Anda di halaman 1dari 4

A.

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN

1. Faktor Turunan (Warisan)

a. Bentuk tubuh dan warna kulit.


Gen dari orang tua akan memepengaruhi jasmani anaknya dan tidak bisa di ubah
oleh teknologi secanggih apapun.
b. Sifat – sifat.
Warisan dari orang tua sama halnya dengan bentuk tubuh dan warna kulit tidak
dapat diubah. Tipe manusia berdasarkan sifatnya menurut Edward Sparanger
adalah manusia ekonomi, teori, politik, sosial, seni dan agama.
c. Inteligensi.
Yaitu kemampuan umum untuk penyesuaian terhadap situasi atau masalah. Tes
Inteligensi yang standar antara lain tes binetsimon, tes Wechsler, tes Army
Alpha dan Beta, tes Progressive Matrices
d. Bakat.
Yaitu kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis kemampuan
yang dimiliki seseorang. Bakat dapat diketahui dari tingkah laku anak atau
dengan tes bakat. Bila seorang anak tidak diberi kesempatan untuk melatih
bakatnya, maka bakatnya tersebut tidak akan berkembang.
e. Penyakit atau cacat tubuh.

2. Faktor Lingkungan

a. Keluarga.
Berpengaruh terhadap perkembangan rohaniah anak terutama keribadian dan
kemajuan pendidikannya.
b. Sekolah.
Menentukan pola pikir serta kepribadian anak
c. Masyarakat.
Turut mempengaruhi perkembangan jiwanya
d. Keadaan alam sekitar.
Keadaan alam yang berbeda akan berpengaruh terhadap perkembangan pola
pikir atau kejiwaan anak dan tingkah laku anak.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan abnormalitas

Informasi tentang penyebab atau faktor anak mengalami kelainan dalam dirinya
sangatlah beragam jenisnya. Namun secara dari masa terjadinya dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
a. Sebelum kelahiran (prenatal)
b. Saat kelahiran (neonatal)
c. Setelah kelahiran (posnatal)
1.1 Sebelum kelahiran (prenatal)
Pada masa sebelum lahir (prenatal) yaitu masa dimana masih berada dalam
kandungan dan diketahui telah terjadi kelainan. Berdasarkan periodesasinya dapat
terjadi pada periode embrio, janin muda dan periode janin akhir. Kelainan anak ini
dapat terjadi pada ketiga periode tersebut. Dan dalam periode tersebut kondisi anak
sangat rentan terhadap bahan kimia, trauma akibat goncangan ataupun gesekan.
Obat-obatan juga dapat berakibat buruk dalam perkembangan janin seperti obat
penderita kanker, obat penahan mual, obat pencegah keguguran dan lain-lain. Faktor
lain yang dapat merusak perkembangan anak adalah penyakit kronis, diabetes,
anemia, kanker, kurang gizi dan lain-lain.
1.2 Saat kelahiran (neonatal)
Pada saat anak lahir, kelainan yang terjadi saat anak lahir misalnya anak lahir sebelum
waktunya (prematurity), lahir dengan bantuan alat, posisi tidak normal, dan kesehatan bayi
yang kurang.
1.3 Setelah kelahiran (posnatal)
Pada masa anak setelah lahir, yaitu kelainan yang terjadi setelah anak dilahirkan. Ada
beberapa penyebab anak mengalami kelainan :

a. Infeksi luka
b. Bahan kimia
c. Malnutrisi, dll.

C. CIRI-CIRI ABNORMAL
Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan
perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:

1. Kriteria Statistik
Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik
perilaku yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata, Dilihat
dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan
karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrem kiri (-) maupun kanan (+),
melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.
2. Kriteria Norma
Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, –
ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran
agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat , misalkan dalam berpakaian,
berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali
menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap
sebagai bentuk perilaku abnormal.

3. Kriteria Patologis
Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan
dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan
mental (mental disorder), seperti: psikophat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan
berbagai bentuk kelainan psikologis lainnya.

D. PENYEBAB KARAKTER MENJADI ABNORMAL


1. Penerimaan Kasih yang Tidak Normal
Kurang kasih maupun kasih yang berlebihan akan dapat merusak perkembangan
pribadi seorang anak. Bila seorang anak kurang mendapatkan kasih, namun
malah banyak mendapatkan tekanan dalam hidupnya, ia akan bertumbuh
menjadi seorang yang membenci orang lain. Sebagaimana dia diperlakukan
sewaktu masih kecil (misal: dihajar, diperlakukan tidak adil, tidak dihargai,
dianaktirikan, dsb.
2. Tidak Memiliki Identitas Diri
Jika seorang anak mempunyai identitas diri yang kuat, ia pasti juga akan
mempunyai jiwa yang kuat. Sebaliknya, kalau seseorang kehilangan identitas
diri dan harkatnya dalam masyarakat, tidak mungkin ia mempunyai jiwa yang
sehat. Sebagai contoh, anak dari seorang pemabuk yang keluar masuk penjara,
tentu akan merasa sangat malu bila orang lain mengenal siapa ayahnya. Dalam
hal ini, kedudukan ayahnya menjadi dasar dari identitas dirinya dalam
masyarakat.
3. Tidak Memiliki Komunikasi yang Baik
Jika seseorang mempunyai objek komunikasi maka ia tidak akan mudah
mengalami sakit jiwa. Pendapat ini juga sangat benar diterapkan bagi seorang
anak, karena anak pun membutuhkan teman berbicara yang mau menerima dan
mengerti dirinya. Biasanya seorang anak selain membutuhkan teman sebaya
juga menginginkan hubungan yang akrab dengan orang dewasa yang
menghargainya. Sebagai guru Sekolah Minggu, anda berpeluang besar untuk
menjadi sahabat bagi murid- murid anda. Jadilah sahabat yang baik bagi setiap
mereka, sahabat yang siapa menampung segala kesulitan dan keluh kesah
mereka.
4. Faktor Biologis
Abnormalitas dilihat dari sudut pandang biologis berawal dari pendapat bahwa
patologi otak merupakan faktor penyebab tingkah laku abnormal. Pandangan ini
ditunjang lebih kuat dengan perkembangan di abad ke-19 khususnya pada
bidang anatomi faal, neurologi, kimia dan kedokteran umum. Berbagai penyakit
neurologis saat ini telah dipahami sebagai terganggunya fungsi otak akibat
pengaruh fisik atau kimiawi dan seringkali melibatkan segi psikologis atau
tingkah laku. Akan tetapi kita harus perhatikan bahwa kerusakan neurologis
tidak selalu memunculkan tingkah laku abnormal, dengan kata lain tidak selalu
jelas bagaimana kerusakan ini dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang.