Anda di halaman 1dari 3

Setahun dalam Kegamangan

Oleh: Sukardi Rinakit

Di Gubeng, Surabaya, Jawa Timur, siang itu saya terkejut mendengar sambutan Gubernur
Jatim Soekarwo pada acara Pra-Kongres Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional
Indonesia. Dengan tegas, ia mengatakan, nasionalisme bangsa ini sedang leder (meleleh).
Multikulturalisme sedang dihadang oleh primordialisme. Kekerasan dan konflik sektarian
pecah di beberapa sudut Republik ini. Akan tetapi, ia optimistis, semua masih bisa
direvitalisasi dengan kekokohan penuh.

Kepada anak muda yang duduk di sebelah, penulis berbisik, ”Ternyata hebat juga Pak
Dhe Karwo ini.” Siapa pun anak bangsa, yang hatinya masih tulus mencintai Republik
ini, tentu risau melihat perkembangan akhir- akhir ini. Titik-titik api konflik, secara tak
terduga, mulai menyebar ke sudut-sudut Tanah Air.

Ini kritik buat setahun Kabinet Indonesia Bersatu II. Meskipun indikator kinerja ekonomi
makro membaik, frustrasi dan keterbelahan masyarakat sebenarnya juga menganga. Para
elite politik, terutama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sampai hari ini belum
bisa menjadi sandaran bagi kegalauan publik.

Aceh, Papua, Yogyakarta

Secara politik, kelemahan utama pemerintahan SBY setahun ini adalah miskinnya
kepastian. Ketika sebagian besar politisi di parlemen cenderung mengabaikan rasa
keadilan rakyat melalui rencana pembangunan gedung DPR, dana aspirasi, kunjungan
kerja, dan lain-lain, pemerintah tidak melakukan kontestasi dengan berdiri tegak
menunjukkan kepastian di depan rakyat. Kesan yang tampil, pemerintah justru
menggantung hampir semua masalah yang menjadi perhatian publik.

Sampai hari ini, kita tidak tahu kebenaran sejati dari beberapa kasus populer, seperti
kriminalisasi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samad Rianto dan Chandra
M Hamzah, Bank Century, kasus Susno Duadji, pemukulan aktivis Indonesia Corruption
Watch, kasus Sistem Administrasi Badan Hukum, dan pemilihan Kepala Polri. Informasi
yang menyebar ke ranah publik simpang siur. Rakyat menjadi gamang.

Dalam situasi seperti itu, apalagi ditambah kehidupan yang makin sulit, keteguhan
kepemimpinan nasional sebenarnya dapat menjadi inspirasi bagi tumbuhnya optimisme
publik. Sayang sekali, Presiden SBY dan para letnannya tidak mengapitalisasi dengan
cerdik beberapa kesempatan yang ada.

Dalam kasus kunjungan Presiden ke Belanda, misalnya, jika ia tetap pergi dan
mendapatkan perlakuan buruk di sana, bangunan itu justru akan menjadi ruang bagi
soliditas sentimen kebangsaan. Keteguhan Presiden, meminjam istilah Albert Einstein,
akan menjadi energi setara dengan delapan bom neutron. Ia akan memupus kegamangan
rakyat dan memijarkan semangat keindonesiaan. Di sinilah kedaulatan bangsa benar-
benar bisa ditegakkan.

Namun, sekali lagi Presiden melangkah ke samping. Alasan harga diri dan kedaulatan
bangsa yang dikibarkan, ibarat bukit pasir, mudah tergerus angin. Akibatnya, bukan
kebaikan yang menyebar luas di hati rakyat, melainkan justru kontroversi dan
ketidakpastian.

Hal yang sama menimpa Yogyakarta. Masalah keistimewaan provinsi itu sampai kini
masih menggelayut. Ketegasan Presiden krusial untuk membuat semua masalah
diletakkan pada tempatnya sehingga rakyat punya pegangan, apa pun pegangan itu.

Demokrasi sebenarnya bukan praktik politik yang mutlak dan monolitik. Demokrasi
boleh menyimpan keistimewaan karena hakikat tertingginya adalah menghargai dan
melindungi minoritas serta suara setiap warga. Sejauh ini, banyak di antara kita terjebak
dalam demokrasi elite dan merasa menjadi kampiun dalam penegakan nilai demokrasi
(Putnam, 1973; Rohrsneider, 1999). Logika demokrasi rakyat cenderung diabaikan.

Karakter demokrasi tak mutlak monolit, Indonesia sebenarnya bisa menjadi salah satu
model unik praktik demokrasi. Trinitas ideologi-legislatif-eksekutif diwakili tiga wilayah.
Nanggroe Aceh Darussalam menjadi contoh keistimewaan dari sisi ideologi (berbasis
Islam, bukan Pancasila). Papua menjadi contoh keistimewaan legislatif karena masuknya
utusan Masyarakat Adat Papua dan Yogyakarta menjadi contoh ranah eksekutif. Di sini,
Sultan Hamengku Buwono dan Paku Alam, sebagai raja dan patih tlatah Mataram, secara
otomatis ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DI Yogyakarta. Seluruh latar
dan kesepakatan sejarah lebih dari mencukupi untuk ”penetapan” itu.

Dengan praktik demokrasi yang di dalamnya tumbuh kekhasan yang demikian, Indonesia
akan menjadi sumber kajian politik yang tidak pernah kering.

Perlu ”reshuffle”

Selain ketidakpastian yang mencengkeram publik, evaluasi terhadap setahun


pemerintahan SBY juga memunculkan fenomena perilaku menteri yang cenderung
melempar masalah kepada Presiden. Padahal, mereka seharusnya menjadi bumper. Tidak
elok jika ada masalah, mereka dengan enteng mengatakan, itu urusan Presiden.

Sikap menteri yang demikian membuat publik semakin bingung dan kewibawaan
Presiden merosot. Karena itu, kini saatnya bagi SBY melakukan resume power dengan
cara reshuffle kabinet. Kombinasi beberapa indikator seperti nilai merah, skandal pribadi,
kepicikan komunikasi politik, dan tak mau menjadi bumper Presiden adalah titik tolak
untuk menggeser mereka.
Jika Presiden masih yakin dengan para letnannya yang sekarang, ya sudah. Kita tidak
usah mengharapkan awan yang berarak akan berubah menjadi hujan. Anda sabar hidup
dalam kegamangan sosial-politik seperti sekarang? Saya tidak.a

URL Source:
http://cetak.kompas.com/read/2010/10/12/03553955/setahun.dalam.kegamangan