hal ini karena masih ada penduduk
yang membuang sampah sembarangan karena pelayanan sampah yang dikelola
oleh dinas kebersihan belum optimal.

2.2.3 Kawasan Prioritas 3 (Pembengis)

Kawasan prioritas 3 adalah Desa Pembengis termasuk dalam wilayah


Kecamatan Bram Itam, luas wilayah ini adalah 18,17 km2.

Kawasan ini memiliki ketinggian berkisar 1 – 1,5 meter diatas permukaan


laut dengan kemiringan wilayah 0 – 3 %. Jumlah Rumah yang ada di desa ini adalah
sebanyak 649 unit dengan jumlah penduduk sebanyak 2.761 jiwa, sehingga
kepadatan penduduknya mencapai 153 jiwa/km2.

Hal ini menunjukkan bahwa kawasan prioritas 3 (pembengis) memiliki


kepadatan sangat rendah.

Profil kawasan prioritas 3 ini merupakan kawasan pengembangan


perkantoran baru, kawasan terbangun terdapat disepanjang jalan utama (linier)
dan kawasan ini diarahkan untuk pengembangan permukiman perkotaan Kuala
Tungkal.

Dari segi prasarana transportasi, kawasan ini dilalui oleh jalan Nasional dan
jalan-jalan lingkungan yang ada masih kurang memadai karena dimensinya masih
belum memenuhi peraturan perundangan. Selain itu jalan-jalan lingkungan yang
ada tidak dilengkapi dengan drainase.

Laporan Akhir II -20


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Untuk layanan air minum, dikawasan ini belum terlayani oleh PDAM,
sehingga masyarakat masing menggunakan air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan
sehari-harinya.

Persampahan dan sanitasi lingkungan pada kawasan ini masih belum


tersedia, sehingga dalam pengelolaanya masih menggunakan sistem konvensional.

Laporan Akhir II -21


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.3 KAJIAN MIKRO KAWASAN PRIORITAS 1

2.3.1 Pembagian Blok Kawasan Prioritas 1

Berdasarkan karakteristik dan tipologi Kawasan Prioritas 1 diindikasikan terdapat


beberapa blok kawasan yang memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga
memiliki potensi dan permasalahan yang berbeda pula. Berdasarkan pengamatan
lapangan dan hasil analisis, maka ditetapkan bahwa pada Kawasan Prioritas 1 akan
dibagi menjadi 8 blok kawasan.

Untuk lebih jelasnya mengenai pembagian blok di kawasan Prioritas 1 dapat dilihat
pada Gambar dibawah ini.

Laporan Akhir II -22


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir II -23


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.3.2 Potensi dan Permasalahan Blok 1

Matriks Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada KawasanPrioritas (BLOK 1)

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


1 Permukiman  Aksesibilitas permukiman cukup mudah untuk di jangkau.  Ada 67 unit bangunan rumah di bantaran sungai Pangabuan
 Terdapat kawasan yang dihuni oleh suku Duano yang  Seluruh bangunan rumah merupakan bangunan semi
kehidupan sehari-harinya berprofesi sebagai nelayan. permanen dengan bahan bangunan dari kayu, sehingga mudah
mengalami kebakaran.
 Terdapat bangunan pemecah gelombang yang dapat
mengurangi dampak akibat gelombang.  Bagian belakang rumah menghadap sungai, sehingga limbah
rumah tangga sebagian besar dibuang ke sungai
 Bisa menggunakan transportasi sungai dan jalan (darat)
 Kondisi sanitasi yang kurang baik, mempengaruhi tingkat
kesehatan masyarakat.
 Lahan pengembangan permukiman sangat terbatas
2 Sungai  Sungai Pangabuan dimanfaatkan penduduk sebagai  Air sungai tidak dapat dikonsumsi
akses menuju kawasan lain dan juga akses menuju laut
 Menyulitkan dalam penyediaan sarana dan prasarana
 Memiliki potensi perikanan yang dapat menunjang permukiman.
perekonomian penduduk dan juga untuk konsumsi
 Sungai dijadikan tempat pembuangan limbah rumah tangga
 Sebagai sarana transportasi dan dermaga perahu dan dan tempat pembuangan sampah penduduk
kapal
3 Jalan Lingkungan  Telah tedapat jalan lingkungan pada kawasan  Jalan lingkungan sangat sulit untuk dilakukan pelebaran dan
permukiman dengan konstruksi beton dan kayu, dapat peningkatan karena keterbatasan lahan
dipergunakan oleh kendaraan roda dua
 Perlengkapan dan fasilitas jalan lingkungan belum tersedia
 Jalan lingkungan pada telah terhubung dengan jalan dengan baik
utama
 Tidak ada pembatas antara Jalan lingkungan dengan
perumahan, sehingga beresiko terhadap penghuni perumahan

Laporan Akhir II -24


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


4 Air Minum  Potensi pelanggan air minum pada Kampung Nelayan  Kebutuhan Air minum berasal dari Isi ulang dan air hujan.
cukup tinggi
 Kawasan belum terjangkau oleh pelayanan PDAM.
5 Drainase  Air sungai dapat dijadikan sebagai tempat pembuangan  Tidak ada saluran drainase
air

6 Air Limbah  Sebagian penduduk mamanfaatkan saluran alami untuk  Semua bangunan rumah tangga tidak memiliki prasarana dan
membuang limbah cair sarana air limbah
 Sebagian masyarakat membuang limbah padat dan cair
langsung ke sungai
 Kesadaran warga dalam menjaga kebersihan masih kurang
 Belum memiliki sistem sanitasi yang baik
7 Sampah  Telah tersedia sarana TPS sederhana  Sebagian besar warga membuang sampah di tempat terbuka
dan langsung ke sungai
 Potensi timbulan sampah meningkat seiring dengan
semakin tingginya kegiatan perkeonomian penduduk  Tidak memiliki sistem pengelolaan sampah.
 Minat warga dalam penerapan pola 3 – R masih kurang
8 Penataan Bangunan  Tingkat pertumbuhan penduduk dan bangunan cukup  Kondisi perumahan belum tertata dengan baik
tinggi
 Sebagian besar bangunan yang telah berdiri belum memiliki
izin bangunan
 Kerapatan bangunan di sekitar sempadan sungai sangat rapat
 Sebagian besar bangunan merupakan bangunan semi
permanen dengan menggunakan bahan dari kayu

Laporan Akhir II -25


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir II -26


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.3.3 Potensi dan Permasalahan Blok 2

Matriks Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada KawasanPrioritas (BLOK 2)

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


1 Permukiman  Aksesibilitas permukiman cukup mudah untuk di jangkau.  Sebagian bangunan rumah merupakan bangunan semi
permanen dengan bahan bangunan dari kayu, sehingga mudah
 Orientasi permukiman kearah jalan
mengalami kebakaran.
 Bisa menggunakan transportasi sungai dan jalan (darat)
 Lahan pengembangan permukiman sangat terbatas
 Sedikit perumahan yang berada ditepi sungai/parit
2 Sungai  Sungai Pangabuan dimanfaatkan penduduk sebagai  Air sungai tidak dapat dikonsumsi
akses menuju kawasan lain dan juga akses menuju laut
 Sungai dijadikan tempat pembuangan limbah rumah tangga
 Memiliki potensi perikanan yang dapat menunjang dan tempat pembuangan sampah penduduk
perekonomian penduduk dan juga untuk konsumsi
 Sebagai sarana transportasi dan dermaga perahu dan
kapal
3 Jalan Lingkungan  Telah tedapat jalan lingkungan pada kawasan  Sebagian jalan lingkungan kondisinya kurang baik
permukiman dengan konstruksi aspal, dapat
 Terdapat penyempitan jalan kolektor menuju kawasan
dipergunakan oleh kendaraan roda dua
pelabuhan
 Terdapat jalan utama kawasan (jalan kolektor).

4 Air Minum  Potensi pelanggan air minum cukup tinggi  Kebutuhan Air minum berasal dari Isi ulang dan air hujan.
 Kawasan belum terjangkau oleh pelayanan PDAM.
5 Drainase  Air sungai dapat dijadikan sebagai tempat pembuangan  Saluran drainase masih tercampur dengan air limbah rumah
air tangga.

Laporan Akhir II -27


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


 Drainase jalan kolektor cukup baik
6 Air Limbah  Sebagian penduduk mamanfaatkan saluran alami dan  Sebagian masyarakat membuang limbah padat dan cair
saluran drainase yang ada untuk membuang limbah cair langsung ke sungai
 Kesadaran warga dalam menjaga kebersihan masih kurang
 Belum memiliki sistem sanitasi yang baik
7 Sampah  Telah tersedia sarana TPS sederhana  Sebagian besar warga membuang sampah di tempat terbuka
dan langsung ke sungai
 Potensi timbulan sampah meningkat seiring dengan
semakin tingginya kegiatan perkeonomian penduduk  Tidak memiliki sistem pengelolaan sampah.
 Minat warga dalam penerapan pola 3 – R masih kurang
8 Penataan Bangunan  Tingkat pertumbuhan penduduk dan bangunan cukup  Sebagian besar bangunan yang telah berdiri belum memiliki
tinggi izin bangunan
 Penataan bangunan dan lingkungan sangat mungkin  Sebagian besar bangunan merupakan bangunan semi
dilakukan karena masih terdapat lahan kosong permanen dengan menggunakan bahan dari kayu
 Penataan kawasan wisata (Ancol) ditunjang dengan hasil  Belum ada penataan kawasan, perlu dilakukan lebih awal
perikanan, untuk menjaga kawasan agar tidak berkembang tanpa
penataan.

Laporan Akhir II -28


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir II -29


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.3.4 Potensi dan Permasalahan Blok 3

Matriks Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada KawasanPrioritas (BLOK 3)

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


1 Permukiman  Aksesibilitas permukiman cukup mudah untuk di jangkau.  Sebagian rumah merupakan bangunan semi permanen dengan
bahan bangunan dari kayu, sehingga mudah mengalami
 Bisa menggunakan transportasi sungai dan jalan (darat)
kebakaran.
 Lahan pengembangan perumahan masih cukup tersedia
 Kondisi sanitasi yang kurang baik, mempengaruhi tingkat
 Lokasi ini berdekatan dengan pusat kegiatan kesehatan masyarakat.
perdagangan yang memiliki akses yang cukup tinggi.
 Tekstur tanah berupa tanah liat menyebabkan pembangunan
kawasan permukiman memerlukan konstruksi khusus dengan
biaya yang cukup tinggi

2 Sungai  Sungai Pangabuan dimanfaatkan penduduk sebagai  Air sungai tidak dapat dikonsumsi
akses menuju kawasan lain dan juga akses menuju laut
 Sungai dijadikan tempat pembuangan limbah rumah tangga
 Sebagai sarana transportasi dan dermaga perahu dan dan tempat pembuangan sampah penduduk
kapal
 Akibat pasang surut air laut dapat berpengaruh terhadap
sebagian wilayah daratan (menjadikan banjir sesaat)
3 Jalan Lingkungan  Telah tedapat jalan lingkungan pada kawasan  Jalan lingkungan sangat sulit untuk dilakukan pelebaran dan
permukiman dengan konstruksi beton dan kayu, dapat peningkatan karena keterbatasan lahan
dipergunakan oleh kendaraan roda dua
 Perlengkapan dan fasilitas jalan lingkungan belum tersedia
 Jalan lingkungan pada telah terhubung dengan jalan dengan baik
utama
 Tidak ada pembatas antara Jalan lingkungan dengan
perumahan, sehingga beresiko terhadap penghuni perumahan
 Belum memiliki saluran drainase pada sisi jalan sehingga

Laporan Akhir II -30


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


menimbulkan genangan air yang dapat merusak kualitas jalan
lingkungan
4 Air Minum  Potensi pelanggan air minum pada Kampung Nelayan  Kebutuhan Air minum berasal dari Isi ulang dan air hujan.
cukup tinggi
 Kawasan belum terjangkau oleh pelayanan PDAM.
5 Drainase  Air sungai/parit dapat dijadikan sebagai tempat  Tidak ada saluran drainase
pembuangan air
 Topografi kawasan yang relatif datar menyulitkan air untuk
mengalir.
 Pembuangan air hujan dan limbah rumah tangga ke daerah
genangan.
6 Air Limbah  Sebagian penduduk mamanfaatkan alami untuk  Semua bangunan rumah tangga tidak memiliki prasarana dan
membuang limbah cair sarana air limbah
 Sebagian masyarakat membuang limbah padat dan cair
langsung ke sungai dan daerah genangan
 Kesadaran warga dalam menjaga kebersihan masih kurang
 Belum memiliki sistem sanitasi yang baik
7 Sampah  Telah tersedia sarana TPS sederhana  Sebagian besar warga membuang sampah di tempat terbuka
dan langsung ke sungai/parit
 Potensi timbulan sampah meningkat seiring dengan
semakin tingginya kegiatan perkeonomian penduduk  Tidak memiliki sistem pengelolaan sampah.
 Genangan air yang terjadi menyebabkan timbulnya timbunan
sampah
 Minat warga dalam penerapan pola 3 – R masih kurang
8 Penataan Bangunan  Tingkat pertumbuhan penduduk dan bangunan cukup  Kondisi perumahan belum tertata dengan baik
tinggi
 Sebagian besar bangunan yang telah berdiri belum memiliki

Laporan Akhir II -31


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


 Ciri khas bangunan permukiman nelayan sebagai daya izin bangunan
tarik kawasan
 Kerapatan bangunan di sekitar sempadan sungai sangat rapat
 Penataan kawasan dapat meningkatkan daya tarik
 Sebagian besar bangunan merupakan bangunan semi
kawasan menjadi kawasan wisata
permanen dengan menggunakan bahan dari kayu

Laporan Akhir II -32


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir II -33


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.3.5 Potensi dan Permasalahan Blok 4

Matriks Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada Kawasan Prioritas (BLOK 4)

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


1 Permukiman  Aksesibilitas permukiman cukup mudah untuk di jangkau.  Ada 22 unit bangunan rumah di bantaran Parit A
 Lokasi ini berdekatan dengan pusat kegiatan  Ada 18 unit bangunan rumah di bantaran Parit B
perdagangan yang memiliki akses yang cukup tinggi.  Seluruh bangunan rumah merupakan bangunan semi
 Berada pada jalur parit (sungai), memudahkan permanen dengan bahan bangunan dari kayu, sehingga mudah
transportasi sungai. mengalami kebakaran.

2 Sungai  Sebagai sarana transportasi dan dermaga perahu dan  Air sungai tidak dapat dikonsumsi
kapal  Menyulitkan dalam penyediaan sarana dan prasarana
permukiman.
 Sungai dijadikan tempat pembuangan limbah rumah tangga
dan tempat pembuangan sampah penduduk
3 Jalan Lingkungan  Telah tedapat jalan lingkungan pada kawasan  Belum memiliki saluran drainase pada sisi jalan sehingga
permukiman dengan perkerasan beton dan hanya dapat menimbulkan genangan air yang dapat merusak kualitas jalan
dipergunakan oleh kendaraan roda dua lingkungan
 Jalan lingkungan pada Kampung Nelayan telah terhubung  Jalan lingkungan sangat sulit untuk dilakukan pelebaran dan
dengan jalan utama peningkatan karena keterbatasan lahan
 Perlengkapan dan fasilitas jalan lingkungan belum tersedia
dengan baik
 Tidak ada pembatas antara Jalan lingkungan dengan
perumahan, sehingga beresiko terhadap penghuni perumahan
4 Air Minum  Potensi pelanggan air minum pada Kampung Nelayan  Kebutuhan Air minum berasal dari Isi ulang dan air hujan.
cukup tinggi  Kawasan belum terjangkau oleh pelayanan PDAM.

Laporan Akhir II -34


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


5 Drainase  Terdapat saluran drainase alami (parit) yang dapat  Topografi kawasan yang relatif datar menyulitkan air untuk
dipergunakan sebagai outlet mengalir.
 Jalan lingkungan yang kondisinya banyak yang rusak dan
sempit dan tidak memiliki drainase.
6 Air Limbah  Sebagian penduduk menggunakan salurain drainase  Tidak semua bangunan rumah tangga memiliki prasarana dan
alami (sungai) untuk membuang limbah cair sarana air limbah
 Sebagian masyarakat membuang limbah padat dan cair
langsung ke sungai
 Kesadaran warga dalam menjaga kebersihan masih kurang
 Belum memiliki sistem sanitasi yang baik
7 Sampah  Telah tersedia sarana TPS sederhana  Sebagian besar warga membuang sampah di tempat terbuka
dan langsung ke sungai (parit)
 Tidak memiliki sistem pengelolaan sampah.
 Minat warga dalam penerapan pola 3 – R masih kurang
8 Penataan Bangunan  Tingkat pertumbuhan penduduk dan bangunan di  Pertumbuhan bangunan yang cukup tinggi di kawasan yang
Kampung Nelayan cukup tinggi belum terencana dan belum tertata
 Sebagian besar bangunan yang telah berdiri belum memiliki
izin bangunan
 Kerapatan bangunan di sekitar sempadan sungai sangat rapat
 Sebagian besar bangunan merupakan bangunan semi
permanen dengan mengguunakan bahan dari kayu

Laporan Akhir II -35


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir II -36


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.3.6 Potensi dan Permasalahan Blok 5

Matriks Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada KawasanPrioritas (BLOK 5)


NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN
1 Permukiman  Letak permukiman dekat dengan pusat kegiatan  Tekstur tanah berupa tanah liat menyebabkan pembangunan
 Aksesibilitas permukiman cukup mudah untuk di jangkau. kawasan permukiman memerlukan konstruksi khusus dengan
biaya yang cukup tinggi
 Lokasi ini berdekatan dengan pusat kegiatan
perdagangan yang memiliki akses yang cukup tinggi.  Sebagian bangunan rumah merupakan bangunan semi
permanen dengan bahan bangunan dari kayu, sehingga mudah
 Terdapat lahan yang masih kosong untuk pengembangan mengalami kebakaran.
perumahan

2 Sungai  Sebagian kecil penduduk memanfaatkan Sungai  Air sungai tidak dapat dikonsumsi
Pangabuan sebagai akses menuju kawasan lain dan juga  Akibat pasang surut air laut dapat berpengaruh terhadap
akses menuju laut sebagian wilayah daratan (menjadikan banjir sesaat)
 Sungai dijadikan tempat pembuangan limbah rumah tangga
oleh sebagian penduduk
3 Jalan Lingkungan  Telah tedapat jalan lingkungan pada kawasan  Belum memiliki saluran drainase pada sisi jalan sehingga
permukiman dengan perkerasan beton dan hanya dapat menimbulkan genangan air yang dapat merusak kualitas jalan
dipergunakan oleh kendaraan roda dua lingkungan
 Jalan lingkungan telah terhubung dengan jalan utama  Jalan lingkungan sangat sulit untuk dilakukan pelebaran dan
peningkatan karena keterbatasan lahan
 Lebar jalan lingkungan relatif kurang memenuhi standar dan
sulit dilalui bila kendaraan roda dua berpapasan
 Perlengkapan dan fasilitas jalan lingkungan belum tersedia
dengan baik
4 Air Minum  Potensi pelanggan air minum cukup tinggi  Kebutuhan Air minum berasal dari Isi ulang dan air hujan.

Laporan Akhir II -37


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


 Belum seluruhnya terjangkau oleh pelayanan PDAM.
 Kualitas air minum yang berasal dari PDAM belum baik.
5 Drainase  Sungai/parit dapat dijadikan sebagai saluran drainase  Topografi kawasan yang relatif datar menyulitkan air untuk
untuk air hujan maupun pembuangan air limbah rumah mengalir.
tangga  Belum ada saluran drainase, pembuangan air ke lahan kosong
yang lebih rendah
6 Air Limbah  Sebagian penduduk menggunakan salurain drainase  Tidak semua bangunan rumah tangga memiliki prasarana dan
alami (sungai) untuk membuang limbah cair sarana air limbah
 Sebagian masyarakat membuang limbah padat dan cair
langsung ke sungai
 Kesadaran warga dalam menjaga kebersihan masih kurang
 Belum memiliki sistem sanitasi yang baik
7 Sampah  Telah tersedia sarana TPS sederhana  Sebagian besar warga membuang sampah di tempat terbuka
dan langsung ke sungai
 Tidak memiliki sistem pengelolaan sampah.
 Minat warga dalam penerapan pola 3 – R masih kurang
 Genangan air yang terjadi menyebabkan timbulnya timbunan
sampah
8 Penataan Bangunan  Ciri khas bangunan permukiman nelayan sebagai daya  Pertumbuhan bangunan yang cukup tinggi di kawasan yang
tarik kawasan belum terencana dan belum tertata
 Penataan kawasan dapat meningkatkan daya tarik  Sebagian besar bangunan yang telah berdiri belum memiliki
kawasan menjadi kawasan wisata izin bangunan
 Sebagian besar bangunan merupakan bangunan semi
permanen dengan mengguunakan bahan dari kayu

Laporan Akhir II -38


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir II -39


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.3.7 Potensi dan Permasalahan Blok 6

Matriks Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada KawasanPrioritas (BLOK 6)

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


1 Permukiman  Aksesibilitas permukiman cukup mudah untuk di jangkau.  Tekstur tanah berupa tanah liat menyebabkan pembangunan
kawasan permukiman memerlukan konstruksi khusus dengan
 Masih terdapat lahan untuk pengembangan permukiman
biaya yang cukup tinggi
 Seluruh bangunan rumah merupakan bangunan semi
permanen dengan bahan bangunan dari kayu, sehingga mudah
mengalami kebakaran.
 Fisik wilayah sebagian besar ± 60% merupakan rawa dan
genangan, sedangkan sisanya 40% berupa lahan kering
2 Sungai  Kawasan berada pada pertemuan parit dengan Sungai  Air sungai tidak dapat dikonsumsi
Pengabuan sebagai sarana transportasi air
 Akibat pasang surut air laut dapat berpengaruh terhadap
 Memiliki potensi perikanan yang dapat menunjang wilayah daratan (menjadikan banjir sesaat)
perekonomian penduduk dan juga untuk konsumsi
 Sungai dijadikan tempat pembuangan limbah rumah tangga
 Terdapat kawasan PPI dan juga processing hasil dan tempat pembuangan sampah penduduk
perikanan
 Sungai Pangabuan dimanfaatkan penduduk sebagai akses
menuju kawasan lain dan juga akses menuju laut
3 Jalan Lingkungan  Telah tedapat jalan lingkungan pada kawasan  Kondisi jalan rusak, bergelombang, sebagian tergenang pada
permukiman dengan perkerasan beton dapat lokasi tertentu pada saat air laut/sungai pasang
dipergunakan oleh kendaraan roda dua dan juga mobil
 Jalan lingkungan telah terhubung dengan jalan utama
 Dilalui oleh Jalan Kolektor sekunder dan berdekatan

Laporan Akhir II -40


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


dengan kawasan pelabuhan.
 Dilengkapi dengan adanya jembatan menuju pelabuhan
4 Air Minum  Potensi pelanggan air minum pada kawasan cukup tinggi  Kebutuhan Air minum berasal dari Isi ulang dan air hujan.
 Belum seluruhnya terjangkau oleh pelayanan PDAM.
 Kualitas air minum yang berasal dari PDAM belum baik.
5 Drainase  Terdapat saluran drainase alami (sungai/parit) yang  Sebagian kecil kawasan memiliki saluran drainase namun tidak
dapat dipergunakan sebagai outlet terintegrasi
 Terdapat saluran drainase pada jalan utama  Topografi kawasan yang relatif datar menyulitkan air untuk
mengalir.
 Kondisi drainase di jalan utama tidak baik, sering terjadi
genangan di badan jalan pada saat air laut/sungai pasang
6 Air Limbah  Sebagian penduduk menggunakan salurain drainase  Tidak semua bangunan rumah tangga memiliki prasarana dan
alami (sungai) untuk membuang limbah cair sarana air limbah
 Sebagian masyarakat membuang limbah padat dan cair
langsung ke sungai
 Kesadaran warga dalam menjaga kebersihan masih kurang
 Belum memiliki sistem sanitasi yang baik
7 Sampah  Telah tersedia sarana TPS sederhana  Sebagian besar warga membuang sampah di tempat terbuka
dan langsung ke sungai
 Tidak memiliki sistem pengelolaan sampah.
 Minat warga dalam penerapan pola 3 – R masih kurang
 Genangan air yang terjadi menyebabkan timbulnya timbunan

Laporan Akhir II -41


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


sampah
8 Penataan Bangunan  Tingkat pertumbuhan penduduk dan bangunan di  Pertumbuhan bangunan yang cukup tinggi di kawasan yang
Kampung Nelayan cukup tinggi belum terencana dan belum tertata
 Kerapatan bangunan disekitar jalan utama masih belum  Sebagian besar bangunan yang telah berdiri belum memiliki
terlalu rapat izin bangunan
 Sebagian besar bangunan merupakan bangunan semi
permanen dengan menggunakan bahan dari kayu

Laporan Akhir II -42


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir II -43


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.3.8 Potensi dan Permasalahan Blok 7

Matriks Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada KawasanPrioritas (BLOK 7)

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


1 Permukiman  Aksesibilitas permukiman cukup mudah untuk di jangkau.  Fisik wilayah sebagian besar ± 60% merupakan rawa dan
genangan, sedangkan sisanya 40% berupa lahan kering
 Masih terdapat lahan untuk pengembangan permukiman
 Tekstur tanah berupa tanah liat menyebabkan pembangunan
kawasan permukiman memerlukan konstruksi khusus dengan
biaya yang cukup tinggi
 Sebagian bangunan rumah merupakan bangunan semi
permanen dengan bahan bangunan dari kayu, sehingga mudah
mengalami kebakaran.
2 Sungai  Sungai/parit dapat dijadikan sebagai sarana transportasi  Air sungai/parit tidak dapat dikonsumsi
air
 Akibat pasang surut air laut dapat berpengaruh terhadap
 Sebagai outlet pembuangan air hujan/drainase kawasan wilayah daratan (menjadikan banjir sesaat)
 Sungai dijadikan tempat pembuangan limbah rumah tangga
dan tempat pembuangan sampah penduduk
3 Jalan Lingkungan  Telah tedapat jalan lingkungan pada kawasan  Kondisi jalan rusak, bergelombang, sebagian tergenang pada
permukiman dengan perkerasan beton dapat lokasi tertentu pada saat air laut/sungai pasang
dipergunakan oleh kendaraan roda dua dan juga mobil.
 Jalan lingkungan sangat sulit untuk dilakukan pelebaran dan
 Selain itu terdapat juga jalan lingkungan dengan peningkatan karena keterbatasan lahan
konstruksi kayu, hanya dapat dilalui kendaraan roda dua
 Tidak ada pembatas antara Jalan lingkungan dengan
 Jalan lingkungan telah terhubung dengan jalan utama perumahan, sehingga beresiko terhadap penghuni perumahan
 Dilalui oleh Jalan Kolektor sekunder dan berdekatan  Belum memiliki saluran drainase pada sisi jalan sehingga
dengan kawasan pelabuhan. menimbulkan genangan air yang dapat merusak kualitas jalan

Laporan Akhir II -44


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


 Dilengkapi dengan adanya jembatan menuju pelabuhan lingkungan
4 Air Minum  Potensi pelanggan air minum pada kawasan cukup tinggi  Kebutuhan Air minum berasal dari Isi ulang dan air hujan.
 Belum seluruhnya terjangkau oleh pelayanan PDAM.
 Kualitas air minum yang berasal dari PDAM belum baik.
5 Drainase  Terdapat saluran drainase alami (sungai/parit) yang  Sebagian kecil kawasan memiliki saluran drainase namun tidak
dapat dipergunakan sebagai outlet terintegrasi
 Terdapat saluran drainase pada jalan utama  Topografi kawasan yang relatif datar menyulitkan air untuk
mengalir.
 Kondisi drainase di jalan utama tidak baik, sering terjadi
genangan di badan jalan pada saat air laut/sungai pasang
 Kawasan yang berair/genangan dijadikan sebagai pembuangan
drainase.
6 Air Limbah  Sebagian penduduk menggunakan salurain drainase  Tidak semua bangunan rumah tangga memiliki prasarana dan
alami (sungai) untuk membuang limbah cair sarana air limbah
 Sebagian masyarakat membuang limbah padat dan cair
langsung ke sungai
 Kesadaran warga dalam menjaga kebersihan masih kurang
 Belum memiliki sistem sanitasi yang baik
7 Sampah  Telah tersedia sarana TPS sederhana  Sebagian besar warga membuang sampah di tempat terbuka
dan langsung ke sungai/parit dan daerah genangan
 Genangan air yang terjadi menyebabkan timbulnya timbunan
sampah
 Tidak memiliki sistem pengelolaan sampah.

Laporan Akhir II -45


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


 Minat warga dalam penerapan pola 3 – R masih kurang
8 Penataan Bangunan  Tingkat pertumbuhan penduduk dan bangunan di  Pertumbuhan bangunan yang cukup tinggi di kawasan yang
Kampung Nelayan cukup tinggi belum terencana dan belum tertata
 Kerapatan bangunan secara umum masih belum terlalu  Sebagian besar bangunan yang telah berdiri belum memiliki
rapat izin bangunan
 Masih memungkinkan dilakukan penataan bangunan  Sebagian besar bangunan merupakan bangunan semi
khususnya pada kawasan kepadatan rendah. permanen dengan menggunakan bahan dari kayu

Laporan Akhir II -46


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir II -47


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2.3.9 Potensi dan Permasalahan Blok 8

Matriks Potensi dan Permasalahan Pembangunan Pada KawasanPrioritas (BLOK 8)

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


1 Permukiman  Aksesibilitas permukiman cukup mudah untuk di jangkau.  Tekstur tanah berupa tanah liat menyebabkan pembangunan
kawasan permukiman memerlukan konstruksi khusus dengan
 Masih terdapat lahan untuk pengembangan permukiman
biaya yang cukup tinggi
 Sebagian bangunan rumah merupakan bangunan semi
permanen dengan bahan bangunan dari kayu, sehingga mudah
mengalami kebakaran.
 Fisik wilayah sebagian besar ± 50% merupakan rawa dan
genangan, sedangkan sisanya 50% berupa lahan kering
2 Sungai  Kawasan berada pada pertemuan parit dengan Sungai  Air sungai tidak dapat dikonsumsi
Pengabuan sebagai sarana transportasi air
 Akibat pasang surut air laut dapat berpengaruh terhadap
 Berdekatan dengan kawasan PPI dan juga processing wilayah daratan (menjadikan banjir sesaat)
hasil perikanan
 Sungai dijadikan tempat pembuangan limbah rumah tangga
 Sungai Pangabuan dimanfaatkan penduduk sebagai akses dan tempat pembuangan sampah penduduk
menuju kawasan lain dan juga akses menuju laut
3 Jalan Lingkungan  Telah tedapat jalan lingkungan pada kawasan  Kondisi jalan rusak, bergelombang, sebagian tergenang pada
permukiman dengan perkerasan beton dapat lokasi tertentu pada saat air laut/sungai pasang
dipergunakan oleh kendaraan roda dua dan juga mobil
 Jalan lingkungan telah terhubung dengan jalan utama
 Dilalui oleh Jalan Kolektor sekunder dan berdekatan
dengan kawasan pelabuhan.
 Dilengkapi dengan adanya jembatan menuju kawasan

Laporan Akhir II -48


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


lain didalam kawasan prioritas
4 Air Minum  Potensi pelanggan air minum pada kawasan cukup tinggi  Kebutuhan Air minum berasal dari Isi ulang dan air hujan.
 Belum seluruhnya terjangkau oleh pelayanan PDAM.
 Kualitas air minum yang berasal dari PDAM belum baik.
5 Drainase  Terdapat saluran drainase alami (sungai/parit) yang  Sebagian kecil kawasan memiliki saluran drainase namun tidak
dapat dipergunakan sebagai outlet terintegrasi
 Terdapat saluran drainase pada jalan utama  Topografi kawasan yang relatif datar menyulitkan air untuk
mengalir.
 Kondisi drainase di jalan utama tidak baik, sering terjadi
genangan di badan jalan pada saat air laut/sungai pasang
6 Air Limbah  Sebagian penduduk menggunakan salurain drainase  Tidak semua bangunan rumah tangga memiliki prasarana dan
alami (sungai) untuk membuang limbah cair sarana air limbah
 Sebagian masyarakat membuang limbah padat dan cair
langsung ke sungai
 Kesadaran warga dalam menjaga kebersihan masih kurang
 Belum memiliki sistem sanitasi yang baik
7 Sampah  Telah tersedia sarana TPS sederhana  Sebagian besar warga membuang sampah di tempat terbuka
dan langsung ke sungai
 Tidak memiliki sistem pengelolaan sampah.
 Minat warga dalam penerapan pola 3 – R masih kurang
 Genangan air yang terjadi menyebabkan timbulnya timbunan
sampah

Laporan Akhir II -49


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

NO ASPEK POTENSI PERMASALAHAN


8 Penataan Bangunan  Tingkat pertumbuhan penduduk dan bangunan di  Pertumbuhan bangunan yang cukup tinggi di kawasan yang
Kampung Nelayan cukup tinggi belum terencana dan belum tertata
 Kerapatan bangunan disekitar jalan utama masih belum  Sebagian besar bangunan yang telah berdiri belum memiliki
terlalu rapat izin bangunan
 Penataan bangunan masih tidak terlalu sulit, khususnya  Sebagian besar bangunan merupakan bangunan semi
pada kawasan kepadatan rendah/sedang permanen dengan menggunakan bahan dari kayu

Laporan Akhir II -50


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir II -51


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

POTENSI YANG ADA DI KAWASAN PERENCANAAN

Saluran pembuangan dari mck

Hasil perikanan yang


Sudah adanya sarana mck berasama,
berlimpah, baik yang dapat
hanya saja kondisi bangunan dan
langsung di jual, ataupun di
saluran pembuangan yang masih
proses untuk di jadikan
langsung ke area sungai
produk makanan lainnya.
B
C

A
A
Sudah adanya air bersih,
hanya saja masih dikelola B
oleh perorangan dan
distribusi yang masih
terbatas.
HASIL OBSERVASI LAPANGAN

POTENSI YANG ADA DI KAWASAN PERENCANAAN

B
Sudah adanya hydrant disekitar
kawasan perencanaan, yang
disebarkan di beberapa titik rawan
kebakaran.

HASIL OBSERVASI LAPANGAN

Laporan Akhir II -52


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

PERMASALAHAN YANG ADA DI KAWASAN PERENCANAAN

Kondisi jalan rusak memperlambat pergerakan masyarakat dalam


melakukan setiap kegiatan di area sekitar kampung nelayan.

Selain jalan yang rusak, saluran drainase juga belum tersedia.


Sehingga air yang seharusnya dialirkan pada saluran drainase masih
mengumpul di beberapa titik terendah area kampung nelayan.
A

Bangunan yang cukup padat, sehingga


akses menuju ke bagian sungai utama
terhalangi.
B
B
A C
Jalan utama kondisi
C rusak berat, matrial
jalan tanah
berlubang

Jalan utama kondisi


sangat baik, matrial
jalan aspal
HASIL OBSERVASI LAPANGAN

PERMASALAHAN YANG ADA DI KAWASAN PERENCANAAN

B Banyaknya pembangunan
bangunan baru di atas
sungai

A
B
Membuang sampah belum pada tempatnya
adalah salah satu masalah yang harus
segera di tangani,

HASIL OBSERVASI LAPANGAN

Laporan Akhir II -53


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir II -54


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

KAJIAN KEBIJAKAN
Bab

03
PEMBANGUNAN PERMUKIMAN DAN
INFRASTRUKTUR PERKOTAAN

Laporan Akhir III - 1


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

3.1 ARAHAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN


Dalam penataan ruang Kabupaten Tanjung Jabung Barat tujuan perencanaan
ruang yaitu “Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Untuk Mewujudkan Kabupaten
Tanjung Jabung Barat sebagai Pusat Perdagangan dan Jasa, Perikananm
Pertanian dan Pertambangan yang berwawasan lingkungan”. Sedangkan
kebijakan dalam penataan ruang wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat meliputi:

a. Perwujudan pembangunan yang merata dan berimbang dalam rangka mengurangi


kesenjangan antar wilayah;
b. Pemantapan sistem perekonomian perkotaan yang bertumpu pada sektor perdagangan
dan jasa;
c. Perwujudan sistem perkotaan dan pusat distribusi yang mampu memacu pertumbuhan
wilayah;
d. Perwujudan pertanian untuk mendukung pengembangan perekonomian kabupaten;
e. Pengembangan dan pemanfaatan potensi perikanan secara optimal;
f. Perwujudan pembangunan yang berkelanjutan serta memelihara kelestarian
lingkungan hidup;
g. Perwujudan sistem jaringan prasarana seluruh wilayah kabupaten;
h. Peningkatan dan pengembangan potensi pertambangan yang berwawasan lingkungan;
dan
i. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan Negara.

Strategi terkait dalam pembangunan perumahan dan infrastruktur perkotaan


yang merupakan penjabaran dari kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten
Tanjung Jabung Barat yaitu sebagai berikut :

a. Strategi perwujudan pembangunan yang merata dan berimbang dalam rangka


mengurangi kesenjangan antar wilayah yaitu mengembangkan pusat – pusat kegiatan
untuk mewujudkan keterpaduan, keterkaitan dam keseimbangan perkembangan antar
wilayah, memantapkan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), mendorong kawasan perkotaan
dan pusat pertumbuhan agar lebih kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan
wilayah sekitarnya dan mendorong perkembangan kawasan agar lebih mampu
mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah terutama dalam membuka daerah yang
terisolir dan mencukupi kebutuhan wilayah yang bertetangga;

Laporan Akhir III - 2


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

b. Strategi perwujudan sistem perkotaan dan pusat distribusi yang mampu memacu
pertumbuhan wilayah yaitu mengembangkan Kota Kuala Tungkal sebagai kota modern
untuk memicu pertumbuhan beberapa kawasan perkotaan lainnya, menjamin kawasan
– kawasan fungsional kota yang akan dikembangkan dengan sarana dan prasarana yang
handal, menyiapkan dukungan prasarana dan sarana yang memadai dalam mendiring
tumbuhnya kawasan perkotaan, menyiapkan dukungan prasarana dan sarana yang
memadai dalam mendorong tumbuhnya kawasan perkotaan dan mempersiapkan sistem
penyediaan perumahan dan permukiman yang handal guna mengantisipasi
pertumbuhan kawasan perkotaan;

c. Strategi perwujudan sistem jaringan prasarana seluruh wilayah kabupaten yaitu


menata sistem transportasi yang membentuk sistem jaringan pergerakan antar pusat
kegiatan dan wilayah pelayanannya, mengembangkan terminal angkutan penumpang,
menata sistem transportasi kabupaten dengan simpul-simpul transportasi regional dan
nasional, mengembangkan sistem transportasi kawasan perdesaan – perkotaan,
mengembangkan sistem irigasi yang menjamin tersediannya air sepanjang tahun,
terutama untuk mengairi pertanian lahan basah, mengembangkan kawasan
permukiman yang memiliki askesibilitas dan pelayanan infrastruktur yang memadai
dan mengoptimalkan fungsi prasarana lainnya berupa sistem energi, sistem jaringan
telekomunikasi, sistem jaringan sumber daya air, dan sistem pengelolaan lingkungan
hingga keseluruh wiayah Kabupaten.

Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, terdapat
hirarki pusat pelayanan. Dalam hirarki pusat pelayanan wilayah, perkotaan Kuala
Tungkal termasuk dalam Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Pusat Kegiatan Wilayah
(PKW) merupakan kawasan perkotaan fungsi sebagai pusat pertumbuhan utama
dengan orientasi kegiatan berupa pemerintahan, perdagangan, transportasi dan
pelayanan masyarakat serta sebagai pintu gerbang perdagangan ke luar wilayah
Kabupaten dengan kelengkapan sarana dan tingkat pertumbuhan penduduk yang
sangat pesat. Perkotaan Kuala Tungkal berfungsi sebagai pusat pemerintahan skala
kabupaten, perdagangan da jasa skala regional, pusat kesehatan, pusat
pemerintahan skala regional, pusat rekresi, pusat olahraga, pusat wisata dan simpul
pelayanan transportasi. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten
Tanjung Jabung Barat perkotaan Kuala Tungkal berada pada Kecamatan Tungkal Ilir
dan desa – desa yang termasuk dalam Pusat Kegiatan Wilayah yaitu Desa Tungkal IV
Kota, Desa Tungkal II, Desa Tungkal III dan Desa Tungkal Harapan.

Laporan Akhir III - 3


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Strategi penataan ruang wilayah kabupaten merupakan penjabaran kebijakan


penataan ruang wilayah kabupaten ke dalam langkah-langkah operasional untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.

Strategi penataan ruang wilayah kabupaten Tanjung Jabung Barat berfungsi :

 sebagai dasar untuk penyusunan rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan
penetapan kawasan strategis kabupaten;
 memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam RTRW kabupaten;
 sebagai dasar dalam penetapan arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
kabupaten; dan
 Mengarahkan fungsi ruang agar dapat berlangsung harmonis dalam pemanfaatan
ruangnya
Strategi penataan ruang wilayah kabupaten dirumuskan berdasarkan :

 Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten;


 Kapasitas sumber daya wilayah kabupaten dalam melaksanakan kebijakan penataan
ruangnya; dan
 Ketentuan peraturan perundang-undangan.

Strategi penataan ruang wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dirumuskan


dengan kriteria

 Memiliki kaitan logis dengan kebijakan penataan ruang;


 Tidak bertentangan dengan tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah
nasional, dan provinsi;
 Jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada
wilayah kabupaten bersangkutan secara efisien dan efektif;
 Harus dapat dijabarkan secara spasial dalam rencana struktur dan rencana pola ruang
wilayah kabupaten; dan
 Tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Strategi penataan ruang wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat adalah:


1) perwujudan pembangunan yang merata dan berimbang dalam rangka mengurangi
kesenjangan antar wilayah;

a) mengembangkan pusat-pusat kegiatan untuk mewujudkan keterpaduan, keterkaitan


dan keseimbangan perkembangan antar wilayah;

Laporan Akhir III - 4


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

b) memantapkan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan memantapkan

c) PPK dan PPL dengan penyediaan sarana dan prasarana wilayah;

d) mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar dapat kompetitif dan
lebih efektif dalam pengembangan wilayah di sekitarnya; dan

e) mendorong perkembangan kawasan agar lebih mampu mempercepat pertumbuhan


ekomoni wilayah terutama dalam membuka daerah yang terisolir dan mencukupi
kebutuhan wilayah yang bertetangga.

2) Strategi pemantapan sistem perekonomian perkotaan yang bertumpu pada sektor


perdagangan dan jasa meliputi:

a) meningkatkan dan mengembangkan pusat pusat perdagangan dan jasa kawasan


perkotaan;
b) meningkatkan kualitas pasar tradisional yang memiliki potensi untuk dikembangkan
menjadi pusat perdagangan dan jasa;
c) meningkatkan dan mengembangkan kawasan strategis secara ekonomi sebagai pusat
kegiatan wilayah penggerak kegiatan perdagangan dan jasa pada skala
regional/wilayah; dan
d) menciptakan iklim usaha dan peluang investasi yang kondusif.
3) Strategi perwujudkan sistem perkotaan dan pusat distribusi yang mampu memacu
pertumbuhan wilayah meliputi:

a) mengembangkan Kota Kuala Tungkal sebagai Kota Modern untuk memicu


pertumbuhan beberapa kawasan perkotaan lainnya;

b) menjamin kawasan-kawasan fungsional kota yang akan dikembangkan dengan


sarana dan prasarana yang handal;

c) menyiapkan dukungan prasarana dan sarana yang memadai dalam mendorong


tumbuhnya kawasan perkotaan;dan

d) mempersiapkan sistem penyediaan perumahan dan permukiman yang handal guna


mengantisipasi pertumbuhan kawasan perkotaan.

4) Strategi perwujudan pertanian untuk mendukung pengembangan perekonomian


kabupaten meliputi:

Laporan Akhir III - 5


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

a) meningkatkan produktivitas hasil pertanian melalui intensifikasi lahan;

b) mengintegrasikan pengembangan kawasan – kawasan pertanian dengan


mengoptimalkan fungsi kawasan agropolitan;

c) melakukan penguatan pemasaran hasil pertanian melalui peningkatan sumber daya


manusia dan kelembagaan serta fasilitasi sertifikasi yang dibutuhkan;

d) meningkatkan kemampuan pelayanan prasarana dan sarana yang mampu mendorong


investasi pada kegiatan industri;dan

e) menjamin kelancaran aksesibilitas antara kawasan sentra dan pendukungnya dengan


penyediaan sistem prasarana yang handal mendukung kegiatan pertanian, dan
perikanan

5) Strategi pengembangan pemanfaatan potensi perikanan secara optimal, meliputi:

a) Mengoptimalkan pemanfaatan perikanan tangkap, budidaya laut, air payau dan


tawar;
b) Memanfaatkan pembangunan sarana dan prasarana perikanan;dan
c) mendorong tumbuhnya sektor – sektor sekunder dan tersier yang terintegrasi
dengan pengembangan kawasan minapolitan;
d) Mengembangkan industri pengolaan ikan

6) Peningkatan potensi sumberdaya alam secara berkelanjutan yang berbasis Pelestarian


Lingkungan Hidup dan mitigasi bencana sebagai sektor penggerak perekonomian
wilayah meliputi:

a) mengembalikan fungsi kawasan lindung yang rusak dan mengalami penurunan


kualitas;
b) mengendalikan dan pemantapan kawasan lindung sesuai dengan fungsi masing-
masing, baik untuk melindungi kawasan bawahannya, melindungi kawasan
perlindungan setempat, memberi perlindungan terhadap keanekaragaman flora dan
fauna dan ekosistemnya, serta melindungi kawasan yang rawan bencana alam;
c) melakukan pengendalian, pengawasan, pengelolaan, dan pemanfaatan potensi
sumberdaya alam yang berkelanjutan dan berbasis pelestarian lingkungan hidup;
dan

Laporan Akhir III - 6


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

d) memantapkan dan mempertahankan kawasan lindung serta meningkatkan upaya


pengelolaan lingkungan hidup yang terpadu dan berkesinambungan.
7) Strategi perwujudan sistem jaringan prasarana seluruh wilayah kabupaten meliputi:

a) menata sistem transportasi yang membentuk sistem jaringan pergerakan antar


pusat kegiatan dan wilayah pelayanannya;
b) mengembangkan terminal angkutan penumpang;
c) menata sistem transportasi kabupaten dengan simpul-simpul transportasi regional
dan nasional;
d) mengembangkan sistem transportasi kawasan perdesaan – perkotaan;
e) mengembangkan sistem irigasi yang menjamin tersediannya air sepanjang tahun,
terutama untuk mengairi pertanian lahan basah;
f) mengembangkan kawasan permukiman yang memiliki askesibilitas dan pelayanan
infrastruktur yang memadai; dan
g) mengoptimakan fungsi prasarana lainnya berupa sistem energi, sistem jaringan
telekomunikasi, sistem jaringan sumber daya air, dan sistem pengelolaan
lingkungan hingga keseluruh wiayah Kabupaten.
8) Strategi peningkatan dan pengembangan potensi pertambangan yang berwawasan
lingkungan meliputi:

a) mengoptimalkan pemanfaatan potensi pertambangan dan penggalian yang tetap


memperhatikan kelestarian lingkungan.

b) memanfaatkan pembangunan sarana dan prasarana pendukung potensi


pertambangan dan penggalian.

c) mengembangkan industri pengolahan hasil tambang dan pengalian mengembangkan


pusat-pusat energi berbasis pertambangan.

9) Strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf i, meliputi:

a) meningkatkan pelayanan pendidikan;


b) meningkatkan dan mengembangkan kualitas pelayanan kesehatan;
c) memberdayaan masyarakat perkotaan dan perdesaan;
d) mengatur dan mengendalikan pertumbuhan serta distribusi penduduk secara merata
dan sesuai daya dukung lingkungan; dan

Laporan Akhir III - 7


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

e) mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung pengembangan pendidikan dan


pelayanan kesehatan secara merata dan sesuai skala pelayanan kegiatan
10) Strategi peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan Negara
meliputi:

a) mendukung penetapan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan


dan keamanan;
b) mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar Kawasan
Strategis Nasional untuk menjaga fungsi Pertahanan dan Keamanan;
c) mengembangkan Kawasan Lindung dan/atau Kawasan Budidaya tidak terbangun di
sekitar Kawasan Strategis Nasional dengan kawasan budidaya terbangun; dan
d) menjaga dan memelihara aset-aset Pertahanan/TNI.

3.1.1 Rencana Tata Ruang Kota Kuala Tungkal

Di dalam Rencana Tata Ruang Kota Kuala Tungkal merupakan Ibukota


Kabupaten Tanjung Barat Tahun 2005 – 2014, Kota Kuala Tungkal diarahkan
berfungsi sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Tanjung Jabung Barat (eksternal),
dan terbentuknya pusat-pusat kegiatan kota yang terintegrasi yaitu pusat kota,
pusat perdagangan dan jasa, industri, pusat pelayanan sosial, terminal dan
permukiman (fungsi internal).

Unsur-unsur utama rencana pemanfaatan ruang Kota Kuala Tungkal dirinci


sebagai berikut :

1. Pemanfaatan ruang untuk kawasan permukiman tersebar di seluruh wilayah kota


dengan pola linier mengikuti jaringan jalan, dan mengelompok pada pusat-pusat
kegiatan atau pada pusat kota, bagian wilayah kota, atau pada unit-unit lingkungan
terkecil di bawahnya;
2. Pemanfaatan ruang untuk fasilitas pendidikan dialokasikan sesuai dengan skala
pelayanannya, baik untuk tingkat SD, SLTP maupun SLTA, namun demikian dalam
penerapan pengembangannya lebih menekankan pada pemanfaatan fasilitas yang ada;
3. Pemanfaatan ruang fasilitas kesehatan skala kota dan regional diarahkan disekitar
pusat kota;
4. Pemanfaatan ruang untuk fasilitas peribadatan seperti halnya fasilitas pendidikan
dialokasikan sesuai dengan skala pelayanannya;

Laporan Akhir III - 8


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

5. Pemanfaatan ruang untuk pusat perdagangan dan jasa skala kota (Central Bussiness
Districk) pengembangan lokasinya pada kawasan pusat kota, sedangkan kegiatan
perdagangan untuk skala bagian wilayah kota dan lingkungan permukiman alokasinya
disebar sesuai dengan skala pelayannya masing-masing di setiap bagian wilayah kota;
6. Pemanfaatan ruang untuk terminal regional diarahkan disekitar pusat kegiatan kota;
7. Untuk pelayanan yang bersifat khusus seperti SPBU, TPA, Instalasi PDAM dan Instalasi
PLN ditempatkan pada lokasi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing fasilitas
tersebut. SPBU lokasinya diarahkan dijalan arteri primer dekat dengan terminal
regional, TPA dialokasikan di Kecamatan Batara;
8. Penggunaan lahan untuk konservasi atau jalur hijau menempati lahan pada sekiatr
daerah aliran sungai dan daerah berawa/lahan gambut. Sedangkan untuk penempatan
taman lebih diarahkan pada estetika lingkungan kota. Lokasi taman ini dialokasikan
sesuai dengan tingkat pelayannya mulai dari taman kota, taman tingkat BWK dan taman
lingkungan;
9. Untuk kawasan militer pengembangnnya diarahkan disekitar jalan arteri primer;
10. Untuk jaringan jalan pemanfaatanya lebih ditujukan pada upaya untuk meningkatkan
aksesibiltas penduduk kota serta meningkatkan pelayanan transportasi agar dapat
memberikan tingkat pelayanan yang optimal;
11. Pemanfaatan ruang untuk lahan cadangan pengembangan kota pada dasarnya
merupakan lahan-lahan potensial bagi pengembangan fisik kota yang hingga akir tahun
perencanaan belum akan dimanfaatkan, oleh sebab itu untuk sementara lahan-lahan
tersebut dapat difungsikan sebagai lahan kebun campuran atau kegiatan pertanian.

3.1.2 Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman


Kabupaten Tanjung Jabung Barat

Dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengembangan perumahan dan


permukiman di Kabupaten Tanjung Jabung Barat akan diselaraskan dengan situasi dan
kondisi yang akan dihadapi dalam 20 (dua puluh) tahun yang akan datang. Visi
pembangunan dan pengembangan permukiman Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun
2011 – 2031 yaitu “Setiap Rumah Tangga Menghuni Rumah Yang Layak dan
Berkelanjutan”. Rumah yang layak dan berkelanjutan dapat dilihat dari perkembangan
ekonomi dan layak diukur dari kemajuan, kemandirian, keadilan dan kesejahteraan
keluarga yang maju juga ditandai oleh peran serta mereka secara nyata dan efektif dalam
segala aspek kehidupan. Untuk membangun kemandirian maka secara mutlak harus

Laporan Akhir III - 9


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

dibangun pula kemajuan ekonomi. Kemampuan untuk berdaya saing menjadi kunci untuk
mencapai kemajuan sekaligus kemandirian.

Dalam mewujudkan visi pembangunan dan pengembangan perumahan dan


permukiman Kabupaten Tanjung Jabung Barat dapat ditempuh dengan beberapa
misi diantaranya yaitu :

a. Mewujudkan ekonomi kerakyatan sehingga masyarakat berpenghasilan rendah memiliki


kemampuan membangun ekonomi keluarga dan mandiri;

b. Mewujudkan pembangunan yang merata dan berkeadilan dengan membangun daerah


yang tertinggal, mengurangi kesenjangan sosial secara menyeluruh, keberpihakan
kepada masyarakat berpenghasilan rendah, menanggulangi kemiskinan secara bertahap,
menyediakan akses yang sama bagi masyarakat terhadap berbagai pelayanan sosial
ekonomi serta sarana dan prasarana ekonomi dan menghapuskan diskriminasi dalam
berbagai aspek kehidupan;

c. Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dengan menjaga keseimbangan antara


pemanfaatan SDA, keberlanjutan SDA serta lingkungan hidup. Tetap menjaga fungsi
lahan di kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan, daya dukung dan pemanfaatan
ruang untuk perumahan dan permukiman sebagai modal dasar pembangunan;

d. Mewujudkan pembangunan perumahan dan permukiman dengan kepadatan rendah di


kawasan yang memiliki fungsi konservasi (hutan lindung, hutan produksi dan hutan
kota) guna mempertahankan fungsi resapan air, fungsi penyangga dan fungsi ruang
terbuka hijau. Untuk itu diperlukan perangkat kebijakan berupa peraturan pengedalian
peruntukan yang ketat;

e. Mewujudkan pembangunan perumahan dan permukiman di luar sempadan kawasan


koridor sepanjang sungai yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan
melaksanakan perbaikan lingkungan dan reorientasi agar selalu menjaga kebersihan
dari limbah serta keindahan lingkungan sepanjang bantaran sungai secara terpadau dan
selaras denga tata bangunan perumahan dam permukiman asri;

f. Mewujudkan pembangunan perumahan dan permukiman di luar sempada kawasan


koridor sepanjang pantai sehingga perlu ditingkatkan dan diperketat pengawasannya
agar tidak mempengaruhi kerusakan lingkungan alam sepanjang pantai dan mengganggu
aliran sungai di hilir terutama bila dilakukan reklamasi pantai.

Laporan Akhir III - 10


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Untuk mewujudkan visi dan misi pembangunan dan pengembangan


perumahan dan permukiman Kabupaten Tanjung Jabung Barat akan dijabarkan
dalam kebijakan sebagai berikut :

a. Melembagakan sistem penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman


dengan melibatan masyarakat sebagai pelaku utama.

b. Mewujudkan perumahan bagi seluruh lapisan masyarakat sebagai salah satu kebutuhan
dasar manusia.

c. Mewujudkan permukiman yang berkelanjutan, responsif, yang mendukung


pengembangan jati diri, produktivitas dan kemandirian masyarakat.

Strategi untuk melaksanakan kebijakan pembangunan dan pengembangan


perumahan dan permukiman Kabupaten Tanjung Jabung Barat perlu ditindak lanjut
dengan melakukan:

 Pengembangan peraturan perundang – undangan dan pemantapan kelembagaan di


bidang perumahan dan permukiman serta fasilitasi pelaksanaan, penataan ruang
kawasan permukiman yang transparan dan partisipatif yang meliputi penyusunan
bebagai peraturan daerah dalam penyelenggaraan perumahan dan permukiman,
pemantapan kelembagaan dengan mendorong terbentuknya lembaga perumahan dan
permukiman yang handal, responsif serta peningkatan kapasitas pelaku di Kabupaten
Tanjung Jabung Barat, pengawasan konstruksi dan keselamatan bangunan perumahan
dan permukiman.
 Pemenuhan kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau dengan menitik beratkan pada
masyarakat miskin dan berpendapatan rendah dalam bentuk pengembangan sistem
pembiayaan dan pemberdayaan pasar perumahan (pasar primer dan pasar sekunder),
pengembangan perumahan swadaya, pengembangan berbagai jenis dan mekanisme
subsidi perumahan, pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin, pemenuhan kebutuhan
perumahan dan permukiman akibat dampak bencana alam dan kerusuhan, pengelolaan
aset gedung dan rumah negara.
 Perwujudan kondisi lingkungan yang sehat, harmonis dan berkelanjutan berupa
peningkatan kualitas lingkungan permukiman, pengembangan penyediaan prasarana –
sarana lingkungan permukiman dan penerapan tata lingkungan permukiman.

Laporan Akhir III - 11


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 Mendorong pengembangan perumahan di Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat


dengan Pola Kasiba - Lisiba BS pada kawasan pusat pengembangan orde I dan sub pusat
pengembangan Orde II, II dan IV.

 Mengembangkan perumahan secara vertikal pada wilayah kecamatan yang padat


penduduk dengan memperhatika ketersediaan sarana dan prasarana yang ada.

 Meremajakan dan merehabilitasi lingkungan yang menurun kualitasnya dan diupayakan


dikembangkan menjadi Rumah Susun Sederhana yang dilengkapi dengan prasarana dan
sarana lingkungannya.

 Melestarikan lingkungan perumahan lama yang mempunyai karakter khusus antara lain
yang termasuk kawasan lindung cagar budaya dan alih fungsi dan perubahan fisik
bangunan.

3.2 ARAH PENGEMBANGAN PEMBANGUNAN PERKOTAAN

3.2.1 Rencana Program Jangka Panjang Kabupaten Jabung Barat

Dengan memperhatikan kondisi serta situasi Kabupaten Tanjug Jabung Barat,


tantangan yang harus dihadapi dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang serta dengan
memperhatikan modal dasar yang dimiliki dan diamanatkan UU No. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintah Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Jambi
dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional maka visi Kabupaten Tanjung
Jabung Barat yaitu “Tanjung Jabung Barat Maju, Berdaya Saing, Adil dan
Sejahtera”. Visi Kabupaten Tanjung Jabung Barat merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Visi Pembangunan Nasional Provinsi Jambi 2005-2025 dan Visi
Pembangunan Nasional 2005 – 2025 yang kesemuanya secara sistemik dan sinergis
diarahkan pada pencapaian tujuan nasional sebagaimana tertuang dalam
pembukaan UUD 1945.

Berdasarkan visi tersebut maka telah disusun misi sebagai bentuk


penjabaran dari visi yang akan dilaksanakan. Bentuk pewujudan visi terdiri dari 5
(lima) misi yaitu sebagai berikut :

1. Mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berahlak mulia dengan
mengedepankan pembangunan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas dan

Laporan Akhir III - 12


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

berkeadilan, pengendalian jumlah penduduk, meningkatkan penguasaan dan


pemanfaatan iptek, meningkatnya kualitas kehidupan beragama, mengembangkan
budaya yang berbasis iptek dan kearifan lokal.

2. Mewujudkan pemenuuhan kebutuhan infrastruktur yang berkualitas melalui


pembangunan transportasi jalan, jembatan, terminal, pelabuhan, pengairan, listrik,
telepon, infrastruktur sosial dan infrastruktur ekonomi yang maju serta mampu
mendukung kegiatan perekonomian dan pengembangan wilayah secara terpadu.

3. Mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas yang berbasis pada
agroindustri dan sumber daya alam, dengan memperkuat perekonomian daerah
berbasis keunggulan komperatif masing – masing wilayah mennuju keunggulan
kompetitif dengan membangun ketertarikan sistem produksi, distribusi dan pelayanan
serta memperkuat ekonomi kerakyatan yang berbasis agribisnis.

4. Mewujudkan masyarakat dan pemerintahan yanng baik dan menjunjung tinggi


supremasi hukum melalui peningkatan kelembagaan dan budaya demokrasi yang lebih
kokoh, memperkuat peran masyarakat sipil, memperkuat otonomi daerah, menjamin
pengembangan media dan kebebasan media dalam mengkomunikasikan kepentingan
masyarakat, melakukan pembenahan substansi hukum, struktur hukum dan
membudayakan hukum serta menegakan hukum secara adil, konsekuen, tidak
diskriminatif dan memihak rakyat kecil dan dengan menjamin keamanan dan
ketentraman.

5. Mewujudkan pembangunan daerah yang merata, berkeadilan dan berwawasan


lingkungan dengan mengurangi kesenjangan sosial secara menyeluruh, keberpihakan
pada masyarakat, kelompok dan wilayah yang tertinggal, menanggulangi kemiskinan
secara bertahap, menyediakan akses yang sama bagi masyarakat terhadap berbagai
pelayanan sosial serta sarana dan prasarana ekonomi dan menghapuskan diskriminasi
dalam berbagai aspek kehidupan termasuk diskriminasi gender. Menjaga keseimbangan
antarapemanfaatab dab keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan hidup, dengan
tetap menjaga fungsi, daya dukung dan kenyamanan dalan kehidupan di masa kini dan
masa yang akan datang, melalui pemanfaatan ruang yang serasi anatara penggunaan
pemukiman, kegiatan sosial dan ekonomi, dan upaya konservasi; pemanfaatan ekonomi
sumber daya alam dan lingkungan yang berkesinambungan; pengelolaan sumber daya
alam dan lingkungan hidup untuk mendukung kualitas kehidupan, memberikan

Laporan Akhir III - 13


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

keindahan dan kenyamanan kehidupan; pemeliharaan dan pemanfaatan


keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan.

Strategi yang berkaitan dengan pembangunan permukiman dan infrastruktur


berdasarkan rencana pembangunan jangka panjang yaitu sebagai berikut :

 Pembangunan transportasi secara umum sebagai katalisator dalam mendukung


pertumbuhan ekonomi, pengembangan wilayah dan pemersatu wilayah.

 Pembangunan perumahan adalah pemenuhan kebutuhan hunian masyarakat melalui


terciptanya pasar primer yang sehat, efisien, akuntabel, tidak diskriminatif dan
terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

 Penanganan permasalahan persampahan dalam menciptakan hidup yang sehat akibat


meningkatnya pencemaran lingkungan oleh meningkatnya jumlah sampah yang berasal
dari rumah tangga (domestik) dan non rumah tangga yang dibuang ke sungai.

 Transportasi jalan merupakan moda transportasi utama yang berperan dalam


mendukung pembanguna daerah serta mempunyai kontribusi terbesar dalam melayani
mobilitas manusia maupun distribusi komoditi perdagangan dan industri.

 Transportasi laut mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian untuk
meningkatkan peran dan pangsa pasar pelayaran nasional baik pada angkutan dalam
negeri maupun kegiatan ekspor – impor.

 Air bersih merupakan kebutuhan pokok bagi manusia dalam melangsungkan kehidupan
dan meningkatkan kesejahteraan sehingga mampu hidup sehat, bersih dan produktif.

 Pembangunan kelistrikan untuk pengembangan kemampuan pemenuhan kebutuhan


tenaga listrik daerah dan peningkatan kemampuan pelayanannya.

 Pembangunan sarana dan prasarana berdasarkan konsep pengembangan rencana tata


ruang.

Laporan Akhir III - 14


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

RENCANA PEMBANGUNAN KAWASAN


PERMUKIMAN PRIORITAS (RPKPP)

TIM POKJANIS RPKPP


PEMERINTAH KABUPATEN
TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir III - 15


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

3.2.2 Rencana Program Investasi Jangka Menengah

Dalam rencana pembangunan jangka menengah Kabupaten Tanjung Jabung


Barat telah ditetapkan visi pembangunan yaitu “Terwujudnya Kesejahteraan
Masyarakat Maju, Aman,Adil dan Merata Berlandaskan Iman dan Taqwa”.
Dalam rangka mewujudkan visi tersebut maka telah ditetapkan misi pembangunan
Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebagai berikut :

1. Peningkatan kualitas dan ketersediaan infrastruktur pelayanan umum


2. Peningkatan kesejahteraan melalui pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan
kerja dan pemerataan pendapatan.
3. Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, kehidupan beragama dan berbudaya.
4. Meningkatkan perekonomian derah dan pendapatan masyarakat berbasis sumber daya
alam, agrobisnis dan agroindustri yang berwawasan lingkungan.
5. Meningkatkan tata kelola pemerintahan, kepastian hukum dan HAM serta kesetaraan
gender.
Untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan maka ditetapkan
kebijakan dalam pembangunan yang difokuskan pada upaya meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka percepatan pembangunan maka
diperlukan grand strategi daerah yang akan ditetapkan menjadi kebijakan
pembangunan selama 4 (empat) tahun mulai dari 2011 hingga 2016. Kebijakan
umum pembangunan Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun 2011 – 2016 adalah
sebagai berikut:

 Kebijakan umum untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas


tercermin dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pendapatan.
Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh pengurangan angka
kemiskinan, pengurangan tingkat pengangguran.

 Kebijakan umum untuk menjaga kestabilan ekonomi makro yang ditandai dengan
eningkatnya daya beli masyarakat, kestabilan harga kebutuhan pokok masyarakat yang
didukung oleh kondisi keamanan yang kondusif.

 Kebijakan umum untuk memperkuat dimensi pembangunan yang berkeadilan termasuk


pengurangan kesenjangan pendapatan, pengurangan ketimpangan pembangunan antar
kecamatan dan desa serta memperkuat sektor pertanian sebagai basis ekonomi desa.

Laporan Akhir III - 16


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 Kebijakan umum untuk tata kelola pemerintahan yang baik yang berorientasi pada
peningkatan pelayanan pada masyarakat dengan penerapan prinsip – prinsip antara lain
transparasi, akuntabilitas, efektifitas dan efesiensi, supremasi hukum, keadilan dan
partisipasi masyarakat.

Untuk mencapai tujuan yang diharapkan maka disusun beberap strategi dalam
pelaksanaannya. Strategi yang berkaitan dengan pembangunan perumahan dan
infrastruktur perkotaan yaitu sebagai berikut :

 Pemenuhan fasilitas infrastruktur pelayanan umum jalan dan jembatan


 Penyelenggaraan pembangunan layanan transportasi daerah
 Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas infrastruktur energi dan kelistrikan
 Ketersediaan air bersih dan jaringan irigasi yang merata
 Penyelenggaraan kebutuhan umum perumahan dan permukiman yang layak huni.
Secara keseluruhan arah kebijakan dan strategi yang berkaitan dengan
pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan dapat dilihat pada tabel 3.1
Matriks Kajian Kebijakan dan Strategi Pembangunan sebagai berikut :

Tabel 3.1
Matriks Kajian Kebijakan dan Strategi Pembangunan

Sumber Muatan
No
Dokumen Kebijakan Strategi

Dokumen Perencanaan Pembangunan

1 RPJP Visi adalah “Tanjung Jabung  Pembangunan transportasi


Barat Maju, Berdaya Saing, secara umum sebagai katalisator
Adil dan Sejahtera” dalam mendukung pertumbuhan
ekonomi, pengembangan
wilayah dan pemersatu wilayah.
5 (lima) misi yaitu sebagai
berikut :
 Pembangunan perumahan adalah
pemenuhan kebutuhan hunian
1. Mewujudkan sumber daya manusia masyarakat melalui terciptanya
yang berkualitas dan berahlak pasar primer yang sehat,
mulia dengan mengedepankan efisienm akuntabel, tidak
pembangunan pendidikan dan diskriminatif dan terjangkau
kesehatan yang berkualitas dan oleh seluruh lapisan masyarakat.
berkeadilan, pengendalian jumlah
penduduk, meningkatkan  Penanganan permasalahan
penguasaan dan pemanfaatan persamapahan dalam
iptek, meningkatnyakualitas menciptakan hidup yang sehat
kehidupan beragama, akibat meningkatnya
mengembangkan budaya yang pencemaran lingkunga oleh
berbasis iptek dan kearifan lokal. meningkatnya jumlah sampah
yang berasal dari rumah tangga
2. Mewujudkan pemenuuhan (domestik) dan non rumah
kebutuhan infrastruktur yang
berkualitas melalui pembangunan

Laporan Akhir III - 17


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Sumber Muatan
No
Dokumen Kebijakan Strategi
transportasi jalan, jembatan, tangga yang dibuang ke sungai.
terminal, pelabuhan, pengairan,
listrik, telepon, infrastruktur sosial  Transportasi jalan merupakan
dan infrastruktur ekonomi yang moda transportasi utama yang
maju serta mampu mendukung berperan dalam mendukung
kegiatan perekonomian dan pembanguna daerah serta
pengembangan wilayah secara mempunyai kontribusi terbesar
terpadu. dalam melayani mobilitas
manusia maupun distribusi
3. Mewujudkan pertumbuhan ekonomi komoditi perdagangan dan
yang tinggi dan berkualitas yang industri.
berbasis pada agroindustri dan
sumber daya alam, dengan  Transportasi laut mempunyai
memperkuat perekonomian daerah peranan yang sangat penting
berbasis keunggulan komperatif dalam perekonomian untuk
masing – masing wilayah mennuju meningkatkan peran dan pangsa
keunggulan kompetitif dengan pasar pelayaran nasional baik
membangun ketertarikan sistem pada angkutan dalam negeri
produksi, distribusi dan pelayanan maupun kegiatan ekspor –
serta memperkuat ekonomi impor.
kerakyatan yang berbasis
agribisnis.  Air bersih merupakan kebutuhan
pokok bagi manusia dalam
4. Mewujudkan masyarakat dan melangsungkan kehidupan dan
pemerintahan yanng baik dan meningkatkan kesejahteraan
menjunjung tinggi supremasi sehingga mampu hidup sehat,
hukum melalui peningkatan bersih dan produktif.
kelembagaan dan budaya
demokrasi yang lebih kokoh,  Pembangunan kelistrikan untuk
memperkuat peran masyarakat pengembangan kemampuan
sipil, memperkuat otonomi daerah, pemenuhan kebutuhan tenaga
menjamin pengembangan media listrik daerah dan peningkatan
dan kebebasan media dalam kemampuan pelayanannya.
mengkomunikasi kepentingan
masyarakat, melakukan
 Pembangunan telematika untuk
pembenahan substansi hukum,
meningkatkan kemampuan untuk
struktur hukum dan
mendapatkan, memanfaatkan
membudayakan hukum serta
dan mengolah informasi mutlak
menegakan hukum secara adil,
harus dimiliki untuk memicu
konsekuen, tidak diskriminatif dan
pertumbuhan perekonomian
memihak rakyat kecil dan dengan
sekaligus meningkatkan daya
menjamin keamanan dan
saing daerah.
ketentraman.

5. Mewujudkan pembangunan daerah  Pembangunan sarana dan


yang merata, berkeadilan dan prasarana berdasarkan konsep
berwawasan lingkungan dengan pengembangan rencana tata
mengurangi kesenjangan sosial ruang
secara menyeluruh, keberpihakan
pada masyarakat, kelompok dan  Pembangunan jaringan drinase
wilayah yang tertinggal, yang terintegrasi sebagai
menanggulangi kemiskinan secara prasarana dalam meningkatkan
bertahap, menyediakan akses yang kualitas lingkungan
sama bagi masyarakat terhadap
berbagai pelayanan sosial serta Penyelenggaraan
sarana dan prasarana ekonomi dan
pengelolaan sampah untuk
menghapuskan diskriminasi dalam
berbagai aspek kehidupan mencegah pencemaran
termasuk diskriminasi gender. lingkungan
Menjaga keseimbangan
antarapemanfaatab dab
keberlanjutan sumber daya alam
dan lingkungan hidup, dengan
tetap menjaga fungsi, daya dukung
dan kenyamanan dalan kehidupan
di masa kini dan masa yang akan
datang, melalui pemanfaatan
ruang yang serasi anatara

Laporan Akhir III - 18


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Sumber Muatan
No
Dokumen Kebijakan Strategi
penggunaan pemukiman, kegiatan
sosial dan ekonomi, dan upaya
konservasi; pemanfaatan ekonomi
sumber daya alam dan lingkungan
yang berkesinambungan;
pengelolaan sumber daya alam dan
lingkungan hidup untuk mendukung
kualitas kehidupan, memberikan
keindahan dan kenyamanan
kehidupan; pemeliharaan dan
pemanfaatan keanekaragaman
hayato sebagai modal dasar
pembangunan.

2. RPJM Visi adalah “Terwujudnya


Kesejahteraan Masyarakat
Maju, Aman,Adil dan Merata
Berlandaskan Iman dan
Taqwa” 1. Pemenuhan fasilitas
inftrastruktur pelayanan umum
1. Peningkatan kualitas dan jalan dan jembatan.
ketersediaan infrastruktur
pelayanan umum 2. Ketersediaan air bersih dan
jaringan irigasi yang merata.
2. Peningkatan kesejahteraan melalui
pengentasan kemiskinan,
3. Menyelenggrakan kebutuhan
penciptaan lapangan kerja dan
pemerataan pendapatan. umum perumahan dan
permukiman layak huni.
3. Meningkatkan kualitas pendidikan,
kesehatan, kehidupan beragama
dan berbudaya.

4. Meningkatkan perekonomian derah


dan pendapatan masyarakat
berbasis sumber daya alam,
agrobisnis dan agroindustri yang
berwawasan lingkungan.

5. Meningkatkan tata kelola


pemerintahan, kepastian hukum
dan HAM serta kesetaraan gender.

Tujuan Kebiajakn
Pembangunan :

Mewujudkan ketersediaan
Infrastruktur pelayamam
uimum yang berkualitas dan
lebih baik.

3 RPIJM Visi adalah “Terwujudnya 1. Pemenuhan fasilitas infrastruktur


Kesejahteraan Masyarakat pelayanan umum jalan dan
Maju, Aman,Adil dan Merata jembatan
Berlandaskan Iman dan
2. Penyelenggaraan pembangunan
Taqwa”
layanan transportasi daerah
1. Peningkatan kualitas dan
ketersediaan infrastruktur 3. Peningkatan cakupan pelayanan
pelayanan umum dan kualitas infrastruktur energi
dan kelistrikan
2. Peningkatan kesejahteraan melalui
pengentasan kemiskinan, 4. Ketersediaan air bersih dan
penciptaan lapangan kerja dan

Laporan Akhir III - 19


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Sumber Muatan
No
Dokumen Kebijakan Strategi
pemerataan pendapatan. jaringan irigasi yang merata

3. Meningkatkan kualitas pendidikan, 5. Penyelenggaraan kebutuhan


kesehatan, kehidupan beragama umum perumahan dan
dan berbudaya. permukiman yang layak huni

4. Meningkatkan perekonomian derah 6. Jaringan drinase yang terintegrasi


dan pendapatan masyarakat sebagai upaya dalam
berbasis sumber daya alam, meningkatkan kualitas lingkungan
agrobisnis dan agroindustri yang
berwawasan lingkungan. 7. Penyelenggaraan pengelolaan
sampah dalam upaya mencegah
5. Meningkatkan tata kelola pencemaran lingkungan
pemerintahan, kepastian hukum
dan HAM serta kesetaraan gender.

Kebijakan umum dalam


RPIJM yaitu :

1. Kebijakan umum untuk


meningkatkan pertumbuhan
ekonomi yang berkualitas
tercermin dari meningkatnya
kesejahteraan masyarakat dan
pemerataan pendapatan. Hal ini
ditandai dengan pertumbuhan
ekonomi yang didukung oleh
pengurangan angka kemiskinan,
pengurangan tingkat
pengangguran.
2. Kebijakan umum untuk menjaga
kestabilan ekonomi makro yang
ditandai dengan eningkatnya
daya beli masyarakat, kestabilan
harga kebutuhan pokok
masyarakat yang didukung oleh
kondisi keamanan yang kondusif.
3. Kebijakan umum untuk
memperkuat dimensi
pembangunan yang berkeadilan
termasuk pengurangan
kesenjangan pendapatan,
pengurangan ketimpangan
pembangunan antar kecamatan
dan desa serta memperkuat
sektor pertanian sebagai basis
ekonomi desa.

4. Kebijakan umum untuk tata kelola


pemerintahan yang baik yang
berorientasi pada peningkatan
pelayanan pada masyarakat
dengan penerapan prinsip –
prinsip antara lain transparasi,
akuntabilitas, efektifitas dan
efesiensi, supremasi hukum,
keadilan dan partisipasi
masyarakat.

Dokumen Penataan Ruang


1 RTRW a. perwujudan pembangunan yang a. Strategi perwujudan
merata dan berimbang dalam pembangunan yang merata dan
Kabupaten rangka mengurangi kesenjangan berimbang dalam rangka

Laporan Akhir III - 20


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Sumber Muatan
No
Dokumen Kebijakan Strategi
Tanjung antar wilayah; mengurangi kesenjangan antar
wilayah yaitu mengembangkan
Jabung Barat b. Pemantapan sistem perekonomian pusat – pusat kegiatan untuk
perkotaan yang bertumpu pada mewujudkan keterpaduan,
sektor perdagangan dan jasa; keterkaitan dam keseimbangan
perkembangan antar wilayah,
c. Perwujudkan sistem perkotaan dan memantapkan Pusat Kegiatan
pusat distribusi yang mampu Wilayah (PKW), mendorong
memacu pertumbuhan wilayah; kawasan perkotaan dan pusat
pertumbuhan agar lebih
d. Perwujudan pertanian untuk kompetitif dan lebih efektif
mendukung pengembangan dalam pengembangan wilayah
perekonomian kabupaten; sekitarnya dan mendorong
perkembangan kawasan agar
e. Pengembangan dan pemanfaatan lebih mampu mempercepat
potensi perikanan secara optimal; pertumbuhan ekonomi wilayah
terutama dalam membuka daerah
f. Perwujudan pembangunan yang yang terisolir dan mencukupi
berkelanjutan serta memelihara kebutuhan wilayah yang
kelestarian lingkungan hidup; bertetangga;

g. Perwujudan sistem jaringan b. Strategi perwujudan sistem


prasarana seluruh wilayah perkotaan dan pusat distribusi
kabupaten; yang mampu memacu
pertumbuhan wilayah yaitu
mengembangkan Kota Kuala
h. Peningkatan dan pengembangan
Tungkal sebagai kota modern
potensi pertambangan yang
untuk memicu pertumbuhan
berwawasan lingkungan; dan
beberapa kawasan perkotaan
lainnya, menjamin kawasan –
i. Peningkatan fungsi kawasan untuk
kawasan fungsional kota yang
pertahanan dan keamanan Negara.
akan dikembangkan dengan
sarana dan prasarana yang
handal, menyiapkan dukungan
prasarana dan sarana yang
memadai dalam mendiring
tumbuhnya kawasan perkotaan,
menyiapkan dukungan prasarana
dan sarana yang memadai dalam
mendorong tumbuhnya kawasan
perkotaa dan mempersiapkan
sistem penyediaan perumahan
dan permukimian yang handal
guna mengantisipasi pertumbuhan
kawasan perkotaan;

c. Strategi perwujudan sistem


jaringan prasarana seluruh
wilayah kabupaten yaitu menata
sistem transportasi yang
membentuk sistem jaringan
pergerakan antar pusat kegiatan
dan wilayah pelayanannya,
mengembangkan terminal
angkutan penumpang, menata
sistem transportasi kabupaten
dengan simpul-simpul transportasi
regional dan nasional,
mengembangkan sistem
transportasi kawasan perdesaan –
perkotaan, mengembangkan
sistem irigasi yang menjamin
tersediannya air sepanjang tahun,
terutama untuk mengairi
pertanian lahan basah,

Laporan Akhir III - 21


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Sumber Muatan
No
Dokumen Kebijakan Strategi
mengembangkan kawasan
permukiman yang memiliki
askesibilitas dan pelayanan
infrastruktur yang memadai dan
mengoptimakan fungsi prasarana
lainnya berupa sistem energi,
sistem jaringan telekomunikasi,
sistem jaringan sumber daya air,
dan sistem pengelolaan
lingkungan hingga keseluruh
wiayah Kabupaten

2 RTRK Kuala Kota Kuala Tungkal berfungsi 1. Pemanfaatan ruang untuk


sebagai pusat pemerintahan kawasan permukiman tersebar di
Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung seluruh wilayah kota dengan
pola linier mengikuti jaringan
Barat (eksternal), dan
jalan, dan mengelompok pada
terbentuknya pusat-pusat pusat-pusat kegiatan atau pada
kegiatan kota yang pusat kota, bagian wilayah kota,
terintegrasi yaitu pusat atau pada unit-unit lingkungan
kota, pusat perdagangan dan terkecil di bawahnya;
jasa, industri, pusat
pelayanan sosial, terminal 2. Pemanfaatan ruang untuk
dan permukiman. (fungsi fasilitas pendidikan dialokasikan
sesuai dengan skala
internal) pelayanannya, baik untuk
tingkat SD, SLTP maupun SLTA,
namun demikian dalam
penerapan pengembangannya
lebih menekankan pada
pemanfaatan fasilitas yang ada;

3. Pemanfaatan ruang fasilitas


kesehatan skala kota dan
regional diarahkan disekitar
pusat kota;

4. Pemanfaatan ruang untuk


fasilitas peribadatan seperti
halnya fasilitas pendidikan
dialokasikan sesuai dengan skala
pelayanannya;

5. Pemanfaatan ruang untuk pusat


perdagangan dan jasa skala kota
(Central Bussiness Districk)
pengembangan lokasinya pada
kawasan pusat kota, sedangkan
kegiatan perdagangan untuk
skala bagian wilayah kota dan
lingkungan permukiman
alokasinya disebar sesuai dengan
skala pelayannya masing-masing
di setiap bagian wilayah kota;

6. Pemanfaatan ruang untuk


terminal regional diarahkan
disekitar pusat kegiatan kota;

7. Untuk pelayanan yang bersifat


khusus seperti SPBU, TPA,
Instalasi PDAM dan Instalasi PLN
ditempatkan pada lokasi yang
sesuai dengan karakteristik
massing-masing fasilitas

Laporan Akhir III - 22


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Sumber Muatan
No
Dokumen Kebijakan Strategi
tersebut. SPBU lokasinya
diarahkan dijalan arteri primer
dekat dengan terminal regional,
TPA dialokasikan di Kecamatan
Batara;

8. Penggunaan lahan untuk


konservasi atau jalur hijau
menempati lahan pada sekiatr
daerah aliran sungai dan daerah
berawa/lahan gambut.
Sedangkan untuk penempatan
taman lebih diarahkan pada
estetika lingkungan kota. Lokasi
taman ini dialokasikan sesuai
dengan tingkat pelayannya mulai
dariu taman kota, taman tingkat
BWK dan taman lingkungan;

9. Untuk kawasan militer


pengembangnnya diarahkan
disekitar jalan arteri primer;

10. Untuk jaringan jalan


pemanfaatanya lebih ditujukan
pada upaya untuk meningkatkan
aksesibiltas penduduk kota serta
meningkatkan pelayanan
transportasi agar dapat
memberikan tingkat pelayanan
yang optimal;

Pemanfaatan ruang untuk


lahan cadangan
pengembangan kota pada
dasarnya merupakan lahan-
lahan potensial bagi
pengembangan fisik kota
yang hingga akir tahun
perencanaan belum akan
dimanfaatkan, oleh sebab
itu untuk semnetara lahan-
lahan tersebut dapat
difungsikan sebagai lahan
kebun campuran atau
kegiatan pertanian

3 RP4D Visi adalah “Setiap Rumah  Pengembangan peraturan


Tangga Menghuni Rumah perundang – undangan dan
Yang Layak dan pemantapan kelembagaan di
Berkelanjutan” bidang perumahan dan
permukiman serta fasilitasi
pelaksanaan, penataan ruang
Misi terdiri dari 5 (lima) kawasan permukiman yang
yaitu : transparan dan partisipatif yang
meliputi penyusunan bebagai
a. Mewujudkan ekonomi kerakyatan peraturan daerah dalam
sehingga masyarakat berpenghasilan penyelenggaraan perumahan dan
rendah memiliki kemampuan permukiman, pemantapan
membangun ekonomi keluarga dan kelembagaan dengan mendorong
mandiri; terbentuknya lembaga
perumahan dan permukiman
b. Mewujudkan pembangunan yang yang handal, responsif serta
merata dan berkeadilan dengan peningkatan kapasitas pelaku di
membangun daerah yang tertinggal, Kabupaten Tanjung Jabung

Laporan Akhir III - 23


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Sumber Muatan
No
Dokumen Kebijakan Strategi
mengurangi kesenjangan sosial Barat, pengawasan konstruksi
secara menyeluruh, keberpihakan dan keselamatan bangunan
kepada masyarakat berpenghasilan perumahan dan permukiman.
rendah, menanggulangi kemiskinan
secara bertahap, menyediakan  Pemenuhan kebutuhan rumah
akses yang sama bagi masyarakat yang layak dan terjangkau
terhadap berbagai pelayanan sosial dengan menitik beratkan pada
ekonomi serta sarana dan prasarana masyarakat miskin dan
ekonomi dan menghapuskan berpendapatan rendah dalam
diskriminasi dalam berbagai aspek bentuk pengembangan sistem
kehidupan; pembiayaan dan pemberdayaan
pasar perumahan (pasar primer
c. Mewujudkan pembangunan yang dan pasar sekunder),
berkelanjutan dengan menjaga pengembangan perumaha
keseimbangan antara pemanfaatan swadaya, pengembangan
SDA, keberlanjutan SDA serta berbagai jenis dan mekanisme
lingkungan hidup. Tetap menjaga subsidi perumahan,
fungsi lahan di kawasan perdesaan pemberdayaan ekonomi
dan kawasan perkotaan, daya masyarakat miskin, pemenuha
dukung dan pemanfaatan ruang kebutuhan peruahan dan
untuk perumahan dan permukiman permukiman akibat dampak
sebagai modal dasar pembangunan; bencana alam dan kerusuhan,
pengelolaan aset gedung dan
d. Mewujudkan pembangunan rumah negara.
perumahan dan permukiman dengan
kepadatan rendah di kawasan yang  Perwujudan kondisi lingkungan
memiliki fungsi konservasi (hutan yang sehat, harmonis dan
lindung, hutan produksi dan hutan berkelanjutan berupa
kota) guna mempertahankan fungsi peningkatan kualitas lingkungan
resapan air, fungsi penyangga dan permukiman, pengembangan
fungsi ruang terbuka hijau. Untuk penyediaan prasarana – sarana
itu diperlukan perangkat kebijakan lingkungan permukiman dan
berupa peraturan pengedalian penerapan tata lingkungan
peruntukan yang ketat; permukiman.

e. Mewujudkan pembangunan  Mendorong pengembangan


perumahan dan permukiman di luar perumahan di Wilayah
sempadan kawasan koridor Kabupaten Tanjung Jabung Barat
sepanjang sungai yang ada di dengan Pola kasiba Lisba BS pada
Kabupaten Tanjung Jabung Barat kawasan pusat pengembangan
dengan melaksanakan perbaikan orde I dan sub pusat
lingkungan dan reorientasi agar pengembangan Orde II, II dan IV.
selalu menjaga kebersihan dari
limbah serta keindahan lingkungan  Mengembangkan perumahan
sepanjang bantaran sungai secara secara vertikal pada wilayah
terpadau dan selaras denga tata kecamatan yang padat penduduk
bangunan perumahan dam dengan memperhatika
permukiman asri; ketersediaan sarana dan
prasarana yang ada.
f. Mewujudkan pembangunan
perumahan dan permukiman di luar  Meremajakan dan merehabilitasi
sempada kawasan koridor sepanjang lingkungan yang menurun
pantai sehingga perlu ditingkatkan kualitasnya dan diupayakan
dan diperketat pengawasannya agar dikembangkan menjadi Rumah
tidak mempengaruhi kerusakan Susun Sederhana yang dilengkapi
lingkungan alam sepanjang pantai dengan prasarana dan sarana
dan mengganggu aliran sungai di lingkungannya.
hilir terutama bila dilakukan
reklamasi pantai.
Melestarikan lingkungan
perumahan lama yang
Kebijakan terkait dalam
mempunyai karakter khusus
RP4D yaitu :
antara lain yang termasuk
a. Melembagakan sistem kawasan lindung cagar
pemyelenggaraan pembangunan budaya dan alih fungsi dan
perumahan dan permukiman perubahan fisik bangunan
dengan melibatan masyarakat

Laporan Akhir III - 24


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Sumber Muatan
No
Dokumen Kebijakan Strategi
sebagai pelaku utama.
b. Mewujudkan perumahan bagi
seluruh lapisan masyarakat
sebagai salah satu kebutuhan
dasar manusia.

c. Mewujudkan permukiman yang


berkelanjutan, responsif, yang
mendukung pengembangan jati
diri, produktivitas dan
kemandirian masyarakat

Laporan Akhir III - 25


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

3.3 PROFIL PERMUKIMAN PERKOTAAN

3.3.1 Kondisi Permukiman

Rumah-rumah penduduk Kota Kuala Tungkal masih banyak yang berdinding papan
dengan atap seng dan berbentuk panggung dengan lantai keramik atau papan. Dari
jumlah rumah yang ada 60 % lebih merupakan bangunan permanen dengan sebaran
terbanyak berada di daerah pusat kota seperti Tungkal I, Tungkal II dan Tungkal III,
Tungkal Harapan, dan selebihnya merupakan bangunan rumah semi permanen dan
bangunan yang terbuat dari papan.

Umumnya bentuk rumah merupakan bangunan panggung memanjang kebelakang dengan


lebar antara 5 – 6 m dan panjang antara 15 – 20 m atau lebih. Bangunan rumah semi
modern dan modern berdinding batu bata dengan lebar depan lebih besar ( 8 – 10 m)
menggunakan pondasi lantai lebih tinggi dari permukaan tanah melalui pengurugan.

3.3.2 Pertumbuhan Permukiman Kota

Pertumbuhan permukiman di suatu kota umumnya berorientasi terhadap prasarana


transportasi, pusat-pusat kegiatan ekonomi, dekat dengan keberadaan fasilitas fungsional
dan pelayanan umum, serta dipengaruhi oleh kondisi bentang alam yang ada. Begitu halnya
dengan pertumbuhan dan perkembangan permukiman di Kota Kuala Tungkal,
perkembangan permukiman kota tidak terlepas dari perkembangan jaringan jalan serta
tidak berjauhan dengan pusat kegiatan ekonomi dan sosial.

Tumbuhnya permukiman kota dimulai dengan berkembangnya kegiatan ekonomi di


sisi Sungai Pengabuan linier dengan pola sungai yang ada, sedangkan permukiman tumbuh
dibelakang areal kegiatan ekonomi mengikuti pembangunan jaringan kota hingga
berkembang ke arah bagian tenggara (Manunggal) dan selatan dari wilayah kota atau
wilayah timur (Pembengis).

Pertumbuhan perumahan penduduk ini berjalan secra alamiah sesuai perkembangan jumlah
penduduk yang dibangun secara swadaya, disamping perkembangan perumahan yang
dibangun secara terencana seperti halnya yang terdapat di Kawasan Manunggal
(perumahan Perumnas dan BTN).

Laporan Akhir III - 26


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

3.3.3 Pola Permukiman Kota

Pola permukiman kota yang terbentuk


diawali dengan tumbuhnya perumahan
nelayan pada bantara sungai Pengabuan
yang bersifat linier dan mengelompok
sesuai kesukuan (banjar, bugis dan
sebagainya). Bersamaan dengan
perkembangan kegiatan ekonomi yang
dicirikan oleh terbangunnya pertokoan
Di tungkal IV dan Tungkal II serta
Tungkal III dengan pola grid.

Perkembangan pertokoan/perdagangan
tersebut diikuti pula dengan
berkembangnya perumahan penduduk
mengikuti pola jaringan jalan yang
terbangun, seperti terbangun di
kelurahan Tungkal II, Tungkal III,
Tungkal Harapan dan Tungkal IV, hingga mencapai kepadatan bangunan yang relatif tinggi.

Pertumbuhan permukiman kota saat ini sudah bersifat melebar kebagian timur kota
yang didukung pembangunan jalan akses dan jalan lingkungan seperti di Manunggal I dan
Manunggal II. Pada bagian wilayah lainnya perrtumbuhan permukiman akan cenderung
mengikuti pembangunan jaringan jalan kota seperti yang mengarah ke Desa Pembangis
yang secara fisik lebih mendukung bila dibandingkan dengan kondisi bagian wilayah kota
lainnya.

3.3.4 Permasalahan Permukiman Kota dan Kebutuhan Rumah

A. Permasalahan

Permasalahan utama permukiman kota di Kuala Tungkal adalah

1. Adanya titik permukiman kumuh dengan kepadatan bangunan rumah yang


cukup tinggi, terutama di lingkungan permukiman nelayan. Umumnya perumahan
nelayan ini berada pada daerah sempadan sungai, tidak mempunyai batas
sempadan bangunan terhadap jalan lingkungan, tidak dilengkapi dengan sanitasi

Laporan Akhir III - 27


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2. Sanitasi lingkungan kurang memadai seperti tidak adanya tempat buangan air
limbah, tidak adanya pengaturan kepadatan dan kerapatan bangunan yang
sangat rawan terhadap bahaya kebakaran. Lokasi permukiman kumuh ini berada
di Kelurahan Tungkal II (Kampung Nelayan).

Permukiman Nelayan di Bantaran Sungai Pengabuan, kumuh dan tidak


didukung dengan infrstruktur lingkungan.

3. Tata letak bangunan rumah disepanjang parit-parit dalam kota tidak


mempertimbangkan sempadan terhadap sungai (parit), bagian bangunan
rumah berada diatas bantaran parit dengan maksud memanfaatkan badan parit
sebagai tempat pembuangan air limbah rumah tangga.

4. Masalah air genangan di lingkungan permukiman, kondisi ini dikarenakan


pengaruh lokasi kota yang dekat dengan muara sungai dan tepian laut yang
memberikan kiriman air sebagai proses pasang surut air laut setiap hari maupun
yang berlaku secara periodik dengan intensitas yang cukup tinggi (bulan
November – April) atau waktu hujan. Disamping itu lingkungan permukiman
banyak yang tidak dilengkapi dengan saluran drainase.

Spot-spot air genangan pada lokasi tertentu di bagian wilayah kota menimbulkan
permasalahan seperti kondisi lingkungan kurang sehat dan baik, persoalan
sanitasi lingkungan yang kurang memadai. Spot-spot genangan air tersebut
antara lain berada di daerah :

Laporan Akhir III - 28


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

a. Kawasan Pelabuhan
b. Kawasan Jl. Kemakmuran
c. Kawasan Simpang Lima
d. Kawasan Jl. Syarif Hidayatullah
e. Kawasan Jl. Kapten Dahlan
f. Kawasan Pasar BJ
g. Kawasan Jl. Catatan Sipil

Penyebab terjadinya genangan antara lain :

a. Adanya beberapa daerah sekitar muara sungai yang permukaan tanahnya


lebih rendah dari muka air sungai.
b. Belum tersedianya jaringan drainase/saluran air sekunder di beberapa lokasi
yang mengakibatkan air tertahan tidak mengalir.
c. Adanya beberapa saluran yang kapasitasnya kurang memadai dan sistem
jaringan saluran kurang tertata dengan baik.
a. Profil saluran alam belum teratur.

Keadaan topografi Kota Kuala Tungkal relatif datar, sehingga proses aliran air hujan
cenderung lambat, bahkan terhambat karena pesatnya pembangunan fisik di kawasan
pusat kota yang merupakan kawasan potensial untuk pelimpahan air kota ke sungai/laut,
disamping bangunan-bangunan yang ada di pusat kota umumnya bersifat kedap air, maka
aliran air kota yang seharusnya lepas ke laut berbalik arah lagi ke pusat kota yang
membentuk daerah cekungan karena menurunnya permukaan tanah sebagai akibat dari
penumpukan bangunan di kawasan perkotaan.

Laporan Akhir III - 29


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

RENCANA PEMBANGUNAN KAWASAN


PERMUKIMAN PRIORITAS (RPKPP)

Laporan Akhir III - 30


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

B. Analisis Kebutuhan Rumah Kota Kuala Tungkal

Kebutuhan rumah akan terus meningkat sejalan dengan perkembangan penduduk pada
masa mendatang. Untuk melihat kebutuhan rumah ( backlog) serta kebutuhan sesuai
dengan perkembangan penduduk perkotaan Kuala Tungkal sampai dengan tahun 2032
dilakukan perhitungan analisis sebagaimana disajikan pada tabel 3.2.

Tabel 3.2
Kebutuhan Jumlah Rumah
Di Wilayah Perkotaan Kuala Tungkal sampai Tahun 2032

Jumlah Penduduk (Jiwa)


No. Variabel Satuan
Eksisting 2017 2022 2027 2032
1 Penduduk Jiwa 74.678 91.025 102.749 114.474 126.198
2 Jumlah KK KK 17.418 18.205 20.550 22.895 25.240
3 Tingkat Pelayanan % 49,0 100,0 100,0 100,0 100,0
4 Jumlah Rumah Unit 8.542 18.205 20.550 22.895 25.240
5 Rata-rata Hunian Eksisting Jiwa 9
6 Rata-rata Hunian Standar Jiwa 6 6 6 6
Rencana Pengembangan
7
Perumahan
a. Pembangunan Backlog unit 6.194
b. Pembangunan Rumah Unit 3.469 2.345 2.345 2.345
Sumber : Hasil Perhitungan tahun 2012

3.4 PEMBANGUNAN PERMUKIMAN DAN INFRASTRUKTUR PERKOTAAN

3.4.1 Air Bersih


Sistem Penyediaan air bersih di Kota Kuala Tungkal di bedakan atas sistem
perpipaan dan non perpipaan. Sistem perpipaan melalui jaringan pipa rumah tangga
dikelola oleh PDAM Tirta Pengabuan, sedangkan air bersih non perpipaan dikelola oleh
masyarakat dengan sumber air berasal dari air tanah dan hasil penampungan air hujan.
Pelayanan PDAM masih belum mencapai keseluruh pelosok kota antara lain di wilayah
bagian utara Kota seperti kawasan perdagangan, kawasan pelabuhan, permukiman
kampung Nelayan.

Untuk mengatasi kesulitan dalam mendapatkan air baku pada daerah-daerah yang
tidak terjangkau pelayanan air minum, PDAM Tirta Pengabuan atau masyarakat telah
melakukan berbagai usaha diantaranya dengan membangun penampungan air hujan (PAH),

Laporan Akhir III - 31


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

sumur pompa dalam, sumur gali, pemanfaatan air permukaan seperti air sungai, rawa-
rawa, serta penyediaan air minum dengan menggunakan Truk Tangki air minum PDAM.

Jumlah rumah tangga pelanggan air minum PDAM di Perkotaan Kuala Tungkal sebesar 4.869
rumah tangga yang tersebar di Kelurahan Tungkal Harapan (645 rt), Kelurahan Tungkal IV
Kota (1.342 rt), Kelurahan Tungkal III (1.931 rt) dan Kelurahan Tungkal II (951 rt), serta
Desa Pembengis

Kebutuhan air minum pada wilayah perkotaan Kuala Tungkal dan Kawasan Prioritas
sampai dengan tahun 2032 diperkirakan sebagai berikut:

Tabel 3.3
Kebutuhan Sarana Air Minum Di Wilayah Perkotaan Kuala Tungkal
No. Variabel Satuan Eksisting 2017 2022 2027 2032
1 Penduduk Jiwa 74.678 91.025 102.749 114.474 126.198
2 Jumlah KK KK 17.418 18.205 20.550 22.895 25.240
3 Jumlah Rumah Unit 8.542 18.205 20.550 22.895 25.240
4 Rata-rata Hunian Jiwa 9 5 5 5 5
5 Kebutuhan Air Bersih Liter/hari
- Kebutuhan Air Domestik Liter/hari 9.102.500 10.274.900 11.447.400 126.198.00
- Kebutuhan Air Non Domestik Liter/hari 182.050 205.498 228.948 252.396
- Kebutuhan Air Domestik +
Liter/hari 9.284.550 10.480.398 11.676.348 12.872.196
Non Domestik
- Kebocoran (20%) Liter/hari 185.691 209.608 233.527 257.443,9
TOTAL KEBUTUHAN (Liter) Liter/hari 9.470.241 10.690.006 11.909.875 13.129.640
TOTAL KEBUTUHAN (M3) m3/hari 9.470,2 10.690,0 11.909,9 13.129,6
Kapasitas yang dibutuhkan Liter/detik 109,6 123,7 137,8 152,0
Sumber : Hasil Perhitungan tahun 2012.

Laporan Akhir III - 32


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

3.4.2 Jalan Lingkungan Permukiman

Jalan lingkungan permukiman di perkotaan Kuala Tungkal umumnya merupakan


jalan lokal sekunder dan jalan lingkungan permukiman. Jalan lingkungan permukiman
umumnya mempunyai lebar antara 1,5 – 4 meter dengan kondisi buruk – sedang hingga
baik.

Pada lingkungan permukiman tertentu jalan lingkungan perumahan terbuat dari


pekerasan aspal, dan sebagian masih ada yang mempunyai perkerasan tanah, seperti
halnya di Manunggal I dan Manunggal II, sedangkan pada daerah pusat perkotaan umumnya
sudah beraspal dengan kondisi sedang hingga baik dengan lebar jalan antar 4 – 6 m.
Jaringan jalan pada daerah permukiman ini umumnya tidak dilengkapi dengan saluran
drainase, sehingga pada masa surut atau hujan badan jalan tergenang oleh air yang
mengakibatkan cepat rusak.

Didalam Kawasan permukiman nelayan jaringan jalan merupakan Jalan rabat dan
jalan semen beton dengan kondisi buruk hingga sedang, serta jalan yang masih terbuat dari
tanah. Banyak badan rabat dan jalan semen yang sudah rusak dan memerlukan perbaikan.

Laporan Akhir III - 33


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Gambar 3 - 3

Prasarana jaringan jalan di Kampung Nelayan

POTENSI YANG ADA DI KAWASAN PERENCANAAN

Saluran pembuangan dari mck

Hasil perikanan yang


Sudah adanya sarana mck berasama,
berlimpah, baik yang dapat
hanya saja kondisi bangunan dan
langsung di jual, ataupun di
saluran pembuangan yang masih
proses untuk di jadikan
langsung ke area sungai
produk makanan lainnya.
B
C

A
A
Sudah adanya air bersih,
hanya saja masih dikelola B
oleh perorangan dan
distribusi yang masih
terbatas.
HASIL OBSERVASI LAPANGAN

Laporan Akhir III - 34


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

PERMASALAHAN YANG ADA DI KAWASAN PERENCANAAN

Kondisi jalan rusak memperlambat pergerakan masyarakat dalam


melakukan setiap kegiatan di area sekitar kampung nelayan .

Selain jalan yang rusak, saluran drainase juga belum tersedia.


Sehingga air yang seharusnya dialirkan pada saluran drainase masih
mengumpul di beberapa titik terendah area kampung nelayan .
A

B C
B
A
C

HASIL OBSERVASI LAPANGAN

Laporan Akhir III - 35


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

3.4.3 Drainase

Drainase di Kota Kuala Tungkal dikelompokkan atas 3 bagian, baik yang sifatnya
saluran terbuka ataupun saluran tertutup yaitu jaringan primer, jaringan sekunder dan
jaringan tertier. Sedangkan pola aliran pembuangan saluran mengarah kepada badan-
badan sungai atau parit yang berada di dalam wilayah kota dengan fungsi sebagai
penampung akhir yang diarahkan untuk menetralisir air buangan.

Parit-parit didalam kota terhubung dengan sungai besar yaitu Sungai Pengabuan dan muara
sungai yang berhadapan langsung dengan laut.

Untuk pelayanan sistem drainase sendiri dibedakan atas drainase alamiah dan drainase
buatan yang berada disepanjang tepi jalan yang merupakan saluran sekunder dan tersier.

 Drainase primer ; adalah drainase utama yang berfungsi sebagai daerah tumpahan air
dari drainase sekunder dan drainase tersier sebelum ke sungai/laut.

 Drainase primer merupakan aliran-aliran utama berupa sungai dan beberapa parit yang
ada di kota Kuala Tungkal, yaitu Sungai Pengabuan, Sungai Betara, Sungai Bram Itam dan
Parit 1, Parit 2, Parit 3 dan Parit 4.

 Drainase Sekunder adalah wadah pengaliran dari drainase tersier sebelum ke drainase
primer yang berupa saluran drainase di sepanjang jaringan jalan.

 Drainase Tersier adalah drainase yang merupakan wadah pengaliran yang umumnya
merupakan saluran pembuangan limbah rumah tangga yang berada di lingkungan
permukiman maupun perkotaan.

Sistem drainase di Kota Kuala Tungkal pada umumnya masih belum baik dan belum
merata ke seluruh kawasan kota. Dearah yang telah memiliki saluran drainase antara lain
sepanjang jalan utama kota, kawasan perdagangan dan jasa serta sekitar pelabuhan. Akan
tetapi kondisi drainase di daerah tersebut sudah banyak yang rusak dan buntu akibat dari
pengaturan jaringan yang tidak tertata dengan baik. Penyebab utama kerusakan dan
kebuntuan dari saluran drainase adalah karena tingginya laju sedimentasi yaitu apabila air
pasang masuk akan membawa lumpur dan apabila surut lumpur tersebut tinggal didalam
saluran, dan banyaknya sampah yang terdapat didalam saluran.

Saluran drainase di jalan-jalan utama Kota Kuala Tungkal memiliki jenis tertutup,
dengan sistim lubang kontrol, hal ini dimaksudkan berfungsi sebagai sarana saluran dan
sebagai trotoar.

Laporan Akhir III - 36


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Sedangkan daerah perumahan pada umumnya belum memiliki saluran drainase, dan yang
ada terisi oleh sampah.

Saluran drainase system tertutup konstruksi


beton/batu bata disisi jaringan jalan kota

Saluran drainase system terbuka alam pada daerah


pinggiran kota, kurang terawat

Saluran drainase system terbuka alam pada daerah


permukiman kota, dimanfaatkan juga untuk
Saluran drainase system tertutup konstruksi pembuangan air limbah keluarga.
beton/batu bata di kawasan perdagangan

Parit, yang dapat berfungsi


sebagai drainase primer kota,
mengalami sedimentasi

Laporan Akhir III - 37


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Gambaran prasarana drainase kampung Nelayan


3.4.4 Persampahan

A. Kondisi Persampahan.

Sistem penanganan sampah di Kota Kuala Tungkal dilakukan dengan pengangkutan


ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara) yang berasal dari lingkungan perumahan ke TPA
(Tempat Pembuangan Akhir). Rata-rata jumlah produksi sampah per hari di Kota Kuala
Tungkal mencapai 21 m3/hari.

Sarana pembuangan sampah yang dipergunakan oleh penduduk berupa tong dengan
bak terbuka, tong dengan bak tertutup, serta membuat lubang/galian dan menutupnya.
Disamping itu masih banyak penduduk yang membuang secara sembarang dipekarangan
atau dibadan parit.

Pengelolaan sampah dilakukan oleh Kantor PPKTB yang saat ini loaksi TPS nya
berada di Desa Tungkal II, yang didukung dengan 4 armada truk sampah dengan kapasitas 6
m3/truk dengan frekwensi pengangkutan 1 kali per hari.

Penanganan sampah perkotaan kedepan perlu ditingkatkan baik dalam hal cakupan
daerah pelayanan maupun kualitas dan frekwensi pelayannya, Penanganan sampah seperti
di kawasan permukiman nelayan membutuhkan pendekatan khusus untuk mencegah
pencemaran air sungai atau parit.

Kondisi lingkungan perumahan yang buruk, karena Lahan kosong yang dijadikan tempat pembuangan
adanya tempat pembuangan sampah disekitar sampah, lokasi didekat PPI Tungkal II
perumahan penduduk

Laporan Akhir III - 38


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Saat ini tempat pembuangan akhir (TPA) sampah berada di Desa Pematang Lumut, namun
kemudian Lokasi TPA tersebut terlalu dekat dengan sungai, sehingga dapat mencemari air
di hilirnya.

Pemerintah Kabupaten Tanjab Barat telah menjajagi untuk memindahkan ke lokasi baru
yaitu di Simpang Abadi Kecamatan Betara dengan luas + 21 ha, menggunakan sistem
Sanitary landfill.

Permasalahan khusus persampahan yang berlaku di Perkotaan Kuala tungkal dapat


diuraikan sebagai berikut :

a. Masih rendahnya tingkat pelayanan dari cakupan pelayanan, yaitu sebesar 49,15 %
b. Kurang memadainya prasarana dan sarana penunjang kegiatan pegelolaan sampah
seperti tong sampah, gerobak sampah, TPS, Truck sampah dan lainnya.
c. Terbatasnya ketersediaan anggaran untuk pengelolaan persampahan.
d. Retribusi tidak dipungut oleh institusi pengelola persampahan dan bukan menjadi
sumber pendapatan yang dapat digunakan secara langsung untuk biaya pengelolaan
sampah.
e. Masih relatif rendahnya sumber daya manusia pengelolaan persampahan, baik
ditingkat manajemen maupaun ditingkat petugas lapangan.
f. Belum maksimalnya peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah yang
diperlihatkan dari kondisi lingkungan permukiman yang masih banyak tercemar
dengan masalah pembuangan sampah.
g. Masih relatif rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan sarana
persampahan yang disediakan.

B. Analisis Timbulan Sampah Kota Kuala Tungkal dan Kawasan Prioritas

Analisis timbulan sampah pada wilayah perkotaan Kuala Tungkal dan


Kawasan Prioritas di pengaruhi oleh perkembangan penduduk yang diperkirakan
sampai dengan tahun 2032. Untuk melihat jumlah timbulan sampah yang terjadi
dapat dilihat pada tabel berikut:

Laporan Akhir III - 39


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Tabel 3.4
Analisis Timbulan sampah dan Kebutuhan Sarana Persampahan Pada Wilayah
Perkotaan Kuala Tungkal
No. Variabel Satuan Eksisting 2017 2022 2027 2032
1 Penduduk Jiwa 74.678 91.025 102.749 114.474 126.198
2 Jumlah KK KK 17.418 18.205 20.550 22.895 25.240
3 Jumlah Rumah Unit 8.542 18.205 20.550 22.895 25.240
4 Rata-rata Hunian Jiwa 5 5 5 5 5
5 Produk Sampah
- Domestik Liter/hari 227.562,5 25.6872,5 286.185 315.495
- Non Domestik Liter/hari 45.512,5 51.374,5 57.237 63.099
6 Jumlah Sampah Harian m3/hari 273,08 308,25 343,42 378,59
7 Pengelolaan Sampah
- Transfer Depo Buah - 3 3 3 4
- Gerobak Sampah (1000 L) Buah - 273 308 343 379
- TPA Buah - 1,0 - - -
8 Rencana Pengembangan
- Pembinaan Pengelolaan
Paket 5 5 5 5
Sampah
Sumber : Hasil Perhitungan.

Keterangan:
- Produksi sampah rumah tangga 2,5 liter/orang/hari
- Luas Transfer Depo 100 m²
- Kapasitas Gerobak Sampah 1000 liter
- Kapasitas Bak/Tong Sampah 12,5 liter

3.4.5 Air Limbah

Pola pembuangan air limbah rumah tangga oleh penduduk kota dikelompokan dalam
sistem :

1. Pembuangan Langsung

Pola pembungan air limbah ini dengan cara membuang limbah secara langsung tanpa
mempergunakan pengendapan pada tempat penampungan, seperti pembuangan air
limbah dan jamban ke permukaan tanah (cemplung dan plengsengan).

Sebagian besar penduduk perkotaan masih menggunakan pola pembuangan ini, namun
dilengkapi cubluk atau langsung dibuang dibawah rumah. Dampak yang ditimbulkan dari

Laporan Akhir III - 40


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

cara tersebut diatas adalah rendahnya tingkat kesehatan lingkungan serta tingginya
gangguan penyakit terutama infeksi bakteri pada kulit.

Rumah-rumah yang menempati badan parit atau sungai menggunakan saluran


parit/sungai untuk pembuangan langsung limbah, sehingga mencemari air yang ada dan
menimbulkan penyakit dilingkungan permukiman tersebut.

2. Pembuangan Limbah dengan Tangki Septik


Penduduk kota Kuala Tungkal yang menggunakan pola pembuangan air limbah dengan
Tangki Septik ini baru mencapai 54 % dengan sistem sanitasi individu, kelompok atau
golongan yang menggunakan pola ini dipergunakan pada perumahan permanen,
perkantoran, hotel, ruko dan restoran.

Laporan Akhir III - 41


I RPKPP KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Sanitasi untuk air buangan rumah tangga belum banyak yang menggunakan saluran
tersier atau saluran lingkungan, dimana pola pembuangan air buangan adalah dengan
menggunakan tanah rawa sebagai daerah tangkap yang nantinya secara alami akan
mengalir mengikuti kemiringan lahan yang ada. Pola ini dikemudian hari akan banyak
menimbulkan berbagai masalah seperti penyakit terutama bila perkembangan daerah
permukiman cukup pesat oleh karena daerah
terbuka sudah berkurang.

Pada tabel berikut dijabarkan mengenai sitem


pembuangan air limbah keluarga yang berlaku di
perkotaan Kuala tungkal.

Rumah penduduk yang dibangun


pada badan parit/sungai,

Tabel : 3.5
Penggunaan Jenis Jamban Oleh Penduduk di Perkotaan Kuala Tungkal
Jenis Jamban Yang Dipergunakan Penduduk (rumah)
LeherAngsa
No. Kelurahan/Desa Cemplung dng Leher Leher Angsa Dng
Cemplung Dng
Plengsengan Angsa Septic tank
Peresapan

1. Tungkal I 273 110 62 35 14


2. Tungkal II 852 437 806 1.207 83
3. Tungjkal III 518 600 1.104 681 207
4. Tungkal IV Kota 21 4 271 - -
5. Tungkal Harapan 124 24 131 - -
6. Teluk Sialang 92 25 125 17 -
7. Pembengis 38 9 - 3 12
Jumlah 1.918 1.209 2.213 1.943 316
Sumber : Kantor PKKTB, lokasi didekat PPI Tungkal II Kesehatan Ka. Tanjab Barat, Tahun 2012.

Laporan Akhir III - 42


I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

KONSEP DAN Bab

RENCANA PENANGANAN KAWASAN 04

Laporan Akhir IV - 1
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.1 Kebutuhan Penyediaan Permukiman dan Infrastruktur Permukiman Berdasarkan


Daya Dukung Lingkungan.

4.1.1 Kebutuhan Rumah

Kebutuhan rumah akan terus meningkat sejalan dengan perkembangan penduduk


dimasa mendatang. Untuk melihat kebutuhan rumah (backlog) serta kebutuhan sesuai
dengan perkembangan penduduk Kawasan Prioritas I Kampung Nelayan sampai dengan
tahun 2032 sebagaimana disajikan pada tabel 4.1.

Tabel 4.1
Kebutuhan Jumlah Rumah
Di Kawasan Prioritas I Kampung Nelayan sampai Tahun 2032
No. Variabel Satuan Jumlah Penduduk (Jiwa)
Eksisting 2017 2022 2027 2032
1 Penduduk Jiwa 10.380 16.349 19.665 22.982 26.298
2 Jumlah KK KK 2.489 2.725 3.278 3.830 4.383
3 Tingkat Pelayanan % 68,7 100,0 100,0 100,0 100,0
4 Jumlah Rumah Unit 1.709 2.725 3.278 3.830 4.383
5 Rata-rata Hunian Eksisting Jiwa 6
6 Rata-rata Hunian Standar Jiwa 6 6 6 6 6
Pencana Pengembangan
7 Perumahan
a. Pembangunan Backlog unit 21
b. Pembangunan Rumah Unit 995 553 553 553
Sumber : Hasil Perhitungan tahun 2012.

4.1.2 Kebutuhan Air Bersih

Kebutuhan air minum pada Kawasan prioritas 1 (kampung Nelayan) sampai dengan
tahun 2032 diperkirakan sebagai berikut:

Tabel 4.2
Kebutuhan Sarana Air Minum
Di Kawasan Prioritas I Kampung Nelayan sampai Tahun 2032
No. Variabel Satuan Eksisting 2017 2022 2027 2032
1 Penduduk Jiwa 10.380 16.349 19.665 22.982 26.298
2 Jumlah KK KK 2.489 2.725 3.278 3.830 4.383
3 Jumlah Rumah Unit 1.709 2.725 3.278 3.830 4.383
4 Rata-rata Hunian Jiwa 6 6 6 6 6
5 Kebutuhan Air Bersih Liter/hari
- Kebutuhan Air Domestik Liter/hari 1634900 1966500 2298200 2629800
- Kebutuhan Air Non
Domestik (20%) Liter/hari 32698 39330 45964 52596
- Kebutuhan Air Domestik Liter/hari 1667598 2005830 2344164 2682396

Laporan Akhir IV - 2
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

+ Non Domestik
- Kebocoran (20%) Liter/hari 33351,96 40116,6 46883,28 53647,92
TOTAL KEBUTUHAN (Liter) Liter/hari 1700950 2045947 2391047 2736044
TOTAL KEBUTUHAN (M3) m3/hari 1700,9 2045,9 2391,0 2736,0
Kapasitas yang
dibutuhkan Liter/detik 19,7 23,7 27,7 31,7
Sumber : Hasil Perhitungan tahun 2012.
4.1.3 Kebutuhan Jalan Lingkungan

Didalam Kawasan permukiman nelayan jaringan jalan merupakan Jalan rabat dan
jalan semen beton dengan kondisi buruk hingga sedang, serta jalan yang masih terbuat dari
tanah. Banyak badan rabat dan jalan semen yang sudah rusak dan memerlukan perbaikan,
dimensi jalan yang ada berkisar antara 1 – 1,5 meter.

4.1.4 Timbulan Persampahan

Timbulan sampah pada kawasan prioritas 1 Kampung Nelayan di pengaruhi oleh


perkembangan penduduk yang diperkirakan sampai dengan tahun 2032, hal ini perlu
diketahui timbulan sampah yang terjadi sehingga dapat diperkirakan program/kegiatan yang
akan dibuat pada kawasan tersebut. Untuk melihat jumlah timbulan sampah yang terjadi
dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.3
Prakiraan Timbulan Sampah dan Kebutuhan Sarana Persampahan Pada Kawasan Prioritas
1 Kampung Nelayan sampai tahun 2032.
No. Variabel Satuan Eksisting 2017 2022 2027 2032
1 Penduduk Jiwa 10.380 16.349 19.665 22.982 26.298
2 Jumlah KK KK 2.489 2.725 3.278 3.830 4.383
3 Jumlah Rumah Unit 1.709 2.725 3.278 3.830 4.383
4 Rata-rata Hunian Jiwa 6 6 6 6 6
5 Produk Sampah
- Domestik Liter/hari 40872,5 49162,5 57455 65745
- Non Domestik Liter/hari 8174,5 9832,5 11491 13149
6 Jumlah Sampah Harian m3/hari 49,05 59,00 68,95 78,89
7 Pengelolaan Sampah
- Transfer Depo Buah - 0 1 1 1
- Gerobak Sampah (1000 L) Buah - 49 59 69 79
8 Rencana Pengembangan
- Pembinaan Pengelolaan
Sampah Paket 5 5 5 5
Sumber : Hasil Perhitungan.

Keterangan:

Laporan Akhir IV - 3
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

- Produksi sampah rumah tangga 2,5 liter/orang/hari


- Luas Transfer Depo 100 m²
- Kapasitas Gerobak Sampah 1000 liter
- Kapasitas Bak/Tong Sampah 12,5 liter

4.1.5 Limbah

Pola pembungan air limbah ini dengan cara membuang limbah secara langsung tanpa
mempergunakan pengendapan pada tempat penampungan, seperti pembuangan air limbah
dan jamban ke permukaan tanah (cemplung dan plengsengan).
Sebagian besar penduduk masih menggunakan pola pembuangan ini, namun
dilengkapi cubluk atau langsung dibuang dibawah rumah. Dampak yang ditimbulkan dari
cara tersebut diatas adalah rendahnya tingkat kesehatan lingkungan serta tingginya
gangguan penyakit terutama infeksi bakteri pada kulit.
Rumah-rumah yang menempati badan parit atau sungai menggunakan saluran
parit/sungai untuk pembuangan langsung limbah, sehingga mencemari air yang ada dan
menimbulkan penyakit dilingkungan permukiman tersebut.
Sanitasi untuk air buangan rumah tangga belum
banyak yang menggunakan saluran tersier atau saluran
lingkungan, dimana pola pembuangan air buangan
adalah dengan menggunakan tanah rawa sebagai
daerah tangkap yang nantinya secara alami akan
mengalir mengikuti kemiringan lahan yang ada.

Pola ini dikemudian hari akan banyak menimbulkan berbagai masalah seperti penyakit
terutama bila perkembangan daerah permukiman cukup pesat oleh karena daerah terbuka
sudah berkurang.

Laporan Akhir IV - 4
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.1.6 Drainase

Pola aliran pembuangan saluran mengarah kepada badanParit-parit terhubung dengan


sungai besar yaitu Sungai Pengabuan dan muara sungai yang berhadapan langsung dengan
laut.
Untuk pelayanan sistem drainase sendiri dibedakan atas drainase alamiah dan drainase
buatan yang berada disepanjang tepi jalan yang merupakan saluran sekunder dan tersier.
 Drainase primer ; adalah drainase utama yang berfungsi sebagai daerah tumpahan air dari
drainase sekunder dan drainasetersier sebelum ke sungai/laut.
 Drainase primer merupakan aliran-aliran utama berupa sungai dan beberapa parit yang
ada, yaitu Sungai Pengabuan, Sungai Betara, Sungai Bram Itam dan Parit 1, Parit 2, Parit 3
dan Parit 4.
 Drainase Tersier adalah drainase yang merupakan wadah pengaliran yang umumnya
merupakan saluran pembuangan limbah rumah tangga yang berada di lingkungan
permukiman maupun perkotaan( diluar Kawasan Prioritas 1 Kampung Nelayan).

4.1.7 Kebutuhan Infrastruktur Penunjang Perikanan

Sesuai dengan karakteristik kawasan prioritas 1 yaitu Kampung Nelayan, maka untuk
menujang kegiatan utama (perikanan) yang terdapat di kawasan ini perlu dipersiapkan
infrastruktur penunjang yang terkait dengan pengembangan kawasan ini. Adapun
infrastruktur penunjang kawasan ini antara lain :

- Cold storage (Tempatpendingin)


- Pabrikes mini
- Pusat workshop pengolahanikan
- Tempatpenjualanhasilolahan/home industriperikanan
- TempatPengelolaanIkan
- TempatPelelanganIkan
- Pasarikandankuliner sea food
Dengandemikianinfrastrukturpenunjangbagikegiatanperikananinidapatmemberikandampak
positifterhadapperekonomiankhususnyabagimayarakat yang bergerakpadabidangperikanan.

Laporan Akhir IV - 5
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.1.8 Kebutuhan Infrastruktur Penunjang Pariwisata

Salah satu ciri khas dari suatu kawasan wisata adalah menonjolkan (mengexpose)
kegiatan apa yang akan dikembangkan pada kawasan tersebut, sehingga dapat menarik para
wisatawan yang akan datang kelokasi ini.

Perkampungan nelayan merupakan daya tarik tersendiri untuk dijadikan objek wisata
karena didalamnya terdapat beberapa objek dan kegiatan nelayan yang cukup menarik
untuk diamati. Beberapa kegiatan wisata yang dapat dikembangkan di Kawasan
Permukiman Prioritas Kampung Nelayan Kuala Tungkal adalah sebagai berikut :

1. Berperahumenyusursungaimengelilingiperkampungannelayanmelaluijalur air.

2. Observasidanmengamatikehidupansosialnelayan,
kegiatanekonomisejaknelayanmelautsampaidenganpengolahanhasilproduksiperikananne
layan.

3. Kawasanwisata “ANCOL” sebagaisalahsatudayatarikkawasanprioritas,


merupakankawasanterbukadenganpemandangan/view yang cukupluaskearahlaut.
Padakawasaninijugaterdapatpanggung yang
dapatdijadikansaranahiburandankegiatanlainnya.

Untuk kawasan wisata yang terdapat di Kampung Nelayan ini adalah kegiatan dasarnya
adalah terkait dengan kelautan/perikanan, sehingga kebutuhan Infrastruktur untuk
menunjang pariwisata ini adalah :

- Landmark (terkaitdenganHasilLaut/Sungai)
- Plaza ( Panggung Terbuka)
- TempatPemancingandan
- TempatKuliner

Laporan Akhir IV - 6
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Gambar4.1
PerspektifKonsepPengembanganKawasanWisata
LingkunganKawasanPrioritas
KONSEP DASAR

Dermaga sarana rekreasi Permukiman nelayan


Dapat dikembangkan untuk
pariwisata, yaitu dengan
mengelilingi sepanjang sungai
yang melintasi permukiman
nelayan. Oleh hal tersebut,
penataan permukiman nelayan
adalah hal yang sangat
diutamakan untuk menuju sarana
rekreasi/pariwisata

Permukiman nelayan

4.1.9 Matrik Kebutuhan Penanganan

Berdasarkan pada potensi dan permasalahan yang dihadapi di kawasan prioritas Kampung
Nelayan serta berpedoman pada tujuan kebijakan dari pada pembangunan daerah, maka kebutuhan
penanganan kawasan permukiman prioritas dalam hal ini Kampung Nelayan, secara spesifik akan
menjadi prioritas pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan.

Untuk lebih jelasnya Kebutuhan Penanganan di kawasan prioritas Kampung Nelayan dapat
dilihat pada Tabel 4.4.

Laporan Akhir IV - 7
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Tabel 4.4

Kebutuhan Penanganan Kawasan Permukiman Kampung Nelayan

No Infrastruktur Kebutuhan Penanganan Kawasan Prioritas Kampung Nelayan

1 Permukiman  Melakukan penanganan secara khusus pada kawasan yang


tergenang oleh air
 Penataan bangunan permukiman agar lebih teratur
 Peningkatan kualitas lingkungan permukiman yang layak dan sehat
 Peningkatan kualitas bangunan

2 Air Bersih  Peningkatan sarana dan prasarana pengolahan air bersih serta
didukung oleh jaringan air bersih yang terintegrasi
 Peningkatan layanan air bersih yang berasal dari PDAM

3 Persampahan  Penambahan sarana dan prasarana pengelolaan persampahan


 Sosialisasi terhadap msayarakat mengenai tata cara penanganan
sampah

4 Jalan Lingkungan  Perbaikan dan pemeliharaan jalan lingkungan sesuai dengan


standar yang berlaku
 Penanganan jalan lingkungan yang rusak disertai dengan
pembanguna pondasi yang kuat
 Pembangunan saluran samping jalan untuk mengailrkan air apabila
terjadi genangan di jalan lingkungan
 Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan dan
pemeliharaan jalan lingkungan di kawasan perkotaan

5 Drainase  Pembangunan jaringan drainase yang saling terintegrasi untuk


mengurangi genangan air yang terjadi
 Revitalisasi jaringan drainase yang terdapat di kawasan prioritas
 Merencanakan dan membangun jaringan drainase yang dapat
mengalirkan genangan air

6 Sanitasi/ Air  Pembangunan pengelolaan limbah secara komunal pada kawasan


Limbah prioritas sehingga meminimalisasi pencemaran lingkungan
 Melakukan sosialisai mengenai pola hidup yang sehat terhadap
masyarakat di kawasan prioritas

Laporan Akhir IV - 8
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

7 PenataanBangunan  Melakukan pembuatan dan rencana penataan bangunan dan


dan Lingkungan lingkungan pada kawasan yang masih banyak terdapat lahan
kosong
 Diperlukan pembuatan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
pada kawasan prioritas.

4.2 Konsep Penanganan Kawasan

Setelah memperhatikan beberapa potensi dan permasalahan yang telah dijelaskan


pada bab sebelumnya serta setelah dilakukan analisis terhadap permasalahan yang ada
tersebut, maka pada sub bab ini akan dijelaskan beberapa langkah penanganan yang akan
dilakukan dalam menangani permasalahan yang ada. Langkah penanganan Ini dilakukan
sebagai dasar dalam peentuan rencana aksi program yang akan ditentukan pada bab
berikutnya.Konsep penangana kawasan pada masing-masing blok pada kawasan prioritas 1
akan disajikan dalam bentuk matriks table penanganan.

4.2.1 Penanganan Kawasan Prioritas Blok 1

Laporan Akhir IV - 9
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Tabel 4.5
Kebutuhan Penanganan Permukiman Dan Infrastruktur
Kawasan Permukiman Kampung Nelayan (BLOK 1)

Kebutuhan Penanganan
No Infrastruktur Permasalahan Kawasan Prioritas Kampung Konsep Penanganan Komponen Penanganan
Nelayan

1 Permukiman  Ada 67 unit bangunan rumah 1. Pengamanan bantaran sungai 1. Kompensasi pengadaan bahan 1. Modul rumah contoh
di bantaran Sungai dari berdirinya bangunan bangunan, untuk 67 unit
2. Pengadaan bahan bangunan
Pangabuan perumahan bangunan rumah
 Seluruh bangunan rumah
2. Pengamanan bangunan 2. Relokasi perumahan tepi sungai
merupakan bangunan semi
permanen dengan bahan perumahan agar penghuni 3. Sosialisai/penyuluhan tentang 3. Pembuatan film
bangunan dari kayu, sehingga dapat tinggal dengan aman rumah yang layak huni, aman dan penerangan, media cetak
mudah mengalami dan nyaman nyaman (Koran, leaflet dll)
kebakaran. 3. Pengamanan Kawasan dari
kemungkinan bahaya 4. Penyediaan fasilitas
penanganan bahaya
kebakaran
kebakaran
 Bagian belakang rumah
4. Peningkatan kesehatan 4. Bangunan perumahan ditepi 5. Pembuatan prototype dan
menghadap sungai, sehingga
limbah rumah tangga lingkungan perumahan sungai tidak membelakangi sungai, rumah contoh rumah
sebagian besar dibuang ke Muka rumah menghadap sungai menghadap sungai
sungai
 Kondisi sanitasi yang kurang
baik, mempengaruhi tingkat
kesehatan masyarakat. 5. Pengarahan pembanguan ke 6. Menyiapkan kajian
 Lahan pengembangan kawasan kepadatan rendah (naskahakademis)bangunan
permukiman sangat terbatas gedung
5. Perda Bangunan dan Gedung
7. Legalisasi Ranperda
Bangunan gedung.

Laporan Akhir IV - 10
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2 Sungai  Air sungai tidak dapat  Penataan kawasan sempadan  Sosialisasi dan penyuluhan tentang  Pembuatan media
dikonsumsi sungai kebersihan lingkungan dan informasi penyuluhan
 Menyulitkan dalam kebersihan sungai (surat kabar, poster, leaflet
 Pendataan jumlah rumah tepi dll)
penyediaan sarana dan
sungai  Pengembangan konsep muka
prasarana permukiman.
bangunan rumah menghadap  Pembuatan papan
 Sungai dijadikan tempat  Penyediaan papan sungai pengumuman tentang
pembuangan limbah rumah pengumuman tentang kebersihan sungai
tangga dan tempat kebersihan lingkungan dan  Pembuatan prototype
pembuangan sampah kebersihan sungai rumah dan rumah contoh
penduduk untuk rumah tepi sungai

3 Jalan Lingkungan  Jalan lingkungan sangat sulit  Peningkatan jalan lingkungan  Perbaikan dan pemeliharaan jalan  Membentuk kelompok
untuk dilakukan pelebaran sesuai dengan ketentuan yang lingkungan sesuai dengan standar masyarakat (organisasi
dan peningkatan karena berlaku yang berlaku masyarakat) dalam
keterbatasan lahan pengelolaan dan
 Penanganan jalan lingkungan yang pemeliharaan jalan
 Perlengkapan dan fasilitas  Pembuatan jalan lingkungan
rusak disertai dengan lingkungan
jalan lingkungan belum baru pada kawasan prioritas pembangunan pondasi yang kuat
tersedia dengan baik sehingga dapat saling  Penyusunan DED Jalan dan
 Tidak ada pembatas antara terintegrasi  Pembangunan saluran samping pelengkap keamanan jalan
Jalan lingkungan dengan  Peningkatan keamanan jalan jalan untuk mengailrkan air apabila
perumahan, sehingga lingkungan bagi penduduk terjadi genangan di jalan
beresiko terhadap penghuni lingkungan
perumahan

4 Air Bersih  Kebutuhan Air minum  Pemenuhan kebutuhan air  Pembangunan jaringan air bersih  Pengembangan IPA untuk
berasal dari Isi ulang dan air bersih kepada seluruh (PDAM) di dalam kawasan Blok 1 meningkatkan kualitas air
hujan. pendudk kawasan Blok 1 bersih
 Peningkatan kualitas air bersih
 Kawasan belum terjangkau  Peningkatan layanan air bersih PDAM agar layak untuk  Pembangunan jaringan
oleh pelayanan PDAM. yang berasal dari PDAM dikonsumsi perpipaan didalam

Laporan Akhir IV - 11
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

kawasan

 Pembangunan Hidran
Umum (HU)

5 Drainase  Tidak ada saluran drainase  Inventarisasi kebutuhan  Menjaga agar saluran drainase  Penyusunan DED Drainase
jaringan drainase kawasan alam (sungai/parit) tidak Kawasan Blok 1
tersumbat sehingga aliran air dari
 Pemanfaatan drainase alam permukiman dapat berjalan lancar

 Merencanakan dan membangun


jaringan drainase yang dapat
mengalirkan genangan air

6 Sanitasi/ Air  Semua bangunan rumah  Pengelolaan air limbah  Penerapan peraturan tentang  Pembuatan media informasi
Limbah tangga tidak memiliki (jamban) keluarga pembuangan air limbah rumah penyuluhan (surat kabar,
prasarana dan sarana air  Peningkatan kesehatan tangga poster, leaflet dll) untuk
limbah penduduk dan kesehatan  Pembangunan pengelolaan limbah sosialisasi dan penyuluhan
 Sebagian masyarakat lingkungan secara komunal pada kawasan tentang kebersihan dan
membuang limbah padat dan prioritas sehingga meminimalisasi kesehatan lingkungan
 Peningkatan kesadaran
cair langsung ke sungai pencemaran lingkungan  Pembangunan septic tank
masyarakat tentang kesehatan
 Kesadaran warga dalam lingkungan  Melakukan sosialisai dan komunal
menjaga kebersihan masih penyuluhan mengenai pola hidup
 Pengembangan teknologi
kurang yang sehat terhadap masyarakat di
septic tank yang cocok
 Belum memiliki sistem kawasan prioritas
diterapkan pada kawasan
sanitasi yang baik

7 Persampahan  Sebagian besar warga  Pengembangan pengangkutan  Peningkatan sarana dan prasarana  Pembuatan media
membuang sampah di sampah di kawasan Blok 1 persampahan yang telah ada informasi penyuluhan
tempat terbuka dan langsung (surat kabar, poster, leaflet
 Penyediaan sarana  Penanganan pengelolaan
ke sungai dll) sosialisasi dan
pengangkutan sampah yang pelayanan persampahan sehingga
 Tidak memiliki sistem penyuluhan tentang
dapat masuk kepelosok pencemaran lingkungan dapat

Laporan Akhir IV - 12
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

pengelolaan sampah. kawasan diminimalisasi persampahan


 Minat warga dalam  Penyediaan tong sampah pada  Membentuk kelompok
 Pelibatan peranserta masyarakat
penerapan pola 3 – R masih setiap rumah masyarakat (organisasi
dalam pengelolaan sampah
kurang masyarakat) dalam
 Pemisahan sampah organic
dan an organic sejak dari  Pengembangan teknologi pengelolaan persampahan
rumah tangga pengelolaan sampah
 Penyediaan Gerobak/
 Penyediaan papan motor pengangkut sampah
pengumuman tentang
kebersihan lingkungan dan  Penyediaan tong sampah
untuk sampah organic dan
kebersihan sungai
sampah an organik
8 Penataan  Kondisi perumahan belum  Pembatasan jumlah bangunan  Melakukan penataan bangunan  Pembuatan contoh/
Bangunan dan tertata dengan baik pada kawasan pada kawasan padat permukiman, prototype rumah sederhana,
Lingkungan  Sebagian besar bangunan  Mempermudah bangunan dan penduduk sehat dan layak huni
pengurusan
yang telah berdiri belum IMB  Sosialisasi tentang keamanan  Pembuatan papan
memiliki izin bangunan
 Bantuan peningkatan kualitas bangunan perumahan pengumuman, leaflet dan
 Kerapatan bangunan di bangunan media informasi untuk
sekitar sempadan sungai penyuluhan dan sosialisasi
sangat rapat keamanan bangunan dan
 Sebagian besar bangunan lingkungan
merupakan bangunan semi
permanen dengan
menggunakan bahan dari
kayu
 Sebagian besar bangunan
merupakan bangunan semi
permanen dengan
mengguunakan bahan dari
kayu

Laporan Akhir IV - 13
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 Relokasiperumahantepisungai
 Sosialisai/penyuluhantentangrum
ah yang layakhuni,
amandannyaman
 Pengembangan konsep muka
bangunan rumah menghadap
sungai
 Perbaikan dan pemeliharaan
jalan lingkungan sesuai dengan
standar yang berlaku
 Penanganan jalan lingkungan
yang rusak disertai dengan
pembangunan pondasi yang kuat
 Pembangunan saluran samping
jalan untuk mengailrkan
airapabila terjadi genangan di
jalan lingkungan
 Pembangunan jaringan air bersih
(PDAM) di dalam kawasan Blok 1
 Merencanakan dan membangun
jaringan drainase yang dapat
mengalirkan genangan air
 Pembangunan pengelolaan
limbah secara komunal pada
kawasan prioritassehingga
meminimalisasi
pencemaranlingkungan
 Penanganan pengelolaan
pelayanan persampahan
 Melakukan penataan bangunan
pada kawasan padat permukiman

Laporan Akhir IV - 14
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.2.2 Penanganan Kawasan Prioritas Blok 2

Tabel 4.6
Kebutuhan Penanganan Permukiman dan Infrastruktur
Kawasan Permukiman Prioritas BLOK 2

Kebutuhan Penanganan
No Infrastruktur Permasalahan Konsep Penanganan Komponen Penanganan
Kawasan Prioritas

1 Permukiman  Sebagian bangunan rumah 1. Pengamanan bangunan 1. Sosialisai/penyuluhan tentang 1. Pembuatan film, media
merupakan bangunan semi perumahan agar penghuni rumah yang layak huni, aman dan cetak (Koran, leaflet dll)
permanen dengan bahan dapat tinggal dengan aman nyaman
2. Penerapan peraturan
bangunan dari kayu, sehingga
dan nyaman 2. Penataan lingkungan perumahan pendirian bangunan didalam
mudah mengalami di Blok 2 lingkungan permukiman
2. Pengarahan pengembangan
kebakaran. Blok 2
permukiman kawasan Blok 2 3. Penataan kawasan bantaran
 Lahan pengembangan 3. Pengamanan bantaran sungai sungai
permukiman sangat terbatas
dari berdirinya bangunan
perumahan

2 Sungai  Air sungai tidak dapat  Penataan kawasan sempadan  Sosialisasi dan penyuluhan tentang  Pembuatan media informasi
dikonsumsi sungai kebersihan lingkungan dan penyuluhan (surat kabar,
kebersihan sungai poster, leaflet dll)
 Sungai dijadikan tempat  Pendataan jumlah rumah tepi
pembuangan limbah rumah sungai  Pengembangan konsep muka  Pembuatan papan
tangga dan tempat bangunan rumah menghadap pengumuman tentang
pembuangan sampah  Penyediaan tempat sungai kebersihan sungai
penduduk pembuangan sampah di
 Pembuatan prototype
lingkungan permukiman rumah dan rumah contoh
 Penyediaan papan untuk rumah tepi sungai

Laporan Akhir IV - 15
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

pengumuman tentang
kebersihan lingkungan dan
kebersihan sungai

3 Jalan Lingkungan  Sebagian jalan lingkungan  Peningkatan kualitas dan  Pelebaran jalan kolektor menuju  Penyusunan DED
kondisinya kurang baik kapasitas jalan lingkungan dan pelabuhan Pengembangan jalan
jalan kolektor sesuai dengan
 Terdapat penyempitan jalan  Pembangunan saluran samping  Membentuk kelompok
ketentuan yang berlaku untuk
kolektor menuju kawasan jalan untuk mengailrkan air apabila masyarakat (organisasi
meningkatkan akses menuju
pelabuhan terjadi genangan di jalan masyarakat) dalam
pelabuhan
lingkungan pengelolaan dan
pemeliharaan jalan
 Meningkatkan peran serta lingkungan
masyarakat dalam pembangunan
dan pemeliharaan jalan lingkungan
di kawasan perkotaan

4 Air Bersih  Kebutuhan Air minum  Pemenuhan kebutuhan air  Pembangunan jaringan air bersih  Pengembangan IPA untuk
berasal dari Isi ulang dan air bersih kepada seluruh rumah (PDAM) di dalam kawasan meningkatkan kualitas air
hujan. rumah penduduk di Kawasan bersih
Blok 2  Peningkatan kualitas air bersih
 Kawasan belum terjangkau PDAM agar layak untuk  Pembangunan jaringan
oleh pelayanan PDAM.  Peningkatan kualitas dan dikonsumsi perpipaan didalam
jaringan layanan air bersih kawasan
yang berasal dari PDAM
 Pembangunan Hidran
Umum

5 Drainase  Saluran drainase masih  Melakukan penataan dan  Pembangunan jaringan drainase  Melakukan perbaikan
tercampur dengan air limbah pemeliharaan terhadap yang saling terintegrasi untuk terhadap jaringan drainase

Laporan Akhir IV - 16
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

rumah tangga. jaringan drainase yang telah mengurangi genangan air yang yang fungsinya tidak
ada. terjadi maksimal
 Topografi kawasan yang
relatif datar menyulitkan air  Pendataan daerah genangan air  Revitalisasi jaringan drainase yang
untuk mengalir. terutama pada saat musim terdapat di kawasan prioritas
hujan untuk menghidari terjadinya
genangan
 Pemanfaatan jaringan drainase
yang ada saat ini

6 Sanitasi/ Air  Sebagian masyarakat  Pembuatan septic tank bagi  Penerapan peraturan tentang  Pembuatan media
Limbah membuang limbah padat dan limbah padat secara komunal pembuangan air limbah rumah informasi penyuluhan
cair langsung ke sungai  Peningkatan jaringan drainase tangga (surat kabar, poster, leaflet
 Melakukan dll) tentang kesehatan dan
 Kesadaran warga dalam sebagai pembuangan limbah sosialisai dan
cair penyuluhan mengenai pola hidup kebersihan lingkungan
menjaga kebersihan masih
kurang  Pengolahan air limbah yang sehat terhadap masyarakat di  Pembangunan septic tank
(jamban) keluarga kawasan prioritas komunal dengan teknologi
 Belum memiliki sistem
 Pengembangan teknologi septic tepat guna
sanitasi yang baik
tank yang cocok diterapkan pada
 Tidak semua bangunan kawasan
rumah tangga memiliki
prasarana dan sarana air
limbah

7 Persampahan  Sebagian besar warga  Penyediaan sarana  Peningkatan sarana dan prasarana  Pembuatan media informasi
membuang sampah di pengangkutan sampah yang persampahan yang telah ada penyuluhan (surat kabar,
tempat terbuka dan langsung dapat masuk kepelosok poster, leaflet dll)
 Penanganan pengelolaan
ke sungai kawasan
pelayanan persampahan sehingga  Membentuk kelompok
 Tidak memiliki sistem  Penambahan sarana dan pencemaran lingkungan dapat masyarakat (organisasi
pengelolaan sampah. prasarana pengelolaan diminimalisasi masyarakat) dalam
persampahan
 Minat warga dalam

Laporan Akhir IV - 17
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

penerapan pola 3 – R masih  Penyediaan tong sampah pada  Pelibatan peranserta masyarakat pengelolaan persampahan
kurang setiap rumah dalam pengelolaan sampah
 Penyediaan Gerobak/ motor
 Genangan air yang terjadi  Pemisahan sampah organic  Pengembangan teknologi pengangkut sampah
menyebabkan timbulnya dan an organic sejak dari pengelolaan sampah
timbunan sampah rumah tangga  Penyediaan papan
pengumuman tentang
 Sosialisasi terhadap kebersihan lingkungan dan
msayarakat mengenai tata kebersihan sungai
cara penanganan sampah

8 Penataan  Sebagian besar bangunan  Pembatasan jumlah bangunan  Diperlukan pembuatan Rencana  Penyusunan/Perencanaan
Bangunan dan yang telah berdiri belum pada kawasan Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan wisata
Lingkungan memiliki izin bangunan pada kawasan prioritas.
 Mempermudah pengurusan  Pengembangan fasilitas
 Sebagian besar bangunan IMB penunjang wisata seperti
merupakan bangunan semi
 Bantuan peningkatan kualitas plaza, gazebo, panggung
permanen dengan terbuka, kuliner, lampu
bangunan
menggunakan bahan dari taman/kawasan, pembuatan
kayu landmark kawasan dan
 Belum ada penataan lainnya.
kawasan, perlu dilakukan
lebih awal untuk menjaga
kawasan agar tidak
berkembang tanpa penataan.

Laporan Akhir IV - 18
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 Penataanlingkunganperumahan
di Blok 2
 Penataankawasanbantaransungai
 Pengembangan konsep muka
bangunan rumah menghadap
sungai
 Pelebaran jalan kolektor menuju
pelabuhan
 Pembangunan saluran samping
jalan untuk mengailrkan air
apabila terjadi genangan di jalan
lingkungan
 Pembangunan jaringan air bersih
(PDAM) di dalam kawasan
 Revitalisasi jaringan drainase
yang terdapat di kawasan
prioritas untuk menghidari
terjadinya genangan
 Sosialisai dan penyuluhan
mengenai pola hidup yang sehat
di kawasan prioritas
 Pengembanganteknologi septic
tank yang cocokpadakawasan
 Peningkatan sarana dan
prasarana persampahan yang
telah ada
 Rencana TataBangunan
danLingkungan pada
kawasanprioritas.

Laporan Akhir IV - 19
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.2.3 Penanganan Kawasan Prioritas Blok 3

Tabel 4.7
Kebutuhan Penanganan Permukiman dan Infrastruktur
Kawasan Permukiman Prioritas BLOK 3

Kebutuhan Penanganan
No Infrastruktur Permasalahan Kawasan Prioritas Kampung Konsep Penanganan Komponen Penanganan
Nelayan
1 Permukiman  Sebagian rumah merupakan 1. Pengamanan bangunan 1. Sosialisai/penyuluhan tentang 1. Pembuatanmedia
bangunan semi permanen perumahan agar penghuni rumah yang layak huni, aman dan komunikasi cetak (Koran,
dengan bahan bangunan dari dapat tinggal dengan aman nyaman leaflet dll) tentang rumah
kayu, sehingga mudah layak huni dan sehat dan
dan nyaman 2. Peraturan Penataan bangunan dan
mengalami kebakaran. juga peraturan tentang
2. Penataan bangunan dan lingkungan
rumah layak huni, nyaman
 Kondisi sanitasi yang kurang lingkungan permukiman yang 3. Desain Inovasi/ model struktur dan sehat
baik, mempengaruhi tingkat sehat bangunan untuk lingkungan
kesehatan masyarakat. 2. Pembuatan bangunan
3. Kajian struktur bangunan pasang surut atau rawa
contoh dengan konstruksi
 Tekstur tanah berupa tanah daerah rawa. 4. Pembangunan model struktur khusus di kawasan Blok 3
liat menyebabkan 4. Pengembangan teknologi bangunan untuk lingkungan
pembangunan kawasan 5. Bantuan dana dan teknik
konstruksi bangunan pasang surut atau rawa
permukiman memerlukan konstruksi bangunan
konstruksi khusus dengan perumahan pada kawasan
biaya yang cukup tinggi dengan tekstur tanah
khusus.

2 Sungai  Air sungai tidak dapat  Penataan kawasan sempadan  Sosialisasi dan penyuluhan tentang  Pembuatan media
dikonsumsi sungai kebersihan lingkungan dan informasi penyuluhan
kebersihan sungai (surat kabar, poster, leaflet
 Sungai dijadikan tempat  Pendataan jumlah rumah tepi dll)
pembuangan limbah rumah  Pengembangan konsep muka

Laporan Akhir IV - 20
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

tangga dan tempat sungai bangunan rumah menghadap  Pembuatan papan


pembuangan sampah sungai pengumuman tentang
penduduk  Penyediaan tempat kebersihan sungai
pembuangan sampah di
 Akibat pasang surut air laut lingkungan permukiman  Pembuatan prototype
dapat berpengaruh terhadap rumah dan rumah contoh
sebagian wilayah daratan  Penyediaan papan untuk rumah tepi sungai
(menjadikan banjir sesaat) pengumuman tentang
kebersihan lingkungan dan
kebersihan sungai

3 Jalan Lingkungan  Jalan lingkungan sangat sulit  Peningkatan jalan lingkungan  Perbaikan dan pemeliharaan jalan  Membentuk kelompok
untuk dilakukan pelebaran sesuai dengan ketentuan yang lingkungan sesuai dengan standar masyarakat (organisasi
dan peningkatan karena berlaku yang berlaku masyarakat) dalam
keterbatasan lahan pengelolaan dan
 Pemeliharaan dan perbaikan  Penanganan jalan lingkungan yang
pemeliharaan jalan
 Perlengkapan dan fasilitas jalan lingkungan yang telah rusak disertai dengan lingkungan
jalan lingkungan belum ada di kawasan perkotaan pembangunan pondasi yang kuat
tersedia dengan baik  Pembuatan
 Perlengkapan keamanan jalan pagar
 Tidak ada pembatas antara lingkungan bagi pengguna  Pembangunan saluran samping pengaman tepi jalan pada
Jalan lingkungan dengan jalan. jalan untuk mengailrkan air apabila daerah yang dirasakan
perumahan, sehingga terjadi genangan di jalan memerlukan.
beresiko terhadap penghuni lingkungan
perumahan  Penyusunan DED Jalan
 Meningkatkan peran serta
 Belum memiliki saluran masyarakat dalam pembangunan
drainase pada sisi jalan dan pemeliharaan jalan lingkungan
sehingga menimbulkan di kawasan perkotaan
genangan air yang dapat
merusak kualitas jalan
lingkungan

4 Air Bersih  Kebutuhan Air minum  Pemenuhan kebutuhan air  Pembangunan jaringan air bersih  Pengembangan IPA untuk
berasal dari Isi ulang dan air bersih kepada seluruh meningkatkan kualitas air

Laporan Akhir IV - 21
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

hujan. penduduk di kawasan Blok 3 (PDAM) di dalam kawasan bersih


 Kawasan belum terjangkau  Peningkatan jaringan  Peningkatan kualitas air bersih  Pembangunan jaringan
oleh pelayanan PDAM. pelayanan dan kualitas air PDAM agar layak untuk perpipaan didalam
bersih yang berasal dari PDAM dikonsumsi kawasan

 Pembuatan Hidran Umum

5 Drainase  Tidak ada saluran drainase  Inventarisasi kebutuhan  Pembangunan jaringan drainase  Penyusunan DED Drainase
jaringan drainase kawasan yang saling terintegrasi untuk
 Topografi kawasan yang  Pembangunan saluran
mengurangi genangan air yang
relatif datar menyulitkan air  Melakukan penataan dan drainase terintegrasi
terjadi
untuk mengalir. pemeliharaan terhadap dengan kawasan lain.
 Pembuangan air hujan dan jaringan drainase yang telah  Revitalisasi jaringan drainase yang
limbah rumah tangga ke ada. terdapat di kawasan prioritas
daerah genangan.
 Merencanakan dan membangun
jaringan drainase yang dapat
mengalirkan genangan air

6 Sanitasi/ Air  Semua bangunan rumah  Pembuatan septic tank bagi  Penerapan peraturan tentang  Pembuatan media
Limbah tangga tidak memiliki limbah padat secara komunal pembuangan air limbah rumah informasi penyuluhan
prasarana dan sarana air  Peningkatan jaringan drainase tangga (surat kabar, poster, leaflet
limbah sebagai pembuangan limbah  Pembangunan pengelolaan limbah dll) tentang kesehatan
lingkungan dan peraturan
 Sebagian masyarakat cair secara komunal pada kawasan
prioritas sehingga meminimalisasi kesehatan lingkungan.
membuang limbah padat dan  Pengolahan air limbah
cair langsung ke sungai dan (jamban) keluarga pencemaran lingkungan  Pembangunan septic tank
daerah genangan  Melakukan sosialisai dan komunal dengan teknologi
penyuluhan mengenai pola hidup yang cocok diterapkan di
 Kesadaran warga dalam
yang sehat terhadap masyarakat di kawasan Blok 3
menjaga kebersihan masih
kurang kawasan prioritas

 Pengembangan teknologi septic
 Belum memiliki sistem

Laporan Akhir IV - 22
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

sanitasi yang baik tank yang cocok diterapkan pada


kawasan

7 Persampahan  Sebagian besar warga  Penyediaan sarana  Peningkatan sarana dan prasarana  Pembuatan media
membuang sampah di pengangkutan sampah yang persampahan yang telah ada informasi penyuluhan
tempat terbuka dan langsung dapat masuk kepelosok (surat kabar, poster, leaflet
 Penanganan pengelolaan
ke sungai/parit kawasan dll)
pelayanan persampahan sehingga
 Tidak memiliki sistem  Penambahan sarana dan pencemaran lingkungan dapat  Membentuk kelompok
pengelolaan sampah. prasarana pengelolaan diminimalisasi masyarakat (organisasi
persampahan masyarakat) dalam
 Genangan air yang terjadi  Pelibatan peranserta masyarakat pengelolaan persampahan
menyebabkan timbulnya  Penyediaan tong sampah pada dalam pengelolaan sampah
timbunan sampah setiap rumah  Penyediaan Gerobak/
 Minat warga dalam  Pemisahan sampah organic  Pengembangan teknologi motor pengangkut sampah
penerapan pola 3 – R masih dan an organic sejak dari pengelolaan sampah
kurang rumah tangga
 Sosialisasi terhadap
msayarakat mengenai tata
cara penanganan sampah
 Penyediaan papan
pengumuman tentang
kebersihan lingkungan dan
kebersihan sungai

8 Penataan  Kondisi perumahan belum  Pembatasan jumlah bangunan  Melakukan penataan bangunan  Penyusunan RTBL Kawasan
Bangunan dan tertata dengan baik pada kawasan pada kawasan padat permukiman,
Lingkungan bangunan dan penduduk  Penarapan peraturan
 Sebagian besar bangunan  Mempermudah pengurusan penataan bangunan dan
yang telah berdiri belum IMB  Diperlukan pembuatan Rencana lingkungan
memiliki izin bangunan
 Bantuan peningkatan kualitas Tata Bangunan dan Lingkungan
 Pembuatan contoh/
 Kerapatan bangunan di bangunan pada kawasan prioritas.
prototype rumah
sekitar sempadan sungai

Laporan Akhir IV - 23
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

sangat rapat sederhana, sehat dan layak


huni
 Sebagian besar bangunan
merupakan bangunan semi
permanen dengan
menggunakan bahan dari
kayu

Laporan Akhir IV - 24
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 DesainInovasi/ model
strukturbangunanuntuklingkunga
npasangsurutataurawa
 Sosialisasidanpenyuluhantentang
kebersihanlingkungandankebersi
hansungai
 Pengembangankonsepmukabang
unanrumahmenghadapsungai
 Perbaikan dan pemeliharaan
jalan lingkungan sesuai dengan
standar yang berlaku
 Pembangunan jaringan air bersih
(PDAM) di dalam kawasan
 Revitalisasi jaringan drainase
yang terdapat di kawasan
prioritas
 Merencanakan dan membangun
jaringan drainase yang dapat
mengalirkan genangan air
 Pengelolaan limbah secara
komunal sehingga
meminimalisasi pencemaran
lingkungan
 Penanganan pengelolaan
pelayanan persampahan
sehingga pencemaranlingkungan
dapat diminimalisasi
 Melakukan penataanbangunan
pada kawasan padat
permukiman, bangunan dan
penduduk

Laporan Akhir IV - 25
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.2.4 Penanganan Kawasan Prioritas Blok 4

Tabel 4.8
Kebutuhan Penanganan Permukiman dan Infrastruktur
Kawasan Permukiman Prioritas BLOK 4

Kebutuhan Penanganan
No Infrastruktur Permasalahan Kawasan Prioritas Kampung Konsep Penanganan Komponen Penanganan
Nelayan

1 Permukiman  Ada 22 unit bangunan rumah 1. Pengamanan bantaran sungai 1. Kompensasi pengadaan bahan 1. Modul rumah contoh
di bantaran Parit A dari berdirinya bangunan bangunan, untuk 40unit bangunan
2. Pengadaan bahan
perumahan rumah
 Ada 18 unit bangunan rumah bangunan
di bantaran Parit B 2. Pengamanan bangunan
2. Relokasi perumahan tepi sungai 3. Pembuatan film
perumahan agar penghuni
 Seluruh bangunan rumah penerangan, media cetak
dapat tinggal dengan aman 3. Sosialisai/penyuluhan tentang
merupakan bangunan semi (Koran, leaflet dll)
dan nyaman rumah yang layak huni, aman dan
permanen dengan bahan nyaman 4. Penyediaan fasilitas
bangunan dari kayu, sehingga 3. Pengamanan Kawasan dari penanganan bahaya
mudah mengalami kemungkinan bahaya 4. Bangunan perumahan ditepi
kebakaran
kebakaran. kebakaran sungai tidak membelakangi sungai,
Muka rumah menghadap sungai 5. Pembuatan prototype dan
4. Peningkatan kesehatan
rumah contoh rumah
lingkungan perumahan 5. Penataan kawasan bantaran
menghadap sungai
sungai
5. Pengarahan pembanguan ke
6. Menyiapkan kajian
kawasan kepadatan rendah
(naskahakademis)banguna
n gedung
7. Legalisasi Ranperda
Bangunan gedung.

Laporan Akhir IV - 26
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

2 Sungai  Air sungai tidak dapat  Penataan kawasan sempadan  Sosialisasi dan penyuluhan tentang  Pembuatan media
dikonsumsi sungai kebersihan lingkungan dan informasi penyuluhan
kebersihan sungai (surat kabar, poster, leaflet
 Menyulitkan dalam  Pendataan jumlah rumah tepi
dll)
penyediaan sarana dan sungai  Pengembangan konsep muka
prasarana permukiman.  Pembuatan papan
 Penyediaan papan bangunan rumah menghadap
pengumuman tentang
 Sungai dijadikan tempat pengumuman tentang sungai
kebersihan sungai
pembuangan limbah rumah kebersihan lingkungan dan
tangga dan tempat kebersihan sungai  Pembuatan prototype
pembuangan sampah rumah dan rumah contoh
penduduk untuk rumah tepi sungai

3 Jalan Lingkungan  Belum memiliki saluran  Peningkatan jalan lingkungan  Perbaikan dan pemeliharaan jalan  Membentuk kelompok
drainase pada sisi jalan sesuai dengan ketentuan yang lingkungan sesuai dengan standar masyarakat (organisasi
sehingga menimbulkan berlaku yang berlaku masyarakat) dalam
genangan air yang dapat pengelolaan dan
 Pembuatan jalan lingkungan  Penanganan jalan lingkungan yang
merusak kualitas jalan pemeliharaan jalan
baru pada kawasan prioritas rusak disertai dengan
lingkungan lingkungan
sehingga dapat saling pembangunan pondasi yang kuat
 Jalan lingkungan sangat sulit terintegrasi  Penyusunan DED Jalan dan
 Peningkatan keamanan jalan  Pembangunan saluran samping
untuk dilakukan pelebaran pelengkap keamanan jalan
dan peningkatan karena jalan untuk mengailrkan air apabila
lingkungan bagi penduduk
keterbatasan lahan terjadi genangan di jalan
 Perlengkapan dan fasilitas lingkungan
jalan lingkungan belum  Meningkatkan peran serta
tersedia dengan baik masyarakat dalam pembangunan
 Tidak ada pembatas antara dan pemeliharaan jalan lingkungan
Jalan lingkungan dengan di kawasan perkotaan
perumahan, sehingga
beresiko terhadap penghuni
perumahan

Laporan Akhir IV - 27
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4 Air Bersih  Tidak semua bangunan  Pemenuhan kebutuhan air  Pembangunan jaringan air bersih  Pengembangan IPA untuk
rumah tangga memiliki bersih kepada seluruh (PDAM) di dalam kawasan Blok 4 meningkatkan kualitas air
prasarana dan sarana air pendudk kawasan Blok 4 bersih
limbah  Peningkatan kualitas air bersih
 Peningkatan layanan air bersih PDAM agar layak untuk  Pembangunan jaringan
 Sebagian masyarakat yang berasal dari PDAM dikonsumsi perpipaan didalam
membuang limbah padat dan kawasan
cair langsung ke sungai
 Pembangunan Hidran
 Kesadaran warga dalam
Umum (HU)
menjaga kebersihan masih
kurang
 Belum memiliki sistem
sanitasi yang baik

5 Drainase  Topografi kawasan yang  Inventarisasi kebutuhan  Menjaga agar saluran drainase  Penyusunan DED Drainase
relatif datar menyulitkan air jaringan drainase kawasan alam (sungai/parit) tidak Kawasan Blok 4
untuk mengalir. tersumbat sehingga aliran air dari
 Pemanfaatan drainase alam permukiman dapat berjalan lancar  Melibatkan masyarakat
 Jalan lingkungan yang dalam pemeliharaan
kondisinya banyak yang rusak  Melakukan penataan dan  Merencanakan dan membangun saluran drainase alam
dan sempit dan tidak pemeliharaan terhadap jaringan drainase yang dapat (sungai/parit) agar tidak
memiliki drainase. jaringan drainase yang telah mengalirkan genangan air tersumbat
ada.
 Revitalisasi jaringan drainase yang
terdapat di kawasan prioritas

6 Sanitasi/ Air  Tidak semua bangunan  Pengelolaan air limbah  Penerapan peraturan tentang  Pembuatan media informasi
Limbah rumah tangga memiliki (jamban) keluarga pembuangan air limbah rumah penyuluhan (surat kabar,
prasarana dan sarana air  Peningkatan kesehatan tangga poster, leaflet dll) untuk
limbah penduduk dan kesehatan  Pembangunan pengelolaan limbah sosialisasi dan penyuluhan
tentang kebersihan dan
 Sebagian masyarakat lingkungan secara komunal pada kawasan
prioritas sehingga meminimalisasi kesehatan lingkungan
membuang limbah padat dan

Laporan Akhir IV - 28
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

cair langsung ke sungai Peningkatan kesadaran pencemaran lingkungan  Pembangunan septic tank
masyarakat tentang kesehatan  Melakukan komunal
 Kesadaran warga dalam sosialisai dan
menjaga kebersihan masih lingkungan penyuluhan mengenai pola hidup
 Pengembangan teknologi
kurang yang sehat terhadap masyarakat di
septic tank yang cocok
kawasan prioritas
 Belum memiliki sistem diterapkan pada kawasan
sanitasi yang baik

7 Persampahan  Sebagian besar warga  Pengembangan pengangkutan  Peningkatan sarana dan prasarana  Pembuatan media
membuang sampah di sampah di kawasan Blok 1 persampahan yang telah ada informasi penyuluhan
tempat terbuka dan langsung (surat kabar, poster, leaflet
 Penyediaan sarana  Penanganan pengelolaan
ke sungai (parit) dll) sosialisasi dan
pengangkutan sampah yang pelayanan persampahan sehingga
penyuluhan tentang
 Tidak memiliki sistem dapat masuk kepelosok pencemaran lingkungan dapat
persampahan
pengelolaan sampah. kawasan diminimalisasi
 Membentuk kelompok
 Minat warga dalam  Penyediaan tong sampah pada  Pelibatan peranserta masyarakat masyarakat (organisasi
penerapan pola 3 – R masih setiap rumah dalam pengelolaan sampah masyarakat) dalam
kurang
 Pemisahan sampah organic pengelolaan persampahan
dan an organic sejak dari  Pengembangan teknologi
rumah tangga pengelolaan sampah  Penyediaan Gerobak/
motor pengangkut sampah
 Penyediaan papan
pengumuman tentang  Penyediaan tong sampah
kebersihan lingkungan dan untuk sampah organic dan
kebersihan sungai sampah an organik

8 Penataan  Pertumbuhan bangunan yang  Pembatasan jumlah bangunan  Melakukan penataan bangunan  Pembuatan contoh/
Bangunan dan cukup tinggi di kawasan yang pada kawasan pada kawasan padat permukiman, prototype rumah sederhana,
Lingkungan belum terencana dan belum bangunan dan penduduk sehat dan layak huni
 Mempermudah pengurusan
tertata
IMB  Sosialisasi tentang keamanan  Pembuatan papan
 Sebagian besar bangunan
 Bantuan peningkatan kualitas bangunan perumahan pengumuman, leaflet dan
yang telah berdiri belum media informasi untuk

Laporan Akhir IV - 29
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

memiliki izin bangunan bangunan penyuluhan dan sosialisasi


keamanan bangunan dan
 Kerapatan bangunan di
lingkungan
sekitar sempadan sungai
sangat rapat  Penyusunan RTBL Kawasan
 Sebagian besar bangunan Blok 4 Koridor Sungai/Parit
merupakan bangunan semi
permanen dengan
mengguunakan bahan dari
kayu

Laporan Akhir IV - 30
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 Relokasiperumahantepisungai
 Pengembangankonsepmukabang
unanrumahmenghadapsungai
 Perbaikan dan pemeliharaan
jalan lingkungan
 Pembangunan saluran samping
jalan untuk mengailrkan air
apabila terjadi genangan
 Pembangunan jaringan air bersih
(PDAM) di dalam kawasan Blok 4
 Menjaga agar saluran drainase
alam (sungai/parit) tidak
tersumbat sehingga aliran air dari
permukiman dapat berjalan
lancar
 Revitalisasi jaringan drainase
yang terdapat di kawasan
prioritas
 Pembangunan pengelolaan
limbah secara komunal pada
kawasan prioritas sehingga
meminimalisasi pencemaran
lingkungan
 Penanganan pengelolaan
pelayanan persampahan
sehingga pencemaranlingkungan
dapat diminimalisasi
 Melakukan penataanbangunan
pada kawasan padat
permukiman, bangunan dan
penduduk

Laporan Akhir IV - 31
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.2.5 Penanganan Kawasan Prioritas Blok 5

Tabel 4.9
Kebutuhan Penanganan Permukiman dan Infrastruktur
Kawasan Permukiman Prioritas BLOK 5

Kebutuhan Penanganan
No Infrastruktur Permasalahan Kawasan Prioritas Kampung Konsep Penanganan Komponen Penanganan
Nelayan
1 Permukiman  Tekstur tanah berupa tanah 1. Pengamanan bangunan 1. Sosialisai/penyuluhan tentang 1. Pembuatanmedia
liat menyebabkan perumahan agar penghuni rumah yang layak huni, aman dan komunikasi cetak (Koran,
pembangunan kawasan dapat tinggal dengan aman nyaman leaflet dll) tentang rumah
permukiman memerlukan layak huni dan sehat dan
dan nyaman 2. Peraturan Penataan bangunan dan
konstruksi khusus dengan juga peraturan tentang
2. Kajian struktur bangunan lingkungan
biaya yang cukup tinggi rumah layak huni, nyaman
daerah rawa. 3. Desain Inovasi/ model struktur dan sehat
 Sebagian bangunan rumah 3. Pengembangan teknologi bangunan untuk lingkungan
merupakan bangunan semi 2. Pembuatan bangunan
konstruksi bangunan pasang surut atau rawa
permanen dengan bahan contoh dengan konstruksi
bangunan dari kayu, sehingga 4. Pembangunan model struktur khusus di kawasan Blok 3
mudah mengalami bangunan untuk lingkungan
3. Bantuan dana dan teknik
kebakaran. pasang surut atau rawa
konstruksi bangunan
perumahan pada kawasan
dengan tekstur tanah
khusus.
2 Sungai  Air sungai tidak dapat  Penyediaan tempat  Sosialisasi dan penyuluhan tentang  Pembuatan media
dikonsumsi pembuangan sampah di kebersihan lingkungan dan informasi penyuluhan
lingkungan permukiman kebersihan sungai (surat kabar, poster, leaflet
 Akibat pasang surut air laut
dll)
dapat berpengaruh terhadap  Penyediaan papan
sebagian wilayah daratan pengumuman tentang  Pembuatan papan
pengumuman tentang

Laporan Akhir IV - 32
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

(menjadikan banjir sesaat) kebersihan lingkungan dan kebersihan sungai


kebersihan sungai
 Sungai dijadikan tempat
pembuangan limbah rumah
tangga oleh sebagian
penduduk

3 Jalan Lingkungan  Belum memiliki saluran  Peningkatan jalan lingkungan  Perbaikan dan pemeliharaan jalan  Membentuk kelompok
drainase pada sisi jalan sesuai dengan ketentuan yang lingkungan sesuai dengan standar masyarakat (organisasi
sehingga menimbulkan berlaku yang berlaku masyarakat) dalam
genangan air yang dapat pengelolaan dan
 Pemeliharaan dan perbaikan  Penanganan jalan lingkungan yang
merusak kualitas jalan pemeliharaan jalan
jalan lingkungan yang telah rusak disertai dengan
lingkungan lingkungan
ada di kawasan permukiman pembangunan pondasi yang kuat
 Jalan lingkungan sangat sulit kawasan Blok 5  Penyusunan DED Jalan
untuk dilakukan pelebaran  Pembangunan saluran samping
 Perlengkapan keamanan jalan
dan peningkatan karena jalan untuk mengailrkan air apabila
lingkungan bagi pengguna
keterbatasan lahan terjadi genangan di jalan
jalan.
 Lebar jalan lingkungan relatif lingkungan
kurang memenuhi standar  Meningkatkan peran serta
dan sulit dilalui bila masyarakat dalam pembangunan
kendaraan roda dua dan pemeliharaan jalan lingkungan
berpapasan di kawasan perkotaan
 Perlengkapan dan fasilitas
jalan lingkungan belum
tersedia dengan baik

4 Air Bersih  Kebutuhan Air minum  Pemenuhan kebutuhan air  Pembangunan jaringan air bersih  Pengembangan IPA untuk
berasal dari Isi ulang dan air bersih kepada seluruh (PDAM) di dalam kawasan meningkatkan kualitas air
hujan. penduduk kawasan prioritas bersih
 Peningkatan kualitas air bersih
Blok 5
 Belum seluruhnya terjangkau PDAM agar layak untuk dikonsumsi  Pembangunan jaringan
 Peningkatan layanan air bersih

Laporan Akhir IV - 33
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

oleh pelayanan PDAM. yang berasal dari PDAM perpipaan didalam kawasan
 Kualitas air minum yang  Peningkatan kualitas
berasal dari PDAM belum SDMpengelolaan air bersih
baik.

5 Drainase  Topografi kawasan yang  Inventarisasi kebutuhan  Pembangunan jaringan drainase  Penyusunan DED Drainase
relatif datar menyulitkan air jaringan drainase kawasan yang saling terintegrasi untuk Kawasan Blok 5
untuk mengalir. mengurangi genangan air yang
 Melakukan penataan dan terjadi  Melibatkan masyarakat
 Belum ada saluran drainase, pemeliharaan terhadap dalam pemeliharaan
pembuangan air ke lahan jaringan drainase yang telah  Revitalisasi jaringan drainase yang saluran drainase alam
kosong yang lebih rendah ada. terdapat di kawasan prioritas (sungai/parit) agar tidak
tersumbat
 Merencanakan dan membangun
jaringan drainase yang dapat
mengalirkan genangan air

6 Sanitasi/ Air  Tidak semua bangunan  Pembuatan septic tank bagi  Penerapan peraturan tentang  Pembuatan media
Limbah rumah tangga memiliki limbah padat secara komunal pembuangan air limbah rumah informasi penyuluhan
prasarana dan sarana air  Peningkatan jaringan drainase tangga (surat kabar, poster, leaflet
limbah sebagai pembuangan limbah  Pembangunan pengelolaan limbah dll)
 Sebagian masyarakat cair secara komunal pada kawasan  Pembangunan septic tank
membuang limbah padat dan  Pengolahan air limbah prioritas sehingga meminimalisasi komunal
cair langsung ke sungai (jamban) keluarga pencemaran lingkungan
 Pengembangan teknologi
 Kesadaran warga dalam  Melakukan sosialisai dan
septic tank yang cocok
menjaga kebersihan masih penyuluhan mengenai pola hidup
diterapkan pada kawasan
kurang yang sehat terhadap masyarakat di
kawasan prioritas
 Belum memiliki sistem
 Pengembangan teknologi septic
sanitasi yang baik
tank yang cocok diterapkan pada
kawasan

Laporan Akhir IV - 34
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

7 Persampahan  Sebagian besar warga  Penyediaan sarana  Peningkatan sarana dan prasarana  Pembuatan media
membuang sampah di pengangkutan sampah yang persampahan yang telah ada informasi penyuluhan
tempat terbuka dan langsung dapat masuk kepelosok (surat kabar, poster, leaflet
 Penanganan pengelolaan
ke sungai kawasan dll)
pelayanan persampahan sehingga
 Tidak memiliki sistem  Penambahan sarana dan pencemaran lingkungan dapat  Penyediaan papan
pengelolaan sampah. prasarana pengelolaan diminimalisasi pengumuman tentang
persampahan kebersihan lingkungan dan
 Minat warga dalam  Pelibatan peranserta masyarakat kebersihan sungai
penerapan pola 3 – R masih  Penyediaan tong sampah pada dalam pengelolaan sampah
kurang setiap rumah  Membentuk kelompok
 Pengembangan teknologi masyarakat (organisasi
 Genangan air yang terjadi  Pemisahan sampah organic
pengelolaan sampah masyarakat) dalam
menyebabkan timbulnya dan an organic sejak dari
pengelolaan persampahan
timbunan sampah rumah tangga
 Sosialisasi terhadap  Penyediaan Gerobak/
msayarakat mengenai tata motor pengangkut sampah
cara penanganan sampah

8 Penataan  Pertumbuhan bangunan yang  Pembatasan jumlah bangunan  Melakukan penataan bangunan  Pembuatan contoh/
Bangunan dan cukup tinggi di kawasan yang pada kawasan pada kawasan padat permukiman, prototype rumah
Lingkungan belum terencana dan belum bangunan dan penduduk sederhana, sehat dan layak
 Mempermudah pengurusan
tertata huni
IMB  Diperlukan pembuatan Rencana
 Sebagian besar bangunan Tata Bangunan dan Lingkungan  Pembuatan
 Bantuan peningkatan kualitas papan
yang telah berdiri belum pada kawasan prioritas. pengumuman, leaflet dan
bangunan
memiliki izin bangunan media informasi untuk
 Sebagian besar bangunan penyuluhan dan sosialisasi
merupakan bangunan semi keamanan bangunan dan
permanen dengan lingkungan
mengguunakan bahan dari
kayu
 Sebagian besar bangunan

Laporan Akhir IV - 35
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

merupakan bangunan semi


permanen dengan
mengguunakan bahan dari
kayu

Laporan Akhir IV - 36
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 DesainInovasi/ model
strukturbangunanuntuklingkunga
npasangsurutataurawa
 Sosialisasidanpenyuluhantentang
kebersihanlingkungandankebersi
hansungai
 Perbaikan dan pemeliharaan
jalan lingkungan sesuai dengan
standar yang berlaku
 Pembangunan jaringan air bersih
(PDAM) di dalamkawasan
 Pembangunan jaringan drainase
yang saling terintegrasi untuk
mengurangi genangan air yang
terjadi
 Revitalisasi jaringan drainase
yang terdapat di kawasan
prioritas
 Pembangunan pengelolaan
limbah secara komunal pada
kawasan prioritas sehingga
meminimalisasi pencemaran
lingkungan
 Pengembangan teknologi septic
tank yang cocok diterapkan pada
kawasan
 Penanganan pengelolaan
pelayanan persampahan
sehingga pencemaran lingkungan
dapat diminimalisasi
 Melakukan penataan bangunan
pada kawasan padat permukiman

Laporan Akhir IV - 37
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.2.6 Penanganan Kawasan Prioritas Blok 6

Tabel 4.10
Kebutuhan Penanganan Permukiman Dan Infrastruktur
Kawasan Permukiman Kampung Nelayan (BLOK 6)

Kebutuhan Penanganan
No Infrastruktur Permasalahan Kawasan Prioritas Kampung Konsep Penanganan Komponen Penanganan
Nelayan

1 Permukiman  Tekstur tanah berupa tanah 1. Kajian struktur bangunan 1. Sosialisai/penyuluhan tentang 1. Pembuatan film
liat menyebabkan daerah rawa. rumah yang layak huni, aman dan penerangan, media cetak
pembangunan kawasan 2. Pengamanan bantaran sungai nyaman (Koran, leaflet dll)
permukiman memerlukan
dari berdirinya bangunan 2. Bangunan perumahan ditepi 2. Penyediaan fasilitas
konstruksi khusus dengan sungai tidak membelakangi sungai, penanganan bahaya
perumahan
biaya yang cukup tinggi Muka rumah menghadap sungai kebakaran
3. Pengamanan bangunan
 Seluruh bangunan rumah perumahan agar penghuni 3. Pembangunan model struktur 3. Pembuatan prototype dan
merupakan bangunan semi bangunan untuk lingkungan rumah contoh rumah
dapat tinggal dengan aman
permanen dengan bahan pasang surut atau rawa menghadap sungai
bangunan dari kayu, sehingga dan nyaman
mudah mengalami 4. Pengamanan Kawasan dari 4. Desain Inovasi/ model
kebakaran. kemungkinan bahaya struktur bangunan untuk
kebakaran lingkungan pasang surut
 Fisik wilayah sebagian besar atau rawa
± 60% merupakan rawa dan 5. Peningkatan kesehatan
genangan, sedangkan sisanya lingkungan perumahan
40% berupa lahan kering

2 Sungai  Air sungai tidak dapat  Penataan kawasan sempadan  Sosialisasi dan penyuluhan tentang  Pembuatan media
dikonsumsi sungai kebersihan lingkungan dan informasi penyuluhan
kebersihan sungai (surat kabar, poster, leaflet
 Akibat pasang surut air laut  Pendataan jumlah rumah tepi

Laporan Akhir IV - 38
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

dapat berpengaruh terhadap sungai  Pengembangan konsep muka dll)


wilayah daratan (menjadikan bangunan rumah menghadap
 Penyediaan papan  Pembuatan papan
banjir sesaat) sungai
pengumuman tentang pengumuman tentang
 Sungai dijadikan tempat kebersihan lingkungan dan kebersihan sungai
pembuangan limbah rumah kebersihan sungai
 Pembuatan prototype
tangga dan tempat
rumah dan rumah contoh
pembuangan sampah
untuk rumah tepi sungai
penduduk

3 Jalan Lingkungan  Kondisi jalan rusak,  Peningkatan jalan lingkungan  Perbaikan dan pemeliharaan jalan  Membentuk kelompok
bergelombang, sebagian sesuai dengan ketentuan yang lingkungan sesuai dengan standar masyarakat (organisasi
tergenang pada lokasi berlaku yang berlaku masyarakat) dalam
tertentu pada saat air pengelolaan dan
laut/sungai pasang  Penanganan jalan lingkungan yang pemeliharaan jalan
rusak disertai dengan lingkungan
pembangunan pondasi yang kuat
 Penyusunan DED Jalan dan
 Pembangunan saluran samping pelengkap keamanan jalan
jalan untuk mengailrkan air apabila
terjadi genangan di jalan
lingkungan

4 Air Bersih  Kebutuhan Air minum  Pemenuhan kebutuhan air  Pembangunan jaringan air bersih  Pengembangan IPA untuk
berasal dari Isi ulang dan air bersih kepada seluruh (PDAM) di dalam kawasan Blok 6 meningkatkan kualitas air
hujan. pendudk kawasan Blok 6 bersih
 Peningkatan kualitas air bersih
 Belum seluruhnya terjangkau  Peningkatan layanan air bersih PDAM agar layak untuk  Pembangunan jaringan
oleh pelayanan PDAM. yang berasal dari PDAM dikonsumsi perpipaan didalam
kawasan
 Kualitas air minum yang
berasal dari PDAM belum  Pembangunan Hidran
baik. Umum (HU)

Laporan Akhir IV - 39
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

5 Drainase  Sebagian kecil kawasan  Inventarisasi kebutuhan  Menjaga agar saluran drainase  Penyusunan DED Drainase
memiliki saluran drainase jaringan drainase kawasan alam (sungai/parit) tidak Kawasan Blok 6
namun tidak terintegrasi tersumbat sehingga aliran air dari
 Pemanfaatan drainase alam permukiman dapat berjalan lancar  Melibatkan masyarakat
 Topografi kawasan yang dalam pemeliharaan
relatif datar menyulitkan air  Melakukan penataan dan  Merencanakan dan membangun saluran drainase alam
untuk mengalir. pemeliharaan terhadap jaringan drainase yang dapat (sungai/parit) agar tidak
jaringan drainase yang telah mengalirkan genangan air tersumbat
 Kondisi drainase di jalan
ada.
utama tidak baik, sering
 Revitalisasi jaringan drainase yang
terjadi genangan di badan
terdapat di kawasan prioritas Blok
jalan pada saat air
6
laut/sungai pasang

6 Sanitasi/ Air  Tidak semua bangunan  Pembuatan septic tank bagi  Penerapan peraturan tentang  Pembuatan media informasi
Limbah rumah tangga memiliki limbah padat secara komunal pembuangan air limbah rumah penyuluhan (surat kabar,
prasarana dan sarana air  Peningkatan jaringan drainase tangga poster, leaflet dll) untuk
limbah sebagai pembuangan limbah  Pembangunan pengelolaan limbah sosialisasi dan penyuluhan
tentang kebersihan dan
 Sebagian masyarakat cair secara komunal pada kawasan
prioritas sehingga meminimalisasi kesehatan lingkungan
membuang limbah padat dan  Pengolahan air limbah (jamban)
cair langsung ke sungai pencemaran lingkungan  Pembangunan septic tank
keluarga
 Melakukan sosialisai dan komunal
 Kesadaran warga dalam  Peningkatan kesadaran
menjaga kebersihan masih penyuluhan mengenai pola hidup
masyarakat tentang kesehatan  Pengembangan teknologi
kurang yang sehat terhadap masyarakat di
lingkungan septic tank yang cocok
kawasan prioritas
 Belum memiliki sistem diterapkan pada kawasan
sanitasi yang baik

7 Persampahan  Sebagian besar warga  Pengembangan pengangkutan  Peningkatan sarana dan prasarana  Pembuatan media
membuang sampah di sampah di kawasan Blok 6 persampahan yang telah ada informasi penyuluhan
tempat terbuka dan langsung (surat kabar, poster, leaflet
 Penyediaan sarana  Penanganan pengelolaan
ke sungai dll) sosialisasi dan
pengangkutan sampah yang pelayanan persampahan sehingga
penyuluhan tentang

Laporan Akhir IV - 40
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 Tidak memiliki sistem dapat masuk kepelosok pencemaran lingkungan dapat persampahan
pengelolaan sampah. kawasan diminimalisasi
 Membentuk kelompok
 Minat warga dalam  Penyediaan tong sampah pada  Pelibatan peranserta masyarakat masyarakat (organisasi
penerapan pola 3 – R masih setiap rumah dalam pengelolaan sampah masyarakat) dalam
kurang pengelolaan persampahan
 Pemisahan sampah organic
 Pengembangan teknologi
 Genangan air yang terjadi dan an organic sejak dari  Penyediaan Gerobak/
rumah tangga pengelolaan sampah
menyebabkan timbulnya motor pengangkut sampah
timbunan sampah
 Penyediaan papan
pengumuman tentang  Penyediaan tong sampah
untuk sampah organic dan
kebersihan lingkungan dan
kebersihan sungai sampah an organik

8 Penataan  Pertumbuhan bangunan yang  Pembatasan jumlah bangunan  Melakukan penataan bangunan  Pembuatan contoh/
Bangunan dan cukup tinggi di kawasan yang pada kawasan pada kawasan padat permukiman, prototype rumah sederhana,
Lingkungan belum terencana dan belum bangunan dan penduduk sehat dan layak huni
 Mempermudah pengurusan
tertata
IMB  Sosialisasi tentang keamanan  Pembuatan papan
 Sebagian besar bangunan
 Bantuan peningkatan kualitas bangunan perumahan pengumuman, leaflet dan
yang telah berdiri belum media informasi untuk
bangunan
memiliki izin bangunan penyuluhan dan sosialisasi
 Sebagian besar bangunan keamanan bangunan dan
merupakan bangunan semi lingkungan
permanen dengan
menggunakan bahan dari
kayu

Laporan Akhir IV - 41
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 Pembangunan model
strukturbangunanuntuklingkunga
npasangsurutataurawa
 Pengembangan konsep muka
bangunan rumah menghadap
sungai
 Perbaikan dan pemeliharaan
jalan lingkungan
 Pembangunan saluran samping
jalan untuk mengailrkan air
 Pembangunan jaringan air bersih
(PDAM) di dalam kawasan Blok 6
 Merencanakan dan membangun
jaringan drainase yang dapat
mengalirkan genangan air
 Revitalisasi jaringan drainase
yang terdapat di kawasan
prioritas Blok 6
 Pembangunan pengelolaan
limbah secara komunal pada
kawasan prioritas sehingga
meminimalisasi pencemaran
lingkungan
 Peningkatan sarana dan
prasarana persampahan yang
telah ada
 Melakukan penataan bangunan
padakawasan padatpermukiman,
bangunan dan penduduk

Laporan Akhir IV - 42
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.2.7 Penanganan Kawasan Prioritas Blok 7

Tabel 4.11
Kebutuhan Penanganan Permukiman dan Infrastruktur
Kawasan Permukiman Prioritas BLOK 7

Kebutuhan Penanganan
No Infrastruktur Permasalahan Kawasan Prioritas Kampung Konsep Penanganan Komponen Penanganan
Nelayan

1 Permukiman  Fisik wilayah sebagian besar 1. Pengamanan bangunan 1. Sosialisai/penyuluhan tentang 3. Pembuatanmedia
± 60% merupakan rawa dan perumahan agar penghuni rumah yang layak huni, aman dan komunikasi cetak (Koran,
genangan, sedangkan sisanya dapat tinggal dengan aman nyaman leaflet dll) tentang rumah
40% berupa lahan kering layak huni dan sehat dan
dan nyaman 2. Peraturan Penataan bangunan dan
juga peraturan tentang
 Tekstur tanah berupa tanah 2. Penataan bangunan dan lingkungan
rumah layak huni, nyaman
liat menyebabkan lingkungan permukiman yang 3. Desain Inovasi/ model struktur dan sehat
pembangunan kawasan sehat bangunan untuk lingkungan
permukiman memerlukan 4. Pembuatan bangunan
3. Kajian struktur bangunan pasang surut atau rawa
konstruksi khusus dengan contoh dengan konstruksi
biaya yang cukup tinggi daerah rawa. 4. Pembangunan model struktur khusus di kawasan Blok 3
4. Pengembangan teknologi bangunan untuk lingkungan
 Sebagian bangunan rumah pasang surut atau rawa
5. Bantuan dana dan teknik
konstruksi bangunan konstruksi bangunan
merupakan bangunan semi
permanen dengan bahan perumahan pada kawasan
bangunan dari kayu, sehingga dengan tekstur tanah
mudah mengalami khusus.
kebakaran.

2 Sungai  Air sungai/parit tidak dapat  Penataan kawasan sempadan  Sosialisasi dan penyuluhan tentang  Pembuatan media
dikonsumsi sungai kebersihan lingkungan dan informasi penyuluhan
kebersihan sungai (surat kabar, poster, leaflet
 Akibat pasang surut air laut  Pendataan jumlah rumah tepi dll)
dapat berpengaruh terhadap  Pengembangan konsep muka

Laporan Akhir IV - 43
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

wilayah daratan (menjadikan sungai bangunan rumah menghadap  Pembuatan papan


banjir sesaat) sungai pengumuman tentang
 Penyediaan tempat kebersihan sungai
 Sungai dijadikan tempat pembuangan sampah di
pembuangan limbah rumah lingkungan permukiman  Pembuatan prototype
tangga dan tempat rumah dan rumah contoh
pembuangan sampah  Penyediaan papan untuk rumah tepi sungai
penduduk pengumuman tentang
kebersihan lingkungan dan
kebersihan sungai

 Kondisi jalan rusak,


3 Jalan Lingkungan  Peningkatan jalan lingkungan  Perbaikan dan pemeliharaan jalan  Membentuk kelompok
bergelombang, sebagian
sesuai dengan ketentuan yang lingkungan sesuai dengan standar masyarakat (organisasi
tergenang pada lokasi
berlaku yang berlaku masyarakat) dalam
tertentu pada saat air
pengelolaan dan
laut/sungai pasang  Pemeliharaan dan perbaikan  Penanganan jalan lingkungan yang
pemeliharaan jalan
jalan lingkungan yang telah rusak disertai dengan
 Jalan lingkungan sangat sulit lingkungan
ada di kawasan perkotaan pembangunan pondasi yang kuat
untuk dilakukan pelebaran
 Pembuatan pagar
dan peningkatan karena  Perlengkapan keamanan jalan  Pembangunan saluran samping
pengaman tepi jalan pada
keterbatasan lahan lingkungan bagi pengguna jalan untuk mengailrkan air
daerah yang dirasakan
jalan. apabila terjadi genangan di jalan
 Tidak ada pembatas antara memerlukan.
lingkungan
Jalan lingkungan dengan
 Penyusunan DED Jalan
perumahan, sehingga  Meningkatkan peran serta
beresiko terhadap penghuni masyarakat dalam pembangunan
perumahan dan pemeliharaan jalan lingkungan
di kawasan perkotaan
 Belum memiliki saluran
drainase pada sisi jalan
sehingga menimbulkan
genangan air yang dapat
merusak kualitas jalan
lingkungan

Laporan Akhir IV - 44
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4 Air Bersih  Kebutuhan Air minum  Pemenuhan kebutuhan air  Pembangunan jaringan air bersih  Pengembangan IPA untuk
berasal dari Isi ulang dan air bersih kepada seluruh (PDAM) di dalam kawasan meningkatkan kualitas air
hujan. penduduk di kawasan Blok 7 bersih
 Peningkatan kualitas air bersih
 Belum seluruhnya terjangkau  Peningkatan jaringan PDAM agar layak untuk  Pembangunan jaringan
oleh pelayanan PDAM. pelayanan dan kualitas air dikonsumsi perpipaan didalam
bersih yang berasal dari PDAM kawasan
 Kualitas air minum yang
berasal dari PDAM belum  Pembuatan Hidran Umum
baik.

5 Drainase  Sebagian kecil kawasan  Inventarisasi kebutuhan  Pembangunan jaringan drainase  Penyusunan DED Drainase
memiliki saluran drainase jaringan drainase kawasan yang saling terintegrasi untuk
namun tidak terintegrasi mengurangi genangan air yang  Pembangunan saluran
 Melakukan penataan dan terjadi drainase terintegrasi
 Topografi kawasan yang pemeliharaan terhadap dengan kawasan lain.
relatif datar menyulitkan air jaringan drainase yang telah  Revitalisasi jaringan drainase yang
untuk mengalir. ada. terdapat di kawasan prioritas
 Kondisi drainase di jalan
 Merencanakan dan membangun
utama tidak baik, sering
jaringan drainase yang dapat
terjadi genangan di badan
mengalirkan genangan air
jalan pada saat air
laut/sungai pasang
 Kawasan yang
berair/genangan dijadikan
sebagai pembuangan
drainase.

6 Sanitasi/ Air  Tidak semua bangunan  Pembuatan septic tank bagi  Penerapan peraturan tentang  Pembuatan media
Limbah rumah tangga memiliki limbah padat secara komunal pembuangan air limbah rumah informasi penyuluhan
prasarana dan sarana air  Peningkatan jaringan drainase tangga (surat kabar, poster, leaflet
dll) tentang kesehatan

Laporan Akhir IV - 45
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

limbah sebagai pembuangan limbah  Pembangunan pengelolaan limbah lingkungan dan peraturan
cair secara komunal pada kawasan kesehatan lingkungan.
 Sebagian masyarakat
 Pengolahan air limbah prioritas sehingga meminimalisasi  Pembangunan septic tank
membuang limbah padat dan
(jamban) keluarga pencemaran lingkungan komunal dengan teknologi
cair langsung ke sungai
 Melakukan sosialisai dan yang cocok diterapkan di
 Kesadaran warga dalam penyuluhan mengenai pola hidup kawasan Blok 7
menjaga kebersihan masih yang sehat terhadap masyarakat di
kurang kawasan prioritas
 Belum memiliki sistem  Pengembangan teknologi septic
sanitasi yang baik tank yang cocok diterapkan pada
kawasan

7 Persampahan  Sebagian besar warga  Penyediaan sarana  Peningkatan sarana dan prasarana  Pembuatan media
membuang sampah di pengangkutan sampah yang persampahan yang telah ada informasi penyuluhan
tempat terbuka dan langsung dapat masuk kepelosok (surat kabar, poster, leaflet
 Penanganan pengelolaan
ke sungai/parit kawasan dll)
pelayanan persampahan sehingga
 Tidak memiliki sistem  Penambahan sarana dan pencemaran lingkungan dapat  Membentuk kelompok
pengelolaan sampah. prasarana pengelolaan diminimalisasi masyarakat (organisasi
persampahan masyarakat) dalam
 Genangan air yang terjadi  Pelibatan peranserta masyarakat pengelolaan persampahan
menyebabkan timbulnya  Penyediaan tong sampah pada dalam pengelolaan sampah
timbunan sampah setiap rumah  Penyediaan Gerobak/
 Minat warga dalam  Pemisahan sampah organic  Pengembangan teknologi motor pengangkut sampah
penerapan pola 3 – R masih dan an organic sejak dari pengelolaan sampah
kurang rumah tangga
 Sosialisasi terhadap
msayarakat mengenai tata
cara penanganan sampah
 Penyediaan papan
pengumuman tentang
kebersihan lingkungan dan

Laporan Akhir IV - 46
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

kebersihan sungai

8 Penataan  Pertumbuhan bangunan yang  Pembatasan jumlah bangunan  Melakukan penataan bangunan  Penarapan peraturan
Bangunan dan cukup tinggi di kawasan yang pada kawasan pada kawasan padat permukiman, penataan bangunan dan
Lingkungan belum terencana dan belum bangunan dan penduduk lingkungan
 Mempermudah pengurusan
tertata
IMB  Diperlukan pembuatan Rencana  Pembuatan contoh/
 Sebagian besar bangunan
 Bantuan peningkatan kualitas Tata Bangunan dan Lingkungan prototype rumah
yang telah berdiri belum pada kawasan prioritas. sederhana, sehat dan layak
bangunan
memiliki izin bangunan huni
 Sebagian besar bangunan
merupakan bangunan semi
permanen dengan
menggunakan bahan dari
kayu

Laporan Akhir IV - 47
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 DesainInovasi/ model
strukturbangunanuntuklingkunga
npasangsurutataurawa
 Pengembangankonsepbangunan
menghadapsungai
 Perbaikandanpemeliharaanjalanli
ngkungan
 Pembangunan
saluransampingjalanuntukmenga
ilrkan air
 Pembangunan jaringan air bersih
(PDAM) di dalam kawasan
 Pembangunan jaringan drainase
yang saling terintegrasi
 Revitalisasi jaringan drainase
yang terdapat di kawasan
prioritas
 Pembangunan pengelolaan
limbah secara komunal pada
kawasan prioritas
 Pengembangan teknologi septic
tank yang cocok diterapkan pada
kawasan

 Melakukan penataan bangunan


pada kawasan padat
permukiman, bangunan dan
penduduk

 Diperlukan pembuatan Rencana


Tata Bangunan dan Lingkungan
pada kawasanprioritas.

Laporan Akhir IV - 48
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.2.8 Penanganan Kawasan Prioritas Blok 8

Tabel 4.12
Kebutuhan Penanganan Permukiman Dan Infrastruktur
Kawasan Permukiman Kampung Nelayan (BLOK 8)

Kebutuhan Penanganan
No Infrastruktur Permasalahan Kawasan Prioritas Kampung Konsep Penanganan Komponen Penanganan
Nelayan

1 Permukiman  Tekstur tanah berupa tanah 1. Kajian struktur bangunan 1. Sosialisai/penyuluhan tentang 1. Pembuatan film
liat menyebabkan daerah rawa. rumah yang layak huni, aman dan penerangan, media cetak
pembangunan kawasan 2. Pengamanan bantaran sungai nyaman (Koran, leaflet dll)
permukiman memerlukan
dari berdirinya bangunan 2. Bangunan perumahan ditepi 2. Penyediaan fasilitas
konstruksi khusus dengan sungai tidak membelakangi sungai, penanganan bahaya
perumahan
biaya yang cukup tinggi Muka rumah menghadap sungai kebakaran
3. Pengamanan bangunan
 Sebagian bangunan rumah perumahan agar penghuni 3. Pembangunan model struktur 3. Pembuatan prototype dan
merupakan bangunan semi bangunan untuk lingkungan rumah contoh rumah
dapat tinggal dengan aman
permanen dengan bahan pasang surut atau rawa menghadap sungai
bangunan dari kayu, sehingga dan nyaman
mudah mengalami 4. Pengamanan Kawasan dari 4. Desain Inovasi/ model
kebakaran. kemungkinan bahaya struktur bangunan untuk
kebakaran lingkungan pasang surut
 Fisik wilayah sebagian besar atau rawa
± 50% merupakan rawa dan 5. Peningkatan kesehatan
genangan, sedangkan sisanya lingkungan perumahan
50% berupa lahan kering

2 Sungai  Air sungai tidak dapat  Penataan kawasan sempadan  Sosialisasi dan penyuluhan tentang  Pembuatan media
dikonsumsi sungai kebersihan lingkungan dan informasi penyuluhan
kebersihan sungai (surat kabar, poster, leaflet
 Akibat pasang surut air laut  Pendataan jumlah rumah tepi

Laporan Akhir IV - 49
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

dapat berpengaruh terhadap sungai  Pengembangan konsep muka dll)


wilayah daratan (menjadikan bangunan rumah menghadap
 Penyediaan papan  Pembuatan papan
banjir sesaat) sungai
pengumuman tentang pengumuman tentang
 Sungai dijadikan tempat kebersihan lingkungan dan kebersihan sungai
pembuangan limbah rumah kebersihan sungai
 Pembuatan prototype
tangga dan tempat
rumah dan rumah contoh
pembuangan sampah
untuk rumah tepi sungai
penduduk

3 Jalan Lingkungan  Kondisi jalan rusak,  Peningkatan jalan lingkungan  Perbaikan dan pemeliharaan jalan  Membentuk kelompok
bergelombang, sebagian sesuai dengan ketentuan yang lingkungan sesuai dengan standar masyarakat (organisasi
tergenang pada lokasi berlaku yang berlaku masyarakat) dalam
tertentu pada saat air pengelolaan dan
laut/sungai pasang  Penanganan jalan lingkungan yang pemeliharaan jalan
rusak disertai dengan lingkungan
pembangunan pondasi yang kuat
 Penyusunan DED Jalan dan
 Pembangunan saluran samping pelengkap keamanan jalan
jalan untuk mengailrkan air apabila
terjadi genangan di jalan
lingkungan

4 Air Bersih  Kebutuhan Air minum  Pemenuhan kebutuhan air  Pembangunan jaringan air bersih  Pengembangan IPA untuk
berasal dari Isi ulang dan air bersih kepada seluruh (PDAM) di dalam kawasan Blok 8 meningkatkan kualitas air
hujan. pendudk kawasan Blok 8 bersih
 Peningkatan kualitas air bersih
 Belum seluruhnya terjangkau  Peningkatan layanan air bersih PDAM agar layak untuk  Pembangunan jaringan
oleh pelayanan PDAM. yang berasal dari PDAM dikonsumsi perpipaan didalam
kawasan
 Kualitas air minum yang
berasal dari PDAM belum  Pembangunan Hidran
baik. Umum (HU)

Laporan Akhir IV - 50
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

5 Drainase  Sebagian kecil kawasan  Inventarisasi kebutuhan  Menjaga agar saluran drainase  Penyusunan DED Drainase
memiliki saluran drainase jaringan drainase kawasan alam (sungai/parit) tidak Kawasan Blok 8
namun tidak terintegrasi  Pemanfaatan drainase alam tersumbat sehingga aliran air dari  Melibatkan masyarakat
permukiman dapat berjalan lancar
 Topografi kawasan yang  Melakukan penataan dan
dalam pemeliharaan
relatif datar menyulitkan air  Merencanakan dan membangun saluran drainase alam
pemeliharaan terhadap
untuk mengalir. jaringan drainase yang dapat (sungai/parit) agar tidak
jaringan drainase yang telah
mengalirkan genangan air tersumbat
 Kondisi drainase di jalan ada.
utama tidak baik, sering  Revitalisasi jaringan drainase yang
terjadi genangan di badan terdapat di kawasan prioritas Blok
jalan pada saat air 8
laut/sungai pasang

6 Sanitasi/ Air  Tidak semua bangunan  Pembuatan septic tank bagi  Penerapan peraturan tentang  Pembuatan media informasi
Limbah rumah tangga memiliki limbah padat secara komunal pembuangan air limbah rumah penyuluhan (surat kabar,
prasarana dan sarana air  Peningkatan jaringan drainase tangga poster, leaflet dll) untuk
limbah sebagai pembuangan limbah  Pembangunan pengelolaan limbah sosialisasi dan penyuluhan
tentang kebersihan dan
 Sebagian masyarakat cair secara komunal pada kawasan
prioritas sehingga meminimalisasi kesehatan lingkungan
membuang limbah padat dan  Pengolahan air limbah (jamban)
cair langsung ke sungai pencemaran lingkungan  Pembangunan septic tank
keluarga
 Melakukan sosialisai dan komunal
 Kesadaran warga dalam  Peningkatan kesadaran
menjaga kebersihan masih penyuluhan mengenai pola hidup
masyarakat tentang kesehatan  Pengembangan teknologi
kurang yang sehat terhadap masyarakat di
lingkungan septic tank yang cocok
kawasan prioritas
 Belum memiliki sistem diterapkan pada kawasan
sanitasi yang baik

7 Persampahan  Sebagian besar warga  Pengembangan pengangkutan  Peningkatan sarana dan prasarana  Pembuatan media
membuang sampah di sampah di kawasan Blok 8 persampahan yang telah ada informasi penyuluhan
tempat terbuka dan langsung (surat kabar, poster, leaflet
 Penyediaan sarana  Penanganan pengelolaan
ke sungai dll) sosialisasi dan
pengangkutan sampah yang pelayanan persampahan sehingga
penyuluhan tentang
 Tidak memiliki sistem dapat masuk kepelosok pencemaran lingkungan dapat

Laporan Akhir IV - 51
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

pengelolaan sampah. kawasan diminimalisasi persampahan


 Minat warga dalam  Penyediaan tong sampah pada  Pelibatan peranserta masyarakat  Membentuk kelompok
penerapan pola 3 – R masih setiap rumah dalam pengelolaan sampah masyarakat (organisasi
kurang masyarakat) dalam
 Pemisahan sampah organic
 Genangan air yang terjadi dan an organic sejak dari  Pengembangan teknologi pengelolaan persampahan
menyebabkan timbulnya rumah tangga pengelolaan sampah
 Penyediaan Gerobak/
timbunan sampah
 Penyediaan papan motor pengangkut sampah
pengumuman tentang
kebersihan lingkungan dan  Penyediaan tong sampah
untuk sampah organic dan
kebersihan sungai
sampah an organik

8 Penataan  Pertumbuhan bangunan yang  Pembatasan jumlah bangunan  Melakukan penataan bangunan  Pembuatan contoh/
Bangunan dan cukup tinggi di kawasan yang pada kawasan pada kawasan padat permukiman, prototype rumah sederhana,
Lingkungan belum terencana dan belum bangunan dan penduduk sehat dan layak huni
 Mempermudah pengurusan
tertata
IMB  Sosialisasi tentang keamanan  Pembuatan papan
 Sebagian besar bangunan bangunan perumahan pengumuman, leaflet dan
 Bantuan peningkatan kualitas
yang telah berdiri belum media informasi untuk
bangunan
memiliki izin bangunan penyuluhan dan sosialisasi
keamanan bangunan dan
 Sebagian besar bangunan
lingkungan
merupakan bangunan semi
permanen dengan
menggunakan bahan dari
kayu

Laporan Akhir IV - 52
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 Pembangunan model
strukturbangunanuntuklingkunga
npasangsurutataurawa
 Pengembangan konsep muka
bangunan rumah menghadap
sungai
 Perbaikan dan pemeliharaan jalan
lingkungan sesuai dengan standar
yang berlaku
 Pembangunan jaringan air bersih
(PDAM) di dalam kawasan Blok 8
 Merencanakan dan membangun
jaringan drainase yang dapat
mengalirkangenangan air
 Revitalisasi jaringan drainase
yang terdapat di kawasan
prioritas Blok 8
 Pembangunan pengelolaan
limbah secara komunal pada
kawasan prioritas sehingga
meminimalisasi pencemaran
lingkungan

 Penanganan pengelolaan
pelayanan persampahan sehingga
pencemaran lingkungan dapat
diminimalisasi

 Pengembangan teknologi
pengelolaan sampah

 Melakukan penataan bangunan


pada kawasan padat permukiman

Laporan Akhir IV - 53
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir IV - 54
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.3 PERUMUSAN TAHAPAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMBANGUNAN


PERMUKIMAN TAHAP 1

4.3.1 Penyusunan Tahapan Pelaksanaan Penanganan


Pembangunan Permukiman

Rencana aksi program yang telah disusun perlu diidentifikasi prioritas dan
tahapan penanganannya sesuai dengan kondisi yang ada, sehingga dapat
operasional pada saat penerapannya. Hasil dari pentahapan ini akan menjadi
input bagi peyusunan rencana penanaganan kawasan pengembangan tahap 1.

Tahapan dalam perumusan tahapan pelaksanaan program pembangunan


permukiman tahap 1 adalah sebagai berikut :

 Merumuskan kriteria dan indikator penentuan kawasan pembangunan


tahap 1

 Melakukan pemilihan dan penetapan kawasan pembangunan tahap 1

 Melakukan perumusan konsep penanganan kawasan pembangunan tahap


1 berdasarkan pada kebutuhan kawasan yang telah disepakati bersama oleh
pemangku kepentingan kota dan kawasan. Adapun kegiatan ini dilakukan
dengan menggunakan pendekatan perencanaan partisipatif yang melibatkan
semua pihak terkait

 Bersama dengan pemangku kepentingan kota dan kawasan melakukan


penyusunan rencana penanganan kawasan pembangunan tahap 1 dengan
tingkat kedalaman informasi skala 1:1.000 dan menyepakatinya dalam
suatu Focus Group Discussion (FGD)

 Melakukan penyusunan Rencana Teknis Rinci (Detailed Engineering


Design/DED) untuk pelaksanaan tahun pertama di dalam kawasan
pembangunan tahap 1 yang meliputi infrastruktur bidang Cipta Karya.
Rencana detail desain tersebut juga disajikan dalam bentuk 3 dimensi

 Mengikuti kegiatan kolokium yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat


melalui Direktorat Pengembangn Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta
Karya, Kementerian Pekerjaan Umum untuk memberikan pemaparan dan

Laporan Akhir IV - 54
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

pembahasan capaian kegiatan penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan


Permukiman Prioritas (RPKPP)

 Menyelenggarakan konsultasi publik untuk menjaring masukan terhadap


konsep, rencana penanganan, dan rencana aksi program pembangunan
permukiman dan infrastruktur permukiman perkotaan pada kawasan
prioritas untuk jangka waktu 5 tahun dan kawasan pembangunan tahap 1
untuk jangka waktu 1 tahun pertama

4.3.2 Perumusan Kriteria dan Indikator Penentuan


Kawasan Pembangunan Tahap 1

Penentuan kawasan pembangunan tahap 1 didasarkan pada penilaian terhadap


kriteria dan indikator yang dirumuskan dengan mempertimbangkan kebijakan
dan strategi yang terkait serta kesepakatan pemangku kepentingan. Kriteria
dan indikator yang dirumuskan ini nantinya menjadi dasar dalam proses
penentuan kawasan pembangunan tahap 1.

Laporan Akhir IV - 55
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

TABEL 4.13
KRITERIA DAN INDIKATOR
PENENTUAN KAWASAN PEMBANGUNAN TAHAP 1

No KRITERIA INDIKATOR PENJELASAN


1 2 3 4
1. Urgenitas terhadap Mempunyai korelasi positif
Penanganan banjir setiap tahun
penanganan akar terhadap penanganan akar
akibat hujan dan pasang air laut.
permasalahan kawasan. permasalahan setiap tahun
Meningkatkan akses dari
Mempunyai implikasi positif permukiman ke pusat bisnis (jasa
terhadap lokasi lainnya perdagangan) atau kawasan
penting lainnya
Kota akan menjadi bersih, indah,
Sesuai tujuan yaitu membangun
nyaman dan aman sehingga akan
citra kota sebagai kawasan
mendorong aktivitas masyarakat
pariwisata
untuk mewujudkan kota pariwisata
(1) Penataan lingkungan sehingga
tidak kumuh,
(2) Terbangunnya sarana septic
Meningkatkan kualitas lingkungan tank komunal
(3) Peningkatan pelayanan air
bersih melalui penyediaan tanki
air bersih untuk umum.
Membentuk sikap dan perilaku
Penanganan persampahan,
(kebiasaan) untuk menjaga sanitasi
Penyediaan MCK komunal.
lingkungan
Kegiatan industry perikanan rumah
tangga dapat tetap berjalan tanpa
Memperlancar kegiatan ekonomi
tergannggu oleh genangan banjir
masyarakat setempat
pada saat hujan maupun air laut
pasang.

2. Jaminan keberlanjutan Potensi konflik rendah (konflik Dapat memanfaatkan badan jalan
program dan penuntasan lahan, sosial dll) untuk pelebaran jalan
masalah. Dukungan dapat ditingkatkan
melalui pembentukkan
Dukungan kelembagaan kelembagaan di tingkat masyarakat
masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan
lingkungan termasuk pemeliharaan
lingkungan
Kawasan Kampung Nelayan
Historikal kawasan merupakan cikal bakal berdirinya
Kota Kuala tungkal
Dapat dilakukan secara bertahap
melalui pembagian area
Keluwesan dalam penyusunan
penanganan yaitu :
rencana aksi
 Bagian hilir
 Bagian tengah

Laporan Akhir IV - 56
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

 Bagian hulu
Dapat dilakukan pembentukan
Dapat melibatkan masyarakat ikut kelompok yang bertanggung jawab
memelihara lingkungan atas kualitas lingkungan melalui
keputusan Bupati.

3. Berpotensi untuk Permasalahan yang ditangani :


menjadi pilot project (1) Jalan Lingkungan
dalam skala kawasan dan (2) Penanganan drainase
kota. Keragaman penanganan (3) Peningkatan kualitas
infrastruktur bidang Cipta Karya lingkungan
(4) Membangun sikap masyarakat
menjadi lebih tertib dan peduli
dengan lingkungan
(1) Peningkatan kualitas lingkungan
menjadi daerah yang bersih,
indah, nyaman dan aman.
(2) Menumbuhkan sikap dan
Aspek yang ditangani secara
kebiasaan hidup tertib, bersih
menyeluruh (fisik, sosial, ekonomi)
dan peduli dengan lingkungan.
(3) Mendorong kegiatan ekonomi
masyarakat dan usaha
pengembangan hasil perikanan
Kawasan prioritas merupakan
kawasan pantai yang sangat
dipengaruhi pasang surut air laut,
Model penanganan dapat sehingga seluruh blok kawasan
direplikasikan pada lokasi lain (best prioritas memiliki tipologi fisik
practice) kawasan yang sama. Oleh karena
itu desain penanganan masalah
dapat diterapkan di lokasi-lokasi
tersebut.

Laporan Akhir IV - 57
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.3.3 Penentuan Kawasan Pembangunan Tahap 1

Pemilihan kawasan pembangunan tahap 1 di dalam kawasan permukiman


prioritas RPKPP didasarkan pada proses identifikasi, penetapan kebutuhan dan
penetapan skala prioritas penanganan dan pembangunan pada kawasan
prioritas RPKPP. Pada kawasan pengembangan tahap pertama ini dilakukan
penyusunan rencana penanganan secara lebih rinci dan operasional, dengan
tingkat kedalaman skala perencanaan 1 : 1.000.

Tahapan dalam penentuan kawasan pembangunan tahap 1 adalah sebagai


berikut :

 Menentukan zona-zona perencanaan dalam kawasan permukiman


prioritas RPKPP, untuk pentahapan pembangunan;

 Menentukan tahapan pembangunan per zona, penentuan tahapan


pembangunan per zona ini dapat didasarkan pada :

- Skala prioritas kebutuhan penanganan berdasarkan kriteria dan


indikator yang ditetapkan sebelumnya
- Aspek fisik terkait dengan teknis pembangunan
- Aspek pembiayaan
- Aspek sosial yaitu kesiapan masyarakat pada kawasan yang akan
direncanakan
 Menentukan lokasi kawasan pengembangan tahap pertama untuk
direncanakan secara lebih rinci dan operasional;

 Menyelenggarakan diskusi partisipatif dengan pemangku kepentingan


kawasan dalam penentuan kawasan pengembangan tahap 1;

Berdasarkan beberapa proses yang telah dilakukan dalam penetapan lokasi


kawasan pembangunan tahan pertama, maka dapat disimpulkan bahwa
kawasan prioritas pembangunan tahap pertama adalah pada Sub Kawasan 4
(Blok 4).

Laporan Akhir IV - 58
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir IV - 59
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Gambar 4.4
Peta Pembagian Blok Kawasan Prioritas

Laporan Akhir IV - 60
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

4.4 PENYUSUNAN RENCANA PENANGANAN KAWASAN


PEMBANGUNAN TAHAP 1

Penerjemahan konsep penanganan kawasan ke dalam rencana penanganan


yang lebih terukur baik lokasi, besaran/volume, maupun pembiayaannya
sehingga dapat operasional pada saat penerapannya. Rencana penanganan
kawasan pembangunan tahap 1 ini akan menjadi dasar dalam penyusunan DED
kawasan.

Tahapan dalam penyusunan rencana penanganan kawasan pembangunan tahap


1 adalah sebagai berikut :

 Menerjemahkan konsep penanganan ke dalam rencana penanganan;

 Melakukan pengecekan lapangan terkait dengan rencana penanganan;

 Menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) untuk pembahasan dan


penyepakatan rencana penanganan kawasan pengembangan tahap 1; dan

 Menyelenggarakan konsultasi kepada calon penerima manfaat


penyusunan RPKPP untuk penjaringan masukan terhadap muatan RPKPP

Berdasarkan tahapan tersebut diatas, maka rencana penanganan kawasan


pembangunan tahap 1 pada kawasan prioritas Kampung Nelayan berupa
peningkatan dan pembangunan jalan terletak pada Sub Kawasan 4 (RT 12 dan
RT 14) terdiri dari :

1. Jl. Masdar (RT 12)

2. Jl. Sipot (RT 14)

3. Jl. Muhtar (RT 14)

4. Jl. Linmas (RT 14)

5. Jl. Hidayah (RT 14)

6. Jl. Bahari Ujung (RT 14)

Laporan Akhir IV - 61
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Gambar 4.12
Akses menuju lokasi penanganan

KONDISI JALAN DI AREA KAWASAN PERENCANAAN

E
A
F
D

D
A E F

C
B
RT 13
C

LOKASI PRIORITAS PENANGANAN

JL. MASDAR
a.
b.
Lebar jalan + 1.2 m.
Panjang Jalan 94 m.
A
KEY MAP c. Matrial terbuat dari kayu.
d. Perlu diadakannya sondir.
e. Kondisi jalan yang ada sudah tidak memadai,
hanya bisa di lalui oleh pejalan kaki.

Rencana Pengembangan

LOKASI PENANGANAN

Laporan Akhir IV - 62
I RPKPPKABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Laporan Akhir IV - 62